Alfred memandangi pemandangan hujan yang turun dengan deras di luar jendela kamarnya dalam diam. Pada pandangan pertama, semua orang mungkin berpikir dia sedang serius memikirkan sesuatu, tapi begitu melihat lebih dekat, terlihat kalau bola mata biru sapphire itu begitu kosong. Seolah pemiliknya sedang tak berada di bumi.

Dan dalam kasus Alfred, mungkin memang itu yang terjadi…

Hujan…kata itu…pemandangan itu…semuanya membawa kenangan tidak menyenangkan. Dia tidak suka hujan, dan mungkin tidak akan pernah suka.

Hujanlah yang merenggut nyawa orang tuanya, karena hujanlah mobil orang tuanya tergelincir dan mengalami kecelakaan…sejak saat itu hujan seperti menjadi musuhnya. Setiap kali hujan turun, dia seperti bersembunyi…tidak mau memandanginya, dan juga tidak mau merasakannya.

Tapi sejak hari itu…pandangannya berubah…

Ya, sejak hari itu, hari dimana hidupnya berubah…hari dimana dia menerima tangan yang diulurkan gadis itu padanya…hari dimana dia menyambut tangan Natalia…dan memasuki dunia dan hidup gadis itu.

Natalia…

Gadis itu…sangat berharga untuknya. Mungkin memang tidak seberharga Arthur ataupun Matthew, tapi tetap…berharga. Dia menyayangi gadis itu. Sejak pertama kali bertemu…perasaan sayang itu datang ke hatinya…

Dia masih ingat…saat pertama kalinya dia bertemu gadis itu. Pertemuan yang manis…yang sayangnya…tidak membuat kisah mereka ikut menjadi manis…

FLASHBACK

Hari itu, kota Rusia itu terasa sangat suram. Hujan deras terus-menerus turun membasahi bumi, dengan awan kelabu menyelimuti kota itu dengan kegelapan dan suasana suram. Suasana kota begitu sepi, tak ada orang yang berjalan-jalan di luar. Mereka semua memilih untuk bersembunyi di bawah perlindungan atap berbagai warna, di samping hangatnya api perapian yang berkobar.

Tapi tidak begitu halnya dengan Alfred…

Anak kecil berambut pirang yang berumur sekitar tiga belas tahun itu berjalan terseok-seok di tengah derasnya hujan yang menusuk tubuhnya bagaikan jarum. Tubuhnya basah kuyub dari kepala hingga kaki. Baju kaos biru dan celana pendek cokelat muda yang dipakainya menempel erat di tubuhnya akibat hujan. Wajahnya putih pucat bagaikan kertas, gurat-gurat kelelahan jelas terlukis di wajahnya yang manis.

Dia lelah, sangat lelah. Tidak buth waktu lama bagi kelelahan itu untuk mengambil alih kendali tubuhnya, membuat kaki-kaki mungil lemah yang gemetar itu untuk ambruk dan membentur jalanan batu yang basah karena hujan. Tubuh itu terkulai, terbaring lemas di jalanan batu yang dingin. Mata birunya menatap kosong…entah memandang apa.

Tidak, dia tak bisa berhenti berjalan. Dia harus terus mencari uang atau setidaknya makanan…untuk Matthew. Adiknya itu menunggunya, dia tidak boleh berhenti di sini…

Tapi…dia lelah. Dia sudah tak sanggup berjalan lagi. Biarlah…dia berakhir di sini. Dia sudah tak bisa…mungkin ini akhir hidupnya…

'Mattie…maafkan aku…sebagai kakakmu…aku bahkan tak bisa menjagamu…' pikir Alfred pelan sambil memejamkan matanya.

"Hei, kalau mau tidur, jangan tidur di jalanan, dong! Kau mengganggu orang lewat, tahu!"

Suara yang manis namun terdengar tegas itu menyapa telinganya, bersamaan dengan menghilangnya tusukan-tusukan hujan pada tubuhnya. Alfred pun membuka matanya yang tadi dia biarkan terpejam. Matanya langsung berhadapan dengan wajah merengut seorang gadis yang kira-kira seusia dengannya. Gadis berambut perak panjang yang dihiasi sebuah pita biru itu memegang sebuah payung hitam yang dia letakkan di atas tubuhnya Alfred untuk melindungi pemuda itu dari hujan, membiarkan tubuhnya sendiri, yang dibalut sebuah baju terusan berwarna biru dengan bawahan putih itu basah karena hujan.

Tapi yang paling membuat Alfred tertegun saat memandang gadis itu adalah matanya.

Mata biru sapphire yang sama dengannya, tapi pandangannya begitu dingin bagaikan es yang membekukan dunia, berbeda sekali dengannya. Tapi saat memandang kedinginan itu dengan lebih seksama…akan terlihat kehangatan yang tersembunyi…

Dan kehangatan itu mempesonanya…

"Woi, kau dengar aku tidak? Jangan tidur di jalan!" seru gadis itu sekali lagi sambil menyepak tubuh Alfred dengan kakinya untuk mengusir Alfred. Mendapat perlakuan seperti itu, Alfred segera mencoba bangkit, tapi kelelahan di tubuhnya masih tersisa, membuatnya jatuh terhuyung-huyung dan sukses ambruk di tubuh gadis di hadapannya itu.

"A…apa-apaan sih? Hei, menjauh dariku!" seru gadis itu sambil mengangkat tangannya untuk mendorong Alfred menjauh. Tapi begitu melihat keadaan pemuda itu, gadis itu mengurungkan niatnya dan malah bertanya. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.

Alfred hanya diam, tak menjawab pertanyaan gadis itu sama sekali.

Gadis itu menghela napas dan segera menggenggam erat tangan Alfred. "Istirahat di rumahku saja, daripada kau ambruk di jalan! Dasar, makhluk sepertimu malah seenaknya berkeliaran di jalan, kalau dianggap pengemis bagaimana?" gerutu gadis itu sambil menyeret Alfred ke arah rumahnya. "…Tapi aku tak bisa membiarkanmu di jalan…"

Mendengar perkataan terakhir gadis itu, entah kenapa hati Alfred terasa hangat…

"…Terima kasih…" gumam Alfred pelan kepada gadis itu. Mendengar itu, gadis itu hanya menggumam sambil menganggukkan kepalanya.

Tidak berapa lama kemudian, setelah langkah demi langkah pelan dua sosok di bawah hujan itu, mereka berdua pun tiba di rumah gadis itu. Gadis itu segera membawa Alfred menuju ruang tamu dan melemparnya ke sofa berwarna merah marun yang tersedia di sana. Sebelum Alfred bisa mengatakan apa pun, sebuah handuk berwarna biru laut dilemparkan ke arah mukanya.

"Keringkan tubuhmu dengan itu. Sementara itu aku akan siapkan kopi untukmu," kata gadis itu datar sambil meninggalkan Alfred sendirian menuju dapur.

Alfred segera mengusap rambut dan tubuhnya yang basah kuyub itu sebelum membungkus tubuhnya dengan selimut yang sudah disiapkan oleh sang gadis. Setelah selesai, dia memandangi ruangan tempatnya berada dengan seksama. Banyak perabotan di ruangan itu, tetapi perabotan itu diletakkan dengan sangat strategis sehingga ruangan itu tidak terkesan sumpek. Jelas sang pemilik adalah orang yang pandai mengatur rumah.

Tidak lama kemudian, gadis itu kembali memasuki ruangan itu sambil membawa nampan berisi kopi hangat dan sandwich untuk Alfred.

"Silakan, maaf hanya ini yang bisa kuberikan untukmu" kata gadis itu dengan cuek. Alfred segera mengambil cangkir kopi yang disodorkan padanya, merasakan hangat kopi itu menyusup ke jari-jarinya yang dingin membeku. Dia menghirup kopi itu dengan pelan, tersenyum saat merasakan hangat kopi yang menjalar di tubuhnya.

"Oh ya, kita belum berkenalan, ya? Aku Alfred F. Jones, salam kenal!" kata Alfred bersemangat pada gadis yang duduk di hadapannya itu. "Siapa namamu?"

Gadis itu terlihat tertegun sejenak, mungkin tidak menyangka kalau Alfred tiba-tiba akan menanyakan namanya sebelum menghela napas dan menjawab, "Natalia…Natalia Arlovskaya," pelan.

"Natalia, ya? Nama yang bagus," kata Alfred sambil tersenyum.

Setelah itu suasana di antara mereka langsung sunyi senyap beberapa saat sebelum akhirnya Natalia memutuskan untuk membuka mulut. "Hei, memangnya kau tidak punya rumah, ya? Kenapa hujan-hujanan di luar?" tanyanya.

Alfred terdiam sejenak sebelum menundukkan kepalanya untuk memandangi permukaan kopi di cangkir yang dipegangnya. "…Ya…aku tak punya rumah. Aku dan adikku…seperti anak jalanan, mungkin…" katanya pelan.

Natalia terdiam mendengar perkataan Alfred.

"Orangtua kami sudah meninggal dan sejak itu kami hidup di panti asuhan…" kata Alfred sambil tetap mengamati cangkir kopinya. "Tapi pengurusnya benar-benar kejam, dia selalu memukuli kami, mencari-cari kesalahan kami, dan sebagainya, membuat kami tidak betah…karena itu kami memutuskan untuk melarikan diri dan memulai hidup baru. Tapi ya…namanya anak-anak, bagaimana bisa sih hidup di jalanan sendirian? Aku berusaha mencari pekerjaan tapi tidak ada yang bisa memberikan pekerjaan padaku…menyebalkan…dunia memang tidak adil…sudah merebut orangtua kami…Tuhan juga tak memberikan hidup yang baik untuk kami…"

"Dengan kata lain, kau ingin memiliki kehidupan yang lebih baik?" tanya Natalia, yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Alfred.

"Dengan cara apa pun? Tak peduli apa yang harus kau lakukan?" tanya Natalia lagi.

"Ya…" gumam Alfred. "Akan kulakukan apa pun asalkan aku dan Mattie, adikku bisa tersenyum dan hidup dengan layak lagi…"

Natalia hanya diam mendengar jawaban Alfred sebelum dia bangkit dari sofanya, berdiri di hadapan Alfred dan mengulurkan tangannya ke dagu Alfred, membuat pemuda Amerika itu memandanginya. "…Aku bisa memberikan pekerjaan untukmu, dengan bayaran yang layak," kata Natalia sambil tersenyum sinis pada Alfred.

Alfred terdiam mendengar perkataan gadis di hadapannya itu. Dia hanya bisa terbelalak memandangi gadis berambut perak di hadapannya itu.

"Tertarik untuk mengambilnya? Pekerjaan ini tidak mudah, bahkan nyawamu pun kemungkinan jadi taruhannya. Tapi aku pastikan bayarannya sebanding dengan pengorbananmu. Begitu kau menerima pekerjaan ini, kau bisa ucapkan selamat tinggal pada kemiskinan," kata Natalia. "Bagaimana?"

"Pe…pekerjaan apa?" tanya Alfred dengan gadis tak dikenal menawarkan pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa, tentu dia harus pikir-pikir dulu untuk menerimanya, kan? Bagaimanapun nyawa miliknya hanya satu, tak boleh dibuang-buang dengan cara konyol.

Seringai sinis dan keji tersungging di bibir Natalia. Dia segera membungkuk hingga mulutnya berada di samping telinga Alfred. "…Membunuh…" katanya dengan pelan.

Mata Alfred membelalak mendengar perkataan gadis di hadapannya. Membunuh? Membunuh katanya? Maksudnya menghilangkan nyawa seseorang? Dia memintanya membunuh? Dia tidak salah dengar?

Natalia seperti bisa membaca pikiran Alfred karena dia langsung tertawa begitu melihat ekspresi di wajah Alfred.

"Aku tidak memintamu membunuh dengan tangan dingin, juga tak memintamu membunuh orang-orang tak bersalah," kata Natalia sambil mengusap rambut panjangnya. "Yang kuminta untuk kau bunuh hanyalah orang-orang berdosa yang kakakku rasa sudah tak pantas untuk hidup, karena sudah membuat banyak orang menderita tanpa merasa bersalah sedikitpun"

"Kakakmu? Kakakmu polisi?" tanya Alfred pada Natalia.

Natalia langsung tertawa mendengar pertanyaan Alfred. "Polisi? Apa tampang seperti kami ini terlihat seperti polisi? Kau polos sekali, tahu. Pernahkah mendengar dunia bernama dunia belakang?" tanya Natalia.

"Dunia belakang?" tanya Alfred dengan bingung. Sesaat kemudian, ekspresi wajahnya langsung terlihat panik. "Maksudmu keluargamu keluarga mafia?" serunya.

"Ternyata kau tidak sebodoh yang kukira" kata Natalia dengan datar pada Alfred. "Jadi bagaimana? Aku tidak memintamu membunuh orang yang tak pantas dibunuh. Orang-orang yang masuk black list kakak adalah orang yang berbuat kejahatan yang sudah keterlaluan dan seenaknya menggunakan kekuasaan mereka untuk berbuat makin banyak kejahatan. Kau juga tidak mau dunia penuh orang-orang seperti itu, kan? Bukankah kau sendiri mengatakan dunia ini tidak adil? Kenapa tidak mencoba mengubahnya sendiri?" katanya sambil kembali tersenyum keji.

Alfred menunduk sejenak sebelum memandang gadis di hadapannya itu. "Tapi aku tidak tahu tekhnik membunuh…" gumam Alfred.

Natalia tersenyum dan duduk di pangkuan Alfred sambil mengusap rambutnya. "Aku bisa mengajarimu. Semua tekhnik membunuh yang sudah diajarkan kakak padaku…semuanya akan kuajarkan padamu kalau kau mau. Akan kubuat kau menjadi anak buah yang hebat, cocok menjadi salah satu bawahan kakak…" katanya. "Bagaimana? Seperti yang kukatakan, bayarannya lumayan, loh. Cukup dengan satu misi…kau dan adikmu bisa hidup mewah…lepas dari kemelaratan…"

Alfred terlihat bimbang sejenak sebelum mengulurkan tangannya dan mengusap rambut perak panjang gadis di pangkuannya itu sambil tersenyum. "Tawaranmu…kuterima…Aku akan menjadi bawahan setia untukmu…dan kakakmu…asalkan kau tepati janjimu untuk memberikanku hidup yang layak…" katanya sambil mencium tangan gadis itu dengan lembut, membuat Natalia tersenyum.

"Baiklah, kalau begitu…panggil adikmu…dan akan kubawa kau menghadap kakak…" kata Natalia sambil berdiri dan mengusap rok yang dipakainya.

END FLASHBACK

Sejak saat itu Alfred dan Matthew mulai menjadi anak buah Ivan. Dan memang Natalia menepati janjinya, dia langsung memberikan fasilitas hidup yang lumayan untuk Alfred dan Matthew, mereka bisa kembali hidup di bawah atap rumah, makan makanan yang layak tiga kali sehari, memakai pakaian bagus…mereka bisa kembali bernapas dan lepas dari kemelaratan. Itu membuatnya sangat bersyukur…dan menyayangi Natalia. Dia merasa berhutang budi, dan dia ingin membalasnya…dengan mematuhi semua perkataan Natalia dan membahagiakan gadis itu. Semua perkataan dan perintah Natalia bagi Alfred adalah mutlak, melebihi perintah dan perkataan Ivan yang notabene adalah bosnya sendiri. Semua hal yang dilakukannya…dia lakukan atas nama Natalia. Dia ingin gadis itu mendapatkan segala yang dia inginkan, karena gadis itu pun sudah memberikan hidup indah yang dulu hanya jadi impian untuknya…

Tapi perasaannya pada gadis itu…membuatnya salah mengerti keadaan hatinya sendiri, membuat kehancuran untuk cerita mereka.

Ya…perasaan 'berhutang budi' itu…salah diartikan Natalia dan juga dirinya…

Menjadi cinta…

Ya, Natalia salah mengartikan perasaan Alfred yang selalu memanjakannya berlebihan itu sebagai tanda kalau pemuda Amerika itu menyukainya, mencintainya sebagai orang spesial…dan bodohnya, Alfred sendiri salah memahami perasaan 'berhutang budi'nya itu sebagai 'cinta' hanya dengan alasan tak pernah ada orang yang diperlakukan Alfred sebaik itu selain Matthew, karena itu dia menganggapnya cinta. Karena itu Alfred sendiri tak menolak Natalia saat gadis itu memintanya jadi pacarnya.

Hingga Arthur datang ke hidupnya dan dia mulai bisa membedakan perasaan 'cinta' dan 'sayang'…hingga matanya mulai terbuka untuk melihat perasaan sebenarnya di dalam hatinya yang selama ini terpendam…

Hingga dia sadar kalau perasaan 'cinta' yang selalu dirasakan Matthew dan Gilbert ataupun Ivan dan Yao…juga dirinya dan Arthur…semuanya berbeda, sungguh berbeda…dengan perasaan 'sayang' yang dirasakannya pada Matthew, Gilbert kepada Ludwig, Ivan kepada Natalia, dan juga dirinya pada Natalia…

Ya…dia menyayangi Natalia…hanya menyayanginya sebagai adik dan sahabat, tak lebih. Tak pernah sekalipun dia mencintai gadis itu.

Dan karena salah paham yang sebenarnya sepele itu (oke, mungkin tidak sepele karena tak akan ada gadis waras yang senang dicampakkan pacarnya sendiri karena COWOK lain)…gadis itu menaruh benci padanya. Begitu benci, hingga dia meninggalkan rumah tempatnya tinggal selama ini entah kemana…

Hingga dia melihatnya kembali di hari itu…

Jujur, hingga saat ini, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan. Apa yang harus dilakukannya kalau dia kembali bertemu dengan Natalia? Membunuhnya? Ivan tidak akan rela adik kesayangannya itu mati dibunuh, kalau ketahuan, hukuman disiksa habis-habisan pasti menanti dirinya, apalagi di lubuk hatinya sendiri dia memang tidak bisa membunuh gadis yang disayanginya itu. Membiarkan dirinya dibunuh? Dia tidak mau. Dia masih punya banyak hal yang ingin dilakukannya, tidak rela mati di usia muda yang seharusnya masih diisi hura-hura begini. Selain itu bukan hanya dia, Arthur atau Matthew juga pasti tidak sudi dia mati. Berdamai dengan Natalia? Gadis itu tak akan sudi. Gadis berambut perak itu sangatlah keras kepala, sekali memutuskan sesuatu, sangatlah sulit untuk mengubah pendiriannya.

Jadi apa…yang harus dia lakukan?

"Alfred?" tiba-tiba terdengar suara yang memanggilnya dari arah pintu kamarnya. Alfred segera menoleh dan melihat Arthur berdiri di sana dengan tangan terlipat di dadanya. Melihat kekasihnya itu, Alfred segera tersenyum dan berseru, "Halo, Iggy!" dengan riang.

Arthur hanya mengabaikan panggilan kekasihnya itu dan segera berjalan ke arah Alfred. Setelah dia tiba di hadapan kekasinya itu, dia segera memiringkan kepalanya seolah sedang mengamati kekasihnya itu. "Ada apa denganmu? Ada sesuatu yang kau pikirkan, ya?" tanya Arthur pada kekasihnya itu.

Alfred terdiam sebelum memandang (pura-pura) terkejut pada kekasihnya itu dan menyeringai lebar. "Iggy kadang-kadang peka juga soal aku, ya? Apa itu tanda cinta Iggy untukku?" tanyanya pada pemuda Inggris di hadapannya itu.

Wajah Arthur langsung bersemu merah mendengar perkataan pemuda Amerika. "Jangan ngelunjak, you git! Aku ini cuma khawatir kau salah makan karena tiba-tiba kau jadi pendiam!" serunya dengan keras.

Alfred tertawa mendengar perkataan kekasihnya itu sebelum kembali memandang ke luar jendela kamarnya. "Aku…memikirkan Natalia…" gumamnya pelan, tapi cukup untuk didengar oleh Arthur.

"Mantan pacarmu itu?" tanya Arthur, dengan sedikit nada cemburu yang sebenarnya sangat kentara (yang sayangnya toh, tidak disadari oleh Alfred) yang hanya dibalas anggukan oleh Alfred. "Kenapa dengannya?"

"Aku…hanya bingung, apa yang harus kulakukan saat aku bertemu dengannya nanti. Kau tahu aku tidak bisa membunuhnya…tapi juga…tak bisa membiarkan diriku dibunuh olehnya. Dia juga kurasa…tidak akan mau berdamai denganku…aku tak tahu apa yang harus kulakukan…" kata Alfred.

"Kenapa tidak mencoba bicara pada Ivan?" tanya Arthur setelah lama terdiam mendengar perkataan Alfred. "Bagaimanapun Ivan itu kakak Natalia…meski mereka sudah lama tak bertemu, aku yakin Ivan pasti mengerti sifat adiknya itu…dan tahu apa kemungkinan terbaik yang bisa kau lakukan."

Alfred hanya diam dan tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari jendela.

"Justru karena dia kakak Natalia aku tidak mau bertemu dengannya…" gumam Alfred setelah terdiam dalam waktu yang lama. "Aku takut menghadapi Ivan…"

"Alfred," kata Arthur.

"Kau tidak mengerti, Arthur!" seru Alfred histeris. "Natalia itu adik kesayangan Ivan, dari dulu dia dimanja habis-habisan oleh Ivan, membuat si Natalia itu sampai mengidap brother complex pada Ivan, dan kau mau aku menghadapi Ivan? Apa yang si commie bastard itu lakukan padaku kalau menerima kabar adiknya bergabung dengan musuh, dan itu semua gara-gara aku? Dia tak mungkin tertawa dan bilang 'semoga sukses', kan? 99 % kemungkinan dia akan mencincangku dan membuang mayatku ke jurang entah di mana!"

"Lalu kau mau apa?" seru Arthur tajam. "Mau menyerah begitu saja? Tanpa usaha apa pun?"

Alfred langsung terdiam.

"Semua hal di dunia ini adalah pilihan, Alfred. Kalau kau diam dan tidak bergerak sedikitpun, mau apa kau di dunia ini? stagnan, tidak bergerak sedikitpun! Apa artinya kau hidup? Kau hidup untuk melakukan sesuatu, untuk memilih sesuatu dan terus menjalani hidupmu! Kalau tidak bisa melakukan itu, mati saja!" seru Arthur kesal.

Alfred tetap diam. Dia bungkam, tak mengatakan apa-apa. Wajahnya terlihat terluka, seolah Arthur baru saja menamparnya dengan keras.

Pandangan Arthur langsung melunak begitu melihat ekspresi terluka di wajah kekasihnya itu. Tanpa pikir panjang, dia segera mengulurkan tangannya dan memeluk tubuh pemuda Amerika itu dan menepuk punggungnya pelan untuk menenangkan pemuda Amerika itu.

"Alfred…" gumam Arthur pelan. "Memang berat kalau bertarung dengan seseorang yang sangat kau sayangi. Percaya padaku, aku mengerti rasanya. Aku mengerti perasaanmu. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain menghadapinya, karena kalau tidak…kita sama saja dengan mati sia-sia."

Alfred tetap terdiam.

"Karena itu…kamu harus memilih…kamu mau bicara dengan Ivan, mendapatkan bantuan soal Natalia dan bisa bertarung dengan gadis itu dengan hati yang lebih lapang dan tenang juga persiapan yang lebih mantap dengan resiko dimarahi oleh Ivan, atau tidak menemuinya, dan bertarung dengan Natalia, dengan kemungkinan kalian akan saling membunuh, dan kau mati karena kau tidak punya kesiapan sama sekali dan bertarung dalam keadaan bimbang," kata Arthur sambil mengusap rambut Alfred dengan lembut. "Pilih, apa yang kau mau?"

"Apa pun…pilihan yang kuambil…" gumam Alfred pelan di pelukan Arthur. "Kau akan tetap mendukungku? Tetap…percaya padaku?"

"Iya," gumam Arthur sambil tersenyum lembut dan mengusap rambut Alfred pelan. "Apa pun pilihanmu, aku akan menerimanya. Meski sakit, meski kau terluka, aku akan tetap menemanimu. Pilihanmu, apa pun pilihanmu, aku akan menghargainya. Jika kau terluka saat melaksanakan pilihanmu itu…aku akan tetap di sisimu, mengobati lukamu dan memelukmu…hingga kau sembuh…"

Alfred tetap terdiam saat mendengar perkataan kekasihnya itu sebelum akhirnya menghela napas dan menganggukkan kepalanya di atas kepala Arthur. "Baiklah…Iggy…aku akan bicara dengan Ivan…" gumam Alfred pelan. "…Aku akan menemui Ivan besok…"

"Bagus," kata Arthur sebelum mencium pipi kekasihnya sejenak. "Sekarang ayo turun dan makan malam, yang lain pasti sudah kelaparan menunggumu."

Alfred tetap tidak bereaksi apa pun…hanya membiarkan saja Arthur menarik tangannya menuju lantai bawah…


Di tempat lain, Ivan sedang memandangi pemandangan kota London dari balik jendela hotelnya saat tiba-tiba Yao memasuki kamar mereka berdua sambil memegang beberapa lembar kertas di tangannya. Wajahnya terlihat resah.

"Bagaimana Yao-yao? Apa yang kau temukan soal dia, da?" tanya Ivan sambil melirik kekasihnya itu.

Yao menghela napas dan meletakkan kertas-kertas yang dipegangnya di meja kecil di samping ranjang mereka. "Sesuai perkiraanmu…Natalia terbukti bergabung dengan Francis, aru…" gumam Yao.

Ivan hanya menghela napas. "Benar-benar gadis itu…" gumam Ivan sambil menutup matanya sejenak dengan tangannya sebelum kembali membukanya, memperlihatkan bola mata violet yang menatap tajam. "Dasar adik bodoh, da!" geramnya sambil membanting botol vodka di tangannya, membuat botol itu pecah berkeping-keping di lantai marmer putih di hadapannya.

Yao tidak mengatakan apa pun, hanya berjengit sedikit saat mendengar suara kaca yang pecah berhamburan di lantai itu. Dia memandangi tubuh kekasihnya yang gemetar itu (entah karena marah atau ketakutan) sebelum akhirnya mendatangi pemuda Rusia itu dan menyentuh bahu pemuda Rusia itu pelan. "Tenanglah…Ivan. Jangan mengamuk dan menghancurkan barang-barang di sini, aru," kata Yao pelan.

Ivan hanya berdiri diam di pelukan kekasihnya itu sambil terengah-engah seolah-olah dia baru saja berlari beberapa kilometer jauhnya. Dia mengangkat tangannya dan mengusap rambut peraknya dengan frustasi. "Sudah kuduga si Natalia itu mungkin memikirkan sesuatu seperti bergabung dengan si bedebah Francis Bonnefoy itu untuk membalas dendam pada Alfred, tapi tidak kusangka, dia benar-benar melakukannya, da." Geram Ivan. "Ini salah Natalia, tapi si Alfred itu juga bersalah karena mematahkan hati Natalia…" tiba-tiba dia terdiam sejenak sebelum kembali bergumam. "Bukan…ini bukan salah Natalia…juga bukan salah Alfred…."

"Ivan?" tanya Yao dengan tegang begitu mendengar perbedaan tekanan suara di perkataan Ivan.

"Ini salah Francis. Ya…ini salahnya. Pasti si Francis itu yang mempengaruhi Natalia untuk bergabung dengannya. Memanfaatkan hati Natalia yang penuh dendam pada Alfred, dia mempengaruhi Natalia hingga bergabung dengannya dan menculik Matvey…" Ivan bergumam pelan sebelum tertawa menyeramkan. "Ya…semua ini…gara-gara Francis…"

Yao hanya menghela napas dan memeluk tubuh besar kekasihnya itu. Dia merasakan kalau Ivan tanpa sadar langsung menyandarkan diri di pelukannya. "Hentikan…menyalahkan orang lain, aru. Lebih baik pikirkan penyelesaian yang terbaik…untuk semuanya, da…"

Ivan hanya diam mendengar pertanyaan kekasihnya itu sebelum menghela napas. "Tak ada yang bisa kita lakukan soal Natalia, da. Gadis kepala batu seperti dia, tidak akan mau pulang dengan sukarela, dipaksa pun tak ada gunanya…."

"Lalu apa yang harus kita lakukan, aru?" tanya Yao pelan sambil mempererat pelukannya di pinggang Ivan.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan, da. Kita hanya bisa menunggu hasil pertarungan Natalia dan Alfred, dan mengharap hasilnya sesuai dengan keinginan kita," kata Ivan sambil memandang sejenak ke arah jendela sebelum membalikkan tubuhnya dan menghadapi kekasihnya yang berdiri di belakangnya dan memeluk tubuh mungil kekasihnya itu. "Aku tak suka sih menyerahkan semuanya pada si Alfred itu, tapi ya, kali ini hanya itu yang bisa kita lakukan, da. Semoga saja…aku tidak menyesali perbuatanku ini dan menyeret Alfred ke neraka dunianya nantinya karena aku tidak biasa memaafkan dan bersikap manis padanya, da."

Yao hanya diam tanpa mengatakan apa-apa, hanya membiarkan saja dirinya terbenam dalam kehangatan pelukan pemuda Rusia itu. Membiarkan mereka berdua tenggelam dalam kebisuan dan kesunyian, yang menenangkan dan hangat…


Keesokan harinya, Alfred berdiri dengan bimbang di depan sebuah hotel mewah di kawasan kota London itu. Dia bingung, haruskah dia memasuki hotel itu atau tidak. Akhirnya setelah menghela napas panjang dan mempersiapkan diri, dia pun akhirnya berjalan memasuki hotel itu dan berjalan menuju kamar Ivan. Setelah tiba di depan kamar yang dimaksud, dia pun segera mengetuk pintu kamar itu dan menunggu.

Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dan pintu pun segera terbuka, memperlihatkan Yao yang kini memandang bingung padanya. "Alfred? Ada perlu apa kau ke sini, aru?" tanyanya.

"Aku…ingin bicara dengan Ivan sebentar…secara pribadi…" gumam Alfred. "Ini penting…tolong beritahu dia…"

Yao memandangi Alfred sebentar sebelum menghela napas dan berjalan masuk untuk memanggil Ivan. Tidak lama kemudian, Ivan segera berjalan keluar dari kamar hotel mereka.

"Apa yang mau kau bicarakan, da?" tanya Ivan sambil mengusap rambutnya.

"Em…di sini bukan tempat yang layak untuk membicarakan ini. Bagaimana kalau kita bicara di…café depan?"

Ivan tidak mengatakan apa pun sehingga Alfred (dengan seenaknya) memutuskan kalau jawabannya adalah 'ya'. Tanpa basa-basi, dia segera meraih tangan Ivan dan menyeret pemuda Rusia itu untuk berjalan ke tempat yang dimaksudkannya.

Tidak lama kemudian, mereka berdua sudah duduk di depan café itu, dengan sebotol vodka dan secangkir kopi di hadapannya. Ivan memandangi Alfred dengan tatapan 'awas-kalau-pembicaraan-ini-tidak-penting-karena-kau-sudah-mengganggu-waktuku', yang sukses membuat Alfred agak menciut juga.

"Lalu apa yang mau kau bicarakan, da?" tanya Ivan sambil meminum vodka di hadapannya.

Alfred terdiam sejenak sebelum memandang Ivan. "Ini…soal Natalia…Dia…"

"Bergabung dengan Francis, da? Itu bukan berita, Alfred. Aku sudah tahu itu sejak lama, da…" kata Ivan memotong perkataan Alfred yang kini memandangnya dengan pandangan terkejut. "Dan jujur saja, aku tidak kaget sama sekali. Itu memang suatu hal yang bisa dilakukan oleh Natalia, da…Memangnya kenapa?"

"Kalau begitu…beritahu aku, tolong beri aku petunjuk…" Alfred langsung memandang Ivan dengan pandangan begitu nelangsa sehingga membuat Ivan pun tertegun sejenak. "…Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau membunuhnya juga tidak mau dibunuh olehnya. Apa yang harus kulakukan agar tidak ada penyesalan nantinya…"

Ivan menghela napas. "Kau ini…bodoh, ya da?" kata Ivan pada Alfred dengan nada mencemooh yang langsung membuat wajah Alfred merah padam, entah karena malu atau karena emosi. Mungkin yang kedua lebih tepat…

"Apa maksudmu mengatakan aku bodoh? Dasar commie bastard kurang ajar!" seru Alfred sambil bangkit dari kursinya dengan emosi.

"Ya, kau kubilang bodoh karena kau itu memang bodoh, Alfred," kata Ivan sambil kembali meminum vodkanya. "Jawaban pertanyaanmu itu mudah tapi sulit melaksanakannya, da. Kau juga mungkin sudah tahu jawabannya hanya saja kau memutuskan menyangkalnya. Kau hanya harus mengikuti kata hatimu, da. Tidak ada gunanya bertanya pada orang lain, karena toh pada akhirnya tetap kau yang harus memutuskan, kan da? Bodoh"

Alfred langsung terdiam mendengar perkataan Ivan sebelum kembali membuka mulutnya untuk mendebat Ivan. "Ta…tapi…bukankah kalau kita bisa memilih sesuatu dengan benar…kita juga nantinya tidak akan menyesalinya? Dengan memilih pilihan terbaik, kita bisa semakin mantap menjalani hidup!" serunya kesal.

Ivan hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya. "Alfred…manusia itu walaupun diberikan seribu pilihan sekalipun, mereka tak akan tahu pilihan yang mana yang paling tepat bagi mereka, da. Mereka memutuskan untuk memilih pilihan yang mereka ambil, hanya karena mereka memutuskan kalau pilihan mereka itu tepat. Dan semua itu…kembali ke hatimu…yang memutuskan semua pilihan itu, da…" kata Ivan. "Manusia itu memilih bukan karena pilihan yang mereka ambil itu benar, tapi karena ingin memilih pilihan yang mereka ambil itu, da…"

Alfred kembali terdiam mendengar perkataan Ivan. Dia tidak sanggup mengatakan apa-apa untuk membalas perkataan Ivan.

"Karena itu untuk masalah Natalia, tak ada yang bisa kusarankan selain dengarkan kata hatimu, da," kata Ivan sambil memandangi jalan yang berada di hadapannya. "Dengarkan apa yang hatimu inginkan, dan jalankan keinginanmu itu. Itulah pilihan terbaik, pilihan yang tulus dari dasar hatimu, da…Dan aku tak keberatan…kalau pilihanmu ini menyakiti, melukai, atau pun membunuh Natalia. Natalia sendiri pasti sudah mengerti risiko pilihan yang ditanggungnya…saat dia memutuskan untuk menjadi musuhmu dan bergabung dengan Francis, da. Aku tak keberatan, karena memang si bodoh itu perlu diberi pelajaran sedikit untuk kembali meluruskan jalannya."

"Tapi…kau ingin dia kembali, kan?" gumam Alfred pelan kepada Ivan. "Kau ingin keluargamu kembali lengkap, kembali bersama…"

"Tentu saja aku menginginkan itu, da. Keluarga itu…kak Katyusha dan Natalia…mereka berdua adalah keluargaku yang tersisa, tentu aku ingin keluargaku kembali dan aku bisa kembali bahagia bersama mereka berdua. Tapi…kalau Natalia tidak mau kembali, memangnya apa yang bisa kulakukan, da? Dia anak yang tegas, Alfred, mustahil memaksanya pulang, da." Ivan kembali meminum vodkanya. "Kalau dia tidak pulang dengan keinginannya sendiri, tidak ada artinya, da. Dia pasti akan tetap mencari cara untuk kembali keluar dari rumah, da…dan kembali menyusahkan saja…"

Alfred tidak bereaksi apa pun mendengar perkataan Ivan, hanya bungkam. Diam seribu suara. Kesunyian segera meliputi kedua pemuda itu.

"Karena itu Alfred, pilihan apa pun yang kau pilih tidak akan mengubah banyak masalah keluargaku, karena itu percayalah dengan pilihan apa pun yang kau ambil, da. Pilihan yang berasal dari hatimu, sekejam apa pun pilihan itu…adalah pilihan terbaik, da. Karena itu jangan menulikan dirimu dari apa yang hatimu coba perdengarkan untukmu, mengerti, da?" kata Ivan sambil meletakkan botol vodka yang dipegangnya.

Alfred hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.. Dia segera bangkit dari kursinya dan membungkuk pada Ivan. "Terima kasih, Ivan. Aku akan memikirkannya baik-baik," katanya sambil berjalan pergi. Wajahnya terlihat lega seolah beban berat telah terlepas dari bahunya. Jelas, dia sudah memutuskan pilihannya.

Ivan hanya tersenyum sejenak sebelum merogoh saku celananya dan mengambil handphonenya. Setelah memencet sebuah nomor, dia segera meletakkan handphone itu ke telinganya, menunggu telepon itu untuk tersambung.

"Ah, halo, Natalia, da?" tanyanya dengan riang begitu dia mendengar nada sambung di handphonenya.


Natalia sedang duduk di ambang jendela apartemennya di kota Rusia, menikmati pemandangan di bawah jendelanya itu. Dia memandangi mobil-mobil yang berlalu lalang di bawah jendela apartemennya dengan tatapan kosong. Raganya memang berada di apartemennya, tapi entah di mana pikirannya.

Francis memberikan kesempatan bagi dirinya dan Scott untuk beristirahat sejenak sebelum 'pertarungan terakhir' tiba. Dia dan Scott pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing, tapi berbeda dengan Scott yang memang pulang ke rumah di mana dia memiliki keluarga yang menyambutnya, Natalia hanya bisa pulang ke rumah pribadi yang diberikan kakaknya, di mana tak ada siapa pun yang menyambutnya…selain kesunyian…

Dia memang tahu saat dia memutuskan untuk meninggalkan rumah yang ditempatinya bersama kakak-kakaknya dan hidup sendiri di dunia yang luas ini, semuanya akan berbeda. Tak akan ada lagi kehangatan yang diterimanya, tak akan ada lagi ucapan sayang dari orang-orang, dan yang paling penting…dia akan sendirian…

Tapi dia sama sekali tak menyangka kalau rasanya akan sesakit ini…

Sejak kecil dia selalu menjadi anak kesayangan, selalu dimanja oleh semua orang. Dia disayangi…hampir tak pernah ada yang menentang dan mendebatnya. Dia bagaikan putri yang hidup di istana luas bernama keluarga Braginsky…

Karena dia begitu terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, dia tumbuh jadi anak yang egois. Dia tidak terbiasa tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, dan itu membuatnya jadi keras kepala untuk masalah memiliki sesuatu. Dia tidak pernah berhenti berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan dan dia juga tidak pernah sudi untuk melepaskan apa yang secara mutlak sudah menjadi miliknya.

Dan itu termasuk masalah Alfred…

Dia mencintai pemuda Amerika itu dengan sangat…sejak dia selalu bersama Natalia kapan pun gadis itu membutuhkannya. Dia tidak pernah meninggalkan Natalia, juga mau melakukan apa pun untuknya. Hal itu membuat perasaan bahagia tumbuh di hati Natalia…yang perlahan-lahan tumbuh menjadi cinta. Karena itulah dia bahagia, saat Alfred menerimanya menjadi pacarnya. Saat itu dia merasa dunianya begitu sempurna…

Tapi kesempurnaan itu tidak bertahan lama, karena tidak lama kemudian, Arthur datang ke hidup mereka berdua…dan tak perlulah dia mengatakan kelanjutannya. Semuanya berakhir…dengan Alfred mencampakkannya untuk bisa bersama dengan Arthur, bersama lelaki lain.

Saat itu sungguh, Natalia merasa sangat sakit hati, harga diri dan egonya yang tinggi membuatnya tak bisa memaafkan Alfred. Apa yang kurang darinya? Bukankah dia cantik? Kepintarannya juga di atas rata-rata, lalu masalah harta…dia kaya! Harta benda berharga sudah dia miliki. Kemampuan bertarung dia juga hebat, dia bukan gadis manja yang perlu perlindungan Alfred. Status? Status dia dan Arthur sama, adik bungsu pemimpin sebuah keluarga mafia….lalu apa yang kurang? Apa yang membedakannya dengan Arthur?Apa yang membuat Arthur lebih hebat di mata Alfred daripada dia? Apa hanya karena dia perempuan dan Arthur lelaki? Sungguh, dia sungguh merasa terhina…

Perasaan terhina itu yang membuatnya kabur meninggalkan rumah. Dia tidak sanggup melihat wajah Alfred yang setiap hari datang ke rumah yang ditinggalinya, mengingat posisinya sebagai anak buah kesayangan kakaknya yang membuatnya harus siap sedia setiap saat menerima panggilan kakaknya. Dan sejak saat itu dia bersumpah, dia tidak akan pulang, sebelum Alfred bersujud minta maaf padanya atau mayat Alfred tergeletak di kakinya.

Tapi sekarang dia sudah tidak yakin…ingin melakukan semua itu…

Bagaimanapun dua tahun merasakan kerasnya dunia, tentunya itu menempa dirinya. Kini dia gadis remaja yang mandiri dan dingin, bukan lagi anak kecil manja yang selalu ingin semua keinginannya dituruti. Kini dia mengerti kalau manusia itu punya batasan, tidak bisa selamanya memenuhi keinginan seseorang seberapa pun kerasnya mereka berusaha. Dia mulai sadar, dia tidak bisa meminta semuanya dengan seenaknya pada orang lain tanpa melakukan apa pun sebagai balasannya…

Dan itu yang tidak pernah diberikannya pada Alfred. Dia tidak pernah memberikan cinta atau pun kasih sayang pada Alfred. Dia hanya menerima, tak pernah memberi. Dia merasa sebagai kekasih, cukup mengucapkan kata 'cinta' dari bibir dan mereka semua akan berlutut. Di atas segalanya…dia tak pernah menghargai Alfred, dia bagai menganggapnya sebagai salah satu budaknya, hanya saja memiliki status istimewa dengan berstatus sebagai kekasihnya.

Dan dalam lubuk hatinya sebenarnya dia tahu…tak pernah ada cinta dari Alfred untuknya…yang ada hanya rasa sayang…

Sungguh, dia ingin minta maaf pada Alfred. Menghentikan segalanya. Dia ingin berhenti…kembali ke kehidupannya semula…di mana dia bisa merasakan kehangatan keluarganya…merasakan hangat kasih sayang semuanya…dia ingin kembali…

Tapi tidak bisa. Harga diri dan ego dirinya yang berakar begitu kuat itu masih ada. Dan dua hal itu…mencegahnya untuk pulang…sebelum Alfred sendiri minta maaf padanya…

Kadang dia tidak mengerti kenapa dia menginginkan itu begitu sangat. Kenapa dia begitu susah menghilangkan egonya itu…

Suara handphone yang berada di meja di sebelahnya menyadarkan Natalia dari lamunannya. Dia segera mengambil handphonenya dan membawanya ke telinganya, tidak peduli sama sekali untuk mengecek caller IDnya. "Halo?" katanya pelan.

"Ah, halo, Natalia, da?" tanya suara seseorang di seberang sana. Suara yang langsung membuat Natalia terkesiap dan bangkit dari duduknya. "Ka…kakak?" serunya.

"Ya, ini aku. Bagaimana keadaanmu, da? Kau baik-baik saja, kan?" tanya Ivan dengan hangat pada adiknya itu.

"Ya…aku baik-baik saja. Ada apa kakak meneleponku? Padahal dua tahun ini kakak tak pernah menghubungiku sama sekali…" kata Natalia sambil berusaha memaksakan diri agar suaranya terdengar dingin, meskipun di dalam hatinya dia merasa hangat saat mendengarkan suara kakak yang sangat dirindukannya itu.

"Aku…hanya khawatir dengan keadaanmu, da. Kau tahu Alfred baru saja datang denganku dengan keadaan terpuruk. Kurasa kamu juga begitu, Natalia…" kata Ivan.

"Aku tidak terpuruk!" seru Natalia dengan kesal.

"Kalau kau tidak terpuruk, suaramu tidak akan bergetar, da" kata Ivan dengan nada dingin, yang sukses membuat Natalia terdiam.

Ivan menghela napas sejenak sebelum akhirnya kembali berbicara. "Natalia, kau yakin…dengan pilihanmu? Kau yakin untuk menghadapi Alfred di medang perang sebagai musuh, da?" tanya Ivan. "Kau siap terluka, hancur, atau bahkan mati akibat pilihamu, da?"

"Ya" kata Natalia dengan mantap. "Aku akan menghadapi Alfred dengan segenap kekuatanku. Meski harus mati sekalipun aku akan tetap menghadapi Alfred…"

"Baiklah kalau itu pilihanmu, da" kata Ivan.

"Pembicaraan ini sudah selesai, kan? Aku tutup teleponnya kalau begitu" kata Natalia dengan suara dingin.

"Natalia" kata Ivan kemudian sebelum Natalia bisa memutuskan hubungan teleponnya. "Pintu rumah kita…tetap terbuka untukmu. Aku dan kakak tetap setia menunggumu kembali ke rumah, da." Dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Kalau kau merasa hancur dan tidak sanggup berdiri lagi, kembalilah….Kau tidak kehilangan semuanya…karena kami akan tetap menyayangimu, da…"

Natalia tidak mengatakan apa pun dan memutuskan sambungan teleponnya. Tapi saat dia meletakkan handphonenya, tanpa bisa dicegah air mata jatuh mengalir dari bola matanya. Dia jatuh terduduk di lantai kamarnya sambil terisak pelan.

Kembali ke rumah mereka? Itu impiannya. Dia ingin kembali…ke kehidupannya yang dulu…dia ingin kembali tertawa lepas, tanpa ada satu pun hal yang harus dia khawatirkan.

Masalahnya sanggupkah dia mewujudkan impiannya itu? Sanggupkah…dia mengakui kekalahannya pada Alfred dan menyerah dengan jantan pada lelaki itu…dan melangkahkan kakinya kembali ke rumahnya untuk menghadapi kakak-kakaknya?


Di lain tempat, Arthur sedang berbaring di kamar tidurnya sambil membaca buku yang dipegangnya. Dia menghela napas sejenak sebelum menutup bukunya dan meletakkannya di sampingnya.

Dia memikirkan Alfred. Kekasihnya itu terlihat sangat terpuruk akibat masalah Natalia, membuatnya khawatir dengan kekasihnya itu. Terlihat jelas…rasa sakit dan bimbang yang dirasakan oleh kekasihnya itu.

Dia mengerti rasa sakit yang dihadapi Alfred karena dia tahu sakitnya menghadapi orang yang kau sayangi sebagai musuh. Ya...dia merasakannya…saat kakaknya menjadi musuhnya.

Scott…

Mau tidak mau pikirannya kembali berjalan ke masa-masa bahagia yang dilewatkannya dengan bahagia bersama kakak-kakaknya dulu. Dia bahagia, dan sungguh, sebenarnya kebahagiaan itu tidak ingin dia lenyapkan.

Tapi…semua itu…kini bagaikan mimpi…membuatnya berpikir apa kebahagiaan yang dilewatkannya dengan kakak-kakaknya dulu itu nyata? Mengingat kini yang ada hanya kebencian dan sakit hati…

Suara handphonenya di meja langsung menyentak Arthur dari lamunannya. Dia langsung berdiri dan mengambil handphonenya dan membawanya ke telinganya. "Halo?" katanya.

Suara yang menjawab salam Arthur itu langsung membuat Arthur terkesiap. Dia berdiri mematung di kamarnya dengan tubuh bergetar. "Ka…Kak Eric?"


Author Note:

Bagi yang mau protes, kenapa saya update lama sekali, harap dengarkan penjelasan saya sebelum anda memutuskan untuk memutilasi saya –ngibarinbendereputih-

Ehem, ehem, baiklah, alasan saya lama update itu adalah karena… karena saya sibuk kuliah? -alasankliseabis- -digetokreaders- Sumpah, saya sibuk kuliah, gak punya waktu ngetik, nggak punya waktu ngapa-ngapain kayaknya semester ini tuh hidup saya sibuk~abisa jadinya bikin fic pun jadinya terhambat.
mohon maaf banget ya buat para readers~

Buat ke OOC an Natalia sama Ivan…kayaknya sudah gak bisa terhindari kalau mau nulis hubungan persaudaraan keduanya. Di cerita saya ini Natalia cinta pada Alfred, jadi saya kira hubungannya sama Ivan pasti bakal seperti saudara pada umumnya, jadi gitulah…intinya karena hubungan mereka hanya sebatas saudara, maka gak akan ada Natalia yang ngejar kakaknya yang lari ketakutan sambil bilang 'kekkon, kekkon' itu, iya saya tahu ini OOC, karena itu mohon dimaklumi ya…

Dan buat para fans USUK, jangan hajar saya karena nulis AmeBela~ -kabur-. Demi kelangsungan cerita, saya harus nulis hubungan mereka biar jelas kenapa cerita mereka jadi ngalor ngidul ruwet kayak gini.

Terus adegan flashbacknya itu…mungkin gak ada yang tahu, tapi saya mau bilang beberapa adegannya diambil dari fic Alluring Secret di fandom vacaloid (Cuma mau bilang daripada ntar dianggap plagiat) tapi yang nulis fic itu juga saya lho, kalau gak percaya cek aja pennamenya. –promosi terselubung-

Dan buat chapter selanjutnya~apa para readers tahu siapa tokohnya? Hehehe…adakah yang bisa nebak siapa yang nelpon Arthur itu? Bagi yang benar, akan saya berikan kesempatan ngabisin seminggu bareng Matthew di Canada sana! Silakan perlakukan Matthew sesuka kalian! Terserah mau kalian jadikan Matthew budak, pembantu, sahabat, pacar atau suami sekalipun!–-

oke, waktunya saya undur diri. Maaf karena gak bisa balas review kayak biasanya! Makasih ya bagi semuanya yang udah review chapter kemarin! Aku sayang kalian -peluk readers satu-satu- -dibuang-

oke, sekian~meet again in the (hopefully) next chapter~