WARNING: JANGAN BACA SAMPE ABIS KALO DARI AWAL NGGAK SUKA CERITANYA, NO BASHING!
GENRE: GENDER SWICTH (GS), PURE ROMANCE, AGE FOR 13+ (REMAJA)
CAST: KANGTEUK COUPLE, 13+2 MEMBER
Characters (male):
- Kangin: main cast, HIDEN
- Donghae: Kangin's friend, Henry twins-older, HIDEN
- Eunhyuk: Kangin's friend, HIDEN
- Heechul: Kangin's friend, HIDEN
- Hangeng: Kangin's friend, HIDEN
- Siwon: Kangin's younger brother, Zhoumi twins-older
- Zhoumi: Kangin's younger brother, Siwon twins-younger
- Shindong: Leeteuk's younger borther
- Yoochun: Kangin's appa
- Yunho: Leeteuk's appa
Characters (female):
- Leeteuk: main cast, KRYHL-chapter 4
- Henry: Leeteuk's friend, Donghae twins-youngest, KRYHL
- Kyuhyun: Leeteuk's friend, KRYHL
- Ryeowook: Leeteuk's friend, KRYHL
- Yesung: Leeteuk's friend, KRYHL
- Kibum: Leeteuk's younger sister
- Sungmin: Kangin's older sister
- Junsu: Kangin's eomma
- Jaejoong: Leeteuk's eomma
CHAPTER 11
.
Author
.
Mereka bergadengan tangan keluar dari ruangan itu. Resepsi pernikahan terletak di lantai 8, sedangkan restoran terletak di lantai 4. Mereka berjalan menuju lift. Semua pasang mata tertuju pada pasangan baru itu. Leeteuk sedikit malu. Dia melirik Kangin. Dia seperti profesional, berjalan diantara pasang mata yang melihatnya. Kangin mengeratkan genggaman tangannya, menyadari Leeteuk gelisah di lihat banyak mata. Leeteuk merasa baikan sekarang. KangTeuk masuk lift. Mereka keluar ketika pintu lift terbuka di lantai 8. Ballroom mall itu telah di sulap menjadi tempat resepi pernikahan yang mewah. Pernikahan yang di hadiri oleh VIP dan VVIP. Leeteuk merasa tempatnya bukan disini. Gaun yang dia kenakan tidaklah sesuai. Mereka melewati bagian penerima tamu dan masuk ke pesta.
"Tenanglah," bisik Kangin tepat di telinga Leeteuk.
"Pakaianku salah," guman Leeteuk hampir tanpa suara.
"Kau adalah calon istri Kim Kangin sekarang," tambah Kangin. Dia bisa mendengar apa yang tadi Leeteuk katakan. Leeteuk selalu merasa dirinya seperti berada di tempat yang salah. "Kau sudah kehilangan banyak berat badan sekarang. Percaya dirilah."
Leeteuk menatap tajam Kangin. Dia tahu Kangin mengatakannya untuk menenangkan dirinya. Tapi menyebut masalah itu... Kangin malah nampak yang lebih banyak kehilangan banyak berat badan.
"Aku tidak bermaksud begitu," bisik Kangin lagi.
"Ara," bisik Leeteuk juga.
"A! Bagaimana bisa kau terlambat di acara sepenting ini." Seseorang tiba-tiba muncul di depan mereka berdua dan mengatakan hal buruk itu. Orang itu memasang tampang liciknya.
Leeteuk kaget. Dia takut. Dia tahu pasti akan menjadi seperti ini-tokoh jahat yang mengatakan hal buruk pada tokoh baik serta pasangannya pada saat pesta. Kangin maju sedikit untuk menutupi Leeteuk dari orang itu. Leeteuk segera bersembunyi.
"Haruskah kita membahasnya, Hongki-ssi?" kata Kangin sopan. "Pesta sedang berlangsung dan kita tidak baik ngobrol tanpa memperhatikan pesta bukan?"
Orang itu kesal dengan perkataan Kangin barusan dan segera pergi. Kangin menghela napas lega pelan melihat orang itu sudah pergi.
"Ayo," kata Kangin pada Leeteuk. Dia menarik pelan tangan Leeteuk, mengajaknya ke tengah-tengah pesta. Leeteuk menurut dan merapatkan diri pada Kangin.
Semua pasang mata lagi-lagi menatap mereka berdua. Ada yang menatap mereka kagum dan ada juga yang menatap mereka dengan pandangan meremehkan. Ini semua salah Leeteuk, setidaknya itu yang dia rasakan. Semua tamu menatap Kangin dengan tatapan meremehkan karena pasangannya. Leeteuk terus menunduk, menutupi wajahnya dengan rambutnya yang di keriting gantung.
"Aigo aigo. Coba lihat ini, Ahli Waris Kim mengajak calon istrinya ke pesta pernikahan. Sudah tidak sabar, eoh?" kata seseorang.
Kangin terkekeh mendengarnya. Leeteuk diam-diam tersenyum. "Kami baru saja menjadi pasangan, Jong Ki-ssi. Lagi pula, kami hanya mewakili appa saja," kata Kangin.
"Kau terlalu pemalu rupanya," balas Jong Ki.
"Leeteuk, ini Song Jung Ki. Dia salah satu rekan kerja appa," kata Kangin memperkenalkan Leeteuk. "Jong Ki-ssi, ini calon istriku, Mrs. Kim Leeteuk."
Leeteuk membungkuk pada Jong Ki. Muncul juga dia, tokoh pendukung dari tokoh utama. Jong Ki membalas Leeteuk dengan anggukan kecil.
"Kau nampak cantik, chagi-ya," kata Jong Ki.
Kangin berdeham. Leeteuk tersenyum malu.
"Well, nikmati pestanya," kata Jong Ki dan dia mengedip pada KangTeuk. Dia berjalan pergi.
"Mrs. Kim Leeteuk?" tanya Leeteuk ketika Jong Ki menjauh.
"Kau harus membiasakan nama itu," goda Kangin.
Leeteuk tersenyum dan Kangin menarik tangannya agar berjalan lagi. Mereka berjalan menuju bagian pelaminan.
"Kau lihat mempelai wanitanya," tanya Kangin pelan pada Leeteuk. Leeteuk mengangguk sambil mengagumi kecantikan mempelai wanita. "Namanya Sohee. Dia putri dari rekan kerja appa. Mempelai laki-lakinya aku tidak kenal."
Leeteuk mengangguk-angguk. Dia mengalihkan pandangan ke kanan. Leeteuk melotot. Astaga! Kue pernikahan yang luar biasa. Kue itu tingginya kira-kira mencapai 2m tidak di hitung meja. Hiasan dan corak kue itu tidak main-main. Sangat rumit dan penuh di setiap tingkatnya. Leeteuk mengerjap beberapa kali.
"Kau mau kue pernikahan kita seperti itu?" tanya Kangin setelah melihat Leeteuk mempelototi kue pernikahannya.
"Ani!" kata Leeteuk cepat dan tegas.
"Wae?" tanya Kangin heran.
"Pokoknya tidak," jawab Leeteuk tegas.
"Baiklah, Mrs. Kim," goda Kangin.
Leeteuk menatap Kangin. Kangin sendiri menarik Leeteuk mengitari ballroom itu. Kangin memperkenalkan calon istrinya pada rekan kerja appa Kangin dan appa Leeteuk. Sejauh yang Leeteuk ingat: Lee Kwang Soo, Kang Gary, Kim Jongkook, Haha, Ji Suk Jin, Yoo Jae Suk dan Song Ji Hyo.
"Leeteuk-a, kenapa rambutmu berantakan begitu?" kata Song Ji Hyo, wanita umur 30-an yang sukses melawan rivalnya dan meraih kekayaan. Menurut Kangin, Ji Hyo dan Gary saling menyukai. Tapi entah alasan apa, mereka tidak menjalin cinta. "Boleh aku pinjam sebentar dia?" tanya Ji Hyo pada Kangin. Kangin mengangguk. Ji Hyo membawa Leeteuk ke kamar mandi. Dia menata ulang rambut Leeteuk. "Aigo kau ini. Jangan menunduk terus. Lihat rambutmu jadi berantakan begini. Padalah kau cantik. Jangan minder seperti itu," kata Ji Hyo seakan bisa membaca pikiran Leeteuk.
Leeteuk menundukan kepalanya lagi karena merasa bersalah. Dengan segera, Ji Hyo memegang dagu Leeteuk dan menaikkan kepalanya.
"Barusan aku bilang apa?" katanya pada Leeteuk. Dia menatap lurus pada mata Leeteuk. "Kau, wanita yang akan menjadi pendamping Kim Kangin. Wanita yang akan selalu di sorot oleh banyak orang dan media. Kalau kau terus menundukan kepalamu, mereka-mereka di luar sana pasti akan merendahkanmu. Kalau kau tidak punya rasa percaya diri, para rival Kangin akan menggunakanmu sebagai umpannya untuk menjatuhkan Kangin karena kau lemah. Coba lihat aku. Aku selalu menatap lurus kedepan. Tidak pernah menatap ke bawah. Dengan menatap ke depan, kau akan tahu siapa yang akan menjatuhkanmu dan Kangin. Kau bisa melindungi kalian berdua. Kau bisa melihat siapa yang akan menghianatimu dan Kangin dan membinasakan mereka. Duniamu ada di atas, Leeteuk-a, bukan di bawah. Di bawah hanyalah untuk mereka yang menjadi musuh kalian berdua. Jadi kau harus bisa menatap lurus ke depan. Pandang mata musuhmu dan beritahu mereka bahwa kau adalah gadis yang dapat menjatuhkan mereka."
Leeteuk tidak berkedip mendengar perkataan Ji Hyo barusan. Semua yang dikatakannya benar. Banyak musuh Kangin di luar sana. Dunia bisnis yang akan dia hadapi ketika dia menikah, meski masih lama, tidaklah mudah seperti sekarang. Dia mengingat masa lalunya, ketika dia masih SD dan SMP. Dia selalu menundukan kepalanya karena rasa mindernya, maka itu teman-temannya terus menjahilinya. Ji Hyo membiarkan Leeteuk sebentar, membiarkan kata-kata itu meresap kedalam pikirannya. Ji Hyo bisa melihat mata Leeteuk berbinar. Gadis ini sepertinya sudah mengerti. Ji Hyo tersenyum.
"Baguslah kalau kau mengerti sekarang. Mianhae, aku terlalu keras padamu padahal kita baru pertama bertemu," kata Ji Hyo lembut.
"Ani, Ji Hyo-ssi. Gamsahaminda, pikiranku terbuka sekarang," kata Leeteuk sambil tersenyum.
"Paling aku "eonni". Aku belum setua itu," kata Ji Hyo sambil berkedip.
Leeteuk terkekeh. "Ne, eonni," katanya.
Ji Hyo merapikan rambut Leeteuk dan riasannya. Setelah selesai mereka kembali ke ballroom. Leeteuk menarik nafas panjang dan menghembuskannya, menarik rasa percaya dirinya dan menghembuskan rasa mindernya. Dia tidak lagi menunduk sekarang. Dia menaikkan kepalanya seperti yang diajarkan Ji Hyo. Leeteuk merasa lain. Orang-orang yang menatapnya tidak lagi meremehkannya, melainkan ada rasa segan. Leeteuk tersenyum tipis. Dia melirik Ji Hyo dan Ji Hyo mengedipkan matanya.
Kangin melihat Leeteuk dan Ji Hyo dari kejauhan. Dia mengerutkan keningnya, melihat perubahan Leeteuk. Dia tidak lagi berjalan sambil menunduk. Dia menegakkan bahunya saat berjalan. Riasannya pun menjadi sedikit "berani". Kangin mengerjap beberapa kali. Entah apa yang dilakukan Ji Hyo di kamar mandi, tapi yang jelas, Kangin sangat suka dengan perunbahan Leeteuk.
"Pasti Ji Hyo menceramahi Leeteuk," kata Jongkook.
"Entah apa yang dilakukannya, Leeteuk tampak lebih segar sekarang," kata Jae Suk.
Kangin mengangguk. Leeteuk mendekat. Kangin segera mengenggam jemari Leeteuk lagi. Ji Hyo mengedip pada Kangin. Kangin tersenyum dan membungkuk kecil. Mereka berlalu.
"Wow, lihat dirimu," kata Kangin saat mereka hanya berdua.
"Wae? Apa aku jelek? Apa aku terlalu agresif?" tanya Leeteuk panik.
"Ani ani," kata Kangin sambil menggeleng. Kau sangat cantik," kata Kangin kehabisan kata. Dia tidak tahu harus berkata apa. Leeteuk yang sekarang benar-benar tampak seperti wanita yang kuat.
"Kau selalu mengatakan itu," kata Leeteuk sambil sedikit mempoutkan bibirnya. "Katakan yang lain."
"Kau sangat sangat cantik."
Leeteuk mempoutkan bibirnya. Dia ingin mendengar sesuatu yang lain. Dia sudah mati-matian melawan tatapan pasang mata yang menatapnya sinis dan iri pada saat dia masuk tadi.
"Baiklah. Aku suka kau yang sekarang. Kau tampak kuat. Melihatmu yang sekarang, seakan kau terlahir kembali," kata Kangin.
Leeteuk tersenyum. Kangin juga ikut tersenyum.
"Ladies dan gentlemen, welcome to our wedding ceremony. Saya mewakili pihak keluarga mengucapkan terimakasih banyak karena para tamu dapat hadir di tempat ini..."
Kangteuk mendengar suara MC, pertanda pestanya akan dimulai. Mereka menikmati pesta itu.
.
4.48PM. Resepsi pernikahan kedua akan dimulai. Ballroom di mall ini tidak hanya ada 1, tetapi ada 4. Ballroom untuk resepsi pernikahan kedua diselengarakan di lantai 10. Kangteuk sudah keluar dari resepsi pernikahan pertama. Mereka sedang duduk di bangku yang di sediakan mall di lantai 9. Leeteuk mengeluh kakinya sakit. Berdiri selama hampir 5 jam menggunakan sepatu hak 5cm sudah membuatnya tersiksa.
"Masih ada 4 jam lagi. Bertahanlah," kata Kangin sambil memegang tangan Leeteuk.
Leeteuk rasa kakinya akan copot. Leeteuk jarang memakai sepatu hak. Dia lebih nyaman menggunakan sepatu kets atau sejenisnya. Dia memukul-mukul pahanya yang terasa sakit juga. Kangin merasa kasihan pada Leeteuk. Dia belum pernah melihat Leeteuk menggunakan sepatu hak waktu masih kecil. Jelas dia tidak terbiasa.
"Duduk disini sampai jam 4," pinta Leeteuk memelas. Kangin mengangguk. Leeteuk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kangin. Kangin menyambutnya dengan memeluk bahu Leeteuk, membuatnya merapat pada Kangin.
KangTeuk duduk dalam diam. Leeteuk ternyata ketiduran. Kangin merasa kasihan. Leeteuk hari ini sudah berjuang melawan padangan orang-orang yang meremehkannya. Dia berubah demi Kangin. Hari ini Leeteuk menujukkan pada dunia bahwa dialah gadis yang pantas bersanding dengan Kangin. Kangin mengusap lembut rambut Leeteuk. Dia lalu menciumnya. Dia sangat berterimakasih pada Leeteuk. Dia melirik jam tangannya. Kenapa waktu berjalan cepat sekali? Mau tidak mau dia membangunkan Leeteuk.
"Leeteuk-a. Ireona," bisik Kangin.
Leeteuk membuka matanya pelan. Dia mengangkat kepalanya.
"Mi-" Perkataan Kangin segera di potong oleh Leeteuk. Dia menempelkan jari telunjuknya pada bibir Kangin. "Amu maldo hajima (don't say anything)," kata Leeteuk. "Ini bukan salahmu," lanjutnya sambil tersenyum.
Kangin mencium ujung jari Leeteuk. Leeteuk tersenyum. Kangin berdiri dan memakaikan sepatu Leeteuk. Leeteuk tersipu malu. Kangin hanya tersenyum.
"Sudah siap dengan pesta kedua, My Cinderlela?" kata Kangin sambil mengulurkan tangannya.
Leeteuk tersenyum lagi. Dia menyambut tangan Kangin. Kangin langsung menyematkan jemarinya di antara jemari Leeteuk. Mereka berjalan menuju lift dan naik ke lantai 10. Leeteuk menarik nafas panjang dan menghembuskannya sebelum masuk ke ballroom. Mereka melewati bagian penerima tamu dan masuk ke ballroom.
Leeteuk merasa beda. Pandangan orang-orang kali ini terasa lebih menyenangkan, walau masih ada dari mereka yang menatap Leeteuk remeh. Mereka menatap Leeteuk dengan pandangan kagum tapi penuh tanya. Leeteuk berjalan mantap di sebelah Kangin.
"Membawa calon istrimu ke pesta sebesar ini, Mr. Kim. Kau pasti punya nyali yang besar," kata seseorang.
Ini dia. Tokoh jahat lainnya yang berusaha menjatuhkan tokoh baik. Kali ini Leeteuk tidak mau kalah. Dia angkat bicara. "Maaf jika boleh saya bicara. Nyali yang saya miliki memang besar untuk datang ke pesta ini. Karena saya merasa saya harus melindungi calon suami saya dari orang-orang seperti Anda," kata Leeteuk pelan, sopan serta senyum. Di balik itu semua terdapat nada ancaman yang tersirat.
Orang itu mengertakan giginya kesal. Dia lalu pergi meniggalkan ballroom itu. Kangin membelalakan matanya. Dia terkejut mendengar perkataan Leeteuk barusan. Leeteuk sendiri membuang nafasnya yang sedari tadi dia tahan karena tegang. Ada perasaan senang dan lega setelah mengatakan hal itu. Dia tersenyum menatap Kangin yang terpaku karena kaget.
"Bagaimana?" tanya Leeteuk.
"Luar biasa," jawab Kangin. Memang tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan kehebatan Leeteuk tadi. "Ji Hyo nuna yang mengajarkannya?"
"Sebenarnya aku mengatakannya tanpa berpikir. Aku hanya mengatakan apa yang ingin aku katakan," kata Leeteuk.
Dan hal itu membuat Kangin semakin terperajat. "Wow," kata Kangin speechless. Dia tersenyum kagum pada Leeteuk. Leeteuk membalas senyuman Kangin. Mereka berjalan ke tengah-tengah pesta. Kali ini putra dari rekan kerja orangtua mereka yang menikah. Namanya Lee Seung Gi sedangkan mempelai wanitanya Kangin tidak mengenalinya. Kangin juga memperkenalkan rekan-rekan kerja appanya dan appa Leeteuk. Sejauh yang Leeteuk ingat: Kwon Ji Young, Dong Young Bae, Choi Seung Hyun, Kang Dae Sung dan Lee Seung Hyun. Pesta ini membuat Leeteuk senang karena dia merasa di terima. Dia berterimakasih pada Ji Hyo eonni yang membuka pikirannya. Pesta ini terasa lebih cepat karena Leeteuk senang.
.
07.58PM, KangTeuk sudah sampai di parkir mobil di lantai 12. Disana ada valet yang sudah menunggu Kangin untuk menyerahkan kunci mobil. Kangin membukan pintu untuk Leeteuk dan lagi-lagi, Leeteuk tersipu malu. Leeteuk segera membuka sepatu haknya. Kakinya terasa hidup kembali. Kangin masuk ke kursi pengemudi. Kangin melepas jasnya dan melemparnya ke kursi belakang. Dia mengendorkan dasi dan membuka kancing paling atas. Dia juga melepas kancing boleronya. Dia tidak betah memakai pakaian formal. Dia menyalakan mesin mobil.
"Tunjukan rumahmu, setelah itu baru antar aku pulang," kata Leeteuk.
"Wae?" tanya Kangin heran.
"Sudah cepat jalan," kata Leeteuk keras kepala.
Kangin yang tidak bisa membantahnya melaju mobilnya menuju rumahnya. Dia memberikan tips pada valet tersebut. Kangin melirik Leeteuk selama perjalanan. Dia memelototi jalanan. Kenapa dengan Leeteuk. KangTeuk berkendara dalam diam. Mereka cukup lelah hari ini, di tambah awal hari ini mereka lari pagi. Seakan tidak ada waktu untuk istirahat. Kangin melihat gelagat Leeteuk. Dia melihat Leeteuk menampakkan ekspresi kaget. Kangin makin heran. Mereka sampai di rumah Kangin. Penjaga pintu bermaksud membukakan pintu gerbang, tetapi Kangin mengisyaratkan agar tidak perlu melakukannya.
"Ini rumahku," kata Kangin pada Leeteuk yang masih kaget.
"Kau pindah rumah?" tanya Leeteuk.
"Ya begitulah. Mendengar kau pindah rumah, aku merayu appa agar pindah rumah juga," jawab Kangin.
Leeteuk menatap Kangin tajam. Jadi itu sebabnya Kangin selalu ada dimana-mana. Saat di mini market dan saat lari pagi. Itu karena rumah mereka berada di satu blok.
"Wae?" tanya Kangin penasaran.
"Jadi ini sebabnya kau selalu ada dimana-mana. Saat di mini market dan saat kau lari pagi hari ini," jawab Leeteuk.
"Mini market?" Kangin mengerutkan keningnya. Dia mengingat sesuatu. "Jadi gadis yang aku tabrak kemarin adalah kau?"
Leeteuk mengangguk.
"Kenapa kau menghindariku?" tanya Kangin dengan nada kesal.
"Hei, saat itu aku sangat membencimu karena kau selalu menjahiliku. Jadi aku tidak ingin melihat mukamu," kata Leeteuk tidak mau kalah.
Kangin akan membuka mulutnya untuk membela diri. Tapi Leeteuk keduluan bicara." Tapi sekarang aku mencintaimu. Dari aku menyukaimu. Sekarang aku mencintaimu," kata Leeteuk lembut.
Kangin tersenyum malu. Dia bisa merasakan wajahnya memerah. "Itu 'kan kata-kata yang harus di ucapkan laki-laki," kata Kangin lembut.
Leeteuk terkekeh. Mereka saling menatap. Pelan, kepala mereka saling mendekat. Mata mereka mulai terpejam. Saat bibir mereka akan bertemu,
"Kangin!"
Leeteuk segera menjauh dari Kangin. Dia tersenyum malu. Wajahnya memanas. Kangin mengerang. Kenapa appanya harus datang di saat seperti ini? Menjengkelkan.
"Kangin-a kau sudah pulang? Oh Leeteuk-a. Kenapa kau masih disini? Kenapa kau membawanya kemari? Kenapa kau tidak mengantarnya pulang? Kau ingin apakan dia?" Pertanyaan bertubi-tubi datang dari appanya. Kangin hanya bisa menarik nafas.
"Anyeonghaseyo, ajuhssi," kata Leeteuk sopan. Wajahnya masih terasa panas.
"Kangin-a. Kenapa kau diam? Bagaimana nasib Leeteuk? Aigo karena sudah malam lebih baik kau menginap disini. Meski rumah Leeteuk dekat, tapi kau tampak kelelahan. Kamar Kangin luas, tenang saja."
Kangin menatap appanya tajam. "Menginap? Kenapa kamarku di bawa-bawa? Appa!"
Yoochun sudah menghilang, menyuruh penjaga pintu agar membuka pintu gerbang. "Ayo masuk! Udara dingin dan Leeteuk masih mengenakan gaun. Jangan sampai dia sakit."
Kangin menatap appanya tidak percaya. Sedangkan Leeteuk hanya kecicikan pelan.
"Kangin-a!" teriak appanya.
Kangin mau tidak mau memasukan mobilnya. Penjaga pintu menutup gerbang. Kangin mehentakkan kepalanya ke kursi.
"Ayo turun," kata appa. Kangin mengambil jas yang dia tadi lempar ke kursi belakang. Leeteuk memakai sepatunya asal. Kangin mematikan mesin dan mereka turun dari mobil. Dia mengandeng tangan Leeteuk.
Mereka masuk kedalam rumah. Kangin melihat eommanya sedang duduk di ruang tamu menonton TV. "Oh, Kangin-a, Leeteuk-a. Leeteuk? Kenapa kau membawanya, kemari Kangin-a?"
"Anyeonghaseyo, ajuhma," sapa Leeteuk.
Kangin hanya diam. Dia tidak mau mengeluarkan suara.
"Sepertinya Leeteuk akan menginap. Aku akan telepon Jaejoong bahwa putri sulungnya diculik oleh putra sulungku," kata eomma Kangin.
Leeteuk terkekeh pelan. Kangin menghembuskan nafasnya.
"Kenapa kau diam saja? Bawa dia ke kamarmu," kata eomma Kangin melihat anaknya diam tidak bergeming. "Yeoboseyo, Jaejoong-a. Ini soal Leeteuk. Bukan dia tidak apa-apa. Hanya saja Kangin menculiknya dan Leeteuk akan menginap malam ini dirumah kami..."
Kangin tidak ingin mendengarnya. Dia segera menarik Leeteuk ke atas. Leeteuk hanya kecicikan pelan. Kangin tanpa sadar membawa Leeteuk ke kamarnya. Dia membanting pintu kamarnya dan melempar jasnya ke sofa.
"Leeteuk-a, mianhae, aku-"
"Gwenchanha. Lagipula ini salahku juga. Aku akan menjelaskannya pada ajuhma," kata Leeteuk sambil terkekeh. Leeteuk bermaksud keluar dari kamar Kangin, tapi Kangin memegang pergelangan tangannya.
"Gajima," katanya penuh arti. Kangin menatap dalam-dalam mata Leeteuk. "Gajima," ulang Kangin. "Menginaplah."
Leeteuk tersenyum. Dia tidak jadi pergi. Dia memutuskan untuk menginap malam itu, dan tidur di kamar Kangin...
.
TBC
.
(Author corner: uuuu.. kira2 malam ini mereka ngapain ya..? kekekeke *evil smirk*)
