"[Name]..."

"Hi-Himuro-kun...?"

Tangannya yang besar mengelus wajahku dengan perlahan, sentuhannya membuatku menggidikkan bahuku, geli rasanya. Dia menatapku dengan lembut, aku menatap nya kembali, tapi aku tidak tahan lagi dengan tatapannya, aku memalingkan kepalaku—menghindari kontak mata dengannya. Tetapi ia menangkup wajahku dan membuatku menatapnya.

"Tatap aku [Name]."

Aku meneguk ludahku, jantungku berdetak begitu kencang, tanganku berkeringat. Aku tidak bisa menebak apa yang akan terjadi kepadaku!

"Apa kau ingat, kalau kau memberiku dua permintaan sebagai tanda terima kasih?"

Dua permintaan?

Ah... yang waktuituya...

Aku menganggukkan kepalaku, dan bertanya "Kau... ingin meminta sesuatu kepadaku?"

Dia hanya memberiku sebuah senyuman sebagai respon "iya"

"Apa itu?" Tanyaku lagi.

"Aku..." dia mengusap bibirku dengan jempolnya, perlahan dia mendekatkan wajahnya kepadaku dan berbisik

"Ingin sekali menciummu..."

APA?!

"Hi-Himuro-kun?!"

Ia menarik kepalaku perlahan, ia mulai memiringkan kepalanya dan semakin lama wajahnya semakin dekat denganku, aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya!

Aku hanya menutup kedua mataku sampai merasakan ada sesuatu yang menempel di bibirku.

Astaga.

Aku rasa aku baru dicium oleh Himuro-kun!


Tonari no Himuro-kun

Himuro x Oc/Reader

Rated: T

Warn: Tidak sesuai EYD, mungkin typo, maksain.


Perlahan aku membuka waktu untuk menyadari kalau aku sedang tiduran sambil memeluk bantal dan mencium bantal ini.

"Aah... ternyata hanya mimpi..."

Lagipula kenapa aku bermimpi tentang ciuman?Apa itu artinya aku sudah menjadi perempuan dengan pikiran busuk nan mesum?!

Aku berguling-guling di kasur, merasa malu dengan mimpi yang aku alami barusan. Eh, tapi tunggu!

Aku beranjak dari kasur dan mengecek kalender, mencari-cari tanggal yang sudah aku tandai dengan spidol merah dengan tulisan "Kencan dengan Himuro-kun."Saat sudah menemukannya, aku langsung membelalakkan mataku.

Kenapa waktu berjalan begitu cepat? kenapa besok aku sudah mulai berkencan dengan Himuro-kun? Aku kan belum siap!

Pakaian apa yang harus aku kenakan?

Rambutku harus diapakan?Apa aku potong sedikit saja?

Ahh! Besok aku harus berpenampilan seperti apa?!

Disaat aku sedang bingung dengan masalah Kencan yang akan diadakan besok, tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang, kemudian pintunya terbuka dan memperlihatkan sosok Rina-nee.

"Akhirnya bangun juga, ayo turun kebawah, sarapannya sudah siap."

"Ba-baiklah..."

Apa aku minta tolong kepada Ryoko-nee dan Rina-nee?

.

.

Saat sarapan, aku sama sekali tidak mengatakan apa-apa, sepertinya isi kepalaku sekarang hanyalah kata-kata "Kencan dengan Himuro-kun." Ryoko-nee terus menatapku, Rina-nee memperhatikan mimik wajahku, sampai akhirnya mereka bertanya dengan bersamaan

"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?"

Aku langsung sadar dari lamunanku, aku melihat sekeliling dan bertanya kembali "Dimana Ryota?"

"Tumben sekali kau mencari sudah pergi tuh." Jawab Rina-nee, kemudian mengunyah kembali makanannya

"Kemana?"

"Dia ada latihan basket, habis itu dia ada pemotretan." Ujar Ryoko-nee.

Aku menghela nafas lega karena Ryota tidak ada disini sekarang, bayangkan saja jika dia tahu kalau aku ada kencan besok! Pasti dia akan menguntitku!

"Memangnya ada apa [Name]?" Tanya Ryoko-nee

Aku memainkan jari-jari tanganku, aku merasa ragu untuk bertanya hal ini atau tidak, tapi mau tidak mau aku harus bertanya!

"Euhm... begini... apakah kalian pernah pergi berkencan?" ke topik utama aku harus mulai basa-basi dulu.

"Tentu saja pernah!" Jawab mereka dengan kompak, dan juga bangga. Aah, lagipula kenapa aku bertanya sesuatu yang jawabannya sudah sangat jelas?

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal seperti itu?"Tanya Rina-nee dengan nada yang curiga.

"Err... sebenarnya... besok aku... diajak kencan..."

Ryoko-nee dan Rina-nee langsung menghentikan aktivitas sarapan mereka dan menatapku dengan tatapan tidak percaya, tapi lama-lama tatapan mereka berubah seperti seorang ibu yang bangga dengan prestasi anaknya.

"Yang benar?Siapa?!"

"Kau punya pacar? sejak kapan?!"

"Bu-bukan begitu! Biarkan aku menjelaskannya dulu!"

Reaksi mereka begitu berlebihan, aku membutuhkan beberapa waktu untuk menenangkan mereka, sebelum menjelaskan semuanya.

.

.

.

"Begitulah, karena itu... aku ingin meminta saran kalian untuk... membuat penampilanku terlihat baik untuk besok..."

Baiklah! Aku akui sense ku dalam penampilan itu sangatlah buruk, aku hanya memiliki kaos dan kemeja dan beberapa model celana jeans! Rok? Aku hanya punya rok sekolah! Sepatu pun aku hanya punya sepatu kets dan flat shoes. Maksudku... isi lemari bajuku benar-benar membosankan!

"Kalau begitu, bisa dibilang ini adalah kencan pertamamu bukan?"Tanya Ryoko-nee. Aku hanya mengangguk, kemudian aku mendengar Ryoko-nee dan Rina-nee terkekeh seperti "Hehe", demi apapun itu, kekehan mereka terdengar menakutkan!

"Baiklah! Kau ini beruntung meminta tolong kepada model seperti kami!" Ucap Rina-nee sembari mengibaskan rambutnya

"Kebetulan aku ada beberapa baju yang ingin aku kenakan kepadamu!"Ucap Ryoko-nee. Sial, sepertinya aku akan menjadi bonekanya hari ini...

"Eh, tapi! Tolong jangan beritahu Ryota kalau aku ada kencan!"

"Tenang saja, kami akan mengunci mulut kami rapat-rapat!"

"Sudah-sudah, sekarang ayo kita ke salon untuk membenarkan rambutnya yang modelnya tidak karuan itu!"

Kalian tahu, selama seharian itu aku terus diseret memasuki dunia Ryoko-nee dan Rina-nee. Bahkan saking asiknya mereka menyeretku kesana kemari, kami pulang kerumah pukul 9 malam. Ryota yang sudah sampai rumah lebih dulu dari kami pun bertanya-tanya dengan rambut baruku.

"Kau memotong rambutmu [Name]-cchi?" Ryoko-nee dan Rina-nee langsung pergi ke lantai atas untuk menyimpan barang-barang hasil belanja mereka. (Sekedar Informasi, barang-barang belanjaan itu bukanlah milikku.)

"Iya." Jawabku singkat.

"Model dibentuk menjadi oval begitu ya... Tumben sekali, memangnya besok kau ada acara-ssu?"

Kenapa dia bisa menebak dengan tepat kalau besok aku ada acara (kencan)?!

"Euhm... I-Iya..." Sial, kenapa aku gugup? Bagaimana jika Ryota bisa menebak dengan tepat lagi kalau besok aku ada kencan?!

"Me-memangnya kenapa?"

"Ah, tidak. Sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi jalan-jalan setelah pemotretan selesai, itupun jika kau besok menganggur-ssu."

"Eh? Besok kau ada pemotretan?" Aku tidak salah dengar kan?

"Iya, kali ini kita mengambil foto diluar-ssu."

"Jam berapa kau pergi?" Aku berjalan mendekati Ryota dan menatapnya dengan mata yang berbinar

"Sekitar jam 9, mungkin akan selesai sore-ssu."

Oke, aku akan mengingat-ngingat kalau besok Ryota akan pergi sekitar jam 9! Kalau begitu besok aku akan berangkat jam...

Tunggu, besok aku janjian dengan Himuro-kun bertemu dimana? Jam berapa?!

"Memangnya kenapa [Name]-cchi?"

Aku tidak menjawab pertanyaan Ryota dan langsung berlari pergi menuju kamarku, aku mengambil ponselku dan mencari kontak Himuro-kun, apa aku menelponnya saja? Tapi masa aku langsung bertanya to the point begitu saja? Atau aku mengirim pesan kepadanya saja? Tapi bagaimana jika dia tidak membalasnya?!

Saat aku bimbang memilih antara "Telpon" atau "Kirim pesan" tiba-tiba ponselku berdering, aku kaget tidak main ketika melihat nama yang ada di layar ponselku

"Himuro-kun"

Kenapa setiap kali aku bimbang untuk menghubunginya pasti Himuro-kun selalu menelponku!

Aku menggelengkan kepalaku dan memencet tombol angkat.

"Ha-halo?"

"Ah, Halo [Name]."

Sial, kenapa aku jadi senang seperti ini hanya dengan mendengar suaranya saja?! Tahan cengiranmu [Name]!

"Aku ingin menentukan tempat dan waktu untuk besok, kau ingin bertemu dimana?"

seperti itu dengan suaranya yang lembut seperti itu benar-benar membuat cengiranku semakin lebar! Aku rindu dengan suaranya!

"Eemm... itu... di tempat yang mudah dijangkau Himuro-kun saja."Untung saja aku masih bisa mengendalikan nada suaraku.

"Kalau begitu, di taman Midor idekat stasiun ya. Mau jam berapa?"

Jam...

"Aku berangkat sekitar jam 9-ssu."

"Jam 09.30 atau jam 10.00 saja."

"Yang benar yang mana?"

"Pokoknya sekitar jam segitu!" Yang penting aku tidak mau Ryota tahu kalau aku ada kencan!

AkumendengarHimuro-kun terkekehdarisana, kemudianiamenjawab"Baiklah, kalau begitu jam 9.45 di taman Midori."

"Oke!"

"Kalau begitu, aku akan menutup sambungannya."

"Eh? Tunggu!" Siaaal! Kenapa aku bilang 'tunggu' segala?! Memangnya aku ingin membicarakan apa kepadanya?

"Ada apa?"

Apa yang harus aku katakan kepadanya?! "Eeuhm... tidak, aku... aku hanya..." kenapa aku menjadi perempuan pemalu seperti di komik-komik shoujo?!Uuughh

"Hanya?"

"A-aku hanya ingin mendengar suaramu lebih lama!Oyasumi!" Dengan begitu aku mematikan sambungan telponnya.

Aaah! Apa yang baru saja aku katakan?! Tapi aku memang ingin mengobrol dengannya lebih lama! Tapi aku juga malu! Tapi apa yang baru saja aku katakan?!

Bunuh saja aku!


"A-aku hanya ingin mendengar suaramu lebih lama! Oyasumi! *PIP*"

Himuro menatap ponselnya dengan datar, kata-kata [Name] terus saja terulang-ulang dikepalanya, kemudian ia tersenyum tipis.

"Dia mengatakan kalau dia ingin mendengar suaraku lebih lama, tapi dia mematikan sambungannya." Himuro menghempaskan tubuhnya diatas kasur, ia menghela nafas dan tersenyum dengan lembut.

"Aah, semakin lama aku semakin menyukainya."


Aku mengenakan baju one-piece dress (yang sebenarnya diberikan Ryoko-nee) dengan atasan bewarna putih polos dan rok dengan pendek selutut bewarna cream, dan aku megenakan sepatu wedge bewarna coklat dengan tinggi 3 cm. Aku juga menggunakan tas selempang bewarna hitam dengan beberapa corak bunga. Dan asal kalian tahu, ini pertama kalinya dalam hidupku aku menggunakan sepatu hak tinggi! Jujur saja, kecepatan berjalanku menjadi menurun ketika aku menggunakan sepatu ini, bahkan kakiku juga bergetar!

Dan disinilah aku sekarang, berada di taman Midori—pukul 09.50, dengan Himuro-kun yang sedang menatapku, bukan Himuro-kun saja, orang-orang disekitar kami juga memerhatikanku.

Kenapa? Apa aku terlihat aneh? Apa penampilanku terlihat aneh di mata orang-orang!?

Aku menggaruk pipiku yang tidak gatal, dan ragu-ragu bertanya kepada Himuro-kun "Eeto... apa aku terlihat aneh?"

Himuro-kun masih menatapku, tidak memberi jawaban apapun. Paling tidak katakanlah sesuatu!

"Himuro-kun!" panggilku sembari memukul lengannya, dia langsung bangun dari lamunannya. Aku melanjutkan kata-kataku lagi "Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku terlihat aneh?" tanyaku.

Himuro-kun tersenyum dan menepuk kepalaku "Tidak aneh kok. Kau terlihat sangat manis."

Awalnya aku hanya menatapnya dengan datar, tetapi wajahku langsung memerah dan ekspresiku langsung berubah ketika dia mengatakan kalau aku ini manis.

Manis katanya!

Ha!

Tidak tidak [Name], tahan cengiran nistamu itu!

Aku menutupi wajahku dengan tangan sebelah kiriku dan memukul lengan Himuro-kun dengan tangan kananku, sembari mengatakan

"Jangan mengatakan hal seperti itu, malu tahu!"

"Hahaha, okay okay, bagaimana kalau kita mulai jalan sekarang?" Usulnya, aku mengangguk dan mulai berjalan di belakangnya. Ngomong-ngomong, walaupun Himuro-kun hanya menggunakan kaos putih polos dan celana jeans hitam dengan rantai, berpenampilan sederhana seperti itu saja dia sudah terlihat keren, apalagi banyak perempuan-perempuan yang melihatnya. UUGH.

Aku berusaha menyamai langkahku dengan langkah Himuro-kun dengan sepatu terkutuk ini. Tidak suka tapi dipakai? Ini bukan kemauanku juga tahu! Rina-nee dan Ryoko-nee menyembunyikan semua sepatuku agar aku memakai sepatu terkutuk ini, mereka bilang "Biar harga dirimu terlihat lebih tinggi sedikit [Name]." Maksudnya harga diriku memang rendah? Atau maksud mereka aku ini pendek?!

Aku mencoba untuk berjalan cepat (sambil memikirkan kata-kata Rina-nee dan Ryoko-nee). Tapi aku tidak melihat ada batu, dan aku tersandung batu itu.

Sial, belum 10 menit pergi kencan masa aku sudah membuat malu diri sendiri?!

Karena refleks (lebih tepatnya tidak mau malu sendiri) aku menarik punggung kaos Himuro-kun dari belakang, tentu saja Himuro-kun ketarik ke belakang, dan pada akhirnya aku tidak jatuh bersimpuh, tapi aku menabrakkan wajahku sendiri di punggung Himuro-kun!

"Oomfh!"

Aku yakin sekarang posisiku dan Himuro-kun benar-benar menarik perhatian publik, soalnya...

"Cewek itu kenapa?"

"Mungkin dia sedang mengendus bau laki-laki itu."

"Aku jadi kasihan dengan pria itu, dia pasti malu jalan berdua dengan perempuan itu."

"Hihihi, pasti malu."

Uuuughhhh, rasanya aku mau menyembunyikan wajahku di punggung Himuro-kun seperti ini saja selamanya!

Himuro-kun membalikkan badannya, dia berhadapan denganku yang sedang menunduk menahan malu ini, aku merasakan kedua tangannya ada di bahuku, aku bisa melihat kalau dia menekukkan lututnya untuk menyamai tingginya dengan tinggiku, kemudian ia bertanya dengan nada yang khawatir.

"Kau tidak apa-apa, barusan tersandung?"

Aku mengangguk, Himuro-kun menghela nafas, dia menangkup wajahku dan membuatku tidak menunduk lagi.

"Gomen, aku jalan terlalu cepat ya?"

Bukan itu, ini semua salah sepatu terkutuk ini!

Aku melepaskan tangannya dari wajahku, dan mengatakan "Kau jalan terlalu cepat tahu. Paling tidak berjalan berdampingan denganku."

Himuro-kun hanya menatapku, tatapannya menandakan kalau dia sedang mencerna kata-kataku barusan, memangnya apa yang harus dicerna dari kata-kataku?

Tiba-tiba Himuro-kun tersenyum dan mengatakan "Baiklah, aku mengerti." Ia mengulurkan tangannya kepadaku "Mau bergandengan tangan denganku?"

"Be-bergandengan?!" Seruku, Himuro-kun memiringkan kepalanya seperti anak yang polos.

"Tidak mau?" Dia masih tetap mengulurkan tangannya didepanku, dan kali ini dia menggunakan tatapan "memohon" andalannya! Ugh, aku menatap wajahnya dan tangannya secara bergantian, aku tahu ini berlebihan, tapi wajahnya begitu berkilauan sekarang!

"Aku..." Aku memalingkan wajahku, aku tidak kuat menatap wajahnya seperti itu, kemudian aku melanjutkan kata-kataku "Tidak tahu."

"...kau menjawab 'tidak tahu', Tapi sekarang kau megenggam tanganku."

.

.

.

Sekarang aku bisa mengendalikan diriku untuk bersikap lebih natural, tidak gugup di depan Himuro-kun. Tapi tetap saja aku takut kalau tanganku yang dipakai bergandengan ini keringatan!

Tapi daripada itu, hari ini kenapa panas sekali? Aku tahu sekarang itu musim panas, tapi hari ini lebih panas dari biasanyan. Aku terus mengipas-ngipas diriku dengan tanganku sendiri, tapi anginnya sama sekali tidak terasa. Cih, sama saja bohong.

Tiba-tiba Himuro-kun berhenti jalan tepat di tengah kerumunan, aku menatapnya dengan kebingungan "Ada apa?"

Dia melepaskan gandengan tangannya, dan mengatakan "Tunggu disini. Jangan kemana-mana, oke?"

"Err... oke?"

Dengan begitu Himuro-kun pergi entah kemana, yang penting aku harus menunggunya disini sampai dia datang.

Tidak lama kemudian, samar-samar aku melihat sosok Himuro-kun. Dia seperti membawa sesuatu di kedua tangannya. Demi apapun itu, aku merasa senang sekali melihat objek yang ada ditangannya, itu adalah objek yang sangat cocok untuk musim panas ini!

"Ini, untukmu." Ucapnya sembari memberiku es krim two-scoop Coklat dan Vanilla (Coklat yang diatas dan Vanilla dibawah). Aku mengambil es krim itu dari tangannya, aku benar-benar ingin memakannya sekarang juga, tapi paling tidak aku harus mengucapkan terima kasih dulu dan menunggu Himuro-kun untuk memakan es krim miliknya juga.

"Aku tidak tahu kau menyukai es krim rasa apa, tapi aku harap—pilihanku tidak salah."

"Aku suka kombinasi Coklat dan Vanilla, apalagi Coklat! Karena itu Terima Kas—"

BRUUK

Seseorang baru saja menabrakku dari belakang, dan es krim yang aku pegang jatuh diatas telapak tangan Himuro-kun.

"Ah..."

Aku tidak tahu harus marah atau bagaimana—tapi yang jelas...

ES KRIM COKLAT KU JATUH DIATAS TELAPAK TANGAN HIMURO-KUN!

Lagipula kenapa bisa?!

Padahal belum aku jilat!

Aku dan Himuro-kun menatap datar Es Krim yang jatuh diatas telapak tangannya itu, aku juga mendengar beberapa orang yang menertawakan kami (atau mungkin AKU).

"Aaah... perempuan itu baru saja membuat malu pria tampan itu."

"Hihihi, lihat saja mereka—menatap datar Es itu."

Uugh—masyarakat sekarang itu selalu mengomentari orang-orang yang ada disekitar mereka ya?!

Oke [Name], tenang, bukan saatnya untuk marah!

"Maaf Himuro-kun, biar aku bersihkan tanganmu." Aku merogoh isi tasku dan mencari tisu, tetapi Himuro mengatakan;

"Sudah, tidak apa-apa." Ucapnya sembari mencolek Es Krim Coklat itu dengan jari telunjuknya.

"Tapi...eh?" dia mengarahkan jari telunjuknya ke mulutku. Himuro-kun memberiku instruksi untuk membuka mulutku, aku kebingungan apa maksudnya, tetapi aku tetap membuka mulutku sedikit.

Antara bingung, malu dan salah tingkah—aku tidak tahu harus bereaksi apa ketika Himuro-kun tiba-tiba memasukkan jari telunjuknya dengan Es Krim coklat itu kedalam mulutku, tapi aku yakin wajahku sudah sangat merah sekarang! Maksudku—ini tempat umum, dan ada banyak orang, tindakannya menarik perhatian orang-orang!

Setelah itu, aku masih dalam posisi yang sama, memasang ekspresi orang bodoh dengan mulut yang menganga, Himuro-kun hampir tertawa melihat ekspresiku.

"Kenapa kau memasang wajah seperti itu?" tanyanya seakan barusan itu adalah hal yang biasa saja.

"Justru kau yang 'kenapa'! kenapa kau menyuapiku es krim dengan... dengan... dengan cara seperti itu?!" tanyaku gelagapan, Himuro-kun berpikir sejenak, kemudian menjawab "Oh, waktu di Amerika, aku pernah disuapi seperti itu oleh guruku karena tidak kebagian sendok es krim."

"Tapi ini kan di Jepang, Bukan Amerika!"

Uuh, jadi seperti ini orang-orang yang pernah tinggal di Amerika? Melakukan kontak fisik yang cukup mencolok seperti barusan itu adalah hal yang biasa?

"Sudahlah, sini berikan tanganmu, biar aku bersihkan." Himuro-kun memberikan tangannya yang kejatuhan Es Krim barusan, aku membuatnya membuang es itu ke tempat sampah (selamat tinggal Es Krim coklatku...) kemudian aku mengelapnya dengan tisu milikku, Himuro-kun sama sekali tidak mengatakan apa-apa, tapi aku merasa kalau dia sedang menatapku.

Aku menengadahkan kepalaku dan menatapnya. "Ada apa?"

"Tidak. Aku hanya baru sadar..."

"Sadar?"

"Kalau tanganmu ini kecil ya."

Dia mengatakannya sambil terus menatap tanganku, aku menundukkan kepalaku dan kembali membersihkan tangannya. Sial, kemana diriku yang biasanya tidak tahu malu ini? Kenapa aku selalu tersipu malu dengan kata-kata Himuro-kun yang seperti itu?!

Setelah membersihkan tangannya, Himuro-kun megenggam tanganku lagi dan mengajakku berjalan lagi, kata-katanya barusan terus menggema di kepalaku. Tidak [Name]! Kau harus bersikap seperti biasa!

"Euhm... [Name], kau terlalu kuat megenggam tanganku." Ucapnya, sepertinya tanpa sadar aku sudah meremas tangannya. Aku meregangkan genggamanku dan bergumam "Maaf."

"Tidak apa-apa, apa kau tegang?"

"Tidak kok!"

Ayo [Name] bersikaplah seperti biasa! Natural!

"Ngomong-ngomong Himuro-kun."

"Ya?"

"Tanganmu lengket."

"..."

Sial, apa yang baru saja aku katakan?!

.

.

.

.

Himuro-kun sama sekali tidak mengatakan kita akan pergi kemana, selama perjalanan dia hanya terus megenggam tanganku sambil mengajakku berbicara (dan bagusnya sekarang aku tidak salah tingkah lagi). Dan disinilah aku sekarang, di sebuah gedung bioskop bersama Himuro-kun.

"Apa kau ingin menonton sesuatu?" Tanyanya. Aku hanya bengong menatap poster-poster film yang ditayangkan di gedung bioskop ini.

"[Name]? Apa kau tidak suka aku bawa kesini?" Tanyanya dengan nada kecewa, aku langsung sadar dari lamunanku dan menjawab "Tidak kok, aku senang diajak kesini! Soalnya sudah lama sekali aku tidak nonton film bioskop!"

"Syukurlah, apa ada film yang ingin kau tonton?"

Aku mengusap daguku, dan menatap poster-poster film yang dipajang satu per satu. "Hmm... Himuro-kun sendiri bagaimana?"

"Film manapun tidak masalah, tapi aku lebih suka film Action."

"Eeeh? Tapi aku lebih suka film yang ada Monsternya!"

"...Monster?" Tanya Himuro-kun dengan senyuman tipis di wajahnya, aku tahu kalau dia ingin tertawa!

"Ma-maksudku, film yang ada Monster atau raksasa itu kan menegangkan! Bagaimana si tokoh utama dikejar-kejar Monster itu dan berusaha mencari cara agar bisa keluar! Pokoknya yang kejar-kejaran dan sesuatu yang mendebarkan!" Aku menjelaskan sejelas mungkin sampai Himuro-kun tidak berpikir film yang aku maksud adalah Ultraman! (Karena Ultraman selalu melawan monster!)

"Ah... maksudmu seperti Jurrassic Park, dan Maze Runner?"

Aku menepukkan kedua tanganku "Tepat sekali!"

Himuro-kun terkekeh dan mengatakan "Ini pertama kalinya aku mendengar ada perempuan yang menyukai film yang ada Monsternya."

Aku meggembungkan pipiku "Kenapa? Memangnya aneh?"

Himuro-kun menggelengkan kepalanya dan menatapku "Tidak, justru hal seperti itulah yang aku sukai darimu."

"...eh?" Apa katanya barusan?!

"Ah, Lebih baik kita mengantri beli tiketnya sekarang." Ucapnya sebelum pergi mengantri. Aku masih berdiri di tempat yang sama, aku tidak tahu harus tersenyum seperti apa, yang jelas wajahku sekarang pasti terlihat sangat nista, karena orang-orang melihatku dengan tatapan aneh!

Sial, ini tidak bisa dibiarkan, aku harus melampiaskan ini kepada seseorang!

Aku mengambil ponselku dan mengetik pesan dengan cepat dan mengirimnya kepada orang yang ada di sebrang sana. Setelah itu, aku mulai menyusul Himuro-kun dengan kakiku yang sudah mulai agak sakit ini.


Sementara itu...

Liu, yang sedang di kamar asramanya mencatat sesuatu merasakan getaran di mejanya yang berasal dari ponselnya. Ia membuka ponselnya dan melihat ada pesan dari [Name].

Membaca pesan tersebut membuat sebuah urat muncul di keningnya. Karena isi pesannya adalah:

"TERKUTUKLAH KAU!"

Liu mendecakkan lidahnya. "Cih, liburan musim panas begini malah mengajak ribut. Paling tidak tanyakan 'apa kau ingin sesuatu dari Tokyo?' Atau semacamnya." Gerutunya sambil kembali mencatat di bukunya.


Aku berjalan keluar dari studio dan meregangkan tubuhku "Tadi itu seru sekali, benar kan Himuro-kun?" Ucapku memulai topik pembicaraan.

Himuro-kun mengangguk dan menjawab "Benar, barusan itu menegangkan sekali, bahkan kau sendiri sampai menghentakkan kakimu beberapa kali."

Eh? Menghentakkan kaki?

"Aku rasa aku tidak menghentakkan kakiku selama aku menonton." Ucapku dengan penuh percaya diri, Himuro-kun menggelengkan kepalanya "Tidak, jelas-jelas barusan kau menghentakkan kakimu, kau juga sempat mengangkat kakimu ke bangku saat adegan yang paling menegangkan." Dia menatapku begitu lurus, yang artinya aku benar-benar melakukan hal yan dia sebutkan barusan!

GAH! Itu adalah kebiasaanku setiap kali menonton adegan yang menegangkan!

"Kalau begitu lupakan apa yang kau lihat barusan!"

"Kenapa? Padahal aku jadi tahu apa salah satu kebiasaanmu bukan?"

"Uugh... Himuro-kun!" Aku mau memukul punggungnya sekuat mungkin, tetapi dia menghindari pukulanku. Kesal, akupun berjalan cepat untuk memukulnya lagi, tapi tiba-tiba aku merasakan rasa perih yang berasal dari kakiku, akupun menghentikan gerakanku.

"Ada apa?" Tanya Himuro-kun yang sadar aku berhenti mengejarnya. Dia mendekatiku untuk memastikan apa ada sesuatu yang salah dariku.

"Tidak ada apa-apa." Ucapku tersenyum dan mulai berjalan lagi.

Wahai kakiku yang indah, aku harap kalian bisa bertahan sampai aku pulang berkencan!

.

.

.

Karena aku tidak mau Himuro-kun curiga kalau kakiku lecet, aku menghindari kontak bergandengan tangan dengannya, aku mengatakan kalau aku tidak ingin bergandengan dengannya dulu, dan kalian tahu seperti apa reaksinya?

Datar.

SANGAT DATAR. seperti "Oh, kalau itu yang kau inginkan, baiklah..."

AKU HARAP DIA TIDAK MARAH KEPADAKU!

Jadi karena itulah sekarang dia berjalan didepanku, aku berjalan di belakangnya dengan perasaan bersalah! Habisnya, masa aku mengatakan dengan frontal kalau; "Kakiku lecet, aku ingin lepas sepatu ini." Mana mungkin kan! Lagipula aku tidak ingin membuat repot Himuro-kun lagi!

Aku menghela nafas, aku mendengar suara tertawa dan teriakan segerombolan perempuan, lalu aku melihat segerombolan perempuan yang berkumpul di satu titik yang letaknya tidak begitu jauh di depan kami. Memangnya ada apa?

Kemudian akupun mendengar pembicaraan dua perempuan yang berjalan melewatiku.

"Disana Ramai sekali, memangnya ada apa?"

"Aah, itu? Katanya ada pemotretan dengan model Kise Ryota."

Hmm... ada Ryota?

...

APA?!

Aku mencari sosok Ryota di tengah-tengah kerumunan perempuan itu, walaupun hanya sepintas, aku bisa melihat ada kepala kuning! Astaga, dari semua tempat kenapa Ryota ada disini?! Sial, jangan sampai ketahuan kalau aku sedang kencan!

Aku menepuk-nepuk punggung Himuro-kun, ia menolehkan kepalanya, akupun mengatakan "Himuro-kun, bisakah kau berjalan lebih cepat?" Dia hanya menatapku dengan kebingungan, sebelum dia mengatakan sesuatu, aku langsung memotongnya "Aku ingin cepat pergi dari daerah sini, jadi tolong jalan dengan cepat ya?"

Himuro-kun menatapku dengan tajam "Bisa jelaskan terlebih dahulu apa sebabnya?" Sepertinya dia mulai curiga denganku, aku mulai mendorong-dorong punggunya.

"Iikara! Jangan banyak tanya Himuro-kun, ayo jalan saja!" Aku melirik kerumunan itu, lama-lama sekumpulan perempuan itu mulai pergi, geh! Jangan bilang kalau mereka dibubarkan! Kalau seperti ini aku bisa ketahuan!

Aku terlalu fokus memerhatikan berkurangnya orang-orang yang mengerumuni Ryota barusan, sampai aku tidak sadar kalau aku salah langkah dan rasa perih di kakiku muncul secara tiba-tiba. Aku tidak kuat menahan keseimbangan dan rasa sakit dikakiku ini, akupun terjatuh, tetapi Himuro-kun dengan sigap membalikkan badannya dan berlutut menahan tubuhku.

"[Name], kau tidak apa-apa?" Tanyanya dengan nada yang cemas, karena ini sudah kedua kalinya aku terjatuh. Aku hanya meringis kesakitan sambil menundukkan kepalaku.

"Sakit..." bisikku dengan pelan, tapi cukup terdengar dengan Himuro-kun.

"Kakimu lecet?"

Aku menganggukkan kepalaku. Himuro-kun menghela nafas dan bertanya "Apa kau bisa berdiri?"

Aku menggelengkan kepalaku "Aku tidak tahu..." soalnya kakiku pegal sekali!

"Kalau begitu, ayo coba berdiri." Himuro-kun mulai berdiri dan mengangkat tubuhku dengan perlahan, saat berdiri, aku kehilangan keseimbangan lagi dan jatuh ke dada bidang Himuro-kun.

"Umph!"

Aku bisa mendengar Himuro-kun mendecakkan lidahnya "Kau dari tadi menahannya? Kenapa tidak bilang?" Ucapnya dengan tegas. Aku hanya tertawa dengan bodoh.

"Lebih baik sekarang kita cari tempat duduk disekitar sini. Masih bisa jalan?"

"Bisa..." Himuro-kun mebimbingku berjalan dengan satu tangannya merangkul bahuku, dan satunya lagi untuk megenggam tanganku.

Yaah, paling tidak sekarang aku sudah menjauh dari tempat pemotretan Ryota.


Aku duduk di sebuah bench, dengan kedua sepatuku yang dilepas. Himuro-kun berjongkok didepanku sambil memegang kaki sebelah kananku.

"Ah! Jangan disentuh seperti itu, sakit!" Keluhku saat Himuro-kun menyentuh luka lecetku. Barusan aku hampir saja menendangnya!

"Lecetnya sudah parah seperti ini, kenapa kau diam saja?"

"Euhm... itu..."

"Kakimu juga jadi lemas seperti barusan, pasti ini adalah pertama kalinya kau memakai sepatu hak tinggi kan?" Tanyanya sambil menatapku dengan tajam, aku mengalihkan pandanganku dan mengangguk.

"Kalau kau tidak nyaman memakainya, kenapa kau tetap memakai sepatu itu?" Ugh, dia bertanya seakan-akan menaruh sebuah ancaman didalamnya!

Aku menggembungkan pipiku dan memainkan jari-jariku. "Soalnya aku..." sial, aku mulai menjadi malu lagi!

"Aku... ingin berpenampilan bagus didepan Himuro-kun..." GAAH! AKU MENGATAKANNYA! MAU DISIMPAN DIMANA WAJAH MERAHKU INI?

Himuro-kun tiba-tiba mejentik dahiku dengan keras. "Itta!" Aku langsung menutupi dahiku, berjaga-jaga siapa tahu dia melakukannya lagi. "Kenapa kau melakukannya?!"

Ia hanya menghela nafas kemudian dia berdiri "Dasar, kalau kau ingin berpenampilan bagus didepanku, kau tidak harus menyiksa dirimu sendiri dengan sepatu itu, berpenampilan seperti apapun kau akan terlihat manis di mataku." Ucapnya dengan kesan menegur, tapi kata-kata terakhirnya itu membuat wajahku memerah dan terbata-bata! Aku tidak salah dengar kan?!

"Eeh...err...be-be-benarkah?"

Dia tidak menjawabku, melainkan melihat jam tangannya, kemudian mengatakan "Jangan kemana-mana, tetap diam disini."

"Eh? Mau kemana?"

"Aku mau pergi ke suatu tempat, tidak akan lama, walaupun ada sesuatu yang menarik perhatianmu, tetap diam disini dan jangan kemana-mana."

Ugh. Entah kenapa dia seperti yang menyindirku.

"Che, baiklah."

Dia tersenyum tipis dan mulai berjalan cepat pergi meninggalkanku. Aku mulai menyenderkan tubuhku dan menatap langit, aku mengingat-ngingat lagi kejadian berkencan hari ini, kalau dipikir-pikir, rasanya barusan aku melihat sifat Himuro-kun yang asli.

"Hehehe."

Aku langsung menampar diriku sendiri saat aku sadar kalau aku habis terkekeh sendiri. Sial, aku sebegitu senangnya bisa melihat Himuro-kun menunjukkan sifat aslinya.

"Lho? [Name]-cchi?"

Aku tersentak kaget saat mendengar sebutan itu dan suara itu, sial! Jangan bilang itu Ryota!

Perlahan aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara, menentukan kalau itu Ryota atau bukan. Tapi sepertinya hari ini dewi fortuna sedang membenciku, karena yang aku lihat sekarang adalah Ryota!

"Hee~ aku hampir tidak mengenalmu! Tumben sekali kau memakai pakaian feminin seperti itu-ssu!" Ucapnya sembari mulai berjalan mendekatiku.

Aku memasang wajah datar saat dia mendekatiku, kemudian mengatakan;

"Maaf, apa aku mengenalmu?"

Dengan suara yang datar dan di buat-buat. Astaga, suaraku begitu fail barusan! Ah, tapi karena Ryota itu lemot, mungkin dia bisa dibodohi dengan pertanyaan itu. Ha!

Ryota berhenti mendekatiku, ia mengambil ponsel dari saku celananya dan mengetik sesuatu, aku sempat bingung dengan apa yang dia lakukan, sampai aku mendengar ponselku berdering dengan suara yang kencang.

Ryota tersenyum tipis dan menatapku dengan tatapan sombongnya itu (sekarang aku ingin memukulnya untuk menghilangkan wajah menyebalkannya itu.)

"Aku sudah mengenalmu selama 16 tahun [Name]-cchi, walaupun kau berpenampilan berbeda seperti itu aku tahu kalau itu adalah kau-ssu."

Ryota mulai jalan mendekatiku, dan duduk disebelahku, kemudian dia tersenyum kepadaku dan mengatakan

"Jadi, bisa kau ceritakan kenapa kau berpakaian seperti itu? Aku yakin pasti ada sesuatu yang spesial kalau kau berpakaian seperti itu-ssu."

Aku meneguk ludahku, demi apapun itu, Ryota sangat menakutkan sekarang! Maksudku... Ryota yang bersikap seperti orang yang pintar dan tahu kalau aku sedang bohong itu menakutkan!

Himuro-kun, cepatlah kembali!

.

Hint for next chapter:

"Kau masih ingat dengan dua permintaan yang dulu kau berikan padaku bukan?"

.

.

.

.

.

.

.

.

Hai sayang, Misa kembali :v

Yaah sepertinya dibagi menjadi 2 part. Dan maaf kalau tidak memuaskan :"v

FYI, Disini Kise nya semacam protektif gitu ke si "aku". Makanya si "Aku" sembunyi-sembunyi kalau ada kencan.

Oke! Ditunggu ya Reviewnya sayang #heh