LavenderKu a Naruto Fanfiction Chapters 12
Pair : NaruHina
Genre : Action, Gore, Romance Disclaimer : Masashi Kishimoto. Warning : Gaje, Aneh, OOC, OC. Baturaja, 27 Januari 2015 .
By
.
Mitsuki HimeChan
.
.
.
~o0o~
.
.
Naruto membuka matanya dan berusaha menyesuaikan intensitasi cahaya yang ada dikamar.
"Kau sudah sadar?" Tanya Itachi dan melipat koran yang tadi ia baca.
Naruto menoleh kearah suara dan mendapati Itachi duduk disofa disamping tempat tidur.
"Ya." Jawab Naruto pelan lalu bangkit dan duduk dengan bersandar diranjang.
"Sasuke sudah cerita padaku tentang apa yang terjadi disekolah dan juga Yuura sudah cerita padaku tentang keadaan Hinata dirumah." Kata Itachi.
"..." Naruto diam dan menghela napas.
"Semarah itukah kau hingga kau melakukan hal 'itu' pada Hinata?" Tanya Itachi dan menekankan kata 'itu'.
"Aku harus pergi." Ujar Naruto dan turun dari tempat tidur lalu mengambil jasnya yang berada diatas meja.
"Kau masih sakit Naruto istirahat lah ini sudah jam sepuluh malam." Jelas Itachi.
Naruto duduk dipinggir kasur mencerna setiap kata yang dilontarkan Itachi saat ini.
"Kau mau kemana?" Tanya Itachi.
"Aku mau ke kantor." Jawab Naruto.
"Besok saja." Ujar Itachi.
"..."
"Aku tau kau lelah, istirahatlah besok baru kau pergi." Lanjut Itachi.
Ia cukup khawatir melihat keadaan Naruto saat ini yang lemah dan terlihat pucat.
"Ada yang ingin aku bahas dengan mu tapi hari sudah malam jadi besok saja."
"Tapi—"
"Istirahatlah." Ujar Itachi.
.
.
.
.
"Hinata!" Seru Sakura dan berlari menghampiri Hinata yang hendak masuk kedalam kelas.
Hinata berhenti berjalan dan menoleh melihat Sakura yang menghampirinya.
"Ada apa Sakura-chan?" Tanya Hinata.
"Kau tidak apa-apa kan? Naruto-san tidak kasar padamu kan?" Tanya Sakura bertubi menatap amethyst dihadapannya.
"Tidak." Jawabnya datar, "Kau kenapa Hinata?" Tanya Sakura bingung melihat sikap Hinata, "Aku tidak apa." Jawab Hinata sebaik mungkin menyembunyikan masalahnya.
"Hari ini lomba cerdas cermat ayo cepat kau mewakili kelas XII A." Ujar Sakura mencoba menyemangati yang kini sedang dalam tidak baik.
"Iya." Jawab Hinata singkat.
.
.
.
.
"Ada apa?!" Kata Sai ketus menatap pemuda bersurai merah yang berdiri didepannya dan Sasuke.
"Aku mau minta maaf kepada kalian atas kejadian kemarin." Ujar Gaara.
"Minta maaflah pada Naruto dan Hinata." Timpal Sasuke.
"Aku sudah memaafkan mu tapi kau harus minta maaf juga pada Hinata." Kata Sai.
"Aku akan minta maaf kepada mereka tapi aku tidak tau mereka akan memaafkan aku atau tidak." Kata Gaara.
"Hinata adalah gadis yang baik aku yakin maaf mu akan diterima." Ujar Sasuke menyanggah.
"Ya ku harap." Ujar Gaara.
"Ayo kita kekelas Hinata pasti sudah menunggu." Kata Sai dan senyuman tulus terpatri diwajahnya.
.
.
.
.
"Hinata hari ini lomba cerdas cermat dan yang mewakili kelas kita adalah kau Gaara dan Sasuke." Ujar Sari.
Hinata bergidik mendengar nama Gaara memilih diam tak bersuara.
"Hinata kenapa kau diam terus?" Tanya Ino.
Matsuri yang duduk disebelah Hinata hanya menghela napas melihat Hinata yang hanya diam tak bersuara.
"Kau kenapa?" Tanya Matsuri memperhatikan raut wajah Hinata.
"Tak apa." Jawab Hinata dan memaksa menaik kan sudut bibirnya untuk tersenyum kecil dihadapan teman-temannya.
Gaara, Sasuke, dan Sai masuk kedalam kelas dan melihat Hinata duduk disalah satu kursi ditemani yang lainnya.
"Hari ni kamu gak pakek kostum maid ya?" Tanya Sari.
"Baka! Hari ini Hinata mewakili kelas kita!" Celetuk Matsuri.
"Hehehe aku lupa.." Ujar Sari.
Hinata hanya tersenyum kecil menanggapi teman-temannya.
"Hinata." Panggil Gaara yang telah berdiri disamping Matsuri. Matsuri menoleh dan mendapati Gaara sudah berdiri disampingnya serta Sasuke dan Sai berdiri dibelakang Sakura dan Ino.
Hinata menundukkan kepalanya.
"Nani?" Ujarnya pelan.
Gaara ikut menundukkan kepalanya tak sanggup melihat Hinata seperti ini, "Maafkan aku Hinata," Kata Gaara penuh penyesalan dan mengakui kesalahan yang telah ia perbuat.
"Aku sudah maafin Gaara." Sahut Hinata dan memainkan kedua jari telunjuknya.
Gaara mengangkat kepalanya dan melihat Hinata masih menundukkan kepala sedangkan yang lain hanya bisa menutup mulut dan mendengarkan apa yang akan mereka katakan.
"Aku memang bodoh." Kata Gaara penuh penekanan.
"Gaara, tidak bodoh." Sanggah Hinata.
"Tapi kuharap Gaara tidak usah ikut campur dalam urusan rumah tangga ku lagi." Kata Hinata menegaskan setiap kata yang ia lontarkan.
"Aku janji pada mu Hinata, aku tidak akan menganggu mu lagi tapi izinkan aku agar tetap bisa berteman baik dengan mu." Kata Gaara pelan dan kali ini ia akan berjanji dengan sepenuh hati.
"Iya kita akan tetap jadi teman baik." Kata Hinata dan kini ia merasa lega seolah batu yang menimpa nya kini telah menghilang walupun hanya sebagian dari batu itu.
"Terimakasih Hinata." Kata Gaara juga ikut merasa lega.
"Jadi sekarang udah baikkan kan dan sepuluh menit lagi lomba cerdas cermat akan segerah dimulai harap nama yang saya sebutkan agar segerah menuju aula, Hyuuga Hinata, Sabaku Gaara, Uchiha Sasuke." Seru Sakura angkat bicara dan mencairkan suasana yang semula nya tegang kini sudah tak terasa tegang lagi.
"Eh sepuluh menit lagi ya?" Tanya Hinata tak percaya.
"Yap." Sakura mengangguk.
"Kalau begitu ayo cepat! Atau tidak kelas kita akan di dis!" Seru Ino.
"Ok ayo cepat jalan!" Seru Matsuri tak mau kalah.
.
.
.
.
.
Suasana aula cukup tegang dan menantang dimana para siswa-siswi duduk dikursi dan dihadapan mereka diberi meja dan sebuah bel bahkan Para suporter yang menonton juga ikut tegang dan terus menyemangati teman-temannya yang menjadi perwakilan.
"Dimana lokasi kuil Meiji?"
Teeettt
"Yap kelas dua belas A silahkan."
"Kuil Meiji terteletak di Shibuya." Jawab Sasuke tegas.
"Benar." Sahut Guru yang menjadi panitia.
"Twelve A!" Teriak suporter bersemangat.
"Twelve A! Twelve A! Sugoii!"
"Dimana letak kuil utama Inari?"
Teeett..
Teeett..
"Silahkan sepuluh C."
"Di kaki gunung Inari."
"Benar!"
"Yeee Tenci! Tenci! Semangat!" Teriak suposter dari kelas sepuluh C yang mereka singkat menjadi 'Tenci'.
"Julukkan dari negara Thailand?"
Teeett..
"Dua belas A silahkan."
"Negara gajah putih." Jawab Hinata bersemangat.
"Benar!"
"Soal selanjutnya!"
"Twelve A ganbatte!"
Seru Sakura bersemangat.
"Ibu kota Jerman timur?!"
Teeett..
"Silahkan dua belas A!"
"Berlin timur!" Jawab Gaara tak mau kalah.
"Benar!"
"Ibu kota Jerman Barat?!"
Teeett..
"Bonn!" Jawab Hinata.
"Hinata-chan semangat!" Seru Matsuri.
"Benar!" Seru Guru.
"Kau pintar Hinata hampir semua pertanyaan kau yang menjawab." Kata Sasuke yang berdiri disamping Hinata.
"Terimakasih." Ujar Hinata.
"Kau pintar dalam pengetahuan umum!" Seru Gaara yang berdiri disamping kanan Sasuke.
"Semangat! Semangat! Semangat!" Gumam Hinata.
"Pencipta pesawat pertama?!"
Teeett..
"Silahkan sebelas B."
"Yah aku kalah cepat menekan bel." Ketus Hinata.
"Sudah tak apa kok" Kata Gaara sedangkan Hinata terlihat lesu.
"Wright Borther."
"Benar!"
"Ibu kota Indonesia?"
Teeett..
"Silahkan Hinata!"
"Jakarta!" Seru Hinata.
"Ikan Firanha banyak terdapat disungai?!"
"Kelas Sebelas A silahkan!"
"Sungai Amazon!"
"Benar!"
Hinata telah menaruh tangan kanannya di atas bel untuk bersiap-siap.
"Tanggal berapa Amerika menjatuhkan bom dikota Hiroshima dan Nagasaki?!"
Teett..
Dengan cepat Hinata menekan bel dan menjawab, "Tanggal enam agustus tahun sembilan belas empat lima dikota Hiroshima dan tanggal sembilan agustus tahun sembilan belas empat lima." Jawab Hinata cepat.
"Benar!"
"Baiklah skor sudah kami hitung dan hasilnya adalah!" Seru Guru bersurai putih dan mengenakan masker diwajahnya.
"Hei Matsuri!" Seru Ino.
"Apa?" Sahut Matsuri.
"Kau tau guru Kakashi itu guru baru tapi kenapa ia tak pernah membuka maskernya ya?" Tanya Ino.
"Aku tidak tau soal itu." Jawab Matsuri.
"Hasilnya adalah!" Seru guru bersurai putih itu dan diketahui bernama Kakashi.
"Jumlah skor sepuluh C adalah lima ratus."
"Jumlah skor sepuluh A adalah enam ratus tiga puluh."
"Skor sebelas A adalah enam ratus empat puluh."
"Skor sepuluh B adalah tujuh ratus."
"Skor sebelas B adalah tujuh ratus lima puluh."
"Aku gugup sekali mendengarnya." Gumam Hinata dan meremas kedua tangannya.
"Skor dua belas C adalah tujuh ratus delapan puluh."
"Skor sebelas C adalah delapan ratus dua puluh."
"Skor dua belas B adalah Sembilan ratus."
"Dan skor tertinggi adalah!"
"Dua belas A dua belas A dua belas A." Gumam Ino dan Sakura gugup.
"Dengan skor sembilan ratus sembilan puluh adalah didapat oleh kelas dua belas A!" Seru Kakashi.
"Yeeeee!" Semua murid dari kelas dua belas A berteriak hingga melompat-lompat bahagia.
"Twelve A! Twelve A! Sugoii!"
Hinata tersenyum puas mendengarnya bahkan meneteskan air matanya.
"Selamat Hinata kau menang!" Seru Gaara.
"Kenapa aku?" Tanya Hinata bingung.
"Karena yang menjawab semua pertanyaan nya adalah kau." Timpal Sasuke.
Semua murid kelas dua belas A berlarian menghampiri Hinata, Sasuke, dan Gaara untuk memberikan selamat dan pelukkan.
"Harap perwakilan dari kelas sebelas C, dua belas B dan dua belas A harap naik maju kedepan." Seru Kakashi.
"Ayo Hinata maju!" Seru Gaara. Hinata mengangguk mengerti dan melangkahkan kakinya maju kedepan aula dan semua mata memandangnya dengan bangga.
Kepala sekolah dan wakil kepala sekolah maju kedepan dan memberikan trofi dan sertifikat dan tentunya Hinata mendapat trofi yang paling besar.
"Yeeeee!" Semua bersorak gembira bahkan melompat gembira kelas mereka menjadi juara dan yang tak mendapat juara hanya tersenyum kecut.
Hinata turun dari panggung dan menghampiri teman-temannya yang berdiri membentuk lingkaran dan mengulurkan tangan kedepan.
"Ayo Hinata!" Seru Sakura. Hinata tersenyum dan juga ikut mengulurkan tangannya dan Sakura menempatkan tangannya diatas tangan Hinata lalu ada tangan Sasuke, Gaara, dan Sai berada diatas.
"TWELVE A!" Seru Hinata.
"IS THE BEST FOREVER!" Jawab mereka dan mengangkat tangan keatas.
.
.
.
.
"Selamat Hinata!" Seru Matsuri setelah mereka telah berada dikelas.
"Iya terimakasih." Jawab Hinata terharu.
"Yang pantas menyimpan trofi itu kamu Hinata." Kata Sai dan senyuman terukir diwajah tampannya.
"Eh?" Ucap Hinata bingung.
"Ya karena tanpa kau kelas kita tidak akan menang!" Seru Sari.
"Terimakasih teman-teman." Hinata tersenyum bahagia mendapat teman-temannya terus memujinya dan menyemangatinya dalam keadaan senang maupun susah.
.
.
.
.
Namikaze Group
"Sepertinya Madara mengetahui chip itu ada ditangan kita." Kata Itachi serius menatap sepasang mata saphirre yang duduk dihadapannya.
"Aku bahkan belum pernah melihat isi chip itu." Jawabnya santai.
"Dimana kau simpan?" Tanya Itachi.
"Dirumah ku." Jawab Naruto.
"Kita ambil sekarang." Ujar Itachi.
"Untuk apa?" Naruto mengangkat sebelah alisnya heran.
"Aku mau melihat isinya." Kata Itachi.
"Baiklah." Kata Naruto menyetujui.
.
.
.
Mobil sport warna putih mengkilat terparkir didepan gerbang Konoha High School. Yuura menyenderkan punggungnya dipintu mobil dengan santai.
Teng! Teng! Teng!
Bel berbunyi dengan nyaring dan menggema keseluruh penjuru sekolah dan disambut meriah oleh para siswa siswi dan tak lama terlihat siswa dan siswi berkeliaran keluar gerbang dengan ceria.
Hinata keluar dan membawa sebuah trofi yang cukup besar dikedua tangannya dan senyuman cerah terukir jelas diwajah cantiknya.
Yuura tersenyum tipis melihat Hinata kembali tersenyum, hatinya merasa lega dan ia pun berdiri tegap untuk menyambut Hinata.
Amethyst Hinata melihat Yuura telah menunggu kepulangannya dan dengan semangat Hinata menghampiri Yuura hendak menceritakan semua hal yang ia lakukan hari ini.
"Konichiwa Hinata-sama." Sapa Yuura dan menundukkan kepalanya singkat.
"Konichiwa ne Yuura-san." Kata Hinata membalas sapaan Yuura.
"Yuura, hari ini teman-teman ku mau main kerumah terutama Gaara dia mau minta maaf pada Naruto-kun." Jelas Hinata takut-takut sambil menundukkan kepala dan memeluk trofi nya erat.
"Tentu saja silahkan nona." Kata Yuura dan tersenyum tipis tanpa Hinata ketahui.
Hinata kembali mengangkat kepalanya menatap sepasang red eyes yang melihatnya.
"Arigatou." Ucap Hinata pelan.
"Hinata-chan!" Seru Matsuri dan Sari yang datang menghampiri Hinata.
"Kalian satu mobil ja dengan ku dan Yuura." Kata Hinata.
"Oke!" Sahut Matsuri dan Sari.
Mobil sport berwarna merah pekat dan diikuti mobil ferrari warna blue matalic dan mobil lamborghini warna hitam mengekor dibelakang. Dan ketiga mobil itu berhenti tepat disamping mobil Yuura.
"Ayo Hinata!" Seru Sakura dari dalam mobil Sasuke yang ia tumpangi.
"Oke!" Sahut Hinata.
Dengan segerah Yuura membuka pintu mobil mempersilahkan Hinata dan kedua temannya masuk kedalam mobil setelah itu ia juga masuk melalui pintu yang disebelah.
Buuumm..
Keempat mobil mewah itu berjalan pelan dijalanan aspal yang panas dimusim semi yang cerah.
lima menit perjalanan ada tiga mobil sedan berwarna hitam mengekor mengikuti mobil yang Yuura kendarai. Yuura yang menyadarinya terlihat tenang dan terus memperhatikan mobil yang mengekor dari kaca spion.
"Matsuri." Panggil Yuura pelan.
"Ya Yuura-san ada apa?" Sahut Matsuri.
"Dibawah kursi tempat kau duduk ada kotak hitam, cepat kau ambil." Kata Yuura.
Matsuri mengangguk dan mengambil kotak hitam yang ada dibawah tempat ia duduk dan benar ada.
"Ini?" Kata Matsuri memegang kotak hitam ditangannya.
"Buka." Titah Yuura.
Matsuri membuka kotak itu sesuai perkataan Yuura dan alangkah terkejutnya Matsuri dan Sari yang melihat isi kotak hitam berbentuk segi empat.
"I—ini.." Sari berucap terbata melihat dua buah pistol didalam kotak itu.
"Berikan padaku." Kata Yuura dingin dan menyodorkan nya kebelakang.
"Ada apa Yuura?" Tanya Hinata mulai khawatir.
"Ada yang mengikuti kita." Jawab Yuura dan menarik tangan nya setelah Matsuri menyerahkan dua pistol itu ditangan Yuura.
"Bukannya mobil yang mengikuti kita adalah mobil Gaara, Sasuke, dan Sai." Kata Matsuri gugup melihat Yuura telah bersiap untuk menembak.
"Aku tau tapi mobil yang mengikuti kita kini sudah berada disamping kiri kanan mobil kita dan salah satunya berada didepan mobil kita." Jelas Yuura dan tangan kanan nya telah siap menembak.
"Tapi ini masih ditengah kota dan ramai, apa tujuan mereka? Dan kenapa kau menggunakan pistol?" Tanya Sari mulai panik.
"Mereka akan menyerang kita di area kilometer lima." Kata Yuura.
"Kau tau darimana?" Tanya Matsuri.
"Aku tau karena area itu sepi." Jawab Yuura.
Perlahan mobil disebelah kiri mulai mendekati mobil sport milik Yuura dan untulah Yuura dengan cepat menutup kaca mobil dan perlahan mobil memasuki area sepi kilometer lima.
"Ku harap kalian tidak panik." Kata Yuura.
"Yuura aku takut." Ucap Hinata.
"Tenang saja aku akan menjaga kalian semua." Kata Yuura.
Red eyes melirik tajam ketiga mobil sedan yang telah mengepung mobilnya.
"Sasuke-kun kenapa mobil Yuura seperti dikepung?" Tanya Sakura khawatir melihat mobil Yuura yang berjalan didepan dikepung oleh tiga mobil sedan hitam.
"Aku tidak tau tapi dulu aku dan Itachi nii pernah mengalami hal ini dan saat itu Itachi nii yang melawan mereka bahkan membunuh mereka dengan menembak mereka." Jelas Sasuke masih fokus mengendarai mobilnya.
"Gawatt!" Sasuke segerah banting stir secara tiba-tiba melihat mobil Yuura berhenti dengan tiba-tiba. Mobil Sai dan Gaara juga ikut berhenti.
"Kau tunggu disini jangan keluar." Titah Sasuke lalu keluar dari mobilnya begitu Sai dan Gaara.
Terlihat Yuura telah keluar dari mobil sambil membawa sebuah pistol ditangan kanannya.
"Yuura siapa mereka?" Tanya Sasuke menghampiri Yuura diikuti Gaara dan Sai.
Yuura bungkam dan orang-orang berpakaian serba hitam keluar dari mobil.
"Kalau kalian tidak tau caranya berkelahi sebaiknya mundur." Kata Yuura dingin.
"Jangan meremehkan kami." Kata Gaara menegaskan.
Yuura membulatkan matanya setelah melihat orang-orang suruhan Madara membawa pistol bahkan senjata laras panjang.
"Kalian mundurlah atau kalian akan mati." Ujar Yuura, ia cukup terdesak. Lima belas orang menggunakan senjata api sedangkan ia hanya membawa dua buah senjata api. Gaara, Sai, dan Sasuke mungkin saja bisa membantu berkelahi tapi mereka tak punya senjata api dan juga jumlah mereka yang tidak memungkinkan.
"Turunkan senjata mu Yuura." Ujar salah satu dari mereka dan seringai tercipta dengan mengerikan diwajah mereka.
Yuura meneguk ludahnya dengan susah payah.
'Jika begini aku dan lainnya bisa mati!' Pikir Yuura.
"Oh apakah kau Uchiha Sasuke hm?" Tanya orang berpakaian hitam.
"Kita bawa Yuura, Sasuke, dan Hinata Namikaze." Printahnya.
Dan orang-orang itu serentak melaksanakan printah ketua mereka.
'Aku tidak bisa melawan jika tidak mereka akan membunuh kami semua jika aku yang mati itu tidak masalah tapi nona? Sasuke? Dan lainnya?' Pikir Yuura prustasi.
"Menyerahlah." Kata orang yang sebagai ketua.
Yuura bungkam dan ia pun menutup matanya.
"Kalian bocah ingusan nyahlah atau kalian akan mati!" Seru pria bersurai hitam kepada Gaara dan Sai.
"Larilah dan laporkan pada Naruto-sama dan jangan pernah lapor polisi, Sasuke dan Hinata akan ku jaga meski nyawa ku jadi taruhan." Titah Yuura menatap dingin orang -orang yang mulai berlari mendekati Yuura.
"Tapi Yuura?" Sanggah Gaara.
"Diamlah." Ketus Yuura.
Orang-orang itu mengarahkan pistol kearah Gaara dan Sai.
Dan mulai menangkap Yuura dan mengambil pistol ditangan Yuura dan membuka pintu mobil dan menarik paksa Hinata keluar dari mobil.
Sasuke terdiam setelah sebuah pistol menempel dibelakang kepalanya.
Tangan Sasuke di borgol begitu juga tangan Yuura dan Hinata dan diseret paksa menuju mobil sedan hitam milik mereka.
"Gaara apa yang harus kita lakukan?" Tanya Sai setelah orang-orang itu menjauh dari tempat mereka berdiri. Gaara mengepal tangannya kuat. "Laporkan masalah ini pada Naruto!" Ujar Gaara geram penuh amarah.
Matsuri, Sari, Sakura, dan Ino keluar dari mobil dan berjalan mendekati Gaara dan Sai.
"Apa yang terjadi Yuura, Hinata, dan Sasuke diculik?!" Seru Sakura prustasi.
"Sakura kau bawa mobil Sasuke, Ino kau bawa mobil Yuura." Kata Gaara.
"Kita kerumah Naruto sekarang!" Seru Sai.
.
.
.
.
"Yuura aku takut." Gumam Hinata dan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Yuura.
"Tenanglah." Ucap Yuura pelan.
Sasuke yang duduk disamping Hinata hanya mendengus kesal.
"Hahahaha tak ku sangka Sasuke bisa kita dapatkan juga hahaha.." Seru pria paruh baya yang duduk dikursi depan disebelah kursi pengemudi.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Yuura tajam.
"Yuura Yuura kau ini perempuan seharusnya kau lemah lembut seperti nona mu itu." Ujarnya terkekeh pelan.
"Bahkan nyawanya tinggal diujung tanduk pun ia tetap terlihat tenang tanpa rasa takut." Seru pria yang mengemudi.
"Aku jadi ingat Yuuto." Sambungnya angkuh.
"Kalian!" Ujar Yuura geram.
"BERENGSEK!" Teriak Sasuke kalap.
"Tenanglah Uchiha kau akan menemui kakek mu." Seru pria yang mengemudi sedangkan pria yang duduk disamping pengemudi hanya terkekeh senang.
'Naruto-sama tolong selamatkan Hinata-sama dan Itachi-sama tolong selamatkan Sasuke-sama.' Batin Yuura dan menutup matanya.
'Yuuto nii aku merindukan mu.' Lanjutnya dalam hati.
.
.
.
.
~Bersambung~
.
.
.
Anggi : makasih.
Ai no dobe : ckckck itulah hobi mereka wkwkwk. Apa kali ini fic nya kurang panjang?
virgo24 : ok akan aku segerah publis fic baru ku.
Hinamia hyuga : kayaknya gak ada adegan romance
: terimakasih atas sarannya ^^
.3939 : hehehe kurang bisa buat adegan romance
4Hayati jeWon : udah bisa review dikit ja gpp tapi makasih atas reviewnya.
Misti chan : shock banget Hinata apalagi di chapter ini tambah shock wkwkwk
The Red's UzmAki no Kam : Harap maklum ya harap kamu memaklumi aku ini author amatir dan gak pintar nulis fanfic jadi maklum kalau fanfic ku ini sangat buruk dan sangat buruk lebih buruk malah ^^
kensuchan : sip
the kidsno oppai : sip
samsung84 : oke
: ada dua buah judul fanfic yang akan aku publis yaitu "Izinkan Aku Tuhan" dan "Ayah Sayang Sarada" semoga kamu suka ^^
firdaus minato : akan ada adegan perpisahan naruhina hehehe #KABURR..
.
Ok semuanya makasih atas review dan sampai jumpa dichapter selanjutnya bye bye.
Salam Hangat Mitsuki HimeChan
