Remake novel A Romantic Story About Serena karya Santhy Agatha.

::

HunHan-KaiLu

::

Typo(s). YAOI. M-Preg.

::

Enjoy!


11


"Dimana ruangan tempat perawatan Kim Jongin?" Sehun berdiri di depan resepsionis. Resepsionis itu mendongak dan ternganga. Terpesona melihat penampilan dan ketampanan Sehun. "Ruangan perawatan Kim Jongin?" Sehun mengulang jengkel karena resepsionis itu hanya menatapnya seperti orang bodoh.

"Oh...Untuk Jongin...Anda...Anda mungkin harus menemui Suster Jessica dulu, beliau suster kepala penanggung jawabnya."

"Dimana?" gumam Sehun tak sabar.

"Lantai tiga, ruangan perawat nomor dua."

Tanpa basa-basi Sehun meninggalkan resepsionis yang masih ternganga itu.

Pintu itu tertutup rapat dan Sehun mengetukknya.

"Masuk." sebuah suara yang tegas terdengar dari dalam.

Sehun masuk dan langsung berhadapan dengan Suster Jessica.

Suster Jessica langsung menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mungkin salah mengenali.

Penggambaran Luhan sangat akurat. Lelaki ini memang benar-benar luar biasa tampan dengan keangkuhan yang sudah seperti satu paket dengan auranya.

"Apakah anda akhirnya berhasil menemukan kebenaran?" gumam Suster Jessica langsung tanpa basa-basi.

Sehun mengernyit mendengar sapaan pertama Suster Jessica yang sama sekali tidak diduganya. Tapi dia lalu teringat telelepon di tengah malam yang tanpa sengaja dia angkat. Penelepon itu mengatakan dirinya adalah Suster Jessica.

"Ya." Sehun mengakuinya pelan. "Anda sudah tahu semuanya?"

"Semuanya, dan pertama, sebelum anda menghina Luhan lagi. Saya akan jelaskan kepada anda, semalam Luhan datang kepada saya, dengan kondisi mengenaskan. Mental dan fisik yang rapuh, dan dia bilang ingin melepaskan diri dari anda, menurut saya itu wajar mengingat perlakuan anda padanya." Suster Jessica menatap Sehun dengan pandangan mencela yang terang-terangan hingga wajah Sehun merona. "Uang yang dia pakai untuk melunasi anda, itu adalah uang pinjaman dari saya dan beberapa staff rumah sakit lain, bukan uang hasil menjual dirinya kepada lelaki lain seperti apa yang anda tuduhkan kepadanya tadi pagi."

Sebuah kebenaran lagi. Lebih keras daripada tamparan di pipi, lidah Sehun terasa kelu.

"Saya ingin bertemu Luhan." gumam Sehun akhirnya.

Suster Jessica mengangkat alisnya. "Untuk apa? Ketika hubungan hutang piutang itu lunas. Tidak ada lagi perlunya kalian bertemu, lagi pula saya tidak yakin Luhan bersedia menemui anda."

"Tidak ada hubungannya dengan uang! Saya tidak peduli dengan uang!"

Sehun hampir berteriak, lalu berdehem berusaha meredekan emosinya. "Saya harus bertemu dengan Luhan, meminta maaf, saya tahu selama ini saya salah..."

"Anda bisa menyampaikan permintaan maaf anda melalui saya." sela Suster Jessica tegas.

Sehun mengernyit. "Saya mohon...Saya harus bertemu dengan Luhan, saya butuh bertemu dengan Luhan."

Suster Jessica mengamati lelaki yang berdiri di hadapannya. Lelaki ini terlalu tampan, terlalu kaya sehingga wajar dia tampak begitu arogan. Tapi sekarang Sehun tampak begitu menderita, dan dia rela memohon agar bisa bertemu Luhan. Suster Jessica menarik napas, ketika sebuah kesimpulan muncul di benaknya.

Lelaki ini sedang jatuh cinta.

Bagaimana mungkin dia menolak permintaan Sehun? Kalau saja Sehun hanya lelaki sombong yang menginginkan bayaran setimpal atas apa yang diberikannya kepada Luhan, Suster Jessica akan mengusirnya tanpa ragu. Tapi Sehun yang ada di depannya ini tampak begitu kesakitan menanggung rasa bersalah, tampak remuk redam di dera perasaannya sendiri. Lelaki ini sama menderitanya dengan Luhan. Bagaimana mungkin Suster Jessica tega mengusirnya?

"Tapi tolong jangan menyakiti Luhan lagi jika kalian bertemu nanti, jangan memaksanya..." mata Suster Jessica melembut membayangkan Luhan. "sudah cukup beban yang ditanggung anak itu."

"Saya berjanji." Sehun menjawab yakin.

Sekilas Suster Jessica mencuri pandang ke arah Sehun. Dan tersenyum ketika mendapati ekspresi Sehun ikut melembut karena membayangkan Luhan.

Ah Luhan, Lelaki ini benar-benar sedang jatuh cinta...


Ruangan itu hening terletak di lorong paling ujung. Dan Luhan hanya berdiri di depan ruang perawatan sambil menatap melalui jendela kaca lebar yang membatasinya dengan Jongin, saat ini bukan jam besuk dan Luhan tidak boleh masuk.

Pikiran Luhan terasa berat, dia tidak punya pekerjaan sekarang. Suster Jessica dan yang lain-lain bilang akan membantu, tetapi Luhan tidak mungkin menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain terus menerus, apalagi dengan biaya perawatan Jongin yang begitu mahal yang harus ditanggungnya setiap bulannya.

Dengan sedih Luhan menatap Jongin, lelaki itu masih terbaring dalam kedamaian yang sama, begitu pucat, hanya bunyi mesin-mesin penunjang kehidupan itulah yang menunjukkan kalau masih ada harapan hidup yang tersimpan di sana.

Luhan mengusap air mata di sudut matanya.

Ah Jonginie... Sampai kapan kau tertidur begini? Aku merindukanmu kau tahu. Aku membutuhkanmu. Saat ini aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku takut jika kau tidak segera bangun nanti aku akan...

Saat itulah Sehun masuk, diantarkan oleh Suster Jessica di belakangnya. Perasaan sedih yang aneh menyeruak di dada Sehun ketika dia melihat Luhan menatap Jongin yang terbaring di balik kaca dengan tatapan sendu.

"Luhan..." Sehun bergumam pelan, mendadak dikuasai keinginan yang dalam untuk mengalihkan perhatian Luhan dari Jongin.

Suaranya seperti menyentakkan Luhan hingga pria itu menoleh kaget.

Wajahnya langsung pucat pasi, tidak menduga bahwa Sehun akan muncul di sini, matanya menatap Suster Jessica meminta pertolongan.

"Dia datang disini untuk berbicara Luhan, dan dia sudah berjanji tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan menyakitimu." gumam Suster Jessica lembut, menyadari kegelisahan yang dirasakan Luhan, dia lalu mengamit lengan Luhan. "Mari, kuantar kalian ke ruanganku di mana kalian bisa berbicara dengan tenang, aku akan meninggalkan kalian di sana."

Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Luhan hanya mengikuti ketika di tuntun ke ruangan Suster Jessica, sedangkan Sehun hanya mengikuti di belakang dalam diam.

Ruangan tetap hening lima menit kemudian ketika Suster Jessica menutup pintu ruangan dari luar.

"Aku minta maaf." gumam Sehun dengan lembut akhirnya.

Luhan bersedekap, seolah ingin melindungi dirinya.

"Ya...Sudah di maafkan...Sekarang...Sekarang bisakah kau pergi?" Luhan mulai menahan tangisnya. Sehun telah benar-benar melukai hatinya, kehadiran lelaki itu sekarang, berdiri di depannya, menatapnya dengan begitu lembut, benarbenar membuat emosinya bergejolak.

"Aku tidak tahu tentang semua ini Luhan, baru tadi Lay hyung mengungkapkan kebenaran di depanku. Aku tidak tahu. Tidakkah itu bisa membuat semuanya sedikit dimaklumi?" sambung Sehun pelan. "Selama ini aku salah paham, aku berpikiran buruk tentangmu dan semakin memupuknya dari hari ke hari. Itu... Itu juga menyiksaku, antara dorongan untuk menyayangimu atau menghukummu karena jauh dilubuk hatiku aku mengira aku hanya dimanfaatkan." Sehun mengerjapkan matanya pedih. "Kalau aku tahu tentang semua ini, segalanya akan berbeda Luhan."

Luhan memejamkan matanya. Mau tak mau permintaan maaf Sehun yang begitu tulus itu mulai menyentuh hatinya. Sehun memang tidak bisa disalahkan. Dia tidak tahu. Lagipula apa yang harus dipikirkan Sehun tentang pria yang melemparkan diri padanya demi uang selain bahwa pria itu adalah pelacur?

"Aku...Aku mengerti...tidak apa-apa, pilihanku juga untuk tidak mengatakan ini semua kepadamu." suara Luhan terdengar serak. "Dan apapun konsekuensinya aku sudah bersedia menanggungnya...Jadi kita impas."

Sehun menatap Luhan sedih.

"Luhan... Aku..." Sehun mengulurkan tangan hendak meraih Luhan, tapi lalu tertegun ketika Luhan mundur seperti ketakutan.

Kesadaran itu menghancurkan Sehun, kesadaran bahwa Luhan takut dengan sentuhannya, mungkin akibat kekasarannya semalam.

Sehun mengusap rambutnya dengan kasar.

"Aku... Mungkin semua sudah terlambat. Tapi aku harus mengatakannya...Aku mencintaimu Luhan, mungkin kau bertanya-tanya kenapa. Tapi aku juga tidak bisa menjawabnya. Aku juga baru menyadarinya. Itu terjadi begitu saja." Sehun menatap Luhan yang hanya termangu dengan wajah pucat pasi. "Tapi sekarang itu tak penting lagi bukan? Kesalahanku tidak bisa di maafkan semudah itu. Dosaku terlalu besar."

Dengan ragu Sehun melangkah ke arah pintu, terdiam sejenak.

"Semua hutangmu anggap saja sudah lunas. Aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku akan menjauh darimu dan kau tidak perlu takut harus menghadapiku lagi. kau bebas sebebas-bebasnya. Dan kalau kau masih mau bekerja di perusahaanku. Aku akan sangat senang...Tapi aku tidak akan memaksa. Aku sudah terlalu sering memaksakan kehendakku padamu. Sekarang tidak akan lagi." punggung Sehun tampak tegang. "Selamat tinggal Luhan." gumamnya pelan sebelum membuka handle pintu.

Luhan termangu menatap punggung yang begitu tegang itu. Pernyataan cinta Sehun begitu mengejutkannya hingga dia tidak bisa mengatakan apa-apa, memang Sehun telah menyakitinya, tapi ada saat saat dimana Sehun berhasil membuat hatinya terasa hangat. Dan kalau dipikir-pikir, selama kebersamaan mereka itu. Tidak pernah sekalipun Sehun menyakitinya dengan sengaja, kecuali saat kemarahan menguasainya kemarin.

Sekarang ketika Luhan menatap punggung Sehun, yang tampak begitu tegang sekaligus rapuh. Sebuah perasaan hangat menyeruak ke dalam hatinya, sebuah perasaan yang bertumbuh pelan tanpa dia sadari.

"Sehun." Luhan bergumam pelan, tapi cukup untuk membuat Sehun membatu di tempat. Tetapi lelaki itu tidak menoleh, hanya berdiri di sana. Membeku seperti patung.

"Sehun." kali ini Luhan mengulang lagi, lebih lembut sehingga Sehun menoleh menatap Luhan.

Entah karena mata Luhan yang menatapnya penuh kelembutan, Entah karena Sehun pada akhirnya sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Luhan tidak tahu, yang pasti ekspresi Sehun berubah seketika.

Dia membalikkan tubuh. Menatap Luhan ragu-ragu. Dan ketika dilihatnyaLuhan membuka lengan menyambutnya, Sehun mengerang. Kemudian melangkah tergesa ke arah Luhan, tersandung-sandung menghampiri Luhan.

Sejenak mereka berdiri berhadapan. Lalu Sehun jatuh berlutut dan memeluk pinggang Luhan, membenamkan wajahnya di perut Luhan. Napasnya tersengal menahan perasaan.

Dengan lembut Luhan memeluk dan mengelus rambut Sehun.

"Aku mencintaimu." Sehun berbisik dengan suara parau, wajahnya masih terbenam di perut Luhan. "Entah sejak kapan aku mencintaimu. Mungkin sejak pertama kali aku melihatmu, aku..." napas Sehun tersengal. "Aku mungkin manusia paling kejam, paling jahat...tapi aku...Aku tidak..."

"Sehun." sekali lagi Luhan berbisik lembut. Sehun mendongakkan wajahnya dan menatap Luhan, wajah Luhan penuh air mata, dan tiba-tiba mata Sehun terasa panas.

"Jangan menangis." Tiba-tiba Sehun berdiri dan merengkuh Luhan ke dalam pelukannya, memeluknya erat-erat. "Jangan menangis lagi, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkanmu menangis lagi."

Luhan memeluk Sehun erat-erat. Permintaan maaf Sehun dan kelembutan sikapnya meluluhkan hatinya, menumbuhkan perasaan baru di dalam hatinya, mereka telah begitu dekat selama ini, kedekatan yang dipaksakan, tetapi mau tak mau telah membuka pembatas yang selama ini ada di hati Luhan.

Lama mereka berpelukan, dalam keheningan. Luhan menumpahkan tangisnya di pelukan Sehun dan lelaki itu memeluk Luhan erat-erat, membenamkan wajahnya di rambut Luhan.

Setelah tangis Luhan mereda, Sehun mengangkat dagu Luhan agar menghadap ke arahnya, mengusap air mata di pipi Luhan dengan lembut.

"Pulanglah bersamaku, kembalilah bersamaku Luhan, bukan karena uang tiga ratus juta itu. Aku ingin kau melupakan masalah hutang itu, aku ingin kau bersamaku karena kemauanmu sendiri. Pulanglah bersamaku Luhan, kita mulai lagi semuanya dari awal...Dan jika...Dan jika..." Sehun menarik napas, menahan perasaannya. "Jika kau memang belum mencintaiku, aku akan menunggu. Bahkan aku tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksakan kehendakku, kau bisa tenang. Aku... Aku hanya ingin kau ada di tempat dimana aku bisa melihatmu setiap hari."

Luhan menatap Sehun, dan melihat ketulusan di sana, melihat cinta di sana yang tidak di tahan-tahan lagi.

Dia baru membuka mulutnya untuk menjawab ketika pintu ruangan itu terbuka.

Suster Jessica membuka pintu, terlalu panik dan terengah-engah untuk merasa malu ketika menemukan Sehun dan Luhan sedang berpelukan.

"Luhan!" Suster Jessica berusaha menormalkan nafasnya, dia tadi setengah berlari ke sini. "Cepat! Cepat ikuti aku ke ruang perawatan! Jongin sadar! Dia terbangun dari komanya!"


Thanks for fav/foll/review! Jangan bosen-bosen review yepss wkwk.

.

[hunhan kemana]