Tuan Cho berniat membuka pintu mobil saat tangannya digenggam oleh seseorang. Pria itu menoleh dan mendapati Kyuhyun ada di belakangnya.
Kyuhyun mengulurkan kartu kredit yang tadi diberikannya untuk putranya itu. "Aku meminta kado lain, ayah," jelasnya. "Tepati janji ayah dua tahun lalu." Menarik tangan Tuan Cho lalu meletakkan kartu kredit itu di telapak tangannya.
"Kyuhyunie―"
"Tolong, ayah. Aku tidak butuh uang ayah. Aku hanya ingin ayah menepati janji ayah untuk datang mengambil raporku di sekolah."
"Ayah akan datang. Ayah akan tepati janji ayah untukmu"
Kyuhyun memandangi jejak merah di lantai kamar mandi. Ia yang terduduk di lantai mulai menggerakkan jarinya untuk menggoreskan sesuatu menggunakan cairan merah itu. Kyuhyun tak merubah ekspresinya. Ia menatap hasil goresan jarinya dengan tatapan datar.
Pembohong
.
.
.
Alright
.
11 – part 1
.
[am i the happiest person in the world?]
.
.
.
"Bicaralah dengan benar. Aku tidak mengerti ucapanmu."
Kyuhyun meletakkan handuknya pada gantungan setelah selesai mengeringkan rambutnya. Ia hanya mengenakan celana boxer dan singlet. Pemuda itu berjalan menuju lemari sembari tangan kanannya masih menempelkan ponsel pada telinga.
"Kenapa Jepang eoh?! Kenapa jauh sekali?! Bagaimana aku bisa menemuimu jika kau pergi sejauh itu?!"
Kedua mata Kyuhyun menelisik tumpukan baju dalam lemari. Ia belum sempat menggantung baju-bajunya. "Kau mulai lebay lagi, Changmin-ah. Korea dan Jepang tidak sejauh itu. Hanya dua setengah jam perjalanan dengan pesawat jika kau belum tahu." Ucapnya sembari menjepit ponsel di telinganya menggunakan bahu. Kedua tangan Kyuhyun sibuk memilih baju dalam tumpukan.
"Tidak jauh kepalamu itu! Jarak Tokyo ke Seoul saja 1000 kilometer lebih! Kau bilang itu tidak jauh?!"
Kyuhyun berdecak kesal. Ia menangguhkan acaranya memilih baju kemudian memegang ponselnya dengan tangan kanan. "Nilai geografimu sangat bagus hingga hapal jarak antara Seoul ke Tokyo." Komentarnya.
"Terima kasih untuk pujiannya. Aku siswa jurusan IPA jika kau lupa."
Sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga saat terdengar suara teriakan dari seberang. Kyuhyun menghela napasnya. "Apa yang kau lakukan, Changmin-ah? Berhenti berteriak seperti orang utan!"
"Aku sangat ingin mencekikmu, Kyuhyun-ah!"
"Cepat lakukan kalau begitu. Lagipula kita terpisah lebih dari 1000 kilometer, seperti katamu barusan."
Kyuhyun menarik sudut bibirnya karena berhasil membalikkan ucapan Changmin. Namun Kyuhyun mengernyitkan keningnya saat tidak mendengar suara dari seberang telepon.
"Changmin-ah, kau masih disana?" Kyuhyun mengecek layar ponselnya. "Masih tersambung. Hei, bicaralah, Changmin-ah!" Ucap Kyuhyun lagi.
Kyuhyun lagi-lagi tak mendapati balasan dari seberang telepon. Sampai tiga puluh detik kemudian Kyuhyun masih mendapati ponselnya tersambung tanpa ada suara dari Changmin. Ia berpikir mungkin ada yang salah dengan jaringannya. Jadi, Kyuhyun berniat mematikan panggilan dari Changmin untuk kemudian menelpon balik Changmin lagi.
"Are you alright?" Jeda sejenak. "Gwaenchanha?"
Kini Kyuhyun yang justru terdiam setelah mendengar pertanyaan Changmin. Ia meremat ponsel di tangannya sebelum membuka suara.
"Ya," jawabnya singkat.
"Hanya ya saja?"
"Uhm..."
"Kau tidak memberiku jawaban, Kyuhyun-ah."
"Memang jawaban apa yang kau inginkan?"
"Jelaskan bagaimana keadaanmu disana. Kau berada di kota apa? Kau tinggal dimana? Semacam itu. Aku tidak akan bertanya kenapa kau pergi tanpa pamit padaku. Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan sahabatku saat ini."
Tidak ada yang salah dari ucapan Changmin. Changmin hanya seorang sahabat yang ingin tahu keadaan sahabatnya yang kini berada jauh darinya. Ia sebenarnya paham alasan Kyuhyun pergi. Meski Kyuhyun beralasan pergi untuk mengejar beasiswa, Changmin yakin ada hal lain yang mendasari kepergian Kyuhyun. Namun Changmin tak berani berasumsi lebih.
"Aku di Tokyo saat ini. Kau tahu Universitas Tokyo 'kan? Aku akan kuliah disana. Dan―sekarang aku tinggal di apartemen yang terasa seperti rumahku."
"Kau tidak bohong 'kan?"
"Tidak ada gunanya aku berbohong padamu." Kyuhyun melirik jam pada layar ponselnya. "Sudah dulu, Changmin-ah. Menelponlah lain waktu lagi. Aku harus ke universitas untuk registrasi."
Tanpa menunggu balasan dari Changmin, Kyuhyun segera mematikan panggilan. Sebenarnya Kyuhyun berbohong, ia tidak akan pergi ke universitas hari ini. Dua hari lagi Kyuhyun baru akan melakukan registrasi seperti yang telah dijadwalkan. Kyuhyun hanya tak tahu harus bicara apa lagi pada Changmin. Setiap kata yang dilontarkan oleh Changmin membuat Kyuhyun justru semakin merindukan Seoul.
Kyuhyun tahu, ia harusnya tak seperti ini. Sejak ia membulatkan niat untuk pergi dari Seoul, sejak saat itu pula Kyuhyun memutuskan untuk melupakan kota kelahirannya. Pemuda itu sudah cukup yakin dengan keputusannya. Namun setelah ia tiba di Tokyo, rasa rindu itu justru membuncah. Kyuhyun seolah ingin pulang saat ini juga.
Terdengar helaan napas dari bibir Kyuhyun. Ia melempar ponselnya ke tempat tidur kemudian kembali meneruskan acaranya memilih baju. Tangannya menarik sepotong kaos lengan pendek. Saat Kyuhyun akan mengenakan pakaiannya, kedua matanya mengamati lengan kirinya. Kyuhyun mengembalikan kaos yang sempat ia tarik pada tempatnya, kemudian mengambil kaos lain yang memiliki lengan panjang.
...
Donghae baru saja keluar dari rumah saat mendapati sosok Jung Yunho di halaman rumah―rumah Kyuhyun. Pemuda itu mengernyit heran karena ia merasa tidak menghubungi Yunho untuk datang.
"Dokter Jung, apa yang anda lakukan di rumah saya?" tanya Donghae setelah berdiri di dekat dokter muda itu.
"Aku mencari Kyuhyun-ssi." Yunho melirik ke arah rumah.
"Kyuhyunie tidak ada di rumah. Dia per―"
Donghae segera menghentikan kalimatnya disitu. Yunho kini yang mengernyit karena Donghae tak kunjung meneruskan kalimatnya.
"Donghae-ssi?"
"Jika ada yang menanyakan dimana aku, bilang saja kalau aku tidak ada di rumah. Jangan pernah mengatakan dimana aku berada saat ini. Seandainya ayah menanyakanku―hyung tidak perlu menjawab apapun."
Kalimat yang Kyuhyun ucapkan beberapa menit lalu terngiang di pikiran Donghae. Kyuhyun tadi sempat menelponnya selama setengah jam. Sepupunya itu menceritakan apartemen tempat tinggalnya, bukan asrama seperti yang Kyuhyun pernah katakan dulu.
"Donghae-ssi...!"
"Ne?"
Sepertinya Yunho sudah memanggil nama Donghae berulang-ulang. Donghae meringis pada pria di depannya.
"Apa Kyuhyun-ssi sedang pergi ke suatu tempat?"
Donghae mengangguk. "Ya, ia sedang pergi."
"Apa Kyuhyun-ssi sudah sembuh?" tanya Yunho ragu.
"Ne?" Ekspresi Donghae berubah. "Setahuku Kyuhyunie sehat-sehat saja, Dokter jung. Ia tidak sakit." Ucapnya dengan yakin.
Yunho tanpa sadar memejamkan matanya. Harusnya ia sadar jika Kyuhyun tidak akan menuruti ucapannya saat itu.
"Kenapa Dokter Jung bertanya seperti itu? Apa Kyuhyunie―" Donghae teringat kejadian beberapa bulan lalu. Tepatnya saat Kyuhyun mendadak hilang hingga ia kelabakan mencari di semua sudut kota Seoul. "Apa yang anda ketahui tentang Kyuhyunie?" tanyanya dengan serius.
Yunho juga menatap Donghae dengan wajah serius. "Sebenarnya Kyuhyun-ssi―"
...
Kyuhyun merentangkan tangannya saat berdiri di ambang pintu masuk apartment. Ia menghirup segarnya udara Tokyo di pagi hari. Bagi Kyuhyun, tidak ada yang berbeda antara Seoul dan Tokyo. Keduanya sama-sama memberi kesan nyaman untuk Kyuhyun.
Hari ini Kyuhyun berniat pergi ke tempat penukaran uang. ia belum memiliki sepeser pun uang yen, padahal ia sudah mulai merasa lapar. Karena pagi ini cukup dingin dibanding kemarin, Kyuhyun rasa dengan memakan sesuatu yang hangat dan berkuah akan membuatnya merasa hangat.
Satu yang menjadi masalah.
Kyuhyun tidak tahu sedikitpun soal lokasi tinggalnya yang baru. Ia baru saja pindah kemarin dan belum sempat bertanya soal tempat-tempat semacam itu pada pemilik apartment. Haruskah Kyuhyun mengetuk pintu Mrs. Yamako sepagi ini? Memang tidak bisa disebut pagi sekali saat jam sudah menunjuk pukul delapan.
"Doke!"
"Ne?!"
Kyuhyun terlonjak saat mendengar suara rendah yang terdengar tidak bersahabat. Ia mendapati seorang pria tengah membawa sekotak kardus. Wajah pria itu tertutup kardus sehingga Kyuhyun tidak bisa melihat wajahnya. Karena terlalu kaget, Kyuhyun tidak sadar kalau ia menanggapi ucapan pria itu dengan bahasa korea.
"Minggir!" ucap pria itu lagi namun kini dengan bahasa korea. Kyuhyun tanpa sadar segera menyingkir dari ambang pintu. Rupanya ia telah menghalangi jalan sehingga pria itu sedikit kesal.
"Jeosonghamnida," ucap Kyuhyun sembari sedikit menunduk.
Pria itu kemudian berjalan melewati Kyuhyun. saat pria itu berjalan melewatinya, Kyuhyun baru bisa melihat wajahnya. Jika Kyuhyun tidak salah, pria itu―lebih tepatnya pemuda itu kemarin yang berjalan keluar dari apartment saat ia baru datang. Memang hanya melihatnya secara sekilas, namun Kyuhyun masih menghafal tatapan mata pemuda bermata kelam itu walau hanya sesaat.
Kyuhyun membalikkan badannya untuk berjalan keluar. Ia harus kembali pada tujuan awalnya untuk menukarkan uang. Saat Kyuhyun mulai melangkah, ia baru teringat. "Aku tidak tahu kemana harus pergi." Gumamnya. Bahkan jika ditanya soal mata angin, Kyuhyun tidak yakin bisa menjawab. Ia tidak tahu apa-apa soal Jepang.
Tunggu―Kyuhyun merasa ada yang aneh. Jika saat ini ia tengah berada di Jepang, lalu kenapa pemuda itu―
Tanpa berpikir panjang, Kyuhyun berlari masuk dalam apartment. Ia berlari di sepanjang koridor untuk mencari pemuda itu. Tepat saat pemuda itu hampir mencapai lift, Kyuhyun berhasil menghentikan langkah pemuda bersurai hitam itu.
"Chogiyo..!" ucapnya sembari menarik lengan pemuda itu. Kyuhyun terengah. Ia sungguh-sungguh berlari untuk menghentikan pemuda di depannya.
Pemuda itu melirik lengannya yang ditarik oleh Kyuhyun dengan tatapan tidak nyaman. Kyuhyun yang sadar segera melepaskan lengan pemuda itu. Kemudian pemuda itu melangkah masuk ke dalam lift. Kyuhyun terdiam saat pemuda bermata kelam itu hanya memandangnya tanpa ekspresi.
Sebelum pintu lift tertutup, Kyuhyun kembali bersuara.
"Chogi―kau bicara bahasa korea tadi. Apa kau orang korea?"
...
..
.
.
.
TBC
.
.
..
...
Makasih buat kalian yang masih nungguin fanfic ini. Maaf karena terlalu lama dan ini pendek banget, aku sadar. Ini kuanggap pemanasan buat aku sendiri setelah sekian lama gak ngurusin fanfic. So―maaf kalau pendek.
October 29, 2017
With Love,
Jung Je Ah
