A Ferret In Love

Author: eccentric indeed

Translator: dei-enjel

Summary:

"Aku tidak mencintai Granger. Aku hanya memiliki ini. perasaan yang jelas-jelas lucu ketika aku ada disekitarnya. Dan itu bukan cinta! Cinta itu unicorn, pelangi dan panda besar yang mengemong.", "Kegilaanmu tidak pernah gagal membuatku takjub." Menjadi seorang ferret yang jatuh cinta itu sulit. Dasar Granger.


Disclaimer: Harry Potter always belongs to J.K Rowling

A Ferret in Love - eccentric indeed

A/N : Beribu maaf kepada beribu (?) pembaca fic terjemahan ini, hehe, maaf, udah berapa taun ini dei haha. Oke, tanpa berlama-lama silakan menikmati kisah Draco yang gak terlalu serius ini. Akan aku usahakan bakal menerjemahkan chapter depan lebih cepat. Semoga.

Kepada semua reviewers, followers dan semuanya yang udah ngasih semangat dan gak capek-capeknya membaca fic ini. Makasih banyak :)

Happy reading :)

Review ya :D


Chapter 12 : Seorang yang Menginginkan Draco Mati

Draco POV

Aku tidak pernah melihat seseorang yang melihatku dengan penuh kebencian. Wajah Weasley lebih merah daripada rambutnya dan Potter menatapku tajam seolah aku telah membangkitkan Voldemort. Begitu banyak cinta di ruangan ini, terasa menyesakkan. Aku mengalihkan pandanganku dari duo yang marah itu dan menatap api di perapian. Setelah kejadian di dapur, Hermione membawa semua orang ke Asrama Ketua Murid.

Ya, Blaise juga. Dia benar-benar ada di sana. Jangan tanyakan bagaimana.

Menyadari tidak adanya Blaise saat itu, aku melihat sekeliling. Dia menghilang lagi.

"Hermione," aku memanggil Hermione dan dua pemuda itu melototiku. Hermione yang sedang menjelaskan pada mereka menoleh ke arahku, "Ya?"

"Kau melihat Blaise? Dia hilang lagi—" Seseorang duduk di sampingku. "Aku tidur lagi di kamar mandi."

Oh, itu dia.

Potter berdehem dan kembali menoleh pada Hermione. "Kami harus pergi. Kau tau, sarapan dan lainnya." Dia berdiri dan berjalan ke pintu kemudian menyadari bahwa Ron tidak ada di sampingnya. Harry membalikkan badan dan melihat Ron masih duduk di sofa melototi Hermione.

"Aku masih tidak bisa percaya kau baru saja mengatakan tentang hal ini sekarang" Ron berseru, tersingung. Hermione memutar bola matanya. "Kau akan panik, dan sekarang kau benar-benar panik."

"Tidak."

Ya. Ketika Hermione memberitau mereka tentang persahabatan ini, mereka mulai panik - berteriak tak jelas dan mondar-mandir, menusukku dengan tongkat mereka. Itu lucu sebenarnya, kalian harus melihatnya. Aku mendengus pada ingatan itu dan mereka berdua memberiku tatapan tajam. Aku membalas tatapan mereka tak terpengaruh dan Weasley berdiri, menarik Potter dan berjalan keluar Asrama Ketua Murid.

Hermione menjatuhkan diri duduk di sampingku dan mengerang.

"Itu mengerikan."

Aku mengangkat bahu. "Beri mereka waktu. Otak mereka yang kecil tidak bisa memprosesnya dengan cepat." Hermione melototiku.

"Itu tidak sopan!"

Aku menyengir. "Aku seorang Malfoy."

Hermione memutar bola matanya dan pergi ke atas. "Well, aku mau menyelesaikan tugasku dulu. Sampai jumpa nanti."

Hari ini adalah hari Sabtu dan ada satu truk penuh tugas yang semuanya dikumpulkan hari Senin. Dan itu berarti aku memiliki dua hari untuk menulis esai yang panjang, berlatih beberapa tugas mantra dan belajar untuk ujian.

Hebat, benar-benar hebat.

Haruskah aku terjun dari Menara Astronomi atau mungkin menggunakan cara yang sedikit menyakitkan? Racun mungkin? Apa pendapat kalian?

Demi Janggut Kasar Merlin, tolong aku melewati semua ini.

Tugas Hermione hampir selesai dan itu membutuhkan waktu sepanjang malam. Aku penasaran apakah ia memiliki kekuatan super atau sesuatu. Menjauhkan pikiran itu, aku memasuki tempat dimana jiwa sengsara yang miskin harus mengerjakan tugas mendapatkan pencerahan dan mungkin, nilai yang bagus. Perpustakaan.

Aku menemukan sebuah meja yang jauh di belakang dan meletakkan semua barangku di sana. Saat aku berada di antara rak buku, bulu kudukku merinding. Seseorang melihatku. Aku menyipitkan mata dan melihat sekeliling. Tidak ada siapapun di sana.

Aku mengambil buku Mantra dan kembali ke mejaku. Saat aku duduk aku menyadari ada sesuatu di samping pena bulu dan tintaku. Sebuah catatan. Ditulis dalam tulisan yang besar dan tebal, catatan itu berbunyi :

MENJAUH DARINYA KAU FERRET TAK BERGUNA! JIKA TIDAK, KAMI PASTIKAN AKAN MEMUKULMU DI TEMPAT YANG PASTINYA KAU TIDAK INGIN DIPUKUL.

Ah, itu dari Potter dan Weasley. Mereka mengirimku pesan kematian, bukankah itu manis? Aku mendengus dan memberengut mengatakan catatan ancaman kematian itu manis dan mulai mengerjakan esai Mantra-ku.

Setelah berjuang dengan satu kaki gerakan pergelangan tangan dan kata-kata yang membingungkan, aku menyelesaikan esaiku dan meletakkannya di dalam tasku. Aku melihat jam tangan dan menyadari bahwa ini waktunya untuk makan siang. Aku berdiri dan melenggang menjauh dari perpustakaan.

Ketika aku tiba di Aula Besar, makan siang baru disajikan dan aku langsung duduk dengan cepat di tempatku yang biasa dan mulai menumpuk piringku dengan makanan. Baru saja aku hendak menggigit paha ayam, aku melihat catatan lain di samping gelas pialaku.

Catatan itu berbunyi :

NIKMATI MAKAN SIANGMU

Sekarang mungkin kalian pikir ini hanya catatan sederhana dan tak bersalah yang mengatakan padaku untuk menikmati makan siangku – tidak ada yang mencurigakan tentang itu ya kan? Salah. Berikut bunyi seluruh catatan itu :

NIKMATI MAKAN SIANGMU.

BWAHAHAHAHAHAHAHA :D

Jadi kuduga ini berarti berita buruk. Dan sebelum aku bahkan bisa menyimpulkan apa yang akan terjadi jawabannya muncul untukku dalam bentuk ayam. Tidak, itu bukan gambar, simbol atau apapun itu. Itu adalah ayam itu sendiri atau lebih tepatnya ayam. Semua orang di meja Slytherin melihat ayam itu.

"Draco Malfoy, jangan makan itu!" Kepala Sekolah McGonagall memerintahkan. Aku menjatuhkan makananku dan berdiri tiba-tiba. Kepala Sekolah McGonagall melototi Aula dengan bibir tipis. "Siapa yang melakukan ini?" Ia bertanya dan semua orang tertawa. Bulu kudukku merinding kembali dan aku mencari tatapan itu, tapi sebaliknya aku menemukan Hermione yang kelihatan lega ketika ia melihat aku tidak menjadi salah satu teman berbuluku.

Aku memutar bola mataku padanya dan menatap tajam pada teman-temannya yang terkikik. Hermione menggelengkan kepalanya dan menggerakkan mulutnya, "Tidak, itu bukan mereka." Aku memutar bola mataku lagi dan pergi meninggalkan Aula Besar.

Aku pergi ke dapur dan memakan makan siangku disana. Dan menyadari bahwa itu adalah tempat yang mungkin paling aman untukku sekarang, aku tinggal disana di hampir sepanjang siang untuk menyelesaikan sebagian besar tugasku. Pada akhir hari itu, aku sudah menghabiskan dua nampan kue bolu dan hanya memiliki 2 esai lagi yang belum selesai.

Aku berterima kasih pada peri rumah dan merasa bangga pada diriku sendiri karena menyelesaikan hampir seluruh tugasku.

Sebelum kembali ke kamarku, aku pergi ke kamar mandi yang dekat dengan kelas Mantra. Aku masuk ke kabin dan kembali kurasakan bulu kudukku merinding. Kau pasti sudah bercanda.

"Weasley! Potter! Bisakah aku melakukan urusanku tanpa kalian berdua menguntitku?" Aku mendesah kesal dan keluar. Kemudian semuanya menjadi gelap.

Hermione tercinta,
Aku menulis surat untukmu dari Kamar Mandi Myrtle Merana kalau – TEMANMU YANG GILA MENCULIKKU DAN SEKARANG MENYANDERAKU DI KAMAR MANDI.
Itu saja.
Draco Malfoy
P.S. SELAMATKAN AKU.

Aku bergegas berdiri saat Weasley dan Potter datang membawa beberapa tali dan lakban. Mereka mengambil tongkatku dan menunjuk tongkat mereka ke arahku. Aku menjaga diriku tetap tenang dan menghela nafas. "Sekarang Tuan-Tuan, kita bisa berbicara dengan baik-baik tanpa semua itu." Aku menunjuk tali dan lakban. Potter dan Weasley menyeringai dan bergerak mendekatiku dan well, memanfaatkan apa yang mereka bawa.

Jadi disinilah aku sekarang, terikat di lantai dengan lakban di mulutku. Aku memberi mereka tatapan pembunuh saat mereka duduk disana, tongkat terangkat ke arahku. "Apa yang kau mainkan, Malfoy?" Weasley bertanya kasar.

Jawabanku teredam oleh lakban. "Jawab kami kau berengsek!" Weasley berteriak lagi. "Kau tidak menjawab ya? Well, kurasa kami harus memaksa jawabannya keluar darimu." Weasley berdiri dan berjalan ke arahku.

Mataku melebar dan Potter berlari ke arahku, melepaskan lakban. "Apa pikiranmu berdarah (a.n gila :D), Weasley? Kau bertanya pada seseorang yang memiliki lakban dimulutnya untuk menjawab pertanyaanmu! Bisakah kau lebih bodoh dari ini!" Aku mengambil nafas dalam. Potter terlihat mengerti situasinya. Kupikir dia tidak terlalu bodoh, dia menyadari kenyataan bahwa aku tidak bisa menjawab pertanyaan temannya – secara lisan.

Weasley tersipu merah dan menerjang ke arahku. Potter menangkapnya sebelum ia meninggalkan kerusakan padaku. Aku duduk dengan tenang dan ceria ketika aku mendengar langkah kaki. Mataku melirik ke pintu bertanya-tanya apakah Hermione akan masuk beberapa saat lagi. Seseorang masuk namun itu bukan Hermione.

Luna Lovegood asuk ke dalam dengan penuh kebahagiaan. Ia berhenti seketika ketika matanya jauh pada kami. "Halo Harry, Ron," Luna menyapa dengan desahan melamun. Ia menoleh ke arahku dan aku memberinya sebuah tatapan tolong-aku-aku-bersama-orang-bodoh. Luna tersenyum padaku dan berkata, "Halo Draco Malfoy." Ia berlalu ke jendela terdekat dan mulai berbincang pada sesuatu. Aku lupa dia terkenal sebagai Loony Lovegood.

Weasley berdehem. "Oke, sekarang katakan padaku Malfoy, apa yang terjadi antara kau dan Hermione?" Aku menghela nafas kesal. "Tidak, Weasley. Kami hanya berdamai dan sekarang kami berteman. Itu saja."

"Berdamai? Dan dia menyetujuinya?"

"Tentu saja."

"Kau bohong."

"Tidak, aku tidak bohong bodoh!"

"Kau bohong!"

"DIA TIDAK BOHONG!" Terima kasih Merlin. Hermione masuk ke dalam terlihat seperti akan meledak dalam waktu dekar. Potter dan Weasley berjengit pada tatapan tegasnya. Hermione mengalihkan pandangannya padaku dan matanya melunak.

"Jadi masih hidup?"

"Oh, tidak Hermione, mereka sudah membunuhku dan sekarang aku ini hantu! Boo!" Aku menjawab sinis dan Hermione memutar bola matanya.

"Aku menyelamatkan hidupmu, bodoh. Tidakkah kau berterima kasih?"

Aku menyengir. "Tidak, karena mereka akan mengatakan aku jadi baik. Malfoy tidak melakukan kebaikan."

Hermione tertawa dan berpaling pada teman-temannya, wajahnya kembali ke ekspresi datar. "Sekarang lepaskan dia dan minta maaf sebelum kalian berdua kehilangan bagian tubuh yang kalian butuhkan jika kalian ingin bereproduksi." Mereka bergegas melepaskan ikatanku dan aku duduk menyeringai geli melihat wajah ketakutan mereka.

"Itu bagus. Dan Draco berhenti menyeringai!" Aku menoleh ke arahnya penasaran. Hermione menghela nafas. "Kau tidak bisa menyalahkan mereka untuk perilaku kasar mereka. Mereka hanya benar-benar tidak percaya padamu."

"Tapi mereka tau sekarang kita berteman. Kau percaya padaku."

"Tentu saja, karena aku sudah memaafkanmu. Tapi Harry dan Ron, well, katakan saja mereka benar-benar membencimu. Kau sudah jahat sejak pertama kali kalian bertemu. Dan perasaan itu tidak bisa berubah dalam waktu semalam." Hermione menjelaskan dengan sabar. Kami bertiga mendongak dan menatap mata satu sama lain.

"Maukah kalian bertiga gencatan senjata sekarang?" Hermione bertanya penuh harap.

Kami mendengus, "Kesempatan kecil."

Hermione melototi kami dan kami kembali menyusut. "Baiklah kalau begitu, aku harus menjalankan Rencana B!"

"Apa rencana B-nya?" Kami bertanya pada saat yang bersamaan.

Hermione hanya memberi kami senyum penuh rahasia. Aku tidak suka senyum rahasia. Aku mengeluh gusar dan melemparkannya tatapan tajam dan Hermione menyengir lebar. "Tidur nyenyak anak-anak, kalian akan membutuhkannya." Dan dengan kalimat itu ia meninggalkan kami.

Potter dan Weasley pergi sesegera mungkin setelah Hermione dan aku memutuskan untuk perlahan kembali juga. Aku berhenti di pintu ketika suara Luna menggema saat ia melewatiku.

"Maukah kau mengatakan pada Blaise untuk memperhatikan Nargles, oke."

Aku menatapnya. Apa itu Nargles?

Kalian harus menjelaskan pada Draco apa itu Nargles, oke?