Summary: Naruto adalah anak yang selalu dianiaya dan disakiti karena kyuubi yang disegel dalam tubuhnya. saat keadaan semakin kejam tak terkendali, seorang pria datang menolong. akankah pria ini membuat hidup Naruto berubah?

Warning: OC, tapi bukan kayak Gary Stu; juga ada penampilan karakter yang jarang bakal tampil atau sekali pakai (emang barang, bisa sekali pakai…), good Kyuubi, FemKyuubi and GoodParentKyuubi.

Oh iya, di fic ini naruto lebih tua 1 tahun dari rookie 9 lainnya.

Hai lagi… tanpa basa-basi, ini chapter 12…

Enjoy!

"Blah" perckapan.

'blah' pikiran

"blah" / 'blah' pecakapan / pikiran siluman

Blah inner Haruno / Sycro.

Baka Tantei Seishiro Amane present…

ANOTHER LIFE CHANCE

CHAPTER 12: THE TEST (AND PROLOGUE JOURNEY TO THE WAVE)

Sebelumnya…

Kakashi menatap langit senja, lalu tertawa kecil. "Besok akan sangat menyenangkan..."

Dia menghilang dalam putaran angin dan daun.

Naruto terbangun keesokan harinya jam 06.30. pagi. Dia menguap lebar-lebar, sambil duduk terdiam di kasurnya. "Naruto, Bukannya kamu ada tes genin jam tujuh?" Tanya Randou, saat dia keluar dari kamarnya. Dia menggumamkan sesuatu seperti 'Tes kepekaan' dan 'rahasia', lalu mulai menghirup susu dari tempat susu. Lalu dia pergi mandi. Saat bersiap, dia memandang jaket Chuuninnya. Jaket hijau itu terlihat kaku dan keras, namun ternyata cukup lembut dan nyaman dikenakan.

Dia terlebih dahulu menemui Hokage. Seperti biasanya, Hiruzen mengintip kegiatan tes dari bola kacanya. "Hei, bukannya kamu... Oh, Kakashi ya? Yah, sebaiknya kamu tunggu sampai siang..." kata Hiruzen saat melihat Naruto. Naruto melihat kegiatan dari bola kaca Hiruzen, melihat tim 8 yang sedang menunggu sensei mereka.

Lalu, dia menuju tempat tinggal Kakashi. "Gila... Dari mana dia dapat uang, sampai bisa dapat tempat sebagus ini, di tengah desa?" Ujar Naruto, saat dia memasuki apartemen mewah yang berada di kawasan elit di tengah desa Konoha.

Seperti yang diduga, sensei mereka sedang tertidur dengan pulas. Setelah membangunkannya, Naruto bertanya. "Jam berapa kira-kira kau akan datang?" Kakashi meluruskan posisi maskernya yang sedikit bergeser.

"menjelang makan siang, jadi sebaiknya kamu segera pergi, sebelum mereka curiga. Dan berikan jaketmu, aku punya beberapa rencana..." Naruto menyerahkan jaketnya, lalu pergi ke tempat pertemuan mereka.

"Kau telat." Kata Sasuke saat dia sampai disana. Naruto hanya angkat bahu.

"Aku ketiduran. Mana kutahu kalau aku bakal terjaga hingga larut?" Dia lalu duduk di pinggir jembatan. "Lagipula, sensei kita kelihatannya belum datang..." dia segera melihat ke arah sungai. "Ah... jadi ingin memancing~, bagaimana menurutmu?" Tanya Naruto pada Hisakata.

Hisakata terdiam sejenak. "Aku tidak bisa memancing, senpai... Teknisnya, aku buta. Tapi, memang cuaca yang bagus untuk pergi memancing atau piknik..." Dia menikmati angin semilir. Sasuke dan Sakura menepuk tangan mereka.

'Aku lupa kalau dia sebenarnya tidak bisa melihat... Dia tidak terlihat seperti buta sih...' Pikir mereka. Mereka terus menunggu hingga matahari tinggi. Sasuke mulai melepas topeng stoic-nya, dan memandang sekeliling dengan kesal. Sakura memandang cemas kepada Sasuke. Hisakata, yang ternyata kurang tidur, tidur dengan nyaman di tengah jembatan, hingga beberapa orang lewat mengira dia tuna wisma dan menaruh uang di hadapannya.

Naruto sudah bermeditasi di tempat yang sama selama beberapa jam. 'Kakashi sensei, kau benar-benar…' Konsentrasinya buyar karena merasakan tingkat emosi Sasuke yang sudah pada tahap cukup membahayakan.

Akhirnya, Kakashi Sensei datang. "KAU TELAT!" Sakura berteriak keras, hingga membangunkan Hisakata.

"Maaf-maaf... Aku tersesat di jalan bernama kehidupan..." Katanya dengan tenang.

"PEMBOHONG!" Sakura sekali lagi berteriak.

"Apa tidak bisa bikin alasan yang lebih baik, hah?" Komentar Hisakata.

"Sudah-sudah... nah, ikut aku. Kita menuju ke tempat latihan 02," Kakashi memandu mereka. Mereka mengikuti dengan bersungut-sungut. Sesampainya disana, dia menunjukkan sepasang bel kepada mereka. "Tugas kalian merebut bel-bel ini dariku. Kalian boleh melakukan serangan apapun padaku. Kalau kalian berhasil, kalian lolos tes."

Sakura mengangkat tangannya. "Sensei... Bel nya hanya ada sepasang... Kami semua empat orang..." Kakashi tersenyum.

"Sudah kubilang, kan? Tingkat keberhasilan tes ini hanya 66%. Dan untuk tes kali ini, Naruto tidak ikut bersama kalian." Jawabnya tenang. Sakura kembali mengangkat tangannya.

"Apa maksud sensei dengan Naruto tidak ikut? Dan lagi, berarti kami melawan sensei sendirian kan? Apa sensei tidak apa-apa?" Tanya Sakura malu-malu. 'Ha! Naruto baka itu memang tidak memenuhi kualitas! Rasakan!'

Kakashi menghela napas. "Naruto sudah menunjukkan kemampuannya di kejadian-kejadian sebelum kalian semua ditempatkan di tim. Aku ada disana, jadi aku tahu. Dia mendapat tes lain. Dan untuk pertanyaan keduamu... Aku ini Joonin, Sakura. Tak mungkin aku tidak bisa menghadapi sekumpulan bocah genin." Sakura terdiam.

"Jadi, aku duduk dan nonton saja sekarang?" Tanya Naruto.

"Tidak. Kau awasi bekal ini, juga jam ini. Kalau mereka gagal, kita bisa mengikat mereka di balok dan makan di depan wajah mereka. Dan sepertinya, kalian benar-benar tidak sarapan ya?" Kakashi berkata seraya memberikan jam weker besar dan lima buah kotak bekal. Semua selain Naruto mengangguk.

"Ada beberapa perintah yang tidak bisa selalu kau taati. Kita, Shinobi bergerak sesuai keadaan disekitar. Dan yang kita prioritaskan adalah keberhasilan misi. Dan perintah yang berlawanan dengan tujuan itu sudah seharusnya ditinggalkan. Bagaimana caranya kalian bertarung, jika kalian terlalu lemah karena kelaparan?" yang lainnya hanya terdiam dengan mulut menganga.

'Dasar guru sial...' Pikir mereka bersamaan. Naruto hanya menggelengkan kepala.

"Waktu kalian untuk merebut bel ini hanya sampai jam makan siang," Mereka segera melihat jam weker yang dipegang Naruto. "Benar. Waktu kalian hanya sekitar 1 jam saja,"

Semua langsung memasang kuda-kuda. "Baik... Latihan survival... Mulai!" ketiga genin tersebut langsung bergerak bersemunyi. Kakashi berjalan ke arah balok kayu tempat Naruto duduk. "Hmm... Setidaknya mereka dapat bersembunyi dengan cukup baik..."

"Lakukan tugasmu, sensei. Mereka tak akan bersembunyi selamanya, kau tahu." Naruto membalas. Kakashi melangkah lagi ke tengah lapangan terbuka.

Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong belakangnya. Ketiga genin yang bersembunyi langsung waspada. Ternyata, yang dikeluarkannya adalah buku oranye dengan tanda besar '18+' di sampul belakangnya.

Tak ingin menunggu, Hisakata melompat maju. Pukulannya dengan mudah dihindari. "Jangan menahan diri. Pelajaran pertama Shinobi, Taijutsu." Kata Kakashi seraya membalik halaman buku.

Setelah menyerang dengan tangan kosong dan gagal, Hisakata menarik tongkat berjalan yang tadi ditaruh di semak-semak. "Kalau begitu, aku tak akan segan-segan." Kakashi menaikkan alisnya.

'Itu... Begitu...' "Majulah..." Hisakata maju dengan kecepatan yang berbeda. Dengan memanfaatkan pengalih perhatian dengan kunai, dia menyerang dengan pedang tersembunyinya.

KLANK! TRANG!

Kakashi menahannya dengan kunai tanpa melihat. "Ilmu pedang orang buta... Tak hanya mulut besar, rupanya?"

Hisakata hanya menyeringai "Ilmu bertarung turun temurun di selatan. Sudah mendarah daging disana, semenjak wabah penyakit yang membuat penderitanya kehilangan penglihatan menyebar." Dia kembali menyerang dengan gabungan tendangan, pukulan, dan serangkaian sabetan pedang cepat.

Kakashi terkena serangan, lalu berubah menjadi balok kayu. Kakashi muncul di belakang Hisakata. "Cukup baik, namun masih kurang," Dia memukul Hisakata dari belakang, melamparnya ke pohon besar. "Perhatikan bawahmu." Saat Hisakata sadar, dia sudah tergantung terbalik.

Sasuke memanfaatkan momentum itu untuk menyerang. Kakashi terkena serangan, namun berubah menjadi balok kayu. "Sial... Aku harus pindah tempat..." Sasuke segera melompat pergi.

Sakura melihat ini, berlari mengejar. Hisakata akhirnya berhasil lepas, namun ada jebakan kedua, yang kembali membuatnya tergantung terbalik lagi. "Aaaarrrggghhh!" Suaranya terdengar ke seluruh tempat.

Sakura mendengarnya. "Huh, itu karena dia terlalu bodoh... Mestinya dia tahu, hanya Sasuke-kun dan aku saja yang boleh lolos," Dia tertawa membayangkan berdua saja dengan Sasuke. "Sasuke-kun~, Dimana kamu?"

"Sakura..." Dia mendengar suara Sasuke, dan segera berbalik dengan senang. Namun, yang dilihatnya membuatnya shock. Sasuke merangkak dengan keadaan menyedihkan. Tangan kirinya putus, kaki kanannya berputar ke arah yang berlawanan dengan yang semestinya, berbagai senjata ninja menusuk tubuhnya. Dia memuntahkan darah dalam jumlah besar. "Sa-Sakura... To-tolong..." dia roboh setelah berkata.

"TIDAAAAKKKK! SASUKE-KUUUUUN!" Sakura pingsan dengan mulut berbusa, meninggalkan Kakashi yang memberikan Genjutsu padanya dalam kebingungan.

"...Pelajaran kedua shinobi, Genjutsu. Apa aku terlalu berlebihan, ya?" Kakashi menggaruk kepalanya. Dia tiba-tiba memandang sekliling. 'Yang ini...' "Yah, sekarang tinggal satu orang lagi." Dia melompat pergi.

Sementara itu, Hisakata berjuang lebih keras sekarang. "Kenapa jebakan keduanya pakai kawat sih!" dia berusaha memotongnya, namun belum berhasil. Setelah berusaha beberapa saat, dia akhirnya terlepas juga. Dia segera berlari menuju hutan.

Naruto melihatnya dengan wajah senang. "Dasar Kakashi sensei, dia benar-benar tahu cara membuat orang menggila," dia kembali dalam posisi meditasi. Lalu, dia merasakan kehadiran Sasuke. "mau apa kau kemari, Uchiha?"

Dia menunjukkan bel di tangan kirinya. "Beri aku makanan." Naruto hanya tertawa.

"kau pikir, aku bisa ditipu dengan henge dan genjutsu sederhana? Pergi ambil bel yang asli, lalu datang kemari." Dia membuat kagebunshin, mendorong Sasuke pergi. Dengan kesal, Sasuke masuk kembali ke hutan.

Kakashi melihat posisi matahari dari lebatnya pepohonan. Dia telah mengalahkan Hisakata lagi, yang kini diikat di pohon."Hampir waktunya..." Dia segera diserang belasan shuriken. Sasuke keluar dan mulai menyerangnya dengan rangkaian taijutsu level menengah. 'Bukan waktunya main-main, kurasa,'

Tahu serangannya dimentahkan, dia melakukan segel jutsu. 'Apa? Mestinya itu bukan level jutsu untuk genin! Kalau kena, bisa gawat...' Pikir Kakashi. Sasuke menyelesaikan rangkaian segel dan menarik napas dalam-dalam.

"Katon! Goukakyuu no Jutsu!" Dia melepaskan bola api besar dalam sekali tarikan napas. Bola api itu langsung membakar semua yang dilewatinya. "Heh..." Dia terlihat puas, namun itu segera terganti saat dia tidak melihat siapapun dihadapannya.

Tiba-tiba, sebuah tangan muncul dari tanah dan menariknya. "Doton, Shinjuu Zanshu no jutsu." Kakashi keluar dari tanah, setelah mengubur Sasuke hingga sebatas leher. "Pelajaran shinobi ketiga, ninjutsu. Kulihat, kau cukup bisa dalam hal ini..." dia berkata, lalu meninggalkan Sasuke.

Tes telah berakhir, dengan kegagalan mereka. Kini mereka duduk di depan balok besar yang ditunjuk Kakashi, dengan tampang kesal dan malu. "Jujur kuakui, tindakan kalian melebihi perkiraanku. Kalian tidak semestinya mengikuti tes ini... Kalian sebaiknya berhenti jadi shinobi saja."

Semua protes akan perkataan Kakashi. "Kakashi sensei, sebaiknya sensei menjelaskan tujuan dari tes ini, supaya mereka mengerti." Naruto berkata.

"Kau diam saja, orang gagal! Kau bahkan tidak diizinkan ikut tes!" Ejek Sakura.

Kakashi menghela napas. "Satu-satunya alasan dia tidak ikut tes ini, karena dia telah memiliki kualitas sebagai shinobi, melebihi kalian. Tes yang kuberikan padanya nanti, adalah pantas tidaknya dia mendapat ini." Kakashi mengeluarkan jaket Chuunin yang disimpan di gulungan penyimpan.

Semua terdiam melihat jaket itu. "Aku yang seharusnya ikut tes itu, bukan orang tak jelas itu." Kata Sasuke. Kakashi menggelengkan kepalanya.

"Naruto, coba rebut bel dariku." Kata Kakashi kalem. Namun, kali ini Kakashi tidak menegluarkan buku oranye atau berdiri saja. Dia memegang kunai di tangan kanannya, dan memasang kuda-kuda.

Naruto juga membuat 3 kagebunshin, lalu memasang kuda-kuda. Mereka saling menjaga posisi, menimbang dari mana memulai serangan. "Jangan malu-malu, Naruto." Kata Kakashi.

Naruto tertawa hambar. Dia segera melancarkan serangan shuriken secara rahasia. Seperti biasa, Kakashi memakai kawarimi dan muncul dari belakang. Namun, Naruto langsung menyerang dengan rangkaian taijutsu level atas. Setelah akhirnya mengalahkan satu bunshin, Kakashi mundur. Mereka kembali menjaga jarak.

"Genjutsu?" tanya Kakashi.

"Terlalu membosankan..." Jawab Naruto.

Kakashi melakukan rangkaian segel, lalu menyerang dengan gelombang dari tanah Naruto terkena, namun berubah menjadi serpihan es. Dia muncul dari dalam air, dan menyerang dengan sepuluh kagebunshin dan serangan pilar es. Disaat Kakashi sibuk, dia masuk ke celah pertahanan dan memotong tali kedua bel tersebut.

"Dapat, Kakashi sensei... Walau sensei sengaja menahan diri..." Kata naruto, memainkan bel itu di tangannya. Kakashi tertawa. Mereka bertiga bengong melihatnya.

"Bagaimana caramu mendapatkan bel itu?" Tanya Sasuke dengan bingung. 'Mana mungkin dia diatasku!'

Naruto hanya menjawab dengan simpel. "Memakai segala kesempatan dan kerja sama. Walau hanya sekumpulan genin, kalau bekerja sama, bisa mengalahkan seorang Joonin. Cuma itu, memangnya kenapa?" Mereka bertiga tersentak.

Kakashi menghela napas. "Akhirnya kalian mengerti? Tujuan dari tes ini adalah kerja sama. Tapi, kalian memalukan... Hisakata! Bukannya berkumpul dan merencanakan strategi, kau malah menyerang sendirian. Sasuke! Kau malah memanfaatkan kejatuhan temanmu demi kepentingan pribadimu. Dan lagi, kau tadi berusaha menipu Naruto kan? Sakura! Bukannya menolong Hisakata, kau malah mencari Sasuke...

Jujur, aku bahkan terkejut bahwa orang selevel kalian diluluskan dalam tes akademi. Orang semacam kalian, hanya akan segera mati begitu dihadapkan dalam medan pertarungan..." Kakashi berjalan menuju monumen kecil di tengah padang.

"Kalian tahu, ini adalah monumen pahlawan. Semua orang yang namanya terukir disini, telah wafat setelah bertarung dengan gagah berani di medan pertempuran... Nama beberapa temanku pun terukir disini..." Dia bergerak dengan cepat, mengikat Sasuke di balok. "Ini karena kau berusaha menipu. Tes akan kumulai satu jam lagi. Kalian makan, namun jangan beri dia makan. Yang melanggar, akan langsung didiskualifikasi. Ayo, Naruto."

Kakashi dan Naruto pergi, namun tidak jauh. Mereka bersembunyi di dekat hutan, dengan menyembunyikan aura chakra mereka. "Kenapa, sensei?" Tanya Naruto.

Kakashi memperhatikan mereka sambil menjawab. "Tunggulah. Kalau harapanku benar, mereka... Ah, lihat itu..."

Hisakata menyuapi Sasuke. Sakura pun ikut memberikan bentounya pada Sasuke. Kakashi segera keluar.

"KALIAN... lulus." Ekspresi mereka bertiga membuat Naruto tertawa. Kakashi lalu menjelaskan betapa pentingnya keselamatan anggota tim, bahkan melebihi kode etik shinobi.

"...Mulai besok, kita akan menjalankan misi bersama-sama... Pulang dan beristirahatlah," mereka semua tetap di tempat. "Kenapa? Ada sesuatu yang kurang jelas?"

Sasuke angkat suara. "Kami ingin melihat tes Naruto." Kakashi mengangguk.

"Kau sudah siap? Ini tidak seperti tadi." Kata Kakashi. Naruto mengangguk. Mereka mulai memasang kuda-kuda.

Naruto terlihat jauh lebih waspada dari sebelumnya. "Kenapa Naruto belum menyerang?" Tanya Sakura.

"Tak mungkin. Kakashi sensei memakai kuda-kuda yang penuh celah... Namun, justru yang seperti itulah yang berbahaya. Karena penuh celah, musuh jadi lengah dan menyerang dengan ceroboh, dan hasilnya justru merugikan si penyerang." Jelas Sasuke. dia sendiri meneteskan keringat dingin.

"Jangan malu-malu, Naruto," Kata Kakashi. Naruto mendengus, namun tetap menjaga jarak. "Kalau begitu, aku mulai."

Kakashi segera menyerang dengan kunai. Kecepatannya membuat Naruto terpaksa menghindar. Dalam sekejab, Kakashi sudah berjarak kurang dari 1 meter. Dia melancarkan rangkaian taijutsu secepat kilat. Naruto menahannya, namun kalah cepat. Dia segera melempar bom asap.

Kakashi keluar dari kepulan asap. Saat asap menghilang, sosok naruto tidak nampak dimanapun. "Menggunakan asap sebagai pengalih... Cara umum yang sangat efektif... Lalu, selanjutnya apa, Naruto?" Kata Kakashi. Belasan Shuriken muncul dari kiri Kakashi, namun ditangkis dengan mudah. Kakashi menuju tempat munculnya Shuriken, namun tak ada siapapun. "Oh... Serangan dengan Kagebunshin untuk pengalih perhatian lagi... menarik..."

Kakashi kembali ke tengah padang. Dia memandang sekeliling. "Kita tidak punya waktu seharian... Sebaiknya, kita selesaikan segera." Kata Kakashi.

Terdengar jawaban Naruto dalam bentuk gema. "Boleh saja. Ayo kita selesaikan." Puluhan pilar es segera muncul menusuk dari bawah kaki Kakashi. Kakashi melompat menghindar, dihadang oleh ular besar yang terbuat dari terkena, namun berubah menjadi Air. Mereka berdua muncul dari air, di tepi sungai. Naruto, sedikit terengah-engah dengan cakar esnya, berhadapan dengan Kakashi yang terlihat tidak mengalami apa-apa.

"Tolong gunakan jutsu terbaikmu. Kita lihat kemampuannya." Tantang Kakashi. Naruto menarik napas panjang.

"jangan menyesal ya."

Dia mengatupkan kedua tangannya. Dalam sekejab, temperatur di sekitar tempat itu turun. Setelah beberapa saat, dia membuka tangannya, memperlihatkan kristal es kecil. "Kalian bertiga! Naik ke atas pohon!" Sasuke segera menarik Hisakata dan Sakura.

"kenapa, Sasuke-kun?" Tanya Sakura bingung.

Sasuke menahan napasnya. "Kalau perkiraanku benar, jutsu itu sangat berbahaya."

Kakashi berusaha bergerak, namun dua kagebunshin menahannya. Lebih banyak bunshin muncul menahannya. "Oh, sial..."

"Ice Element, Frozen World." Dia melempar kristal es itu. saat kristal itu pecah hawa super dingin langsung menyebar dan membekukan semua yang ada disekitarnya, hingga mendekati hutan tempat Sakura, Sasuke dan Hisakata berada.

Kakashi yang hanya berjarak 2 meter dari Naruto, langsung berubah jadi patung es. Naruto terengah-engah.

"Ini jutsu paling kuat yang kumiliki. Intinya, aku menciptakan suhu super dingin, sekitar minus lima ratus derajat celcius, hingga membuat oksigen disekitarku berubah, bukan hanya jadi cair, namun mengkristal, yang langsung kulapisi dengan es tipis. Saat pelapisnya pecah, semburan hawa dingin menyebar dalam sekejab karena perbedaan tekanan. Dan membunuh semua yang berada dalam jarak minimum 100 meter dari jarak kristal es pecah." Naruto jatuh terduduk di atas es.

"Untuk menciptakan suhu serendah itu butuh banyak chakra, kan?" Suara Kakashi berada tepat dibelakangnya. Naruto hanya mengangguk. "Aku benar-benar terkesan, Naruto. Bukan hanya cara pikir cepatmu yang mampu meloloskanmu dari bahaya, namun kamu juga tahu cara membalikkan keadaan. Walau masih agak kasar, namun kurasa cukup."

"Keren, senpai!" Hisakata berseru saat mereka kembali. Sasuke pun mengangguk setuju. Naruto hanya menggeleng.

"Tidak. Pada akhirnya, aku pun hanya dipermainkan oleh Kakashi sensei. Aku sendiri masih penasaran, bagaimana caranya dia lolos... Sampai sesaat sebelum aku melepas jutsuku, aku yakin yang kutahan adalah Kakashi sensei, bukan mizubunshin. Kemampuannya benar-benar diatas perkiraanku." Kata Naruto.

"Bayangkan... Kita akan dilatih oleh orang selevel itu..." Hisakata menerawang. Sasuke menyeringai.

"Huh. Jangan melakukan sesuatu seakan kau bisa melihat, bodoh." Mereka pun mulai adu argumen. Naruto hanya menghela napas.

"Anu... Apa kau tidak apa-apa, Naruto-san?" Tanya Sakura. 'Tak boleh sembarangan… bisa bahaya…'

"Aku baik-baik saja. Hanya sedikit kehabisan chakra. Hanya butuh makan dan istirahat. Sampai jumpa besok, semua." Dia melompat pergi dengan jaket Chuunin di pundaknya.

'Naruto Uzumaki... Aku akan sekuat dirimu. Lihat saja.' Pikir Sasuke. "Hhn. Aku juga pergi. Jembatan Tenchi, besok." Katanya mengingatkan tempat berkumpul mereka.

Sakura mengejar Sasuke pergi. Hisakata melenggang pergi juga "Malam ini makan apa ya..."

Di belakang mereka, Kakashi memperhatikan dengan buku oranyenya. "Ini akan menarik..." Dia melompat pergi tanpa menimbulkan suara.

Sebulan kemudian.

"Tim tujuh menyelesaikan misi, menangkap Tora, peliharaan nyonya Daimya." Kakashi melapor kepada Hiruzen di ruangan misi. Dibelakangnya, Sasuke yang terlihat agak kesal, Sakura yang jelas terlihat marah, dan Hisakata dengan beberapa bekas cakaran menatap tajam ke punggung gurunya. Mereka bertiga terlihat kacau.

"Ada apa, Kakashi?" Tanya Hiruzen. Kakashi hanya tertawa saja.

"Hanya beberapa kecelakaan kecil. Namun target tidak terluka, sesuai permintaan." Jawabnya. Ketiga murid dibelakangnya menatap punggungnya main tajam.

Pintu ruangan misi terbuka. Naruto dan Asuma datang dengan seorang saudagar. "Naruto Uzumaki dan tim 10 menyelesaikan misi, menjaga saudagar Konoha Renji Hamai, dalam perjalanan bisnis antara Konoha-Tenshi."

Hiruzen mengangguk. Tiba-tiba, Hisakata berkata. "Kenapa kita belum mendapat misi level C? Dari yang kudengar, yang lainnya sudah... Kami mau misi yang lebih menantang..." Sasuke mengiyakan perkataan Hisakata.

Kakashi hanya menggelengkan kepala. Iruka yang juga bekerja disana langsung menceramahi mereka. "...Karena itulah, kita harus menjalani setiap misi yang diberikan dengan senang hati, kalian mengerti?" Mereka menjawab dengan gumaman.

"Hmm... Kurasa memang sudah waktunya... Baiklah. Tim tujuh, termasuk kau, Naruto. Kalian kutugaskan dalam misi level C. Dalam misi ini, kalian ditugaskan menjaga seseorang menuju negara Nami dari serangan bandit dan perampok. Tuan Tazuna, silahkan masuk.

Seorang lelaki tua dengan botol sake ditangannya masuk. "Jadi, bocah-bocah ini yang akan menjagaku? Semuanya terlihat lemah." Alis Sasuke dan Hisakata mengerut.

"Hei, kakek! Jaga bicaramu, dasar pemabuk sial! Bau alkoholnya sampai kemari, tahu!" Hisakata berseru dengan marah. Kakashi segera menutup mulutnya.

"Maaf atas kelancangannya. Tenang saja, tuan Tazuna. Saya adalah Joonin, dan lelaki disana, walau masih muda, adalah Chuunin. Kami akan memastikan keselamatan anda dalam perjalanan." Kata Kakashi ramah.

Dia terlihat bimbang, namun akhirnya mengangguk. "Baiklah. Aku akan memakai kalian."

Kakashi menoleh pada ketiga genin. "Hisakata, yang sopan. Dia klien kita. Baiklah, kita berangkat dua jam lagi. Berkemaslah, lalu berkumpul di gerbang desa. Tim tujuh, bubar," Kakashi menoleh pada Naruto. "Kau baru pulang dari misi, apa kau tak apa-apa?"

Naruto mengangguk. "Ah, tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sejenak. Gerbang Konoha, dua jam lagi, kan? Sampai jumpa, Kakashi sensei." Naruto melompat pergi.

"Saya permisi dulu, Hokage-sama." Kakashi menghilang dalam kepulan asap.

Semua telah berkumpul, tinggal menunggu Naruto. "Kemana sih, dia?" Sakura mengetuk-ketuk tanah dengan sandal ninjanya.

"Ada hal penting yang harus kusampaikan. Ini misi pertama kalian keluar, namun aku minta kalian tidak mengganggu Naruto. Dia baru saja pulang dari misi, dan sudah menerima misi lainnya. Dia cukup kelelahan. Ini juga menjadi ujian observasi kalian terhadap lingkungan sekitar dalam misi. Jadi, sebisa mungkin kalian tidak mengganggunya. Gunakan kemampuan kalian. Aku yakin kalian bisa, karena kalian muridku." Kata Kakashi.

Mereka bertiga mengangguk dengan yakin dan bersemangat. "Maaf aku terlmbat. Ada beberapa alat kempingku rusak, jadi aku pergi membelinya dulu." Naruto datang dengan tergopoh-gopoh.

Kakashi menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Naruto. Baiklah, misi menuju negara Nami, dimulai." Mereka berjalan menuju luar gerbang. Saat keluar dari gerbang Konoha, mereka disambut oleh Hutan Negara Hi yang membentang luas.

Mereka berjalan dengan tenang. Kakashi menepuk bahu Naruto. "Bagaimana, misi dengan tim lain?"

Naruto berpikir sejenak. "Cukup menarik, sebenarnya. Dengan tim 8... Aku baru tahu kalau Kiba bisa menurut seperti itu. Entah Kurenai sensei memang bisa mengendalikan muridnya dengan baik, atau Kiba punya maksud tertentu. Aku lihat, dia memperhatikan Kurenai sensei dengan pandangan aneh... selain Kiba, sih... Biasa-biasa saja..." Sakura menahan tawa mendengar cerita itu. Sasuke menyeringai kecil. Hisakata tertawa lepas.

"Tim 10... Shikamaru banyak mengeluh, Chouji banyak makan, dan Ino... ah, beberapa kali terlihat dekat dengan anak pemandu kami ke Tenshi... Oh, anak itu mengingatkanku akan Sasuke. Diam dan berwajah putih pucat. Aku sempat curiga kalau dia umpan yang dikirim bandit... Ternyata dia hanya terlalu banyak tinggal di hutan lebat, sampai jarang terkena sinar matahari."

Kakashi mengangguk-angguk. Dia menatap langit. "Cukup cerah... Aku merasakan firasat baik..." katanya.

Naruto menggeleng. "Entah kenapa, aku merasakan sebaliknya. Walau aku jarang mempercayai firasatku..." Mereka saling pandang.

"...Aku akan mengecek para genin. Mereka biasanya memulai pertengkaran." Kakashi menjauh.

"Aku akan menemani klien." Kata Naruto. Namun, mereka memikirkan hal yang sama.

'Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk...'

Apa yang terjadi selama misi? Apakah harapan Naruto dan Kakashi terkabul?

Tunggu chapter selanjutnya ya...

Baka Tantei Seishiro Amane sign out.