Naruto © Masashi Kishimoto
Story by UchiHaruno Misaki
Warn : AU, OOC, Typo, Mainstream idea, etc.
[U. Sasuke x H. Sakura]
BAB 12
Terkadang hidup membuat manusia tak mengerti. Banyak masalah yang datang, jika manusia renungkan, manusia itu terkadang berpikir, mengapa harus ada masalah dalam hidupnya? Yang membuatnya harus berpikir bagaimana cara menyelesaikan permasalahan itu. Manusia itu bahkan berpikir mengapa ia memiliki perasaan. Dikala ia senang, ia tertawa. Dikala ia sedih, ia menangis.
Seperti saat ini, adalah Haruno Sakura, ia masih berdiri sejak tiga menit yang lalu. Menatap kedua sejoli yang masih terlelap dalam tidur mereka dengan damai, mereka sama sekali tak menyadari Sakura yang tengah memerhatikan mereka.
Sakura tak mengerti. Ia telah berpengalaman menelan manis pahit kehidupan selama sepuluh tahun ini, ia bahkan pernah merasa ingin mati ketika melihat kedua jasad orangtuanya. Tapi sekali lagi, mengapa? Mengapa rasa sakit yang ia rasakan saat ini melebihi rasa sakitnya ketika medengar kedua orangtuanya meninggal? Mengapa rasa sakitnya lebih terasa dari pada saat mengetahui adiknya harus segera dioperasi? Sepasang iris klorofilnya kini terlihat basah oleh air mata. Mengapa?
Mengapa ia menangis? Lelaki itu hanya Uchiha Sasuke! Lelaki itu asing baginya, tak berarti apa-apa untuknya, tapi sekali lagi mengapa? Mengapa rasanya sakit sekali?
Sakura menundukkan kepalanya. Mengepalkan kedua telapak tangan yang jatuh di sisi tubuhnya. Mengelus perutnya sesaat sebelum Sakura beranjak mendekati ranjang seraya sedikit menyeringai tipis. Perlahan ia menaiki ranjang, duduk bersimpuh di antara Sasuke dan wanita berambut pirang itu.
Sakura menatap lamat-lamat wajah Sasuke yang terlelap. Ah, lihatlah, lelaki itu sangat manis jika tengah menutup kedua matanya. Tapi … Sakura mengalihkan tatapannya pada wanita asing di sebelah kirinya. Melihat eksistensi wanita ini, Sakura tersadar jika Sasuke tak semanis ketika lelaki itu tertidur. Lelaki itu brengsek.
Perlahan kedua tangan Sakura terangkat. Ia mengelus kening Sasuke dengan tangan kirinya dan mulai menyentuh rambut wanita pirang itu dengan tangan kanannya. Wajahnya masih terlihat datar tanpa emosi. Tangan kiri Sakura perlahan beranjak meninggalkan kening Sasuke dan …
"Argh!"
"Kyaaaaaa!"
Sakura tertawa kecil melihat ekspresi kedua orang di depannya ketika ia dengan kejinya menarik rambut mereka dan mengadu kedua kepala itu dengan kekuatan luar biasanya. Tentu saja membuat kedua orang itu terjaga dan memekik.
Ini menyenangkan. Batinnya girang. Apa ini juga keinginan bayinya? Hormon ibu hamil lagi? Entahlah, Sakura tak tahu. Yang ia tahu, ini menyenangkan. Ia senang.
Sasuke membuka kedua matanya dan menatap Sakura datar. "Apa yang kaulakukan, Haruno Sakura?"
Sakura tersenyum lembut dan mengecup sudut bibir Sasuke. "Selamat pagi, Sasuke … —kun,"
DEG!
Perbuatan Sakura sukses membuat lelaki berumur tiga puluh tahun itu mematung. Sementara Sasuke masih tenggelam dalam keterkejutannya, kini Sakura menoleh ke arah wanita pirang yang tengah mengusap keningnya. Senyumannya luntur. Raut wajahnya kembali terlihat datar.
"Apa yang kaulakukan di sini?" Sakura bertanya dengan suara dingin.
"Tch," wanita pirang itu berdecih kesal dan beranjak duduk hingga memerlihatkan kedua buah dadanya yang bergelantung bebas.
Dasar jalang tidak tahu malu. Pikir Sakura datar.
Wanita pirang itu menatap Sakura marah. "Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kaulakukan di sini, Brengsek?!"
"Mm?" Sebelah alis Sakura terangkat. Ia memandang wanita pirang di depannya dengan tatapan meremehkan. "Apa yang sedang kulakukan di sini?" perlahan Sakura tersenyum manis dan segera mendorong wanita itu kembali terlentang di ranjang. "Kenapa kau balik bertanya, hm? Sekali lagi kutanya, apa yang sedang kaulakukan di rumah ini, Bodoh?!"
Sakura menaiki tubuh wanita itu dan tanpa diduga Sakura mencekik leher wanita itu hingga rona wajahnya membiru karena cekikan yang Sakura lakukan. "Dan … telanjang? Menikmati seks dengan Sasuke-kun, eh?" bisik Sakura seraya menyeringai keji. "Jawab pertanyaanku, sedang apa kau di sini?! Atau kupukul kau!"
Kedua mata wanita itu melotot nanar. "Kkkhhh—! L-lepashh! A-apa ya-yang kaulakukan?! D-dasar g-gila!" pekik wanita pirang itu tersendat.
"Lepaskan?" Sakura tertawa renyah, "baiklah." Dan Sakura melepaskannya. Baru saja wanita itu bernapas lega, tiba-tiba saja ia kembali menjerit ketika Sakura dengan beringas menjambak rambut pirang wanita itu. "Bukan berarti aku melepaskanmu begitu saja, 'kan?" ujar Sakura tajam. "Rasakan ini!"
Wanita itu menjerit mengerikan ketika Sakura menarik rambutnya ke sana-sini dengan beringas hingga rasanya wanita itu ingin mati. Sasuke yang sedari tadi mematung langsung tersentak dan menatap horor apa yang tersaji di depannya.
"Sakura …," gumamnya tak percaya. Dari balik wajahnya yang tetap terlihat tenang, sesungguhnya Sasuke sangat terkejut dengan sikap Sakura saat ini. Namun, ia tetap memasang wajah stoic-nya. "Ada apa denganmu? Lepaskan dia."
Sakura menoleh tanpa melepaskan kedua tangannya dari wanita pirang itu. "Ada apa denganku? Tidak. Aku tidak apa-apa," Sakura kembali tersenyum manis, namun entah mengapa senyuman itu terlihat mengerikan di mata Sasuke. "Ah, ya. Aku tidak mau melepaskannya, bagaimana ini, Sasuke?"
"Sakura—"
"Ya ampun! Nona Sakura!" ucapan Sasuke terpotong oleh pekikan Chiyo dan Kakashi yang mendadak muncul di balik pintu kamar Sasuke.
"Oh?" Sakura tersenyum polos, ia melambai pada Chiyo dan Kakashi sesaat sebelum tangan itu kembali menjambak rambut sang korban. "Hai, Nenek Chiyo! Paman Kakashi!"
Kakashi dan Chiyo menatap horor nona muda mereka. Mereka berdua benar-benar tak mempercayai apa yang mereka lihat. Mengerikan. Sementara wanita jalang sewaan Sasuke terus menjerit seraya menangis, Sasuke menoleh ke arah Kakashi. Memberi kode.
Kakashi langsung mengangguk dan mencoba melepaskan tangan ibu hamil itu dari korbannya yang malang. "Nona, ayo lepaskan. Ini seperti bukan kau saja, Nona." Bujuk Kakashi lembut. Sakura bergeming. Ia terlihat asik dengan helaian rambut wanita itu. "Nona Sakura itu wanita mulia, Nona—"
"Lepaskan," ujar Sakura datar. Kakashi masih mencoba menariknya, dan tentu saja membuat Sakura menoleh dengan air mata yang entah sejak kapan membasahi kedua matanya. "Lepaskan kataku!" jeritnya. "Wanita ini sudah berani memasuki kamar Sasuke-kun! Aku benci! Aku tidak suka!" Sakura mulai mencakar wajah dan tubuh wanita yang ditindihnya dengan kesal. "Dasar jalang! Rasakan ini!"
Sakura terus menyiksa wanita pirang itu dengan air mata yang masih mengalir. Entah mengapa perasaan sakit di hatinya sedikit berkurang ketika menyiksa wanita jalang yang dibawa Sasuke. Kakashi masih mencoba menarik Sakura dibantu Chiyo, sedangkan Sasuke tertegun.
Lelaki itu menatap tingkah Sakura lamat-lamat. Setiap tetes air mata yang keluar dari iris klorofil wanita itu tak luput dari pandangannya. Hatinya terasa sesak, namun Sasuke menyukai perasaan sesak itu. Entah mengapa ia menyukai setiap kata yang keluar dari bibir merah yang sialan menggoda milik Sakura. Kata-kata Sakura seakan menyiratkan bahwa wanita itu sedang … cemburu?
Sasuke menyeringai licik. Perlahan ia menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dan memerhatikan sikap Sakura dengan tatapan bangga. Tanpa ada niatan membantu wanita jalang yang ia bawa tadi malam.
Hn, menarik. Pikirnya.
"Apa saja yang sudah Sasuke sentuh? Ini?" Sakura mencengkeram kedua buah dada wanita itu kasar, bahkan sampai lecet oleh kuku jari Sakura yang memang sengaja mencakarnya. Wanita itu menjerit, meminta ampun. "Ampun? Kenapa? Bukankah ini nikmat? Kau pasti mendesah keenakan ketika Sasuke menyentuhmu, 'kan?" Sakura menampar pipi wanita itu sesaat sebelum ia bangkit. Berdiri di sisi ranjang.
"Berdiri!" perintah Sakura pada wanita yang tengah menangis dengan keadaan mengenaskan. Memar membiru, bekas tamparan dan rambut yang telah berantakan. Wanita itu bergeming, namun tidak lagi ketika dengan kasar Sakura menarik kembali rambut wanita itu. "Berdiri kataku! Apa kau tuli?!"
"CUKUP!" Wanita itu berdiri dan menatap Sakura tajam dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya. "Sudah cukup! Jangan pukul aku lagi!" jerit wanita itu putus asa. "Aku minta maaf, aku tidak tahu apa-apa! Hikss, aku tidak tahu kalau Tuan Uchiha Sasuke sudah memiliki seorang istri!" wanita pirang itu jatuh bersimpuh seraya menangis terisak. "Maafkan aku! Hikss, ini sakit! Jangan pukul aku, Nyonya, aku hanya menjalankan profesiku sebagai pelacur. Hikss … aku tidak tahu apa-apa!"
DEG!
Seakan ditampar oleh kenyataan, Sakura berdiri mematung seraya menatap kedua tangannya nanar. "Apa yang sudah kulakukan?" bisiknya pelan. Sakura menatap pelacur yang masih bersimpuh di lantai. Wanita pirang itu terlihat masih menangis sesenggukan. "Bangunlah dan pergi dari sini, jangan pernah kembali lagi." Dan dengan itu Sakura keluar dari kamar Sasuke dengan langkah sedikit gontai. Diikuti Chiyo dan Kakashi.
Meninggalkan Sasuke yang menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Sasuke beranjak dan ternyata lelaki itu masih mengenakan celana di balik selimut tempat tidurnya. Ia berjalan menghampiri pelacur itu dan melempar segepok uang. "Pergi dari sini."
.
Sakura duduk termenung di halaman belakang rumah. Pikirannya melayang akan kejadian beberapa menit lalu. Semua itu murni di luar kendali akan dirinya. Yang ia tahu, melihat Sasuke tidur dengan wanita tadi … adalah perasaan sesak di dadannya, selanjutnya ia membiarkan insting yang mengambil alih dirinya.
Ia melukai seseorang, dan itu adalah hal pertama yang dilakukannya selama dua puluh tiga tahun ia hidup.
Angin pagi berhembus, menerbangkan daun-daun kering dan menyipratkan embun pagi di pohon hingga pelan tapi pasti menetes di atas kepala Sakura. Namun, hal itu tak cukup membuat Sakura tertarik. Dirinya bergeming, menatap kedua tangan yang tadi telah ia gunakan untuk menyakiti seseorang.
Ia menyesal? Entahlah. Sakura tak merasakannya. Ia justru merasa … puas. Ya, puas. Karena telah memberi pelajaran pada wanita jalang yang telah berani tidur seranjang dengan Sasuke? Hey! Ini lucu sekali, bukankah itu bukan urusannya? Lantas, mengapa ia bertingkah seakan dirinya adalah seorang istri yang memergoki suaminya berselingkuh dengan pelacur? Menyedihkan.
Menghela napas, Sakura menyampirkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Iris virdiannya menatap pemandangan desa Konohagakure dengan tenang. Sudahlah, ia tak ingin memperpanjang masalah. Apa pun yang dilakukannya tadi, Sakura hanya berharap semoga Uchiha Sasuke tak marah. Bukankah tadi ia sudah melanggar perjanjian? Mengurus, urusan Sasuke termasuk poin dalam perjanjian awal, 'kan? Sakura bersumpah tak akan mengulangi kejadian seperti tadi. Ia hanya perlu menutup kedua telinga dan kedua matanya. Itu semua urusan Sasuke, ia tak harus menghiraukannya, 'kan?
Menghela napasnya—lagi, Sakura tak begitu terkejut ketika melihat siluet tubuh seseorang yang—entah sejak kapan—berdiri menyandar di pohon ek tepat di samping kanannya.
"Maaf," kata Sakura tanpa menatap orang itu. "Maaf untuk yang tadi, Sasuke."
"Hn," Orang itu—Uchiha Sasuke, menatap langit dengan tenang. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Seminggu ini kau tidak pernah ke sini, paman Kakashi bilang kau sibuk," perlahan Sakura menoleh, menatap lelaki berkaos putih polos itu dalam. "Kukira, sibuk yang dimaksud itu adalah … kau yang sibuk menghindariku, benar?"
"…" Sasuke bergeming. Masih dengan tatapan yang bertajuk pada satu titik. Langit pagi.
"Aku tidak mengerti," Sakura kembali menatap pemandangan desa Konohagakure dari balik dinding dengan dahi mengerenyit, "kau yang menginginkannya, tapi mengapa seolah aku hamil adalah sebuah kesalahan?" Sakura berdiri. Tepat di depan Sasuke yang tak meliriknya sama sekali. "Kau lelaki yang tidak bisa kumengerti, kau membuatku bingung, dan sialnya kau bukan tipikal orang yang suka menjelaskan suatu permasalahan, Uchiha Sasuke." Dan dengan itu Sakura berbalik. Pergi meninggalkan Sasuke yang menatap punggungnya dengan tatapan tak terbaca.
"Kau tidak mengerti," gumamnya seraya menatap langit dengan sendu, "tidak akan pernah mengerti, karena ini bukan urusanmu, Haruno Sakura."
.
oOo
.
Waktu telah menunjukkan pukul tengah malam. Suara krik-krik hewan malam mulai terdengar nyaring di seluruh desa Konohagakure, khususnya di sebuah rumah megah nan asri di tengah-tengah kebun bunga indah yang mengelilinginya. Lampu-lampu rumah itu telah padam mengingat penghuninya telah meninggalkan kesadarannya dan pergi ke alam bawah sadar untuk istirahat. Tapi ... tunggu! Ah- sepertinya salah satu penghuni dari rumah megah itu masih terjaga.
Dalam keremangan, ia duduk manis. Menatap sinis dua sejoli yang tengah berjalan sempoyongan menuju lorong yang ia yakini adalah tempat di mana kamar sang tuan rumah berada. Ia berusaha sebisa mungkin mengabaikan mereka dan melanjutkan aktivitasnya memakan nasi goreng ekstra tomat di pangkuannya, namun otak dan hatinya tak singkron. Otak ingin mengabaikan, tapi hati tak bisa. Seluruh atensinya tertuju pada Uchiha Sasuke dengan kebiasaan buruknya sejak empat hari yang lalu. Pulang malam, mabuk-mabukan, dan pelacur berbeda yang lelaki itu bawa pulang.
Sialan.
Ia—Haruno Sakura, sudah berjanji tak akan pernah memedulikan apa pun yang Sasuke lakukan sesaat setelah ia menyiksa pelacur yang Sasuke bawa di hari pertama lelaki itu pulang setelah satu minggu menghilang pasca insiden di mana lelaki itu mengetahui jika Sakura hamil.
Entah disengaja atau lelaki itu memang tak memiliki hati, setelah kejadian penyiksaan itu, Sasuke justru kembali membawa pelacur dan berakhir dengan pengusiran ramah yang Sakura lakukan. Walaupun begitu, Sasuke terlihat tak ambil pusing. Setiap melihat penyiksaan yang Sakura lakukan terhadap pelacurnya, ia hanya diam duduk tenang. Memerhatikan kejadian di depannya bagai sebuah tontonan yang menyenangkan. Tentu dengan wajahnya yang datar.
Sakura melahap sesendok penuh nasi goreng sesaat setelah melihat eksistensi Sasuke dan pelacurnya menghilang di balik lobi rumah.
Kurang ajar!
Sakura menyeringai sinis setelah menelan sisa makanannya. Baiklah, sepertinya Sakura akan sibuk besok. Pagi-pagi sekali, seperti pagi sebelumnya. Ia meletakkan piring kosongnya di meja dan beranjak seraya merenggangkan otot-otot telapak tangannya dengan wajah bengis.
Mm, sepertinya untuk kesekian kalinya Sakura harus pasrah mengikuti kemauan sang jabang bayi.
.
.
.
.
.
Pagi itu, Sakura berdiri di depan gerbang dengan senyum lebar di bibirnya. Ia melambai pada seorang wanita berambut hitam legam yang tengah berlari bagai orang kesetanan dengan seekor anjing Doberman yang mengejarnya.
"Sampai jumpa, Nona Shizuka! Sekali-sekali mampirlah lagi, Pakun pasti akan senang!" teriak Sakura dengan raut wajah bahagia yang begitu kentara. Pakun? Itu adalah nama anjing besar berbulu hitam dengan taring tajam yang Sakura beli dua minggu yang lalu.
Ya, entah mengapa ia begitu menginginkan anjing bertampang seram itu ketika ia dan Chiyo berbelanja di pusat desa. Awalnya Chiyo menolak tegas, namun Sakura yang memang tipikal gadis keras kepala, pada akhirnya ia selalu mendapat apa yang ia inginkan. Apalagi dengan dalih jika itu adalah keinginan sang jabang bayi, membuat Chiyo tak bisa berkutik.
Setelah sampai rumah dengan anjing itu, Sakura bahkan bingung sendiri. Untuk apa ia membeli anjing seram? Bukankah ia bisa saja membeli seekor anjing yang bertampang imut? Entahlah. Sakura tak terlalu memedulikannya. Ia cukup maklum jika mood ibu hamil memang sering berubah dan sering menginginkan hal yang aneh-aneh.
Dua minggu Pakun menjadi pengangguran, dalam artian anjing itu hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun, mengingat Sakura tak mungkin bermain dengan anjing itu. Kini Sakura tahu, Pakun bisa berguna juga.
Menjadi anjing pengusir para pelacur sepertinya tak terlalu buruk untuk Pakun. Pikirnya saat itu.
Sakura masih tertawa lebar melihat pelacur itu masih dikejar Pakun sampai ujung jalan, hingga ia tak menyadari sosok Sasuke yang berdiri di belakangnya dengan setelan jas kantor rapi.
"Berhentilah tertawa," desisnya membuat Sakura terkejut dan langsung berbalik.
"Sasuke?" Sakura tersenyum lebar dan meloncat girang. "Lihat-lihat! Bukankah Pakun anjing yang hebat? Dia bahkan masih bisa berlari kencang mengejar Nona Shizuka!" Sakura melebarkan matanya ketika tiba-tiba saja Sasuke menariknya mendekat dan menggendongnya dengan bridal style. "S-Sasuke …,"
"Hn," Sasuke menatap Sakura dengan tatapan tak terbaca. "Berhentilah bersikap seolah kau tidak memiliki seseorang yang harus kaujaga dengan baik."
Sakura termangu. Menatap Sasuke dalam. "Sasuke,"
"Jangan menatapku seperti itu," kata Sasuke sinis, "aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu." Sakura tersenyum lebar mendengarnya, membuat Sasuke terlihat kelabakan, "maksudku, kaupikir kalau kau jatuh dan keguguran, siapa yang akan repot di sini?" katanya ketus seraya membopong Sakura, melangkahkan kakinya memasuki rumah.
"Kau memang lelaki payah, Sasuke," Sasuke mendelik, sedangkan Sakura tertawa kecil dan menyandar nyaman pada dada bidang Sasuke. "Dasar tsundere."
.
Sasuke menyandarkan tubuhnya pada kursinya. Menggerakkan kursi putar itu ke kiri dan ke kanan dengan pelan, ia tersenyum kecil seraya mengusap bibir bawahnya dengan tatapan menuju pada seseorang yang tengah menjelaskan rencana proyek Dubai di meeting pada siang hari itu.
Tatapannya memang tertuju pada Utakata—rekan bisinisnya, yang tengah mengemukakan pendapatnya akan proyek Dubai yang akan Sasuke laksanakan beberapa minggu lagi, namun pikiran Sasuke tak berada di sana. Melainkan ada pada sosok bayangan wanita merah muda yang tengah tertawa lebar dalam benaknya.
Gila.
Ya, Sasuke tahu ia sudah gila, namun tak ingin munafik, wanita yang tengah mengandung anaknya itu telah menarik semua perhatiannya. Entah bagaimana caranya, yang Sasuke tahu ia baru menyadari jika ia tak dapat menghilangkan bayangan Haruno Sakura dalam pikirannya.
Sasuke kembali tersenyum kecil seraya menyisir rambut dengan tangannya ketika bayangan Sakura yang tengah menyiksa para pelacur yang ia bawa kembali terbayang. Sungguh, ia sangat menyukai ketika Sakura bersikap posesif seolah dirinya hanya milik wanita itu.
Harusnya ia marah, kan?
Sasuke menggeleng seraya mengusap dagunya. Mengapa harus marah? Itu tak ada gunanya. Ia cukup menikmati ketika melihat momen di mana Sakura mengeluarkan sisi keposesifannya. Sasuke suka, sangat suka itu.
Mm, sepertinya membawa pelacur ke rumah sekali lagi akan menyenangkan. Pikirnya seraya menyeringai penuh arti.
Tanpa Sasuke sadari, Naruto yang sedari tadi duduk di sebelahnya segera menggeser kursinya menjauhi Sasuke dan bergidig ngeri melihat sahabat sekaligus rivalnya itu bersikap layaknya orang gila.
.
oOo
.
Sakura menyipitkan kedua matanya ketika untuk yang kesekian kalinya ia melihat wanita telanjang di kamar Sasuke. Dengan langkah beringas Sakura menghampiri ranjang itu dan segera menyibak selimut yang menutupi tubuh telanjang kedua manusia brengsek di depannya.
Sakura mengangkat garpu yang digenggamnya dan detik berikutnya pekik kesakitan wanita jalang itu menggema memenuhi kamar Sasuke ketika dengan beringas Sakura mencakar seluruh tubuh wanita itu dengan garpunya hingga berdarah.
Sasuke terbangun dengan tenang. Nampak tak terpengaruh dengan kejadian yang terjadi di depannya. Lelaki itu menguap sejenak dan memandang Sakura yang tengah mengamuk dengan senyum miringnya.
"Kyaaaa! Sakit! Dasar bedebah, berani sekali menyakitiku!" ketika wanita jalang itu hendak menjambak rambut Sakura, mendadak tangan Sasuke menahannya dan dua pasang mata dari kedua wanita itu serentak menoleh ke arahnya.
Sasuke menatap wanita jalangnya dingin. "Sedikit saja kau melukainya, jangan harap kau bisa melihat matahari terbit lagi. Bitch."
Wanita itu menatap Sasuke tak percaya. "Kau—!"
"Keluar dari rumahku." Desisnya tajam, "sampai hitungan kelima kau belum beranjak," Sasuke meraih sebuah pistol perak kesayangannya dari laci meja nakasnya, dan kembali menatap wanita itu tajam. "Akan kutembak seluruh isi kepalamu."
"Bedebah kau Uchiha Sasuke!" teriak wanita itu seraya berlari keluar rumah Sasuke dengan keadaan setengah telanjang.
Sasuke kembali meletakkan pistolnya dan duduk menyandar di kepala ranjang. Ia menatap Sakura tenang dan meyuruh Sakura mendekatinya. Dengan keadaan bingung akan sikap Sasuke yang tak seperti biasanya, perlahan Sakura berjalan mendekati Sasuke dan mata Sakura terbelalak lebar ketika Sasuke menyentil dahi lebarnya seraya tertawa pelan. "Puas dengan apa yang kaulihat tadi?" tanya Sasuke sedikit lembut.
"Sasuke …," wajah Sakura memerah ketika Sasuke mengecup hidungnya, "dasar mesum menyebalkan!" teriak Sakura seraya berlari meninggalkan Sasuke yang menatap punggungnya dengan tatapan tak terbaca.
Lalu ia beranjak menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian Sasuke telah selesai mandi dan segera mengenakan setelan jas kantornya. Setelah merasa cukup, ia keluar dan sarapan sedikit. Menit berikutnya Sasuke dan Kakashi berlalu ke Tokyo.
Sakura berdiri di balkon seraya menatap kepergian Sasuke. Sekilas ia melihat dari balik kaca mobil, Sasuke terlihat menatapnya tajam. Tentu saja membuat Sakura berdebar. Sakura segera berbalik membelakangi pagar balkon seraya menyentuh dadanya yang berdebar menyenangkan. "Ya ampun, jantungku kenapa?" gumamnya dengan wajah memerah. "Sasuke … apa yang sudah kaulakukan padaku?"
.
.
.
.
.
.
Sakura dan Chiyo tengah berjalan di jalan setapak setelah mereka berbelanja di pasar desa. Seperti biasa, untuk mencegah kepalanya dari sengatan terik sinar matahari, Sakura memakai topi jeraminya.
Senyum terlihat tak pernah lepas dari wajah Sakura. Walau seminggu terakhir ini wanita itu mengalami sifat temperamennya yang memuncak setiap pagi disuguhi tubuh telanjang wanita jalang di kamar Sasuke, tak dapat ia pungkiri bahwa hatinya merasa puas ketika menyakiti tubuh wanita jalang itu sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
Jujur saja, sebenarnya pada malam hari Sakura sering merasa menyesal karena telah menyakiti seseorang di setiap paginya, namun hormon ibu hamil mudanya tak dapat ia kendalikan ketika melihat para jalang itu. Terpaksa Sakura terus menuruti hormonnya, lagi pula salah siapa para jalang itu mencari gara-gara dengan ibu hamil sepertinya? Itu salah mereka sendiri. Sisi baik dari kejadian setiap pagi itu adalah Sakura bisa melampiaskan emosi naik-turunnya pada para wanita itu.
"Siang, Nenek Chiyo,"
"Ah, siang, Nak Toneri."
DEG!
Sakura segera menghentikan langkahnya dan menatap lelaki yang berdiri menjulang di depannya penuh antisipasi. Tunggu! Jadi nenek Chiyo mengenal Toneri-san? Tanya Sakura dalam hati. Bagaimana bisa? Sejak kapan?
Chiyo menatap Sakura yang berdiri mematung. "Nona Sakura, kenalkan, ini nak Toneri. Warga lama desa ini yang baru datang kembali," ujar Chiyo seraya menarik Sakura mendekat.
"Hai, Manis. Aku Toneri Otsutsuki, salam kenal." Ucap Toneri seolah mereka tak saling mengenal sebelumnya. Lelaki itu terlihat tersenyum lembut, namun di mata Sakura itu adalah senyum mengerikan.
Sakura hanya mengangguk sopan dan segera menarik tangan Chiyo. "Nek, lebih baik kita harus segera pulang. Ayo!" mereka pun pergi meninggalkan Toneri yang tengah menatap punggung Sakura penuh arti.
"Sebentar lagi, Sakura … kau akan menjadi milikku."
.
Setelah sampai di rumah, Chiyo dan Sakura dikejutkan dengan keberadaan Mikoto dan Fugaku yang telah menunggu mereka di teras rumah.
"Akhirnya kalian pulang juga," Mikoto berdiri dan segera memeluk tubuh Sakura lembut. Fugaku hanya diam mengamati wanita merah muda di depannya. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Mikoto setelah melepas pelukannya. "Ah, ini ayah Sasuke, Uchiha Fugaku."
Sakura tersenyum kikuk. "Kabar saya baik, Nyonya." Sakura mengalihkan atensinya pada Fugaku, lalu ia membungkuk sopan. "Senang berjumpa dengan anda, Tuan." Fugaku hanya mengangguk singkat.
"Lebih baik kita ngobrol di dalam saja, Tuan, Nyonya, dan Nona Sakura." Ujar Chiyo sopan. Mereka pun masuk ke dalam rumah.
Sementara Chiyo sibuk membuat minuman, kini Sakura harus terjebak dalam suasana awkward antara kedua orangtua Sasuke.
"Jadi, kau wanita pilihan Sasuke?" Fugaku memecah keheningan di antara mereka.
Sakura mengangguk sopan. "Benar, Tuan."
"Hn, lalu bagaimana?" pertanyaan ambigu Fugaku membuat Sakura bingung. Apa maksudnya?
Mikoto yang mengerti kebingungan Sakura segera menjelaskan apa maksud Fugaku. "Ah, maksud Fugaku, bagaimana? Apa sudah ada hasilnya?"
"Ah …," Sakura sedikit tergagap ketika menyadari sesuatu. "Itu," Sakura tersenyum tipis seraya mengelus perutnya. "Usianya hampir menginjak tiga minggu, Tuan, Nyonya."
Mendengar penuturan Sakura tanpa sadar membuat kedua orangtua Sasuke tersenyum lega. Mikoto segera berpindah duduk di samping Sakura, "bagaimana keadaannya, Sayang?"
"Dia baik-baik saja, Nyony—"
"Tidak-tidak, Sayang," sela Mikoto, "jangan panggil aku Nyonya. Panggil aku … ibu."
"Eh?" wajah Sakura sedikit merona, "Ibu?"
Mikoto mengangguk pelan. "Ya, panggil aku Ibu mulai sekarang. Dan Ibu tidak menerima penolakan,"
Sakura tersenyum dengan mata sedikit berkaca-kaca. "Ibu,"
"Begitu lebih baik," ucap Mikoto seraya ikut mengelus perut Sakura, "jadi dia baik-baik saja ya?"
Sakura mengangguk mantap. "Ya, dia baik-baik saja."
"Baguslah," ucapan dingin Fugaku membuat Sakura menoleh kikuk padanya. "Kau memang harus menjaga bayi itu dengan baik, aku tidak ingin keturunanku bermasalah." Terang Fugaku, "jika sesuatu terjadi padanya, kau 'lah orang pertama yang akan disalahkan. Jadi, jaga bayi itu baik-baik."
Sakura menunduk dan mengangguk mengerti. "Saya mengerti, Tuan."
"Sakura, bagaimana dengan Sasuke?" pertanyaan Mikoto membuat Sakura bungkam. Tak segera menjawabnya, "Sakura? Katakanlah, Nak."
Melihat senyum Mikoto membuat Sakura akhirnya menjawab. "Dua minggu awal saya tinggal bersamanya, Sasuke cukup cepat berubah menjadi sedikit jinak dari pertemuan awal kami yang tak begitu mengenakkan," Sakura sedikit tertawa di akhir kalimatnya.
Mikoto tersenyum senang. "Benarkah?" Sakura mengangguk pelan, sedangkan Fugaku hanya diam mengamati. Sedikit tercengang juga mengetahui jika anaknya yang keras kepala itu bisa menjadi sedikit jinak. Sulit dipercaya, namun kenyataan itu membuat eksistensi Sakura terlihat bercahaya di mata Fugaku.
"Tapi," Sakura tersenyum paksa, "sejak kejadian di mana Sasuke tahu kehamilan saya, dia kembali berubah. Dia tidak saja menjadi kembali bengis dan dingin, Sasuke juga sering menghindari saya," Sakura menatap Mikoto lelah, "Sasuke kembali pada kebiasaan lamanya, setelah menghilang selama seminggu, dia sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk setelahnya. Bau alkohol tercium kental di tubuhnya, dan yang lebih parahnya lagi, Sasuke juga sering membawa pelacurnya ke sini."
Mikoto menutup mulutnya tak percaya. "Ya, Tuhan! Benarkah itu, Nak?" Sakura mengangguk lemah, "anak itu benar-benar." Desis Mikoto sedih. Fugaku sendiri hanya terdiam dengan rahang mengeras.
"Aku tidak mengerti, bukankah dia yang memintaku mengandung anaknya? Tapi, kenapa justru dia memberi kesan jika kehamilanku adalah sebuah kesalahan? Sesuatu yang tidak diinginkannya?" Sakura bergumam lirih, "hidup satu bulan penuh dengannya tidak cukup membuatku mengenal seperti apa Sasuke yang sebenarnya."
Aku yang bahkan membesarkannya pun tidak bisa mengenal anakku sendiri. Batin seseorang di antara mereka.
"Sakura," Mikoto segera memeluk Sakura. "Biarkan Ibu membicarakannya dengan Sasuke,"
Sakura melepaskan pelukannya dan menggeleng. "Tidak perlu, Bu. Sasuke sudah terlalu dewasa untuk itu, justru jika Ibu membicarakan ini dengan Sasuke, itu akan membuat sikap Sasuke semakin menjadi,"
"Sakura …,"
"Serahkan saja semuanya padaku. Aku akan berusaha merubah Sasuke agar bersikap lebih baik." Sakura memberikan senyum cerahnya.
Dan tanpa sadar ucapan Sakura membuat Fugaku tersenyum kecil dalam diam. Sikap Sakura yang sederhana dan terang-terangan menambah nilai plus di mata Fugaku. Lelaki paruh baya itu menyukai orang berkarakter seperti Sakura, karena di zaman sekarang, orang-orang kebanyakan memakai topeng ekspresi dan sikap palsu untuk menutupi diri mereka yang sebenarnya. Ya, termasuk dirinya.
Beberapa menit mereka berbincang, akhirnya kedua orangtua Sasuke pamit pulang karena ada acara penting yang harus mereka hadiri.
Di dalam mobil, Fugaku menggumamkan sesuatu yang membuat Mikoto tersenyum lembut.
"Gadis itu cocok menjadi bagian dari Uchiha."
.
oOo
.
Suasana malam hari di desa Konohagakure sungguh sunyi senyap, hanya ada suara beberapa hewan malam yang bernyanyi dan sesekali suara langkah kaki di jalan setapak dengan pohon-pohon rindang di sisiannya. Suhu malam ini di desa itu mencapai 10°C, suhu yang cukup dingin. Terbukti dengan para penduduk tertentu tengah bergelung hangat di tempat tidur mereka masing-masing dengan nyaman.
Namun berbeda dengan wanita muda satu ini, di mana orang lain tengah tidur nyaman di kasur hangat mereka, tetapi tidak dengannya. Adalah Haruno Sakura, ibu hamil itu justru tengah menyantap es krim tanpa memedulikan suhu dingin di sekitarnya. Wanita muda berhelaian merah muda sepinggang itu memakan es krim berukuran besar dengan tampang kusut dan jengkel yang kentara sekali.
Sekali lagi ia melirik jam yang telah menunjukkan pukul satu dini hari dan dengan itu pula untuk yang ke enam puluh kalinya ia mendengus jengkel ketika seseorang yang ia tunggu kepulangannya belum juga datang.
Uchiha Sasuke. Tentu saja, siapa lagi?
Dua minggu sudah lelaki brengsek itu pulang malam dan membawa para pelacurnya ke sini. Tentu saja membuat Sakura muak. Malam ini adalah batas kesabarannya, jika Sasuke datang membawa pelacur lagi maka ... Sakura akan langsung mengusir wanita jalang tersebut saat itu juga. Awas saja!
Terlalu larut akan rasa kesalnya, Sakura tak menyadari bahwa matanya sudah terasa sangat berat.
Keheningan menemaninya ketika suara hewan malam tak lagi terdengar. Keheningan itu membuatnya merasa nyaman, hingga lama-lama Sakura tak bisa menahan kantuknya. Kepala Sakura jatuh di atas meja makan dan ... ia pun tertidur dengan sesendok es krim yang tersemat di bibir mungilnya.
Beberapa menit kemudian, Sakura merasa ada yang menarik sendok dari bibirnya. "Dasar bodoh." Gumam seseorang di telinganya. Sejurus kemudian Sakura merasakan sentuhan hangat mengusap lembut rambutnya, lalu tubuhnya terangkat dan terasa dipeluk hangat oleh seseorang yang aroma tubuhnya begitu familiar di hidungnya. Selanjutnya, Sakura merasakan tubuhnya terayun-ayun.
Setelah mengumpulkan kekuatan untuk membuka matanya yang sangat berat, Sakura pun dengan perlahan membuka kedua kelopak matanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika ia menyadari bahwa Sasuke tengah menggendongnya ke kamar. Ia memandang wajah Sasuke dengan sayu. Garis rahang tegas lelaki itu terlihat menawan di matanya sekarang. Hidungnya yang mancung dan … bibir tegasnya yang terkatub rapat itu membuat Sakura tanpa sadar merona ketika mengingat sudah beberapa kali bibir indah itu mencumbu tubuhnya.
Lelaki itu tak menyadari Sakura telah membuka matanya dan tengah memandanginya intens. Dengan langkah pelan dan hati-hati, Sasuke berjalan ke arah kamar. Sakura langsung pura-pura memejamkan matanya kembali begitu Sasuke dengan lembut membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya.
Setelah itu tak ada gerakan, tetapi Sakura masih belum berani membuka matanya. Apakah Sasuke memutuskan untuk keluar dari kamarnya atau tidur seranjang dengannya? Sakura tak tahu. Maka dari itu ia memutuskan untuk terus memejamkan matanya.
Menit berikutnya Sakura merasa ada gerakan di ranjang di belakangnya. Ternyata lelaki itu memilih tidur bersamanya, Sakura menyadari itu dari selimut yang tersingkap dan gerakan tubuh lelaki itu yang menyelinap di balik selimut. Sejurus kemudian, tubuh hangat Sasuke terasa mendekat dan merengkuh Sakura dari belakang. Awalnya Sakura merasa tak nyaman, namun lama kelamaan tubuh Sakura rileks ketika merasakan hangat tubuh—pelukan Sasuke pada tubuhnya di tengah kamar yang dingin itu. Akhirnya, Sakura kembali terlelap dengan damainya.
.
Sakura terbangun dengan rasa haus yang menyerang tenggorokannya. Biasanya sebelum tidur ia meminum air putih, tapi tadi Sakura tak melakukannya. Ditambah terakhir sebelum tidur, Sakura terlalu banyak makan es krim. Membuat tenggorokannya terasa kering dan sakit. Sakura bergerak gelisah dan mencoba untuk beranjak, namun sepasang lengan kekar yang melilit pinggangnya posesif tak mengizinkannya.
"Membutuhkan sesuatu?" bisik sosok yang memeluknya dari belakang.
Sakura tersentak kaget dan menoleh. "Sasuke?" Sakura bersuara meski pun parau.
"Hn," iris obsidian itu terlihat menatapnya dalam di tengah remangnya cahaya kamar. "Air putih?" ucap Sasuke seakan mengerti kebiasaan Sakura. Sakura mengangguk dalam diam. Terlalu bingung akan sikap Sasuke yang kembali berubah lunak padanya.
Sasuke langsung bergerak turun dari ranjang dan menuang segelas air di meja nakas tepat di samping ranjang, lalu ia berjalan mengitari ranjang dan berdiri di samping ranjang di mana Sakura terbaring. Lelaki itu tampak tinggi menjulang, hanya menggunakan celana piyama sutra hitam dan—telanjang dada.
"Duduk, minum." Perintahnya. Seperti biasa.
Dengan pelan Sakura duduk dan menerima gelas besar berisi air putih itu, masih setengah minuman tersisa, Sasuke mengambil gelas itu. "Kapan kau pulang, Sasuke?" tanya Sakura memecah keheningan di antara mereka.
"Kupikir kau tahu jawabannya." Ucap Sasuke tenang seraya berdiri bersandar pada dinding kamar. Dengan gelas yang masih di tangannya.
Sakura menundukkan kepalanya ketika tahu jika tadi sebenarnya Sasuke menyadari jika ia terbangun. Ugh. Memalukan. "Mm, kali ini ... jalang mana lagi yang kaubawa, Sasuke?" tanya Sakura pelan. Nyaris berupa bisikan, namun masih terdengar jelas di telinga Sasuke.
"Tidak ada."
Sakura mendongak. Menatap Sasuke tak percaya. "Apa? Tapi … kenapa?"
"Kenapa?" beo Sasuke sinis, "kaukira berapa biaya yang harus kukeluarkan untuk membayar biaya rumah sakit para pelacurku yang terluka oleh cakaranmu dan anjing kesayanganmu itu. Mm?"
"Aa, itu ...," Sakura tersenyum kikuk. "Maafkan aku, Sasuke. Aku tahu aku sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadimu, tapi jujur saja, aku sungguh tidak peduli kau meniduri para wanitamu dan berapa pun banyak wanita yang sudah kautuduri," Sakura menatap Sasuke dalam. "Tapi satu yang kupedulikan, tolong jangan melakukannya di rumah ini. Di hadapannku. Itu membuatku … um, tidak nyaman,"
Rahang Sasuke terlihat mengeras ketika mendengar penuturan wanita yang tengah mengandung anaknya itu. Ia tak suka diperintah, dan Sakura ... wanita ini berani sekali memerintahnya. Seorang Uchiha Sasuke! Jika wanita ini bukan Haruno Sakura, Sasuke mungkin sudah menampar wanita yang telah lancang itu. Namun melihat bahwa wanita merah muda itu 'lah yang melakukannya, entah mengapa Sasuke sama sekali tak marah. Lelaki itu justru merasa ... bersalah? Bersalah atas sikap brengseknya dua minggu belakangan ini. Ah, entahlah.
Sasuke menghela napas pelan. "Hn, akan kupertimbangkan."
"Terima kasih, Sasuke." Sakura kembali menundukkan kepalanya dan mengelus perutnya lembut. "Kau belum menjelaskan sesuatu padaku, Sasuke,"
Sasuke terlihat menaikkan salah satu alisnya. "Apa?"
"Sebenarnya, kenapa kau terlihat menghindariku belakangan ini setelah mengetahui jika aku sedang hamil?" Sakura menggigit bibirnya ketika tak mendengar respon dari Sasuke, "apa kau tidak bahagia? Tapi, kenapa? Bukan 'kah ini yang kauinginkan dariku? Kau membuatku bingung."
"Sakura, apa kau tahu alasan kenapa aku sering membawa wanita jalang belakangan ini?" ujar Sasuke yang sama sekali tak menjawab pertanyaan Sakura.
Sakura menghela napas lelah ketika menyadari Sasuke tengah mengalihkan pembicaraan. Namun jujur saja, ucapan Sasuke tentu membuat Sakura penasaran juga. Apa alasan Sasuke membawa para wanita murahan itu. "Tidak. Aku tidak tahu."
"Aku lelaki normal, tentu saja aku perlu wadah untuk menuntaskan hasrat kelelakianku. Itu 'lah alasanku membawa beberapa wanita malamku belakangan ini," terang Sasuke tenang.
Sakura mendongak, menatap Sasuke heran. "Kenapa? Kenapa harus dengan pelacur itu? Bukan 'kah ada aku yang bisa menjadi wadahmu seperti biasa—!" Sakura segera mengatupkan bibirnya ketika menyadari kebodohannya.
Sasuke menatap Sakura tajam dengan tatapan tak terbaca. "Kehamilanmu memang menggangguku, Sakura. Kenapa?" Perlahan Sasuke beranjak dari dinding dan berjalan tenang menghampiri Sakura yang duduk gelisah di sisi ranjang. "Karena kau sudah memberikan apa yang kuinginkan, otomatis sudah tidak ada alasan untukku mencumbumu—lagi, 'kan?" ujar Sasuke setelah berdiri menjulang tepat di hadapan Sakura. Sasuke menundukkan setengah tubuhnya dan mendekatkan mulutnya pada salah satu telinga Sakura. "Dan itu membuatku frustasi karena tidak bisa menikmati liang sempit sialanmu itu," bisiknya tajam. "Maka dari itu, aku menghindarimu belakangan ini dan lebih memilih menyewa para wanita jalang untuk melampiaskan hasratku."
DEG!
Mata Sakura terbelalak lebar. Jadi ini 'kah alasan mengapa Sasuke menghindar dan membawa beberapa wanita jalang belakangan ini? Ya, Tuhan! Lelaki ini benar-benar. Batin Sakura tak habis pikir.
"Perjanjian awal memang aku hanya akan menghamilimu saja, tapi setelah mendengar apa yang kauucapkan tadi," Sasuke mensejajarkan wajah rupawannya dengan wajah Sakura. Sangat dekat, hingga mereka bisa merasakan deru napas masing-masing. "Aku berpikir, uang yang telah kujanjikan padamu terlalu berlebihan hanya untuk seorang wanita yang meminjamkan rahimnya untukku," iris obsidian itu menatapnya tajam. "Jadi, bagaimana jika kita ubah perjanjian awal?"
Di tengah kegelisahannya, Sakura mencoba menjawab ucapan Sasuke. "Apa maksudmu?"
"Aku ingin selain mengandung bayiku, kau harus melayani kebutuhan biologisku hingga anak itu lahir." Sasuke menyeringai licik ketika melihat raut wajah Sakura yang memerah karena marah, barangkali? Dan Sasuke tak peduli itu.
Sakura menatap Sasuke marah. "Kau—!"
"Sssh," Sasuke meletakkan jarinya di belahan bibir ranum Sakura. "Seperti yang kau tahu, aku tidak menerima penolakkan dalam hal apa pun." Ucapnya angkuh. Sasuke kembali menegakkan tubuhnya dan menenggak habis sisa air putih di gelas Sakura, lalu meletakkan—setengah membantingnya di meja samping ranjang.
Kemudian dengan gerakan tiba-tiba, Sasuke mendorong Sakura hingga terbaring di ranjang dan menindihnya, napasnya terasa hangat di atas tubuh Sakura, dan iris obsidiannya tampak berkabut penuh gairah.
Sakura agak terperanjat setengah membelalak memandang wajah Sasuke yang sangat dekat di atasnya, napasnya terangah-engah penuh antisipasi, ketika tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sasuke mengecup bibirnya dengan sangat intim.
Semula hanya ciuman biasa, kecupan ringan tanpa lumatan atau belitan lidah, itu pun sudah berhasil membuat Sakura panas dingin karenanya. Sakura bingung dengan tubuhnya sendiri. Mengapa mendadak gairahnya memuncak? Apa karena hormon kehamilannya? Astaga! Sudah berapa lama Sasuke tak menyentuhnya hingga Sakura kewalahan dengan gairahnya saat ini.
Perlahan Sasuke menggerakkan bibirnya, melumat belahan bibir ranum Sakura bagian atas dan bawah saling bergantian. Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan memanas, setelah beberapa menit melahap buas bibir mangsanya, Sasuke mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. Sakura bisa merasakannya karena bibir Sasuke hanya berjarak beberapa inci dari bibirnya.
"Haruno Sakura," ucap Sasuke pelan. "Izinkan aku memasukimu, aku ingin bercinta denganmu, merasakan ketatnya liangmu yang menjepitku." Sasuke mengecup dagu Sakura dan menjilatnya hingga pipi sensual. Sakura memejamkan matanya erat. "Apa jawabanmu, Sakura?" bisik Sasuke di telinganya, sesekali lelaki itu mengecup daun telinga Sakura.
"Aku, haah ... sedang hamil, Sasuke," bisik Sakura parau.
Sasuke menghentikan kecupannya dari leher Sakura dan kembali mengangkat wajahnya. Menatap Sakura dengan kedua alis yang sedikit mengkerut. "Hn, tentu saja." Ucapnya kemudian.
Sakura menatap Sasuke bingung ketika tiba-tiba saja lelaki itu beranjak dari atas tubuhnya dan mengambil sesuatu dari meja nakas. Ponsel. Lelaki itu berjalan menuju balkon dengan ponsel yang menempel di telinganya.
Sakura menatap punggung lelaki itu tak habis pikir. "Dasar aneh," gumamnya seraya melirik jam dinding yang ternyata masih menunjukkan pukul dua dini hari.
Baru saja Sakura hendak memejamkan matanya, tiba-tiba saja Sasuke sudah kembali berdiri di sisi ranjangnya. Menatapnya datar dan—astaga! Apa yang dilakukannya? pekik Sakura dalam hati.
"Baka! Apa yang kaulakukan?!" teriak Sakura dengan wajah yang memerah seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Sasuke tersenyum separo dan mulai merangkak ke atas tubuh Sakura dengan kondisi … telanjang!
Oh, astaga, astaga, astaga! Dasar lelaki mesum! Dan lagi kenapa aku bertingkah seperti gadis perawan seperti ini? Menyabalkan! Shannaro! Batin Sakura kesal.
"Aku sudah menanyakannya pada dokter, dan dia bilang tidak akan ada masalah dengan bayiku asal aku melakukannya dengan hati-hati," Sasuke mulai membuka kancing piyama Sakura dan melempar piyama itu ke lantai setelahnya. Menyisakan sebuah bra hitam yang menyangga dua bukit kembar kesukaannya. "Hn, mereka bertambah besar dari terakhir yang kulihat," Sasuke meremas kedua buah dada Sakura naik-turun.
"Nghhh—ahh! T-tungguh, Sasuke!" Sakura mencoba menghentikan aksi Sasuke, namun gagal.
"Diamlah! Jangan khawatir, Uchiha itu kuat. Bayiku tidak akan apa-apa," desis Sasuke. "Lagi pula," lelaki itu menarik bra Sakura ke atas dan tumpahlah kedua daging tanpa tulang itu keluar. Mereka terlihat memantul ketika terlepas dari kandangnya. Sasuke tersenyum kecil melihatnya, bagai bocah polos yang melihat antusias mainan kesayangannya. "Aku hanya ingin menengok bayiku, itu tidak akan masalah baginya ketika ayahnya ini menengoknya, 'kan?"
"Mmmh! Sasuke!" Sakura memekik tertahan ketika tanpa aba-aba Sasuke langsung memagut salah satu puting susunya buas dan memainkan puting yang satunya lagi dengan tangannya.
Sasuke melepaskan puting itu dan melahap yang satunya lagi dengan perlakuan adil. Sakura hanya bisa mendesah dan menggesek kedua pahanya gelisah ketika bagian bawahnya telah berkedut liar.
Setelah merasa puas, Sasuke kembali mengangkat wajahnya. Menatap Sakura tajam. "Tidak ada alasan lagi untukmu menolak,"
Sakura mencengkeram kedua bahu Sasuke. "Tunggu! Aku tidak mau!" Sakura berusaha merangkak menjauhi Sasuke, namun gagal ketika lelaki itu menarik betisnya dan kembali menindih tubuhnya.
"Tidak mau?" Sasuke menatap Sakura rendah, "apa kau tahu? Seseorang yang menarik kata-katanya adalah manusia payah yang … lemah."
"Aku tidak lemah!" teriak Sakura marah. Ah, lemah adalah kata tabu bagi Sakura. Wanita muda itu sangat tidak suka saat ada seseorang yang mengatainya lemah.
Lelaki itu tersenyum datar mendengarnya dan itu membuat Sakura membuang wajahnya ke arah lain. Ia muak. "Jadi ...," perlahan Sasuke mulai menurunkan celana Sakura dan menggesek belahan kewanitaan Sakura di balik celana dalamnya yang telah basah. "Ah, kau begitu basah di sini," ia menyeringai penuh kemenangan. "Bersiaplah." Bisiknya.
To be continue
Author's Note : Awwww, selamat malam, semuanyaaaaaaa ;D Mueheheee maaf ya update lama, taulah … kemarin Sasa sakit selama dua minggu dan sibuk sama RL sesaat setelah liburan panjang berakhir. Jadi, maaf yaaa #senyum unyu#
Betewe, duh … makasih buat kalian semua yang udah fave, follow dan review. Sumpah Sasa ga nyangka akan ada yang suka sama fic ini T.T #Nangis gaje# Bahkan review chapter kemarin mencapai 200+ review! Gilaaa! Sasa cinta kaliaaaaaaan :''')
Maaf ya ga bisa bales review, lagi sibuk tugas. Sasa udah baca semua review kalian kok, dan sekali lagi makasih banyak :) Baiklah, semoga chapter ini ngga mengecewakan ya...
Salam sayang,
UchiHaruno Misaki.
