Terima kasih kepada Kanzaki asamu, Sp-Cs, dan Hikaru Tamano karena masih ingat dan bersedia meneruskan membaca fic ini. Dan juga kepada semua Hitters dan Visitors indonesia, mohon bantuannya lagi ke depan2. Update berkala seminggu sekali akan saya terapkan. Silahkan kritik fic ini. Saya mohon, kritik fic ini. Saya pribadi berpikir chapter sebelumnya 79% gagal. Walau masih masuk kedalam plot, saya merasa ragu dengan penyampaiannya. Thx and please go on and enjoy 14 pages of Word.
Persona 4: Gods' Rebellion
Fic by Crow
Persona 4 and characters © ATLUS
12: The Twisted Tyrant
Mugen Magatsu; Nowhere. The Ocean of Soul and Thoughts.
Ini lagi,
Pemandangan ini lagi hanya dalam selang waktu beberapa jam. Jika kembali diingat-ingat lagi oleh Yu, dua hari belakangan ini sungguh melelahkan. Melarikan diri dari Aigis yang berniat membunuhnya-apapun alasannya, Izanagi meninggalkannya, konfrontasi mendadak dengan bagian tergelap Yu-ayahnya, hingga sampai saat-saat mengerikan kehilangan seorang sahabat. Belum lagi pertemuan kembali dengan Adachi; otak kriminal dibalik pembunuhan tiga tahun silam.
Ketika kembali berjalan diatas lantai berwarna velvet yang sudah tak asing ini, Yu sudah merasa mengerti apa yang akan menyambutnya.
Tidak, ia tidak bisa melakukan apapun. Ia sendiri... Ia kembali berdiri sendiri disini. Tanpa jalan pulang, atau bahkan, lari.
Yu berpikir, apakah Aigis bisa menyelamatkannya lagi? Apakah Aigis masih sempat menyelamatkannya lagi kali ini? Hingga tanpa disadari olehnya sedikitpun, ia bergantung cukup banyak terhadap android wanita tersebut...
Yu mendongakkan kepalanya ke depan-jauh kedepan dimana setumpukan televisi disusun hingga membentuk piramida 3 dimensi setinggi kurang lebih 15 meter.
Daerah sekitar Yu memang gelap, seperti biasa, tapi beberapa meter didepannya sosok-sosok yang duduk atau berdiri disekitar tumpukkan televisi nampak ditembak secara langsung menggunakan lampu sorot dari atas mereka.
Shadow Yosuke, Chie, Yukiko, Kanji, Rise, Teddie, dan Naoto telah memasang posisi mereka masing-masing disana. Mereka menatap Yu dengan sorotan dingin dan penolakan. Namun ketimbang itu semuanya, Shadow Yu-Izanagi menatap balik kearah masternya dengan sorotan yang sedikit sulit untuk dibaca apa maksudnya.
Izanagi menatap wajah Yu dengan intens dalam hening. Sepertinya jubah komandan upacara milik Izanagi-no-Okami memang akan terus terpasang dengan gagah di tubuh Shadow Yu. "...Kau datang lagi, wahai diriku." Tegur sapanya. Suara semi-baritone yang begitu persis dengan milik Yu terdengar berbayang oleh berbagai macam pitch dari sumber yang sama. Senyumnya lebar. Namun Yu melihat hasrat kuat dari sorotan kuning misterius matanya.
"...Aku tidak ingat pernah ingin mengunjungimu secepat ini," Jelas Yu, berusaha tenang dihadapan mereka semua. "...Atau mungkin kau memanfaatkan kelengahan hatiku...aku tidak tahu."
Izanagi tersenyum semakin lebar. Ia lantas memangkukan dagunya dengan malas menggunakan tatakan tangan. Ia menunjukkan satu jari dari tangannya yang lain kearah Yu. "Apa itu berarti akhirnya kau merasa sudah siap untuk menyerahkan dirimu padaku?"
Pertanyaan bodoh macam apa itu? Yu ingin menyuarakan isi hatinya, namun ia masih cukup waras untuk tidak membuat seekor shadow naik pitam. Apalagi jika shadow yang dimaksud adalah shadow-nya sendiri. Lagipula siapa yang ingin menyerah dari sisi tergelap dirinya?
Di satu sisi, ia berharap mendapatkan kejelasan mengenai situasi dan kondisinya, baik mental maupun kejiwaan. Sementara disisi lain, ia merasa menjadi pecundang terbesar alam semesta dengan mempraktekkan perasaan iri terhadap perubahan Adachi. Sekali lagi Yu berpikir, aku ternyata sungguh merasa iri dengan 'ekspresi' Adachi-san itu; tidak salah lagi.
"...Aku masih harus melangkah sedikit lebih jauh lagi," Yu membalas sorot mata Izanagi. Darimana kepercayaan diri ditengah tekanan miliknya itu tiba, Yu tidak mengerti. Yang ia mengerti saat ini adalah bahwa ia merupakan sesosok manusia yang memiliki banyak celah seperti manusia lain pada umumnya. Menjadi sedikit lebih baik dari sebelumnya adalah keinginan manusia. "Aku lemah; aku membuatmu meninggalkanku, Izanagi. Tapi aku masih belum mengerti...mengapa baru sekarang?"
Izanagi belum menjawab; dia nampak tidak berminat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Shadow Yosuke melirik 'komandan' mereka. "...Dia belum mengakuimu, sepertinya."
Shadow Yu tersebut mengangguk setuju. Namun kali ini ia tersenyum sinis kepada Yu. "Wahai diriku...apa kau tahu kelemahan Tuhan?"
Yu memikirkan pertanyaan tersebut. Sejauh yang ia ingat konsep 'tuhan' adalah suatu ide dari keberadaan omnipotent yang tak memiliki kelemahan maupun kekurangan. Dia solid. Kuat. Tak terkalahkan. Memberikan perasaan tertekan-atau teror pada suatu waktu, namun mampu memberikan perasaan nyaman pada orang-orang yang percaya padanya.
Persis seperti Yuichiro Narukami.
Ayah Yu adalah seseorang yang memenuhi tiap-tiap aspek yang membangun imagi dan diri sang tuhan itu sendiri. Dia tak terkalahkan, memiliki banyak pemuja dan bawahan, posisinya solid bahkan dikalangan kolega kerjanya. Dia juga memiliki banyak link kekerabatan yang, disamping mengabdi, juga menghormati dan menghargai dirinya.
Yu merasakan setruman ringan dari zio menyengat tubuhnya,
Ayahnya adalah tuhan.
Tentu saja itu hanya bahasa kiasan. Namun menyadari aspek-aspek milik sang ayah tersebut, Yu tidak bisa tidak menyangkutkan hal-hal itu dengan dirinya sendiri.
Yu adalah pemuda pemberani, cerdas-hingga hampir menyentuh batasan jenius. Dia adalah seorang pemuda yang memiliki tingkat intelektual seorang Sage, dan rasa perhatian bagaikan seorang ibu. Dia memiliki teman-teman berharga yang setia dan akan selalu satu suara dengannya kemanapun ia pergi. Mereka adalah para malaikat tertinggi milik Yu. Persis seperti Michael, Raphael, Gabriel, Uriel, Metatron, Sandalphon, dan Remiel terhadap tuhan.
Dia juga kuat; seluruh faset makhluk dalam mitologi-mitologi legendaris pembentuk jagat raya berada dalam genggamannya, menawarkannya kekuatan berlimpah alam semesta serta wawasan tanpa batas.
Jika ditilik lebih jauh...dimana kelemahanku?
"Kelemahanmu?" Izanagi memecah isi pikiran Yu menjadi beling-beling kecil yang tak kasat mata. Dia mengembalikannya ke alam nyata-alam nyata dalam diri Yu, paling tidak. "...Kau sungguh ingin tahu apakah kelemahan 'Tuhan'?"
Shadow Chie tertawa. Dari nada suaranya saja Yu bisa tahu bahwa dirinya tengah dicemooh. "Hei~ dia ini dianggap super jenius, 'loh di dunia nyata."
Yu tidak marah, atau lebih tepatnya, dia tidak bisa tersinggung jika kata-kata itu keluar dari dalam mulut seseorang dengan rupa Chie. Teringat dengan sifat bersahabat Chie yang asli, Yu selalu bisa memaafkannya, walau gadis itu sendiri tidak pernah sekalipun menyinggung perasaan banchou mereka.
Ketika teringat dengan Chie, Yu selalu teringat dengan Yukiko. Ketika ia menjalankan bola matanya kearah Shadow Yukiko, Yu menyadari bahwa hanya shadow berpakaian tuan puteri itu saja yang tak memberikan Yu ekspresi mencemooh. Ada apa gerangan dengan raut khawatirnya itu? Lalu tiba-tiba saja Shadow Kanji, datang entah darimana, membuyarkan pandangan Yu dari sang tuan puteri. Shadow berpenampilan pria setengah bugil ber-fundoshi tersebut mengedip manja kearah Yu; membuatnya merinding dan kembali memusatkan perhatiannya kepada shadow-nya sendiri.
"...Aku selalu melihat unsur keberadaan tuhan sebagai sesuatu yang mutlak tak bercela." Yu kemudian menggeleng dengan jujurnya. "...Apa kelemahan-Nya?"
Izanagi berusaha menahan tawanya, dengan kuat. "Kau benar-benar tidak tahu?" Tawanya semakin meninggi dengan nada maniakal. "Kau adalah tuhan, diriku! Kau bagaikan tuhan, namun kau tak mengetahuinya?!" Shadow Yukiko kembali mengalihkan wajahnya. Yu menyadarinya; tapi mengapa Shadow Yukiko memasang raut demikian?
"Ho ho ho ho he he he ho ha ha ha!
Kemari, biar kutunjukkan," Izanagi melompat turun dari singgasana tumpukan televisi teratas. Ia merentangkan tangannya ke depan, melangkah kearah Yu. Murni secara refleks, indera pertanda bahaya Yu menendang, membuatnya melangkah mundur. Aura mencekam dan mengancam membanjiri tiap sendi keberadaan Yu.
Dia takut.
Dihadapannya saat ini...tengah berdiri sosok tergelap dari dirinya. Sisi terdalam dari yang terdalam eksistensi dirinya. Tuhan. Izanagi adalah imagi perefleksian keberadaan tuhan didalam alam bawah sadar Yu. Jika benar...dia memiliki semua unsur tuhan tanpa terkecuali.
Tak ada...sekali lagi, tidak ada satupun yang mampu menandinginya.
Namun aroma krisan menusuk hidung Yu tanpa aba-aba dengan wangi lembutnya. Gaun merah muda menghalangi pandangan Yu dari sosok Izanagi-Shadow Yu. Kedua lengan Shadow Yukiko merentang, membatasi jarak antara Yu dan shadow-nya sekitar lima meteran. "...Apa yang kau lakukan, Konohana-Sakuya?"
Yu kembali tertegun. Ia kembali teringat dengan konfrontasi pertamanya dengan Izanagi kemarin. Dari kesemuanya, hanya Shadow Yukiko yang tidak menekan Yu dengan psikopatik histeria khas para shadow yang terlepas. "Minggir." Perintah Izanagi. Walau nada suara dan intonasinya pelan, terukir satu kata perintah yang membuat Yu berpikir bahwa Shadow Yukiko dalam keadaan bahaya. (tl. note: kehebohan sinting)
Yu kini merasakan potensi mengerikan tanpa batas yang dimiliki manusia; bahwa mungkin salah satu dari milyaran manusia juga mengandung 'tuhan' dialam bawah sadar mereka. "Aku menolak."
"Oi, oi. Apa yang kau lakukan?" Shadow Chie berseru dari belakang. Jika Shadow Yukiko dipanggil Konohana-Sakuya, nama Shadow Chie disini mungkin adalah Tomoe Gozen. "Apa kau sudah gila...menentang Izanagi seperti itu!?"
"Aku tidak menentang...tapi ini sudah melewati batas dari apa yang kau janjikan sebelumnya, Izanagi!" Seru Konohana-Sakuya, masih belum menurunkan kedua lengannya.
"...Janji?" Yu bergumam dari balik napasnya.
Shadow Yu, Izanagi, menampilkan raut muak dan mengangkat satu tangannya. "Jangan berbicara balik dihadapanku, wanita!"
Yu menyaksikan Izanagi dengan kekuatan mistiknya mengangkat Shadow Yukiko ke tengah udara. Setelah membiarkan wanita tersebut mengejang-ngejang seolah tersetrum oleh sengatan Zionga, Izanagi menghempaskannya keatas tanah.
Rintihan Konohana-Sakuya terdengar begitu menyakitkan di telinga Yu, mengingatkannya kepada Yukiko yang tengah menderita dan tersiksa. Amarah dan murka mulai bertumpuk tak sabaran di dadanya. "Beraninya kau...!?" Yu menggeram dari balik napasnya. Yu dengan segera berlari, menyusul ke tempat lokasi dimana Shadow Yukiko terkulai lemah. "Yukiko...bertahanlah,"
Yu tidak tahu mengapa ia secara refleks menyebutkan nama Yukiko. Tapi ia hanya merasa bahwa itu adalah wajar dan masuk akal. Persona dan Shadow adalah dua sisi wajah dari satu koin yang sama; jika aku adalah dirimu, maka dirimu adalah aku. Semudah dan sesederhana itu. "...Yukiko?" Gumam perempuan berbalut gaun mewah tuan puteri tersebut. "...Kau memanggilku Yukiko?"
"Jangan bicara hal yang tak perlu," Walau begitu, tetap saja Yu merasa tidak tega melihat sosok wanita yang menyita rasa ketertarikannya menghembus-helakan napas dengan pendek seperti ini. Dari manapun Yu melihatnya, ini tidaklah benar. "...Kau terluka?"
"...Kau...bahkan mengakui diriku sebagai 'dirinya'?" Tanyanya dengan lemah.
"Tentu saja. Kau adalah Yukiko, dan Yukiko adalah dirimu." Jelas Yu, merasakan napasnya menjadi lebih sesak mendengar pertanyaan Shadow Yukiko barusan. "Yukiko tidak pernah lagi mengingkari keberadaanmu. Kau adalah bagian dari dirinya yang terpenting saat ini."
Kedua mata kuning terangnya nampak begitu berbinar. Konohana-Sakuya dibuat begitu terharu dengan pernyataan Yu. Ia tersenyum. Bukan lagi senyum maniakal yang ia tunjukkan tiga tahun lalu ketika Yu dan tim berusaha menyelamatkan Yukiko. Tapi kali ini Yu melihat senyum murni Yukiko yang begitu cantik dan indah dari sang bayangan. "...Segalanya...disini adalah dunia alam bawah sadarmu. Kami, Izanagi...kami semua adalah pengisi alam bawah sadarmu. Kami yang lain tidak lebih dari sekedar represantasi gambaran mental dari shadow teman-temanmu. Namun...kau harus mengerti akan dirimu untuk bisa mengerti Izanagi. Itu karena shadow-mu sebenarnya-" Yu mendengar decakkan murka Izanagi dan sekali lagi menerbangkan Shadow Yukiko ke udara dengan sangat mudah; kali ini jauh ke belakang, tepat kearah tumpukan gunung televisi.
Erangan kesakitan Konohana-Sakuya dibawah timbunan televisi memutuskan urat kesabaran Yu. "Kau...! Kau sebaiknya menghentikan itu, Izanagi!" Ia berseru, mulai melangkah mendekat kearah shadow-nya. "Jika kau adalah diriku...seharusnya kau tahu...betapa pentingnya Yukiko bagiku!"
Izanagi hanya tersenyum sinis. "...Kau tetap tak mengerti apa-apa, ya diriku?" Ekspresinya begitu gelap, dan dengan wajah maniakalnya, ia kembali tertawa. "Ho ho ho ha ha he he he he...! Aku paling tidak tahan dengan wanita itu disini!"
"Cukup, Yu-dono!"
Suara itu menghentikan Yu. Beberapa meter berhadapan dengan gunungan televisi, Yu melihat Margaret. Satu lagi wanita yang pernah menyelamatkannya dalam beberapa kesempatan. "Cepat kemari; kita segera keluar dari sini!"
Yu sekali lagi mengarahkan wajah murkanya pada Izanagi. Ia mendesis geram, masih belum bisa menerima perlakuan Izanagi terhadap Konohana-Sakuya. Pertanyaannya keluar bagaikan desisan penuh kemuakkan seekor ular sanca terhadap dunia. "Siapa kau sebenarnya, makhluk lalim...?"
Margaret tersedak akan napasnya. Ia kemudian, secara sigap, menarik pergelangan Yu dengan sangat terburu-buru. Napasnya memburu keras ketika membimbing Yu dan beralih ke kolom terbuka berbentuk daun pintu. Ketika Yu melintasinya, pintu dibelakangnya tersebut tertutup dengan seketika.
Izanagi berdiri dalam diam, tertelan oleh emosi serta ekspresi penolakan Yu. "Ku ku ha ha, siapa aku? Aku adalah dirimu." Izanagi menajamkan sorot matanya. "Tapi...sedikit lagi aku bukan lagi dirimu."
-o0o-
"Apa yang anda lakukan!?" Margaret berhenti dari larinya, berputar, dan membentak Yu. Mereka berdua berlomba dalam napas setelah melarikan diri. "Apa yang anda pikirkan...menantang shadow dan terang-terangan mempertanyakan keberadaan mereka?"
"...Maafkan aku kalau begitu, Margaret." Walau tengah kalap, Yu sebenarnya masih bisa mempertahankan akal sehatnya. "Dia...melakukan hal yang tak pernah terpikirkan olehku sedikitpun. Ini semua semakin membingungkan...membuatku semakin tak ingin mengakuin-!"
Tangan mulus Margaret menempel pada pipi Yu, serta meninggalkan bercak rona merah menyakitkan setelah terlepas. Margaret, dari kesemua orang, menampar Yu. "...Margaret?"
Memang nyaris tak kentara, namun Yu bisa melihat sepasang bola mata kuning wanita tersebut bergenang akan air mata. Kedua pipinya nampak memerah oleh amarah dan kekecewaan. Satu ekspresi yang belum pernah terlihat dari Margaret yang biasanya selalu tenang dan kolektif.
"...Kalau begitu, kau lebih memilih menghilang?!" Tanya Margaret dengan nada seorang kakak yang memarahi adiknya karena telah melakukan perbuatan konyol tak termaafkan. "Menghilang...menghilang dan meninggalkan orang-orang yang menyayangimu?"
"...Aku tidak-" Yu tak bisa melanjutkan karena Margaret kembali memotong kata-katanya.
"Memang tidak nampak, Yu-dono, tapi aku selalu memerhatikanmu. Aku selalu mencoba menjaga, dan mencari cara untuk menyelamatkanmu." Kini suara dari Margaret terdengar setengah hancur dengan getaran-getarannya. "Tentu saja, ini diluar kontrak dengan Velvet Room; Igor 'pun tak tahu menahu dengan ini semua.
Karena itu, Yu-dono, selama situasi Izanagi berpisah denganmu, kumohon, tolong jangan bahayakan dirimu dan melakukan tindakan sembrono lagi."
Margaret begitu jujur dengan perasaanya. Mendengar wanita tersebut berterus terang seperti ini, bagaimana dan apa yang dirasakannya, membuat Yu merasa prihatin terhadap dirinya sendiri. Yu merasa begitu kecewa dengan dirinya sendiri. Banchou yang dulu gagah berani dan tanpa pernah ragu ataupun kalap kini berubah menjadi mahasiswa serba bimbang.
Yu akhirnya meraih tubuh beraroma wanita dewasa yang semerbak dengan wangi mawar birunya. Parfum fragan aromatik Margaret membuat Yu semakin nyaman memeluk tubuh yang relatif sedikit lebih kecil tersebut. "Maafkan aku, Margaret."
Kini Yu benar-benar berpikir membutuhkan satu pelukan penenang dari gadis berkardigan merah, beraroma krisan, bermata onyx nan dalam, serta berambut panjang semulus sutra.
Ketika melepaskannya kembali, wajah Margaret sudah kembali menampilkan raut dewasa dan wajah penuh ketenangan. Walau masih ada sisa warna merah muda transparan pada kedua pipinya, ia kini bisa tersenyum tenang. "...Saya akan segera membawa anda kembali ke dunia nyata. Saya juga akan membawakan paparan analisa mengenai tindak-tanduk Izanagi yang berlaku bertolak belakang dengan sifatmu." Kedua matanya tak pernah lepas seinci 'pun dari sepasang bola besi dingin mata Yu. "...Memang sedikit tidak wajar, tapi akan saya coba sebaik mungkin."
"Aku mengerti. Aku mengandalkanmu, Margaret."
Wanita tersebut mengangguk secara profesional. "Selagi itu, bagaimana jika anda beristirahat. Dua hari ini pasti begitu berat bagi pengunjung kami yang terhormat."
-o0o-
Kesadaran Yu mulai terangkat kembali ketika ia merasakan sebelah pipinya bertubrukan dengan 'benda keras' serta bunyi suara motor yang sedikit memekakkan telinga. "Wooo! Kau sudah sadar, senpai!?"
"...Kanji?" Suara kuat itu memang sudah tak terdengar asing lagi bagi Yu. "...Dimana ini?"
"Aku dan Yosuke-senpai menjemputmu dan juga android-san. Tapi ketika kami sampai kau sudah tak sadarkan diri." Kanji menjelaskan. Walau suara angin cukup mengganggunya, namun Yu masih bisa mendengar penerangan dari Kanji. Yu bersyukur Rise menyuruh mereka berdua menyusulnya beserta Aigis. "Tapi kata android-san, kau hanya kelelahan! Beneran, 'kan senpai!? Kami cemas, lho senpai!"
"...Ah, iya...masih agak lemas saja sedikit." Bohong. Tubuhnya terasa tercerai berai kini. Saat ini, dengan kuat, ia berusaha mengembalikan tiap indera perasanya ke seluruh bagian di tubuhnya untuk kembali bekerja. Walau memang cukup sulit, menyadari tubuhnya kini tengah dibonceng Kanji diatas motor. "...Oh, ngomong-ngomong dimana Yosuke, Kanji? Kalian pergi bersama tadi, 'kan?"
"Oiii~ Yu!"
Ketika Yu menolehkan wajahnya sedikit ke atas, ia melihat Yosuke yang saat ini tengah terbang gliding bersama dengan Aigis. Si gadis android meraih kedua lengan Yosuke, dan mengapitnya dengan kedua lengannya pula. Aigis terbang rendah sekitar empat meter diatas tanah. Bunyi booster-nya cukup ringan, sehingga hampir tak terdengar oleh Yu sebelum ini.
"Yu~, aku terbang!" Yosuke melanjutkan sorakan sambil melambaikan tangannya. "Impian manusia berhasil kuraih!"
Keringat dingin mengalir dari balik kepala Yu. Kedunguan dan sifat kekanakannya tidak pernah lepas walau dalam selang tiga tahun. Yu hanya memberikannya tawa lemah.
"Aigis, bagaimana luka-lukamu?" Tanya Yu, melirik kearah si android.
"Aigis baik-baik saja. Berkat tindakan cepat Yu-san, kerusakan bisa ditekan seminimal mungkin." Aigis terdiam sebentar, nampak kesusahan mengangkut serta menyeimbangkan tubuh Yosuke yang semakin banyak bergerak dan tidak mau diam saking girangnya. "Ofh...objek...membuat Aigis tidak nyaman." Komentar si robot. "Meminta ijin untuk menjatuhkannya?"
Eh? Itu permintaan untukku? Yu terkejut didalam hatinya.
"Waks! A-Ai-chan! K-kau becanda, 'kan? Kita sedang terbang kencang, 'lho! Ter-bang ken-cang!"
Sepertinya Aigis tidak menerima argumen Yosuke. "J-jangan, Aigis. Sebentar lagi kita sampai," Saran lemah Yu.
"Oke, kita sampai!" Kanji berseru, sambil menerobos masuk gerbang utama mall. "Aku yakin Nanako-chan dan Yukiko-san mencemaskanmu, senpai!"
"...Hm, ah, ya," Merasakan ada yang menunggunya disini, membuat Yu sungguh senang. Dia tidak menunjukkannya, memang, tapi perasaan tersebut ada 'disitu'. Perasaan itu membuatnya nyaman...khususnya ketika melihat senyuman penuh kelegaan dari gadis berambut raven dihadapannya saat ini.
Yu kembali terbayang; pikirannya terngiang, memutar kembali ingatannya tentang perlakuan Izanagi terhadap Konohana-Sakuya.
Mengapa Izanagi memperlakukannya dengan begitu kasar; begitu banyak permasalahan yang Yu tidak mengerti.
Tapi satu yang ia yakini.
Yukiko disini, menyambutnya dengan kedua lengan dan dada penuh akan penyambutan.
Begitu mereka memasuki aula utama Junes, Yu dan rekan-rekan yang baru saja sampai langsung disambut oleh mereka yang ditinggal di Junes. Teddie masih berjalan dengan bantuan popohan Chie dan Rise. Sementara Naoto memegang kedua bahu Nanako-chan, Yukiko membantu Kanji menurunkan Yu dari jok sepeda motor.
Yu dengan serta merta memeluk tubuh lembut Yukiko, mengeluskan sisi wajah dan hidungnya pada batang leher Yukiko. Semburat merah nampak begitu membara di wajah si gadis, membalas balik pagutan kuat Yu.
Teman-teman yang lain juga tidak bisa menahan aroma romansa yang tiba-tiba mengisi aula Junes yang saat ini masih diiringi oleh nada lantunan akrab theme song Junes. "Y-Yu...kau terluka? Biar kusembuhkan dengan Diarahan-s-sebentar,"
"...Maaf," Yu berbisik dari balik telinga Yukiko, menghentikan gerakan kikuk si pewaris penginapan Amagi-Ya. Tadinya Yukiko ingin melepaskan tubuh Yu untuk segera merawatnya. Namun sepertinya Yu jauh lebih merasa nyaman hanya dengan mendapatkan pagutan erat Yukiko. "Biarkan aku memelukmu sedikit lebih lama lagi."
Chie tersenyum semakin lebar melihat raut kelabakan Yukiko yang sama sekali tak bisa menyembunyikan ekspresi hatinya. Sejauh yang Chie ketahui, Yu adalah satu-satunya pria yang pernah membuat Yukiko begitu terpikat. Yukiko memang jarang menunjukkannya dimuka umum, namun ia memiliki Chie sebagai tempat berbagi dan mengutarakan isi hatinya.
"Cie! Cieee~!" Teddie bersiul lantang dari belakang, menyoraki kedekatan Yu dan Yukiko yang datang secara tiba-tiba. "Prikitieuwwwww!"
Rise menjedutkan sisi kepalanya pada Teddie, tidak kencang memang, itu hanya untuk menghentikan si beruang bisho membuat suasana menjadi lebih aneh lagi. "Teddie, kalau sudah bisa jalan sendiri, kulepas ya?"
"Oyo yo yo, sakiit Rise-chan!"
Aigis mendekat kearah Yu yang masih memeluk Yukiko dengan eratnya. "...Yukiko-san, jika tidak merepotkan, Aigis ingin berbicara denganmu. Bersediakah?"
"B-baiklah...uh...sekarang?"
Aigis mengarahkan pandangannya pada si Narukami muda. "Sepertinya tidak bisa sekarang. Ada tempat dimana kita bisa mengistirahatkan Yu-san?" Aigis beralih kearah teman-teman Yu lainnya.
"Oh, uh, Yu...?" Yukiko memberikan guncangan ringan terhadap tubuh lemah pemimpin mereka. Ia tidak mendapatkan respon apa-apa, sayangnya. Ketika Yukiko mendengar dengkuran pelan Yu, ia tak perlu lagi berkata apapun. Yukiko mempererat pagutannya pada tubuh sang banchou, meraih kembali keseimbangannya
"Kalau begitu, aku akan menggendong senpai hingga ke rumah Dojima-san," Tawaran dari Kanji disusul respon setuju dari yang lainnya. Setelahnya, ia juga menambahkan ketika menyadari kuapan lebar dari wajah khawatir Nanako-chan. Meski ia mengkhawatirkan keadaan abangnya, ia tetaplah masih seorang bocah. Dan lagi waktu juga sudah hampir menunjukkan pukul sembilan malam. "Sekalian juga...ini sudah waktunya istirahat bagi Nanako-chan."
"Aku juga ikut mengantar senpai, kalau begitu." Ujar Rise. Ia beralih pada Teddie. "Tidak apa, 'kan Teddie?"
Si beruang yang baru saja menjadi manusia tersenyum ceria dalam anggukannya. "Hm! Teddie yakin sudah merasa jauh lebih baik. Tapi sekarang keadaan sensei yang paling mengkhawatirkan. Mungkin ini sudah waktunya pulang dan beristirahat."
"Teddie benar." Chie mengangguk kearah Yosuke. Pemuda brunnette tersebut meraih bahu Teddie dan menggantikan Chie memopohnya. "Kita masih bisa membicarakan kemunculan Adachi-san esok hari."
Dengan itu seluruh anggota Tim Investigasi kembali keluar dari dalam televisi plasma di kamar Yosuke. Ibunda Yosuke sudah tersadar ketika menyadari putra dan teman-temannya keluar dari dalam kamar beramai-ramai. "Ya ampun, Teddie-chan sudah sembuh!?"
Teddie membalas pertanyaan nyonya Hanamura dengan riangnya. Tak lama, karena membutuhkan istirahatnya, Yosuke membimbing Teddie ke kamarnya dan membaringkannya diatas kasur.
Sisanya turun ke lantai dasar dan bersiap untuk pulang ke masing-masing tujuan. "Aku akan mengabari kedatanganku dulu." Naoto memecah keheningan tim. "Besok mungkin aku akan menjenguk Yu-senpai dan Teddie-san lagi."
"Kalau begitu, Nanako akan menunggu kedatangan Naoto-neechan bersama onii-chan di rumah." Nada riang Nanako selalu bisa merekahkan senyum pada semua orang.
"Hm. Terima kasih, Nanako-chan. Kalau begitu, aku pamit disini."
"O-oke,"
Setelah Naoto sudah berada cukup jauh, Rise menyikut sisi perut Kanji. "Jangan grogi, 'donk! Gak keren, tahu!"
"Grr, berisik Rise!"
Chie dan Yukiko tertawa bersama.
Setelah berpisah dengan Chie yang harus segera bersiap untuk tugas polwan perdananya esok hari, Yukiko, Kanji, Rise, Nanako, dan Aigis segera beralih menuju kediaman Dojima.
Kanji tidak membuang sedikitpun waktunya dengan segera membaringkan senpai-nya diatas futon yang sudah digelar Rise barusan. Mereka tidak bisa melepaskan pakaian Yu secara keseluruhan. Jadi setelah menggantung jas kuliah ToDai yang terus dikenakan Yu sedari tadi, mereka menyelimuti sang banchou dengan selimut tebal.
"Hari yang berat."
Kanji mengangguk. "Aku tidak bisa berbohong dan sok kuat. Tubuhku seperti berteriak minta istirahat."
"...Apa Adachi-san akan membawa masalah lagi?" Tanya Rise, pelan, selagi berjalan bersama Kanji keluar kamar sang banchou. Dari nada suaranya, ia terdengar cukup gentar.
"Entahlah. Yang jelas si brengsek itu harus menjelaskan mengapa senpai bisa jadi seperti ini."
"...Nee, Kanji~"
"Hm?"
"Perhatian sekali, 'sih sama senpai?" Mendengar itu raut Kanji nampak merona walau hanya sekelebat.
"Y-ya jelas, 'lah!" Kanji sedikit kelabakan. Jangan topik itu lagi! "Seperti kau tidak saja, Rise!?"
"Hi hi hi, oh Kanji. Becanda tahu, be-can-da!"
Ketika telah sampai di lantai bawah, mereka disambut oleh Yukiko dan Aigis. "Terima kasih, kalian berdua." Ucap si pewaris Amagi-Ya. "Nanako-chan juga sudah tidur di kamarnya."
Aigis disebelahnya turut mengangguk. "Yukiko-san, kau juga sebaiknya beristirahat."
Rise setuju dengan Kanji. "Benar, senpai. Kau terus-terusan memporsir tubuhmu tadi; menggunakan Diarahan secara konstan. Pasti berdiri saja sudah sulit rasanya,"
"Mau kuantar, Yukiko-san?" Hari sudah malam. Jalan terbaik untuk kembali ke rumahnya yang berada hampir di kaki bukit adalah dengan ditemani Kanji demi keamanan ekstra.
"Mungkin aku akan bermalam disini, Kanji-kun. Tapi terima kasih atas tawarannya."
Menerima senyuman Yukiko, Kanji mengangguk mengerti. "Baiklah kalau begitu. Ayo, Rise. Nenekmu pasti sudah khawatir saat ini."
"Mm...b-baiklah." Rise sedikit melamun barusan. Suara berat Kanji serasa menampar dirinya dengan telak barusan. "Yukiko-senpai dan Aigis-san, titip Yu-senpai ya!"
Setelah keluar dari kediaman Dojima, Rise pertamanya hanya berjalan dengan cepat serta sigap. Namun perlahan-lahan, langkahnya berubah menjadi lari. "Oi, terjatuh nanti!" Seru Kanji dari belakangnya.
Sedikit dikejauhan, Rise berhenti dan membalikkan tubuhnya kearah Kanji. Si mantan preman tidak yakin ekspresi apa yang tengah dikenakan Rise saat ini lantaran lampu sorot yang bersinar dari atas si gadis. "Barusan kau berubah aktif, sekarang terdiam." Ketika akhirnya tersusul, Kanji memberikan komentarnya.
"Nee~, Kanji,"
"Hm? Berhenti menggunakan nada seperti itu. Kalau ada yang kau mau katakan saja."
Kanji dan Rise sudah seperti sahabat karib. Mungkin karena Rise yang menerima Kanji apa adanya, dan juga Kanji yang selalu memaklumi sifat melompat-lompat Rise yang bagaikan kelinci. Tapi, kenyataanya lebih dari itu, sebenarnya. Rise selalu menyadari Kanji yang melihat kearahnya tanpa ada tulisan kata 'napsu birahi' terlukis di matanya. Itu membuat Kanji berbeda dengan lelaki pada umumnya yang melihat Rise dengan tatapan 'ada maunya' alias ecchi.
Karena Kanji selalu melihatnya sebagai 'sahabat', maka dari itu Rise begitu menghargai Kanji. "...Sepertinya...memang ada sesuatu antara Yu-senpai dan Yukiko-senpai, ya?"
Pintu dada Kanji serasa diketuk Rise. Topik ini lagi, ya?
"Sial, Rise. Itu lagi?"
"Sekarang pasti kau sudah menyadarinya, Kanji."
"...Apa memangnya sudah tidak ada cowok keren di Tokio sana, hah?" Tanya Kanji, heran. Ia mengacak-acak bagian atas dari rambut ungu Rise.
"Apa kau tidak bisa berhenti total dari merokok?" Rise berhasil memojokkan balik sahabatnya. "Mungkin ibaratnya seperti itu Kanji. Ketika kau berpikir sudah cukup dengannya, suatu waktu pikiranmu akan kembali kepadanya."
"...Setelah bertemu dengan senpai sekali lagi...kau," Rise mengangguk, kedua matanya berubah jinak dan sedikit bergelimang. "...Argh, ayo pulang." Kanji meraih leher Rise menggunakan lengan, dan menyeretnya untuk kembali berjalan. Ini adalah gaya Kanji untuk membuyarkan kekhawatiran sahabat idol-nya itu. "Kita punya banyak waktu untuk membicarakannya besok."
"Oke! Awas, 'loh kalau bohong!" Rise tersenyum hangat dari balik dekapan kuat tangan besar Kanji. Rise selalu dibuat terheran-heran. Mengapa jari-jemari besar dan kasar ini bisa begitu terampil dalam seni keterampilan tangan-terutama menjahit? Apapun itu, ada beberapa sisi Kanji yang membuat Rise begitu mengaguminya. Dasar Teddy Bear besar ini. "Kalau bohong, akan kukadukan ke Tatsumi-obaachan kamu ngebuat anak kecil nangis lagi kemarin!"
"...Jangan bawa-bawa ibu, dasar kau licik!"
"He he he, oh Kanji bodoh!"
|To the Next|
AN: Oke... I need to pwwway P4 Golden so bad! Sekarang cuma bisa nonton video-nya doank. Sungguh menyedihkan...Im so soo miserable. Sob.
Chapter sebelumnya terasa semakin off. Saya katakan, chapter sebelumnya cukup gagal. Saya sadari, saya sudah terkena batunya. Sense P4 saya sudah melemah, dan saya bersedia kena kritik kalian. Karena itu, by all means, jika kalian mendeteksi ketidakpuasan dari chapter saya, saya mohon sampaikanlah. Jangan diam saja. Saya benar-benar menghargai dan berterimakasih pada pembaca yang mau memberikan sedikit kritikan. Saya ingin menulis fic ini dengan lebih baik lagi, dan menyajikan fic berkualitas tinggi pada kalian. Tapi tanpa kritik, saya sama sekali buta tentang kekeliruan fatal yang mungkin hanya bisa ditangkap para pembaca.
Okeh cuma itu. Mohon maaf jika terkesan memaksa. Tapi saya benar2 butuh kritik mengenai chapter 10++ karena itu adalah chapter2 recovery setelah hiatus.
Berikutnya, Yukiko akan berdiskusi dengan Aigis mengenai Shadow Yu. Dan setelahnya, Yu menghampiri Yukiko yang tengah terlelap.
Ditambah dengan perasaan Rise kepada Yu, lalu Margaret yang begitu perhatian thd Yu, juga Aigis yang mulai overprotektif terhadap Yu, serta 'Onii-chan'-nya Nanako-chan terhadap Yu, dan rona Kanji terhadap Yu (just kidding). Sepertinya persaingan masih begitu ketat. So much for a hot stud such as Yu, huh?
