Chapter 12

Ketika Hacker Jatuh Cinta : The CyberWar

Four Detectives

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSaku, SasuHina, SaIno, ShikaTema, NejiTen

Rating : T

Genre : Sci-Fi, Romance, Crime, Mystery

Warning

-Bahasa IT, tidak cocok untuk yang gaptek

-Alur kompleks

-Don't Like, Don't Read

"Sasuke-kun..." Sapa Hinata pada Sasuke yang saat itu baru saja keluar dari kelas. Sasuke menoleh kearah Hinata dan tersenyum padanya sekilas lalu kembali pada wajah dinginnya.

"Abis ini kamu mau ngapain ?" Tanya Hinata sambil sedikit mengatur nafasnya karena berlari cukup cepat tadi. Sasuke tampak berpikir sejenak memikirkan rencananya saat pulang nanti.

"Aku masih mau meneliti soal kasus itu" Kata Sasuke akhirnya. Shikamaru yang sepertinya mendengar ucapan Sasuke pun langsung tertarik begitu mendengar kata kasus.

"Bagaimana perkembangan kasusnya ?" Tanya Shikamaru menghampiri Sasuke yang saat itu masih berdiri di depan tangga.

"Aku sudah berhasil menemukan target dan pola penyerangan pembunuh, tapi aku masih belum bisa menemukan cara membunuh yang sangat efektif untuk melakukan pembunuhan dalam senyap dan juga mematikan" Kata Sasuke sambil terus berpikir tentang semua itu.

"Sasuke, kau dipanggil menuju ruang guru" Kata Anko yang udah lari-larian mengejar Sasuke yang masih berada di depan tangga. Sasuke memutar badannya untuk melihat Anko yang lagi berantakan abis lari-larian.

"Ada apa ?" Tanya Sasuke pada Anko sambil memiringkan kepalanya sedikit.

"Entahlah, kayaknya kepala sekolah marah banget sama kamu" Kata Anko.

'Apa yang aku perbuat ?' Batin Sasuke dengan rasa penasaran yang gak kunjung hilang dari wajahnya.

"Baiklah" Ucap Sasuke sambil melambaikan tangannya pada keempat temannya termasuk Sai dan Neji yang baru saja turun dari kelas mereka.

"Kenapa tuh dengan Sasuke ?" Tanya Sai mengawali pertanyaannya.

"Dia dipanggil ke ruang guru" Jawan Shikamaru sambil menguap malas.

"Tidak biasanya dia berurusan dengan hal aneh kayak gitu" Sahut Neji dengan sangat herannya. Memang sih, Sasuke tidak akan mau berurusan dengan hal yang amat sangat merepotkan serta sangat mencemaskan tersebut meskipun hal itu sangat menantang.

"Entahlah"

-0-

"Uchiha Sasuke, apa yang benar-benar kau lakukan sehingga polisi harus kesini untuk memanggilmu. Kau adalah ikon dari SMA Konohagakure, tolong jadilah contoh yang baik buat adik kelasmu. Aku akan mengeluarkanmu meskipun kamu adalah murid terpandai disini jika kamu berurusan dengan tindakan kriminal bla bla bla bla" Kata seorang wanita dengan rambut pirang berkucir dua yang sekarang lagi berjalan sambil menyeret Sasuke yang tampak pasrah dengan hal itu.

'Kenapa tuh polisi idiot datang ?' Batin Sasuke nista pake bawa-bawa polisi idiot segala. Wanita berambut pirang bernama Tsunade itu terus menyeret Sasuke dengan tanpa belas kasihan menuju ruang kepala sekolah.

"Maaf menunggu lama, Kobayashi-san" Kata Tsunade sambil masuk kedalam kantornya dan menemui seorang berambut coklat keemasan yang sedang duduk disana sambil pasang wajah serius.

"Tidak apa-apa" Kata orang yang ternyata adalah kepala polisi Kobayashi yang berniat turun tangan untuk memanggil Sasuke.

"Jadi, ada masalah apa dengan Sasuke ? Kuharap bukan masalah yang serius" Kata Tsunade dengan wajah serius menatap Kobayashi sambil mencoba untuk mengirimkan deathglare pada Sasuke yang lagi cuek-cuek aja sambil menatap awan yang terbang melalui jendela di belakang Tsunade.

"Bukan apa-apa kok. Hanya saja kami ingin Sasuke untuk membantu kami dalam menyelesaikan kasus si pembunuh misterius itu" Ucapan Kobayashi sontak membuat Tsunade terkejut bukan main. Sasuke yang mendengar hal itu hanya tersenyum sinis sambil memejamkan matanya.

"Akhirnya kau mengetahui juga" Ucap Sasuke sambil mengerling kearah polisi tersebut.

"Heh...! Apa maksudmu ?" Tanya Tsunade yang sepertinya cukup terkejut mendengar ucapan Sasuke yang sangat-sangat tidak sopan tersebut. Dia juga sudah membuat rencana untuk menistakan Sasuke di depan teman-temannya.

"Aku sudah mencoba untuk menjelaskan beberapa poin penting yang berhasil kudapatkan tapi dia malah menolak mentah-mentah kemarin" Kata Sasuke sambil menyeringai puas seakan mengatakan 'kau kalah' pada Kobayashi.

"Maaf untuk hal itu, tapi kami benar-benar butuh bantuanmu untuk menjadi detektif di kepolisian. Hari ini ada satu korban lagi" Kata Kobayashi dengan wajah yang cukup khawatir.

"Siapa ?" Tanya Sasuke dengan sangat serius.

"Seorang siswa yang pandai menyanyi dari Kirigakure bernama Yagura" Lapor Kobayashi.

"Maafkan aku, Kobayashi-san. Aku berencana melanjutkan penyelidikanku setelah ujian semester" Kata Sasuke.

"Tak apalah, kau bisa ikut ujian susulan saat kasus ini selesai" Kata Tsunade yang langsung disambut dengan tatapan -benarkah ?- oleh Sasuke yang hanya di jawab dengan anggukan pelan oleh Tsunade.

"Baiklah, Tsunade-sensei. Aku harus punya beberapa pasukan. Pertama, Hyuuga Neji dari kelasku. Hyuuga Hinata dari kelas X-8. Nara Shikamaru dari kelas X-8, serta saudara kembarku Uchiha Sai dari kelas X-2" Cerocos Sasuke.

"Panggil mereka"

-0-

"Hei...! Kalian" Panggil Sasuke dengan tergopoh-gopoh. Keempat orang itu pun langsung terlompat mendengar ucapan Sasuke.

"Kalian di panggil kepala sekolah" Kata Sasuke sambil menyeringai pelan. Hinata, Neji dan Sai langsung pasang wajah terkejut mendengar penuturan langsung dari Sasuke tersebut.

"Kami akan diangkat menjadi detektif bukan ?" Tanya Shikamaru dengan sangat entengnya menganggap masalah itu adalah masalah yang memang cukup enteng.

"Whew...! Aku tidak terkejut kalo kau bisa tahu, Shikamaru" Kata Sasuke sambil menyeringai kearah Shikamaru. Shikamaru mendesah malas sambil berdecak beberapa kali.

"Mobil hijau didepan milik polisi bukan ? Aku berani taruhan kalo Sasuke-senpai pasti melapor ke polisi karena kalian berempat tidak akan bisa bila kalian berdiri sendiri. Karena kasus ini cukup terkenal maka pasti banyak orang yang melapor dan akan ada banyak berita salah. Dan polisi tersebut kesini karena untuk menjemput Sasuke-senpai bukan ? Artinya Sasuke-senpai pasti telah berhasil menemukan pola pembunuhan sang pelaku sehingga dia bisa dipercaya sebagai detektif oleh kepolisian Konoha. Right ?" Sasuke hanya tersenyum simpul mendengar cerocosan Shikamaru yang memang benar adanya seperti kenyataanya.

"Aku tidak kaget bila kau berhasil mengumpulkan data sebanyak itu" Kata Sasuke sambil berjalan menuju ruang kepala sekolah dimana Tsunade sang kepala sekolah beserta dengan Kobayashi sang kepala kepolisian bertengger.

-0-

"Rupanya dia sudah mengetahui rencana kita" Kata seseorang dengan rambut biru cerah dilengkapi dengan aksesoris sebuah bunga yang terbuat dari kertas. Seorang pria berambut jabrik berwarna orange yang tengah berdiri di atas sebuah tugu pun langsung menoleh kearah gadis berambut biru tersebut.

"Aku tidak terkejut si admin itu bisa mengetahui kita" Ucap si pria berambut jingga tersebut sambil melompat turun dari tugu. Si gadis menghampirinya sambil menatapnya dengan tatapan lembut.

"Pain, kita harus mengubah rencana kita" Kata gadis tersebut pada pria yang ternyata adalah Pain.

"Baiklah, tapi kita harus tanya dulu padanya, Konan" Kata Pain sambil berlalu meninggalkan Konan yang lagi berdiri disana menatap awan yang masih berarak dengan lembut.

"Apakah yang kita lakukan benar ?"

-0-

"Uchiha Sasuke, Hyuuga Neji, Hyuuga Hinata, Nara Shikamaru dan Shimura Sai" Kata Tsunade mencoba untuk mengabsen lima murid sedengnya yang sekarang sedang bertengger di kantornya bersama dengan Kobayashi yang masih duduk disana sambil tersenyum sinis kearah calon detektif barunya tersebut.

"Keberatan, Tsunade-sama. Namanya telah berganti menjadi Uchiha Sai, aku dan dia adalah saudara kembar" Kata Sasuke yang merasa keberatan dengan penamaan Sai yang masih menggunakan marga Shimura.

"Whatever, Uchiha Sai. Kalian berlima akan membantu tugas polisi dengan menjadi detektif yang akan menyelidiki masalah pembunuhan itu. Kalian akan mendapat cuti selama sebulan untuk menyelesaikan kasus ini dan tentunya bila kalian berhasil, kalian akan dapat nilai seratus untuk semua mata pelajaran. Tapi bila kalian tidak berhasil, tugas menumpuk sekian banyak" Cerocos Tsunade layaknya sedang membeberkan strategi untuk main catur yang jumlahnya ampun-ampunan.

"Wah...! Itu keren" Kata Neji sambil nyengir bahagia dan membayangkan bila dapet nilai sempurna kayak gitu. Wuihhh...!

"Keren...!" Gumam Sai yang juga merasa wah gitu. Sebagai seorang murid yang baru saja masuk dan ketinggalan lumayan banyak pelajaran, dapat nilai seratus cukup keren untuknya.

"Senangnya" Kata Hinata sambil tersenyum manis karena itu adalah langkah awal untuk mendapatkan beasiswa.

"Cih...! Kalo gitu doang sih, entar dia juga bisa" Kata Sasuke sambil melirik Neji yang nyatanya masih sekelas dengannya.

"Merepotkan sih, tapi daripada belajar" Kata Shikamaru sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan malas dan sukses di kemplang oleh Tsunade.

"Baiklah, mungkin basa-basinya cukup disini. Kita harus segera bergegas" Kata Kobayashi yang langsung meminta undur diri dengan sangat tidak sopannya pada sang kepala sekolah.

-0-

"Baiklah, kita akan rubah rencananya" Kata Pain yang dengan sangat tiba-tibanya muncul di sebuah ruangan luas dengan beberapa kursi berjajar di sekitar ruangan tersebut.

"Hei...! Hei...! Hei...! Aku kira kita akan fokus pada rencana lama sampai misi ini berakhir dengan sukses" Protes seorang berambut biru tua dengan sebuah seringaian seram dan gigi runcing miliknya.

"Iya, aku mau sedikit bermain dengan para korban" Seorang yang gak jelas wajahnya karena memang wajahnya tertutup oleh topeng lollipop pun ikutan bicara.

"Kau diam saja, baka" Bentak Deidara pada cowok bertopeng tersebut sambil menendang wajah si cowok. Maklumlah, tangannya lagi sakit sehingga dia gak sanggup buat nampol.

"Eh, ngomong-omong Sasori mana ?" Tanya Hidan yang heran juga melihat botol saos tersebut gak nongol dalam rapat perubahan strategi.

"Dia sedang sibuk belajar buat ujian semester" Sahut Deidara yang saat itu masih berusaha menahan hasrat untuk nampol mukanya cowok lollipop bernama Tobi itu dengan kakinya yang masih sehat wal afiat meskipun agak ngilu dikit abis nendang tuh topeng.

"Bisa kau jelaskan kenapa kita mengubah rencana kita ?" Kata seseorang berambut raven panjang berkucir satu yang kelihatannya enam kali lebih serius daripada temannya.

"Hehe...! Janganlah terlalu serius, Itachi" Kata makhluk berkulit biru yang telah kita ketahui bersama dia itu bernama Kisama pada Itachi sambil terkekeh pelan melihat keseriusan Itachi.

"Aku hanya ingin misi ini berlangsung dengan sukses dan cepat terselesaikan" Kata Itachi dengan ekspresi datarnya dan terkesan sangat cool.

"Aku telah menentukan lima target selanjutnya dan kalian akan menangkapnya" Kata Pain sambil membaca sebuah kertas yang baru saja dia tulis.

"Roushi, seorang pengamen jalanan yang mempunyai bakat musik yang hebat. Han, seorang berandalan yang mempunyai tubuh yang kuat. Utakata, seorang detektif dengan kecerdasan yang luar biasa. Fu, seorang penari yang cukup gemulai serta kuat dan yang terakhir aku tidak percaya kita akan lakukan ini, tapi kita harus membunuh adik dari Raikage yang bernama Bee, seorang penyanyi rocker yang sangat terkenal dikalangan anak-anak muda" Kata Pain membacakan list berikut keterangan beberapa target.

"Baiklah, kita harus menangkap target secara berurutan dan tidak boleh ada yang mendahului yang lain atau rencana kita akan gagal sama sekali" Kata Konan mengingatkan kawan-kawan seperjuangannya untuk berhati-hati dengan misi ini.

"Kau tahu siapa target terakhir yang akan kita tangkap sebagai musuh terkuat atau big boss ?" Tanya Itachi pada Pain yang masih berada disana.

"Aku belum tahu, tapi H bilang itu terserah padamu yang penting rencana ini bisa berhasil tanpa terendus kepolisian dan semacamnya" Kata Pain mengingat-ingat pesan atasannya. Itachi tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengungkapkan pendapatnya.

"Gimana kalo si admin itu ?" Tanya Itachi meminta pendapat untuk mengorbankan Sasuke.

"Kita bahkan tidak tahu jati dirinya yang sebenarnya" Kata Pain.

"Tak masalah, asal ada IP Address yang terjaring kita bisa bunuh dia"

-0-

"Jadi, menurutmu siapa target selanjutnya ?" Tanya Kobayashi dengan sangat intens pada Sasuke yang masih menggunakan laptopnya.

"Ini..."

TBC

Makin mbulet aja yak ceritanya. Disini bagian paling serunya adalah mereka belum saling mengenal satu sama lain.

Kayaknya fic ini harus cepat diselesaikan sebelum fic yang diatasnya menumpuk-numpuk didalem pikiran author sehingga autho jadi kebingungan fic mana yang akan author kerjakan lebih dulu.

Saya udah bikin spoiler buat next chapter nih. Moga aja para reader bisa tertarik membacanya

Begin

"Baiklah, kita akan lihat siapa target selanjutnya" Kata Sasuke sambil memencet tombol play pada player kesukaannya.

-0-

"Sial...! Kenapa harus di tunda dulu sih ?" Keluh Neji yang saat itu juga langsung kesal akibat munculnya layar yang sama sekali tak terduga dan tidak mau diduga oleh Neji.

"Apa yang bisa kau simpulkan, Shikamaru ?" Tanya Sasuke sambil menatap kearah Shikamaru setelah mematikan video tersebut.

-0-

"Jika ditilik dari kasus sebelumnya, pembunuh melakukannya dengan sempurna. Bagaimana bisa dia membuat bug yang sangat lemah seperti ini ?" Kata Shikamaru frustasi dengan hasil pemikirannya sendiri.

"Entahlah"

End.

Happy Read