Tiada Yang Mustahil

by: Shin Chunjin

Semua character asli KnB adalah milik Fujimaki Tadatoshi sensei.

Cerita "Tiada Yang Mustahil" adalah milik saya seorang.

Warning alert: typo, ooc, gaje

Enjoy~

Kepada yang mereview, kubalas via PM ya. Bagi guest, akan kurespon di sini~

To: Guest

Halo, ini sudah kulanjutkan. Hehehe, maaf lama.. Terima kasih sudah me-review dan menyemangati. Semoga kau menyukai chapter ini~

To: No name

Halo... Terima kasih sudah mendukung cerita ini.. Semoga suka dengan chapter ini ya~

.

Bagi pembaca yang baru mengikuti, selamat menikmati dan mohon review-nya~

Agar mempermudah mengingat nama OC, akan kutulis di awal mulai chapter ini:

© Hoshina Shiki © Hoshina Yuki © Akabane Renji

© Nashiki Hoshi © Yashiro Ren © Shinobu Ayase

© Mitsuhashi Rin © Shin Nagisa © Cornelia Mastina

© Minami Kaoru © Jyuu Hakuei © Fuwa Yoshino

© Tsuchida Miya © Rosemary Cordia

Selamat membaca!

.

.

Shiki's POV

Aku tak menyangka bahwa Sei-kun tinggal di gedung apartemen sebelah. Memang aku tidak pernah menanyakan di mana ia tinggal sekarang, namun fakta yang baru kudengar ini benar-benar mengejutkan. Aku merasa seperti orang bodoh yang baru sadar kalau tidak tahu di mana calon tunangannya tinggal.

Sambil memandangi undangan pertemuan itu, aku berpikir mengapa aku tidak melakukan apa yang kuputuskan dulu. Menolak untuk ditunangkan. Apa karena calon tunangannya adalah Sei-kun? Apakah ini tandanya aku sangat menyukainya sehingga melupakan niatku dulu?

Sebulan mengenal Sei-kun sebagai calon tunangan membuat hariku berwarna. Kini aku punya kontaknya yang bisa kuhubungi. Ingin rasanya menghubunginya, mungkin untuk menanyakan apakah ia menerima undangan pertemuan itu atau tidak. Namun, hatiku ragu. Layar ponselku yang menampilkan nomor Sei-kun tiba-tiba berganti menjadi layar panggilan.

"Celaka! Apa aku memencet tombol panggil?!" Aku pun panik, namun ketika sadar ada getaran di tangan, aku menghela nafas lega. "Oh, dia yang meneleponku." Tunggu. Dia menelepon?!

Dengan gugup aku memencet tombol untuk menerima panggilannya. "Ha-halo?"

"Kenapa lama sekali."

"Ah, maaf Sei-kun. Aku..." Apa yang harus kukatakan?! "... baru keluar dari kamar mandi!" Astaga, alasan konyol.

"Baiklah. Ada yang ingin kutanyakan. Apa kau menerima.. semacam undangan?"

"Undangan? Maksudmu, undangan pertemuan keluarga?"

"Ya. Jadi kau menerimanya juga. Kapan undangan ini sampai ditempatmu?"

Aku berpikir sebentar. Karena undangan itu sudah ada sebelum aku sampai, jadi mungkin saja sore? "Aku rasa sore, Sei-kun. Undangan itu sudah ada sebelum aku pulang tadi. Mau kutanyakan ke Yuki-nee?"

"Tidak perlu. Kukira kau sudah tahu akan hal ini tapi tidak memberitahuku."

Hee~ Ini perasaanku saja atau memang Sei-kun seperti akan merajuk jika aku melakukan seperti yang dia bilang tadi? "Haha.. Aku baru saja ingin menghubungimu untuk menanyakan hal itu." Shoot! Aku keceplosan!

"Lalu? Kenapa tidak menghubungiku?"

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. "Tiba-tiba aku ingin ke kamar mandi tadi."

"Hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu."

"Eh?!" Tanpa sadar aku berseru. Wajahku memerah mendengar kata-katanya barusan. "B-baiklah Sei-kun.."

"Jaa.. oyasumi Shiki."

"Oyasumi, Sei-kun."

Demikian obrolan lewat telepon pertama kami, diakhiri dengan salam yang cukup manis. Ugh, kurasa malam ini aku akan bermimpi indah.

.

.

Pertemuan keluarga tersebut akan dilaksanakan seminggu lagi. Hari demi hari berganti tanpa terasa. Jadwal kuliah yang lumayan padat, latihan basket dan kegiatan lainnya, tiada hari yang bisa kugunakan untuk bersantai. Tiba hari di mana aku akan 'diresmikan' menjadi tunangan Sei-kun, hatiku gugup.

"Huwaaaa.. apa yang harus kukenakan?!" Aku menatap isi lemari pakaian, yang semuanya adalah kemeja dan celana panjang. "Haruskah aku memakai.. gaun?"

Yuki-nee tiba-tiba melongokkan kepalanya, "Tentu saja. Ayo ke kamarku. Akan kupilihkan yang sesuai denganmu."

Belum aku menjawabnya, Yuki-nee sudah menyeretku ke kamarnya. "Kau pasti bercanda, Yuki-nee!" Namun, penolakanku tidak digubris dan aku hanya bisa pasrah.

.

.

Akashi's POV

Hari ini telah tiba, pikirku. Hari di mana aku dan Shiki akan ditunangkan secara resmi. Aku menghela nafas pelan, tidak percaya bahwa aku tidak menolak pertunangan ini. Apa yang menyebabkanku berubah pikiran? Mungkin aku tertarik padanya pada pandangan pertama. Dia memiliki pribadi yang baik dan menyenangkan, tidak mengejar harta kekayaan keluarga seperti gadis-gadis yang selama ini kutemui.

"Yosh. Pakaian apa yang akan kupakai.." Aku memandangi isi lemari pakaian yang berisi berpasang-pasang pakaian formal. Akhirnya aku memutuskan untuk memakai kemeja putih dan jas hitam, ditambah dasi merah maroon dan sepatu hitam mengkilat sebagai pelengkap.

"Semoga hari ini tidak terjadi masalah," ucapku sambil bercermin untuk yang terakhir kali.

.

.

Aku datang ke tempat yang telah ditentukan di dalam undangan. Masih ada sepuluh menit sebelum pertemuan berlangsung namun aku dapat melihat keluarga laki-laki bersurai hitam telah datang dan sedang mengobrol dengan ayah. Setelah menarik nafas dalam-dalam, aku menghampiri meja tersebut.

"Selamat malam," sapaku dengan sopan.

"Kau sudah datang, Seijuurou. Duduklah, sebentar lagi pihak perempuan akan tiba."

"Baik, Ayah." Aku mengikuti perintah tersebut dan duduk di sebelahnya. Mataku bertemu pandang dengan Himuro dan kami saling mengangguk sebagai salam. Ternyata, kami tak perlu menunggu lama karena tak lama kemudian pihak perempuan tiba.

Awalnya aku bingung kenapa laki-laki diseberangku ini menatap ke arah belakangku dengan tatapan terkejut. Aku pun menoleh ke belakang dan saat itu juga jantungku berdegup kencang. Calon tunanganku cantik sekali! Bukan berarti biasanya dia buruk rupa, namun gaun merah muda yang melilit tubuhnya menambah kesan cerah dan manis. Membuat Shiki tampak sangat cantik. Kembarannya memakai gaun berwarna peach. Mereka duduk di tempat yang tersisa. Shiki memilih duduk disebelahku dan kembarannya di sebelah calon tunangannya. Orang tua mereka bertukar salam dengan sesama orang tua pihak laki-laki.

"Terima kasih sudah mau datang hari ini, Tuan Akashi, Tuan dan Nyonya Himuro." Ayah si kembar membuka pertemuan pada malam ini. Tak sabar, aku sedikit mencondongkan badanku ke samping dan berbisik pada calon tunanganku.

"Kau cantik sekali." Dugaanku tepat, matanya membelalak dan wajahnya merona. Aku berusaha menahan senyum. Geli sekali melihat reaksi salah tingkahnya itu. Ketika aku hendak meraih tangannya, perhatianku teralih dengan suara kakak kembarnya yang memotong pembicaraan para orang tua.

"Ayah, hentikan pertunangan ini!" Sungguh mengejutkan, bahkan Shiki pun tak menyangka kakaknya seperti itu.

"Yuki-nee.. Kau kenapa.."

" Aku tak tahan lagi. Aku tak tega membohongi tunanganku sendiri!"

"Yuki, apa maksudmu?" Tuan Hoshina yang sempat tertegun sejenak menunjukkan emosinya. Perasaanku mulai tidak enak.

"Aku tidak ingin Akashi-kun ditipu selamanya oleh Shiki. Calon tunangan Akashi-kun yang asli adalah aku, namun Shiki memaksaku untuk bertukar tunangan, Ayah," ucap si kakak kembar sambil menangis tersedu-sedu. "Aku merasa tidak tenang jika kami terus seperti ini, Ayah."

Mendengar hal itu, aku segera menoleh ke arah Shiki. Dengan susah payah aku menelan ludah, hatiku sesak meyakinkan diriku sendiri bahwa hal itu tidak benar. Berharap bahwa hal itu tidak benar.

"Yuki-nee.. Aku tidak-"

"Shiki!" Suara Tuan Hoshina menggema di dalam restoran. Beberapa pengunjung menoleh ke arah meja kami dengan tatapan bingung dan penasaran. "Jelaskan apa maksudmu!"

"A-ayah, aku tidak tahu. Aku tidak memaksa untuk bertukar tunangan!"

"Setelah dia tahu calon tunanganku Akashi-kun, dia memaksaku bertukar atau dia akan menolak ditunangkan. Dia mengancam akan merusak pernikahanku nanti, Ayah."

Aku tak percaya. Sungguh, hatiku sakit sekali. Shiki menoleh kearahku. "Itu tidak benar, Sei-kun. Aku benar-benar tidak tahu kalau calon tunanganku dan Yuki-nee tertukar! Percayalah padaku!"

"Apa-apaan ini. Kau pikir keluarga Akashi dapat dipermainkan?" Aku menoleh ke arah Ayah yang telah berdiri dari kursinya. Tatapan matanya yang sangat dingin menatap Shiki, lalu menatapku. "Seijuurou bukanlah mainan. Kuharap kau dapat menyelesaikan masalah ini, Tuan Hoshina."

"Kenapa kau melakukannya, Sayang?" Nyonya Hoshina mencoba menenangkan suasana dengan berbicara lembut pada Shiki, namun usahanya sia-sia karena Tuan Hoshina telah marah besar.

"Kau sungguh memalukan. Apakah Tatsuya kurang bagimu sampai kau tega menyakiti kakakmu?!"

"Aku tidak bermaksud begitu, Ayah!" Shiki yang menahan tangis berpaling lagi padaku. " Sei-kun, aku tidak tahu apa-apa. Dulu, aku memang tidak ingin ditunangkan. Namun, setelah satu bulan mengenalmu sebagai calon tunanganmu, aku menyadari bahwa aku menyukaimu."

"..." Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku melihat Himuro juga sama kagetnya denganku, namun dari tatapan matanya ia terlihat memaklumi apa yang terjadi. Yuki yang setelah menangis pun tidak berkata apa-apa lagi setelah ditenangkan oleh Tuan Hoshina. Hanya Shiki yang kebingungan untuk berkata.

"Sei-kun.." Shiki mengulurkan tangannya untuk meraih lenganku.

"Cukup." Aku menepis tangan itu dengan kasar. "Aku tak mau mendengarkan alasanmu. Kau sangat menjijikkan," ucapku dingin lalu berdiri meninggalkan meja itu.

-to be continue-

Hi minna... Shin's here! Terima kasih telah me-review, membaca, memfavorit, dan/atau memfollow ff pertama saya ini. Akhirnya aku sudah sempat untuk melanjutkannya lagi. Semoga kalian menyukainya. Mohon komen di review~ hehe..

Spoiler for next chapter : rahasia ^^ ditunggu saja ne~

Mohon di-review.. Kritik dan saran apapun akan sangat berguna untuk memotivasi saya.. :D

Semoga kalian menyukai cerita ini~

Please don't be a silent reader.. Press the "Review" button and write what are you thinking about this story. Thank you~

Salam sejahtera,

Shin Chunjin