Baekhyun nampak kepayahan mengangkut tumpukan kardus—yang menjulang tinggi hingga menutupi penglihatannya. Ia meniti satu-persatu anak tangga tanpa berpegangan, susunan langkah hati-hati sangat ia perhatikan. Setelah mengalami beberapa menit krusial itu, Baekhyun segera meletakkan kardus-kardus tadi diatas karpet, kemudian memandangnya dengan sorot lega bersamaan peregangan pada pinggang yang mulai kaku.
"Hah, It's done, Kyungsoo." Mata bulat itu mengerjap senang ketika Baekhyun duduk bersila menghadapnya. "Kau mau membuka kardus yang mana dulu?"
Ya, Baekhyun bahkan rela tidak masuk sekolah selama beberapa hari demi memastikan Kyungsoo baik-baik saja—dan tentu aman dari jamahan Kai.
"Kyungsoo ingin tahu isi kardus yang ada tulisannya Baekhyun properties." Kyungsoo menunjuk salah satu kardus yang ada disebelah kanan Baekhyun. "Boleh Baekkie buka?"
Baekhyun mengangguk, ia merobek plester yang merekat disekeliling kardus itu. Tampak usang dan berkesan lama—hingga Baekhyun melongok kedalam sana.
"Whoa," Baekhyun memekik. "Kau pasti penasaran apa yang kusimpan disini." Setelah iming-iming itu, Baekhyun malah mengangsurkan kardusnya untuk dapat dilihat Kyungsoo.
Kyungsoo menutup mulutnya—merasa takjub. "Ini milik Baekhyun?"
"Yap. Bagaimana? Ternyata dulu aku seorang seniman, ya." Kikikan geli menyusul dalam bayang keduanya. "Coba kau ambil, Kyung."
Kyungsoo menurut, ia lalu memegang satu lukisan—milik Baekhyun dahulu—agar terpampang apik didepan wajahnya. "Lukisan ini tentang apa?"
"Uhm, apa ya?" Baekhyun mencoba mengingat kilas. "Aku hanya sedang kesal saat itu, jadi aku mencampur sembarang warna—dan there it is abstrak."
Tapi, Kyungsoo malah bertepuk tangan. "Kyungsoo juga ingin bisa menggambar yang seperti ini. Kyungsoo mau memberi warna cerah diwajah Appa yang selalu marah dan memberi warna terang juga untuk Umma yang selalu tersenyum." Antusias. Bahkan membuat Baekhyun seolah lupa, bahwa kemarin Kyungsoo baru saja terapit takdir buruk.
"Boleh, asal minum susu dulu, ya." Ibu Baekhyun tiba-tiba hadir dilingkup mereka—dengan membawa nampan berisi dua gelas susu. Ia meletakkannya ditengah-tengah Baekhyun dan Kyungsoo. "Baru setelah itu, Baekhyun akan mengambilkan kuas, kanvas, dan cat airnya."
"Nde," Tidak ada yang memungkiri. Kyungsoo termasuk anak yang terlampau kuat. Ia bisa bersikap segirang ini, ia bisa tersenyum lebar dan—Baekhyun rasa tidak dibuat-buat. Oh, atau dia saja yang tak mengerti, bahwa Kyungsoo sedang berpura-pura, ia membohongi dan ia sengaja menutupi. "Baekkie, ayo bersulang."
Baekhyun tersadar dari lamunan tanpa ujungnya. Ia ikut mengambil gelas susu tersebut dan menabrakkannya dengan gelas susu Kyungsoo yang sudah diangkat ke udara. "Cheers!" Itu bukan suara Baekhyun maupun Kyungsoo, melainkan Ibu Baekhyun yang terlampau senang.
Ya, senang dengan perubahan Kyungsoo beberapa hari ini. Sungguh berbeda tiga ribu derajat.
"Umma," Baekhyun memasang wajah datar. "Tinggalkan kami."
"Nde, nde. Umma hanya mau melihat, kok." Sejak usiran berunsur canda itu, Nyonya Byun meninggalkan anak-anaknya—ya, Kyungsoo kini boleh ia akui sebagai saudara Baekhyun, kan?
"Nah, kita ulang, Kyungsoo." Baekhyun sumringah. "Toss! Cheers!"
Gelas susu milik Baekhyun dan Kyungsoo sama-sama terbentur dan timbulkan suara ting! keras. Baeu setelahnya, mereka meminum susu masing-masing bersama teguk sarat haus. Baekhyun melempar senyum dan gerak mata pada Kyungsoo—momen ini terlalu berharga.
"Ayo, melukis! Yay!"
Kadang Baekhyun berpikir, apakah Kyungsoo semudah ini menghapus ingatan masa lalunya?
"Baekkie? Ayo!"
Karena mendapat kibasan tangan dari Kyungsoo, mau tak mau Baekhyun mengubek beberapa kardus lain. Ia harus menemukan peralatan lukis yang telah lama tak dijumpainya, ia harus membuat Kyungsoo merasa senang—ia akan membuatnya bahagia, kan?
"Semoga cat airnya tidak kering," Kotak warna-warni itu mendapat pandangan harap dari Baekhyun, lalu ia menyodorkannya pada Kyungsoo. "Pilih warna kesukaanmu dulu, ya."
Kyungsoo sibuk mengutak-atik beragam warna ditangannya, ia mengoceh sendiri, selebihnya mengamati dan meneliti heran. Ia berpikir serius. "Menurut Baekkie, kalau Umma masih hidup, dia suka warna apa, ya?" Tapi, di raut itu tidak ada kesedihan yang terpancar. Baekhyun hanya menangkap polos dan lugu, lainnya, Kyungsoo wajar-wajar saja.
Seperti ia lupa—Umma-nya telah tiada. Itu seminggu yang lalu.
"Uhm, mungkin putih—kan suci." Baekhyun menjawab asal.
Bagi Kyungsoo rancu, "Suci itu apa?"
"Suci—suci itu suci. Apa, ya? Yah, bersih dan bersinar." Baekhyun bertampang yakin.
Kyungsoo diam, ia memperhatikan Baekhyun yang mengalihkan diri dengan menyiapkan kanvas, kain, air dan kuas lalu mensejajarkannya beriringan. "Boleh kuasnya dimasukkan ke cat yang ini?" Kyungsoo bertanya sambil menuding warna merah di salah satu lubang palet. Tentu saja Baekhyun mengijinkan.
"Kyung, katamu kau mau memberi warna cerah dan terang?" Baekhyun menyamai posisi telungkup Kyungsoo, mantan tetangganya itu asik terjun dalam dunianya sendiri dan ia disini hanya sebagai penonton.
Kyungsoo menoleh, tapi Baekhyun merasa tatapan ganjal itu mengarah padanya. "Tadinya, sih, begitu. Setelah Kyungsoo pikir-pikir—" Kyungsoo sengaja menggantung kalimatnya, dan Baekhyun sudah waspada jika kuas itu melayang lalu, "Lebih cocok diwajah Baekkie, deh!"
Splash. Ya, bisa dipastikan perang cat dimulai sebentar lagi.
Baekhyun bisa saja mengumpat, tapi setelah Kyungsoo tertawa—ia tidak mungkin menyia-nyiakan hal ini. Biarpun cat itu bersarang dikening dan pipinya, bahkan ia tak peduli jika ruangan ini akan bercecer cat. Ia hanya peduli satu hal, ia hanya membiarkan satu hal—Kyungsoo harus bahagia.
"Ya! Kyungsoo!" Baekhyun menghindar dari terjangan Kyungsoo—yang masih menjejalkan catnya sambil cekikan. "Hentikan atau aku akan menggelitikimu. Ya!"
"Hahaha! Baekkie warna-warni!" Kyungsoo tetap mencipratkan cat-cat itu meski larangan santer berdengung dari Baekhyun. "Ahahah~Jangan membalas Kyungsoo, huuu~!"
"Ya! Kyungsoo!" Baekhyun berteriak lagi, ia menyilangkan lengannya didepan wajah. "Ish, aku akan memanggil Umma—Umma~ Kyungsoo menggangguku!"
Kyungsoo semakin tergelak, bahakannya mengeras seketika. Baekhyun—"Seperti anak kecil."
Tidak. Baekhyun hanya melupakan satu fakta. Ia baru saja menyinggung memori kelam Kyungsoo—Umma, ia tidak boleh menunjukkan, bahwa hubungan Ibu dan Anak disekitar Kyungsoo, pasti membuatnya down.
Mereka tidak jadi melukis. Perang cat terhenti.
Tok—Tok—Tok.
Karena ada seseorang yang mengetuk pintu rumah keluarga Byun.
"Baekhyun, bukakan pintunya!" Suara nyaring Nyonya Byun memerintah dari dapur.
Tidak perlu membalas, Baekhyun segera melesat menuju pintu depan. Kyungsoo ternyata mengekorinya dan ikut menyembul dibalik pintu. Ketika Baekhyun menarik gagang pintu, ia malah memasang raut terkejut sedetik. Tapi Kyungsoo tidak bereaksi macam-macam selain mengedip, ini bukan si orang jahat.
"Kris?"
Don'tJudgeMeLikeYou'reRight
Proudly Present
"When Life Gets Hard"
Chapter Twelve
Cast : Kim Jongin—Do Kyungsoo—Byun Baekhyun—Oh Sehun—Xi Luhan—Park Chanyeol—Wu Yifan—Kim Minseok
Genre : Angst—Hurt/Comfort—Romance
Length : Chaptered
Rate : Mature
© 2016
Summary : Kim Jongin doesn't know how much love means for Do Kyungsoo.
-ooo-
"Ada apa?"
Kris menguap, wajahnya masih tersisa kantuk. "Setidaknya, biarkan aku masuk." Ia bilang begini bukan pada Baekhyun, tapi sorot matanya melayang pada Kyungsoo. "Bagaimanapun, aku tetap tamu."
"Dasar. Masalah itu, kan, urusan Tuan Rumah."
Biar begitu, Baekhyun meminggirkan diri sedang Kris mulai melangkah masuk. Ia mengedarkan pandang sebentar, lalu kembali tertawa ketika ia benar-benar menemukan wajah Baekhyun yang konyol.
"So, can you explain, why your face looks like idiot?"
Eh—Kris salah mengejek. Idiot, adalah kata yang sudah merasuki Kyungsoo sejak ia bertemu orang-orang normal.
"Oh, I mean," Kris bisa merasakan tatapan tajam Baekhyun, tetap saja ia takut Kyungsoo tersinggung. "Kau menggelikan, Baek." Kris menutupi canggungnya dengan meninju lengan Baekhyun. "Mm, jadi—"
Baekhyun bersedekap seraya mempersilahkan Kris duduk di sofa, sementara ia dan Kyungsoo berdiri didepannya. "Jadi, apa?"
"Aku ingin menjemput Kyungsoo."
"Hah?" Baekhyun menuai aksi vokalnya, menuntut protes. "Maksudmu?"
"Yah, masa kau lupa tentang adik sepupuku, Baek?"
Kyungsoo mencermati perbincangan mereka, meski mencerna setiap topik terasa sulit, ia harus paham—karena namanya disebut si pirang itu. Baekhyun bisa merasakan tarikan tangan Kyungsoo di kausnya, dia meminta penjelasan.
"Hm, tidak lupa, sih. Tapi, kau menjemputnya terlalu cepat, dan lagi kita belum mendiskusikan apa-apa." Baekhyun merangkul Kyungsoo—hangat dan berlangsung lama. "Apa kau membuat rencana sendiri, lalu memutuskannya sendiri?"
Kris mengesah, ia rasa Baekhyun melupakan sesuatu. "Aku sudah bilang tentang Xiumin-ssi, kan? Dia siap menampung Kyungsoo."
"Kapan? Terakhir kita bertemu itu saat kau ada didepan rumahku. Kita memang bicara tentang Xiumin, tapi kau tidak bilang tentang tetek-bengek mengungsikan Kyungsoo kesana." Baekhyun mulai tidak terima.
Kyungsoo semakin bingung. Apalagi ini? Ia sudah cukup bahagia dan senang bisa diterima di rumah keluarga Byun. Seminggu berlalu, semuanya baik-baik saja. Kyungsoo dan Baekhyun semakin lengket, Ayah dan Ibu Baekhyun juga selalu menjejalinya makanan dan minuman enak—semua milik Baekhyun bahkan milik Kyungsoo juga.
Tapi, ia mau dikemanakan lagi?
"Tsk." Kris berdecak, "Begini, biar kupaparkan hal negatifnya jika Kyungsoo tinggal di rumahmu." Alhasil, dua pasang mata itu memusatkan atensi pada Kris. "Pertama, Kai akan dengan mudah datang kemari. Kedua, apa tidak jadi beban mental kalau Ayah Kyungsoo selalu sinis dan ketus setiap kali Kyungsoo keluar dari rumahmu?"
Benar. Baekhyun masih bertetangga dengan Ayah Kyungsoo. Tuan Do sering melempar tatapan menusuk pada Kyungsoo saat mereka hendak berjalan-jalan. Meski Tuan Do jarang keluar rumah—paling ia keluar hanya untuk menyiram tanaman atau membeli makanan—tak ayal juga, kehadirannya kadang membuat Kyungsoo ketakutan.
Biarpun Kyungsoo selalu bilang, "Appa kasihan, ya. Di rumah sendiri, pasti sepi. Bagaimana makannya," dan bagaimana yang lain masih banyak lagi.
Benar yang selanjutnya, adalah tentang Kai. Baik Baekhyun maupun Kyungsoo tidak menampakkan diri di lingkungan sekolah, dan itu jelas membuat Kai kelimpungan. Chanyeol selalu memberi penggambaran Kai padanya, tapi tetap saja—Kai masih berkeliaran disekitar sini dan potensi ia berkunjung kemari bisa lebih sering.
Apalagi, trauma benar-benar sudah mendarah daging di diri Kyungsoo ketika sekelebat bayang tentang Kai—datang tiba-tiba. "Kyungsoo tidak mau sekolah, kalau masih ada orang jahat itu."
Crap. Teori Kris terlalu benar hingga tak mampu dibantah.
"Tapi, masa kau tega memisahkan Kyungsoo dengan keluargaku dan aku?" Baekhyun menyendu, ia sudah terlanjur sayang pada Kyungsoo dan melepasnya jelas sangat mustahil.
"Yah, demi Kyungsoo, Baek. Kau dan keluargamu masih bisa mengunjunginya di rumah Xiumin, kan? Siapa tahu Kyungsoo mau bersekolah lagi." Kris melirik Kyungsoo yang terpaku dalam pasung. Kyungsoo tertegun sementara Baekhyun semakin erat memeluknya. "Ayo, kubantu mengemasi barang-barang Kyungsoo."
"Tapi, kenapa kau tidak menanyakan pada Kyungsoo dulu? Dia tidak tahu apa-apa," Baekhyun memandang Kris lagi, berharap si pirang itu mau mencari solusi lain.
Kris akhirnya mendekat pada Kyungsoo, "Ah, aku lupa belum memperkenalkan diri padanya. Halo, Kyungsoo." Tahu-tahu saja tangan besar Kris mampir mengacak puncak kepala Kyungsoo—agak lama dan sangat menghayati. "Wu Yifan, kau bisa memanggilku Kris saja. Tenang, aku tidak berbahaya, aku bukan orang jahat."
Bukan orang jahat.
Bagai semilir angin surga, Kyungsoo perlahan menyeleksi Kris. "Kau—tidak jahat?"
"Tentu. Aku siap melindungi, menjaga, menemani dan menolongmu setiap kali kau membutuhkanku, Kyungsoo." Kris berujar retoris, ia tak ragu mengulas senyum hangat yang tampak segar di mata Kyungsoo.
Seharusnya, Kyungsoo bisa belajar mempercayai orang lain selain Baekhyun. "Kau mau membawaku kemana?"
"Aku akan mengamankanmu, Kyungsoo. Kau masih bisa bertemu dengan Baekhyun, kok."
Seharusnya lagi, Kyungsoo bisa belajar percaya dengan tangan terbuka dan kata-kata menghanyutkan dari oranglain. "Tidak akan ada yang menyakiti Kyungsoo?"
"Jangan khawatir, seincipun tidak akan kubiarkan mereka yang ingin menyakitimu—menyentuhmu."
Bolehkah Kyungsoo mempercayai si pirang ini? Dia yang mengaku bernama Kris, dia yang bersedia menjadi tamengnya dan apapun bahaya yang datang akan ia basmi. Tapi, satu hal yang terbersit dibenak Kyungsoo—adalah kesanksian.
Kris, malam itu bilang dia—kakak Kai. Orang jahat itu.
"Kyungsoo, kami memang tidak bisa semudah itu melepasmu, tapi kami janji akan selalu mengunjungimu—sesering mungkin." Baekhyun menyuarakan nada pasrah sembari menghadapkan tubuh Kyungsoo padanya.
Kyungsoo bungkam—sejuta selnya masih menggali keberanian. Kenapa hidupnya terombang-ambing lagi?
"Baek—siapa yang dat—eh? Temanmu, ya?" Ibu Baekhyun menghampiri mereka di ruang tamu, masih dengan celemek dan noda sabun dibajunya. "Ya ampun, Umma kira pengirim paket dari Busan. Oh, mau minum teh?" Tawaran itu segera disambut penolakan halus oleh Kris.
"Saya kemari hanya ingin menjemput Kyungsoo, ahjumma." Kris sekalian mengutarakan tujuannya seraya membungkukkan badan sopan.
"Menjemput?"
"Nde, karena berbagai alasan yang sudah dipertimbangkan—rasanya Kyungsoo tidak aman jika menetap di rumah anda." Kris tersenyum kikuk. "Bisa anda tanyakan pada Baekhyun nanti."
Sejurus kemudian, Nyonya Byun melempar tanda tanya pada anaknya. "Aku akan menceritakannya, Umma. Situasi dan kondisi sedang genting sekarang." Baekhyun lalu beralih pada Kyungsoo—mereka bahkan sudah saling menangisi. "Nah, Kyungsoo. Kau akan tinggal dengan Xiumin, pasti kau mengingatnya, kan? Dia orang baik, Kyung, jangan takut."
"Ya, dan kami tidak menaruhmu di panti asuhan, kok." Kris menyambung, meski tak ada hubungannya sama sekali. "Aku dan Baekhyun bisa menjamin kau baik-baik saja disana, daripada disini. Ya?"
"Jadi, Kyungsoo tidak akan ada dirumah ini lagi? Kyungsoo dijauhkan, Kyungsoo dihindarkan—kenapa?" Kyungsoo merubung tanya, ia tak mengerti mengapa disaat bahagia telah hadir, sesuatu selalu berusaha menghalanginya. "Disini Kyungsoo masih bisa melihat Appa,"
"Kyung, ayolah. Kalau kau masih memberatkan Appamu, berpikirlah bahwa dia sama sekali tidak memedulikanmu. Kami juga tidak mau orang jahat itu melukaimu lagi." Kris berusaha sabar, Kyungsoo hanya merasa diisolasi akan setiap keadaan. Itu saja. "Mau, ya?"
"Tunggu, siapa yang menyakiti dan melukai Kyungsoo?" Ibu Baekhyun segera memberi pelukan pada Kyungsoo. Sebenarnya, ia juga tak mengerti dengan apa yang direncanakan anak-anak muda ini terhadap Kyungsoo. Tapi, sejak ada kata penjamin Kyungsoo baik-baik saja, ia baru percaya. "Apa dia berbahaya?"
"Umma, nanti aku ceritakan, dan tidak bisa sekarang." Baekhyun bisa melihat raut wajah Ibunya memelas kala Kyungsoo lagi-lagi menangis. "Umma yakinkan saja dulu Kyungsoo—supaya dia mau pindah."
Nyonya Byun mengangguk paham, ia pun memaklumi dengan pilihan tepat—mengikuti alur permainan anaknya. "Kyungsoo-ya, kami janji akan mengunjungimu sesering mungkin. Kalau disana adalah tempat teramanmu, kau harus pergi, Sayang. Jangan takut, banyak orang tidak ingin kau terluka. Kami pun begitu, jangan membuat dirimu sakit dengan menyiksa diri sendiri. Mungkin kau butuh lingkungan baru, ya, Sayang." Lalu kecupan lama itu mendaratdi kening Kyungsoo.
Ish. Bahkan Ibunya ini tidak pernah melakukan hal yang barusan padanya—eh, Baekhyun hanya kelepasan cemburu tadi.
"Nde, Kyungsoo. Aku akan bawakan mainan, alat lukis, gitar, apapun. Kris juga, dia itu jago menggambar, Kyung, lebih hebat daripada aku. Jadi, aku jamin—disana kau pasti jauh lebih bahagia."
Acungan dua ibu jari Baekhyun, membuat Kyungsoo menyusut airmatanya. "Kyungsoo tidak boleh sedih lagi, ya?"
Ya, Kyungsoo tidak perlu merasakan aura gelap, wajah murung dan suasana muram lagi dalam lanjutan usia hidupnya.
Anggukan Baekhyun yang terlampau bersemangat, ternyata ikut bangkitkan gelora dalam diri Kyungsoo. "Janji, ya, Umma, Appa dan Baekhyun selalu mengunjungi Kyungsoo?"
Sekalipun Kyungsoo tetap mengarahkan ingatannya pada seseorang—yang tinggal di rumah sebelah.
"Tentu saja. Lain kali, kita bersama-sama mengunjungi makam Umma-mu, ya." Nyonya Byun mengelus surai dan mengusap bahu Kyungsoo—penuh sayang. "Umma disini pasti sangat merindukanmu, ya. Jangan nakal, jadi anak baik disana. Kyungsoo-ya, pintar, kan?"
Namun, masih sejelas itu bulir bening berjatuhan dari pelupuk Ibu Baekhyun, dengan sigap Kyungsoo malah menghapus lelehan dipipi wanita tersebut. "Uljima, Umma. Jaga Baekhyun, jaga Appa—Baekkie juga tolong jaga semuanya yang ada disini." Giliran Kyungsoo yang menangis sekarang. "Hiks—jaga Appa disebelah juga, ya. Terima kasih, kalian sudah sangat baik pada Kyungsoo—hiks."
Terenyuh. Perasaan itu yang hinggap di dada tiga orang disana, seraya sibuk berpikir—darimana kebesaran hati seorang idiot seperti Kyungsoo? Biarpun pesakitan bertubi menghujaninya, beberapa hal yang ia anggap baik—adalah kenangan sepanjang masa. Ia sayang Ayahnya.
"Pasti, Umma dan Appa pasti menjaga Appa-mu disebelah. Baekhyun juga menjaga kami."
Baekhyun menghambur ke pelukan Kyungsoo, enggan terpisah meski Kris sudah menunggu adegan ini berakhir. Baekhyun bahkan membasahi bahu Kyungsoo dengan airmatanya. "Hiks—Kyung, maafkan aku selama ini, ya. Aku—menyayangimu." Lama, pelukan itu berlangsung sangat lama.
Hingga Kris memecahnya dengan deheman, "Uh, bisa kita bereskan barang-barang Kyungsoo sekarang?"
Ya, dan dengan hal itu—Ibu Baekhyun dan Baekhyun memandangnya tajam.
Sial. Dia baru saja merusak suasana, ya?
-ooo-
Kai berada diantara jubelan murid-murid lain yang hendak memasuki gerbang sekolah. Ia diantara mereka saja, tetap terlihat mecolok. Meskipun Park Chanyeol si tiang itu tidak ada disampingnya sekarang. Kai sempat mengedarkan pandang ke sekolah tetangga.
Euforianya ke sekolah—tidak pernah meningkat sedikitpun. Kecuali jika ada objek menarik.
Tapi, tentu saja tidak ada Kyungsoo. Ah, jangankan Kyungsoo, Baekhyun saja tak tampak batang hidungnya. Haruskah Kai pergi ke rumah Baekhyun—demi menemui Kyungsoo? Itu, urusan mudah, kan?
Ia hanya berharap si mungil itu ada disana.
Kyungsoo, ah. Kai menerawang jauh, matanya dibiarkan silau terkena terik matahari. Si idiot yang kini ia kagumi setengah mati? Entahlah. Entah menjurus kemana, antara seks atau memang murni cinta? Uh, tapi, nafsu dan birahi selalu nomor satu—hal yang berkobar paling panas di dirinya.
"Where's Chanyeol? Dia biarkan aku sendirian disini? Cih," Kai meludah sembarang.
Sejauh matanya memandang, hanya ada siluet murid-murid yang bersenda-gurau—ia, Kai mungkin hanya bisa bersendawa. Apalagi, sejak ia menangkap dua sosok manusia didepan sekolah Kyungsoo.
Salah seorang ia kenal baik, salah seorang lagi ia serasa kenal-kenal asing.
Luhan—mantan gigolonya dan Sehun—si autis teman Kyungsoo.
Pertemuan yang memuaskan, uh?
"Well, seleramu turun drastis, ya, Lu." Kai melipat tangan didepan dada, seringai terbentuk remeh diwajahnya.
Luhan tampak terkejut dengan kedatangan Kai—tapi Sehun tetap diam. "Aku sudah tidak punya urusan denganmu, kan?"
"Oh, hei. Apa Kyungsoo masuk sekolah?" Kai melihat Sehun, anak itu menggeleng sekali dan dari rautnya tetap tak bereskpresi.
Luhan mencebik, "Jangan mencari Kyungsoo lagi, Kai."
"Apa?" Kai berkacak pinggang, angkuh. "Dulu kau ingin mencaci-makinya, sekarang kau berpura-pura mempedulikannya?"
"Aku tidak berpura-pura, Kai." Luhan mendesis tajam. "Jangan menggangguku ataupun Kyungsoo—kami muak, Kai. Kau—!"
Luhan hampir menampar Kai—berkat emosinya yang tiba-tiba meluap—namun, sebuah tangan telah menahan niat itu lebih dulu.
"Whoa, ternyata dia disini sebagai bodyguard-mu, hah?" Kai memandang Sehun dengan tatapan tak terbaca. "Si autis ini tidak terlalu bodoh juga—dia sepertinya menyukaimu, Lu." Setelah itu, tawa mengejek terdengar melengking darinya.
Luhan lebih-lebih tidak percaya. Setelah Sehun menahan tangannya yang sudah di udara, anak itu malah menurunkannya perlahan. Lalu mengajaknya mundur beberapa langkah. "Lulu, ayo antarkan aku ke kelas."
"Oh, Lulu. Manis sekali," Kai menggeleng-geleng dengan wajah dibuat-buat. "Lalu, apa yang kau lakukan disini?"
"Kubilang bukan urusanmu." Luhan membuang wajah, dan mendapati Sehun sedang menarik-narik jaketnya.
"Uh, begitu, ya. Baiklah." Kai masih menyuarakan tawanya. "Omong-omong, kusarankan tempat berkencan yang lebih baik daripada didepan sekolah idiot ini, Lu."
Luhan melotot, kesal. "Seharusnya kau mengerti apa maksudku. Kalau kubilang bukan urusanmu, maka kau tidak perlu ikut campur apapun tentangku, tentang hidupku, termasuk Kyungsoo!"
Teriakan Luhan selalu membuat Sehun terhenyak. "Lulu, aku tidak mau terlamb—"
"Sebentar, Hun. Orang ini harus dibereskan. Sialan, aku membencimu, Kai. Kau selalu saja menghancurkan hidup setiap orang yang bahkan sudah kau sakiti. Aku perlu membereskan—"
"Biar aku yang bereskan, Lu." Setiba-tiba itu sosok tinggi menjulang Chanyeol membelah keributan. "Antarkan saja Sehun ke kelasnya."
Luhan membuang nafas berat, tak serantan. Sedang mata rusanya menusuk mata Kai—si tan itu masih saja bersikap-seolah-tak-ada-apa-apa.
"Brengsek! Kau bejat, Kai, kau biadab! Bangsat!"
"Lu—" Tampaknya Luhan tidak bisa menghentikan amukan murkanya, apalagi jika subjek sasaran tepat didepan wajahnya. Meski Sehun terus mengingatkan, Luhan seolah digelapkan.
"Kalau saja dulu aku tidak mengenalmu, aku bersumpah bahkan untuk melihatmu saja aku jijik!"
"Lu, sudahlah." Chanyeol melerai cakaran Luhan yang berapi-api. Ia menarik Kai mundur bersamanya, sementara Sehun menggandeng Luhan agar masuk ke halaman sekolahnya.
Mereka berpisah—tidak ada tatap muka saling bersiteru lagi.
"Well, kau datang disaat yang tak tepat, Yeol. Biarkan saja dia mencakarku disini, aku ingin tahu bagaimana perbedaan cakarnya—saat ia sedang haus seks dan sedang marah seperti ini."
Chanyeol melengos, ia memendam sedikit kekesalannya. "Kau gila, Kai."
"Yeol, memangnya kau tidak ingin melihat tontonan gratis?" Kai membenahi letak ranselnya, lalu mengangkat sudut bibirnya—lagi. "Tsk, aku jadi ingin menemui Baekhyun."
Chanyeol menegang, "Dia tidak akan masuk sekolah, Kai."
"Aku tahu dia menghindariku—demi Kyungsoo? Cih, kenapa, sih?"
Kenapa, sih? Otak Kai sepertinya sedang korslet.
"Toh, Kyungsoo tahu aku orang baik, kan?"
Chanyeol diam, enggan menyusup sebagai pemancing. Ia pikir, Kai memang mengalami beberapa kerusakan dalam dirinya. Jelas-jelas Kyungsoo sangat takut menemuinya, apalagi namanya jika cap orang jahat yang melekat di diri Kai? Tsk. Ini semakin rumit, sekaligus runyam.
Dan Chanyeol, tidak seharusnya ada dalam lingkaran kebejatan Kai.
-ooo-
Veneno Kris mendapat tatapan terpukau dari Kyungsoo.
Ini berbeda dan hampir mirip dengan milik Kai, Kyungsoo masih ingat seperti apa Gallardo orang jahat itu.
"Kyung, kau mau langsung ke rumah Xiumin, atau jalan-jalan dulu?"
Jalan-jalan. Sudah lama Kyungsoo tidak mendapat ajakan itu. Ia melirik Kris yang fokus menyetir disebelahnya, sesekali memandang lurus ke jalanan atau sekedar mengembangkan senyum ketika orang-orang bercengkerama di trotoar.
"Bagaimana, Kyungsoo? Kenapa diam? Uh, kalau pagi-pagi, tempat apa ya, yang buka?"
Menurut insting Kyungsoo, kecenderungan pekanya terhadap kakak Kai ini—cukup baik. Ia pikir, meski si pirang ini datang tiba-tiba, meski dia tahu-tahu saja terlihat mengkhawatirkannya, lalu membelanya sedemikian rupa. Kris—mungkin tidak berbahaya.
"Uhm, Kyungsoo tidak mau kemana-mana."
Eh—? Kris menginjak rem mendadak, merasa aneh.
"Kau tidak merepotkanku, kok." Yah, Kris pikir mungkin saja Kyungsoo merasa sungkan. "Kau suka apa, Kyungsoo?"
"Tidak tahu." Gelagat Kyungsoo menunjukkan bahwa suasana sekarang terasa asing. Sehingga Kris harus pintar-pintar menyelubungi hati si mungil disampingnya.
"Kau lapar? Mau es krim?" Uh, Kris tahu es krim pasti menjadi momok yang menjanjikan untuk urusan pengelabuhan.
Kyungsoo belum mau menjawab. Ia serius pada dedaunan Mapple yang terbang karena angina Musim Gugur sekaligus beberapa dari mereka yang jatuh diatas kaca mobil Kris. Ia mengamatinya lamat-lamat, perhatiannya tersita penuh disana.
"Kita bisa makan es krim di taman?"
Kris tentu merubah raut wajahnya, menjadi sangat bersemangat. "Tentu saja kita bisa." Dalam hati ia bersorak girang, semarakkan relung hatinya yang selama ini kesepian. "Kita bisa makan es krim di taman—berdua, Kyungsoo." Berdua, terdengar ambigu.
"Baiklah. Kyungsoo mau."
Kadang Kris sibuk menerka, adik sepupunya bisa menemukan sosok malaikat seperti ini—dan anak itu lebih-lebih senang menyia-nyiakannya? Kai memang tak diajarkan seberapa berartinya secuil cinta, hanya secuil bukan sepotong.
Kris segera menepikan Veneno-nya di sebuah area taman—beruntungnya tidak terlalu ramai pengunjung. Ia mengajak Kyungsoo turun kemudian menyusuri jalan setapak berdampingan, dan karena atmosfer ini, Kris tak bisa berhenti menatap lembut pada Kyungsoo. Dia terlalu banyak tertimpa masalah, beban berat dan keras—kapan ada kasih sayang tulus untuknya?
Bolehkah Kris melakukan itu, setidaknya menjadi pengganti Ibu Kyungsoo? Karena saat ia tenggelam dalam mata bulat bersinarnya, saat ia mengagumi bibir hati penuhnya, saat ia merasakan kepolosan dan keluguan Kyungsoo—Kris tak bisa berkutik.
"Kyungsoo mau duduk disana." Telunjuk Kyungsoo mengarah pada bangku kayu tepat dibawah rimbunan pohon Mapple. Ah, Kyungsoo suka dedaunan kuning-cokelat itu menjatuhi dirinya, menghujaninya dan tersampir diatas kepalanya. "Kyungsoo mau berlama-lama disini."
Kris mengikuti Kyungsoo kemanapun ia mau berjalan. Setelah sampai di tempat yang ia maksud, Kris akhirnya mendudukkan diri disamping Kyungsoo. Anak itu mendongak bersamaan tangannya yang menadah—ia menangkap semua daun-daun.
"Baiklah. Aku akan menemanimu." Kris memamerkan senyum terbaiknya, ia tak ingin kehilangan mimik menggemaskan Kyungsoo sekarang. "Kau boleh bercerita pada Kris Gege, ya." Karena Kris tak habis pikir, mengapa banyak orang membenci Kyungsoo?
"Kris Gege?" Kyungsoo mengulang, masih merasa asing.
"Nde, itu namaku."
"Kris Gege, ya?" Kyungsoo terus merapalkan nama si pirang disebelahnya.
Bagi Kyungsoo terasa menenangkan dan bagi Kris terasa alami. Ya, waktu bersama hari ini memang terasa singkat—tapi, bolehkah Kris mensyukuri Kyungsoo bisa semakin akrab dengannya?
"Oh ya, aku melupakan hal pentig, Kyung." Kris menjentikkan jari, gurat dan garis rahangnya berubah antusias. "Es krimmu, astaga, ingatanku benar-benar buruk." Tepukan tangan Kris dijidatnya sendiri, malah membuat Kyungsoo tertawa. "Kau mau rasa apa?"
Kyungsoo melemparkan daun-daun itu ke atas, secara sembarang hingga akhirnya teracak direrumputan. Ia lalu menelengkan kepala, memegangi dagu dan menelisik wajah Kris—si pirang ini lucu juga.
"Kyungsoo suka cookies and cream."
"Kalau tidak ada?"
"Kyungsoo mau vanilla atau chocolate saja."
"Baiklah. Kalau begitu diantara tiga rasa itu, ya." Kris berdiri, ia sempatkan diri mengusak rambut Kyungsoo, membuat anak itu tiba-tiba merona tanpa sadar. "Kau mau ikut atau tetap disini?"
"Uhm, Kyungsoo takut diculik. Kris gege bilang, tadi ingin menemani Kyungsoo."
Kris terkekeh, sepersekian detiknya ia menggamit jemari Kyungsoo—tergenggam lama—dan mengajak sosok rapuh itu berjalan beriringan lagi. "Memang siapa yang mau menculikmu, hm?"
"Yah, mungkin saja. Kyungsoo kan takut, pokoknya jangan tinggalkan Kyungsoo sendiri, ge."
Ah, ini dia. Kyungsoo yang ceria seperti ini adalah sesempurna-sempurnanya dunia. Kris mengakui itu dengan segenap hati. Mereka berlalu bak adik dan kakak, tampak sangat dekat meski waktu membatasi pengenalan keduanya. Ya, kesenangan itu berakhir hingga mereka sampai di sebuah kedai es krim,
"Whoa, pilihan rasanya banyak sekali, Kyung."
"Nde," Kyungsoo mengangguk berkali-kali, matanya sudah berkeliaran memandangi ember-ember es krim yang penuh warna, tangannya menghapus embun di atas etalase es krim tersebut, dan satu lagi yang paling Kris syukuri—senyum Kyungsoo terlalu menghanyutkan. "Kyungsoo jadi bingung."
"Kajja, pilih sesukamu, ya."
Saat Kris ikut melongok, mendadak saja seorang lelaki muncul dari balik sana. "Silahkan, berapa scoop yang diinginkan?" Ia menyapa ramah seraya menggeser kaca di etalase es krim-es krimnya.
"Kyungsoo mau yang Green Tea, deh."
"Tidak jadi cookies and cream, vanilla atau chocolate?"
"Hijaunya lucu, Kyungsoo mau."
"Baiklah. Dua scoop untuk Green Tea, tolong."
Si penjual itu mengangguk. Ia segera menyendok es krim untuk kemudian ia diletakkan di dua cone—meski begitu, Kris menyadari gelagatnya yang memandang aneh pada Kyungsoo. Hei, apa yang salah? Namun setelah pikiran tak berdasar Kris tadi, si penjual mengangsurkan masing-masing cone es krim itu pada Kris dan Kyungsoo.
"Whoa, enak sekali, ge." Kyungsoo sudah menjilat lelehan dingin es krim tersebut. Memang terasa menggelitik di lidah dan itu jelas menjadi sesuatu yang menyenangkan baginya. "Uhm, Kyungsoo lama tidak makan es krim."
Sedang ia berkomentar, Kris menyerahkan beberapa lembar won untuk si penjual es krim.
"Kau mau jalan-jalan lagi atau pulang?"
Kyungsoo tidak menjawab pertanyaan Kris, selain asik menikmati embusan angin Musim Gugur sambil menyeruput es krimnya. Yah, Kris diacuhkan sekarang.
"Kyungsoo, kau—tunggu," Namun saat Kyungsoo benar-benar menengok padanya, Kris bisa melihat noda es krim. "Ada—ehm, sesuatu." Tahu-tahu saja, ibu jari Kris menyapu sudut bibir Kyungsoo.
Kyungsoo mengerjap, Kris mengerling tak tahu diri. Waktu seolah berhenti, hingga mereka terdiam dalam canggung yang cukup lama.
"Oh, mm. Kyungsoo mau—ke rumah Xiumin sekarang saja, deh."
Ya, dan Kris merutuki kebodohannya lagi—karena telah merusak suasana.
-ooo-
Kai tahu benar bagaimana keluarganya. Orangtua itu seperti enggan mengurus seorang remaja laki-laki yang gemar berulah—seperti dirinya. Maka, mereka selalu berdalih sibuk dengan pekerjaan. Di luar negeri, urusan Intelijen, pertemuan penting, rumah fashion—ya, seputar itu saja yang diributkan orangtua Kai.
Ia bahkan tak dianggap oleh keluarganya sendiri.
Bahkan lagi setelah ia menemukan seseorang yang benar-benar terasa pas dihatinya. Ia tak peduli orang itu keterbelakangan, tak peduli orang itu memiliki hidup yang berat dan tak peduli orang itu sangat membencinya—Kai hanya ingin orang itu bertekuk lutut padanya. Yah, meski benih-benih cinta masih gamang ia pertanyakan dalam hati.
Cih, mana mungkin ia cinta Do Kyungsoo selain karena tubuhnya?
"Kai,"
"Hm?"
"Kau melamun? Perhatikan Han Saem atau kau bisa dikeluarkan dari kelas, tahu."
Kai seolah tuli mendadak, ia hanya memandangi jendela kelas yang berbaur embun basah. Biar Chanyeol meneriakinya, Kai tetap menopang dagu. Biar Chanyeol mengguncang bahunya, ia tetap mencoret-coret asal di buku catatannya.
Yap. Karena hanya ada sosok Kyungsoo dalam penglihatannya.
"Kyungie—ah."
Sial. Jika Chanyeol menemui desah itu di suara husky Kai, maka ada yang tak beres. Apalagi, nama yang disebutnya adalah nama yang memenuhi kepala Kai, nama itu adalah nama area tembak seorang hyper seperti Kai.
"Andaikan, kau semudah ini dijangkau. Hah—menarik."
Ini pertanda. "Kai." Chanyeol mengingatkan karena sebelah tangan Kai sudah menyusup ke balik celana seragamnya. "Kim Jongin." Panggilan itu tetap tak berbalas.
"Kau tahu, Yeol, belakangan Kris jarang ada di rumah." Topik mereka bergulir, dan tahu-tahu saja Kai mengajaknya bicara. "Seperti menyembunyikan sesuatu. Hei, dan aku tahu kau mungkin terlibat dalam hal ini. Maksudku, apakah Kris bertemu Kyungsoo?"
Crap. Chanyeol menyekat nafasnya, berpura mengalihkan diri dengan memainkan pulpen.
"Aku hanya ingin tahu satu hal, Yeol." Kai serius dan Chanyeol tidak mau ada dalam perbincangan ini. "Apa kalian memiliki rencana? Misalnya, memindahkan Kyungsoo dari rumah Baekhyun—karena takut aku akan kesana?"
Chanyeol speechless.
"Uhm—aku tidak mengikuti obrolan apa-apa dengan kakakmu."
"Termasuk Baekhyun?" Ada nada curiga terselip di suara Kai.
"Kurasa—ya. Aku tidak berkomunikasi dengan Baekhyun, kok. Sumpah."
Sumpah itu bisa ketahuan seandainya Kai mengecek ponsel Chanyeol. Karena disana, puluhan pesan ia sampaikan pada Baekhyun terkait Kai. Sebalik itu, jika tentang rencana-pemindahan-Kyungsoo, Chanyeol benar-benar buta. Ia tidak tahu mengenai ini.
"Omong-omong," Kai mulai fokus pada Chanyeol dan sejenak meninggalkan jendela disampingnya. "Kenapa kau masih bersahabat denganku, sekalipun Baekhyun sudah memperingatkan kalau aku berbahaya?"
Berbahaya. Chanyeol tahu benar isi kata itu.
"Karena," Chanyeol tampak kesulitan mencari alasan. Matanya bergerak liar sementara tangannya sudah berkeringat. "Karena aku harus bisa merubahmu." Ya, dan entah kenapa kalimat bodoh itu yang tercetus dari mulutnya.
Namun, Kai malah terbahak, gelakannya bahkan enggan berhenti. Itu sebabnya penghapus papan bisa tersasar ke bangku mereka. "Ya! Kim Jongin dan Park Chanyeol! Kalau kalian bosan dengan pelajaran ini, dengan senang hati—silahkan keluar!" Maka, gelegaran dari si tua itu yang membuat keduanya berdiri bersamaan.
Sejak usiran paksa dari kelas tadi, mereka mengakhiri percakapan sekaligus terdiam di selasar koridor. Berdua.
-ooo-
Xiumin segera melempar sembarang majalah—sisa dari pelanggan yang bosan dengan artikel sampah seperti ini—yang sebelumnya ada dalam genggaman. Ia berpacu menuju pintu depan saat bel rumahnya berdenting. Begitu membuka bahan mahoni itu, wajah bulatnya semakin antusias.
Tamu istimewanya telah datang.
"Halo, Kyungsoo. Halo, Kris." Sapaan Xiumin hadir seiring dengan persilahan masuknya kepada dua tamu ini. "Kalian mau minum apa? Ah, maafkan rumahku yang sederhana dan—"
"Apa, sih? Rumahmu keren, kok." Kris buru-buru menyela. Ia menyetop aksi Xiumin yang siap meluncurkan dirinya yang serba minder. "Kyungsoo saja yang minum, aku sudah kenyang."
Kris mendudukkan diri di sofa, sementara Kyungsoo asik mengedarkan pandang di rumah mini barunya.
"Minum saja tidak akan membuatmu kenyang, Kris." Xiumin membiarkan Kyungsoo berkeliling sebentar sedang ia menuangkan limun di teko. "Oh ya, kukira kalian datang pagi. Memangnya kau sibuk, Kris?"
"Tidak." Kris tidak benar-benar berkonsentrasi dengan sambutan Xiumin, ia hanya terpaku pada sosok Kyungsoo yang membelai satu-persatu keramik disepanjang dinding. "A—aku tidak sibuk."
Xiumin mengikuti arah pandang Kris dan ya, segalanya mulai beradu sekarang.
"Hei, Kyungsoo. Kau suka limun?" Secara tak langsung, Xiumin memecah tatapan Kris pada Kyungsoo.
Baru setelah itu, Kyungsoo mengenyahkan dunia penuh dimensinya. Ia menghampiri Xiumin dan Kris lalu duduk ditengah mereka. "Kyungsoo mau segelas saja."
"Well, Kyungsoo saja mau. Jangan berlagak seperti sekarang adalah Musim Panas, Kris." Lalu, Xiumin menyodorkan segelas limun permintaan Kyungsoo tadi. Sesegera itu Kyungsoo meneguknya dengan tempo cepat, "Enak, Kyung?" dan Kyungsoo mengangguk kecil.
"Yah, terserah kalau kau memaksa." Kris akhirnya menerima suguhan limun dari tangan Xiumin bersama wajah bersungut-sungutnya. Setelah menyeruputnya sedikit, ia bergumam, "Sepertinya aku harus pulang lima menit lagi."
"Katamu kau tidak sibuk."
"Aku bukan sibuk, tapi aku sudah meninggalkan kelas dan dosenku dua hari ini, Xiu."
"Oh, benar. Aku tidak tahu rasanya kuliah, sih."
Xiumin lalu pergi ke dapur, mengambil beberapa kudapan untuk Kyungsoo, sedikit-banyak omongan Kris tentang kuliah membuatnya ling-lung. Ia hanya ingin tahu rasanya mengenyam bangku perkuliahan—sayang, biaya nyaris seperti tong kosong. Sementara itu, Kris dan Kyungsoo hanya bisa melempar pandang seraya menunggu sekembalinya si Tuan Rumah.
"Nah, Kyung, anggap rumahmu sendiri, ya. Ini ada cupcake yang tadi pagi kubuat. Ah ya, Kris, jangan lupa barang-barang Kyungsoo." Xiumin datang dengan piring-piring berisi kue mangkok berpenampilan cantik, dan tentunya menggugah selera Kyungsoo.
"Aku sudah meletakkannya diterasmu." Setelahnya, Kris beranjak dari dudukan. "Uhm, mata kuliahku hampir dimulai, aku pamit pulang, ya." Ia melirik Kyungsoo, lalu tangan besarnya mampir mengacak rambut kecokelatan itu. "Dah, Kyungsoo. Baik-baik disini, repotkan saja si Xiumin ini. Aku dan Baekhyun pasti sering kemari."
"Hm, hm. Jadi, yang punya rumah tidak dipamiti?" Entah sejak kapan, Xiumin berani bertindak kurang ajar pada Kris—tapi, si pirang ini sudah seperti teman lamanya. "Ya, aku bisa saja melarangmu bertemu Kyungsoo, Kris."
Kris hanya mendengus, "Oke. Kris mau pamit pulang, Tuan Muda Xiumin." Ujarnya seraya membungkukkan badan, dan dengan kelakuan itu Kyungsoo terkikik geli.
Sedangkan Xiumin tertawa puas bisa mengerjai orang terhormat sekelas Wu Yifan. "Baiklah. Kupersilahkan."
"Sialan." Umpatan Kris malah mendapat delikan dari Xiumin. "Ha-ah. Aku hampir telat, jadi sampai jumpa besok." Ia melambai dan menghilang seketika dibalik Veneno-nya.
Xiumin sempat tergila-gila dengan kemewahan mobil Kris, tapi ia segera membuang pikirannya dan berbalik menemui Kyungsoo.
"Kyungsoo-ah. Kajja, biar kutunjukkan kamarmu. Kau pasti lelah dan butuh istirahat." Xiumin menuntun Kyungsoo memasuki rumahnya. Kyungsoo pikir, bangunan dan penghuni disini benar-benar sesuai perasaannya—lembut, halus, kasih sayang—itu yang ia butuhkan. "Oh ya, kau sudah makan?"
Kyungsoo hanya sibuk menjelajahi setiap ruang yang ia lihat. Sebagian besarnya penuh dengan pajangan dan bingkai foto. Hingga Xiumin menemaninya menuju lantai dua, lalu melewati beberapa lorong sempit, dan ini kamar Kyungsoo.
"Kamar Kyungsoo?"
"Yap."
"Bagus sekali. Whoa,"
Kyungsoo bisa lihat cat dindingnya berwarna biru muda, perabotan sederhana seperti ranjang, meja belajar, lemari dan kursi. Jendela besar dengan tirai tersibak tampak segar dipandang, belum lagi karpet beludru ditengah ruangan. Xiumin mempersiapkan kamar ini dengan baik, ia menyambut Kyungsoo benar-benar dengan ketulusan.
Xiumin mengajak Kyungsoo masuk, lalu mereka duduk ditepian ranjang. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Kyung, kau sudah makan?"
Lagi-lagi Kyungsoo tidak menggubris Xiumin, ia bangkit untuk kemudian menghampiri meja belajar—yang dipenuhi foto seseorang. Kyungsoo meraba deretan abadi wajah itu, anak lelaki seumurannya.
Xiumin terdiam, ia lama memandangi Kyungsoo. "Dia Jaehyun. Kim Jaehyun, yang dulu pernah kuceritakan padamu. Kau ingat?"
"Adik Xiumin Hyung?"
Ah, Xiumin hanya tak menyangka Kyungsoo ternyata masih ingat. Dan lagi, ia memanggil namanya dengan embel-embel Hyung? Ini kemajuan.
"Dia sudah pergi ke tempat Umma Kyungsoo, ya?"
Kyungsoo masih disana, ia menarik kursi lalu mendudukinya dengan tenang. Mata bulatnya masih menatap lurus-lurus pada foto Jaehyun.
"Kalau dia masih hidup, dia seumuranmu, Kyung." Xiumin menyambung tanpa mau mengklarifikasi tanya Kyungsoo sebelum ini. "Tapi, kehadiranmu disini sudah seperti Jaehyun. Kau memang tidak bisa menggantikannya, setidaknya kau bisa menjadi pelipur lara untukku, Kyungsoo."
Kyungsoo tidak mengerti tentang ujaran Xiumin barusan. Karena yang ia tahu, Xiumin pernah merasa kehilangan—sama sepertinya.
"Uhm, Kyungsoo mengantuk." Kyungsoo mengucek ekor matanya, lalu memberengut samar saat Xiumin masih duduk di ranjangnya. "Boleh tidur?"
"Oh, tentu saja." Xiumin segera menyingkir saat Kyungsoo mulai membaringkan tubuh. Ia pikir, Kyungsoo sedang tidak ingin membicarakan hal berat, dan rasanya curhat pada anak idiot itu—tidak berarti apa-apa. Xiumin hanya salah memperhitungkan. "Kalau begitu, kau harus makan nanti sore, ya. Nanti aku akan membangunkanmu."
"Ya. Kyungsoo takut merepotkanmu." Ungkapan itu ada ketika Kyungsoo memiringkan tubuhnya, sengaja membelakangi posisi berdiri Xiumin. "Kyungsoo merepotkan banyak orang."
Xiumin menggeleng tanpa disaksikan Kyungsoo. "Aku dan mungkin mereka—tidak pernah mengusik hal yang seperti itu, Kyungsoo. Kami tulus melakukannya karena kau butuh. Jadi, anggap saja kami keluarga barumu."
Bagi Kyungsoo, sebaik apapun keluarga barunya—Umma dan Appa-nya adalah hal utama dari sekian hal yang ia kesampingkan.
"Kyungsoo mau tidur."
"Kau bisa tidur, Kyung." Xiumin menaikkan selimut Kyungsoo sebatas bahu, lalu berjalan membuka pintu kamar. "Selamat siang."
"Nde, selamat siang."
Toh, Kyungsoo hanya berkedok sesaat. Ia tidak mungkin tertidur di jam siang seperti ini. Ia hanya ingin menyendiri di tempat sunyi nan senyap, sepi dan ia butuh merenungkan banyak kejadian.
Kyungsoo menerawang langit-langit kamar. Ini ruangan milik adik Xiumin—Jaehyun. Kyungsoo tidak mengenal siapa dia, tapi cara Xiumin menyebut namanya seolah mendatangkan haru bagi Kyungsoo. Dan ia sadar, Xiumin memperlakukannya seperti dia bukan Kyungsoo.
Kyungsoo disini menjadi Jaehyun? Entahlah.
Kyungsoo juga merindukan rumahnya—Appanya. Kyungsoo juga merindukan pusara—Umma-nya. Ia merindukan rumah Baekhyun dan teman-teman di sekolahnya, termasuk Sehun. Semua hal yang ia lalui, terlewat begitu saja.
Sejak orang jahat itu mulai menghantui hidupnya.
Tapi, Kyungsoo suka suasana rumah ini. Terasa baru. Tapi, Kyungsoo lebih-lebih suka hari ini. Karena Kris ada untuk menghiburnya. Meski bukan menjadi badut, bukan membawakan puluhan balon atau apapun, Kyungsoo rasa—si pirang itu mampu sedikit membuatnya lupa akan—Kai?
Sayangnya, ia masih dibayangi ketakutan.
Kai, masih menjadi momoknya sampai kapanpun.
-ooo-
Gallardo Kai terparkir rapi tepat didepan rumah Baekhyun. Ia sengaja membolos jam pelajaran terakhir demi harapan tak pupus bisa bertemu Kyungsoo. Nalurinya sudah menyatakan, bahwa ia membutuhkan hal-hal berbau dewasa ini lagi. Namun, ketika Baekhyun keluar rumah bahkan sebelum Kai memencet bel, disana sang pemilik rumah tercengang.
"Kai?"
"Kenapa kau tidak sekolah?" Kai buru-buru menyemprot seakan Baekhyun telah melakukan kesalahan. "Kau kemana saja—masih mengurusi Kyungsoo?"
"Pergilah."
Usiran Baekhyun tentu tidak mempan bagi Kai. Saat Baekhyun hendak menggeser pagar rumahnya, Kai sudah lebih dulu menghalangi jalannya, terblokir. "Aku butuh bicara denganmu, Baek."
"Kalau kau mencari Kyungsoo, ia tidak ada disini—dan lagi, jika kau mendesakku untuk memberitahu dimana Kyungsoo, aku tidak sudi melakukannya." Baekhyun menyentak pegangan tangan Kai dilengannya. "Menyingkirlah, aku harus pergi."
"Kumohon, besok masuklah ke sekolah. Aku—aku—aku tidak membicarakan Kyungsoo, Baek."
Karena Baekhyun telah sensitif. Hei, baru saja Kim Jongin memohon padanya untuk pergi ke sekolah?
"Aku akan sekolah, jika keadaan sudah memungkinkan."
"Memangnya kau tidak takut ketinggalan pelajaran?"
"Kenapa kau mengurusiku?"
Kai frustasi dengan sikap mantan sahabatnya ini. Ia begini karena beberapa hal perlu dituntaskan. Seperti memperbaiki hubungannya dengan Baekhyun, pasti mempermudah jalannya mendapatkan Kyungsoo, kan? Ia harus membujuk rayunya, sekali lagi.
"Byun Baekhyun, aku dan Chanyeol memerlukanmu."
Baekhyun mengerutkan hidung, "Perlu? Jangan bicara omong-kosong."
"Siapa yang bicara omong-kosong? Aku hanya memintamu ke sekolah, kok."
Kai bersikeras. Tapi Baekhyun tetap mengabaikannya. Rasanya akan sulit mengembalikan Baekhyun yang dulu—gengsi, penjaga imaji, angkuh, dan sombong. Semuanya berubah, setelah Kai menyadari kehadiran Kyungsoo berpengaruh besar.
"Aku mau pergi. Jangan halangi jalanku." Ketus dan sinis. Itu simbolik Baekhyun membenci Kai ada disekitarnya. "Sudah cukup kau menyakiti dan melukai Kyungsoo, sekarang jangan ganggu kami lagi."
Pada akhirnya, Kai mempasrahkan diri ketika Baekhyun bergerak menjauh darinya. Punggung sempit itu membuat Kai melayangkan ingatan—disaat mereka bersama, bertiga dengan Chanyeol. Bukankah seindah-indahnya masa bersamaan rajutan mimpi atas belenggu sahabat?
"Ya! Byun Baekhyun! Setidaknya, jangan lupakan apa yang sudah terjadi diantara kita!"
Teriakan Kai berbentuk corong, sehingga terdengar keras meski jarak Baekhyun berada di radius seratus meter. Baekhyun menghentikan langkah, tapi tetap enggan berbalik. Diantara kita. Klise? Entahlah.
Hanya—kenangan itu terputar begitu saja. Ketika semuanya baik-baik saja, ketika mereka belum mengenal Kyungsoo hingga sederet peristiwa berjejer mengerikan.
Merusak ikatan persahabatan? Tidak ada yang tahu.
-ooo-
To Be Continue.
Author's Note : Oh! Happy 2K16 ! NEW YEAR NEW SELF! BE BRIGHT!
Hell, where's KaiSoo moment? Oh, gosh. I'm so sorry for this chapter, they are not meet each other yet. So, I change that with Krisoo moment, ahaha~ how? I think its not really easy for make a cheesy moment between them, idk. But, I hope you still enjoy this story.
Chapter ini—santai, ya.
Kyungsoo sudah pindah bareng Xiumin, deh. Kai masih mencari jati diri sama perasaannya ke Kyungsoo dan ada tanda-tanda Kris suka Kyungsoo. Maafkan lagi karena Kai munculnya sempil-sempil doang di chapter ini, uhuk—demi Krisoo—gapapa, kan, Kai-ssi?
Chapter ini—alurnya kecepetan ngga?
Hehe, yasudahlah. Aku lagi kesel sama ffn yang error mulu. Masa review readers-nim ngga kebaca meskipun angkanya bertambah. Kan kesel. *kilascurhat* Ada yang tahu ini gimana benerinnya? Apa dibiarin dan ditungguin aja?
Then, happy ending? I still discuss the ending with myself. Ahahah~
SEE YA ON NEXT CHAPTER!
Sincere,
-Don'tJudgeMeLikeYou'reRight-
p.s : Mau tanya-tanya, silahkan kunjungi ask fm aku di dontjudgemelikeyoureright
