Eclipse

.

.

a BTS Fanfiction

Kim Namjoon x Kim Seokjin (GS!)

Kim Taehyung x Kim Seokjin (GS!)

.

.


Warn!

Fantasy, AU, GS. NamJin with TaeJin


.

.


Read at your own risk


.

.


Part 11: Scrabble


Seokjin duduk bersila di lantai dengan sebuah album foto yang terbuka di hadapannya. Siang ini dia memutuskan untuk memeriksa album-album foto lama karena dia benar-benar senggang dan sangat tidak memiliki kegiatan. Seokjin sedang malas keluar dan karena dia tidak tahu apa yang haru dia lakukan untuk menghabiskan waktu, Seokjin memutuskan untuk memeriksa album foto lama.

Tangan Seokjin bergerak membalik lembaran album sementara tangan yang satunya memegang apel yang sesekali akan dia gigit. Seokjin membalik album foto masa kecilnya dan tersenyum tipis melihat dirinya yang berada dalam foto, terlihat bahagia dan polos.

Yah, siapa yang menyangka gadis kecil itu akan tumbuh menjadi seorang wanita yang mengalami dilema hebat karena seorang werewolf dan vampire?

"Seokjin,"

Seokjin mendongak saat mendengar seseorang memanggilnya dan dia melihat ibunya berdiri tak jauh darinya dengan senyum lembutnya seperti biasa.

"Ya, Mom?" ujar Seokjin, dia melihat ibunya berjalan menghampiri Seokjin dan ikut duduk di lantai bersamanya.

"Kenapa kau mendadak pulang ke rumah?" tanya ibu Seokjin.

Seokjin terdiam sebentar, dia sudah menyiapkan alasan untuk pertanyaan ini. "Namjoon pergi keluar negeri untuk urusan pekerjaan dan aku tidak suka ditinggal sendiri di rumah." Seokjin tersenyum lebar, "Dan karena aku tidak diizinkan ikut dalam perjalanan bisnisnya, aku memutuskan untuk pulang ke sini."

Ibunya mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Seokjin, "Begitukah?"

Seokjin mengangguk, berusaha sekuatnya untuk memasang ekspresi meyakinkan agar ibunya percaya.

Ibu Seokjin tersenyum padanya, "Baiklah kalau begitu, Ibu hanya bingung karena kau tiba-tiba datang tanpa menghubungi terlebih dahulu, kau bahkan tidak membawa barang-barang apapun selain dompet, ponsel, dan paspor."

Seokjin tertawa canggung, "Ah, itu karena aku masih punya barang-barangku di sini. Aku meninggalkan banyak pakaian ganti dan lain-lainnya di sini, jadi untuk apa merepotkan diri sendiri dengan membawa koper?"

"Yah, itu benar juga." Ibu Seokjin mengintip ke arah album di pangkuan Seokjin, "Kau memeriksa album foto lama?"

Seokjin menunduk menatap album foto di pangkuannya, "Uuh, ya. Kurasa tidak ada salahnya bernostalgia sedikit." Dia membalik halaman album foto, "Oh, lihat! Ini foto saat aku bayi."

Seokjin melihat foto ibunya yang duduk dalam sebuah kamar rumah sakit dengan seorang bayi dalam pelukannya. Seokjin tersenyum lebar, "Ibu terlihat bahagia, itu pasti karena aku sangat cantik ketika lahir."

Ibu Seokjin tertawa mendengar penuturan Seokjin. "Yah, itu memang benar, kau sangat cantik. Mata birumu benar-benar membuat kami terpesona."

Seokjin mengangguk dengan senyum lebar di wajahnya, dia menggeser pandangannya ke arah foto di bawah foto tadi dan dia melihat foto ibunya lagi saat sedang menggendong bayi. Seokjin memperhatikan foto itu dan foto sebelumnya, Seokjin melihat ada yang berbeda dari kedua foto itu.

"Ibu,"

"Ya?"

"Kenapa pakaian dan latar belakang kedua foto ini berbeda? Bukankah keduanya sama-sama foto saat aku baru lahir?" Seokjin mendekatkan album itu ke wajahnya dan memperhatikan tiap detail foto, di foto pertama ibunya terlihat memakai piyama rumah sakit berwarna merah muda polos dan di foto kedua ibunya memakai piyama rumah sakit berwarna biru muda lembut dengan corak bunga-bunga kecil di pakaiannya.

Kamar yang ditempati ibunya di foto pertama memiliki jendela besar di belakangnya sementara di foto kedua hanya ada jendela yang berukuran tidak terlalu besar. Selain itu di foto pertama Seokjin melihat boks bayi lain di belakang ibunya sementara di foto lain tidak ada boks bayi.

"Ibu?" panggil Seokjin lagi karena ibunya tidak menjawab.

Seokjin melihat ibunya terdiam dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak sampai kemudian wanita itu menghela napas pelan. "Kedua foto ini berbeda karena.. ini memang diambil di dua rumah sakit yang berbeda.

"Apa? Kenapa?" tanya Seokjin.

"Sehari setelah kau lahir, terjadi kebakaran besar di rumah sakit tempat kau dan Ibu dirawat. Semua pasien diungsikan keluar, namun banyak korban jiwa saat musibah itu terjadi." Ibu Seokjin menghela napas lagi, "Ada banyak korban dan salah satunya adalah.. adik kembarmu."

Seokjin membulatkan matanya, "Apa?! Adik kembarku?!"


.

.

.


Namjoon berjalan masuk ke dalam rumahnya setelah selesai berburu semalaman, kebiasan para werewolf di malam bulan purnama adalah pergi berburu jantung manusia untuk dimakan, ritual perburuan yang hanya akan terjadi tiap malam bulan purnama dan hanya dilakukan satu kali. Namjoon membuka pintu rumahnya dan dia tertegun melihat seseorang tengah berdiri di dalam rumahnya dan menatapnya.

Itu adalah werewolf anaknya dengan Omega dalam pack mereka, Jimin.

"Jimin?"

Jimin tersenyum tipis, "Dad," bisiknya.

Namjoon berjalan masuk lebih jauh, tidak biasanya Jimin mau pergi ke rumah utama. Sejak ibu Jimin meninggal kala melahirkan adiknya, Jimin tidak pernah lagi mengunjungi rumah utama. Walaupun Namjoon tiap pagi pergi mengunjungi makam Omega itu dan juga makam adik Jimin, Jimin tidak pernah muncul. Dia tidak mau bertemu Namjoon lagi dan Hoseok mengatakan pada Namjoon itu terjadi karena Jimin merasa sejak awal Namjoon memang tidak menginginkan Jimin dan ibunya.

Yah, Namjoon bisa mengerti kenapa Jimin berpikiran seperti itu.

"Ada apa, Jimin?" Namjoon berjalan semakin dekat ke arah Jimin namun Jimin menggeleng dan membuat Namjoon berhenti melangkah menghampirinya.

Jimin menarik napas dalam, "Apa benar Seokjin pergi dari rumah ini?"

"She's your mother, Jimin." ujar Namjoon memperingatkan, karena Jimin adalah keturunan Namjoon, maka secara otomatis Seokjin adalah ibunya, Namjoon tidak tahu apakah Seokjin mau menerima fakta itu atau tidak, tapi itulah kenyataannya.

Jimin menggigit lidahnya, dia menarik napas dalam. "Okay, apakah Mama pergi?" Jimin tidak akan mau memanggil Seokjin 'Mommy' karena begitulah dia memanggil ibunya yang telah meninggal.

Namjoon mengangguk, "Dia pulang ke rumah orang tuanya."

"Apakah itu karena aku? Apa dia tidak bisa menerima Daddy sudah memiliki anak bahkan sebelum dia mengenalmu?" tanya Jimin dengan suara parau.

Namjoon menggeleng, "Tidak, bukan itu alasannya."

"Dia pasti marah kan saat tahu bahwa Daddy sudah memiliki Omega? Aku bisa merasakannya saat kami tidak sengaja berpapasan, dia tidak tahu aku adalah werewolf anak dari Omega itu dan Daddy, tapi aku bisa merasakan kemarahannya." Jimin menarik napas dalam, "Dia pasti membenciku, kan?"

"Dia tidak akan membencimu." Namjoon berujar yakin.

"Kenapa tidak? Dia pantas membenciku, apalagi aku masih hidup dengan sehat di dunia ini."

"Jimin!" bentak Namjoon kemudian dia menghela napas pelan, "Kau adalah anakku dan itu tidak akan berubah. Ya, ibu dan adikmu memang sudah tidak ada di dunia ini namun itu tidak akan mengubah fakta bahwa kau tetap anakku. Dan Seokjin tidak mungkin membencimu."

"Kenapa kau bisa begitu yakin?!" sentak Jimin balik.

Namjoon menarik napas dalam, "Karena dia ibumu."

Jimin terdiam, dia menutup mulutnya rapat-rapat kemudian menatap Namjoon marah. "Ibuku sudah tidak ada di dunia ini." ujarnya kemudian Jimin berlari keluar dari rumah.

Jimin tidak tahu dia mau kemana, dia hanya berlari sekuatnya untuk menjauh dari Namjoon dan dari seluruh packnya. Ketika Jimin lahir, semua orang menatapnya dengan pandangan kasihan, karena mereka tahu ayah dan ibunya menikah karena tekanan pack, ayahnya belum menemukan pasangannya sementara Alpha sebelumnya ingin memberikan posisi itu pada ayahnya.

Ayahnya tidak punya pilihan, Jimin tahu itu.

Namun dia tidak bisa menahan amarah dalam dirinya ketika ayahnya tidak mempedulikan dia dan ibunya sama sekali dan justru semakin terobsesi mencari Lunanya yang belum juga ditemukannya. Jimin tahu ibunya sakit ketika mengandung adiknya, Namjoon juga tahu itu, tapi dia hanya menugaskan seorang werewolf untuk mengurus ibunya dan meminta werewolf itu untuk memastikan ibu Jimin mendapatkan perawatan dokter.

Lalu akhirnya, ibu Jimin meninggal bersama adiknya, meninggalkan Jimin sendirian di dunia itu.

Jimin tidak menyukai ayahnya dan menolak untuk tinggal di rumah utama bersama ayahnya. Jimin memilih untuk tetap tinggal di rumahnya dan ibunya dulu, namun setiap kali Namjoon datang berkunjung karena dia pasti pergi ke makam ibunya dan adiknya tiap pagi, Jimin selalu pergi.

Jimin tidak lagi berbicara dengan Namjoon sejak hari itu, jika ada satu hal yang ingin disampaikan Namjoon padanya, maka itu harus melalui Hoseok. Hoseok akan pergi menemui Jimin dan menyampaikan apa yang ingin dikatakan Namjoon padanya, dan hal terakhir yang disampaikan Namjoon adalah bahwa dia akan menikah dengan Seokjin dan dia mengundang Jimin untuk datang.

Ya, Jimin adalah satu-satunya anggota pack selain Hoseok yang diundang ke pernikahan Namjoon dan Seokjin.

Namun jelas saja Jimin menolak, dan itu membuat Hoseok memutuskan untuk tidak datang juga karena dia tidak mau meninggalkan Jimin sendirian.

Jimin berhenti melangkah saat sudah berada sangat jauh di dalam hutan, dia berhadapan dengan padang rumput penuh bunga liar di depannya. Dahi Jimin berkerut saat dia tidak mengingat tempat semacam ini di wilayah Namjoon. Jimin menatap sekeliling dengan bingung, padang penuh bunga liar itu terlihat begitu indah namun juga begitu sepi dan dingin.

"Kalian para werewolf harus belajar apa itu makna teritori. Jika kalian terus melanggar batas wilayah teritori seperti ini, jangan salahkan kami jika kami menyerang kalian."

Jimin berbalik dengan gerakan cepat saat mendengar suara di belakangnya dan dia melihat seorang pria dengan kulit sangat pucat berjalan menghampirinya yang masih mematung di pinggir padang bunga itu. "A-apa maksudmu?"

Pria itu menghela napas pelan, "Ini wilayah vampire, bodoh." Dia memperhatikan Jimin dari atas ke bawah, "Aku tidak pernah melihatmu dalam pack Namjoon, anggota baru?"

Jimin menggeleng, sejak dia lahir dia memang cenderung 'disembunyikan' dalam pack dan tidak pernah pergi keluar wilayah pack. "T-tidak kok."

Pria berkulit pucat itu memiringkan kepalanya, "Oya? Siapa namamu?"

Jimin terlihat semakin takut, dia tidak pernah memiliki pengalaman berhadapan dengan vampire sebelumnya dan jika melihat dari betapa tenangnya vampire ini berbicara dengan werewolf sepertinya, Jimin bisa menduga bahwa dia masuk dalam jajaran vampire yang tinggi.

Pria itu memasang wajah bosan padahal di hadapannya Jimin gemetar ketakutan. "Aku Yoongi, aku tangan kanan Count Dracula, jika kau ingin tahu."

Jimin terkesiap dan wajahnya memucat.

"Aku tidak tertarik untuk berkelahi denganmu jika itu yang kau takutkan." Yoongi berujar tenang saat melihat Jimin semakin gemetar ketakutan di hadapannya, "Kau belum pernah bertemu vampire? Kenapa begitu tegang?"

Jimin berusaha mengumpulkan suaranya yang terasa seperti hilang, "Aku.. aku tidak pernah keluar wilayah pack."

Yoongi mengangguk paham, "Ah, wajar saja kau terlihat sangat tegang." Yoongi melipat tangannya di depan dada, "Dengar, karena ini adalah pertama kalinya kau melanggar teritori, maka aku akan membiarkanmu dan tidak membahas ini dengan Taehyung, kau bisa kembali ke packmu dan jangan pernah masuk ke wilayah territorial kami lagi. Kau mengerti?"

Jimin mengangguk.

Yoongi tersenyum puas, "Kau bisa kembali ke packmu jika berjalan lurus dari sana." Yoongi menuding ke satu arah, "Danau yang kau temui nanti adalah penanda wilayah packmu. Ketika kau masuk ke danau itu, itu sudah wilayah packmu dan anggota klanku tidak akan marah."

"Terima kasih.." bisik Jimin, dia berjalan menuju arah yang ditunjuk Yoongi namun sebelum dia pergi Jimin menyempatkan diri untuk melirik Yoongi lagi. "Namaku.. Jimin." bisiknya sebelum kemudian dia melesat pergi ke dalam hutan.

Yoongi menghela napas pelan, "Tidak heran dia tidak pernah keluar dari pack, dia terlalu polos." Yoongi mengangkat bahunya, "Yah, mungkin jika aku bertemu Seokjin atau Hoseok aku akan menanyakan soal anak itu pada mereka."


.

.

.


Jungkook berjalan keluar dari pintu belakang restorannya untuk membuang sampah, restorannya sedang tidak terlalu ramai dan ayahnya ada di dalam jadi Jungkook rasa dia bisa keluar sebentar untuk membuang sampah yang mulai menumpuk di dalam. Jungkook menyeret plastik besar berisi sampah itu menuju kotak sampah besar di belakang restorannya, namun ketika Jungkook hendak membuka tutup kotak sampah itu dia terhenti saat menyadari seorang pria yang berdiri tak jauh darinya dan sedang memperhatikannya.

"Oh?" Jungkook memiringkan kepalanya saat dia mengenali siapa pria itu. "Kau orang yang kehujanan kemarin, kan?"

Kemarin Jungkook tidak sengaja bertemu dengan pria itu saat dia berdiri di bawah hujan deras, tadinya Jungkook tidak mau menghampirinya karena dia takut, tapi pria itu terlihat sangat sedih dengan kepala tertunduk dan ketika Jungkook menghampirinya dia terkejut melihat betapa pucatnya orang itu.

Namun dia tidak mengatakan apapun, setelah menatap Jungkook tanpa berbicara apapun selama beberapa menit (yang jelas saja membuat Jungkook takut), pria itu pergi begitu saja tanpa menoleh lagi pada Jungkook yang termangu di jalan karena ditinggalkan begitu saja.

"Ada apa? Apa kau merasa bersalah karena kemarin meninggalkanku di jalan?" Jungkook berujar main-main kemudian dia tertawa, dia menyeret kantung sampahnya lagi dan mencoba memasukkannya ke dalam kotak sampah namun sampahnya sangat berat dan Jungkook harus mengerahkan tenaganya.

Sebuah tangan mengambil alih plastik sampah itu dari Jungkook dan membantunya memasukkannya ke dalam kotak sampah. Jungkook melangkah mundur saat menyadari bahwa itu adalah tangan dari pria itu, Jungkook memperhatikannya melemparkan kantung sampah dengan sangat santai dan setelahnya menutup kotak sampah itu.

"Terima kasih," bisik Jungkook.

Pria itu mengangguk, "Aku Taehyung." ujarnya tiba-tiba dan membuat Jungkook melebarkan matanya, "Maaf soal kemarin, aku.. sedang tidak enak badan."

"Kau sedang sakit? Lalu kenapa malah diam di bawah hujan seperti itu?"

Taehyung mengatupkan mulutnya, "Uh.. maksudku.. aku sedang dalam mood yang buruk."

Jungkook mengangguk paham, "Aah, aku mengerti. Aku juga sering badmood tapi tidak sepertimu yang malah berdiam di bawah hujan." Jungkook tertawa, "Oh, aku harus kembali ke dalam, nanti ayahku curiga kenapa aku lama sekali di luar." Jungkook tersenyum ragu-ragu, "Kau mau masuk? Ayahku membuat chocolate cake hari ini, mungkin bisa membantu memperbaiki mood?"

Jungkook melihat pria bernama Taehyung itu terlihat agak terkejut karena tawarannya tapi tak lama kemudian dia mengangguk-angguk cepat.

"Oh ya, bukan masalah." Taehyung menggigit sudut bibirnya, "Aku.. aku akan masuk dari pintu depan." ujar Taehyung seraya menunjuk ke arah jalan di belakangnya.

Jungkook terkikik, "Tentu saja, ayahku bisa marah kalau kau masuk dari pintu belakang."

Taehyung ikut tertawa pelan, "Ya.. benar."

Jungkook tersenyum lebar, "Namamu Taehyung, kan? Aku Jungkook."

Senyuman Jungkook entah kenapa membuat Taehyung merasa sangat hangat, seolah jantungnya berdetak kembali dan mengisinya dengan kehidupan yang lebih hidup daripada sebelumnya. Padahal Jungkook hanya tersenyum, dia bahkan tidak melakukan apapun selain itu, namun Taehyung sudah sangat yakin bahwa dia rela melakukan apapun agar dia tetap bisa melihat senyuman Jungkook.

Jungkook seperti menghisap seluruh dunia Taehyung dan membuatnya hanya fokus padanya.

Jungkook seolah memutar balikkan semua yang telah Taehyung lihat dan percayai selama ini menjadi sesuatu yang harusnya hanya terpusat padanya.

Taehyung masih tidak tahu siapa Jungkook dalam hidupnya, akan tetapi dia tahu Taehyung akan melakukan apapun untuk membuat Jungkook tetap berada di sekitarnya.


.

.

.


Seokjin menghela napas pelan seraya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya, ibunya baru saja mengatakan sesuatu yang sangat sulit dipercaya. Seokjin punya adik, bahkan itu bukan sekedar saudara biasa, itu saudara kembarnya, Seokjin dan adiknya berbagi kehidupan dalam satu rahim yang sama namun Seokjin tidak pernah mengetahui eksistensinya sampai hari ini.

Jika saja Seokjin tidak iseng melihat album-album lama, Seokjin yakin dia tidak akan tahu soal ini.

Seokjin tidak ingin menyalahkan ibunya karena memilih untuk menyembunyikan ini darinya, ibunya sendiri mengatakan bahwa kehilangan adik Seokjin memukul ayah dan ibunya dengan kuat sehingga mereka memilih untuk tidak lagi membicarakan soal adik Seokjin, walaupun tiap kali Seokjin berulang tahun, kedua orangtuanya akan membeli satu kue lainnya dan bernyanyi diam-diam untuk merayakan ulang tahun adik kembar Seokjin dan berdoa untuknya.

Tentunya mengetahui Seokjin memiliki adik kembar merupakan sesuatu yang tidak Seokjin duga, terlebih lagi adiknya bahkan sudah meninggal bahkan sebelum dia dan Seokjin saling menyapa.

Seokjin berguling di atas tempat tidurnya dan menghela napas pelan, dia mulai membayangkan seperti apa adik kembarnya jika memang dia masih hidup.

Apakah mereka adalah kembar identik?

Mungkinkah rambut adiknya lurus seperti Seokjin?

Mungkinkah matanya biru seperti Seokjin?

Seokjin tertegun saat pikiran soal matanya yang berwarna biru merasuki pikirannya, selama Seokjin hidup hanya satu kali dia pernah melihat seseorang dengan mata biru sepertinya, dan itu adalah Jungkook. Namun mata berwarna biru bukanlah sesuatu yang sulit ditemui dalam kehidupan, mungkin lain ceritanya jika Seokjin memiliki mata berwarna magenta atau merah darah, tapi warna biru pada mata tidak terlalu jarang dan mencurigakan.

Seokjin berguling lagi dan pikirannya soal warna mata itu buyar begitu saja saat dia mendengar bell pintu dari pintu depan rumahnya. Seokjin mengangkat kepalanya, orangtuanya sedang tidak ada di rumah, mereka pergi menghadiri sebuah pesta yang diadakan teman ayahnya dan Seokjin memilih untuk tidak datang karena malas.

Bell itu terdengar lagi dan akhirnya Seokjin bergerak bangun, dia melangkah dengan malas-malasan menuju pintu depan, mungkin yang datang hanya pengantar paket atau semacamnya, jadi Seokjin hanya ingin membereskan urusan ini dengan cepat dan mungkin tidur sebentar.

Seokjin membuka pintu depan dengan sebuah tarikan keras dan matanya melebar saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu rumahnya. Seokjin merasa napasnya tercekat, dia mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan diri namun sosok yang berdiri di depannya itu tidak berubah.

"Seokjin.." bisik sosok itu akhirnya setelah beberapa detik mereka hanya saling bertatapan.

"Namjoon.." ujar Seokjin, masih tidak percaya kenapa suaminya tiba-tiba muncul di depan rumahnya seperti ini.

To Be Continued

.

.

.

Hehehe, hallo~

Hanya tinggal beberapa part lagi menuju tamat. Hehehe

Sampai ketemu lagi saat aku update~