BECOME HIS BUTLER

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Pairing : SasuNaru, slight GaaNeji, and ItaKyu

Warning : Typo, OOC, dan teman-teman lainnya, semoga bisa dimengerti.

Informasi umur : Naruto Namikaze : 17 tahun.

Kyuubi Namikaze : 20 tahun.

Sasuke Uchiha : 15 tahun.

Itachi Uchiha : 20 tahun.

Sakura Haruno : 15 tahun.

Sabaku no Gaara : 17 tahun.

.

.

.


Cerita Sebelumnya~


"Kenapa kau masih over pada adikmu sendiri?"

Kyuubi yang mendengar itu langsung mengerucutkan bibirnya, "Yah, sejak awal juga aku sedikit tidak setuju dengan rencana orang tuaku, tapi yah.."

"Hah~ baik, baik sekarang aku berangkat ke sana." Ujar Itachi.

"Oke, kutunggu Majikanku~" ujar Kyuubi dengan nada bercanda, Itachi yang mendengar itu menghela napas panjang.

"Kau ini benar-benar membuatku lelah, Namikaze Kyuubi, berpura-pura menganggapmu butlerku di depan Sasuke itu sangat susah kau tahu itu,"

"Hehehe, as always~"

Dan klik, sambungan terputus.

...

Sebenarnya apa yang di rencanakan mereka semua, bukannya Itachi tidak tahu nama marga Kyuubi, dan kenapa Kushina serta Minato mengenali kedua orang tua Sasuke?


Chapter 12 : The Problem!


Masih setia berbaring di UKS, merasa sedikit bosan karena tidak bisa melakukan apapun. Pemuda pirang itu beranjak pelan dari tempat tidurnya. Merenggangkan badannya sekilas, yah setidaknya tidur beberapa jam membuat pusingnya berangsur-angsur menghilang.

"Bosan, lebih baik aku ke kelas saja." desahnya pelan, mengingat kalau sejak tadi Sasuke tidak datang-datang menemuinya. Memang sih, kalau pemuda raven itu bilang akan menjenguknya saat pulang sekolah nanti, tapi tetap saja-

Menurunkan kedua kakinya dari ranjang, Naruto merapikan bajunya yang sedikit berantakan, juga rambut pirangnya. Tidak mungkin ia keluar dengan baju berantakan seperti ini kan?

"Sayangnya masih ada satu kelas lagi, sebelum bel berbunyi." Ujarnya sekali lagi, sebelum-

Grek!

Pintu UKS terbuka tiba-tiba, membuat si empunya yang tadi masih dalam keadaan mengantuk langsung terbangun dan membalikkan tubuhnya cepat.

"Ternyata kau ada disini," suara bariton itu, sepertinya dia kenal.

"Gaara?" yap, manik Saphirenya kini melihat jelas sosok pemuda merah yang masih berdiri di depannya. Menelungkupkan kedua tangan di depan dada, seakan menunggu penjelasan darinya.

Glek!

Naruto sukses meneguk ludahnya horor, 'Darimana Gaara tahu aku ada disini?!' batinnya bingung. Setahunya dia tidak ada memberitahu apapun tentang acara pingsannya tadi.

"Kalau kau bertanya-tanya kenapa aku bisa ada disini, tanyakan saja pada orang di belakangku sekarang."

"Eh?" Sedikit tak mengerti, saat telinganya kembali mendengar suara pintu terbuka.

"Aku yang memberitahunya."

Menampilkan sosok pemuda berambut panjang coklat, masih dengan gaya santainya di samping Gaara.

"Neji?"

Hilang sudah rencananya, sebenarnya sejak awal Naruto memang tidak ingin Gaara tahu tentang hal ini. Dia hanya tidak ingin sahabatnya khawatir melihat kondisi tubuhnya, sudah berapa kali ia melihat Gaara terluka gara-gara sikapnya, dan Naruto tidak mau lagi.

Niat untuk kembali ke kelas, dan menampakkan wajah seolah tidak terjadi apa-apa. Harus ia batalkan,

'Cih, kalau tidak salah dia sahabat si Teme. Pantas saja,' mendecih kesal, Naruto memalingkan wajahnya sekilas.

Membaca pikirannya sekali lagi, "Sasuke tidak mengatakan apa-apa padaku, kejadian dia menggendongmu tadi, yang membuatku tahu kalau kau berada di UKS sekarang." jelas Neji, membuat tampang Naruto horor kembali.

"Woi! Kau membaca pikiranku?! Jangan seenaknya!" pemuda pirang itu berseru kesal, menunjuk jari telunjuknya pada sang adik kelas.

"Aku tidak membaca pikiranmu, wajahmu saja yang mudah di tebak."

Oke, Naruto benar-benar kesal sekarang. Pemuda berambut panjang ini berani sekali melawannya, mentang-mentang kondisi tubuhnya sedang lemah seperti sekarang!

"Kau mau cari masalah denganku? Hah?!"

"Tidak."

Gaara yang melihat pertengkaran kecil antara Neji dan Naruto, menghela napas panjang. Sebelum manik Jadenya menatap sang adik kelas,

"Neji, kau keluarlah dulu. Ada yang ingin kubicarakan dengan Naruto." ucap pemuda merah itu menghentikkan perkataan Neji,

Berdehem pelan, "Baiklah," Neji segera berbalik dan meninggalkan ruang UKS, sedangkan Naruto masih tidak puas pertengkarannya di hentikan begitu saja.

[...]

Kini hanya tinggal mereka berdua yang ada di sana, Naruto yang masih menggerutu kesal, dan Gaara yang duduk di hadapan sahabat pirangnya.

"Jangan menggerutu terus, Naruto." ujarnya singkat.

"Ck, adik kelas itu sombong sekali! Dia mengesalkan!" Naruto berseru kesal,

"Jangan di pikirkan sejak dulu, Neji memang seperti itu orangnya."

Mendengar perkataan Gaara, yang seolah-olah mengenal Neji begitu lama membuatnya heran, "Sepertinya kau akrab sekali dengannya?"

"Bisa kujelaskan nanti, sekarang yang lebih penting. Kenapa kau bisa pingsan tadi?" Oh, terlihat sekali kalau sahabatnya ini menghindari pertanyaan.

Membuat Naruto semakin penasaran, "Eitt, jawab dulu pertanyaanku, kau kenal dengan adik kelas sombong itu?" dia jadi keras kepala. Naruto memang sedikit tidak suka, saat melihat Gaara menyembunyikan sesuatu darinya, mereka kan sudah berteman sejak dulu. Jadi aneh saja kalau tiba-tiba sahabatnya ini tiba-tiba misterius seperti ini.

Berlebihan memang,

"Akan kujelaskan nanti-"

"Tidak, aku inginnya sekarang." Naruto makin menyudutkan Gaara.

"Aku dan Neji tidak ada hubungan apa-apa,"

"Terus kenapa kau seperti dekat sekali dengannya, paling tidak beritahu aku."

"..."

Gaara diam, pemuda merah itu entah kenapa tidak menjawab sahutannya. Apa dia salah bicara,

"Gaara, kau tidak marah kan?" Naruto mulai khawatir, tangan tannya berusaha menggapai teman merahnya, tapi-

Plak! Tangan kekar Gaara menepisnya.

Lho?

"Ga..Gaara?" dia makin merasa bersalah. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya, sial! Seharusnya tadi dia tidak menyudutkan sahabatnya ini!

"Kenapa kau begitu ingin tahu ada hubungan apa aku dengannya?" suara Gaara kembali terdengar, membuat Naruto cengo sejenak.

"..."

"E..habisnya, aku tidak suka saja kau menyembunyikan sesuatu dari..ku.." kenapa suaranya jadi patah-patah seperti ini.

"Ada kalanya aku harus menyembunyikan sesuatu darimu, Naruto. Jadi mungkin aku tidak bisa memberitahumu tentang hal ini." jelas Gaara.

"..."

Diam, otaknya membeku sesaat. Baru kali ini dia melihat wajah serius Gaara, baru kali ini sahabat sejak kecilnya berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.

Seolah-olah tidak terima, entah apa yang merasukinya. Naruto tetap bersikeras, Dia tahu Gaara pasti punya wilayah privasinya sendiri.

"Tapi aku hanya-"

"Kau cemburu?"

"Eh?" manik Saphire Naruto membulat. Pemuda pirang itu reflek menggelengkan kepalanya pelan, sebelum ia sadari kalau pemuda merah di hadapannya berjalan semakin mendekatinya.

"Kau cemburu, melihatku bersama dengan Neji?"

Dia tidak mengerti, "A..apa maksudmu, Gaara? Aku..aku hanya-" perkataannya terhenti, saat lengan kekar Gaara mendorong tubuhnya ke belakang. Kondisinya yang masih lemah, membuatnya dengan gampang terjerembab jatuh ke tempat tidur.

"Kau begitu ingin tahu, ada hubungan apa antara aku dengan Neji? Kau ingin tahu?"

Naruto makin menggeleng keras, sepertinya dia sudah menginjak sebuah ranjau yang sangat berbahaya. Lagi!

"Bukan itu maksudku?! Huwaa!"

Bruk!

Tubuh Gaara, perlahan ikut tertarik. Dan kini sukses menimpa tubuhnya! Astaga! Apa sahabatnya ini gila?! Oke, mungkin perkataannya tadi sedikit berlebihan, tapi..tapi!

"Ga..Gaara,"

"Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku, Naruto? Kau menganggapku apa selama ini?!" nada Gaara mulai mengeras, satu pertanyaan kembali terlontar darinya. Dengan inti yang tetap sama.

"Pe..perasaaan apa?"

Wajah Gaara semakin mendekatinya, Naruto panik minta ampun. Kenapa Gaara tiba-tiba jadi agresif lagi! Oh, dia janji tidak akan mendesak sahabatnya lagi, kalau seperti ini jadinya!

"Kalau aku bertanya apa kau memilihku atau Sasuke, siapa yang kau pilih?"

Glek! Tanpa sadar dia meneguk ludahnya kaget, "Pilih?! Gaara aku tidak mengerti maksudmu?! Kenapa kau tiba-tiba membawa-bawa nama si Teme!"

"Jawab saja."

Menggeleng pelan, Naruto benar-benar tidak tahu harus menjawab apa! "A..aku tidak tahu." Perasaan gugup kembali menjalarinya.

"Kau memilihnya."

"Eh? Aku tidak berbicara seperti itu!"

"Kau menyukainya Naruto? Kau menyukai tuan perusak suasana itu?!"

Gaara mulai kehilangan ketenangan, emosinya kembali naik. Deru napasnya dengan pelan menerpa wajah Naruto di hadapannya,

"Kau kenapa Gaara, sikapmu-"

"Kau lebih memilih memberitahukan kondisimu ini pada pemuda sialan itu daripada aku! Sahabat kecilmu! Kau sengaja menyembunyikan kejadian ini! Kau yang menyembunyikan pekerjaanmu itu! Semuanya, sejak kapan kau berubah Naru! Apa perkataanku saat di rumahmu masih belum cukup!"

"..."

Diam,

Shock,

Untuk yang kedua kalinya, Gaara membentaknya. Pemuda merah itu seolah-olah mengeluarkan semua kekesalan di hatinya.

Dia tidak tahu, Naruto benar-benar tidak tahu kalau Gaara akan marah besar. Dia kira menyembunyikan semua masalahnya akan membuat beban sahabatnya ini berkurang. Pemuda pirang ini hanya tidak ingin merepotkan Gaara. Itu saja!

"Ga..Gaara, aku-" belum sempat menyelesaikan kata-katanya.

"Aku menyukaimu Naruto."

Deg, Jantung Naruto seakan-akan copot saat mendengar penuturan Gaara. Dia tidak salah dengarkan?!

"..."

"Eh?"

"Kukatakan kalau aku menyukaimu, Naruto."

Mencoba untuk tersenyum, Naruto menggelengkan kepalanya tak percaya. Masa sahabatnya sendiri bilang suka dengannya?!

"Ka..kau sedang bercanda kan? Kau pasti berkerja sama dengan adik kelas sombong itu untuk-"

"Aku tidak bercanda."

Singkat, jelas, dan tidak ada basa-basi, benar-benar khas Gaara. Pemuda pirang itu meneguk ludahnya sekali lagi, keringat mengucur deras dari pelipisnya. "Ta..tapi bagaimana bisa?! Ka...kau ini sahabatku Gaara! Mana mungkin-" perkataannya kembali terpotong saat sebuah benda kenyal membentur bibirnya. Cepat, dan hampir membuat sudut bibirnya terluka,

"Hummphh!"

Gaara menciumnya! Astaga! Dia pasti sedang bermimpi, mana mungkin sahabatnya yang baik hati itu tega melakukan dan memberikan ciuman sekasar ini padanya!

Tubuhnya terasa lemas, berusaha mendorong dada kekar Gaara menjauh dari tubuhnya.

"Buka mulutmu."

"Hah! Tidhhak! Lhepaskhan!" dan tepat saat ia memberontak, dengan lihai lidah Gaara menyusup masuk ke dalam bibirnya. Mengeksplorasi semua yang ada di sana, Naruto makin panik.

"Hummphh!" dia tidak tahan lagi. Kekuatannya sudah terkuras habis akibat tidak mendapat energi yang cukup hari ini, di tambah kejadian pingsan tadi. Sudah cukup membuatnya kewalahan.

Naruto benar-benar tidak berdaya, padahal seharusnya ia punya kekuatan untuk mendorong tubuh Gaara, tapi-

"Gaarhhaa!" bibir Gaara kembali membungkam suaranya. Tidak memberinya kesempatan untuk bernapas,

'Apa yang kau lakukan Gaara! Kumohon lepaskan ciumanmu ini!' Naruto meraung-raung dalam hati, berharap ada seseorang yang menghentikan perbuatan sahabatnya.

"..."

Sampai sebuah nama entah kenapa terlintas begitu saja di otaknya-

"Te..me-"

"..."

Detik berikutnya juga, pintu terbuka dengan keras, menimbulkan suara debaman kuat, dan-

"Apa yang kau lakukan padanya!"

Sret!

Sebuah lengan kekar, menarik tubuh Gaara menjauh darinya. Membiarkan udara menelusup masuk ke dalam rongga napasnya. Maniknya yang sedikit kabur, melihat samar bayangan seorang pemuda berambut mencuat kini sudah memukul tanpa henti sahabatnya.

Buagh!

"Ugh!" erangan kecil terdengar dari Gaara,

Bruak! Tubuh pemuda merah itu terpelanting menghempas tembok,

"Jangan coba-coba kau menyentuh Butlerku."

'...'

Suara berat itu, sepertinya dia kenal? Dan lagi, kata Butler yang terngiang-ngiang di telinganya.

"Bu..tler-"

Membuat sang Namikaze, membelalakkan matanya sekejap. Melihat orang yang sempat ia panggil tadi kini sudah berada di depannya, dengan wajah berkeringat, menahan amarah. Tangan yang terkepal kuat, dan geraman yang terus menerus meluncur dari bibir tipisnya.

"Teme,"

"Biarpun kau itu kakak kelasku, tapi begitu kau berbuat yang lebih parah lagi padanya. Aku tidak akan tinggal diam!" dengan suaranya yang naik satu oktaf, sebuah pukulan kembali menghantam Gaara.

Buagh!

"Ughh! Sial." Membuat si empunya meringis sakit. Bukan karena tidak bisa menghindar, tapi ia memang sengaja menerima semua pukulan Sasuke. Dirinya baru sadar akan apa yang ia lakukan tadi!

"..."

Melihat aksi pukulan Sasuke, sontak manik Saphire Naruto tertuju jelas pada sahabatnya. Perasaan takut bercampur cemas menjadi satu, matanya melihat wajah Gaara yang sudah di penuhi oleh darah segar akibat pukulan Sasuke. Bibirnya yang sedikit robek, dan terkulai lemah di lantai-

Tepat saat, sang pemuda raven hendak memukul sahabatnya lagi. Tubuh Naruto memberontak, 'Aku tidak peduli, meskipun Gaara melakukan hal itu padaku! Dia tetap sahabatku!' dengan tubuh yang sedikit lemas, pemuda pirang itu berusaha menggapai tempat Gaara. Dan-

"Teme, cukup!"

Pukulan Sasuke tak terelakan, tentu saja bukannya mengenai Gaara, tapi malah mengenai-

Buagh!

"Argh! Ittai!" tubuh Naruto terpelanting keras menabrak tubuh Gaara di belakangnya yang reflek menangkap.

Pemuda raven itu menutup wajahnya dengan satu tangannya, merutuki perbuatan bodoh Butlernya. "Dobe. Bisakah kau biarkan aku memukul si panda ini." ucapnya penuh penekanan, di sela-sela jarinya manik Onyxnya tepat melihat ke arah Gaara, menatap penuh kemarahan, dan hanya di balas tatapan dingin oleh si empunya.

Masih bertumpu pada Gaara, Naruto meringis pelan, mengusap ujung bibirnya yang berdarah, 'Sial pukulannya kuat sekali!' batin pemuda itu dalam hati.

"Sudahlah, Teme. Gaara tidak bersalah." Ujarnya cepat, menengadah, dan menatap sepasang Onxy yang masih berdiri angkuh di hadapannya.

"Cih, tidak bersalah kau bilang. Jadi kau senang di cium olehnya?" sindir sang Uchiha singkat, mendengus kesal. Sudah bagus dia memukul Gaara, eh Naruto malah menolongnya!

Naruto cepat-cepat menggeleng kepalanya kencang, "Bukan itu maksudku! Gaara, Gaara hanya-"

Gawat dia tidak tahu harus mencari alasan apa!

"Ck, hanya apa?" Sasuke berusaha keras menahan diri agar tidak Ooc, sikap Naruto benar-benar membuatnya geram.

"Dia..Dia pasti, Gaara pasti hanya salah paham!" seru pemuda itu cepat,

"..." Sasuke terdiam. Matanya menatap datar ke arah Naruto, sampai-

"Hn, sudahlah. Aku tidak akan mengganggu urusanmu lagi." dengan kerah bajunya yang sudah sedikit berantakan, Sasuke melonggarkan dasinya cepat. Berbalik, memunggungi Naruto, dan tanpa mengatakan apapun lagi-

"Kau benar-benar Dobe." Ia berjalan pergi meninggalkan UKS, menutup pintu yang tadi terbuka dan meninggalkan kedua orang yang masih duduk terpaku di lantai.

.

.

.

.

.

Merengut sekilas, Ya. Naruto tahu kalau Sasuke pasti marah padanya. Pemuda raven itu berniat menolongnya tapi dia malah menolong balik Gaara? Siapa yang tidak kesal coba!

"..."

Tapi tetap saja-

Sret, mengusap noda darah di ujung bibirnya, perlahan-lahan Naruto membalikkan tubuhnya. Menghadap sahabat di belakangnya. Manik Saphire itu menatap mata Gaara datar.

"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Gaara?" tanya pemuda itu jelas dan singkat. Masih duduk bersila, menjauh sedikit dari tubuh sahabatnya. Kedua tangannya kini sudah bersidekap, seolah-olah meminta jawaban. Sekarang gilirannya!

"..." tidak ada jawaban. Gaara malah menolehkan wajahnya ke lain arah. Membuat pemuda pirang itu kesal.

"Hei! Aku bertanya padamu!"

"..." masih mencoba diam.

Urat-urat kemarahan tambah terlihat di keningnya, sepertinya Gaara benar-benar ingin mengajaknya berkelahi. "Hello! Aku berbicara padamu, tuan mata panda!" oke, akhirnya dia mengejek nama pemuda merah itu.

"Kenapa-"

"Hah?" entah apa yang dia dengar, sepertinya samar-samar mendengar suara Gaara. Tapi tentu saja masih mencoba menunjukkan wajah cemberutnya, Naruto pura-pura berdehem kecil.

"..."

"Kenapa kau tidak biarkan saja dia memukulku?"

Oke, sekarang dia mendengar jelas gumaman kecil sahabatnya, alisnya meningkat sekilas.

Menghela napas panjang, pemuda pirang itu menaikkan bahunya pelan, dan tanpa basa-basi lagi, "Reflek mungkin, Kau ini sahabatku Gaara. Jadi kalau kau di pukul seperti itu, aku tidak tega." Jelasnya singkat.

Membuat Gaara di hadapannya mengernyit bingung, tapi tetap mencoba tenang. "Aku menciummu dengan paksa tadi. Kau tidak mau memukul-" belum sempat menyelesaikan perkataannya,

Buagh! Dengan senang hati, Naruto memberikan kepalan tangannya pada puncak kepala sahabatnya. Pemuda pirang itu tanpa aba-aba memukul,

"Naru-"

"Haa! Kau kira aku tidak marah! Aku hanya tidak mau tangan si Teme itu kotor gara-gara memukulmu! Aku yang seharusnya memberi pelajaran karena kau sudah seenaknya saja menyambar bibir berharga ku ini tahu!" berteriak kencang, Naruto merangkak mendekati sahabatnya.

"Silakan pukul aku lagi." gumaman kecil kembali meluncur di bibir Gaara, pemuda merah itu merunduk. Seakan siap menerima pukulan selanjutnya dari Naruto.

"Sesuai kemauanmu, Gaara!"

"..."

Dan dengan cepat Naruto mengangkat kedua tangan, tubuhnya yang kini sudah kembali pulih segera menerjang Gaara. Sampai-

"..."

Buk!

Kepalan tangan yang siap memukul Gaara kini hanya meninju pelan perut sang empunya. Tidak keras, tapi mampu membuat pemuda merah itu membuka matanya dan mengadahkan wajah.

"Naruto?"

"..."

"Sudah!"

Sret! Tubuh Naruto yang tadinya dekat dengan Gaara kembali menjaga jarak. Pemuda pirang itu kembali bersila duduk dengan wajah kesalnya.

"Apa maksudmu? Pukulanmu tadi-"

"Lemah? Ya, aku tahu itu. Habis kekuatanku sekarang sudah terkuras, jadi anggap saja pukulanku tadi belum selesai." Mendengus pelan, Naruto memalingkan wajahnya sekilas.

"Kau jangan bercanda!"

"Aku tidak bercanda, dasar mata panda! Aku kesal setengah mati tahu! Kau sudah seenaknya menciumku! Mana pakai lidah lagi! Hutang pukulanku ini masih banyak!" alis Gaara kontan semakin mengerut, kenapa perkataan Naruto terlihat berputar-putar. Di tambah lagi sikapnya yang-

"Kau marah padaku?" tanyanya spontan.

"Ya!"

"Kau tidak mengira aku akan melakukan hal itu padamu?"

"Ya!"

"Jadi sekarang kau akan membenciku?"

"Tidak."

Eh?

Manik Jade itu kembali menatap surai pirang Naruto, menatap tak percaya atas apa yang di dengarnya tadi. "Kau tidak membenciku?" dia kembali bertanya.

Entah apa yang ada di pikiran Naruto, Ia menunduk tanpa sadar, jemarinya menggaruk pipinya yang tak gatal. Pemuda pirang ini tahu kalau ia sudah menyakiti Gaara secara tidak langsung tadi,

"..."

"..."

Lama terdiam, sampai bibirnya bergumam pelan.

"Gaara, gomen."

"..." Gaara terdiam.

"Aku ini benar-benar sahabat yang jahat, membuatmu berwajah seperti tadi. Gomen, aku tidak tahu kalau ternyata kau menyukaiku, sungguh mungkin perkataanku sekarang ini sudah terlambat tapi-"

Pemuda pirang itu berdiri cepat dan tegap, menghadap ke arah Gaara yang masih terduduk kaku. Manik Saphirenya menatap Jade di sana lekat-lekat,

Dan tanpa aba-aba lagi,

Sret!

"Gomen! Tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu! Kau pasti akan menyesal kalau menyukai orang plin-plan sepertiku! Dan aku yakin kalau di dunia ini masih ada yang lebih pantas lagi, untuk menjadi kekasihmu! Sekali lagi Gomen!"

Pemuda pirang itu menunduk keras, mengucapkan kata-katanya tadi dengan lantang tanpa ada keraguan.

"..."

Sedangkan Gaara yang mendengar jelas perkataan Naruto, hanya terdiam sekilas, menghela napasnya pelan,

"Hah, dari awal aku melihatmu berkenalan dengan tuan perusak suasana itu aku sudah tahu jawabannya." Ucapnya singkat, mengacak-acak rambut merahnya.

"Eh?"

"Sudahlah, kau tidak mau kan majikanmu itu memecatmu sekarang juga?"

Perkataan lanjutan Gaara, sontak membuatnya teringat pada adik kelasnya itu! Oh, sial dia lupa, kalau pemuda jutek itu pergi dengan keadaan marah tadi!

"Ah! Dia pasti akan memecatku!"

Bersender di tembok, tangan kekarnya terangkat dan terayun singkat, mengisyaratkan untuk sahabat pirangnya untuk pergi.

"Pergilah." Ucapnya singkat.

"..."

"Nee, Gaara kau tidak marah padaku kan? Kita masih tetap sahabat kan?"

"Kau bicara apa? Aku tidak bisa membiarkan orang serampangan sepertimu lepas dari pengawasanku Naruto."

Gaara benar-benar tidak mengerti dengan sikap Naruto, kenapa pemuda pirang ini tidak marah padanya? Sekarang malah bertanya apa dia masih mau menjadi sahabatnya? Dia kalah telak.

Mengeluarkan cengiran khasnya, Naruto mengangkat satu tangannya dan memberikan jempol untuk Gaara, "Arigatou Gaara! Kau sahabatku yang nomor satu! Kalau begitu aku pergi dulu!"

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Naruto berjalan cepat meninggalkan ruangan. Berharap bisa mengejar majikan super duper cueknya itu.

"..."

Yah, dengan Gaara yang masih tersenyum miris di UKS.

Dia di tolak.

[...]

Grek, beberapa menit berlalu. Pintu UKS kembali terbuka, menampilkan sesosok pemuda berambut coklat panjang, tengah bersender di sana, dengan kedua tangan yang bersidekap.

"Perlu bantuan?" tanyanya tiba-tiba, dan hanya di jawab dengusan singkat Gaara.

"Tidak perlu." Pemuda merah itu segera beranjak dari posisinya, merenggangkan semua otot-ototnya. Yah, dia tidak boleh terpuruk terus, bukan?

"Jadi, bagaimana jawabannya?"

Menatap datar pemuda bernama Neji, Gaara perlahan berjalan mendekat. "Kau sendiri sudah tahu bukan. Tidak usah bertanya lagi." jawabnya singkat.

"Kukira kau akan menangis meraung-raung dan membutuhkan pelukanku?" terdengar sekali nada di buat-buat dari Neji. Membuat si empunya, kembali mendengus singkat.

"Kalau pun aku menangis, tidak akan kubiarkan kau melihat wajah memalukanku." perlahan tapi pasti, Gaara segera berjalan melewati Neji begitu saja. Memasukkan kedua tangannya di saku celana dan berjalan pergi.

Neji tertawa kecil, tanpa menunggu lebih lama. Pemuda coklat itu ikut menyusul langkah Gaara, "Sudah kuduga kau butuh pelukan."

"..."

Tidak tahukah kalau perkataan singkat Neji membuat Gaara risih, buktinya dapat kalian lihat sendiri, dari semburat merah yang sekilas muncul di wajahnya.

"Urusai."

Yah, setidaknya. Kali ini ada seseorang yang mau menjadi penghiburnya?

.

.

.

.

.

.

Sementara di tempat lain


Glore's Cafe~


Seorang laki-laki berambut orange tengah menatap cangkir cappucinonya sejenak, menghirup aroma yang di keluarkan minuman itu. Terduduk manis dengan posisi kesukaannya.

Seraya telinganya yang asyik mendengarkan alunan lagu dari tempat favoritenya ini. Yah, sudah lima belas menit Kyuubi menunggu kedatangan temannya aka Itachi Uchiha. Mengingat sifatnya yang tidak suka menunggu, alhasil moodnya yang tadi sempat membaik kini kembali down.

'Ck, lama sekali dia.' Gerutu laki-laki itu dalam hati. Mata merahnya menatap sejenak jam di tangannya, melihat waktu yang sebentar lagi menunjukkan pukul empat sore. Kaasan dan Tousannya pasti sudah menunggu di rumah.

Mendecih kesal kakinya yang tadinya diam, kini mengetuk-ngetuk lantai beberapa kali. Sepertinya sikap baiknya tadi harus ia hilangkan lagi,

"Uchiha memang tidak bisa menepati janji." Gumamnya pelan.

Krincing~

Sebelum akhirnya, suara bel kecil dari arah pintu mengalihkan perhatiannya. Mengadahkan wajahnya dan melihat dengan jelas sesosok laki-laki berambut panjang berjaket, tengah masuk ke dalam. Parasnya tetap tampan, dingin, dan tenang.

"Ck, akhirnya dia datang juga~" mendengus singkat, Kyuubi mengangkat sebelah tangannya. Mengintruksikan pada laki-laki berambut hitam itu agar mengetahui keberadaannya.

"Oi, Itachi!" serunya.

"..."

Itachi sontak menoleh ke sumber suara, melihat seorang berambut mencolok tengah melambai singkat padanya. Dengan tampang datar, dan kerutan kesal yang masih setia di sana. Laki-laki hitam itu menghela napas pendek.

'Terlambat sedikit, dan sikapnya pasti berubah.' Batin sang Uchiha.

Yah, sedikit rindu juga dengan sikap laki-laki orange itu. Membuat entah kenapa garis tipis di bibirnya terangkar sekilas.

"Hn," Ia melangkah menghampiri Kyuubi.

[...]

Kembali mendengus singkat, Kyuubi melihat Itachi menghampirinya, dengan kedua tangan laki-laki itu yang masih tetap berada di dalam saku jaketnya.

Sampai-

"Menunggu lama?"

Grek, Itachi segera duduk di hadapannya. Merenggangkan tubuhnya sekilas, sambil tak lupa tersenyum tipis ala Uchiha.

"Tidak, aku hanya menunggu Lima Belas Menit saja." laki-laki orange itu menekankan kata-katanya, dan kembali menyesap minumannya.

"Gomen, tadi aku ada sedikit urusan. Kau mengajakku bertemu terlalu mendadak." Jelas sang Uchiha.

"Ya, ya, sebenarnya aku memanggilmu kemari hanya ingin membicarakan permasalahan kedua adik kita." Tidak ingin membuang-buang waktu, Kyuubi segera menuju topik pembicaraan.

Sebelum-

"..." Itachi terdiam sesaat,

"Kau tidak merindukanku, Kyuu?" pertanyaan, Itachi hampir saja membuat Kyuubi tersedak.

"Uhuk! Oi, jangan mengatakan hal seperti itu secara terang-terangan!" Serunya entah kenapa.

Mengendikkan bahunya sekilas, Itachi hanya duduk santai sambil terus menatap laki-laki di hadapannya, "Aku hanya bertanya yang sebenarnya, lagipula kenapa kita membicarakan tentang Sasuke dan Naruto. Kalau sekarang ini ada yang lebih penting daripada itu."

Dengan otaknya yang belum nyambung, Kyuubi mengangguk paham, "Oh, maksudmu masalah pekerjaanku? Yah, mengingat kalau malam ini, kedua orang tua kita akan memberitahukan semuanya pada Naruto dan Sasuke. Jadi otomatis, pekerjaanku sebagai pelayanmu harus berhenti." Jelasnya panjang lebar.

"Bukan itu,"

Lha?

"Ha? Jadi kalau bukan itu lalu apa?!" dia jadi kesal sendiri, melihat tampang tenang nan dingin Itachi sejak tadi.

Mata Onyx Itachi kini entah kenapa menatap lekat-lekat ke arah Kyuubi, sukses membuat laki-laki orange itu risih.

"Oi, berhenti menatapku seperti itu." sergahnya cepat.

"Hn, kau tidak suka?"

Sejak kapan laki-laki Uchiha di depannya ini suka basa-basi?! "Bukannya tidak suka, aku hanya risih saja, tahu! Sudahlah, cepat katakan kau mau bicara apa?" ujar Kyuubi mencoba mengalihkan pembicaraan, menyesap cappucinonya yang hampir habis.

"Aku hanya ingin membicarakan tentang kelanjutan hubungan kita nanti," ucap Itachi tiba-tiba.

"..."

"..."

Dia tidak salah dengar kan?

"Aku serius, Kyuu."

Kyuubi sukses menganga kilat, "Ha? Kau sakit? Kalau begitu lebih baik kita tunda saja pembicaraannya," sedikit risih, laki-laki orange itu bangkit dari tempat duduknya. Ya, pasti Itachi sedang sakit. Buktinya perkataannya jadi ngelantur seperti itu!

"..."

Dan belum sempat berjalan meninggalkan Itachi, "Aku tidak sakit, Kyuu."

Grep!

Sebuah tangan kekar menangkap pergelangan Kyuubi, membuat si empunya kehilangan keseimbangan, dan akhirnya-

"Gyaa!"

Bruk!

Jatuh di pangkuan Itachi dengan cepat, membuatnya membeku sejenak. Sebelum-

Fiuh, deru napas yang menerpa pipinya sukses membangunkannya kembali,

"Gyaa! Itachi, menyingkir dari tubuhku!"

Kedua tangannya segera memberontak, mencoba menjauh dari tubuh kekar sang Uchiha.

"Tidak." Dan hanya di jawab singkat oleh laki-laki hitam itu.

"Ugyaaa! Posisi kita ini memalukan! Turunkan aku! Keriput sialan!" oh, saking kesalnya sepertinya Kyuubi mulai mencoba mengejek temannya yang satu ini.

"Tidak sebelum kau duduk lagi, di sana. Dan mendengarkanku."

"Apa!"

"Kau yang memanggilku kemari, jadi harus menanggung resikonya."

Ugh! Dia kalah telak! Padahal niat sebenarnya dirinya memanggil Itachi gara-gara ingin membahas tentang hubungan Naruto dengan Sasuke. Dia masih tidak rela kalau adik polosnya itu, menyukai seorang Uchiha yang dingin seperti Itachi dan Sasuke!

"..." melihat Kyuubi bergeming, Itachi jadi semakin kesal.

"Kyuu," panggilnya cepat.

"..."

Tidak ada pilihan lain lagi, dengan pasrah laki-laki orange itu mengangguk lemas. "Baik, baik! Sekarang turunkan aku, ah setidaknya lepaskan kedua tanganmu ini!" amuknya kencang, melihat kedua tangan Itachi yang masih setia memerangkap tubuhnya.

"Oke."

Dengan sedikit enggan, Itachi perlahan melepaskan pelukannya pada Kyuubi, mengecup puncak kepala laki-laki itu sekilas.

"Sudah, sekarang kembali duduk."

Merengut, wajah Kyuubi tampak menahan kesal. Mau tak mau ia harus menurut, akhirnya laki-laki itu kembali ke tempatnya semula, duduk manis, dan menatap datar Itachi di hadapannya.

"Menyesal kupanggil kau ke sini, Keriput."

"Hn,"

.

.

.

.

.


Kembali pada Naruto~


Panik, itu yang di rasakan Naruto sekarang. Matanya sibuk mencari sesosok pemuda berambut pantat ayam di sekolah besar ini. Kakinya melangkah cepat, dan bibirnya tak henti-hentinya bergumam kata, 'Teme'

'Ck, Kuso! Baru saja kami baikan, masa sekarang sudah bertengkar lagi?!' batin Naruto kesal, mengingat kalau baru dua jam yang lalu memutuskan perang dinginnya pada sang Uchiha, sekarang sudah berubah kembali.

Ya, bukan karena apa-apa. Naruto hanya merasa tidak enak saja, meski agak malu juga harus meminta maaf pada majikannya itu, tapi ia memang harus melakukannya.

"Ugh," mengerang sesaat, sampai otaknya entah kenapa memikirkan kelas Sasuke. Mungkin saja pemuda raven itu kembali ke kelasnya,

"..."

"Tidak ada salahnya kan?"

Kakinya berlari cepat, menuju ruangan kelas elite yang dulu sempat ia datangi. Hah, kesana lagi membuatnya terkena siksaan batin.

OoOoOoOoOoOoOoO


Lorong kelas~


Antara malas dan tidak, Naruto terlalu silau memandang lorong kelas elite di sekitarnya ini. Sekali pernah kemari, di tambah sebagai seorang gadis membuatnya trauma. Yah, hanya sedikit sih.

Matanya dengan cepat mencari kelas Sasuke, berharap kalau pemuda raven itu ada di sana. Dia sudah tidak tahu, bagaimana reaksi Sasuke nantinya. Hah, memikirkannya saja sudah membuatnya merinding.

"Dimana kelasnya-" gumam Naruto, sampai-

"..."

Melihat sebuah pintu kelas terbuka, tampak tidak ada satu pun Sensei yang masuk ke sana. Membuatnya semakin senang.

"Itu dia!"

Tanpa basa-basi lagi, sang Uzumaki segera melangkahkan kakinya ke kelas Sasuke. Beruntung sekali tidak ada guru di sana, jadi dia bisa bergerak leluasa tanpa rasa takut.

OooOoOoOooOoOoOoO

Sedikit enggan menengokkan wajahnya melihat ruang kelas di dekatnya, Naruto memegang erat pintu berwarna putih di sana. Suara tawa dan candaan yang berasal dari kelas membuatnya semakin gugup.

'Ayo! Naruto!' menyemangati dirinya sendiri, Naruto dengan cepat mengedarkan pandangan. Memastikan apa adik kelas cueknya itu ada di dalam.

Sampai-

"Nee, Sasuke-kun, mumpung tidak ada guru di kelas. Kita jalan-jalan ke kantin saja yuk?"

"Iya, Sasuke-kun. Kan bosan diam di kelas terus~"

"Ayolah, Sasuke-kun."

Suara gadis-gadis yang paling dominan di dalam kelas membuat sang Uzumaki semakin yakin kalau si bungsu Uchiha itu ada di sana. Di tambah panggilan-panggilan 'Sasuke-kun' yang membahana.

Di tengah kerumunan gadis-gadis cantik itu, samar-samar Naruto melihat gaya rambut mencuat khas Sasuke.

"Itu dia!" serunya tanpa sadar, pemuda raven itu tengah duduk sembari mengangkat satu kakinya, dan tak lupa dengan kedua tangan yang masih berdiam diri di dalam saku celananya.

Ah! Satu lagi yang kurang!

"..."

"Berisik, aku sedang tidak ada mood berbicara dengan kalian."

Aura hitam yang menguar dari seluruh tubuh Sasuke.

'Gawat! Dia benar-benar marah?!' Naruto sukses meneguk ludahnya cepat. Pemuda raven itu tampak semakin dingin dan melempar deathglare pada siapa saja di dekatnya.

Bahkan gadis-gadis yang tadinya terlihat ingin mengajak pemuda itu, terlihat sedikit takut. Sampai akhirnya menjauh.

[...]

Dan Naruto-

'Kami-sama tolong lindungi aku!' bibirnya sudah komat-kamit tidak jelas. Memikirkan nasibnya nanti kalau berhadap-hadapan dengan Sasuke.

Menghela napas pendek, sampai akhirnya pemuda pirang itu mencoba memanggil salah satu adik kelas yang tengah bermain di dekat pintu.

"Sst,"

"Bicara denganku, Senpai?" tanya adik kelas yang numpang lewat itu saat mendengar panggilan Naruto.

"Ya, kau. Bisa tolong panggilkan Sasuke kemari. Tolong ya," pintanya, tanpa basa-basi.

Sang adik kelas yang tidak bisa membantah, hanya bisa mengangguk kecil, "Tunggu sebentar, Senpai."

Dan sebelum pemuda pirang itu mengucapkan kata-kata lanjutannya, "Oh, tapi panggilnya jangan keras-"

"Sasuke! Ada yang mencarimu!" adik kelas itu dengan polosnya memotong perkataannya, dan berteriak lantang. Membuat seisi kelas yang tadinya ribut perlahan menjadi semakin diam.

'...'

"Keras."

Oke, sepertinya hari ini Kami-sama sedang jalan-jalan entah kemana. Jadi tidak sempat mendengarkan curhatan hatinya.

'Huwaa! Baka! Kenapa malah berteriak!'

"Sudah Senpai!"

Entah dia harus berterima kasih atau memberikan bogem mentah untuk adik kelasnya ini. Tapi yang bisa ia lakukan sekarang hanya menunjukkan cengiran kakunya-

"Ah, Ahaha, A..arigatou-" manik Saphire Naruto, sedikit ragu menatap bangku Sasuke. Masih setia di kelilingi gadis-gadis cantik di sekitarnya.

Pemuda pirang itu menunggu, menunggu melihat Sasuke bangun dari sana dan menghampirinya.

"..."

"..."

Lewat sepuluh detik.

Tidak ada tanda-tanda Sasuke akan bangun, pemuda raven itu malah mengalihkan perhatian ke arah jendela.

"..." masih menunggu.

Dua puluh detik-

Suasana kelas makin hening, semua murid-murid di sana kompak melihat ke arah Sasuke dan Naruto.

Sasuke masih dengan posisi kesukaannya, dan Naruto yang-

"..."

Tidak tahan lagi!

Tangan tannya terkepal kuat, pemuda pirang itu menggeram kesal. 'Ck! Mentang-mentang marah, jangan harap kau bisa mengacuhkanku Pantat ayam!' Naruto membatin, seraya tanpa aba-aba lagi-

Grek, pemuda pirang itu menggeser pintu di dekatnya semakin lebar, memberikan akses masuk untuknya. Sampai-

Tep, tep, Ia melangkahkan kakinya. Menghampiri sang Uchiha yang masih setia duduk di tempatnya.

"..."

"Oi, Teme! Kau ini kenapa?!" Naruto tiba-tiba membentak kesal, tidak memperdulikan pandangan semua murid di sana.

"..." masih tidak ada jawaban, di tambah-

"Nee, Sasuke-kun, bukannya ini Senpai yang kau gendong tadi?" seorang gadis merah muda aka Sakura, mendekati dan bertanya pada Sasuke.

"Hn."

'Pertanyaanku sama sekali tidak di gubris!'

"Uchiha Sasuke, aku bertanya padamu! Bisakah kau memandang Senpaimu ini!" seru Naruto semakin kesal.

"..."

Kaki yang tadinya terangkat perlahan turun, posisi Sasuke berubah. Pemuda raven itu kini menopangkan dagunya dengan kedua tangannya. Menatap datar Naruto.

"Hn, untuk apa kau kemari? Bukannya tadi aku lihat kau sedang bersenang-senang dengan pemuda panda itu?"

Oh, seorang Sasuke Uchiha, tumben sekali mau berbicara panjang lebar.

Naruto kontan menaikkan alisnya heran, 'Jadi dia masih memikirkan itu?'

"Aku kemari ingin meminta maaf, tadi tiba-tiba saja aku membentakmu. Maaf." Ujar Naruto merasa bersalah.

"Hanya itu."

Oke, perkataan singkat Sasuke sukses membuatnya semakin bingung, Lho? Memang itu kan? Dia sudah minta maaf karena tidak menghiraukan pertolongan Sasuke tadi? Hanya itu saja kan?

'Memang ada lagi?!'

"E..ee, untuk saat ini hanya itu yang-" pemuda pirang itu kontan terhenti, saat melihat tatapan dingin Sasuke semakin menusuk.

Grek! Tiba-tiba saja Sasuke menggeser tempat duduknya, dan bangkit dari sana. Pemuda raven itu beranjak hendak meninggalkan Naruto di hadapannya.

"Kita ke kantin." Ujarnya singkat, pada gadis-gadis di sampingnya. Membuat semuanya berteriak girang, dan mengikuti langkah pangeran sekolah mereka.

"..."

Lho?!

Lho!

Dia tidak salah bicara kan?

'Aku kan sudah minta maaf?! A..apa dia tidak memaafkanku?!' entah kenapa perasaan gelisah menjalarinya, pemuda pirang itu sontak membalikkan tubuhnya. Mencoba untuk berbicara pada adik kelasnya itu.


TO BE CONTINUED~


A/N :


Yosh Mushi hadir lagi! Gomen buat yang menunggu lama fic ini, nah untuk 'BHB' akan mushi tamatkan di chapter depan. Mengingat wordnya di gabung jadi satu akan semakinnn banyak! Tapi tenang aja, mushi bakal apdet lagi fic ini tanggal 22-06-2014, hari minggu depan (kalau tidak ada halangan)!

Masalah Gaara sudah kelar, jadi tinggal ItaKyu sama SasuNaru aja ehehe XD

Jadi stay terus yaa! XD


Arigatou sebanyak-banyaknya untuk yang sudah me riview

Nah Mushi rasa cuap-cuapnya segitu dulu deh

Untuk akhir Kata

SILAKAN RIVIEW~ \^V^/\^O^7

JAA~