Hard to Say 'I Love You'
.
Chapter 12
.
ChanBaek
.
Boy Love, Yaoi, OOC, Typo(s)
.
Don't Like Don't Read
No Bash No Flame
.
.
Happy Reading
.
.
Chanyeol mengacak tas kerjanya dengan tak sabar, dimana lembaran dokumen tersebut! Ck! Itu dokumen penting untuk meeting nanti siang. Apa mungkin tertinggal?
Chanyeol membanting kasar tubuhnya di kursi kemudi, memejamkan mata, mulai mengacak rambut frustasi tak peduli jika tadi pagi ia telah menatanya sedemikian rupa, yang Chanyeol butuhkan hanya dokumennya. Mata lebar Chanyeol segera terbuka, menepuk kening gemas mengingat dokumen itu tertinggal di laci kamarnya, Chanyeol belum sempat memasukkan itu kembali kemarin sore.
Chanyeol segera berbalik arah, membutuhkan waktu hampir lima belas menit untuk sampai apartemen, menyingkap lengan jas, melihat jam tangan yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. "Aku hampir terlambat." rancaunya panik, setengah berlari mnuju lift.
"Chanyeollie hyung.." suara anak kecil menginterupsinya, Chanyeol berbalik, menemukan Jung Yoogeun, anak apartemen sebelah yang berusia lima tahun.
"Oh, Yoogeun-ah. Annyeong.." sapanya Chanyeol ramah. "Apa yang kau lakukan, eum? Tidak berangkat sekolah?"
"Ini.." Yoogeun memberikan sebuah ponsel yang nampak tak asing, Chanyeol segera menerimanya. "Baekhyunnie hyung menjatuhkannya tadi."
"Ish, ceroboh sekali." cibir Chanyeol.
"Aku sudah memanggilnya, Baekhyunnie hyung tidak membalas. Dia bermain kejar-kejaran dengan seorang ahjussi." jelas Yoogeun dengan wajah polos.
"Ahjussi?" gumannya dengan dahi berkerut. "Siapa ahjussi yang Yoogeun maksud?" tanya Chanyeol penasaran.
Yoogeun menggeleng pelan. "Aku tidak kenal. Baekhyunnie hyung ketakutan."
"Begitukah?"
Yoogeun mengangguk lucu khas anak-anak.
"Ah, ya, terima kasih, Yoogeun-ah." ucap Chanyeol akhirnya, melihat ibu Yoogeun sudah memanggil untuk segera berangkat kesekolah.
Anak kecil tidak mungkin berbohong, bukan? Chanyeol segera masuk kedalam lift, memastikan semuanya, rasa penasaran Chanyeol berubah menjadi curiga takala melihat Siwon berdiri di depan pintu apartemennya. Tidak, itu tidak hanya berdiri melainkan berusaha masuk kedalam.
"YA! KAU SIAPA?!" teriak Chanyeol dari jauh.
Siwon menoleh karena terkejut, segera berlari menuju tangga darurat melihat Chanyeol mendekat. "YA! JANGAN LARI!" Chanyeol berusaha mengejar, tak sempat mengenali wajah Siwon karena jarak mereka yang lumayan jauh.
Chanyeol mengeluarkan ponselnya dengan tergesa, menghubungi pihak keamanan apartemen untuk segera mengamankan lelaki yang akan turun kelantai bawah dengan menyebutkan ciri-cirinya. Ia yakin semuanya akan beres, keamanan apartemen ini tak bisa di ragukan, masalah kecil seperti itu pasti dengan mudah dapat di tangani pihak apartemen. Chanyeol merasa tak nyaman melihat seseorang yang mencurigakan di sekitar apartemennya, Chanyeol dapat mengurus masalah lelaki itu setelah pulang dari kantor nanti. Ah ya, ia kembali teringat tujuannya pulang. Dokumen. Pintu apartemen terbuka, Chanyeol mendorongnya sedikit kesusahan. "Aish!" rutuknya, ia sudah sangat terlambat, mengapa masih ada hal-hal merepotkan seperti ini? Pintu apartemennya macet. Mencoba membuka dengan sedikit paksa sampai terbentuk celah kecil disana namun tentu belum terlalu muat untuk ia lewati.
Chanyeol memicingkan mata, melihat sepasang kaki mengenakan sepatu berwarna merah di balik pintu yang terganjal tersebut. Tidak salah lagi, itu Baekhyun. Chanyeol berinisiatif memasukkan kepalanya kedalam, melihat apa yang Baekhyun lakukan disana. Mata bulat Chanyeol melebar sempurna melihat tubuh Baekhyun terbaring disana, dibalik pintu dengan mata terpejam.
"Baekhyun!" pekik Chanyeol, mendorong pintu dengan kuat namum perlahan. Setelah merasa cukup, Chanyeol segera masuk, menerjang tubuh Baekhyun dengan panik.
"Baekhyun-ah. Hey, bangun! Kau kenapa?" panggilnya panik, menepuk pelan wajah tirus Baekhyun. Tak ada respon. Tubuh mungil itu begitu lemas saat Chanyeol mengangkatnya kekamar. Chanyeol bersyukur mengetahui Baekhyun masih bernafas, ia tahu Baekhyun tidakk terlalu sehat pagi ini, merutuki kebodohannya karena sudah mengurung Baekhyun semalaman. Kini apa yang terjadi? Baekhyun pingsan, dan bisa di pastikan jika Jungsu mengetahui semua ini Chanyeol pasti akan di kuliti hidup-hidup.
.
Luhan berjalan tergesa sepanjang lorong rumah sakit, langkahnya terhenti ketika melihat sosok Kris tengah berbicara dengan Junmyeon. "Luhan." guman Kris menyadari kehadirannya.
"Semuanya sudah berakhir, bukan?" ucap Luhan seolah menertawakan keadaannya.
"Junmyeon-ah, kita lanjutkan ini nanti." ucap Kris.
"Arraseo." balas Junmyeon segera menjauh.
"Akhir seperti ini yang kau inginkan, eum?"
"..."
"Jawab pertanyaanku, brengsek!" bentak Luhan tak sabar, mencengkram kerah baju Kris tanpa tersirat sedikitpun perasaan takut.
"Pukul saja aku jika itu bisa membuatmu lega." tantang Kris.
Luhan mendesis marah, melepaskan cengkraman itu, percuma saja karena semua sudah terlanjur terjadi. "Jika terjadi suatu hal buruk pada Baekhyun, maka kau orang pertama yang akan kucari."
.
.
.
.
"Aku tidak akan ke kantor hari ini, suruh Yixing hyung mengurus semuanya."
"..."
"Dokumennya sudah ku titipkan pada supir pribadi appa. Katakan padanya jika tunanganku sakit."
"..."
"Ya, terima kasih." Chanyeol mematikan sambungan ponselnya setelah memberi kabar pada Tiffanyㅡasisten pribadinya.
Pintu kamar yang terbuka segera mengalihkan perhatian Chanyeol, menghampiri lelaki paruh baya berjas putih yang baru saja keluar dari sana. "Bagaimana keadaannya, uisanim?"
Dokter itu tersenyum teduh. "Tuan Park tidak perlu khawatir, tuan Byun hanya kelelahan juga sedang banyak pikiran. Aku sudah menuliskan beberapa resep obat untuknya."
Chanyeol menghela nafas lega, setidaknya tidak ada penyakit parah yang Baekhyun idap. "Cidera bahunya tidak terlalu parah meski meninggalkan memar, bengkaknya juga akan segera menghilang." Chanyeol menerima kertas resep yang dokter sodorkan. "Biarkan seharian ini tuan Byun istirahat, aku sarankan padanya untuk tidak melakukan aktifitas terlebih dahulu selama beberapa hari kedepan agar ia dapat segera pulih."
"Terima kasih, uisanim. Mari saya antar sampai kedepan."
Selepas dokter pergi Chanyeol bergegas masuk kedalam kamar, menemukan Baekhyun yang masih betah memejamkan mata, menaikkan suhu pemanas ruangan, memastikan pemuda yang tak mengenakan atasan itu tidak merasa kedinginan. Chanyeol berniat mengganti pakaian Baekhyun sebelum dokter datang, niatnya urung setelah menemukan memar mengerikan di bahu tunangannya jadi ia membiarkan itu sampai dokter datang.
Chanyeol menarik selimut yang Baekhyun kenakan sebatas leher, menatap prihatin sosok tunangannya yang semakin kurus, Chanyeol merasa bodoh karena tak menyadarinya juga tak mempedulikan Baekhyun selama ini. Berharap Baekhyun masih membuka pintu maaf untuknya. Berbagi kesedihan serta bebannya, karena Chanyeol menginginkan itu, ingin mengerti Baekhyun.
.
"Park Chanyeol." Chanyeol segera menoleh, menemukan Luhan berlari tergesa kearahnya. Ia berniat keluar menebus resep obat Baekhyun setelah berpesan pada bibi Kim untuk menjaga Baekhyun, serta membuat bubur karena perut pemuda itu belum terisi apapun sejak kemarin malam.
"Kau tahu dimana Baekhyun sekarang?" tanya Luhan terengah, efek berlari.
"Mengapa bertanya padaku?ㅡbukankah kau sahabat baiknya?" pancing Chanyeol.
"Baekhyun tidak datang ke kampus sejak kemarin, ponselnya juga tidak aktif." jelas Luhan tampak putus asa.
"Kalian bertengkar?" tebaknya.
"Akan kuceritakan semuanya, tapi sebelum itu bisakah kita mencari tempat yang nyaman untuk berbicara?"
"Baiklah, kita pergi ke cafe langgananku."
.
"Aku kecewa padamu, ge." Tao enggan menatap Kris disana. "Kau menyakitikuㅡterlebih lagi kau menyakiti Baekhyun."
"..."
"Dia pemuda yang baik, kenapa kau malah menyakitinya?ㅡhiks.."
"..."
"Jawab, ge!" bentak Tao namun tetap terdengar lirih karena kondisinya.
Kris memeluk tubuh ringkih Tao, mengecup pipi pemuda itu berulang kali. "Uljima, baby.." Bisiknya lembut.
"A-apa kau mencintainya?" Kris tersentak mendengar itu, tak mungkin berkata jujur tentang ini.
"Aku lebih mencintaimu."
"Jika benar seperti itu maka turuti permintaanku." ucap Tao parau.
"Apa itu?"
Tao berusaha menguatkan hatinya, namun air mata itu mengalir semakin deras. "Batalkan rencana pernikahan kita."
.
"Hiksㅡaku benar-benar kakak yang buruk." tangis Luhan menyesal setelah mendengar keadaan Baekhyun, ia sudah menceritakan semuanya pada Chanyeol.
"Kau hanya perlu memperbaiki hubungan kalian." saran Chanyeol. Luhan mengangguk, menyeka air matanya.
"Aku akan menceritakan sesuatu padamuㅡini mengenai Kris." Chanyeol tak menanggapi apapun namun Luhan tetap melanjutkan. "Baekhyun sudah mengetahui kebohongan Kris."
"Apa maksudmu?"
"Kris sudah memiliki tunangan, mereka bahkan akan segera menikah."
"Brengsek!"
"Baekhyun sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi." tangan Luhan terulur, meraih tangan Chanyeol, menggenggamnya erat. "ㅡaku mohon padamu untuk tidak lagi menyakitinya. Jagalah dia, Chanyeol.." mohon Luhan, berusaha meredam tangis.
"Kau tidak perlu khawatir, aku berjanji akan menjaganyaㅡjuga mulai belajar untuk mencintainya." ucap Chanyeol yakin sementara Luhan menatapnya tak percaya, ia pikir sudah salah dengar mengingat bagaimana kasarnya Chanyeol saat berbicara pada Baekhyun, Luhan pikir Chanyeol benar-benar membenci Baekhyun saat itu. Keraguan hati Luhan berangsur menghilang saat merasakan tepukan lembut pada punggung tangannya, Chanyeol melakukan itu seolah berkata 'percayalah padaku'.
Luhan mengangguk, membalas senyum tulus Chanyeol. "Aku akan pergi menjenguk Baekhyun setelah ini."
"Maaf, aku tidak bermaksud melarangmu, hanya saja bisakah kau memberi kami waktu?ㅡaku juga harus memperbaiki hubungan ini."
Luhan tersenyum maklum. "Baiklah."
"Kau bisa datang besok pagi."
"Tentu"
.
Chanyeol baru menyadari sudah terlalu lama membuang waktunya berbicara dengan Luhan di cafe, setelah mengantar pulang pemuda itu ia segera menuju apotik, waktu sudah menunjuk hampir pukul empat sore, jalanan yang Chanyeol lalui sedikit macet.
Chanyeol terbelalak menyadari kamarnya kosong, Baekhyun tidak ada dimanapun. "Bi, Baekhyunㅡdimana dia?" tanyanya pada bibi Kim yang tengah memasak menu makan malam.
"Saya pikir dikamar, tuan."
"Tidak. Dia tidak disana." bibi Kim terlihat bingung sementara Chanyeol mulai panik, berpikir Baekhyun pergi.
"Tuan Byun tidak mungkin pergi." ucap wanita itu yakin, ia baru saja dari kamar dan menemukan Baekhyun masih disana.
"Cari." titah Chanyeol segera.
Langkah mereka terhenti melihat pintu balkon terbuka begitu saja, menyisakan gorden berwarna coklat muda yang menari-nari karena terpaan angin yang berhembus cukup kencang sore ini.
Chanyeol melirik bibi Kim, wanita itu membalasnya, menyibak gorden tersebut, memastikan tebakannya benar. "Kau bisa kembali kedapur, bi."ㅡmenghela nafas lega menemukan Baekhyun disana tengah duduk di lantai balkon, menenggelamkan wajahnya diantara kedua kaki yang tertekuk, nampak tidak menyadari kehadiran Chanyeol.
"Masuklah, udara di luar dingin, tidak baik untuk orang yang sedang sakit." ucap Chanyeol membuat Baekhyun mengangkat kepalanya, menatap lurus kedepan. Genangan air mata itu hampir tumpah, tak lagi bisa bertahan setelah Baekhyun menutup kedua matanya, mengalir membasahi wajah pucat pemuda itu.
"Aku tidak peduli kau akan marah bahkan memukulku setelah ini." guman Baekhyun.
Chanyeol yang sudah duduk disebelahnya menggeleng samar. "Hiksㅡapa aku begitu buruk hingga Tuhan menghukumku seperti ini?"
"..."
"Sakit sekali, Chanyeol."ㅡmeremas dadanya yang terasa terhimpit, sesak. "Katakan apa salah yang telah kuperbuat?ㅡmengapa orang-orang membuatku sakit? Hiks.. Kris diaㅡ"
Tak tahan, Chanyeol segera merengkuh tubuh mungil itu. "Menangislah!ㅡmenangislah sepuasmu." semakin mempererat pelukan mereka.
"Hiks.. hiks.."
"Hari ini aku akan memberimu keringanan, aku tidak akan marah, tapi tidak untuk besok, Baekㅡaku tidak ingin melihat tangismu esok hari." Baekhyun terisak, sesekali teriakan tertahan terdengar keluar dari bibirnya saat ia tak sanggup lagi menahan rasa sesak menyakitkan ini, membiarkan Chanyeol mengusap lembut punggungnya, tanpa menyadari air mata pemuda yang lebih tinggi itu ikut mengalir.
"Maafkan aku." bisik Chanyeol, menumpukan dagunya pada pucuk kepala Baekhyun.
"Hiksㅡ"
"Balas pelukanku jika kau menerima maafkuㅡkumohon, Baek." pinta Chanyeol lirih. Chanyeol tersentak merasakan tangan Baekhyun terulur, memeluknya. Senyum bahagia segera terukir dibibir Chanyeol. "Terima kasih."ㅡmulai mengecup lembut pucuk kepala Baekhyun. Membiarkan posisi mereka tetap seperti ini untuk beberapa saat, Baekhyun memeluk erat tubuh Chanyeol sementara pemuda itu memejamkan mata menikmati aroma shampo strawberry yang menguar samar dari rambut tunangannya, entah mengapa kini Chanyeol pikir strawberry begitu manis, ia menyukainya.
Isakan samar dari bibir Baekhyun masih terdengar meski tangisnya telah reda, beberapa saat kemudian dengkuran halus mulai terdengar, lelah menangis hingga jatuh tertidur dipelukan Chanyeol.
Chanyeol melepaskan pelukan mereka perlahan, membawa kedua tangannya dibawah punggung dan lutut Baekhyun, mengangkatnya dengan hati-hati takut mengusik tidur lelap pemuda itu.
.
"Hiksㅡ" suara tangisan yang terdengar samar mengusik tidur Chanyeol.
"Baekhyun-ah, kau kenapa, eum?" gumannya serak, beranjak dari sofa yang ia tiduri dan segera mendekat.
"Hiks.. Kepala sakit sekali, Chanyeolㅡhiks.. aku tidak bermaksud membangunkanmu, maaf."
"Tidak apa-apa." Chanyeol menyentuh kening Baekhyun, membuatnya mengernyit. "ㅡpantas saja kepalamu terasa sakit, demamnya tinggi begini." mengusap lembut air mata tunangannya. "Kau harus minum obat. Akan kubuatkan bubur untukmu."
"Bibi?"
"Tidak." jawab Chanyeol singkat. "Ini sudah hampir jam satu malam, bibi Kim masih tidur, aku akan melakukannya." Baekhyun mengangguk sekilas, melihat Chanyeol keluar dari kamar, cukup lama menunggu menahan pening yang sedari tadi terasa menyiksa hingga melihat Chanyeol kembali masuk membawa mampan berisi mangkuk bubur dan segelas susu strawberry.
"Ini." Chanyeol menyodorkan gelas susu strawberry yang segera Baekhyun terima.
"Terima kasih"
Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang hampir meneguk setengah isi gelasnya. "Sekarang makan, buka mulutmu."ㅡmendekatkan sendok bubur di depan mulut Baekhyun, menunggu dengan sabar sampai pemuda itu menelan dan menghabiskan isi mangkuknya, setelahnya Chanyeol membantu Baekhyun meminum obatnya.
"Kemarilah biar kupijat kepalamu." tawar Chanyeol setelah menaruh mampan berserta isinya yang telah kosong di dapur. Baekhyun segera menurut, memposisikan diri disamping Chanyeol yang duduk diatas ranjang, membuatnya merasa Baekhyun mulai menerimanya, ia tak akan menyiakan kesempatan ini.
Baekhyun memejamkan mata merasakan pijatan lembut tangan Chanyeol dikepalanya, nyaman. Ini sangat membantu, rasa pening dikepalanya sedikit berkurang. "Sudah merasa lebih baik?" tanya Chanyeol dibalas anggukan oleh Baekhyun. "Kalau begitu kau harus kembali tidur."ㅡmenepuk bantal milik Baekhyun, membiarkannya segera berbaring kemudian menaikkan selimut Baekhyun.
Chanyeol hendak kembali tidur di sofa sebelum tangan Baekhyun mencegah. "Tidur disini, Chanyeol. Temani aku, aku kedinginan." guman tak bohong, tubuhnya menggigil.
"Bolehkah?" raut Chanyeol tampak tak yakin. Baekhyun mengangguk, menepuk ruang kosong didekatnya, Chanyeol menurut, ikut naik keatas ranjang, tangan Chanyeol terulur, menggosok tangan Baekhyun yang terasa begitu dingin. "Aku sudah mengatur pemanas ruanganya hingga suhu maksimal, mengapa kau masih merasa kedinginan, eum?" tanya Chanyeol khawatir.
"Aku tidak tahu, biasanya eomma akan memelukku agar aku merasa hangat."
Greb.
"Eh?"
"Kau ini manja sekali, eoh?ㅡsudah tutup matamu dan segera pergi tidur." ejek Chanyeol, menggoda tunangannya.
"Aku tidak manja. Kau tidak boleh menilai orang sembarangan." protesnya tak terima.
"Aku tidak sembarangan, ada seseorang mengatakan ini padaku." jelas Chanyeol.
"Siapa?"
"Luhan."
"Luhan hyung? Kau bertemu dengannya?"
"Ya."
"Bagaimana bisa?"
"Dia mencarimu tadi pagi. Luhan menceritakan semuanya padaku."
"Benarkah? Apa saja?"
"Tentang Kris."
Deg
"Kau tenang saja. Aku tidak akan membiarkan Kris menyentuhmu."
"Dia kekasihku." Chanyeol mendelik tak percaya. "ㅡkami belum mengucapkan putus, tapi aku akan segera melakukannya."
"Ah, tentang Luhanㅡ" Chanyeol segera mengganti topik melihat raut sedih Baekhyun. "Kuharap kau mau mendengar penjelasannya saat ia datang."
"Tentu. Lagipula sudah tak ada Kris yang menjadi penyebab utama pertengkaran kami."
"Luhan tidak pernah mencintai Kris, Baekhyun-ah."
"Apa maksudmu?" jika selama ini Luhan tidak mencintai Kris lalu mengapa ia bersikap seolah ingin merebut pemuda itu darinya.
"Luhan hanya ingin kalian berpisah tanpa kau tahu alasan yang sebenarnya." jelas Chanyeol. "Sejak awal Luhan tahu Tao adalah tunangan Kris."
"A-apa?"
"Luhan tidak mungkin memberitahumu karena kau sangat mencintai Kris juga menganggap Tao seperti adikmu sendiri." Baekhyun mulai mengerti, baru menyadari jika selama ini Luhan berusaha melindunginya dengan cara berbeda.
'Maafkan aku, hyung..' batinya menyesal. Luhan tidak pernah berubah, sosok kakak yang begitu menyayanginya juga melakukan apapun untuk melindunginya. Bagaimana bisa mata Baekhyun tertutup untuk mengartikan semua itu?ㅡmerasa begitu bodoh karena menyiakan pengorbanan seseorang yang begitu menyayanginya.
"Uljima.." bisik Chanyeol merasakan tubuh itu bergetar dipelukannya, cukup lama bagi Baekhyun menangis, menyesali perbuatannya pada Luhan sementara Chanyeol menenangkannya hingga keduanya jatuh tertidur dengan posisi tetap berpelukan.
.
.
.
.
TBC
.
Big Thanks to :
Novey, gothiclolita89, xoxowolf, ChanBaekLuv, Jung Eunhee, vichang, AnjarW, fuawaliyaah, wereyeolves, exindira, rizkizelinskaya, Ucihiha Shesura-chan, , Riyuong17, unchanbaek, sunggi-chan, ByunBima, amus, 9292, byunieyeol, Guest, ia, parklili, iniaku, MissJIA, Chanbaek4ever, Guest, Guest, Kwon DaYoung, dobiodult, NyekNyek, mulyanah.
.
.
.
RnR please~
.
.
.
