Moshi-moshi Ruru kembali menampakkan diri dengan chapie 12 ^_^
Lagi-lagi updatenya lama hehehe gomen ne (-.-)
Seperti biasa, saya ucapkan terima kasih banyak buat yang udah bersedia baca fic ini, & buat yang review chap kemaren
Sukie 'Suu' Foxie, Sweety Choco-berry, Zoroutecchi, Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura, El Cierto, Minami22, Vaneela, Iicob green, Airi Princess'darkness angel, Mysunshine-hatake, Felix D. Bender, Hana-d'ichi, Anasasori29
Arigato gozaimasu (-.-)
Semoga kalian tetap berkenan untuk mereview chapter ini ^_^
Enjoy this chap!
Disclaimer:Saya nggak akan pernah bisa merebut kekuasaan Om Kishimoto atas Naruto, jadi saya cuma bisa membuat fic gaje ini sebagai pelampiasan, karena selamanya Naruto nggak akan pernah menjadi milik saya T.T
Chapter 12
=Lost=
Naruto melangkah tenang melewati serpihan tubuh manusia yang tersebar di sepanjang lorong bawah tanah, Sakura masih berjalan di sampingnya dengan mendekap lengan Naruto erat-erat, baru kali ini Sakura melihat pemandangan mengerikan seperti itu sepanjang hidupnya, dan itu membuatnya sadar bahwa dia masih belum bisa dianggap profesional saat ini.
Sakura mendongak menatap wajah Naruto yang terlihat datar-datar saja, sungguh pria itu tak seperti Naruto yang biasa, bahkan Sakura sendiri merasa takut dengan ekspresi Naruto saat ini, maka gadis itu kembali menundukkan wajahnya namun dengan mata terpejam, dia terlalu takut untuk menatap pemandangan di bawahnya.
"Buka pintunya!"Perintah Naruto dengan nada datar namun terkesan dingin.
Pria paruh baya di depan Naruto yang merupakan direktur VC (Victory Corp) itu terlihat gemetar hebat saat mendengar perintah Naruto, pria itu menoleh ke arah Naruto dengan ragu, sepertinya dia takut jika sesuatu yang ada di dalam nanti akan membuat Naruto lebih murka.
"CEPAT BUKA PINTUNYA BRENGSEK!"Sentak Naruto sambil menendang punggung pria itu hingga tersungkur di depan pintu.
Pria itu pun langsung membuka kotak password dengan tangan gemetar, sementara Naruto menatapnya dari belakang.
Sakura kembali mendongak demi mendapati ekspresi Naruto yang semakin mengeras.
"Naruto..." Sebutnya dalam hati, Sakura hanya tak terbiasa dengan sikap Naruto yang sekarang ini.
Pintu baja telah terbuka, Naruto maju selangkah diikuti Sakura, namun Naruto berhenti untuk melepas tangan Sakura yang mengait di lengannya, Sakura menatap Naruto tak mengerti, namun pemuda itu sama sekali tak mengalihkan pandangannya ke arah Sakura, mata birunya masih fokus menatap ke depan, seolah menangkap sesuatu yang tidak baik.
"Sakura, kali ini tak kan kuijinkan kau masuk!" Kata Naruto tegas.
"Me...memangnya ada apa Naruto?"Sakura melangkah ke depan, namun Naruto menariknya kembali.
"Kubilang jangan masuk!"Sentak Naruto yang membuat Sakura terdiam menatap nanar ke arahnya.
"Tunggu di sini sampai aku kembali!"Pinta Naruto dengan nada suara yang lebih pelan, berusaha meminta pengertian dari kekasihnya.
Naruto pun berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruangan, pemuda itu semakin geram saat melihat dengan jelas pemandangan di dalam ruangan itu.
Di atas meja besar di pojok ruangan, terdapat wadah berisi janin yang ditaruh begitu saja, janin yang bahkan belum saatnya dilahirkan tergeletak tak berdaya, ditumpuk dengan janin-janin lain yang bernasib sama, seolah mereka hanyalah barang biasa yang sama sekali tak berharga.
Naruto mengepalkan tangannya erat-erat.
Mata biru Naruto teralih ke arah tabung kaca yang diletakkan di sebelah tumpukan janin itu, di dalam tabung itu pun berisi janin yang masih meringkuk tak berdaya, direndam bersama air serum berwarna kehijauan, belum lagi bagian perut janin itu yang terbuka, memperlihatkan bahwa isi perutnya telah dikeluarkan dengan tanpa perasaan.
Naruto meraih dan mencengkram kerah kemeja Direktur VC yang sejak tadi meringkuk ketakutan di bawah meja.
"Jadi kalian menggunakan itu sebagai bahan senjata kalian?"Desis Naruto, sorot matanya berkilat marah pada pria paruh baya di depannya.
"Aku bersyukur karena sudah ada orang yang lebih dulu datang kemari, dan membunuh orang-orang bejat yang dengan santainya menggunakan itu sebagai bahan percobaan, sehingga aku tak perlu mengotori tanganku untuk membunuh dan mencincang kalian semua!"Naruto melempar tubuh pria itu hingga menabrak meja di belakangnya.
"Ada apa Naruto?"Sakura tiba-tiba masuk saat mendengar keributan di dalam ruangan.
Naruto menoleh ke arah pintu dan membelalakkan matanya saat melihat Sakura berdiri di sana dengan tatapan shock.
"A...apa...i..." Sakura membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, tak sanggup melanjutkan ucapannya, entah kenapa perutnya terasa mual melihat pemandangan di dalam ruangan itu.
"Saku...?"
"Hoek!"
Sakura memuntahkan isi perutnya begitu rasa mualnya semakin mendesak keluar, melihat janin-janin yang diletakkan begitu saja seperti onggokan daging, melihat isi tabung berwarna kehijauan itu, juga benda-benda tajam yang masih bersarang di perut salah satu janin di atas meja, membuat perutnya terasa mual seketika.
"Hoek!"Sakura masih memuntahkan isi perutnya, kini Naruto telah berada di belakangnya untuk mengurut leher gadis itu.
"Sudah kubilang jangan masuk kan?"Lirih Naruto yang melihat prihatin akan keadaan kekasihnya, Sakura masih memuntahkan isi perutnya, dengan air mata yang kini mengalir deras melewati kedua pipinya, sungguh dia tidak kuat melihat pemandangan di dalam ruangan itu.
Direktur VC yang berada di dalam ruangan itu mencoba lari saat melihat celah, namun kloning Naruto menghadangnya, pria itu menatap tak percaya pada sosok di depannya, kemudian menatap Naruto yang satu lagi yang masih merusaha menenangkan Sakura.
"A...apa-apaan ini?"Tanya pria itu gemetar.
"Jangan harap kau bisa lari setelah ini pak tua!" Desis Naruto yang kemudian mencekik pria itu.
"Jangan harap kau bisa hidup tenang setelah ini!" Ancam Naruto pada pria paruh baya yang kini tak berdaya di tangannya.
Sementara itu di luar gedung VC
Kankuro melempar batu ke arah Sasori sebagai pengalih perhatian, namun bisa dihancurkan dengan mudah oleh pria berambut merah itu, tapi setidaknya rencana Kankuro untuk mengalihkan perhatian Sasori berhasil, kini belenggu yang mengendalikan tubuh Temari telah terlepas, Temari pun membuang besi berkarat di tangannya sejauh mungkin.
"CEPAT LARI TEMARI! HUBUNGI MARK...AAAARGH!"Perut Kankuro tertembus sesuatu sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
"KANKURO!"Temari berlari mendekat ke arah Kankuro, bermaksud menolong adiknya itu.
"MINGGIR! HATI-HATI DENGAN TANGAN...!"
JRAT!
"ARGH!"Lagi-lagi ucapan Kankuro terpotong, Temari terlempar mundur saat Kankuro mendorong tubuhnya menghindari tembakan cakra Sasori.
Sejauh yang diketahui Kankuro, Sasori memiliki kemampuan mengendalikan tubuh seperti Kankuro, namun dia juga memiliki kemampuan menembakkan cakranya kepada lawan, dan menghancurkan dari dalam titik yang dia tunjuk dengan jarinya.
Pria berambut merah itu kembali mengangkat tangannya, dan mengarahkannya pada Kankuro yang kini tak berdaya, namun Temari dengan cepat meraih kipas besarnya, dan menggibaskannya ke arah Sasori, Sasori yang tidak siap dengan serangan itu, kini berusaha mengindari kilatan penghancur yang dihasilkan dari angin Temari, kesibukan Sasori itu digunakan Temari untuk menghubungi markas Kyuubi.
-Markas Kyuubi no Kitsune-
"Tsunade-sama, ada laporan dari Temari!"Kata Shizune panik.
"Sambungkan!"Perintah Tsunade yang langsung berdiri dari kursi besarnya.
"Disini Temari...kami butuh bantuan...t...olong...kirim...bantuan secepatnya!" Suara Temari terputus-putus, mungkin karena alat komunikasi Temari sudah sedikit rusak karena pertarungan tadi.
Tsunade membelalakkan matanya.
"Ini buruk!" Gumam Tsunade.
"Cepat perintahkan siapa saja untuk membantu mereka!" Seru Tsunade dengan tegas.
-Di tempat Ino-
Sing!
Sasuke membelalakkan matanya saat melihat sekelebat bayangan terlintas di benaknya.
"Ada apa Sasu?"Tanya Ino yang menyadari perubahan ekspresi Sasuke.
"I...Ino-chan..."Sasuke terlihat ragu mengatakan apa yang baru saja dia lihat, diliriknya Gaara yang masih duduk tenang di kursi belakang, sepertinya dia tidak ingin Gaara mendengar apa yang akan dia ucapkan nanti, Ino pun ikut melirik Gaara dari kaca spion, dan teringatlah dia akan keberadaan Temari dan Kankuro yang kini tengah menjalankan misi.
Ino yang sudah mengerti dengan sikap Sasuke itu kemudian menyodorkan ponselnya pada Sasuke, meminta anak itu untuk mengetikkan apa yang baru saja dia lihat di ponsel Ino.
Setelah beberapa menit mengetikkan sesuatu, Sasuke akhirnya menyerahkan ponsel di tangannya kepada Ino, gadis itu pun langsung menyambar ponselnya dan membaca apa yang tertera di sana.
Aquamarine Ino membulat sempurna saat membaca apa yang tertulis di layar ponselnya, gadis itu reflek membanting setir dan menghentikan laju mobilnya begitu saja, hingga tubuh penghuninya terdorong maju karena gaya dorong mobil, untung saja mereka memakai seat belt sehingga mereka tak terlempar dari tempat duduk.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?"Tanya Gaara yang tak tahu apa-apa, Ino tersentak saat mendengar suara Gaara.
"Ti...ti...tidak ada apa-apa kok Gaara-kun."Kata Ino mencoba mengelak.
Zrrrt...Zrrrrt...
Ino kembali dikejutkan dengan suara gemerisik dari earphone yang dia pakai.
"Pemberitahuan bagi para Kyuubi, tim Kankuro dan Temari sedang dalam masalah, segera menuju Victory Corp untuk memberi bantuan! Kami ulangi..."
"Shizune-san!"Ino memotong ucapan Shizune yang berada di seberang earphone.
"Biar aku yang pergi! Aku sedang berada di dekat lokasi,"Ino melirik Gaara dari kaca spion.
"Beri tahu yang lain untuk segera datang membantuku!"Lanjutnya.
"Ba...baik! Terima kasih Yamanaka!"Kata Shizune dari seberang earphone.
"Sasuke, tetaplah di sini bersama Gaara!"Ino kembali melirik Gaara yang kini mulai mendelik curiga padanya.
"Aku akan segera kembali jika semuanya selesai!"Kata Ino yang kemudian meraih kedua pedangnya yang dia letakkan di belakang tempat duduknya, dan berlalu keluar mobil.
Sasuke menatap punggung Ino yang semakin menjauh dari balik kaca mobil, kemudian menengok kursi belakang, di mana Gaara seharusnya berada, namun betapa terkejutnya dia saat tak mendapati Gaara di sana.
Sasuke kembali menatap keluar, dan di sana lah Gaara, berdiri membelakangi Sasuke, anak it menoleh ke arah Sasuke sekilas kemudian berlari mengikuti jejak Ino.
"TUNGGU! JANGAN KE SANA BODOH!"Seru Sasuke dari dalam mobil yang pintunya telah terkunci.
-Markas Akatsuki-
"Deidara? Kau sudah kembali? Mana Sasori?"Tanya Pein yang tak menemukan Sasori di dekat Deidara.
"Entahlah, mungkin masih di VC."Kata Deidara santai, Pein mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan Deidara.
"Lalu mana senjatanya?"Tanya Pein lagi.
Deidara merebahkan dirinya di sofa sebelum menjawab pertanyaan Pein.
"Kheh, senjata? Belum jadi!" Katanya Santai.
"Apa katamu? Belum jadi?" Pein semerta-merta berdiri dari kursinya dan memelototi Deidara, meskipun yang bersangkutan sama sekali tak perduli.
"Yeah, dan para penghuninya juga sudah mati semua."Kata Deidara sambil pura-pura mengamati kuku tangannya yang tidak kotor sama sekali.
"Mati? Kau membunuh mereka sebelum senjatanya selesai dibuat?"Geram Pein..
"Bukan aku yang membunuh mereka, mungkin para kyuubi itu yang melakukannya, begitu aku sampai di sana, tempat itu sudah dipenuhi mayat."Bohongnya dengan ekspresi yang sangat meyakinkan, padahal memang dia sendiri yang telah menghabisi penghuni ruang bawah tanah VC.
"Kau tidak sedang berbohong padaku kan?"Pein mendelik curiga pada sosok Deidara yang masih berbaring santai di atas sofa.
"Kheh, untuk apa aku berbohong? Aku juga tak ingin mengotori tubuhku ini dengan darah orang-orang rendahan macam mereka!"Kata Deidara lagi.
"Tch, lalu kenapa kau tidak kembali dengan Sasori?"Tanya Pein lagi.
"Hei, tugasku hanya mengecek senjata di ruang bawah tanah kan? Bukan menjadi pengasuh Sasori yang mengharuskanku pulang pergi bersamanya!"Protes Deidara yang kemudian bangkit dari posisi berbaringnya dan pergi meninggalkan Pein, tak mau berlama-lama dengan pria itu, karena dia tahu, Pein pasti akan bertanya macam-macam lagi jika dia tetap berada di sana.
=Promise=
JRAT!
BRUK!
Ino berdiri terpaku menatap pemandangan di depannya, di mana tubuh Temari ambruk setelah jantung gadis itu tertembus sesuatu yang tak dapat diketahuinya.
Sedangkan di depan sana, Kankuro tergantung tak berdaya di tangan seorang pria berambut merah yang tengah mencekik leher pemuda itu.
Sasori melempar tubuh kankuro begitu saja saat melihat keberadaan Ino.
"Akhirnya kau datang juga nona."Sebentuk seringai tersungging di bibir Sasori.
Ino menatap Sasori geram, gadis itu menggenggam kedua pedangnya kuat-kuat, aquamarinenya berkilat marah, giginya gemeletuk menahan amarah yang siap membuncah.
"BRENGSEK KAAAAU!"
Dan seketika itu juga Ino telah berada di belakang Sasori dan mengayunkan kedua pedangnya ke arah leher pria itu, meskipun sedikit terlambat, Sasori mampu menghindari serangan Ino, sehingga tebasan pedang Ino hanya mampu mengenai ujung rambut Sasori, tak sampai di situ serangan Ino, gadis itu kembali mengayunkan pedangnya sebelum Sasori sempat mengangkat tangannya untuk menembakkan cakra ke arah Ino, Sasori melebarkan matanya ketika sadar dia tak sempat menghindar, namun pria itu menangkis serangan Ino dengan menembakkan cakranya ke arah pedang Ino hingga pedang itu terlempar, Ino tak kehabisan akal, kali ini dia bersalto ke belakang dan menendang dagu Sasori dengan telak hingga pria itu terhuyung ke belakang, setelah mendarat, Ino kembali melancarkan serangan, kali ini gadis itu melompat ke depan Sasori dan menghantam bahu pria itu dengan tungkainya, kini Sasori jatuh terduduk, Ino kembali mengayunkan pedangnya ke arah Sasori, namun ayunan pedangnya hanya mengenai ruang kosong, karena Sasori sudah tak berada di tempatnya.
"Beraninya kau melakukan ini padaku gadis sial!"Desis Sasori yang entah sejak kapan berada di belakang Ino.
Ino membelalakkan matanya dan menoleh ke belakang.
JRAT!
"Argh!"
Ino terpelanting ke belakang, perutnya terasa perih dan panas seolah tertembus peluru, tubuh Ino terhempas menghantam aspal dan menabrak puing-puing di sekitarnya.
"Kheh, tak kusangka bertarung denganmu itu benar-benar sangat merepotkan!"Decak Sasori sambil menghapus jejak darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya.
Ino berusaha bangkit dari jatuhnya, tangan kirinya menekan luka di perutnya, sesekali dia terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya.
"Si….sial…apa-apaan pria ini?"Pikir Ino sambil mencoba berdiri dan menahan perih di perutnya.
"Kau masih bisa bertahan rupanya?"Cibir Sasori, Ino menggertakkan giginya, kedua aquamarinenya masih berkilat marah, dan detik berikutnya dia kembali meyerang Sasori.
Keduanya kembali bertarung dengan sengit, tak ada yang mau mengalah, tak ada yang mau melewatkan seincipun celah untuk menyerang dan menjatuhkan lawan.
Ino mengayunkan pedangnya ke arah Sasori, dalam jarak yang begitu dekat Sasori tak bisa menghindari serangan dengan baik, dan detik berikutnya kaos hitam yang dipakai Sasori telah robek di bagian dada, menampakkan luka goresan pedang yang memanjang di dadanya akibat serangan Ino, tubuh Sasori limbung ke belakang, namun dia sempat menembakkan cakranya ke gagang pedang Ino hingga pedang itu terlempar dari genggaman Ino, tubuh Ino yang kurang keseimbangan karena luka di perutnya juga ikut terlempar karena dorongan cakra yang terlalu kuat untuk ditahannya.
Ino meringis kesakitan saat luka di perutnya berdenyut nyeri ketika dia mencoba untuk berdiri, kini kedua pedangnya sudah tak berada di tangannya lagi, gadis itu mencoba menggerakkan tangan kanannya yang kesemutan karena tembakan cakra dari Sasori tadi, meskipun tembakannya hanya mengenai gagang pedang, namun efeknya ternyata juga dia rasakan pada tangan kanannya yang saat itu memegang pedang.
"Onii-chan…..Onee-chan?"
Ino tercekat saat mendengar suara itu, aquamarine Ino menatap nanar ke depan, tepatnya ke arah sosok mungil yang berdiri agak jauh di belakang Sasori.
"Ga…Gaara?"Ino melihat sosok Gaara yang terlihat shock melihat pemandangan di depannya.
Sasori mengikuti arah pandang Ino, pria itu menoleh ke belakang dan mendapati sosok Gaara yang berdiri agak jauh darinya.
"Cih, pengganggu! Lenyaplah kau!"Sasori mengacungkan telunjuknya ke arah Gaara, bersiap untuk menembakkan cakranya.
"HENTIKAN!"Ino menubruk tubuh Sasori dari belakang sehingga fokus tembakan Sasori teralih dan hanya menganai reruntuhan bangunan di dekat Gaara.
"LARI!"Perintah Ino pada Gaara yang masih terpaku.
"Minggir!"Sasori menepis pegangan Ino, kibasan tangannya mengenai luka di perut Ino, gadis itu mengerang kesakitan dan jatuh terduduk sambil memegangi perutnya yang masih mengeluarkan darah.
Gaara semakin tercekat melihat kondisi Ino, Sasori memanfaatkan kesempatan di saat Ino lengah, pria itu kembali mengarahkan telunjuknya kepada Gaara.
"LARI GAARAAAAA!" Teriak Ino.
"TIDAAAAAAAAK!"
Gaara berteriak sangat keras, seolah melampiaskan segala emosinya melalui teriakan, dan seketika itu juga, puing-puing bangunan di sekitar tempat itu terangkat, melayang-layang tak beraturan di udara, seolah tak ada gaya gravitasi di tempat itu.
"A…apa-apaan ini?"Gumam Sasori yang tak mengerti dengan keadaan di sekitarnya, sedangkan Ino terbelalak kaget melihat puing-puing yang bergerak liar di udara.
"Gaara kah yang melakukan ini?"Pikirnya.
"Anak sial! Mati kau!"Seru Sasori yang kembali mengarahkan telunjuknya ke arah Gaara dan menembakkan cakranya, namun tembakannya meleset karena sebuah reruntuhan besar menghantam tubuhnya hingga terpelanting ke samping.
"Sial!"
Sasori kembali bangkit dan mencoba menembak Gaara lagi, namun gerakannya terhenti karena tiba-tiba Ino menebas bahunya dari belakang, pria itu menggerang kesakitan dan kini berbalik menghadap Ino, kemudian menembakkan cakranya ke arah gadis itu, Ino terpelanting cukup jauh saat tembakan Sasori menembus bahu kirinya, pedangnya pun kini kembali terlempar, namun dia tak kehabisan akal, tangannya yang bebas kini meraih pistol yang dia selipkan di belakang pinggangnya, kemudian menembak tangan kanan Sasori, dan tepat menembus telapak tangan pria itu.
Sasori memekik kesakitan sambil memegangi tangannya yang terluka, saat itulah Naruto dan Sakura muncul dari pintu belakang VC.
Keduanya terpaku menatap keadaan di tempat itu, di mana puing-puing besar dan kecil tengah melayang-layang tak beraturan di udara, Ino yang terluka, seorang pria berambut merah yang berdiri sambil memegang tangannya yang berlumuran darah, Gaara yang berteriak keras, dan…..tubuh Temari dan Kankuro yang tergeletak tak berdaya dengan keadaan yang mengenaskan.
"Cih, muncul pengganggu lain, sebaiknya aku pergi sekarang!"Pikir Sasori yang kemudian lenyap dalam hitungan detik.
Ino berdiri perlahan dan berjalan tertatih mendekati Gaara yang masih berteriak emosi, beberapa kali tubuhnya terhantam puing-puing bangunan yang melayang di sekitarnya, namun tak dihiraukannya, tangannya kini terulur untuk meraih Gaara.
"Gaara…."Lirihnya sambil masih berusaha untuk mencapai Gaara.
Naruto dan Sakura yang mulai tersadarpun kini melangkah mencoba mendekati Gaara, namun langkah mereka selalu terhalang oleh puing-puing gedung yang melayang-layang di sekitar mereka.
"Tenanglah…..Gaara-kun….!"Lirih Ino, sebuah reruntuhan besar menghantam kepala Ino , namun gadis itu lagi-lagi tak menghiraukannya, meskipun kini darah telah mengalir dari luka di kepalanya, gadis itu tetap melangkah tertatih mendekati Gaara.
"Gaara-kun….."
BRUK!
Ino berlutut di depan Gaara, kemudian merengkuh tubuh mungil Gaara dalam dekapannya.
"Tenanglah Gaara-kun…..aku di sini…"Bisik Ino di telinga Gaara.
Teriakan Gaara perlahan-lahan berhenti, dan puing-puing yang melayang di sekitar sanapun mulai berjatuhan seiring dengan redanya teriakan Gaara, dan kini anak itu pingsan dalam dekapan Ino.
=oooooo=
Hujan gerimis mengiringi prosesi pemakaman Temari dan Kankuro, raut-raut krsedihan terpancar jelas di setiap orang yang menghadiri prosesi itu.
Gaara menatap datar kedua nisan yang bersebelahan di depannya, namun bertolak belakang dengan ekspresinya yang datar, kedua matanya seakan tak henti-hentinya mengeluarkan tetesan bening yang mengalir melewati pipinya.
Ino berdiri di belakang Gaara, tangan kanannya mengusap lembut kepala Gaara, sedangkan tangan kirinya menggandeng tangan mungil Sasuke, gadis itu tak perduli dengan rasa perih di perut, bahu kiri dan kepalanya yang terluka, padahal jutaan tetesan air langit itu terasa seakan menusuk-nusuk tubuhnya yang belum pulih, dalam pikirannya kini hanya ingin menjaga sosok kecil yang kini berdiri di depannya.
Ino mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling makam, di sana ada para senior di kyuubi, Tsunade sebagai pimpinan juga hadir di sana, juga teman-teman sekelasnya di kelas khusus, namun ada satu yang kurang.
Dia tak menemukan Shikamaru dimanapun.
"Kemana perginya dia di saat penting begini?"Pikir Ino.
Puk!
Ino dikejutkan dengan tepukan yang mendarat di bahu kanannya, gadis itu menoeh dan mendapati Kakashi yang tengah berdiri di belakangnya.
"Sebaiknya kita pulang,"Kakashi memberi jeda sejenak dan melirik perban yang melilit di kepala Ino.
"Lukamu belum sembuh benar, tidak baik kalau dibiarkan basah terlalu lama."Lanjutnya.
Ino berpaling ke arah Gaara, seolah sayang untuk meninggalkan anak itu.
Kakashi mengikuti arah pandang Ino, dia mengerti dengan sikap gadis itu yang tidak ingin meninggalkan Gaara.
"Tenanglah! Percayakan saja dia pada Tsunade-sama!"Kata Kakashi lagi, dan hal itu membuat Ino kembali menatap ke arahnya.
"Ayo!"Ajak Kakashi yang kini mengiring Ino untuk meninggalkan pemakaman, gadis itu pun menurut dan mengikuti langkah Kakashi dengan menggandeng Sasuke bersamanya.
Namun baru beberapa langkah Ino meninggalkan kerumunan, tubuhnya seolah ditahan oleh sesuatu yang memeluknya dari belakang, gadis itu menengok ke belakang dan mendapati Gaara tengah memeluknya.
"Ga...Gaara-kun?"Ino melepas pelukan Gaara dan berjongkok di depan anak itu, kini Gaara memeluk leher Ino dan membenamkan wajahnya di sana.
"Ja...jangan tinggalkan aku...tolong...bawa aku bersamamu!"Pintanya di sela isak tangisnya.
Semua orang di tempat itu dibuat tercengang oleh ucapan Gaara, mereka tidak mengerti kenapa Gaara bisa begitu dekat dengan Ino, bahkan ingin bersama gadis itu, tapi yang mereka tahu, Gaara akan aman jika bersama Ino, apa lagi mereka juga tahu, apartemen Ino bersebelahan dengan apartemen Kakashi, jadi mereka bisa mempercayakan Gaara kepada dua orang itu sebelum orang tua Gaara menjemputnya.
"Baiklah kalau begitu," Tsunade memecah keheningan, membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Ino, untuk sementara tugasmu adalah menjaga Gaara sampai orangtuanya datang kemari, dan Kakashi, kau bantu Ino untuk menjaganya!"Kata Tsunade.
Ino dan Kakashi terbengong, Sasuke apalagi.
"Apa jawaban kalian?"Tanya Tsunade yang mulai jengah karena tak ada jawaban dari keduanya.
"Ha...hai...!"Jawab Ino dan Kakashi sedikit ragu.
=oooooo=
Ino keluar dari mobil sedannya diikuti Sasuke, Kakashi dan Gaara.
Gadis itu terkesiap saat melihat seseorang yang tengah berdiri bersandar di pegangan tangga, jalan masuk ke apartemannya.
"Shikamaru? Sedang apa kau di sini? Kenapa tidak hadir di pemakaman?"Tanya Ino yang kini berjalan tergesa menghampiri Shikamaru.
"Kenapa kau biarkan mereka mati?"Desis Shikamaru, mata onyxnya menyorot tajam ke dalam aquamarine Ino, gadis terdiam, tak menjawab apapun, kini dia hanya mampu menundukkan wajahnya, tak berani menatap mata onyx pemuda di depannya.
"Kenapa kau biarkan mereka mati? Apa saja yang kau lakukan di sana sampai kau tak bisa menyelamatkan mereka? Percuma saja kau menyombongkan kemampuanmu dalam kecepatan kalau pada akhirnya kau 'Terlambat' sampai mengorbankan nyawa orang lain!"Shikamaru mencengkram bahu Ino kuat-kuat, tak memperdulikan kondisi bahu Ino yang terluka, tak perduli dengan darah yang mulai merembes dari balutan perban di bahu gadis itu.
Kakashi yang melihat adanya hal yang tidak beres, segera menghampiri keduanya, setelah sebelumnya menyuruh Sasuke dan Gaara untuk tetap di sisi mobil.
"Kau benar-benar tidak berguna!"Shikamaru menyentakkan tubuh Ino hingga gadis itu terhuyung dan hampir jatuh.
Ino mengernyit merasakan luka di bahunya yang berdenyut nyeri.
Tak terima dikatai tidak berguna, Ino membalas tatapan tajam Shikamaru.
"Kenapa kau menyalahkanku? Aku sudah bersusah payah mengejar waktu untuk menyelamatkan mereka, aku sudah berusaha datang tepat waktu demi mereka, di saat itu, apa yang kau lakukan hah? Tidur di atap?"Ino mencengkram kerah kemeja Shikamaru dan menghempaskan pemuda itu ke tanah dengan kasar, dia bahkan tak lagi perduli dengan luka-lukanya yang kini kembali mengeluarkan darah.
"Kenapa diam saja Shika? Aku benar kan?"Ino kembali meraih kerah Shikamaru.
"Ino hentikan! Perhatikan lukamu!"Kakashi mencoba melerai Ino dan Shikamaru.
"Kau menumpahkan semua kemarahanmu padaku karena kau sendiri merasa tak berguna saat itu, kau mengabaikan panggilan darurat hanya untuk bersantai di atap, tanpa tahu hal buruk terjadi pada teman kita, kau lari dari kenyatan dan melimpahkan semua kemarahanmu padaku!"Ino meluapkan segala emosinya, meskipun Kakashi telah menahannya dengan menjauhkannya dari Shikamaru.
"Kau menyalahkanku karena aku yang seharusnya bisa menolong mereka malah berakhir dengan kegagalan!"Ino meronta dari dekapan Kakashi, Shikamaru masih diam tertunduk mendengar semua ucapan Ino.
"Aku tahu Shika...aku gagal, aku tak bisa menolong mereka, aku hanya bisa membawa kesedihan bagi semua orang, aku bahkan membiarkan Gaara sampai melihat jasad kedua kakaknya yang terbunuh, aku membuatnya menangis, tak seharusnya dia melihat pertempuran itu..."Ino merosot terduduk di tanah dengan Kakashi yang masih mendekapnya.
"Aku melakukan kesalahan yang sama...dulu Sasuke...dan kini Gaara...mereka belum pantas melihat semua itu...tapi aku telah menyeret mereka ke dalam dunia penuh darah dan pembunuhan..."Ino menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkram erat lengan Kakashi yang masih mendekapnya.
"Shika..."
"Maaf..."Ino terkesiap saat Shikamaru memotong ucapannya.
"Akulah yang tidak berguna, aku tak memperdulikan panggilan dari markas malah lebih mementingkan kesenanganku sendiri, seharusnya aku bisa datang untuk membantu kalian saat itu, tapi aku malah..."Shikamaru tak melanjutkan ucapannya, kini dia justru terlarut dalam isak tangisnya.
Ino melapas dekapan Kakashi, kemudian bankit dan berjalan tertatih mendekati Shikamaru yang masih terisak, gadis itu berlutut di depan Shikamaru, dan mendekap bahu pemuda itu, menenggelamkan kepala Shikamaru di bahunya, berharap itu bisa menenangkan pemuda itu.
"Kita sama-sama kehilangan mereka Shika, aku tahu kau sedih, aku juga merasakan hal yang sama, meskipun aku baru saja mengenal mereka, tapi aku sudah menganggap mereka seperti kakakku sendiri, aku mengerti ini sangat menyakitkan, tapi kenyataan tak akan berubah meskipun kita menangisinya."Bisik Ino di telinga Shikamaru, perlahan kedua tangan Shikamaru terangkat dan membalas pelukan Ino dengan lembut.
"Maaf...maafkan aku yang sudah menyalahkanmu..."Lirihnya.
=Promise=
Ino menyelimuti tubuh mungil Gaara yang kini terlelap, anak itu tidur di kamar yang seharusnya manjadi milik Sasuke.
Wajah tidur anak itu terlihat begitu damai, seolah tak pernah terjadi hal buruk sebelumnya.
Ino tersenyum miris melihat Gaara, hatinya terasa sakit setiap kali dia mengingat bagaimana ekspresi Gaara saat melihat jasad kedua kakaknya.
"Gomen ne Gaara-kun."Bisik Ino sebelum mengecup pelan dahi Gaara, dan meninggalkan anak itu dalam tidur lelapnya.
Setelah keluar dari kamar Gaara, Ino memasuki kamarnya, atau tepatnya kamar Ino dan Sasuke, karena Sasuke memang setiap hari tidur di sana bersamanya, bahkan barang-barang Sasuke pun juga telah tertata di sana entah sejak kapan.
Ino duduk di tepi ranjang dan mengamati wajah Sasuke yang telah terlelap, wajahnya terlihat begitu damai, sama dengan ekspresi Gaara yang dia lihat tadi.
Perhatian Ino teralih pada bingkai foto yang terletak di atas meja kecil di samping ranjang, diraihnya bingkai foto itu dan mengamatinya.
"Itachi...kau tidak bohong padaku kan? Kau benar-benar masih hidup kan?"Gumamnya sambil mengusap wajah Itachi dalam foto itu.
"Aku merindukanmu Itachi, kumohon cepatlah datang! Aku butuh kau di sisiku."Lirih Ino sambil mendekap bingkai foto itu.
"Nggh...Onii-san...Ino-chan..."Ssuke mengigau dalam tidurnya, membuat Ino tersentak dan menoleh ke arah Sasuke, namun anak itu ternyata telah kembali terlelap.
Tak ingin mengganggu tidur Sasuke, Ino pun keluar dari kamarnya sambil membawa bingkai foto dalam dekapannya.
=oooooo=
Kakashi mengerjap-ngerjapkan matanya, malam ini dia benar-benar tak bisa tidur, sudah beberapa kali dia mencoba tidur, namun hasilnya tetap sama, dia selalu terbangun setiap 5 menit sekali.
Bosan dengan keadaan itu, dia pun bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar, tadinya sih dia hanya ingin ke dapur untuk mengambil minum, tapi entah bagaimana pikirannya malah tertuju pada tetangga sebelahnya alias Ino.
Bagaimana keadaannya sekarang?
Apakah dia sudah tidur?
Apa lukanya sudah mendingan?
Atau malah lebih parah?
Itulah yang dipikirkan Kakashi saat ini.
Karena penasaran, Kakashi pun melangkahkan kaki keluar kamar apartemennya menuju apartemen Ino.
Setelah sampai di depan pintu apartemen Ino, pria itu terlihat ragu-ragu antara mengetuk pintu atau tidak.
"Kira-kira dia sudah tidur belum ya?"Pikirnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Ah dicoba saja, siapa tahu dia memang belum tidur!"Pikir Kakashi lagi.
Kini tangan kanan Kakashi mulai bersiap mengetuk pintu, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk menahan handle pintu.
"In..."
Klek!
"Eh?"
Belum sempat Kakasi mengetuk, pintu itu telah terbuka, lebih tepatnya, pintu itu memang tidak terkunci sehingga tak sengaja terbuka saat Kakashi memutar kenopnya.
"Ha~h dasar ceroboh sekali kau Ino, padahal kau tinggal sendirian dengan dua orang anak di bawah umur."Pikir Kakashi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kakashi melangkah ke dalam apartemen Ino, terus berjalan hingga tengah ruangan, dan apa yang dia lihat di sana?
Kakashi memencet hidungnya seketika itu juga, takut akan ada banjir darah jika dia tak segera menutup kedua lubang hidungnya itu.
Bagaimana tidak?
Di sana, di atas sofa ruang tengah, dia melihat Ino yang tengah tertidur dengan lelapnya
Bukan itu yang membuatnya ingin mimisan, tapi pakaian Ino itu lho...
Gadis itu hanya memakai kemeja putih yang kebesaran dan sedikit transparan, belum lagi kedua kancing atasnya yang lupa atau mungkin sengaja tidak dikancingkan, kemudian bagian bawahnya yang tersingkap membuat kedua paha putih mulusnya terekspos dengan jelas.
Lelaki normal mana yang bisa tahan melihat posisi erotis Ino itu, tapi yang jelas Ino sama sekali tak bermaksud melakukan itu, mana tahu dia kalau pintu apartemennya lupa tidak di kunci, dan mana tahu dia kalau ada seorang pria yang masuk ke dalam apartemennya tanpa ijin?
Kakashi menelan ludah dengan susah payah, dengan mengumpulkan kesadarannya yang menipis, Kakashi mendekati sofa, tempat Ino tertidur.
Pria itu berhenti di samping sofa, atau tepatnya sudut di mana wajah Ino menghadap, kemudian dia berjongkok hingga wajahnya tepat di depan wajah Ino yang terlelap, tangan besarnya menyingkap pelan poni Ino yang menjuntai menutupi sebagian wajahnya, jantung Kakashi seolah ingin melompat keluar saat Ino mengeliat dan mengerang pelan, namun kemudian gadis itu kembali terlelap, Kakashi menghela nafas lega melihat hal itu.
Tluk!
Perhatian Kakashi teralih pada suara benda jatuh di bawahnya.
Sebuah bingkai foto yang jatuh di bawah sofa dengan posisi terbalik, Kakashi meraih bingkai foto itu kemudian membaliknya, tertangkaplah sebuah refleksi tiga orang yang tengah tersenyum bahagia di sana, refleksi wajah Ino, Sasuke dan yang satu lagi bukanlah orang yang dikenalnya, namun wajahnya benar-benar mirip dengan Sasuke.
"Inikah...pemilik cincin itu?"Batin Kakashi sambil melirik Ino yang masih terlelap.
Entah apa yang mendorong pria itu untuk mendekat ke arah Ino.
Rasa marah atau cemburu yang mungkin dia rasakan saat ini?
Pria itu mencondongkan tubuhnya setengah menindih Ino, kemudian menurunkan maskernya perlahan dan mendekatkan wajahnya pada wajah cantik di bawahnya.
Hanya tinggal satu centi saja bibir mereka bertemu.
"Itachi...?"Gumam Ino dalam tidurnya, membuat Kakashi tersentak, dan membuat dadanya naik turun menahan emosi.
Bibir mungil Ino kembali bergerak pelan, namun Kakashi buru-buru membungkamnya dengan ciuman, sehingga ucapan Ino kembali tertelan di kerongkongannya.
"Tidak...tidak bisa...aku tetap tidak bisa melupakan perasaanku padanya, aku tetap menginginkannya."Batin Kakashi yang kini semakin memperdalam ciumannya tanpa sepengetahuan Ino.
Well
TBC again minna ^_^v
Hontou ni gomenasai minna-san Ruru selalu telat updatenya, mengingat saya punya tanggungan 2 fic multichap, jadi updatenya gantian
Belum lagi kalo saya kepikir ide lain, jadi bikin yang baru dulu sebelum idenya hilang tertelan penyakit lupa lupa ingat.
Untuk Temari n Kankuro FC
Saya mohon maaf karena saya harus membunuh mereka di sini, ini demi kelancaran jalan cerita, lagi pula kehidupan itu kan nggak selalu berjalan mulus, atau selalu terjadi hal baik, hal buruk pun juga pasti pernah terjadi kan?
Saya hanya bermaksud membuat fic ini agar tidak terasa hambar saja.
Saa minna, mind to review? ^_^
Thank's for read and review
*Salam Cute*
