Disclaimers: One Piece is belongs to Eiichiro Oda

Warning: AU, typo, de el el

a/n: Hiihaa! Akhirnya apdet lagi! Memang telat dari waktu yang udah aku jadwalkan *?* sih. Gomen ne... DX. Silakan ucapkan terima kasih pada tugas-tugas yang menumpuk di meja belajar dan membuatku harus berhenti ber-internet ria sejenak.#plak. Tapi kuharap, kalian masih akan tetap menikmati chapter yang sudah mendekati ending ini.

Sankyuu buat Eleamaya, Portgas D. ZorBin, Tare-chan, 13QuarterQueen13, dan EastBlue :D. Sudah dibalas lewat PM ya~

Yosh, happy reading, minna!

V

V

V

Chapter 12: The Truth

"Bom waktu? Kau serius?"

Vivi mengangguk. Masih terlihat kepanikan di wajahnya. "Ya. Tadi aku berhasil menemukan satu file yang kelihatannya rahasia. Kemudian, saat kubuka, ternyata file itu adalah bagian dari detonator bom waktu yang terpasang di dasar gedung hotel. Dan waktu mulai berjalan, sejak Robin dan yang lainnya masuk ke dalam hotel."

"Mereka sudah merencanakannya," gumam Hancock. "Kelihatannya, orang-orang itu ingin memastikan tidak ada yang keluar hidup-hidup."

"Lalu sekarang bagaimana? Menyusul mereka?" tanya Ace.

"Ka-Kau gila! Memangnya kau ingin kita mati kurang dari satu jam?" tanya Usopp takut. Keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.

"Aku takut dengan bom itu~," Chopper terlihat mau menangis.

"Kalian ini agen rahasia. Setidaknya bersikaplah lebih baik. Jangan penakut begitu," kata Ace sweatdrop.

"Seberapa besar daya ledaknya?" tanya Hancock yang (kelihatannya) tidak peduli dengan obrolan rekan-rekannya.

"Cukup untuk menghancurkan hotel dan sekitarnya dalam radius lima kilometer," jawab Vivi.

"Lima kilometer? Bisa-bisa ini menimbulkan masalah baru. Apalagi bagi negara seperti AS!" Usopp terlihat panik.

"Tidak ada waktu lagi. Kita cari cara lain untuk menyelesaikan masalah ini," saran Ace. "Dan aku punya rencana. Hei, kau," ia menoleh pada Vivi.

"Apa?"

"Apa saja yang kau bawa di mobilmu? Maksudku, apakah kau membawa peralatan yang berguna untuk menyusup?"

"Tu-tunggu, Ace! Jangan bilang kau ingin masuk ke sana!" potong Usopp panik.

Ace menatap Usopp dengan wajah sedikit kesal. "Lalu mau bagaimana lagi? Kau ingin menonton di sini saja sampai bom itu meledak? Dan membiarkan adikku dan teman-temannya mati terbakar? Mereka bahkan tidak tahu kalau nyawa mereka sedang berada di ujung tanduk!"

"Ta-Tapi..." Chopper tidak jadi berbicara. Wajahnya masih terlihat takut.

"Dia benar. Aku khawatir dengan Luffy. Kurasa kita memang harus masuk ke sana," Hancock menatap hotel dengan pandangan khawatir.

Vivi menghela napas lalu berjalan ke arah bagasi mobil. Keempat orang lainnya mengikutinya. Gadis berambut biru itu lalu membuka bagasi dan memperlihatkan apa saja yang ada di sana. Terlihat wajah-wajah kaget dan kagum para anggota Seiryuu.

"Kau membawa sebanyak ini?" tanya Hancock heran.

Vivi mengendikkan bahu. "Aku yakin akan membutuhkannya nanti. Dan sekarang, kalian memang membutuhkannya, kan?"

"SUGOI~~, banyak sekali benda-benda keren di sini!" kata Chopper dengan mata berbinar.

"Apa kau membawa satu rak penuh?" tanya Usopp sambil menaikkan sebelah alis.

"Tidak. Aku hanya membawa yang perlu saja," kata Vivi. "Ambil saja yang kalian suka, aku ingin memberi kalian yang lain. Tunggu di sini."

Sambil menunggu Vivi yang sedang mengambil sesuatu di jok tengah mobil, para anggota Seiryuu memilih beberapa barang yang kelihatannya akan berguna. Masing-masing dari mereka hanya membawa dua macam saja, karena sulit membawa banyak bawaan selama menyusup.

Vivi kembali dengan dua PDA di tangannya. "Kalian akan berpencar jadi dua tim. Dan masing-masing tim, bawa satu," katanya sambil menyodorkan benda itu.

Ace dan Usopp mengambilnya.

"Aku akan pergi dengan Hancock. Lalu Usopp bersama Chopper," kata Ace. Ketiga temannya hanya mengangguk.

"Kalian hanya punya waktu 45 menit dari sekarang. Jangan buang waktu lagi," kata Vivi mengingatkan.

"Ya, kami pergi dulu," Ace berbalik menuju hotel diikuti teman-temannya.

"Hati-hati. Semoga kalian semua selamat," gumam Vivi sambil menatap keempat tubuh yang semakin menjauh.

^v^v^v^v

Lantai 23 Hotel Grand Sky...

"Teach-sama, sekarang bagaimana?" tanya seorang pria dengan penampilan seperti penari pantomim. "Kita apakan gadis berambut oranye ini?"

Pria itu menatap tubuh Nami yang terbaring dengan posisi telungkup di lantai. Setelah membawa Robin dan menyerahkannya pada pimpinan CP9, Teach lalu melepaskan kendalinya atas pikiran Nami yang digunakannya untuk menangkap Robin dan membuatnya pingsan.

"Zehahaha~, biarkan saja. Nanti dia akan sadar juga. Lebih baik kita segera pergi dari sini, sebelum bom itu meledak."

"Bagaimana dengan perjanjian yang kita buat dengan orang itu?" tanya bawahannya lagi.

"Zehahaha~ aku sudah membantunya menangkap Nico Robin. Uang bayaran juga sudah ditransfer. Jadi kita tidak punya urusan lain, Lafitte."

Mereka berdua hendak meninggalkan ruangan kosong itu, yang hanya ada Nami di dalamnya. Kemudian mereka menutup pintu dan mulai mengatur suhu di ruangan dengan pengatur suhu yang tergantung di samping pintu. Teach menyetel hingga suhu melewati 0 derajat.

"Anda ingin membunuhnya?" tanya Lafitte.

"Orang seperti dia akan sangat merepotkan nanti. Lebih baik dilenyapkan sekarang," jawab Teach setelah selesai mengatur suhu ruangan.

Mereka berjalan di koridor yang sepi. Hanya terdengar langkah kaki mereka yang teratur. Mereka lalu berhenti di depan lift khusus yang terletak di barat lantai 23. Mereka masuk ke dalamnya, dan menekan tombol menuju lantai 1.

"Teach-sama, boleh saya bertanya?" tanya Lafitte.

"Apa?"

"Gadis berambut oranye itu. Kita tadi melihat rekaman pertarungan dia dan Nico Robin melalui kamera pengawas di ruangan itu. Saat Anda mengendalikan pikiran seseorang, Anda bisa membangkitkan kembali apa yang pernah dilakukan di masa lalu, dan hal itulah yang Anda kendalikan. Dari caranya bertarung, aku tahu dia pernah bertarung sebelumnya. Benar bukan?"

Teach tersenyum mendengar pertanyaan bawahannya. "Dia memang pernah melakukannya. Aku sendiri terkejut saat melihat dari kamera pengawas. Kelihatannya gadis itu memang pernah bertarung. Entah apa yang terjadi di masa lalunya."

"Dan soal Nico Robin," potong Lafitte.

"Nico Robin?" ulang Teach.

"Bukankah Anda menginginkan wanita itu? Lantas kenapa Anda menyerahkannya pada orang itu? Mungkin saja, hari ini akan menjadi hari terakhir hidupnya."

Pintu lift terbuka. Mereka berdua keluar dan menuju tempat parkir. Namun sayang, di sana sudah ada yang menunggu.

"Mau kemana kau?"

Teach menyeringai melihat sosok yang menghadangnya. "Oh, kau rupanya, Califa! Apa dia yang mengutusmu kemari?"

"Benar. Apa kau berniat melarikan diri?"

"Aku hanya tidak ingin memperpendek usiaku. Masih ada banyak hal yang harus kulakukan," jawab Teach santai.

"Ap—," kalimat Califa terpotong bersamaan dengan peluru yang menembus dahinya.

Teach menyeringai melihat tubuh Califa yang langsung roboh ke lantai. Ia lalu kembali berjalan menuju tempat parkir diikuti Lafitte.

"Van Auger memang bisa diandalkan. Biarpun ia jauh dari sini," gumam Teach senang. "Nah, sampai dimana pembicaraan kita tadi?" sambungnya.

"Soal keputusan Anda menyerahkan Nico Robin," jawab Lafitte.

"Ah, benar. Aku membutuhkan wanita itu bukan karena masalah Pluton. Aku tidak peduli dengan hal-hal semacam itu. Tapi aku butuh informasinya mengenai seseorang yang ingin kucari."

"Siapa?"

"White Lily."

Lafitte tampak sedikit terkejut. "Bukankah dia sudah menghilang lima tahun lalu? Dan statusnya dinyatakan tewas oleh pihak Amerika," bantahnya.

"Zehahaha, memang benar White Lily sudah menghilang lima tahun lalu, tapi tubuhnya tidak pernah ditemukan. Mereka mengatakan itu pada dunia, supaya reputasi mereka menjadi bagus. Tapi, di kalangan agen intelijen sendiri, banyak yang masih menganggap White Lily masih hidup. Bagi mereka, No Body means Nobody. Begitu pula aku. Dan Nico Robin pasti mengetahui dimana dia sekarang."

Mereka berdua masuk ke dalam sebuah limousin mewah dan kemudian mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Membelah malam dan meninggalkan hotel Grand Sky yang mungkin akan segera berakhir.

"Lantas. Bagaimana Anda bisa menanyakan hal itu pada Nico Robin jika nyawanya belum tentu selamat?"

"Wanita itu pasti selamat. Dia bahkan bisa selamat dari insiden tiga belas tahun lalu, sayangnya dia tidak mengetahui yang sebenarnya, karena efek dari penyelamatan dirinya. Tapi, kau jangan khawatir. Dia tipe wanita yang ahli melarikan diri."

^v^v^v^v

"Ugh!"

Robin mengerang pelan. Ia membuka mata perlahan sambil merasakan nyeri di sekujur tubuhnya akibat pertarungan gila-gilaannya dengan Nami. Sesaat kemudian, pandangannya mulai terfokus, meski kepalanya masih terasa sedikit sakit. Karena itulah, ia memilih tetap dalam posisi berbaring. Ia juga merasa tangannya diikat ke belakang.

Ia lalu melihat sekeliling ruangan. Sama seperti ruangan terakhir yang ia masuki. Bentuk interiornya, seperti ruang kerja. Ada kursi direktur di balik meja di tengah ruangan itu. Di atas meja, terdapat sebuah laptop dengan layar yang menampilkan tampilan dekstop umumnya.

"Apa kabar, Nico Robin?"

Robin mendongakkan kepalanya, menoleh ke asal suara. Seorang pria yang berdiri di hadapannya dengan senyum menyeringai membuatnya merasakan kemarahan yang menyeruak dari dirinya.

"Kau... Spandam!" geramnya.

"Lama tak ketemu. Kau sudah dewasa, ya?"

^v^v^v^v

Sanji menatap orang-orang yang berkerumun di hadapannya satu per satu. Ia memprediksi bahwa jumlah mereka ada 20. Sial sekali baginya! Di saat ingin menolong Nami dan Robin, dirinya malah harus mengalami hal begini. Dikepung dari segala arah oleh agen Chipper Poll yang siap dengan senjata masing-masing. Ditambah lagi, tubuhnya terluka akibat pertarungan tadi.

"Minggir kalian, brengsek!"

Setelah berkata begitu, Sanji tanpa basa-basi langsung menyerang mereka dengan jurus yang dipakainya saat melawan Jyabura. Teknik itu mampu mengalahkan para agen level rendah itu dengan cepat. Sebentar saja, 'tumpukan mayat' sudah terlihat di hadapan Sanji.

Sambil memastikan tidak ada lagi musuh yang menghadang, Sanji membalikkan badan menghadap lift. Ia mendongakkan kepalanya, melihat sesuatu di atas lift. 'Lantai 23,' gumamnya.

Kemudian, ia berjalan menyusuri satu-satunya lorong yang ada di lantai itu. Berbeda dengan lantai lain yang tiap koridor memiliki persimpangan, lantai ini hanya punya satu lorong saja. Kelihatan seperti jalan penghubung. Ia berlari dengan kecepatan tinggi.

"Tunggulah, Nami-swan, Robin-chwan~! Pangeran cinta ini akan segera menolong kalian! Tidak akan kubiarkan kalian disakiti!" katanya dengan mata yang langsung berbentuk hati.

Sepanjang koridor, yang terlihat hanya dinding besi berwarna keabu-abuan. Ia tidak melihat adanya ruangan. Tujuannya adalah lift atau tangga. Ia yakin, pasti Robin atau Nami ada di lantai 24 atau 25. Karena sepertinya hanya dua lantai itu yang terlihat misterius. Mungkin di sana tempat pimpinan mereka.

Langkahnya terhenti saat melihat sebuah ruangan. Ia setengah berlari untuk menghampiri ruangan itu. Diperhatikannya pintu itu, tidak ada kunci elektronik atau semacamnya. Sama seperti pintu lainnya. Yang menarik perhatiannya adalah pengatur suhu yang ada di samping pintu.

'Benda ini aktif,' pikirnya.

Kalau aktif, berarti mereka sedang merencanakan sesuatu. Ia melihat ke arah layar pengatur suhu. Di sana tertera angka -10 derajat celcius. Merasa ada yang tidak beres, ia langsung menendang pintu itu sekuat tenaga. Tendangan pertama dan kedua belum berhasil. Pada tendangan ketiga, ia kerahkan seluruh tenaga yang tersisa. Dan thanks God, ia berhasil.

Saat ia masuk, bisa dirasakan hawa dingin langsung menyusup masuk hingga ke tulangnya. Ditambah lagi, ia tidak memakai jaket atau semacamnya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sesuatu yang terbaring di sudut ruangan.

"Tolong..."

"Nami-san?"

^v^v^v^v

"Nah, sekarang bagaimana?"

Ace dan Hancock sedang berdiri di area timur hotel yang berupa taman. Suasana gelap dan lampu taman tidak dihidupkan sehingga tidak ada seorang pun yang melihat mereka. Hancock mendongak sambil memerhatikan bentuk hotel dari samping.

'Dimana dia sekarang?' batin Hancock.

"Oi, Hancock! Kemari sebentar!"

Hancock menoleh pada Ace yang memanggilnya dan langsung berjalan menuju tempat Ace. Kakak Luffy itu sedang berjongkok di dekat sebuah kolam kecil yang ditutup semak belukar tinggi. Kelihatannya ini bekas kolam ikan yang sudah lama sekali. Kelihatan dari dasar kolam yang seperti tidak dibersihkan selama bertahun-tahun.

"Apa ini? Kenapa ada kolam tak terurus di belakang hotel yang baru berdiri?" tanya Hancock heran.

"Kelihatannya dulu di atas tanah hotel ini pernah dibangun sebuah rumah. Entahlah. Tapi kolam ini terlihat seperti tak terurus selama lebih dari 10 tahun. Lagipula, jaraknya ada di sudut hotel dan tertutup semak, makanya tidak terlihat."

"Lantas? Apa yang menarik dari kolam tak terurus ini?"

"Lihat," tunjuk Ace.

Hancock langsung jongkok di samping Ace supaya bisa melihat sesuatu yang ditunjuk lelaki itu dengan jelas. Sesuatu di samping kolam itu membuatnya bingung dan kaget.

"Ini..."

"Pintu bawah tanah. Kelihatannya ada sesuatu yang tersembunyi di sini. Kita masuk?" usul Ace.

"Tapi, bagaimana dengan Luffy?" Hancock tampak khawatir.

"Dia akan baik-baik saja. Mereka pasti selamat. Kita serahkan masalah ini pada Usopp dan Chopper. Mereka pasti bisa," Ace mencoba meyakinkan Hancock.

Hancock menatap pintu itu sejenak, lalu mengangguk. "Baik, kita masuk ke sana," ujarnya mantap.

Ace mencoba membuka pintu namun tak berhasil. Ia lalu memperhatikan struktur pintu. Ada lubang yang sesuai dengan tebal pintu kayu itu. Kemudian, ia mencoba menggeser pintu itu ke lubang di sisi kanan tadi. Ternyata benar. Pintu ini adalah pintu geser.

Mereka masuk ke dalam secara perlahan. Di dalam terlihat gelap. Ace mengambil senter yang ada di celananya dan menghidupkannya. Mereka berjalan perlahan menyusuri lorong. Bau tak sedap langsung menyapa hidung mereka yang langsung ditutup dengan sigap.

"Ugh! Tempat ini seperti tak pernah diurus berpuluh tahun!" keluh Hancock.

Ace mengarahkan pandangan sambil menyoroti setiap sisi lorong dengan senter. Lorong itu sendiri lumayan sempit. Lebarnya hanya bisa memuat satu orang sehingga Hancock harus berjalan di belakang Ace supaya muat. Saat lampu senter itu menghadap depan, Ace melihat sebuah pintu yang sepertinya merupakan ujung dari lorong ini. Ia langsung menuju ke sana bersama Hancock di belakangnya.

Ace menyerahkan senternya agar dipegang oleh Hancock. Ia lalu mencoba menggeser pintu itu. Tidak berhasil. Lalu, didobraknya pintu itu dengan tinjunya. Karena pintu itu memang sudah rapuh—kebetulan bahannya terbuat dari kayu—maka Ace bisa membuka paksa dengan mudah.

Mereka masuk ke dalam. Rasanya seperti memasuki sebuah ruangan. Ace melihat ada saklar di samping pintu dan menghidupkannya. Sinar oranye lampu yang mulai meredup langsung menerangi seluruh ruangan.

"Tidak disangka bahwa di tempat seperti ini masih ada penerangan," gumam Ace.

"Tapi sepertinya, lampu ini sendiri sudah hampir mati," sambung Hancock sambil melihat ke arah lampu.

Mereka menyusuri ruangan yang terlihat berantakan itu. Ada banyak sekali dokumen dan kertas-kertas tergeletak di atas meja. Ace mengambil salah satu dokumen dan melihatnya. Tapi, ia tak mengerti karena tulisan di kertas itu memakai tulisan sandi yang rumit.

"Hei, kemari sebentar!" panggil Hancock.

"Ada apa?" tanya Ace saat mendatangi Hancock yang ternyata memegang sebuah buku.

Buku itu terlihat kusam dan berdebu. Dari tampilan luar, terlihat seperti buku catatan. Di atas buku itu, terselip sebuah foto yang juga sudah kusam.

"Foto ini kutemukan terselip di antara lembaran kertas buku," Hancock menyodorkan foto itu pada Ace.

Ace terlihat bingung memandangi foto itu. Terlihat seorang wanita muda dengan rambut berwarna putih dan seorang anak kecil berambut pendek dengan wajah yang sama dengan wanita itu. Mereka berfoto dengan latar sebuah rumah megah bergaya Eropa kuno, tepatnya ala Rusia.

"Itu Nico Olvia," Hancock menjawab pertanyaan Ace sebelum pria itu sempat menyuarakannya.

"Nico Olvia? Aku pernah dengar nama itu. Dia kan arkeolog terkenal yang meninggal karena kecelakaan mobil tiga belas tahun lalu, benar kan?"

"Begitulah yang diketahui masyarakat," jawab Hancock dingin.

Ace mencoba membaca ekspresi wanita di hadapannya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita ini? Apa yang kau ketahui?"

Hancock menghela napas. "Pemerintah mengatakan bahwa Nico Olvia meninggal karena kecelakaan mobil. Tapi sebenarnya kecelakaan mobil itu tidak pernah ada."

"Apa? Apa maksudmu?"

"Maksudku, yang sebenarnya adalah Nico Olvia meninggal demi menyelamatkan penemuan yang sedang ditelitinya dan juga gadis kecil yang ada di foto itu. Ia mengorbankan dirinya demi gadis yang sekarang sedang dicari di seluruh dunia."

^v^v^v^v

"Aku lapar~~~."

"Diamlah. Ini sudah kedua puluh kalinya kau berkata seperti itu."

"Tapi, aku benar-benar lapar~, seandainya Sanji ada di sini."

"Kalaupun si Koki Mesum ada di sini, kau tetap tidak bisa makan, Luffy."

Sejak dua puluh menit yang lalu, Zoro dan Luffy terus mengulang obrolan yang sama. Mereka berdua sedang disekap dalam sebuah ruangan kosong dengan penerangan yang hanya berasal dari sinar bulan yang terhalang tirai jendela. Mereka berdua duduk di sana dengan tangan terikat di belakang tubuh.

"Sekarang kita harus bagaimana?" tanya Zoro, lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

"Lapar~~!"

KREK KREK

Terdengar suara yang kelihatannya seperti pintu yang dibuka. Mereka mendongakkan kepala karena mengetahui asal suara itu tepat di atas mereka. Ternyata, ada sebuah pintu ventilasi di langit-langit ruangan. Kemudian, terlihat pintu ventilasi itu terbuka dan muncul orang yang tak diduga oleh mereka.

"Usopp?" tanya mereka berbarengan.

"Kapten Usopp yang Pemberani datang menolong kalian!"

Luffy dan Zoro mengamati Usopp yang turun dengan menggunakan kawat super tipis namun lentur.

"KEREN~~!" Luffy terlihat berbinar senang.

"Itu seperti kawat yang kupakai untuk melarikan diri, kan?" Zoro terlihat cuek.

"Jangan meremehkan kawat ini! Dengan benda ini, aku sudah menyelamatkan ribuan nyawa dalam pertempuran dahsyat!" kata Usopp—yang jelas-jelas berbohong.

Chopper yang juga baru turun, langsung—dengan mudahnya—terpukau oleh cerita Usopp. "Eh, benarkah? SUGOI~~!"

"Hei, cepat lepaskan ikatan ini!" perintah Zoro. Chopper dan Usopp langsung membuka ikatan mereka berdua.

"Bagaimana kalian bisa di sini? Dan lagipula, kalian masuk lewat langit-langit," Zoro mendongak ke atas.

"Singkatnya, Pimpinan menugaskan kami, Ace, dan Hancock untuk menolong kalian. Tadi, kami sempat bertemu Vivi yang menunggu di luar hotel. Ace pergi dengan Hancock. Entah dimana mereka sekarang. Dan kami memilih masuk lewat lubang ventilasi dan sampai ke sini. Kebetulan kami menemukan denah hotel ini di PDA yang diberikan Vivi," jawab Usopp sambil menunjukkan benda yang diberikan Vivi tersebut.

"Begitu," komentar Zoro. "Lalu sekarang bagaimana?"

"Kita berpencar jadi dua tim. Aku dengan Luffy akan lewat ventilasi. Kau dan Chopper akan keluar lewat pintu itu," tunjuk Usopp pada pintu di hadapannya. "Sekarang kita ada di lantai 22. Tujuan kita adalah tiga lantai teratas. Nami dan Robin pasti ada di sana."

"Tapi, bagaimana kami akan keluar dari pintu itu? Benda itu terbuat dari besi. Setidaknya aku butuh pedang untuk membelahnya," tanya Zoro yang kesal karena pedangnya juga ikut disandera.

"Jangan khawatir. Aku sudah berhasil mengambil kembali pedangmu yang diambil orang-orang itu dalam perjalanan kesini. Mereka cukup mudah dikalahkan. Sekarang pedangmu ada di atas," Usopp mulai menaiki kawat itu.

Saat ia sampai di atas, ia langsung menjatuhkan tiga buah pedang yang ditangkap Zoro dengan cepat.

"Terima kasih."

"Oi, Luffy! Cepat naik!" panggil Usopp.

"Shishishi, baiklah!" jawab Luffy senang. Ia berhasil memanjat dengan cepat dan selamat. Mereka kemudian segera menutup lubang ventilasi itu dan berjalan menyusuri lubang dengan Usopp berada di posisi depan.

"Hei, Usopp," panggil Luffy pelan.

"Apa?" Usopp berhenti dan menoleh pada rekannya itu.

"Jangan kentut ya?" Luffy menatap bokong Usopp yang jelas-jelas berada tepat di depan wajahnya.

Usopp hanya sweatdrop melihat Luffy yang menatapnya dengan polos. Ia lalu kembali merangkak sambil menggumam, "terserah sajalah."

Sementara itu, di ruangan sandera tadi, Zoro langsung memasang pose bertarung 'Santoryuu' dengan ketiga pedangnya. Dengan satu tebasan, pintu ruangan itu hancur. Para penjaga yang ada di depan itu langsung masuk ke dalam karena terkejut. Dengan mudahnya, Zoro menebas mereka semua dalam sekejap. Ia lalu berlari keluar ruangan diikuti Chopper.

"Eh, Zoro. Pastikan kita tidak tersesat, ya?" Chopper memasang wajah khawatir.

"Berisik!"

^v^v^v^v

"Ada apa dengan wajah itu? Kau kelihatan membenciku."

"Kau seharusnya tahu kalau aku memang membencimu, Spandam."

Spandam tertawa terbahak-bahak. "Tentu saja. Itu pasti karena dendam yang kau bawa selama tiga belas tahun, kan? Sungguh menyedihkan."

Robin hanya diam. Ia memandang Spandam dengan wajah memerah karena menahan marah. Pria itu lalu mendekatinya dan menjambak rambut ravennya.

"Akh!" erang Robin kesakitan. Tubuhnya masih terasa lemas karena luka tembak di dada, menyebabkan tenaganya melemah.

"Katakan padaku dimana kau menyembunyikannya? Petunjuk mengenai Pluton. Katakan atau nyawamu akan melayang."

"Sampai mati pun tak akan kukatakan. Justru kau yang akan mati," Robin meronta dari Spandam. Namun, usahanya gagal karena tangannya terikat sementara tubuhnya juga masih lemas.

"Wahahaha! Bagaimana kalau begini. Kalau kau tidak mau mengatakannya padaku, maka teman-temanmu akan mati," ancam Spandam.

Robin menatapnya tajam. "Mereka akan baik-baik saja. Aku tahu kalau mereka berhasil mengalahkan anak buahmu."

"Itu benar. Tapi coba liat komputer yang ada di sana!" Spandam menunjuk komputer yang terletak di atas meja. Layar komputer itu belum berubah, masih sama seperti tadi.

Tiba-tiba Spandam menyeret Robin dengan paksa, membuat wanita itu mengerang kesakitan. Ia diseret ke arah meja itu. Kemudian, Spandam mengetik sesuatu di keyboard dengan tangan kirinya sementara tangan kanan tetap memengang rambut Robin.

PIP PIP

Suara yang berasal dari komputer membuat Robin menoleh. Lalu, apa yang dilihatnya membuat matanya membelalak tak percaya.

"Sekarang kau mengerti?" tanya Spandam sinis.

"Mustahil..."

"Serahkan petunjuk tentang keberadaan Pluton atau teman-teman tersayangmu itu akan mati kurang dari empat puluh lima menit."

^v^v^v^v

"Tempat ini sempit sekali."

"Berhentilah mengeluh. Cuma ini satu-satunya cara supaya kita bisa menemukan Sanji dan Nami, juga Robin."

Luffy dan Usopp masih menyusuri lubang ventilasi yang sempit itu. Setiap ada persimpangan jalan, mereka memilih jalan dengan asal-asalan. Mau bagaimana lagi. Pilihan jalannya bisa sampai lima. Orang lain juga pasti pusing. Ditambah lagi, mereka harus naik ke lantai atas. Dan menurut perhitungan Usopp, sekarang mereka sedang ada di lantai 24. Naik dua lantai, cukup membuat mereka ngos-ngosan.

Usopp melirik Luffy yang merangkak di belakangnya. Lelaki dengan luka di bawah matanya itu masih terlihat merangkak dengan santai. Oke, Usopp berubah pikiran. Sepertinya hanya ia yang capek mengingat Luffy itu tipe 'manusia bertenaga kuda'.

Tiba-tiba jalur lubang itu kembali terpisah menjadi dua. Usopp kembali berhenti dan mencari jalur mana yang harus mereka lewati berikutnya.

"Hei, Luffy! Kita lewat jalan yang mana nih?" tanya Usopp yang meminta pendapat Luffy.

Setelah beberapa saat tak mendapat respon, Usopp melirik ke belakang. Luffy tidak ada di sana! Matanya mencari-cari. Ternyata ada satu jalan lagi yang tidak terlihat olehnya. Mungkin Luffy ada di sana, pikirnya. Usopp mundur dan masuk ke jalan itu. Ternyata Luffy memang ada di sana. Matanya sedang menatap ke bawah. Rupanya, ada ruangan di bawah mereka. Terlihat dari pintu di lubang ventilasi itu yang cukup untuk mengintip.

"Hei, Usopp! Bukannya itu Robin?" tunjuk Luffy ke bawah. "Siapa yang ada di sebelahnya?"

"Sssst! Kecilkan suaramu! Kau mau kita ketahuan?" tanya Usopp sambil membekap mulut Luffy.

Usopp menatap dengan teliti. Sepertinya ia kenal lelaki itu. Mereka sedang membicarakan sesuatu. Usopp mencoba menajamkan pendengarannya.

"Kenapa dia menjambak Robin seperti itu? Tangannya juga diikat. Kita harus menolongnya!" Luffy bersiap membuka pintu itu, namun ditahan Usopp.

"Jangan! Kau tidak lihat mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting? Kita dengarkan saja dulu, baru mengambil tindakan."

"Tapi...," Luffy mencoba membantah.

"Luffy, sekali ini saja. Ikuti kata-kataku."

Mereka kemudian kembali berkonsentrasi pada perbincangan kedua orang itu. Mereka melihat Robin sedang menatap layar komputer bersama laki-laki itu.

"Kau...," geram Robin, tak mampu meneruskan kata-katanya.

"Wahahahaha! Bukankah ini tawaran menarik? Aku mau lihat, apa yang akan kau lakukan, Nico Robin? Menyerahkan petunjuk itu padaku dan membiarkan teman-temanmu hidup? Atau tetap bungkam dan kalian semua akan mati bersama?"

Robin hanya diam saja. Ini dilema baginya. Ia tak mau bicara tentang Pluton, sama sekali. Tapi, di satu sisi, bayangan rekan-rekan yang telah bekerja sama dengannya kembali mucul dalam pikirannya. Luffy, Zoro, Sanji, Usopp, Vivi, Chopper, bahkan Nami yang menurutnya masih ada di suatu tempat di hotel ini.

Spandam mengamati Robin yang diam menunduk. Ia lalu meludah ke samping.

"Cuh. Tidak disangka kau sebimbang ini, Nico Robin? Dimana insting melarikan diri yang selama ini kau perlihatkan, hah? Kau kelihatan sama menyedihkannya dengan tiga belas tahun lalu."

Kalimat terakhir itu membuat Robin mengangkat kepalanya dan menatap Spandam dengan wajah terkejut. "Jangan-jangan kau yang menyebabkan kecelakaan mobil itu...?"

Spandam menyeringai. "Itu benar. Tapi, karena akhirnya kau akan mati juga, biar kuklarifikasi sedikit. Kecelakaan mobil itu hanya bualan pemerintah saja."

"Apa? Itu tidak mungkin!" bantah Robin.

"Itu benar. Kalau kau tidak percaya, akan kuceritakan kejadian yang sebenarnya."

^v^v^v^v

Tiga belas tahun lalu. Miami, Florida...

"Aku tidak akan menyerahkannya, sama sekali."

Iceburg memandangi wanita di hadapannya dengan wajah penuh harap. "Ayolah, Olvia. Kau harusnya tahu kalau pemerintah AS ingin mengembangkan penemuan Plutonmu itu. Bekerja samalah dengan mereka."

Olvia menatap Iceburg tajam. "Dan membiarkan mereka menggunakannya untuk memulai perang? Kau ingin ada Perang Dunia ketiga? Apa kau tidak pernah belajar tentang bagaimana nasib rakyat Jepang saat kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh AS?"

"Itu benar. Tapi..."

"Belum lagi, sekarang dunia sedang heboh dengan masalah perang nuklir. Kau mau dunia semakin dicekam dengan kemunculan Pluton?"

Mereka berdua terdiam. Olvia berjalan pelan menuju jendela kaca. Mereka berdua sekarang sedang berada di ruang tamu kediaman keluarga Nico. Pemilik rumah, Nico Olvia adalah arkeolog terkenal yang sudah menemukan berbagai penemuan historis. Namun, saat ini ia sedang bersitegang dengan pemerintah AS karena ia menolak untuk menyerahkan penemuannya pada pemerintah. Saat ini, pemerintah masih mencoba membujuknya. Tentu saja, salah satunya melalui Iceburg yang seorang senator.

Olvia menatap ke arah pekarangan rumahnya. Rumah bergaya klasik Eropa khas Rusia ini memang memiliki taman di sekelilingnya dan sebuah kolam kecil di belakang rumah. Ia selalu menatap halamannya yang hijau ketika pikirannya sedang suntuk.

"Katakan pada pemerintah, keputusanku sudah bulat. Tidak ada lagi yang perlu dinegosiasikan. Sampai kapanpun, aku tidak akan menyerahkan petunjuk tentang Pluton."

"Kenapa?" hanya itu yang bisa dikatakan Iceburg.

Olvia membalikkan badannya, menghadap Iceburg. "Karena dengan begitu, dunia akan aman," ia lalu berjalan menuju tangga. "Pulanglah. Tak ada lagi yang harus dibicarakan."

Iceburg menatap Olvia yang menaiki tangga. Ia lalu mengambil mantelnya dan berjalan menuju pintu utama. Saat berjalan, ia melihat seorang gadis kecil sedang menatapnya dari arah tangga tempat Olvia naik tadi.

Iceburg yang mengenali siapa gadis itu langsung tersenyum. "Apa kabar, Robin? Aku pulang dulu," pamitnya.

"Hati-hati," kata Robin kecil.

"Robin, apa yang kau lakukan? Cepat mandi sana!" panggil Olvia dari lantai atas.

"Baik, Bu."

Tanpa mereka ketahui, Robin mendengarkan semua percakapan mereka secara diam-diam.

^v^v^v^v

"Kau tidak berhasil membujuknya?"

"Maafkan aku. Tapi, dia benar-benar bersikukuh dengan keputusannya itu. Kelihatannya keputusannya sudah bulat."

Iceburg memandang wajah-wajah di hadapannya dengan perasaan tegang. Wajah-wajah itu terlihat tidak terima dengan berita yang dibawanya dari kediaman keluarga Nico. Tentu saja. Mereka mengharapkan jawaban 'iya' dari wanita beranak satu itu. Tapi ternyata? Ia bahkan lebih keras kepala dari yang mereka duga. Terutama Spandam. Ia terlihat tidak senang dengan hal ini.

"Sekarang apa yang akan kita lakukan? Nico Olvia adalah satu-satunya petunjuk kita untuk mendapatkan Pluton."

"Tidakkah sebaiknya kita hentikan saja ini? Percuma. Buat apa kita bersikeras mendapatkan senjata itu? Ini hanya akan menimbulkan perang lagi," sela Iceburg.

"Apa katamu? Kau mau menyerah begitu saja, pecundang?" kali ini Spandam yang menyela ucapan Iceburg. "Kalau kita tidak bisa mengambilnya secara langsung, kita gunakan cara terakhir."

"Apa?"

"Kita bunuh wanita itu."

Satu kalimat itu cukup mengejutkan semua yang ada di sana, terutama Iceburg. Hal gila macam apa yang sedang dipikirkan Spandam?

"Kau gila! Apa yang kau pikirkan?" kata Iceburg dengan wajah menahan marah.

"Wahahaha! Tidakkah kalian berpikir? Wanita itu tidak mau menuruti kata-kata pemerintah. Bukankah orang seperti dia yang akhirnya akan menjadi pemberontak negara sendiri? Dia akan menjadi ancaman. Jadi kita harus melenyapkannya."

"Lalu bagaimana dengan Pluton?" tanya salah seorang anggota senat.

"Kita tinggal mencarinya. Wanita itu pasti menyembunyikannya di suatu tempat rahasia. Jika dia mati, akan lebih mudah bagi kita untuk mencarinya, bukan begitu?"

"Lalu, cara apa yang akan kita gunakan untuk membunuhnya?"

Spandam tersenyum sinis. "Kita bakar dia beserta putri dan rumahnya."

Iceburg refleks berdiri dari kursinya. "Kenapa harus Robin juga?"

"Anak itu akan menjadi masalah seperti ibunya. Kita harus menyingkirkannya juga, Iceburg," Spandam menatapnya dengan tatapan mengejek. "Kita lakukan malam ini."

"Apa?"

"Aku akan mengutus CP9 untuk melakukannya. Tapi, kau yang akan menjadi saksi kematian Nico Olvia bersamaku."

^v^v^v^v

Malam itu adalah awal musim dingin. Salju sudah terlihat turun di kota Miami. Robin keluar dari rumahnya sambil mengenakan mantel panjang dan syal. Ia ingin pergi ke kolam di belakang rumahnya karena khawatir dengan ikan-ikannya. Saat hampir sampai di kolam ikan, ia malah tersandung sesuatu.

"Aduuhh!" katanya sambil mengeluh kesakitan.

Matanya lalu melihat sesuatu yang asing. Sebuah pintu geser. Ia yang merasa baru pertama kali melihat benda itu segera saja membukanya. Di dalam sangat gelap. Untunglah Robin membawa senter. Ia lalu turun ke bawah dengan perlahan. Ia memperhatikan tembok di sekelilingnya sambil tetap mengarahkan sinar dari senter ke arah depan. Hanya suara langkah kakinya yang terdengar secara beraturan.

Akhirnya, ia sampai di depan sebuah pintu. Ia membuka kenop pintu dan berhasil. Perlahan ia memasuki ruangan yang gelap gulita tersebut. Tangannya meraba-raba, mencoba beradaptasi dengan ruangan itu sambil mengarahkan senternya. Cahaya dari senter itu tidak cukup menerangi semua ruangan.

Robin berhenti di depan sebuah lemari besi. Ia melihat ada panel di pintu lemari itu. Pemindai sidik jari. Dengan rasa penasaran, ditempelkannya ibu jarinya ke kotak panel itu. Soalnya ia pernah melihat bentuk seperti itu di pintu depan rumahnya.

PIP

Pintu itu terbuka secara otomatis. Robin mengarahkan senter ke dalam lemari. Ada setumpuk kertas di sana. Ia ambil salah satunya dan mengarahkan cahaya senter ke kertas itu supaya bisa dibaca.

"Apa ini? Tulisan ini, rasanya pernah kulihat," gumam gadis kecil itu.

Matanya menyapu kertas itu dengan cepat. Lalu, dilihatnya lagi secara seksama. Ia tahu apa yang tertulis di sana. Kertas itu menggunakan huruf-huruf sandi kuno yang pernah ia pelajari dari ibunya. Matanya membelalak tak percaya.

"Pluton? Senjata pemusnah massal?" katanya sambil tetap membaca keterangan yang tertera di bawahnya.

DUAR!

"Eh?"

Suara ledakan keras itu membuat Robin mengalihkan perhatiannya dari kertas yang sedang dipegangnya. Ia lalu berlari menuju pintu keluar tempat ia masuk, meninggalkan ruangan penuh dokumen tersebut. Perasaannya mulai tak menentu. Seperti ada sesuatu yang akan hilang.

Dengan susah payah ia keluar dari pintu bawah tanah itu. Tiba-tiba hawa panas terasa dari sekitarnya. Dan apa yang ada di hadapannya membuat gadis kecil itu menatap tak percaya.

Semuanya berubah menjadi merah. Hawa panas yang terasa hingga ke dalam tubuh. Suara sirine mobil pemadam kebakaran yang mendekat. Riuh rendah penduduk sekitar. Semuanya bercampur saat itu juga. Saat kesadarannya kembali, Robin tahu apa yang harus dilakukannya.

"IBU!"

Refleks ia berlari menuju rumah yang sudah terbalut si jago merah. Air mata mengalir deras membanjiri wajahnya. Hanya satu wajah yang terbayang di pikirannya.

"Eh, bukannya itu Robin?"

"Apa yang dia lakukan?"

Warga sekitar yang melihat Robin langsung mengejar untuk menghentikannya. Mereka berhasil menarik Robin sebelum ia masuk ke dalam rumahnya.

"Lepaskan! Ibuku ada di dalam!" teriak Robin sambil meronta.

"Jangan! Kalau masuk, kau tidak akan keluar hidup-hidup. Begitu juga dengan ibumu. Dia tak mungkin selamat."

Kata-kata itu menyulut amarah Robin. Berani sekali mereka mengatakan bahwa ibunya tak mungkin selamat. Tahu apa mereka?

Ia menggigit telapak tangan orang yang menahannya. Tentu saja, yang bersangkutan langsung berteriak kesakitan. Kesempatan itu dimanfaatkan Robin untuk lari. Ia menambah kecepatan larinya supaya mereka tidak bisa menangkapnya lagi.

Robin masuk melalui jendela yang ada di sudut ruangan. Ia menahan napasnya supaya tidak menghirup asap dan gas karbon dari api yang sudah semakin mengganas. Keringat mulai bercucuran keluar dari seluruh tubuhnya.

"Ibu! Kau dimana?"

Ia mencoba menaiki tangga. Robin tahu kalau sebelum keluar, ibunya sedang berada di kamarnya di lantai atas. Tapi, seluruh anak tangga sudah dipenuhi api. Mencoba nekat menaiki tangga pun, justru kakinya yang akan dilalap api.

KREK KREK

Robin terkejut dengan suara yang berasal dari atas. Ia mendongak. Ternyata, langit-langit yang terbuat dari balok kayu itu mulai keropos. Sebentar saja, salah satu balok kayu sepanjang 10 cm jatuh dengan cepat. Karena sudah menyadarinya, Robin berhasil mengelak. Ia lalu berlari ke arah pintu depan. Balok-balok kayu yang lain pun mulai berjatuhan. Ia harus berhasil menghindar sambil berlari menuju pintu depan kalau ingin selamat.

Karena terlalu terburu-buru, ia tidak menyadari ada balok kayu yang sudah jatuh di hadapannya. Gadis kecil itu tersandung dan akibatnya kepalanya menabrak ujung kusen pintu. Darah mulai mengalir pelan dari kepalanya sementara ia langsung pingsan saat itu juga.

^v^v^v^v

"Wahahaha! Sepertinya rencana kita berhasil. Bagus sekali, CP9!" kata Spandam yang menyaksikan kebakaran itu dari kejauhan bersama Iceburg. Ia sedang berbicara dengan Rob Lucci melalui earset-nya.

"Ya, tak ada masalah. Kami akan kembali ke markas sekarang sebelum ada yang menyadari," jawab Rob Lucci.

Sambungan terputus. Spandam menatap api yang masih menari-nari itu dengan wajah puas sementara Iceburg menatap dengan perasaan tak menentu.

"Melemparkan bom mini dari jarak jauh tanpa disadari wanita itu. Bukankah itu brilian?"

Iceburg tidak menjawab pertanyaan Spandam. Hatinya terlanjur muak dengan lelaki yang dianggapnya menyebalkan dan licik itu.

Pria itu lalu berbalik dan mengambil mantelnya yang tersampir di kursi dan berjalan keluar ruangan.

"Mau kemana kau?" tanya Spandam.

"Mencari angin segar. Menatap api itu hanya akan membuatku ingin menghajarmu," jawab Iceburg dengan suara rendah.

"Wahahaha, jangan lupa perjanjian kita. Kalau kau mengatakan ini pada orang lain, kau yang akan terseret masalah. Lebih tepatnya, kau juga akan masuk penjara dan karir politikmu akan berakhir, Iceburg. Kau juga punya andil dalam masalah ini."

Iceburg tidak berkomentar apa-apa. Ia langsung keluar dari tempat itu dan mengambil ponsel dari saku jasnya. Ditekannya sebuah nomor dan ditempelkannya telepon itu ke telinganya.

"Halo, ini aku," Iceburg keluar dan memasuki mobilnya yang sudah terparkir di halaman depan gedung. "Apakah berhasil? Baiklah, kau dimana sekarang?"

Lelaki itu diam dan mendengarkan ucapan orang yang diteleponnya. Kemudian, wajahnya terlihat lega. "Baiklah, aku akan segera ke sana. Terima kasih atas bantuannmu sebelumnya, Saul."

^v^v^v^v

Tokyo International Hospital, 2 jam setelah kebakaran...

Iceburg berlari kecil di koridor lantai tiga. Saat itu, ruangan terlihat sepi. Hanya ada beberapa suster yang keluar atau menuju ruangan di lantai tiga atau empat. Matanya mencari-cari seseorang yang sedang menunggunya.

"Ah, Iceburg!" sapa orang yang sedang dicarinya itu.

Iceburg menghampiri lelaki berperawakan besar yang bernama Jaguar D. Saul. Ia adalah anggota Angkatan Laut Jepang yang berpangkat Wakil Admiral. Hubungannya dengan Iceburg cukup akrab, walaupun belakangan ini mereka jarang bertemu dikarenakan kesibukannya sekarang.

"Bagaimana keadaannya?"

CKLEK

Pintu terbuka, seorang dokter berusia menjelang 50 tahunan keluar dengan wajah serius. Iceburg dan Saul menatap dokter itu, menunggu penjelasan.

"Bagaimana, Dokter Kureha?"

"Fisiknya tidak mengalami masalah, tapi justru ingatannya yang bermasalah."

"Maksud anda?" tanya Iceburg tak menentu.

"Benturan yang dialaminya cukup keras, itu mengakibatkan sebagian memorinya menghilang. Kemungkinan besar, ia akan melupakan kejadian hari ini dan kejadian beberapa hari sebelumnya. Tapi kurasa, dia masih bisa mengingat siapa dirinya dan keluarganya," terang Dokter Kureha sambil menatap wajah Iceburg dan Saul. "Kalian boleh masuk ke dalam."

Sepeninggal Dokter Kureha, kedua lelaki itu memasuki kamar. Di sana, Robin kecil terbaring dengan kepala dibalut perban. Kedua pria itu menatap gadis kecil nan malang yang sudah lupa dengan apa yang terjadi 2 jam yang lalu.

"Saul," panggil Iceburg.

"Ada apa?"

"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku lagi. Anggap saja ini permintaan terakhirku sebagai temanmu."

"Permintaan apa yang kau maksud?"

Iceburg menatap intens Saul. "Aku ingin kau merawat Robin sambil tetap menjaga rahasia bahwa ibunya mati karena kebakaran."

"Maksudmu aku harus membohonginya, begitu?" tanya Saul tak percaya.

"Ya. Kalau dia tahu, itu akan menyulitkan dirinya sendiri nanti. Ia pasti akan membalas dendam pada orang yang membunuh ibunya. Tapi, jika dia tidak tahu apa yang terjadi, dia akan aman dari orang yang membunuh ibunya."

"Tapi..."

Iceburg mencengkram kedua bahu rekannya. "Saul, aku mohon. Sekali ini saja. Tolong, rahasiakan ini dari Robin."

Saul menatap Iceburg dengan pandangan bimbang. Kemudian, ia menutup mata dan menarik napas dalam-dalam. Dihembuskannya perlahan lalu ditatapnya gadis kecil yang masih tertidur itu. "Baiklah. Akan kulakukan."

"Terima kasih. Aku berhutang budi padamu."

^v^v^v^v

"Begitulah kejadiannya. Saul mengatakan semuanya sebelum aku membunuhnya. Tidak kusangka, ternyata kau memang masih hidup."

"Jadi..." Robin menggantung ucapannya.

"Ya, aku yang membunuh Saul dengan menyewa seorang sniper handal. Sayang sekali, ia dinyatakan meninggal dalam tugas oleh Pemerintah. Dengan begitu, aku tidak memiliki sangkut paut dengan kejadian itu. Wahahaha!"

"Saul...," gumam Robin pelan.

"Karena kau akan mati juga, akan kuberi tahu satu rahasia, Nico Robin."

Gadis itu mendongak mendengar ucapan Spandam. Matanya menatap tajam. "Rahasia?"

"Benar. Lihatlah keyboard benda ini," tunjuknya pada laptop miliknya. "Tombol O dan R. Salah satu dari kedua tombol itu bisa mematikan bom yang kupasang. Hanya aku yang tahu, mana yang bisa menghentikan waktunya. Tapi, tentu saja aku akan memberi tahu jika kau juga memberikan apa yang kuinginkan."

"Begitukah?"

"Tentu saja. Kau masih belum percaya?"

"Entahlah. Sulit untuk mempercayai orang macam kau."

Spandam kembali menjambak rambut Robin dan mendekatkan wajah gadis itu ke wajahnya. "Sudah mau mati, masih saja bertingkah."

Robin menatap sinis, "harusnya kau yang tidak bertingkah, Spandam."

Hantaman keras terasa di perut Spandam. Lelaki itu tidak tahu apa yang terjadi, semuanya berlangsung dengan cepat. Ia langsung terlempar ke sudut ruangan.

Robin berguling menuju ke sisi lain meja. Dengan cepat, ia membuka laci atas meja itu dan mengambil sepucuk pistol di dalamnya. Ia berdiri di hadapan Spandam yang masih mengerang kesakitan sambil menarik pelatuk pistol itu.

"Kau meremehkanku. Kalau hanya ikatan seperti itu, aku sudah terbiasa. Bahkan aku bisa membukanya dengan cepat, seperti yang kulakukan tadi."

"Apa?"

"Ini bukan pertama kalinya aku tertangkap. Saat masih amatir, aku sering tertangkap. Tapi, aku bisa melarikan diri dengan membuka ikatan. Bisa karena terbiasa. Dan kesalahan fatalmu adalah mengikatku dengan tali. Kau terlalu ceroboh."

"Ugh!"

"Oh ya, biar kuberi tahu satu hal padamu. Aku sudah tahu semuanya sebelum Saul meninggal."

"A—Apa?"

"Ya. Saat memberi tahuku, sepertinya dia merasa bahwa hidupnya tak lama lagi. Tetapi, ia berpesan agar aku berpura-pura seolah-olah aku tetap tidak ingat soal itu. Sama seperti saat aku mengintrogasi Iceburg. Dan aku tahu kaulah yang membunuhnya untuk membungkam mulutnya agar kejahatanmu tak terbongkar, kan? Sayang sekali, kau salah mengambil tindakan."

"Tidak mungkin!"

"Ya, itu sebabnya aku langsung menerima tawaranmu untuk datang kemari. Tidakkah kau berpikir? Sekalipun Nami adalah sahabat sekaligus adikku, tidak mungkin aku langsung mengiyakan permintaanmu kan? Terlebih lagi, saat itu, belum tentu aku berbicara dengan Nami. Bisa saja itu orang lain yang bisa menirukan suaranya. Tapi, aku langsung memenuhi syaratmu itu karena akan lebih mudah membunuhmu jika kita berhadapan langsung. Benar kan, Spandam?"

"Kau benar-benar iblis!"

"Itu memang julukan yang kalian berikan padaku, kan? Kenapa harus kaget kalau sekarang aku bersikap seperti iblis?" Robin mengacungkan pistolnya ke kening Spandam. "Tanpa kau beritahu pun, aku akan mencari tahu sendiri detonator bomnya."

"Apa? Itu tidak mungkin! Kau pasti bercanda!" bantah Spandam tak percaya.

"Apa aku terlihat bercanda?"

"Hei, tunggu..."

DOR!

Tubuh Spandam merosot ke lantai. Darah mulai keluar dari kepalanya. Sementara itu, sama seperti saat membunuh target lainnya, Robin hanya menatap kematian mereka dengan wajah tenang.

"Keluarlah, Luffy, Usopp," panggilnya.

Pintu kecil di langit-langit terbuka. Kedua lelaki itu turun ke bawah. Mereka lalu menghampiri Robin yang masih memegang pistol.

"Tidak kusangka kau benar-benar akan membunuhnya. Dia itu salah seorang anggota senat kan?" tanya Usopp ngeri saat melihat mayat Spandam.

"Aku adalah pembunuh. Jadi, tidak ada masalah. Lagipula, selama ini aku membunuh, hanya agar bisa sampai kepada orang ini," Robin ikut menatap mayat Spandam.

"Eh, ngomong-ngomong, sejak kapan kau tahu kami ada di langit-langit?" tanya Usopp lagi.

Robin tersenyum simpul. "Sejak Luffy berbicara dengan suara yang cukup keras. Aku sudah terlatih mendengar suara dengan seksama."

"Hei, bagaimana dengan alat ini? Dia bilang tombolnya O dan R kan? Aku coba ya?"

"Jangan, Luffy!"

Usopp langsung menahan tangan Luffy yang hanya berjarak 3 cm dari keyboard. "Jangan melakukan hal yang macam-macam begini!"

"Tapi, waktunya tinggal 12 menit lagi Usopp. Kalau tidak begitu, nanti tidak ada waktu lagi."

"Dia benar."

Usopp dan Luffy menoleh ke arah Robin. Gadis itu terlihat menatap layar laptop dengan wajah berpikir. Ia lalu menghela napas pelan, seolah sedang mengambil keputusan yang sulit.

"Keluarlah dari ruangan ini dan cari teman-teman kalian yang lain. Urusan bom ini, serahkan saja padaku."

"Tu—tunggu! Apa yang kau bicarakan?"

"Mereka tidak tahu kalau ada bom yang akan meledak kurang dari 10 menit, sementara mereka pasti sedang menuju kemari. Kalau sudah begitu, akan sulit untuk keluar dari gedung ini. Jadi, kalian berdua sebaiknya segera pergi dan mencari mereka serta keluar dari gedung ini. Aku yang akan menangani bom ini."

"Ta—Tapi..."

"Tidak ada waktu lagi! Cepatlah!"

Usopp melihat wajah Robin yang memandang mereka dengan tatapan meyakinkan seolah ia benar-benar ingin menangani ini semua sendirian. Dan sepertinya, Robin tak mau berkompromi lagi soal ini.

"Baiklah. Kami percayakan padamu," Usopp menyeret Luffy keluar dari ruangan itu. "Ayo, Luffy!"

"Robin, berhati-hatilah! Kami akan menunggumu di luar!" teriak Luffy sebelum mereka berdua menghilang menuju koridor.

Robin tersenyum sesaat, kemudian berjalan menuju pintu yang terbuka. Ditutupnya pintu itu dan dikuncinya supaya tidak ada yang bisa membuka dari luar. Kemudian, ia kembali menuju meja dan menatap timer yang terus berjalan.

"Kau tidak mungkin akan membiarkan siapa pun keluar hidup-hidup, Spandam. Tapi, aku tahu kalau mereka pasti akan selamat."

Ia lalu mengangkat sebelah tangannya dan bersiap menekan salah satu dari kedua tombol O dan R. "Pilihan yang mana pun, semuanya adalah ranjau mematikan."

~TBC~

a/n: Tak terasa, fic ini sudah mendekati ending. Chapter depan akan menjadi chapter terakhir dari fic ini XD Kuharap aku nggak ngaret terlalu lama buat apdet endingnya#woi. Apa boleh buat, karena mulai minggu depan, aku bakal makin sibuk. Tugas sekolah, les, dan blablabla lainnya sebagai anak kelas 3 SMA, juga sibuk ngobrak-ngabrik archive buat nyari nominasi IFA 2011.

Nah, ngomong-ngomong soal IFA 2011, mungkin beberapa dari kalian sudah tahu. Tapi, aku tetep promosiin aja deh XD

IFA(Indonesian Fanfiction Award) adalah ajang penghargaan fanfiksi yang diadakan setahun sekali. Di IFA 2011, kalian bisa menominasikan fanfic-fanfic yang dipublish sejak tanggal 1 November 2010-30 September 2011. Ini bukan ajang membuat fanfic lho, tapi MENOMINASIKAN fanfic yang sudah ada (sudah dipublish) sejak tenggat waktu yang udah disebutin. Nah, bulan Oktober sudah dekat, artinya waktu kalian untuk berpartisipasi dalam menominasikan juga semakin dekat! Ayo, ikut berpartisipasi! Tahun lalu, FOPI menang satu lho di Best Canon/IC. Tahun ini, kita meriahkan IFA 2011 supaya makin banyak fic dari FOPI yang menang XDb. Dan jangan lupa pilih FOPI sebagai Best Fandom ya~ Harus lho! Wajib!#ditendang.

Sampai jumpa di chapter terakhir! Jangan lupa review ya? ^_^