Chapter 11: THE DETERMINATION

.

Motherfucker

An Action Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Are you ready to kill?"

A sequel of Welcome to Our Madness

.

.

.

Sehun membunyikan sendi di jarinya dan tersenyum. "So, let's play."

Kalimat itu mengawali segalanya ketika Junhong mengacungkan besi di tangannya dan menerjang Sehun. Sehun menghindar untuk pukulan pertama dan kedua, namun cukup lengah saat pukulan ketiga.

Kesempatan itu Jungkook ambil untuk menyerangnya dari belakang, tapi tak disangka Sehun menendangnya tepat di kaki, membuatnya jatuh. Sehun berusaha fokus kembali pada Junhong yang menurutnya bisa lebih membahayakan; karena kondisi fisiknya yang tidak terluka parah seperti Jungkook, ditambah dengan besi yang masih digenggamnya.

Junghong memutar besi di tangannya, mencuri pandang mencari titik yang tepat untuk memukulnya. Tapi Sehun menangkap pergerakan itu, dan dengan cepat menerjang Junhong dan melayangkan pukulan. Sayang sekali gagal disaat Junghong memukul tulang rusuk Sehun menggunakan besi tersebut.

Disisi Jungkook, dia berusaha memusatkan seluruh energinya untuk berkumpul. Ia tahu batasan atas dirinya, dan mungkin atas pertarungan dengan segerombol orang asing itu cukup membuatnya melemah. Namun, ini adalah masalahnya dengan Sehun. Bukan Junhong dengan Sehun.

Jungkook tidak pernah belajar bergantung pada orang lain.

Melihat Sehun tersungkur karena pukulan Junhong yang menggila, Jungkook berpikir bahwa ada kesempatan. Tapi ia sendiri masih belum sanggup untuk mengangkat tubuhnya berdiri dan memberikan sebuah pukulan. Sehun akan berdiri, tapi Junhong memukulnya kembali dengan besi itu di punggung. Tubuh Sehun merendah, Junhong memukulnya lagi. Lalu mengangkat besinya ke atas dan memberikan pukulan di kepala.

Darah itu berarti banyak.

Jungkook menekan dadanya dan tidak senang melihat Sehun lumpuh oleh orang lain.

Junhong hampir memukulnya kembali dengan lebih keras, senang dengan darah yang membasahi kepala Sehun mengalir menuju wajahnya. Tapi Sehun tidak akan membiarkan dirinya kalah hanya dalam lima menit pertarungan. Dia menendang kaki Junhong sehingga pemuda itu tersungkur jatuh.

Tapi ia tak menyangka Jungkook sudah berada di hadapannya dan menendang punggungnya. Sehun segera menggulingkan tubuhnya lalu bangkit mengambil kuda-kuda dalam posisi jongkok. Posisinya terlalu sisi—diujung gedung. Jika ia tidak berhati-hati, Sehun bisa terjatuh.

Jungkook mengusap bibir dengan punggung tangannya dan bersiap. Terlihat bahwa keduanya tengah menyiapkan energi dan taktik. Tak jauh berbeda dengan Junhong yang mulai berdiri.

Tidak lebih lama dari posisi sebelumnya, Jungkook berlari menerjang Sehun dan menyikut kepalanya. Sehun ambruk, tapi menarik Jungkook hingga jatuh terguling bersamanya pada tangga menuju lantai dasar.

Junhong bergegas menyusul mereka, tidak melupakan tongkat besinya.

Keduanya merintih dalam sakit, tapi mereka berusaha melupakannya dengan segera menjauh dan bersiap. Jungkook memperhatikan sekitar, mencari benda apapun yang bisa membantunya. Tapi ia lengah karena Sehun meninju pelipisnya.

Jungkook mengutuk diri karena kurangnya fokus.

Sehun akan memberi tinjuan kembali untuk Jungkook, tapi Junhong datang dan memukul tangannya dengan besi itu. Sehun merintih, rasanya ngilu sampai ke tulangnya. Dan Jungkook memanfaatkan situasi dengan menendang perut Sehun hingga membentur tiang penyangga, lalu menendangnya beberapa kali sampai Sehun memutar kakinya. Jungkook terpelanting jatuh.

Merasa hebat dengan tongkat besi di tangannya, Sehun menjadikannya sebagai incaran. Saat Junhong melayangkan pukulan, Sehun berhasil merebut tongkatnya dan melemparnya menjauh. Lalu ia menarik kerah Junhong, mengapit lehernya dengan lengan kemudian membenturkan dahinya pada dinding berulang kali.

Junhong merintih. Sehun menyeringai namun tersadar karena Jungkook menemukan tongkat besi serupa dan hampir melayangkan pukulan untuknya. Sehun melompati tanjakan kecil lalu berlari. Jungkook menekan dadanya sebentar sebelum mengejarnya, lalu Junhong menyusul.

Jika dilihat kondisi ketiganya sudah parah—bagi yang melihat. Tapi ketiganya merasa belum cukup. Mereka tidak lemah untuk meminta berhenti atau menyerah.

Jungkook hampir tersungkur karena lututnya hampir kehilangan keseimbangan. Junhong tetap berlari, berusaha mencapai Sehun.

Junhong sendiri sadar ia berada di pihak Jungkook, walau ia tidak mau mengakuinya. Tapi ia hanya menyerang Sehun, tidak pada Jungkook. Tidak untuk saat ini.

Terlihat seperti kabur, tapi Sehun tidak melakukannya sama sekali. Ia berusaha mencari angle baru, atau lokasi baru untuk membantunya mencari cara menghabisi keduanya. Ia melompati beberapa tanjakan atau drum kosong yang menghalanginya. Terkadang ia tendang drum itu untuk menyulitkan mereka mengejar.

Tapi Jungkook bisa mengejarnya dengan mulus. Memukulkan besinya pada kaki Sehun saat mendekati. Sehun terjerambab, namun segera berguling dan berdiri ketika Jungkook mengayunkan besi itu, hampir memukulnya. Tidak disangka, Junhong muncul dari samping dan menggunakan ttwieo chagi seperti yang pernah Sehun sarankan. Tendangan melompat itu sukses mengenai bahu Sehun dan membuatnya terjatuh kembali.

Sehun meremas lengannya dan memaksakan diri untuk berdiri. Junhong dan Jungkook berdiri tak jauh darinya di arah yang berbeda.

"Tch," Sehun mendecih, lalu tertawa kecil. "Bisa kukatakan, kau ada di pihak Jungkook, hm? Junhong?"

Jungkook dan Junhong sama-sama terdiam.

"Kau melibatkan dirimu sendiri disini. Tidakkah kau takut mati hanya untuk membela..." Sehun mengedikkan dagunya pada Jungkook, "makhluk tidak berguna ini?"

"Kau takut karena ada aku disini?" tanya Junhong.

Pertanyaan balik itu membuat Sehun terkikik. "Apa kau tidak merasa bodoh untuk bertanya hal seperti itu pada orang yang sudah menyelamatkanmu dari perampok-perampok itu?"

Junhong mendapat kesimpulan bahwa Sehun adalah orang yang angkuh.

Jungkook melirik Junhong sedikit.

"Dan Jungkook," Sehun memanggilnya, membuat pemuda bermarga Jeon itu menatapnya. "Apa kau merasa hebat karena memiliki Tangan Kanan?"

"Kita selesaikan semuanya, agar aku bisa menyayat leher kakakmu kembali dengan tanganku sendiri."

Deg!

Kedua bolamata Sehun membulat. Dan itu memang tujuan Jungkook. Ia benar-benar tahu kelemahan pemuda itu.

Sehun menggeram dan berlari ke arah Jungkook untuk memberikan sebuah pukulan keras. Jungkook menangkisnya dengan lengan dan berupaya untuk membalas, tapi Sehun bisa menahannya. Pemuda Xi itu memelintir tangan Jungkook, mengakibatkan rintihan. Baru saja ketika ia hampir merebut tongkat besi itu, Junhong menendang punggungnya dari belakang.

Cengkraman Sehun pada tangan Jungkook terlepas. Junhong menendangnya kembali tetapi Sehun sempat berbalik dan menghindar. Menangkisnya dengan tangan maupun tendangan lagi. Dan disaat Junhong menendangnya di paha, Sehun tersungkur.

Junhong tampak menikmati pertarungan ini. Dia mendekat dan akan meninju rahang Sehun, namun kalah cepat karena Sehun mencekiknya. Pergerakan itu membuatnya terkejut. Dan mungkin Sehun berpikir untuk mengakhirinya sekarang, ia hampir menonjok jakun Junhong, tapi tidak disangka Jungkook menggeram marah dan memukul pelipis Sehun menggunakan tongkat besi itu.

Entah berapa banyak darah yang tumpah untuk kali ini.

Sehun merasakan tanahnya seolah berputar. Tubuhnya oleng. Ia hampir ambruk jika saja bayangan kakak dan kemarahannya untuk Jungkook terbayang. Sehun merintih dalam amarah.

Jungkook berjalan perlahan mendekati Sehun yang meratapi sakit di tanah.

Kedua mata Jungkook memerah. Dia merasakan gejolak yang membara, memompa seluruh ambisinya untuk menghabisi pemuda yang menghancurkan kehidupannya. Yang membunuh sahabat-sahabatnya. Yang melukai Junhong.

"Kau pikir kau yang terkuat, Xi Sehun?" dengan segala emosi, Jungkook bertanya.

Sehun menggeram. Berusaha menghentikan rasa sakitnya dan fokus untuk situasi yang mengancam nyawanya. "Rrh…"

Junhong berjalan dengan hati-hati mendekati keduanya.

"Kau ingat?" Jungkook mengacungkan tongkat besinya. "Akulah Tuhan yang akan mengirimmu ke Neraka!"

Buagh!

Pukulan itu tidak mengenai Sehun, melainkan pada tanah. Sehun berhasil berguling lalu menendang lutut Jungkook hingga ia terjatuh. Junhong bertindak. Ia melayangkan tendangan pada Sehun di tanah, tapi Sehun menggulingkan kembali tubuhnya. Disaat Junhong akan menendang kembali, tanpa disangka, Sehun menarik tubuh Jungkook yang masih merintih sehingga Junhong salah sasaran.

Jungkook merintih dalam sakit.

Bolamata Junhong membulat, hanya sepersekian detik sebelum ia melihat Sehun bisa bangkit dan berlari ke arah jalan raya. Junhong dengan sigap mengejarnya.

Di belakangnya, Jungkook mencoba untuk bangkit. Ia meraih tongkat itu kembali dan merangkak sementara, lalu berdiri dan mengejar mereka walau kalah cepat.

Junhong berhasil mendekat pada Sehun. Dia berkeinginan untuk menendangnya dari belakang. Hanya saja, Sehun berhenti berlari. Junhong tidak sempat berbuat banyak saat Sehun menarik kerahnya dan mendorongnya kasar ke arah mobil bekas yang berada di area itu. Lalu Sehun menariknya kembali sebelum membenturkan kepala Junhong pada kaca mobil tersebut hingga pecah.

Pecahan dari kaca itu melukai beberapa bagian di kepala, wajah dan leher Junhong. Junhong terbatuk darah dengan lemah.

Sudut mata Sehun menangkap sosok Jungkook yang mendekat ke arahnya. Dia berbalik, menatap Jungkook yang berhenti berlari sehingga posisi mereka mungkin hanya berjarak sekitar dua meter.

"Jangan melibatkan Junhong." Jungkook berucap dengan suara serak.

Sehun menggeleng sambil tertawa merendahkan. "Kau bahkan melibatkan tiga orang tak berdosa. Kau ingat?"

Jungkook yakin yang Sehun bicarakan adalah kakaknya, suami kakaknya dan anak mereka.

"Lagipula, Junhong yang masuk ke dalam arena. Itu konsekuensinya."

Junhong terbatuk kembali, membuat Jungkook meliriknya dan merasa sangat bersalah. Ia bahkan tidak tahu bagaimana keadaan Junhong sekarang. Bisa saja pecahan itu menusuk dalam di leher maupun kepalanya.

"Lihat dirimu, Pengecut!" Sehun berseru. "Apa kau sanggup membunuhku dengan fisikmu yang lemah itu?"

"Berhenti bicara."

Sehun tertawa dengan kondisi wajah yang berlumuran darah.

"Tch!"

"Menyenangkan melihatmu kalah." Sehun memiringkan kepalanya. "Setelah aku membunuhmu, kau tidak perlu repot tentang orangtuamu. Karena aku…" lalu menjilat bibir bawahnya yang penuh darah dan luka. "akan mengirim mereka untuk menyusulmu ke Neraka."

Remasan pada tongkat besi itu menguat, seiringan membesarnya pupil mata Jungkook.

"Oh, kau tidak sabar?"

Geraman marah itu terdengar dalam sunyinya malam. Jungkook mengangkat tinggi tongkatnya, melayangkannya pada Sehun yang bisa menghindar. Ia mengayunkannya kembali namun Sehun tetap bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Sehun menendang tungkainya, Jungkook hampir kehilangan keseimbangan. Kemudian Sehun melayangkan sebuah pukulan yang tertuju pada leher, tetapi Jungkook bisa membuatnya mengenai bahu. Walau efeknya sama saja menyakitkan, setidaknya Jungkook bisa membawa tulang lehernya tidak patah.

Dan setelahnya Sehun berhasil menendang Jungkook di perut. Jungkook tersungkur, bahkan sampai terguling. Sehun segera mendekat dan berada di atas tubuhnya. Menonjok pipinya berulang kali sampai Jungkook kewalahan.

Sayangnya, Sehun lupa di tangan Jungkook masih memegang besi itu. Jungkook mengayunkannya pada rusuk Sehun, mengakibatkan ia terguling jatuh dari atas tubuhnya.

Rusuk. Sehun merasakan sakit yang amat kentara ketika rusuknya dua kali menjadi sasaran besi.

Keduanya merintih dalam sakit. Berusaha menjadi orang pertama yang bangkit agar dapat menguasai keadaan. Sialnya bagi Jungkook, Sehun memaksakan tubuhnya, memforsir segalanya untuk bangkit. Pandangan Jungkook kabur, mata kirinya lebam dan bengkak.

Samar-samar, ia melihat Sehun berdiri di atasnya. Merebut tongkat besinya tanpa bisa ia cegah.

Buagh! Buagh!

Dan selanjutnya yang Jungkook rasakan adalah telinganya berdengung. Hantaman berkali-kali pada kepala dan tubuhnya dari sesuatu yang keras itu. Dan darah dimana-mana.

Jungkook tidak mau kalah. Namun rasanya… ia berakhir.

Kling!

Sehun melempar besi itu ke tanah. Napasnya terengah—terkesan memburu. Seringai tipis muncul di wajahnya. Ia tahu Jungkook belum mati. Tapi pemuda itu sangat lemah dan mungkin sedang meregang nyawa.

Ia meraih pergelangan kaki Jungkook yang masih terbungkus sepatu. Dengan tenaga yang tersisa, Sehun menariknya ke arah jalan besar yang sama sekali tidak ada kendaraan yang melintas.

Sehun bersenandung pelan, seolah-olah ia sudah menemukan kemenangannya.

Jungkook masih berupaya hidup—begitulah spekulasi Sehun saat meliriknya. Ia merintih lemah, terbatuk beberapa kali. Tapi Sehun tetap menggusurnya di tanah layaknya bangkai binatang. Membiarkan tubuh Jungkook bergesekkan langsung dengan tanah.

"Kau lihat, siapa yang berdiri di akhir, bukan? Jungkook-ah?"

Sehun tertawa atas segala usahanya. Berhasil membawa Jungkook ke tengah jalan, Sehun melepaskan cengkraman pada kakinya.

"Hei," Sehun menunduk, menatap Jungkook yang berusaha bernapas sepertinya. "Kau… uhuk…" ia berhenti sebentar saat terbatuk. "kau tetap lemah, kau tahu? Kau tetap… hhh… seorang pecundang! Hahaha!"

Kedua mata Sehun terlihat nyalang. Kemenangan, itulah yang ia cari. Di dalam kamusnya tidak ada kata kalah maupun mati. Ini seperti penantian besar yang Sehun tunggu-tunggu.

"Kata terakhir?"

Dia mengangkat salah satu kakinya, mengarahkannya tepat di depan wajah Jungkook. Sehun memiringkan wajahnya, menatap Jungkook seperti orang sakit.

"Tidak ada?" ia tertawa lemah memperhatikan mulut Jungkook terbuka, untuk bernapas. "Baiklah."

Di saat Sehun akan menginjakkan kakinya keras pada wajah Jungkook, tak diduga Junhong datang dari belakang dan menerjangnya. Namun yang lebih mengejutkan, sebuah mobil datang dari arah kanan meraka—dari jalan—dan menabrak sebelum berhenti.

Junhong dan Sehun terpental karena tabrakan mobil itu.

Jungkook berada hanya sekitar tiga senti dari ban yang berhenti berputar tepat pada waktunya.

Di dalam mobil, Daehyun tidak menyangka bahwa Junhong akan menerjang Sehun sehingga ia ikut tertabrak. Daehyun sama sekali tidak tahu harus menjelaskan apa pada Yongguk jika Junhong mati karenanya.

Dari arah berlawanan pada jalan tersebut, sebuah mobil berhenti. Mobil itu berjarak sekitar sepuluh meter dari posisi Junhong dan Sehun yang tidak diketahui kondisinya. Dan limabelas meter dari Jungkook serta mobil yang dikendarai Daehyun. Lalu jeritan keras muncul, bersamaan dengan munculnya seorang pemuda dengan wajah yang penuh air mata.

Dia Luhan. Jongdae keluar dari sisi lain mobil itu sedetik kemudian.

Sebuah mobil muncul lagi dari kejauhan, dan berhenti tepat di samping mobil Daehyun.

Itu mobil yang dikendarai Himchan. Daehyun tidak punya pemikiran dimana yang lainnya—Yongguk, Youngjae dan Jongup—karena sesaat setelah berhenti, Himchan keluar dari mobil sambil menggendong seorang anak kecil.

Dan dia adalah Xiumin.

~..o..~

*mengendap-ngendap* *ketahuan(?)*

AAAAAAA MAAFKAN SODARA SODARA (?) AKU MENGHILANG SEKITAR LIMA BULAN

Maaf ya, banyak kejadian di real life yang harus kuselesaikan huhu

Tapi ini aku kembali membawa fanfic tercintah /?

Bagaimana dengan kisah mereka bertiga?

Tunggu lanjutannya wuhuuuuuu (?) *dihajarmassa* aku sedang mencoba update sesuai jadwal lagi ko

Dan aku minta bantuan kalian untuk respect yaaa. Biar aku ga nyerah dan berniat untuk….. (?)

Ppaaaaaaaaay, review yaaw laflaf cemuaaaaaaaaaahhh

Ask . fm : littlerape

Facebook : Yuri Mamasochist

Twitter : littlerape

PS: Maaf yaaa buat yang kasih koreksi, makasih sebelumnya, tapi saya kalau buat FF kan selalu pake nama asli (contoh: Junhong itu Zelo). Jadi nama aslinya Mino Winner kan Minho, jadi aku tulisnya Minho hihiiiii, btw makasih mwah

Love, Yuri Masochist