Aku menggerakkan kakiku, mencoba mengayunkan ayunan yang kini sedang aku duduki. Sunyi sekali. Ya, memang tidak mengherankan jika sunyi. Sendirian di tengah kegelapan malam, hanya diriku yang berada di taman kota ini.
Aku mengadahkan kepalaku melihat langit. Bukankah ini pemandangan yang bagus? Melihat langit malam yang di penuhi bintang juga bulan bulat sempurna yang bersinar. Aku menghela nafas. Ah, andai aku disini tidak sendiri.
"Sedang apa kau disini?" Aku tertegun ketika mataku menatap sepasang mata onyx seindah malam yang menatapku. Ah, Itachi, apa yang dia lakukan disini?
"I—tachi?" Aku memandang kearahnya tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Lama sekali aku tidak melihatnya, ada perasaan senang bercampur kesal ketika aku melihat wajahnya.
Itachi berjalan mendekatiku, semakin lama semakin dekat. Semakin ia mendekat, semakin jantungku berdetak lebih cepat.
Deja vu.
"Naruto." Sial, sekarang dia sudah berada di depanku. Suaranya yang berat seperti itu, membuat aku sulit bernafas. Itachi! Jeritku dalam hati. "Naruto." Kembali ia memanggil namaku.
Aku meneguk ludahku, "Itachi—kau sedang apa?" Tanyaku dengan nada gugup. Wajahnya dekat sekali dengan wajahku, aku bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang lentik.
"Naruto." Dia kembali memanggil namaku. Aku merasakan hembusan nafas Itachi yang menerpa wajahku. Itachi membawa wajahku mendekat pada wajahnya. Aku memejamkan mataku ketika ujung hidung kami menyentuh satu sama lain. Dia—akan menciumku? Aku akan di cium oleh Itachi!
Ini bukan khayalanku 'kan?
Tentu saja ini hanya khayalan, Namikaze Naruto!
Aku merasa seperti tertendang dari surga khayalanku sendiri. Mataku terasa perih karena terlalu lama aku melebarkan bola mataku.
Sasuke—menciumku?
Sasuke-san, dia—
—Menciumku?
Ya, menciumku—eh?
E—EH? TIDAK MUNGKIN!
.
.
.
Perfect Nanny Candidate
.
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Pairing:
SasuNaru
WARNING!
Boys Love a.k.a Shonen-Ai! Metrosexual-Naruto, Alternative Universe, typo(s), etc..
So if you don't like, Please Don't Read.
.
.
.
Yukirin
.
Happy Reading ^o^
.
.
Fanfic ini terinspirasi dari Novel berjudul Topsy-Turvy Lady by Tria Barmawi. (Terimakasih banyak buat shafiraprakasa-san yang sudah mau memberi tahu :D)
This chapter dedicated for my friend Yun Ran Livianda. Buon compleano, hope you like it :)
.
.
Chapter 12 : Teasing is Loving
.
.
TIDAK MUNGKIN!
Aku sekuat tenaga mendorong Sasuke menjauh dariku. Barusan itu—Sasuke tidak mungkin terpeleset lalu bibirnya menjadi tertempel padaku bukan?
Tidak mungkin.
"Sa—Sasuke-san." Aku menutup bibirku dengan punggung tangan. Gawat, rasanya aku ingin menangis. "Tadi itu—tidak mungkin 'kan." Lirihku. "Atau barusan itu hanya imajinasiku saja."
Aku memicingkan mataku ketika mendengar tawa Sasuke. "Jangan bilang aku baru saja mengambil ciuman pertamamu?" Dengan wajah mengejek. "Aku tidak menyangka itu ciuman pertamamu."
Ciuman pertama matamu! Aku memelototinya. Seenaknya dia bicara, memang ini apa? Drama televisi atau shoujo anime? Aku ini bukan peran utama yang belum pernah mendapatkan ciuman pertama! Ciuman pertamaku sudah hilang sejak aku menginjak kursi High School.
Aku menggosok bibirku kasar. "Maaf mengecewakanmu, ciuman pertamaku sudah hilang sejak lama." Aku menjawab dengan nada kesal. "Harusnya Sasuke-san tidak menempelkan bibir ke bibir orang lain dengan seenak hati."
"Itu bukan menempelkan bibir." Aku bisa mendengar Sasuke yang menghela nafas berat. "Itu namanya aku menciummu, Naruto."
Aku menatap Sasuke dengan pandangan horor. Sasuke pasti sedang sakit—ya, aku yakin sekali! Pertama dia bilang ia menyukaiku, lalu ia menciumku. Ada yang salah dengan kinerja otaknya—mungkin—karena kedatangan istrinya. Tapi—AKU JADI KORBANNYA!
Sasuke-san bilang ia menyukaiku. Aku membelalak ketika suara Sasuke ketika ia bilang menyukaiku terus menggema di pikiranku. Pipiku serasa memanas, mataku menatap Sasuke diam-diam.
Wajahnya tetap datar.
Bagimana mungkin dia menyatakan suka dengan wajah datar dan tidak ada kesan romantis sama sekali di dalamnya? Untuk pertama kalinya aku mendapatkan pernyataan cinta yang paling tidak romantis. Juga untuk pertama kalinya ada seorang duda menyatakan cinta padaku. Iya betul, duda beranak dua. Sebagai tambahan, duda ini adalah yang membayarku untuk mengasuh anak-anaknya.
"Kenapa ekspresimu aneh begitu?" Tanya Sasuke. Mataku memicing melihat Sasuke. Ekspresiku menjadi aneh karena kau! Aku ingin sekali bereriak padanya.
"Tidak apa." Aku menggeleng keras, mengabaikan pikiranku yang ingin berteriak di hadapan wajahnya. Aku segera mengalihkan pandanganku dari Sasuke.
Baik aku maupun Sasuke hanya diam. Aku tidak mau berbicara apapun dan aku rasa Sasuke pun begitu. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi padaku—pernyataan cinta Sasuke juga tentang ia yang menciumku, juga sikapnya biasa saja walau ia baru saja mengungkapkan perasaannya padaku.
Mungkin Sasuke-san memang hanya main-main. Aku menghela nafas ketika pikiran itu terlintas di benakku. Entah mengapa ada perasaan kecewa ketika aku memikirkan hal itu.
Aku mendengar helaan nafas pelan—tentu saja itu berasal dari Sasuke—namun Sasuke sama sekali tidak berbicara apapun. Selanjutnya yang aku tahu adalah Sasuke yang menghidupkan kembali mesin mobil dan melanjutkan perjalanan kami menuju apartementnya.
Sepanjang perjalanan menuju apartement Sasuke tidak ada satupun diantara kami yang berbicara—aku sendiri tidak ada niat membuka pembicaraan di antara kami. Perasaanku masih terasa kesal—uh, sakit—melihat wajah Sasuke yang datar-datar saja setelah menciumku.
Memasuki gedung apartement aku sama sekali tidak di buat terkejut. Bangunan apartement mewah yang berdiri di Roppongi ini hanya di tempati orang-orang yang memiliki uang lebih banyak dari orang lain saja—aku terlalu berbelit menjelaskannya—dan aku tahu jika Sasuke bukanlah orang biasa.
Hal yang membuatku tidak percaya adalah ketika aku memasuki apartement Sasuke. Okay, seperti yang aku duga apartement ini sangat Sasuke sekali. Apartement mewah lengkap dengan segala perabotan mewah mengisi apartement ini.
Hanya saja, "Tempat ini kotor sekali." Keluhku. Entah bagaimana ekspresi wajahku saat ini, namun aku sangat tidak suka ketika melihat apartement Sasuke ini kotor dan penuh dengan debu.
"Aku sudah lama tidak melihat tempat ini." Aku melihat kearah Sasuke. Pria itu mendengus, "Sejak kau menjadi pengasuh anak-anakku aku tidak pernah kembali ke sini."
Ah! Selama aku bekerja di rumah keluarga Uchiha, aku tidak pernah melihat Sasuke yang tidak pulang ke rumah itu. Padahal menurut cerita Iruka, Sasuke lebih sering tinggal di apartement miliknya yang tidak jauh dari kantor. Berarti kantor Sasuke tidak jauh dari sini?
"Lalu—kita harus membersihkan tempat ini?" Aku menatap Sasuke tidak yakin. Aku ini pengasuh, dan aku tidak akan mau membersihkan tempat ini.
"Tentu saja tidak, Usuratonkachi." Aku mendengus ketika—untuk kesekian kalinya—Sasuke memanggilku dengan sebutan itu. "Aku akan memanggil maid untuk membersihkan tempat ini."
Aku hanya mengangguk ketika Sasuke mengatakan hal itu, namun selanjutnya Sasuke menarik pergelangan tanganku, membuatku terkejut. "Sa—Sasuke-san, kita akan kemana?" Aku bertanya ketika Sasuke menarikku untuk mengikuti langkahnya. Oh, great! Sudah berapa kali aku di seret begini hari ini? "Ouch—tolong jangan tarik tanganku begini." Protesku.
"Kita akan menjemput Shisui dan Obito." Sasuke menjawab pertanyaanku, namun tetap menarik lenganku. "Juga kita akan makan siang bersama hari ini."
"Makan siang—bersama?"
Baik aku dan Sasuke tetap duduk menunggu di dalam mobil sejak kami tiba di Taman Kanak-Kanak tempat Shisui dan Obito menuntut ilmu—wow, bahasaku tinggi sekali.
Aku melihat kearah jam tanganku. Lima menit lagi tepat jam dua sore, berarti anak-anak akan segera keluar dan pulang. Mataku berpindah melirik kearah Sasuke yang sedang sibuk mengetik sesuatu pada tab miliknya.
Namun aku tersentak ketika mata Sasuke lurus menatap mataku. Aku meneguk ludahku. Sial, entah mengapa Sasuke jadi tampan sekali—TIDAK! Hilangkan pikiran anehmu, Naruto. "Wajahmu aneh, Dobe."
Saat itu juga aku menyesal karena sempat berpikir ia tampan. Okay, dia memang tampan—aku benci mengakui ini—tapi mulutnya setajam rambutnya. "Berhenti memanggilku begitu, Sasuke-san. Aku punya nama dan aku yakin kau tahu jelas siapa namaku." Aku mendengus ketika aku selesai melontarkan kalimat itu.
"Hmph." Aku heran ketika melihat Sasuke yang terkekeh kecil, ugh, dia menahan tawa? "Uzumaki Naruto, itu namamu." Ujarnya di sela kekehannya. Iya, itu memang namaku, lebih tepatnya nama samaranku. "Tapi melihat wajahmu, aku selalu ingin memanggilmu Dobe atau Usuratonkachi. It suit you well."
Siaaaaal! Terkutuklah ia dan rambutnya yang serupa dengang chicken-butt itu! Aku mendengus kesal. "Maaf, tapi aku merasa wajahku di atas rata-rata dari orang kebanyakan." Tentu saja! "Aku tampan." Aku merasa diriku ini tampan.
Sasuke tertawa. "Mana ada orang yang memuji dirinya sendiri tampan." Aku merenggut kesal, namun itu tidak berlangsung lama karena Sasuke mengacak rambutku. "You—kinda adorable."
Eh—adorable? Aku merasakan pipiku memanas. "Sasuke-san mengejekku?" Tanyaku tidak suka. Ugh, walau aku tidak suka namun entah mengapa dadaku terasa sesak, pipiku sangat panas seperti terbakar.
"Lihat siapa yang bicara. Wajahmu merah." Aku ingin sekali membenturkan wajahku ke dashboard mobil jika tidak ingat itu akan membuat wajahku memar.
Mengabaikan opsi pertama yang menyuruhku untuk mencium dashboard mobil, aku lebih memilih opsi lain, mengalihkan pandangan ke arah luar jendela mobil. "Oh!" Aku memekik terkejut ketika melihat banyak monster-monster kecil yang lebih menyeramkan dari Flying Dutchman berhamburan keluar gerbang Taman Kanak-Kanak yang besar itu. "Sasuke-san, mereka sudah berhamburan."
"Huh?" Aku mendengar Sasuke yang sepertinya kebingungan. Benar saja, ketika aku menatapnya seperti ada tanda tanya besar di wajahnya.
Aku menghela nafas, jariku menunjuk kearah luar. "Itu—mungkin Shisui dan Obito juga sudah keluar kelas." Sasuke mengikuti arah telunjukku. Kemudian ia menatapku dengan wajah datar.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku tahu mungkin saja Sasuke akan menyuruhku mencari Obito dan Shisui di tengah ombak monster-monster menyeramkan itu. Aku menatap Sasuke penuh harap, semoga dia tidak menyuruhku mencari Shisui dan Obito.
"Baiklah." Sasuke menepuk pahanya. "Aku akan mencari Shisui dan Obito, kau yang tunggu di mobil." Aku menghela nafas lega ketika Sasuke keluar dari mobil dan mencari anak-anaknya. Thanks God.
Mataku melihat Sasuke yang tenggelam oleh kerumunan monster-monster itu. Bagaimana bisa ada banyak mahluk-mahluk kecil itu disini—oh, bodohnya aku! Ini 'kan Taman Kanak-Kanak, Naruto! Aku berdoa agar Sasuke cepat menemukan si kembar lalu kami bisa cepat pergi dari sini.
Senyum tersungging di bibirku ketika aku melihat Sasuke menggandeng Obito dan juga Shisui beberapa menit setelah ia pergi. Tunggu dulu! Aku mengernyit ketika menangkap suatu hal yang ganjal. Di belakang Sasuke, banyak kerumunan para wanita—ugh, Ibu-Ibu—yang mengekori Sasuke dengan wajah mereka yang sepertinya tapmpak seperti kelaparan di mataku.
Wow, Sasuke-san ternyata di gemari kalangan wanita yang telah memiliki anak dan suami! Decakku kagum.
Sasuke segera membuka pintu belakang mobil, dia tampak tergesa-gesa dan aku bisa melihat raut wajah Sasuke yang tampaknya terganggu. Mungkin karena ia di ekori oleh Ibu-Ibu? "Pakai safety belt kalian sendiri, okay?" Perintah Sasuke pada si kembar ketika ia sudah menaikkan anak-anaknya ke dalam mobil. Sasuke segera menutup pintu belakang mobil lalu ia berlari ke kursi pengemudi.
"NALU-TAN!" Aku tersenyum melihat Obito yang meneriaki namaku dengan nada riang begitu, juga kedua tangannya terangkat senang. Aku tersenyum padanya. "Hali ini Nalu-tan ikut jemput kita? Obito senang!"
"Obito sudah pakai dengan benar safety beltmu?" Sasuke bertanya sambil ia memasangkan safety belt pada dirinya sendiri.
"Sudah, Touchan." Jawab Obito.
Aku melihat Obito yang sabuk pengamannya tidak terpasang dengan benar. "Shisui-chan, tolong benarkan safety belt Obito." Pintaku pada Shisui.
"Dasar anak kecil, memasang safety belt sendiri saja tidak benar." Shisui mengejek Obito walau tangannya sedang bekerja untuk membetulkan sabuk pengaman adiknya. "Sudah."
Aku mengangguk dan tersenyum puas kearah mereka berdua. Shisui walau mulutnya tajam namun aku tahu betul dia anak yang baik juga bertanggung jawab—lupakan sikapnya yang egois dan berlaku sok dewasa.
Sasuke sudah melajukan mobil, meninggalkan Taman Kanak-Kanak juga para Ibu yang sedari tadi menggerumuni mobil Sasuke. Oh, betapa ingin aku mengejek dan menertawakannya, sayang disini ada anak-anak.
"Kalian ingin makan apa?" Tanya Sasuke. Aku tahu ia bukan bertanya padaku, ia bertanya pada anak-anaknya tentu saja.
"Aku ingin takoyaki." Shisui langsung menjawab.
"Takoyaki, takoyaki! Obito juga mau takoyaki." Obito mengikuti Shisui, ia berteriak senang. "Ayo kita makan takoyaki, Touchan." Pinta Obito dengan nada memohon yang manis sekali.
Aku menghela nafas. Tidak mungkin Sasuke mengizinkan anak-anaknya memilih takoyaki untuk menu makan siang. "Baiklah, kita makan takoyaki untuk makan siang." Sasuke-san bodoh. Jeritku dalam hati. Bagaimana bisa ia menyetujui begitu saja.
"Anou—Sasuke-san. Takoyaki itu makanan ringan, mana mungkin Obito dan Shisui hanya memakan takoyaki untuk makan siang?" Aku menyuarakan protesku dengan cara yang sopan. "Nanti mereka bisa sakit."
"Yaaah, Nalu-tan gak selu ah." Kali ini Obito yang protes padaku. "Obito mau takoyaki. Shisui-nii juga mau." Aku bisa melihat wajah Obito yang merenggut dari kaca spion dalam mobil.
"Aku mau takoyaki untuk makan siang." Shisui juga ikut aksi protes. Aku mengernyit, tidak biasanya Shisui kekanak-kanakkan begini. Tidak apa sih, lagipula Shisui juga masih anak-anak, juga sisi Shisui yang seperti itu sangat manis.
Baik Shisui dan Obito masih berdemo tentang mereka yang ingin takoyaki. Aku menatap Sasuke yang tenang-tenang saja menyetir. "Sasuke-san, jadi bagaimana?"
"Takoyaki, takoyaki! Touchan kita makan takoyaki."
"Tousan, ayo kita makan takoyaki."
Aku melirik si kembar, helaan nafas keluar dari mulutku. "Sasuke-san?" Aku kembali memanggil Sasuke yang hanya diam sedari tadi.
"Kita makan siang yang lain, jangan takoyaki." Dengan keputusan yang keluar dari mulut Sasuke barusan membuat Shisui dan Obito mengeluh kecewa.
Aura mereka berdua terlihat gloomy sekali di mataku, membuatku jadi tidak enak melihatnya—bukan karena aku merasa bersalah atau apa ya. "Kita bisa membeli takoyaki setelah makan siang. Aku akan membelikan kalian takoyaki" Ujarku.
Mereka berteriak senang—ralat, yang menjerit senang hanya Obito—ketika aku mengatakan itu. "Janji, Nalu-tan?"
Aku mengangguk, "Janji."
Sepanjang perjalanan Obito terus saja bercerita tentang bagaimana dia di sekolah hari ini, dia juga menceritakan kelakuan Shisui di sekolah dan langsung di bantah oleh Shisui. Aku menanggapi mereka seperti biasa, terkadang Sasuke juga ikut dalam pembicaraan. Obito juga berkata dengan gembira jika ia senang sekali Sasuke dan aku yang menjemputnya juga Shisui.
"Obito senang Touchan sama Nalu-tan yang jemput Obito sama Niitan." Ujarnya diiringi senyum lebar. Entah mengapa ada perasaan senang mendatangiku sehingga bisa membuatku tersenyum melihat anak kembar ini. Aku juga menyempatkan untuk melirik Sasuke yang juga tersenyum karena kata-kata Obito.
Ini pertama kalinya aku di ajak keluar oleh Sasuke dan anak-anaknya tanpa ada Iruka. Entah mengapa aku merasa mereka bertiga seperti keluargaku. Aku menggeleng keras ketika pemikiran itu muncul di benakku.
Aku baru tahu kalau Sasuke membawa aku dan si kembar ke restoran cepat saji. Sasuke sama sekali tidak bicara akan mengajak kami kemana tadi dan tampaknya dengan Sasuke membawa kami ke restoran cepat saji membuat Obito menjerit kegirangan.
"Obito-chan, Shisui-chan tunggu!" Aku segera keluar dari mobil dan langsung menggandeng Shisui dan Obito yang sudah keluar lebih dulu agar tidak jauh-jauh dariku, aku tidak ingin mereka hilang dan terluka lagi, aku terlalu takut jika terjadi apa-apa pada mereka.
Kami mengambil tempat duduk dimana tidak terlalu banyak orang disana, Obito langsung mendudukkan dirinya di kursi dekat pojok tembok, lalu Sasuke duduk di sebelahnya, juga Shisui yang duduk di hadapan Obito juga aku yang duduk di hadapan Sasuke.
Oh, betapa kami terihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Aku menggeleng keras. Namikaze Naruto, apa yang kaupikirkan!
Untuk pertama kalinya entah mengapa aku merasa senang dapat makan bersama Sasuke dan si kembar selain di rumah.
Setelah menghabiskan waktu makan siang di luar Sasuke membawa aku dan Obito untuk kembali ke apartementnya, tentu saja setelah aku—yang di antar oleh Sasuke—membelikan Shisui dan Obito takoyaki, kami juga menyempatkan untuk berbelanja—Sasuke yang meminta—keperluan selama kami tinggal di apartement.
Aku menggendong Shisui sementara Sasuke menggendong Obito, si kembar tertidur selama perjalanan pulang. Setelah memasuki apartement, aku mengikuti Sasuke yang masuk ke dalam salah satu ruangan yang merupakan kamar tidur, kami membaringan si kembar di tempat tidur berukurang king size itu.
"Ugh, sungguh hari yang sibuk." Aku merenggangkan tanganku yang pegal. Shisui memang tidak berat, hanya saja untuk menggendong Shisui dari basement hingga ke kamar apartement Sasuke yang berada di lantai delapan belas cukup membuat tanganku pegal walau menggunakan lift. Masalahnya juga bukan hanya Shisui yang aku bawa, aku juga membawa barang-barang yang kami beli di supermarket di tanganku yang lain. Untung saja Shisui tidak jatuh.
Aku melirik ke arah Sasuke yang telah duduk serius di sofa dan mengetik sesuatu di laptopnya. Sasuke-san, dia sepertinya biasa saja, seperti tidak ada yang terjadi diantara kita walau dia sudah menciumku tiba-tiba.
"Sasuke-san," Aku memanggilnya hati-hati. "Aku ingin membereskan barang-barang." Izinku dengan bodohnya. Memang iya barang-barang si kembar dan barang-barangku belum di bereskan, masih ada di dalam ransel. Namun apartement ini sudah bersih ketika kami kembali kesini, selama Sasuke dan aku pergi, Sasuke sudah memanggil maid untuk membersihkan apartement ini.
"Hn." Itu memang tidak tampak seperti jawaban namun aku mengartikannya sebagai iya. Mata Sasuke sama sekali tidak teralih dari layar laptopnya. Aku hanya bisa mengangkat bahuku.
Aku membawa tas si kembar ke dalam kamar tidur mereka, memasukkan baju mereka ke dalam not-so-large closet juga membereskan buku mereka. Semewah apapun apartement ini tetap saja ini terlalu kecil—sangat jauh lebih kecil di banding rumah keluarga Uchiha. Aku harap si kembar tidak mengeluh.
Aku keluar dari kamar si kembar setelah aku selesai dengan membereskan barang-barang mereka. Ketika aku kembali ke ruang tengah Sasuke masih terlihat sibuk dengan laptop miliknya. Walau ia tidak berada di kantor tetap saja dia harus mengerjakan pekerjaannya.
Aku mengambil ransel yang berisi bajuku. Aku terdiam. Dimana aku harus menaruh barang-barangku? "Anou, maaf mengganggu, Sasuke-san." Aku memanggil Sasuke dengan hati-hati.
"Ada apa?" Dia bertanya padaku tanpa melihat kearahku.
"Dimana aku harus menaruh bajuku?" Tanyaku. Tangan Sasuke yang sedari tadi sibuk mengetik sesuatu yang entah apa itu aku tidak tahu berhenti begitu saja. Dia menatapku membuatku meneguk ludah. Aku salah ya?
"Disana." Eh? Aku mengikuti arah jari Sasuke yang menunjuk ruangan di sebalah kamar Shisui dan Obito. "Taruh saja di kamarku, letakan di lemari semua pakaianmu." Setelah mengatakan itu Sasuke kembali sibuk dengan laptopnya.
Aku masih berdiri tanpa beranjak sedikitpun. "Lalu—barang-barang Sasuke-san?"
"Sudah ada di kamar." Jawabnya tanpa mlihat kearahku.
Aku menggigit bibir bawahku. Rasanya ada yang aneh. "Lalu—aku harus tidur dimana?" Tanyaku kembali.
"Disana." Tanpa menoleh kearahku, tangan Sasuke menunjuk ke ruangan yang merupakan kamar Sasuke.
"Eh, lalu Sasuke-san akan tidur dimana?" Tanyaku bingung.
"Tentu saja disana." Aku tahu disana yang di maksud oleh Sasuke adalah kamarnya. Namun tadi bukannya Sasuke menyuruhku untuk tidur disana juga?
"Lalu bagaimana dengan aku? Aku harus tidur dimana?" Tanyaku kembali. Aku tidak mengerti maksud Sasuke.
Aku menggigit bibirku ketika mendengar Sasuke mendengus keras, sepertinya dia kesal. "Usuratonkachi." Sasuke malah mengejekku. "Kau tidur disana. Kita tidur bersama."
"Kita tidur bersama." Rasanya ada yang aneh ketika aku mengulangi ucapan Sasuke. Tidur bersama—aku dan Sasuke-san? "EEEEH!"
"Sst, Dobe, kau berisik." Aku menatap horor Sasuke. Bagaimana dia bisa berkata dengan santainya kita akan tidur bersama?
"A—aku sebaiknya tidur di sofa saja nanti, Sasuke-san." Aku tidak ingin tidur bersama Sasuke. Aku terlalu gugup untuk berdekatan dengannya apalagi untuk tidur bersama. "Aku taruh barangku disini saja."
"Kau tidur bersamaku, Dobe." Sasuke memutuskan seenaknya. "Atau kau jatuh cinta padaku dan gugup berada di dekat orang yang kau sukai?" Sasuke menyeringai mengejek. "You fall for me, Naruto."
Fall my ass! Aku ingin menjerit kesal ketika Sasuke seenaknya berbicara seperti itu. Aku jatuh cinta pada Sasuke? Hah, yang benar saja! Aku ini menyukai Itachi, iya Itachi dia orang yang aku suka. "Ti—Tidak!" Sial, kenapa aku jadi terbata? "Aku tidak menyukai Sasuke-san." Aku menggeleng keras.
"Hn, lihat siapa yang bicara. Wajahmu merah, Dobe." Aku kesal sekali ketika melihat seringaian mengejek terpatri di wajah Sasuke membuatku ingin melemparnya dengan ranselku.
Sial, kenapa juga pipiku serasa memanas hanya karena mendengar ejekkannya dan wajahnya yang menyebalkan itu? Aku merutuki Sasuke dalam hati. "Aku tidak—wajahku tidak memerah!" Elakku. "Berhenti menggodaku, Sasuke-san."
"Hmph. Kau terlalu menyenangkan untuk di goda."
Menyebalkan! Tahan emosimu Namikaze Naruto! Aku menghela nafas dalam. "Aku tidak—"
"HUAAAAAA!" Belum sempat aku membalas ejekkan Sasuke aku mendengar suara tangisan dari kamar tempat Shisui dan Obito tidur.
Itu suara Obito! "OBITO-CHAN!" Aku segera berlari melihat keadaan Obito dan Shisui. Ketika aku memasuki kamar aku melihat Obito dan Shisui sudah terbangun, Shisui duduk menepuk kepala adik kembarnya yang menangis.
"Obito-chan, Shisui-chan." Aku memanggil nama mereka membuat mereka melihat kearahku. Aku berjalan menghampiri mereka, mendudukkan diriku di pinggir kasur. "Obito-chan kenapa menangis?" Aku mengusap pipi Obito yang basah.
"Obito takut kita sedang di culik." Shisui yang menjawabnya. Aku mengusap pipi Shisui, anak ini masih setia untuk menepuk kepala Obito yang masih menangis.
Aku membawa mereka berdua mendekat kearahku, aku merangkul mereka. "Kalian tidak di culik. Buktinya ada aku disini." Aku menghela nafas, "Sudah berhenti dulu menangisnya, Obito-chan." Aku mengusap punggung Obito.
"Tapi—hiks—ini bukan ada di lumah, Nalu-tan." Jawab Obito disertai senggukan. "Kita di culik. Aku mau beltemu Touchan, Obito mau Touchan."
Aku bingung sendiri ketika Obito menjadi semakin histeris. Aku menepuk punggungnya menenangkan anak nakal ini sambil mengatakan bahwa dia tidak sedang di culik. "Kau tidak sedang di culik, Obito-chan. Touchanmu ada disini, dia sedang mengerjakan sesuatu."
Namun tetap saja Obito tidak percaya. Aku menghela nafas berat, untung saja Shisui tidak ikut menangis. Anak yang satu ini wajahnya biasa-biasa saja, dia duduk dengan tenang di pangkuanku. "Shisui-chan tidak mau ikut menangis takut?" Tanyaku. Sebenarnya aku menggodanya saja.
"Tidak. Memang aku anak kecil." Jawab Shisui acuh. "Lagipula 'kan ada Naru-chin. Kalau ada Naru-chin aku tidak takut apapun." Mendengar jawaban Shisui membuat mataku terbelalak. Entah mengapa ada hal yang membuat hatiku senang ketika Shisui berkata seperti itu.
Untuk kali ini aku berpikir kalian menggemaskan. Aku tersenyum dan memeluk mereka.
"Kenapa Obito tidak berhenti menangis?" Aku melihat Sasuke yang memasuki kamar dengan mimik wajah yang terlihat khawatir.
"TOUCHAN!" Obito melompat dari pangkuanku membuatku memekik. Dia langsung berlari kearah Sasuke dan di sambut pelukan oleh Sasuke. "Touchan ada disini!" Jerit Obito girang.
"Tentu saja." Sasuke menjawab dengan senyum di wajahnya, ia menggendong Obito dan mengusap kepala Obito. Aku melihat kearah Shisui yang tidak beranjak dari pangkuanku, aku masih memeluk dirinya. Dia tidak mau memeluk Sasuke? "Tidak mau melihat Tousan, eh?"
Obito menggeleng dengan kuat. "Obito senang lihat Touchan! Kami di culik untungnya Touchan datang selamatkan kami sekalang."
Oh, betapa aku ingin tertawa terbahak ketika melihat wajah Sasuke yang keheranan. Terlihat lucu dan seribu kali lebih baik daripada wajah mengejeknya. "Di culik?" Nada suara Sasuke terdengar bingung, alisnya terangkat. "Siapa yang di culik?"
"Obito, Shisui-nii, juga Nalu-tan!" Obito menunjuk dirinya, Shisui dan aku. Aku tersenyum tipis, dia masih menganggap bahwa dirinya dan Kakak kembarnya di culik, kali ini aku juga disangka sebagai korban penculikan oleh Obito. "Obito senang sekalang Touchan datang selamatkan kita."
"Dasar anak cadel, kita tidak sedang di culik." Shisui mengejek Obito membuat Obito memekik kesal. Okay, mereka akan kembali bertengkar—sepertinya?
"Niisanmu benar Obito, tidak ada yang di culik." Sasuke menepuk kepala Obito.
"Tapi—tapi," Obito memajukan bibirnya. "Obito bangun tidul dan gak tahu ini lumah siapa."
Ah, jadi itulah permasalahannya. Tentu saja Obito dan Shisui akan kaget ketika terbangun di tempat yang tidak mereka ketahui dan Obito—dengan polosnya—berpikir bahwa mereka sedang di culik. Aku terkekeh. Tapi tunggu dulu! Berarti Sasuke tidak pernah mengajak anak-anaknya tinggal di apartement sebelumnya?
"Ini rumah Tousan yang lain." Jawab Sasuke. "Untuk beberapa hari kalian akan tinggal disini dulu."
"Kenapa kita tidak pulang ke rumah saja? Memang ada apa di rumah kita?" Raut wajah Shisui terlihat penasaran, ia bertanya pada Sasuke. Dia sensitif sekali pada keadaan di sekitarnya, juga rasa ingin tahunya terlalu tinggi.
"Iruka dan yang lain sedang membereskan rumah kita." Bohong. Sasuke menjawabnya dengan kebohongan. Aku menatap Sasuke. Kenapa dia harus berbohong? Dia takut Shisui dan Obito akan diambil oleh wanita bernama Sakura itu?
"Berapa lama? Apa yang harus di benarkan dari rumah kita? Aku pikir rumah baik-baik saja." Shisui kembali bertanya. Sudah aku bilang Shisui ini sensitif akan keadaan sekitarnya, dia terlalu pintar untuk anak seusianya.
Mata Sasuke bertemu dengan mataku seolah dia meminta bantuanku untuk menjawab pertanyaan anaknya. Haruskah aku ikut menambah catatan kebohonganku untuk membantu Sasuke yang masalahnya sebetulnya bukanlah masalahku? Aku di bayar untuk menjadi pengasuh Shisui dan Obito, dan lagi berbohong pada anak kecil bukanlah hal yang baik.
Aku menghela nafas, "Memang tidak ada yang harus di benarkan dari rumah. Tousan kalian bilang padaku kalau dia ingin mengajak kalian melihat apartementnya dan tinggal disini sementara. Kalian belum pernah datang kesini 'kan? Tousan kalian ingin menunjukkannya pada kalian, juga nanti malam kalian bisa melihat gedung-gedung menyala dari jendela." Pada akhirnya aku membantu Sasuke dan menambah catatan kebohonganku. "Iya 'kan, Sasuke-san?"
Sasuke memandangku tak percaya, matanya sedikit melebar. "Te—tentu saja." Aku ingin mengejeknya ketika menengar ia terbata. "Kalian akan suka berada disini. Tousan juga akan sering mengajak kalian juga Naruto keluar."
Dengan perkataan yang keluar dari bibir Sasuke membuat Obito menjerit kegirangan. "Asik, jalan-jalan!"
Aku tersenyum, tanganku mengusap punggung Shisui yang tidak bertanya apapun lagi. Maafkan aku kembar nakal, aku berbohong pada kalian. "Kalau begitu ayo sekarang kita mandi. Setelah itu Shisui-chan dan Obito-chan harus membantuku membuat makan malam." Aku menurunkan Shisui dari pangkuanku dan berdiri, tangan Shisui langsung menggandeng tanganku.
"Mandi, mandi!" Obito mengucapkannya dengan senandung riang. Dia turun dari gendongan Sasuke dan meraih tanganku untuk di gandeng olehnya.
"Aku tidak keberatan mandi bersama." Aku terbelalak ketika mendengar Sasuke mengatakan hal itu. AKU TIDAK MENGAJAKMU!
"A—aku tidak mengajak Sasuke-san!" Pekikku. "Aku mengajak Shisui-chan dan Obito-chan saja."
"Kau yang mengajak mandi bersama bukan? Aku tidak keberatan walau pekerjaanku harus di lupakan sejenak." TEME—! Wajahnya sok polos sekali membuatku kesal.
"Aku tidak mengajak Sasuke-san. Silahkan Sasuke-san jangan sungkan untuk mengerjakan pekerjaanmu." Dengan itu aku menarik Shisui dan Obito ke kamar mandi untuk mandi bersama meninggalkan Sasuke yang sendirian di kamar. Lupakan Sasuke, tingkat menyebalkannya jadi bertambah seratus persen.
Sesampainya di kamar mandi aku menyuruh si kembar untuk membuka pakaian mereka dan menaruhnya di keranjang yang sudah di siapkan di kamar mandi. Kamar mandi ini tidak terlalu besar—bagiku ini tergolong kecil. Hanya ada shower box dan bath tube yang tidak sebesar di kediaman Uchiha, juga ada lemari kecil tempat menyimpan handuk dan sebaginya.
Aku menaruh baju Shisui, Obito juga milikku di atas lemari. Tanganku yang membawa sabun juga shampoo meletakannya di dekat bath tube. Aku melepas semua pakaian yang melekat di tubuhku dan menaruhnya di keranjang cuci. "Sekarang siapa yang mau mandi lebih dulu?" Tanyaku pada si kembar.
"Aku mau duluan, Nalu-tan!" Obito mengangkat tangannya dan melompat lompat kecil. Aku menatapnya ngeri, takut ia terpeleset jadi aku mendekati mereka.
"Aku yang duluan! Naru-chin mandikan aku duluan." Shisui tidak mau kalah dengan Obito, ia menatapku dengan tatapan bossynya.
Aku menghela nafas. Mereka selalu bertengkar hanya karena masalah sepele. "Shisui jangan bicara dengan nada seperti itu pada orang dewasa." Jangan sampai Shisui bicara seperti itu pada orang lain atau Sasuke. "Jangan bertengkar. Kalau begitu aku mandikan kalian berdua bersamaan, aku akan menggosok punggung kalian." Aku tersenyum lebar pada mereka.
Obito dan Shisui mengangguk, aku tahu mereka pasti setuju! Dengan senyum lebar aku membawa mereka ke shower box. "Shisui-chan bisa tolong nyalakan showernya? Aku akan mengambil sabun dan shampoonya. Hati-hati jalannya, licin." Aku memperingati Shisui dan dengan segera aku berjalan mengambil sabun dan shampoo.
"Ahahaha!" Obito tertawa ketika air dari shower membasahi tubuhnya, Shisui juga tertawa namun tawanya tidak sekeras Obito. Aku tersenyum melihat kelakuan mereka.
"Sini biar aku gosokkan punggung kalian." Aku mendekati mereka, memejamkan mataku sebentar ketika wajahku terciprat air shower yang masih menyala. "Matikan dulu showernya, kalian pakai sabun dulu."
Shisui menggeleng, "Naru-chin tubuhnya belum basah."
Aku menatap Shisui penuh tanya, "Kenapa aku harus basah?"
"Nalu-tan 'kan telanjang kalena mau mandi baleng kita." Obito mencipratkan air kearahku. "Ayo sini mandi. Aku sama Niitan juga bisa gosok punggung Nalu-tan."
Aku terdiam menatap mereka. Anak-anak ini. Aku tersenyum. "Baiklah, kalian harus gosok punggungku." Aku masuk ke dalam shower box membasahi tubuhku. "Ahahaha." Ah, kelakuanku seperti anak kecil.
Setelah tubuh kami bertiga sukses basah, aku mematikan shower untuk menyabuni dua anak kembar nakal ini. Obito bermain dengan busa sabun dan terkadang menempelkan busa yang ada di tangannya ke wajah Shisui dan wajahku.
"Obito!" Shisui menggeram kesal saat Obito terus menempelkan tangannya yang penuh dengan busa ke wajah Shisui sehingga kini wajah anak minim ekspresi itu di penuhi dengan busa. "Argh! Naru-chin, Obito menyebalkan." Shisui mengadu padaku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kecuali tertawa keras—menertawakan Shisui.
"Haha, Shisui-chan wajahmu lucu sekali." Sial aku susah berhenti tertawa. Aku tahu Shisui sedang meminta bantuanku untuk menghentikan Obito tapi aku tidak berminat untuk membantunya. Aku menikmati wajah kesalnya yang di penuhi busa sabun.
"Naru-chin menyebalkan." Aku masih belum berhenti tertawa begitu juga Obito. Shisui menggeram kesal karena kami berdua tidak berhenti tertawa juga terus menempelkan busa sabun ke wajahnya.
"Hei!" Aku protes ketika merasakan geli di pipiku. Shisui menempelkan busa sabun ke wajahku. "Shisui-chan—hei, hei!" Aku berusaha menutupi wajahku ketika Shisui dan Obito—yang ikut-ikutan—menyerangku. "Hei, kalian tidak bisa melakukan hal ini padaku." Protesku.
"Salah sendiri Naru-chin menyerangku duluan." Entah mengapa aku merasa ingin mencubit Shisui yang nada suaranya seperti mengejekku. "Ayo serang terus Naru-chin, Obito." Hei! Sejak kapan mereka dapat bekerja sama—ugh, bekerja sama untuk membullyku. Sigh.
"Haha, Nalu-tan wajahnya sekalang penuh busa." Tawa Obito menggema, tampaknya Obito senang sekali. Oh, mereka senang jika melihat aku kewalahan. Anak-anak nakal ini.
"Hei, hentikan Obito-chan, Shisui-chan." Aku mundur menjauhi mereka yang tertawa jahil sambil memperlihatkan tangannya yang penuh busa kearahku. Ugh, percuma saja, mereka berjalan mendekatiku. "Aku menyerah hentikan—ouch! AKH!"
Aku merasakan sakit di pinggul dan kakiku. Double sigh! Aku terpeleset dan bokongku sukses berciuman hebat dengan lantai kamar mandi yang licin dan basah ini. "Ouch, aduduh, sakit." Ya, sakit, sangat sakit. Kaa-sama, ukh.
"NALU-TAN!" Aku membuka mataku melihat Obito dan Shisui mendekatiku. Wajah mereka tampak khawatir. Obito langsung memelukku. "Nalu-tan—hiks." Dan dia sukses menangis.
"Naru-chin, ma—maaf. Aku tidak bermaksud—huks—maaf." Shisui yang menundukkan wajahnya juga sepertinya menangis, bukan sepertinya tapi memang dia menangis.
Aku menarik pelan tubuh Shisui, menjatuhkannya ke pelukanku. "Tidak apa, jangan menangis. Bukan salah Shisui-chan dan Obito-chan kok aku terpeleset." Aku menepuk punggung si kembar mencoba menenangkan mereka. "Salahku tidak hati-hati jadi aku terpeleset."
BRAK!
Aku terkejut ketika mendengar debuman keras, pintu kamar mandi di buka dengan kasar. "Obito! Shisui!" Selanjutnya suara Sasuke yang menggema keras di kamar mandi, membuatku juga Shisui dan Obito yang ada di pelukanku melihat kearahnya.
Aku menatap wajahnya yang menampilkan raut khawatir namun langsung terganti menjadi membelalakkan matanya. Sasuke menatapku, dia diam dan menatapku.
Sasuke-san menatapku, iya benar Sasuke-san menatapku—eh?
Seketika aku seperti di tampar ketika mengetahui Sasuke menatapku yang memeluk anak-anaknya dalam keadaan telanjang. TELANJANG, ASTAGA! Holy crap! "SASUKE-SAN APA YANG KAU LAKUKAN?" Aku menjerit melihatnya, Sasuke masih diam memandangiku. Demi Flying Dutchman dan semua awak kapalnya aku merasa sangat malu.
Aku melihat Sasuke yang beberapa kali mengerjapkan matanya. Namun dia masih tetap menatapku. "Sasuke-san tolong keluar—ouch." Aku mengaduh ketika aku menjauhkan Shisui dan Obito dan mencoba berdiri. Sial, pinggul dan bokongku sakit sekali.
"Naruto, kau okay?" Okay matamu! Tidak bisakah dia melihatku yang kesakitan ini—dan lagi please Sasuke jangan mendekat. Sigh, wajahku memanas.
"A—aku baik-baik saja. Sasuke-san tolong jangan kesini, jangan melihatku." Kenapa juga aku harus malu padahal Sasuke juga laki-laki dan jelas dia memiliki apa yang aku miliki di tubuh ini. Curse you self curse. Lupakah diriku jika aku menyukai pria?
"Nalu-tan kepeleset, Touchan." Obito mengadu pada Ayahnya dengan sedikit terisak. "Kasihan Nalu-tan kesakitan."
Terkutuklah Obito dan pengaduannya telah melelehkan hati sang Ayah. Sekarang Sasuke berjongkok di hadapanku. "Aku bantu kau keluar dari sini."
"Tidak! Maksudku sungguh aku tidak apa-apa Sasuke-san." Aku menggelengkan kepalaku. Bantu aku dengan cara kau keluar dari sini.
"Tousan, kami belum pakai sabun dengan benar." SHISUI KAU—! Aku menatap Shisui horor, aku merasakan suatu yang tidak enak sepertinya akan terjadi suatu hal yang aneh.
"Kalau begitu Touchan yang akan memandikan kalian, juga kau Naruto." APA? Aku membelalakkan mataku. "Kasihan Naruto kesakitan karena terpeleset."
"TIDAK PERLU—eh, maksudku tidak usah repot-repot Sasuke-san, aku masih bisa memandikan—tidak, tidak, Sasuke-san tolong pakai bajumu kembali!" Aku menggeleng kuat-kuat dan membuang wajahku kearah lain ketika Sasuke membuka pakaiannya.
Ada apa dengan hari ini, Tuhan? Aku membatin miris.
"Ayo kita mandi bersama." Curse you! Kaa-sama, kenapa hal ini harus terjadi padaku?
Pada akhirnya kamar mandi yang tidak terlalu besar ini menjadi sangat sempit—dan sangat panas menurutku—dengan kehadiran Sasuke yang ikut mandi bersama.
Sasuke-san, saus tartar.
"Miso, miso, miso!" Obito bersenandung riang. "Ah, tempura!"
Aku tersenyum melihatnya. Dasar kekanakkan. Aku menaruh piring yang berisikan tempura di tengah meja, bersandingan dengan sup miso yang mengepulkan asap telah lebih dulu berada di meja.
Aku diam-diam mengusap pinggulku yang terasa nyeri karena terpeleset tadi. Ugh, mengingat hal itu aku juga jadi mengingat bagaimana Sasuke ikut mandi bersama aku dan si kembar.
"Sasuke-san makan malam sudah siap." Aku memanggilnya yang masih sibuk dengan laptop dan tumpukkan kertas miliknya. Apartement ini memang besar namun tidak sebesar kediaman Uchiha seperti yang sebelumnya aku bilang, jadi antara dapur meja makan dan ruang santai sama sekali tidak di batasi oleh apapun, hanya ruang santai di beri jarak sedikit jauh.
Aku belum berani duduk sebelum Sasuke dulu yang duduk di meja makan. Sasuke berdiri dari duduknya meninggalkan pekerjaan yang entah apa aku tidak tahu dan berjalan kearah meja makan. "Kenapa kau masih berdiri, Naruto?"
"Ah, aku menunggu Sasuke-san duduk terlebih dulu." Jawabku.
Aku bisa mendengar helaan nafas keluar dari Sasuke, "Lain kali tidak usah menungguku baru kau duduk. Duduk saja."
"Tapi—"
"Tidak ada bantahan." Tidak sopan jika aku duduk sebelum Sasuke-san duduk—itulah yang ingin aku katakan. Bagaimanapun, sekesal apapun aku pada Sasuke dia tetap orang yang membayarku. Aku hanya bisa mengangguk, tidak ada bantahan dan aku akan menurutinya.
Aku mendudukkan diriku. "Itadakimasu."
Setelah kami selesai makan bersama, aku seperti biasa membereskan meja makan, piring dan mangkuk kotor aku bawa ke dishwasher untuk di cuci. Hal ini hal normal yang biasa aku lakukan di kediaman Uchiha namun yang berbeda kali ini tidak ada yang membantuku membereskannya.
Selesai dengan urusanku di dapur aku langsung masuk ke dalam kamar si kembar yang menungguku setelah sebelumnya berpapasan dengan Sasuke yang masih sibuk dengan laptopnya, dia sangat serius.
"Kalian sudah membereskan buku kalian?" Tanyaku pada si kembar. Mereka kini sudah duduk di ranjang queen size dengan setengah tubuh mereka di tutupi bed cover. Aku berjalan mendekati mereka.
"Sudah." Jawab mereka serempak, hanya berbeda di intonasi dan cara bicara saja. "Nalu-tan tidul disini?" Tanya Obito.
Aku menggeleng, "Kalian berdua yang tidur disini." Jawabku sambil mengusap surai dua bocah ini. Shisui dan Obito terbiasa tidur di kasur yang berbeda namun kini mereka harus tidur di ranjang yang sama. Aku merasa—dengan melihat raut wajah—mereka tidak terbiasa untuk tidur berdua seperti ini. "Kalian tidak apa-apa?"
"Aku tidak suka ada disini." Ujar Shisui. "Naru-chin kapan kita pulang? Aku mau di rumah, disini tidak enak." Aku menggigit bibirku, usapanku di kepala mereka terhenti.
"Shisui-chan hanya belum terbiasa disini, kita juga baru disini beberapa jam satu hari saja belum." Balasku. "Tadi kalian melihat keluar tidak? Bagus 'kan pemandangan di luar? Banyak gedung-gedung yang menyala." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar Shisui dan Obito lupa akan rasa tidak nyaman mereka.
"Obito lihat! Bagus banget Nalu-tan, Obito suka banget." Obito yang tersenyum lebar membuatku ikut tersenyum. Sayang sepertinya Shisui tidak terpengaruh.
"Shisui-chan lihat tidak? Bagus bukan?" Shisui tidak memberi respon seperti yang aku harapkan, dia hanya mengangguk lesu. Aku masih mencoba untuk mengalihkan pikiran Shisui kearah yang lebih menyenangkan. "Shisui-chan dan Obito-chan tahu tidak, kita sekarang ada di lantai delapan belas lho. Lebih tinggi dari kamar kalian di rumah."
"Delapan belas?" Shisui sepertinya mulai tertarik. Aku tersenyum dan mengangguk antusias. "Wow, tinggi sekali. Aku tidak tahu ini ada di lantai delapan belas."
Aku tertawa dan mengacak surai hitamnya, "Tentu saja Shisui-chan dan Obito-chan tidak tahu. Karena ketika kita sampai disini kalian 'kan tertidur. Aku yang menggendong Shisui-chan lho." Ujarku dengan nada bangga.
"Telus Obito di gendong siapa?" Obito meatapku dengan penuh tanya. "Sama Nalu-tan juga 'kan?"
Aku menggeleng, "Obito di gendong Tousanmu tentu saja. Aku tidak kuat menggendong dua anak nakal sekaligus." Godaku. Obito memajukan bibirnya. Oh, aku sudah pernah bilang bukan betapa lucunya ia ketika sedang merajuk?
"Lalu memangnya ada berapa lantai gedung ini?" Shisui kembali bertanya soal gedung apartement. Dia sepertinya tertarik sekali. "Apa ada yang lebih tinggi dari lantai delapan belas, Naru-chin?"
"Uh-uh." Aku mengangguk menjawabnya. Aku tidak tahu persis bangunan apartement ini ada berapa lantai. "Mungkin ada dua puluh tujuh lantai? Aku tidak tahu persisnya." Jawabku seadanya.
Shisui mendesah kecewa dan hal itu membuatku tidak suka. "Nanti kita tanyakan pada Tousanmu, okay?" Raut wajah Shisui yang memancarkan kekecewaan terganti sekarang membuatku tersenyum kecil. "Kalau begitu sekarang kalian tidur, besok masih ada sekolah yang menunggu kalian."
Mereka berdua membaringkan tubuh di kasur, aku membenarkan letak selimut mereka dan mengusap pipi mereka yang seperti mochi ini. "Nalu-tan temani tidul disini ya?"
"Iya, Naru-chin disini dulu temani kita. Aku belum biasa dengan kamar ini." Astaga bagaimana aku bisa menolaknya ketika mereka meminta dengan pancaran mata yang penuh harap dan menggemaskan itu? Okay, aku benci mengakui mereka menggemaskan. Bagaimana bisa bocah-bocah yang—menurutku—merupakan titisan Satan berubah jadi malaikat kecil?
"Okay, aku akan menemani kalian sampai kalian tidur." Aku mengecup dahi mereka dan mengusap surai hitam mereka hingga Shisui dan Obito terlelap. "Oyasumi Shisui-chan, Obito-chan."
Ketika aku keluar dari kamar Shisui dan Obito aku tidak melihat keberadaan Sasuke disana, di meja tergeletak laptop milik Sasuke yang sudah tertutup juga beberapa tumpukan map dan kertas yang agak berantakan. Mungkin Sasuke-san sudah masuk ke kamarnya.
Apa yang harus aku lakukan? Aku mendudukkan diriku di sofa dan berpikir apa yang akan harus aku lakukan setelah ini. Aku tidak mungkin dan tidak mau tidur di kamar bersama Sasuke setelah kejadian kamar mandi tadi. Untuk menatapnya saja memerlukan tenaga dan kekuatan yang ekstra besar sehingga membuat tubuhku lemas apalagi harus tidur bersamanya, pasti aku langsung colapse di tempat.
Hari ini Sasuke benar-benar aneh, sangat aneh. Dari mulai menyatakan cinta padaku, menciumku, melihatku telanjang dan telanjang di hadapanku, juga menggosok punggungku ketika kami berempat mandi bersama serta menyuruhku untuk tidur di kamarnya Sasuke benar-benar aneh. Tapi yang lebih aneh setelah melakukan hal itu semua—dan membuat ba-dump di dadaku lebih kencang—dia bersikap seolah tidak ada yang terjadi, wajahnya tetap datar.
Hufh. Mungkin aku saja yang terlalu terbawa perasaan? Tidak, tidak! Aku menggeleng kuat-kuat. Aku tidak mungkin menyukai Sasuke, aku menyukai Itachi. Sasuke itu hanya Ayah dari si kembar yang aku asuh, dan lagi Sasuke merupakan orang yang membayarku.
Sepertinya selama kami migrasi ke apartement Sasuke aku akan tidur di sofa, itu lebih baik daripada tidur bersama Sasuke.
"Sedang apa kau disana, Dobe?" Aku terlonjak ketika mendengar suara yang mengagetkanku.
"Sa—Sasuke-san." Tenang Namikaze muda, tenang. "Sasuke-san belum tidur?"
"Aku yang bertanya lebih dulu. Kau sedang apa disini, Usuratonkachi?" Aku meneguk ludahku merasakan kering di tenggorokanku. Aku sangat tidak suka dia memanggilku seperti itu namun aku juga tidak bisa menjawab atau membalas ejekkannya.
"A—aku sedang apa?" Kenapa aku malah terdengar seperti bertanya balik pada Sasuke? Aku tidak mungkin grogi 'kan?
Aku kembali terlonjak ketika melihat Sasuke sudah duduk di sampngku. "Sa—Sasuke-san—"
"Sikapmu aneh, Naruto." Aku hampir menahan nafasku ketika mendengar suara berat Sasuke menyebut namaku. "Kau aneh." Bagaimana bisa orang ini mengatakan aku aneh padahal dialah satu-satunya orang yang aneh.
"Aku tidak aneh—maksudku, aku sedari tadi biasa saja."
Aku bisa mendengar dengusan Sasuke. "Kau aneh. Kau tidak suka dengan aku yang menyatakan perasaanku padamu?"
Kenapa dia harus mengungkitnya? Aku meringis. "Aku pikir Sasuke-san hanya bercanda." Aku sebisa mungkin tidak menatap wajah Sasuke.
"Aku tidak pernah bercanda dengan perasaan, Uzumaki Naruto." God, dia memanggil namaku dengan aura serius.
Aku menggigit bibir bawahku, "A—aku pikir Sasuke-san sudah salah mengartikan perasaanmu padaku. Sasuke-san berkata seperti itu hanya karena Sasuke-san yang panik dan merasa mendapatkan pressure ketika istrimu—"
"Ralat. Mantan istriku."
"Uh, iya, mantan istrimu yang datang ke rumah. Perasaan takut akan kehilangan Obito dan Shisui lalu aku yang menjadi pendengar Sasuke-san saat itu menjadi—uh—target pernyataan cinta dan ci—ciuman. Sasuke-san saat ini hanya butuh sandaran jadi aku rasa aku hanya sandaran saat ini untuk Sasuke-san dan Sasuke-san sudah salah paham akan perasaanmu sendiri." Aku menghela nafas lega ketika mengatakan hal itu.
"Kau benar-benar Dobe. Pikiranmu benar-benar pendek, Usuratonkachi."
"Teme!" Oh, crap! Aku menutup mulutku. Aku secara refleks memanggilnya begitu setelah mendengar ejekkan keluar dari mulutnya.
"Dobe." Sial, sial, sial! Aku ingin sekali menjotos wajahnya. Kenapa dia hobi sekali menghinaku?
"Hentikan itu!" Ucapku kesal. Aku menatap wajahnya kesal. "Aku punya nama dan aku pernah bilang sebelumnya kalau aku ini termasuk golongan orang pintar jadi kau tidak bisa seenaknya memanggilku Dobe atau Usuratonkachi."
Huh? Wajah Sasuke terasa dekat sekali. Bibirnya melengkung—dia tersenyum padaku. Huh?
"Akhirnya kau mau menatapku." Saus tartar! Aku langsung mengalihkan pandanganku dari Sasuke. Pipiku terasa nyilu dan memanas, juga ba-dump kembali terdengar keras. Aku sakit, iya pasti karena aku sakit!
"Sa—Sasuke-san, bi—bisakah kau sedikit menjauhkan wajahmu dariku?" Aku masih tidak berani menatapnya. "Terlalu—ugh—dekat."
"Uzumaki Naruto lihat aku." Mana bisa aku menatapmu, brengsek? Wajahku terasa sangat panas, aku tidak berani menatapnya. "Lihat aku, Naruto." Aku membelalak ketika Sasuke menangkupkan tangannya pada pipiku, membawa wajahku untuk melihat kearahnya.
"A—Te—" TEME! Harusnya aku meneriakkan itu tepat di wajahnya.
"Satu hal lagi yang perlu kau ketahui, Naruto." Aku meneguk ludahku ketika melihat pancaran mata Sasuke yang memancarkan keseriusan dan hembusan nafasnya yang menerpa wajahku. "Aku tidak pernah main-main dalam pilihanku. Jadi aku tidak salah ketika aku mengatakan aku menyukaimu."
Ba-dump. Itu kembali lagi terdengar, sesuatu yang aneh di dadaku.
Sasuke-san sungguh menyukaiku—sungguh? Lalu bagaimana denganku? Aku merasa senang atau tidak nyaman? "A—aku tidak tahu." Aku seolah menjawab diriku sendiri.
"Aku tidak akan memintamu untuk membalas perasaanku sekarang, nanti, mungkin nanti aku akan memintamu membalasnya." Tidak, sorot mata Sasuke seolah berkata padaku dia kecewa. Aku merasa tidak suka akan hal itu. "Untuk sekarang kau hanya perlu merasakannya dan jangan menampiknya. Aku menyukaimu."
Wakatte yo, Sasuke-san. Ya, aku tahu itu Sasuke-san, kau berulang kali mengatakannya. Walau aku mencoba untuk mencari kebohongan di matanya namun aku tidak dapat menemukannya.
"Sasuke-san, aku—" Aku minta maaf. Aku menggigit bibirku. Kenapa susah sekali di ungkapkan?
"Apa-apaan wajah itu, Dobe? Menyedihkan sekali." Sasuke tertawa kecil. Aku menautkan alisku. Dia kembali mengejekku setelah mengucapkan kata-kata yang membuatku bersalah. "Wajahmu aneh. Wajahmu lebih cocok dengan tawa bodohmu itu."
Sial, orang ini! "Aku tidak bodoh, Sasuke-san. Sudah aku bilang jangan panggil aku begitu."
"Hn. Lebih baik sekarang kita tidur. Ayo kita ke kamar."
Huh, tidur? Ke kamar?
"Sasuke-san tungg—HEI!" Sasuke menggendongku—membawaku—seperti karung di pundaknya.
Jadi—pada akhirnya aku tidur bersama Sasuke? Uh, ya, tidur bersama Sasuke.
Keesokkan harinya setelah kami selesai sarapan—dengan aku sebagai chefnya—Sasuke juga si kembar pamit. Shisui dan Obito diantar Sasuke ke sekolahnya dan Sasuke bilang bahwa kantornya tidak jauh dari sini lalu Sasuke juga bilang dia yang akan menjemput Shisui dan Obito pulang sekolah nanti lalu akan makan siang disini.
Hari ini Sasuke berkata aku boleh berjalan-jalan asal nanti ketika mereka bertiga pulang aku harus sudah ada di rumah dan makan siang harus sudah siap. Itu sama saja aku tidak bisa berjalan-jalan.
Disinilah aku sekarang, berjalan sendirian membawa keranjang belanja yang telah di sediakan mengelilingi supermarket. Aku harus membeli beberapa bahan makanan untuk makan siang nanti. Obito meminta kare untuk makan siang.
Namun mataku menangkap sosok yang sangat aku kenali. "Dei?" Gumamku ketika melihat sosok itu sedang memilih labu. Aku tersenyum lebar, itu Dei—Deidara—sepupuku, sepupu jauh. Kenapa dia ada di Jepang? Dia bukannya masih melanjutkan pendidikkannya di Kanada?
Aku berjalan menghampirinya namun aku segera memberhentikan langkahku dan menyembunyikan diri ketika ada orang lain yang lebih dulu menghampiri sepupuku itu.
Aku mengernyit, mataku menyipit. Sosok itu adalah sosok yang sangat aku kenal. Tidak mungkin aku salah.
"Itachi-nii?"
.
.
To be Continued
.
.
—Omake—
Uchiha Sasuke kini sedang berkutat dengan beberapa dokumen di ruangannya. Sang Uchiha bungsu itu menghela nafas berat ketika melihat banyak map yang menggunung di meja kantornya, tangannya mengacak suraian raven indah miliknya.
"Menghabiskan waktumu dengan kertas-kertas itu, baka-otouto?"
Sasuke membelalak ketika melihat seseorang yang sangat ia kenal memasuki ruangannya. "Aniki?" Sasuke sama sekali tidak menyadari pintu ruangannya di buka.
"Lama tidak bertemu, Sasuke." Itachi tersenyum geli melihat penampilan sang adik. Surai raven sang adik benar-benar berantakan. "Sepertinya kau sedang bahagia."
Alis Sasuke terangkat. "Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu?" Ia bingung dengan sang kakak yang sudah lama tidak bertatap wajah dengannya mengatakan bahwa ia bahagia padahal di matanya terlihat jelas Sasuke sedang stress karena di hadapkan oleh dokumen-dokumen perusahaannya.
"Aku tahu semua tentangmu, Sasuke. Kau adikku." Jawab Itachi dengan senyum. "Kau terlihat sedang jatuh cinta, auramu mengatakan itu."
Sasuke membelalak namun hanya sebentar dan kembali pada ekspresi normal. "Hn." Itachi memang tidak salah, karena pada kenyataannya Sasuke memang sedang jatuh cinta. Apalagi kemarin ia baru saja menyatakan cinta pada orang yang disukainya.
"Haha, sudah aku duga." Tawa Itachi menggema.
Sasuke mendengus, "Kau kesini setelah sekian lama kita bertemu hanya untuk mengejekku?"
Tawa sang sulung Uchiha berhenti namun senyumnya tidak lepas dari paras tampan itu. "Tentu tidak." Ucapnya santai. "Aku hanya ingin mengatakan Sakura kemarin terus menggangguku dengan terus menanyaimu ada dimana. Dia kembali menganggumu?"
Sasuke diam sejenak. Sasuke sama sekali tidak menyangka jika Sakura juga akan mengganggu Itachi. "Dia ingin mengambil Obito dan Shisui."
Diam. Untuk sesaat tidak ada yang bicara apapun sampai Itachi menepuk pundak adiknya. "Jangan khawatir, kau tidak akan pernah kehilangan Shisui dan Obito."
"Tentu saja tidak. Mereka anak-anakku, Aniki." Itachi tersenyum bangga pada adiknya. Ia tahu sekarang Sasuke sudah lebih dewasa, apalagi sejak Sasuke di berkahi dua putera yang pintar dan menggemaskan.
"Ah, aku merindukan keponakanku. Bagaimana keadaan mereka?"
Sasuke menatap Itachi sesaat, memang sudah lama sejak terakhir Itachi melihat Shisui dan Obito. "Mereka sehat dan menjadi penurut. Dua anakku sangat menyayangi pengasuhnya yang sekarang."
Itachi menaikkan sebelah alisnya. "Hn? Menyayangi pengasuhnya yang sekarang? Mereka mau diasuh oleh orang lain?"
"Hn. Dia yang membuat Shisui dan Obito menjadi anak yang penurut." Ujar Sasuke. Itachi bisa menangkap nada bangga dari ucapan Sasuke barusan.
"Wow, aku jadi penasaran dengan kelakuan keponakanku sekarang ini dan juga pengasuh barunya yang hebat itu."
Sasuke tersenyum tipis, "Hari ini makan siang di tempatku jika ingin melihat keponakanmu. Aku ada di apartement untuk beberapa hari kedepan." Tawar Sasuke.
"Maaf ya, Sasuke, mungkin lain kali." Itachi tersenyum dengan raut bersalah menghiasi wajahnya. "Hari ini aku harus menemui seseorang."
Kata-kata itulah yang sering Itachi ucapkan, bahkan ketika mereka berdua masih kecil. Jika ketika kecil Sasuke akan merasa kesal ketika Itachi mengatakan hal itu namun sekarang hal itu tidak akan terjadi. "Kau boleh datang kapanpun kau mau Aniki." Ujar Sasuke. "Aku senang kau sudah mulai tertarik untuk memiliki pasangan hidup."
Itachi hanya tersenyum membalasnya. "Kalau begitu aku pergi dulu, aku hanya ingin memberitahukanmu soal Sakura juga ingin melihatmu." Itachi berjalan meninggalkan ruangan, namun sebelum sulung Uchiha itu keluar Sasuke memanggil namanya.
"Aniki, jangan lupa tengok Kaasan dan Tousan. Mereka merindukanmu." Itachi sontak terdiam ketika Sasuke mengatakan itu.
Ia menghela nafas lalu menatap Sasuke. "Nanti ada waktunya aku mengunjungi mereka, Sasuke." Itachi tersenyum lebut. "Sebelum bertemu Kaasan dan Tousan aku akan menemui dua keponakanku yang manis itu. Jaa."
Entah mengapa lambaian Itachi sebelum ia pergi itu membuat Sasuke merasakan akan ada hal mengejutkan menunggunya.
.
.
Thanks a lot for my beloved reviewers;
kirei- neko, sheren, FairyFaith, Ryuusuke583, ZeeZeee, Ezvor123, D'Angel, mifta cinya, zadita uchiha, hachi, Okiniiri-Hime, saphire always for onyx, rikarika, intan . pandini85, manize83, Vianycka Hime, RisaSano, aiby, guardian's feel, Uzumaki Prince Dobe-Nii, dekdes, hanazawa kay, Guest(1), loly046, witchsong, Kucing Gendut, wildapolaris, AprilianyArdeta, .39, ai no dobe, SNlop, Chinatsu Hideaki Fujoshi, Guest(2), LoliMcCrownd, Indah605, Hyull, rin oviana, IfUchiha, Guest(3), Dark , blackjackcrong, mizuky, Guest(4), efi. astuti .1, liessuke, saniwa satutigapuluh, Neko Twins Kagamine, Arum Junnie, Akasuna no Akemi, miszshanty05, Call Me Mink, Gui'sDark, xxxSN, kazekageashainuzukaasharoyani, Guest(5), oka, Dewi15, SasuNaru Love, Ichijo sena, HiNa devilujoshi, Aiko Michishige, yohey57, , Orenjiii, ChubbyMinland, Ns gues, Yun Ran Livianda, Harpaairiry, Saory Athena Namikaze, versetta, lolipopkwon88, choikim1310, Angel Muaffi, alysaexostans, B-Rabbit Ai, cherry, Guest(6), Nyenyee, Guest(7), krisTaoPanda01, , pikupiku, nanakim2118, sayuri, borutosatan, miss horvilshy, Dodomppa, Haruko Akemi, Fuuin SasuNaru, gyumin4ever, hana, Guest(8), Aff596, Khioneizys, KJHwang, Mary chan, hana, tomo, SuzyOnix, BLUEFIRE0805, apanyadong, Park778, Christal Otsu, JustCallMeAzi, susi, Kristal, zuka, uzumaki megami, septi, aoixo, uchiha putri aiko hani, Chieko, akira lia, sagami nanao, hyori, Han Akira, rikarika, Hamano Hiruka, Aprieelyan, Guest(9), NaruChan16, UchihaNarufah, ChulZzinPang, suka sasunaru, yulimizan2, Guest(10), ohana no haruno, shaniaa, LoliMcCrownd, yunaucii, yuyu, elisanekopinku, naruru, Like Zero One, sasunaru, NamikazeUzumaki ChoLee, Nameiedach ae, Riska, sasunaru, shafiraprakasa, Rapp-i, Miyu Mayada, Guest(11)
Saya minta maaf sebesar-besarnya atas lamanya update fanfic ini, benar-benar maaf *bow*
Siapa tahu masih ada yang menunggu fic ini, semoga gak kecewa juga ga bosen. Maaf untuk penulisannya yang masih belum rapih atau masih banyak typo bertebaran OTL
Thanks juga buat yang PM saya buat lanjutin fic ini, thanks banget sudah buat semangat :'D
Terimakasih banyak juga buat yang sudah menyempatkan baca, review, atau bahkan favorite/follow fanfic ini, kalian sangat baik :)
Buat shafiraprakasa-san sekali lagi terimakasih sudah mengingatkan judul novelnya, aah~ thanks *bow*
Chapter ini spesial buat temen saya Yun Ran Livianda, buon compleano, friend! Hope you like it ya :D
Semoga gak kecewa sama chapter ini, mohon maaf kalau masih banyak kesalahan. See you in next chap!
Ciao ciao~
Mind to Review?
