.

Sepanjang operasi Sasuke dan Sakura, Hinata yang terbaring lemah di rumah Sakit, mengigau dalam tidurnya. Gadis itu berulang-ulang kali memanggil nama Sasuke. Dalam mimpinya, ia bermimpi Sasuke meninggalkannya dan akhirnya ia tersadar dan langsung berteriak memanggil nama Sasuke dengan nyaring.

"Sasuke-kun!" Hinata terbangun. Ia mengedarkan pandangannya di sekeliling ruangan, tidak ada orang, hanya ada dirinya sendiri. Ia teringat dengan Sasuke, tanpa berpikir panjang gadis itu langsung mencabut infusnya dan berjalan dengan gontai meninggalkan ruangannya menuju ke ruangan Sasuke. Tapi sampai disana ia tak menemukan keberadaan pria tersebut. Ia pun segera menanyakan kepada salah satu suster-suster yang berlalu lalang di depan kamar itu.

"Maaf Suster, pasien disini dimana ya?"

"Oh, Sasuke-san?" Hinata mengangguk. "Hari ini Sasuke-san sedang menjalani operasi pencangkokan."

"Pencangkokan?" Tanya Hinata yang cukup kaget mendengarnya. Perawat itu mengangguk, setelah itu berlalu meninggalkan Hinata yang tampak terpaku di tempatnya. Gadis itu tampak berpikir siapa yang telah mendonorkan sum-sum untuk Sasuke. Hanya satu orang yang cocok untuk Sasuke, dan itu. ...

Hinata membulatkan matanya. Perasaan tak enak pun langsung menghampiri dirinya. Ia pun bergegas ke ruang operasi dimana Sasuke dan kakaknya sedang di operasi.

.

Hinata menemukan mereka, disana Ino, Naruto, Naruko dan juga Shikamaru tengah menunggu jalannya operasi. Hinata mendekat.

"Bagaimana operasinya?"

Semuanya menoleh ke arah Hinata. Naruko tampak tidak suka kehadiran gadis itu, tapi Hinata mencoba untuk tidak menghiraukannya. Ia menatap Ino dan Naruto meminta penjelasan.

"Semuanya baik-baik saja," ucap Ino sambil menghampiri gadis itu dan menyuruhnya untuk duduk.

"Lalu. . . Bagaimana dengan Nee-chan?" Tanya Hinata khawatir.

"Kau baru mengkhawatirkannya sekarang!" Sinis Naruko.

"Naruko!" Naruto memperingati sikap adiknya itu.

"Kenapa? Bukankah aku berbicara benar." Naruko tampak sangat kesal. Gadis bersurai kuning itu menunjuk-nunjuk Hinata. "Dia baru memikirkan Sakura setelah Sakura mendonorkan untuk pemuda itu."

"Gomenasai," Gumam Hinata setelah beberapa lama terdiam.

"Maafmu tidak ada gunanya sekarang. Kau tahu?" Naruko tampak mendekati Hinata yang duduk di samping Ino, sedangkan Shikamaru dan Naruto mencoba menahan pergerakan Naruko yang bisa saja menghantam Hinata kapanpun gadis itu mau. "Gara-gara kamu Nii-chanku tidak bisa dioperasi. Kalau sampai ada apa-apa dengan Nii-chanku, aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang! Kalau perlu aku akan membunuh—"

"Naruko!" Bentak Naruto yang cukup terkejut mendengar perkataan adiknya itu, "apa yang kau katakan! Hinata tidak berniat seperti itu!"

Hinata yang di samping Ino tampak terhenyak. Kedua mata hitamnya tampak terbelalak lebar, jelas ia cukup terkejut dengan penuturan bernada sarkastik yang baru saja keluar dari mulut Namikaze Naruko. Bibir gadis Hyuga itu tampak bergetar dan air mata pun mulai mengenang di pelupuk matanya. Ia membuka mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada satu kata pun yang bisa keluar dari bibirnya. Hingga akhirnya yang bisa dilakukannya hanya menundukkan kepalanya. Ino yang menyadari getaran pada tubuh Hinata segera merengkuhnya. Memeluknya.

"Tapi ucapanku benar Nii-chan," ucap Naruko sengit. "Gadis ini yang membuat Nii-chan membatalkan operasi. Gadis ini—"

"Cukup Naruko," potong Naruto cepat. Pria itu tidak ingin adiknya semakin menyudutkan Hinata dengan perkataan kasarnya. "Sebaiknya kau pulang!" Naruto lalu menatap Shikamaru yang sedari tadi hanya terdiam menyaksikan. "Antar pulang Naruko, Shikamaru!" Shikamaru menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya.

"Ayo, Naruko!" Sebelum ia menggandeng tangan Naruko, gadis itu sudah keburu pergi dengan air mata yang berlinang.

"Naruko!"

.

"Jangan diambil hati omongan Naruko, dia tidak serius mengatakannya tadi, dia hanya khawatir kepadaku." Naruto mendekati Hinata, berdiri di depan gadis itu yang masih tampak syok dengan ucapan Naruko tadi.

"Iie…" Hinata menggeleng, sambil tersenyum sedih, "lagi pula yang dikatakan Naruko-san benar. Gara-gara aku Sakura-nee mendonorkan sum-sumnya pada Sasuke-kun bukan padamu. Gomenne."

Naruto menggelengkan kepalanya. "Jangan bicara seperti itu. Lagi pula ini sudah keputusanku bersama Sakura." Naruto mencoba menjelaskan. Bagaimana pun bukan salah gadis itu. Dirinyalah dan Sakura yang sudah membuat keputusan.

"Ta—tapi. . . Tetap saja aku. . . "

"Cukup Hinata!" Potong Naruto cepat. Pemuda itu duduk disebelah Hinata. "Ini bukan salahmu."

"Benar Hinata-chan. Ini bukan salahmu. Ini sudah keputusan Sakura dan juga Naruto untuk menyelamatkan Sasuke terlebih dulu," ucap Ino. Gadis bermata aquarmen itu membenarkan kata Naruto agar gadis itu tidak di dera rasa bersalah. Ino mengenggam tangan Hinata dan mengelusnya lembut. "Jadi jangan menyalahkan dirimu Ne."

Hinata mengangguk lalu mulai terisak pelan sambil meminta maaf berulang-ulang kali. "Gomen-ne. . . Gomen-ne. . . Gomen Naruto -kun. . . Gomen Sakura-nee," ucapnya dengan berurai air mata.

Ino yang melihatnya langsung saja memeluk gadis itu sedangkan Naruto mengelus punggung Hinata lembut.

"Sudahlah Hinata."

.

.

.

.

.

.

Aku Memilih Setia

Naruto © Masashi Khisimoto

Genre:Drama, Romance, Hurt comfrot

Pairing: NaruSaku, SasuSaku, SasuHina.

Warning: AU, OOC, kata-kata tidak baku, gaje, abal,Typo (nongol mulu)

Don't like don't read~!

Fic abal yang sangat gaje, bikin muntah, pusing dan mual dll.

.

.

.

.

Summary:

Sakura dihadapkan dua pilihan yang sangat sulit. Haruskah dia memilih setia kepada tunangannya Sasuke atau justru

memilih bersama Naruto yang notabennya adalah calon suaminya di masa lalu. "Aku tidak memaksa kau memilihku Sakura-chan"/ "kau harus bersamaku/ "bisakah kau memberikannya kepadaku Nee-chan"/"kau harus memilih salah satu di antara mereka Sakura"/semua itu membingungkannya.

.

~Happy Reading~!

.

Aku memilih setia

.

.

Chapter 12.

.

Sakura membuka matanya perlahan, ia bisa merasakan seseorang menggenggam tangannya erat. Ia lalu menolehkan wajahnya ke samping dan ia melihat Naruto, Ino, dan Hinata yang menatapnya khawatir. Dan orang yang pertama kali dipanggilnya setelah ia sadar adalah Naruto.

"Ruru?" Panggil Sakura.

"Ini aku. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Naruto khawatir.

Sakura menganggukkan kepala pelan, "hmm, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Sasuke? Apa dia baik-baik saja?"Tanyanya lemah.

"Tenang saja. Sasuke tidak apa-apa. Gaara bilang Ia masih dalam proses pemulihan dan harus dirawat selama 4 minggu." Sakura menghela nafas lega.

"Bagaimana perasaanmu. Apa ada yang sakit?" Kali ini yang berbicara adalah Ino. Gadis pirang itu mendekati Sakura. Terlihat dari mata aquarmen itu menatap khawatir Sahabatnya.

Sakura menggeleng lemah. "Aku tidak apa-apa Ino-chan. Jangan khawatir."

"Syukurlah kalau begitu." Sakura tersenyum lalu pandangannya kini dialihkan kepada Hinata yang tengah menundukkan kepalanya takut memandang Sakura.

"Hinata!" Panggilan Sakura membuat semua yang berada di situ menatap Hinata. Hinata mengangkat kepalanya ragu. "Kau tidak ingin memelukku." Tak ayal air mata Hinata pun mengalir membasahi kedua pipinya mendengar ucapan itu.

"Nee-chan." Hinata langsung menerjang Sakura dan memeluknya erat. "Gomen, geomen-ne, Nee-chan. Gomen-ne." Isaknya hebat.

Sakura terkekeh pelan, wanita itu mengelus punggung Hinata yang bergetar karena tengah terisak hebat. Bisa dirasakan bahunya kini basah. "Bodoh, kenapa kau minta maaf. Kau tidak salah apa-apa ne."

Hinata mengangguk. "Gomen Nee-chan."

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o

1minggu kemudian

.

Setelah operasi Sakura, Naruto seperti biasa kembali ke aktifitasnya sebagai seorang CEO diperusahaannya, sesekali pria itu akan menghentikan pekerjaannya jika sudah merasa lelah. Sedangkan Sakura dengan setia gadis itu mendampingi Naruto, merawat pemuda itu.

.

Di pagi yang cerah, di sebuah manshion mewah terlihat para pelayan sibuk memindahkan meja makan ke luar ruangan, Naruto yang saat itu baru keluar dari kamarnya sempat merasa heran dan ia bertanya pada salah satu pelayannya, "ada apa ini? Kenapa kalian memindahkan semua kursi dan meja itu keluar." Tanyanya.

"Maaf tuan, tapi nona Sakura yang memintanya,'' jawab pelayan itu. Lalu terlihat Sakura datang menghampiri Naruto dengan senyum yang membias cantik. Mau tak mau Naruto pun tersenyum melihatnya.

"Aku yang menyuruh mereka. Bukankah ini bagus, kita makan di taman pagi ini. Udaranya sangat sejuk." Ucapnya riang.

Naruto mengangguk. "Hm, selama itu membuatmu senang lakukanlah." Sakura menganggukkan kepalanya sambil berlalu dari hadapan Naruto. Naruto pun mengikuti langkah Sakura dari belakang.

.

Sakura, Naruto, dan juga Naruko makan bersama di tempat yang tadi disiapkan oleh pelayan. Naruto terlihat sangat senang melihat orang-orang di sayanginya itu tengah berkumpul bersama sekarang.

"Kau yang membuatnya?" Tanya Naruto ketika melihat makanan yang tersedia di atas meja.

"Hmmm. Hanya punyamu. Sisanya pelayan yang memasak." Jawab Sakura sambil menyendokkan sup ke dalam mangkuk Naruto lalu menyerahkan kepada pria itu.

"Arigatou." Sakura mengangguk tersipu malu. Sedangkan Naruko yang sedari tadi melihat interaksi kedua orang di depannya itu hanya memutarkan bola matanya bosan.

"Sampai kapan kalian akan romantis-romantisan? Aku sudah lapar."

Sakura yang menyadarinya langsung terkesiap sedangkan Naruto langsung tertawa canggung. Pria itu memakan makanannya dengan terburu-buru.

Naruko menyeringai melirik Nii-channya yang memulai memakan makanannya.

"Apa hari Nii-chan komoterapi?"

"Hmm, dan Sakura akan menemaniku. Apa kau ikut?" Tanya Naruto balik menatap adiknya itu.

Naruko menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hari ini aku ada jadwal kuliah." Naruto menangguk lalu menyendok makanan ke dalam mulutnya lagi.

Setelah pembicaraan itu ketiganya pun memakan makanan mereka dalam suasana yang cukup tenang.

.

.

.

.

Mobil Lamborghini veneno berwarna perak terlihat memasuki pekarangan sebuah mansion mewah bergaya Eropa yang sangat luas dan artistik. Halaman mansion itu terlihat sangat luas dengan beberapa patung putih menghiasi di sekitar taman, bangunan mansion itu sendiri tampak sangat besar dan megah.

Hari ini Sasuke diizinkan pulang ke rumah oleh kakaknya. Ditemani dengan Hinata yang hari ini menjadi sopirnya, gadis itu dengan setia menemani Sasuke kemanapun pria itu pergi. Jadi disinilah mereka sekarang di Manshion sang Uchiha. Manshion yang sudah lama tidak ditempati karena telalu luas untuk kedua saudara Uchiha itu. Selama ini Sasuke dan Itachi lebih memilih tinggal di apartement dari pada tinggal di manshion mewah mereka.

Hinata menghentikan mobilnya dan terlihat dua pelayan menghampiri, membukakan pintu mobil mereka. "Selamat datang kembali, Tuan," dua orang lelaki dengan seragam pelayan menyambut kedatangan Sasuke dan Hinata dengan hormat. Hinata menundukkan kepalanya kecil sedangkan Sasuke langsung masuk begitu saja. Pemandangan yang biasa bagi para pelayan di manshion mewah itu.

Hinata menatap dua pelayan itu masih dengan senyum yang ramah.

"Sasuke-kun masih harus istirahat," kata Hinata memberi penjelasan pada kedua pelayan itu, "jadi mulai sekarang untuk keperluan Sasuke biar aku yang mengurusnya."

"Baik, Nona."

Hinata mengangguk lalu ia masuk ke dalam manshion itu, menyusul dimana Sasuke berada. Di lantai dua sebuah kamar yang tidak kalah mewahnya dari ruangan-ruangan yang lain, Hinata dapat melihat Sasuke sedang berdiri di balkon kamar, yang sedang memandang keluar dengan diam. Hinata menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan pipinya di punggung Sasuke yang lebar. Hinata tidak takut jika nanti pria itu akan memarahinya atas perbuatannya yang lancang. Sebab Sasuke sendiri telah mengijinkannya. Pria itu memberinya kesampatan untuk membuat pria itu jatuh cinta padanya. Melupakan bayang-bayang Sakura dimata pria berambut hitam tersebut.

"Sebaiknya kau istirahat, Sasuke-kun!" Sasuke tidak menjawabnya. Pria itu masih diam tak bergeming dengan posisinya menatap lurus ke depan.

Hinata menghela nafas. Ia tahu butuh waktu lama untuk membuat Sasuke jatuh cinta padanya. Sesosok kakaknya tidak akan mudah digantikan begitu saja. Tapi ia tak perduli, ia tetap akan ada untuk Sasuke dan ia akan membuat pria itu jatuh cinta padanya. Lagi pula ia sudah membicarakan hal ini kepada kakaknya beberapa hari yang lalu.

"Bisakah kau memberikannya padaku Nee-chan."

Sakura mengerjapkan matanya, memandang adiknya itu dengan bingung. "Memberikan apa maksudmu, Hinata?"

"Sasuke. Aku mencintainya. Aku ingin membuat Sasuke melupakanmu. Apa boleh?"

Sakura mengerjapkan matanya sekali lagi. Ia cukup kaget mendengar ucapan adiknya itu. Sakura tersenyum. "Lakukan saja," jawab Sakura. "Lagi pula Nee-chan dan Sasuke sudah berakhir. Tidak ada apa-apa lagi di antara kami. Dari awal hubungan kami adalah sebuah kebohongan."

"Terimakasih Nee-chan."

"Hmm. Bahagialah bersama Sasuke."

.

.

.

.

.

"Sebaiknya kau di rumah saja. Akhir-akhir ini kau tampak terlihat lelah, bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang dan bersantai bersama. Nonton misalnya," kata Naruto. Pria itu bergelayut manja pada Sakura yang tengah menyusun pakaian Naruto yang baru saja dilipatnya ke dalam lemari yang ukurannya sangat besar.

"Aku tidak capek, aku juga sangat ingin pergi menonton bersamamu tapi aku ingin mengambil beberapa baju di apartemenku."

Naruto membalikkan badan Sakura, menatap wajah manis wanitanya itu. "Itu terlalu merepotkan, aku dapat mengirim seseorang untuk pergi membelikan baju baru untukmu"

"Aku tahu. Tapi itu tidak perlu, masih ada beberapa benda yang ingin aku bawa."

Naruto mengerucutkan bibirnya manja. Kebiasaan Naruto yang sudah Sakura hapal jika omongannya tidak di turuti. Dengan lembut Sakura menangkup wajah Naruto dan menatap kedua manik mata pria tersebut.

"Bagaimana kalau kita nonton film dilain waktu saja, Ne? Aku benar-benar harus mengambil beberapa barang di apartemenku. Aku tahu kau bisa membelikanku sebanyak apa yang ku mau. Tapi aku tidak mau. Aku hanya ingin barang-barangku bukan uangmu." Kata Sakura lembut.

Naruto mendesah, ia tahu tidak ada gunanya ia berdebat dengan Sakura. Sakura tersenyum senang melihat Naruto tampaknya tidak protes lagi. "Baiklah, Aku akan mengantarmu kalau begitu."

Sakura menggelengkan kepalanya, "tidak. Aku dapat pergi sendiri." Tolak Sakura. "Kau harus banyak istirahat. Kau habis komoterapi tadi siang." Sakura merapikan rambut Naruto yang semakin tipis, rontok karena komoterapi yang sedang dijalankannya.

"Tapi. . . ?" Naruto merasa tidak yakin.

"Tidak ada tapi-tapian." Sakura menarik tangan Naruto mendudukannya ditepi ranjang. "Kau harus istirahat. Dan tidak ada bantahan," ucap Sakura langsung ketika melihat Naruto hendak memotong pembicaraannya.

"Baiklah," Naruto mengalah. Walau hatinya merasa tidak yakin tapi ia mencoba bepikir untuk positif. "Hati-hati dijalan," Ucapnya. Sakura mengangguk.

.

Sakura memandang photo yang ada di tangannya dengan sendu. Photo yang menampilkan dirinya bersama Sasuke di ambil ketika malam natal. Photo tersebut membuatnya kepikiran dengan pria tersebut. Sehabis di operasi dia tidak pernah lagi bertemu dengan Sasuke. Ia memutuskan bahwa hubungan mereka benar-benar telah berakhir. Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Perasaan khawatir dan cemas langsung hadir begitu saja di dadanya.

Sasuke adalah orang kedua yang mengisi hatinya. Ia tidak pernah membenci pria yang sudah membohonginya itu. Ia menyanyangi pria itu. Tapi sekarang ia hanya ingin fokus untuk kesembuhan Naruto. Naruto saat ini prioritas utamanya.

Sakura meletakkan kembali figura tersebut ke tempatnya semula. "Terimakasih dan maafkan aku. Selamat tinggal Sasuke-kun."

Sakura mengambil tasnya yang telah berisi pakaiannya kemudian meninggalkan apartementnya itu dengan wajah sedih. Bagaimana pun juga apartement ini memberikan banyak kenangan yang indah untuknya.

Tanpa Sakura tahu, Sasuke berada diluar halaman apartement tersebut. Pria itu hanya bermaksud mengunjungi tempat yang memberikan banyak kenangan untuknya, tapi ia tidak menyangka malam itu ia akan melihat Sakura keluar dari apartement tersebut. Langsung saja pria itu keluar dari mobil dan menghampiri Sakura dan memeluknya erat.

Sakura cukup terkejut dengan keberadaan Sasuke. Sakura bisa melihat pria itu terlihat berbeda dari biasanya. Sasuke yang selalu terlihat rapi kali ini terlihat seperti orang putus asa.

"Ini benar-benar kamu, aku pikir aku hanya berhalusinasi." kata Sasuke. Pria itu sangat bahagia dapat melihat Sakura lagi. "Aku merindukanmu."

Sakura cukup terkejut dengan perkataan Sasuke, dia tidak menjawabnya. Gadis itu melepaskan pelukan Sasuke dengan sedikit paksa karena Sasuke terlampau memeluknya erat.

"Sasuke-kun. . ."

"Maafkan aku." Potong Sasuke cepat. Sakura tertegun mendengar ucapan pria di depannya itu.

"Apa. . ."

"Maafkan aku telah membohongimu." Sasuke menatap kedua mata Sakura dengan penuh penyesalan. Sakura tak percaya mendengar ucapan seperti itu dari mulut Sasuke.

Sasuke tertawa hambar. "Aku mengucapkan sesuatu yang bodoh, ya. Ya aku memang bodoh, aku bodoh karenamu. . Apakah kau datang kesini sendiri? Kau tidak punya sopir yang mengantarmu, jika kau tidak keberatan aku akan mengantarkanmu pulang." kata Sasuke sambil membawakan tas Sakura. Namun belum sempat Sasuke membawanya ke mobil, Sakura sudah keburu berbicara, "itu tidak perlu. Jika kau mengatarkanku pulang, Naruto tidak akan suka."

"Oh, ya. Aku lupa dengan tunanganmu itu. Maafkan aku." Kata Sasuke.

"Jangan katakan maaf padaku. Ini bukan dirimu," ucap Sakura. "Yang seharusnya mengatakan maaf adalah aku. Aku telah menyakitimu."

Sasuke membalikkan badannya. "Tidak. Akulah yang salah. Aku telah membohongimu."

"Kau melakukannya untuk membahagiakanku." Sakura menghampiri Sasuke dan tersenyum. "Dan aku bahagia saat itu."

"Kalau kau bahagia bersamaku. Bisa kah kau kembali padaku?"

Sakura menggelengkan kepalanya. Ia mengambil tasnya yang berada ditangan Sasuke dengan lembut. "Aku tidak bisa. Maafkan aku."

"Apa kau bahagia bersamanya? tanya Sasuke.

"Ya. Aku sangat bahagia."

"jangan bohong padaku!"

"Aku tidak berbohong padamu, aku sangat bahagia," jawab Sakura. "Selama ini aku hidup sangat damai."

"Apakah hidup damai sama dengan bahagia?" Tanya Sasuke.

"Bagiku sama."

"Kalau begitu masihkah kau mencintaiku? Tanya Sasuke penuh harap. Sakura semakin bersalah kepada pemuda di depannya itu.

"Ya." jawab Sakura pelan. Sasuke yang mendengar hal itu sangat senang, untuk pertama kalinya pemuda itu tersenyum dengan lebar.

"jika itu untuk menyenangkan aku, aku sangat senang mendengarnya, terima kasih, Sakura," kata Sasuke.

"Lupakan aku, Sasuke-kun," pinta Sakura.

"Apakah ini permintaanmu?"

"ya."

"Baiklah, aku berjanji aku akan melupakanmu, tapi kau harus berjanji satu hal padaku. . . " Sasuke menatap kedua bola mata Sakura dengan serius. "Jangan pernah melupakanku, tidak peduli berapa banyak waktu telah berlalu, jangan pernah melupakanku. Simpanlah namaku di dalam ruang kecil hatimu."

Sakura mengangguk. Sakura sudah hampir menangis ketika Sasuke memeluknya dan ia juga membalasnya. Menurutnya ini yang terbaik. Namun beberapa saat Sakura buru-buru melepaskan pelukannya ketika melihat Naruto datang dan melihat mereka berpelukan, Sakura sangat terkejut melihatnya.

Naruto menghampiri dan mengambil tas yang ada di tangan Sakura. Sakura mencoba berusaha menjelaskan apa yang terjadi agar Naruto tidak salah paham padanya dan juga Sasuke.

"Ruru kami hanya. . ."

"Ayo kita pulang!" Potong Naruto sambil merangkul Sakura meninggalkan tempat itu. Sakura tahu Naruto pasti marah. Jadi sebelum semuanya tambah runyam, Sakura mengikuti perintah Naruto. Tapi sebelum itu Sakura berhenti sejenak dan menoleh kebelakang dimana Sasuke berdiri."

"Selamat tinggal Sasuke-kun."

Sasuke pun hanya bisa terdiam menatap kepergian dua orang itu.

.

Sesampainya di manshion, Naruto masuk lebih dulu, Sakura mencoba mengejarnya dan berusaha menjelaskan pada Naruto bahwa mereka tidak merencanakan pertemuan itu.

"Apa kau marah?" Tanyanya.

"Marah? Tidak aku tidak marah?" kata Naruto. Jawaban yang berbalik dengan sebenarnya. Sakura tahu itu.

"Kau marah. Maafkan aku. Jika aku tahu Sasuke disana aku tidak akan. . . "

Belum sempat Sakura melanjutkan ucapannya Naruto sudah lebih dulu berbicara, "Kau tidak akan apa? Kau tidak akan memeluknya begitu, HARUNO SAKURA?" Tanya Naruto.

Sakura membelalakan matanya tak percaya. Selama ia bersama Naruto, pria itu tidak pernah memanggil nama lengkapnya. Dia selalu memanggilnya dengan panggilan 'Sakura-chan atau Saki.' Dan kini ia mendengar pria yang di cintainya itu memanggil namanya dengan nada penuh penekanan.

"Apakah kau masih mengharapkan Sasuke sehingga kau tadi pergi sendiri tanpa mau ku temani tadi." Lanjut Naruto lagi dengan emosi.

Sakura terdiam. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya tampak siap untuk turun. Sakura menarik tangan Naruto untuk mengajaknya berbicara di dalam kamar mereka.

"Pelukan itu hanya bentuk ucapan selamat tinggal," ucap Sakura yang mencoba menjelaskan. "Jadi jangan berperasangka buruk terhadapku. Kau tahu? Hal itu sangat menyakitiku." Naruto tidak menjawabnya. Pria itu malah memalingkan wajahnya.

SESAK…

Hanya itu yang Sakura rasakan ketika Melihat Naruto memalingkan wajahnya. Padahal Sakura tidak bermaksud membuat Naruto cemburu karena ia berpelukan dengan Sasuke. Pelukan itu sendiri tidak bermaksud apa-apa, hanya sebagai ucapan perpisahan darinya untuk Sasuke. Tapi ia tidak menyangka pelukan itu akan membuat Naruto akan marah seperti ini.

Selama menjalin hubungan dengan Naruto, Sakura belum mendapati Naruto bersikap seperti ini padanya. Naruto yang selalu ceria dan semangat, kini hilang sekejap mata. Ini pertama kalinya Sakura dan Naruto bertengkar, padahal selama menjalin hubungan dirinya dan juga Naruto tidak pernah bertengkar. Naruto selalu lembut dan pengertian padanya. Tapi malam ini . . . Sakura melihat kemarahan Naruto yang tidak pernah ia liat sebelumnya.

Tanpa disadari, kini air matanya perlahan turun membasahi pipinya. Suara isak tangisnya membuat Naruto memalingkan wajahnya, menatap Sakura. Dan betapa terkejutnya, ia mendapati Sakura menangis di depannya. Wanita yang di cintainya itu tengah mengigit bibirnya kuat menahan suara isak tangisnya yang akan keluar. Bagus, baru kali ini dia membuat Sakura menangis.

"Sa. . . Sakura?"

"Kenapa kau bicara seperti itu! Kau tahu hanya kau yang suka."

Naruto tersenyum miris. "Tapi kau juga mencintainya bukan. Aku mendengar semuanya Sakura. Aku mendengar bahwa kau masih menyukai Sasuke. Aku tidak memaksa kau memilihku Sakura."

"Itu tidak seperti yang kaupikirkan Ruru. Aku memang mencintainya. Tapi aku lebih mencintaimu. Kau tahu kan itu."

"Siapa yang tahu Sakura, aku bukanlah orang yang bisa mengetahui isi hati orang dengan mudah. Dan lihat sekarang kau baru beberapa jam keluar kau sudah berpelukan dengan Sasuke," ucap Naruto sinis. Pria itu lalu tertawa hambar. "Seandainya aku tidak datang kesana, tidak hanya berpelukkan kau pasti akan berciuman dengan Uchiha. . ."

PLAK.

tamparan Sakura telak mengenai pipi kiri Naruto. Memotong ucapan pria itu yang sangat menyakitkan hatinya itu. Rasa perih segera dirasakan Naruto pada pipi kirinya.

Pria itu memegangi pipinya yang panas akibat tamparan Sakura. Sementara Sakura menatap Naruto dengan tatapan terluka. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari kedua manik matanya. Naruto menunduk diam. Dia tidak mau menatap Sakura.

Masih terisak Sakura memperpendek jaraknya dengan Naruto, menangkup wajah Naruto dengan lembut, mengangkat wajah tampan itu agar sejajar dengan wajahnya. Sakura memandang wajah di depannya itu dengan pedih.

"Aku mencintaimu Ruru. Aku sangat mencintaimu. Hanya kamu. Walau pun aku mencintainya, tapi aku hanya ingin bersamamu. Kumohon, jangan berbicara yang menyakitkan hatiku. Aku minta maaf kalau pelukan itu membuat marah. Aku… aku hanya ingin dirimu saja. Sasuke hanya bagian dari masa lalu," ucap Sakura di sela isak tangisnya yang semakin hebat.

"Saki. . ."

"Aku lebih mencintaimu Ruru. Aku hanya ingin setia bersamamu. Jadi tolong jangan mengatakan hal menyakitkan seperti itu padaku"

"Maafkan aku, Saki. Maafkan aku," bisik Naruto pelan. Kini tatapan matanya melembut memandang Sakura. Ya. Searusnya ia percaya dengan ucapan Sakura. Wanita itu tidak akan membohonginya. Ia sangat ketakutan tadi melihat Sakura Dan sasuke berpelukan, ia sangat takut jika saat itu Sakura akan pergi meninggalkannya dan pergi bersama Sasuke. Meskipun pada kenyataannya, Sakura tidak pernah meninggalkannya sekali pun.

"Maafkan aku."

Naruto mendekatkan wajahnya dengan wajah wanita di cintainya itu. Hingga akhirnya, bibirnya berhasil bertemu dengan bibir mungil Sakura. Dikecupnya perlahan bibir mungil itu. Awalnya hanyalah kecupan pelan. Tapi mendadak Sakura memulai pagutan yang lebih hangat dan dalam. Naruto pun membalasnya yang lebih lagi dari apa yang dilakukan Sakura. Lidah mereka bertemu, saling melumat, saling mendominasi. Naruto menghisap habis bibir bawah kekasihnya, membuat wanita itu mengeluarkan erangan kecil.

Perlahan tapi pasti Naruto membaringkan tubuh Sakura di ranjang. Pria itu berusaha untuk tidak menindih tubuh rapuh di bawahnya. Ia menjaga keseimbangannya dengan kedua lengannya yang menekan ranjang yang ada di sisi kepala Sakura.

Untuk kesekian kalinya mereka menghabiskan malam-malam mereka seperti malam-malam sebelumnya dengan berbagi kehangatan satu sama lain. Mencona menghilangkan perasaan keraguan dalam diri masing-masing.

.

.

.

.

.

Sasuke memandang keluar pada kaca restoran. Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, orang-orang masih tampak berlalu lalang disekitar tempat itu. Bahkan restoran tempat dia duduk sekarang masih cukup ramai.

Sasuke menghela nafas sejenak sebelum mengalihkan pandangannya ke arah layar ponselnya, sudah 20 menit ia menunggu kedatangan Hinata setelah mengirimkan email pada gadis itu untuk datang ke restoran dimana ia berada sekarang. Malam ini ia ingin mengakhiri perjanjiannya dengan gadis itu. Ia ingin memulai hidupnya yang baru. Ia tidak ingin membuat gadis itu berharap lebih banyak terhadapnya. Jujur dia sudah terbiasa dengan adanya Hinata, tapi setiap bersama gadis itu, ia selalu terbayang dengan Sakura.

Aroma kopi hitam panas kini mulai sedikit mendingin. Pria itu menyesap minumannya perlahan.

"Ah, maaf aku terlambat," Sasuke mendongakkan kepalanya menatap kedatangan Hinata yang sedari tadi di tunggunya. Terlihat gadis itu sedikit ngos-ngosan. "Aku cukup kesulitan mencari tempat ini. Maafkan aku."

Sasuke menggelengkan kepalanya, memberikan sedikit senyum kecil kepada gadis itu. Pipi Hinata tampak memerah, gadis itu segera duduk di depan Sasuke dengan gugup.

"Kau ingin minum apa?"

"Teh occa panas." Sasuke mengangguk. Lalu ia mengangkat tangannya memanggil pelayan agar menghampiri meja mereka. Setelah pelayan itu menghampiri meja mereka, Sasuke pun langsung memesan pesanan Hinata.

"Ada apa kau memanggilku ke sini, Sasuke-kun?" Tanya Hinata pelan setelah cukup lama terdiam.

Sasuke memandang Hinata cukup lama setelah itu mengalihkan pandangannya pada gelas kopinya yang tinggal separuh.

"Ada yang ingin ku bicarakan―" Sasuke berhenti sejenak. Menyakinkan hatinya bahwa ini memang yang terbaik. "Hinata. . . Bagaimana kalau kita hentikan saja perjanjian kita."

Mata lavender Hinata tampak membulat sempurna ketika mendengar kata-kata Sasuke barusan. Serasa seperti ada yang menusuk hatinya dengan pisau yang tak kasat mata. Perih dan sakit. Hinata tidak mampu berkata apa-apa lagi. Bibirnya tampak kelu untuk mengeluarkan satu kata pun. Air mata pun mulai menganak di pelupuk matanya.

"apa yang kau―"

"Sebaiknya kita hentikan saja perjanjian kita. Maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku masih mencintai Sakura."

Hinata menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak," setetes air mata jatuh di pipi pucat Hinata. "Aku tidak mau," Hinata tidak memperdulikan bahwa saat ini ia menjadi pusat perhatian para pengunjung restorant di sekitarnya.

"Sebaiknya kita hentikan."

"Kita baru memulainya Sasuke-kun. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku. Aku akan menghilangkan sosok Sakura-ne di hatimu. Bukankah kau janji, kau janji membiarkan aku untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Jadi kumohon... Kumohon jangan bilang berpisah. Aku tidak mau..." Pinta Hinata memelas.

Sasuke tahu ia sudah berjanji. Tapi tetap saja. Pria itu menghela nafas . . . "Aku tidak mau melihatmu menderita bersamaku."

"Aku lebih menderita lagi jika tidak bersamamu. Aku lebih baik mati dari pada harus berpisah denganmu."

Hinata berdiri meninggalkan Sasuke di dalam restoran yang tampak terpaku melihat kepergiannya. Segera saja Sasuke mengejar Hinata setelah meletakkan beberapa lembar uang di atas meja. Ia segera berlari menyusul Hinata.

Entah Sasuke yang terlalu panik atau merasa bersalah kepada Hinata, pria itu sempat tidak memperhatikan jalanan yang dia sebrangi. Ia tidak menyadari bahwa sebuah mobil bergerak ke arahnya, sontak saja orang-orang yang berada di jalan itu sempat berteriak, memperingati Sasuke bahwa sebuah mobil sedang meluncur ke arahnya. Hinata yang melihat hal itu segera saja berlari ke arah Sasuke, mendorong tubuh pemuda itu sekuat tenaganya.

BRUKK.

Semua begitu cepat terjadi. Sasuke bahkan tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat mobil itu berhenti tepat ketika Hinata mendorong tubuhnya. Dengan cepat orang-orang berkerumunan disana. Sasuke segera bangun dan menerobos kerumunan itu. Hinata tergeletak di jalan dengan kepala yang berdarah. Segera saja Sasuke memapah tubuh Hinata yang tidak sadarkan diri itu. Ia segera meminta siapa saja untuk menelponkan ambulans untuknya.

"Hinata! Hinata! Buka matamu! Buka matamu! Kenapa kau melakukan hal ini padaku!" Pinta Sasuke. Pria itu menepuk pelan pipi gadis itu. Ia tidak menyangka Hinata akan melakukan hal itu padanya. Melempar dirinya sendiri untuk melindunginya dari tabrakan yang seharusnya dia yang tertabrak. Perasaan bersalah pun langsung menghampirinya.

"Kumohon buka matamu Hinata!" Seru Sasuke panik. "Aku janji... Aku janji, aku akan selalu bersamamu. Aku janji. Ku mohon buka matamu." Air mata Sasuke sudah siap untuk turun, tapi itu tidak terjadi karena sebuah tangan sudah lebih terjulur ke pria itu. Mengusap air mata Sasuke dengan lemah.

"Kau janji?"

Sasuke terkejut ketika mendengar suara lirih tersebut. Ia dapat melihat Hinata membuka matanya pelan, gadis itu tersenyum lemah ke arahnya.

"Aku janji."

Hinata tersenyum lega. "Ter-terima... kasih..." Hinata kembali menutup matanya dengan pelan. Tangannya yang berada di pipi Sasuke langsung terkulai lemas.

"Hinata! Hinata!"

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Wanita bersurai pink itu terus saja berlari di sepanjang koridor rumah sakit dengan wajah panik, tidak ia perdulikan penampilannya yang masih memakai piyama tidurnya. Ia juga tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang memandang aneh kepadanya. Yang gadis itu inginkan hanyalah dirinya segera menemukan ruang dimana adiknya dirawat, tempat dimana seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Ya, pagi tadi ia menerima email dari Sasuke bahwa Hinata kecelakaan, betapa paniknya Sakura mendapat khabar itu, dengan capat ia dan juga Naruto segera meluncur ke arah rumah sakit di mana Hinata di rawat.

Dan ketika sudah sampai dimana ruangan Hinata dirawat, tanpa buang-buang waktu Sakura segera menerobos masuk dan betapa kagetnya ia melihat Hinata tampak baik-baik saja. Walau kepala gadis itu diperban dan beberapa luka ditangannya tapi gadis itu terlihat sehat, bahkan saat itu ia tengah berbincang-bincang dengan Sasuke, wajahnya tampak sangat bahagia.

Hinata yang menyadari kedatangan kakaknya itu segera berseru senang. "Sakura-nee. . . Kau datang?" Tanya Hinata yang cukup kaget melihat kedatangan kakaknya. Yang membuatnya kaget bukan kedatangan kakaknya tapi baju piyama yang dikenakan kakaknya.

Brukk.

Hinata membulatkan matanya kaget ketika Sakura tiba-tiba saja memeluk tubuhnya dengan erat. Tangisan Sakura langsung meledak saat itu juga, membasahi pundak Hinata dan menggumamkan kata 'bodoh' berkali-kali. Hinata masih tidak mengerti dengan keadaannya sekarang. Kenapa kakaknya itu mengatai dirinya bodoh?

"Sakura-nee, kau kenapa menangis?" Tanya Hinata polos.

Sakura melepaskan pelukannya sejenak. Ia menatap wajah adiknya yang memandangnya bingung.

"Dasar baka." Pekik Sakura. Dia tidak sadar kalau suaranya begitu tinggi, bukan hanya Hinata yang terkaget mendengar suara lengkingan Sakura, tapi Naruto dan Sasuke pun kaget. "Aku khawatir padamu. Kupikir... kupikir... kau..." Sakura tak sanggup meneruskan kata-katanya. Wanita itu menutup mulutnya dengan tangannya tampak syok. Perasaan takut jela-jelas masih terasa dihatinya.

Hinta tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja Nee. Hanya luka ringan di kepala tak perlu dikhawatirkan."

"Baka." Sakura memeluk Hinata sekali lagi dan dibalas dengan Hinata dengan lembut. Gadis itu mengelus punggung kakaknya yang masih tampak bergetar. Ia memandang kedua pria di depannya dengan senyum yang bahagia. Kedua pria itu pun saling bertatapan, dan tak lama setelah itu saling tersenyum satu sama lain.

O0o0o0o0o0o0o

Semuanya telah berjalan dengan baik. Naruko tidak membencinya lagi, Sasuke dan Naruto mulai bersahabat, Hinata kini semakin baik terhadapnya. Kehidupan yang damai, yang sangat dia suka. Tapi masih ada satu yang membuat Sakura masih di dera rasa khawatir yang sangat besar.

Kondisi Naruto.

Walau pria itu saat ini dalam keadaan baik-baik saja, tapi Sakura masih saja tetap cemas. Takut akan kehilangan seseorang yang sangat berharga untuknya, membuatnya sering di dera rasa sakit dalam dadanya.

1 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk Sakura menunggu. Wanita itu ingin sekali mendonorkan sum-sumnya untuk Naruto sebelum ia yang dijemput oleh Sang Maha Kuasa. Ia tahu, sangat tahu, kondisi badannya. Akhir-akhir ini ia sering merasa sakit kepala yang hebat pada kepalanyanya, tapi ia mencoba sekuat mungkin untuk menyembunyikannya dari Naruto. Ia mencoba tersenyum di depan pria di cintainya walau saat itu kepalanya sangat sakit. Ia tidak ingin membuat Naruto khawatir padanya.

Siang itu ia memutuskan untuk ke rumah sakit, meminta obat dengan dosisi yang tinggi. Sebab obat yang minggu lalu sudah tidak berpengaruh lagi. Ia mendatangi Itachi, dokter yang merawatnya selama ini.

"Kau tahukan dosis ini bisa membunuhmu perlahan," ucap Itachi sambil menyodorkan sebuah botol obat dengan ukuran sedang. Pria itu melepaskan kacamatnya memandang Sakura di sebrangnya dengan sendu.

Sakura tersenyum lemah. Gadis itu dengan cepat mengeluarkan sebutir obat dan meminumnya dengan buru-buru. Gadis itu langsung menghela nafas ketika butir obat itu sudah tertelan dilehernya. "Mau bagaimana lagi. Aku tidak ingin Naruto melihatku kesakitan. Saat ini ia sudah cukup dibuat lelah dengan komoterapinya dan aku tidak ingin menambah pikirannya melihatku sakit."

"Tapi jika kau selalu mengkonsumsi obat ini, itu juga tidak baik untuk sum-summu."

"Aku tahu." Sakura mengangguk mengerti. "Aku tidak akan sering meminumnya." Itachi menghela nafasnya lagi. Sesaat ruangan itu sepi, hanya terdengan suara nafas dari keduanya.

"Apa. . . "Sakura memulai pembicaraannya lagi. Membuat perhatian pria di depannya itu ke arahnya. "Sasuke sudah mengetahui bahwa aku yang mendonorkan sum-sum padanya."

Itachi mengelengkan kepalanya. "Tidak. Sasuke tidak tahu. Aku dan Hinata merahasiakannya. Waktu itu ia sempat memintaku untuk memberirahu siapa yang mendonorkan untuknya. Tapi aku tidak bisa memberitahunya dengan alasan, karena itu rahasia rumah sakit."

"Sykurlah." Sakura menghela nafas lega. Wanita itu membaringkan kepalanya di atas meja. Itachi yang melihat hal itu mengelus kepala Sakura lembut. ''Kau harus merahasiakannya sampai aku bisa mendonorkan untuk Naruto. Aku tidak ingin dia merasa bersalah!"

"..."

"..."

"Jadi kau yang mendonorkannya untukku?"

Sakura dan Itachi sama-sama tertegun. Mereka mengenal suara itu. Jantung keduanya terasa berdetak dengan cepat. Sakura bisa merasakan tangannya berkeringat dingin mendengar suara itu. Sakura segera bangkit dari duduknya, membalikkan badannya menatap Sasuke yang kini berdiri di ambang pintu dengan tangan mengepal.

"Sasuke-kun."Panggil Sakura. Itachi baru saja ingin mendekati adiknya itu, tapi seorang perawat segera mendatanginya, memberitahu bahwa dia dibutuh di ruang operasi sekarang. Dengan berat hati Itachi meninggalkan kedua orang di dalam ruangannya. Tapi ia sempat berpesan keduanya untuk tidak melakukan pembicaraan apa-apa sebelum ia ada disana untuk menjelaskan. Tapi tampaknya itu percuma saja. Keingintahuan Sasuke membuat pemuda itu langsung bertanya sehabis kepergian Itachi.

"kenapa kau memberikan sum-sum tulangmu padaku dan bukan untuknya?"

"Sa-sasuke A... Aku bisa..."

"Kau sengajakan melakukan hal ini untuk membuatku hutang budi padanya kan?!"

"Tidak." Pekik Sakura. "Aku tidak pernah berpikir seperti itu."

"LALU KENAPA KAU MENDONORKANNYA PADAKU." Teriak Sasuke emosi. Pria itu tidak percaya bahwa dirinya telah dibohongi. Sakura nyaris saja menangis karena tiba-tiba Sasuke membentaknya seperti itu, jantungnya serasa mau lepas. Sakura tidak pernah melihat Sasuke seperti ini sebelumnya. Matanya yang berkilat tajam memancarkan emosi dan wajahnya mengeras. Belum lagi kedua tangannya yang terkepal dengan erat di sisi tubuhnya.

"Dari awal aku memang ingin mendonorkannya!" Ucap Sakura takut-takut. Ia takut Sasuke membentaknya lagi.

"Lalu kenapa kau tidak mendonorkannya, malah mendonorkan padaku?!"

"Aku tidak bisa, walau aku ingin. Tapi aku tidak bisa karena kamu adalah orang yang sangat dicintai Hinata." Sasuke kaget. Sakura menangis. "Kalau aku tidak menyelamatkanmu, Hinata tidak akan pernah sadar dari pingsannya. Dia depresi karena sakitmu hingga ia tidak berniat hidup dimana kau juga tidak hidup." Sakura menghapus air matanya, tapi berapakali pun usahanya menghapus air matanya, toh cairan bening itu akan tetap jatuh juga. "Lagi pula, semua ini adalah keinginan Naruto untuk menolongmu terlebih dulu."

"Lalu, Apa kau tahu bagaimana aku akan hidup kalau dia meninggal?" Tanya Sasuke depresi.

"Tidak." Sakura memandang Sasuke tajam. "Aku tidak akan membiarkannya meninggalkanku. Aku yakin Ruru tidak akan meninggal, aku akan menyelamatkannya." Ucapnya tegas. Hal ini pun membuat Sasuke menjadi jelas serba salah. Sasuke duduk lemas di sofa dan mencengkram rambutnya kasar. "kenapa kalian melakukan ini padaku?" Kata Sasuke. Tanpa menunggu jawaban dari Sakura pemuda itu lantas meninggalkan Sakura seorang diri di ruangan Itachi.

Sakura menangis sengungukkan menatap kepergian Sasuke. "Ini juga berat bagiku Sasuke-kun. Tapi apa yang bisa kulakukan. Kau adalah orang yang berharga untuk Hinata."

Hinata yang tanpa sengaja menguping pembicaraan mereka juga ikut menangis sama seperti Sakura. Pasalnya ia juga ikut andil dalam masalah ini. Ia menyebabkan kakaknya itu mendonorkan sumu-sumnya untuk Sasuke duluan. Andai saja dia tidak egois, maka kakaknya tidak akan tersakiti seperti ini. Ia sangat bersalah pada kakaknya.

Sasuke yang telah berada di dalam mobilnya, merasa pusing. Berulang kali pria itu memukul-mukul stir mobilnya dengan kasar, menyalurkan rasa sesak di dadanya. Saat itu ia berjanji, ia berjanji akan menyelamatkan Naruto, apapun yang terjadi.

.

.

.

.

TBC.

A/N: setelah update chapter ini, aku langsung update chap terakhirnya. :)