Hai kamuuu!

Iyaaa~ Kamuuu~

Saya comeback nihh, sori kelamaan update haha. Doakan saja yang terbaik wkwk

Eh pingin curhat banget lho guys. Saya suka banget baca review kalian, pokoknya kalian penyemangatku. Pas saya jengkel sama temen kampuslah, pas duit bulanan belum turunlah, pas nunggu jodoh ga dateng-dateng lah, pas mood saya jelek tu bisa up lagi ketika baca review kalian. Kalian penyemangatku guys, makasih bgt :')

Sori kalo typo, sori kalo boring, sori kalo lama.

Enjoy!


Warna merah muda cerah bunga sakura tampak bersinar dimandikan oleh cahaya matahari pagi. Sebagian kelopaknya terbang bersamaan dengan angin musim semi yang berhembus melewati kerumunan orang yang memenuhi tangga masuk menuju sebuah gedung. Tangga penuh sesak oleh orang-orang yang memakai seragam sekolah masing-masing dengan rapi, kebanyakan dari mereka memakai kacamata tebal atau tampang kutu buku permanen. Meja administrasi di puncak tangga bekerja dengan kecepatan yang sama dengan seekor siput yang kurang pelumas.

Sasuke tak bisa berhenti menghentakkan kakinya berulang kali tak sabar.

"Sasuke-kun, minumlah kopi ini. Jika itu bisa meredakan emosimu," kata Hinata seraya menawarkan segelas kopi ke pada pemuda itu.

"Aku tidak sedang emosi," sahut Sasuke cepat dengan alis berkerut.

Hinata memutar bola matanya. Ia juga tak mengira bahwa mereka harus menghabiskan pagi yang cerah ini dengan mengantri untuk daftar ulang terakhir sebelum memasuki gedung tempat lomba Sains Nasional dilangsungkan. Ditambah dengan sikap kedua partnernya hari ini yang sama-sama tidak suka dibuat menunggu untuk hal yang bahkan mereka tidak inginkan. Hinata menghela napas sembari menyeruput kopi yag ia beli dalam perjalanan ke mari. Baru saja Hinata memutar tubuhnya untuk membelakangi Sasuke ketika seseorang menubruknya keras karena sedang terburu-buru berlari.

Kopinya tumpah tepat membasahi sebagian seragam di area dadanya, rasa panas menjalar ketika Hinata terkejut dengan air yang tumpah ke arahnya.

"Ah!" seru Hinata yang segera mengusap air warna berwarna keruh itu dari seragamnya.

"Oh, sori!" seru seseorang segera setelah menyadari akibat dari perbuatannya. "Aku sungguh tidak sengaja—" orang itu berhenti berkata, dan ketika Hinata mendongakkan wajahnya untuk bilang kalau bukan masalah ia menyadari bahwa itu adalah orang yang ia kenal.

"Hinata? Hinata Hyuuga?" tanya orang itu terlebih dahulu mengkonfirmasi. Rambut putih platinanya tampak berkilat terkena sinar matahari, matanya yang cemerlang menatap penuh kekaguman atas pertemuan tidak terduga ini.

"Ah," respon Hinata berpikir keras. "Otsutsuki-kun?" tanyanya karena hanya bisa mengingat nama belakang orang itu.

Dia tertawa pelan. "Kau tahu kau dulu memanggilku Toneri. Wow, sudah berapa lama?" tanya orang itu sambil berdiri di depannya, dua orang laki-laki beralmamater merah darah yang sama dengan Toneri berdiri dibelakangnya.

"A-ah, ya. Sudah cukup lama, kukira. Bagaimana kabarmu?" tanya Hinata sekedarnya. Ia tak memiliki pikiran sama sekali bertemu dengan orang itu kembali saat ini.

Toneri mengangkat bahu sembarangan. "Tak pernah lebih baik dari ini. Aku tidak menyangka bertemu denganmu. Apa yang kau lakukan disini—oh, wait. Kau ikut lomba ini?"

Hinata mengangguk pelan. "Toneri-kun juga?"

Toneri tertawa kalem. "Tentu saja. Jadi kau masihlah seorang kutu buku yang cerdas?"

Hinata tersenyum sebagai balasannya. "Begitulah."

Toneri menatapnya penuh dengan tatapan santai, seperti orang yang sedang menikmati pemandangan sebuah lautan yang tenang. Dari dahulu rasanya seperti itu.

"Kalau begitu kau masih seorang kutu buku yang cantik. Tidak. Kau berkali lipat lebih cantik darimu yang dulu," katanya yang langsung direpon Hinata dengan senyum yang timpang.

"Kau Otsutsuki? Otsutsuki yang itu?" tanya sebuah suara berat mendadak muncul dari belakang Hinata mirip bisikan setan, dan Hinata baru menyadari kalau Sasuke lah yang berbicara dengan nada kasar.

Toneri tertawa kecil penuh keterkejutan. "Sasuke Uchiha?"

Sasuke menyunggingkan seringainya. "Well, yeah. Tidak senang melihatku?" tanyanya penuh sarkasme dan Hinata segera memberi peringatan dengan menyenggol bahunya. Sasuke menatapnya marah.

"Oh, sebuah kejutan untukku. Ternyata kalian berdua masih berteman selama ini? Kupikir kalian tak saling bicara lagi saat tahun terakhir SMP?" tanya Toneri begitu santai menyinggung hal intim itu.

Sasuke menatapnya dingin. "Bukan urusanmu."

"Tentu saja," sahutnya sembari tersenyum kemudian menatap Hinata kembali. "Ah, Hinata. Seragamu menjadi basah," ucap Toneri tampak cemas. Lalu dia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari kantong celananya dengan cepat. Hinata baru saja akan meraih sapu tangan itu ketika Toneri malah dengan sukarela membersihkan tumpahan kopi itu dengan tangannya sendiri. Hinata berjengit kaget ketika merasakan tangan orang itu mengusap noda kopi yang sialnya berada di sekitar daerah dada Hinata. Shikamaru berseru memberi peringatan.

Sebuah tangan mencengkeram erat pergelangan tangan Toneri. Sasuke melangkah ke depan dan memutar cengkeramannya pada Toneri dengan keras.

"Aw, aw. Oke, oke. Baiklah," respon Toneri kesakitan saat Sasuke menambah kekuatannya.

Hinata terkejut dengan aksi heroik yang tidak diharapkannya terjadi. Ia segera melepaskan cengkeraman Sasuke yang ternyata sangat kuat. "Sasuke-kun!" seru Hinata memperingatkan dan seperti biasa Sasuke tak menggubrisnya sama sekali. Hinata sama sekali tak habis pikir terjerumus ke dalam situasi seperti ini lagi. Lagi dan lagi. Ia tidak menginginkan Sasuke untuk menjadi seorang yang selalu kasar. Meski hal itu dilakukannya untuk melindungi Hinata sekalipun, selalu ada cara lain yang mungkin lebih baik.

"Cukup!" seru Hinata dan dengan kekuatan penuh ia melempar tangan Sasuke agar melepaskan cengkeramannya.

Sasuke menggeram marah, tapi ia tidak menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Dan detik berikutnya Sasuke mendorong bahu Toneri keras sampai orang itu akan terjatuh dari tangga jika tidak ditahan oleh kedua teman sekolahnya.

"Sasuke-kun!" Hinata berseru.

Sasuke menatap dingin Toneri. "Jangan pernah kau sentuh bahkan sehelai rambutpun dari Hinata atau aku benar-benar akan mematahkan pergelangan tanganmu, you fucking shit." Katanya dengan suara lantang. Beberapa orang menoleh ke arah mereka dan seketika menjadi bahan omongan di mana-mana. Bagaimanapun mereka berada di tempat dimana semua kutu buku seluruh negeri berkumpul. Umpatan kecil bisa berubah menjadi kehebohan dalam sekejap waktu.

Plak!

Hinata melakukannya dengan kesadaran penuh dan ia menyesali tiap detik setelahnya. Ia baru saja menampar pipi Sasuke. Ia hanya bermaksud untuk menyadarkan Sasuke atas perbuatannya yang tak pernah berubah, ia tidak berniat untuk melukainya.

Sasuke mengusap pipinya perlahan, tatapannya sedingin danau yang beku. "Am I even deserve this?"

Hinata menarik napas begitu dalam, menutupi kegugupannya. "Yes, you are."

Atmosfir menjadi semakin berat saat mereka kini benar-benar menjadi pusat perhatian. Shikamaru mengusur Toneri tanpa omong kosong lagi, dia berusaha menenangkan publik sementara Sasuke masih berdebat dengan Hinata.

Sasuke tertawa sinis. "And why is that?"

"Because you're not going anywhere if you keep acting like this, like, forever. All you can do is fighting like a mad animal!" Hinata nyaris membentaknya, ia menggeleng samar.

"Toneri-kun tidak melakukan apapun dan kau sudah hampir mematahkan tangannya. Jika itu terjadi, apa kau pernah berpikir sedikitpun bagaimana masa depannya? Apakah Toneri-kun bisa menulis lagi? Karena dia murid yang pintar kurasa. Apakah kau sama sekali tak pernah berpikir dengan kehidupan orang-orang yang kau pukuli? Mereka tetaplah punya kehidupan, kau tahu. Kau hanya tak ingin tahu itu. Kau tidak pernah peduli. Kau tidak peduli kalau orang yang kau pukuli, meskipun dia berbuat buruk dia tetaplah seorang manusia yang memiliki secuil kebaikan dalam dirinya. Dan kau tidak mau melihat itu."

Mereka terdiam. Pidato Hinata terasa begitu panjang hingga membuat suaranya habis dan merasa haus. Ia hanya benar-benar menginginkan Sasuke untuk berubah, menjadi orang yang lebih baik.

"Kupikir kau keliru," ucap Sasuke pelan.

"Bagian mana?"

"Seluruhnya," Sasuke beranjak mendekati Hinata. "Kau pikir dengan menceramahi seorang pencuri, maka dia tidak akan mengulangi tindakannya? Kau semburkan kotbahmu pada mereka dan mereka tetap akan melakukannya lagi! Aku pukul mereka hingga pingsan dan mereka tidak akan bangkit lagi!"

"Tapi mereka tetaplah manusia sepertimu! Mereka tetaplah memiliki kesempatan lagi!"

"Bullshit!" Sasuke bersikeras.

"Bagaimana tentang harapan?"

"Oh, fuck."

"Setiap orang bisa memiliki harapan—"

"Ya Tuhan."

"Mereka berhak untuk menebus dosanya."

"If you want to keep talking about chirstmast's stuff..."

"Everyone deserves another chance! You can't just take them away with your goddamn fists!"

Hinata menghela napas sesak, hatinya sakit untuk berdebat lagi dengan Sasuke. Mereka tidak bisa berhenti jika Sasuke belum merasa menang. "Kau tidak berhak untuk menghilangkan kesempatan itu dari seseorang."

"Untuk apa? Untuk mencuri lagi? Untuk memperkosa lagi? Kau menginginkan itu?"

"Tidak! Untuk mencoba lagi, Sasuke-kun. Mencoba kembali kehidupan mereka yang layak, jika kau mau memberi mereka kesempatan," suaranya tercekat karena tenggorokannya begitu sakit menahan gejolak untuk menangis. Ia sangat tidak suka berdebat dengan Sasuke. Hinata sudah sangat menikmati kebersamaan mereka akhir-akhir ini, tapi ia ingin hubungan mereka bergerak ke arah yang lebih baik.

Mereka berdua terengah-engah kehabisan napas. Debat kusir barusan sukses menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka yang berbisik-bisik keras. Shikamaru menggeleng-gelengkan kepalanya samar, mencoba menarik mundur Sasuke agar berhenti mendekati Hinata lagi.

"Ada keributan apa di sana?!" seru sebuah suara yang terdengar lewat alat pengeras suara. Seseorang dari meja administrasi di atas sana meneriaki mereka agar menjaga ketenangan. "Harap bertingkah sopan dan tidak membuat keributan!"

Sasuke mengacungkan jari tengahnya kepada orang itu. "Screw you! Kakekku bahkan bisa bekerja lebih cepat dari kalian!"

Gagasan Sasuke yang kasar membuat panitia menjadi marah namun hal itu memang benar. Beberapa murid menggurutu pelan tanda setuju dengan kalimat Sasuke. Kemudian pada akhirnya meja administrasi bekerja lebih cepat lagi dan semuanya kembali normal. Hinata mengusap sedikit air mata yang menggenang di ujung matanya sembari memunggungi Sasuke yang tak mengucapkan sepatah katapun sejak pertengkaran akbar mereka, bahkan sampai mereka memasuki gedung, memulai sesi pertama lomba, mereka tidak saling berkomunikasi kecuali dibantu dengan Shikamaru yang berperan sebagai perantara.

.

Mereka memasuki sebuah aula yang sangat luas dengan jendela yang besar-besar di atasnya, panggung besar berada di ujung paling depan dari ruangan. Panggung masih kosong karena mereka diharuskan duduk berkelompok memenuhi bawah panggung. Putaran pertama begitu mudah. Mereka hanya tinggal mengisi seratus soal pilihan ganda yang bisa mereka selesaikan sebelum alarm berbunyi keras. Hinata membagi soal biologi untuknya, matematika dan kimia untuk Shikamaru, fisika untuk Sasuke. Mereka mengerjakanya dalam diam dan Shikamaru menyelesaikan bagiannya dua kali lebih cepat dari Hinata dan Sasuke.

"Membosankan," kata itulah satu-satunya yang terlontarkan dari mulut Shikamaru sepanjang pagi.

"Shikamaru," Hinata menyenggol bahu orang di sebelahnya. "Tolonglah, setidaknya kita harus berhasil masuk ke final untuk bisa mendapat sertifikat. Lakukanlah yang terbaik."

Shikamaru menghela napas. "Aku sudah selesai Hinata. Kau lah yang harus menyelesaikannya dengan cepat"

"Ah, ya." Jawabnya dengan wajah bersemu merah karena malu. Hinata memiringkan kepalanya untuk berpikir. "Aku hanya lupa apakah itu X atau Y untuk wanita—"

"XX," sahut sebuah suara di sampingnya. Hinata menoleh ke kanan, karena ia berada di antara mereka berdua. Sasuke menjawab pertanyaan tentang kromosom itu tanpa menoleh sedikitpun padanya. Hinata menundukkan wajahnya dalam sembari mengisi lembar jawaban.

Mereka menyelesaikan putaran pertama dengan sangat baik. Mereka berada dalam sepuluh besar tim yang masuk ke babak selanjutnya. Ketika mereka beristirahat sejenak di sudut aula, mengabaikan pekikkan heboh kelompok-kelomppok lain yang berseteru tentang soal barusan, mereka menunggu sembari panitia berlalu-lalang untuk memindahkan meja-meja, Shikamaru mengeluarkan suara lenguhan panjang.

"Astagaaa~" keluhnya ketika melihat Kakashi Hatake berjalan ke arah mereka dengan tangan menggaruk belakang kepala.

"Apa aku terlambat?" tanya orang yang seharusnya mendampingi mereka—meskipun hanya sebagai formalitas, Kakashi datang dengan cara originalnya.

Hinata membungkuk memberi salam.

"Oh, kau belum terlambat kok. Belum terlambat untuk makan siang," sindir Shikamaru memutar bola mata.

Kakashi tertawa kalem dibalik maskernya. "Beruntungnya diriku." Kemudian dia menoleh ke arah Hinata. "Kalian tentu berhasil masuk ke putaran ke dua dengan baik, huh?"

Hinata menggangguk dengan senyum mengembang di wajahnya.

"Lalu kenapa rasanya atmosfir di sini seperti mencekik leherku," desis Kakashi memijat belakang lehernya.

Hinata mencoba mencuri pandang ke arah Sasuke yang masih bersikeras untuk mengabaikan keberadannya. Pemuda itu terus menolak untuk menatap Hinata balik. Hinata menundukkan kepalanya. Perdebatan mereka cukup untuk menjadi pukulan telak atas pencapaian mereka sampai sekarang, seakan hal itu menyeret mundur kembali hubungan mereka yang sudah membaik kembali ke titik nol.

Sepertinya Sasuke benar-benar kehilangan minat bahkan untuk bernapas di dekat Hinata. Rasa bersalah yang hebat memang melandanya, tapi di sisi lain ia sangat menginginkan Sasuke untuk berubah sedikit. Bahkan sampai waktu menadakan untuk memasuki putaran kedua, Sasuke bahkan tak bergeming sedikitpun terhadapnya.

Putaran kedua lumayan berat dan bisa dianggap sebagai tantangan yang pantas. Tiap kelompok acak akan saling berhadapan, diberi soal dan kelompok pertama akan menganalisis soal itu dan tugas kelompok kedua adalah untuk menentang ide kelompok lawan dan begitu seterusnya. Mereka hanya diberikan buku kecil untuk menghitung rumus dan menjelaskannya dengan baik kepada lawan.

Mereka berhasil melewati dua kelompok dengan lancar, meski Hinatalah yang paling banyak bicara mengingat jika ia membiarkan dua rekannya bicara banyak yang pasti akan ada sedikit umpatan terselip nantinya. Masalah muncul ketika mereka dihadapkan dengan kelompok ketiga. Kelompok Toneri duduk berhadapan dengan mereka.

Aura dingin semakin terasa menguar kuat dari tempat Sasuke duduk. Tatapannya mungkin bisa membilah tenggorokan tiap orang di kelompok Toneri. Toneri tampak melonggarkan dasi hitamnya sejenak karena tatapan Sasuke, sebelum akhirnya ia tersenyum ke arah Hinata. Hinata membalas senyumannya dengan cepat sebelum Sasuke menyadarinya.

Sasuke dengan ajaibnya berhasil mematahkan setiap pernyataan dari kelompok Toneri. Bahkan ia melakukannya dengan baik tanpa ada umpatan sedikitpun, meski nada bicaranya seperti orang kerasukan. Hinata hanya mendapat sedikit kesempatan untuk membantah sebuah teori, namun akan segera di habisi oleh Sasuke lagi.

Putaran kedua berakhir dengan keributan kecil yang tak bisa dihindari. Tiap kelompok melirik-lirik kesal dan bergosip tentang kelompok lawan mereka barusan. Tipikal orang pintar yang ambisius. Tujuan Hinata hari ini hanyalah masuk ke final dan mendapat seritifikat, ia tidak begitu peduli tentang menjadi juara satu.

Situasi menjadi lebih tenang ketika panitia mengumumkan jeda makan siang sebentar lagi. Semua orang mulai membentuk barisan yang rapi untuk mengatri di meja panjang berisi makanan yang diletakkan di sudut aula. Aroma harum makanan laut panggang, kentang goreng maupun minuman bersoda memenuhi udara di ruangan ini. Semuanya berkumpul turun memenuhi aula hingga membuat udara sedikit gerah. Hinata ingin membuka almamaternya namun noda kopi masih tampak jelas membekas di seeragamnya. Ia memutuskan untuk ke kamar mandi sebentar untuk membersihkannya. Ia meminta ijin pada Kakashi dan Shikamaru, ia yakin Sasuke juga mendengarnya namun pemuda itu sibuk untuk memasang wajah dingin. Mungkin Sasuke sudah tak peduli lagi dengannya.

Menemukan kamar mandi ternyata cukup sulit untuk bangunan seluas ini. Ia harus berputar-putar dua kali sampai akhirnya menemukan plang bertuliskan rest room. Hinata membuka almamater navy miliknya dan segera membasuhkan air pada seragamnya yang kotor. Meski tak begitu banyak membantu namun air cukup menyamarkan noda kopi itu. Hinata kemudian menatap refleksinya dari cermin di atas wastafel. Ia ingin menangis karena membuat Sasuke marah padanya. Ia lelah karena harus mengikuti lomba dan mendapat masalah karenanya. Namun jika ia menangis itu artinya ia menyesali perbuatannya. Ia tak boleh menyesal. Ia tak boleh menyesal untuk berusaha membuat Suzuran maupun Sasuke menjadi lebih baik.

Hinata melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan almamater masih dibawanya, ia sedang fokus untuk mengusap-usap noda di atas seragamnya ketika tanpa sadar tubuhnya menabrak sesuatu. Hinata mendongak dan terkejut menemukan sosok Toneri berdiri di depannya.

"Ah, Toneri-kun." Sapa Hinata seadanya.

Toneri tersenyum. "Kau tidak makan siang? Aku tak berhasil menemukanmu di aula."

"Aku baru dalam perjalanan ke sana," jawabnya sembari tersenyum.

Toneri menaikkan alisnya ketika matanya turun melihat seragam Hinata yang basah. "Oh, itu salahku bukan?" tanyanya kuatir.

Hinata menggeleng sembari melihat seragamnya sendiri. "Tidak. Bukan masalah—" ia nyaris tersentak ketika menyadari bra miliknya tampak tercetak di bagian dada karena basah. Hinata segera menutupinya dengan cepat. "Bukan masalah," lanjutnya dengan senyum canggung. "Kalau begitu aku permisi dulu," ucapnya cepat ingin segera berlalu.

"Tunggu," ujar Toneri menahan pergelangan tangannya. "Tak perlu terburu-buru, aku ingin bicara denganmu lebih lama lagi."

"Mm, ya. Tapi—" Hinata berjengit ketika Toneri mencengkeram tangannya lebih keras. Dan ia bersumpah melihat orang itu tersenyum agak menakutkan ketika menariknya lebih dekat.

Jantungnya berdebar kencang karena takut. Astaga, ia akan jauh lebih senang untuk berkelahi dengan laki-laki ketimbang terjebak dalam situasi semacam ini. Trauma akan perbuatan Yhaiko menajalari tiap sel tubuhnya saat ini, sampai membuat darah Hinata mengalir lebih cepat.

"T-toneri-kun." Sial. Berhenti bergetar. Atau orang itu akan tahu kalau Hinata sedang takut.

Namapaknya Toneri menanggapi itu dengan baik, dia menarik Hinata lebih dekat lagi kemudian mendorongnya ke tembok di samping mereka. Almamaternya terlepas dari tangannya dan terjatuh. Punggungnya terbentur cukup keras dan Hinata terkejut mengetahui kalau Toneri memiliki kekuatan yang besar dibalik wajahnya yang polos.

Demi Tuhan, kenapa lorong ini begitu sepi. Tak ada seorangpun yang lewat, dan benar memang ini waktunya semua orang berkumpul untuk makan. Tapi, astaga, apa mereka bahkan tidak ingin kencing?

"Apa yang kau lakukan?" tanya Hinata berusaha terdengar tegas.

Tubuh Toneri semakin bergerak maju menghimpitnya. "Aku hanya ingin bicara denganmu. Kenapa kau selalu susah sekali didapatkan?"

Hinata mengerahkan tenaganya untuk melepaskan tangannya dari cengeraman Toneri, dan itu berhasil. Hinata baru akan mendorong orang itu menjauh saat Toneri mendesaknya terlebih dahulu. Dada orang itu menekan milik Hinata, hingga membuat Hinata terkejut setengah mati. Toneri tampak tersenyum dan berbisik di telinga Hinata. "Aku sangat terkejut melihatmu pagi ini karena kau makin cantik. Kau sungguh cantik, Hinata."

Telinganya terasa panas dan ia takut, Hinata akhirnya mengerakan seluruh tenaganya untuk menyikut dahu Toneri dengan keras. Orang itu nyaris terpental menjauh.

"Kau—!"

Dug!

Toneri tersungkur ketika seseorang memukul wajahnya dengan kekuatan yang tak main-main. Mata Hinata melebar saat melihat Sasuke muncul tanpa memberi tanda. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis saat menatap ke bawah, melihat Toneri. "Bajingan." Katanya dengan nada merendahkan.

Toneri berusaha bangkit dengan susah payah, pipinya memerah karena lecet. "Kau Uchiha sialan—akh!" dia nyaris menjerit ketika Sasuke menginjak tangannya di lantai.

"Sasuke-kun!" seru Hinata.

Sasuke tak menggubrisnya, yang ada dia malah memutar-mutarkan kakinya di atas tangan Toneri. "Enyah dari pandanganku sekarang juga jika ingin jarimu masih lurus."

Wajah Toneri berubah pucat mendengarnya, meski dia berusaha keras untuk menutupinya. Namun dia tahu kalau Sasuke bukanlah orang sembarangan. Setelah menggeram cukup lama, dan Sasuke sangat tidak suka dibuat menunggu dia menginjak tangan Toneri lebih keras lagi. Akhirnya Toneri melakukan keputusan cerdas dengan mengalah dan bangkit untuk pergi.

Lorong berubah menjaadi sepi mendadak setelah Toneri pergi sambil menggerutu pelan. Hinata bisa bernapas dengan normal sekarang, entahlah, Sasuke selalu bisa menjadi orang yang membuatnya tenang maupun gugup olehnya dalam satu waktu. Ia begitu merasa aman, sekaligus gelisah karena telah salah menilai Toneri, dan Sasuke benar.

Sasuke berballik ke arahnya, matanya menatap mata Hinata lurus. "Bukankah aku pernah mengatakan, kalau pada dasarnya setiap manusia memiliki sisi gelap. Mereka hanya tinggal memilih untuk melakukannya atau tidak." Sasuke melangkahkan kakinya mendekati Hinata, tangannya terjulur untuk meraih wajah Hinata dan mengusap air mata yang membasahi pipi Hinata. "Toneri adalah satu contoh kecil dari sekian banyak orang. Kadang bersikap waspada sangat diperlukan, Hinata. Aku... hanya tidak ingin kau terluka."

Air mata berkumpul menghalangi penglihatannya. Pembelaan sama sekali tak keluar dari mulutnya saat ini karena ia tahu Sasuke memang benar berdasarkan logika. Ia selalu tahu. Hanya saja...

Hinata menerjang tubuh Sasuke, dan memeluk dada pemuda itu dengan erat. Hinata melingkarkan kedua lengannya sampai ke punggung Sasuke. "Maafkan aku," akhirnya Hinata mengatakan hal itu. Ia hanya begitu menyukai pemuda yang ada dalam pelukan kecilnya itu. "Aku tidak memikirkan diriku sendiri. Kuakui aku egois, karena sebenarnya... aku hanya memikirkan tentang membuatmu menjadi orang yang baik."

Air matanya masih mengalir ketika menyembunyikan wajahnya di dada Sasuke. Ketakutan akan disentuh oleh lelaki seakan menghilang tersapu angin jika ia berada di dekat Sasuke.

Sasuke merengkuh tubuh Hinata ke dalam pelukan balasan yang begitu kuat. Jari-jari tangan Sasuke menyusup ke dalam rambut Hinata ketika pemuda itu mencium bagian samping kepalanya. Hinata bisa merasakan panas dari wajah Sasuke mengenai telinganya.

Entah sihir apa yang digunakan oleh Sasuke, Hinata selalu sukses dibuatnya merasa begitu nyaman berada di dalam dekapan pemuda itu. Rasnaya ia tak keberatan untuk tinggal di dalam pelukan Sasuke bahkan untuk semalam suntuk. Hinata mendongakkan wajahnya untuk menatap Sasuke, dan dia pun balas menatap mata Hinata lekat. Tangannya yang besar bergerak ke wajah Hinata untuk mengusap pipi Hinata yang basah.

"Kau tak perlu berusaha untuk mengubahku menjadi orang yang baik," katanya pelan. "Aku bisa berubah menjadi orang yang sangat baik jika kau benar-benar menyuruhku untuk melakukannya. Tapi..." kalimatnya terputus dan dilanjutkan dengan mengubah kilatan di matanya menjadi agak sedih atau meyesal, entahlah.

"Aku selalu merasa kau terlalu baik untukku," ujar Sasuke kemudian dengan perlahan melonggarkan dekapan tangannya. Dia menjauhkan Hinata dan hanya menyisakan kedua tangannya yang meremas bahu Hinata. Matanya sengaja menghindari tatapan Hinata. "Sepertinya...aku akan berpikir sejenak. Berpikir ulang tentang semua ini. Tentang kau dan aku dan masalah kita."

Mata Hinata melebar mendengarnya, baru saja tangannya ingin menyentuh tangan Sasuke yang berada di bahunya ketika Sasuke melepas kedua tangannya dan membalikkan badan. Dia menoleh pada Hinata sekilas. "Kita lolos ke babak final. Kurasa aku akan berhenti sampai di sini dan aku yakin Shikamaru sudah cukup untuk membantumu nanti."


Ia berjalan melewati trotoar yang agak sepi. Langit sudah berubah menjadi orange dengan sedikit warna ungu, lampu jalan sudah ada yang dihidupkan ketika Sasuke berjalan melewatinya. Ia berjalan lambat melewati etalase-etalase kaca di setiap toko yang menawarkan berbagai macam barang. Tapi Sasuke merasa benda adi tangannya sudah sangat cukup. Sebuah buket bunga putih berada di genggamannya. Sasuke menghela napas panjang, kemudian mendongak menatap bukit kecil tak jauh di depannya, matahari memancarkan sisa cahanyanya dari ujung langit.

Ia sudah berjalan cukup jauh ketika menyadari pertokoan menjadi hanya tinggal beberapa. Trotoar berubah menjadi jalan beraspal yang menanjak menaiki bukit yang berkelok. Ia sudah memasuki kompleks pemakaman.

Lampu jalan menerangi setiap langkahnya menaiki bukit yang ditumbuhi sedikit pohon, langit berubah menjadi ungu dengan cepat sebelum nantinya kegelapan akan ada di atas sana. Hawa dingin mulai menyelimuti udara seiring dengan semakin menanjak jalan. Ia tidak takut untuk berada di makan pada malam hari. Tidak. Ketakutan terbesarnya saat ini adalah dririnya sendiri.

Ia begitu egois dan ditunjukkannya dengan sangat baik pagi ini, ketika Toneri sialan itu muncul dan menyentuh Hinata. Ia tak pernah memikirkan kemungkinan, jika Hinata membela Toneri karena ia memikirkan masa depan Sasuke. Ia merasa malu mengetahui bahwa ia bersikap seolah seperti pahlawan di hadapan Hinata, namun ternyata Hinatalah yang bisa berpikir dewasa di sini.

Maka ia memutuskan untuk pergi untuk memulai kembali. Ia sadar ia sudah begitu terikat dengan Hinata, dan ia tak ingin melepaskannya. Maka yang harus Sasuke lakukan adalah melepaskan egonya. Menghilangkan seluruh perasaan bencinya pada Hinata dahulu.

Maka di sinilah Sasuke berada. Beberapa meter di depan, ia sudah bisa melihat makam Itachi karena makam kakaknya sangatlah besar. Ia ingin melepaskan Itachi, serta semua perasaan marah, egois serta dendam yang ada dalam dirinya. Ia ingin memulai kehidupan normal yang dahulu ia punya. Barulah saat hal itu tiba, ia akan bisa melangkah kepada Hinata dengan kepala tegak.

Kakinya menginjak rumput yang basah oleh embun, dinginnya malam hari membuat tanah menjadi lembab. Suara gemuruh terdangar di atas sana, dan ketika Sasuke mendongak, langit gelap tanpa bintang balas menatapnya. Sebentar lagi akan hujan.

Sasuke sudah hampir mencapai makam kakaknya, ketika ia menyadari sesosok orang berdiri diam dibawah sinar cahaya lampu yang ada di dekat makam. Siluetnya tak begitu jelas, hingga membuat Sasuke untuk bergerak lebih mendekat. Orang itu memiliki tubuh yang jangkung, setelan jas abu-abunya menambah kesan suram yang ada pada dirinya.

Sasuke berdiri di dekatnya, dan matanya melebar menyadari siapa orang itu.

"Shisui-nii?"

Orang yang namanya terpanggil sontak menoleh dan reaksinya luar biasa. Shisui terperanjat sampai nyaris terjungkal karena kaget. Wajahnya masih sama. Orang itu adalah keluarga Uchiha yang paling tampan dan matanya sama indahnya dengan yang terkahir Sasuke ingat. Tubuhnya meninggi dengan hebat, garis wajahnyapun tampak lebih tegas dan meski masih muda tapi Sasuke bisa melihat mata lelah serta sedikit keriput di sekitar kening orang itu. Serta kelihatan sudah beberapa minggu orang itu tidak mencukur janggut tipisnya. Matanya yang tajam terbelalak menatap Sasuke seakan melihat hantu.

Sasuke malah lebih ke syok berat. Ia tak memiliki ekspektasi secuilpun untuk menemukan Shisui Uchiha di waktu dan tempat ini. Sudah bertahun-tahun sejak ia terkahir kali mellihat sahabat kakaknya itu. Sejak pemakaman Itachi, Shisui tak pernah muncul batang hidungnya dan Sasuke tak terlalu peduli saat itu.

Entah kenapa Shisui berlagak seperti orang yang ingin kabur sesegera mungkin.

"Sasuke..." ucapnya dengan suara berat yang lemah seakan orang itu tak mengharapkan sama sekali pertemuan petang ini.

Sasuke menaikkan alisnya heran. "Shisui-nii, apa yang kau lakukan di sini—tidak. Kemana saja kau selama ini?"

Shisui tak menyahut. Orang itu hanya menundukkan kepalanya seakan ada dosa besar yang sedang membebani kepalanya hingga tampak selalu tertunduk. Shisui butuh beberapa menit untuk bergulat dengan pikirannya sendiri. Kemudian orang itu mendongakkan kepalanya, ekspresi sedih luar baisa terpancar dari wajahnya. Dia menelan ludah, kemudian tersenyum seakan menjadi orang yang menunggu giliran eksekusi matinya.

"Kurasa ini saatnya kita bicara."

.

Gemuruh suara hujan yang mengghantam permukaan jalan terdengar sampai di balik kaca kafe ini. Sasuke duduk berhadapan dengan Shisui di sebuah meja kecil dan di dalam kafe yang sepi. Hanya ada satu oran kakek-kakek di meja samping mereka, dan dua orang perempuan pekerja kantoran di sudut ruangan.

Air hujan membasahi jendela di samping kiri mereka, membentuk aliran-aliran kecil air di kaca. Uap panas mengepul dari dalam gelas berisi kopi yang masih panas di hadapannya.

Shisui masih tampak pucat, sehingga Sasuke memutuskan untuk membuka mulut lebih dahulu.

"Jadi..." Shisui mendongak terkejut. Sasuke mengerutkan alisnya heran lalu melanjutkan. "Bagaimana kabarmu?"

Shisui menatapnya dengan senyum agak dipaksakan. "Lumayan. Bagaimana denganmu? Kau kelas berapa sekarang?"

"Tahun ini akan lulus SMA," sahutnya singkat.

"Bagaimana kabar... ayahmu? Kudengar beliau punya penyakit hati. " tanya Shisui lambat-lambat.

"Dia sudah melewati masa krits. Sekarang bahkan sudah mulai bekerja lagi."

Shisui tersenyum tipis. "Fugaku-sama masih memakai dasi merah kotak-kotak kuno itu?"

Sasuke memiringkan kepalanya. "Dasi?"

"Kau tahu, hadiah dari Itachi saat dia menerima gaji pertamanya. Kau juga ikut menyumbangkan beberapa receh saat itu."

Kemudian Sasuke ingat kalau Fugaku selalu bekerja menggunakan dari itu untuk kesehariannya, kecuali ketika akan konferensi. Sasuke tidak tahu kalau dari merah lusuh itu adalah hadiah dari Itachi dan dirinya, karena dahulu Itachilah yang memilih tanpa Sasuke tahu wujudnya. Mendadak rasa bersalah mennghantamnya lagi.

"Kau bekerja?" tanya Sasuke mengalihkan topik.

Hening kembali, Shisui tampak melonggarkan dasi hitamnya, lalu tersenyum kaku. "Ya. Aku kerja di sebuah perusahaan cabang sebagai manajer. Gajinya lumayan."

Sasuke mengerutkan alisnya. Menjadi seorang pekerja biasa—meskipun dia menajer, tetaplah bukan style Uchiha jika bukan penjadi pemimpin perusahaan. Ditambah lagi, apa-apaann dengan gaji lumayan itu? Sungguh tidak ada di dalam kamus Uchiha.

"Kerja di Tokyo?" tanya Sasuke tertarik.

Shisui menggeleng. "Aku ada di Kyoto selama ini. Aku bekerja di perusahaan..." dia menarik napas. "Di perusahaan milik Hyuuga."

Kini Sasuke benar-benar penasaran apa yang selama ini dilakukan Shisui. "Hyuuga?" ulangnya.

"Ya. Hyuuga. Milik Hiashi Hyuuga." Shisui kemudiian menatap Sasuke dengan intens. "Kau masih menyalahkan Hinata... atas kematian Itachi?"

Sasuke terdiam. "Bukan urusanmu." Tipikal Uchiha.

Shisui tersenyum kecut. "Sasuke," Shisui memanggil namanya dengan berat. "Hinata bukanlah orang yang jahat."

Sasuke agak bingung dengan perubahan topik dadakan ini. "Ya. Hinata memang bukanlah orang yang jahat. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dia yang membuat Itachi mati..."

"Sasuke," Shisui memanggil namanya, terdapat penyesalan yang amat hebat di dalam nadanya. Shisui menatapnya dengan mata yang basah. Dia menghela napas begitu panjang sebelum akhirnya berkata. "Itu aku."

Sasuke menggaruk dahinya. "Kau kenapa?"

"Itu adalah aku," mata Shisui benar-benar basah oleh air mata. "Akulah yang membuat Itachi mati."

Kalimat itu seakan menggantung di udara, membuat Sasuke merasa sesak karenanya.

"Tolong bicara yang jelas," pintanya.

Shisui menundukkan kepalanya. "Aku... hanya tidak ingin melihatmu terus-terusan membenci Hinata. Gadis itu sungguh baik. Hinata membantuku mencari pekerjaan setelah aku meninggalkan Uchiha." Shisui memejamkan matanya frustasi.

"Hinata memang gadis yang baik. Kurasa karena itu Itachi begitu mencintanya," kata Sasuke nyaris berbisik.

Shisui menggeleng pelan. "Bukan. Bukan Hinata," katanya kemudian menatap Sasuke penuh penyesalan. "Tapi aku."

Apa—

"Aku adalah orang yang dicintai Itachi. Begitupun aku mencintainya."

Tubuh Sasuke menegang, otot-ototnya mendadak menjadi kaku dan darah mengalir begitu kencang di seluruh tubuhnya. Ia tak bisa mencegah rahangnya turun ternganga.

"Hell no." Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Shisui mengalihkan pandangannya lagi. "Karena itulah Itachi mati."

"Hentikan omong kosongmu," kata Sasuke bersikeras. "Aku bisa melihat dengan jelas kalau Itachi menyukai Hinata. Pernahkah kau lihat Itachi bersikap begitu menyenangkan terhadap seorang gadis—"

"Itachi memang sangat menyanyangi Hinata. Tapi sebagai adik, seperti dia menyanyaimu. Tak ada gadis lain yang begitu membuat Itachi nyaman. Karena Itachi memang tak pernah tertarik dengan seorang wanita."

Sasuke bahkan tak bisa lagi bersuara. "Lalu apa penjelasan masuk akal tentang hal yang kulihat malam itu, ketika Itachi mati."

Shisui menggelengkan kepalanya samar. "Malam itu hujan deras. Itachi tahu rencana Fugaku untuk menjodohkannya dengan Hinata. Fugaku sangat menyukai Hinata dan Itachi butuh segera menikah demi kelangsungan perusahaan Uchiha saat itu. Aku bersama mereka di ruang keluarga saat itu—"

"Aku tidak melihatmu."

Shisui agak terkejut, kemudian mengerti bahwa Sasuke pernah mengintip pembicaraan mereka.

"Yeah. Aku sudah pergi saat itu karena ayahmu murka. Itachi membawa Hinata malam itu untuk memperjelas kalau dia tidak bisa menikahi Hinata. Dia bilang bahwa dia... mencintaiku. Kami sudah bersama sejak lama, Sasuke. Kami belajar menjadi pemimpin perusahaan bersama. Dia selalu bersamaku..."

Jeda agak lama karena Shisui tampak benar-benar akan menangis.

"Itachi hanya... mengikuti apa yang hatinya bilang. Tapi ayahmu tidak bisa menerima—tentu saja, itu normal. Fugaku marah besar hingga murka. Beliau tidak bisa mendengar penjelasan Itachi lalu mengusirku keluar. Tapi aku masih bisa mendengar tiap teriakan yang ada. Hinatapun kaget bukan main. Tapi gadis itu memang hebat. Dia bisa berpikir untuk menanggung semuanya, bahwa dia yang mencampakkan Itachi. Sehingga semua orang kala itu menyalahkan Hinata."

"Sesungguhnya Itachipun menjadi frsutasi. Dia memintaku untuk pergi meninggalkan semua kehidupan Uchiha ini bersamanya. Maka malam itupun kami berdua pergi dengan mengendarai mobil. Tapi Fugaku tahu dan menyuruh semua bawahannya untuk menyeret Itachi pulang."

Shisui tampak begitu tertekan, dia meremas sebagian rambutnya. "Semuanya tidak begitu jelas karena gelap, Itachi terlalu terburu-buru menyetir. Aksi kejar-kejaran itu. Benturan itu. Kemudian yang aku tahu adalah mobil kami sudah ringsek dan darah ada di mana-mana—"

Shisui nyaris terisak, tapi dia menahannya. "Maafkan aku, Sasuke."

Sasuke tak bergeming sedikitpun, ia hanya berkonsentrasi untuk mengatur napasnya agar tidak sesak. Tubuhnya bergetar. Informasi ini menghantam kepalanya begitu keras, hingga membuatnya merasa pening. Tidak mungkin. Mana bisa. Fucking no.

"Apa..." Sasuke membuka mulut. "Apa kau mau bilang kalau kakakku menyukai laki-laki?"

Shisui memejamkan matanya erat tanpa menjawab.

"JAWAB AKU, BRENGSEK!" Sasuke nyaris berdiri.

"Maafkan aku! Aku bersumpah, maafkan aku!" Shisui pun terisak.

Sasuke terduduk lemas, ia merasa sebagian nyawanya menghilang entah kemana. Fakta ini begitu membingungkannya. Begitu menjadi pukulan telak baginya.

Keheningan hebat melanda mereka. suara air hujan yang masih deras serta angin kencang terdengar begitu keras di luar sana.

Cukup lama bagi mereka berdua untuk menenangkan diri. Setelah hampir setengah jam tak ada suara yang keluar, akhirnya Sasuke menatap Shisui.

"Kau... mencintai kakakku?"

Shisui mengangguk samar.

Sasuke menghela napas sesak. "Terimakasih."

Shisui mendongak agak terkejut.

Sasuke memandang parkiran diluar sana yang masih disiram oleh air hujan. "Kau memang sinting. Begitu juga Itachi. Kalian berdua bajingan gila." Sasuke mengerling Shisui. "Tapi terimakasih karena mencintai kakakku. Kupikir selama ini Itachi tidak pernah mengalami rasanya dicintai dan mencitai karena hanya sibuk menjadi penerus perusahaan. Kau... membuat kakakku benar-benar hidup."

Shisui terisak kembali dengan pelan.

Sasuke membuang napas panjang. "Kupikir tak ada lagi yang ingin kudengar darimu."

Shisui tersenyum tipis. "Ya. Kau benar. Kurasa semua ini sudah berakhir."

"Pergilah," kata Sasuke datar. Ia hanya merasa kosong.

Shisui bangkit dari bangkunya, kemudian tersenyum sekilas pada Sasuke. "Kau juga harus mendapatkan kehidupan yang kau inginkan Sasuke. Kau pantas untuk merasa dicintai dan mencintai," katanya sambil meremas bahu Sasuke.

"Is that true?" tanya Sasuke entah pada siapa.

"Believe it."

"Lalu kenapa Hinata tak bicara apapun tentang hal itu. Dia... membuatku membencinya begitu lama."

"Kebenaran ada harganya, Sasuke."

.

Sasuke duduk sendirian sekarang. Dunia seakan menjadi begitu sunyi. Sasuke memesan berbotol-botol bir, kemudian ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dan memencet nomor di sana.

Menunggu sebentar, kemudian terdengar sebuah suara di seberang sana. Suara latar belakangnya agak ramai, suasana kantoran. "Hm? Ada apa?" suara berat Fugaku.

Sasuke terdiam agak lama. Ia ingin marah, ia ingin mengutuk tindakan Fugaku dengan mengirimkan anak buahnya untuk mengejar Itachi malam itu. Ia ingin berteriak frustasi pada ayahnya karena kebodohannya selama ini. Tapi...

"Apa ayah sekarang memakai dasi merah kotak-kotak lusuh itu?" kalimat itu meluncur begitu saja.

"Hmm, ya. Bagaimana kau tahu?"

Sasuke memainkan lidahnya di dalam mulut, mencoba menahan gejolak untuk menangis.

"Baguslah kalau begitu," kata Sasuke.

"Kau tidak meneleponku untuk menanyakan dasi saja bukan?"

Sasuke tertawa miris dengan pelan. "Hm. Aku hanya ingin bilang... kau tak perlu lagi menutupi apapun dariku."

"..."

"Mari kita jujur satu sama lain mulai sekarang. Aku tidak ingin menjadi seperti Itachi."

Tak ada jawaban dan Sasuke tahu kalau Fugaku mengerti apa dan arah pembicaraan ini. Semua sudah jelas sekarang.

"Baiklah..." jeda sebentar. "Maafkan aku, Sasuke. Dan terimakasih."

"Aku juga..."


Hujan deras mengguyur atap rumahnya tanpa henti. Hinata bahkan bisa mendengar suara angin menabrak roboh beberapa ranting pohon dan menghantam jendela rumahnya. Lampu masih menyala adalah hal yang sangat disyukurinya ketika hujan lebat. Hinata meringkuk di sofa dengan TV masih menyala pada jam hampir tengah malam ini. Ia tak bisa tidur.

Ia tak bisa berhenti memikirkan lomba hari ini. Ia benar-benar mempercayai namanya keberuntungan dan keajaiban hari ini, ketika Suzuran berhasil menjadi juara kedua dalam lomba nasional! Tidak bisa dipercaya!

Hari ini akan mejadi hari paling mebahagiakan di hidup Hinata kalau saja tak ada kejadian Toneri siang tadi. Bahkan Sasuke menjadi marah padanya.

Ia tak bisa menyingirkan bayangan Sasuke sepanjang malam. Ia sangat ingin menemui Sasuke dan meluruskan semuanya. Ia ingin bertengkar dengannya lagi, ia ingin berada di dalam pelukan pemuda itu lagi.

Hinata mendekap bantal sofa erat-erat.

Suara gedoran di pintu mengangetkannya sampai terjatuh dari sofa. Hinta mengira akan ada badai jika saja suara gedoran itu terdengar begitu nyata dan teratur.

"Tunggu sebentar!" Hinata berlari kecil menuju ruang depan seiring dengan gedoran pintu yang terdengar semakin tak sabar.

"Siapa—aakh!"

Tubuhnya terdorang ke belakang sampai punggungnya membentur tembok. Seseorang menerjangnya dengan cepat.

"S-sasuke-kun?!"

Sasuke datang dengan basah kuyup karena kehujanan. Air menetes deras dari seragamnya.

"Sasuke-kun?" tanya Hinata mencoba melepaskan diriya daari cengkeraman kedua tangan Sasuke di bahunya. "Maafkan aku! Aku tahu kau masih marah padaku—"

"Kenapa..." suara Sasuke terdengar bergetar. Hinata mengernyit ketika mencium bau alkohol ketika Sasuke berbisik di depan wajahnya. "Kenapa kau berbohong habis-habisan padaku?"

"S-sasuke-kun?"

"Kenapa kau tidak bicara dari awal kalau itu adalah Shisui! Kenapa kau membiarkan aku mebencimu setengah mati? Kenapa kau bahkan mau membela mereka berdua?!"

Hinata terdesak lebih keras ke tembok. Matanya membulat. Sasuke sudah tahu. Sasuke mengetahuinya.

"Kau ini bicara apa—"

"Shisui memberitahuku!"

Hinata terbelalak mendengarnya. Jadi... Sasuke kini benar-benar mengetahui semuanya.

Hinata menundukkan kepalanya. "M-maafkan aku," rasa sakit mencengkeram dadanya mengingat Itachi. Mengingat masa lalu mereka semua dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Air mata meluncur begitu saja tanpa bisa Hinata kontrol. Kini semua sudah jelas.

"Katakan Hinata..." Sasuke berbisik pelan, ia mengangkat dagu Hinata agar menatapnya. "Sampai kapan kau berencana untuk menutupi ini dariku?"

Hinata meneteskan satu dua air mata lagi. "A-aku tidak pernah berencana untuk mengatakannya padamu."

Sasuke memejamkan matanya penuh tekanan. "Kenapa?"

"Karena aku selalu menyayangimu—tidak. K-karena aku mencintaimu..."

Detik itu juga, Hinata sadar akan segalanya sekarang. Akan kehidupannya saat ini dan perasaannya yang sebenarnya. Mengapa ia begitu rela menerima kebencian Sasuke selama ini, karena ia tidak ingin Sasuke terluka.

Mata gelap Sasuke menatapnya terbelalak. Kemudian Sasuke mengusap pipi Hinata yang basah.

"Maafkan aku, Hinata."

Hinata menangis lebih banyak lagi. Sasuke mencium pipi Hinata dan bibirnya bergerak menyapu lelehan air mata Hinata. Wajah Hinata memerah padam. Bibirnya mencium salah satu kelopak mata Hinata. Sasuke menjauhkan wajahnya sebentar, lalu dengan gerakan begitu cepat, bibirnya mencapai bibir Hinata.

Begitu kuat, begitu menuntut. Sasuke menggeram di dalam mulut Hinata, menginginkan lebih. Lalu Hinata membuka mulutnya tanpa ia sadari, membiarkan lidah Sasuke menerobos pertahanannya. Sasuke menciumnya begitu bersemangat, seakan melampiaskan semua yang telah dia tahan. Dan Hinata terkejut menemukan dirinya menyambut menerima Sasuke.

Lidah mereka saling berdecapan, menuntun Hinata mengimbangi permainannya yang begitu cepat. Napas mereka saling berbenturan dengan panas. Hinata nyaris kehabisan napas karena bibir Sasuke tak henti-hentinya menekan miliknya. Sasuke menyedot bibir Hinata, membiarkan lelehan saliva mereka mengalir melewati dagu Hinata yang kini terengah-engah dengan wajah merona.

"Kalau begitu aku juga tidak punya alasan untuk menahan diri lagi, Hinata—!"

TBC

Dikarenakan saya mau UTS sebentar lagi...

Selamat menunggu *wink ;)