Jungkook tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari milik Taehyung selama berjalan kaki menyusuri jalanan ditiap malam minggunya. Pria berambut kelam itu akan menggenggamnya begitu erat, seolah tak ingin Taehyung lepas darinya, sebab ia takut pria manis itu bisa saja tiba-tiba hilang dari sisinya. Ia akan dengan senang hati mengusap dengan ibu jarinya sendiri, begitu lembut, pada ibu jari Taehyung yang bertindihan dengan miliknya, lalu semakin mengeratkan genggamannya disaat yang sama. Jungkook sangat menyukai kehangatan yang terhantarkan lewat dari genggaman keduanya, sebab hatinya akan turut menghangat dan kenyamanan yang tak terkira merambat perlahan memeluk tubuhnya yang menggigil butuh hangat cinta Taehyung menyelimutinya.

Tiap malam minggu, Jungkook dan Taehyung pasti begini, menghabiskan akhir pekan dengan berjalan santai menyusuri trotoar, sekedar mengamati kendaraan yang lewat, menyaksikan televisi raksasa di atap sebuah gedung dengan antusias, menikmati pertunjukan pengamen jalanan untuk memberinya beberapa lembar won begitu pertunjukan telah selesai, mampir ke warung mochi karena paksaan Taehyung, menjajal bazaar buku yang obral habis-habisan, singgah di beberapa spot penjual makanan, dan perjalanan mereka akan berakhir di tepi sungai Han untuk sekedar beristirahat.

Tiap malam minggu, setelah puas berjalan kaki menyusuri trotoar dan spot-spot penjual makanan, Jungkook pasti akan mengajak Taehyung menuju sungai Han sebagai tujuan akhir mereka. Disana mereka duduk berdempetan, saling berbagi kehangatan dengan Jungkook yang merangkul tubuh Taehyung dan menumpukan kepalanya di atas kepala Taehyung yang bersandar pada bahunya. Obrolan ringan akan selalu mengisi satu sama lain saat mereka berduaan begini. Taehyung akan menyuapi Jungkook dengan tempura yang dibelinya disela pembicaraan santai mereka, pria cantik itu juga akan mengusap bibir Jungkook yang belepotan terkena saus sebelum kembali mengunyah tempuranya sendiri dengan masih dalam pelukan Jungkook yang hangat.

Tiap malam minggu pasti seperti ini. Jungkook tak pernah menghiraukan hiruk-pikuk pengunjung lain yang asyik dengan kegiatan mereka. Jungkook tak pernah peduli dengan suasana ramai sungai Han, karena yang lebih penting dari segalanya adalah kehadiran Taehyung yang memeluk balik tubuhnya dengan erat. Duduk berdua di bawah gemerlapan bintang. Seakan dunia benar-benar milik berdua, dan Jungkook berharap waktu berhenti hingga selamanya.

Jungkook sangat suka dengan kedekatan ini, sebab ia akan lebih mudah untuk menyaksikan keindahan Taehyung yang memikat. Mengusap rambutnya yang halus dan menguarkan wangi melon yang manis, benar-benar kesukaannya. Mengecup lama dahinya dan membisikkan kalimat cinta serta pujian-pujian padanya, kemudian menggoda Taehyung hingga belahan jiwanya itu menggerung imut dengan pipi merona hebat. Apabila Taehyung mencubit main-main pinggang Jungkook yang kesat karena malu setengah mati, maka Jungkook akan terbahak lepas sembari membalas dengan gelitikan di pinggang ramping Taehyung hingga keduanya mendapat tatapan heran dari pengunjung di sekitarnya. Begitu tawa mereka selesai, maka Jungkook akan menggombal lagi untuk keseribu kalinya, dan detik kemudian dengan tiba-tiba Taehyung menarik kepalanya, dan mengecup bibirnya dengan sayang.

Tiap malam minggu pastilah seperti ini, pasti ada ciuman diantara keduanya. Entah Taehyung atau Jungkook yang memulai duluan, ciuman mereka pasti akan berangsur menuntut dan menggairahkan. Tanpa peduli keduanya tengah berada di tempat terbuka, Jungkook pasti akan menarik perlahan punggung Taehyung agar melekat dengan tubuhnya, kemudian menekan tak sabaran tengkuk pria manis itu, dan menerima dengan suka cita lumatan-lumatan basah yang lembut dari bibir dinginnya yang bergetar karena bahagia yang membuncah. Keduanya pasti berbagi rasa manis, berbagi kehangatan, serta meniupkan hembus nafas panas yang menerpa wajah satu sama lain.

Tiap malam minggu pastilah seperti ini, pasti semua berakhir dengan wajah yang memerah dengan mata sayu juga bibir yang merekah bengkak begitu mereka menarik diri. Biasanya Jungkook akan menikmati wajah sayu Taehyung yang kembali mengikis jarak untuk memberi satu atau dua bahkan tiga kali lumatan singkat tepat di bibirnya. Jungkook tahu, Taehyung selalu begini. Begitu manja jika sudah dicium olehnya, seakan tidak pernah mau berakhir dan malah menciumnya lagi, lagi, dan lagi. Jungkook akan terkekeh apabila Taehyung kembali menarik tengkuknya, dan yang dilakukan selanjutnya adalah memeluk Taehyung dengan erat, dan menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Taehyung yang harum. Menyamankan diri dengan aroma rumah yang menguar dari sana, hingga tanpa sadar rasa kantuk mulai menguasai dirinya.

Sungguh, tiap malam minggu akan jadi seperti ini, terasa indah, penuh cinta, penuh kehangatan, dan terasa begitu menyenangkan bagi Jungkook.

Segalanya tak akan sebanding dengan sosok Kim Taehyung yang begitu berarti mengalahkan dunia dengan seisinya. Karena bagi Jungkook, Taehyung adalah separuh nafasnya, separuh jiwanya, dan separuh hidupnya.

Dan apabila kehadiran Taehyung tak ada lagi di sisinya, maka Jungkook tak lain dan tak bukan hanyalah lelaki yang sekarat; sebab ia kehilangan separuh nafasnya, separuh jiwanya, dan separuh hidupnya.

Lantas,

Bagaimana jika Jungkook tak dapat menarik kembali Taehyung ke dalam pelukannya? Tak berhasil mengembalikan Taehyung untuk berdiri patuh disisinya? Dan tak mampu membuat Taehyung kembali menggenggam erat tangannya?

Maka jawabannya hanya satu:

Mati,

pilihan terbaik untuk mengakhiri rasa sakitnya.

...

...

Benar,

Jeon Jungkook kini tengah sekarat, dan mempersiapkan diri untuk kematiannya yang semakin dekat.

...

...

Karena tiada alasan bagi Jungkook untuk tetap hidup apabila Jeon Taehyung tak lagi ada disisinya.

...

...

...

WHEN YOU INSIDE ME, Ch 12

| By Sasayan-chan |

Rated: M

KookV | HopeV | KookMin | YoonMin

...

...

...

HAPPY READING!

...

...

(Apa sebaiknya aku mati saja agar kau kembali padaku?)—Jeon Jungkook

...

...

...

...

...

Manusia-manusia yang berlalu-lalang di depan matanya tak menjadikan Jungkook sadar dari lamunan. Ia diam, statis. Seakan tak bernyawa, namun ia tetap bernafas. Ia juga seakan tuli, tak mendengar suara berisik pengunjung cafe yang asyik bercengkrama satu sama lain. Yang dilakukannya sedari tadi hanyalah menatapi meja tempatnya duduk sekarang. Ibu jarinya bergerak lamban untuk mengusap punggung tangannya sendiri, seolah hal itu mampu menenangkannya walaupun sedikit. Ia tengah berjuang untuk bertahan dengan sensasi tidak nyaman yang merambat dalam dadanya, dan seakan menggerogoti perlahan hingga ia merasa kekosongan mulai mampir dalam benaknya.

Satu helaan nafas keluar, Jungkook merasa sesak di dada. Perasaannya campur-aduk saat ini, sedangkan pikirannya super carut-marut saat ini. Ia gelisah, namun mencoba untuk tetap tenang. Ia sedih, namun mencoba untuk menganggap semua akan baik-baik saja. Ia merasa ada sayatan pedih dalam hatinya, hingga jiwanya terasa lemah dan Jungkook bingung bagaimana cara yang tepat untuk menyembuhkan dirinya sendiri yang nampak sengsara. Ia kebingungan setengah mati, dan diamlah yang hanya bisa dilakukannya sedari kemarin.

Jungkook kembali menghela nafas, kali ini sedikit lebih berat dari sebelumnya. Ia menepuk pelan dadanya, berharap sensasi sesak dapat hilang dari sana. Kepalanya sedari tadi juga terasa pening, padahal ia sedang tidak memikirkan hal yang berkaitan dengan perusahaannya. Ia tidak sedang akan menghadapi sebuah rapat besar, ia tidak sedang akan menyelesaikan tanda-tangan yang menumpuk di meja, tidak ada hal kantor yang harus Jungkook pikirkan, namun mengapa beban pikirannya terasa berat sekali, seolah ingin menghancurkan kepalanya dengan beban berton-ton beratnya? Aneh rasanya, namun Jungkook mencoba untuk tetap bertahan, walau ia tidak sadar bahwa dirinya sendiri tak mampu menahan seluruh beban berat yang ditanggungnya.

Dengan perlahan Jungkook meraih secangkir teh herbal di meja, lalu membawa cangkir itu mendekati bibirnya, dan meneguk perlahan teh yang selalu mendiang Papa buatkan untuknya, dulu, saat Jungkook tengah lelah dengan tugas home schoolingnya. Setidaknya, tubuhnya terasa sedikit lebih tenang dengan secangkir teh herbal yang membasahi tenggorokannya yang kering.

Jungkook tengah dalam masa menenangkan dirinya, dengan cara mengasingkan diri agar lepas dari segala penat dan beban pikiran yang menggulung jadi satu hingga ia tak mampu bernafas dengan baik jika terus memikirkannya. Jungkook merasa butuh istirahat, ia butuh ketenangan. Walau sejenak saja, Jungkook benar-benar butuh mendinginkan kepalanya yang panas, dan semoga saat ia kembali ke Seoul nanti ia dapat membawa pulang istrinya ke dalam pelukan, dan ia bersumpah tak akan pernah melepas istrinya itu sampai maut memisahkan mereka.

Jungkook meletakkan kembali cangkir itu di atas meja. Ia kini tengah memerhatikan jalanan yang ramai di luar sana melalui jendela kaca yang besar. Entah mengapa Jungkook merasa semua orang yang berlalu-lalang di luar sana nampak bahagia sekali dibanding dengan dirinya. Lagi-lagi Jungkook menghela nafas, sebab ia mendapati hatinya merasa kesal sebab, kenapa ia merasa sesengsara ini? Padahal diluar sana orang-orang terlihat mudah sekali menampilkan senyuman ringannya, tawa bahaknya, dan binar mata ceria? Kenapa Jungkook tak merasakan itu sekarang? Kenapa? Kenapa harus dirinya? Kenapa?

Ah, kepalanya kini berdenyut menyakitkan. Jungkook segera menggeleng repetitif, lalu membuat gerakan memutar kepalanya sebelum memijat lembut tengkuknya yang terasa kaku. Ia tidak bisa tidur semalam. Pikirannya mendadak kosong setelah Taehyung dibawa pergi Hoseok setelah pertengkaran hebat kemarin. Jungkook hanya duduk di kursi kerjanya, menatapi langit yang berbintang melalui jendela ruang kerjanya yang terbuka lebar. Jungkook tidak mengerti mengapa dirinya terasa begitu hampa, dan yang dapat ia lakukan hanyalah melamun, melamun, dan melamun. Entahlah, seperti ada yang salah pada dirinya.

"Jungkook?"

Jungkook mengerjap, lalu mengalihkan pandangan pada orang yang memanggil namanya. "Siapa?" Mata memicing, otaknya bekerja lebih keras. Mencoba mengingat kembali sekeras mungkin. "Seungcheol-Hyung?"

Seungcheol tersenyum ramah, wajahnya tampan dan terlihat sangat dewasa dimata Jungkook. Luar biasa berwibawa dengan setelan jasnya yang kasual, juga rambutnya yang ditarik ke samping. Aroma parfum mahalnya sampai di indera penciuman Jungkook, dan decakan kagum dalam hati Jungkook suarakan, sebab ia menyadari bahwa Seungcheol merupakan salah satu wirausahawan terkenal di Daegu, kota kelahirannya.

"Hyung, sedang apa disini?" Tanya Jungkook sembari menyalami Seungcheol dengan sangat bersahabat. Keduanya saling berangkulan singkat, menepuk punggung satu sama lain khas lelaki, dan terkekeh ringan sebelum duduk kembali dengan saling berhadapan.

Seungcheol tersenyum menawan, lalu melambaikan tangan pada seorang pelayan yang sedari tadi memerhatikannya. "Kau mau pesan apa, Jungkook-ah?"

"Americano saja, Hyung."

Seungcheol mengangguk singkat, lalu mengalihkan pandangannya pada pelayan wanita yang terlihat begitu sopan padanya. "Satu Americano, satu Moccacino, dan dua cheesecake."

Jungkook terpaku menyaksikan interaksi pelayan dan Seungcheol yang begitu formal di depannya. Apalagi saat pelayan wanita itu menyebutnya sebagai Sajang-nim. Raut wajah Jungkook seperti ditumpuk berbagai pertanyaan hingga buat Seungcheol terkikik geli menyaksikan wajah aneh adik kelasnya.

"Ini cafeku, Jungkook-ah." Jungkook mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan pernyataan yang pria Daegu itu lontarkan. "Kaget, ya? Ini hadiah dari Abeoji sebelum beliau wafat. Makadari itu, aku begitu sayang dengan cafeku ini, dari manajemen sampai perawatannya." Seungcheol menyandarkan punggungnya yang terasa sedikit pegal pada sandaran sofa yang empuk. Membuka kembali ingatannya yang hampir usang beberapa tahun lalu untuk dikisahkan pada adik kelasnya yang keren. "Aku selalu berkeliling mengawasi cafeku, karena aku lebih suka menyaksikan langsung kinerja karyawanku daripada harus duduk di dalam ruangan ber-AC yang dingin menyebalkan." Seungcheol menegakkan tubuh ketika pesanannya datang, kemudian bergumam terimakasih dengan sopan. "Aku jadi merasa kesepian jika terus-terusan duduk di ruanganku yang terlalu luas."

Jungkook tersenyum maklum, ia juga merasakan bagaimana rasanya jadi pemimpin disebuah perusahaan. "Yah, kau benar, Hyung. Setidaknya aku masih punya asisten, jadi aku masih bisa merasakan aura kehidupan di ruanganku. Omong-omong, bukankah ada Jeonghan-Hyung? Kemana dia?"

Seungcheol memotong cheesecakenya dan memasukkan potongan dadu itu ke dalam mulutnya. Mengunyahnya sebentar, lalu meneguk moccacinonya dengan perlahan. "Bedrest."

Hah?

"Ya, Jungkook." Seungcheol tersenyum hangat sekali, senyum yang merambat sampai mata bulatnya. "Jeonghan hamil, anakku, pernikahan kami baru setahun yang lalu. Jeonghan hamil tiga bulan yang lalu. Ancaman keguguran, dokter bilang begitu. Aku takut setengah mati, saat Jeonghan merintih kesakitan karena kontraksi terus-menerus ditiap pagi, esoknya muncul flek hingga perdarahan, sementara usia kehamilan istriku masih kurang dari 20 minggu. Bed rest, jalan satu-satunya, agar penggunaan energi Jeonghan lebih efisien untuk memperbaiki kondisi atau menjadikan kondisi kehamilannya tidak jauh lebih buruk—shit jangan sampai itu terjadi. Aku ingin menjadi seorang ayah seutuhnya, aku ingin menggendong bayiku bersama Jeonghan di sisiku. Sial...," Seungcheol mengusap wajahnya yang mulai berkeringat karena rasa takut menyergapnya tanpa ampun. "Sial, aku takut Jeonghan kenapa-kenapa. Aku tidak ingin kehilangan dia, aku juga tidak ingin kehilangan anak kami. Aku-aku—astaga...,"

Jungkook mematung. Jantungnya seakan berhenti berdetak, parunya seakan berhenti bernafas saat ini juga. Saat ia mendengarkan penuturan penuh kejujuran Seungcheol yang frustasi atas kehamilan istrinya, raut wajah Seungcheol yang menyiratkan ketakutan luar biasa dengan gerak bola matanya yang gelisah. Suara Seungcheol yang tenang selalu bergetar ketika menyebut nama istrinya sendiri, seakan Jeonghan adalah hal yang terlalu indah untuk diungkapkan ke permukaan, terlebih dengan kandungan istrinya yang lemah hingga memaksanya untuk menjalani bed rest yang pasti sangat membosankan. Jungkook dapat merasakannya, bagaimana aura kasih sayang seorang Choi Seungcheol menguar ditiap untaian katanya, kasih sayang untuk Choi Jeonghan seorang, bidadari hatinya, separuh nafasnya, separuh hidupnya, dan belahan jiwanya.

Dengan perlahan, tanpa disadarinya, masih dengan tatapan kosong yang mengarah pada cheesecake Seungcheol yang tinggal separuh, tangan Jungkook terangkat dan mendarat di bahu kakak kelasnya dulu di masa sekolah menengah. Tepukan repetitif Jungkook berikan—gerakan yang tanpa disadarinya—mencoba memberi ketenangan ditiap tepukan bersahabatnya.

Dari Seungcheol, Jungkook sadar. Seharusnya ia semenderita ini ketika kehilangan calon bayinya. Seharusnya, Jungkook ketakutan seperti yang Seungcheol hadapkan saat ini. Seharusnya, Jungkook senantiasa berada disisi Taehyung, layaknya Seungcheol yang senantiasa mendukung Jeonghan agar tetap mempertahankan kandungannya. Seharusnya, Jungkook ada disaat Taehyung membutuhkan. Dan seharusnya Jungkook menyesali semua yang telah terjadi, pada Taehyung, atas segala tindak diskriminasi keluarganya terhadap istrinya, dan juga keguguran Taehyung yang membuat duka mendalam disepanjang sejarah hidupnya.

"Taehyung...,"

"Kau dimana?"

"Aku rindu."

Lalu setetes air mata penyesalan meluruh dari pelupuk mata redup Jungkook yang bengkak. Menemani tangis Seungcheol yang tak reda sedari mereka bercengkrama tentang Jeonghan.

...

"Jika makam keluarga Kim yang kau maksud adalah keluarga dari Kim Taehyung—istrimu, maka pergilah menuju barat Daegu, tempatnya sangat luas dekat sekali dengan pegunungan. Jangan lupa bawa lili putih, karena Nyonya Kim penyuka lili putih, sama seperti Taehyung yang begitu lembut."

Setelah menemani Seuncheol yang sedang dalam mode melankolis, Jungkook segera keluar dari cafe, dan bergerak cepat untuk memasuki ferrari merah metaliknya yang menawan. Kata-kata Seungcheol yang berisi pesan tentang letak makam keluarga Kim itu membuatnya terkejut untuk kesekian kalinya. Nampaknya, Seungcheol mengerti apa yang Jungkook butuhkan saat ini. Dan tepat setelah Seungcheol berlalu menuju ruang kerjanya, Jungkook memutuskan untuk pergi mengunjungi makam mertuanya, makam dari orang tua Jeon Taehyung—istrinya.

Berbagai perasaan campur aduk dalam benak Jungkook. Ia ingin menceritakan banyak hal saat sampai di makam mendiang mertuanya. Jungkook ingin bercerita segala keluh kesahnya, mulai dari tentang Taehyung dan keretakan rumah tangganya. Jungkook ingin meminta maaf pada orang tua Taehyung karena telah menyakiti putra bungsunya yang manis dan penurut. Dan Jungkook juga meminta balasan akan perbuatannya yang keji pada istrinya sendiri.

Jungkook melangkah perlahan setelah turun dari ferrafi merahnya. Ia berjalan dengan tenang, sembari mencari nisan yang bertuliskan nama orang tua Taehyung sesuai dengan arahan Seungcheol yang sangat membantu. Dekat dengan pohon, Jungkook melangkahkan kakinya untuk sedikit mendaki tanah setapak yang miring. Dan saat sampai di sana, tepat di dekat makam mendiang orang tua Taehyung yang berdampingan, Jungkook segera mempercepat langkah. Bersama perasaannya yang berkecamuk, ia gerakkan tungkai kakinya dengan semangat, sebelum sosok dua orang yang berdebat membuatnya segera bersembunyi dibalik sebuah pohon besar.

Itu Kim Taehyung—istrinya—sumpah, Jungkook ingin berlari dan memeluk Taehyung erat-erat. Jungkook ingin berteriak betapa ia merindukannya, dan Jungkook ingin menangis sejadi-jadinya sembari memeluk Taehyung dengan rentetan permintaan maaf tiada henti. Tapi, Jungkook mengurungkan niatnya itu. Ia kini dibuat bingung dengan sosok lelaki tinggi yang berhadapan dengan istrinya. Suasana di sana nampak sengit begitu Jungkook menangkapnya, makadari itu ia memilih untuk bersembunyi sembari mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.

"Kenapa kau tidak ceritakan padakau?"

Jungkook menajamkan pendengarannya. Ia penasaran dengan apa yang terjadi. Ia dapat melihat Taehyung yang bergetar menahan tangis.

Jungkook benci melihat Taehyung menangis, ia ingin sekali memukul habis-habisan wajah pria tinggi yang membuat istrinya itu menangis. Namun, Jungkook ternyata terlalu pengecut, sehingga kakinya hanya terpaku di tempatnya berdiri, statis, tiada pergerakan, namun hatinya luar biasa gundah gulana karena Kim Taehyung seorang.

"Kim Taehyung!"

Jungkook menggeritkan giginya, tangannya mengepal kuat. Dua, hitung Jungkook dalam hati. Kalau sampai yang ketiga pria itu membentak Taehyung lagi, maka Jungkook akan pastikan nyawa orang itu melayang saat itu juga.

"I-Iya, Hyung..., aku, m-maksudku...,"

"Tinggalkan dia."

Jungkook yang sudah memasang ancang-ancang untuk berlari dan memukul pria asing itu akhirnya terhenti. Ia menatap lurus kedepan, dan perasaan gelisahnya muncul seketika.

"Cerai dari Jeon Jungkook."

Jungkook merasakan nafasnya terenggut. Siapa pria itu sebenarnya? Bisa-bisanya menyuruh Taehyung untuk bercerai darinya?

"S-Seokjin-Hyung...,"

Jungkook membola. Itu adalah Seokjin. Kim Seokjin, kakak kandung Taehyung. Sepertinya Seokjin mulai tidak menyukainya, dan ingin memisahkan Taehyung dari sisinya.

"Cerai dari Jeon Jungkook, Kim Taehyung. Secepatnya!"

Dan Jungkook dapat mendengar suara retakan hatinya begitu mendengar tangisan Taehyung yang pecah memenuhi pemakaman yang sepi-senyap itu.

...

...

Dengan begitu nekat, Jungkook keluar dari persembunyiannya. Lalu berjalan dengan langkah berani, hingga ia bertemu tatap dengan Seokjin yang menatapnya mengintimidasi, sementara Taehyung yang menutup mulut karena terkejut karena kehadirannya.

"Siapa kau?!" Geram Seokjin begitu menyadari kehadiran Jungkook yang menguarkan aura negatif. Seokjin dapat merasakannya, terlebih reaksi adik kesayangannya yang tidak biasa. Taehyungnya seperti ketakutan, namun ada kerlipan rindu di bola mata hazelnya. Seokjin segera melangkah mundur, dan menarik Taehyung agar berlindung dibalik punggungnya yang tegap. "Mau apa kau, pemuda?"

"J-Jungkook...,"

Mendengar nama tabu itu disebut oleh sang adik membuat Seokjin membolakan mata. Ia lantas menatap tajam adik manisnya yang sesenggukan sembari menatap Jungkook yang tersenyum lemah di seberang mereka. Seokjin lantas menatap tajam Jungkook yang berjalan semakin mendekat, namun kakak Kim Taehyung itu pun merogoh sakunya, dan dengan sangat mengejutkan menodongkan sebuah pistol pada Jeon Jungkook yang mematung.

"Hyung!" Taehyung menjerit. Ia tidak ingin ada pertumpahan darah, terutama jika Jungkook jadi korbannya. "Hyung! Turunkan pistolmu! Hyung kumohon... jebal, jebal, jebal! Jangan Hyung, jangan!" Taehyung merengek sembari menarik-narik tangan Seokjin yang menggenggam pistol dengan begitu berani. Seokjin-Hyungnya terlihat menyeramkan saat ini, dan Taehyung teramat benci dengan situasi yang menegangkan.

Seokjin menggeram, "Kim Taehyung, dengar! Dia salah satu penyebab kematian ayah dan ibu, dan jalan satu-satunya agar kau selamat adalah memusnahkannya hingga jadi debu!" Jungkook menatap nyalang pada Jungkook yang balik menatapnya sendu. "Tiada kata ampun bagi pria yang bersumpah untuk membunuh adik Kim Seokjin jika sudah ketemu. Dan disinilah Hyung akan menjagamu, Taehyung. Hyung akan memusnahkan bedebah sialan ini, dan kau akan hidup dengan tenang selamanya."

Jungkook tak menghirarukan suara Seokjin yang memperingati, ia masih saja berjalan perlahan, mau selangkah demi selangkah lebih dekat pada sang istri dibalik punggung kakaknya. "Taehyung, please," Jungkook melangkahkan satu kakinya, namun kemudian terhenti saat Taehyung mengangkat tangannya—menyuruhnya berhenti di tempat. Jungkook tanpa sadar mencebik sedih sebab Taehyung tak menginginkan keberadaannya, juga Seokjin yang siap menembakkan peluru panas pada jantungnya. "Tae—"

"Oh, Jungkook kau membohongiku."

Suara ini.

Sial, Jimin mengikutinya.

Sontak Jungkook mengalihkan pandangannya, hingga menemukan sosok Jimin dengan balutan dress hitam keluar dari mobil mewah bersama para bodyguardnya. Jungkook merasakan jantungnya berdetak cepat saat melihat wanita gila itu menyeringai menakutkan padanya, dan berakhir menatap Taehyung.

"Oh, oh, oh." Jimin mendongak, menatap wajah Taehyung yang mengeras. "Sang pangeran ingin menjemput tuan puteri sepertinya." Jimin kemudian menyeringai kembali, membuat Taehyung bergidik takut menyaksikannya.

Jungkook menggeram. Jimin selalu mengganggu hidupnya. "Persetan kau Jimin!" Jungkook melangkah maju, namun kemudian terhenti ketika para pengawal berbadan besar Jimin hendak mengekangnya. "Bangsat! Kau selalu ikut campur urusanku!"

Terdengar tawa membahana yang begitu licik. Jimin kemudian merogoh saku celananya sembari tetap menatap Taehyung dan Seokjin bergantian. "Hei, Jungkook," Jimin kemudian menggenggam sebuah benda yang ada di balik celana yang tertutup dressnya. Seketika seringaian menakutkan muncul di bibir merahnya. "Impianmu adalah melenyapkan adik Kim Seokjin, bukan?"

Jungkook membelalak begitu melihat benda yang dibawa Jimin dalam genggamannya. Ia tak mampu mencerna kalimat yang terlontar dari mulut wanita gila itu, yang ada dalam pikirannya adalah keselamatan Taehyung. "Park Jimin! Letakkan pistol itu!"

Bunyi peluru pistol yang diisi ulang menggema. Pistol hitam itu Jimin kecup manja sebelum mengangkatnya ke udara. "Sekarang kau pilih, Jungkook. Kim Seokjin atau Kim Taehyung yang harus lenyap?" Tanya Jimin sembari melemaskan otot lehernya. "Salah satu atau keduanya?"

Seokjin lantas berdiri di hadapan Taehyung. Ia tidak ingin adik kesayangannya terluka. "Taehyung, tenanglah. Ada Hyung."

"Bertaruh padaku, Jeon Jungkook." Jimin menatap Jungkook dengan begitu tajam. "kembali padaku atau mereka mati sekarang juga."

"Jatuhkan pistolmu, jalang!" Seokjin berteriak marah. Ia kini menodongkan pistolnya pada Jimin yang menyeringai remeh padanya. "Aku tak akan segan menembakmu tepat di kepala. Jangan main-main denganku!"

Jimin terbahak, luar biasa menyeramkan. Ia yang mendapat teriakan dan bentakan seperti itu dari Seokjin semakin membuatnya bergairah akan niat membunuh pria itu atau adiknya yang menyebalkan. "Bangsat, kau keluarga Kim." Jimin mendesis, kemudian menatap tajam pada Kim Taehyung yang terjatuh tepat pada lututnya sendiri. Jimin tersenyum separuh, "Sepertinya aku tahu mana yang harus kuhabisi lebih dulu."

"Park Jimin!" Kali ini suara Jungkook menggema. "Jangan berani macam-macam, Jimin! Aku tidak akan pernah mengampunimu jika terjadi sesuatu pada Taehyung!" Jungkook mulai melangkah perlahan, sembari menatap awas pada pistol Jimin yang menghadap Taehyung. "Sekarang atau tidak selamanya! Anak itu, tak akan ber-Ayah apabila kau masih macam-macam denganku!"

Jimin tersenyum remeh, kemudian ekspresinya datar, tak tertebak, menyeramkan sekaligus. "Seperti kau yang mau bertanggung jawa saja, Kook." Kedua mata Jimin berubah sendu. Ia merasa sedih disatu sisi, sebab mau bagaimanapun juga, apa yang dikatakan Jungkook hanyalah alibi agar tak bermain-main dengannya. "Padahal, aku hanya ingin memusnahkan satu pengganggu yang dapat menghambat tujuanku agar bisa hidup berdua denganmu."

"Tuan Jeon yang terhormat," Seokjin mulai menggeram. Nada bicaranya setenang angin, namun Jungkook tahu ada potensial amarah ditiap tekanan nadanya. "Cepat bawa wanita gila itu dari sini. Jika kau masih sayang nyawamu, pergilah dari sini. Tinggalkan Kim Taehyung, dan hidup berbahagialah dengan wanita lain. Taehyung akan baik-baik saja denganku."

Taehyung membola, "H-Hyung!" Ia tarik ujung kemeja Seokjin hingga kusut. "Apa-apaan, Hyung! Aku tidak mau!" Taehyung mendesis pilu, wajahnya luar biasa pias, air mata sudah membasahi seluruh wajahnya. Kakaknya ini benar-benar keterlaluan. Setelah Nyonya Jeon yang menyuruhnya berpisah dari Jungkook, dan sekarang kakak kandungnya sendiri yang juga menyuruhnya demikian. "A-Aku mencintainya, Hyung. Aku mencintainya!"

"Cinta katamu, Tae?" Seokjin mengangkat alis tidak percaya pada sang adik yang percaya akan cinta. "Setelah kematian ayah dan ibu kau masih percaya dengan yang namanya cinta?" Seokjin kini menghadap Taehyung yang meringkuk di tanah, ketakutan setengah mati. "Cinta yang sebenarnya hanya ada pada orang tua kita, Kim Taehyung. Tidak dengan siapapun, tidak selain orang tua kita, dan tidak dengan Jeon Jungkook!" Seokjin mencengkram erat kedua bahu Taehyung yang bergetar. "Sadarlah, Kim Taehyung! Jangan lemah begini! Kau ini laki-laki, kau harus bisa memukul balik keluarga Jeon!"

Jungkook yang sedari tadi menatap pilu pada kedua kakak-beradik itu kini semakin menyiapkan siaganya. Ia dapat melihat Jimin menyeringai senang begitu tanpa sadar Seokjin meletakkan pistolnya, dan Jungkook tahu itu kesempatan emas bagi Jimin membunuh salah satu atau kedua orang di depannya.

"Jimin," desis Jungkook. Ia berjalan dengan cepat, tetap memerhatikan Jimin yang sudah jadi seperti orang gila. "Jangan berani macam-macam." Jungkook mengangkat tangannya, mencoba cegah Jimin agar menghentikan tindakan sembrono yang dapat menyakiti orang lain itu. Jimin malah semakin menyeringai. "Letakkan, atau—"

DOR!

Semua terjadi begitu cepat.

Suara itu sangat memekakkan telinga. Angin kencang seketika menerpa, disusul bunyi benda berat yang terjatuh ke tanah menggema. Semua yang ada di sana merasakan takut, hingga kedua mata mereka terbuka begitu menangkap sosok yang tumbang di dekatnya.

Terdengar langkah tergesa dari arah gerbang pemakaman, dan menampilkan sosok Hoseok bersama Yoongi masih dengan seragam hitam-hitamnya. Baik Hoseok maupun Yoongi tak menyangka dengan apa yang mereka lihat, keduanya pun segera menghambur untuk mendekati orang-orang yang mereka kenal.

Hoseok yang baru sampai disana segera berlari, dan menemukan sosok yang sangat dikenalnya tersungkur tak berdaya, dengan darah yang mengalir deras dari dada kirinya. Ia segera merobek kain kemeja dari lengannya sendiri, lalu menekan luka tembak temannya yang mengoyak kulit begitu dahsyatnya menyakitkan dada.

Sementara Taehyung masih dalam posisi terkejutnya. Ia menatap nanar pada sosok yang tumbang tepat di hadapannya. Jatuh ke tanah karena rela menjadi tamengnya. Rela tertembak oleh peluru Jimin hingga menembus dadanya. Dan satu-satunya orang yang rela mati demi Kim Taehyung seorang agar tetap mampu menjalankan kehidupan yang lebih baik walau mungkin itu nanti harus tanpanya. Taehyung jatuh terduduk, menutup mulutnya tak percaya. Ia menangis, sejadi-jadinya, sebab senyuman itu masih terpatri tulus padanya walau kernyitan kesakitan nampak jelas di dahinya yang berkeringat.

Jeon Jungkook, 24 tahun.

Sesak nafas dan berangsur-angsur meringis kesakitan. Wajahnya mulai pucat pasi, dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. Jungkook terengah, seakan tak mampu bernafas dengan benar. Namun Jungkook masih dapat tersenyum hangat,pada Taehyung, walau ia tahu pintu maaf mungkin telah tertutup untuknya. Bersama getaran menyakitkan yang mendera dari dada kiri menuju seluruh tubuhnya, Jungkook mencoba mengatakannya, mengatakan maaf yang tulus dari dasar hatinya, mengatakan maaf dengan gerakan bibir pucatnya yang kacau karena bergetar, dan memohon ampunan pada sang istri sebelum ajal benar-benar menjemputnya.

Setidaknya, Jungkook dapat menebus dosanya. Walau ia harus meregang nyawa dan kehilangan Taehyung, mungkin Jungkook bisa melihat senyum Taehyung kembali terkembang manis, walau itu bukan karena dirinya.

Maka dengan gerakan teramak kacau, Jungkook mencengkram kuat kaus Hoseok, lalu merintih sakit diantara matanya yang mulai berkunang. Jungkook sekarat, dan mencoba mengajak bicara Hoseok yang terlihat panik karena dirinya.

"J-Jung Hoseok-Hyung," Jungkook menggigil saat menyebut namanya, namun ia masih melanjutkan setelah Hoseok menatapnya khawatir. Lantas Jungkook segera mengucapkan terimakasih berkali-kali, dan Hoseok ingin sekali menampar wajah Jungkook agar tak berucap yang aneh-aneh. "Hyung, tolong j-jaga Taehyung untukku...,"

"Kau bicara apa, bangsat?" Hoseok tidak tahu ia kenapa jadi ingin menangis saat ini. Mungkin ia merasa bersalah sebab menjadi selingkuhan Taehyung kemarin-kemarin. "A-Aku akan hubungi ambulans. Berhenti berbicara yang tidak-tidak, atau aku semakin membencimu!" dan Hoseok segera menghubungi ambulance demi keselamatan Jungkook seorang.

Jungkook tersenyum, namun tak berangsur lama, sebab ia merasakan kantuk luar biasa menyergapnya, dan kelopak matanya berat sekali rasanya.

"Jeon bangsat Jungkook, buka matamu!" Hoseok berteriak, ia mengguncang tubuh Jungkook yang sedikit lebih dingin daripada biasanya. "Heh, bodoh! Taehyung butuh kau! Masalah kalian belum selesai!" Hoseok semakin ketakutan begitu menyaksikan segaris tipis dari bibir Jungkook yang melengkung ringkas. Pucat sekali, dan lemah. "Jungkook!"

"Yoongi! Min Yoongi!" Hoseok memanggil Yoongi, berusaha memohon bantuan untuk membawa tubuh lemah Jungkook segera mendapat pertolongan. Namun, yang Hoseok dapatkan adalah Yoongi yang menatap Jimin penuh kekecewaan, dan yang ditatap sedemikian rupa segera menjatuhkan pistolnya ke tanah. Wanita jahanam itu bergetar hebat, dan menangis ketakutan setelah tak sengaja menembak Jungkook tepat pada jantungnya. Jimin rasanya ingin bunuh diri, sebab kasus ini terlalu berat baginya. Ia kemudian segera memasuki mobilnya dengan tergesa, dan melesat kabur berasama para bodyguard yang menjaganya.

"Jungkook!" Hoseok menepuk-nepuk pipi Jungkook agar pemuda itu tetap sadar. "Sebentar lagi ambulance datang, t-tahan." Namun tidak ada respon, Hoseok menggeram. "Kim Taehyung, suamimu sekarat! Kenapa kau masih duduk disana?!"

Dan teriakan Hoseok untuk membangunkan Jungkook dari pingsannya menggema di pemakaman yang tenang itu.

Taehyung bersumpah,

Ia tidak pernah merasakan ketakutan yang lebih dari ini semua.

...

Dibuang sayang~

"Jungkook?"

Tangan Jungkook yang semula hendak meraih sebuah kartu berbentuk persegi mengilat dengan warna emas-perak yang mewah tiba-tiba berhenti setelah suara familiar memanggilnya. Ia melirik malas-malasan pada seorang wanita yang tengah berdiri di ambang pintu sembari mengusap perutnya begitu sayang. Air muka Jungkook yang awalnya sendu kini berubah menjadi datar—tak tertebak. Jungkook kembali menatapi kartu berbentuk persegi itu lamat-lamat—antara ingin dan tidak. Rahangnya mengetat sekilas sebelum memejamkan mata erat-erat dan menghembuskan nafas berat. Terkutuklah suasana hatinya yang kacau hari ini. Ia rasanya ingin meluapkan emosi, tapi ia tahu kalau itu perbuatan yang tidak baik.

"Pergilah, Jimin. Istirahatlah. Aku akan pergi keluar sebentar." Jungkook menjawab Jimin dengan malas-malasan. Ia kemudian mengantongi sebuah kartu nama dengan tulisan Jackson Wang disana. "Aku masih ada urusan."

Dan setelahnya Jungkook meninggalkan Jimin dibelakang tubuhnya, berdiam diri di depan pintu tertutup kamar Jungkook yang mewah, dan seringaian menyeramkan itu lagi-lagi muncul di bibir merah penuh racunnya.

"Kim Taehyung, mati kau setelah ini."

...

Sebuah foto terjatuh dari dompetnya, dan Taehyung memungutnya. Jemari Taehyung perlahan menyusuri lembaran halus kertas itu. Mencoba resapi betapa indahnya wajah Jungkook yang terpajang di sana. Taehyung mencoba untuk memahami bahwa Jungkook benar-benar cinta padanya, seluruh pelukannya dan segala afeksinya. Namun, Taehyung selalu tak mampu mengelak bahwa dirinya begitu merindukan Jungkook, suaminya.

"Itu siapa, Tae?"

Dan Taehyung merasakan jantungnya berdentum keras. "B-Bukan..." Apa ia harus jujur saja? "I-Ini...,"

"Jeon Jungkook?" Taehyung menahan nafas saat Seokjin-Hyung mencengkram pundaknya sedikit lebih keras. Ia hanya bisa menundukkan wajah, ketakutan setelah menyaksikan wajah kakaknya yang seram. "Kenapa kau tidak ceritakan padaku?" Taehyung bergetar. Ia sungguh takut. "Kim Taehyung!"

Taehyung tergagap, suara kakaknya naik dua oktaf. "I-Iya, Hyung...," Taehyung mencengkram jemarinya sendiri, ia tidak tahu mengapa tangannya jadi gemetar, "Aku, m-maksudku...,"

"Tinggalkan dia."

Apa ini? Kenapa Taehyung merasakan ketidakrelaan?

"Cerai dari Jeon Jungkook."

"H-Hyung...,"

Seokjin mendengus, menatap tajam adiknya yang menatap takut-takut padanya. "Secepatnya!"

Dan Kim Taehyung tidak yakin ini jalan yang terbaik.

...

Yoongi tengah menyupiri Hoseok, menuju Daegu. Sebab, yang ia dengar dari Hoseok sendiri, Jungkook mengikutinya saat ia dan Taehyung menuju Daegu, dan kemungkinan besar Jimin yang setengah sinting pasti turut mengikuti Jungkook yang kalap karena istrinya.

"Jadi," Yoongi memecah keheningan, "Kau sudah sadar, Hoseok?"

Hoseok terdiam sejenak, ia menghembuskan nafasnya sedikit berat, namun hatinya mulai tenang saat ini. "Ya, Hyung. Terimakasih, semua ini karenamu. Aku tidak pantas merebut Taehyung dari Jungkook. Mereka adalah suami-istri, yang seharusnya saling berkomunikasi satu sama lain—bukan malah kuculik istrinya seperti ini." Hoseok mengusap wajahnya kasar, ia khilaf. "Seharusnya aku biarkan Taehyung membenahi hubungannya dengan Jungkook, karena bukankah hubungan rumah tangga yang retak hanyalah yang bersangkutan yang dapat memperbaikinya, kan?" Hoseok mengalihkan pandangan pada luar jendela, menampilkan tugu selamat datang di Daegu. "Biarkan Jungkook dan Taehyung sendiri yang membenahi hubungan mereka. Bukan dengan orang ketiga sepertiku. Aku malah merusak semuanya."

Yoongi tersenyum, singkat. Ia merasakan kesedihan Hoseok karena harus kehilangan cintanya, namun Yoongi patut menghargai perjuangan adik tingkatnya ini yang dengan berani mengakui kesalahan.

"Lihat, Hoseok." Yoongi memperlambat laju mobilnya, matanya terpaku pada sebuah pemakaman dengan seorang perempuan yang menodongkan pistol. "Siapa dia?"

Hoseok menegakkan tubuh, kemudian membolakan mata. "Kurang ajar," Hoseok segera melepaskan sabuk pengaman, namun ketika ia hendak membuka pintu mobil, Yoongi menahannya. "Hyung, mereka dalam bahaya!"

"Sebentar," Yoongi mengamati sekitar, namun suara tembakan membuatnya terkesiap. "Bangsat! Suara apa itu?!"

"Hyung—" Hoseok bergetar. "J-Jungkook ditembak Jimin!"

Dan Yoongi mengutuk Jimin sebagai wanita setengah gila.

...

...

...

Tbc

...

...

...

Hhaloooo, how's life? Aku lama gak apdet ini udah berapa bulan wkwkwkw. Sumpah ini ngantuk, dan terimakasih untuk transferan gratisan dari kak zaet :* berkatmu fic ini kelar, dan bisa diaplod di wp wkwkwk.

Aku yakin ada penururan feel di ff ini. Sasa lagi gabergairah sebenernya. Berhubung aku inget kalian, jadinya aku aplod deh eheheheh Pendek nih, gapapa kan?

VOMMENT JANGAN LUPA.

LOVE YOU! :*