C'est La Vie

Chapter Twelve

© 2015 This story belong to me. The Cast belong to their agency. If there same place or anything else, its not on purposed. This story just fiction.

KAISOO Pedofile FANFICTION

MATURE CONTENT

BY DON'TJUDGEMELIKEYOU'RERIGHT

Proudly Presents

Author POV

"Saengil Chukae Hamnida, Saengil Chukae Hamnida, Saengil Chukae Hamnida Uri Kyungsoo-ie~"

Duabelas Januari yang kesepuluh untuk Do Kyungsoo. Malam perayaan ulang tahunnya berlangsung meriah meski tanpa undangan tamu. Sebatas Kai, Kris dan Tao yang selalu mendampingi lima tahun kehidupannya belakangan ini. Bersama kue tart cokelat stroberi dan hadiah-hadiah kecil, juga dekorasi ruang yang sederhana. Ini masih di apartemen Kai, tempat tinggal Kyungsoo pula. Bagi Kyungsoo, dikelilingi ketiga orang ini adalah yang terbaik. Sebuah kesempurnaan.

"Yaaay! Terima kasiih Paman, Tao ge dan Kris ge, yaaaay! Kyungsoo sudah besar, kan?"

Kai mengangguk, ia mengelus surai lembut itu dengan senyum sumringah. Memorinya masih menciptakan ingatan yang baik. Bagaimana awalan ia bertemu Kyungsoo, berjuang mendapatkannya, mengurus dan merawat balita itu, hingga kini sosok itu sudah ada dalam ambang pubertas. Kyungsoo dengan derajat yang berbeda, perubahan besar terjadi di wajah dan tubuhnya. Kai mengakui itu semua berkat campur tangannya.

Ia jelas tak main-main memberikan kesesuaian butuh, apapun yang diinginkan Kyungsoo, apa yang pantas, Kai hanya semudah itu memberikannya. Ya, lima tahun sudah. Sejak orantuanya didedikasikan menjadi tahanan, dan kehilangan kesempatan melihat bagaimana Kyungsoo bisa tumbuh sebaik ini. Bukan ditangan keluarganya, bukan pada dasar kesenangan bocah berkumpul dengan adiknya, hanya Kai. Ah, hanya Kai yang membuat Kyungsoo tampil semenarik ini.

"Mm-hm. Kau tidak mau mencium Paman?"

Karena permintaan semacam ini sudah bisa Kyungsoo patuhi sejak dua tahun belakangan. Mungkin benar jika Kai telah berhasil membuang jauh-jauh trauma Kyungsoo. Hingga kecupan singkat di pipi Kai menjadi pertanda abadi kecintaan anak ini sudah sepenuhnya. Kai ingat bagaimana ia membantu Kyungsoo melupakan kilasannya, tentang Umma dan Appa, adiknya dan pengasuhnya terdahulu.

Sehingga Kyungsoo hanya perlu terpusat padanya, hanya pada seorang Kai. Ya, dan lima tahun sudah pula sejak Suho mendekam di penjara. Kai bahkan tak berminat mengetahui bagaimana kelanjutan kisah pemuda itu. Selain kabar terakhir, bahwa Negara menjatuhkan vonis hukum lebih lama lantaran kerugian yang diberikan Suho berada ditaraf tinggi.

"Kris ge dan Tao ge, tidak?"

Ini jelas kemauan Tao. Ia masih sama. Menyandang kelainan pedofil seperti Kai. Kris membuang muka, begitu jengah mengetahui sikap adiknya tak juga berubah setelah lima tahun berlalu. Bagi Tao, justru rasa itu semakin berkembang, semakin menggerogoti relung hatinya, betapa ia mendamba Kyungsoo ada dipelukannya. Namun sekali lagi, seperti yang selalu ditegaskan Kris, bahwa semuanya mustahil. Kyungsoo tetap milik Kai.

Chuuu~

Begitu langkah kaki Kyungsoo mendekat, Tao menarik Kris untuk berjongkok agar Kyungsoo bisa menjangkau mereka. Lalu dua kecupan dimasing-maisng pipi itu telah membuat hati Tao berdebar dan membuat Kris mengulum senyum.

"Yaaa~ Gege tidak bawa hadiah untukku?"

"Kau sudah sepuluh tahun, Kyungsoo. Tidak perlu hadiah."

"Hadiah untuk semua orang, Kris ge." Kyungsoo memeberengut, lalu duduk dipangkuan Tao.

"Tapi, seperti katamu, kau sudah besar. Jadi, tidak perlu hadiah."

Bagi Kyungsoo, dibalik sikap dingin Kris itu selalu tersimpang kehangatan yang benar-benar nyata. Hanya ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya, dan memilih berucap ketus. Yah, meski terselingi dengan perlakuan-perlakuan sabar, si pirang itu terlalu pandai menyembunyikan ekspresi.

"Mungkin Pamanmu punya hadiah?" Tao seolah mengingatkan, tapi Kai kelabakan dengan alis terangkat. "Ya, kan, Kai?"

"E-eh, mm, Kyungsoo kemarilah." Karena Kai memberi titah, Tao otomatis melepas pelukannya dan membiarkan Kyungsoo berpindah pangku. Kai memeluk bocah itu, dan sesekali memijit tengkuknya. "Kau masih ingat main peran kita, kan?"

Kyungsoo menerawang, hingga anggukan kecil itu membuat Kai bersemburat merah.

"Baiklah, kalau begitu, sesuai peraturan. Sekarang panggil Paman sebagai Tuan." Kyungsoo menelengkan kepalanya, tapi ia tidak berkomentar. "Jangan bilang kau tidak mau. Paman sudah memanggilmu Tuan Kyungsoo selama lima tahun."

Kris berdeham, merasa jika ia tak perlu mendengar percakapan ini. Ia meminum wine-nya yang baru saja dituangkan Tao ke gelas. Lalu berbisik pada adiknya, untuk ajakan menuju balkon. Tao pun menurut, karena pemikiran kakaknya juga pasti sama dengan pikirannya sendiri. Ini pembicaraan intim Kai dan Kyungsoo. Baik Kris maupun Tao sama-sama tahu, kemana hal ini selanjutnya mengarah. Mereka terlalu hafal bagaimana Kai.

"Ya, Tuan."

Sahutan itu adalah boomerang untuk Kyungsoo, tetapi ribuan buket bunga untuk Kai. Inilah awalan yang ia nanti, permulaan yang ia tunggu, dan hasil akhir dari proses lamanya. Kyungsoo telah menyatakan kepemilikannya berada sah di Kai. Bocah itu sudah berlutut dan tunduk sekarang. Lalu, apalagi?

"Bagus." Kai mengeratkan pelukannya dari arah belakang, sementara tak ada Kris maupun Tao yang berpotensi menyaksikan. "Kau ingat apa hukumannya jika tidak emmanggilku dengan sebutan itu?" Kali ini suara mengintimidasi Kai berbaur dengan nafas panasnya, menggelitik telinga Kyungsoo yang seketika merasa geli.

"Aku ingat, Tuan."

Entah mengapa, Kyungsoo nampak pasrah sekarang. Hingga membuat desir itu datang kembali. Kyungsoo terlihat lemah, Kyungsoo terlihat patuh, Kyungsoo terlihat rapuh. Oh, betapa Kai memimpikan ini sejak lama, sejak lama setelah banyak hal yang mereka lalui. Mulai dari kesabarannya menghilangkan trauma Kyungsoo serta pertahanan hasrat yang mulai goyah. Semata karena itu, Kai rasa inilah momen yang tepat.

"Lihat aku, Kyungsoo." Begitu Kyungsoo membalik wajahnya, seraut wajah Kai sudah mendekat tanpa jeda. Bibir itu sudah saling meraup, ciuman panas yang melegit terjadi perkara pagut dan lumat. Kai mencumbu Kyungsoo, tidak ada penolakan selain lenguh tertahan. "Mmp."

"Mmph~mmph~" Kai memiringkan kepalanya dan menekan leher Kyungsoo, ciuman ini akan bertahan lama karena dua menit berlalu tautan itu belum juga terlepas. Kai menikmati, entah Kyungsoo. "Tu-Tuan, mmph..hah..hah..aku sesak.."

Tentu saja. Karena Kai memblokir pasokan oksigen ke paru-paru Kyungsoo. Terlalu lama, mendesak dan menuntut. Kai memang memaksakan kehendak Kyungsoo, demi melihat seberapa jauh bocah idamannya itu membuka diri.

"Bagaimana rasanya?"

Pertanyaan Kai disambut kerjapan mata bulat Kyungsoo.

"Aku tanya, Kyungsoo. Bagaimana rasanya?"

Kyungsoo diam. Memilin jemari dan memelintir rambutnya. Sungguh, bagi Kai apa yang dilakukan Kyungsoo sekarang serupa gerakan menggoda yang erotis. "Basah." Satu kata itu menggetarkan hawa dalam diri Kai. Seringai terangkat pasti diwajah gelapnya, ia menyentuh bibir Kyungsoo dan memberinya satu kecupan lagi.

"Kau suka, kan?"

"Dulu, Tuan melakukannya sangat ka-kasar."

"Selembut ini, kau suka?"

Belum sempat terlontar jawaban dari Kyungsoo dan belum sempat pula Kai membunuh rasa penasarannya, Kris disusul Tao mulai memasuki latar dan kembali bergabung. Ya, mereka selalu datang disaat yang tak tepat. Begitu Kris mendudukkan diri disamping Kai, Tao juga mendudukkan diri disamping Kyungsoo. Keduanya hanya belum sadar bahwa momen langka telah dirusak sebelum mencapai klimaks.

"Aku lapar. Kapan makan?"

Retoris. Tentu saja hal ini berasal dari mulut Kris.

"Ambil saja dulu, Kris. Kau menganggu acaraku."

Kris mengekeh, lalu mengelus dagunya sendiri.

"Cih, ini acara Kyungsoo, Kai. Eh, tidak enak kalau tidak bersama."

Kai memicing, gelagat Kris memang sulit terbaca. Adakalanya ia begitu cuek dan masa bodoh dengan sekitarnya, tapi berkebalikan dengan itu suasana hati selalu menjadi penentu. Dan Kai bosan menebak serta menerka seperti apa Kris hari ini, besok, dan lusa.

Sementara Tao, melekatkan pandangannya pada Kyungsoo yang seolah melamun. Ia menyikut anak itu, berusaha mengembalikan atensi yang terbuyar. Tapi Kyungsoo hanya menoleh, selebihnya pias rona di pipi menjelaskan lebih lanjut.

"Kau ingin hadiah apa, Kyungsoo?"

Tao kembali memutus adegan seteru antara Kai dan Kris, sejenak membuat saksi mata disana melupakan acara makan yang disinggung-singgung tadi. Pertanyaan Tao tidak membuat Kyungsoo bergerak banyak, selain gumaman dan hela nafas. Jadi, Kyungsoo hanya sedang menentukan sesuatu yang tepat. Membiarkan ketiga lelaki ini menunggu dengan sarat ingin tahu.

"Mm, Kyungsoo ingin.."

"Ya?" Kai tampak antusias. Ia tidak bisa menutupi bagaimana efek serangnya bekerja.

"Aku ingin..mm, apa kalian bisa mengabulkannya?"

Kyungsoo memastikan saat ketiga lelaki dewasa itu mengangguk mantap. Tanpa terkecuali.

"Kyungsoo ingin kembali ke Umma dan Appa. Mereka sudah dibebaskan, kan?" Jeda. Kyungsoo menggosok hidungnya. "Sejahat apapun mereka dulu, tapi aku tetap ingin memiliki seorang keluarga."

Hening. Keraguan, ketakutan, kehampaan tengah menyelimuti mereka. Khususnya Kai. Ia tidak berani mengangkat wajah selain hanya selaan nafas berat yang dihembuskan keras-keras. Ia hanya menanti Tao atau Kris mewakili perasaannya. Sudah ia bilang, kehilangan Kyungsoo adalah penjatuhan harga diri seorang Kai.

"Tapi, kita semua juga keluargamu, kan? Kau sudah berada di keluarga yang tepat, Kyungsoo."

Ternyata Tao masih memiliki nyali saat hal ini terjadi. Kris hanya mampu menggerakkan kepalanya, yang ia yakini kini sepening kepala Kai. Lihat, bahkan ia seolah melihat kepulan asap diatas tengkorak si hitam itu. Ah, tapi lupakan, Kris hanya sedang berimajinasi. Sejujurnya, ia juga tidak bisa membayangkan tata surya, udara, dan sumber air Kai ini hilang begitu saja. Karena Kyungsoo seberpengaruh itu.

"Bukankah kau juga sudah menyayangi Pamanmu ini?" Kris seakan memberi kebimbangan bagi Kyungsoo. Meletakkan beragam sanksi agar menjadi pilihan. "Apa kau lupa bagaimana ia mencurahkan semua kasih sayangnya selama ini? Dia yang menyekolahkanmu, dia yang memberimu makan dan kesenangan lainnya. Setidaknya, Pamanmu ini bertanggung jawab setelah melakukan kesalahan. Bukan seperti orangtuamu, Kyungsoo-ya."

Baiklah, Kris mulai berpidato sekarang. Kai membenarkan, ia hendak mengatakan itu sebagai senjata pamungkas. Seolah kalimat yang diucapkan Kris adalah alarm untuk Kyungsoo. Sayangnya saja, Kai tidak punya cukup kekuatan demi menghadapi hal yang sudah ia perkirakan ini. Terlalu cepat, dan bukan sesuai bayangannya.

"Apa aku sedang dimanfaatkan?"

Hah? Kontan saja, Kris, Tao dan Kai bertukar pandangan. Merasa janggal dengan argument tiba-tiba bocah jenius yang duapuluh menit lalu genap berusia sepuluh.

"Apa kalian menyukai keberadaanku disini, tapi tidak mau tahu jika aku merindukan keluargaku?"

Sekali lagi, tidak ada balasan. Mereka membiarkan Kyungsoo melanjutkan sambungannya.

"Aku senang kalian menerimaku, menyayangiku sebagai peran baru Umma dan Appa. Tapi, kumohon, aku ingin kembali. Keluarga semulaku, asalku, aku masih mengharap keluarga sebenarnya keluarga. Ayah dan ibu, adikku. Aku hany-"

"Ayo, makan."

Pemutusan alur itu jelas dari Kai. Pemuda gelap itu berdiri dan berjalan menuju ruang makan. Melupakan bagaimana seharusnya ia bertindak, meninggalkan bagaimana tiga orang lain disana menatap gusar, dan menyisakan Kyungsoo bersama juta tanya.

Tidak, Kai hanya ingin menghindari kejadian semacam ini. Ia tak mampu. Ia tak kuasa. Tidak secepat ini. Ia belum siap melepas Kyungsoo, ia belum bisa bertopang dan menuntun diri tanpanya. Apa yang terjadi dengan hidup Kai tanpa bocah itu? Gila, kah? Mati, kah? Mungkin keduanya.

-ooo-

Semalam, setelah pesta kecil-kecilan ulangtahun Kyungsoo, semuanya berlalu agak berbeda. Kai masih tetap tidur disatu ranjang dengan Kyungsoo, tapi tidak saling memeluk seperti biasa, terganti dengan singkuran tubuh masing-masing.

Mereka sibuk dengan pikiran, Kai tidak tahu mengapa kepalanya seolah terinfeksi virus Kyungsoo dan sebabkan ia hilang akal saat bocah itu bilang ingin pergi. Sebaliknya, sisian amburadul menendang ulu hati Kyungsoo, ia terdengar jahat jika melupakan jasa Kai. Meski ia ingat seperti apa traumanya datang karena Kai. Tapi, ia sudah belajar memaafkan dan sejauh ini menerima. Lihat, keadaan tiba-tiba ini membalik semua rencana.

Kyungsoo masih menyiapkan sarapan, ia sibuk berkutat di dapur sekarang. Sementara Kai terlampau malas untuk beranjak dari sofa didepan Tv. Kris dan Tao sudah pulang sejak subuh tadi, dan bersikeras menolak tawaran Kai agar menginap saja. Suasana canggung pun membuat Kai serta Kyungsoo kelimpungan. Mereka kebingungan sendiri mengatasi pembicaraan semalam, hingga berujung tanpa solusi. Kai terkesan acuh, tidak mau membahas masalah tersebut. Kyungsoo pun tak berharap banyak, karena toh paman itu terlalu meng-'kotak'-nya.

"Tu-Tuan, sarapannya sudah siap." Setidaknya Kyungsoo masih ingat dengan permainan busuk milik Kai. "Maaf, aku hanya bisa membuat serela untuk pagi ini. Tuan belum membeli bahan-bahan mem-"

"Diam, dan aku tahu." Kesinisan Kai muncul begitu saja, pelak membuat Kyungsoo beringsut mundur. Kai berubah, seharusnya Kyungsoo tahu itu semua disebabkan olehnya. "Sekarang duduk, dan sarapan. Kau tidak ingin terlambat ke sekolah, kan?"

Kai tidak melihat anggukan Kyungsoo, pria yang sebentar lagi genap berusia tigapuluh tahun itu sudah tenggelam dengan makanannya. Hanya saja, saat Kyungsoo menarik kursi, Kai pun tampak kehilangan semangat hidup. Kyungsoo tentu merasa kasihan, tidak tega juga kalau ia sampai pergi dari sisi Pamannya. Sedangkan Kai menunduk, mengaduk-adukkan sendok dikubang susu putih. Dalam mangkuknya, sereal buatan Kyungsoo itu sudah tercacah menjadi beberapa bagian kecil. Kai hanya memainkan itu tanpa niat menyuapkan.

"Tuan,"

Kyungsoo membunyikan alat makannya hingga berdenting dengan mangkuk, merebut konsentrasi Kai secepat itu.

"Apa?"

"Kumohon jangan marah padaku. Aku tidak mau Tuan seperti ini."

"Karena aku tidak sedang baik-baik saja sejak semalam."

"Kalau begitu, aku akan meminta maaf. Maafkan aku, Tuan. Jangan diamkan aku."

Kai belum melumer, hanya tatapan jeru yang menjurus di mata bulat Kyungsoo. Bahkan saat Kyungsoo menangkup dua tangan dengan wajah memelasnya, Kai belum tergerak memberi tanggapan. Tapi satu yang dipikirkannya, bagaimana jika Kyungsoo melakukan ini demi formalitas? Sebatas syarat? Lalu, apakah Kyungsoo tidak benar-benar menyayanginya? Tidak, Kai, hanya tepis hal buruk itu.

"Asal kau mau berjanji padaku."

Sekat nafas Kyungsoo seketika menegangkan tubuhnya. Janji pasti tidak main-main, terlebih jika ia membuatnya dengan Kai.

"Sebisa itu aku-"

"Kau harus bisa!" Oktaf suara Kai sudah lupa dimana tempatnya. Telah meninggi dan agak kasar. Kyungsoo menahan rasa takutnya, yang kembali hadir dalam sekejap. Kilat marah itu tercipta di wajah Kai, pertanda bahwa ia benar tak ingin Kyungsoo pergi. Hanya Kyungsoo tak mengerti, gertakan Kai barusan memiliki sebab-akibat apa. "Kau harus bisa, dan aku tidak mau tahu, Do Kyungsoo!"

"Y-ya, ya, Tuan."

Setelah cicit pasrah itu, Kai berdiri dan membiarkan sikunya menopang tubuh. Dalam inchi, Kai sudah mendekat dan condong ke arah Kyungsoo. Meja makan tak menjadi masalah penting meski benda itu menjadi penghalang. Wajah mereka bertemu dalam sepersekian detik, gidik ngeri bercampur merinding terlalu kuat untuk Kyungsoo buang. Saat ini, Kai terlihat seribu kali lebih menakutkan dari terakhir kali ia menyentuh Kyungsoo. Itu lima tahun lalu.

"Kau milikku, Kyungsoo. Kau harus selalu berada didekatku. Apapun yang terjadi. Jangan pernah pergi meninggalkanku." Kai berdesis tajam, hidungnya sudah menempel dihidung Kyungsoo. "Apapun yang kuperintahkan adalah mutlak. Kau tidak bisa mengelak apalagi menolaknya. Kau hanya milikku, tidak yang lain. Kau bisa menyanggupinya, kan?"

Baru setelah Kai menjauhkan diri, Kyungsoo menghembuskan nafas yang sejak dua menit ia tahan. Kepanikannya berbuah rasa takut, Kai yang sama seperti lima tahun lalu kini ada didepannya. Mengintimidasi, kasar, keras, dan apa itu artinya Kai telah melupakan janjinya terdahulu?

"Ku-kurasa, ya, Tuan."

"Bagus." Kai duduk kembali dihadapan Kyungsoo, ia tidak buta untuk melihat bagaimana caranya membuat Kyungsoo ketakutan. Sejelas itu ia melihat gemetar di tubuh dan getar di bibir anak-anak Sekolah Dasar semacam Kyungsoo. "Aku tidak berselera makan."

Kyungsoo mengikuti langkah Kai yang tiba-tiba merubah haluan menuju ke arahnya, dan kini pria itu ada disampingnya. Seolah menyergapkan ketakutan lagi, seolah melingkupi trauma yang sama dan seolah kembali ingin menyiksa Kyungsoo. Kemudian Kai menyentuh pinggangnya, melingkarkan lengan kokoh itu menjadi sebuah pelukan paten. Persetan dengan trauma Kyungsoo akan kembali lagi, dan persetan dengan Kyungsoo yang masih terhitung anak-anak, Kai sudah kepalang ingin.

"Mmph-" Desah tertahan itu hadir karena Kai menarik Kyungsoo, agar berbalik menghadapnya. Mereka sudah saling memeluk sekarang, Kyungsoo pun telah berada jauh dari bangkunya semula, dan Kai bersikukuh membenamkan bibirnya diceruk leher Kyungsoo. "Sssh, Tu-Tuan, aku bisa terlambat, ja-jangan, hiks-"

Isak sedu itu lolos kembali. Setelah sekian lama Kai melupakan bagaimana caranya membuat Kyungsoo menangis. "Tenanglah, kau akan menyukai ini. Kau akan ketagihan. Aku akan melakukannya dengan cara yang berbeda, bukan seperti lima tahun lalu. Mmh-ssh.." Memang apa yang bisa dilakukan bocah sedini Kyungsoo selain menurut?

"Tu-Tuan, ssh, ja-jangan," Karena Kai terus mencetak tanda merah disana, membuat Kyungsoo rishi setengah mati. Kepolosannya memang sudah ternodai, tetapi bukankah seharusnya ia tidak mengulang kejadian yang sama? Bagaimanapun, trauma bisa dihilangkan dalam waktu lama. Kai tidak mau mengerti, Kai tidak mau peduli. "Ngh! Akh!"

Kai menggigit gemas, tangan besarnya menyusup ke balik seragam Kyungsoo yang telah rapi. Merusak beberapa kancing teratas dengan membukanya secara paksa, lalu semudah itu ia bergerilya didada dan punggung Kyungsoo. "Aku akan mengajari bagaimana caranya meraih kenikmatan. Akuilah, Kyungsoo, kau bukan pada kehidupan bocah normal yang tidak tahu apa itu seks. Kau sangat tahu seks dan kau mahir memuaskan pasanganmu." Meski aneh dengan kalimat Kai, Kyungsoo hanya mengangguk. Berharap pelecehan ini bisa segera diselesaikan bersama yang sudah-sudah.

Tapi, tidak. Kai semakin menjadi-jadi. Nafsu pedofil yang telah lama terkubur bangkit kembali, hasrat seks yang telah lama terpendam mencuat lagi. Ia butuh kepuasan. Bersama muka sebagai pembuka, Kai hanya ingin petting. Menikmati jamahannya di sekujur tubuh Kyungsoo, selain daripada iringan desah-desah itu.

"Akh-akh, Tu-Tuan, aku tidak-"

"Kau tidak akan terlambat, selesaikan ini dulu."

Selanjutnya, Kyungsoo membiarkan Kai bermain dengan tubuh dan alat kelaminnya. Entah sampai jam berapa, yang jelas sesuai dengan perkataannya bahwa Kyungsoo tidak akan terlambat, itu salah besar.

Kyungsoo rasa, Kai memang sudah kembali seperti semula.

-ooo-

Ini pelajaran jam pertama. Sudah sampai dipertengahan. Tetapi teman sebangkunya itu tak kunjung datang. Apa dia sakit? Tidak mungkin, masa sehabis merayakan ulangtahun dia tidak masuk? Chanyeol kepayahan sendiri memikirkan bagaimana nasib Kyungsoo saat menghadapi guru Matematikanya yang mengajar hari ini.

Tunggu, Chanyeol? Kakak Baekhyun? Ah, dia memang tidak pernah sekelas dengan Kyungsoo saat di TK dulu. Tetapi lihat sekarang, berkat otak encer Kyungsoo ia jadi bisa menyusul Chanyeol yang notabene lebih tua. Ya, Kyungsoo menjalani akselerasi dalam masa Sekolah Dasarnya ini.

Tidak perlu membahas itu, karena Chanyeol lebih pada khawatir pada Kyungsoo. Biasanya, Paman hitam yang mengantarkan dia sampai di kelas, selalu tepat waktu. Lalu sekarang? Atau mungkin Kyungsoo terjebak jalanan macet? Chanyeol menggeleng lagi. Atau mungkin Kyungsoo terlibat di kecelakaan lalu lintas?

Belum sempat Chanyeol menjawab pertanyaannya sendiri, Kyungsoo datang bersama nafas terengah. Ia masuk didampingi Ahjussi hitam seperti biasa. Keduanya sama-sama membungkuk demi reputasi, sepertinya mereka sedang meminta maaf atas keterlambatan ini.

"Oh, maafkan Kyungsoo, dan tolong ijinkan dia mengikuti pelajaran anda, Mrs. Choi."

Itu ucapan Ahjussi hitam—julukan Chanyeol—yang sedang mengelus punggung Kyungsoo. Tapi Chanyeol terlalu jeli, ia melihat seragam Kyungsoo acak-adul, tidak dibenahi sesuai dengan semestinya, dan terkesan diburu. Oh, mungkin mereka kesiangan.

"Ah, tidak apa-apa, silahkan duduk ditempatmu, Kyungsoo."

Bahkan sejeli itu pula Chanyeol menyadari ketimpangan diantara Kyungsoo dan Ahjussi hitam itu. Lebih dari hal tersebut, kini si guru Matematika yang terkenal memiliki jiwa 'pembunuh' itu malah tersenyum sekian centi lebarnya. Membuat Chanyeol yang tergolong bocah itu tetap tahu seberapa tertarik gurunya dengan pesona Paman Kyungsoo ini. Hingga tiba-tiba saja, Kyungsoo sudah duduk dibangku sampingnya.

"Kau darimana, Kyungsoo-ah?"

Kyungsoo mengeluarkan peralatan tulis dan buku-bukunya, lalu seperti yang sudah-sudah ia akan menata mereka di meja, menjajarkan seolah henda berdagang. Chanyeol memaklumi kebiasaan sahabat lama adiknya ini, entah akan bertahan sampai kapan. Kuliah? Oh, jangan sampai karena ini terlalu kekanakan.

"Aku tidak dari mana-mana, Chanyeol Hyung." Kyungsoo masih punya sopan santun untuk memanggil teman sekelasnya dengan sebutan Hyung, ia yang termuda dikelas ini. "Aku kesiangan." Tapi tatapan Kyungsoo yang mengikuti kepergian Pamannya itu membuat Chanyeol agak janggal.

"Bohong. Keringatmu itu sudah seperti berember-ember, tahu."

Kyungsoo tetap fokus memperhatikan penjelasan wanita muda itu, ia yang sedang menunjuk beberapa angka menggunakan tongkat tipisnya. Kyungsoo hanya berpura-pura tidak mendengar Chanyeol, terlalu lampias jika ia masih dipenuhi adegannya bersama Kai.

"Kyungsoo-ah, aku tidak sedang cerewet, tapi aku penasaran. Murid teladan sepertimu, ken-"

"Aku terlambat memang sudah sewajarnya, Chanyeol. Sudahlah, jangan bahas hal ini lagi."

"Kyungsoo-ah, kau tahu kan, kalau aku sedang bosan aku pasti mencari obrolan."

Rajukan itu malah membuat Kyungsoo mual. Ia tak habis pikir mnegapa kakak Baekhyun ini ternyata bermulut besar, biang gossip dan cerewet luar biasa. Meski tak urung, terkadang sikapnya yang lucu mampu membuat Kyungsoo tertawa.

"Kan aku tidak mau dimarahi Songsaenim, Chanyeollie."

Kalau sudah ada kalimat itu, Chnayeol hanya bisa menunda pertanyaannya. Toh, Kyungsoo selalu menggunakan alasan yang membahayakan, maksudnya ia selalu punya sesuatu untuk dialihkan dari sebuah pembicaraan.

"Sebentar lagi, kita masuk Sekolah Menengah Pertama. Kau mau masuk kemana, Kyungs?"

Kyungsoo menoleh, "Aku ingin bertemu Baekkie dan Sehunie lagi. Sehunie masih cadel tidak, ya?" Karena ia juga tidak satu sekolah dengan keduanya. Entah apa, tahu-tahu saja ia malah satu sekolah sekaligus satu kelas dengan Kakak Baekhyun, yang sebelum ini ia tak terlalu akrab.

"Ah, jadi ingat saat kau bertengkar dengan Baekkie. Keras kepalanya itu sebelas-duabelas denganmu."

Sejenak, Kyungsoo biarkan pikirannya bernostalgia. "Bagaimana kabar Baekkie? Aku lama tidak menanyakan kabarnya."

"Setahuku, Baekkie sedang kesulitan di materi pembagian akar. Juga menghitung luas bangun."

Kyungsoo mencebik, "Ah, payah seperti biasa. Coba kalau aku tidak akselerasi, pasti aku akan satu sekolah dengannya. Bukan denganmu, Hyung." Ya, bagaimanapun sekolah tujuan Baekhyun yang juga tujuan Kyungsoo itu tidak menyediakan program ekstra cepat.

"Kau tidak suka denganku, ya?" Ini yang tidak disukai Kyungsoo dari Chanyeol. Ia selalu to the point, dan tidak mengenal basa-basi. Padahal bukan itu makna sebenarnya. "Kenapa? Chanyeollie nakal, ya?"

"Ah, kita hanya berlagak sok dewasa, Hyung. Buktinya, kau masih cengeng. Hah, mana mungkin aku membenci sahabat yang selalu melindungiku? Hyung tidak nakal, kok."

Setelah pernyataan itu, Chanyeol mengumbar senyum bercampur cengir. Lalu ia memeluk Kyungsoo, khas bocah. Benar, karena Chanyeol juga akan selalu melindungi Kyungsoo. Chanyeol suka Kyungsoo. Sudah, selesai. Ia tidak tahu selebihnya apa.

"Terima kasih, Kyungsoo-ie. Sudah mau bersahabat denganku. Sudah mau percaya denganku."

Anggukan Kyungsoo turut melepas pelukan mereka, "Ayo, belajar lagi. Nanti kalau tidak diperhatikan tidak akan mengerti." Kyungsoo selalu sebijak ini. Dewasa sebelum umurnya. Hm?

-ooo-

"Mana mungkin aku bisa melepasnya, sih, Kris?"

Hanya ada Kris dan Kai sekarang, tanpa Tao. Mereka ada di kafe langganan Kai, tempat ternyaman bagi si hitam itu karena benar sesuai karakternya. Sepi, dingin, perlambang angkuh, klasik, dan elegan. Kai seberkelas itu.

"Kalau dia memaksa?"

Mereka berdua menyempatkan waktu untuk bertemu, sekedar membahas masalah semalam yang benar-benar membuat jantung Kai seolah tak berada ditempatnya. Kai menyesap Espresso-nya, bersamaan dengan Kris yang menyulut batang nikotin.

"Aku sudah memberinya perjanjian."

"Lagi? Kau mempermainkan otak anak-anak, Tuan Pedofil?"

"Tsk. Jika tidak seperti itu, dia akan tetap meninggalkanku."

"Kau hanya terlalu parno."

"Lalu, kau punya cara untuk mengenyahkan parnoku?"

Kris beralih mengaduk-aduk Frappe-nya, lalu memandangi Kai dan menelisik garis tegas wajahnya. "Apa sepagian tadi kau membuatnya takut?" Setelah Kai menimang sebentar, ia mengangguk. "Nah, bukankah kau sendiri sudah berjanji untuk tidak melakukan itu? Bukankah kami juga sudah menjanjikan kalau kau tidak perlu takut?"

"Tapi ini berasal dari diri Kyungsoo sendiri, Kris." Kai menyambar, ia memalingkan wajah menghadap jendela besar disampingnya. "Kemana Tao? Lama sekali menjemput Kyungsoo?"

Kris melirik arloji yang melingkar di pergelangan kanannya, benar juga. Sudah satu jam adiknya itu ditugaskan Kai menjemput Kyungsoo. Hanya jangan sampai kejadian beruntun dari otak mesum Tao membuat Kai berang. "Sabarlah, mungkin macet. Sebentar lagi, Kai." Kris mengetukkan jemari di meja, "Mm, percayalah, aku sudah mewanti Tao."

Kai mengangguk, sekilas ia menebar pesona ke seluruh pengunjung. Agaknya memang Kai semenawan itu, terlebih jika ia bersama Kris. Bukankah seolah dua Pangeran tampan sedang memberi pandangan gratis?

Lima menit berselang, Pagani Kris sudah terparkir di depan Kafe. Tao turun setelahnya, bersama Kyungsoo yang sejajar dengannya. Ah, anak itu, bukankah Kai terlalu mencintai Kyungsoo? Benar. Begitu dering bel berbunyi, pintu Kafe sudah menelan Tao dan Kyungsoo yang celingukan. Kris melambai dan mereka sudah sampai disini.

"Hai, Ka-"

"Ayo, pergi sekarang. Kris, ke gelandang."

"Wh..-"

Tao tidak sempat protes, mungkin memang mood si hitam itu sedang buruk. Terlebih saat ia mendapati Kris mengangkat bahunya, tanda tak mengerti. Kai tidak membiarkan Kyungsoo ada di area Tao lagi, hingga kini ia yang menyeret Kyungsoo. Kris sudah berjalan lebih dulu setelah membayar di kasir, lalu masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi.

Kali ini Kai menyuruh Tao ada disanding Kris, sementara ia bersama Kyungsoo ada di bangku belakang. Kris pun mulai melajukan mesinnya, menuju tempat yang dimaksud Kai tadi. Saat ketercanggungan yang hening ini, Kris sempat melirik ke spion. Kyungsoo berkeringat dingin, menyudut disana dan berkesan menjauh dari Kai.

"Bagaimana sekolahmu?"

Kris bisa melihat bagaimana reaksi Kyungsoo. Terlalu kaget untuk suara yang familiar didengarnya lima tahun ini.

"Ba-baik. Baik-baik saja, maksduku."

Bahkan semudah itu Kris bisa menyadari perubahan suara Kai, jelas saja Kyungsoo mengkerut. Selanjutnya, ia merasakan lirikan Tao, membuatnya harus berpaling sebentar. Setelah Kris mengisyaratkan tatapan –aku-tidak-tahu-, Tao malah melengos.

"Jangan takut lagi padaku, Kyungsoo. Aku hanya kelepasan tadi." Kai bersedekap kini, ia berusaha merubah tatapannya menjadi sendu sekaligus teduh. Berharap Kyungsoo bisa tenang dan tidak lagi menyimpan kengerian saat berdekatan dengannya. "Maafkan aku, kau tahu kalau aku mudah tersulut emosi, kan?" Kai meyakinkan, tangannya mulai merambat menuju tangan Kyungsoo. Sesegera itu mata bulatnya melupakan kaca jendela dan beralih pada Kai. "Kau mau memaafkanku, kan?"

"Ya, Tuan."

Terlalu singkat, tapi Kai tidak mau ambil pusing. "Kyungsoo, aku mohon rubah pemikiranmu semalam. Jangan tinggalkan aku, jangan pernah sekalipun meski itu hanya niatan." Kyungsoo tercekat, begitu mengantisipasi sentuhan Kai yang merabai lengannya. "Jangan, Kyungsoo, jangan. Aku sudah bergantung sebegini lama padamu, jangan pergi."

"Aku mengerti, Tuan."

Selanjutnya, mereka menempuh perjalanan bersama deru nafas masing-masing. Tidak ada obrolan hangat, candaan ceria, atau olok-olokan khas. Atmosfer berubah seiring Kris menghentikan Pagani-nya dan sampai di tujuan. Gudang gelandang.

"Yap. Ayo, turun."

Bukan apa. Tapi apakah mereka sengaja mengajak Kyungsoo kemari? Ke tempat awal-mula traumanya dimulai? Oh, Kai akan menyangkalnya jika ini termasuk treatment untuk menghilangkan trauma. Kyungsoo harus melawan ketakutannya. Begitu mata bulat Kyungsoo membola, Kai sudah menarik lengan kurus itu agar mengikuti langkahnya.

Kai tidak akan lama disini, ia hanya melakukan pengecekan barang dan selebihnya mengawasi. Jadi, tidak masalah jika ia membawa Kyungsoo kesini, tempat dimana ia benar-benar jatuh cinta pada Kyungsoo, tempat yang mempertemukannya dengan surgawi dunia, dan manakala tempat ini menjadi pemenuhan hasratnya.

Mereka berempat sudah memasuki gudang tersebut, yang dari luar tampak terbengkalai. Masih sama seperti yang diingat Kyungsoo beberapa tahun silam. Posisi tumpukan kardusnya, lantai berdebu dan dinding lembab. Bedanya hanya ada di para pekerja yang sedang mengangkut peti kemas. Kyungsoo mengedarkan pandangan disela gamit tangan besar Kai, sesekali ia menunduk.

"Kau masih ingat tempat ini, kan?" Kai merasakan tangan yang digenggamnya itu sudah basah, pertanda bahwa ia sedang mati-matian menahan ketakutan lama. "Keadaannya berbalik saat sore hari. Ibumu membawamu kemari pada pukul empat sore, aku tahu, Kyungsoo. Aku mengamati itu. Saat itu pekerjaan disini sudah sepenuhnya selesai dan dikosongkan sampai esok. Maka dari itu, aku bisa leluasa bermain denganmu di malam hari."

"Mungkin dia ingin berkeliling." Tao mengusulkan, Kai mengibaskan tangan. Sedangkan Kris sekuat tenaga menahan kikikannya. Bagi Kris melihat ekspresi Tao yang terabaikan adalah hal terlucu. Entah dibagian mananya.

"Jadi kau melakukan itu disini, Kai?" Kali ini Kris mengambil celah. "Kukira kau akan mencari tempat yang lebih elit." Suara truk-truk besar dan beberapa mesin pengangkut membuat Kris harus mengeraskan volumenya.

"Aku hanya tahu kalau malaikata seperti Kyungsoo akan hadir beberapa jam lagi. Entahlah, saat itu aku hanya ingin mengamati sekitar gudang, dan tahu-tahu saja seorang wanita marah-marah sambil menyeret makhluk malangku ini."

"Kalau begitu kalian berjodoh." Kris melangkah, mengikuti Kai yang sedang meneliti transaksi dari jauh. "Tapi perlakuanmu itu sama buruknya dengan ibu Kyungsoo, Kai. Hah, sepertinya tidak baik membahas masa lalu."

Kai tidak menggubris ocehan Kris, ia berlalu dan mengitari para pekerjanya. Bisnisnya sudah sebesar ini, dan hampir hancur karena Kyungsoo. Hancur jika Kai mulai kehilangan kewarasan saat merelakan apapun demu bocah yang sudah tumbuh satu dekade ini.

"Kita mau kemana, Paman?"

"Paman?" Kai mengulang, seringainya tercipta lagi. "Kau lupa harus memanggilku apa?"

"Oh! Astaga! Maafkan aku, Tuan."

Begitu Kyungsoo menutup mulutnya, Kai memerintahkan Tao dan Kris untuk memberinya waktu berdua. Kris dan Tao mengangguk, namun tetap diam-diam membiarkan tatapan mereka menyertai Kai yang setengah menyeret Kyungsoo. Menuju arah belakang.

"Ge, kau kira ada sesuatu yang tidak baik, kan?"

"Ya, aku tahu. Ah, biarlah, Tao. Urusan Kai. Kalau ujungnya si hitam itu meminta bantuan untuk menjinakkan Kyungsoo, mak-"

"Kita bisa dengan senang hati melakukannya."

Karena bagi Tao, itulah kesempatan mendekat pada Kyungsoo. Jauh dari Kai. Hah. Sayangnya, harapan muluk-muluk itu segera mendapat tepukan di kepala, pelakunya adalah Kris.

"Jangan bermimpi."

"Appo, ge. Sakit, tahu."

-ooo-

Kai mengajak Kyungsoo menuju semak belukar di belakang gudang gelandangnya. Terlampau sepi dan tidak akan ada satu orang pun disini. Kecuali mereka. Kyungsoo melempar tatapan bertanya, tapi Kai menjawabnya dengan senyuman.

"Menurutlah untuk sekali ini, Kyungsoo. Konsekuensi tetap konsekuensi. Hukuman jika kau tidak memanggilku Tuan."

"Acara main jahat? Tuan mau melakukannya lagi? Tidak, jangan." Kyungsoo memundurkan langkah, segera dibalas satu langkah maju. Kai meminimalisir jaraknya. Kyungsoo mendorong dada Kai. "Aku tidak mau, jangan, jangan."

"Lihat, cuaca sedang cerah. Terik matahari adalah teman yang baik untuk berolahraga. Aku akan melakukannya dengan lembut, aku akan mengajarimu setelah itu kau akan agresif."

Kai tidak meminta persetujuan Kyungsoo lagi, ia sudah terburu merebahkannya disana. Diatas rerumputan tajam yang membuat siapapun merasa gatal. Lain halnya dengan yang dilakukan Kai, Kyungsoo tidak punya kekuatan saat kilas balik ini terjadi lagi. Ah, rasanya seperti dejavu. Tapi seperti yang Kai bilang, bahwa ia akan melakukannya dengan lembut. Oh, selembut-lembutnya, Kyungsoo masih harus waspada.

Ia tak terlalu mengerti apa yang bisa didapatkan dari hal semacam ini.

"Akh- apa yang akan Tuan lakukan?"

Kyungsoo menyembur saat Kai mulai melucuti keseluruhan pakaiannya. Berikut celana dan seragamnya.

"Ingatlah kalau kau tidak lagi polos. Ingatlah kalau kau sudah ternodai."

Selanjutnya, kegiatan panas pun dimulai. Meski tertutu padang alang-alang, ini tetap tempat terbuka. Dan Kyungsoo malas memohon diri, meski sudah kesekian kalinya toh Kai tetap tuli atau sengaja tuli.

Kau masih belia, tapi lihat bagaimana caramu menggoda imanku.

"Ahh, Tu-Agh! Sakit, kumohon jangan permalukan aku disini, Tuan, oooouh, ARGH!"

Kai menjambak helai rambut Kyungsoo, sesaat setelah ia puas menjilati dada, perut, dan kelamin anak itu. Sesekali ia mencubit, menjepit dan hal-hal intim lainnya yang membuat Kyungsoo gerah bukan main. Pamannya ini telah gila. Benar-benar gila.

Kini lidahnya ikut bermain menuju lubang Kyungsoo. Kai membasahi kerutan itu bersama salivanya yang mengalir. Mahakarya apik seiring tanda-tanda merah mulai tampak. Kentara dibagian leher, dada, dan terutama punggung. Kai tidak begitu sabar saat harus membalik tubuh Kyungsoo, dari telungkup menjadi telentang dan begitu seterusnya.

"Diam dan nikmati ini. Namanya seks, kenikmatan ada dimana-mana saat kau melakukannya. Oh, aku menantikan hal ini selama lima tahun, Kyungsoo-ya. Ah akhirnyaaa~"

Aku akan selalu mempermalukanmu. Dihadapan siapapun. Sampai kau mengeluarkan apa yang kuminta, berkali-kali. Sampai kau pingsan dan mengerjapkan mata bulatmu, aku menyukai itu.

Karena Kyungsoo enggan mendengar celoteh Kai, ia memilih untuk mengatupkan mata dan mengangakan mulut. Kai sudah kesetanan, ia tidak akan bisa mengembalikan kendalinya seperti semula. Hanya karena perjanjian bodoh, Kyungsoo balita terlalu percaya. Lalu inilah akibatnya.

Kai mengangkat kedua kaki Kyungsoo, agar tersampir dibahunya. Kemudian kejantanan bak rudal itu sudah ia arahkan menuju sarang sebenarnya. Lubang Kyungsoo. Sebelum itu terjadi, ia terlebih dahulu membekap bibir Kyungsoo dengan ciuman, supaya tidak mengundang perhatian.

"Bersiaplah, jangan berteriak. Ini namanya kenikmatan utama. Makanan utama. Tadi makanan pembuka dan nanti ada makanan penutup. Kau harus menghafalnya, Sayang."

"Apapun, ahhh lakukan apapun padaku, ash-ahh, asal jang-jangan yang ini, Tuan. Sakiit, ouuh!"

Kyungsoo segera menampik sebelum itu terjadi, berniat mencegah. Namun sepertinya tak membuahkan hasil. Nol besar.

Kuanggap itu sebagai perintah untukku. Meski kau menyebutnya sebagai permohonan. Maka, hukuman terberat menantimu, bocah.

"Benda apa itu, Tuan? Ken-kenapa besar sekali, kerashh, ahh!"

"Mana mungkin kau lupa benda ini?"

Kai mengacungkannya tinggi-tinggi, tanpa foreplay dan pelumas. Hingga.."AKH!" Nyaring teriakan itu adalah alunan musik bagi Kai. "Tuan! AKH! LEPAS!" Karena Kai semakin bersemangat menggenjot dan menghujam.

Ya, benda ini adalah satu yang terpuaskan karena lubangmu. Kau mungkin masih seumur belia, tapi lihat bagaimana dirimu merespon semuanya. Karena kau menikmati ini, maka hukuman lain pun akan menantimu.

"Aku mohon, Tuan..ARGH! JANGAN! HENTIKAN! Ouuuh, ah, aku tidak ingin melakukannya...ahh,"

"Sssh, ini akan nikmat setelahnya. Mm, ssh, ahh~" Kai mencumbu Kyungsoo, lagi. Beradegan sepanas ini selalu akrab bersama keringat. Mereka sama-sama mengilap sekarang. "You will like it, baby. Tidak ada teman-temanmu yang memiliki kesempatan seberharga ini."

Karena Kai sudah gila. Bagi bocah, apanya yang nikmat dan apanya yang kesempatan berharga?

Kyungsoo terus meringis, berikut merintih tatkala tumbukan itu mengeras. Membuatnya mengejan, berturut menggelinjang dan menjejak udara. Percuma, toh Kai bukan hanya tuli, sekarang ia buta.

Karena Kai sudah amat gila. Ia tak segan membawa kenikmatan untuknya sendiri.

Aku memiliki standar dalam sebuah permainan. Peratuaran yang menjadi acuanmu, bocah. Tergantung dari kau menurutinya dan baik-baik saja, atau kau melanggarnya dan berakhir hancur bagain puing tak terurus? Peraturan tetaplah peraturan. Sekalaipun kau bocah yang sangat polos dimata mereka, tapi tidak dimataku.

"Tuaaaan, ouuuh, aahh, ARGH! Ssshh, uh, sakiit, tuan..."

Kai merefleksikan diri dengan membekap mulut Kyungsoo. Menggunakan tangan demi meredam teriakan histerisnya. Lalu ia berbisik pelan, menuju cuping telinga Kyungsoo bersama deru nafas memburunya.

"Aku sudah berjanji melakukannya dengan lembut, Kyungsoo-ah. Maafkan aku, aku mencintaimu. Sangat."

Sekejap itu Kai mengecup kening Kyungsoo, lama. Seiring mengalirnya cairan putih dari senggama suci itu, mereka seolah terbuai.

Bahkan, kini kau sudah memanggilku tuan, mengormatiku. Sesuai dengan yang kuperintahkan, dan meskipun kau menurut, beginilah jadinya. Kau hidup dibawah takhtaku, Sayang. Bocah mungil yang lugu. Aku, pemilikmu, mencintaimu dengan niat merusak hidupmu. Kemari, kan kupeluk kau semakin erat, agar belati ini semakin tertancap dalam nadimu.

"Tuan, hiks- sakit, hiks-.."

"Sssh, maafkan aku, ssh..Kyungsoo-ya, kau akan menyukai ini, sungguh. Belajarlah mulai sekarang. Aku akan melatihmu. Ssh, semua akan baik-baik saja, Kyungsoo."

"Tapi sakit, hiks-hiks, sakit, Tuan."

Kai segera memeluk Kyungsoo, mengelus surai cokelat dan punggung telanjangnya bergantian. Sesegera penenangan itu berlalu, Kai memakaikan kembali pakaian Kyungsoo, merapikan rambutnya yang berantakan.

Tapi kini aku sadar, betapa mencintaimu juga turut menyiksaku. Aku tidak punya jalan keluar lain, Kyungsoo. Aku telah jatuh dan sulit bangkit. Aku tersesat dilabirin ciptaanmu. Pesonamu menghipnotisku seumur hidup. Seolah abadi.

"Ketahuilah, bahwa aku mencintaimu, Kyungsoo. Aku sangat mencintaimu."

-ooo-

Kadang Kai terpikir untuk menyembuhkan kelainan seksnya ini. Namun, tidakkah itu memerlukan waktu lama? Ia hanya tidak bisa melepas Kyungsoo. Jika saja nanti ia dinyatakan sembuh, lalu bagaimana dengan perasaannya terhadap Kyungsoo? Tapi tidak, ia menggeleng kuat-kuat. Bukankah perasaannya alami dan murni? Kai yakin bahwa kecintaannya muncul karena Kyungsoo benar telah memikatnya. Sesederhana itu.

Kejadian sesiangan tadi memang mengguncang Kyungsoo, tapi Kai tidak semudah itu menyerah pada keadaan. Kyungsoo memang tidak marah, mungkin hanya bersisa trauma barang satu persen. Tetap saja, Kai merasa sangat keterlaluan.

Si mungil itu ada disamping Kai. Malam ini, suasananya agak berbeda. Seperti malam kemarin. Dingin menggigit tulang sekalipun Kai telah menutup jendelanya. Ia tahu Kyungsoo tidak benar-benar tertidur. Cukup menggunakan satu cara jitu untuk mengeceknya.

Klik.

Kyungsoo membulatkan mata, Kai mematikan lampu kamar? Tidak, dia selalu tahu Kyungsoo tidak suka kegelapan. Karena gelap membuatnya sesak, karena gelap membuatnya kehilangan tumpuan, Kyungsoo tidak suka keheningan itu dan Kai sangat tahu.

Selimut tebal itu perlahan naik, Kyungsoo tidak bisa memastikan jika itu berasal dari tangan Kai. Kini tubuhnya jauh terasa lebih hangat. Entah berkat selimut, atau berkat pelukan seseorang dibalik punggungnya. Sudah jelas, pelaku itu adalah Kai. Lengan itu sudah melingkar bak abadi.

"Kau takut?"

Suara itu menyapa Kyungsoo, lirih. Tapi Kyungsoo tidak menjawab apapun sebagai balasan.

"Lawan rasa takutmu. Kau harus melatihnya, Kyungsoo. Ini hanya gelap sementara."

Aku tidak perlu takut.

"Ya, kau tidak perlu takut." Ada jeda sebentar, sebelum tiupan nafas itu membelai tengkuk Kyungsoo. "Akan ada aku disini, selalu dan selamanya. Jadi, kutekankan, kau tidak perlu takut, Kyungsoo."

Seolah sugesti, perlahan Kyungsoo mulai merasakan benih-benih keberanian yang tumbuh dilubuknya. Hanya sedikit, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Setidaknya, Kyungsoo sudah bisa mengatasi ketakutannya tanpa berteriak. Ia jauh lebih tenang. Entah berkat dirinya sendiri atau malah berkat pelukan Kai?

"Kalau kau sudah bisa melawan satu-persatu ketakutanmu, itu berarti seorang Do Kyungsoo telah tumbuh menjadi lebih dewasa."

Sebisa mungkin Kyungsoo menahan pergerakannya, menahan rasa gelisah dan resah. Ia tidak tahu harus berucap apa sementara peristiwa siang tadi adalah pelanggaran janji.

"Maafkan aku, tapi untuk yang tadi siang, bukankah sebelumnya kau sudah setuju? Jangan, jangan, jangan pernah meninggalkanku. Ketakutan terbesarku adalah kehilanganmu. Hanya itu satu-satunya ketakutan yang tak bisa kulawan. Aku rapuh karena itu, Kyungsoo."

Kyungsoo tidak mengerti seberarti apa dirinya di mata Kai. Tetapi lambat laun, ia merasa kasihan dengannya. Entah perkara apa, Kyungsoo rasa Kai sudah terlalu lama bergelung dalam kesendirian. Hingga sebabkan angkuh dan otoriter itu menjadi sifat tetapnya. Menurut Kyungsoo, ia memang dihadapkan pada pilihan, hanya satu kendalanya. Bahwa ia tak punya kesempatan untuk mencoba pilihan-pilihan itu.

"Aku mencintaimu, Kyungsoo."

"Ulangi lagi seperti yang terjadi lima tahun lalu. Datang ke Hari Ayah di sekolah lusa. Sama seperti lima tahun lalu." Akhirnya, Kyungsoo bersuara. Meski datar dan tanpa intonasi, Kai yakin Kyungsoo masih menyisakan hati nuraninya demi dia.

"Aku ingin Tuan mewakili Ayahku, karena kau bilang kau tidak ingin pergi. Aku tidak mungkin bisa melihat rupa Umma dan Appa lagi." Tak dipungkiri, kini Kai mencelos. Seharusnya ia tak berhak mengekang Kyungsoo, seharusnya ia tak berhak mengklaim Kyungsoo, sementara ia masih punya keluarga yang 'mungkin' sudah mau menampungnya.

Tsk, Kai tidak ingin memikirkan hal berat sekarang. Cukup malam ini yang ia habiskan bersama Kyungsoo.

"Aku mau, Kyungsoo. Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya. Percayalah."

-ooo-

TO BE CONTINUE!

YOYOYO!

CHAPTER 12 UPDATEEE~

Silahkan review, yah. Silahkan beri masukan, pernyataan suka atau tidak, mungkin unek-unek. Mm, buat Siders terlebih, jangan diem aja dong, cari pahala lewat mengetik komentar boleh juga tuh xD

Bagaimana? Kyungsoo sudah bener-bener jatuh hati tuh sama Kai. Kai-nya aja lagi kelepasan, lupa seketika. Ada ChanSoo-nya juga lagiii xP waks~ Hah, sepertinya bakal panjang, tidak jadi end dalam waktu dekat kalo author updatenya cepert gini u,u

Uhm, mau tanya-tanya, silahkan ke akun saya : DontJudgeMeLikeYoureRight

SEE YA ON NEXT CHAPTER!