Tsubaki berjalan keluar dari toko mainan sambil menenteng kantong kertas. Dia habis membeli figurin anime yang disebut-sebut kakaknya belakangan ini.
Tiba-tiba didepannya sudah ada gadis berkuncir dua. "Tsubaki-kun?" Tanya Saaya. "Agata Saaya!" Panggil Tsubaki. "Sedang apa kau diluar siang bolong begini?" Tanyanya lagi. "Aku membeli sesuatu." Jawab Tsubaki.
"Hmm apa yang kau beli?" Saaya mencoba mengintip, tapi Tsubaki buru-buru menjauhkan kantong itu darinya. "B-bukan urusanmu! Kau juga sedang apa jalan-jalan sendiri? Gimana kabar kaicho?" Tanya Tsubaki. Pipi Saaya langsung memerah, "aku pergi kemana itu bukan urusanmu! Dan onii-chan, tadi dia tidak mau bangun saat kuajak pergi hari ini."
Belum sempat Tsubaki menjawab, tau-tau..
"Saaya dan Tsubaki. Sedang apa kalian disini?" Asahina Kikuno a.k.a Daisy sudah berdiri didepan mereka. "Asahina?!" Tanya Tsubaki, kaget melihat dua temannya sekaligus secara tidak sengaja.
"Kita tidak sengaja ketemu tadi. Kau sendiri?" Jawab Saaya. 'Syukurlah. Tadinya kukira mereka berkencan.' Pikir Daisy. "Aku habis membeli boneka baru." Balasnya.
"Eh daripada kita ngobrol diluar, mendingan kita masuk ke kafe!" Saaya tersenyum. Memang benar, mereka sekarang sedang berada didepan sebuah kafe.
Tsubaki dan Daisy memasang wajah terkejut. 'Saaya sudah berubah..' Pikir mereka. Saaya menyadari perubahan raut wajah mereka, "b-bukannya aku mau makan kue atau apa!" Jawabnya. 'Sekarang dia tsundere lagi..' Daisy dan Tsubaki sweatdrop. "Yah, baiklah, ayo kita masuk." Ujar Daisy.
Setelah masuk, mereka duduk di dekat jendela dan menaruh barang-barang mereka di atas bangku. Tanpa sengaja, Daisy melihat label di kantong belanjaan Tsubaki. "Oi Tsubaki," Panggilnya. "Sejak kapan kau menyukai anime?" Pipi Tsubaki memanas sedangkan Saaya menatapnya dengan berbinar-binar. "Uaaaa, apa itu karena Bossun?" Tanyanya semangat. Daisy bahkan sudah memalingkan wajahnya yang memerah menuju jendela, "jantungku berdegup kencang." "Kenapa kalian gelisah?!" Tanya Tsubaki.
"Ano... Apa yang ingin anda pesan?" Pelayan kafe ternyata sudah berdiri dekat meja mereka beberapa menit yang lalu. "Ah, iya!" Gumam Saaya. "Aku mau tart coklat yang ini." Saaya menunjuk menu. "Aku pengen coba teh susu royal." Ujar Tsubaki. "Yogurt stroberi." Ucap Daisy. Pelayan itu mencatat pesanan mereka lalu berlalu pergi.
"Jadi, apa kau sudah tau?" Tanya Saaya. "Tau apa?" Timpal Tsubaki. "Kakakmu baru saja berpacaran! Switch-kun menyebarkannya di seluruh twitter!" Teriak Saaya. "Haa? Usui?" Tsubaki tampak kebingungan. "L-lalu, dengan siapa dia berpacaran?" Saaya menunduk sedih, "Onizuka Hime.." Daisy yang menyadari raut wajah Saaya, langsung merangkulnya. Dia bisa mengerti perasaan Saaya, rasanya menyukai pria yang tidak peka. "N-nani? Agata Saaya, apa kau sakit?" Tanya Tsubaki khawatir. "Urusai, laki-laki berbulu mata panjang yang tidak peka!" Daisy menunjuk ke arah Tsubaki. "Eeeeh?!"
Setelah itu, pesanan mereka berdatangan dan mereka langsung sibuk mengunyah. "Oishii!" Ucap Saaya, senyumnya kembali mengembang setelah merasakan kue coklat yang manis. "Mmm jadi ini rasanya teh susu royal, memang seperti bangsawan." Komentar Tsubaki, sementara Daisy hanya memakan yogurt nya dalam diam.
"Omong-omong Asahina, mungkin aku tidak boleh menanya ini didepan Agata Saaya, tapi, apa arti Sasuno?" Pertanyaan Tsubaki membuat Daisy merasa seperti tersambar petir. Yogurt dalam mulutnya mendadak terasa pahit. "Aku ingin menanyakan ini sejak lama, tapi aku baru teringat sekarang. Aku bisa mengerti moi-moi atau mun-mun, tapi Sasuno? Nama yang aneh." Lanjut Tsubaki. Saaya yang kebingungan, menatap bergantian Tsubaki yang terdiam dan Daisy yang sudah menunduk. 'Apa yang sedang mereka bicarakan?' Pikir Saaya.
Mendengar ini, Daisy kembali berdiri. "Aku akan ke toilet sebentar." Ujarnya lalu pergi. Kini hanya tinggal Tsubaki dan Saaya di meja kafe. "Tsubaki-kun, sebenarnya apa yang terjadi? Apa sesuatu yang serius?" Tanya Saaya. "Hm? Itu bukan urusanmu." Jawabnya. "Tsubaki," Saaya memperlihatkan wajah seram yang ia beri pada Bossun kemarin ini. "Beritahu aku." "H-hai!" Tsubaki menyetujui. Tsubaki lalu memberi penjelasan singkat tentang hal-hal yang terjadi belakangan ini terhadap Saaya.
Selama Tsubaki bercerita, emosi Saaya semakin memuncak hingga akhirnya dia menggebrak meja, membuat semua orang disana terkejut. "Kau sangat tidak peka Tsubaki-kun!" Ujarnya marah. "Daisy-chan pasti sangat sedih ketika kau menanyakan arti Sasuno! Dasar tidak peka!" "J-jadi, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Tsubaki. "Masih bertanya juga? Ajaklah dia kencan!" "K-kencan?!" Tsubaki terkejut mendengar jawaban Saaya. "Ya, kencan!" Ulang Saaya. Tau-tau matanya menangkap jam dinding diatas pintu. "Ah aku harus pergi!" Saaya berdiri dan mulai berjalan pergi, tapi lalu ia menghentikan langkahnya, "Ohya dan satu hal lagi, aku benci kau Tsubaki-kun!"
"Kenapa?!" Teriak Tsubaki, tapi Saaya sudah keburu berlari keluar. Setelah itu, Daisy kembali muncul di meja. "Are? Dimana Saaya?" Tanyanya. "Dia baru saja pergi." Jawab Tsubaki singkat. "Oh." Daisy kembali duduk dan memakan yogurt nya pelan-pelan. Tsubaki memerhatikannya sambil memikirkan kata-kata Saaya tadi. 'Dia memang terlihat agak sedih..' Pikir Tsubaki.
"Dengar, Asahina." Panggilnya. Daisy menatap Tsubaki. Sebelum Tsubaki sempat berbicara apa-apa, tau-tau ponsel Daisy berbunyi. Dia merogohnya dari tas dan membuka pesan yang dikirim oleh nomor tidak dikenal.
"Hohoho.. Apa ini Asahina-san dari OSIS? (~•o•)~ ini Kazuyoshi Usui! Maaf mengganggu kencanmu dengan Tsubaki (^o^)V."
'Otaku mata empat dari Sket Dan? Gimana dia bisa punya nomorku?' Pikir Daisy.
"Aku hanya ingin menyampaikan kalau malam ini akan ada konser Momoka Kibitsu di tempat xxxxxx jam xxxxx (' + ') dia berencana memberiku satu tiket, tapi printer nya rusak dan akhirnya ngeprint belasan tiket lainnya (ó3ò)/ dia memberiku tiket tersebut dan menyuruhku mengajak teman-temanku karna sayang dan waktu penjualan tiket sudah habis (o u o)(y) kalau kau mau ikut, silahkan! Aku tinggal memberi fotomu pada Momoka dan kau akan dibolehkan masuk. Kaicho-mu juga akan ikut (±o±) Tolong beritahu Tsubaki juga ya! ^3^"
"Apa yang terjadi?" Tanya Tsubaki. "Aku diajak menonton konser oleh otaku mata empat dari Sket Club." Jawab Asahina lalu kembali memasukkan handphone nya kedalam tas. "Aa Usui Kazuyoshi bukan?" "Hai." Jawabnya lagi. "Lalu? Apa kau akan ikut?" Tanya Tsubaki penasaran. "Tidak. Tempatnya jauh." Jawab Daisy. "Aku akan pulang." "Tunggu, biarkan aku mengantarmu." Ujar Tsubaki. "Urusai. Aku bisa pulang sendiri." Daisy menyambar tasnya dan berdiri. "Ja." Tsubaki menatap Daisy hingga dia menghilang, lalu menerawang terhadap jendela. Awan-awan gumpal mulai memenuhi langit. 'Sudah mau hujan.. Sepertinya ini kedua kalinya hujan turun bulan ini, padahal ini sedang musim panas..' Pikir Tsubaki. Ia lalu mengambil payung dan berlari keluar.
"Asahina!" Teriaknya. Daisy memutar tubuhnya menatap Tsubaki, "Apa yang kau lakukan? Sudah kubilang tidak usah mengantarku." Sahutnya kesal. "Tapi sebentar lagi hujan. Kau tidak membawa payung kan?" Tsubaki lalu memekarkan payung diatas mereka. Saat itu juga gelegar petir terdengar dan hujan deras mulai turun dari awan-awan tadi. "Tch. Baiklah, terserah kau saja." Jawab Daisy. Mereka lalu mulai berjalan menuju komplek perumahan Daisy. Daisy melirik Tsubaki yang berjalan disebelahnya, lalu tersenyum.
'Sepertinya begini lebih baik..' Pikirnya. "Ada apa Asahina?" Tanya Tsubaki. "Tidak apa-apa." Jawabnya. "Kita sudah sampai, ini rumahmu kan?" "Hai, ini rumahku." Mereka mendongak menatap rumah dua lantai bercat putih yang merupakan tempat tinggal Daisy. "Ayo masuk dulu, aku akan membuatkan teh untukmu." Ucap Daisy. "Eh? Benarkah?" "Ya." Jawabnya. "Baiklah kalau begitu."
Mereka berdua memasuki rumah dan langsung disambut dengan ruang tamu berlantai kayu yang tergabung dengan dapur dan berisi meja makan, sedangkan di lantai atas ada tiga pintu kamar dan balkon untuk menjemur baju. "Rumahmu bagus." Gumam Tsubaki. "Arigato." Jawab Daisy seraya membuat teh manis untuk mereka berdua. Dia lalu menghidangkan teh itu di meja makan dan duduk di hadapan Tsubaki.
Tsubaki celingukan, "Asahina, dimana orangtua mu?" "Mereka pergi keluar negeri bulan ini untuk bisnis. Kenapa memang?" Tanya Daisy. "Kenapa? Bagaimana bisa kau membolehkan seorang laki-laki masuk ketika kau tinggal sendiri? Kau terlalu gampang Asahina!" Sahut Tsubaki. "Laki-laki itu kan kamu, kalau laki-laki lain aku gak bolehin masuk. Memangnya kamu mau apa-apain aku?" Balas Daisy. "B-bukan itu maksudku.." "Kalau gitu yaudah."
Mereka kembali terdiam. "Omong-omong, tadi di kafe kamu mau ngomong sesuatu sama aku ya?" Tanya Daisy. Tsubaki kembali teringat kejadian sebelum Daisy mendapat SMS. "Ah itu, itu tidak penting." Jawabnya. 'Lagipula Saaya aneh, kenapa aku harus mengajak Daisy pergi kencan? Dia ini tidak suka sama aku, ya kan?' Tapi mau tak mau, dia juga jadi ingat aura sedih Daisy tadi. Mata Tsubaki menerawang menelusuri rumahnya yang sepi. 'Dia pasti kesepian disini sendirian..' Pikirnya.
"Hei Asahina," Panggilnya. "Ayo kita ke konser." "Untuk apa? Aku memang masih ada uang sisa, tapi kan jauh." Ucap Daisy. "Aku akan menemanimu. Lagipula hujannya sudah berhenti." Setelah perdebatan kecil, akhirnya Daisy mengalah dan naik keatas untuk ganti baju. Tsubaki meng-SMS Switch bahwa mereka akan datang.
"Aaaa aku kira kalian tidak akan datang (~^o^)~ apa ada sesuatu yang terjadi? Hyuu-hyuu! ~(' O ')~" Tsubaki sweatdrop melihat banyaknya emoticon yang dipakai Switch. 'Ada apa dengan orang ini? Apa dia tau kejadian yang menimpaku dan Asahina?' Tsubaki tak habis pikir. Tau-tau Tsubaki mendengar langkah sepatu. Ia melepaskan pandangan dari handphone menuju Asahina, yang sudah berdiri dibawah tangga dengan jaket dan rok pendek. "Bisa kita pergi sekarang?" Tanyanya sambil senyum. Tsubaki menatapnya sesaat, lalu kembali nunduk. "Baiklah." Jawabnya. Ia berdiri dan membukakan pintu untuk Asahina.
Ditengah-tengah perjalanan...
"Ah!" Daisy memegang kakinya yang terasa pegal. "Daijobu ka?" Tanya Tsubaki. "Aku gak papa, ayo kita jalan terus." Mereka lalu kembali berjalan. Tsubaki menatap temannya, "gomen, tadi aku berencana menelepon taksi atau menggendongmu. Tapi uangku hanya cukup untuk membayar konser dan rokmu kependekan." Daisy terkesima menatap Tsubaki, lalu pipinya memerah.
"Jangan bilang rokku kependekan, hentai."
"AAH! Mataku!"
*sesampainya di konser~*
"Takahashi-san!" Panggil Tsubaki, melihat kapten yang berdiri membelakangi mereka. Mata kapten berubah senang saat melihat mereka berdua. "Minna! Tsubaki-kun sudah datang!" Teriaknya. Tau-tau teman-teman mereka datang dan menyerbu mereka, atau lebih tepatnya, menyerbu Tsubaki. Ada Yabasawa, Kumi, Sojiro, Michiru, Jogasaki, Roman, Unyu, Shinzo, Yuki, Otakura dan Dante. Mereka lalu menarik Tsubaki yang kebingungan menuju suatu tempat sedangkan Daisy berdiri disana ditemani oleh Switch. "Oi, dimana Saaya?" Tanya Daisy. '(Dia tidak bisa datang karna harus melakukan sesuatu yang penting.)' Jawab Switch, kacamata nya berkilat-kilat tau, sedangkan Daisy menatapnya curiga.
"Kita sampai!" Sahut kapten. Semuanya melepaskan Tsubaki dan memberi jalan. Mata Tsubaki melebar. Dihadapannya sudah ada Bossun dan Himeko yang berpegangan tangan. Mereka menatap Bossun dengan raut bosan, tapi pipi mereka merah karna malu. 'Ternyata mereka berdua sedang dikerjai..' Pikir Tsubaki. "Bossun-dono, adikmu sudah datang! Tsubaki-dono, ayo ucapkan selamat!" Ucap Shinzo. Yuki lalu mendorong Sasuke hingga berdiri dihadapan Bossun.
Mereka berdua bertatap-tatapan sesaat hingga Tsubaki akhirnya mengulurkan tangan. "Omedeto." Ujarnya singkat. Bossun menyalaminya, "Arigato." "GYAAA!" Semuanya bersorak-sorai. "Yabasu! Bossun dan Tsubaki-kun bersalaman!" "Ini seperti adegan dalam sebuah manga!" Ucap Roman. "Pertemuan malaikat..." Dante menutupi sebelah wajahnya. "Jantungku berdegup kencang!" "Bossun dan Tsubaki, hyuu! Hyuu!"
"Oi kenapa kalian begitu senang?!" Bossun menatap Himeko yang sudah bergerak-gerak malu ditempatnya. "Kau juga gelisah!" Setelah keramaian itu usai, mereka lalu masuk kedalam gedung dan menikmati konser Momoka.
*pulang-pulang*
"Kau tidak harus mengantarku, tau? Lagipula ini sudah larut malam." Umpat Asahina. "Tidak apa-apa, lagipula tidak aman kalau perempuan berjalan kerumah sendirian saat malam hari." Jawab Tsubaki. "Yah, salah kau sendiri karna memaksaku datang ke konser." Daisy lalu berjalan mendahului Tsubaki. "Hei, chotto matte!" Tsubaki mengikuti langkahnya. "Maaf karna sudah memaksamu pergi hingga malam dan membuatmu kecapekan. Tapi aku pikir, kamu pasti bosan dirumah sendirian saja. Aku sangat senang melihatmu ikut berteriak tadi di konser." Daisy tetap diam. Tsubaki lalu teringat lagi kejadian di kafe, ia memutuskan bertanya sekarang.
"Soal di kafe itu, Saaya bilang kau sedih karna aku bertanya apa arti Sasuno. Aku minta maaf kalau memang itu benar. Aku tidak tau letak kesalahanku, tapi aku gak mau kamu sedih." Lanjut Tsubaki. Daisy menghentikan langkahnya. Ia menatap langit malam yang tak berbintang, lalu menghela napas. "Dasar gak peka." "Kenapa kau masih memanggilku itu?!" Sahut Tsubaki tak terima. Daisy tertawa kecil, lalu menoleh padanya dengan senyum. "Makasih karna selalu peduli sama aku." Jawabnya. Tsubaki menatapnya datar, "ya, sama-sama." "Ayo pulang." Mereka kembali berjalan diatas trotoar.
"Omong-omong, kau tidak mau memiliki pacar Tsubaki-kun?" Tanya Daisy. "Aku tidak mau buru-buru." Jawab Tsubaki. Daisy tersenyum, 'aku merasakan kesal, sedih, senang, terharu, dan malu saat denganmu. Tapi entah bagaimana, kamu bisa membuatku tetap menyayangimu. Tsubaki-kun, apa yang sudah kau lakukan padaku?'
...
A/N: Pertama, aku minta maaf karna chapter sebelum nya gak ada garis sama sekali! Sebenarnya aku udah pakai garis, tapi mungkin gak keluar~ gomenasai desu ._. *bungkuk 3x*
Kedua, arigatou buat reviewers-ku, palvection, In-chan, Naflah dan Panda Dayo, makasih ya karna udah ngefollow dan favorit cerita ini! T^T
Hmm ketiga *wah banyak nih.*, kayaknya banyak yang ngeship TsubakixDaisy ya disini~ jadi aku buatin chapter ini buat kalian. Maaf aneh dan rada galau-galau T.T aku nulis ini sore-sore pas lagi ujan~
Keempat *O_O*, mulai sekarang aku akan update kira-kira seminggu sekali XO banyak PR + les hari Senin-Jumat + pengen gambar cover image sendiri untuk fanfic-ku ): aku udah lama pengen gambar sendiri cuma gak jadi-jadi, akhirnya aku pakai foto-foto dari innet tentang cuplikan anime nya. + lagi, ulangan yang mulai mendekat. Maaf aku sangat fail! Aku akan coba update fanfics-ku secepat mungkin.
Aaaahh! Seneng banget aku akhirnya fanfic ini udah ada 25 reviews! Dalam kesempatan ini, aku mau berterima kasih lagi sama semua yang udah ngereview dari chapter 1 sampai sekarang: Light strife namikaze, Azunyann, Panda Dayo, palvection, In-chan dan Naflah. Makasih dukungannya! ^.^9 kalian bikin aku semangat ngepost! Juga untuk reader-san yang membaca fanfic ini, arigato! Jangan segan-segan ngasih review ;) boleh komplain, saran, kritik, curhatan, apa aja boleh! Kasih request atau nebak chapter selanjutnya juga boleh, aku akan coba kabulkan kalau bisa. :*
Itu aja deh sekarang,
Aku pamit dulu~!
Disclaimer: Sayangnya aku gak memiliki Sket Dance XD
R&R please! ;);)
