"Tidak enak." Donghae mengernyit, menggelengkan kepalanya, menghindari sendok berisi bubur sayuran yang disuapkan Sungmin kepadanya.
Hari ini adalah tiga minggu sejak Donghae tersadar dari komanyaa, kondisinya sudah mulai membaik, dia sudah bisa duduk, sudah bisa mengucapkan lebih dari satu kalimat, dan alat-alat penunjang kehidupannya sudah mulai dilepas satu persatu, dokter sendiri memuji perkembangan Donghae yang luar biasa pesat, tekad lelaki itu kuat, maka ketika dia berniat untuk sembuh dia akan merasakannya sepenuh hati.
"Kau harus memakannya," gumam Sungmin sedikit geli dengan kemanjaan Donghae yang seperti anak-anak, "ini menyehatkanmu."
"Rasanya seperti muntahan." Gumam Donghae, tapi akhirnya menurut membuka mulutnya, menerima suapan Sungmin lalu mengernyit ketika menelan.
Ekspresinya membuat Sungmin tergelak, tapi kemudian Donghae meraih tangan Sungmin yang tidak memegang sendok, ekspresinya berubah serius,
"Minnie, tak terbayangkan rasa terimakasihku padamu...aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan cintaku, aku... Para dokter dan perawat menceritakan perjuanganmu untukku..."
"Stttt," Sungmin meletakkan sendoknya dan menyentuhkan jemarinya di bibir Donghae,
"Perjuangannya sepadan, kau akhirnya bangun kan?"
"Tapi..." ekspresi kesedihan menghantam Donghae, "aku... Aku mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Aku mungkin lumpuh selamanya, aku hanya akan menjadi bebanmu..."
"Donghae-ah," Sungmin menyela sedikit marah, "kau tidak boleh memvonis dirimu sendiri, yang luar biasa ini juga diluar prediksi dokter bukan? Kita pasti bisa kalau kita berjuang dengan tekad dan keyakinan kuat bersama-sama, meskipun begitu...", Suara Sungmin berubah sendu, "meskipun pada akhirnya kau lumpuh selamanya pun, aku akan tetap bahagia bersamamu... Kau tahu selama ini aku selalu berdoa apa? Aku berdoa yang penting kau sadar, aku tidak peduli yang lain, Tuhan sudah mengabulkan doaku Hae... Tidakkah itu cukup?"
Mata Donghae tampak berkaca-kaca.
"Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu..."
Suara di pintu itu mengalihkan perhatian mereka, Sungmin dan Donghae menoleh bersamaan, lalu Sungmin tersenyum, Dokter Kibum ada di sana, dalam kunjungannya yang biasa, sekarang bahkan dokter Kibum sudah mulai akrab dan berteman dengan Donghae.
Tapi senyuman Sungmin langsung membeku ketika menyadari siapa yang mengikuti di belakang dokter Kibum, itu Kyuhyun!
Kyuhyun yang sama. Kyuhyun yang tampan dengan penampilan bak adonis, dengan ekspresi yang dingin dan tidak terbaca. Sungmin tidak pernah berhubungan dengan Kyuhyun lagi sejak Donghae sadar dari komanya, Kyuhyun selalu memaksakan maksudnya dengan perantaraan dokter Kibum, seperti ketika Kyuhyun memaksakan untuk menanggung biaya rumah sakit Donghae dan ketika Kyuhyun memaksakan Sungmin setuju - lewat bujukan dokter Kibum – agar Sungmin dan Donghae pulang ke apartemen yang dibelikannya ketika Donghae sudah boleh pulang dari rumah sakit nanti.
Sekarang lelaki itu berdiri di depannya, ekspresinya tak terselami dan sedikit muram, membuat Sungmin bertanya-tanya, apakah Kyuhyun mendengarkan percakapannya dengan Donghae tadi.
Apakah Kyuhyun tidak senang mendengarnya,
"Dokter Kibum," Donghae menyapa ramah ketika Sungmin hanya diam saja, lalu menatap ingin tahu ke arah lelaki tampan yang sepertinya hanya menatap terfokus kepada Sungmin,
"Halo Donghae, aku datang untuk mengecek keadaanmu. Dua hari lagi kau sudah boleh pulang kalau kondisimu sebaik ini terus," Kibum menyadari Donghae menatap ke arah Kyuhyun, lalu menyikut pinggang Kyuhyun untuk menarik perhatian Kyuhyun yang terarah lurus kepada Sungmin, "Dan ini Kyuhyun, dia eh bosku dan bos Sungmin juga."
Kyuhyun menolehkan kepalanya pelan-pelan, lalu menatap ke arah Donghae, menelusurinya dengan tajam dan meneliti.
Inikah laki-laki yang dicintai Sungmin sampai rela mengorbankan segalanya? Tiba-tiba pikiran jahat melintas di benaknya, apa yang akan diperbuat Donghae jika tiba-tiba dia mengungkapkan bahwa Sungmin sudah menjual keperawanannya kepadanya? Bahwa dia sudah berkali-kali meniduri tunangannya yang katanya dicintainya tadi?
"Kyu... " Kibum bergumam ketika Kyuhyun hanya menatap dan tidak bersuara,
Kyuhyun lalu mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Donghae,
"Salam kenal, saya adalah... Atasan Sungmin di tempat kerjanya... Kebetulan kami eh cukup ... akrab." sedikit senyum muncul di bibir Kyuhyun ketika menyadari Sungmin dan Kibum tampak begitu cemas dengan kata-kata yang mungkin muncul dari bibirnya,
Donghae menerima jabatan tangan Kyuhyun dan tersenyum tulus,
"Terimakasih." meskipun Donghae sedikit bertanya-tanya kenapa tatapan Kyuhyun seolah-olah ingin membunuhnya.
"Saya senang kondisi anda semakin membaik." gumam Kyuhyun tenang, tapi terdengar seolah-olah mengatakan, kenapa kau tak mati saja biar semua jadi mudah?
Sungmin mengernyit mendengar nada suara Kyuhyun itu, lelaki itu sama sekali tidak mencoba membuat suasana menjadi lebih mudah malah seolah-olah menantang Sungmin untuk mengakui sesuatu ? mengakui apa? apakah Kyuhyun ingin agar Sungmin mengakui segalanya di depan Donghae? Mengakui bahwa dia sudah menjual keperawanan dan tubuhnya demi membiayai biaya operasi Donghae?
Sungmin akan mengakuinya, itu pasti, dia tidak mungkin membohongi Donghae. Donghae mungkin akan marah dan sedih, sedih karena Sungmin terpaksa melakukan semua itu demi dirinya. Lalu mungkin Donghae akan menyalahkan dirinya sendiri. Oh, lelaki itu tidak akan meninggalkan dirinya karena sudah tidak perawan. Sungmin begitu mengenal Donghae hingga yakin akan hal itu, dia lelaki berpkiran terbuka, tetapi yang Sungmin takuti adalah Donghae akan semakin menyalahkan dirinya, sendiri, menyalahkan kondisinya yang tidak berdaya yang membuat Sungmin harus berjuang sendirian demi dirinya, dan Sungmin tidak mau Donghae mengalami itu semua, tidak di saat kondisi Donghae masih begitu rapuh dan ada di dalam proses pemulihan. Nanti, Sungmin pasti akan mengakui semuanya, tetapi tidak sekarang.
Karena itu dia langsung memelototi Kyuhyun mengingatkan, memastikan Kyuhyun melihat isyarat dalam matanya, dan menggeram dalam hati ketika Kyuhyun malahan tersenyum meremehkan.
"Tuan Kyuhyun ini adalah atasanku di tempat lamaku bekerja." jelas Sungmin cepat begitu melihat kebingungan di mata Donghae.
"Tempatmu sekarang bekerja Sungmin, kamu masih bekerja di sana." sela Kyuhyun tajam.
Sungmin ternganga mendengar bantahan Kyuhyun itu, kehabisan kata-kata, lelaki itu tersenyum datar pada Donghae,
"Kami sempat mengalami sedikit kesalahpahaman. Saya menuduh Sungmin melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan, Tetapi saya sekarang sudah menyadari kesalahan saya,"
Kyuhyun menatap Sungmin penuh arti, "dan dengan rendah hati, saya meminta Sungmin kembali kepada saya". kata-kata itu diucapkan dengan datar dan santai, tapi entah kenapa arti yang tersirat di dalamnya membuat pipi Sungmin merona.
Kibum langsung berdehem memecah kecanggungan,
"Bagus, kita akhirnya menyelesaikan segala kesalah pahaman," gumamnya ceria,
"Nah sekarang aku ingin memeriksa kondisimu Donghae"
"Saya tidak pernah merasa lebih baik dokter." Donghae tersenyum, perhatiannya teralih dari Kyuhyun dan Sungmin.
"Dan akan lebih baik lagi, aku yakin mengingat pesatnya kondisimu," Kibum tersenyum, lalu menatap Sungmin dan Kyuhyun, "Kalian bisa keluar sebentar? Aku ingin memeriksa kondisi Donghae."
Dan dalam diam Kyuhyun dan Sungmin melangkah keluar ruangan. Mereka masih berdiri diam di lorong ruang perawatan.
"Well dia tampak sehat." gumam Kyuhyun kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Sungmin tajam,
Sungmin menganggukkan kepalanya.
"Dia tidak akan bisa berjalan lagi kan?" sambung Kyuhyun jahat.
Sungmin membelalakkan matanya mendegar kekejaman dalam suara Kyuhyun,
"Kyuhyun! Jahat sekali kau!", mata Sungmin tampak berkaca-kaca, "Dokter Kibum bilang masih ada kesempatan bagi Donghae untuk sembuh, dan aku percaya dia akan sembuh."
"Sampai berapa lama lagi Min? kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi, Kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbanan seperti itu?"
Kyuhyun mendeses kesal, "Dan kata Kibum dia juga mungkin tidak bisa berfungsi sebagai laki-laki normal..."
"Kyuhyun!" Sungmin setengah berteriak, menghentikan kata-kata Kyuhyun, pipinya memerah mendengar ucapan Kyuhyun yang begitu vulgar.
Kyuhyun mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah,
"Aku cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Kibum kepadaku," tiba-tiba dia mendekat dan merengkuh pundak Sungmin, "Bagaimana Min? Bagaimana jika dia tidak dapat berfungsi sebagai lelaki normal? padahal aku tahu...", mata Kyuhyun menyala-nyala, "aku tahu betapa kau gadis kecil yang penuh gairah, betapa kau menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya... Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua...tidak disentuh.. tidak di..."
"Hentikan!" Kali ini Sungmin benar-benar berteriak, matanya berkaca-kaca.
Membuat Kyuhyun terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Sungmin tampak begitu rapuh sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca seperti itu, membuat Kyuhyun ingin melumatnya...
"Kau terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan melakukan hubungan fisik," desis Sungmin tajam,
"aku mencintai Donghae, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku, itu saja... Kalaupun.. kalaupun dia nantinya tidak bisa memelukku dengan bergairah, aku tidak peduli, yang penting dia hidup dan ada di sisiku, aku tidak butuh yang lain lagi..."
"Tidak butuh yang lain lagi?" Kata-kata Sungmin yang penuh cinta kepada Donghae itu menyulut kemarahan Kyuhyun, dengan kasar direngggutnya Sungmin ke dalam pelukannya,
"Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?!"
Dengan tanpa diduga-duga, Kyuhyun mencium bibir Sungmin, pertama kasar, meluapkan kemarahannya disana, melumat bibir Sungmin dengan menyakitkan seolah ingin menghukumnya. Oh! betapa dia ingin menghukum perempuan ini karena menyakitinya! Oh berapa dia merindukan perempuan ini!
Ciumannya melembut ketika merasakan bibir perempuan yang sangat dirindukannya, yang sudah lama tidak disentuhnya, yang sudah lama tidak dirasakannya. Kerinduannya meluap, dipeluknya tubuh Sungmin erat-erat, dilumatnya bibirnya dengan seluruh gairahnya, dipujanya bibir itu.
Sungmin yang tidak menyangka akan dicium dengan seintens itu semula hanya terpaku, lalu dia memejamkan matanya, aroma Kyuhyun, kemaskulinannya menyeruak di dalam dirinya.
Membangkitkan kenangan lama akan kedekatan mereka, dan secara alami, Sungmin membalas pelukan dan lumatan Kyuhyun.
Entah berapa lama mereka berciuman sampai kemudian Kyuhyun melepaskan tautan bibir mereka, terengah-engah.
Dengan lembut Kyuhyun menunduk, masih berpelukan, dahinya menyatu dengan dahi Sungmin, napas mereka yang panas menyatu, bibir mereka masih berdekatan.
Kemarahan Kyuhyun mereda seketika oleh ciuman itu, kini dadanya dipenuhi oleh perasaan lembut yang menyesakkan dada,
"Jangan bilang kau tidak merindukan sentuhanku." bisik Kyuhyun lembut,
Sungmin memejamkan mata berusaha menggeleng,
"Aku tidak merindukannya." erangnya mencoba melawan,
Kyuhyun menundukkan kepalanya, menghujani telinga dan leher Sungmin dengan ciuman-ciuman lembut seringan bulu, membuat tubuh Sungmin gemetaran,
"Teruslah berbohong" bisik Kyuhyun di telinga Sungmin, "Tapi tubuhmu tidak bisa
membohongiku, tubuhmu merindukanku Min, dan aku merindukanmu." Bisik Kyuhyun di sela-sela kecupannya.
Sungmin mengerang, mencoba melawan kebenaran yang menyiksanya. Dia merindukan Kyuhyun, dia memang merindukan lelaki itu. Sering di malam-malam dia berbaring sendirian di sofa rumah sakit, menunggui Donghae. Dia merindukan Kyuhyun, merindukan pelukannya yang melingkari perutnya dengan posesif, merindukan lengannya yang selalu menjadi bantal tidurnya, merindukan desah napas teratur Kyuhyun di telinganya ketika tertidur pulas. Tapi Sungmin menahannya, mencoba mengenyahkannya. Perasaan itu tidak boleh ditumbuhkan. Dia sudah mempunyai Donghae, Donghaenya, tunangannya. Kekasih yang dicintainya. Kekasih yang ditunggunya tanpa putus asa selama dua tahun.
Kekasih yang sekarang sedang berjuang untuk pulih kembali demi dirinya.
Air mata mengalir deras di pipi Sungmin,
"Aku merindukanmu Kyu." pengakuan itu, pengakuan yang sama sekali tidak di duga-duga Kyuhyun membuat gerakan lelaki itu yang sedang mencumbu Sungmin terpaku.
Kyuhyun langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu Sungmin agar menatapnya,
"Apa? Katakan sekali lagi, katakan," Kyuhyun mendesak ketika Sungmin menghindari matanya.
"Katakan sekali lagi Sungmin, aku perlu mendengarnya lagi."
Sungmin menarik napas panjang, lalu menatap mata biru yang berbinar-binar itu,
"Aku merindukanmu Kyuhyun." gumamnya lagi, lebih pelan dan bergetar.
"Demi Tuhan," Kyuhyun memejamkan matanya lama, lalu memeluk Sungmin,
"betapa aku ingin mendengar pengakuan itu darimu..."
Mereka berpelukan lama, menikmati saat-saat yang penuh dengan keheningan itu, sampai kemudian Kyuhyun menjauhkan pelukannya dan menatap penuh tekad,
"Kita harus berbicara dengan Donghae."
"Jangan!" Sungmin langsung berteriak mencegah dan ketakutan, "Jangan Kyu!" Mata Kyuhyun berkilat-kilat,
"Kau harus menentukan perasaanmu Min, aku atau Donghae. Salah satu dari kami harus mendapat kepastian tentang perasaanmu." gumamnya tegas.
Sungmin menangis lagi, tangannya bergerak lembut, mengelus pipis Kyuhyun, lelaki itu langsung memejamkan matanya,
"Kyuhyun... Mungkin aku juga menyayangimu, mungkin aku juga mencintaimu. Tapi Donghae lebih membutuhkan aku, tanpa aku dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sedangkan kau, kau lelaki yang hebat, kau bisa mencari banyak penggantiku, kau pasti masih bisa hidup tanpa aku." gumam Sungmin lembut.
Ketika Kyuhyun membuka matanya, kesakitan dan kepedihan yang terpancar di dalamnya begitu mengiris hati Sungmin,
"Jadi aku dikalahkan karena aku hebat?" suara Kyuhyun terdengar begitu pedih,
"Apakah aku harus luka parah seperti Donghae dulu biar kau memilihku?"
"Kyuhyun!" Sungmin berseru spontan, terkejut, "Jangan pernah... jangan pernah berpikir seperti itu, kau... kau pasti bisa memahami keputusanku."
Kyuhyun melihat air mata Sungmin yang mengalir dan mengusapnya lembut,
Kemudian Kyuhyun merangkum pipi Sungmin dengan kedua tangannya, menghadapkan wajah mungil pucat pasi itu agar mau menatap matanya.
Mereka bertatapan. Yang satu penuh air mata, yang lain penuh tekad, saling memandang dalam keheningan,
Lalu sebuah senyum kecil muncul di bibir Kyuhyun,
"Dasar perempuan kecilku yang bodoh, kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Cukup dengan kau bahagia. Itu saja, kau mengerti? Sekarang hapus air matamu itu dan tersenyumlah!"
-KyuMin-
Sejak saat itu Kyuhyun seolah-olah menghilang dari kehidupan Sungmin, Sungmin merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa mereka pulang ke apartemen.
Hari ini Donghae sudah boleh pulang dari rumah sakit, bersama Kibum dan suster Sunny mereka pulang ke apartemen. Suster Sunny memutuskan untuk tinggal sementara membantu Sungmin, dan Kibum sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi Donghae dan melakukan terapi rutin.
Kata Dokter Kibum, Kyuhyun memutuskan mengambil tugas perjalanan ke eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama.
Dada Sungmin terasa nyeri, ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri, Oh ya, dia merindukan Kyuhyun, sangat merindukannya. Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Sungmin mencintai Kyuhyun. Dia tidak tahu kapan perasaan ini bertumbuh. Dia hanya tahu dia mencintai Kyuhyun, itu saja.
"Aku tidak menyangka bosmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik, meminjamkan apartemennya", Donghae memecah keheningan, menatap Sungmin dengan sedikit menyelidik, dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Sungmin begitu murung,
"Aku yang membujuknya", Kibum yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Sungmin pasti kebingungan dengan pertanyaan Donghae itu,
"Kyuhyun adalah sahabat suamiku, aku bilang merawatmu penting bagiku, karena kamu adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Kyuhyun mau meminjamkan apartemen itu, toh apartemen itu tidak terpakai."
Diam-diam Sungmin dan suster Sunny menarik napas lega mendengar kelihaian dokter Kibum dalam menjawab.
Mereka sampai di apartemen, dan Sungmin mendorong kursi roda Donghae memasuki ruangan itu.
Begitu mereka masuk tanpa sadar Sungmin mengernyit, semua kenangan itu seolah-olah menghantamnya. Di sini, di apartemen ini dia menghabiskan waktu berdua dengan Kyuhyun, makan malam bersama, bercakap-cakap bersama….
"Apartemen yang sangat bagus, kita beruntung Sungmin, bos mu sangat baik."
Donghae mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Sungmin sambil tersenyum, Mau tak mau Sungmin memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah ia berada di sini? Apalagi di kamar itu... Sungmin melirik kamarnya, tempat Kyuhyun juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana. Tidak! dia tidak mau masuk lagi ke kamar itu!
Dengan cepat dan efisien mereka menyiapkan segalanya sehingga Donghae selesai di terapi dan beristirahat di kamarnya. Suster Sunny menjaganya sebentar, lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, berjanji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.
Setelah memastikan Donghae tertidur pulas, Kibum menyeduh teh dan mengajak Sungmin duduk di ruang depan.
"Dia sudah kembali dari eropa." Kibum membuka percakapan, menatap Sungmin dari atas cangkir kopi yang diteguknya.
Seketika itu juga hati Sungmin melonjak, tahu siapa yang di isyaratkan sebagai 'dia' itu.
"Apakah dia baik-baik saja?" Tanya Sungmin pelan.
Kibum tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Sungmin,
"Kau itu baik hati ya, sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tetapi masih saja mencemaskannya," dengan pelan Kibum meletakkan cangkirnya, "Yah, dia baik-baik saja, sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka, tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya dalam radius 100 meter kalau dia sedang mengeluarkan aura pemarahnya, bahkan direktur keuangan memilih berhubungan dengannya via telepon," Kibum terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius melihat kesedihan Sungmin,
"Yah... dengan melupakan fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia, sepertinya dia baik-baik saja."
Sungmin memalingkan wajahnya dengan pedih,
"Dia menderita Sungmin..." desah Kibum kemudian, "Aku tidak pernah melihatnya seperti ini sebelumnya."
"Sudah..." Sungmin tidak tahan lagi mendengarnya, penderitaan Kyuhyun serasa mengiris-iris hatinya, "Sudah aku tidak mau mendengar lagi."
Kibum menarik napas,
"Tapi tadi dia memintaku menyampaikan pesan kepadamu."
Kata-kata Kibum yang menggantung membuat Sungmin menoleh, tertarik,
"Pesan?"
Kibum menggangguk,
"Ya, sebuah pesan... malam ini jam delapan, ditunggu di restourannya," lalu Kibum menyebutkan nama sebuah hotel, Dan Sungmin mengernyit, hotel tempat pertama kali dia bersama Kyuhyun.
-KyuMin-
Sungmin merasa tidak nyaman, pakaiannya terlalu biasa-biasa saja untuk ukuran hotel yang mewah ini. Dia berdiri dengan kikuk di lobby, tak tahu harus berbuat apa.
Entah dorongan apa yang membuatnya datang menemui Kyuhyun malam ini. Dia tahu dia nekat, seperti memancing iblis untuk membakarnya. Tapi dia tidak bisa menahan diri. Dia ingin bertemu Kyuhyun, walaupun mungkin ini untuk terakhir kalinya.
"Bisa dibantu nona?" Lelaki petugas hotel itu datang menghampiri, sepertinya melihat kebingungan Sungmin,
"Eh saya...saya Sungmin...saya sudah ditunggu..."
"Nona Sungmin," petugas itu berubah sopan dan membungkukkan tubuh,
"silahkan, anda sudah ditunggu, mari saya antar."
Dengan ragu Sungmin melangkah mengikuti petugas hotel itu, memasuki restaurant yang tertata dengan mewah dan elegan.
Dan disanalah Kyuhyun, duduk dengan pakaian resminya, mata Kyuhyun sudah melihatnya ketika dia memasuki ruangan. Dan tidak lepas memandanginya dengan tajam setelahnya.
Ketika Sungmin mendekat, Kyuhyun berdiri dengan sopan lalu duduk lagi setelah Sungmin duduk,
Hening sejenak, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Terimakasih sudah datang." gumam Kyuhyun lembut,
Sungmin mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat kelembutan tatapan Kyuhyun.
"Mungkin ini untuk terakhir kalinya, mungkin setelah ini aku tidak akan datang lagi." gumam Sungmin pelan.
Kyuhyun menggangguk,
"Setelah ini aku tidak akan pernah memintamu datang lagi."
Hening lagi. Sampai pelayan membawakan makanan pembuka, mereka makan malam dalam diam.
Sampai kemudian Kyuhyun menuangkan wine ke gelas Sungmin,
Sungmin mengernyit,
"Aku tidak pernah minum alkohol."
Kyuhyun tersenyum menggoda, senyum pertamanya malam itu,
"Tenang saja, aku akan menjagamu. Kemungkinan terburuknya mungkin kau diperkosa saat mabuk."
Pipi Sungmin langsung merona dan Kyuhyun terkekeh.
Anggur itu mencairkan segalanya, suasana menjadi hangat, dan percakapan mereka mengalir lancar, Kyuhyun menceritakan tentang perjalanannya ke Eropa dan Sungmin mendengarkannya dengan penuh minat.
Sampai kemudian, Kyuhyun menggenggam tangan Sungmin lalu mengecupnya,
"Aku ingin memelukmu."
Hanya satu kalimat, tapi Sungmin mengerti. Dia menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dia menyetujuinya. Mungkin karena wine itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti Sungmin juga ingin merasakan pelukan Kyuhyun.
Dengan lembut Kyuhyun menghela Sungmin, melangkah ke lantai atas, Ketika Kyuhyun membuka pintu kamar, Sungmin menatap Kyuhyun bingung, dan Kyuhyun tertawa menyadari kebingungan Sungmin,
"Yah... kamar yang sama... Kuakui... aku memang agak sedikit sentimental,"
Kyuhyun mengangkat bahu, pipinya sedikit merona, "Kupikir... tempat saat pertama akan cocok untuk menjadi tempat saat terakhir kita."
Sungmin tersenyum lembut, dan membiarkan Kyuhyun membimbingnya memasuki kamar,
Mereka berdiri dengan canggung, sampai Kyuhyun mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya,
"Aku membawa cincin keluargaku, cincin yang diberikan turun-temurun untuk pengantin perempuan," dengan tenang dia membuka kotak itu dan menunjukkan cincin dengan berlian biru yang mungil dan cantik, "Aku ingin memberikannya kepadamu."
"Tidak!" Sungmin langsung berseru keras, menolak, "Jangan Kyuhyun, itu... itu cincin yang sangat penting, itu untuk pengantin wanitamu!"
"Bagiku, kaulah pengantin wanitaku," Kyuhyun menarik tangan Sungmin, memaksa memasangkan cincin itu ketangannya, lalu menggenggamnya erat-erat ketika Sungmin berusaha melepaskan cincin itu, "Aku ingin kau memilikinya."
"Kyuhyun..." Sungmin merintih penuh penderitaan, penuh air mata, Dan Kyuhyun mengusap air matanya lembut, mengecup air matanya lembut,
"Sungmin," bisiknya seolah kesakitan, lalu mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan, "Astaga... Min... Betapa aku merindukanmu..." Ciumannya semakin dalam, semakin bergairah, semakin penuh kerinduan, tak tertahankan...
.
.
.
TBC
Maafin aku yang telat update ini :'(
Thanks buat : In na, GS Lovers, asdfghjkyu, fadilah umar dhani, inna, guest, anfani ELFishy, yopra, Audrey musaena, sjfFar, abilhikmah, heppynez, nuricha4, dll..
