^^Bad Marriage^^
Chapter 11 : It's Alright
Main Pair : ChanBaek
Other Pair : Seiring berjalannya cerita
Genre : Romance, Hurt/Comfrot, And Humor
Rated : T+
Dicslaimer : FF ini asli milik saya
Summary : Park Chanyeol yang mengaku normal harus menikah karena perjodohan gila orang tuanya. Ia di jodohkan dengan Byun Baekhyun, si namja cantik yang sedikit berandalan sekaligus teman sekelasnya. bagaimana kehidupan setelah mereka menikah? ternyata, ada satu rahasia yang tak pernah diketahui Baekhyun tentang dirinya sendiri. apakah itu?
Warning : GaJe, Yaoi, Typos, Bahasa Menyesuaikan, EYD berantakan.
.
.
.
^^BerryKyu^^
.
.
.
Presents
.
.
.
^^BerryKyu^^
"Semua akan baik-baik saja…"
2,5 Months Later
Baekhyun menekan tombol yang ada di atas remot dengan teratur, mencari channel TV yang bisa membuatnya terhibur. Namun, tak ada satupun yang membuatnya tertarik, ditambah perutnya yang besar itu membuatnya sedikit tak nyaman. Tentu, ini adalah pengalaman pertamanya dalam mengandung.
"Ugh!" Baekhyun menghentikan aktifitasnya dan refleks mengelus perutnya yang ditendang kecil oleh sang buah hati.
"Kau kenapa, Baby? Hm?" Baekhyun mengelusnya hingga bayinya itu perlahan berhenti melakukan tendangan di dalam sana.
"Kita sama, Baby. Sama-sama kebosanan. Huh!" Baekhyun perlahan beranjak dari sana, kemudian masuk ke dapur. Entahlah, ia juga tak tahu harus berbuat apa di sini.
Baekhyun berputar, tanpa harus tahu berbuat apa. Ia juga membuka kulkas, tapi ia kembali menutupnya lagi saat tak ada makanan yang membuatnya berselera.
Baekhyun mendengus kesal. Ia melirik arloji yang tersemat pada pergelangan tangan kirinya.
12.05 PM
Bahkan, ini masih sangat terlalu awal, jika meminta Chanyeol untuk pulang menemaninya. Sebenarnya, sejam yang lalu, Baekhyun telah menghubungi Chanyeol di tengah kesibukan pria tampan itu, namun itu tak membuatnya merasa puas sama sekali. Tapi, sungguh, ia tak mau mengganggu suami tercintanya itu.
Apalagi, akhir-akhir ini, Chanyeol sering sekali membolos karena permintaan nya. Ralat! Permintaan bayi mereka lebih tepatnya.
Baekhyun mendudukan dirinya di kursi makan, lalu merogoh saku celana kebesarannya, mengambil ponsel yang tersemat di dalamnya.
Baekhyun saat ini sudah tak boleh mengenakan celana yang terlalu ketat, apalagi ketat pada bagian pinggangnya, karena dapat mempersempit rongga di dalam perutnya dan nantinya akan mengganggu bayinya. Dan, ia tak mau itu terjadi!
Baekhyun menurun-naikan jarinya pada nomor-nomor orang yang ada di kontaknya. Ia juga bingung, siapa yang akan dihubunginya. Dan, jarinya berhenti ketika melihat nama Luhan yang bertengger di depan matanya. Dengan ragu, Baekhyun menekan nomor Luhan dan menghubungi pria cantik serupa rusa itu.
"Ada apa, Baek?" Suara di seberang sana mendahuluinya.
"Tidak ada. Aku hanya sedikit merasa kebosanan," Sahut Baekhyun diiringi nada yang dibuat-buat. Luhan yang mendengarnya merasa gemas sendiri.
"Begitukah? Kau bisa datang ke apartment lagi, jika kau mau. Kebetulan, kami akan membuat pesta kecil untuk kami berempat." Ucap Luhan sedikit tertawa renyah.
"Pesta? Bukannya ulangtahun kalian berempat sudah lewat?" Tanya Baekhyun heran.
"Ei? Memangnya pesta hanya dibuat untuk ulangtahun dan acara-acara penting saja? Pesta versi kami, tentu saja berbeda. Haha" Baekhyun melongos serta memutar bola matanya malas.
"Jangan bilang, kalian akan pesta menonton film yadong!" Tebak Baekhyun yang sebenarnya meragu, namun tawa malu-malu dari Luhan membuatnya semakin yakin.
"Bukan film yadong. Tapi, film Fifthy Shades Of Grey." Baekhyun memasang wajah datarnya.
"Sama saja, Bodoh!" Hardik Baekhyun dengan wajah datar yang mengiringinya.
"Hehehe. Bagaimana? Kau ingin ikut, sekalian saja bawa Chanyeol juga. Siapa tahu kita bisa 'melakukannya' secara bersama-sama agar semakin ramai dan panas." Luhan berseru nakal. Tak ayal, perkataan Luhan dapat membuat rona merah tomat itu bersemu di pipunya dan merambat hingga ke daun telinganya.
"Jangan dengarkan dia! Aku akan membakar TV, jika mereka tetap menjalankan pesta sialan itu!" Samar-samar, Baekhyun dapat mendengar pekikan histeris dari Kyungsoo yang tak jauh dari Luhan.
"Diamlah, Burung hantu! Dan, aku akan tetap mengadakan pesta itu!" Ucap Luhan mutlak pada Kyungsoo yang berada tepat di sisi kanannya. Kyungsoo memasang wajah bengisnya, lalu menjambak rambut Luhan. Luhan meletakkan ponselnya di tempat aman, kemudian menyahuti jambakan dari Kyungsoo.
Sehun yang tak jauh dari kedua pria yang tengah asik-asikan bertarik rambut layaknya bermain tarik tambang itupun meraih ponsel Luhan yang tergeletak begitu saja oleh pemiliknya.
"Baekhyun hyung, kalau kau mau datang saja. Kami sudah menyiapkan beberapa popcorn serta 'mainan' yang mungkin di perlukan Chanyeol hyung guna-"
Tut. Tut. Tut.
Baekhyun memutuskan sambungan telepon itu dengan wajah datarnya dan sorot mata yang kosong. Menelpon diantara keempat anak bebek itu memang tak berguna sama sekali. Malah, ia ditambah semakin mengeluarkan tanduknya.
"Sekarang apa yang harus kulakukan?!" Baekhyun mengusap wajahnya kasar. Kemudian, melipatkan tangannya di atas meja dan menyembunyikan wajah cantiknya di dalam lipatan tangannya itu. Yah, sekarang ia benar-benar tak tahu apa yang harus di lakukan untuk menuntaskan rasa bosannya ini.
Baekhyun kembali mendirikan kepalanya dan bermain pada ponselnya. Ia membuka kontak nomor dan menggesernya ke atas, membuat nomor-nomor tersebut terlewat dengan cepat hingga mencapai nomor yang paling bawah.
Baekhyun mematikan ponselnya dan memasukannya ke dalam saku celananya lagi. Iapun beranjak dari sana dan menuju kamar utama, kamarnya bersama Chanyeol.
Lagi, ia hanya berputar di sana, tak tahu apa yang harus di lakukannya. Baekhyun membuka lemari pakaian, ia menatap bagian pakaian Chanyeol dengan mata yang berbinar.
Tanpa disadarinya, Baekhyun mengambil satu kemeja milik Chanyeol, lalu meletakkannya di atas ranjang. Baekhyun beralih membuka pakaiannya, kemudian memakai kemeja milik Chanyeol yang tentu saja sangat besar di tubuhnya.
"Kekeke..." Baekhyun terkekeh geli melihat pantulan dirinya di depan cermin besar yang terletak di ujung kamar. Kemeja kebesaran milik Chanyeol, di tambah celananya yang juga kebesarannya dan perutnya yang membuncit, membuat tubuhnya benar-benar tenggelam dan bulat seperti badut.
Nyut~
"Engh!" Baekhyun melenguh ketika merasakan bayinya menendang perutnya lagi. Baekhyun tersenyum menatap perutnya yang ikut terpantulkan di cermin.
"Apa kau senang, Baby?" Monolognya pada sang bayi. Senyuman manis di bibir tipisnya belum menghilang. Sedangkan, kedua tangannya masih tengah asik mengelus perutnya.
Baekhyun membuka kancing kemeja tersebut dan menggantinya dengan pakaiannya semula. Ia melipatnya lagi dengan lipatan yang sangat rapi, kemudian meletakkan kemeja itu lagi di tempat semula.
Namun, sebelum ia memasukannya ke dalam lemari, Baekhyun mengerinyitkan dahinya tatkala melihat sebuah barang yang terletak di belakang kemeja-kemeja Chanyeol dan itu sukses menyita perhatiannya.
Baekhyun melupakan niat awalnya untuk mengembalikan kemeja itu ke tempatnya. Barang itu adalah beberapa amplop cokelat dan satu map berwarna hijau. Kerutan di dahi Baekhyun kian bertambah setelah mengetahui asal dari amplop beserta map itu.
Seoul International Hospital
Bukannya ini adalah tempat Taehyung di rawat. Yang lebih membuatnya heran, tanggal penyerahan amplop ini tak terlalu lama. Seharusnya jika Taehyung benar-benar sudah sembuh dan hanya tinggal menunggu pemulihan, pihak rumah sakit tak perlu memberikan amplop serta map ini. Sebenarnya ada apa ini?
^^BerryKyu^^
8.30 PM
Kini Chanyeol dan Baekhyun tengah duduk berhadapan di ruang TV. Suasana canggung menyelimuti mereka.
Chanyeol menatap Baekhyun yang hanya diam sembari menatapnya, tanpa mengeluarkan ekspresi yang bisa membuat Chanyeol membaca pikirannya. Chanyeol pun tidak mengetahui, mengapa Baekhyun tiba-tiba saja bersikap dingin dan datar seperti ini padanya.
"Yeol..." Panggil Baekhyun dengan nada yang datar. Chanyeol kembali menatap Baekhyun dengan ragu. Chanyeol dapat melihat sorot terluka dari hazel caramel itu.
"Aku ingin menjenguk Taehyung. Aku tak peduli, jika kau tak mengijinkanku!" Putus Baekhyun mutlak. Sontak, Chanyeol dibuat terkejut setengah mati.
"B-Baek. Dengar! Aku-"
"Aku apa, Yeol?" Baekhyun menundukan kepalanya, menahan air mata yang sebentar lagi akan menuruni pipinya.
"Sayang, aku tahu kau sangat merindukan Taehyung. Tapi-" Lagi, Baekhyun kembali memotongnya.
"Hentikan dramamu, Yeol! Kumohon, hentikan semua skenario dan segala kebohonganmu itu." Seketika itu juga, Chanyeol merasa seperti sebuah halilintar menerjangnya.
"S-Sayang."
"Aku tahu semua itu, Yeol. Kenapa kau tega menyembunyikan semua ini dariku! Aku merasa tak berguna untuk menjadi 'mommy'!"
Baekhyun meletakkan beberapa map besar yang berisi laporan tentang kondisi Taehyung ke atas meja dengan sangat akuat menimbulkan sedikit bunyi yang keras.
Chanyeol masih terdiam. Mulutnya seolah terkunci. Perasaannya benar-benar tertohok.
"Aku ke kamar dahulu," Baekhyun mninggalkan Chanyeol di sana sendiri. Baekhyun sungguh menginginkan ketenangan untuk beberapa waktu ke depan.
Malam itu, mereka tidur saling membelakangi. Entahlah, keduanya sama sekali tak tertidur hingga mentari mulai menampakan sinarnya. Baekhyun, ia tak tahu apa yang ia sendiri harus lakukan. Ia masih merasa kecewa pada Chanyeol. Sangat kecewa.
Sarapan juga di penuhi oleh keheningan dan kecanggungan. Suasana inilah yang paling di benci keduanya. Mereka seolah tengah berada diambang akhir dari cerita.
"Chan." Sendok Chanyeol yang baru saja akan masuk ke dalam mulutnya tiba-tiba terhenti kala suara indah nan lembut itu mengalun di telinganya.
"Ya?" Sahut Chanyeol sedikit tergagap. Yeah, karena efek suasana canggung itu. Ah, ini sama sekali tak menyenangkan.
"Setelah ini, tolong antarkan aku ke tempat Taehyung sekarang." Ucap Baekhyun masih tetap fokus terhadap makanannya, namun Chanyeol tahu, lelaki cantik itu tengah menyembunyikan setitik air mata darinya. Ia sadar akan hal itu.
"Baik, Baek. Aku akan mengantarimu ke tempat Taehyung." Air mata Baekhyun jatuh di piring yang berisi roti selai strawberry miliknya sendiri. Ini bahkan sulit dari yang Chanyeol bayangkan.
Menjawab ucapan Baekhyun menambah rasa bersalahnya. Mendrama sekali, bukan?
^^BerryKyu^^
Kini, mereka telah berada di samping ranjang Taehyung. Ketiganya membisu, hanya elektrokardiograf yang bermelodi memberitahu masih adanya kehidupan pada bocah manis yang tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit sembari menutup matanya.
"Tae..." Lirih Baekhyun. Jemari lentiknya meraih tangan Taehyung yang tak terbaluti oleh jarum infus. Baekhyun dapat merasakan dingin saat tangannya menyentuh tapak tangan Taehyung.
Chanyeol sedikit melangkah mundur, ia menundukkan kepalanya. Melihat moment di depannya mmbuat jantungnya seperti tertohok.
"Chan..." Kali ini Baekhyun memanggilnya. Chanyeol mendongak tanpa menyahuti panggilan Baekhyun. Entahlah, lidahnya kelu untuk mengeluarkan satu patah kata, bahkan deheman pun ia tak sanggup mrngeluarkannya.
"Aku memang kecewa padamu. Sangat..." Baekhyun menggantungkan kalimatnya.
"Tapi, aku tak mempunyai alasan untuk marah padamu, Chanyeol." Baekhyun semakin melirih. Pria cantik itu dapat mendengar derap langkah Chanyeol di belakangnya, mendekatinya.
Chanyeol menyelipkan kedua tangannya di antara pinggang ramping itu, memeluk sosok mungil itu dari belakang. Ia meletakkan dagunya di bahu sempit pria cantik itu.
"Maafkan aku, Sayang..." Bisik Chanyeol. Rematan Baekhyun pada tangan Taehyung mengerat, namun masih terkesan lembut. Baekhyun berusaha menahan air matanya.
Dia adalah seorang lelaki, dan dulu ayahnya selalu berkata lelaki yang menangis adalah lelaki pengecut berjiwa wanita.
Baekhyun merasakan tautan tangan Chanyeol di perutnya semakin mengerat, ia juga merasakan bagaian bahunya terasa basah. Chanyeol menangis?
"Tsk! Kenapa kau menangis, Pengecut!" Baekhyun tertawa tak nyaman. Ia meletakkan tangan Taehyung, lalu berbalik, menghadap sang suami yang menatapnya dengan sorot bersalah yang luar biasa.
"Aku memang pengecut!" Baekhyun mengangguk, membenarkan pernyataan Chanyeol.
"Yeah. Kau memang pengecut, Chanyeol! Dasar pengecut!" Baekhyun berjinjit dan mengalungkan kedua tangannya di leher Chanyeol. Ia menangis di balik punggung Chanyeol. Ia mempunyai batasan untuk bertahan, dan sekarang, biarkan ia mengeluarkan seluruh emosinya.
Chanyeol mengeratkan pelukan mereka, ia dapat mendengar isakan tertahan dari mulut Baekhyun.
"Maafkan aku, Sayang..."
Tanpa di ketahui oleh mereka berdua, sebelah tangan Taehyung yang terbaluti infus bergerak sesekali dengan gerakan lemah.
^^BerryKyu^^
10 Days Later
7.30 AM
Baekhyun mengelap tangan Taehyung dengan handuk kecil. Sebuah senyum tipis terukir di bibir tipisnya. Ia senang. Jujur.
Meskipun, ia masih merasa kecewa pada Chanyeol, tapi ia tahu Chanyeol melakukan ini untuk bayi mereka. Tapi, untuk saat ini ia cukup senang, karena kondisi Taehyung perlahan membaik sejak ia merawat Taehyung, walau tak setiap saat.
Sudah dua kali, Taehyung menggerakan sedikit demi sedikit anggota badannya, namun bocah manis itu belum mau membuka matanya. Dan, setelah nanti Taehyung bangun dan kondisinya sudah pulih, ia akan menyegerakan operasi pita suara untuk anak angkatnya itu.
"Kau pasti bangun." Monolognya penuh dengan kepercayaan yang tinggi. Ia tahu, Taehyung akan kembali pada mereka dan akan sepenuhnya sembuh dari seluruh kesakitannya.
Baekhyun berbalik, berniat menaruh baskom yang berisi air hangat serta handuk itu ke dalam kamar mandi. Setelah kepergian Baekhyun, mata Taehyung terbuka perlahan, ia mengangkat tangannya yang terinfus, terasa sedikit kaku untuk di angkat. Tentu, sudah lama ia tak menggunakannya.
Baekhyun keluar dari kamar mandi sembari menunduk dan mengelap tangannya menggunakan sapu tangan miliknya. Senyuman masih terpampang di bibirnya. Ia kembali menyimpan sapu tangannya itu di saku celananya, lalu menghampiri ranjang Taehyung.
Namun, sebelum ia melangkah ke ranjang Taehyung ia mendongakan kepalanya dan seketika itupun ia merasakan dunianya berhenti berputar.
"T-Taehyung?" Lirih Baekhyun yang sudah tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi. Bahkan, untuk memanggil nama bocah manis itu ia sama sekali tak sanggup.
Taehyung menatapnya bingung. Seakan, ia tak mengetahui apapun dan... tak mengetahuinya? Tatapan itu seolah memandang seorang yang asing. Asing?
Kriet
Daun pintu berdecit, menandakan adanya seseorang yang masuk ke dalamnya, tetapi tetap tak membuat Baekhyun melarikan pandangannya dan tak bergerak dari posisinya.
"Selamat pagi, Ny. Park. Saya membawa grafik tentang Taehyung. Dan, pembengkakan pada otaknya perlahan berangsur membaik. Saya seperti tak percaya dengan apa yang-"
"Dia bangun..." Potong Baekhyun berbisik. Orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Dokter Han pun terdiam, tapi ia tak bisa menangkap semuanya, suara Baekhyun terasa sama di telinganya.
Dokter Han menatap punggung Baekhyun bingung. Ia berjalan ke sisi Baekhyun, mngikuti arah tuju mata Baekhyun saat ini. Dan, betapa terkejutnya ia melihat Taehyung yang sedang memandang mereka dengan pandangan yang tak bisa di jelaskan.
Dokter Han, segera berlari ke arah ranjang Taehyung, memeriksa kondisi Taehyung dengan alat kedokteran sederhana yang ia bawa.
Taehyung masih tetap memperhatikan Baekhyun, tak peduli Dokter Han yang memeriksanya. Tangannya bergerak ke atas dan membentuk beberapa huruf untuk menjadi kalimat. Kalimat untuk sang Mommy. Sebuah kalimat yang membuat Baekhyun merasa tertohok.
'Kau siapa? Aku tak mengenalmu!'
Baekhyun merosot ketika ia merasa seluruh tubuhnya seperti jelly. Semua terasa berkabut, di satu sisi ia bahagia karena Taehyung telah sadarkan diri, dan sisi lainnya bersedih karena Taehyung sama sekali tak mengingatnya.
Dokter Han yang sedang memeriksa keadaannya pun menghela nafas. Ia tahu semuanya ini pasti akan terjadi.
Ia berbalik, berniat akan menceritakn perihal Taehyung yang selama ini takut untuk disampaikannya kepada keluarga Park. Namun, hatinya lebih dulu mencelos saat melihat Baekhyun bersimpuh di lantai dengan wajah yang menunduk.
Taehyung menarik lengannya pelan, membuat Dokter Han kembali berhadapan dengannya. Jemarinya bergerak membentuk huruf-huruf yang akan menjadi sebuah kalimat. Dokter Han kembali menghela nafasnya tatkala mengetahui apa yang ingin dikatakan bocah manis itu.
"Siapa dia? Siapa kau? Dimana appaku?"
Dokter Han memberikan senyumannya pada Taehyung, ia tak menggubris pertanyaan-pertanyaan itu. Ia memilih untuk mendekati Baekhyun, menuntun pria cantik tersebut ke sofa putih tulang yang tak jauh dari ranjang Taehyung.
"Baekhyun-ssi, kau harus tahu satu hal ini. Tapi, untuk pertama kalinya, aku baru menemukan anak yang sekuat Taehyung. Aku salut padanya, pada waktu yang lalu ia berada di antara kematian dan kehidupan, namun seiring berjalannya waktu, ia bisa melewati semua ini dan kembali ke dunia ini. Tapi, ia harus kehilangan sebagian memorinya, dan ia hanya mengingat memorinya saat mengalami kecelakaan pertamanya. Ini di sebabkan oleh otaknya yang kurang mampu mengolah memori masa sekarangnya, dan ia hanya mengingat masa lalunya, atau masa dimana ia belum mengalami kecelakaan tersebut. Tapi, kalian tenang saja, ini hanya bersifat sementara. Mungkin, dua minggu lagi ia akan memingat semua memorinya." Tutur Dokter Han panjang-lebar diselingi senyum simpulnya.
"Benarkah?" Tanya Baekhyun lemah dan masih belum yakin dengan apa yang telah dituturkan dokter muda tersebut.
"Saya bisa pastikan itu!" Dokter Han mencoba untuk kembali menyakinkan Baekhyun.
"Hmmm... kalau begitu saya akan keluar untuk memantau pasien saya yang lainnya." Dokter Han pamit keluar dari ruang rawat Taehyung. Sebelumnya berpamitan terlebih dahulu kepada Baekhyun.
Baekhyun? Ia hanya membalasnya dengan anggukan semata. Lidahnya masih terasa kelu untuk di gerakan.
CEKLEK
Sebelum Dokter Han memegang knop pintu, seseorang telah terlebih dahulu membukanya dari luar.
"Aku dat- Dokter Han?" Dahi Chanyeol mengerut. Ia masuk ke dalam ruang rawat Taehyung dan mensejajarkan posisinya tepat di depan Dokter Han.
Dokter Han tersenyum, menambah kerutan di dahi Chanyeol. "Perjuanganmu berhasil. Selamat." Setelah mengucapkan hal tersebut, dokter muda tersebut langsung keluar dari sana, meninggalkan Chanyeol yang termangu sendiri.
"Engh... Sayang, kau tahu maksud Dokter Han tadi?" Chanyeol menghampiri Baekhyun yang masih terduduk di sofa putih tulang itu. Tak menyadari bahwa mata kecil itu tengah memperhatikannya dengan ekspresi bingungnya.
"Sayang? Baekhyun? Park Baek-" Bibir Chanyeol berhenti mengumandangkan panggilan-panggilannya terhadap Baekhyun, ketika pria cantik yang berada di sebelahnya itu menangkupkan kedua tangannya di rahang Chanyeol lalu memutarnya beberapa derajat.
Mata besar Chanyeol semakin membesar tatkala melihat Taehyung yang tengah membalas tatapannya.
"Tae-Taehyung?" Lirihnya terbata-bata. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali guna memantapkan penglihatannya.
Chanyeol berlari menghampiri ranjang rumah sakit yang kini ditempati oleh Taehyung. Taehyung memandangnya bingung, seperti tak mengenalnya. Ada apa ini?
"Taehyung, kau sudah bangun?" Tanya Chanyeol yang senang luar biasa. Ah, kau tak akan pernah tahu bagaimana besarnya rasa senang ini, bahkan ini lebih membahagiakan daripada mendapatkan mobil mewah pertamanya saat ia ulang tahun ke-17.
"Baek, kenapa Taehyung memandangku seperti itu? Seolah, ia tak mengenaliku," Baekhyun tak menjawab. Pria cantik itu bergeming di tempatnya, sorot matanya menyorot kosong.
Chanyeol mendekati Baekhyun, memposisikan dirinya tepat di samping Baekhyun.
"Apa yang terjadi dengan Taehyung, Sayang?" Baekhyun membungkam dan semakin menundukan kepalanya.
"Bicaralah, Sayang. Kau membuatku penasaran!" Ujar Chanyeol mengacak rambutnya sendiri. Baekhyun menoleh ke arahnya, menatapnya sendu membuat Chanyeol merasakan nyeri pada jantungnya.
"Taehyung melupakan kita untuk sementara." Chanyeol mengernyitkan dahinya.
"Maksudmu, dia amnesia?" Baekhyun menganggukkan kepalanya lemas. Chanyeol menghela nafas panjangnya, kemudian sebelah tangannya merangkul pundak Baekhyun, membawa pria cantik itu ke dalam pelukannya.
"Kau tak perlu bersedih, Sayang. Itu hanya amnesia jangka pendek. Kau tak perlu khawatir, Taehyung akan mengingat kita lagi. Mengingatmu dan aku sebagai orang tuanya," Chanyeol berusaha menghibur pria cantik itu sembari mengelus surai sutranya.
"Benarkah?" Chanyeol tersenyum manis, amat manis.
"Itu kenyataannya, Sayang," Baekhyun menghela nafas leganya. Setidaknya, persaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Terima kasih, Chan," Cicit Baekhyun yang kini berada di dalam dekapan Chanyeol.
"Apapun untukmu, Sayang." Baekhyun mendengus kesal dan itu membuat Chanyeol terkikik geli. Namun, sepertinya sebentar lagi mereka akan...
BRAK!
... kedatangan manusia yang tak di undang.
"BAEKKIE! YEOLLIE!" Ini bencana. Sungguh. Empat anak bebek itu datang saat waktu yang tak tepat.
Taehyung yang sedari tadi menatap Chanyeol dan Baekhyun menjadi menatap pintu kamar rawatnya yang di banting empat ah maksudnya dua pria yang lebih pendek dari dua pria di belakangnya.
"Shit! Mereka mengganggu!" Geram Baekhyun yang melepaskan pelukan Chanyeol dengan paksa. Chanyeol hanya tersenyum kecil melihat jiwa iblis dalam tubuh Baekhyun kembali bangun.
"Yak! Apa yang kalian lakukan?!" Keempat anak bebek itu terdiam dan saling berpandangan. Ada yang salah dengan pria cantik itu?
"Mengunjungi Taehyung, tentu saja." Si mata burung hantu menjawabnya sambil berkacak pinggang.
"Kyungsoo, Sehun, Jongin! Lihat! Taehyung sudah bangun," Itu Luhan yang memekik tertahan. Baekhyun memijit pangkal hidungnya.
"Woah, benarkah?! Ah, lihatlah betapa manisnya dia." Si hitam menimpalinya. Oh Tuhan, Taehyung itu baru bangun dari komanya, bukan seorang bayi yang baru lahir.
"Ini keajaiban!" Cicit si wajah datar, Sehun.
"Dia sudah bangun!" Si burung hantu ikut memekik tertahan.
Chanyeol bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah Baekhyun, melingkari tangannya di pinggang Baekhyun.
"Tapi, ia melupakan kami dalam jangka pendek." Keempat anak bebek itu terdiam.
"Amnesia?!" Tanya keempatnya dengan serempak. Chanyeol dan Baekhyun mengangguk serempak.
"Bagaimana bisa?!" Luhan seolah tak percaya dengan apa yang terjadi pada Taehyung.
"Yah, seperti yang kau tahu. Pembengkakan itu penyebab utamanya." Jawab Baekhyun dengan mengulum bibirnya di akhir kalimat.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu, Baek," Kyungsoo mengelus lengan kanan Baekhyun. Baekhyun tersenyum lebar hingga memperlihatkan eyesmilenya.
"Tak apa. Lagipula, ini hanya bersifat sementara." Chanyeol menaikan tangannya ke bahu Baekhyun, mengelus lengannya dengan lembut. Chanyeol tahu, lelakinya itu masih dilingkupi rasa kecewa karena Taehyung melupakan mereka.
"Tenang saja. Semua akan baik-baik saja," Ucap Chanyeol tersenyum manis. Baekhyun pun begitu.
"Ngomong-ngomong, perutmu semakin besar saja, Baek." Jongin menunjuk ke arah perut Baekhyun dengan sedikit meringis.
"Ah ya, ini sudah memasuki bulan ke-enam," Baekhyun menyahutinya dengan sangat antusias sembari mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Dan, dokter bilang anak kami kembar," Timpal Chanyeol dan diangguki Baekhyun.
"Woah, sekali hajar dapat dua." Ucap Sehun, mengundang gelak tawa di sana, kecuali Taehyung yang masih bingung dengan perbincangan dewasa yang ia lihat.
"Sehun, jangan membicarakan hal itu! Ada anak kecil, Sialan!" Luhan menjitak dahi Sehun dengan kuat. Sehun yang mendapat jitakan gratis hanya bisa meringis.
"Baiklah, Prince-ss,"
"Shit! Hentikan panggilan itu, Sehun! Aku mual mendengarnya!" Geram Luhan setengah berbisik. ChanBaek dan KaiSoo kembali tertawa melihat perkelahian pasangan absurd itu.
^^BerryKyu^^
Sekarang pukul 8 malam, Sehun, Luhan, Kyungsoo, dan Jongin sudah pulang tadi sore. Mereka tak bisa tinggal lama dan harus segera pulang.
Kini tinggal mereka bertiga. Chanyeol, Baekhyun, dan juga Taehyung. Hanya saja, Taehyung sudah tertidur pulas di ranjangnya.
Baekhyun berdiri di sana, di sisi ranjang Taehyung sembari menatap nanar wajh tampan putra angkatnya itu.
Chanyeol dapat merasakan kesedihan dengan tatapan itu. Ia kembali teringat manakala Baekhyun memandang Taehyung untuk pertama kalinya. Ia begitu tertarik untuk mengadopsi anak itu. Chanyeol pun tak tahu, mengapa Baekhyun ingin sekali mengadopsinya.
"Sayang?" Panggil Chanyeol lirih dengan suara besarnya yang sedikit serak. Baekhyun tak menyahutinya. Mata pria cantik itu tetap menatap setiap inchi wajah putranya.
Chanyeol menyelipkan kedua tangannya di antara pinggang Baekhyun, memeluk pria tampan itu dari belakang. Ia memejamkan matanya tatkala aroma stroberi dari rambut Baekhyun tercium di indra penciumannya.
"Kau baik-baik saja?" Baekhyun mengangguk pelan. Tapi, Chanyeol tahu itu hanya kebohongan pria cantik itu saja. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Baekhyun, memberikan cinta lebih banyak lagi untuknya.
"Ia akan mengingat kita. Aku dan kau, Sayang." Baekhyun juga tahu itu. Hanya saja, ia terlalu kecewa pada dirinya sendiri, karena sudah membuat Taehyung seperti ini.
"Aku tahu," kata Baekhyun melirih. Ia menunduk, menjaga air matanya untuk tak mengalir. Wajah Chanyeol masuk ke dalam ceruk leher Baekhyun, meletakkan hidung mancungnya di perpotongan leher Baekhyun.
Biarkan mereka seperti ini, saling berdekapan, menyalurkan kekuatan masing-masing.
^^BerryKyu^^
Baekhyun terbangun dari tidur lelapnya dan menemukan dirinya tengah berbaring di atas sofa putih tulang dari ruang rawat Taehyung.
Ia menolehkan kepalanya ke samping. Baekhyun melihat Chanyeol tengah berbicara pada Taehyung dan putra mereka itu menjawabnya dengan tawa dan isyarat tangan.
"Katakan 'hai!' padanya! dia mommy-mu." Tukas Chanyeol yang sadar bahwa Baekhyun sudah terbangun dari tidurnya.
Taehyung mengangkat tangannya, lalu melambaikannya pada Baekhyun disertai senyum yang amat manis. Tanpa disadari Baekhyun sendiri, bibirnya tertarik ke atas.
Chanyeol menghampirinya dengan senyuman yang sangat tampan, lalu menduduki dirinya di sisi Baekhyun.
"Kau lihat? Ini tidak terlalu buruk, bukan?" Baekhyun mengangguk cepat. Rasa penatnya seolah terangkat begitu saja.
Chanyeol memeluknya dan itu membuat Baekhyun terkejut dengan pelukan tiba-tiba dari Chanyeol ini.
"Ada apa?" Tanya Baekhyun bingung. Apa Chanyeol salah minum obat atau apa?
"Tidak. Aku hanya ingin memelukmu!" Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya hingga membuat Baekhyun kesulitan untuk mengambil oksigen.
"Yak! Kau membuatku sulit bernapas!" Seru Baekhyun dengan suara yang seperti orang tercekik.
"Benarkah? Maafkan aku, Sayang," Chanyeol melepaskan pelukannya pada Baekhyun sembari terkekeh kecil.
"Termaafkan!" Sahut Baekhyun tetapi dengan nada yang sedik angkuh. Ia beranjak dari sofa, berjalan pelan menuju ranjang Taehyung, dimana anak itu aekarang sedang tersenyum ceria padanya. Ah, Baekhyun merasa seperti melupakan seluruh beban yang ia emban.
Chanyeol tersenyum haru ketika Baekhyun membawa Taehyung ke dalam sebuah dekapan. Mereka tersenyum bersama, bahkan Baekhyun meneteskan air mata harunya.
"Hei, aku boleh bergabung?" Tanya Chanyeol pura-pura tak melihat Baekhyun dan Taehyung. Baekhyun menggeleng-geleng disertai tawa kecilnya.
"Kemarilah!" Ajak Baekhyun, begitupun Taehyung yang melambaikan tangannya, mengajak Chanyeol bergabung. Chanyeol pun pergi ke sana dan membawa Baekhyun dan Taehyung ke dalam dekapannya.
"Aku mencintai kalian!" Ucap Chanyeol, lalu mencium puncak kepala Baekhyun dan Taehyung secara bergantian. Sedangkan, kedua orang dalam pelukannya hanya tersenyum tipis dan menikmati dekapan yang terasa hangat tersebut.
^^BerryKyu^^
12 Days Later
Dua belas hari telah berlalu, tapi Taehyung belum mengingat siapa itu Chanyeol dan Baekhyun. Namun, bocah itu sudah mendapatkan bayangan hitam-putih dari memorinya yang hilang. Dan, hari ini adalah hari Taehyung kembali ke rumahnya, rumah Chanyeol, Baekhyun, dan dirinya.
Baekhyun tengah mengepak pakaian mereka ke dalam tas punggung miliknya, sesekali bersiul kecil. Taehyung sudah terlelap, karena obat yang diminumnya.
Kriet
Tanpa Baekhyun menolehkan kepalanya, ia tahu bahwa yang masuk ke dalam kamar rawat Taehyung adalah Chanyeol. Tentu saja, pria tampan itu tak mau membuang momen ini, dimana keluarga kecilnya kembali bersama. Astagah, Chanyeol benar-benar tak dapat menguraikan perasaannya dengan kata-kata.
"Sayang, aku membawakanmu roti, kemarin malam kau belum makan, bukan?" Chanyeol menyodorkan roti yang masih berbungkus kepada Baekhyun. Tak mau membuat suami tampannya ini kecewa, Baekhyun pun mengambil roti tersebut dan meninggalkan kegiatannya untuk memakan roti yang dibawakan oleh Chanyeol.
"Terima kasih, Yeol." Ucap Baekhyun disertai dengan sebuah senyuman manis yang membuat Chanyeol tak bisa untuk tak membalas senyuman amat manis itu.
"Apapun untukmu, Sayang," Sahut Chanyeol yang menurut Baekhyun sedikit childish, tapi ia menyukai hal tersebut. Ada perasaan hangat yang menjalar di setiap sarafnya ketika Chanyeol bersikap childish seperti ini.
"Tch..." Baekhyun mendecih serta memutsr bola matanya malas, Chanyeol tertawa maklum.
"Hm, kau sudah mengepaki semuanya, Sayang?" Tanya Chanyeol yang melihat tas punggung milik Baekhyun di depannya.
"Hanya tinggal memasuki beberapa piyama milikmu, milikku, dan juga milik Tae," Jawab Baekhyun susah payah dengan kedua pipi yang mengembung besar. Ah, ingin sekali Chanyeol menggunyal pipi itu dengan bibirnya, ya itu jika ia mau mendapatkan dirinya dengan pipi yang membiru. Haha.
"Oh, aku akan melanjutkan kegiatanmu, Sayang. Duduk dan nikmati saja rotimu!" Chanyeol mengambil alih tas tersebut dari tangan Baekhyun dan mulai memasukan satu per satu piyama mereka yang masih tersisa di luar.
"Tapi, ... " Baekhyun ingin melayangkan protesnya, namun Chanyeol menghentikan kegiatannya lalu menatapnya intens, "Lakukan saja apa yang aku suruh, Sayang!"
Kalau sudah seperti ini, Baekhyun tak akan mampu melawannya. Pria cantik itu mengerucutkan bibirnya, lalu berjalan ke sofa, dan menikmati rotinya. Sedangkan, Chanyeol kembali melanjutkan aktifitasnya yang tertunda sebelumnya.
^^BerryKyu^^
Mereka telah berada dalam mobil untuk perjalanan pulang ke rumah. Chanyeol yang mengemudi, sedangkan Baekhyun berada di jok penumpang dengan Taehyung yang tertidur dalam pangkuannya.
Taehyung menggeliat dan semakin meringkuk ke dalam pelukan Baekhyun, mencari kehangatan di sana. Baekhyun yang mengetahui hal tersebut pun semakin mendekap erat tubuh mungil Taehyung dengan perutnya yang mulai membesar. Ia sungguh merindukan ini, mendekap tubuh mungil Taehyung.
Chanyeol melirik Baekhyun dan Taehyung dengan ekor matanya, kemudian ia tersenyum samar saat Baekhyun menempelkan kepalanya dengan kepala Taehyung dan sedikit menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri, membuat Taehyung semakin larut dalam mimpinya.
Wajah cantik Baekhyun penuh jiwa keibuan sekarang ini benar-benar membuat Chanyeol tak percaya. Mengapa? Baekhyun adalah seorang lelaki, dan seorang lelaki tak pernah mempunyai jiwa melindungi dan menyayangi seorang anak yang begitu besar bak kasih sayang ibu pada anaknya, seperti Baekhyun.
Ia harus berterima kasih baik itu pada Tuhan ataupun pada kedua orang tuanya, karena sudah menjadi perantara antara mereka berdua untuk menghubungkan benang merah di antara keduanya.
Kehadiran Taehyung melengkapi kehidupan mereka, memberikan warna di dalamnya. Dan, sebentar lagi, warna itu akan semakin menyebar dengan kehadiran dua bayi sekaligus.
Chanyeol dan Baekhyun selalu berharap, ini akan menjadi terakhir kalinya mereka menangis dan tersiksa. Semoga saja Tuhan mengabuli semuanya dan membiarkan keluarga kecil mereka kembali bahagia seperti sedia kala, kalau perlu melebihi itu semua.
^^BerryKyu^^
Baekhyun meletakkan tubuh Taehyung dengan perlahan di ranjang yang sudah beralaskan bed cover bermotif luar angkasa. Kemudian, Baekhyun melepaskan jaket yang melekat pada tubuh Taehyung dengan berhati-hati, takut membangunkan malaikat kecilnya itu.
Baekhyun tersenyum kecil tatkala melihat Taehyung mendengkur halus dan mengecap lidahnya beberapa kali, lalu kembali terlelap.
"Sayang?" Panggil Chanyeol yang tengah berdiri di ambang pintu sembari melipatkan kedua tangannya di depan dada. Baekhyun tersenyum kepada suaminya itu dan menghampirinya.
Tanpa babibu lagi, Chanyeol membawa Baekhyun ke dalam pelukannya, Baekhyun terkesiap oleh perlakuan tiba-tiba Chanyeol. Ada yang salah?
"Maafkan aku, Sayang," Ucap Chanyeol lirih. Baekhyun mengerutkan dahinya, bingung dengan ucapan Chanyeol.
"Maaf? Untuk apa?" Tanyanya heran. Tentu saja Baekhyun heran, ia rasa Chanyeol tak ada melakukan kesalahan hari ini.
"Membohongimu tempo lalu." Pertama mendengarnya, Baekhyun tak mengerti apa maksud dari Chanyeol, namun sedetik kemudian ia mampu mengerti ucapan maaf Chanyeol tadi.
"Itu sudah berlalu, Yeol. Kau tak perlu mengungkit pasal itu kembali. Aku sudah memaafkanmu, sungguh ... " Baekhyun menepuk-nepuk punggung Chanyeol. Chanyeol melepaskan pelukannya dan beralih memegangi kedua lengan Baekhyun.
"Benarkah?" Tanya Chanyeol seakan tak yakin dengan jawaban Baekhyun. Pria cantik itu tersenyum serta mengangguk. "Percayalah, Yeollie!"
Baekhyun berjinjit, mengecup bibir Chanyeol, namun kecupan itu berubah menjadi ciuman ketika Chanyeol memeluk pinggang Baekhyun dan pria tampan itu juga mencondongkan badannya ke depan, membuat Baekhyun tak dapat menolak ciuman tersebut.
Lagipula, Baekhyun juga sudah lama tak merasakan hangatnya bibir Chanyeol. Jadi, ia lebih memilih mengalungkan kedua tangannya di leher Chanyeol. Kepalanya memutar ke kanan dan ke kiri dengan agresif, tak mau kalah dengan keagresifan suami tampannya itu.
Mereka berdua melepaskan tautan mereka, namun dahi mereka masih saling menempel. Saling melemparkan tawa masing-masing.
"Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku lebih mencintaimu, Yeollie!"
^^BerryKyu^^
3 Months Later
Tiga bulan berlalu sudah dan bulan ini tepat kandungan Baekhyun masuk bulan ke-8.
Saat ini, Taehyung tengah menempelkan telinganya pada perut besar Baekhyun. Ia tersenyum geli saat merasakan tendangan samar yang dirasakannya. Sedangkan, Baekhyun tengah mengelus surai kelam putranya itu.
Taehyung sudah mengingat kembali memorinya setelah dua minggu keluar dari rumah sakit. Dan, Baekhyun sukses menangis haru, karena Taehyung tiba-tiba memeluknya sambil menangis keras hingga wajahnya merah padam, tak berbeda jauh dengan respon Chanyeol.
"Bagaimana? Apa tendangannya terasa?" Tanya Baekhyun lembut. Taehyun mendongakan wajahnya, lalu mengangguk antusias.
'Dia menendangku begitu keras!' Baekhyun tersenyum kembali saat Taehyung memberikannya isyarat tangan tak kalah antusiasnya.
"Begitukah?" Taehyung mengangguk kembali. Ia kembali menempelkan telinganya pada perut Baekhyun. Ia suka ini, terasa menggelitik.
Senyuman Baekhyun sedikit demi sedikit berubah menjadi sebuah wajah yang tengah baru saja mengalami kesakitan, nafasnya terasa tercekat. Ia memegang perutnya dengan kedua tangannya, memeluknya.
"Arghhh!" Baekhyun mengerang keras ketika merasakan perutnya terasa sakit, seperti merasakan mulas yang begitu berlebihan. Apakah ini saatnya? Tapi, ini belum masuk bulan ke-9.
Taehyung yang mendengarnya pun panik bukan main. Wajah Baekhyun begitu pucat dan dipenuhi peluh sekitar pelipisnya.
"Tolong ambilkan ponsel Mommy, Tae ... arghh!" Dengan sigap, Taehyung merangkak dari tempatnya dan mengambilkan ponsel Baekhyun yang terletak di nakas.
Baekhyun mengambilnya dari tangan Taehyung, lalu menghubungi sang suami yang tengah berkutat di meja kerja kantornya.
"Sayang, ada apa?" Tanya suara di seberang sana.
"Yeol, aku pikir, aku akan melahirkan saat ini juga!" Jawab Baekhyun mendesah kesakitan.
"Bagaimana mungkin? Ini belum bulannya, Sayang?!" Baekhyun tak tahu bahwa sekarang ini orang yang tengah dihubunginya tengah panik setengah mati, bahkan Chanyeol sempat tersandung karena tak melihat empat anak tangga yang harus dilewatinya.
"Argh... aku tak tahu, Yeol. Tapi, ini sungguh sakit!" Baekhyun menangis. Ia tak kuat menahannya, tetapi ia berusaha untuk tetap terjaga.
"Baiklah, baiklah, Sayang. Tunggu aku!"
Baekhyun melemparkan ponselnya ke sisi kanannya dan mengalihkan kembali pandangannya pada Taehyung yang menunduk serta menangis diam.
"Oh tidak, jangan menangis, Sayang!" Baekhyun menarik Taehyung ke dalam pelukannya. Sebisa mungkin, ia menahan erangan kesakitannya guna mengurangi kekhawatiran dan kepanikan Taehyung.
"Chanyeollie, cepatlah!" Lirihnya seraya menggigit bibir bawahnya. Semakin lama, perutnya semakin membelitnya, menambah rasa sakitnya yang begitu luar biasa. Dan, di saat itu juga, Chanyeol masuk ke dalam kamar mereka dengan penampilan yang berantakan.
"Baekhyun!" Chanyeol menghampiri Baekhyun dan segera membawa Baekhyun ke dalam gendongannya.
"Tae, kau ikuti Daddy dari belakang, oke?" Taehyung mengangguk dan mengikuti intruksi Chanyeol.
Mereka memasuki mobil dengan Chanyeol yang di jok depan dan Baekhyun serta Taehyung yang menmaninya di jok belakang. Chanyeol membawa mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, pikirannya hanya penuh oleh 'Rumah Sakit'.
Taehyung semakin tak bisa membendung air matanya, manakala tautan tangan Baekhyun pada tangannya semakin mengerat dan juga wajah Baekhyun yang semakin memucat. Bibir tipis Baekhyun tak berhenti mengeluarkan lenguhan kesakitan yang membuat Chanyeol semakin panik.
Setelah sudah memparkirkan mobilnya dengan sembarangan, Chanyeol segera turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil di jok belakang, sebelumnya ia mngeluarkan Taehyung dahulu dari sana, sehabis itu ia pun mengangkat tubuh Baekhyun.
"Taehyung, kau ikuti Daddy dari belakang, ya?" Taehyung mengangguk dan mengikuti langkah lebar Chanyeol dengan berlari di belakangnya.
Branker pasien pun datang ketika mereka masuk ke dalam rumah sakit. Chanyeol meletakkan tubuh Baekhyun secara perlahan ke atas branker tersebut. Lalu, ia beralih menggendong Taehyung dan ikut membawa branker tersebut hingga di depan ruang operasi.
"Harap tunggu, Tuan." Ucap salah seorang perawat yang membawa branker Baekhyun tadi. Lalu, ia kembali masuk ke dalam ruang bedah tersebut.
Chanyeol panik, begitupun Taehyung yang tak berhenti menjatuhkan air matanya. Ia takut, bilamana terjadi apa-apa pada Baekhyun. Demi Tuhan, ia tak ingin itu terjadi, tapi bayangan tersebut semakin terasa nyata dalam pikirannya.
Chanyeol yang mengetahui hal tersebut, mencoba menenangi Taehyung yang tampak memucat dan bergetar.
"Tenanglah, Sayang. Mommymu akan baik-baik saja di dalam," Walaupun, ia mengatakan hal tersebut pada Taehyung, ia juga dalam hal yang sama. Khawatir dan panik. Oh Tuhan, ini untuk pertama kalinya dalam seumur hidup.
Chanyeol mendudukan dirinya di kursi tunggu dengan Taehyung yang berada di pangkuannya. Wajah mereka sama-sama menunjukan ketegangan yang berlebihan. Ingat? Ini untuk pertama kalinya bagi mereka menghadapi situasi sulit ini.
Mulut mereka tak berhenti melontarkan doa-doa untuk orang yang sangat mereka cintai tersebut ; yang kini tengah berjuang mati-matian dalam ruang bedah untuk melahirkan dua malaikat.
'Mommy, kau pasti bisa melewatinya. Kami, aku, Daddy, dan juga adik-adikku juga mencintai Mommy. Mommy, kau harus kuat dan bertahan demi kami. Kami mencintaimu,'
'Bertahanlah, Sayang. Aku dan Taehyung selalu menunggumu di sini. Kau bisa menghadapinya, Sayang. Demiku, Taehyung, dan kedua buah hati kita, bertahanlah. Kami di sini, menunggumu. Kami mencintaimu, Sayang, Park Baekhyun-ku."
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Akhirnya bisa update juga di FFN yah haha… DAN DUA CHAPTER LAGI BAKALAN SELESAI… Horayyyyyy!
Maaf yah, ini udah ngaret banget, soalnya nyelesain dulu di Wattpad haha… Thanks untuk yang ada sampai ke Wattpad dan untuk yang ngevomment di sana… Yang di FFN gak bakalan aku biarin aja kok… beneran…
Aku tahu ini mendrama sekali yah… hahaha… tapi, semoga kalian bisa terhibur dengan FF ini dan tidak ada kata malas untuk review FF ini…
Menulis tida semudah mereview, right? Maka dari itu, mohon meninggalkan review kamu…
Oke,,,,
PAI PAI~
