Tittle : Love Latte

Jongin, Kyung Soo (GS), Namjoon

~o0o~


...

Flashbeck end...

Jongin menghela nafas. Ia putus asa mendengar cerita Luhan yang menggantung. Kyung Soo sudah mengalami hal buruk dan itu karena dirinya. Ia bisa menangkapnya dari cerita itu. Jongin akhirnya bisa mengingat saat dia terbangun pada keesokan harinya, Kris datang dan memukulinya sekali lagi. Saat itu Luhan berteriak dan mengatakan kalau Jongin jahat. Tapi Luhan tidak mengatakan apa-apa. Ia bahkan tidak mau bertemu Jongin dalam waktu yang
lama.

"Kenapa kau baru menceritakannya kepadaku?" Tanya Jongin. Luhan berdehem.

"Aku tidak banyak tau pada waktu itu, yang ku tau saat itu Kyung Soo mengalami kecelakaan dan Namjoon menolongnya. Setelah itu Kyung Soo memintaku untuk tidak mengatakan apa-apa kepadamu selain kepergiannya keluar negri. Kyung Soo juga melarangku memberi tahukan kepadamu kalau dia berangkat ke Jepang. Sampai akhirnya dia kembali lagi ke Seoul sebagai orang yang baru dan pada saat itu barulah dia menghubungiku lagi semenjak keberangkatannya waktu itu. Makanya aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa kuliah di Seoul meskipun kampus kami berbeda. Sejak awal kedatanganku ke Seoul, Kyung Soo sudah sangat dekat dengan Namjoon. Aku kira selama ini mereka masih berhubungan. Dia banyak mengajarkan hal baru kepada Kyung Soo dan Kyung Soo menerimanya dengan baik. Mereka sempat bertengkar sengit karena Sbastian tapi segera berbaikan lagi. Dan kau tau apa masalah yang pada akhirnya membuatku mengetahui semuanya? Malam itu Kyung Soo membawa Namjoon datang ke flat kami, mereka langsung masuk ke kamarnya dan ku kira mereka biasa melakukannya sebelumnya meskipun bukan di rumah. Tapi yang ku dengar hanya teriakan Kyung Soo. Saat itu aku berusaha untuk masuk ke kamar dan aku melihat Kyung Soo
meringkuk ketakutan. Dia trauma, tidak bisa di sentuh oleh laki-laki manapun dan Namjoon juga baru mengetahuinya. Malam itu Namjoon benar benar mengutuki dirinya sendiri karena menuntut Kyung Soo untuk melakukan itu," Jongin memandangi foto yang ada di ponselnya sekali lagi.

Namjoon adalah laki-laki yang pernah di lihatnya di coffee shop tempat Kyung Soo bekerja saat pertama kali ia melihat wanita itu di Namdong-gu. Saat itu Kyung Soo tampak sangat bersedih, sekarang Jongin tau alasannya.

"Jadi karena itu dia dan Namjoon berpisah?" Luhan menggeleng.

"Namjoon masih terus berusaha untuk setia kepadanya. Masih mengajarkannya banyak hal dan semacamnyalah. Hingga di suatu saat Sbastian melihat Kyung Soo lagi. Ia tertarik pada Kyung Soo dan berniat mengulangi perbuatannya. Saat itu Namjoon benar-benar marah, dan memukuli Sbastian sampai laki-laki itu di rawat di rumah sakit. Kyung Soo akhirnya meminta Namjoon untuk menganggapnya sebagai teman biasa saja karena sepertinya, dia juga sudah merusak hidup Namjoon. Lalu laki-laki itu melarikan diri ke Italia dan baru muncul belakangan ini. Aku rasa kemunculannya juga karena Sbastian yang sudah sembuh dari lukanya yang parah. Mungkin Namjoon memutuskan untuk tetap berada di sisi sbastian agar dia bisa mengawasi laki-laki itu jika mencoba melecehkan Kyung Soo lagi,"

"Dia sangat mencintai Namjoon?"

"Semula ku fikir hanya ungkapan terima kasih, ia ingin membalas budi. Namjoon bukan hanya menyelamatkan hidupnya, laki-laki itu juga memberikan kebahagiaan yang sangat berlimpah, mengajarkannya segala macam hal, mempertemukan Kyung Soo dengan ibu kandungnya dan semua itu lewat kopi. Tapi sepertinya iya, Kyung Soo sudah jatuh cinta pada Namjoon dan menyesali diri karena tidak bisa melayani Namjoon dengan baik malam itu," Jongin mengangguk. Jadi karena itu Kyung Soo sangat mencintai Kopi?

"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanya Luhan. Jongin angkat bahu.

"Entahlah, aku sekarang sangat ingin menyeret bajingan itu ke polisi dan menuntutnya dengan hukuman yang seberat-beratnya. Seberapa jauh dia menyentuh Kyung Soo? Apa yang sudah terjadi sebenarnya?"

"Laki-laki itu sudah mati, Kau tidak lihat beritanya di Televisi? Dia mungkin sedang dalam perjalanan ke neraka." Jongin mendengus entah karena putus asa atau karena bisa
merasa lebih lega.

Semuanya karena salahnya. Jongin bahkan tidak bisa mengingat kalau dirinya pernah berteman dengan Sbastian, ia juga tidak pernah bertemu dengan Kris lagi semenjak itu. Tanpa sadar perbuatannya sudah membuat Jongin kehilangan segalanya.

*KAISOO*

"Ini jus untukmu. Aku bawakan beberapa kaleng," Namjoon duduk di trotoar depan apartemen, sambil menyodorkan beberapa kaleng jus kepada Kyung Soo yang baru saja datang.

Tengah malam sudah lewat beberapa menit yang lalu dan jalanan memang benar-benar sepi tanpa tanda-tanda keberadaan manusia kecuali mereka berdua. Ini malam kedua Kyung Soo bertemu dengan Song Namjoon setelah beberapa hari yang lalu ia menanti Namjoon setiap malam. Meskipun hanya untuk melihat wajahnya, meskipun hanya untuk mendengar suaranya.

"Kemarin laki-laki itu bilang, dia tidak suka melihat kau minum bir. Dan aku memutuskan untuk membawa jus,"

"Terima kasih," Jawab Kyung Soo setelah Namjoon meletakkan beberapa kaleng jus itu di salah satu sisinya, tepat diantara dirinya dan Kyung Soo duduk sekarang dengan di terangi cahaya lampu jalan.

Mereka kemudian melakukan hal yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Duduk sambil menikmat beberapa kaleng minuman tanpa percakapan yang signifikan. Kyung Soo masih gamang, ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjadikan pertemuan kali ini sebagai pertemuannya yang terakhir kali dengan Namjoon. Kyung Soo sebenarnya merasa sangat tidak bisa merelakannya. Perasaanya sama sekali tidak menginginkan raganya terpisah dari Namjoon.

Hampir dua tahun dia dan Namjoon tidak bertegur sapa. Dan pertemuan anehnya bersama Namjoon beberapa hari belakangan ini pelan-pelan sudah memberikan harapan baru baginya. Tapi setiap kali dirinya dan Namjoon saling berdekatan, Kyung Soo hanya bisa mengenang kejadian buruk saja.

"Umm, Joonnie..." Kyung Soo buka suara.

"Kenapa?"

"Aku harap…ini pertemuan kita yang terakhir kali," Namjoon tiba-tiba menatapnya penuh dengan tanya. Untuk beberapa lama waktu hanya di penuhi oleh desauan angin malam yang dingin.

"Kau tau, kan. Aku sebenarnya sangat ingin selalu bersamamu. Tapi bersamamu membuat aku teringat dengan masa lalu dan membuka luka lama. Maksudku, ini bukan salahmu. Jelas bukan karena kau sudah menolongku. Tapi aku hanya tidak mau kalau…" Ucapan Kyung Soo terpotong.

"Jangan bicara lagi," Namjoon memotong perkataan Kyung Soo. Tangannya yang besar kemudian membelai kepala Kyung Soo lembut.

"Selama ini, aku merasa aku yang paling terluka. Tapi aku tau kau juga sakit. Perasaan egoisku memutuskan untuk tidak menemuimu lagi. Tapi sekuat hati aku berusaha untuk mencari keberadaanmu dan bisa duduk disini bersamamu adalah perang besar yang terjadi
dalam hatiku. Selama ini aku hanya bisa melihatmu tanpa bisa bicara."

"Tapi…" Kyung Soo ingin berbicara, tapi lidahnya terasa kelu.

"Tapi tak bisa ku pungkiri. Pemikiran buruk itu terus melintas. Kau ingin mengatakan itu?"

"Maafkan aku,"

"Kenapa kau yang minta maaf? Seharusnya aku juga mengatakan hal yang sama malam ini. Aku juga memikirkan kalau seharusnya malam ini akan jadi malam terakhirku untuk bisa
melihatmu. Aku akan menyerahkan diri," Kedua alais Kyung Soo bertaut.

"Menyerahkan diri?"

"Sbastian...aku yang membunuhnya dan sampai sekarang aku masih bisa menyembunyikanya," Jujur Namjoon.

Kyung Soo terkesiap lalu menutup mulutnya. Namjoon membunuh Sbastian? Tidak mungkin dan sangat tidak masuk akal. Namjoon sangat menyayangi Sbastian. Ia bahkan tidak menemui Kyung Soo lagi karena Sbastian. Lalu sekarang Namjoon menghabisi nyawa orang
yang dikasihinya dengan sepenuh hati itu? Mereka bahkan masih terlihat akrab berbincang-bincang di bandara saat Kyung Soo menemui Tiffany Hwang di sana.

"Aku minta maaf atas perlakuan Sbastian, juga atas perlakuanku kepadamu meskipun aku tau maaf saja tidak cukup. Semua kejadian ini bahkan sudah banyak mengubah hidupmu. Tapi aku sangat berterima kasih karena kau tidak melaporkan Sbastian kepolisi pada waktu itu." Namjoon kembali menenggak birnya dalam jumlah banyak, kemudian berbicara lagi.

"Hiduplah baik-baik. Semoga suatu saat nanti kita bertemu di kehidupan yang
berbeda," Ucapnya lagi.

"Tapi kenapa harus seperti ini? Aku masih tidak bisa percaya kalau kau membunuh Sbastian..."

"Kurasa kau bisa menebak apa sebabnya..." potong Namjoon.

"Dia, orang yang selalu berusaha terlihat terhormat telah merusak wanita yang paling aku cintai. Memintaku meninggalkanmu dan berencana untuk mengulangi perbuatanya lagi kepadamu," Kyung Soo kembali terperangah. Namjoon tersenyum getir.

"Saat kau dan laki-laki itu bergandengan tangan dan melintasi kami berdua di bandara. Dia menertawaiku habis-habisan. Aku sempat terpengaruh tapi tidak lama. Dengan bekal ingatan itu dia mengajakku untuk membalasmu tentang perasaan sakit hati yang ku dapat karena kau menolakku. Aku tidak bisa menahannya dan kami bertengkar hebat untuk yang kedua kalinya. Aku membunuhnya dengan sengaja, bukan untuk membela diri atau apapun, aku sudah merencanakannya setiap kali dia mengutarakan maksud buruknya padaku," Kyung Soo menyentuh kepala Namjoon dengan telapak tanganya.

"Aku terkejut kau melakukan hal itu. Kau bisa menyesal nanti,"

"Aku rasa tidak akan pernah. Hal yang paling aku sesalkan adalah saat aku mengatakan kepadamu pada malam naas itu agar kita tidak bertemu lagi. Dan itu menggerogotiku selama dua tahun. Mengikutimu, melihat dari jauh seberapa besar penderitaanmu karena hal itu membuat penyesalanku semakin dalam. Aku sudah gila. Aku menggali rasa sakitku sendiri," Namjoon tersenyum sinis pada dirinya sendiri yang dianggapnya begitu bodoh dan naif.

"Sekarang kau masuklah ke rumahmu. Aku sudah melanggar perjanjian dengan laki-laki itu untuk menjemputmu secara baik-baik di rumah. Dia pasti sangat marah kalau tau," Ucap Namjoon. Ia berusaha utuk tersenyum kepada Kyung Soo untuk yang terakhir kalinya.

"Joonnie, kau benar-benar tidak apa-apa?" Namjoon menggeleng dan tersenyum.

"Sekarang tinggalkan aku, agar aku bisa merasakan bagaimana rasanya melihat orang lain pergi meninggalkan kita seperti yang terjadi padamu dulu," Masih berusaha tersenyum Namjoon melihat kapergian Kyung Soo yang meninggalkannya di trotoan depan arpatemen Kyung Soo tinggal. Inilah hidupnya, melepas wanita yang dicintainya untuk menebus dosa yang telah diperbuat saudaranya.

.

.

TBC


Review ne,, pembaca yg baik yg meninggalkan jejak ^^