Ansatsu Kyoushitsu by: Yusei Matsui sensei

Decision ( After time) by: Amaya Kuruta

Mengandung kehororan, keOOc-an yang nyata. Typo sangat bertebaran. Diharapkan membawa obat sesak nafas saat membaca.

Selamat menikmati ^^/

Chapter 12

Air semakin memenuhi lorong dan bilik-bilik di tempat itu. Karasuma menelusuk sekitar untuk mencari penyelamatan. Namun yang ia temui hanyalah alat-alat tak berguna.

"Kalau begini, kita bisa terendam!" Gumam Karasuma. Nagisa nampak berfikir keras. Karma justru sibuk memperhatikan Koro sensei yang nampak tak membantu sama sekali. Kemudian Karma menoleh untuk menatap gadis disebelahnya. Surai merah jejadiannya memenuhi pandangan karma. Bagaimana jika ini berakhir disini? Tidak.. dia tidak bisa mengakhiri hidupnya ditempat macam ini! Karma mulai berpikir.

"Hei, apa kita sekarang berada jauh dari taman bermain?" Tanya Karma.

"Tidak. karena bangunan ini tidak memanjang. Kau pasti juga menyadari lorong berkelok-kelok sebelum sampai disini bukan?" jawab Karasuma. Karma mengangguk.

"Tapi tetap saja kita berada dikedalaman yang cukup untuk membuat kita kehabisan nafas. Taman bermain itu sendiri memang sudah dibangun diatas lautan. Dan mercusuar ini berada diujung tempat. Jadi sudah pasti kedalamannya.. masih tetap mengerikan." Ujar Koro sensei. Karma mengusap dagunya. Kemudian ia menoleh kearah Koro sensei. Lalu ganti menatap Nagisa.

"Ne, Nagisa.. Kau bisa berenang kan?" Tanyanya. Nagisa menoleh dan menatap Karma heran.

"Berenang? Ya, aku masih bisa." Jawab Nagisa.

"Maksudku, tentakel itu tidak menghambatmu untuk berenang kan?" Karma memastikan. Nagisa menggeleng.

"Tidak. tentakel milikku berbeda dengan milik Koro sensei. Kau ingat kan, Shiro-san membuatku sesempurna mungkin." Jawab Nagisa.

"Nah,kalau begitu kurasa kita hanya perlu berenang saja." Jawaban Karma membuat ketiga kepala lainnya menoleh kilat kearahnya.

"Berenang? Maksudmu?" Tanya Nagisa bingung. Karma tersenyum santai.

"Koro sensei.. karena kau tak bisa berenang.. maksudku, kau masih lemah dengan air bukan? Kau harus masuk dalam mode pertahanan mutlak jika kau mau selamat! Dan kita, akan keluar melalui dinding berlubang yang terbuat dari ledakan bom." Jawab Karma. Karasuma nampak berfikir dengan ide gila Karma. Kemudian ia mengangguk.

"Kurasa itu adalah opsi terbaik sejauh ini." Jawab Karasuma. Karma tersenyum. Sebenarnya ia merasa lega sekaligus khawatir.

"Gawat.. ideku disetujui.. kalau mereka mati, semua karena ideku.." Pikirnya. Ia tetap tersenyum. Tapi Nagisa tau. Ia tau kekhawatiran itu. karena itulah Nagisa mengangkat tangannya dan menekan nadi dileher Karma. Karma terdiam dan menoleh untuk menemukan Nagisa tersenyum menenangkan.

"Kalau kau yang membuat rencananya, aku yakin akan berhasil, Karma-kun." Ujarnya. Karma menatap senyuman itu. kemudian bagaikan terkena virus, bibir Karma ikut tertarik.

"Um. Nah, Koro sensei, sebaiknya kau pergi keruangan yang rusak itu dan lakukan pertahanan mutlak disana." Kali ini komando Nagisa. Koro sensei tersenyum. Ia senang muridnya bisa berkembang sepesat ini. kemudian ia melesat kearah air masuk.

"Kita juga bergegas kesana setelah ledakan terjadi. Disana kita bisa mempersiapkan pasokan udara lebih baik." Komando Karasuma sensei. Nagisa mengerjap. Kemudian ia menoleh kearah wanita dan anak bertentakel dibelakangnya.

"Nagisa, aku tau apa yang kau fikirkan.. tapi aku tidak yakin kita akan selamat jika kita membawa mereka berdua bersama kita." Ujar karasuma. Nagisa masih tak bergeming.

"Nagisa.. kita harus cepat!" ajak Karma. Kemudian terdengar suara ledakan. Koro sensei pasti sudah berubah mode. Air yang masuk semakin deras. Menandakan kerusakan pada dinding semakin melebar.

"Nagisa!" kali ini Karma berteriak untuk menyadarkan sang gadis. Nagisa tersentak dan menyadari bahwa air semakin cepat bertambah volumenya. Nagisa menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya. Tidak! dia tidak bisa membiarkan kedua nyawa didepannya itu! tanpa peringatan, Nagisa mengeluarkan tentakelnya dan membelit tubuh Karma dan Karasuma.

"Nagisa?" Karasuma mengernyit heran.

"Sensei.. kau dan Karma pergilah lebih dulu." Ujar Nagisa. kemudian tanpa menunggu jawaban tentakelnya bergerak cepat menganta tubuh Karma dan Karasuma menuju sumber masuknya air. Ia masih mendengar sedikit umpatan yang diteriakkan Karma untuknya. Nagisa mengangkat tubuh Yuuki. Kemudian setelah yakin ia sudah mengantar Karasuma dan Karma ketempatnya, ia menarik tentakelnya dan menggunakannya untuk mengangkat tubuh wanita itu. kemudian dengan punggung menggendong Yuuki dan tentakel terbeban wanita lab tersebut.

"Kumohon.. semoga aku bisa menyelamatkan keduanya.." harap Nagisa.

Ansatsu Kyoushitsu

Karma melihat air yangsudah setinggi perutnya. Itu tandanya sudah hampir mencapai kepala Nagisa bukan?

"Karma, bersiaplah. Sebentar lagi air akan penuh dan kita akan keluar dari bangunan ini." Karasuma mengingatkan sembari memegang Koro sensei yang " berbentuk bola dunia itu.

"Sensei, Nagisa belum tiba disini!"Karma hampir berteriak frustasi. Air terus bertambah tinggi sampai akhirnya ruangan itu terisi penuh dengan air. Karma menatap pintu tidak percaya. Kemana Nagisa? ia sudah akan berlari saat Karasuma menahannya.

"Percayalah padanya. Dan dia bukan mengharapkan kau berlari kembali kearahnya setelah apa yang ia lakukan!" Teriak Karasuma. Karma menatap gurunya bimbang. Tidak.. Nagisa.. dia harus menemukannya.

"Karma-kun… Nagisa mengandalkanmu sebagai pemimpin dalam misi ini." suara bijak Koro sensei menghentikan langkahnya.

"Aku.. yang pasti aku akan memastikan kalian keluar dengan selamat terlebih dahulu." Perkataan Nagisa tempo hari kembali terngiang. Apa yang harus Karma lakukan? Kemudian ia merasa tangannya ditarik dengan kuat oleh Karasuma. Dan detik berikutnya ia sudah berenang dilautan bebas. Dan sampai saat itu, Nagisa tak muncul dipenglihatannya.

Ansatsu Kyoushitsu

Nagisa mendecak pelan.. tidak.. dia tak bisa bergerak lebih cepat dengan keadaannya yang sekarang. ia menyeret langkahnya diantara air yang semakin meninggi. Berkali-kali ia memastikan agar Yuuki dan wanita itu tidak terendam air. Nagisa tertawa dalam hati. Kalau saja Lovro sensei mengetahui hal ini, mungkin Nagisa sudah akan diledek habis-habisan oleh senseinya itu. maksudnya, hitman mana yang justru rela bersusah payah menyelamatkan orang yang hampir saja membunuhnya? Mungkin diantara beribu hitman, hanya Nagisa yang melakukannya. Nagisa merasa lelah. Tentakelnya terlalu menuntutnya untuk istirahat. Tapi Nagisa memaksakan dirinya. Apalagi saat ia melihat pintu tempat Karma dan yang lainnya menunggu. Sebenarnya Nagisa tidak akan suka jika ketiga orang itu masih berada diruangan itu setelah airnya setinggi ini. akhirnya setelah lima menit penuh perjuangan, ia sampai diruangan itu. air sudah sepenuhnya membuat tubuhnya mengambang. Menghambat pernafasannya. Namun hal itu sudah menjadi batasnya, Nagisa dengan sekuat tenaga melempar kedua tubuh itu dengan tentakelnya. Ia tersenyum. Ia berhasil mengeluarkan tubuh itu dari tempat ini. Nagisa berusaha berenang mendekati 'pintu keluar'. Tapi ia tau.. tenaganya sudah tidak kuat lagi.

Ansatsu Kyoushitsu

Karma melebarkan matanya saat menangkap sosok dua makhluk mengambang pasti melewati dinding yang hancur itu. dengan cepat Karma menangkap sosok itu dan memberikannya kepada Karasuma. Ia menatap dinding berlubang itu dengan tatapan cemas dan.. takut. Kalau dua orang itu sudah bisa ada diluar bangunan bawah laut, kemana Nagisa? Karasuma menarik Karma. Karma memberi Karasuma tatapan tajamnya dan mengisyaratkan agar senseinya segera kepermukaan terlebih dahulu. Karma berenang mendekati bangunan dan saat itulah ia melihatnya.. melihat gadis dengan warna helai yang senada dengan langit cerah, masih bercampur sedikit merah, mengambang dengan mata terpejam. Karma dengan cepat meraihnya dan mendekapnya. Kemudian ia berenang secepat mungkin mengikuti Karasuma yang harus membawa tiga beban bersamanya.

Ansatsu Kyoushitsu

"Puah!" Karasuma muncul dipermukaan. Kemudian disusul Karma.

"Karasuma sensei, kita harus segera menuju tepi! Kedua orang ditanganmu dan Nagisa harus mendapat pertolongan." Suara Koro sensei mengomando. Karasuma mengangguk kemudian segera berenang ketepian. Ia bisa melihat Irina sensei ditepi sana tengah menunggu dengan para murid. Mereka seperti orang yang berwisata saja. Karma menatap Nagisa ditangannya. Lalu ia berenang dengan cepat menuju tepian yang memang sudah diamankan agar tak ada pengunjung diarea itu kecuali pasukan Komando Karasuma. Karasuma mengulurkan kedua tubuh dipegangannya yang langsung diamankan oleh anak buahnya. Karma mengulurkan Nagisa pada Isogai yang sudah menunggu.

"Nagisa.." Gumam Isogai. " Karma, apa yang terjadi?" Tanyanya. Karma menaikkan tubuhnya dan mengusap wajahnya.

"Akan kuceritakan nanti. Cepat panggil tim medis!" perintah Karma. Maehara mengangguk dan berlari memanggil salah satu tim medis. Nagisa direbahkan ditanah yang sudah dilapisi kain oleh isogai. Salah satu tim medis datang dengan membawa alat kejut. Ia menempelkan alat itu dan mengalirkan arus listrik berskala kecil ke tubuh Nagisa. Karma mengepalkan tangannya tanpa mengalihkan pandangannya dari Nagisa. setelah dua menit berjalan, Tubuh Nagisa bergerak dengan sendirinya. Kemudian ia terbatuk dan memuntahkan air dari dalam tubuhnya. Melihat hal itu, Karma merasa bahunya kehilangan ketegangan. Ia menghela nafas lega.

"Uhuk.. ugh.." Nagisa berusaha duduk. Karma membantunya.

"Apa yang kau rasakan, Nagisa?" tanya Maehara. Nagisa mengerjapkan matanya.

"Ugh.. asin.." Gumamnya. Maehara tertawa mendengar gumaman Nagisa.

"Baiklah, akan kuambilkan air untukmu. Meskipun kau baru saja meminum banyak air sih." Isogai tersenyum dan beranjak mencari air.

"Nah, aku akan mencari pakaian kering untuk kalian berdua. Jadi, tunggu disini." Maehara ikut bangkit dan berjalan menjauh. Menyisakan Nagisa dan Karma dalam keheningan ditepi laut. Hanya terdengar deru ombak selama beberapa detik. Nagisa melirik Karma yang ternyata tengah menatapnya tajam.

"Karma-kun.."

Karma menekan telunjuknya ke dahi Nagisa. kemudian mendorongnya kuat-kuat.

"Boodooh! Kau bodoh!" ujar Karma sambil menekan-nekan dahi Nagisa.

"Ugh.. maaf.." gumamnya.

"Kau menyelamatkan orang yang hampir membunuhmu. Hitman macam apa itu?" omel Karma. Nagisa mengerjapkan matanya. Kemudian ia tersenyum.

"Dia masih bernyawa, Karma-kun. Dan misiku tidak benar-benar untuk membunuhnya, kau tau?" jawab Nagisa. Karma merasa alisnya berkedut.

"Hei, pendek.. harusnya kau sadar bahwa tubuh kecilmu ini tak akan kuat menanggung beban itu. dan kau malah memaksakan diri." Ujar Karma. Nagisa mengernyit saat panggilan pendek terdengar ditelinganya.

"Karma-kun, kau pasti melihat bagaimana yuuki bereaksi tadi. Dia hanya anak kecil yang masih tidak faham apapun! Kau mau membiarkannya mati dibawah sana? Dia masih harus belajar banyak!"

"Kalau begitu selamatkan dia saja!"

"Karma-kun, bagaimana jahatnya seorang ibu, dia tetap ibunya! Potongan kehidupannya tak akan lengkap jika tidak ada bimbingan dari ibunya!"

"Dia akan gila jika harus menjalani hidup dengan ibunya yang gila itu."

"Karma-kun, aku yakin segila apapun, ibunya pasti tetap mencintai Yuuki."

"Nagisa, Ibu yang gila tidak akan membentuk pribadi yang baik bagi anaknya."

"Oh, kau mau bilang bahwa aku sama sekali tak memiliki sisi baik?" Nagisa menatap Karma sengit. Karma mengerjapkan matanya.

"Apa yang.-"

"Kau menjuluki ibuku gila beberapa tahun yang lalu.. kau ingat?" Nagisa mencoba mengingatkan. Karma terdiam. Kemudian ia menghela nafas keras.

"Nagisa.. Yuuki.. baiklah.. setidaknya anak itu tidak akan bisa belajar apapun dari ibunya yang sekarang." Ujar Karma. Nagisa mengangguk.

"Aku tau. Aku tau itu.. tapi dia harus tetap tau bahwa.. Ibunya memberi dia kesempatan hidup. Karena itu dia harus menggunakan kesempatan itu dengan baik." Jawab Nagisa. Karma menoleh dan tersenyum menatap manik azure yang kini melihat kearah tubuh Yuuki yang masih tak sadarkan diri itu.

"Jadi apa rencanamu?" Tanya Karma.

"Huh?" Nagisa menoleh tak mengerti.

"Kau menyelamatkan anak itu dan kau setuju denganku bahwa Yuuki tak akan bisa belajar apapun dari ibunya. Dia memiliki tentakel dan jelas tak akan bisa belajar dengan anak normal seumurannya. Jadi, apa rencanamu?" Jelas Karm. Ia juga mencari kejelasan dalam mata biru Nagisa. Nagisa terdiam. Rencana? Ia tidak nar-benar memiliki rencana sebenarnya. Dia hanya merasa perl menyelamatkan mereka berdua.

"Menurutmu, Yuuki akan ikut ditahan bersama wanita itu?" Tanya Nagisa.

"Tergantung. Jika aku melaporkan atas usaha pembunuhan Yuuki tadi, mungkin saja."

"Karma-kun.. dia masih kecil. Aku berani bertaruh dia tak mengerti apapun tentang dunia yang ia ja-"

"aku bilang tergantung. Dan tenang saja.. aku tidak akan melakukannya." Potong karma. Nagisa mengangkat alisnya dan tersenyum.

"Kalau begitu.. mungkin aku akan meminta Koro sensei merawatnya." Gumam Nagisa.

"Kau meminta sensei yang merawatnya? Aku ragu dia bisa jadi anak yang baik." Karma mengusap dagunya. Nagisa tertawa.

"Kau tidak lupa bahwa kita adalah hasil didikannya bukan?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum santai dan menggeleng. Dia tak mungkin lupa.

"Kurasa aku setuju denganmu. Lagipula, hanya sensei yang bisa melakukan sesuatu dengan tentakelnya itu." ujar karma. Nagisa mengangguk. Kemudian keduanya terdiam. Mengamati laut didepan mereka dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Isogai kembali dengan dua botol air mineral dan Maehara dengan handuk kering. Mereka menyerahkan itu kepada kedua merah biru itu. Nagisa meneguk air mineralnya dan terdiam sesaat. Sebelum akhirnya ia mengernyit dan menoleh kearah teman-temannya.

"Hei.. dimana Asano?"

Ansatsu Kyoushitsu

Nagisa duduk sambil membaca majalah ditangannya. Sesekali ia mengangkat alisnya saat melihat model jam tangan yang menurutnya bagus. Satu-satunya accessoris yang ia suka sebagai wanita adalah jam tangan. Sesekali ia melirik pada sosok berambut jingga yang masih menutup matanya. Kemudian matanya mengarah pada monitor disebelahnya. Menunjukkan bahwa makhluk didepannya masih baik-baik saja. Setidaknya, masih hidup.

"Nagisa, kurasa kau harus tidur sekarang." Sebuah bola menggelinding dengan sangat tidak elit. Nagisa menunduk untuk menemukan senseinya yang masih terperangkap itu tengah tersenyum kearahnya. Nagisa memungutnya dan menoleh kearah pintu.

"Yo!" Nagisa tersenyum melihat beberapa temannya hadir disana.

"Jadi, kalian sudah selesai mengadakan 'pertemuan' itu?" tanya Nagisa. sugino menggaruk tengkuknya.

"err.. kau bisa bilang begitu." Jawabnya.

"Kau tidak ikut tadi." Suara Itona terdengar. Nagisa menggeleng.

"aku sudah tau ceritanya. Jadi, kurasa aku tidak perlu mendengarnya. Lagipula, seseorang harus mengawasi Asano disini." Jawab Nagisa. kemudian mereka terdiam sambil menatap sosok terbaring itu.

"Ah, benar.. Okuda bilang dia akan segera kemari untuk menggantikanmu." Ujar Isogai.

"Hm? Benarkah? Bukankah lebih baik dia bersama Karma-kun dulu?" Tanya Nagisa heran.

"Kenapa harus? Bukankah Okuda sebenarnya mencintai orang ini?" Maehara seenak jidat menunjuk hidung Asano.

"Tapi..-"

"Okuda sudah meminum penawarnya." Suara Koro sensei menjawab keheranan Nagisa.

"Oh." Respon singkat dari bibir Nagisa. " Lalu?" tanyanya.

"Sepertinya tak ada masalah. Dan pola pikir dan perasaannya juga sudah kembali normal." Jawab koro sensei. Nagisa mengangguk-angguk paham.

"Berarti, kita hanya tinggal menunggu Asano-kun sadar, kan?" Tanya Nagisa. koro sensei membenarkan.

"Nah, biar kami yang menggantikanmu sampai Okuda-san datang. Dan bawa benda bulat itu menjauh dari kami. Bisa gawat jika ia meledak disini!" Usir Sugaya. Koro sensei mengeluarkan suara Nurufufufu kebanggaannya. Nagisa bangkit dan meraih senseinya. Kemudian ia tersenyum manis.

"Kalau begitu, mohon bantuannya! Terimakasih." Ucapnya tulus. Maehara mengacungkan jempolnya. Nagisa melangkah keluar dari kamar Asano.

"Ne, sensei.. mau jalan-jalan?" Tawar Nagisa.

Ansatsu Kyoushitsu

Karma menatap desiran ombak didepannya. malam yang dingin tidak mengurungkan niatnya untuk menyendiri ditepi pantai yang sepi itu. teman-temannya pasti tengah berkumpul dilobi hotel lepas misi rank A yang mereka selesaikan hari itu. tapi Karma sedang tak tertarik untuk bergabung disana. Ia butuh kesunyian untuk beberapa saat ini. ya, baru 30 menit sejak ia berpisah dengan yang lainnya. Setelah membayar janji untuk menceritakan cerita ekstra lengkapnya kepada teman-temannya, Karma mohon diri untuk mencari udara segar. Okuda menawarkan diri untuk mengantarnya. Namun Karma menolak. Dia takut gadis itu akan mengubah pemikirannya karena merasa bersalah. Cukup Karma tau gadis itu sangat merasa bersalah kepadanya. Dia tak mau Okuda berpura-pura masih mencintainya setelah meminum antidote dari koro sensei. Karma tau pasti bahwa Okuda sudah kembali normal. Karma menghela nafas dan bersandar di tmpat duduk sambil mengeluarkan kotak susu strawberry yang selalu ia beli saat SMP dulu. Riak ombak yang lembut itu menarik perhatiannya. Matanya lurus pada buih putih yang menggulung itu. ia membayangkan bagaimana rasanya jika kakinya menapak diantara air laut itu. kemudian matanya mengernyit saat sebuah obyek menapaki buih putih yang memenuhi penglihatannya. Ia menarik pandangannya dan menemukan surai biru yang dimainkan angina tengah melangkah pelan diatasnya.

Ansatsu Kyoushitsu

"Nagisa-chan.. kau tidak kedinginan?" Tanya koro sensei. Nagisa tersenyum dan menggeleng.

"Tidak." Jawabnya. Ia melanjutkan langkahnya. Alas kakinya ditanggalkan hingga kakinya menyapa lembutnya pasir. Dress biru selututnya ikut bergerak seiring kakinya melangkah.

"Harusnya kau membawa jaket tadi, Nagisa. sensei yakin udara sangat dingin sekarang." Nagisa tertawa kecil sambil membalik bola kecil ditangannya.

"sekali saja.. kumohon.." Pinta Nagisa. koro sensei menghela nafas dan menyerah. Lagipula bisa apa dia? Salah-salah Nagisa akan meninggalkannya ditepi laut!

"Baiklah. Tapi jangan salahkan sensei jika kau masuk angina setelah ini." Ujar Koro sensei.

" Tidak akan." Jawab Nagisa. keduanya kembali terdiam.

"Ne, Sensei.. menurutmu.. apa semua sudah berjalan dengan baik?" Tanya Nagisa.

"Hmm. tentu saja! Kita semua berhasil menyelamatkan asano, dan kembali dengan selamat tanpa kurang satu orang pun." Jawab koro sensei.

"Hmm.. baguslah.." Jawab Nagisa pelan. Ia kembali terdiam sampai akhirnya ia menghela nafas.

"Sepertinya, waktu berliburku akan habis." Gumamnya.

"Hm? Kau ada misi baru, Nagisa?" Tanya Koro sensei. Nagisa menggeleng. Matanya menatap lautan hitam didepannya.

"Tapi taka da gunanya juga aku berlama-lama disini bukan, Sensei?" Nagisa balik bertanya.

"Kurasa kau bisa tinggal dijepang sampai ada misi dari lovro-san." Usul Koro- sensei.

"Menurut sensei begitu?" Tanya Nagisa. ia berhenti melangkah. "Tapi.. aku rasa.. aku akan kembali saja ketempat Lovro sensei. Aku tidak yakin aku bisa tinggal disini lebih lama, sensei.. lagipula aku tak punya kediaman disini." Ucap Nagisa. Koro sensei bukannya tidak paham dengan pembicaraan itu. Koro sensei tau alasan sebenarnya Nagisa ingin meninggalkan jepang.

"Tentu saja kau akan tinggal dirumahku, Nagisa~. dan kenapa kau tidak yakin untu menetap dinegara asalmu sendiri?"

Ansatsu Kyoushitsu

"Tentu saja kau akan tinggal dirumahku, Nagisa~. dan kenapa kau tidak yakin untu menetap dinegara asalmu sendiri?" Nagisa menoleh kaget.

"Karma-kun! Jangan mengagetkanku!" seru Nagisa. Karma mengangkat bahunya.

"Kau saja yang terlalu asyik. Nah, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku saja?" tuntut Karma. Nagisa menunduk sejenak kemudian menatap Karma sambil tersenyum.

"Aku yakin banyak tugas menungguku, Karma-kun. Jadi aku tidak yakin kalau-."

"Bicara soal tugas.. kau masih punya tanggung jawab disini loh~." Karma mengingatkan

"Tanggung jawab?" Nagisa bertanya tak mengerti.

"Kau harus menunggu sampai Asano terbangun. Dan yang pasti kau masih punya urusan dengan Yuuki." Jawab karma.

"Eh?" Nagisa mengerjapkan matanya.

"Kau fikir setelah penyelamatan semuanya selesai? Tentu saja tidak. lagipula.. aku ingin meminta bantuanmu." Ujar Karma. Nagisa memiringkan kepalanya.

"Aku…"

"ZRRTTT…ZRRT…"

"Ah, maaf.." Nagisa meraih handphone dikantong bajunya dan mengangkat panggilannya.

"Ya?" Karma memperhatikan Nagisa beberapa saat. Kemudian ia bisa melihat gadis itu mengangkat alisnya dan tersenyum.

"Um.. baiklah.. ok. Terimakasih, Sugino!" Kemudian ia mematikan panggilannya.

"Telpon dari sugino?" Tanya Karma. Nagisa mengangguk.

"Um. Dan Asano sudah sadar, Karma-kun."

Ansatsu Kyoushitsu

Nagisa dan Karma membuka pintu kamar itu dan menemukan sosok jingga itu tengah duduk diatas kasurnya. Punggungnya bersender dan tangannya sibuk membelai kepala hitam milik gadis berkacamata yang terus menangis dan berucap maaf berulangkali. Asano Gakushuu tersenyum hangat sembari menenangkan Okuda Manami. Tanpa menyadari kehadiran dua sosok manusia yang tersenyum diambang pintu. Mungkin mereka tak akan menyadari jika saja benda bulat ditangan Nagisa tidak tiba-tiba tertawa melihat adegan romance didepannya. Karma menghela nafas dan memerintahkan Nagisa untuk melempar bola itu keluar ruangan. Nagisa yang juga merasa gurunya tidak bisa mengontrol diri mengikuti intruksi Karma ("Maaf sensei.. akan kuambil kau nanti.")

"Yo!" sapa Karma. Kemudian ia melangkah beberapa langkah untuk kemudian menoleh kearah Nagisa yang hanya terdiam disana.

"Kau tidak masuk?" Tanya Karma. Nagisa tersenyum dan sudah hendak menggeleng saat suara Asano Gakushuu terdengar.

"Masuklah, shiota. Aku ingin.. mengatakan sesuatu kepada kalian berdua." Ujarnya. Nagisa terdiam. Kemudian ia mengikuti langkah Karma. Mereka menghampiri tempat tidur itu dan mengambil kursi untuk duduk disebelahnya. Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat.

"Hh.. aku ingin.. mengucapkan terimakasih kepada kalian berdua.." ujar Asano pelan. Karma dan Nagisa tak bergeming. Memutuskan untuk menunggu kalimat apa yang akan keluar dari bibir Asano.

"Aku tidak terlalu yakin dengan apa yang sudah terjadi. Tapi.. beberapa ingatan itu kadang terlihat jelas dikepalaku. Jadi,yah.. bisa dibilang aku tak sepenuhnya ingat dengan apa yang sudah terjadi." Lanjut Asano. Nagisa tersenyum.

"Tak apa.. jangan memaksakan dirimu, Asano-kun. Dan juga, kurasa taka da yang terlalu penting dari semua-"

"Aku ingat aku pernah menyakitimu, Shiota." Potong Asano. "Aku ingat. Ya, aku tidak tau apa aku melakukannya dengan sadar atau.. kau tau bukan, hidupku membingungkanku akhir-akhir ini.. aku merasa menalankannya tanpa berfikir. Tidak seperti biasanya.. hahaha.." asano melanjutkan. Nagisa menatap laki-laki didepannya dan tersenyum.

"Tidak.. aku yakin kau tidak bermaksud, Asano-kun." Nagisa berusaha menenangkan. Karma melirik Nagisa dan tersenyum.

"Apapun itu, kami memaafkanmu selama itu perkara yang terjadi saat kau keracunan omongan wanita itu. nah, sekarang.. apa kalian sudah kembali bersama?" Tanya Karma. Nadanya yang kelewat santai justru menumbuhkan rasa bersalah dari dua orang didepannya.

"Akabane, aku.."

"Hei.. pertanyaanku itu pertanyaan yang mudah. Kalian hanya perlu menjawab dengan ya atau tidak."

"Tapi.. kami.. kami melakukan hal yang buruk padamu, Karma-kun." Kali ini suara okuda mencicit.

"Hmm~ yah, itu buruk sekali.." gumam Karma. Membuat surai hitam Okuda menunduk.

"Maafkan kami, Akabane." Ujar asano sambil menundukkan kepalanya. Karma tertawa iblis.

"Tidak semudah itu~." jawabnya. Nagisa tertawa datar melihat kelakuan Karma.

Uh-oh.. mereka berdua dalam masalah!

"Ba-baiklah.. katakana apa yang harus kami lakukan.. Karma-kun." Ujar Okuda. Karma tersenyum puas. Sedangkan Asano menatap Karma datar.

"Nah, Asano.. apa kau sehat-sehat saja atau kau butuh waktu untuk istirahat?" Tanya Karma. Nagisa mengangkat alisnya. Apa yang akan Karma lakukan?

"Mm.. kurasa aku sehat-sehat saja." Jawab Asano.

"Karma-kun.. jangan melakukan hal yang aneh-aneh. aku yakin Asano-kun masih harus istirahat." Ujar Nagisa. Karma menoleh dan menatap Nagisa beberapa saat.

"Oh tenang saja, Nagisa.. kau tak perlu mengkhawatirkannya.." ujarnya. Kemudian tanpa sadar menambahkan dalam hati "Dan jangan pernah sekalipun mengkhawatirkan laki-laki lain!"

"Jadi, kau mau balas dendam kepadaku, Akabane?" Tanya Asano. Karma tertawa.

"Ya dan tidak. entahlah.. terserah kau mau menganggap tindakanku ini sebagai balas dendam atau bukan." Kemudian Karma mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa nomer. Ia mengangkat ponselnya hingga bertemu dengan telinganya.

"Halo, Nakamura! Bagaimana?" Nagisa menatap heran. Nakamura?

"Hmm~ ok.. sisanya kuserahkan pada kalian.. temui aku nanti untuk melapor. Jaa!" Karma mematikan ponselnya.

"Nah. Persiapan sudah selesai. Jadi, kalian hanya perlu menjalankan rencananya besok. Sebaiknya kalian istirahat dan mempersiapkan diri sekarang." Karma mengcapkannya dengan intonasi menakutkan. Nagisa yang tidak mengerti hanya menatap Karma dengan tatapan peringatan. Asano seakan ingin melempar Karma dan Okuda hanya menunduk gelisah. Karma tertawa iblis.

"Nah, kalau begitu aku dan Nagisa undur diri dulu.. ne, Okuda-chan.. apa kau fikir ukuranmu dan Nagisa sama?" Tanya Karma. Okudamengangkat wajahnya.

"Ukuran?" tanyanya.

"Ya, ukuran tubuh kalian.." Okuda mengerjap bingung.

"u-um. Kurasa." Jawabnya.

"Baguslah.. kalau begitu aku tak perlu membawamu untuk mengukur pakaianmu." Jawab Karma sambil menarik Nagisa untuk meninggalkan ruangan itu.

"Tunggu! sebenarnya apa yang akan kau lakukan?" Tanya okuda. Karma menoleh.

"Hm~ aku tidak akan melakukan apapun.. dan sebaiknya kalian istirahat. Kalian pasti tak mau memiliki kantung mata dihari pernikahan kan?" Okuda dan asano sukses mengerjapkan mata bingung.

"Menikah? Siapa?" tanya asano.

"Tentu saja kalian berdua~." Jawab Karma. Kedua insan itu tutup mulut. Mata melebar tak percaya. Dan semburat merah menyebar dengan cepat.

"anggap saja kado perpisahan dan hukuman dariku." Jawab Karma. Kemudian sosoknya menghilang dari ruangan itu.

Ansatsu Kyoushitsu

Nagisa mengikuti langkah Karma. Ia masih terkejut dengan apa yang Karma lakukan. Ia tak tau bagaimana perasaan Karma sesungguhnya saat ini. dan Nagisa ingin mengetahuinya.

"Karma-kun.. kita akan kemana?" Tanya Nagisa.

"Hm? Kita akan mengepas gaun untuk Okuda. Karena itu aku mohon bantuanmu." Ujar Karma tanpa menoleh. Nagisa terdiam.

"Karma-kun.." Panggil Nagisa.

"Hmm?"

"apa yang kau rasakan sekarang?" Tanya Nagisa pelan. Namun cukup untuk membuat Karma menghentikan langkahnya. Ia menoleh untuk melihat sosok Nagisa yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"apa maksudmu, Nagisa?"

"Kau tau maksudku, Karma-kun." Jawab Nagisa. Karma menghela nafas.

"Jangan terlalu mengkhawatirkanku.. aku baik-baik saja. Karena itu aku menikahkan mereka." Jawab Karma. Nagisa menggeleng.

"Kau tidak baik-baik saja.. ada sesuatu yang belum kau keluarkan." Jawab Nagisa. Karma mengangkat alisnya dan tersenyum. Gadis didepannya ini selalu tau. Selalu tak bisa membuat Karma menyembunyikan apa yang ia pikirkan.. angina pantai memainkan helai biru itu.

"Kau yakin kau ingin tau?" Tanya Karma. Nagisa mengangguk.

"Hhh.. ingat saat aku mengatakan bahwa aku tidak pernah mencintai Okuda dan aku takut jika pernikahan itu berlanjut, aku akan mencintai seseorang dan membuat Okuda menangis?" Karma mengingatkan. Nagisa mengangguk. Kemudian Karma tertawa.

"aku bersyukur aku tidak melanjutkan pernikahan itu.. kau tau?" Nagisa mencoba mencari beban disuara itu. tapi Nagisa tak menemukannya. Ia tau Karma tengah menunjukkansemuanya secara natural. Karma benar-benar bersyukur.

"Kau.. tidak.. patah hati?" tanya Nagisa hati-hati. Karma mengerjap.

"Tidak.. kurasa. tidak. Aku bahagia harus mengakhiri semua ini sebelum terlambat." Jawab Karma. Nagisa memiringkan kepalanya.

"Terlambat?" tanyanya. Karma mengangguk.

"Karena jika ini berlanjut, aku hanya akan menyakiti banyak orang." Jawab Karma. Kemudian ia menarik tangan Nagisa.

"Ayo! Tidak ada istirahat untuk kita!" ujarnya. Nagisa menurut. Ia melangkah dengan tangannya yang masih berada digenggaman Karma.

"Nagisa." Panggilan Karma membuyarkan keheningan.

"Besok.. setelah acara pernikahan selesai, jangan menghilang. Jangan pergi dulu. Ada yang ingin.. kubicarakan." Ujarnya tanpa menoleh. Nagisa mengangguk.

"Um."

Ansatsu Kyoushitsu

TBC

Hhhh.. akhirnyaaaa ^^. Amaya sempat baper gara-gara episode 24-25. Jadi mau nulis rasanya ga kuat*curhat sejenak.

ParkYuu: ah, baguslah kalau cerita ini menghibur ^^/ ok, saya juga suka Nagisa jadi cewek XD. Ok~ terimakasih sudah mampir ^^

Kiyona: iyaaaa! Mimpi kita sama! Semoga terwujud/woi. Ok, terimakasih untuk supportnya :D

Hyelaflaf: Dimaafkan.. dimaafkan :'D, hehehe.. saya ga bisa mengatakan apapun untuk masalah typo.. selain laptop saya yang minta di ganti sama yang baru, saya emang males mau baca ulang XD*plak memang mungkin saya diharuskan punya editor/nggak. Wkwkwk lelah dengan mereka yang entahlah.. terimakasih sudah mampir ^^

Akatsuki Akane: greget? Hehehe.. saya yang nulis juga XD. Terimakasih sudah mampir.

Nakamoto Yuuna: Terimakasih~

Kawaii Neko: iya.. saya berharap ada yang mau gambari buat saya*eh. Terimakasih sudah mampir ^^

ChintyaRosita: Done… terimakasih sudah mampir ^^

Faira: aduh.. sama-sama ^^. Terimakasih juga sudah baca, dan review ^^

Kyunauzunami: sama! Saya juga suka fem!nagi :D. hmm.. sepertinya ga akan lama lagi. Hehehe.. terimakasih sudah mampir ;)

nanaseID7: ah, syukurlah kalau begitu.. terimakasih supportnya :D

Frwt: hehehe.. inilah yang terjadi J. Terimakasih sudah mampir ^^

Theia: hehehe.. maaf ya, kalau nunggu lama :3 dan saya lanjutkan! Terimakasih sudah mampir

Denia: makin bingung XD saya juga bingung. Mau dibawa kemana mereka ini … semoga saya bisa menyelesaikan dengan baik ^^. Terimakasih banyaaak

Chindleion: yang terjadi, mereka beristirahat dengan tenang dan damai*plak. Yang terjadi kaya yang diatas. Meskipun gimanaa gitu XD. Terimakasih sudah mampir ^^

Hani Ninomiya Arioka: bingung? Saya ikut bingung XD. Terimakasih sudah mampir ^^

Natsuki no Fuyu-Hime: wkwkwk.. anak itu bebal dan tak sadar. Sama kaya author. Dia mulai suka (mungkin) hehehe.. terimakasih sudah mampir ^^

Senazoldyck: ini sudah dilanjut.. silahkan dibaca ^^. Terimakasih sudah mampir :D

Minna4869: ok~ Arigatou supportnya ^^

Shizuka Yomu: Boleh.. boleh.. silahkan ^^. Saya memang berharap anak itu salah kenali gendernya ( mana mungkin?) hehehe.. karena itu saya buat Nagisa jadi cewek disetiap fic saya* ada yang ambigu sih sebiji XD. Terimakasih sudah mampir ^^

Dan untuk kalian yang masih mampir dan membaca, meluangkan waktu untuk fic ini, yang sudah review, PM, Fav, Follow.. saya ucapkan terimakasih sekali.. I love You always! Semoga Amaya bisa menghibur semuanya dengan fic ini XD.

Jaa!