Pecah.
Chapter 12. Last Stand.
.
.
.
Daun tidak tahu berapa lama dirinya tertidur di dalam lorong ventilasi kapal angkasa Kaptern Separo. Yang pasti seluruh badannya terasa lebih segar setelah beristirahat sejenak. Walaupun punggungnya kini terasa kaku karena tidurnya itu beralaskan besi lorong ventilasi tempatnya bersembunyi.
Sudah tidak didengarnya lagi bunyi alarm yang tadinya bersahut-sahutan. Demikian pula hiruk-pikuk awak kapal yang panik mencarinya, sudah tidak terdengar lagi.
Walaupun begitu, situasi belum seratus persen aman bagi Daun. Jumlah awak kapal yang mondar mandir menjadi lebih banyak karena yang sedang tidak bertugas pun dipaksa untuk mencari tawanan mereka yang lolos. Hanya soal waktu saja sampai ada salah satu dari awak kapal itu yang punya ide untuk mencari di dalam lorong ventilasi.
"Duh... Daun harus lari kemana nih..." Bisik Daun pada dirinya sendiri yang masih berdiam diri di lorong ventilasi yang terletak persis diatas sel penjara tempatnya disekap tadi. Tanpa tahu arah dan tujuan, Daun beranjak merayap pergi meninggalkan area sel penjara dan menelusuri lorong ventilasi itu dengan perlahan-lahan
Sampai akhirnya Daun bertemu sebuah lorong ventilasi bercabang dua dan berukuran lebih besar. Diduganya itu adalah lorong ventilasi utama lorong ventilasi yang terletak persis di atas koridor utama. Satu-satunya petunjuk arah adalah sebuah tempelan yang bertuliskan stern dan bow.
'Bow? Bukannya bow itu artinya panah ya?' pikir Daun. 'Ah sudahlah, coba lewat sini.' Batinnya lagi sembari menelusuri lorong yang diindikasikan dengan tempelan tulisan bow.
"Ruangan-ruangannya jadi semakin kecil ya..." gumam Daun ketika menengok keluar memalui celah lubang ventilasi. "Berarti bow tadi itu artinya bagian depan kapal... Kalau stern berarti belakang..."
Daun berbalik badan dan kembali menelusuri lorong ventilasi itu sampai akhirnya dia berada di atas suatu ruangan yang berhawa panas. Bahkan hawa panas dari ruang yang berada di bawah lorong ventilasi itu membuatnya bercucuran keringat.
"Ruang mesin..." Gumam Daun sembari menengok keluar dari sebuah kisi-kisi ventilasi. Kedua matanya langsung mencari-cari benda apapun yang bisa ia gunakan untuk menyabotase mesin kapal angkasa dimana ia disandera itu.
"Nah, itu bisa kupakai." Dilihatnya sebilah linggis berukuran agak besar tergeletak di dekat turbin reaktor kapal angkasa itu.
Setelah memastikan tidak ada awak kapal yang berada di daerah itu, Daun langsung merapal jurus andalannya. "Akar... Menjalar." Bisiknya dan meluncurkan akarnya untuk meraih linggis itu. Akar itu dengan mudah melilit dan menarik alat yang diincar Daun.
"Pesta kembang api dimulai." Seringai jahil Daun mengembang dan linggis besar yang dililit akarnya dilepaskan tepat di atas turbin reaktor kapal angkasa itu.
Waktu seakan berjalan sangat pelan ketika linggis besar itu berbenturan dengan bilah-bilah turbin yang berputar dengan kecepatan tinggi. Bilah-bilah turbin itu berpecahan menghantam besi padat linggis.
Percikan api langsung melecut dari turbin yang menggiling linggis besar itu. Sebuah ledakan cukup besar menyusul yang menggetarkan seisi kapal sebelum dengungan bunyi reaktor kapal angkasa itu mendadak hilang.
'Besar juga ledakannya, hampir aku yang kena.' Batin Daun setelah menyaksikan hasil karyanya sebelum kembali merayap diam-diam meninggalkan daerah ruang mesin yang baru saja disabotase olehnya.
Alarm pun berbunyi kembali dan para awak kapal berhamburan menuju ruang mesin. Sementara Daun sendiri sudah berada jauh dari lorong ventilasi yang berada di atas ruang mesin tersebut.
Lorong demi lorong ditelusuri tanpa membuahkan hasil lebih lanjut. Kebanyakan dari lorong itu becabang menuju kamar para awak kapal dan dengan bijaknya, Daun memilih untuk menjauh dari daerah itu.
Mendadak sebuah ledakan kembali mengguncang seisi kapal angkasa itu.
'Astaga, Kapten Separo sedang membajak kapal angkasa lain!' Jerit Daun dalam hati. Tidak perduli lagi dengan bergerak sesenyap mungkin, kini Daun berlari menelusuri lorong terakhir yang berujung dengan kisi-kisi ventilasi yang berukuran cukup besar.
.
.
.
"Tikus kecil yang terlepas itu pasti yang merusak reaktor kapal angkasaku." Gerutu Kapten Separo yang nampak mondar-mandir kesal di anjungan utama kapalnya. Laporan kerusakan kapal baru saja diterimanya dan sang kapten terlihat semakin kesal.
"Rencanamu gagal sudah, Separo." Dengus Ejo Jo yang terlihat sangat kesal dengan kegagalan partner-in-crime-nya. Rencana aksi balas dendam mereka sudah hancur berkeping-keping.
Merasa namanya dipanggil, Kapten Separo mendelik."Kapten Separo, Ejo Jo," ketus sang kapten yang mulai gusar.
"Baik, Paduka Yang Mulia Kapten Separo." Sahut balik Ejo Jo yang mulai sarkastik. "Apa rencanamu ?. Oh, dan kalau kau tidak sadar, yang menyerang kita itu adalah kapal angkasa TAPOPS."
"Aku sudah bilang dari awal kan, harusnya kita curi dan perbaiki kapal angkasa bekas Kapten Vargoba."
"Hey, aku sudah berusaha untuk meng-upgrade kapalmu ini.". Protes Ejo. "Kapten macam apa kau?"
"Kapten Separo... Ejo Jo," gumam Daun ketika ia mengenali kedua alien yang berada di balik kisi-kisi ventilasi tempat ia bersembunyi. Pandangan matanya beralih pada sebuah layar di anjungan utama kapal angkasa itu. Nampak layar itu memperlihatkan sebuah kapal angkasa yang sedang menyerang kapal angkasa Kapten Separo
Sebuah kapal angkasa berwarna merah dengan bagian haluan yang lancip dan dua buah mesin berbentuk turbin di bagian belakang kapal angkasa itu.
"Karena dari tadi kau merepet saja, coba katakan, apa rencanamu?" Ujar Kapten Separo sembari melirik tajam ke arah Ejo Jo.
"Tenang, kita masih punya sandera-"
"Yang terlepas!"
"Kurasa tidak." Ujar Ejo Jo dengan sebuah seringaian. Kedua mata Ejo Jo menatap persis kearah kisi-kisi lubang ventilasi anjungan utama. "Bukan begitu, Daun?"
"Alamak... Dia tahu kalau Daun disini?" Daun meneguk ludahnya ketika mendapati dirinya ditatap langsung oleh Ejo Jo melalui kisi-kisi ventilasi yang sedari tadi menyembunyikan keberadaannya.
Belum sempat Daun beranjak pergi ketika sebuah roket yang berasal dari Robot PETAI melesat kearahnya.
"Daun Pelindung Menkuang!" Tidak sempat lagi menghindar atau melarikan diri, Daun langsung membentuk anyaman pelindung di sekeliling dirinya. Kedua matanya terpejam erat sembari dirinya bersiap menerima serangan Robot PETAI.
Setidaknya anyaman pelindung itu melindungi Daun dari serangan Robot PETAI meskipun kini persembunyiannya terbongkar.
"Alamak...Habislah." Daun menggumam ketika dirinya dikepung tiga musuhnya sekaligus. Kapten Separo dan Ejo Jo menghadang di depan sementara Robot PETAI di belakang.
"Kau rusak kapalku, tikus kecil." Kapten Separo menggeram pedangnya sudah terhunus.
"Kau culik dan sandera Daun 'kan?. Rasakan akibatnya!" Daun menggertak balik.
"Sudah, habisi saja dia. Rencana kita gagal!" Ketus Ejo Jo yang langsung mengaktifkan baju tempurnya. Pedang lasernya mencuat dari tempurung tangan. Hanya tinggal menunggu aba-aba saja untuk menyerang.
Namun Kapten Separo membentangkan tangannya di depan Ejo Jo. Dicegahnya alien berkepala kotak itu untul menyerang Daun. "Aku punya ide yang lebih baik." Bisik sang kapten disertai seringai yang licik. Ditatap dan diperhatikannya gerak-gerik bahasa tubuh Daun yang tidak meyakinkan.
Kapten Separo mendengus. "Memang tampang kau itu cocok untuk diculik." Dengan pedang terhunus, sang kapten melangkah mendekati Daun.
Tidak perlu diberi tahu, Daun langsung mempersiapkan diri. Akar-akar menjalarnya kontan menguar di belakang badannya. Hanya tinggal menunggu perintah dari empunya jurus saja. Hanya saja si empunya jurus tidak tahu siapa yang harus diserangnya lebih dahulu. Dia tahu persis kalau ia menyerang salah satu musuhnya, maka yang dua lainnya akan mengeroyoknya. Untuk pertama kalinya, Daun merasakan makna dari kata takut.
"Kenapa, bocah?" Desis Kapten Separo yang memperpendek jarak langkahnya. "Takutkah kau dengan kematian? Takutkah kau akan jurang gelap kematian?"
Ujaran Kapten Separo yang bernada rendah mau tidak mau menciutkan sisa-sisa nyali Daun.
"Ng... Ngga, Daun ngga takut!" Jawab Daun yang mati-matian mempertahankan raut muka keberaniannya.
"Tidak seperti dongeng, bocah. Segala kebaikanmu akan dilupakan, semua kesalahanmu menghantuimu. Aku bisa menawarkanmu jalan keluar, bocah." Lanjut Kapten Separo. Ditunjuknya beberapa awak kapal yang berdiri di dekatnya.
Dalam jarak sedekat itu barulah Daun melihat dan menyadari kalau awak kapal Kapten Separo tidak seluruhnya robot. Ada beberapa yang merupakan hybrid antara mesin dan mahluk hidup. Cyborg, cybernetic organism, mahluk hidup yang dirubah sebagian menjadi robot sehingga terhindar dari ancama kematian.
"Seratus tahun bahkan lebih, kau bisa hidup!" Kapten Separo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Daun yang terlihat gemetaran. "Bergabunglah dengan kami. Hidupmu kujamin!" Tangan sang kapten terulur kepada pecahan elemental BoBoiBoy itu.
"Ti-Tidak akan!" Teriak Daun sembari melangkah mundur. Ia bahkan enggan membayangkan rupa dirinya apabila menerima tawaran Kapten Separo itu.
'TEMBAKAN OPTIKAL!" Sebuah suara bergema keras ketika gerbang menuju anjungan utama itu meledak secara tiba-tiba. Sebuah sinar terfokus menembus gerbang itu yang berlanjut menembus Robot PETAI yang berdiri membelakangi gerbang tersebut. Dalam hitungan detik saja Robot PETAI itu musnah tanpa sekepingpun yang tersisa akibat terjangan sinar itu.
"CAHAYA!" Pekik Daun ketika mendengar dan melihat tembakan sinar yang berukuran besar itu. Sebuah senyuman lebar terkembang karena ia tahu teman-temannya telah datang untuk menyelamatkannya.
Yang pertama terlihat oleh Daun adalah Kapten Kaizo.
"EJO JO!" Kapten Kaizo menghardik. Pedang Tenaganya sudah menyala dan terhunus sewaktu sang kapten melangkah masuk ke dalam anjungan utama.
"Kaizo..." Ejo Jo menggeram ketika melihat orang yang pernah mengalahkannya dahulu. "Aku tak ada urusan denganmu!"
"Jelas ada, sekarang bersiaplah untuk kuhabisi!" Topeng tempurnya ditarik turun dan Kapten Kaizo merangsek maju melawan Ejo Jo seorang diri saja.
Di belakang Kapten Kaizo menyusul BoBoiBoy Cahaya dan Fang.
"Daun!" BoBoiBoy Cahaya dan Fang berlari menghampiri Daun yang tengah berhadapan jarak dekat dengan Kapten Separo. "Mundur!"
"Terlambat kau!" Kapten Separo memekik.
Daun baru saja membalikkan badannya untuk berlari menghampiri temannya. Sebuah kesalahan besar karena sudah membelakangi musuhnya.
Jangan pernah sekali-sekali membelakangi musuhmu, apalagi jika sedang berhadapan jarak dekat begitu. Karena itu sama saja dengan memberikan kesempatan terbaik bagi musuhmu untuk menyerang.
Dan itulah yang terjadi berikutnya.
"Hegh!" Hanya lenguhan singkat tercekat itu saja yang keluar dari mulut Daun yang terbuka lebar. Dilihatnya pedang milik Kapten Separo sudah menembus dadanya. Kedua matanya membelalak seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya.
"DAAUUUN!"
.
.
.
Bersambung
