Balasan review:
Azriel : Hahaha.. iya. Full sasu saku nee-chan. Kalau chap ini full... / udah tahu kan? Eheyy.. kabar gembira apaan itu? Masa saso ngelamar dei. Nanti aku jambak ahh.. si banci #plakkk
Guest : Iya.. saso hanya kembarannya sakura. Nanti di edning lihat aja deh.. siapa yg menang. #smirk
Meme chua : haiii.. jadi nama kamu yg Kwon Mechu itu ya? Oke deh.. hehe ak gak tau tuh soal SNSD. Jadi gomen kalau gak nyambung. Eerr.. gak ada lemon kok. Hanya lime aja. Aku udah tobat sama yg begituan. Umurku ya? Umurku 12 tahun. #dilemparkejurang boong... umurku 18 tahun.. #diaudahtua kalau nanti gak tahu ya hinata bakal berbuat sesuatu atau nggak. Soalnya ak belum mikir kesana. XD ff ini sampai brp chap ya? Kayaknya sih masih banyak. Tapi targetku sih jangan sampai lebih dari 20 chap. Ohh.. maren aku lagi malas balas review. Soalnya udah kemalaman. Dan cuman jawab pake 'A.Q' Ini sudah dijawab ya.. makasih udah mampir.
Dewi sasusaku : paring tetep kok. Yaitu.. sasu x saku x saso dan utk ending sihh rahasiaaaa..
Mina jasmine : hai jugaaa.. wah.. jadi feel-nya ke sasu saku ya? Bagus dehh../ err.. iya, nanti itu minta restu dulu baru taruhannya berakhir. Minta restu itu sebenarnya bukan untuk syarat. Tapi untukkk... rahasia ahhh..#ditabok waduh.. hinata transformasi jadi yg agak nakal ya di chap maren. Muehehe. Iyaa.. makasih jug sudah membaca ff gaje ini dan bersedia mereview panjang2 kyk gini. Aku seneng lo #peyukkk. Oh iya.. mohon maaf lahir batin ya
Uchiha cherry : brp chap ya? Kayaknya gak sampai 20 lebih. Tapi lihat aja ya..
Ryouka : ini bukan minta voting. Tapi ak hanya nanya, feel-nya lebih ke pair yg mana. Tapi makasih udah memberikan suara
Guest : sakuranya bitchy? Ckckc.. makasih atas sarannya XD
Sakura : wahh.. jadi feel-nya lebih ke sasu saku yaa.. thaks
Hasna : udah kujawab diatas..
Guest : iya.. makasih udah memberikan suara. Nanti endingnya ryu usahain yg terbaik.
Sakuchiha : asyik.. sasusaku udah mulai terasa berarti ya..
Meme-chua : jiahh.. dia nongol lagi. XD Oke.. aku tampng ya. Berarti lebih ke sasu saku. Umurku? Umurku 18. #janganketawaplease
Jewelfish : ciee suka incest ;) aku juga lohhh #toss jadi kamu merasa lebih ke sasosaku ya? Oke lahh..
Harakim 98 : okee terima kasih harakim-sann ^^
Makasih yg udah review chap maren. Yg log-in nanti aku balas via PM ya.. thanks minna.
12 CHOICES
BY RYUHARA HARUNO
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO
Shokuhatsu sa reta Boku Wa Imouto Ni Koi Wo Suru by Kotomi Aoki
Pairing : Sasuke x Sakura
Slight Sasori x Sakura
Slight Sasori x Sara
Warning : au, ooc, typo (s), dll.
Don't like don't read !
If you like this story, give me review/fave/follow/Smile
.
.
.
Enjoy it
Previous Chapter :
Sasori membantu ibunya dan Sakura sibuk membuat onigiri.
"Kalau sudah selesai, kalian mandi dan pakai pakaian yang sudah Kaasan gantung di belakang pintu ya? Sakura juga, kau harus berdandan malam ini." Pesan Ashura.
"Memangnya ada apa, Kaasan?" Tanya Sakura.
"Kakek ulang tahun." Jawab ibu dari dua anak kembar ini dengan singkat.
"Kyaaaa... benarkah? Aku ingin memakai baju yang sama dengan onii-chan~" Ujar Sakura antusias.
"Kenapa harus sama?" Ujar Sasori.
"Kita 'kan kembar."
"Cihh!"
"Onii-chan~"
"Baju kalian sudah Kaasan siapkan. Nah sekarang sudah selesai. Kalian berdua segera siap-siap."
"Aku mandi duluaaaannn!" Sakura berlari ke kamar mereka dan meninggalkan Sasori yang hanya menatapnya dengan geli.
"Dasar anak-anak!" gumamnya.
"Dia kembaranmu lo, Saso-kun." Goda Ashura.
Sasori memutar matanya bosan dan berjalan menuju kamar mandi di dekat dapur.
Chapter 11 : Party
"Nii-chan, tolong pasangkan risletingku."
Sakura menyodorkan punggung mungilnya pada Sasori. Anak sulung dari dua saudara kembar itu melirik adiknya yang mengenakan dress berwarna merah setinggi lutut, tanpa lengan dan memamerkan bahu serta leher mulus Sakura. Rambut merah mudanya ia gelung rendah dan diberi hiasan tiara silver dengan hiasan batu emerald di tengahnya. Sasori melirik leher Sakura dari belakang, ia menaikan risleting gaun adiknya dan menatap pantulan bayangan mereka pada cermin.
"Ne, Sudah ya? Ahhahaha.. lihat! A-aku cantik sekali. Dan Saso-nii juga tampan."
Sakura melihat bayangan kakaknya yang memakai kemeja merah lengan panjang, dibalut rompi cokelat muda dan tuxedo hitam yang terlihat agak kebesaran. Err.. mungkin itu milik Shoichi. Sakura tersenyum manis dan menghadap ke arah kakaknya yang berdiri di belakangnya.
"Onii-chan~ onii-chan tampan sekali. A-aku jadi suka." Sakura memerah malu.
Jantung Sasori agak berdebar saat gadis dihadapannya ini memujinya. Hanya saja ia berusaha menutupinya dan menatap sepasang emerald itu dengan lembut. Ia mengelus rambut adiknya dan berbisik.
"Kau juga Saku-chan. Saku-chan cantik sekali. Jadi pacarku ya?" Ledeknya.
Sakura memanyunkan bibir mungilnya yang dipolesi lipgloss rasa cherry. Membuat wajahnya bertambah lucu dan menggemaskan.
"Huuu... onii-chan aneh. Aku 'kan kembaranmu. Masa kita pacaran." Rengut Sakura.
"Benarkah? Tapi kita tidak mirip lo. Jangan-jangan kau bukan kembaranku?" Goda Sasori.
Sakura melipat tangannya di depan dada dan membuang muka.
"Tentu saja kita tidak mirip. A-aku 'kan cantik dan onii-chan jelek."
Sasori mengangkat bahunya dan mencuil pipi Sakura.
"Dasar tidak jelas. Tadi katanya onii-chan itu tampan. Kenapa sekarang jelek."
Sasori pergi meninggalkan adiknya di dalam kamar. Sakura menatap punggung kokoh yang semakin menjauh itu dan tersenyum kecil.
"Hehehe.. aslinya onii-chan tetap tampan kok." Gumamnya.
~~12 CHOICES~~
Shoichi dan Ashura sudah siap dengan penampilan mereka masing-masing. Penampilan kedua orang tua dari saudara kembar ini tak jauh beda dari anaknya. Hanya saja Ashura memakai long dress yang motif gaunnya serupa dengan Sakura dan Shoichi memakai Tuxedo cokelat gelap. Kedua orang tua Sasori dan Sakura memasuki mobil keluarga Akasuna. Sakura duduk di belakang bersama Sasori dan Shoichi serta Ashura di depan. Keempat keluarga Akasuna ini sudah siap untuk datang ke pesta ulang tahun Tuan Kizashi Haruno, ayah dari Akasuna Ashura di kediaman utama Haruno.
"Ne..onii-chan. Nanti kita akan bertemu kakek. Hehe.. onii-chan sudah beli kadonya, tidak?" Cetus Sakura saat mobil mereka menembus cahaya malam dari kota Konoha.
Sasori yang semula menatap ke arah jalanan merubah arah pandangannya menuju adik kembarnya yang tersenyum manis.
"Hm.. sudah. Kalau, Saku-chan?"
"A-apa? Onii-chan memberikan kado apa pada Kakek?"
"Hm... apa ya?" Sasori menaruh jari telunjuknya di dagu dan memasang pose berfikir. Sedangkan Sakura tampak antusias untuk mendengarkan perkataan Sasori selanjutnya. "Hahaha.. itu rahasia." Lanjutnya tanpa dosa.
Sakura memajukan bibirnya dan menyipitkan pandangannya. "Dasar, onii-chan no baka!" Teriaknya.
Ia pura-pura merajuk dan tak mau menoleh ke arah Sasori yang memanggilnya sedari tadi.
"Saku-chan... Saku-chan~ hey... adik manis onii-chan jangan ngambek. Nanti kucingnya lari loh.." Bujuk Sasori.
Sakura masih bertahan pada posisi "Ngambek"nya. Bahkan ia memutar tubuhnya 90 derajat menghadap jendela dan membelakangi Sasori.
"Hei.. ayolah. Kita akan sampai, Saku-chan. Jangan seperti anak kecil. Atau.. kau mau kucium ya?" Ledek Sasori.
Ashura yang berada di depan terkikik geli mendengarkan perkataan anak laki-lakinya itu. Entah kenapa, rasanya kalimat yang diucapkan oleh Sasori pernah ia dengar sebelumnya. Diucapkan oleh lelaki berbeda saat ia masih muda dan tentu saja ucapan itu selalu membuat pipinya terasa panas dan detakan jantung menjadi lebih cepat. Sama persis seperti yang dirasakan Sakura sekarang.
Sakura menahan sudut bibirnya yang berkedut menahan tawa. Ia memejamkan matanya untuk menghilangkan perasaan gugup. Padahal Sasori itu hanya meledeknya saja. Sakura tahu itu. Tapi, kenapa rasanya ia menjadi gugup dan pipinya memanas?
"Hei... kau beneran ingin aku cium ya?" Ujar Sasori.
Ashura melirik anak perempuannya yang masih merajuk dari spion. Melipat tangan di depan dada, memajukan bibir, dan pura-pura tidak mendengarkan perkataan orang lain. Benar-benar sifat yang diturunkan oleh ibunya. Entah kenapa rasanya Ashura seperti melihat bayangan dirinya saat remaja dulu. Sedangkan Shoichi yang sibuk menyetir terkekeh geli mendengarkan ucapan Sasori. Merasa sama seperti dirimu disaat remaja, heh? Shoichi?
"Hei.. kalau kau masih pura-pura merajuk. Aku beneran lo akan menciummu Saku-chan~" Sasori merapatkan duduknya dengan adik kembarnya itu.
Sakura yang sudah terpojok di sudut mobil hanya bisa menahan debaran jantungnya. Ia melirik sedikit ke arah Sasori yang menyeringai. Kakaknya itu sengaja membuatnya gugup. Dan kalau bisa sampai Sakura salting dan blushing.
"Aku cium ya?"
Cup!
Ckitttt!
Shoichi dan Ashura agak kaget saat melihat anak laki-lakinya itu memiringkan wajahnya membelakangi mereka dan mengecup sesuatu dari bagian wajah anak perempuan mereka. Sampai-sampai membuat Shoichi mengerem mendadak. Untung saja tidak sampai terjadi kecelakaan. Sebagai kepala keluarga, tentu saja ia sampai shock melihat kelakuan Sasori. Hingga detik ini anak laki-laki satu-satunya itu belum menjauhkan wajahnya dari wajah Sakura. Membuatnya menjadi emosi dan menegur Sasori.
"Sasori jauhkan wajahmu dari Sakura." Perintah ayahnya dengan tegas.
Ashura melihat ke belakang dan melirik anak laki-lakinya itu.
"Akkhh..." rintih seseorang.
Sasori menjauhkan posisinya dari Sakura. Membuat Shoichi dan Ashura dapat melihat anak perempuan mereka yang menyengir tanpa dosa dan memegang sebuah boneka kuala berukuran sedang.
"Hahahaha.. h-hai, Kaasan. H-hai.. Tousan." Ujarnya polos.
Sasori memegangi hidungnya yang lecet karena habis berbenturan dengan hidung boneka kuala yang dipegang oleh Sakura. Entah dari mana adiknya itu mendapatkan senjata yang bisa melecetkan hidung Sasori, yang pasti benda itu bisa menenangkan hati Shoichi dan Ashura. Mereka semua tergelak tawa dan membuat Sasori menjadi malu.
"Awas ya Saku-chan. Aku akan membalasmu." Bisik Sasori.
Sakura meleletkan lidahnya dan tertawa. "Hahaha.. coba saja kalau bisa."
.
.
.
Setengah jam di perjalanan, akhirnya mereka tiba dikediaman Haruno. Rumah dengan perpaduan arsitektur antara khas Eropa dan Asia itu menjulang tinggi dengan 3 tingkatan. 6 pilar utama untuk menyanggah bagian depan rumah. Beberapa pilar di bagian sampingnya, dan ukiran-ukiran dewa Yunani yang terdapat di pintu utama. Di halaman sudah terparkir rapi kendaraan-kendaraan keluarga mereka yang lainnya. Dikarenakan malam ini akan diadakan pesta ulang tahun tuan Haruno yang ke 70 tahun, maka para tamu yang hadir hanyalah keluarga Haruno. Mencangkup anak, menantu, cucu, sampai ke sepupu dan saudara jauh.
Ashura yang sebelumnya bermarga Haruno merupakan anak kedua dari pasangan Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki. Ibu dari anak kembar ini juga memiliki saudara kembar perempuan bernama Shiura. Maka dari itu, keturunan kembar sudah ada dipihak keluarga Ashura. Sehingga tak heran jika ia memiliki anak kembar seperti Sakura dan Sasori.
"Wah... besar sekali rumahnya. Ne Kaasan, ini rumah kakek ya? Rasanya aku belum pernah kemari." Ucap Sakura saat mereka baru turun dari mobil.
"Iya sayang. Tapi ini rumah utama. Biasanya hanya digunakan untuk acara-acara besar keluarga Kaasan. Seperti acara ulang tahun, pernikahan, jamuan makan malam untuk keluarga besar, ataupun untuk merayakan hal-hal besar lainnya." Jelas Ashura.
"Ohh.. k-kalau rumah kakek yang sebenarnya di Hokaido 'kan, Kaasan?"
"Iya, Sayang. Sudah.. tanya-tanyanya nanti saja. Sekarang, ayo kita masuk."
Shoichi menggandeng tangan Ashura. Begitu pula dengan beberapa tamu lainnya. Sakura hanya diam melihat sekelilingnya, hingga ia merasakan sebuah tangan kekar menyusup ke pinggang rampingnya dan merangkulnya dengan mesra.
Glek..
Sakura tergelak kaget. Ia menoleh ke sebelah kanannya dan mendapati kakaknya tersenyum manis. Sasori melirik Sakura dengan lembut dan mengecup kepala adiknya.
"Kita pasangan malam ini, hm?" bisiknya.
Sakura mengangguk dan ikut merangkul pinggang Sasori.
"Iya.. onii-chan jadi pasanganku."
~~12 CHOICES~~
Suasana pesta sudah cukup ramai. Para tamu undangan yang didominasi oleh rambut merah muda pun menjamur ke sana kemari. Yah.. karena surai merah muda dan mata emerald merupakan ciri fisik yang khas dari seorang Haruno. Sasori merasa sedikit minder karena hanya dia dan ayahnya yang bersurai merah nyala disini. Beberapa memang ada warna yang lain, seperti cokelat, hitam ataupun pirang. Tapi tetap saja rasanya hanya rambut miliknya yang paling mencolok. Sakura melihat kakeknya di antara kerumunan para tamu undangan. Ada yang mengucapkan selamat, berbincang-bincang tentang bisnis, dan memberikan kado.
Sakura menyeret Sasori ke arah kerumunan itu dan tersenyum manis saat bayangan dirinya dilihat oleh sorot emerald Kizashi.
"Kakeeeekkk~"
Sakura berlari dan memeluk kakeknya dengan sayang. Semua yang melihatnya tergelak tawa melihat cucu kembar dari pasangan Ashura dan Shoichi ini.
"Kakek... Sakura rindu. Selamat ulang tahun ya." Ucap Sakura.
Kizashi tersenyum dan membelai kepala Sakura.
"Terima kasih sayang. Wah.. cucu kakek sudah besar ya? Tambah cantik seperti ibumu. Mana kembaranmu Saku-chan?" Tanya Kizashi.
Raut wajahnya yang sudah tua tampak jelas dari banyaknya keriput. Namun senyuman dan keramahannya sebagai figur seorang ayah dan kakek dapat menutupi perubahan karena pertambahan usia tersebut.
"Onii-chan! Sini." Teriak Sakura.
Sasori muncul dari banyaknya kerumunan disana. Sosok remajanya yang semakin hari semakin bertambah dewasa membuat Kizashi merasa seperti melihat menantunya itu. Dari surai merahnya, sepasang mata hazel, wajah yang terlihat lebih muda dari pada usianya, benar-benar mengingatkan Kizashi pada sosok pria yang melamar putrinya.
"Ah.. gomen Saku-chan. Tadi aku tersangkut dulu." Ucap Sasori.
Sasori tersenyum. Hazel-nya melirik sosok ayah dari ibunya dan berorijigi dengan sopan.
"Selamat malam kakek. Ma-maaf aku terlambat dan selamat ulang tahun." Ujarnya.
Kizashi tersenyum dan mengusap kepala cucu laki-lakinya itu. Entah kenapa rasanya ia melihat gambaran Shoichi dan Ashura saat mereka masih remaja. Sasori menegakkan kembali tubuhnya dan merasa heran dengan tatapan yang ditujukan oleh kakeknya.
"Terima kasih cucu kakek yang paling besar. Haha.. kau tambah dewasa ya Saso-kun. Seperti Shoichi dulu."
Sasori tersenyum simpul dan melirik ayahnya yang berdiri tak berapa jauh dari mereka. Sakura merangkul lengan kakaknya itu dan menatap kakek mereka.
"Ne, kakek.. cucu kakek yang paling besar itu bukan onii-chan! Tapi kami berdua. A-aku 'kan kembaran Saso-nii." Ucapnya.
Kizashi tertawa kecil. Membuat Sakura menggembungkan pipinya dan memajukan bibir kecilnya itu.
"Huu.. apanya yang lucu."
Sasori mengelus pipi Sakura agar pipi adiknya itu mengempis. Sakura melirik kakaknya yang tersenyum manis dan menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu di dada kakaknya.
"Huaaaaa... aku ditertawakan." Rengek Sakura.
Mereka semua yang ada disana tertawa melihat tingkah laku Sakura yang lucu. Poor you Saku-chan!
~~12 CHOICES~~
Sasori mengeratkan pegangan tangannya pada jemari-jemari mungil Sakura. Setelah acara resmi dibuka dan pemotongan kue ulang tahun berlalu, kedua anak kembar ini semakin lengket dan tidak mau dilepaskan. Apalagi Sakura yang selalu menempel pada Sasori. Ia tidak mau jika kembarannya itu dikerubungi oleh saudara-saudara sepupu mereka yang ganjen dan berusaha mencari perhatian kakaknya. Bertingkah seolah-olah mereka itu pacaran dan hanya Sakura saja yang boleh dekat dengan pemuda itu.
"Onii-chan, ambilkan aku kue cokelat itu ya?"
Sasori berdiri dan mengambil piring kecil. Di hadapannya sudah tersaji berbagai jenis makanan. Ada steak, spagetti, daging ayam panggang yang utuh, es krim 7 warna, kue-kue tradisional sampai dengan kue modern, cokelat berbagai bentuk, dan minuman-minuman penyegar lainnya seperti sirup, wine, teh hangat dan kopi hitam.
Ia mengambil kue cokelat pesanan adiknya itu dan juga cokelat murni berbentuk kelinci. Tak lupa pula Sasori mengambil sirup yang sewarna dengan rambutnya dan membawakan semua makanan itu ke meja mereka.
"Wah.. ada cokelat ya? Kyaa.. bentuknya lucu. Aku jadi ingin mencicipinya." Seru Sakura.
Sasori yang sedang mengunyah cokelat itu menghentikan aktivitasnya dan menatap adiknya itu.
"Mau?"
"Hu 'um."
Sasori menyuapi potongan cokelat itu ke mulut Sakura. Gadis itu terkikik geli dan tersenyum setelah menelan semuanya.
"Hahaha.. agak pahit ya nii-chan." Sakura mengambil minuman milik Sasori dan menyesapnya hingga setengah.
Kemudian mereka melanjutkan acara makan malam itu hingga..
"Nee-chan. A-aku laparrrr..."
Muncul suara bening milik seseorang di dekat Sakura. Sakura melihat ke bawah dan mendapati seorang anak kecil yang terlihat serupa dengannya. Hanya saja iris mata anak itu seperti hazel milik Sasori.
"Kyaaa... kawaiii ne. A-adik kecil kenapa? Kau tersesat ya?" Sakura mengusap surai pink sebahu milik anak kecil itu.
Sasori yang menyesap minuman miliknya melihat Sakura yang sedang berbicara pada makhluk kecil di bawah sana.
"Iyaa.. a-aku lapar. Nee-chan!" Ucapnya.
Anak kecil yang berusia sekitar 3 tahunan itu menarik ujung gaun yang dikenakan Sakura. Sakura yang pada dasarnya memang menyukai anak kecil menggendongnya dan memangkunya di atas paha.
"Lihat nii-chan! Aku menemukan anak kecil yang lucu." Ujar Sakura.
Sasori memandang anak kecil itu. Saat dua bola mata serupa itu berbenturan, entah kenapa rasanya Sasori melihat ada bayangan dirinya sendiri pada anak kecil itu. Apalagi anak kecil itu tersenyum manis. Serupa dengan senyuman milik Sakura.
"Papaaaaa!" Teriaknya dengan senang.
Sakura dan Sasori tergelak kaget saat anak kecil itu memanggil Sasori dengan kata 'Papa'. A-apa mungkin?
"A-apa? Papa? Ja-jadi.. i-ini anak nii-chan?" Tanya Sakura.
Sasori yang masih shock dengan ucapan anak kecil dipangkuan Sakura itu dengan refleks menggelengkan kepalanya dan mengibas-ngibaskan tangannya di depan dada.
"Tidak! Mana mungkin anakku! A-aku saja belum pernah pacaran." Terang Sasori dengan wajah panik.
Anak kecil itu terkikik geli dan membuat Sakura merasa gemas dan mencubiti pipi anak tersebut.
"Pa-paa..m-mamaa..." Dia menunjuk Sakura dan Sasori secara bersamaan.
Baik Sakura ataupun Sasori tertawa geli dan mengusap rambut anak itu.
"Ohh.. j-jadi nee-chan ini mamamu. Dan kakak itu papamu ya?" Tanya Sakura.
Anak itu menangguk lucu.
"Baiklah, jadi siapa namamu sayang?"
"Mo-mochiii.." Ucapnya lancar.
Sakura tersenyum kecil dan membelai rambut yang senada dengan miliknya itu.
"Waahh.. nama yang bagus. Baiklah, Momochi laparkan? Ayo kita cari makanan untuk Momochi-chan." Ujarnya.
Sakura menggendong bocah berusia 3 tahun itu dan didampingi Sasori di sebelahnya. Jika dilihat dari jauh, rasanya mereka seperti keluarga bahagia. Apalagi dengan adanya seorang anak kecil yang terlihat seperti perpaduan antara gen Sakura dan gen Sasori.
Mereka bertiga berjalan menuju meja prasmanan. Sasori mengambil piring dengan ukuran lebih besar. Sakura yang sedang menggendong Momochi mengambilkan kue yang ditunjuk oleh anak itu dan meletakannya pada piring yang dibawa Sasori.
"Mama.. Momochi mau yang itu!" Momochi menunjuk sebuah cokelat murni berbentuk kelinci yang sama persis dengan apa yang dimakan oleh Sasori tadi.
Sakura tersenyum sambil melirik kakaknya yang terlihat kaget itu dan menaruh cokelat itu di atas piring.
"Selera onii-chan sama dengan Momochi ya? Atau jangan-jangan Momochi ini memang anakmu?" Bisik Sakura.
Sasori membuang wajahnya dan melihat yang lain.
"Saku-chan ini.. awas ya." Gumamnya.
Kemudian Sakura mengambil milkshake stroberi untuk Momochi. Selera minuman yang sama dengan dirinya. Kali ini giliran Sasori yang tersenyum. Ia menggoda Sakura dengan membisikkan,
"Ternyata dia bukan hanya anakku heh? Dia anak kita, Saku-chan."
Sakura yang mendengar perkataan Sasori itu menundukkan wajahnya yang memerah malu. Membuat Momochi merasa khawatir dan menangkup wajah Sakura dengan tangan mungilnya itu.
"Mama kenapa? Mama sakit ya?" Tanyanya.
Sakura yang merasakan adanya sentuhan hangat diwajahnya mendongak dan mendapati wajah Momochi yang terlihat khawatir. Ia melirik Sasori yang tersenyum manis dan mengelus pipi Momochi.
"Tidak kok sayang.. hehe.. nee-chan hanya sedikit pusing."
"Apa? Mama pusing? Papa... papa harus melakukan sesuatu." Momochi berbicara pada Sasori.
Kini wajah Sasori yang bersemu tipis. Sakura tergelak tawa dan menyikut Sasori.
"Nee.. papa-kun~ papa-kun harus melakukan sesuatu. Ayo, gendong Momochi." Ujar Sakura.
Sasori mengulurkan tangannya dan berganti menggendong Momochi. Anak kecil itu tampak senang dan menjambak helaian merah Sasori.
"Kyaaa... wajah papa tampan." Pekiknya lucu.
Sasori hanya bisa terdiam dan membiarkan Momochi menjambaki rambutnya seperti yang biasa dilakukan Sakura. Jadi, Momochi anak kalian berdua hm?
~~12 CHOICES~~
Setelah mereka bertiga menghabiskan waktu di meja makan, tiba-tiba saja Momochi menghilang dikerumunan orang dan membuat Sakura kewalahan mencari anak kecil itu. Ia melirik Sasori yang juga sudah lelah mengelilingi rumah mewah itu hanya untuk mencari keberadaan si kecil jelmaan dia dan Sakura.
"Onii-chan, a-aku lelah. Mungkin Momochi sudah bertemu dengan orang tuanya. Makanya dia tidak kembali lagi."
Sasori menyodorkan air minum pada Sakura dan diterima oleh adiknya.
"Hmm.. mungkin. Tapi Momochi 'kan masih kecil. Jika dia tersasar bagaimana atau diculik?" Fikir Sasori.
"Dia itukan juga anggota Haruno, nii-chan. Jadi tidak mungkin tersasar. Pasti orang tuanya sudah menemukannya. Lagipula siapa yang mau menculik Momochi? Semua yang ada disinikan adalah keluarga Haruno." Jelas Sakura.
Sasori hanya menegakkan bahunya dan ikut duduk berhadapan dengan kembarannya. Tak lama setelah itu lampu dipadamkan satu per satu. Musik yang mengalun pun menjadi lebih pelan dan romantis. Para tamu mulai berjalan ke lantai dansa bersama pasangan mereka masing-masing. Begitu pula dengan Shoichi yang memberikan tangannya pada Ashura untuk mengajak berdansa. Sakura yang melihatnya dari jauh tertawa kecil melihat kedua orang tuanya itu.
Sret.
Seseorang memberikan tangannya di depan Sakura sembari berlutut dihadapannya. Sakura sendiri merasa kaget dengan sikap yang ditunjukkan Sasori. Apalagi untuk malam ini. Rasanya, Sasori memperlakukan dia sebagai kekasih bukan sebagai saudara kembarnya.
Lagi-lagi, mata hazel itu menyorotkan rasa keinginan yang terpencar dari dalam hati yang tak pernah tersampaikan. Sebuah keinginan untuk memiliki, meraih sesuatu, dan menggenggamnya di tangan ini. Namun, ia sadar bahwa keinginan yang ingin di miliki itu adalah keinginan yang salah. Suatu keinginan yang tak mungkin tercapai. Karena Sasori tahu, keinginan untuk memiliki dan menjadikan Sakura sebagai miliknya adalah sesuatu hal yang tak akan pernah tergapai. Walau bulan dan bintang menyaksikan kesungguhannya malam ini.
Sakura sendiri tak merespon secara cepat atas perlakuan Sasori malam ini. Ia menatap lurus ke depan tepat ke dalam bola mata berwarna hazel itu. Berusaha mencari-dan mencari apa maksud dari perlakuan ini. Dan mencoba membuktikan bahwa dugaannya salah.
"Onii-chan." Gumam Sakura.
Sasori menundukkan wajahnya dan siap untuk kembali berdiri. Ia tahu, bahkan sangat tahu bahwa posisinya hanyalah sebagai kakak disini. Dan akan berlaku untuk dimana pun mereka berada. Ia sadar bahwa Sakura menolak ajakannya untuk berdansa. Namun, sebelum ia kembali berdiri sebuah telapak tangan mungil menelusup ke dalam genggamannya dan membuat Sasori mendongak. Dilihatnya wajah Sakura yang tersenyum manis dan menganggukan kepalanya dengan imut.
Sasori tersenyum kecil dan mengecup punggung tangan Sakura. Kemudia ia bangkit dari posisinya dan merangkul Sakura menuju lantai dansa. Beberapa mata melihat mereka dan tersenyum kecil. Shoici sendiri dan Ashura malah terlihat senang melihat anak kembar mereka yang sudah beranjak dewasa itu. Walau sekarang mereka hanya memandang bahwa keduanya itu hanya saling menyayangi sebatas saudara. Tanpa tahu bahwa sudah ada perasaan yang tumbuh semakin besar di salah satu pihak.
Sakura tersenyum manis di bawah pantulan cahaya yang minim di lantai dansa. Ia mengalungkan tangannya pada leher Sasori dan dibalas dengan tangan Sasori yang melingkari pinggang ramping Sakura. Kedua mata berbeda warna itu saling menatap. Saling memandang satu sama lainnya hingga wajah mereka berdua saling berdekatan. Kedua tubuh mereka saling merapat hingga bisa Sasori rasakan tubuh mereka menyatu. Sakura menutup matanya, dan merasakan kecupan hangat di wajahnya yang diberikan Sasori.
Kecupan hangat yang membakar kulit wajah Sakura dan membuat jantungnya ikut berdebar 3 kali lipat lebih cepat dari biasanya. Sasori memiringkan wajahnya menuju telinga Sakura dan berbisik pelan.
"Sakura, untuk malam ini saja jangan memanggilku dengan sebutan onii-chan. Tapi panggil aku Sasori."
Sakura menganggukkan kepalanya dengan refleks. Ia menundukkan wajahnya yang memerah dan menyembunyikannya di dada Sasori. Sepanjang pesta dansa, mereka terus dalam posisi itu dan membuat Sakura merasa aneh dengan keadaan ini. Dimulai dari sikap manis Sasori. Tatapan matanya yang seolah-olah ingin menyampaikan suatu perasaan yang terkubur dalam-dalam. Hingga ucapannya yang menyuruh Sakura agar tidak memanggilnya dengan sebutan "Onii-chan". Melainkan dengan sebutan nama pemuda itu sendiri. dan ditambah lagi debaran jantung Sasori yang semakin menggila.
Sakura mengangkat kepalanya dan menatap ke dalam iris hazel kakaknya. Berusaha mencari kebenaran apa yang telah disembunyikan Sasori tanpa sepengetahuannya. Kebenaran yang menjadi awal dari segala perubahan sikap Sasori pada dirinya. Sasori sendiri menunduk untuk membalas tatapan dari sepasang emerald di bawahnya. Namun belum ada 1 menit mereka bertatap-tatapan, keduanya saling melepaskan kontak mata dan menyembunyikan wajah mereka yang memerah.
Sakura tak sengaja mendengarkan lagi debaran jantung Sasori. Ia mendongak sebentar melihat si pemuda di hadapannya ini dan membatin, "K-ke-kenapa? Apa mungkin o-onii-chan menyimpan sesuatu dariku? Ta-tapi apa?"
Cup.
Sakura sedikit terkejut saat Sasori mendaratkan sebuah kecupan di kepalanya. Ia melihat wajah Sasori tersenyum manis dan berkata pelan.
"Jangan terlalu gugup begitu Saku-chan." Ucapnya untuk mencairkan suasana diantara mereka.
Sakura tersenyum kecil sebagai tanda bahwa ia merespon ucapan kakaknya. Tanpa tahu bahwa dalam hati ia sudah menarik kesimpulan sendiri yang ia peroleh dari pengamatannya. "Aapakah mungkin, onii-chan menyukaiku?"
~~12 CHOICES~~
Sakura menyesap aroma angin malam yang berusaha menembus kulit tubuhnya yang terbungkus jas Sasori. Kedua saudara kembar ini memutuskan untuk keluar dari pesta setelah acara dansa selesai. Karena, kebanyakan dari tamu yang berusia lanjut membicarakan bisnis dan nasib perusahaan mereka ke depan. Sasori menggenggam tangan Sakura dengan posesif. Ia mengajak saudara kembarnya itu menuju kolam berenang yang tampak tenang pada malam hari. Apalagi suasana disini cukup sepi. Hanya ada mereka berdua dan bayangan masing-masing. Diterangi sinar bulan yang menggantung rendah. Ditutupi awan-awan malam yang mengarak oleh tiupan angin.
Sakura merendam kedua kakinya disana. Ia menutup matanya sembari merasakan angin malam yang membelai permukaan wajahnya dengan halus. Membuat ia dapat merasakan rileks sejenak setelah merasa lelah karena fikiran-fikiran yang sejak tadi berselileweran di kepalanya. Sasori sendiri terhipnotis dengan maha karya Kami-sama yang berada di hadapannya. Wajah ayu itu, sepasang mata emerald yang sedang bersembunyi di dalam kelopak matanya, helaian rambut sehalus sutra yang sewarna dengan bunga sakura. Dan ditambah lagi bibir tipis berukuran mungil yang terkatup rapat itu. Membuat ia sendiri menjadi lupa bahwa gadis di depannya ini adalah sesosok gadis yang lahir bersamaan dengan dirinya. Berada di rahim yang sama, meminum air susu yang sama, dan memiliki aliran darah yang sama pula.
Andai saja.. andai saja ia bisa menghentikan waktu dan merubah takdir. Ia ingin dirinya tidak terlahir sebagai anggota keluarga Akasuna yang sudah jelas membuatnya tidak bisa sebebas mungkin mencintai gadis itu. Memendam perasaan lebih yang seharusnya tak pernah ada. Dan selalu merasa tersiksa saat tahu bahwa perasaan itu hanyalah hal tabu dan terlarang bagi mereka berdua. Karena Sasori tahu, gadis yang ia cintai itu terlahir sebagai saudara kembarnya. Teman yang telah ditakdirkan Tuhan agar selalu bersamanya bahkan sejak mereka dalam kandungan. Dan teman itu pulalah yang harus dipanggilnya dengan sebutan 'adik'. Bukan dengan sebutan 'kekasih' atau 'gadis yang aku sukai.'
"O-onii-chan!" Seru Sakura.
Sasori meliriknya sedikit. Namun ia tak menoleh seutuhnya karena ingat dengan ucapannya tadi. Gadis itu menatapnya dari samping dengan wajah bingung dan lucu. Ingin sekali Sasori mencubit pipi Sakura dan mengecup gadis itu. Namun ia harus sadar, posisinya disini sebagai kakak bukan sebagai pria.
"Onii-chan~" Panggil Sakura sekali lagi.
Sasori menoleh dengan wajah yang lesu dan pandangan sayu. Membuat Sakura merasa heran dan menyentuh kepala Sasori dengan telapak tangannya.
"Onii-chan sakit ya? Mau kuantar ke dalam? Disini cuacanya tidak baik."
Lagi-lagi Sasori mengabaikan perkataan adiknya. ia mendekatkan dirinya pada tubuh Sakura dan menyenderkan kepalanya di bahu mungil itu. Sakura sendiri merasa tak nyaman. Namun ia membiarkan kakaknya bersender disana dan mengusap-usap kepala merah Sasori dengan lembut.
"Ne, Oni-chan marah ya karena tidak aku panggil dengan sebutan 'Sasori'?" Tanya Sakura.
Sasori tidak menjawab pertanyaan adiknya. namun ia tetap mempertahankan kepalanya di bahu Sakura karena merasa terbuai dengan usapan gadis itu di kepalanya.
"Baiklah, jika onii-chan tak mau menjawab. Onii-chan merajuk padaku. Haha.. seperti anak kecil saja."
Sakura tertawa pelan dan membuat pundaknya ikut berguncang. Sasori menegakkan kembali kepalanya dan menatap mata Sakura.
"Ayoo.. tidur disini." Sakura menepuk-nepuk pangkuannya.
Sasori pura-pura merajuk dan membuang wajahnya dengan kesal. Sakura merasa kakaknya ini seperti anak-anak saja. Ia mendekatkan dirinya ke arah Sasori dan memegang pundak kokoh pemuda itu.
"Ayolah onii-chan~ jangan ngambek begitu. Nanti jadi jeyek loh.. hehe.." Ledek Sakura.
Sasori tetap mempertahankan posisinya. Bahkan ia melipat tangannya di depan dada dan tetap tidak menggubris ucapan Sakura. Sakura tertawa dan berbisik di telinga kakaknya.
"Ayolah Sasolii.. ayo tidul dipangkuan Saku-chan~" Godanya.
Telinga Sasori memanas saat adiknya itu mencadelkan suaranya untuk mengejek dirinya waktu kecil. Sasori membalikkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di pinggul Sakura. Ia memandang wajah adiknya dengan pandangan yang sulit diartikan. Apalagi Sasori memandang intens bibir mungil Sakura dan membuat gadis itu bergerak gelisah. Sasori mendekatkan wajahnya dan membuat hidung mereka bertabrakan. Membuat jarak semakin menipis di antara mereka. Sakura memandang balik iris hazel Sasori dan tersenyum manis.
"Nii-chan tidak akan menciumku 'kan?" Tanya Sakura.
Sasori meringis kecil dan membelai pipi Sakura menggunakan jari telunjuknya.
"A-aku 'kan adikmu. Onii-chan tidak boleh lo menciumku dibibir."
"Hm.. benarkah?"
Sasori menyapukan bibirnya pada pipi ranum Sakura dan mengecupnya perlahan.
"E-enghh.. onii-chan jangan." Bisik Sakura.
"Bukannya kau pernah minta diajari berciuman hm? Bagaimana jika aku ajari sekarang."
Deg!
Sakura merasa terjebak dalam permainannya sendiri. Kalau dulu sih ia memang pernah meminta Sasori untuk mengajari ia berciuman. Namun saat itu Sakura 'kan hanya main-main. Ia tidak serius dan hanya mengerjai kakaknya itu. Tapi sekarang? Bagaimana jika Sasori benar-benar akan menciumnya? Apakah itu artinya ia mengkhianati Sasuke?
"Bagaimana hmm? Kau ingin kita mulai dari mana Saku-chan? Ciuman di bibir atau langsung ke franch kiss?" Sasori mengecup hidung Sakura.
Adiknya itu bergerak gelisah dalam pelukan Sasori yang terlalu erat. Ia memandang hazel yang mengerling jahil itu dan memandang tak tentu arah untuk memutuskan kontak mata mereka.
"A-aa.. ja-jangan. A-aku tidak mau onii-chan. A-aku kan hanya bercanda." Ujar Sakura gugup.
Sasori tersenyum manis hingga membuat wajah baby face-nya terlihat menyeramkan di mata Sakura. Ia mengelus rambut Sakura dan menatap adiknya dengan lembut.
"Aku mulai dari yang lembut saja ya? Bagaimana jika kita berciuman biasa saja dulu. Baru setelah itu aku mengajarimu teknik yang lain. Hmm?"
Sasori menghembuskan nafasnya di telinga Sakura. Membuat bulu-bulu kuduk Sakura berdiri dan merinding. Sasori mendekatkan wajahnya lagi. Menatap ke dalam emerald Sakura dan bersiap untuk mengecup bibir merah muda itu jika saja tidak ada suara...
"Sasori... Sakura.. kalian dimana sayang?"
Suara Ashura yang selalu menghentikan kegiatan tabu mereka. Sasori melepaskan tubuh Sakura dan membuat adiknya bernafas lega. Padahal tadi itu hampir saja ia bisa melakukan 'itu'. Walau sebenarnya ia hanya mengerjai Sakura. Tapi, sepertinya takdir memang tak pernah memberikannya kesempatan untuk melakukan hal itu. Karena Kami-sama tahu, mereka tak akan pernah bisa dan tak akan pernah pantas untuk melakukannya.
"Tousaannn!"
Sakura berteriak kegirangan dan memeluk ayahnya yang terlihat lelah karena mencari keberadaan anak kembar mereka.
"Kalian dari mana saja hm? Tousan dan Kaasan sudah mencari kalian keliling-keliling." Tanya Shoichi.
Sakura menoleh ke belakang untuk menatap kakaknya yang sudah berdiri dengan lengan kemeja yang ia lipat sampai siku.
"Hahaha.. ta-tadi onii-chan mengajakku kemari. Soalnya pestanya membosankan."
Ashura tersenyum mendengarkan perkataan jujur dari anak gadisnya ini.
"Wahh.. kalian berdua sedang berduaan ya? Apakah kami mengganggu kalian?" Ledek Ashura.
Sakura menggelengkan kepalanya imut dan Sasori hanya memasang wajah yang datar. Ia tahu ibunya hanya bergurau. Namun, bila hal itu memang benar terjadi bagamana? Karena, alasan terbesar Sasori untuk mengajak Sakura keluar dari pesta adalah supaya mereka bersama. Menghabiskan waktu berdua dan melakukan 'sesuatu' agar bisa mengekspresikan perasaannya pada gadis yang ia cintai lebih jauh.
Sakura melihat sekilas wajah Sasori yang terlihat agak kesal. Ia menyembunyikan wajahnya di dada ayahnya dan bergumam pelan, "Tadi itu, onii-chan memang benar-benar ingin menciumku ya? Kenapa?"
~~12 CHOICES~~
"Wah.. imut sekali." Gumam Sakura.
Sakura berusaha menundukan wajahnya. Namun ia tetap berusaha untuk melirik sesosok pemuda tampan yang sedang melepaskan bajunya dan topless dihadapan Sakura. Pemuda itu merenggangkan ototnya agar tidak kaku. Wajah baby face-nya membuat tubuh atasnya yang terekspos menjadi terlihat lebih gagah. Apalagi bentuk-bentuk otot itu sudah mulai tampak sebagian.
Sasori merapikan surai merahnya yang berantakan. Ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan dirinya di sebelah Sakura. Memejamkan mata hazel-nya dan menutupi pengelihatannya dengan lengan kanannya. Sakura sendiri merasa blushing. Ia melirik kakaknya yang sudah tertidur dari samping. Dilihatnya wajah imut Sasori yang tertutupi lengan kekar itu.
"Onii-chan imut sekali ya." Gumamnya.
Sekarang mereka sedang berada di kamar Ashura dulu. Setelah pesta berakhir, para tamu ada yang pulang dan sebagian menginap di rumah mewah ini. Begitu pula dengan keluarga Akasuna. Shoichi mengajak mereka menginap saja karena faktor waktu yang sudah menunjukan dini hari saat pesta selesai. Apalagi ia tak ingin kedua anak kembarnya itu menjadi sakit karena harus keluar malam-malam. Angin malam tidak baik untuk kesehatan mereka. Jadilah sekarang kedua anak kembar mereka ditempatkan dalam satu kamar luas yang dulunya merupakan kamar ibu mereka.
Sakura menelusupkan tangannya untuk memeluk tubuh Sasori. Dirasakannya panas tubuh kakaknya menjadi satu dengan dirinya. Ia memejamkan matanya berusaha untuk ikut tertidur. Namun, tiba-tiba ia merasakan kedua lengan kokoh Sasori mengangkat tubuh kecilnya dan mengangkatnya ke atas tubuh topless tadi. Sakura sendiri merasa ketakutan. Ia hanya terdiam dan tidak berani melakukan apapun saat sepasang hazel itu menatapnya lagi. Sakura merasakan kulit tubuhnya bersentuhan dengan dada telanjang Sasori. Pemilik hazel itu sendiri menyandarkan kepala merah muda Sakura tepat di depan dadanya dan mengelus pelan surai pink panjang Sakura yang tergerai.
Merasakan sentuhan langsung antara kulit halus Sasori yang terekspos dan sekaligus mendengarkan detak jantung kakaknya.
"Onii-chan."
~~12 CHOICES~~
Sakura keluar dari mansion merah Haruno pagi-pagi sekali. Setelah kejadian semalam, ia dan Sasori tertidur dalam posisi gadis itu menindih kakaknya. Namun, Sakura tak mengambil pusing dan langsung ceria saat mendapatkan kiriman sms dari seseorang yang menyuruhnya untuk keluar dari mansion itu.
Emerald-nya mencari sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari rumah mewah kakeknya. Ia membuka pintu mobil itu dan duduk di kursi penumpang. Di sebelahnya terdapat sosok pemuda tampan beririskan onyx yang menatapnya seraya tersenyum tipis. Sakura tersenyum lebar dan mengecup pipi pemuda itu.
"Ohayou Sasuke-kun." Ucapnya riang.
"Hn."
Sasuke memperhatikan penampilan gadisnya yang baru bangun tidur. Baju tidur bercorak kelinci Sakura yang berantakan, rambut pink-nya yang kusut, dan wajah cantiknya yang terlihat masih mengantuk. Sasuke mengecup bibir Sakura sekilas dan membuat gadis itu merona. Ia menyembunyikan wajahnya dengan menunduk tanpa tahu bahwa Sasuke menyeringai melihat tingkah laku gadisnya itu.
"Sakura.."
Sasuke merapikan helaian soft pink Sakura yang berantakan. Mereka saling berpandangan dan membuat emerald bertemu dengan onyx. Sakura memberikan ruang bagi Sasuke untuk mengendus lehernya. Membiarkan pria yang ia cintai memberikan kecupan pada leher jenjang Sakura dan merasakan nafas hangat Sasuke yang menerpa kulitnya.
"Sasuke-kun~ a-aakh.."
Sakura sedikit mendesah saat pemuda itu memberikan kiss mark pada lehernya. Sakura terlalu terbuai hingga tak sadar bahwa Sasuke sudah berpindah tempat menindihinya di jok kursi gadis itu. Sasuke membuka 2 kancing teratas piyama yang dikenakan Sakura dan mengeksploitasi ke tempat yang belum ia jamah. Onyx-nya menatap belahan dada Sakura yang tersembunyi disana. Ia memandangnya sebentar sebelum mendaratkan ciumannya ke sana dan membuat gadis di bawahnya mendesah.
"A-akkkh..Sasuke-kun."
Sasuke mengecup sebentar belahan dada Sakura sebelum berpindah untuk mengulum bibir mungil itu. Tak peduli jika gadisnya itu baru bangun tidur dan belum gosok gigi. Karena baginya, apapun kondisi Sakura gadis itu tetap terlihat manis di matanya. Mereka terus berciuman dan saling melepaskan kerinduan setelah berpisah kemarin. Sakura sendiri menjadi agresif dan menahan kepala Sasuke agar tetap berada di wajahnya. Ia memiringkan kepalanya ke kanan dan terkadang ke kiri untuk mendapatkan posisi yang pas untuk berciuman.
Sasuke menyeringai dalam ciuman mereka yang semakin lama semakin panas. Ia membiarkan gadisnya memegang kendali atas ciuman panas mereka. Entah apa yang membuat Sakura menjadi agresif dari biasanya tapi hal itu membuatnya tersenyum.
"Ahhh.."
Sakura melepaskan ciuman panas mereka. Mata obsidian Sasuke melihat kondisi gadisnya yang sudah memerah dan semakin berantakan. Sakura berusaha menarik nafas untuk mengisi kekosongan pada paru-parunya setelah berciuman panas seperti tadi. Wajahnya memerah maksimal dan menyembunyikannya pada dada Sasuke.
"Kau rindu dengan ciumanku hm?" Bisik Sasuke.
Sakura menggelengkan kepalanya dan memukul bahu pemuda itu. Ia sendiri merasa malu karena melampiaskan kekesalannya tadi malam kepada Sasuke. Hingga ia yang memegang kendali atas ciuman panas mereka. Sasuke menatap wajah ayu Sakura yang bersembunyi di dadanya. Ia masih ingin melanjutkan yang tadi. Apalagi celananya terasa sesak melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Seorang gadis terkulai lemah dengan kondisi rambut acak-acakan, pandangan mata yang sayu, dan bibir yang membengkak. Apalagi posisi mereka sekarang membuat Sasuke menggeram tertahan agar tidak mengikuti bisikan setan pada dirinya.
"A-akhhh..." Sakura kembali mendesah saat ia merasakan Sasuke menggesek pahanya dengan sesuatu. Wajah Sakura bertambah merah saat melihat pemuda di atasnya menggoyangkan sesuatu di bawah sana pada selangkangannya. Sakura menahan tubuh Sasuke dan menatapnya dengan pandangan memohon.
"Sasuke-kun jangan yang itu." Ujarnya parau.
Sasuke menyunggingkan senyumnya dan kembali mencium bibir Sakura.
"Aku hanya bercanda, Sayang."
Cup.
Dan mereka kembali berciuman dengan panas tanpa tahu seseorang melihat segala aktivitas mereka dari balkon mansion kakek Sakura.
"Ternyata, hubungan mereka sudah sejauh itu ya? Saku-chan, kenapa kau membiarkan dia menciummu sebebas itu."
~~~12 Choices~~
"Sasuke-kun.. a-aku rasa kita sudah terlalu jauh." Ujar Sakura setelah kejadian tadi. Ia memegangi bibirnya yang terasa membengkak sehabis ciuman mereka. Sasuke sendiri meliriknya dari ekor mata dan mengusap tangan mungil Sakura yang berada digenggamannya.
"Maka dari itu, aku serius dengan ucapanku. Besok aku akan menemui Tousanmu, Sakura." Mata obsidian itu menatap lurus ke dalam emerald Sakura.
Jantung Sakura berdebar cepat saat Sasuke lagi-lagi mengungkit masalah itu. Ia sebenarnya senang. Senang sekali malah jika ada pemuda yang berani menemui Tousan-nya hanya untuk meminta restu. Apakah itu membuktikan bahwa pemuda itu serius untuk menjalin hubungan bersamanya?
"A-aa.. i-tu..a-aku ti-tidak tahu Sasuke-kun." Sakura menundukan wajahnya.
Sasuke menggenggam erat kedua tangan mungil gadis dihadapannya. Mata obsidiannya menyorotkan kesungguhan yang mendalam.
"Kau meragukanmu hm?"
Sakura mendongakkan kepalanya untuk melihat mata elang Sasuke. Bagaikan terhisap dalam 'black hole' ia menggeleng dan membiarkan Sasuke memeluk dirinya dengan erat. Saling menutup kelopak mata mereka masing-masing dan merasakan sesuatu yang berdentum keras di rongga dada mereka.
"Sakura, aku rasa aku benar-benar menyukaimu." Gumamnya.
Membiarkan perasaannya yang memegang kendali penuh atas semuanya dan melupakan fakta bahwa ia terperangkap dalam permainannya sendiri.
"Sasuke-kun, aku juga menyukaimu." Balas Sakura.
~TBC~
A/N :
Guys.. ada kabar yg kurang baik kali ini.
Mungkin ini akan menjadi chap terakhir yg aku publish sebelum hiatus. Sebenarnya bukan keinginanku sendiri untuk tidak melanjutkan ff ini. Tapi karena bulan depan ak sudah harus masuk asrama dan memulai kegiatan perkuliahan. Laptop gak boleh dibawa, otomatis cerita ini gak akan lanjutkan?
Tapi aku akan berusaha supaya bisa melanjutkannya. Entah itu pas akhir tahun nanti atau pas liburan semester. Yang pasti aku gak akan menelantarkan cerita ini. Karena ini ff kesayanganku. #peyukk
Makasih ya sudah mensupport cerita ini dari awal. Semoga nanti aku bisa menuntaskannya dan membuat ending yg tak mengecewakan. Dan thanks untuk kalian yg sudah ngasih feedback baik untukku. Kalian memang pembaca yg luar biasa.
Dan untuk masalah yg sedang menjamur di dunia FFN tentang copas fanfic tanpa izin, semoga cepat dituntaskan. Karena aku juga gak mau sampai cerita yg kubuat berjam-jam dan berbulan-bulan malah seenaknya dikopas sama oknum tak bertanggung jawab. Sama aja dengan nyolongkan?
Bagi siapapun kamu yg suka fanfic, cukup baca dan berikan feedback. Gak usah sampai mengcopy cerita orang dan dikomersilkan di FP/Grup2 Fb, dan apalagi TANPA IZIN dari AUTHOR ASLINYA. Sama saja dengan tidak menghargai karya orang lain. Mind to give me Review?
Regards
Ryuhara Haruno
