BLACK GRIMOIRE

Naruto © Masashi Kishimoto

This Is My Story

Disclaimer

Naruto dan karakter milik penciptanya.

Warn : Gaje, Typo, OOC, Ecchi, Rated T,

.

.

.

Note Author : Jika tidak senang dengan fict ini tidak usah dibaca. Bagi yang senang silahkan baca dan harap tinggalkan jejak berupa review dan kritikan yang sopan. Karna jika kalian sopan author akan segan terhadap kalian. Saling menghargai yah minna...

-Penting... Wajib baca..-

Informasi : Untuk para readers sekalian maaf kalo link yang saya cantumkan tidak bisa terlihat. Saya sudah berusaha berkali-kali untuk mencantumkan link tetapi tidak bisa dicerita ataupun di review. Jadi, untuk para readers yang ingin mengetahui bentuk dan rupa Haruna adik dari Shion itu bisa dilihat di foto profil fanfict saya atau kunjungi google dengan keyword "Profil haruna naruto oc wiki fandom" tanpa tanda petik.

Happy Reading...

Chapter 12 – Terbentuknya Squad X

Sebelumnya di Black Grimoire :

Semua peserta kembali dikejutkan tak kala mereka yang merasa melewati ujian harus gugur. Sedangkan yang gagal, banyak dari mereka mengundurkan diri karna merasa tidak sanggup lagi untuk menghadapi ujian tersebut. Lima dari orang yang tersisa kemudian bertanding untuk memperebutkan posisi 21 besar. Tetapi, hanya 1 orang yang lolos dan itupun karna orang yang berhasil diujian pertama ingin mengundurkan diri. Setelah semua kebohongan itu ujian ksatria sihir akhirnya telah berakhir. Bagaimana kelanjutannya...?! Langsung aja baca lah...

.

.

.

-Black Grimoire-

Ujian ksatria sihir telah berakhir. Peserta yang sempat terluka dipertandingan duel tadi sudah diobati dan mereka yang gagal sekaligus diteleportasi keluar. Halaman yang sempat menjadi arena pun sudah dibersihkan.

21 peserta yang tersisa kemudian dibawah pengawas kedalam kerajaan konoha. Disana, seluruh kapten dari squad nampak berdiri dengan seorang raja sihir. Semua peserta menunduk hormat tak kala orang yang memiliki pengaruh besar itu berjalan kearah mereka semua.

Kecuali Naruto, remaja itu belum mengetahui situasi yang terjadi. Kaguya yang berada disamping remaja itu kemudian berdiri sebentar dan memberitahu sesuatu kearahnya.

"Naruto-kun. Dia Magic king ke-3, Hiruzen-sama. Kita harus hormat..." Ucap Kaguya

"E-Eh benarkah..." Tukas Naruto terkejut

"Hahaha... Tidak apa-apa bocah. Kalian semua boleh berdiri..." Sahut orang yang bernama Hiruzen itu

Pria tua itu menatap wajah-wajah baru yang ada didepannya. Tetapi, maniknya seakan terfokus kearah Naruto. Ada sesuatu hal didalam remaja pirang itu yang membuatnya tertarik.

"Sebelumnya, aku mengucapkan selamat kepada kalian yang telah berhasil menjadi siswa sekaligus ksatria sihir disini. Kalian telah berjuang keras dengan kemampuan yang kalian miliki. Selamat untuk kalian semua..." Ucap Hiruzen

"Untuk selanjutnya. Aku tidak akan banyak bicara. Hanya satu pesanku untuk kalian semua. Jadilah ksatria sihir hebat dan buat bangga kerajaan konoha ini. Selanjutnya, aku serahkan kepada seluruh kapten squad..." Sambung Hiruzen

Pria itu lalu duduk disinggasananya lagi. Semua peserta kini sedang ditatap serius oleh semua kapten squad yang ada. Yamato yang juga berada disana lalu angkat bicara.

"Satu per satu dari kami akan memilih tiga dari kalian untuk menjadi anggota squad. Dimulai dari aku. Diujian tadi kalian sudah mengenalku juga. Namaku adalah Yamato kapten squad 5. Aku akan memilih Sona Gremory, Nara Shikamaru, dan Tsubaki Shinra.." Ucap Yamato

Kemudian seorang laki-laki bermata sayu dengan sebuah buku bertuliskan icha-icha paradise nampak maju. Ia kemudian menutup buku yang dibacanya sembari memasukan itu dikantong saku belakang.

"Namaku Hatake Kakashi kapten squad 1. Aku memilih Menma Ryuu, Senju Kyuubi, dan Hyuuga Hinata.." Ucap orang yang bernama Kakashi itu. Selanjutnya seorang yang sudah kita kenal bernama Ajuka nampak maju.

"Aku Ajuka Beelzebub kapten squad 4. Memilih Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, dan Miko Shion.." Ucap Ajuka

Setelah Ajuka. Seseorang yang merupakan teman baiknya nampak maju. Laki-laki itu memiliki sedikit kerutan diwajahnya. Tetapi, itu semua tidak menghilangkan kesan tampan yang dimilikinya.

"Namaku Uchiha Itachi. Kapten squad 7 memilih Hyoudou Issei, Rias Gremory, dan Inuzuka Kiba.." Ucap orang itu dengan seulas senyum tipis

Selanjutnya adalah Natsu. Remaja bersurai pink itu lalu maju dengan semangat. Maniknya menatap orang-orang yang akan dipilihnya menjadi anggota dalam squadnya.

"Yoo... Natsu Dragneel disini, kapten squad 8. Aku memilih Rock Lee, Akeno Gremory, dan Aburame Shino.." Ucap Natsu

Kini tersisa satu kapten lagi. Seorang pemuda tampan dengan kulit pucat, rambut putih yang terkesan liar, dan kedua manik yang sama seperti mata kanan Kaguya.

"Otsutsuki Toneri, kapten squad 9. Memilih Yamanaka Ino, Tenten, dan Hyuuga Neji.." Ucap orang itu dingin

Setelah semua kapten squad memperkenalkan diri. Sasuke merasakan ada yang aneh. Ada tiga peserta lagi yang termasuk kakak perempuannya belum dipanggil.

"Hei... Dimana kapten squad 2, 3, dan 6. Selain itu, kenapa Nee-sanku tidak mendapat giliran..." Ucap Sasuke

Salah satu dari kapten nampak maju kearah Sasuke. Ia adalah Hatake kakashi. Pria itu memandang datar Sasuke dari balik masker hitamnya. Ia tau kalau bocah ini adalah adik dari Naori sekaligus Itachi.

"Squad itu tidak ada lagi. Itu sudah menjadi masa lalu yang tidak perlu diingat..." Balas Kakashi dingin

"Selanjutnya. Untuk masalah kenapa Nee-sanmu tidak dipanggil. Itu karna... Dia dan dua peserta lainnya digugurkan. Kau sudah mengerti kan, Bocah..." Sambung Kakashi

Naruto yang mendengar itu terkejut. Reaksi Kaguya juga hampir sama seperti remaja pirang itu. Naori yang terkenal dingin pun juga menampilkan wajah syok dan tidak terima.

"Alasan apa yang membuatku digugurkan..." Sahut Naori dingin

Gadis itu menatap kearah Kakashi. Pria itu bisa melihat kedua manik Naori yang telah berubah. Ia maju kearah gadis itu tanpa rasa takut sedikitpun. Bahkan Kakashi santai saja saat ia melihat grimoire yang telah terkalung dileher Naori.

"Heh.. Tatapan itu persis seperti Itachi. Tetapi, dibandingkan dengan Itachi. Gadis dingin sepertimu tidak mempunyai pengalaman ataupun keahlian yang cukup untuk menjadi ksatria sihir.." Ucap Kakashi datar

"T-Teme.. Tarik kembali kata-katamu itu. Naori Nee-san itu bahkan lebih hebat darimu. Kau bahkan tidak bisa bertahan selama beberapa detik saat bertarung dengannya..!" Teriak Sasuke marah. Remaja itu memandang tajam Kakashi. Sementara yang dipandang, ia seakan tidak peduli. Pria itu lalu menatap Naori yang lebih pendek darinya.

"Nona... Buktikan ucapan adikmu itu. Aku mau lihat sehebat apa kau..." Ucap Kakashi datar

Gadis bersurai hitam itu menggeram kesal. Ia lalu mengaktifkan matanya yang semula 3 tomoe kini berubah menjadi pola berbentuk bunga. Naori lalu menatap mata Kakashi dan seketika..

"Secret Magic : Tsukuyomi"

Setelah mengucapkan itu Naori menundukan wajahnya. Nafasnya seketika terengah-engah tak kala melakukan teknik itu. Kontrol mana yang dimilikinya tidak sebanding dengan teknik yang digunakannya. Itulah sebabnya ia mengeluarkan mana dalam jumlah banyak.

"Hosh... Hosh... Sudah selesai. Hosh..." Ucap Naori

"Benarkah...?! Aku tidak merasakan apa-apa..."

DEG...

Wajah Naori memucat sempurna. Gadis dingin itu menatap tak percaya Kakashi. Pria itu masih bisa berdiri setelah menerima ilusi tingkat tingginya. Bukan hanya dia saja. Sasuke juga nampak tak percaya melihat Kakashi yang tidak pingsan.

"B-Bagaimana bisa...?!" Ucap Naori

Gadis itu melihat Kakashi dengan santai mengambil bukunya disaku celana. Pria itu bahkan tidak memperdulikan reaksi yang diberikan Naori. Ia lalu membelakangi gadis itu seraya berkata..

"Dengar... Jika ini medan perang. Kau sudah terbunuh tadi. Kau terlalu percaya diri dengan sihirmu itu. Merasa dirimu paling hebat. Coba lihat keadaanmu itu. Menyedihkan.. " Terang Kakashi

Pria itu lalu kembali ke barisannya. Meninggalkan Naori yang masih terdiam. Maniknya lalu mengarah ke seorang gadis bersurai putih dengan kedua matanya yang berbeda.

"Kau Otsutsuki Kaguya. Adik dari Nagato dan Toneri. Kedua kakakmu itu adalah orang-orang yang hebat. Tak kusangka adiknya tidak seperti yang kubayangkan. Mempunyai sihir hebat tapi tidak bisa mengendalikannya..."

Kali ini Naruto yang menatap tajam. Remaja itu tidak bisa menerima perkataan dari Kakashi. Sedangkan Toneri, pria itu hanya menatap datar sang adik. Ia tidak berniat membela gadis itu.

"K-Kau..."

"Meskipun kalau itu benar. Kau tidak perlu mengatakannya Teme...!" Teriak Naruto

Remaja itu menatap tajam Kakashi. Hiruzen yang melihat situasi mulai memanas hanya bisa berdoa agar orang itu cepat datang. Rencananya memang terlalu berlebihan. Menyuruh Kakashi untuk menghina ketiga remaja tersebut itu semua adalah perintahnya.

"Hooh... Kau bocah yang tidak punya mana sedikitpun ditubuhmu. Aku salut kau dapat melangkah sampai sejauh ini. Tetapi tetap saja, kau dan kekuranganmu itu akan menjadi masalah besar dikemudian hari. Menjadi ksatria sihir bukanlah sesuatu hal yang mudah. Disini bukan tempat untuk bermain..." Ucap Kakashi

Perkataan pria itu membuat wajah Naruto tertunduk. Kaguya yang berada disampingnya menatap khawatir. Sedangkan Naori, gadis itu masih syok dan belum bisa menerima semua hinaan tadi.

"Aku..."

Satu kata yang diucapkan Naruto membuat semuanya menatap serius. Hanya dengan satu kata, sukses membuat semua mata tertuju kearahnya. Remaja itu lalu mengangkat kepalanya dan menatap tajam Kakashi..

"Semua yang kulalui ini bukanlah untuk bermain-main...! Aku datang kemari untuk bekerja keras dan meraih impianku. Banyak hal yang terjadi. Rasa sakit, dendam, penderitaan. Kau tidak tau bagaimana aku melalui semua itu...!"

"Itu... Itu semua..."

Naruto menjeda kata-katanya. Remaja itu meluapkan semua apa yang dia rasa. Sementara Kakashi, ia hanya menatap datar. Tetapi, dibalik masker miliknya ia mengulas senyum tipis.

"Itu semua bukan sesuatu yang diraih dengan main-main...!"

.

.

.

BRAKK...

Suara pintu ruangan terbuka. Pria berambut hitam dengan poni berwarna pirang itu lalu menutup pintu kembali. Hiruzen yang melihat kalau orang itu sudah datang nampak menghirup nafas lega.

"Yo Jiji... Maaf aku terlambat. Tadi aku mengurus beberapa pelanggan dulu sebelum kesini..." Ucap orang itu. Naruto yang seolah pernah mendengar suara ini kemudian berbalik kebelakang. Remaja itu terkejut tak kala melihat rupa pria tersebut.

"Azazel Ji-san...!" Teriak Naruto

"Hei kau rupanya Naruto. Sedang apa kau disini..." Balas Azazel

Remaja pirang itu sweatdrop. Justru harusnya dia yang bertanya kenapa Azazel bisa ada disini. Sementara Kaguya, gadis itu tengah bersembunyi dibelakang tubuh Naruto. Entah kenapa wajah Azazel membuat dirinya takut.

"Sebenarnya ada apa ini. Kau siapa...?" Sahut Naori

Gadis itu sepertinya sudah kembali seperti semula. Dengan dibantu sang adik sifat dinginnya sudah kembali lagi. Azazel lalu berjalan kebarisan para kapten squad. Menghiraukan seluruh orang yang menatapnya dengan tanda tanya besar.

"Syukurlah kau masih sempat datang Azazel. Orang ini yang akan menjadi kapten kalian. Aku baru saja merekrutnya dan selamat kalian bertiga tidak jadi dikeluarkan..." Ucap Hiruzen tanpa rasa berdosa

"T-Tunggu dulu... Berarti yang tadi bohong..." Sahut Naruto

"Tidak juga nak. Beberapa yang kuucapkan tadi tidak sepenuhnya berbohong..." Celetuk Kakashi

Naruto menatap tajam Kakashi. Ia seperti dipermainkan sekarang. Sementara Kaguya, gadis itu merasa bersyukur tidak jadi dikeluarkan. Ia masih bisa bersama dengan remaja pirang tersebut.

"Hahaha... Berterima kasihlah padaku Naruto. Kau tidak jadi dikeluarkan sekarang..." Tawa Azazel

Remaja pirang itu mendadak kesal. Kaguya yang berada disampingnya mencoba menenangkan Naruto. Sementara Naori, ia hanya menatap datar kelakuan remaja pirang yang akan menjadi rekan squadnya itu.

"Apakah kami akan mengisi squad lama yang ada...?" Tanya Naori kepada Hiruzen. Pria itu menggeleng pelan.

"Squad ini tidak ada hubungannya dengan squad lama. Ini adalah squad baru yang kubentuk secara mendadak tadi..." Balas Hiruzen

Naruto yang mendengar itu mengembungkan pipinya. Remaja itu merasa sudah dibodohi berkali-kali. Kaguya yang melihat wajah Naruto harus menahan untuk tidak mencubit pipi remaja pirang tersebut.

"Baiklah, aku secara resmi mengumumkan..."

"Terbentuknya Squad X"

.

.

.

SKIP TIME... [Sore hari, 15:00]

Setelah acara pemilihan anggota squad. Para peserta yang sudah menjadi siswa sekaligus ksatria sihir diantar untuk masuk akademi terlebih dahulu. Mereka bersama Ajuka telah berada didalam akademi.

"Woow... Sugoi..."

"Hei.. Itu kolam renang kan..."

Beberapa dari mereka memandang takjub fasilitas yang ada diakademi. Fasilitas-fasilitas itu diantaranya seperti kolam renang, kantin, tempat fitnes, perpustakaan sihir, dan masih banyak lagi.

Semuanya kini telah tiba didepan ruang kelas. Lewat kaca kelas kita bisa melihat betapa besarnya ruangan itu. Salah satu dari siswa nampak bertanya. Dia adalah seorang gadis yang memiliki rambut pink sebatas bahu.

"Ano Ajuka-taichou. Dimana para senior kami. Dari tadi aku tidak melihat satu kelas pun selain ruangan ini..." Ucap gadis itu

"Kau yang bernama Sakura yah. Dengar nona... disini bukan tempat untuk mencari pacar.." Balas Ajuka dingin

Sakura terdiam seribu bahasa. Sementara itu, seseorang yang berada dibelakangnya nampak menahan tawa. Gadis itu memiliki rambut panjang berwarna pirang dengan model rambut ekor kuda. Pakaiannya sedikit mencolok karna memakai baju tanpa lengan dengan ukuran baju diatas pusat. Sehingga memperlihatkan perut telanjang miliknya

"Pftt... Sudahlah jidat. Kalau kau ingin mencari orang yang tampan. Orang bernama Sasuke dan Menma kan masih ada. Tetapi, Sasuke sudah menjadi incaranku loe..." Bisik gadis itu ditelinga Sakura

"Cih jangan harap Ino. Aku yang akan mengambil Sasuke lebih dulu..." Balas Sakura

"Heh... Kita lihat saja..." Ucap orang yang bernama Ino itu

Semua siswa lalu memasuki ruangan kelas bersama Ajuka. Disana terdapat 9 meja panjang dengan bangku panjang yang cukup untuk 3 sampai 4 orang duduk.

Pria itu lalu menyuruh semuanya untuk duduk dinomor squad yang sudah tertera diatas meja. Semuanya telah duduk hingga menyisakan dua meja kosong dibelakang yang dibiarkan kosong.

Ditengah meja belakang terdapat Naruto yang tengah duduk bersama dua orang gadis. Remaja itu duduk ditengah-tengah mereka. Kaguya yang berada dikanannya dan Naori yang berada dikirinya.

Gadis yang berbeda manik itu sempat beberapa kali mencuri pandang kearah remaja pirang tersebut. Sementara Naori, perempuan dingin itu nampaknya menjaga jarak dari Naruto dan seolah menganggap laki-laki itu tidak ada.

"Baiklah semuanya. Aku akan memberitahu beberapa hal kepada kalian semua. Disini, kalian akan belajar berbagai hal tentang sihir besok. Yah meskipun kalian tidak memerlukan itu lagi. Tetapi, meskipun sepele mempunyai guru yang mau mengajarkan sihir sangat penting. Besok semuanya sudah harus disini pukul 7 dan selesai satu jam dari situ..." Terang Ajuka

Beberapa dari siswa nampak terkejut. Akademi macam apa yang hanya menyediakan waktu satu jam untuk belajar. Salah satu orang yang memiliki ciri fisik mirip seekor anjing dengan gigi taring miliknya nampak mengangkat tangan.

"Hei... Apa itu tidak terlalu singkat...?" Tanya orang itu kearah Ajuka

"Inuzuka Kiba... Itu sudah lebih dari cukup. Semua ini tergantung dari bagaimana kalian menyerap ilmu yang banyak dalam waktu yang sesingkat mungkin. Baiklah, aku lanjutkan penjelasannya lagi..."

"Setelah belajar diakademi. Kalian bebas mau melakukan apapun. Bermain, olahraga, dan segala hal yang tidak penting lainnya. Tetapi, aku hanya ingin mengingatkan kepada kalian semua. Jangan terlena dengan semua itu. kalian harus tetap ingat kenapa kalian berada disini...

Oke, aku rasa itu saja. Soal misi dan lain-lainnya kalian bisa tanyakan dengan kapten squad kalian. Silahkan nikmati waktu kalian diakademi ini atau jika kalian sudah lelah bisa langsung menuju asrama. Bye-bye..." Jelas Ajuka

Pria itu lalu menghilang dengan sihir miliknya. Beberapa saat kemudian, semua siswa nampak sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. Ada yang langsung keasrama untuk istirahat, berenang, dan sekedar bergosip ria.

Shion juga sepertinya sedikit melupakan Menma. Gadis pirang itu terlihat sibuk tengah mengobrol dengan anggota squadnya. Pria tampan yang memiliki rambut hitam model emo.

"Ahh... Sasuke-kun itu orangnya seperti apa..." Ucap Shion bertanya

"Aku ini orangnya selalu memperlakukan gadis cantik dengan lembut. Seperti kau ini, Shion-chan..." Balas Sasuke tebar pesona

Perkataan itu sukses membuat Shion memerah. Sementara itu, Sakura yang melihat keakraban gadis pirang itu bersama Sasuke tidak tinggal diam. Ia juga tidak akan kalah.

"Yo... Menma. Sepertinya gadis itu tidak mengganggumu lagi. Kau kalah tampan dengan orang yang bernama Sasuke itu..." Ucap Naruto

Remaja itu terlihat menghampiri tempat duduk Menma. Bersama Kaguya yang terlihat selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Gadis itu sepertinya tidak mau bersama orang lain selain remaja pirang tersebut.

"Urusai Dobe. Aku malah senang kalau begitu. Sudahlah, aku mau keperpustakaan dulu..." Ucap Menma

"T-Tunggu aku mau ikut..." Balas Naruto

GREBB...

"Ada apa Naruto. Katanya kau mau ikut.. Eh..." Tukas Menma

Remaja itu melihat tangan Naruto yang tengah ditahan Kaguya. Manik hitamnya menatap semburat merah yang muncul dipipi gadis tersebut. Sedetik kemudian, ia paham apa yang dimau gadis itu dengan Naruto.

"Hah Dobe. Sepertinya lain kali saja..." Ucap Menma

Ia melihat Kaguya tersenyum. Menma hanya mengangguk seraya meninggalkan kedua remaja itu. Diperjalanannya, dirinya menghela nafas panjang sembari memegang kepalanya sebentar.

"Kebaikan dan ketidakpekaanmu akan menjadi masalah besar suatu hari nanti Naruto..." Pikir Menma dalam hati

.

.

.

[Ditempat Naruto..]

"Hei Kaguya. Apa alasanmu mengajakku kekantin..." Tanya Naruto

Remaja itu sempat bingung tak kala gadis itu menahan tangannya tadi. Setelah itu, Kaguya lalu berkata untuk menemaninya kekantin. Ia juga sempat khawatir melihat wajah gadis itu yang nampak memerah..

"Aku hanya berpikir kalau Naruto-kun pasti lapar setelah melewati ujian tadi. Jadi tidak ada salahnya kan kita kekantin..." Balas Kaguya

"E-Eh darimana kau tau. Aku sebenarnya tidak la...~"

GROWL...

Suara perutnya membuat remaja itu berhenti berkata. Ia sedikit memerah menahan malu tak kala apa yang diucapkannya tadi tak sesuai apa yang diharapkan. Sementara Kaguya, gadis itu menahan tawa mendengar suara perut Naruto yang tengah keroncongan.

"Hihihi... Perut Naruto-kun tidak bisa berbohong. Ayo lebih baik kita cepat kekantin.." Ucap Kaguya

GREB...

Kaguya memegang tangan Naruto dan menariknya. Mereka berdua lalu berlari kearah tempat kantin. Sekilas, kita dapat melihat seulas senyum terpatri dibibir mungil gadis bersurai putih tersebut.

.

.

.

[Ditempat lain..]

"Hiruzen.. Kau pasti punya maksud lain kenapa membentuk squad itu kan. Terlebih lagi, apa alasanmu merekrutku lagi..." Tanya Azazel

Kedua pria itu nampak berbicara serius disebuah ruangan. Sesekali, Hiruzen menyesap pelan teh hijau miliknya. Maniknya lalu memandang serius kearah Azazel.

"Ada yang membuatku tertarik dengan anak yang bernama Naruto itu. Khususnya grimoire hitam miliknya. Kau masih ingatkan tentang legenda yang pernah kuceritakan waktu itu..." Ucap Hiruzen

"Maksudmu yang itu. Tetapi, apa hubungannya dengan Naruto.." Balas Azazel

Pria itu sama sekali tidak mengerti. Namun, jujur ia juga merasakan ada yang aneh dengan remaja pirang tersebut. Ia menatap Hiruzen dengan serius. Sebenarnya apa yang dimaksud pak tua ini.

"Dengar.. Azazel. Kemungkinan besar bocah itu adalah reinkarnasi dari sang penghancur. Kau mengerti kan maksudku sekarang.." Jelas Hiruzen

Azazel membulatkan matanya. Pria itu menatap tak percaya Hiruzen. Ia mengerti apa yang sedang dibicarakan pak tua itu. Ini adalah semacam rahasia lama yang sudah banyak dilupakan orang.

"Aku mengerti. Tetapi, apa kaitannya denganku...?" Tanya Azazel lagi

"Azazel.. Kau adalah ksatria sihir hebat dimasamu. Salah satu mantan elite dan sekaligus mantan dari muridku. Aku yakin kau mampu melatih bocah itu untuk mengendalikan kekuatannya.." Balas Hiruzen

Ia berharap penuh kearah pria berponi pirang itu. Sementara Azazel, ia nampak memikirkan sesuatu dikepalanya. Ia juga menyeruput pelan teh yang dibuat Hiruzen tadi.

"Baiklah, kesampingkan itu dulu. Apa tujuanmu memasukan dua gadis bangsawan itu kedalam squad. Kau pasti punya suatu tujuan kan Hiruzen..." Ucap Azazel

Hiruzen mengulas senyum tipis. Mantan muridnya itu tidak pernah berubah. Dibalik sikap santainya ia selalu bisa serius dikondisi seperti ini. Pria itu juga selalu berpikir dan merenungkan situasi yang akan terjadi kedepannya.

"Hahaha... Kau sama sekali tidak berubah Azazel..."

"Urusai Ero-jiji...!"

"Hei...! Kau juga sama mesumnya dengan diriku..."

"Sifat itu menurun karna aku selalu bersamamu jiji..."

Mereka berdua menghentikan percakapan sebentar. Kedua pria itu tersenyum menatap satu sama lain. Mereka sekilas mengingat masa lalu saat dimana Azazel masih berada disquad dengan Hiruzen sebagai kaptennya.

"Kembali ketopik Azazel. Kau masih ingatkan tentang San Daidojutsu.." Sahut Hiruzen

Azazel mengangguk. San Daidojutsu adalah tiga teknik mata yang dimiliki beberapa bangsawan. Seperti Byakugan yang dimiliki bangsawan Hyuuga, Sharingan dari bangsawan Uchiha, dan terakhir Rinnegan dari bangsawan Otsutsuki.

Sebenarnya total ada 4 teknik mata yaitu yang satunya Tenseigan. Tetapi, mata itu hampir mirip seperti byakugan. Setelah diteliti ternyata itu adalah evolusi dari percampuran antara rinnegan dan byakugan.

"Kedua gadis bangsawan itu memilikinya. Aku yakin mereka bisa membantu Naruto untuk mengendalikan kekuatannya. Bersama dengan dirimu juga Azazel. Karna itulah aku membentuk squad khusus dengan kau sebagai pemimpinnya.."

"Bagaimana Azazel. Maukah kau menuruti permintaan dari pak tua ini. Seorang mantan kapten squadmu dulu. Aku sangat berharap penuh padamu..."

Azazel tertegun. Beberapa saat kemudian, ia lalu mengulas senyum. Pria itu lalu meminum habis teh miliknya. Sesaat kemudian, ia menatap Hiruzen dan mengangguk setuju.

"Baiklah aku terima. Tetapi dengan beberapa syarat. Aku ingin digaji dua kali lipat dari gaji kapten squad yang ada. Lalu, aku ingin kau menyebarkan berita kalau squadku itu adalah squad yang terlemah dari squad lain..." Ucap Azazel

"Soal gaji sih aku tidak masalah. Tetapi, kenapa kau meminta aku menyebarkan berita buruk itu untuk squadmu.." Tanya Hiruzen tidak mengerti. Azazel yang mendengar itu kemudian tersenyum tipis

"Aku hanya ingin melihat anggota squadku berjuang dari bawah. Seperti saat kita dulu Hiruzen. Kau tau kan bagaimana squad kita didiskriminasi waktu itu. Tetapi, dengan usaha keras kita bisa membungkam mulut mereka semua..." Balas Azazel

Hiruzen tertegun. Apa yang dikatakan pria itu mengingatkan kesedihan lama. Saat dimana squad mereka dipandang sebelah mata oleh orang lain. Tetapi, berkat orang seperti Azazel didalam squad. Mereka mampu untuk terus maju. Bahkan ia yang mendapatkan gelar sebagai magic king tidak terlepas dari semangat pria tersebut.

"Hahaha baiklah Azazel. Aku akan menyuruh Yamato untuk menyebarkannya sekaligus membuat asrama untuk squadmu. Kau tau sendiri kan masa lalu kelam yang terjadi di squad 2,3, dan 6...

Sehingga biasa disebut tragedi berdarah 236. Karna itulah asrama squad itu dikunci dan ditutup. Squadmu yang terbilang baru jadi belum memiliki asrama sekarang. Maafkan aku Azazel..."

Pria tua itu merasa bersalah. Sedangkan Azazel, ia sepertinya santai-santai saja. Dirinya sepertinya tidak terlalu memperdulikan tentang masalah asrama squadnya itu. Tanpa sadar, ia lalu teringat sesuatu..

"Kau tidak perlu menyuruh Yamato untuk membuat asrama squadku Hiruzen. Tempat itu masih ada kan. Apa didalamnya ada beberapa kamar..?!" Ucap Azazel

Hiruzen menatap bingung. Sedetik kemudian, ia lalu tau apa yang sedang dibicarakan pria itu. Ia kemudian tersenyum dan menatap tidak percaya mantan muridnya.

"Aku rasa tempat itu punya tiga kamar. Tetapi, apa kau yakin untuk menjadikannya sebagai asrama squadmu..." Tanya Hiruzen. Pria itu lalu menatap Azazel yang sedang tersenyum.

"Itu bahkan sudah lebih dari cukup, Hiruzen.."

.

.

.

SKIP TIME...

Dua orang yang berbeda gender nampak berjalan meninggalkan kantin. Naruto dan Kaguya sepertinya telah mengisi perut mereka disana. Mereka berdua terlihat berjalan dikoridor akademi saat ini.

"Fuahh... Tidak kusangka makanan dikantin sangat enak..." Celetuk Naruto

"Benar Naruto-kun. Disana juga terdapat pelayan dan tidak kusangka tempat itu akan selalu buka 24 jam. Akademi sihir memang tempat yang sangat luar biasa.." Balas Kaguya

Setelah beberapa menit berjalan. Pandangan mereka melihat tiga orang gadis yang salah satu dari gadis itu adalah rekan squad mereka. Gadis itu terlihat diganggu oleh dua orang tersebut.

"Minggir aku mau lewat.." Ucap Naori dingin

"Ufufu liat Rias. Gadis lemah ini masih saja bersikap dingin.." Sahut Akeno

"Kau benar Akeno Nee-san. Sepertinya kita harus memberi pelajaran kepada gadis ini..." Balas Rias

Naori yang mendengar itu tidak terima. Ia lalu mengeluarkan grimoire miliknya dan bersiap untuk menyerang Rias dan Akeno. Manik gadis itu juga telah berubah menjadi merah dengan pola bunga dimatanya.

"Secret Magic : Tsuku..~"

PLAKK...

Tamparan keras dilayangkan Rias kearah pipi Naori. Sebelum gadis itu mengucapkan sihirnya Rias sudah menutup matanya bersama Akeno. Ia dengan cepat menampar Naori hingga gadis itu terjatuh kelantai.

Mereka berdua terlihat tertawa melihat Naori kesakitan. Gadis dengan rambut gelombang itu nampak menitikan air mata. Tidak sampai disitu saja, Akeno nampak ingin memukul Naori. Tetapi, sebuah tangan menghentikan perbuatannya.

"Apa yang kalian lakukan hah..." Ucap Naruto

Remaja pirang itu dengan kasar melepaskan tangan Akeno. Kaguya yang bersama remaja itu terlihat menolong Naori untuk berdiri. Rias mendecih pelan saat Naruto menatapnya dengan tajam. Sementara Akeno, gadis itu mencoba memberikan senyuman mautnya

"Ufufu... Blonde-kun. Kami tidak melakukan apa-apa kok..." Ucap Akeno

Gadis itu mencoba menggoda Naruto. Senyuman Akeno yang katanya mampu menghipnotis semua orang sepertinya tidak berpengaruh kepada remaja pirang tersebut. Naruto hanya menatap datar perempuan cantik yang ada didepannya itu.

"Sudahlah Akeno Nee-san. Lebih baik kita pergi dari sini. Menjijikan jika terus bersama dengan trio sampah ini..." Sahut Rias

Mereka berdua lalu meninggalkan Naruto dan yang lain. Remaja pirang itu mencoba menatap Naori yang tengah bersama Kaguya. Ia bisa melihat bekas air mata dipipi gadis dingin itu.

"Kau tidak apa-apa kan. Oh iya namaku Uzumaki Naruto. kita di squad yang sama. Eto salam kenal N-Naori kan" Ucap Naruto mencoba bersikap akrab

Remaja pirang mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Naori yang melihat itu dengan cepat menepis tangan Naruto. Ia juga melepaskan kedua tangan Kaguya yang berada dibahunya.

"Cukup..! Berhentilah bersikap sok baik kepadaku.. Hiks... Hiks..." Ucap Naori

Gadis itu dengan cepat berlari menjauh. Ia mencoba untuk tidak menangis. Ini pertama kalinya ia merasa sangat direndahkan. Kehidupan mewah yang sejak kecil ia rasakan membuat dirinya belum pernah mendapatkan hinaan sedikitpun.

Naruto mencoba untuk mengejar Naori. Tetapi, tangan mungil Kaguya menghentikan remaja pirang itu. Kedua manik berbeda itu menatap Naruto dengan seulas senyum dibibirnya.

"Naruto-kun. Berikan waktu Naori-chan untuk sendiri. Perempuan itu lebih kuat dari apa yang kau bayangkan..."

.

.

.

[Ditempat Naori...]

Gadis itu terus berlari kearah luar akademi. Ia nampak menuju keasrama. Langkah kakinya terus berlari kearah salah satu asrama yang bertuliskan "Squad 7".

Dengan keras tangannya memukul pintu tersebut. Sesekali ia juga mengusap air mata yang terus mengalir dipipi putih miliknya. Beberapa saat kemudian, seorang pria tampan dengan surai hitam terlihat membuka pintu.

"E-Eh Naori. Disini bukan squad...~"

GREBB...

"Hiks... Hiks... Itachi Nii-san..."

Tangis Naori pecah tak kala ia memeluk sang kakak. Itachi yang melihat itu kemudian mengelus pelan surai hitam milik gadis tersebut. Ia lalu membawa masuk sang adik kedalam. Mengingat anggota squadnya juga belum datang.

Setelah menutup kembali pintu. Itachi lalu membawa Naori kearah ruang tamu dan menyuruhnya untuk duduk disofa. Pria itu menunggu sampai gadis itu selesai menangis. Setelah beberapa detik kemudian, Naori nampak tenang.

"Nah Naori. Apa yang membuatmu menangis seperti ini..." Tanya Itachi

"Itachi Nii-san. Aku tidak mau masuk squadku. Kumohon keluarkan aku darisana Nii-san. A-Aku tidak ingin diejek lagi..." Terang Naori

Gadis itu menatap sayu kakaknya. Sementara Itachi, pria itu tertegun. Sedetik kemudian, seulas senyum ia berikan kepada sang adik. Dibalik sifat dingin Naori ia tau seberapa rapuhnya gadis itu.

"Naori... Kau harus kuat saat orang lain mengejekmu. Adik Nii-san harus berubah yah. Naori kan pernah berjanji dengan Nii-san untuk menjadi magic queen pertama didunia..." Ucap Itachi tersenyum lembut

Gadis itu sepertinya belum bisa untuk tegar. Tetapi, Itachi selalu berusaha untuk menenangkan adiknya itu. Ia percaya kalau Naori adalah perempuan yang kuat. Pria itu lalu mengelus pelan surai adiknya lagi lalu seraya berdiri..

"Jangan menangis lagi yah, Naori..."

.

.

.

[Ditempat Naruto dan Kaguya..]

Mereka berdua sempat berpapasan dengan Azazel. Pria itu lalu memberikan sebuah kunci, beberapa seragam, dan makanan kepada Naruto dan Kaguya. Ia juga berpesan kepada mereka berdua untuk membersihkan asrama squad terlebih dahulu.

Sekarang, disinilah mereka berdua berada. Didepan sebuah bangunan kecil bekas tempat persenjataan yang sudah tidak dipakai lagi. Halamannya pun seperti tidak pernah dibersihkan dan nampaknya dibiarkan begitu saja selama bertahun-tahun.

"K-Kaguya apa kau yakin ini asrama kita...?" Ucap Naruto syok

"M-Maa Begitulah Naruto-kun. Aku rasa dalamnya pasti tidak seburuk luarnya kan. Ayo kita masuk..." Balas Kaguya

Gadis itu lalu memasukan kunci kedalam lubang pintu. Setelah dirasa yakin terbuka, mereka berdua menatap satu sama lain. Naruto mengangguk dan gadis itu juga melakukan hal yang sama. Perlahan, mereka berdua membuka pintu itu secara bersamaan.

"Tadaima...!"

BOFTT...

Sebuah debu hitam membuat mereka terbatuk. Setelah debu menghilang, mereka menatap satu sama lain. Naruto tidak bisa menahan tawa tak kala melihat wajah Kaguya yang penuh dengan warna hitam. Tawa remaja pirang itu sontak membuat Kaguya mengembungkan pipinya. Ia juga mencubit punggung Naruto untuk membuat remaja pirang itu berhenti.

"Naruto-kun berhenti mengejekku. Wajahmu juga tidak jauh berbeda denganku..." Ucap Kaguya

"Ahaha... Iya-iya..." Tukas Naruto singkat

Remaja itu mulai menghentikan tawanya. Sejurus kemudian, seekor tikus nampak keluar dan merayap kearah Kaguya. Kedua manik berbeda itu menatap takut dan sontak berteriak kencang.

KYAAA...

"Hiks... Hiks... Naruto-kun. Aku takut..." Ucap Kaguya

Naruto tidak menjawab. Remaja itu cukup terkejut tak kala gadis itu dengan reflek cepat melompat kearahnya. Sekarang, ia tengah menggendong Kaguya. Kedua tangan mungil gadis itu nampak memegang erat lehernya.

"A-Ahh Sudah tidak apa-apa. Tikus itu sudah tidak ada kok. T-Terlebih lagi bisakah kau turun darisini..." Balas Naruto

"E-Ehh..."

Kaguya menatap dirinya yang sedang digendong Naruto. Mengetahui hal itu sukses membuat bangsawan otsutsuki itu memerah malu. Ia lalu dengan pelan menurunkan tubuhnya dari tubuh remaja itu.

"M-Maafkan aku Naruto-kun..." Ucap Kaguya

"Tidak apa-apa. Lebih baik kita cepat membereskan tempat ini..." Balas Naruto tersenyum

.

.

.

SKIP TIME...

Setelah hampir dua jam membersihkan tempat yang akan menjadi asrama mereka. Naruto dan Kaguya pun beristirahat disebuah sofa yang tidak terlalu besar. Mereka juga menaruh seragam dan makanan yang sempat diberikan Azazel dimeja yang ada didepan mereka.

"Akhirnya selesai juga. Lelah juga membersihkan semua ini" Ucap Naruto

Remaja itu menyenderkan tubuhnya disamping Kaguya. Gadis itu terlihat bahagia tak kala tengah berduaan dengan Naruto saat ini. Sementara Naruto, ia masih sibuk dengan pikirannya.

TOK...TOK...

Suara pintu pun terdengar. Naruto lalu berjalan kearah pintu diikuti Kaguya yang berada dibelakangnya. Remaja itu lalu membuka pelan pintu dan memperlihatkan seorang pria dengan gadis yang mereka tau adalah Naori.

"Konbawa... Aku ingin mengantar adikku kesquad ini..." Ucap Itachi tersenyum

Naruto membalas senyuman itu. Remaja itu dapat melihat Naori yang sedang bersembunyi dibalik punggung Itachi. Gadis dingin itu terlihat malu tak kala sang kakak menyuruhnya untuk masuk.

"Ahh... Naori-chan. Ayo masuk. Tempat ini tadi baru saja kubersihkan dengan Naruto-kun..." Sahut Kaguya tersenyum

Naori menatap Itachi dengan sayu. Pria itu lalu mengangguk dan membujuk adiknya untuk masuk. Perlahan, gadis itu memasuki ruangan bersama Kaguya. mereka terlihat berbincang-bincang didalam.

"Namamu Naruto kan. Bisakah aku berbicara denganmu sebentar..." Ucap Itachi

"Berbicara...?! Kau mau bicara apa Itachi-senpai.." Balas Naruto

Mereka berdua lalu berjalan menjauhi pintu. Tidak lupa, remaja pirang itu menutup pintu asramanya dengan pelan. Ia mengikuti Itachi dari belakang. Setelah agak jauh Itachi lalu berhenti dan berkata..

"Tolong jaga adikku yah Naruto..." Pinta Itachi

"Kenapa harus aku...?" Balas Naruto bingung

Gadis itu bahkan tidak menyukainya. Bagaimana bisa untuk menjaganya kalau Naori saja belum bisa akrab dengannya. Sedangkan Itachi, pria itu menepuk pelan kedua bahu Naruto.

"Karna aku yakin kau bisa melakukannya..." Ucap Itachi tersenyum

Anak angkat dari Minato itu menghela nafas panjang. Apa yang menarik tentang dirinya. Kenapa pria itu sangat percaya sekali dengannya. Tidak bisakah menyuruh orang lain.

"Tenanglah Naruto. Aku akan memberikanmu emas sebagai imbalannya..." Tawar Itachi

"Aku tidak butuh itu senpai..." Balas Naruto

"Jadi apa yang kau mau..." Tanya Itachi

Pria itu sedikit tak percaya Naruto menolak imbalan besar darinya. Sedetik kemudian, ia dapat melihat manik biru remaja itu memandang sayu sebuah kalung yang ada diatas grimoire hitam miliknya.

"Dengar Itachi-Senpai. Dulu, aku tidak bisa menjaga sesuatu yang sangat berharga buatku. Ia meninggal tepat didepan mataku. Setelah mendengar itu, apa kau yakin ingin mempercayakan Naori padaku..." Ucap Naruto lirih

Itachi dapat merasakan kesedihan yang dialami Naruto. Tanpa sadar, ia mengelus pelan surai pirang Naruto dan tersenyum kearah remaja itu. mempercayakan adiknya kepada Naruto merupakan pilihan yang tepat.

"Tentu saja. Aku mempercayaimu Naruto..." Ucap Itachi

"Baiklah aku akan menjaga Naori untukmu..." Sahut Naruto membuat Itachi menjadi lega. Pria itu lalu bertanya kembali apa imbalan yang diinginkan remaja pirang tersebut. Tetapi, remaja pirang itu menggeleng pelan.

"Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan..." Ucap Naruto

"E-Ehh.. Tapi aku belum memberikanmu apa-apa..?" Balas Itachi bingung

Naruto yang melihat Itachi kebingungan hanya tersenyum tipis. Remaja itu lalu menatap lekat-lekat manik hitam milik pria itu. Sejurus kemudian, Itachi tersenyum mendengar perkataan remaja pirang tersebut..

"Kepercayaan. Aku hanya perlu kau percaya padaku..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

AUTHOR BERTERIMA KASIH KEPADA KALIAN YANG TELAH MENGOREKSI KESALAHAN DI FICT INI. KEDEPANNYA MOHON BANTUANNYA LAGI YAH...

Note Author : Thanks untuk review kalian. Semua kritik dan saran dari kalian adalah semangat author untuk tetap semangat menulis cerita. Akhir kata sampai jumpa lagi...

See You The Next Chapter..