Once Burned (Remake)
Warn: YAOI, BoysLove, typo(s)
Pair: Hunkai
Disclaimer: Novel Once Burned by Jeaniene Frost, Cast(s) milik diri mereka sendiri.
.
.
.
All Jongin's POV
Setelah berjalan mondar-mandir untuk menyalurkan energi terakhir di tubuhku, akhirnya aku tertidur. Saat bangun, aku membuat dua keputusan. Yang pertama adalah aku akan bercinta dengan Sehun, meskipun aku menyadari bahaya di balik hubungan kami. Keputusan yang kedua adalah aku harus kembali ke klub. Segera.
Aku mandi dan berpakaian, menyadari bahwa selama aku tidur, lemari diisi dengan pakaian dari lemari lamaku. Kamar ini memiliki dua pintu, dan setelah memastikan bahwa salah satu pintu mengarah ke ruang duduk yang elegan, aku pergi keluar lorong panjang yang memiliki dua pintu lagi, sampai pintu itu terbuka untuk meperlihatkan persimpangan.
Rumah besar sialan. Seharusnya aku lebih memperhatikan saat Sehun membawaku ke sini semalam, tapi saat itu aku masih merasa sedikit pusing.
"Halo?" teriakku. Pasti ada orang lain di atas sini. Sehun bilang sebagian besar orang kepercayaannya menempati kamar di lantai ini.
Aku mendengar pintu terbuka, kemudian diikuti oleh suara Chanyeol.
"Aku datang, Jongin."
Chanyeol muncul sejenak kemudian, masih menggenakan pakaian yang sobek dan kotor oleh jelaga. Begitu melihatku, Chanyeol membuatku syok dengan berlutut di depanku.
"Tidak ada maaf atas kecerobohanku meninggalkanmu dalam keadaan bahaya... dan tidak ada ucapan terima kasih yang cukup untuk jasamu yang telah menyelamatakan nyawaku."
Aku menoleh ke sekeliling, lega karena tidak ada seorang pun yang menyaksikan adegan ini. "Chanyeol, bangunlah," desakku. "Saat itu kau sedang melawan beberapa vampir. Bukannya kau pergi keluar untuk meminum bir."
Chanyeol bangun, tapi kepalanya tetap tertunduk. "Aku pikir vampir berambut perak membawamu. Dia melarikan diri saat aku bertarung dengan yang lain, jadi setelah aku membunuh mereka aku mengejarnya. Seharusnya aku memeriksa di dalam bar. Kau hampir terbakar karena aku."
Aku tersenyum miris. "Dan Hunter terbunuh karena aku. Kita bisa menghabiskan hari ini dengan berkubang dalam rasa bersalah, atau kau bisa membantuku dengan membawaku tempat tulang vampir yang lain berada."
Sekarang Chanyeol menatapku. Dengan bingung. "Tulang-tulang mereka?"
"Vampir mungkin menciut menjadi daging kering saat mereka mati, tapi mereka meninggalkan tulang-belulang mereka," ujarku dengan puas. "Tidak ada bagian tubuh yang memiliki esensi yang lebih kuat daripada tulang. Biarkan aku menyentuhnya, dan aku bisa mengatakan padamu siapa mereka, bahkan jika aku beruntung, aku juga bisa mengatakan padamu siapa yang mengirim mereka."
Chanyeol mulai tersenyum sadis, yang membuatku merasa lega namaku tidak ada dalam daftar orang buruannya.
"Aku akan langsung membawakannya kesini. Sementara itu, kau harus makan."
Chanyeol memberiku tatapan tajam. "Kau hampir tidak makan kemarin, dan kau nyaris terbunuh semalam. Sebentar lagi kau akan menggunakan cukup banyak kekuatanmu. Darah Sehun tidak akan bisa memenuhi semua kebutuhan tubuhmu."
Sial, Chanyeol benar. Sejak sarapan kemarin, yang kumakan hanyalah darah vampir. Aku tidak akan menjadikan darah sebagai makanan utamaku.
"Setelah kupikir-pikir lagi, aku kelaparan."
Aku baru saja menghabiskan sepiring besar egg benedict saat Sehun masuk ke ruang makan. Dia menjatuhkan karung ke atas meja, kemudian dia berdiri di belakang kursiku dan menunduk untuk menyapukan bibirnya ke pipiku.
"Mempesona dan kejam. Kau membuatku tidak sabar untuk segera memilikimu."
Aku bergidik oleh sapuan mulut Sehun dan kata-katanya yang menggoda. Jika Sehun biasa menggunakan nada suara seperti itu di tempat tidur, dia mungkin harus melewatkan foreplay.
Sehun tertawa, tangannya diletakkan di bahuku. "Aku sangat menikmati foreplay. Apakah ramalanmu tidak menunjukkan itu?"
Aku memejamkan mata saat mengingat lagi ramalan itu, mencoba untuk mengendalikan sensasi bergelenyar di selangkanganku. Hentikan. Ada pembunuh yang harus kita tangkap, ingat?
"Iya, yang penting harus di dahulukan. Chanyeol, berhenti bersembunyi dan masuklah, aku membutuhkanmu. Jongin, apakah kau sudah selesai makan?"
Apakah Sehun berpikir aku masih menginginkan hidangan penutup sebelum berusaha mencari tahu siapa yang telah membunuh Hunter dan mencoba menculikku lagi?
Sehun keluar dari belakang kursiku dan menyingkirkan piringku yang sudah kosong, bibirnya kembali menyunggingkan senyum.
"Langsung pada bisnis... satu lagi kesamaan kita. Api menyebabkan bangunan itu runtuh, jadi kantong ini berisi tulang dari beberapa orang, tapi sebagiannya pasti milik penyerangmu."
Chanyeol memasuki ruang makan, ekspresi wajahnya kaku saat Sehun menuangkan isi karung ke atas meja. Empat tengkorak dan sejumlah tulang belulang lain bertumpuk di atas permukaan kayu ek yang mengkilap, Sehun menangkap salah satu tulang sebelum berguling jatuh.
"Kita bisa mulai dari sini," ujar Sehun, menyodorkan tulang itu padaku.
Dalam hati aku menguatkan diriku dan mengambil tulang itu. Gambaran hitam-putih berkelebat di dalam pikiranku, memperlihatkan seorang gadis ceria bernama Tanya, yang kelihatannya sebaya dengan adikku dan dosa terbesarnya adalah mencuri di toko.
Aku meletakkan tengkorak itu, mengerjapkan mata untuk menyingkirkan air mataku.
"Dia bukan salah satu dari mereka. Dia berada di sebelahku saat semua orang mulai panik, dan dia tersenggol tangan kananku..."
Dan akhirnya membuat gadis itu terbunuh, entah sentuhanku membuat jantungnya berhenti atau membuatnya pingsan cukup lama hingga akhirnya dia terbakar. Seharusnya aku tidak pergi ke klub semalam. Jika aku tetap di rumah, gadis ini pasti masih hidup.
"Tidak, Jongin," ujar Sehun dengan suara lembut. "Darahnya mengotori tanganku karena dia dibunuh oleh musuh-musuhku. Bahkan meskipun kau menyentuhnya karena kecerobohan, tanpa serangan itu, dia pasti bisa bertahan hidup. Jangan memikul dosa yang bukan dosamu."
Aku menyeka air mataku dan dalam hati bertekad untuk segera mencari sarung tangan karet besar-dan tidak pernah lagi ke luar tanpa sarung tangan itu, tidak peduli sekalipun aku akan menjadi pusat perhatian karenanya. Kemudian aku mengambil tengkorak yang lain. Sehun memang benar. Yang paling penting harus didahulukan.
Muncul lagi gambaran tak berwarna di dalam pikiranku. Tengkorak ini milik vampir yang dipenggal oleh Chanyeol. Namanya Cordon, dan melihat dosa terburuknya membuat empeduku naik ke tenggorokan. Aku mencoba menyingkirkan gambaran itu dan gambaran kematiannya untuk bisa melihat apa yang terjadi sebelumnya. Rasanya seperti mengamati film yang diputar mundur, karena adegannya berganti dengan sangat cepat hingga nyaris sulit untuk dimengerti. Itu salah satu kekurangan menarik informasi dari tulang. Tulang menyimpan lebih banyak sejarah dari benda lain.
Sehun dan Chanyeol tetap terdiam, dan itu membantuku untuk bisa lebih berkonsentrasi. Setelah beberapa menit, aku menangkap adegan yang sepertinya menjanjikan: Cordon dan vampir berambut kelabu, ekspresi wajah mereka sangat serius saat pria bertampang menjijikkan yang berusia sekitar empat puluhan dengan tubuh seperti batang pohon membentak mereka dalam bahasa yang terdengar aneh.
Ini kekurangan lain menarik informasi dari tulang-aku tidak mengalami langsung kejadian itu. Jika iya, aku pasti akan mengerti apa yang dikatakannya, karena aku akan ada di dalam pikiran Cordon, tapi situasiku sekarang seperti sedang terhubung dengan seseorang di masa kini. Aku hanya menjadi pengamat yang tak kasat mata.
"Sepertinya aku mendapatkan sesuatu," kataku dengan suara lantang. "Aku melihat dua vampir yang melakukan penyerangan di klub dan kelihatannya mereka sedang mendapat perintah, tapi aku tidak mengerti bahasa yang digunakan."
"Aku fasih dalam lusinan bahasa, ulangi apa yang kau dengar," perintah Sehun.
Pria bertampang menjijikkan itu berbicara dengan cepat dan bahasanya tidak mudah ditiru, tapi aku berusaha sebaik mungkin. Setelah mengulangi beberapa kalimat yang entah akurat atau tidak, siulan Sehun menarik perhatianku dari kenangan itu.
"Aku yakin kau sudah menemukan dalang misterius itu."
Aku melepaskan sejenak tautanku pada kenangan itu agar bisa memfokuskan perhatianku pada Sehun. "Kau memahaminya? Bahasa apa itu?"
"Novgorod Kuno." Senyuman kaku tersinggung dari bibir Sehun. "Aku tidak pernah lagi mendengarnya sejak kecil. Entah dia sama tuanya dengan aku, atau dia sangat cerdas dalam berkomunikasi dengan bahasa yang hanya diketahui segelintir orang sebelum akhirnya bahasa itu punah."
"Apa yang dikatakannya?"
Senyum Sehun melebar, tapi ekspresinya keras. "Kau melewatkan beberapa kata, tapi aku mendengar cukup banyak untuk bisa menyimpulkan bahwa peralatan pengintaian di kota memberi tahu mereka tentang kehadiranmu di klub. Begitu kau terlihat, dia memberitahu anak buahnya jika mereka tidak berhasil membawamu pergi, maka mereka harus membunuhmu."
Mengingat bagaimana si vampir berambut kelabu mematahkan kakiku dan meninggalkanku terperangkap di bangunan yang terbakar, perintah 'tangkap atau bunuh' tidak membuatku terkejut. Meskipun begitu aku tetap merasa marah. Sebelumnya, aku ingin membantu Sehun menangkap dalang di balik masalah ini, karena dengan begitu aku akan aman. Sekarang, aku ingin menangkap bajingan itu agar dia bisa membayar semua kesulitan yang ditimbulkannya untukku.
"Jabarkan lebih banyak dan kau pasti bisa mendapatkan pembalasan dendammu," janji Sehun. "Apakah kau tahu namanya atau di mana dia berada?"
"Tidak," jawabku, dan menjelaskan alasannya. Bahkan lingkungan di sekitarnya pun tidak memberiku banyak petunjuk. Ketiga pria itu berada di sebuah kecil dengan dinding semen, dan tidak ada apa-apa lagi. Sehun membelai rahangnya saat aku selesai menjabarkan apa yang kulihat, ekspresi wajahnya serius.
"Chanyeol," ujar Sehun kemudian. "Cari tahu siapa pelukis sketsa terbaik di dunia saat ini, dan bawa dia kesini saat fajar."
Tulang yang lain tidak mengungkapkan apapun yang berarti. Hanya gambaran dosa pemiliknya dan lebih banyak kilas balik pria bertampang menjijikkan yang berbicara dalam bahasa Novgorod Kuno. Sehun pergi untuk mencari peralatan pengintaian dan, tebakanku, untuk membakar siapapun yang terlibat dalam penyerangan itu. Aku terus berusaha memilah setiap kenangan untuk mencari tahu lebih banyak tentang sosok pemilik-pemilik tulang itu, tapi setelah berjam-jam mencoba tanpa hasil, aku memutuskan untuk berhenti. Aku mungkin membuat diriku sakit kepala tanpa hasil apa-apa. Karena sekarang aku sudah mengetahui wajah dalang penyerangan semalam, setelah pelukis sketsa datang dan Sehun mengenali sosok yang kujabarkan... skakmat baru akan terjadi besok.
Itu berarti malam ini kami harus menyelesaikan masalah diantara kami.
Aku makan malam sendirian di ruang tamu berpanel kayu yang tersambung di kamar tidurku. Kemudian aku tetap duduk disana setelah makan malamku dibereskan. Perabot kulit modern dan TV layar datar berukuran besar terlihat salah tempat, saat disejajarkan dengan lemari buku antik yang menyimpan koleksi buku yang sudah sangat tua, hingga aku hampir tidak bisa membaca judul di bagian sampingnya. Kekontrasan itu sangat ekstrem, selain itu tameng kuno yang ada di atas perapian memiliki desain naga yang sama dengan cincin Sehun, hingga membuatku menebak-nebak ke mana pintu yang satu lagi mengarah. Itu sebabnya, saat aku mendengar pintu itu terbuka, aku tidak menoleh, tapi tetap duduk di sofa dan terus menatap api di perapian.
Sosok bertubuh tinggi muncul di sudut mataku sebelum aku merasakan tangan yang hangat dan kuat membelai lenganku, kemudian gesekan dagu terasa di pipiku. Meskipun aku berniat meluruskan beberapa masalah terlebih dahulu, aku tidak bisa mencegah diriku berpikir bahwa panas seperti menjalar dari tangan Sehun ke tempat tertentu di tubuhku.
"Tunggu," cetusku, tapi kata yang keluar terdengar serak.
Tawa parau membuatku tergelitik oleh efek embusannya.
"Sangat tidak meyakinkan. Coba lagi."
Aku tidak bisa mencegah mataku terpejam saat Sehun menyentuh titik yang tadi terkena embusan napasnya. Sapuan lembut bibir Sehun membuatku mendesah nikmat, kemudian isapannya yang kuat membuat gairahku melecut bahkan saat aku terkesiap.
"Sehun!"
Terdengar lagi suara tawa sebelum aku merasakan tekanan taring yang berbahaya. Sehun terus menggoda leherku, giginya yang tajam menggesek kulitku tanpa menyobeknya. Nadiku berdenyut di mulutnya seolah memohon untuk digigit, tapi aku kemudian bangun dari kursi, berbalik menghadap Sehun.
Sehun menghampiriku, matanya berkilau oleh cahaya sehijau zamrud. Setelah sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas, aku menyadari bahwa Sehun sudah melepas kancing mansetnya dan kancing bagian atas kemeja hitamnya terbuka, memperlihatkan kulit berbentuk V yang mengunci tatapanku bahkan saat aku melangkah mundur. Sebelumnya aku hanya pernah melihat kulit Sehun saat dia menggulung lengan kemejanya unyuk memberiku darah. Aku mendapati diriku bertanya-tanya, apakah dadanya memiliki bulu gelap, atau efek gelap yang kulihat sekarang hanyalah efek dari bayangan perapian.
Sehun menyeringai dengan kesan seperti predator."Sebentar lagi kau akan mengetahuinya."
Aku mengangkat tanganku seolah untuk menghalau Sehun. "Belum. Aku ingin tahu terlebih dahulu apa permainanmu."
Seringaian Sehun semakin lebar, memperlihatkan taringnya. "Membuatmu menjeritkan namaku dalam waktu sejam ke depan."
Kata-kata itu membuat jantungku berdetak sangat kencang hingga leherku terasa seperti bergetar. Tatapan Sehun terfokus kesana, kemudian Sehun mencapaiku dalam satu langkah, menangkap tanganku dan menggunakannya untuk menarikku mendekat. Gelenyar menyebar di seluruh tubuhku saat Sehun menekankan, lengannya menjadi kurungan sensual di seputar tubuhku. Saat aku merasakan sesuatu yang keras dan berdenyut di perutku, gairahku bangkit dengan kekuatan yang cukup untuk menyingkirkan kekhawatiran yang lain. Aku ingin menyentuh Sehun di sana. Merasakannya. Memiliki Sehun di dalam diriku hingga aku menjeritkan namanya seperti yang tadi dijanjikan padaku...
"Tidak sampai kau mengatakan padaku apa konsekuensi tidur denganmu," ujarku sebelum gairah menghapuskan semua pikiran rasional.
Sehun sudah menyusupkan tangannya ke balik sweterku dan meraba punggungku, tapi saat mendengar perkataanku, dia terdiam.
"Konsekuensi?"
Napasku yang memburu membuat kata-kata itu terlontar dengan sura bergetar. "Iya, konsekuensi, harga yang harus kubayar, akibatnya, atau apapun yang akan membuatku mengatakan 'Oh, sial' pada keesokan harinya, saat semuanya sudah terlambat. Katakan padaku sekarang."
Sehun mundur untuk menatapku dengan cara yang aneh, seolah dia merasa geli sekaligus mengalami peperangan batin apakah dia harus mengabaikan aku dan melanjutkan aksinya atau menjawab pertanyaanku.
"Ah, konsekuensi itu," ujar Sehun kemudian. "Yang pertama, jika kau mengkhianatiku dengan pria lain, aku akan membakar pria itu sampai mati dihadapanmu."
Aku sudah menduganya, tapi aku tidak akan menyetujuinya tanpa memberikan syarat. "Hanya jika kau menerapkan standar yang sama pada dirimu sendiri, dan jangan menggunakan omong kosong 'kau milikku' jika hubungan kita tidak berhasil."
Tangan Sehun bergeser dari punggungku untuk membelai rambutku. Kemudian Sehun menunduk sampai wajahnya sangat dekat dengan wajahku.
"Aku tidak pernah menerapkan standar yang tidak kujalani sendiri, dan jika kau ingin memutuskan hubungan kita, kau hanya perlu mengataknnya. Tapi camkan ini, Jongin, jika aku pergi dari hidupmu. Aku pergi selamanya."
Mata Sehun kembali berwarna tembaga gelap saat dia berbicara, dan meskipun mata itu tidak lagi berkilau dengan cara yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia, mata itu tetap terlihat memikat.
"Itu juga berlaku untukmu," kataku, membalas tatapan Sehun. "Apakah itu saja?"
Bibir Sehun berkedut. "Tidak. Aku bisa memberimu kejujuran, monogami, dan lebih banyak gairah dari yang bisa kau terima, tapi tidak dengan cinta. Emosi itu sudah mati di dalam diriku sejak dulu sekali, dan aku rasa kau sudah mengetahuinya."
Aku menarik napas, berusaha menahan kekecewaan karena aku tahu Sehun benar. Aku memang sudah menduganya.
"Bagus," jawabku sebelum suaraku berubah menjadi sesuatu yang serak dan jauh lebih sensual. Sekali lagi mata Sehun berubah menjadi sehijau zamrud.
"Sudah cukup bicaranya," gumam Sehun, dan dia menunduk.
Bibir Sehun yang hangat dan kencang dikombinasikan dengan sapuan lidah yang mendominasi membuatku mengerang nikmat. Gairahku bergelora saat Sehun memelukku lebih dekat, tangannya meremas rambutku saat aku menyerah pada ciuman yang memabukkan. Tangan Sehun yang lain menyusuri setiap inchi tubuhku dengan rasa lapar yang posesif. Sesuatu di pangkal pahaku menegang sebagai respon akan sentuhan Sehun, denyut di dalam tubuhku hampir terasa menyakitkan. Aku bergelayut pada Sehun, menancamkan kuku ku di punggungnya, dan mengirimkan sengatan listrik yang besar ke tubuhnya, sebelum aku menjauhkan tangan kananku.
Sehun langsung menangkap tangan kananku, dan menekankannya lagi ke tubuhnya. "Jangan jauhkan tanganmu dari tubuhku malam ini, meskipun hanya sekali."
Suara Sehun serak karena gairah, dan membuat perintah itu terdengar seperti geraman. Kemudian Sehun menunduk, mengangkat tubuhku, dan melumat mulutku dalam ciuman yang memabukkan sebelum dia berjalan ke arah pintu.
Pintu yang tidak mengarah ke kamarku.
Butuh beberapa langkah panjang dan cepat sebelum dia meletakkan aku di sesuatu yang terasa lembut. Aku memejamkan mataku sambil terus menciumnya, tapi saat Sehun menjauh, memberiku kesempatan untuk bernapas, aku membuka mata-dan melihat kegelapan di sekelilingku. Butuh waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa kegelapan itu berasal dari tirai yang mengelilingi tempat tidur. Tirai itu terlihat berwarna hitam, tapi aku tahu tirai itu sebenarnya berwarna hijau gelap. Sehun menjadi bayangan yang menggantung di atas tubuhku, matanya yang menyala menjadi satu-satunya pencahayaan di ruangan ini.
Ini tidak cukup. "Aku ingin melihatmu," kataku, tidak peduli oleh suaraku yang bergetar oleh gairah.
Kamar berubah terang oleh lusinan cahaya lilin yang sebelumnya mati. Sekarang aku bisa melihat ruangan yang sangat besar dengan langit-langit tinggi berbentuk segitiga dengan deretan rak yang banyak sekali, tapi aku hanya melihat sekelilingku selama sedetik. Perhatianku terfokus pada Sehun saat dia melepaskan kemejanya dan membuka celananya dalam satu gerakan yang cepat.
Aku menarik napas tercekat. Cahaya lilin membuat kulit telanjang Sehun semakin mengagumkan, seolah cahaya itu membelainya, menegaskan kegagahan bahu yang lebar, lengan yang berotot, dan dada yang tidak sedikitpun tertutup bulu. Tatapanku turun ke perut rata Sehun sebelum menatap makin turun lagi. Saat tatapanku sampai ke bagian itu, aku melongo. Insting kuno membuatku semakin tegang di pangkal paha, tapi aku juga merasa sedikit takut. Orang bilang akan terasa sakit pada awalnya, tapi setidaknya aku tidak merasa asing dengan rasa sakit.
Aku memimpin pasukanku dari baris depan, Sehun pernah berkata begitu. Buktinya ada di sekujur tubuhnya, dari luka yang menghiasi kulitnya di beberapa tempat sampai ke otot yang merenggang dan menonjol seiring dengan gerakan yang dibuatnya. Jika Sehun terlihat seperti model majalah yang terlalu necis, aku mungkin tidak akan merasakan gairah sebesar ini, tapi tidak ada sedikitpun kesan kekanakan atau palsu dalam diri Sehun. Dia luar biasa maskulin, dan semua sensualitas liar itu sekarang menjadi milikku untuk kunikmati sepuas hati. Kesadaran itu membuat gelombang panas terasa di pangkal pahaku.
"Jika aku tidak sangat menginginkanmu," ujar Sehun dengan suara parau. "Aku akan membiarkanmu menyetubuhiku dengan tatapanmu, tapi kau membuatku tidak sabar."
Sehun mengatakan itu sambil memegangi pergelangan kakiku, melepas satu persatu sepatuku. Aku menarik lepas sweter dari atas kepalaku, napasku terengah tapi aku meyadari tatapan panas Sehun di tubuhku. Tubuh Sehun sangat mengagumkan hingga membuatku berharap aku memiliki sesuatu yang lebih untuk ditatap olehnya, kita berdua laki-laki tapi tubuhku benar-benar tidak ada apa-apanya dibandingkan miliknya.
"Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri dihadapanku." Kata-kata itu diucapkan dengan suara pelan, tapi bergetar oleh kekuatannya. "Kau luar biasa menawan, dan butuh segenap kendali diriku untuk melakuakan ini dengan perlahan."
Gelombang gairah yang lebih kuat memenuhiku, membuatku bergetar oleh intensitasnya. Aku tidak pernah menginginkan sesuatu lebih dari ini, jadi aku tidak melihat ada alasan untuk menunggu.
"Aku berharap kau tidak akan melakukannya dengan perlahan."
.
.
.
TBC
A/N:
Chapter ini kayanya pendek ya wkwk maaf saya kobam hunkai moment dan ini juga ngebut banget soalnya mau uas. Jadi chap depan sama replace bakalan agak lama apdetnya.
Sekian.
