DISCLAIMER :

It's none of my character, it's all belongs to Mrs. J.K Rowling. Stories/Plot are mine. I take no profit in this fic. Kalau Harry Potter buatanku, sudah dari dulu kupasangkan Hermione dengan Draco.

WARNING :

Typo(s), A lot of mistake, EYD berantakan, Maybe OOC? Dan jauh dari kata sempurna.

some inappropiate languange

Happy Reading!


Beep! Beep! Beep!

"Ugh!"

Draco mengeluh. Dengan malas ia meraih alarm yang terpasang di kamar Hermione. Matanya masih setengah tertutup, begitu pula dengan kesadarannya yang masih belum pulih seratus persen. Ia masih ingin menikmati mimpi indahnya. Sayangnya, keinginan itu harus ia urungkan ketika matanya terbuka dan melihat jarum jam menunjukan pukul enam pagi. Sontak kesadarannya yang masih tercecer kembali berkumpul dan matanya membelalak kaget.

"Sial! Sudah jam enam," gumamnya.

Ia mendudukan dirinya, lalu ia menoleh kesebelah kiri. Ia mendapati putri yang ia sayangi masih tertidur lelap. Di taruhnya punggung lengan Draco di kening gadis itu. Suhu tubuh Hermione sudah mulai membaik, walaupun keringat membanjiri tubuh Hermione. Draco tersenyum saat melihat Hermione bergerak-gerak sambil menarik selimutnya dan menggumamkan sesuatu yang ia kurang pahami.

Draco turun dari tempat tidur dan memutuskan untuk mandi. Setelah selesai mandi, ia beranjak ke arah dapur untuk membuatkan makan pagi untuk dirinya dan Hermione. Walaupun ia tidak yakin akan rasa pancake yang ia buat, ia tetap meneruskan pekerjaannya. Setelah selesai, ia langsung membawakan sarapannya ke kamar Hermione dan meletakannya di meja kecil yang terletak di samping tempat tidur.

Draco mengguncang dengan perlahan tubuh Hermione untuk membangunkannya.

"Hermione, Hermione, ayo bangun."

"Mmm."

"Heh, ayo cepat bangun. Kau tidak mau mencicipi pancake buatanku?"

"Aku masih ngantuk," gumam Hermione.

"Dasar, berang-berang pemalas," gumam Draco.

Mendengar pernyataan Draco, Hermione membuka kedua kelopak matanya dan memelototi Draco yang sedang menyeringai penuh kemenangan.

"Dasar, musang pengganggu tidur berhargaku."

"Tidak enakkan di bangunkan sepagi ini dan kau masih mengantuk eh?"

Hermione cemberut. Ia mendudukan dirinya dengan tegak. Kemudian ia mencium aroma pancake dan sirup mapple yang telah di sajikan oleh Draco. Hermione menatap Draco penuh keheranan. Draco yang menangkap tatapan Hermione langsung menaikan sebelas alisnya.

"Kenapa kau melihatku seperti itu?"

"Kau… memasak?"

"Memangnya kenapa kalau aku memasak?"

"Kau tidak meracuniku kan?"

"Merlin, Granger! Untuk apa aku meracuni kekasihkusendiri, hah? Kau pikir aku gila?" sergah Draco dengan penekanan pada 'kekasihku'.

"Aku hanya bercanda Dray. Tidak biasanya kau mau memasak. Apa.. kau meminta bantuan peri rumah?"

"Tidak."

Hermione tersenyum kikuk sambil mengangkat sebelah alisnya. Draco jengkel dengan kelakuan Hermione pagi hari ini. Jika gadis berambut ikal itu tidak sedang sakit, ia benar-benar akan memantrai gadis itu. Untungnya, kesabarannya masih dalam batas toleransinya.

"Kalau kau tidak mau, aku buang saja," ucap Draco dingin sambil membawa kembali piring yang tersimpan di meja.

"Jangan!"

"Untuk apa? Kau tidak mau kan? Akan aku panggilkan peri rumah saja untuk membuatkan sarapan untukmu."

"Tidak usah, aku mau pancake buatan mu. Maafkan aku, Dray. Aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai mu. Aku hanya… terkesan, kau mau memasak untukku."

Draco menghela napas. Ia menaruh kembali piring yang berisi pancake tersebut. Kemudian pandangannya ia alihkan pada Hermione.

"Kau tahu? Aku akan membuatkan mu apa saja yang kau inginkan selama aku bisa. Aku tahu, aku si musang manja yang hampir tidak melakukan apa-apa. Tapi, aku ingin melakukan perubahan. Aku juga ingin bisa memasak kan sesuatu untukmu, melakukan sesuatu untukmu. Ya, apa pun itu. Aku, aku bukan tipe orang yang bisa ber-romantis seperti yang sering di ceritakan dalam novel," ucap Draco.

"Aku tidak butuh kau harus seperti karakter tersebut. Aku hanya butuh kau, si Draco Malfoy – musang pirang menyebalkan, menjengkelkan, arogan dan angkuh. Aku tahu, kau mengungkapkan semuanya melalui perilaku. Tapi, kau bisa menjadi romantis saat kau mau," ucap Hermione dengan senyumnya yang manis.

Draco tersenyum kembali kepadanya. "Well, kita makan pancake nya sebelum menjadi tidak enak untuk di makan."

Hermione dan Draco memakan sarapan paginya dengan ketenangan. Selama makan berlangsung, mereka tidak berbicara. Hanya saling menatap satu sama lain. Setelah selesai dengan makan pagi, Draco menyuruh peri rumah membantu Hermione untuk mandi. Hermione menolak keras perintah Draco, namun tetap saja Draco keras kepala dan mengancam jika tidak peri rumah, biar dirinya sendiri yang akan memandikannya. Dengan menyerah, Hermione menuruti keinginan Draco.

Setelah semuanya di rasa selesai, mereka duduk di kursi sofa panjang berwarna hijau emerald yang terletak di ruang rekreasi. Bukannya mengobrol santai-santai, mereka malah berargumen kembali seperti tiada hari tanpa adu argumentasi.

"Pokoknya aku ingin mengikuti pelajaran kelas hari ini dan besok nya lagi dan besok nya lagi –"

" – Shoo! Kau tak bisa! Kau-masih-sakit! Kau ingin pingsan di tengah kelas atau ketika berjalan di koridor hah? Kau ingin memeras otak genius mu kembali dalam keadaan seperti ini hah?"

"Memang nya kenapa? Aku bisa! Aku-tidak-lemah! Pokoknya aku ingin belajaaaaaar!"

"Kau…."

"Apa? Dasar musang albino menyebalkan!"

"Berang-berang dan sangkar burung!"

"Apa katamu? Sangkar burung hah?"

"Rambutmu itu seperti sangkar burung yang terletak di ranting-ranting pohon kan?"

"Jerami pirang sialan," gumam Hermione kesal.

Hermione membuang muka dari hadapan Draco. Ia benar-benar jengkel. Di pikir ia selemah itu apa? Ia masih bisa untuk menghadiri kelas dan memperhatikan professor menjelaskan materi. Terlebih ia sudah cukup bosan berdiam diri di asrama ketua murid selama 5 hari berturut-turut. Terkadang Draco terlalu berlebihan.

Draco menghela napas kalah. Baiklah, ini tidak akan berakhir baik jika Hermione sudah marah seperti ini.

"Baiklah, sweety otter, kita pergi ke kelas hari ini. Dengan catatan, aku ikut denganmu. Kau mengerti?"

Hermione memalingkan wajahnya dari tembok ke arah Draco. Matanya berbinar senang seperti baru di beri lima puluh galleon. Ia memeluk Draco.

"Terima kasih! Ah, kau ini sulit sekali hanya untuk membiarkan aku belajar."

"Tipikal kutu buku. Sepertinya otak malang itu gatal jika tidak di jejali pelajaran satu hari saja," gumam Draco.

"Apa kau bilang?"

"Tidak, kau terlihat lebih cantik saat tersenyum," ucap Draco berbohong.

Draco mencondongkan tubuhnya, kemudian ia mencium bibir mungil Hermione. Draco melepas pagutan nya dan menempelkan dahinya di dahi Hermione. Iris kelabu nya menatap manik hazel Hermione.

"Ayo, kita ke kelas rune kuno sekarang," gumam Hermione.

Draco mengangguk. Ia berdiri dari duduknya yang nyaman dan membantu Hermione berdiri. Kemudian keduanya pergi ke kelas rune kuno.

Xxx

Hampir empat jam mereka mengikuti pelajaran double rune kuno di tambah pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman Hermione. Ketika mereka selesai, mereka langsung mengikuti kelas ramuan selama dua jam. Sejauh ini Hermione tampak baik-baik saja dan bersemangat walaupun keringat nya sudah mulai membasahi baju Hermione dan mengalir di pelipis nya. Draco yang melihatnya, langsung menarik Hermione menuju ruang ketua murid setelah pelajaran selesai.

"Kau ini kenapa hah?"

"Kau keringatan Hermine. Kau harus ganti bajumu dan meminum obat rutin mu," oceh Draco.

"Aku hanya keringatan saja, Dray!"

"Tidak bisa, kau harus ganti baju dahulu setidaknya. Kapan kau akan berhenti membantah ku hah?"

Hermione merenggut kesal. Ketika sisi protektif Draco keluar, ia bisa menjadi sangat overprotektif sekali. Hermione senang, ia perhatian dan peduli padanya, tapi jika begini ia juga merasa jengkel. Akhirnya Hermione hanya diam saja dan mengikuti kemauan si tuan ferret pirang yang sedang menyeretnya ke asrama ketua murid.

Setelah menyelusuri jalan yang cukup jauh, tak lama mereka sampai di asrama ketua murid. Hermione langsung ke kamarnya dan mengganti bajunya dengan cepat, kemudian ia juga meminum seluruh ramuan yang diperuntukan untuknya. Masih dengan wajah kesal, Hermione mendekati Draco yang sedang duduk di tangan kursi single dengan melipat kan kedua tangannya di dada sambil mengamati gerak-geriknya.

"Aku sudah berganti, sekarang apa lagi hah?"

Draco menghela napas. Kemudian ia menarik Hermione ke dalam pangkuannya. Dengan refleks, Hermione menaruh kepalanya di antara bahu dan leher Draco. Ia bisa mencium aroma maskulin tubuh Draco dan betapa menenangkannya setiap kali Draco memperlakukannya seperti ini.

"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Mungkin cara ku salah, tetapi ini yang bisa aku lakukan," ucap Draco lirih.

"Aku tahu Dray. Aku senang kau peduli padaku, tapi kau harus tahu bahwa aku masih bisa untuk berjalan, belajar dan melakukan aktivitas lain. Ya, walaupun sebagian tubuhku terasa lemas tetapi aku ingin melakukan rutinitas ku kembali. Aku tak mau merepotkan mu, Dray."

"Kau tak pernah merepotkan ku."

"I love you," bisik Hermione di telinga Draco.

Draco menarik wajah Hermione, kemudian ia mendekatkan jarak wajahnya dengan Hermione. Ia dapat melihat Hermione menutup kedua kelopak matanya, merasakan hembusan napasnya. Ia begitu terlihat cantik sekali. Draco kemudian mencium bibir mungil Hermione yang terasa manis dan memabukan. Ia menekan lidahnya meminta Hermione membuka mulutnya. Dengan senang hati Hermione membuka mulutnya dan menyambut lidah Draco yang kemudian mengabsen barisan gigi Hermione yang rapi. Ciuman yang tadinya lembut, kini semakin memanas di tambah dengan Hermione yang sesekali melengguh dan mendesah. Sampai-sampai keduanya tidak sadar delapan mata sedang memperhatikan mereka.

"Ck, sehari tanpa berciuman sepertinya tidak bisa. Jahit saja sekalian biar tidak lepas," sindir Blaise.

Kedua ketua murid itu langsung menghentikan kegiatan mereka. Perhatiannya kemudian teralih kepada orang yang telah berani menginterupsi kegiatan yang baru saja di mulai. Dengan kesal Draco melempar pandangan membunuh pada Blaise.

"Mulutmu saja yang kau jahit, Zabini. Celoteh mu itu menjengkelkan."

"Kau sih Zabini, malah berbicara. Padahal ini yang kedua kalinya aku memergoki mereka. Yang sekarang lebih hot tahu," ujar Ginny.

"Apa? Kau pernah melihat mereka, Gin?" pekik Harry.

"Yes, dan sekali-sekali kita harus bisa se hot mereka. Ya… walau mereka belum sampai melakukan itu, tapi ya.. aku yakin Hermione pasti akan melakukannya. Ya kan Mione'?"

"Lalalala…. Aku tidak mendengar ocehanmu, Ginny! Ohhh bloody hell!" ucap Harry sambil menyanyi tidak karuan dan menutupi telinganya.

"Heh! Kenapa kau malah tidak mendengarkan ku hah?" bentak Ginny.

"Karena Hermione seperti adikku sendiri! Jadi, aku tak mau mendengarkan tentang hal itu dan aku tidak mau tahu tentang itu."

Draco menyeringai melihat pertengkaran kedua manusia berbeda jenis kelamin tersebut. Ia jadi membayangkan dirinya dan Hermione yang sedang bertengkar. Apa terlihat seperti itu kah? Memang menyebalkan jika di lihat dari sudut pandang ketiga tapi jika diri sendiri yang melakoni, pertengkaran konyol itu sangat menyenangkan sekaligus menjengkelkan juga, tapi di situlah titik kesenangan yang ia temukan ketika bertengkar dengan Hermione. Lamunan nya ter buyar saat suara Hermione berbicara.

"Kalian, diam! Apa kalian berdiri di sana hanya untuk menonton dan bertengkar saja atau ada sesuatu yang akan kau katakan huh?"

"Eh? Um.. oh ya, tadinya aku ke sini untuk menjenguk mu, Mione. Aku mendengar cerita yang sebenarnya dari Blaise dan Theo. Aku khawatir padamu, tetapi melihat kalian begitu, kurasa kau baik-baik saja," ujar Harry.

Hermione mengangkat sebelah alis nya. "Sejak kapan kau memanggil kedua Slytherin itu dengan nama depannya?"

Harry mengangkat bahunya. "Apa itu masalah? Kita sama-sama prefek, sama-sama bersekolah di Hogwarts. Kita berteman sekarang. Things are change, Mione'. Ya walaupun pacar ferret mu terkadang menyebalkan setidaknya ia layak bersanding denganmu."

Draco mendengus mendengar ucapan Harry. Walaupun sudah berteman, tetap saja ledekan bodoh itu tak lepas dari mulut-mulut remaja dewasa ini. Ia mengalihkan pandangannya pada Blaise dan Theo.

"Jadi, apa yang membawa kalian berdua kemari?"

"Kau tak akan membiarkan ku duduk dan cerita sambil berdiri hah?" tanya Blaise.

"Oh ya, ayo masuk saja dan duduk," ujar Draco.

"Tidak ah, nanti aku iri," ucap Ginny.

"Kenapa?" tanya Hermione.

"Kalian saja duduknya tetap seperti itu. Bisa-bisa aku melompat ke pangkuan Harry dan memakannya di tempat."

"Wow, red-head. Kau benar-benar gila!"

"Tak kusangka, Gryffindor si kalem dan polos ternyata liar juga," timpal Theo.

Hermione wajah merah padam. Ia benar-benar merutuki atas mulut sahabatnya tersebut yang sangat tidak bisa di jaga – dengan kata lain cablak dan frontal. Hermione turun dari pangkuan Draco dan duduk di kursi. Draco kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Hermione. Setelah itu, keempat tamu tak di undangnya tersebut memasuki ruang rekreasi dan duduk di tempatnya masing-masing. Ginny angkat bicara kembali.

"Kau tahu Hermione – "

"Aku tak tahu," potong Hermione.

"Aku belum selesai!" bentak Ginny. "Umm… Argh, kau pengacau! Eh, ya aku ingat. Pelajaran baru itu yang dengan professor Frassineti, ingat? Ia memberi tahuku, kalau aku akan memiliki dua anak laki-laki dan akan di tempatkan di Manchester. Ya, akan jauh dari siapa pun. Aku pasti akan merindukan semuanya. Tapi, aku akan menjadi ibu baru dan berdua saja dengan Harry," cerocos Ginny.

"Ahh, aku senang mendengarnya Gin. Aku mungkin melewatkan banyak hal."

"Yep, sebaiknya setelah ini, kau datangi professor. Kau tanya informasi tentang tugas mu. Ah, aku serasa tua juga, aku akan jadi ibu-ibu."

"Now, now, woman! Kami para lelaki akan mendiskusikan sesuatu yang lebih penting ok? Atau kalian pergi saja ke tempat lain untuk membicarakan gosip apa saja yang aku tidak pedulikan," ujar Theo.

Kedua gadis yang ada di ruangan itu cemberut. Mereka kesal dengan pernyataan Theo yang di setujui para lelaki yang lainnya.

"Jadi, apa yang penting itu, Theo?"

"Kau pernah meminta ku dan Blaise untuk mencari siapa pelaku yang telah mencelakai Hermione kan?" Tanya Theo yang kemudian mendapat anggukan dari Draco. "Nah, setelah kita teliti, ada beberapa orang yang di curigai. Kau dan Potter bisa legillimency bukan? Kalau begitu, kau bisa melakukan pembuktiannya melalui legillimency."

Seketika rahang Draco mengeras. Kebencian dan amarah jelas terlihat di sorot iris kelabunya.

"Siapa yang terduga melakukan hal bodoh itu?"

"Cormac McLaggen, Pansy Parkinson, Astoria Greengrass, Lavender Brown, Marlyn Scott," ucap Blaise.

"Lavender? Untuk apa dia menyerangku?" tanya Hermione terkejut.

"Bisa saja karena ia kesal dan ingin balas dendam karena ickle ronniekins-nya hampir berpaling. Di tambah, kau pernah berhubungan dengan nya bukan? Itu kemungkinan besar bisa terjadi," ujar Blaise.

"Apa yang di katakan Blaise benar. Si Lav-lav itu bisa saja melakukan itu. Awas saja jika benar, akan aku lempar dia ke duyung dan cumi yang sedang lapar," ujar Ginny.

"Well, Potter, kenapa tidak melihat peta marauder saja saat itu?" Tanya Blaise.

"Aku tidak tahu ke mana menghilang nya jubah tak terlihatku dan peta itu. Sepertinya ada yang mencurinya," ucap Harry tenang.

Wajah Hermione, Draco dan Ginny menegang. Harry sudah tahu rupanya kalau benda penting miliknya telah hilang. Dengan gugup dan gelisah, Hermione mencoba jujur.

"Ngg.. Harry, sebenarnya…. Aku yang mengambil barangmu. Aku, aku bersekongkol dengan Ginny. Aku berencana akan mengembalikannya tanpa sepengetahuanmu, tapi aku lupa terus."

"Huh? Kenapa kau tidak bilang? Kenapa harus mencurinya? Dan kau Ginevra, kenapa tidak bilang padaku?"

"Karena aku takut kau tidak mengizinkan aku meminjamnya dan … aku tahu, benda itu berharga untuk mu. Maafkan aku, Harry," ucap Hermione agak gemetar.

"Jika kau ingin marah, marahlah padaku, Potter. Aku yang menyuruhnya meminjam tanpa sepengetahuanmu. Aku yang memaksa mereka."

"Untuk apa memangnya?"

"Herbologi. Aku – tepatnya aku dan Hermione membutuhkan benda itu untuk menyelinap di tengah malam," ucap Draco kelewat dingin seperti Draco yang dahulu.

"Kenapa tidak jujur saja? Padahal aku akan meminjamkannya. Aku tidak pelit, tahu! Sebagai ganjarannya, kalian berdua harus membantuku di pelajaran Herbologi dan ramuan," ujar Harry sambil nyengir.

"Kenapa begitu?" protes Hermione.

"Karena kalian tidak jujur. Itu saja."

"Ah, baiklah… baiklah! Akan aku lakukan," ucap Hermione lega walaupun agak jengkel.

"Alright, kembali ke permasalahan. Jadi, aku ingin sore ini, sesudah pelajaran terakhir usai, kau dan Harry menginvestigasi orang terduga tadi. Harry, kau cek McLaggen dan Lavender dan kau Drake, kau mengecek Astoria, Pansy dan Scott. Ingat, kau lakukan legillimens tanpa sepengetahuan," papar Theo.

"Aku mengerti bodoh! Sebenarnya siapa yang berkeahlian legillimency ini, kau atau aku?"

Theo hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk.

"Peace man, chills out! Aku kan hanya ingin membantu."

Draco memutar bola matanya. "Terserah."

"Ok, jadi tak ada masalah lain kan? Kalau begitu, kita kembali ke pelajaran selanjutnya. Lalu, bersiaplah untuk aksi selanjutnya."

Semuanya bergegas kembali ke aktivitas biasanya. Kembali belajar ke kelas yang telah di jadwalkan. Draco kemudian teringat bahwa hari ini – tepatnya siang hari – kedua orang tuanya akan datang. Tidak! Ini tidak boleh terjadi dahulu. Bagaimana caranya untuk menghindari kedua orang tuanya? Sebenarnya, Draco tidak peduli jika kedua orang tuanya akan mencoret namanya dari keluarga dan meninggalkannya dalam kemiskinan dari dirinya. Tapi, yang ia khawatirkan adalah Hermione. Ia takut sesuatu yang buruk akan menimpa pada Hermione. Di tambah keberadaan tiga Slytherin betina berbisa mempersulit keadaan. Draco menghela napas. Apa, sebaiknya ia jujur saja kepada Hermione, bahwa kedua orang tuanya akan datang kemari dan menanyai tentang hubungan mereka? Tidak, tidak. Hermione belum boleh tahu mengenai masalah ini. Biarkan saja dahulu kedua orang tuanya menunggu atau jangan menemui dirinya sekalian saja.

Selama pelajaran, Draco hanya sekilas memperhatikan celotehan profesor Flitwick. Perhatiannya masih tersita oleh bayang-bayang Malfoy senior. Oh, begitu menyebalkannya menjadi seorang Malfoy. Tidak mudah bagi Draco untuk menyandang seorang Malfoy.

Hermione yang menyadari Draco tidak fokus, ia menyikut tubuh Draco agak keras.

"Ouch! Kenapa kau menyikutku?" desis Draco.

"Kau tidak fokus Dray. Ada masalah?"

"Hmm? Tidak, Hermine. Aku hanya sedang memikirkan tugas dan laporan tugas ketua murid saja," ucap Draco berbohong.

"Baiklah. Kita bisa membicarakannya setelah pelajaran ini selesai, ok? Kau harus fokus," bisik Hermione.

Draco mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Well, masih ada hal lain yang perlu ia khawatirkan. Mengintrograsi Slytherin, mengerjakan essay pertahanan terhadap ilmu hitam, Herbologi, rapat prefek mengenai pesta reuni, tugas professor Frassineti yang berhubungan dengan parenting dan anak-anak. Oh, sial! Sial! Sial! Tak dapat lebih buruk kah? Benar-benar membuat otak Draco harus bekerja sepuluh kali dari biasanya.

"Mr. Draco? Apa kau memperhatikan apa yang aku bicarakan?"

"Pardon, profesor?"

"Kau harus perhatikan apa yang sedang aku jelaskan! Atau aku akan memberikanmu nilai Troll!"

"Maafkan saya, profesor. Saya akan memperhatikan sekarang. Silakan lanjutkan pelajarannya," ujar Draco.

Professor Flitwick hanya mendengus sebal dan kembali menjelaskan materi yang sedang ia bahas. Draco kembali mendengarkan dan mencatat apa yang di katakan professor yang ukuran tubuhnya itu kecil. Di sisi lain, Hermione memperhatikan gerak-gerik Draco. Ia tahu, ada yang sedang Draco pikirkan, namun ia tahu Draco tidak mau memberitahu dirinya apa yang ada dalam pikirnya.

Setelah pelajaran selesai, murid-murid yang berada di kelas berhamburan keluar ruang rekreasi untuk beristirahat setelah hari yang melelahkan. Draco lumayan lega karena selama seharian ini orang tuanya belum muncul di hadapannya dan mengkonfrontasi Hermione. Ia mempunyai rencana untuk melakukan legillimens nya hari ini untuk ketiga Slytherin betina yang benar-benar membuat hidupnya sungguh menderita sekali.

"Hermione, kau ingat apa yang di bicarakan Potter, Theo dan Blaise? Aku akan menjalankan rencananya sekarang."

"Tidak sebelum kau makan terlebih dahulu."

"Aku bisa melakukannya nanti saja, my lady."

"Baiklah, aku tak akan bicara padamu satu minggu."

Draco menghela napas. "Oke, ayo kita makan dahulu. Tetapi, kita harus makan secara terpisah kali ini. Kau harus dekat dengan Ginevra, sementara aku di bangku Slytherin. Aku akan memancing ketiga jalang itu untuk mempraktekan legillimens ku."

Hermione memukul punggung Draco agak keras.

"Hey, untuk apa itu?" pekik Draco.

"Jaga ucapanmu! Kau tak bisa berkata kasar di area sekolah! Kau ini ketua murid, berikan contoh yang baik."

"Yes ma'am."

Hermione dan Draco kemudian berjalan berlainan arah setelah quick peck on lips dan makan siang yang tergesa-gesa. Setelah selesai makan, Draco menuju ruang rekreasi Slytherin sedangkan Hermione menuju ruang rekreasi Gryffindor.


Di ruang rekreasi, Pansy dan Marlyn sedang mengobrol asyik. Astoria hanya membaca majalah fashion. Daphne yang di sebelah Astoria sibuk dengan cat kuku nya, sedangkan kedua sahabatnya – Blaise and Theo – sedang duduk santai di pojok ruangan. Melihat keberadaan Draco, Theo dan Blaise langsung memberikan pandangan kode untuk melakukan rencana mereka. Draco menganggukkan kepalanya. Kemudian ia berdeham.

"Ahm… Pans, Lynn, Tori… aku ingin berbicara dengan kalian bertiga," ujar Draco.

"Hey Drakie-poo! Kau mulai bosan ya dengan si Granger itu?" Tanya Pansy dengan suara nyaringnya.

"Kau benar Pans, ia sama sekali tidak begitu menyenangkan sepertimu. Duduk di sebelahku?" ucap Draco sambil menyeringai.

Pansy langsung dengan gesit duduk di sebelah Draco dan bergelayut manja. Dengan seperti ini, Draco mengambil kesempatan untuk menyelami memori Pansy. Tanpa di sadari siapapun, Draco sudah melihat semua, tetapi nihil. Hanya akal licik dan piciknya yang ia lihat. Setelah Draco keluar dari memori Pansy, tubuh Pansy melemas dan terengah-engah.

"Kau kenapa Pans?" Tanya Draco memasang tampang tak tahu apa-apa.

"Entahlah. Aku merasa seperti ada yang merasuki pikiranku."

"Baiklah, sebaiknya kau istirahat. Lynn, kau bisa gantikan Pansy untukku?"

"Kenapa tidak Astoria saja?"

"Kau lebih menarik untuk di ajak 'bermain' duluan," ucap Draco dengan menggoda.

Dengan enggan Pansy angkat kaki meninggalkan Draco dan pergi ke kamarnya. Ia merasa ia butuh tidur. Biarkan si ular Scott itu menggantikan dirinya untuk bersama Draco. Toh, ia akan menjadi gadis terakhir yang akan menikmati semuanya dari Draco.

Ketika Marlyn duduk di sebelah Draco, ia menatap wajah Draco agak gelisah. Hatinya tidak merasa tenang. Ia bisa melihat Draco sedang berkonsentrasi dan melakukan sesuatu. Tiba-tiba saja tubuhnya terasa kaku dan tak bisa berontak. Ia merasa lembaran-lembaran memori dalam otaknya di obrak-abrik oleh sesuatu. Sampai akhirnya, memori tentang terceburnya Hermione dan bagaimana rencana liciknya berjalan dengan sukses terputar seperti film.

Draco yang menyaksikan langsung menarik diri. Rahangnya ia katupkan. Lengannya mengepal dan seketika wajahnya terlihat begitu mengerikan. Tatapan dingin menusuk dan tajam itu ia lemparkan kepada gadis di hadapannya ini.

"Jalang sialan! Kau… Kau berani melakukan itu pada Hermione? Apa yang membuat kau berpikir seperti ini? Kau pikir jika aku kehilangan Hermione maka aku mau saja menerima mu? Bahkan untuk menyentuh kuku ku saja kau tak akan pernah bisa, Scott," ucap Draco dingin. "Kau tahu akibat perbuatanmu? Besok ku pastikan hukumanmu akan datang. Selamat tinggal, losers."

Draco beranjak dari duduknya dan meninggalkan semua murid Slytherin dengan berbagai macam pertanyaan dalam pikirannya. Mereka tak tahu apa yang membuat sang pangeran Slytherin mengamuk seperti itu – terkecuali Theodore dan Blaise yang sekarang mendengus sambil menyeringai menghina.

"Tak kusangka. Kau memalukan hal itu Marlyn," desis Blaise.

"Sudah beruntung Draco tidak membunuhmu. What a bitch!" timpal Theo.

Blaise dan Theo pergi dari ruang rekreasi Slytherin untuk menemui Harry Potter. Marlyn yang sedari tadi terdiam kini badannya bergetar dan tetesan air bening mengalir di pipinya. Apakah ia menyesal? Ya. Karena Draco kini membencinya dan malah ia mendapat hukuman. Ditambah ucapan Draco yang mengatakan bahwa Draco tak akan pernah membiarkan dirinya menyentuh bahkan untuk kukunya saja. Astoria hanya mengamati Marlyn dan merenungkan segala apa yang terjadi hari ini.


Draco berjalan dengan cepat seperti sedang di kejar anjing yang mengamuk. Wajahnya begitu terlihat kejam dan mengintimidasi siapa saja yang menatapnya. Iris kelabu nya mencari sesosok gadis berambut ikal. 'ke mana gadis itu?' batin Draco.

Setelah melewati beberapa koridor dan menaiki anak tangga, akhirnya Draco sampai di depan lukisan Fat Lady. Ia memaksa untuk membiarkan dirinya masuk dan menemui Hermione.

"Cepat bukakan pintunya!" jerit Draco.

"Kata sandinya dahulu baru kau bisa masuk. Lagi pula kau mau apa kemari?" Tanya wanita dalam lukisan itu ketus.

"Bukan urusanmu. Kalau kau tetap tak mau membukanya, biar aku hancurkan saja lukisan tak berguna ini, bagaimana?"

Ketika Draco mengacungkan tongkatnya, lukisan itu terbuka dan menampakan gadis berambut ikal dengan warna cokelat madu berdiri di hadapannya. Gadis itu menatap Draco dengan tatapan bingung. Tanpa tedeng aling-aling, Draco menarik lengan Hermione dan menyeretnya untuk kembali ke asrama ketua murid.

Perlakuan kasar ini tentu sangat tidak di terima oleh Hermione. Ia memberontak di sepanjang perjalanan dan memohon kepada Draco untuk melepaskan genggaman mematikannya. Tetapi, seolah di buta-tulikan, Draco tetap berjalan dan masih menggenggam dengan kuat di pergelangan mungil Hermione.

"Draco! Lepaskan! Kau ini kenapa?"

"Diam!"

"Draco… lenganku…. Sakit," rintih Hermione.

Draco tidak menggubris. Sesampai di ruang ketua murid, ia mendorong Hermione ke kursi sofa. Ia mencium bibir Hermione dengan ganas dan tanpa ampun. Hermione meronta-ronta, namun tenaganya jauh lebih lemah di banding tenaga Draco yang rupanya sedang kesetanan. Hermione menyerah pada akhirnya dan membiarkan Draco melakukan apa saja yang ia inginkan.

Setelah puas dengan bibir Hermione, Draco kemudian mulai mencium pipi Hermione, rahangnya, telinganya dan berakhir di lehernya. Perlakuan Draco membuat Hermione terasa suhu tubuhnya memanas. Ditambah lengguhan suara lembut Hermione tiba-tiba saja keluar tanpa ia sadari. Namun, tak lama dari tiga menit, Hermione merasakan sesuatu yang basah di lehernya. Ia merasakan tubuh Draco bergetar. Draco memeluknya dengan sangat erat seolah Hermione barang yang sangat berharga.

"Draco," ucap Hermione lirih.

"Maafkan aku… aku bodoh! Aku tak bisa menjagamu dengan baik. Aku bahkan tak tahu jika dia bersembunyi dan mengikuti kita. Aku tak menyelamatkanmu saat Bellatrix menyiksamu. Lihat lenganmu Hermione! Kata-kata itu masih tertulis dilengan mu! Aku pengecut."

Draco akhirnya meruntuhkan egonya dan meledakan semua emosinya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia merasa sangat kecil dan bukan seorang laki-laki. Ia merasa, apa yang ia dapatkan benar-benar tidak pantas untuknya. Potter dan Weasley juga benar, ia adalah pengecut terbesar! Si bodoh yang sok berlaga pintar. Draco menangis kembali. Ia menangis di pelukan Hermione.

"Sshh… kenapa kau berkata seperti itu Dray? Yang berlalu biarkanlah berlalu. Kita tinggalkan kenangan buruk itu dan jangan bawa lagi ke masa kini. Kau bukan pengecut, Dray. You're just make a wrong choice, love."

"Aku bahkan tak bisa melakukan apapun untukmu."

"Draco. Kau, seburuk apapun dirimu, semenyebalkan apapun dirimu aku benar-benar mencintaimu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya. Kau hanya menyembunyikan dirimu dibalik nama Malfoy mu."

Draco terdiam. Ia masih memeluk Hermione dan tubuhnya masih menindih tubuh mungil Hermione. Ia longgarkan pelukannya dan menatap lurus iris hazel Hermione dengan tatapan penuh perasaan.

"I love you angel."

"Love you too, Dragon."

Draco mencium kembali bibir mungil Hermione. Namun kali ini, ciumannya tidak seperti beberapa menit yang lalu. Ciuman kali ini penuh perasaan dan gairah. Mereka berdua terhanyut kedalam ciuman memabukannya sampai suara berat seorang laki-laki terdengar dan membuat tubuh keduanya seperti terkena 'petrificus totalus'.

"Son, apa yang sedang kau lakukan dengan Miss. Granger?"


To Be Continue

Bagaimana? Apakah memuaskan atau… mengecewakan? Aku tahu, aku sudah tidak update lama. Banyak sekali kejadian yang tak terduga dan tugas yang begitu menyita waktu dan emosi dalam diriku. Aku harap kalian semua memakluminya.

Maafkan aku jika chapter ini tak sesuai harapan. Apakah ada yang menunggu kelangsungan fic cliché dan abal punyaku ini?

Well, no more babble. Gimme your critics, comment and advice please!

Review folks!

Terima kasih banyak untuk semua yang telah me review, fave and follow fic ini. Semua review, fave dan follow kalian sangat berarti besar untukku.

I LOVE YOU GUYS

Gothicamylee,xo.


Pojok review:

Naran Malfoy : Iya, ini aku lanjut… thanks udah review ya ^^

Nadia Draco Diggory: Haha thanks darling :* well, I have no idea for an House-elf, so I those name just come across my head and I wrote it xD same, it reminds me of Dora the explorer. She's my lil' slave. #oh ignore that! :D mind to review again, darlin'?

Bubble: Thanks review nya, dear… chapter 12 just updated… mind to rnr?

Putims: terima kasih banyak, dear utk review-review nya.. semoga aku enggak mengecewakan :3 hehe, hmm… setuju enggak ya? Di sini belum kelihatan apakah mereka setuju atau tidak, hehe..

Adis Malfoy: heyy! Kenapa jadi goyang itik? Tidaaaakk! :'( hehe aku senang kalau chapter 11 itu fav kamu.. hehe what about this? Mind to RnR? Maaf ya kalau aku harkos kemarin, baru bisa upload hari ini.

Kaouro Mauri: Thanks for your review ^^ mind to RnR again?

Bagi yang mempunyai akun, saya balas reviewnya via PM.

Have a nice day guys! :*


FYI : Bagi kamu Author/Reader, ayo ikuti penominasian fic favorit mu! caranya, klik link ini : docs . /forms/ d / 1kNz5L2ZJYSjfCL1IRp3CfRcAQqP4u5PT58mcuulM2Go / viewform [hilangkan spasi]. Atau kalau masih bingung, bisa kunjungi Facebook, Twitter or website resmi penyelenggara awards ini, yakni IFA. sudah pada tahu kan tentang IFA?
So, untuk meng-appresiasi fic paling favoritmu nominasikan fic-nya :) sudah sampai Gelombang dua lho!