Bab 11.

"Luhan, aku tidak mau menggunakan uangnya." Baekhyun mendengar rengekan dalam suaranya sendiri, tapi Baekhyun tidak peduli. Toh, dia juga seorang gadis.

"Sweety, dia ingin melakukan kebaikan untukmu. Ini ulang tahunmu." Luhan hanya ingin gadis di hadapannya ini membuka matanya dan menemui kenyataan, sekarang detik-detik menuju ke ulang tahunnya, wajar saja semua lelaki pasti ingin menjadikan wanitanya istimewa di ulang tahunnya.

Mereka berkeliling di sepanjang Neiman Marcus (Pusat perbelanjaan di Amerika yang menjual barang-barang mewah) di pusat kota Seattle. Suasana tidak terlalu ramai menandakan saat ini adalah pertengahan minggu. Pramuniaga sangat perhatian dan sangat berharap untuk membuat komisi di pertengahan minggu.

"Aku merasa seperti seorang gold digger (wanita mata duitan)."

Luhan tertawa saat menarik blus biru dari rak, lalu langsung melewatkannya.

"Kau bukan gold digger. Ini, cobalah yang ini."

Dia memberi Baekhyun blus hitam dan lanjut mencari-cari lagi.

Baekhyun dan Luhan sudah pergi ke spa pagi ini. Mereka berdua melakukan facial, pijat, pedikur dan menikur, dan melakukan sedikit wax yang menyegarkan. Baekhyun harus mengakui, rasanya fantastis. "Spa sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup, menenangkan dan sempurna."

"Baek, berhentilah mempermasalahkan ini. Chanyeol sudah luar biasa berbaik hati dan ingin – kita memanjakan diri hari ini. Aku setuju kita tidak perlu gila-gilaan, tapi buatlah para lelaki merasa senang karena kita mendapatkan beberapa barang yang bagus dan juga berpenampilan yang menakjubkan. Kau mungkin perlu beberapa gaun formal jika dia ingin mengajakmu lagi seperti malam itu. Plus, mungkin saja kau perlu pergi ke perilisan film atau sesuatu, terkadang, dan kau harus bisa mengimbangi penampilannya."

Benar juga. Baekhyun tak pernah menyadarinya. Apakah Chanyeol menghadiri perilisan film yang sedang dia kerjakan sekarang?

Sial.

Dua jam, dan beberapa ribu dollar kemudian, mereka meninggalkan toko, dipenuhi dengan tas dan kotak. Baekhyun tak percaya Luhan membujuknya untuk melakukan ini semua.

Baekhyun senang bahwa dia juga membeli sedikit barang untuk dirinya sendiri. Chanyeol pasti akan menyetujuinya. Gadis itu membeli tiga gaun malam. Dan pakaian dalam yang layak untuk gaun-gaun itu, beberapa blus dan celana jins, dua pasang sepatu Manolo Blahniks! dan tas Gucci baru.

Baekhyun mungkin akan ketakutan dan mengembalikan semuanya besok.

Luhan juga membeli sepasang Louboutins baru dan tas tangan. Dia terlihat cantik saat mereka meninggalkan toko dan menuju ke mobil. Saat inilah ia terlihat paling gembira sejak janji temu dengan bosnya; tersenyum, riang dan santai.

Tiga jam di spa dan dua jam di Neiman's menghabiskan uang orang lain pasti akan membuat semua gadis merasa senang.

Mereka kembali ke rumah dan bersiap untuk pesta malam ini. Baekhyun sangat gembira untuk bertemu keluarga Luhan dan untuk bertemu keponakan barunya, si mungil Sophie.

Chanyeol akan datang dalam satu jam.

"Apakah kau akan memakai atasan merah baru yang cantik itu dengan celana jeans yang baru?" Luhan mengeluarkan tas tangan Louis Vuitton dari bungkus coklatnya dan memasukkan barang-barang ke dalamnya.

"Yeah, kurasa begitu. Tas tangan itu bagus sekali."

Selain sepatu, tas tangan adalah kelemahan Baekhyun, dia tak bisa menahan diri mengagumi tas Guccinya yang baru.

"Apakah aku sudah bilang kalau aku sangat menyukai lelakimu? Dia lebih dari sekedar calon adik ipar yang sangat baik hati." Luhan menyeringai.

"Dia jauh melampaui harapan, itu yang pasti."

"Dia benar-benar mencintaimu, Baekhyun. Aku bisa melihatnya tertulis di seluruh dirinya. Dia hanya ingin kau bahagia."

Hati Baekhyun melembut mendengar kata-kata Luhan. Dia benar. Dan jika memanjakan gadisnya sendiri merupakan suatu yang membuat Chanyeol senang, kenapa Baekhyun harus protes?

"Apakah kau sudah memberitahukan keluargamu tentangnya? Aku tak ingin mereka menjadi heboh hari ini."

"Yeah, sudah. Mereka punya waktu sendiri untuk heboh. Mereka akan tenang. Lagipula semua saudaraku adalah laki-laki. Mereka tak akan peduli bahwa dia seksi."

"Benar juga." Para gadis saling tersenyum dan naik ke atas lalu berdandan untuk acara malam ini.

®Come Away With Me 2017

"Halo, cantik." Chanyeol menarik Baekhyun ke lengannya dan mencium gadisnya dengan berisik.

"Halo, tampan." Baekhyun tersenyum pada Chanyeol dan mengantarkannya masuk ke rumah.

"Apakah kalian sudah siap?" Chanyeol terlihat rupawan memakai celana jins hitam dan kemeja putih berkancing rendah yang tidak dimasukkan. Baekhyun menyisirkan jarinya ke rambut Chanyeol yang lembut.

"Ya."

"Kau terlihat bahagia." Chanyeol mencium pipi Baekhyun dan memeluknya lagi. "Dan cantik memakai blus merah ini."

"Ini baru." Baekhyun merasa pipinya merona.

"Oh ya? Aku sangat menyukainya."

"Terima kasih, untuk semuanya." Baekhyun menciumnya, menangkup wajah Chanyeol yang tampan di tangannya.

"Apakah kau senang?"

"Kami memiliki waktu yang menyenangkan. Kau memanjakan kami hari ini. Terima kasih sudah mengajak Luhan."

"Aku menyukai Luhan."

"Oh?" Baekhyun mengangkat alisnya.

"Dia mencintaimu dan dia adalah sahabatmu."

'Sial, dia sangat manis.'

"Oh Tuhan, tolong jangan seperti ini sepanjang malam." Luhan berjalan ke serambi dan memutar bola matanya.

"Halo juga untukmu." Chanyeol tertawa dan mencium kening Baekhyun, kemudian melepaskan gadisnya dari lengannya.

"Terima kasih untuk hari ini, Chanyeol. Kami punya waktu yang menyenangkan, dan sekarang aku adalah pemilik yang bangga dengan tas cantik ini." Luhan tersenyum manis.

"Itu cocok untukmu, sama-sama. Mari kita pergi?"

Baekhyun mengambil tas kamera dan mengikuti Chanyeol menuju mobil. Chanyeol mengangkat alis dan memandang ke arah tas kamera yang dibawa Baekhyun. "Apakah kau berpikir aku akan datang ke makan malam keluarga dangan bayi yang baru lahir tanpa kamera? Aku adalah seorang gadis, Chanyeol. Dan tolong jangan hentikan aku."

Chanyeol menyeringai dan membuka pintu mobil untuk Baekhyun.

Chanyeol dan Baekhyun mengikuti Luhan yang mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah orang tuanya. Mereka tinggal di subdivisi baru di Seattle Utara dimana semua rumah terlihat sama; rerumputan yang rapi, beranda depan yang mungil dengan pot gantung dari bunga yang

berwarna-warni dan anak-anak yang bersepeda di sisi jalan. Rumah mereka berukuran rata-rata, dengan halaman belakang yang luas.

Tidak ada yang tahu, bahkan Georgery sendiri; bahwa Baekhyunlah donator anonym yang selama ini membayar hipotek untuk mereka sejak awal tahun ini.

"Ini lingkungan yang bagus." Chanyeol berkomentar dan Baekhyun tersenyum kepadanya.

"Itu. Rumah orang tuanya Luhan. Mereka tinggal sendiri jadi ukuran rumah itu pas untuk mereka. Aku senang hari ini cerah; kita semua bisa duduk di halaman belakang. Ayahnya merawat halaman dengan baik. Kau akan menyukainya."

Mereka keluar menuju ke rumah dan Ibu Luhan; Liyin, berlari keluar untuk menyambut anak-anak gadisnya.

"Oh, anak gadisku sudah pulang! Halo sayang." Wanita lembut itu memeluk Baekhyun dengan kedua lengannya dan Baekhyun merasakan air mata memercik di matanya. Wanita ini sangat istimewa bagi Baekhyun.

Liyin Mama menarik badannya ke belakang dan melihat Baekhyun, tangannya masih menggenggam bahunya.

"Kau terlihat cantik, sayang. Selamat ulang tahun."

"Terima kasih, Mama. Ini pacarku, Chanyeol."

"Mrs. Georgery." Chanyeol bukan hanya mengulurkan tangannya, tapi dia bahkan juga memeluknya dengan hangat.

"Senang sekali bertemu denganmu Chanyeol. Tolong panggil aku Liyin, atau Mama, terserah padamu setidaknya kau nyaman dengan sebutan apapun dan Anyeonghabnida."

Chanyeol tersenyum sedikit malu-malu mendengar Liyin Mama mengucapkan salam dengan Bahasa Korea, lalu membungkuk meraih tangannya.

"Terima kasih"

"Hai, Ma." Luhan memeluk ibunya sangat erat.

"Halo sayangku. Semua ada di sini. Kita di halaman belakang. Ayahmu sedang memanggang, dan aku berharap dia tidak membakar rumah ini."

Chanyeol menggandeng tangan Baekhyun dan mereka menjelajahi rumah yang terisi dengan perabotan indah, saat melewati bagian dapur yang artistik. Baekhyun tersenyum melihat Chanyeol yang menahan nafas.

"Aku sudah bilang kan," bisik Baekhyun padanya.

Halaman belakang menghadap ke greenbelt (tanah pedesaan yang mengelilingi kota), sehingga tidak ada tetangga di belakang rumah. Halaman itu tidak sampai satu acre (0,46 hektar).

Tanaman semak yang cantik menjadi pagar pribadi yang mengelilingi halaman. Terdapat jalan batu yang dibatasi oleh lampu solar menuju ke taman yang lain. Kemeriahan ditandai dengan berbagai warna bunga, merah dan kuning, ungu, pink. Beberapa taman terdapat tempat duduk kecil di sisinya sebagai tempat untuk duduk-duduk dan menikmati hari.

Terdapat pula pohon buah-buahan untuk peneduh. Alfred Georgery—Ayah Luhan, menghabiskan waktu yang tak terhingga di kebun ini, dan hasilnya jelas terlihat.

Pekarangannya juga luas dan tertata.

Terlihat ada pemanggang stainless steel agak jauh di bagian pojok kiri halaman, dengan asap yang mengepul. Di pekarangan itu terdapat dua buah meja bundar yang masing-masing dikelilingi oleh enam kursi, dan di sisi kanan adalah area duduk dengan dua buah loveseats (tempat duduk untuk berdua).

"Aku bisa menghabiskan sepanjang hari di sini," Chanyeol berbisik dan Baekhyun mengangguk menyetujui.

Baekhyun memandang ke meja dan menemukan dua orang yang familiar, tapi tak diduga sebelumnya dan Baekhyun berputar ke arah Chanyeol. "Orang tuamu ada disini!"

Chanyeol sedikit merona dan mengangkat bahu. "Luhan bertanya padaku apakah dia boleh mengundang mereka, dan kupikir itu akan menjadi ide yang bagus. Aku ingin orang tua kita saling mengenal, Baekhyun."

"Wow." Baekhyun tak bisa berkata apa-apa. Chanyeol tak pernah berhenti memberinya kejutan.

"Apakah tidak apa-apa?" Chanyeol bertanya dengan hati-hati. Dan Baekhyun membatin, 'Apakah tak apa-apa? Aku mencintainya dan dia masih bertanya apakah tidak apa-apa?! Orang tuanya menyenangkan, dan ya, aku ingin mereka mengenal keluargaku. Keluarganya Luhan adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki.' Dengan menggebu-gebu.

"Ini sangat bagus." Chanyeol tersenyum, lega, dan mencium tangan Baekhyun.

Baekhyun mengajak Chanyeol ke meja dan mulai memperkenalkannya pada keluarga besar Luhan, memeluk Ibu dan Ayah Chanyeol.

"Senang sekali bertemu denganmu, sayang."

Nyonya Park memeluk Baekhyun sangat erat dan Baekhyun membalasnya.

"Terima kasih sudah datang. Aku sangat gembira melihat kalian berdua."

Ayah Luhan beralih dari pemanggangnya dan berjalan ke arah Baekhyun. "Kemarilah, gadis yang berulang tahun!"

Alfred memeluk Baekhyun dengan sangat hangat, mengangkatnya lalu berputar dua kali.

"Kau terlalu kurus. Aku akan membuatmu lebih gemuk hari ini."

Baekhyun tertawa dan mencium pipinya yang lembut.

Dia pria yang pendek, tapi berotot padat seperti putranya, kepalanya botak, tapi dulu dia berambut hitam legam. Dia adalah salah satu pria yang paling baik yang pernah Baekhyun temui.

Alfred Georgery, adalah ayah tiri dari Luhan dan Yifan. Ibu Luhan, Liyin Mama telah berpisah dengan ayah kandungnya, semenjak Luhan berumur lima belas tahun. Lalu, Liyin Mama mengangkat Baekhyun sebagai anak setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Setelah Yifan mendapat pekerjaan tetap di Seattle, lalu Luhan dan Baekhyun siap untuk kuliah, Liyin Mama menikah lagi dengan seorang laki-laki Amerika yang membawa 2 anak laki-laki lebih muda dari Luhan.

"Aku sudah tak sabar. Aku lapar."

"Bagus. Apakah ini pacarmu?" Alfred melihat ke arah Chanyeol dan mengulurkan tangannya.

"Iya, ini Chanyeol."

"Bukankah kau seorang bintang film?" Oh, Tuhan. Ini akan membuat Chanyeol kesulitan. Seketika hening saat semua orang menghentikan percakapan untuk mendengarkan.

Wajah Baekhyun memerah dan akan memulai menginterupsi, tapi Chanyeol menahan lengan Baekhyun dan tersenyum padanya sebelum menjabat tangan Alfred dengan mantap.

"Bukan sir, saya bukan artis atau bintang. Terima kasih untuk mengundang saya dan keluarga saya hari ini."

"Apa aku perlu membuat perhitungan denganmu bila menyakitinya?" Alfred tetap menggenggam tangan Chanyeol, menyipitkan matanya pada Chanyeol, dan Baekhyun gugup hingga serasa ingin mati saja. Sekarang.

Sial.

Chanyeol tertawa. "Tidak Sir. Itu tidak akan terjadi, karena saya tidak akan menyakitinya. Bolehkah saya membantu Anda memanggang?"

"Kau tahu cara memanggang?" Alfred tersenyum dan menghembuskan nafas panjang.

"Saya tahu."

"Kenapa tidak bilang? Kita sedang memasak iga dan ayam." Alfred menepuk bahu Chanyeol dan mengajaknya ke pemanggangan.

Yifan, saudara laki-laki tertua di keluarga Luhan datang untuk memperkenalkan diri pada Chanyeol dan menawarkan bir dan mengobrol.

Istri Yifan, Tao, memeluk Baekhyun dengan erat.

"Selamat ulang tahun." Dia adalah wanita yang tinggi dengan rambut hitam legam dan mata hitam yang tajam namun atraktif.

"Terima kasih. Kau terlihat fantastik! Mana bayinya." Mata Baekhyun melihat ke sekeliling pekarangan sampai gadis itu benar-benar melihat Sophie meringkuk di lengan Luhan yang duduk di loveseats yang nyaman.

Tao dan Baekhyun bergabung dengan Luhan lalu Baekhyun mengulurkan kedua tangannya. "Bayinya."

Luhan tertawa. "Aku baru saja menggendongnya."

"Aku tak peduli. Aku tak pernah menggendongnya. Berikan dia padaku, Georgery."

"Kau juga Georgery, omong-omong!" Luhan memberikan Baekhyun si Sophie kecil dan Baekhyun serasa meleleh.

Shopia sangat mungil, kurang dari dua minggu. Rambutnya berwarna gelap, panjang dan lebat, dan Tao memakaikannya bando pink yang cantik. Bajunya berwarna pink dengan celana pink dan dia tak bersepatu.

Baekhyun membelai pipi dan mencium keningnya. Dia tertidur, tak terpengaruh dengan pesta yang berlangsung di sekitarnya.

"Oh, Tao, aku jatuh cinta padanya." Baekhyun tersenyum kepada ibu baru itu dan dia bangga.

"Dia bayi yang cantik."

"Dia sangat indah." Baekhyun melihatnya lagi dan memindahkannya sehingga Shopia bersandar di dada Baekhyun. Baekhyun membelai punggungnya dan mulai menimangnya dan bersenandung.

Tak ada yang seindah menggendong bayi yang baru lahir.

"Kau sangat manis." Baekhyun berbisik pada bayi Sophie.

Saat Baekhyun menaikkan pandangan matanya bertemu dengan tatapan Chanyeol yang intens.

Chanyeol memperhatikan Baekhyun dengan pandangannya tak bisa ditebak.

Apa yang dia pikirkan?

Baekhyun tersenyum pada Chanyeol dan salah satu sudut bibirnya melengkung ke atas dan matanya melembut.

Baekhyun menoleh ke kiri dan menemukan ibu Chanyeol, Nyonya Park juga memandanginya dengan penuh pertimbangan.

Sebuah senyuman pelan-pelan mengembang di wajah lembutnya dan dia mengedipkan mata pada Baekhyun.

Sophia mengeluarkan suara bergumam dan Baekhyun kembali melihat ke arahnya. Gadis yang sedang berulang tahun itu mengambil dot dan meminumkan ke mulutnya dan dia menyedot kencang. Bakehyun membelai rambut lembutnya dengan ujung jarinya.

"Baekhyun!"

"Ha?" Baekhyun terperanjat. Tangannya masih mengelus tubuh kecil Shopia.

Luhan tertawa. "Aku bertanya apakah kau membawa kamera."

"Tentu. Aku bawa yang model terbaru. Mungkin kita bisa foto keluarga setelah makan malam?"

"Tentu saja. Sekarang kembalikan bayinya padaku."

"Tidak mau."

"Kau sangat egois." Luhan cemberut pada Baekhyun dan Tao tertawa.

"Ya. Dan sekarang Sophie dan aku mau jalan-jalan." Baekhyun berdiri menggendongnya dan berjalan menelusuri salah satu jalan setapak menuju ke taman yang teduh.

"Bunganya cantik kan, Sophie?" Baekhyun bernyanyi untuk bayi yang tertidur itu dan mengayun-ayunkannya ke depan dan ke belakang.

"Kau pandai mengasuh bayi." Chanyeol datang dan bergabung bersama dan Baekhyun tersenyum malas padanya.

"Aku menyukai bayi. Aku tak pernah punya saudara, jadi aku dekat dengan Luhan dan keluarganya." Baekhyun mengangkat bahu dan mencium kepala Sophie.

Chanyeol membelai pipi Sophia dengan punggung jarinya dan hati Baekhyun berdebar. Jarinya terlihat begitu besar di pipi Sophie yang mungil.

"Dia manis." Bisik Chanyeol, "Kau juga manis." Chanyeol menyelipkan helaian rambut Baekhyun ke belakang telinga dan membelainya hingga ke dagu dengan ibu jarinya sebelum menyelipkan tangan kembali ke sakunya.

Baekhyun memandangi bayi yang tertidur ini dan untuk pertama kalinya aku membayangkan bahwa suatu saat dia akan memiliki bayi juga. Suami dan bayi, saat membayangkan ini di kepalanya, matanya kembali menatap ke arah Chanyeol apakah pria ini yang akan ada di sisinya.

Baekhyun terlalu senang. Hentikan ini. Singkirkan pemikiran tentang bayi ini.

"Hey! Makan malam sudah siap dan aku menginginkan bayinya kembali!" Luhan berdiri di pinggir pekarangan berteriak kepada Baekhyun dan Chanyeol.

"Aku harus bergulat dengannya nanti untuk mendapatkan bayi ini kembali."

Chanyeol tertawa dan membawa Bakehyun kembali ke pekarangan untuk makan malam.

®Come Away With Me

[Baekhyun pov]

Ini adalah ulang tahun terbaik dalam hidupku. Keluarga Georgery menyambut keluarga Chanyeol di dalam keluarga mereka dengan baik, melibatkan mereka dengan obrolan yang menyenangkan dan sangat menikmati pertemanan mereka. Orang tua Chanyeol terlihat rileks dan bahagia, tertawa bersama Alfred dan Liyin, berbagi cerita tentang masa kecil anak mereka.

Para saudara lelaki Luhan; Yifan, William, dan Matthew menggoda Chanyeol tanpa ampun tentang menjadi aktor terkenal, menanyakan tentang artis cantik, membicarakan banyak hal tentang sepak bola karena Will sekarang ini bermain untuk Seahawks klub sepak bola lokal, dan begitulah para laki-laki.

Chanyeol tertawa lebih banyak dari yang pernah aku lihat, dan aku merasa lebih jatuh cinta lagi padanya saat melihatnya bersama keluargaku. Dia sangat perhatian padaku, menuangkan minumanku, menggandeng tanganku dan selalu di dekatku sepanjang malam.

Aku kira aku akan merasa lebih tertekan oleh hal lain, tapi dia membuatku merasa dicintai.

Karena dia mencintaiku.

Bayi Sophia sudah berpindah-pindah tangan sepanjang malam ini, dan sekarang dia berbaring dengan tenang di gendongan Nyonya Park. Dan Nyonya Park mengaguminya.

"Memiliki cucu adalah yang terbaik kan?" Liyin tersenyum lembut pada cucunya.

"Kami belum punya cucu, tapi aku sudah tidak sabar memilikinya." Nyonya Park menyeringai pada Liyin dan beralih pada Chanyeol dan dia menggeliat di kursinya.

Aku tak bisa menahan diri untuk tertawa melihat Chanyeol.

"Apakah kau menertawakanku, baby?" Chanyeol menyipitkan matanya padaku tapi aku melihat humor pada pandangannya.

"Iya, itu lucu."

"Ok, waktunya makan kue!" Luhan keluar dari rumah membawa kue coklat cantik dengan dua puluh enam lilin menyala di atasnya.

"Kau akan membakar rumah ini dengan itu, Luhan."

Dia menyeringai dan meletakkannya di depanku.

"Make a wish," Chanyeol berbisik di telingaku.

Aku meniup semua lilin itu dalam satu tiupan.

Liyinmemotong kue dan membagikannya. Baunya sangat wangi. Liyinmembuat kue yang paling lezat.

"Terima kasih sudah membuatkan kue favoritku, Liyin Mama." Aku mencondong untuk mencium pipi Liyin.

"Sama-sama, sayang. Aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu, juga."

"Ok, sekarang kado!" Luhan berdiri dan aku mengernyit.

"Tidak usah memberi kado. Berapa kali aku harus bilang pada kalian, tidak usah memberi kado!"

Semua orang menertawaiku.

"Kami tidak mendengarmu." Yifan menyeringai padaku dan aku membelalakkan mataku padanya.

"Aku tidak suka padamu."

"Kau menyayangiku."

"Kalian sudah melakukan banyak hal untukku." Aku memandang ke arah Chanyeol dengan cemas. "Itu membuatku malu saat kau membelikanku barang-barang."

"Ini bukan ulang tahunmu kecuali kau mendapat hadiah." Luhan menaruh kotak kado berwarna merah yang cantik di depanku. "Buka punyaku terlebih dahulu."

Dia berharap sambil duduk di kursinya dengan antusias dan moodku jadi naik.

Dia membelikan parfum favoritku dan gelang perak yang cantik.

"Oh, terima kasih! Aku menyukainya!"

"Bolehkah aku meminjamnya?" kita semua tertawa dan kami kembali rileks, menikmati keluargaku.

Seperti biasa, mereka sedikit berlebihan. Para lelaki bersaudara itu memberikan voucher belanja sebagai hadiah.

"Belanja lagi!" Luhan dan aku berseru bersamaan dan kami semua cekikikan.

Chanyeol tertawa di sebelahku dan mencium pelipisku dan aku tersenyum malu padanya.

Nyonya Park dan Tuang Park berbaik hati memberiku kartu hadiah untuk digunakan di toko Microsoft di Bellevue. Wow.

"Terima kasih banyak."

"Dengan senang hati, sayang." Nyonya Park tersenyum dan mencium kepala Sophie yang mungil.

"Kami selanjutnya." Liyin memberiku kotak kado dengan kertas berwarna ungu.

"Pesta ini sudah lebih dari cukup!"

"Kau tidak bisa menolak kami," Alfred menggoyangkan jarinya dan mencoba untuk terlihat keras, tapi aku tidak takut dan aku terkekeh.

"Aku akan membuatmu berlutut."

"Siap, Pak." Aku membuka tas itu dan menemukan sepasang anting yang kukenali dan aku menahan nafas, memandang ke arah mereka.

Mereka berdua tersenyum lembut padaku.

"Ini adalah milikmu." Aku melihat sepasang anting berlian yang berbentuk tetesan air dan membelainya dengan jemariku. Anting itu sudah dibersihkan dan berkilau di keremangan malam.

"Kami ingin kau memilikinya," Liyin meneteskan air mata dan aku juga juga mulai menangis.

"Ini milik Ibumu, seharusnya ini untuk Luhan." Suaraku berat karena air mata. Ini bukan hak ku—

"Aku punya banyak perhiasan. Ini memang untukmu. Nainai—nenek—sangat mencintaimu."

Luhan membelai rambutku dan aku tahu jika aku bergerak aku akan menangis.

Aku begitu dibanjiri kasih sayang oleh keluarga ini.

Aku menggelengkan kepala, dan berlari meninggalkan kursi mengitari meja untuk memeluk Liyin dan Alfred erat. Liyin menyeka matanya dan Alfred menangkup wajahku di tangannya dan menyeringai padaku.

"Kami mencintaimu, baby girl."

"Aku mencintaimu juga. Terima kasih."

Aku kembali duduk dan melihat ke arah wajah Chanyeol yang tampan. Dia tersenyum dan mencium jariku.

"Yang terakhir." Chanyeol memberiku amplop manila kepadaku.

"Tidak, sayang, kau sudah memberiku terlalu banyak." Aku menggelengkan kepala dan membelakangi meja untuk menghadap kepadanya.

"Bukalah," katanya, jengkel dan mendorong amplop itu kembali padaku.

"Buka sajalah!" Will berteriak dari seberang meja dan aku membelalakkan mataku padanya.

"Aku tidak sabar dengan semua ketegangan ini!"

Kami semua tertawa dan aku membuka amplop itu.

Aku menarik dua buah passport dan sebuah rencana perjalanan. Aku membaca rencana perjalanan itu dan merasakan wajahku memucat dan mulutku ternganga. "Kita akan ke Tahiti?!"

Semua orang di meja heboh dengan wow dan siulan dan teriakan kesenangan. Para lelaki bersaudara bertepuk tangan, memberikan Chanyeol penghormatan dan dia tertawa.

"Ya, besok, untuk seminggu."

"Tapi, kita harus bekerja."

"Proyekku yang sekarang baru saja selesai, dan aku berharap kau akan menjadwal ulang janji temu mu." Dia memandangku dengan cinta yang memancar dari matanya yang biru.

"Wow. Tahiti?"

Dia tertawa dan menciumku, langsung di bibir, di depan seluruh keluargaku.

"Get a room please!" Matthew berteriak.

Aku berdehem dan melihat ke arah semuanya di pekarangan. "Aku hanya ingin bilang," sudut mataku mulai meneteskan air mata. "Semua orang yang paling aku cintai di dunia ini ada di sini, dan aku tak bisa mengungkapkan betapa aku berterimakasih karena memiliki kalian. Mungkin aku pernah kehilangan segalanya, tapi Tuhan dengan sangat baik hati memberikan aku lebih dari yang aku bayangkan. Terima kasih atas semua yang telah kalian lakukan untukku, tidak hanya untuk kado-kado yang ini. Aku merasa terberkati. Bahkan para lelaki juga memiliki momen yang indah." Aku tersenyum pada mereka dan mereka memberikan salut padaku dengan minuman dan kedipan mata mereka.

Aku mengambil nafas dalam. "Terima kasih telah menjadikanku bagian dari keluarga kalian. Aku sangat mencintai kalian."

Aku memandang Chanyeol dan tiap-tiap wajah yang sangat kusayangi. "Sekarang, berikan bayi itu padaku."

®Come Away With Me

[Normal pov]

"Aku sangat menikmatinya." Chanyeol mengaitkan jarinya ke jari Baekhyun dan mencium buku-buku jarinya saat menyetir kembali ke Alki Beach.

"Mereka menikmati saat bersamamu juga. Terima kasih sudah datang, dan mengundang orang tuamu. Aku sangat senang." Baekhyun tak bisa menyembunyikan senyuman lebarnya.

"Aku lega. Apakah kau senang dengan perjalanan kita?" Chanyeol menyeringai lebar.

"Aku harus melakukan banyak hal malam ini untuk bersiap-siap. Mungkin aku harus menginap di rumah malam ini jadi aku bisa berkemas dan menelepon dan lain-lain."

Chanyeol mengernyit. "Tidak akan butuh waktu lama untuk berkemas. Aku bisa mengantarkanmu pulang untuk berkemas, dan kembali lagi ke tempatmu." Chanyeol menelan ludah dan memandang Baekhyun sekilas.

"Apa ada yang salah?" Kenapa dia tiba-tiba terlihat cemas?

"Aku tidak ingin menanggung resiko."

"Menanggung resiko?"

"Yeah, jika kau memutuskan untuk tidak jadi pergi."

Darimana ketakutan itu datang? "Aku memang ingin pergi."

"Bagus." Chanyeol tersenyum pada Baekhyun.

Ternyata Baekhyun tidak memerlukan terlalu banyak waktu untuk berkemas. Seminggu penuh di Tahiti memerlukan beberapa bikini, jubah mandi, baju tanpa kancing dan sandal jepit. Baekhyun juga menambahkan satu baju gaun bertali berjaga-jaga untuk acara makan malam dan sepasang hak tinggi dan juga beberapa celana pendek dan tank top.

Baekhyun akan mengumpulkan peralatan mandinya di pagi hari sebelum penerbangan jam sembilan pagi.

Baekhyun duduk di meja dapur dan memulai menelepon klien di minggu depan untuk mengatur ulang jadwal saat Baekhyun mendengar Chanyeol masuk melalui pintu depan.

"Baby?"

"Di dapur!"

"Hey," Chanyeol membungkuk dan mencium Baekhyun dengan manis, dan dia mendesah.

"Hai. Aku sedang menelepon. Anggap saja rumah sendiri ya."

"Ok." Chanyeol berjalan-jalan di dapur dan mengambil sebotol air dari kulkas.

Setengah jam kemudian semua telepon Baekhyun sudah selesai, janji temu sudah dijadwal ulang, dan mereka resmi berlibur.

Baekhyun memiliki senyum super lebar terpampang di wajahnya saat aku menyusup ke pangkuan Chanyeol yang sedang duduk di sofa membaca naskah.

"Well halo, gadis yang berbahagia." Dia menyusup ke leher Baekhyun.

"Hai, pacarku yang obsesif dan murah hati." Chanyeol tertawa dan memeluk Baekhyun dengan lembut.

"Aku menantikan berbaring di pantai pasir bersamamu, baby."

"Hmm... Aku juga. Dan menyelam!"

"Kau bisa menyelam?" Chanyeol terus menyusup ke leher Baekhyun dan menggigit telinganya membuat gadis itiu menggeliat.

"Ya, aku bisa. Tapi itu sudah lama."

Chanyeol mengendus leher belakang Baekhyun, "Baumu harum. Apalagi yang ingin kau lakukan?"

"Well, untuk satu hari penuh…" Gadis itu mulai membelaikan jemarinya ke rambut Chanyeol dan condong ke belakang supaya bisa melihat ketampanannya.

"Ya?"

"Aku ingin telanjang di tempat tidur denganmu."

"Itu akan menjadi hari favoritku di sepanjang liburan." Chanyeol membelai punggung gadis dalam pelukannya dan Baekhyun mulai menyeringai.

"Aku juga. Apakah kita akan tinggal di pondok di pinggir laut?"

"Ya."

"Keren. Kita bisa berenang telanjang."

Chanyeol tertawa renyah. "Kau bukan eksibisionis kan?"

"Tidak, kita akan melakukannya di malam hari." Baekhyun menyandarkan kepalanya di bahu lebar Chanyeol dan mendesah dalam, agak lelah, tapi sangat rileks. "Bolehkah aku membawa kamera?"

"Sudah kuperkirakan kau akan membawanya."

"Aku tak akan membawanya jika itu membuatmu tak nyaman." Baekhyun berusaha untuk berhati-hati tidak memotret Chanyeol semalam setelah makan malam saat dia memotret si mungil Sophie dan keluarga yang lain.

"Aku percaya penuh padamu. Kau boleh memotretku."

Baekhyun duduk tegak di atas pangkuan Chanyeol, ternganga dan mata sipitnya melebar. "Boleh?"

"Well, kita ingin punya foto liburan kita kan? Baekhyun, setelah semua yang kita lakukan, bagaimana aku tidak percaya padamu untuk mengambil fotoku? Kita harus punya memori bersama."

Baekhyun merasakan senyumnya mengembang dan dia merasa sangat… bahagia. "Aku sangat ingin memotretmu, dan sebelum kau ketakutan padaku…"

"Aku tidak akan ketakutan padamu," Chanyeol tertawa.

"Aku ingin mengambil fotomu karena itulah pekerjaanku, dan kau sangat indah, Chanyeol. Ada banyak momen yang kuharap bisa kuabadikan. Aku tak akan pernah membagi fotomu dengan orang lain kecuali atas seijinmu, tapi aku ingin fotomu. Aku ingin foto kita berdua."

"Aku juga ingin foto kita berdua juga." Baekhyun memeluk Chanyeol erat lalu bersandar di bahunya lagi.

"Apakah kau mengantuk?" bisik Chanyeol sambil menggerak-gerakkan jarinya di rambut Baekhyun.

"Sedikit." Baekhyun menengadah untuk menatap mata hitamnya yang indah. "Terima kasih."

"Baby, aku sudah bilang padamu, aku senang memanjakanmu."

"Tidak, bukan itu." Baekhyun menggelengkan kapala dan menunduk. "Walaupun ya, terima kasih juga untuk itu. Aku hanya…"

"Apa?" Chanyeol mengangkat dagu Baekhyun sehingga dia bisa memandangnya lagi.

"Aku mencintaimu."

Mata Chanyeol membara dan dia menarik nafas dalam sambil berbisik. "Aku juga sangat mencintaimu, baby."

"Ayo kita tidur."

"Dengan senang hati." Chanyeol mengangkat Baekhyun dengan mudahnya dan membawanya ke lantai atas.

Liburan panjang nan romantis menunggu kami esok hari.

::: :::

Hai? Kangen gak?

Hehehe.. semoga kangennya terobati ya..

mungkin.. tinggal 3 chapter terkahir besok..