Disclaimer : Semua charakter disini milik Tuhan YME, author cuma pinjem nama

Rate : T

Genre : Romance, hurt, family

Warning : BL, YAOI, Typos, cerita pasaran, OOC (mungkin ), mohon dengan sangat sebelum membaca dibaca dulu bagian warning ini, tidak menerima bash kecuali kritik membangun, so please

DON'T LIKE DON'T READ

Note : Fanfiction ini murni hasil karya saya selaku author, saya tidak rela dan tidak ikhlas jika hasil karya saya ini di plagiatkan oleh orang - orang yang tak bertanggung jawab, dalam bentuk apapun!

.

.

Pairing

Yunjae

Yoosu

SiChul

New Pairing ( khusus chap ini :P )

MinRA

Other Cast

Baby Changmin

Go Ahra

.

.

Anneyong Saengideul & Chingudeul,

Mianhe tidak sempat update cepat, karena nae aegya baru keluar dari rumah sakit, terimakasih atas doanya semua, dan big bogtahnks bagi yang sudah memberi review di chap sebelumnya, baik yang memberikan pendapatnya, pandangan, saran, maupun perbaikan dari kecerobohan saya, itu semua sangat berharga sekali agar saya dapat lebih baik lagi dalam menulis.

Gak banyak curcol, langsung baca aja ne? don't forget to always give me your reviews, semua review selalu saya baca. Mian kalau chap ini mengecewakan, untuk chap ini, kita tinggalkan sejenak keadaan Purple Line club, otte? karena sesuai janji saya dichap ini YunJae moments, namun ada slight MinRa moments juga, no problem kan?

Happy Reading

Dozo...

.

.

.

CHAPTER 11

.

.

End Of Previous Chap

.

" Arraso, Ahra telah menyanggupi syaratku, dan syaratku ini tak ada batas waktunya. Ahra ah, tugasmu dimulai dari hari ini eoh? aku akan berbelanja seharian, tidak masuk kantor, jadi kau uruslah Changmin yang benar ne? buatkan buburnya, kasih makan yang benar."

" Bagaimana dengan Jaejoong Yun? dia tetap membantu Ahra eoh?" ujar nyonya Jung cemas.

" Aniya umma, Jaejoong akan menemaniku seharian ini, mulai saat ini ia kuangkat menjadi asistenku, karena calon istri idamanku yang mengambil alih seluruh tugasnya mengurus Changmin, kecuali saat Changmin akan tidur, tidak ada yang bisa menggantikan Jaejoong, Jaejoong hanya bertugas menemani Changmin tidur dimalam hari." Tegas Yunho. Membuat Ahra seketika melemas, dan Jihye yang setengah mati menahan tawanya.

" Jongie ah, bersiaplah, temani aku ne?" *winks

" T-Tapi Yun, Minnie..." Jaejoong sangat tidak rela menyerahkan Changmin kepada wanita tersebut.

" Jangan khawatir boo, Jihye kutugaskan untuk mengawasinya, kajja.."

" BOO?" heran nyonya Jung dan Ahra bersamaan.

.

.

.

FOREVER LOVE

.

.

.

.

" Panggilan apa itu Yun? kau memanggil Jaejoong begitu berbeda dengan nama aslinya, umma baru menyadari, sedari tadi kau memanggilnya dengan sebutan itu, tapi baru ini umma menyadarinya."

" Eh, i-itu.." Yunho tampak bingung menjelaskan perihal nama panggilan kesayangannya itu. Ia kini hanya dapat dapat menggaruk - garuk kepalanya yang tidak gatal itu.

" Umma kenapa sih usil sekali, terserah oppa donk mau memanggil Jongie apa, wajar saja mereka akrab, karena Changmin juga sudah menganggap Jongie ummanya yang asli." melihat Yunho yang salah tingkah Jihye mengambil inisiatif untuk menyela pembicaraan mereka, dan itu membuat Yunho bernafas lega. Sedang Jung Umma tampaknya tidak suka dengan pembelaan Jihye.

" Yah kau ini! dari tadi kau selalu ikut campur pembicaraan kami! tahu apa kau dengan oppa mu ini?" bentak nyonya Jung kepada Jihye.

" Yang jelas aku lebih tahu perasaannya dibanding umma yang hanya dapat memaksakan kehendak saja, tanpa memikirkan kebahagiaan oppa, huh! aku mau istirahat!" Jihye beranjak dari tempat tersebut dengan bersungut - sungut sembari memberi tatapan membunuh kepada wanita yang yang tampak bego mendengar perbincangan calon keluarganya itu.

" Sudah..tidak usah diperpanjang lagi, baiklah, Jongie apa kau sudah siap? kita perlu berbelanja bulanan, persediaan sudah hampir habis."

" Yunnie, apa tidak sebaiknya Ahra saja yang menemanimu belanja? dengan begitu kalian bisa mengakrabkan diri, bukan begitu Ahra ah? Nyonya Jung tampak tidak suka Yunho pergi bersama Jaejoong, dan menasehati Yunho untuk mengajak Ahra saja. Sedang Ahra, ia kini tengah memasang puppy eyesnya yang gagal, berharap Yunho mau mengajaknya.

" Aniya Umma, bila ia benar - benar ingin menjadi istriku, harus bisa merawat anakku dulu, kalau aku, tergantung Minnie, kalau ia bisa menyukai Ahra, aku akan menerimanya menjadi istriku tanpa ragu lagi."

" Terserahlah apa maumu..." tampak nyonya Jung pasrah dengan keputusan anaknya yang dirasanya ada benarnya juga.

" Boo, apa Cahngmin sudah selesai makannya? kajja nanti kita kesiangan, ehm..dan kau Ahra, ambillah Changmin sekarang, uruslah dia, anggaplah seperti anakmu sendiri ne?"

" Eh? n-ne Yun..aku akan mengambilnya." Ahra beranjak dari duduknya dengan sangat terpaksa, dan menuju tempat Jaejoong bersama Changmin, kemudian berjongkok untuk mencoba mengambil perhatian bayi 18 bulan itu.

" Minnie, ayo ikut Ahra umma, kajja..." dengan pe-denya Ahra langsung mengklaim dirinya dengan sebutan 'umma' untuk calon anak tirinya tersebut. Jaejoong sempat terbengong - bengong saat mendengar sebutan itu.

" Minnie ya, umma pergi dulu eoh? Minnie sama Ahra juma ne?" kali ini Jaejoong membujuk Minnie yang tampak bengong saat didekati Ahra tadi. Sedangkan Ahra tampak sibuk mendeath glare Jaejoong yang merubah panggilannya. Sedang Minnie tampak hanya mengerjap - ngerjapkan mata beningnya, saat Ahra terus membujuknya untuk mengambilnya dari pangkuan Jaejoong.

" Ne, kajja Minnie..." Ahra semakin mendekatkan dirinya dan mengulurkan tangannya kearah bocah lucu yang mulutnya tengah menggembung karena dipenuhi ayam goreng yang digenggamanya. Melihat Ahra yang dengan pedenya mengulurkan tangan, bahkan hendak menggendongnya langsung, terlihat dari kedua tangannya yang telah berada disela ketiak Changmin bermaksud akan segera mengangkat Changmin segera. Ternyata...

" heee...neee.."

" Mwo?"

Betapa kagetnya mereka yang menyaksikan saat Changmin yang dengan pasrahnya menyerahkan dirinya tanpa perlawanan berarti untuk berpindah kegendongan Ahra sekarang. Jaejoong yang melihat hal tersebut, kontan membesarkan bola matanya tak percaya, selama ini bila Changmin sedang berada digendongannya, bahkan appanya sendiripun akan susah membujuknya untuk berpindah kegendongan Yunho, tapi ini, dengan wanita yang baru saja dikenalnya, bahkan Changmin dengan senyum lebarnya dengan senang hati berada dalam gendongan Ahra. Menyadari itu, mau tak mau Jaejoong mengerucutkan bibir cherrynya kesal. Ia merasa cemburu. Entah mengapa Jaejoong rasanya tak ingin melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu.

" Boo, kajja...hari semakin siang." suara bass Yunho mau tak mau membuat Jaejoong segera beranjak dari tempat itu, namun sebelum benar - benar keluar rumah, ia menyempatkan untuk mendekati Changmin untuk berpamitan, rasanya sangat berat meninggalkannya walaupun hanya dalam beberapa jam saja.

" Minnie, umma pergi sebentar ne? Minnie tak boleh nakal ne? bye Minnie.." Jaejoong mencium kedua pipi gembul anaknya yang bengong digendongan Ahra.

Wajah heran Minnie tampaknya lambat laun mulai menangkap bahwa ummanya akan meninggalkannya, karena ia sudah mengerti dengan kata 'bye' yang berarti akan pergi.

" Hueee!mmaa...anii...aniiiiii...mmaaaa..." akhirnya pecah juga tangis nyaring baby Changmin saat melihat umma dan appanya yang mulai beranjak menuju kepintu keluar. Changmin meronta - ronta didalam gendongan Ahra yang tampak kewalahan menahan badan Changmin agar tidak terjatuh, sedangkan Changmin, balita itu terus meronta - ronta memanggil - manggil ummanya dan menyebutkan kata 'ani', seiring bertambah umurnya, kini Changmin sudah semakin bertambah perbendaharaan katanya. Saat ini selain kata ma, pa, mam, ia juga sudah bisa menyebut 'ani' apabila ia ingin menolak sesuatu, atau kata 'ne' bila menunjuk sesuatu, atau sebagai tanda setuju sambil menganggukkan kepalanya.

" Ahra ah, cepat kau bawa Minnie kekamarnya, beri susu saja, pagi begini biasanya ia akan tertidur bila diberi susu. " Yunho menyuruh Ahra cepat - cepat membawa Minnie masuk kekamarnya, sebab ia khawatir Jaejoong akan membatalkan kepergiannya. Sedikit diliriknya wajah cantik disebelahnya tampak sangat berat meninggalkan Minnie yang menangis hiwsteris ingin ikut, Jaejoong tampak menggigit bibirnya menahan kesedihannya.

" Yun...apa kita bawa saja Minnie? kurasa ia tidak akan mere..."

" Ahh sudah...kajja boo, Umma..kami pergi ne? kami mungkin akan sedikit lama, kemungkinan akan tiba malam hari, suruh Jihye awasi Ahra mengurus Changmin."

Dengan langkah tergesa Yunho sedikit menyeret lengan Jaejoong yang masih saja berdiri terpaku karena omongannya tidak ditanggapi Yunho, setelah berpamitan dengan Jung umma, kemudian Yunho bergegas menarik jaejoong keluar menuju lift untuk menumpang ke Basement tempat parkiran mobil Yunho.

.

.

" Boo, kalau tidak begini, kapan kita akan bisa keluar berduaan saja seperti ini, hmm? jangan cemberut begitu, nanti aku bisa gelap mata melihat bibirmu yang maju itu."

Yunho mencoba menggoda pemilik bibir cherry yang tengah mengerucut sedari mereka masuk mobil di parkiran apartemen tadi, sudah sekitar sepuluh menit Jaejoong terus cemberut tak mengeluarkan suara sedikitpun. Tampaknya Jaejoong merajuk karena Yunho tega meninggalkan Changmin dengan wanita sadis itu.

" Boo..." suara Yunho kembali memanggil Jaejoong, sementara dirinya tetap fokus menyetir.

'...' tak ada sahutan.

" Boo.."

'...'

Cup! cup!

" Yah! tidak sopan!"

" Salah sendiri, kenapa mendiamkanku, kan sudah kubilang aku bisa gelap mata melihat bibir poutmu itu."

Jeritan kaget Jaejoong saat tiba - tiba Yunho yang tanpa aba - aba mengecup bibir Jaejoong yang lagi manyun karena cemberut. tidak tanggung - tanggung, Yunho memberi kecupan basah itu sebanyak dua kali bertubi - tubi, mengakibatkan bahunya habis dipukuli Jaejoong yang menahan malu. Wajah putih itu kini memerah dengan sendirinya.

" Boo, wajahmu merah, cantik sekali." goda Yunho.

" Enak saja, aku ini tampan!" protes Jaejoong keras tak terima dikatakan cantik.

" Ne, tampan sekali, seperti princess, hehehe.."

" Ahh Yun, berhenti menggodaku, menyesal aku ikut denganmu, huh!" kesal Jaejoong karena Yunho terus mengggodanya.

Hening sejenak...

Tak berapa lama...

" Boo, ini ambillah..." Yunho menyodorkan sesuatu ke Jaejoong.

" Apa ini Yun?"

" Itu kartu ATM, didalamnya sudah kuisi dengan uangmu selama kau menjaga Minnie."

" A-Apa m-maksudmu Yun? aku dipecat?" sepertinya Jaejoong memikirkan yang tidak - tidak, matanya sudah berkaca - kaca saat ini.

" Eh, b-bukan itu maksudku boo, kau salah paham..." Yunho tersenyum melihat Jaejoong yang tampak sudah akan menangis mengira ia akan memecatnya.

" Hhhh...sensitif sekali sih.." desah Yunho pelan.

" Yunh, aku sebenarnya tak mengharapkan lagi gaji darimu, karena kau sudah melengkapi semua kebutuhanku. Itu saja aku sudah cukup. Minnie sudah kuanggap anakku sendiri, jadi aku tak ingin kau beranggapan aku mengurus Changmin karena aku mengharapkan gaji darimu."

" Ne, aku mengerti boo, tapi ini kuberikan kepadamu bukan bertujuan untuk menggajimu."

" Jadi untuk apa?" heran Jaejoong.

" Aku memberikannya untuk orang yang kucinta, supaya ia bisa berbelanja apa saja yang ia mau. Itu saja. sekarang ambillah ini, sebelum aku berubah pikiran.'

" Mmm...arraso, gomawo Yunnie." Jaejoong menundukkan kepalanya setelah menerima kartu ATM tersebut dari tangan Yunho. Ia sangat malu.

" Jongie ah...nomor PIN nya tanggal Minnie ulang tahun, arra? sebab tanggal tersebut tanggal yang bersejarah untuk kita berdua.

" N-Ne Yun, gomawo..." masih menundukkan matanya, Jaejoong kembali merasakan wajahnya yang menghangat, saat mengingat pertama kali Yunho melamarnya, saat mereka bermain di Lotte World tepat diulang tahun Minnie yang pertama.

Masih teringat jelas diingatan Jaejoong, saat ulang tahun Minnie yang menjadi moment yang tak akan dilupakan olehnya sampai kapanpun.

Saat itu mereka bertiga tengah duduk didalam bianglala raksasa yang mulai mengarah keatas. Otomatis pemandangan kota Seoul terlihat jelas. Jaejoong tengah menikmati pemandangan yang menghampar dibawahnya ketika tangan gempal Changmin yang berada dipangkuannya menepuk - nepuk dadanya. Seketika perhatian Jaejoong beralih kesosok mungil yang hari itu genap berusia satu tahun.

" Waeyo Minnie ah?"

" Maa...ne..ne..." sepertinya Minnie berusaha menunjukkan apa yang sedang didalam genggamannya kepada Jaejoong, tangan mungilnya mengacung - acungkan benda seperti kotak kecil berwarna hitam kepada Jaejoong.

" Eh? apa yang ada digenggamanmu, baby?" Jaejoong meraih tangan mungil itu dan mengambil kotak kecil yang ia belum tahu kotak apa sebenarnya itu.

" Kotak apa ini?" sedikit merasa penasaran, dibolak baliknya kotak tersebut yang memang dari bentuknya bukan seperti kotak perhiasan. Sementara namja yang berada disebelahnya pura - pura tidak tahu dan mengalihkan pandangannya melihat pemandangan indah dibawah sana. Namun siapa sangka, dalam hati namja tampan itu sangatlah gugup, jantungnya berdebar kencang saat melihat gelagat Jaejoong yang tengah bersiap membuka kotak tersebut. Lidahnya terasa kelu seketika, kata - kata lamaran yang sudah dipersiapkan matang - matang dari rumahnya menguap begitu saja. Dan...

" Mwo? apa ini Minnie? kau mendapatkannya darimana? wahh, indahnya..." Jaejoong terkesima saat melihat apa yang tengah berada ditangannya sekarang, benda kecil yang berkilau indah. Diamatinya dengan seksama pada permukaan benda yang ternyata cincin itu, tersusun barisan permata yang menyusun huruf 'YJ', melihat itu, buru - buru ia mengalihkan pandangannya kearah namja yang berada disebelahnya yang kini tengah salah tingkah.

" Yun? kau bisa menjelaskannya? apa ini?" Jaejoong kini menyadari, bahwa Yunho ada hubungannya dengan penemuan cincin tersebut.

" Umm, boo..begini, aduh...bagaimana menjelaskannya ya.." Yunho tampak gelagapan dan raut kecemasan sangat tampak diwajah tampannya itu.

Melihat hal tersebut, Jaejoong memutar bola matanya, " Yun, katakanlah...kau membuatku penasaran.." Jaejoong sedikit menunjukkan raut wajah yang kesal.

Melihat Jaejoongya yang mulai kesal, Yunho langsung memutar badannya kesamping menghadap namja cantik disebelahnya yang tengah menatapnya dengan tatapan menuntut penjelasan darinya. Tanpa aba - aba sebelumnya, ia meraih sebelah tangan Jaejoong yang terbebas, karena satu tangannya harus menahan tubuh Minnie yang berada dipangkuannya agar tidak terjatuh.

" Boo...will you marry me?" mata musang itu kini menatap dalam big doe eyes yang telah bertambah besar ukurannya saat mendengar kata - katanya barusan.

" Mwo? a-apa m-maksudmu Yun?" Jaejoong tergagap.

" Boo, aku yakin kau sudah mengetahui perasaanku sejak dulu kan? aku ingin kau menjadi bagian dari keluarga kami, aku dan Changmin, aku melamarmu boo."

" Eh? m-melamar? t-tapi, aku b-belum siap Yun, kuliahku dua bulan lagi baru akan selesai, la.."

" Aniya boo, aku tidak bermaksud menikah buru - buru, aku hanya ingin mengikatmu dulu, anggap saja cincin itu cincin pertunangan kita."

'...' Jaejoong hanya menunduk, sedang tangannya yang sedang menggenggam cincin tersebut, masih dalam genggaman Yunho.

" Boo, aku butuh jawaban, ah, tepatnya kami berdua butuh jawabanmu sekarang." ucap Yunho yang lebih terdengar seperti bernada memohon.

" Ehm...Yun..aku.."

" Boo..." Yunho tak sabaran. keringat dingin menetes dikeningnya, tentu saja ia takut ditolak.

" Aku bersedia Yun, aku sangat menyayangi Minnie, aku tak ingin berpisah dengannya."

" Hanya Minnie?" Yunho tampak cemberut mendengar ucapan Jaejoong barusan.

" Ne, tentunya aku menyayangi appanya juga, mana bisa aku menolak, setiap hari appanya selalu menandai tubuhku dengan kissmarknya, huh.." giliran Jaejoong yang cemberut, mengingat kebiasan Yunho setiap hari terhadap dirinya. Ia masih bernafas lega karena Yunho sampai saat ini tak pernah berniat merusak tubuhnya, dalam arti melakukan hal yang lebih jauh dari yang biasa mereka lakukan, sebatas bercumbu saja, bukan making love.

" Hehehe...gomawo Jongie ah, saranghae baby, ayo pakai cincinnya." Yunho meraih cincin yang masih dalam genggaman Jaejoong, dan bersiap menyematkan dijari manis namja cantik jelmaan mendiang istrinya itu.

" Gomawo Yun, nado saranghaeyo.." Jaejoong tak dapat menyembunyikan wajah merahnya saat Yunho telah selesai menyematkan cincin dijarinya. Kini ia telah resmi menyandang gelar calon nyonya Jung.

CUP!

" Mwo?"

" Kau melamun boo..."

" Yah Jung! kau selalu mencuri ciuman dariku, huh!"

Kecupan mendadak bibir hati yang didaratkan dibibir cherry Jaejoong membuyarkan lamunannya yang mengenang saat - saat indah sewaktu Yunho melamarnya.

" Kau bahkan tak menyadari kalau kita sudah sampai, kajja.." Yunho beringsut dari tempat duduknya dan melepaskan safety beltnya dan juga safety belt Jaejoong.

" Sudah sampai? mana supermarketnya Yun? katanya kita mau berbelanja bulanan?" Jaejoong tak dapat menyembunyikan keheranan diwajahnya ketika tak mendapati satupun bangunan yang menyerupai supermarket disekitar tempat Yunho memarkirkan mobilnya.

" Ja, kita akan ke supermarket setelah menyelesaikan urusanku hari ini, sekarang kita kesini dulu, kau ikut saja boo, tak usah banyak protes, hari ini aku akan memanjakanmu seharian." Yunho membisikkan kalimat terakhir tepat ditelinga Jaejoong, membuat makhluk cantik itu bergidik geli, dan mencerna maksud dari kata - kata Yunho tersebut.

' memanjakan? apa maksudnya? hhh...' batin Jaejoong karena masih tak mengerti dengan kata - kata Yunho. Setelah mendesah panjang, ia cepat - cepat mengikuti Yunho keluar dari mobil tersebut.

" Yun, untuk apa kita kesini?" Jaejoong semakin tak mengerti, karena saat ini mereka telah berada didepan toko perhiasan berbranded mahal.

" Kajja boo, kan sudah kubilang, kau tidak usah banyak tanya, cukup menurutiku saja, arra?" Yunho mengacak pelan rambut halus Jaejoong, seraya menarik pergelangan tangan jaejoong memasuki toko perhiasan mewah tersebut.

Jaejoong tak bisa menyembunyikan ketakjubannya, apalagi melihat perhiasan yang sangat indah didalam etalase toko tersebut. Seumur hidupnya ia tak pernah memakai perhiasan mewah sekalipun, saat ini ia hanya memiliki cincin tunangan pemberian Yunho beberapa bulan yang lalu. Bahkan dalam mimpipun Jaejoong tak pernah mengharapkan untuk memiliki perhiasan mewah tersebut, keadaan hidupnya yang pas - pasan membuatnya tak pernah mengharapkan memiliki benda - benda mahal.

" Anneyong Yunho ssi, ada yang bisa saya bantu? " Sapaan pemilik toko itu membuyarkan lamunan Jaejoong seketika.

" Ne, Seohyun noona, tolong carikan perhiasan yang cocok untuk tunanganku ini, yang lengkap ne, kalung cincin, dan gelangnya." ( kecuali anting, gak mungkin Jaema pake anting pere...xixixi )

" Arraseo, kami memiliki koleksi terbaru, kajja nona, lebih baik jika memilih sendiri, eoh?"

" Eh? n-ne." sejenak Jaejoong ragu, apalagi mendengar noona pemilik toko tersebut memanggilnya nona, namun ketika melihat kearah Yunho yang menganggukkan kepala kepadanya pertanda persetujuannya, ia pun mengikuti noona tersebut menuju keruang khusus tempat koleksi perhiasan lainnya yang terletak disebelah ruangan tersebut diikuti Yunho dibelakang mereka. Tampaknya ruang tersebut khusu untuk pelanggan tetap toko itu saja.

" Silahkan kalian memilih koleksi terbaru kami, ehm..Yunho ssi, kau pintar memilih calon istri, yeoppo, neomu yeoppo." Seohyun si pemilik toko memuji Jaejoong, menyebabkan wajah Jaejoong merona merah.

" Seohyun noona bisa saja, kau membuatnya malu noona, hehehe.." Yunho dan seohyun terkekeh berbarengan saat melihat wajah Jaejoong yang blushing.

well, kita tinggalkan sebentar pasangan YunJae yang tengah memilih - milih perhiasannya, mari kita lihat couple baru kita, yaitu MinRa couple yang baru saja berkenalan.

.

.

Sepeninggal YunJae, dengan susah payah Ahra berusaha mendiamkan Changmin yang menangis histeris yang ingin ikut ummanya pergi tadi. Ditinggalnya sebentar Changmin yang tengah menagis berguling - gulingan diatas ranjangnya, segera ia beranjak kedapur untuk membuatkan susu untuk bayi evil tersebut. Setelah berhasil membuat sebotol susu, dengan segera ia kembali kekamar Changmin dan memberikan botol susu tersebut ketangan mungil bayi lucu itu.

" Nih susumu, minumlah daripada kau menangis terus, bisa habis airmatamu."

" Hiks..hiks..emmaa...hiks...ANI..!"

PLETAKKK~

" AWW! Yah, bisanya kau melempar botol susu ini kejidatku! shhh...appoo...hiks.."

Ahra nampaknya tak menyangka bayi mungil nan lucu dapat melempar botol susu yang masih penuh dengan cairan susu, dan itu tentu saja cukup berat bagi bayi yang belum genap 2 tahun itu untuk melemparnya dengan posisinya sekarang yang tengah berbaring. Dan yang mengherankan Ahra, lemparan bayi itu cukup kuat dan telak mengenai jidatnya yang sudah mengeluarkan benjolan sebesar telur puyuh, pasti sangat menyakitkan, huhuhu. Salam perkenalan dari baby evil.

Namun bukan Ahra namanya, kalau tidak bersifat iblis, namanya juga nenek sihir. Saat ini ia tengah memberi death glare terburuknya, yang tentu saja membuat baby Minnie ketakutan dan langsung mewek seketika mengeluarkan tangisan tiga oktafnya.

" HUWEEEEEEEE...EMMMAAAAAA!"

" YAH! hentikan tangisanmu bocah! orang - orang nanti menyangka aku menyakitimu, aissh...anak ini." mendengar tangisan nyaring Changmin, membuat Ahra panik seketika, sejenak dilupakannya jidatnya yang benjol dan membiru. Cepat - cepat digendongnya Changmin agar kembali diam. Namun yang ada malah bayi tersebut meronta - ronta dan mencakar - cakar wajah Ahra yang tidak dapat mengelak dan menyelamatkan wajahnya yang pas - pasan tersebut.

" Huwaaa...tolong akuu.." kali ini teriakan Ahra meminta tolong karena mendapat amukan dari bayi yang tak berdosa itu.

" Minnie, waeyo?" mendengar suara tangisan Changmin dari dalam kamar, membuat Jung umma dan Jihye secara bersamaan langsung menghambur kedalam kamar tempat Changmin berada.

" Yah! kau apakan keponakanku! sampai menangis keras begitu! baru sebentar diserahkan tugas saja sudah tidak becus! awas kuadukan Yunho oppa, pasti minnie kau cubit ya?" bentakan Jihye terdengar saat melihat keponakannya yang tengah menangis histeris. Melihat Jihye, Changmin langsung turun dari gendongan Ahra, tentunya setelah puas mengukir guratan kukunya diwajah wanita soleha itu. Ia langsung menuju ketempat Jihye berada dan berlindung dibelakang Jihye sembari memeluk betis Ahjumanya itu seakan meminta perlindungan.

" Aniya, aku sama sekali belum, eh tidak menyakitinya, malah dia yang telah melempar jidatku dengan botol susu, dan mencakar wajahku yang mulus ini, huh..." sungut Ahra kesal sembari menunjuk kearah jidatnya yang benjol parah dan wajahnya yang telah bergaris merah oleh cakaran tajam Changmin tadi.

" Yah, separah itukah? masak Changmin cucuku dapat melempar botol susu yang masih penuh cairannya?" kali ini Jung umma yang merasa sedikit heran dengan pengakuan Ahra yang telah dianiaya bayi berumur satu setengah tahun.

" Ah sudah! kemarikan susunya! biar aku yang memberinya susu, kau cepat masakan buburnya saja! sebentar
lagi waktunya ia untuk makan siang, ppaliwa!" ujar jihye dengan nada memerintah kepada Ahra yang hanya bengong mendengar ucapan calon adik iparnya itu yang telah berlalu dari hadapannya dengan menuntun Changmin menuju tempat tidurnya untuk minum susunya. Changmin tampaknya sangat penurut bila bersama Jihye. Melihat itu Ahra cepat - cepat beranjak menuju dapur dengan menghentak - hentakkan kakinya. Sedangkan jihye, ia tertawa cekikikan sepeninggal Ahra.

" Gomawo Minnie ah, kau memang bayi pintar, tak membiarkan appamu direbut wanita comberan itu, hihihihi." diciumnya dengan gemas pipi chubby Changmin yang kini tengah menikmati sebotol susu buatan calon ummanya tadi.

.

.

Kembali ke pasangan Yunjae...

" Yun, tidakkah ini berlebihan? kau menghabiskan uang terlalu banyak untukku.."

Jaejoong tertunduk, merasa tidak enak, sesaat mereka masuk kedalam mobil Yunho setelah meninggalkan toko perhiasan tersebut. Sekarang Jaejoong kelihatan berbeda, leher putihnya ang biasa polos kini dihiasi kalung berbentuk rantai halus berwarna putih bersinar dengan leontin berbentuk ring yang bisa dijadikan cincin. Begitu juga pergelangan tangannya kini telah semakin menawan karena melingkar gelang yang senada dengan kalung yang dipakainya, berbentuk rantai, bedanya gelangnya lebih tebal bentuknya. Sedangkan cincin, ternyata Yunho telah memesan duluan cincin couple untuk mereka berdua, cincin elegan namun sederhana, yang disekelilingnya terdapat permata berkilau, cincin couple itu hanya berbeda warna saja, untuk Yunho yang berwarna emas, sedang cincin Jaejoong yang berwarna putih.

" Ani boo, kau berhak mendapatkannya, memberi sesuatu kepada orangyang kita cintai, tentunya tidak dilarang bukan?"

" T-Tapi Yun..."

" Sudah tidak usah dipikirkan lagi, aku senang melihat kau memakai perhiasan pemberianku."

" Ne, gomawo Yunnie.."

Cup...ah~

" Boo..kau sudah berani memulai ne? hehehe..." Yunho menyeringai mesum saat Jaejoong yang tanpa diduga menngecup singkat bibirnya.

" Yah! hentikan seringaimu itu! dasar me...aahhh...Yunhh..."

Belum sempat Jaejoong menyelesaikan kata - katanya, bibir cherrynya telah dibungkam oleh bibir Yunho yang seksi itu, kali ini bukan lagi kecupan - kecupan singkat yang mereka lakukan sepanjang perjalanan sebelumnya. Ciuman kali ini adalah ciuman panas penuh nafsu. Jaejoong yang sudah terhanyut oleh hisapan - hisapan dibibirnya kini telah menempatkan tangannya dibelakang leher Yunho, menekan leher kekar tersebut agar lebih memperdalam ciumannya.

" Eungghhh...mmphhh..." Jaejoong tak dapat menahan desahan nikmatnya. Sepertinya mereka telah melupakan dimana mereka berada sekarang, ditempat parkir umum yang untunglah cukup luas, sehingga tidak terlalu memancing perhatian orang - orang yang sibuk lalu lalang.

Dengan gerak cepat Yunho telah merendahkan sandaran kursi Jaejoong sehingga posisi Jaejoong sekarang mengikuti sandaran kursi yang merebah, dengan mudahnya Yunho merubah posisinya kini menindih badan Jaejoong diatas kursi yang telah direbahkan tersebut. Dengan penuh nafsu, Yunho menciumi seluruh bagian wajah kekasihnya itu, sedang jaejoong hanya memejamkan mata saja, menerima perlakuan dari pemilik tubuh kekar yang tengah menindihnya sekarang.

Ciuman Yunho kini berpindah didaerah leher jenjang dan mulus milik Jaejoong, dibasahinya seluruh permukaan leher putih itu dengan salivanya menggunakan lidahnya, sedikit dihisapnya permukaan kulit halus itu hingga meninggalkan bekas merah. Tak puas hanya bermain dileher, telapak tangannya yang sudah berada didalam baju Jaejoong, bergerak menyingkap baju kaos tersebut keatas, hingga mempertontonkan dada putih mulus milik Jaejoong yang sangat menggoda iman itu. Tanpa menunggu lagi, segera bibirnya kini bermain didaerah dada dengan memainkan dan menghisap dua tonjolan yang berada didaerah dada itu.

" Ahhh..Yunhh..sshhh...ahhh..." Tubuh Jaejoong sama sekali tak menolak permainan lidah Yunho yang kini tengah bermain di nipplenya secara bergantian, sehingga membuatnya semakin merasakan kenikmatan dan terus mengeluarkan desahan seksinya. Sementara kedua tangannya pun tak tinggal diam, menjelajah dibalik kemeja Yunho yang sudah tak rapi lagi. Big doe eyes dan mata musang itu kini saling menatap intens, membuat kegiatan mereka terhenti sementara, namun perlahan - lahan chery merah itu bertemu kembali bibir hati sensual yang menghisap cherry merahnya seakan ia sedang mengemut jelly lembut dan manis, sangat memabukkan dan tak dapat menghentikan kenikmatannya.

" Eungghh...Yunhh..sesakkhh..ahhh..." Jaejoong yang sudah kehabisan nafas hanya dapat memukul punggung Yunho pelan, agar namja tersebut segera melepaskan tautan bibirnya.

" Hahh..hahh..Yunh, sebaiknya kita meneruskan perjalanan, bisa2 terlambat pulang."

Yunho tampaknya dengan berat hati beranjak dari atas tubuh Jaejoong saat itu, namun ia membenarkan perkataan Jaejoong barusan. Hari sudah lewat tengah hari, sedangkan mereka sama sekali belum ke supermarket untuk berbelanja bulanan. Yunho segera menyalakan mesin mobil, tujuan pertamanya sekarang adalah restoran, perut mereka sudah menjerit minta segera diisi.

Sementara itu, apa yang terjadi dengan couple romantis kita, saat ini...MinRa couple.

.

.

Ahra kini sudah rapi setelah lama berkutat didapur memasak bubur Changmin yang menurutnya sangat lezat itu, ia telah berhasil meracik bumbu turun temurun nenek moyangnya yang rupanya bukan manusia, lho? #abaikan#

' Ah, saatnya memberi calon anakku makan, pasti ia menyukai masakanku tadi.' batin wanita jadi - jadian itu, dan dengan riang dilangkahkan kakinya kearah kamar dimana Jihye yang tengah menjaga Changmin berada didalamnya.

" Minnie ah, kajja, buburmu sudah masak, waktunya makan."

" Maaamm..maaamm...hihihiii.." mendengar kata makan tentu saja membuat baby Minnie menjadi antusias dan melonjak - lonjak kegirangan.

" Yah! kau itu tahu tidak cara mengurus balita sih? ikat rambutmu itu yang seperti kuntilanak, dan jepit ponimu agar tidak ada rambut yang terjatuh saat memberi makan keponakanku!" kali ini bentakan dari mulut Jihye kembali terdengar setelah melihat penampilan wanita yang berada diambang pintu tersebut, seperti hendak berkencan dengan laki - laki saja bukan seperti hendak mengasuh balita. Dengan dandanannya yang full make up dengan rambutnya yang terurai persis kuntilanak penghuni kuburan.

Bentakan Jihye sukses membuat Ahra mengecut dan kembali menuju kamarnya untuk membenahi penampilannya.

' Awas kalian ya! aku pasti akan membalas apa yang sudah kalian laukan kepadaku apabila telah sah menjadi nyonya Jung!huh!' hohoho, dendam nyi pelet ternyata pemirsah.

lima menit kemudian...

" Kajja minnie, mari kita makan baby..." dengan sok imut Ahra yang kini telah mengikat rambutnya dan menjepit poninya dengan jepitan yang berwarna kuning berbentuk pisang. wait, pisang? ingatkah itu buah kegemaran siapa ya? *hardthinking. Tampaknya Ahra tidak menyadari akan bahaya yang mengancam dari sebuah jepit rambutnya itu. Masih ingatkan? saat Jaejoong yang menagis tersedu - sedu ketika beberapa helai rambutnya tercabut akibat ia dengan ceroboh memakai jepit rambut berbentuk burger.

" Ayo Minnie buka mulutmu, aaaa..." dengan semangat Ahra mulai menyuapi Minnie dengan bubur buatannya, Minniepun dengan semangatnya membuka mulutnya lebar, seperti yang biasa ia lakukan ketika hendak menyantap bubur buatan ummanya. Namun...

BBBRRRRHHH...!

" Yah, mengapa kau semburkan semua buburnya kewajahku baby...hiks.." Ahra tak berani membentak saat bubur yang baru saja masuk kemulut Minnie, disemburkannya dengan kuat kewajah babi, eh baby facenya. Mengapa ia tak berani membentak? itu karena Jihye berada tak jauh dari mereka yang dengan santai tangah membaca majalah.

Mau tak mau dongsaeng Yunho itu mendekati couple tersebut, " Sepertinya keponakanku tak suka masakanmu, bubur apa yang kau buatkan untuknya, hah?"

" Ah tidak mungkin ia tidak suka, ini masakan terenak yang pernah kubuat tahu!"

" Mana coba!" Jihye mengambil satu sendok bubur buatan Ahra, dan dengan pede mencobanya.

BBRRFFHH...Uwekkk! Piuh!

" Yah! mengapa menyemburkannya kewajahku!" Jerit Ahra tak terima saat Jihye menyemburkan bubur didalam mulutnya tepat mengenai wajah Ahra yang sudah rusak parah oleh semburan dari si baby evil sebelumnya.

" KAU INGIN MEMBUNUH KEPONAKANKU YA? BUBUR APA INI HAH!"

Ahra memasang tampang heran saat mendengar bentakan Jihye yang mengatakan buburnya tidak enak. Dengan cepat ia menyendokkan bubur tersebut kemulutnya untuk mencicipinya juga. Namun..

" Uweekkk...jiaahh...kok rasanya seperti ini.." ternyata memang buburnya tidak enak pemirsah.

" Kau makan saja bubur buatanmu ini, kau buatkan saja bubur instant untuk Minnie, ppali! keponakanku bisa mati kelaparan! dasar kuntilanak! masak bubur saja tidak bisa!" rentetan bentakan dari mulut Jihye sukses membuat Ahra menciut dan sepat - cepat beranjak kedapur untuk membuatkan bubur instan untuk Minnie.

Tak lama setelah itu Ahra kembali dengan semangkuk bubur instant ditangannya dan bergegas mengambil alih Minnie yang sedang duduk dilantai bersama Jihye. Melihat Ahra yang sudah datang, Jihye buru - buru meninggalkannya, perutnya sudah keroncongan ingin segera menyantap makan siangnya yang sudah dipersiapkan Jaejoong sejak pagi tadi di meja makan.

" Ne Minnie, ayo buka mulutmu, aaa..." Ahra mengulang lagi menyuapi Minnie yang kali dengan bubur Instant.

" Aaa..mamm..." dengan lebar Minnie membuka kembali mulutnya dan menerima bubur instant tersebut tanpa menyemburkannya seperti tadi. melihat itu Ahra merasa sangat lega, karena wajahnya terhindar dari semburan Minnie.

Minnie menghabiskan bubur instant tersebut hanya dalam berapa suapan saja, tampaknya wanita yang belum tahu besar porsi yang pas untuk bayi tersebut, memberi Changmin dengan porsi yang sedikit, tentu saja itu menyebabkan protes keras dari bayi pintar tersebut.

" MAAAAAMMMMM...Huweeeea!" tangis Minnie pecah saat ia menuntut minta tambah buburnya, namun Ahra tentu saja tak mengerti dengan ocehan balita tersebut, karena ia tidak memiliki sifat keibuan.

" Yah, mengapa menangis lagi! merepotkan saja kau ini!"

Kesal Ahra sedikit membentak, membuat Changmin menghentikan sementara tangisannya, ia kini menatap wajah Ahra tanpa berkedip, posisinya sekarang yang berada dalam gendongan Ahra membuat matanya tertuju langsung pada benda menggiurkan yang menempel erat dirambut wanita itu, mengingat perutnya yang masih lapar, dan melihat ada buah kegemarannya yang sering diberikan ummanya 'menempel' dengan manisnya dirambut wanita yang tengah menggendongnya, maka tanpa berpikir panjang dengan kekuatan full power evilnya dirampasnya jepit pisang yang bertengger dikepala Ahra tanpa ampun, menyebabkan beberapa helai rambutnya yang panjang ikut terbawa didalam genggaman erat tangan bayi evil tersebut.

" KYAAA! ANAK SETAN! MENGAPA MENJAMBAK RAMBUTKU! APPOOOO...HUWAAA!"

" MMAAAMMM...MAAAMMM...HUWEEE...!"

Jeritan kesakitan yang memilukan kembali terdengar dari mulut Ahra saat menyadari rambutnya yang tengah tertarik didalam genggaman tangan Minnie, namun bukannya melepaskan, Changmin yang kaget mendengar jeritan Ahra tersebut menjadi ketakutan dan ikut menangis juga, dan tentu saja, semakin mengeratkan genggamannya pada rambut nista wanita tersebut yang mulai menangis histeris karena memikirkan kepalanya yang akan pitak.

" ADA APA LAGI SIH! HEI! JANGAN SEKALI - KALI KAU MENYEBUT KEPONAKANKU ANAK SETAN! KAU ITU YANG SEPANTASNYA DISEBUT SETAN!

Jihye tampak murka sekali saat mendengar makian Ahra saat menyebut Changmin anak setan, mendengar itu mendadak tekanan darahnya naik ke ubun - ubun. Changmin yang tersentak melihat Ahjummanya marah - marah menjadi lengah akan jambakan tangannya dirambut Ahra tadi, sehingga hal tersebut dipergunakan wanita tersebut untuk langsung melepas genggaman tangan Minnie yang berhasil mencabut puluhan helai rambutnya yang tak berdosa itu. Minnie pun langsung berlari menuju jihye seperti biasa meminta perlindungan. Sedangkan Ahra? Wanita yang sudah dalam keadaan yang mengenaskan itu, langsung berlari menuju kamar tempatnya menginap dengan muka penuh dendam, menahan airmatanya yang sebentar lagi akan tumpah, ia tak menyangka, bisa - bisanya ia dibuat sangat menderita oleh seorang bayi berumur 18 bulan saja! catat, bayi berumur 18 bulan saja.

Ahra berlalu tanpa berkata - kata apapun lewat didepan Jihye yang kini sedang menggendong Changmin. Ahra sempat melirik kearah bayi evil tersebut dengan mata penuh dendam, betapa tidak, sang bayi lucu itu kini tertawa penuh kepuasan seakan tak pernah terjadi apa - apa dengan jepit berbentuk pisang yang sudah berada digenggaman tangannya sekarang.

' Hihihihi...Minnie ah, kau apakan wanita setan itu baby? seperti habis ditiduri oleh banyak laki - laki saja melihat keadaannya, padahal hanya mengurus bayi..ckckckck..' batin Jihye setelah puas melihat keadaan mengenaskan calon kakak ipar pilihan sang umma.

Sedangkan wanita soleha idaman para pria itu kini tengah menangis tersedu - sedu meratapi nasib malangnya hari ini, berharap dapat bermesra - mesraan dengan calon suaminya, namun apa yang didapatnya? benjol besar dijidatnya, cakaran dan semburan bubur menjijikkan diwajahnya, belum lagi lemparan - lemparan benda lain seperti remote TV, mobil - mobilan dll, dan barusan diakhiri dengan lepasnya puluhan helai rambut indahnya yang selalu dibangga - banggakannya. Welcome To the Hell Ahra ssi.

Bagaimana dengan keadaan pasangan YunJae sekarang? berbanding terbalik dengan rentetan penderitaan Ahra, pasangan romantis itu merasa kehadiran Ahra membawa dampak baik bagi hubungan mereka yang kian bertambah romantis saja, pasalnya tak pernah sekalipun mereka bepergian berduaan saja seperti ini, pasti ada Changmin diantara mereka yang selalu meng 'cockblock' pergerakkan appanya apabila appanya akan berbuat mesum kepada ummanya. Mereka harus menunggu bayi evil itu tertidur dulu baru dapat sedikit bermesraan layaknya pasangan kekasih pada umumnya.

Sepertinya pasangan ini harus berterima kasih kepada Ahra yang telah bersuka rela mau menjaga anaknya seharian, membuat Jaejoong bahagia setengah mati, karena telah dimanjakan Yunho dengan memberinya perhiasan yang harganya selangit. Dan saat ini mereka tengah menikmati makan siang romantis di salah satu Rumah makan yang terkenal di Seoul akan keromantisan suasananya, tak heran rumah makan tersebut banyak dikunjungi pasangan kekasih ataupun pengantin baru.

Seharusnya Jaejoong sangat berbahagia saat itu, pasalnya didepannya sekarang telah tersaji berbagai hidangan lezat, suasana yang romantis dengan alunan live music yang indah, dan tidak lupa berada disebelahnya namja tampan idaman setiap yeoja yang selalu menatapnya penuh cinta, calon suaminya. Namun Jaejoong tdak dapat menyembunyikan kegalauan hatinya, terhitung sudah berapa jam mereka meninggalkan Changmin, membuatnya sangat tidak menikmati makan siangnya itu.

" Boo..."

'...'

" Ingat Minnie eoh?" ucap Yunho perlahan dengan mencondongkan wajahnya menatap wajah cantik Jaejoong disebelahnya yang hanya menunduk, sedih.

" Yun..hiks.." akhirnya mata indah itu mengeluarkan tangisnya juga, tangis kekhawatiran.

" Tenanglah boo, ada Jihye yang mengawasinya." Yunho berusaha menenangkan perasaan Jaejoong yang sangat kalut, ia mengerti akan kekhawatiran Jaejoong, mengingat anaknya yang 'sedikit' nakal itu, tentunya Jaejoong khawatir Minnie akan membuat kesal Ahra, dan membuat Ahra melakukan yang tidak - tidak kepada Changmin. Itu yang ditakutinya sedari tadi.

" Hiks.." Jaejoong masih terisak pelan.

" Ne, kajja mari kita pulang saja, tapi temani aku mampir kekantor sebelumnya ne? ada pesan yang menyampaikan aku sedang ditunggu seseorang untuk menandatangani kontrak bisnis, arra?"

Tak sampai hati melihat Jaejoong yang terus terisak, Yunho memutuskan untuk mengajak Jaejoong segera pulang, namun mampir dulu dikantornya yang kebetulan searah jalan pulang ke apartemen mereka.

" Kajja boo, turunlah temani aku, akan kuperkenalkan kepada teman bisnisku." ajak Yunho kepada Jaejoong ketika mereka telah tiba dipelataran parkir perusahaan Jung yang sangat megah bangunannya. Jaejoong baru kali ini diajak Yunho berkunjung dikantornya.

Dengan perlahan Jaejoong mengikuti langkah Yunho memasuki gedung megah tersebut, ia memilih berjalan dibelakang Yunho, ia takut para karyawan Yunho akan heran melihatnya apabila berjalan berdampingan dengan Presiden Direktur Jung's Corp tersebut, namun Yunho malah menarik lengannya sehingga membuat badannya menempel ke badan Yunho, ditambah rangkulan dipinggangnya yang membuatnya bertambah tidak nyaman.

" Selamat datang Sajangnim, anda sudah ditunggu diruang anda, silahkan." sapa salah seorang sekurity yang menjaga pintu lift, ia membungkukkan badannya saat Yunho akan memasuki lift tersebut, yang dijawab Yunho dengan anggukan ramah.

Saat berada di lift Yunho sama sekali tidak melepaskan rangkulan erat lengannya yang melingkar dipinggang ramping Jaejoong, padahal bukan hanya mereka sendiri yang berada didalam lift tersebut, ada beberapa karyawan wanita bersama mereka yang tentu saja berbisik - bisik curiga melihat Direktur muda yang tak pernah terdengar berpacaran dengan wanita manapun, kini dengan mesranya menggandeng seseorang yang sangat cantik kekantornya. Jaejoong yang sadar tengah menjadi pusat perhatian, tentu saja merasa sangat tidak nyaman.

Akhirnya Yunjae couple sampai juga dilantai empat tempat kantor Yunho berada, segera Yunho menggandeng Jaejoong menuju kantornya yang berada tidak jauh dari pintu lift tersebut. Sebelum masuk kekantornya, Yunho menegur seorang wanita cantik, yang tengah sibuk mengetik sesuatu dimeja kerjanya didalam ruangan kecil didepan kantor Yunho, sepertinya wanita cantik itu adalah sekertarisnya.

" Jessica ssi, apakah tamunya sudah lama menunggu?"

" Eh sajangnim, mengejutkan saja, mianhe..tidak terlalu lama, mungkin baru 15 menit saja, eh? Mwo? s-siapa itu sajangnim? i-itu s-seperti n-nyonya..."

Wanita yang dipanggil Yunho Jessica itu mendadak menampakkan raut muka tercekat saat melihat Jaejoong yang berada disebelah Yunho yang kini tengah bergelayut dilengannya karena malu. Sepertinya Jaessica telah mengira Jaejoong itu sosok penampakan mendiang istri Yunho yang telah meninggal.

" Perkenalkan Sica ssi, ini Kim Jaejoong, calon istriku." Jawab Yunho seraya beranjak dari hadapan Jessica yang masih tampak bengong, sedangkan Jaejoong masih bergelayut dilengan Yunho, mengikuti arah langkah Yunho.

CKLEK~

Perlahan Yunho membuka pintu kantornya, dan mengajak Jaejoong untuk segera masuk, dan tampaklah teman bisnisnya yang sudah menunggunya sedari tadi duduk dikursi depan meja kerjanya, posisi namja tersebut membelakangi Yunho.

" Mian telah membuat anda menunggu, tadi aku ada beberapa urusan yang harus diseoesaikan terlebih dahulu." dengan sopan Yunho meminta maaf kepada namja yang duduk membelakangi mereka itu, tentu saja setelah mendengar suara Yunho, namja tersebut segera membalikkan badannya dan berjalan kearah YunJae, namun mata sipitnya terus menatap sosok cantik yang berada disebelah Yunho, yang tampak pucat pasi saat beradu pandang dengannya.

" Anneyong Yunho ssi, lama sudah tidak bertemu, banyak yang berubah tampaknya." namja tampan tersebut menyapa Yunho dengan memamerkan lesung pipinya saat ia tersenyum.

" Anneyong Siwon ssi, senang bertemu anda, ehm...perkenalkan ini tunangan saya, Kim Jaejoong." balas Yunho ramah dan tidak lupa memperkenalkan Jaejoong kepada Siwon teman bisnisnya.

" Anneyong Kim Jaejoong ssi, senang dapat bertemu kembali disini.."

.

.

.

.

tebece ne?

review!

.

.

.

Mungkin benar, ff ini bergenre hurt dan little angst, namun saya rasa angst disini bukan hanya untuk tokoh protagonisnya saja. Sudah jelas genre angst disini ditujukan untuk siapa, tentunya saya tidak akan terlalu merasa berdosa jika angstnya saya tujukan kepada Ahra wanita soleha tersebut. Ada yang tidak setuju, atau tidak suka, atau bahkan tidak rela jika saya terlalu menyiksa wanita itu? okeh, boleh sampaikan unek - unek kalian dalam bentuk review ne? Gomawoooo.