Details?
Story © alice dreamland
The Basketball which Kuroko Plays © Fujimaki Tadatoshi
Genre: Romance, Drama
Warning: Typo(s), all in 2nd PoV, AkashixReader, fluff, drabbles, cliche, OOC
Detil 12: Nomor Ponsel
Tangisan langit tak menunjukkan tanda segera henti—di mana dua insan berbeda gender berseragam Rakuzan melangkah tenang, menikmati setiap detik mereka berjalan.
Akashi melangkah lambat namun lebar dengan kecepatan konstan, sementara kau memijak cepat dengan langkah kecil. Berbeda, namun tetap tak membuat kalian terpisah atau salah seorang tertinggal.
Mengingat payung berada dalam kendali Akashi Seijuuro, kau berusaha keras tidak merepotkannya dengan sedikit menjaga jarak—namun berakhir membuat bagian seragammu sedikit basah.
Akashi menyadarinya—menghela napas, menarikmu mendekat dengan tangannya yang bebas. "Kau tidak perlu takut menyusahkan. Lagipula aku yang memerintahkanmu untuk pulang denganku."
Kau mengerjap—menatapnya heran. Kemudian mengangguk, tersenyum kecil memandang jalan sepi di depan. Mungkin seharusnya kau memang tak meragukan kebaikannya. Berjalan tenang di trotoar, dengan Akashi di bagian rawan bahaya—persis di samping jalan.
Tak lama, kalian telah sampai di depan rumahmu. Kau bahkan heran darimana Akashi tahu lokasi kediaman keluarga [surname], namun mengingat Akashi memiliki cara sendiri melakukan sesuatu—membuatmu mengurungkan niat untuk bertanya.
Bulir-bulir air masih terus berjatuhan dari langit didominasi awan kelabu—meski kini lebih pelan. Suaranya pun tak seribut di sekolah. Kau berlari membuka pintu rumah (dengan kunci dalam seragam), menampakkan ruang tamu gelap gulita.
Menyalakan lampu seraya melepas sepatu—melangkah masuk dalam ruang tamu lebar dihuni dua sofa merah muda lembut di tengah (satu untuk seorang dan satu untuk dua orang). Meletakkan tas, seraya berbalik menatap Akashi riang.
"Akashi-kun mau masuk terlebih dahulu?" tanyamu sopan. Lelaki itu mengangguk—menutup payung, melepas sepatu, melangkah masuk.
"Ojamashimasu," ujarnya datar. [14]
"Tidak perlu seformal itu, okaa-san dan otou-san sedang tidak di rumah." Kau tersenyum kecil. "Akashi-kun mau teh? Akan kuambilkan. Selama menunggu, silahkan duduk di sofa."
Dan tanpa menunggu jawaban, kau langsung berbalik berjalan pergi menuang teh di dapur yang tak jauh dari ruang tamu—membuat Akashi yang duduk dapat mengamati gerak gerikmu; apalagi pintu geser yang menghubung dibiarkan terbuka lebar.
Beberapa menit kemudian, kau kembali membawa nampan bermotif bunga—berisi piring kecil dengan biskuit renyah dan dua cangkir teh.
Meletakkan nampan di meja hadapan sofa, seraya duduk di sebelah Akashi dengan jarak tiga puluh senti—mengingat Akashi mengambil posisi duduk di sofa untuk dua orang.
"Douzo," [15] serumu ceria—menyerahkan satu biskuit kecil kepada pria berambut merah tersebut. Akashi mengganguk berterimakasih—meski ekspresinya tak menunjukkan perubahan.
Kau tak mempermasalahkannya meski tak dipungkiri sedikit terusik; menyandarkan diri pada punggung sofa melepas lelah. Akashi telah selesai memakan biskuit dan hendak meneguk teh—namun aktivitasnya terhenti karena sebuah nada dering.
Tringg!
Kau mengerjap—dan manik Akashi menoleh padamu. Tanganmu merogoh kantung seragam, mengeluarkan ponsel putih kecil. Memencet beberapa tombol—mendapati sebuah pesan masuk dalam inbox.
Akashi mengalihkan pandangan—meneguk teh selagi mata melirikmu yang tengah tersenyum kecil; menekan berbagai tombol huruf sebagai balasan pesan masuk entah dari siapa.
Lelaki itu meletakkan cangkirnya, menoleh padamu yang memusatkan pandang pada kalimat tersusun dalam layar—menahan tawa.
"Berikan ponselmu." Suara bariton itu berujar—datar namun sedikit mengancam. Kau tersentak, mengalihkan pandang pada Akashi yang menadangnmu tajam—menaikkan sebelah alis.
"E-Eh?" tanyamu heran. "Untuk apa?"
Namun tanganmu tetap memberikannya—toh kau tahu Akashi cukup dapat dipercaya. Ia tidak mungkin lari membawa ponselmu begitu saja. Lelaki itu tak menjawab, menekan beberapa tombol secara cepat.
"Kukembalikan," ujarnya—melempar ponsel itu yang kau terima dengan kedua tangan. Kemudian membuka dan mencari apa yang Akashi lakukan dengan ponselmu.
"Are? Akashi-kun? Apa yang kau lakukan? Aku tidak melihat perubah—"
"Sekarang sudah sore, hujan pun sudah berhenti." Akashi memotong ucapanmu—berdiri berjalan menuju pintu keluar dengan tas yang ia selempangkan. "Aku akan pulang."
"Eh? Tidak makan malam bersama saja?" tawarmu—ikut berdiri mengantar Akashi keluar. Akashi menggeleng, lagipula ayahnya hari ini pulang cepat. Ia pasti akan dipertanyakan macam-macam jika tidak kembali tepat waktu.
Kau tersenyum sedih. "Sayang sekali... Kalau begitu, mata ashita ne, Akashi-kun!"
Pria itu mengangguk, berjalan pergi dengan langkah tegap—tak lupa membawa payung dan mengenakan sepatu. Rintik air masih sedikit terasa, meski jauh berbeda dibanding derasnya hujan kala jam pulang sekolah.
Namun sekali, ia melirik. Dan melihatmu kembali berkutat dengan perangkat elektronik tersebut selagi tangan satu menutup pintu. Kedua alismu bertaut heran, bingung akan apa yang sang pemuda lakukan terhadap salah satu item berharganya.
Akashi mengembangkan senyum—menatap lurus jalan, sedikit mempercepat langkah pacunya menuju rumah.
Kau tidak sadar.
Bahwa sang emperor—Akashi Seijuuro—telah memasukkan nomornya dalam ponselmu.
.
[14]: "Permisi."
[15]: "Silahkan."
Saya baru aja pulang dari acara orientasi sekolah—dan salah satunya nginep di luar kota 3 hari 2 malam tanpa ponsel dan leppie (jadi ngak bisa ngetik hiks).
Akhirnya kemarin saya pulang, malemnya baru sempat megang leppie tapi ngak sempet update. Maaf! Dan saya terkejut bukan main saat ngelihat fave sudah menlunjak dari 66 menjadi 70~! Sekali lagi terima kasih banyak!
Ini balasan review anon ;3
-arata-chan
Woa, kita senasib. Masalahnya ini saya nulis mulu—adik saya kepo ngeliatin (tapi ga saya perbolehin). Gpp kok, gpp x3 *plak* atau ajari adik Anda betapa kerennya Akashi Seijuuro seorang! /woi!/
Iya dong, sedikit demi sedikit lama lama jadi bukit terus duerr meletus— *dibekep* Makasih udah ditunggu x3 ini sudah lanjut, makasih reviewnya!
-karisa
Masih lama itu, ini masih pedekate *plek* Makasih reviewnya ;3
-Ran Konako
Iya dong, harus [name] seorang yang di sisi Sei-chan! Atau nanti Sei-chan bingung nyari pasangan hidup *loh* Okey! Ini sudah lanjut, makasih reviewnya! :3
-Kii-tan
Gpp kok! diteror deadline? Tugas? Oke, tapi itu nanti masih rada lama /plak/ ._.
Oke, makasih bakalan ditunggu xD makasih juga telah menyempatkan mereview!
Sekali lagi terima kasih banyak untuk semua yang telah membaca, fave, fol, dan mereview fict ini! Semoga kalian suka dan puas akan hasilnya *ngais dinding*
Sekian!
~alice dreamland
