hai minna jumpa lagi #tereak pake toa masjid
terima kasih review ny untuk yg chap kemarin, aku senang kalian msh mengikuti fic ini #peluk readers :D
aku gk nyangka kalau chap ini jadi ny panjang bgt, bahkan mgkn ini chap terpanjang dalam fic ini
jd kalo kalian bosen baca ny silahkan dskip aja, kl mw sh baca secara seksama, ehehe *ngarep :D
oke, gk perlu bnyk bachot lg, lgsg aja ke cerita :)
Spoiled Prince
Disclaimer : om Masashi Kishimoto
Story by : Pinky Rain
Pairing : SasuSaku
Warning : gaje, abal, norak, alay, typo(s) menari-nari
Rated : M for save
Don't Like Don't Read
.
.
.
.
.
Chapter 12
.
Sasori memandang kepergian mereka berempat. Pandangannya tertuju pada Sakura, kemudian beralih pada pemuda berambut raven dengan chickenbutt style yang berjalan di sebelahnya. Pemuda yang sedari tadi bersikap sinis dan sama sekali tidak ramah padanya. Pemuda yang entah mengapa memandangnya sebagai rival.
Dia teringat dengan sikap protektif Sasuke pada Sakura. Seringai tipis muncul di wajah imutnya ketika dia menyadari sesuatu.
"Apa kau akan tetap di sini atau kau akan pergi, Sasori?" pertanyaan Kakashi membuyarkan pikiran Sasori. Pemuda itu mengalihkan pandangannya dari empat orang yang berjalan menjauh.
"Oh, aku akan pulang." jawab Sasori.
"Begitu. Aku juga harus segera pergi. Sampai jumpa lagi Sasori. Senang bertemu denganmu." seru Kakashi kemudian pergi meninggalkan Sasori.
Sasori hanya tersenyum, kemudian kembali mengalihkan pandangannya kearah emat remaja yang mulai menghilang, tepatnya pada Sasuke. Seringai kembali muncul di bibirnya.
Apa kau merencanakan sesuatu, Sasori?
.
.
.
.
Semilir angin menerbangkan helaian merah miliknya. Iris jade miliknya memandang lurus pada sekumpulan murid lelaki yang tengah berlari-lari memperebutkan sebuah benda bulat, meski yang terjadi sesungguhnya adalah dia sama sekali tak memperhatikan sekumpulan murid tersebut. Kenyataannya adalah pikirannya sedari tadi tengah menari-nari ke tempat lain.
Tempat dimana semuanya berawal. Awal dari rasa sakitnya, juga rasa sakit seorang gadis. Yang pada akhirnya membuatnya tak mampu untuk sekedar menunjukkan perasaannya pada gadis yang diam-diam ia sukai. Yang pada akhirnya membuatnya memilih untuk selalu berada di sisi gadis itu sebagai sahabatnya. Yang pada akhirnya membuatnya memendam perasaan cintanya demi kebahagiaan si gadis.
Pemuda itu menghela napas. Dia teringat percakapan terakhirnya bersama sepupunya sebelum sepupunya itu pindah sekolah.
Flashback on
"Sasori." Sasori menoleh saat suara yang sangat dia kenal memanggilnya, dan benar saja. Sepupunya itu tengah berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang susah dideskripsikan. Kadang dia kesal dengan sepupunya yang minim ekspresi itu, karena bukan hanya minim ekspresi, sepupunya itu juga minim kata. Dia hanya akan berbicara hal-hal yang perlu saja, selebihnya dia akan lebih memilih untuk diam. Ya mungkin saja pepatah 'diam itu emas' berlaku untuk pemuda di hadapannya ini.
"Ada apa Gaara?" tanya Sasori.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu." dengan ekspresi datar Gaara menjawab.
"Sepertinya penting sekali." kata Sasori, namun tidak mendapat tanggapan dari Gaara.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau membuatku takut." tanya Sasori karena merasa tidak nyaman dengan tatapan Gaara.
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Sakura?" tanya Gaara tanpa basa-basi, membuat Sasori sedikit tercekat karena mendapat pertanyaan yang begitu frontal.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" alih-alih menjawab Sasori balik bertanya. Namun sekali lagi, tak mendapat tanggapan dari Gaara. Kali ini pemuda itu malah memandang Sasori dengan tatapan mengintimidasi.
Sasori menarik napas dalam kemudian menghembuskannya.
"Aku sudah menganggap Sakura sebagai adikku sendiri. Aku tidak bisa menganggapnya lebih dari itu."
"Tapi...sikapmu selama ini...kukira kau mencintainya."
"Aku memang mencintainya. Tapi cintaku padanya sebatas cinta seorang kakak kepada adiknya. Tidak lebih."
"..."
Keheningan menyelimuti mereka berdua. Gaara sendiri tak tahu harus berkata apa. Hati kecilnya merasa lega karena ternyata Sasori tidak memiliki perasaan apapun pada Sakura, namun di sisi lain hatinya juga terasa sakit karena dia tahu kalau Sakura sangat menyukai Sasori.
"Dia sudah pergi." ucap Sasori memecah keheningan. Gaara mengernyitkan alis tak mengerti.
"Apa—?"
"Sakura mencuri dengar percakapan kita. Tadi aku melihatnya saat akan masuk kemari tapi tidak jadi karena ada kita berdua." Sasori menjelaskan.
"Apa dia—"
"Ya."
"Kau...kenapa tidak bilang kalau—" perkataan Gaara tidak dia selesaikan karena dia memilih berlari untuk mengejar Sakura.
"Sebaiknya kau tidak mengejarnya." utar Sasori, dan itu berhasil menghentikan laju kaki Gaara. "Hatinya akan semakin terluka kalau dia tahu ternyata kau telah memergokinya mencuri dengar." sambungnya.
Gaara akhirnya memilih untuk tidak mengejar Sakura karena merasa perkataan Sasori ada benarnya. Dia memejamkan mata frustasi.
"Setidaknya aku berhasil membuatnya pergi."
Gaara membuka matanya yang terpejam. "Apa maksudmu?" tanya Gaara tak mengerti.
"Tolong jaga Sakura." ucapan dari Sasori semakin membuat Gaara tak mengerti. Dia masih memandang bingung sepupunya itu.
"Aku tahu, kalau kau diam-diam menyukainya."
Iris jade milik Gaara membulat. Bagaimana mungkin Sasori tahu perasaan yang berusaha ia sembunyikan?
"Aku tidak—"
"Kau tidak bisa membohongiku Gaara." potong Sasori sebelum Gaara sempat menyangkal. "Kita selalu bersama sejak kita masih SD. Aku tahu semua kebiasaanmu. Wajahmu akan merona jika bersamanya. Kau adalah orang yang jarang sekali menunjukkan emosimu, tapi saat bersamanya kau selalu tersenyum. Tidak perlu sebuah penjelasan untuk mengetahui kalau kau menyukai Sakura." jelas Sasori.
Gaara terdiam. Percuma saja dia menyangkal karena Sasori akan dengan mudah membantahnya. Toh untuk apa dia menyangkal kalau pada kenyataannya apa yang dikatakan Sasori adalah benar adanya.
"Aku akan menyerahkan Sakura padamu. Sebagai gantinya kau harus menjaganya. Kau harus selalu melindunginya."
"Sakura bukan barang yang bisa dengan gampangnya kau berikan pada orang lain."
"Aku memintamu untuk menjaganya. Apa itu begitu sulit?" manik hazel Sasori menatap intens jade milik Gaara. Sorot mata yang menyiratkan rasa sakit. Gaara melihatnya dalam mata itu.
"Kau mencintainya." kata Gaara.
"..."
"Kau memang mencintainya."
"..."
"Kenapa kau—"
"Tidak akan ada artinya jika suatu saat nanti aku tetap meninggalkannya."
Deg
Entah mengapa hati Gaara terasa sesak saat Sasori mengatakan kalimat itu.
"Kau tahu kan kalau dari kecil aku punya kelainan jantung. Aku divonis tidak akan hidup lebih dari 20 tahun." kata Sasori. "Menurutmu apa yang bisa diberikan oleh seseorang yang akan meninggal kepada gadis yang dicintainya?" ada nada putus asa saat Sasori bertanya hal tersebut.
"Rasa cintaku hanya akan membuatnya sengsara. Bagaimana perasaan Sakura nanti jika aku sudah sampai pada batasku? Aku sudah tahu bagaimana rasanya ditinggalkan saat Chichi ue meninggal dulu. Aku tidak mau Sakura mengalami hal yang sama. Karena itu, sebelum perasaannya padaku semakin besar, aku harus menghentikannya." terang Sasori. Dadanya terasa sesak karena menahan air mata yang memaksa untuk keluar.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku adalah orang yang akan meninggalkan. Rasa sakitku tidak akan bertahan lama."
"Tapi Sakura hanya menyukaimu."
"Karena itu buatlah dia menyukaimu. Aku akan pindah ke Ame, dengan begitu aku bisa memberikan Sakura waktu agar dia bisa melupakanku."
"Aku tidak bisa berjanji untuk hal itu."
"Paling tidak cobalah. Meski pada akhirnya perasaannya tidak berubah, setidaknya hatinya tidak merasa sakit."
"..."
"Anggap saja ini permintaan terakhirku. Dan tolong jangan mengatakan apa-apa pada Sakura tentang pembicaraan kita ini, juga tentang penyakitku." Sasori tersenyum, meski begitu Gaara tahu kalau hatinya menangis.
Sasori berjalan mendekati sepupunya itu. Dia menepuk pundak Gaara sebelum beranjak dari sana. Meninggalkan Gaara yang masih termenung sendirian di ruang kelas yang sunyi. Karena memang jam pulang sekolah sudah selesai dari beberapa jam yang lalu.
Flashback off
Gaara menghirup udara dalam-dalam kemudian menghembuskannya. Ia lakukan berkali-kali untuk meredam rasa sesak dalam hatinya.
Dia memang memenuhi permintaan Sasori untuk selalu menjaga dan melindungi gadis itu. Setidaknya dia selalu berusaha selama ini. Tapi untuk membuat Sakura menyukainya, tidak bisa dia lakukan. Pada akhirnya dia justru tidak bisa mendekati gadis itu. Dia telah mengetahui masa lalunya, itu membuatnya sulit untuk mendekatinya. Bahkan sekedar menunjukkan perasaannya saja dia tidak bisa, bagaimana mungkin dia bisa membuat Sakura menyukainya. Sakura sudah terlanjur menganggap Gaara sebagai sahabatnya dan sebagai sepupu dari orang yang dicintainya.
Gaara kembali menghela napas. Dia mengerling pada rumput liar yang ada di sebelah kakinya, kemudian mencabutnya. Dia lempar asal rumput yang ada dalam genggamannya itu ke arah depan.
"Sepertinya kebiasaanku menular." suara merdu itu membuyarkan lamunan Gaara. Di hadapannya kini telah berdiri sosok gadis yang sedari tadi ada di pikirannya.
Sakura tersenyum kemudian berjalan mendekati Gaara. Dia menyilangkan kakinya untuk duduk di sisi pemuda merah itu.
"Di sini sejuk sekali ya." komentar gadis itu sambil mengerling pohon yang kini ia gunakan sebagai sandaran. Sementara Gaara hanya tersenyum menanggapi komentar Sakura.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya gadis itu.
Gaara menoleh pada gadis yang kini tengah memandang ke arah lapangan sepak bola. Rupanya hari yang lumayan terik tak menyurutkan gerombolan anak-anak lelaki untuk terus bermain bola.
"Tidak ada." jawab pemuda itu.
"Kau bohong." cetus Sakura. "Seorang Gaara yang tidak pernah melamun sekarang tertangkap basah sedang termenung di bawah pohon. Pasti ada yang mengganggu pikiranmu." lanjutnya.
Gaara mendengus. Tidak menyangkal maupun mengiyakan.
"Kau tidak bilang padaku kalau Sasori datang ke Konoha." alih-alih mendesak Gaara untuk berbicara Sakura malah mengalihkan topik pembicaraan. Bukan karena topik Sasori lebih penting, hanya saja Gaara memiliki hak apabila dia tidak ingin bercerita dan Sakura menghargai itu.
"Aku juga baru tahu kemarin saat dia tiba-tiba datang ke rumah dengan suara ributnya itu." jelas Gaara. Sakura terkekeh. Rupanya Sasori memang tidak berubah. Tetap ceria seperti dulu.
"Jadi selama di Konoha dia akan tinggal di rumahmu?"
"Begitulah. Dia bahkan mengancam akan mengganggu ketenangan hidupku selama dia di sini. Dasar anak itu." gerutu Gaara, membuat Sakura kembali terkikik. Dan rupanya hubungan dua saudara itu tetap sama seperti dulu. Selalu bertengkar.
"Kalian masih sama seperti dulu." komentar gadis itu.
"Ya, dan aku merasa lega." sahut Gaara. Sakura mengalihkan pandangan dari lapangan untuk menatap pemuda di sebelahnya.
"Kupikir hubunganku dengannya akan menjadi canggung, karena setelah pindah ke Ame dia tidak pernah sekalipun menghubungiku. Tapi aku benar-benar lega karena sikapnya padaku tetap sama." lanjut pemuda itu.
Jeda sesaat diantara mereka sebelum akhirnya Sakura kembali mengalihkan pandangan ke arah lapangan.
"Menurutmu kenapa dia datang kemari?" tanya Sakur tanpa mengalihkan pandangan.
"Menurutmu kenapa?" Gaara malah membalikkan pertanyaan pada Sakura.
"Untuk mengucapkan selamat tinggal mungkin." jawab Sakura asal. Memang, esoknya setelah percakapan Sasori dan Gaara saat itu, pemuda berwajah imut tersebut benar-benar pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Tidak pada Sakura, tidak juga pada Gaara.
Sakura sendiri baru mengetahui kalau Sasori pindah sekolah setelah dia bertanya pada Kakashi karena pemuda itu tidak masuk selama tiga hari. Saat itu Sakura benar-benar tak percaya. Bagaimana mungkin setelah mendengar kalimat menyakitkan yang terlontar dari mulut Sasori, pemuda itu kemudian pindah sekolah.
"Bagaimana jika ternyata dia ingin mengejar cintanya?" pertanyaan Gaara itu berhasil membuat alis Sakura bertaut. Dia memandang sahabatnya itu dengan pandangan tak mengerti.
"Apa maksudmu Gaara-kun?"
Gaara hanya menghela napas sebagai tanggapannya atas pertanyaan Sakura.
"Sudah hampir bel masuk. Sebaiknya kita segera kembali ke kelas." ucap Gaara mengalihkan perhatian. Pemuda bertato 'ai' tersebut bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju gedung sekolah. Sementara Sakura yang masih bingung dengan ucapan Gaara hanya dapat mengangkat bahu kemudian segera berlari menyusul pemuda itu.
.
.
.
.
Jari yang lincah itu menari-nari di atas sebuah benda putih dalam pangkuannya. Sesekali pandangan matanya teralih pada sebuah objek di depannya untuk kemudian kembali lagi pada sebuah buku yang kini telah penuh dengan coretan-coretan.
Bukan sekedar coretan asal. Jika diperhatikan maka coretan itu akan membentuk suatu objek yaitu manusia berambut panjang yang diikat ekor kuda tengah duduk melamun di sebuah bangku panjang di antara hamparan bunga di belakangnya. Coretan itu memang tak memiliki warna, karena memang hanya sebuah gambar sketsa. Namun siapapun yang melihat sketsa itu pasti akan tahu siapa objek dalam gambar tersebut.
Sai tersenyum melihat hasil karyanya. Ia tutup buku sketsa miliknya dan kini pandangannya beralih pada seorang gadis berambut pirang yang tengah melamun. Tadi saat akan ke ruang seni dia melihat Ino tengah duduk sendiri di bangku dekat taman bunga yang sering ia datangi. Pemuda itu mengurungkan niatnya ke ruang seni dan memilih untuk menghampiri gadis itu. Namun kembali niatnya ia urungkan saat tahu ternyata Ino tengah melamun. Gadis yang selalu ceria dan penuh semangat itu tengah melamun, begitu pikir Sai. Akhirnya dia memilih duduk di sini dan mengamati gadis itu dari jauh.
"Bodohnya aku." gumam pemuda bermuka pucat tersebut saat menyadari apa yang tengah ia lakukan.
Dia tak mengerti apa yang terjadi padanya. Akhir-akhir ini dia jadi sering memperhatikan gadis itu. Diam-diam mengamatinya dari jauh seperti ini. Dan jangan lupakan, bahwa dia juga diam-diam mengikuti gadis itu saat pulang sekolah. Memastikan gadis itu selamat sampai tujuan, eh?
"Haaahh..." Sai menghela napas. "Aku benar-benar seperti penguntit sekarang." gumamnya. Dia tersenyum mengingat tingkah konyolnya sendiri. Meski begitu, entah kenapa dia menyukainya.
Seseorang menghampiri Ino. Gadis berambut sewarna dengan bunga khas Jepang. Sekilas dia tersenyum sebelum akhirnya duduk di sebelah Ino, dan kini mereka seperti terlibat perbincangan. Entah apa yang tengah mereka obrolkan karena posisi Sai saat ini jauh dari tempat mereka untuk bisa mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan.
"Ayolah Hinata-chan, aku masih lapar. Berikan sedikit bentomu padaku." sebuah suara cempreng dari arah lain mengganggu indra pendengaran Sai. Pemuda bermata gelap itu menoleh pada dua orang muda-mudi yang tengah berjalan. Tampak seorang pemuda berambut pirang dengan kumis kucing di kedua sisi wajahnya tengah berusaha mengejar seorang gadis berambut indigo.
"Kau kan baru saja menghabiskan bento yang kuberikan padamu Naruto-kun. Aku tidak akan memberimu bentoku." ucap gadis itu kesal. Tanpa mempedulikan pemuda yang kini tengah merajuk itu dia terus saja berjalan.
Sai mengamati kedua orang itu. Dulu, dia akan dengan senang hati mengejar mereka—tepatnya gadis yang dipanggil Hinata tersebut kemudian mengikuti kemanapun mereka pergi. Namun saat ini hal itu tak lagi menarik baginya. Entahlah, sekarang dia lebih tertarik pada hal lain.
Sai kembali mengalihkan pandangan dari dua orang yang kini mulai berjalan menjauh. Suara ribut Naruto pun mulai terdengar samar di telinganya. Dia kembali memperhatikan Ino yang tengah mengobrol dengan sahabat merah mudanya.
"Rupanya gadis Hyuuga itu tak lagi menarik perhatianmu ya." kini suara baritone yang mengganggu pendengarannya. Sekali lagi Sai mengalihkan pandangan dari Ino ke sumber suara. Terlihat seorang pemuda berhelaian raven dengan emo style tengah bersender pada tiang koridor sambil melipat kedua tangannya di dada. Sai mendengus. Kenapa disaat seperti ini dia harus bertemu dengan si Uchiha manja ini.
"Apa sekarang kau menyukai Ino?" sindir Sasuke. Sai tersenyum sinis.
"Bagaimana denganmu?" Sai membalikkan pertanyaan. "Kau juga menyukainya kan." Sai memajukan dagunya menunjuk ke arah Ino. Tapi Sasuke tahu, bukan Ino yang dimaksud, melainkan gadis yang duduk di sebelahnya.
"Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu." ketus Sasuke. Membuat Sai kembali mendenguskan tawa sinisnya.
"Berhati-hatilah Uchiha-san. Rivalmu kali ini sepertinya cukup merepotkan." cetus Sai.
Sasuke menggertakkan giginya. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Kau tahu betul apa maksudku." utar Sai. "Mungkin Gaara bukanlah masalah bagimu karena Sakura hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tapi bagaimana dengan Sasori? Kudengar dari Ino kalau Sasori adalah cinta pertama Sakura. Kau tahu kan kalau cinta pertama itu paling sulit untuk dilupakan. Bagaimana jika ternyata alasan Sasori kembali adalah untuk mengambil Sakura darimu? Sakura bisa saja lebih memilih dia mengingat kau dan Sakura tidak terikat hubungan apapun."
Skakmat untuk Sasuke. Dia hanya mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku tangannya memutih serta mengertakkan giginya membuat rahangnya kian mengeras. Tak mampu membalas perkataan Sai, mengingat semua kemungkinan itu bisa saja terjadi. Saat ini hatinya diliputi perasaan takut. Bagaimana jika Sakura-nya benar-benar diambil oleh boneka merah itu?
"Kusarankan kau untuk bertindak cepat Uchiha. Jika tidak Sakura mungkin akan benar-benar diambil olehnya." Sai kembali berkata sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sasuke yang kini tengah mematung. Seringai tipis menghiasi wajah pucat pemuda itu.
Memang hal yang sangat menyenangkan menggoda Uchiha manja itu. Pemuda itu begitu mudah terpengaruh jika berhubungan dengan Sakura. Rupanya membuat sang pangeran manja kesal adalah hiburan tersendiri untukmu ya Sai.
.
.
Ino tengah melamun saat ada yang memanggil namanya. Dia menoleh dan mendapati sahabatnya tengah tersenyum untuk kemudian mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
"Kau sedang apa Ino?" tanya gadis itu.
"Tidak ada. Hanya sedang berpikir saja." jawab Ino asal.
"Wah, tumben sekali kau berpikir Ino." kini sahabatnya itu meledeknya.
"Jangan coba-coba menantangku berkelahi ya Jidat." ancamnya, meski sebenarnya ancamannya lebih terdengar seperti gurauan. Sahabatnya itu terkekeh.
"Sepertinya kedatangan Sasori mempengaruhi semua orang ya." cetus gadis itu. Ino mengernyit memandang sang sahabat.
"Apa maksudmu dengan semua orang?" tanyanya tak mengerti.
"Kemarin aku mendapati Gaara-kun juga tengah melamun sepertimu Ino. Dia memang tidak mau mengatakannya, tapi aku rasa dia juga sedang memikirkan Sasori." jawabnya.
"Lalu kenapa kau berpikir aku juga sedang memikirkan hal yang sama, Sakura?"
"Entahlah. Sebenarnya aku juga hanya menebak. Hehe..." gadis itu menyeringai tanpa dosa. Ino tersenyum melihat sahabat merah mudanya itu.
"Dan tebakanmu benar." aku Ino. "Tapi aku tidak tahu menahu soal Gaara." tambahnya.
"Aku heran. Kenapa kalian harus memikirkan Sasori?" tanya Sakura.
"Memangnya kau tidak?" Ino membalikkan pertanyaan.
"Tentu saja aku memikirkannya. Bagaimana bisa aku tidak kepikiran." aku Sakura.
"Wah, tidak kusangka kau akan berkata jujur begitu." komentar Ino.
Sakura cemberut, "Tidak ada gunanya juga aku menutupinya. Kau sudah tahu semuanya." sela gadis itu. Ino tersenyum mengerti.
Ino tahu betul bagaimana perasaan Sakura pada Sasori. Bagaimana awalnya dia yang begitu kesal pada pemuda itu karena selalu mengikutinya kemana pun dia pergi. Lalu bagaimana Sakura yang mulai menyukai pemuda itu karena Sasori selalu bersikap baik dan sopan padanya. Lalu dia juga teringat saat Sakura yang tiba-tiba datang padanya sambil menangis tersedu-sedu setelah mendengar ucapan Sasori, padahal sebelumnya Sakura berniat mengutarakan perasaannya pada pemuda itu.
Flashback on
"Aku akan menyatakan perasaanku pada Sasori Ino." dengan wajah berseri-seri Sakura berkata pada Ino.
Ino tersenyum. "Jika menurutmu itu yang terbaik maka lakukanlah Sakura."
"Tapi aku sangat gugup." kini ketakutan menggelayut di wajah Sakura. Ino meletakkan kedua tangannya pada bahu sahabatnya itu seraya tersenyum.
"Tenanglah Sakura. Aku akan mendukungmu." dia memberi semangat. Sakura pun tersenyum kemudian meninggalkan Ino yang kini berdoa dalam hati untuknya.
Namun rupanya doa Ino tak terkabul karena tak berapa lama kemudian Sakura kembali dengan berurai air mata dan serta merta menubruknya lalu memeluk erat dirinya.
"Ada apa Sakura?" tanya Ino tak mengerti.
"Dia tidak menyukaiku Ino. Dia tidak menyukaiku." ungkap Sakura disela tangisnya. Lidah Ino terasa kelu. Bingung dan juga terkejut. Tak percaya bahwa Sasori akan menolak Sakura.
"Dia menolakmu?" tanya Ino meyakinkan.
"Aku bahkan belum mengatakan padanya Ino." jawab Sakura masih menangis tanpa melepas pelukannya. Ino mengernyit bingung. Jika Sakura saja belum menyatakan perasaannya, lalu bagaimana gadis itu tahu bahwa Sasori tidak menyukainya?
"Tadi aku tidak sengaja mendengar percakapannya bersama Gaara, dia bilang pada Gaara kalau dia hanya menganggapku sebagai adik. Tidak lebih." lanjut Sakura menjawab pertanyaan dalam kepala Ino.
Saat ini tidak ada yang bisa dilakukan gadis pirang itu selain mengelus serta menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. Berusaha menenangkannya. Dia sedih? Tentu saja. Sahabatnya sedang patah hati. Dia ingin menangis? Tentu saja. Tapi hal itu ditahannya dengan sekuat tenaga. Jika dia juga menangis, maka Sakura akan semakin sedih.
Flashback off
"Ino." panggil Sakura. Ino memusatkan perhatiannya kembali pada Sakura. "Kau melamun lagi." katanya. Ino tersenyum.
"Sakura..." panggil Ino kembali serius.
"Hm?" gumam Sakura.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ino. Ragu-ragu dia melirik pada gadis yang kini tengah memandang lurus ke depan itu.
"Entahlah Ino." jujur Sakura. Dia memberi jeda pada kalimatnya. "Tapi kau tahu kan kalau aku akan selalu baik-baik saja." sambungnya.
"Ya. Karena kau adalah Haruno Sakura." timpal Ino.
"Benar. Karena aku adalah Haruno Sakura." bangga Sakura sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri. Ino hanya tertawa menyaksikan tingkah sahabatnya itu.
Ya. Dia percaya kalau Sakura akan baik-baik saja. Sakura bukanlah gadis yang cengeng. Bahkan Ino jarang sekali melihat gadis itu menangis. Sakura adalah tipe orang yang akan melakukan yang terbaik meski hasilnya tidak sesuai dengan harapannya. Dan Sakura adalah orang yang tidak pernah menyesali apa yang pernah terjadi dalam hidupnya, meski itu adalah hal yang menyakitkan sekalipun.
.
.
.
.
"Sebenarnya apa alasanmu ke Konoha Sasori?" Gaara melontarkan pertanyaan frontalnya pada pemuda berwajah bayi di hadapannya.
Sasori memandang Gaara sebelum menjawab. "Karena kau tidak melakukan tugasmu dengan baik." katanya.
"Apa maksudmu?" Gaara mengernyit bingung.
"Aku memintamu untuk menjaganya kan."
"Aku selalu menjaganya, asal kau tahu." jawab Gaara kesal.
"Aku juga memintamu untuk membuatnya menyukaimu."
"Aku tidak pernah berjanji untuk yang satu itu."
Sasori melemparkan pandangan sinis pada Gaara.
"Aku memberimu kesempatan, tapi kau malah memberikannya pada orang lain."
"Kau yang membuatku tak bisa mendekatinya Sasori." geram Gaara. "Lagipula Sakura mempunyai hak untuk menyukai siapapun." timpalnya.
Gaara memandang Sasori yang kini terdiam. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Sasori." utarnya.
Sasori mendengus, "Aku pun tidak mengerti dengan diriku Gaara." dia tersenyum pahit kemudian berjalan keluar rumah.
"Mau kemana kau?" tanya Gaara.
"Tenang saja, aku tidak akan bunuh diri. Aku hanya ingin mengunjungi seseorang." kemudian Sasori menghilang di balik pintu.
.
.
.
"Terima kasih karena mau memberiku kesempatan Chouza Ji-san." Sakura membungkuk sekali lagi pada pria gempal di hadapannya. Dalam posisinya yang masih membungkuk, dia menelengkan kepalanya melirik pria yang berdiri tenang di sebelahnya. Dengan sebal Sakura memukul punggung pria itu.
Buagh
"Aww...sakit Sakura." protes pria itu. Masih dengan posisinya yang membungkuk dia memandang pria itu seolah mengucapkan 'cepat-membungkuk-juga'. Mengerti maksud Sakura, pria itu segera membungkuk.
"Terima kasih banyak Chouza-san. Saya berjanji akan bekerja dengan baik." katanya.
"Tidak perlu berterima kasih begitu." pria gempal itu menepuk-nepuk punggung Sakura dan pria di sebelahnya, menyuruh mereka untuk berdiri.
"Kau tahu Sakura, aku selalu diliputi perasaan bersalah semenjak aku memecatmu. Karena itu aku senang sekali saat kau datang kemari." sambungnya.
"Itu bukan salah anda Ji-san. Wajar jika anda memecatku karena sebagai pegawai aku melalaikan tugasku." timpal Sakura.
"Memang, tapi seharusnya aku juga mengerti keadaanmu yang bekerja di banyak tempat. Aku benar-benar menyesal jika mengingatnya."
"Jangan bicara begitu Ji-san. Bagaimanapun aku senang sekali karena Ji-san mau memberiku kesempatan lagi."
"Tidak masalah Sakura."
"Sekali lagi terima kasih Ji-san. Untuk kali ini tidak akan ada lagi keterlambatan bekerja. Jika dia terlambat atau malas bekerja, pukul saja pakai penggiling adonan milikmu itu." utar Sakura yang dibalas cibiran oleh orang yang dimaksud.
"Ahaha...aku mengerti." utar Chouza. "Ayo ikut aku. Akan kuberitahu apa saja yang harus kau lakukan." pria gempal itu kemudian masuk ke dalam caffe-nya.
"Tou-chan..." panggil Sakura saat pria itu hendak mengikuti Chouza.
"Ada apa Sakura?"
"Tou-chan harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku tidak mau mengecewakan Chouza Ji-san, dia sudah banyak membantuku selama ini Tou-chan."
"Kau tidak perlu khawatir putriku." Kizashi mengelus pipi Sakura. "Aku sudah melakukan banyak kesalahan. Jadi kali ini aku akan menebusnya." Sakura lega mendengar penjelasan dari ayahnya. Dia tersenyum pada pria yang wajahnya kini tampak lebih segar dibandingkan beberapa waktu lalu saat dia bertemu dengannya. Sepertinya selama ini ayahnya tidak hidup dengan baik, sehingga membuat wajahnya tampak cekung dan terlihat lebih tua dari usianya.
"Oh iya, sebelum kau pulang ke rumah si Uchiha itu, bisakah kau mampir ke apartement?" tanya Kizashi. "Aku tadi membuat sup miso. Kupikir aku bisa memakannya bersamamu, tapi ternyata kau malah minta bertemu di sini. Aku ingin kau makan dulu sebelum kembali ke rumah Fugaku. Mungkin sudah agak dingin, kau bisa mengahangatkannya terlebih dahulu."
Sekali lagi Sakura tersenyum. "Baiklah. Tapi jangan salahkan jika aku menghabiskannya ya." guraunya.
"Ahaha...habiskan saja jika kau mau Sakura. Kau tahu kan sup miso buatanku ini tidak kalah enaknya dengan buatan ibumu." ujar Kizashi berbangga diri. Sakura terkekeh.
"Baiklah, aku pergi dulu Tou-chan." pamitnya. Sakura membalikkan badan hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat dirinya teringat akan sesuatu.
"Tou-chan..." panggilnya. Kizashi yang sudah akan masuk kembali membalikkan badan.
"Ada apa Sakura?"
"Apa dia baik-baik saja? Tou-chan masih sering bertemu dengannya? Dimana dia tinggal?" tanya Sakura beruntun. Kizashi yang mengerti siapa yang dimaksud, kemudian menjawab.
"Karura baik-baik saja. Aku masih sering bertemu dengannya. Dia bilang dia menyewa sebuah apartement."
"Tou-chan tahu dimana apartementnya? Bisakah Tou-chan memberitahuku?"
"Ya. Nanti akan kuberikan alamatnya padamu."
"Terima kasih Tou-chan." Sakura segera memeluk ayahnya itu. Dengan begitu setidaknya dia bisa sedikit membantu Gaara supaya dia bisa bertemu dengan ibunya. Dia ingin agar sahabatnya itu bisa kembali rukun dengan sang ibunda.
"Sudah. Sudah. Aku harus bekerja. Kau juga pergilah, jangan sampai kau membuat pacarmu itu khawatir karena pulang terlambat." usir Kizashi setelah melepaskan pelukan Sakura. Sakura cemberut.
"Dia bukan pacarku Tou-chan." sangkalnya.
"Benarkah?" tanya Kizashi. "Sayang sekali, padahal aku sudah mulai menyukainya." timpalnya.
Memang, beberapa kali Sakura mengajak Sasuke ke apartementnya untuk mengunjungi Kizashi, itupun karena Sasuke yang memaksa karena mengira Sakura akan bertemu dengan laki-laki—memang benar laki-laki, hanya saja tidak seperti yang Sasuke bayangkan. Awalnya Kizashi kurang begitu suka dengan Sasuke karena menurutnya pemuda itu tidak punya sopan santun kepada orang tua, bahkan tak jarang mereka sering adu mulut karena berbeda pendapat.
Namun ternyata pemuda itu memiliki hoby main catur sama seperti dirinya, dan setiap kali Sasuke ikut mengunjungi Kizashi maka pemuda itu akan menghabiskan waktu bermain catur dengannya. Meski tak jarang permainan mereka berakhir dengan adu mulut karena saling menuduh lawannya curang. Dan Sakura terpaksa melerai mereka karena mereka sangat berisik kalau sudah bertengkar.
"Cepatlah masuk sebelum Chouza Ji-san marah Tou-chan." kata Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Kau benar." ujar sang ayah. "Aku masuk dulu Sakura. Kau hati-hatilah di jalan. Aku menyayangimu." kemudian Kizashi masuk kedalam caffe. Sakura kembali tersenyum.
"Aku juga menyayangimu Tou-chan." serunya, meski tak didengar oleh ayahnya. Sakura membalikkan badan dan berjalan menuju apartementnya.
Sakura bersenandung kecil saat kaki-kai kecilnya menjejaki anak-anak tangga. Dia hanya perlu berbelok untuk sampai pada apartement yang kini ditinggali oleh ayahnya itu.
Sakura mengernyit sembari memelankan langkah saat melihat siluet yang tengah bersandar pada dinding dekat pintu apartementnya. Perlahan-lahan dia menghampiri sosok itu.
"Sasori..." serunya saat mengetahui siapa sosok tersebut. Sasori menoleh dan tersenyum.
"Hai Sakura." sapanya.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Sakura saat telah berada di hadapan pemuda itu.
"Seharusnya kau menyuruhku masuk, bukannya menanyakan apa yang kulakukan." cemberut pemuda berwajah imut tersebut. "Aku sudah menunggumu lama sekali di sini. Kakiku sampai kram tahu." rajuknya.
Sakura hanya mendengus kemudian membuka pintu apartementnya dan mempersilahkan Sasori untuk masuk.
Sasori tersenyum dan tanpa sungkan langsung nyelonong masuk ke dalam seolah rumahnya sendiri. Kebiasaan yang dulu selalu dilakukannya jika datang ke apartement Sakura.
Dia memandang berkeliling, "Waaah...aku benar-benar rindu tempat ini. Sama sekali tidak berubah." komentarnya.
"Duduklah. Akan kubuatkan minum." namun bukannya duduk, Sasori malah mengekor di belakang Sakura. Mengikuti gadis itu ke dapur dan duduk di salah satu kursi yang baru saja ditariknya.
Sakura yang melihat tingkah Sasori itu hanya tersenyum geli kemudian mulai membuatkan minum untuk Sasori. Tak berapa lama kemudian segelas ocha panas telah terhidang di hadapan pemuda itu.
"Apa kau sudah makan?" sembari menghidupkan kompor dihadapannya, Sakura menoleh pada pemuda yang kini tengah menyeruput ocha-nya itu. Sebuah gelengan mewakili jawaban Sasori.
"Mau makan denganku? Otou-chan membuat sup miso. Kalau kau mau kita bisa memakannya bersama." tawar Sakura.
"Otou?" Sasori memandang Sakura penasaran.
"Iya. Otou." jawab Sakura.
"Bukankah ayahmu..." Sasori tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Ceritanya panjang Sasori."
"Telingaku tidak akan menjadi tuli hanya karena mendengar cerita panjangmu itu." cetus Sasori. Sakura tersenyum kemudian mematikan kompor dan mulai menghidangkan makan bagi mereka berdua. Setelahnya dia duduk berhadapan dengan Sasori kemudian mulai bercerita. Sasori lebih banyak diam sambil menyantap makanannya sambil sesekali memberikan tanggapan atau sekedar bertanya.
.
.
.
.
Sakura POV
Sasori melirik jam yang tergantung di dinding. Waktu menunjukkan pukul 9 malam.
"Sudah malam. Aku harus pulang." utarnya kemudian bangkit berdiri. Sedikit tak rela aku ikut berdiri dan mengikutinya yang berjalan menuju pintu.
Sebenarnya aku masih ingin mengobrol dengannya. Sudah hampir dua tahun aku tak bertemu dengannya, aku sangat merindukannya. Tapi mengingat waktu yang begitu terbatas, sepertinya aku harus merelakan Sasori untuk pulang. Lagipula aku juga harus segera kembali ke mansion Uchiha. Jika tidak maka Sasuke akan—
Oh tidak! Sasuke. Aku melupakannya. Padahal aku berjanji kalau aku akan segera pulang setelah mengantar Tou-chan ke tempat kerjanya—karena itu dia mengizinkanku pergi sendiri. Dan sekarang aku sudah sangat terlambat. Pangeran manja itu pasti akan murka.
"Kau yakin tidak mau aku antar, Sakura?" tanya Sasori. Tadi dia sempat menawariku tumpangan tapi kutolak mengingat sifat Sasuke yang pasti mengamuk jika tahu aku pulang bersama laki-laki.
Saat ini aku sedang malas mendengar omelan Sasuke atau dirinya yang merajuk itu. Sebagai lelaki, entah kenapa dia itu senang sekali mengomel dan merajuk. Selalu membuatku kewalahan. Jadi sebaiknya aku cari amannya saja deh.
"Tidak Sasori. Aku bisa pulang sendiri." tolakku.
"Tapi ini sudah malam. Tidak baik perempuan pulang sendirian." bujuk Sasori.
"Hei, selama ini aku selalu pulang sendiri sepulang dari kerja. Apa kau lupa?" aku mengingatkan.
"Memang benar, tapi—"
"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagipula aku tidak mau Sasuke marah jika dia tahu kau mengantarku pulang." aku kembali menolak.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengannya? Kenapa kau begitu khawatir dia akan marah?" pertanyaan dari Sasori itu membuatku tertegun. Kalau ditanya tentang hubungan, hubunganku dengan Sasuke hanyalah sebatas palayan dan majikannya saja. Aku juga tidak mengerti, tapi aku tidak mau Sasuke salah paham jika melihatku bersama dengan Sasori. Entahlah, aku juga bingung. Lagipula kenapa aku begitu memikirkan perasaannya sih?
"Dia juga memandangku seolah-olah aku ini hama yang harus disingkirkan." Sasori berguman dan aku hanya bisa menunduk karena aku juga menyadarinya. Sikap bermusuhan Sasuke padanya.
Entah kenapa aku merasa Sasuke menganggap Sasori sebagai musuh. Tapi kapan sih Sasuke tidak memandang semua orang sebagai musuh? Bahkan Juugo pun dia anggap sebagai musuh. Dasar kekanakan (author: selain wanita, Sasuke akan menganggap lelaki yang mendekatimu sebagai musuh, Sakura).
"Ya suadahlah kalau tidak mau aku antar pulang." akhirnya Sasori menyerah. "Berhati-hatilah Sakura, bagaimanapun kau tetap seorang gadis." aku hanya tersenyum sambil mengangguk saat Sasori mewanti-wantiku.
Aku mengikuti Sasori yang berjalan mendekati motornya yang terparkir tak jauh dari gedung apartement. Motor itu seperti tidak asing.
"Jadi kau merampok motor Gaara?" gurauku. Sasori terkekeh.
"Begitulah. Sepupuku yang menyebalkan itu menolak meminjamkan motornya yang keren ini, jadi terpaksa aku mencurinya. Hahaha..." aku ikut tertawa mendengar gurauan Sasori itu.
"Berhentilah menganggunya Sasori. Kau tidak kasihan padanya?"
"Tidak. Menganggunya adalah hal yang menyenangkan Sakura. Aku tidak bisa menghilangkan kebiasaan itu." dan Sasori kembali tertawa. Aku senang melihatnya tertawa seperti itu.
Sreet
Greep
Eh?
Ada apa ini?
Lengan hangatnya itu kini melingkari tubuhku. Dan aku bisa mencium aroma woody dari tubuhnya. Mendengar detak jantungnya yang berdetak teratur—sangat berbeda dengan detak jantungku yang seolah-olah akan terlepas dari rongganya. Aku pun bisa merasakan deru hangat napasnya di puncak kepalaku.
Lama kami bertahan dalam posisi seperti itu. Tanpa suara. Hanya deru napas kami dan suara detak jantung kami yang menjadi irama dalam heningnya malam yang semakin dingin. Hingga akhirnya Sasori melepas pelukannya padaku, kemudian memandangku yang juga tengah mendongak memandangnya.
Dia tersenyum, "Sampai bertemu lagi Sakura." ucapnya sebelum akhirnya dia menaiki motor dan pergi dari sana. Aku terus menatap kepergian Sasori hingga pemuda itu menghilang ditelan kegelapan malam. Aku tersenyum mengingat kejadian barusan. Hatiku terasa hangat saat mengingat Sasori yang baru saja memelukku.
Aku mengerling jam yang melingkar di tanganku.
"ASTAGA!" pekikku saat melihat ternyata sudah hampir jam 10 malam. Aku segera berlari untuk pulang ke rumah Sasuke. Malam ini sepertinya aku harus meladeni Sasuke yang merajuk semalaman.
.
.
Aku berjalan menuju kamar Sasuke. Hanya untuk memastikan apakah dia sudah tidur atau belum. Setidaknya jika dia sudah tidur hatiku bisa sedikit tenang, tapi jika belum aku harus bersiap-siap menebalkan hati dan telingaku.
Aku membuka pintu kamar Sasuke. Tanpa menghidupkan lampu aku masuk ke dalam kamar itu. Aku tidak ingin cahaya lampu membangunkannya jika ternyata Sasuke sudah tidur. Saat posisiku sudah dekat dengan ranjangnya, keningku berkerut. Pasalnya orang yang aku cari tidak ada di sana, yang artinya Sasuke belum tidur. Aku bermaksud mencari Sasuke di luar. Saat aku berbalik—
"HANTUUU!" pekikku saat melihat sosok hitam tengah berdiri tepat di hadapanku.
"Ini aku." suara berat itu terdengar kesal. Dan membuatku tahu siapa yang tengah berdiri di hadapanku ini.
"Sasuke-kun, kau membuatku takut." protesku. Sejak kapan dia ada di sana? Dan kenapa aku tidak mendengar saat dia masuk?
"Darimana saja kau? Kenapa baru pulang?" seperti yang kuduga. Dia marah.
Aku berjalan menuju tombol lampu dan menekannya, membuat kamar Sasuke kini terang benderang.
"Jika aku bertanya kau harus menjawabnya Pinky." katanya semakin kesal. Tenang Sakura, tenang.
"Kan tadi aku sudah bilang kalau aku mau mengantar ayahku ke tempat kerjanya."
"Dan kau juga bilang kalau kau akan segera pulang setelah mengantar ayahmu." Lanjut Sasuke.
"Iya benar." aku mengiyakan.
"Dan kau pikir sudah jam berapa ini Preman Pinky. Kau bahkan tidak mengangkat telponku ataupun membalas pesanku." geram Sasuke.
"Aku tidak tahu kalau kau menelpon." aku memberi alasan. Tapi aku jujur. Aku benar-benar tidak tahu kalau Sasuke menelpon. Lebih tepatnya aku tidak begitu peduli apakah dia akan menelpon atau tidak. Aku bahkan melupakannya saat sedang bersama Sasori tadi. Maafkan aku Sasuke.
"Kenapa kau baru pulang Sakura?" dia kembali bertanya. Oke. Sekarang aku benar-benar takut. Wajahmu saat ini menakutkan Sasuke.
"Ya sudahlah, yang penting kan sekarang aku sudah pulang." aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku bertanya padamu Preman Pinky." utar Sasuke penuh penekanan. Aku menghela napas.
"Tadi Tou-chan menyuruhku makan sebelum aku pulang. Jadi aku berniat pulang setelah makan. Tapi ternyata Sasori datang—"
Ekspresi Sasuke menegang.
Oh tidak. Aku kelepasan. Kami-sama, tolong aku.
"Sasori?"
"A-ano...etto..." aku gelagapan.
"Jadi kau bersama Sasori seharian ini?" Sasuke kembali menggeram. Aku menelan ludah dengan susah payah. Kami-sama dia benar-benar marah.
"Be-begitulah. Sasori datang ke apartement, tidak mungkin aku mengusirnya kan." dengan gugup aku mencoba menjelaskan.
Kulihat eskpresi Sasuke semakin kesal dan tatapan matanya tampak menakutkan. Kami-sama, aku akan dimakannya.
"Jadi seharian ini kau berduaan dengannya tanpa sepengetahuanku?" aku kembali menelah ludah.
"Ah...itu..."
"Apa saja yang kalian berdua lakukan di sana?" bentaknya.
"Kami hanya mengobrol Sasuke. Tidak melakukan apapun." jelasku. Apa berpelukan termasuk dalam 'melalukan apapun'? (Author: tentu saja, Sakura).
"Kau berduaan dengannya. Tanpa sepengetahuanku." amuknya.
"Dia hanya mengunjungiku, dan kami hanya mengobrol. Kau tidak perlu berlebihan begitu kan." aku jadi kesal karena sikapnya yang kekanakan itu. Lagipula kenapa dia harus marah sih? Aku punya hak bersama siapapun yang aku mau kan.
"Aku sudah pernah bilang, kalau aku tidak suka kau bersama laki-laki lain selain aku. Tapi kau malah berduaan dengannya, itu membuatku kesal." teriak Sasuke semakin murka.
"Ada apa denganmu Sasuke? Sikapmu ini seperti orang yang sedang cemburu."
Blush
Eh?
Apa ini?
Apa aku tidak salah lihat?
Sepertinya tadi aku melihat wajah Sasuke memerah. Apa mungkin...
"Tidak mungkin kau cemburu kan Sasuke?" dengan penasaran aku bertanya.
"..."
"Sasuke, kau—"
"Mana mungkin aku cemburu. Untuk apa aku cemburu pada boneka merah pengganggu itu." sangkalnya. Dan entah mengapa hal itu membuatku kesal dan sedikit kecewa(?)
"Kalau kau memang tidak cemburu, kenapa kau harus marah? Aku bebas melakukan apapun yang kusuka. Aku bebas bertemu dengan Sasori. Aku bebas mengobrol dengannya. Aku juga bebas berpelukan dengan—"
Aura neraka kembali menguar dalam diri Sasuke.
Ups. Aku kelepasan lagi. Kenapa hari ini mulutku ini tidak bisa diatur sih?
"Jadi selain mengobrol kalian juga berpelukan." geram Sasuke. Kulihat tatapan matanya memancarkan kemarahan. Dewa naga telah murka.
"Terserah kau mau melakukan apa. Aku tidak peduli lagi." setelah mengatakan hal itu dia pergi keluar kamar. Aku terlonjak kaget saat mendengar pintu kamar yang dibanding kasar.
Dengan frustasi aku mengusap wajahku dengan kedua tangan. Aku tidak tahu siapa yang salah dalam hal ini. Sasuke bilang dia tidak cemburu, tapi kenapa dia harus marah? Dan apakah aku salah jika aku hanya ingin melepas rinduku pada Sasori yang sudah lama tidak kutemui? Aku dan Sasuke bahkan tidak memiliki hubungan apapun, jadi kenapa kita harus bertengkar seperti ini?
.
.
.
.
Normal POV
Sakura melirik pemuda di sebelahnya yang dengan tenang manyantap sarapannya. Dia menghela napas frustasi. Tampak seorang lagi yang tengah memandang heran pada dua sosok yang sedari tadi dalam kebisuan itu. Heran karena tidak biasanya dua makhluk tersebut akan saling diam satu sama lain. Apalagi pemuda yang duduk di seberangnya itu. Wajahnya tampak datar tanpa ekspresi, bahkan seperti tak menganggap kalau sebenarnya ada orang di sekitarnya.
Sementara gadis merah muda yang duduk di sebelahnya hanya menghela napas dari tadi menghadapi sikap acuh dari sang pemuda. Bukannya dia mendiamkan pemuda itu, justru kebalikannya. Entah sudah berapa kata atau bahkan kalimat—yang mungkin jika dirangkai akan membentuk sebuah paragraf terlontar dari bibirnya, namun tak ada tanggapan dari pemuda tersebut. Seolah-olah celotehannya itu hanyalah angin lalu bagi si pemuda.
Sakura akhirnya menyerah karena sedari tadi tidak mendapat tanggapan dan dia memilih untuk diam sambil sesekali melirik pemuda raven yang masih dengan santainya—tanpa merasa terganggu sedikitpun menyantap sarapannya.
Fugaku memandang Sakura yang kebetulan juga sedang menoleh padanya. Dia menggerak-gerakkan tangan dan kepalanya melontarkan pertanyaan 'dia-kenapa' pada Sakura. Sakura pun menggerak-gerakkan tangannya memberi jawaban 'Sasuke-marah-padaku' pada Fugaku. Fugaku kembali menggerak-gerakkan tangan 'marah-kenapa', tanyanya. Dan dijawab lagi oleh Sakura—dengan gerakan tangan 'karena aku bertemu dengan seorang teman'.
Fugaku mengernyit bingung, kemudian kembali menggerakkan tangannya, 'aku-tidak-mengerti', katanya dengan bahasa isyarat. Dan kembali dijawab dengan bahasa isyarat oleh Sakura 'aku-pun-tak mengerti-Fugaku-sama'.
Bruaak
Sakura dan Fugaku terlonjak kaget saat tiba-tiba Sasuke meletakkan sendok ke atas meja dengan kasar. Otomatis kegiatan mereka yang sedang berbicara-dengan-bahasa-asyarat pun terhenti dan serta merta mereka memandang pemuda itu.
Sasuke berdiri dari duduknya kemudian pergi meninggalkan Fugaku yang sedang terbatuk-batuk menutupi keterkejutannya dan Sakura yang mengerjap-erjapkan mata mehanan takut.
Setelah Sasuke menghilang mereka menghela napas, seperti baru saja terbebas dari kematian.
"Kupikir sedetik lalu aku akan terkena serangan jantung." gumam Fugaku.
Sakura tersenyum kecut. Namun kemudian raut wajahnya berubah sendu dan Fugaku menyadarinya. Dia sudah menyangka kalau mereka sedang bertengkar saat tadi melihat Sasuke yang datang ke ruang makan dengan wajahnya yang masam. Ditambah lagi dia yang mendiamkan Sakura sedemikian rupa pahadal sedari tadi gadis itu terus mengajaknya bicara. Kebiasaan Sasuke dari dulu jika dia sedang marah.
Fugaku menghela napas. Sulit dipercaya kalau Sasuke marah pada Sakura. Sebenarnya dia sangat penasaran dengan penyebab marahnya Sasuke, tapi sebagai orang tua dia tidak ingin terlalu ikut campur. Biarlah mereka yang menyelesaikannya sendiri. Toh mereka bukan lagi anak-anak—yah meskipun sikap Sasuke bisa dibilang kekanakan.
"Bicaralah baik-baik padanya. Dia pasti akan mengerti." utar Fugaku menyadarkan Sakura dari lamunannya. Sakura tersenyum menanggapi. Fugaku kemudian bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Sakura.
Sakura kembali menghela napas, entah yang keberapa kalinya dalam kurun waktu kurang dari satu jam ini. Dia kembali teringat pada kejadian semalam. Penyebab marahnya Sasuke padanya.
Dia pikir kemarahan Sasuke akan mereda pagi harinya, tapi ternyata dia salah. Sasuke bahkan mendiamkannya. Semalaman Sakura menunggu Sasuke di kamarnya, namun pemuda itu tidak kembali sampai pagi menjelang. Saat Sakura ingin membangunkan pemuda itu, ternyata Sasuke sudah ada di ruang makan bersama Fugaku.
Dia bahkan tidak menganggap gadis itu ada saat Sakura menyapanya. Ini lebih buruk daripada Sasuke yang meledak-ledak melampiaskan kemarahannya. Sakura lebih suka Sasuke yang marah-marah daripada Sasuke yang mengacuhkannya seperti ini.
Sakura mengisi paru-parunya dengan udara kemudian menghembuskannya. Dengan langkah gontai dia berdiri dari kursinya dan segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Hari ini pun sepertinya dia harus rela berkejar-kejaran dengan Kakashi-sensei.
.
.
.
.
"Ino." sebuah suara berat mengalihkan Ino dari bunganya. Saphire-nya menatap tak percaya pada objek di hadapannya. Pasalnya tidak biasanya pemuda yang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya dalam kantong celana seragamnya itu mendatanginya. Pasti ada hal yang penting.
"Tidak biasanya kau mendatangiku seperti ini Sasuke." komentarnya, namun bukan Sasuke jika mau repot-repot menanggapi ucapan Ino.
"Kalau kau mencari Sakura, dia ada gedung olahraga. Kakashi-sensei menghukumnya membereskan peralatan yang tadi dipakai." jelas Ino tanpa diminta. Dia tahu kalau Sasuke dan Sakura sedang bertengkar—tentu saja Sakura yang bercerita padanya.
"Tidak. Aku mencarimu." Sasuke menyanggah.
Ino mengernyit. "Mencariku?" tanyanya. "Ada perlu apa kau mencariku?"
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu." kerutan di dahi Ino semakin dalam.
"Apa ada hubungannya dengan Sasori?" tebak Ino. Namun Sasuke tidak menjawab, dan itu dianggap sebagai 'iya' oleh Ino.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Ino kembali bertanya.
Sejenak Sasuke menatap Ino sebelum membuka suara.
"Bagaimana hubungan Sakura dengan si boneka berjalan itu sebelum dia pindah sekolah? Kenapa aku tidak pernah tahu kalau ada murid sepertinya di sekolah ini?"
"Tapi aku tahu kalau ada orang sepertimu di sekolah ini. Orang-orang seperti kami selalu tahu tentang keberadaan kalian."
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke tidak mengerti. Dia merasa Ino seperti sedang menyindirnya.
"Kau dan teman-teman kayamu itu memang tidak akan pernah menyadari kami yang dari kalangan menengah ini. Tapi kami sangat menyadari keberadaan kalian."
"Apa kau sedang menyindirku dengan kelompok sosialku?" sinis Sasuke merasa tak terima.
Memang, di sekolah ini terdapat penggolongan mengenai kelas-kelas sosial. Mereka yang dari kalangan konglomerat dan berotak pintar memiliki kelas khusus. Sementara mereka dari kalangan menengah ke bawah akan menghuni kelas biasa. Meski dalam bergaul mereka dibebaskan untuk membaur, tapi kebanyakan murid-murid kelas elit lebih memilih bergaul dengan kaumnya.
Dan untuk Sasuke, bukannya dia tidak mau bergaul dengan orang-orang yang menurut Ino kelas bawah itu. Dia mempunyai kesulitan dalam bergaul. Dia sulit berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, dia hanya dekat dengan Naruto dan Hinata—itupun karena dia sudah mengenal Naruto itu dari SMP, dan untuk Hinata karena gadis itu menyukai si kuning tersebut.
"Aku tidak bermaksud menyindirmu. Maaf kalau kau tersinggung." sesal Ino. Dia hanya merasa terpancing mendengar perkataan Sasuke tadi. Salahkan dirinya yang begitu blak-blakan.
"Aku mencarimu bukan untuk membahas tentang status sosialku. Aku ingin tahu seberapa dekat Sakura dengan Sasori sebelum boneka merah itu pindah sekolah." Sasuke jadi hilang kesabaran.
"Dan kenapa kau ingin tahu?" inilah Ino. Selalu berusaha memancing reaksi orang dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Kau mulai membuatku kesal Ino." sembur Sasuke tak sabar.
"Oke. Oke." merasa aura neraka menguar dari tubuh Sasuke akhirnya Ino memilih menyerah.
"Kalau kau bertanya seberapa dekatnya mereka, aku akan menjawab mereka sangat dekat." Ino mulai bercerita. Dia tidak sadar kalau pernyataannya barusan membuat pamuda emo di hadapannya itu menengang dengan tangan terkepal dan rahang yang mengeras.
Dan untuk selanjutnya mengalirlah cerita Ino yang mengisahkan antara Sakura dan Sasori. Sebisa mungkin Sasuke menahan gejolak dalam hatinya untuk tidak mengamuk dan mencabuti semua bunga-bunga yang ada di taman ini.
.
.
.
.
Sakura mengikat ekor kuda rambut merah mudanya. Dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru yang ia gulung hingga siku dan tiga kancing atasnya yang ia buka—memperlihatkan tanktop berwarna putihnya dan dipadu dengan celana jeans panjang, benar-benar mencerminkan dirinya. Sasori mengajaknya keluar untuk jalan-jalan. Tentu dengan senang hati dia menerimanya. Lagipula ini kan bukan kencan. Sasori mengajaknya pergi untuk mengisi liburannya di Konoha.
Sekali lagi Sakura mematut diri di depan cermin sebelum akhirnya keluar kamar untuk segera bergegas menemui Sasori di tempat janjian mereka. Suasana hatinya masih baik-baik saja sampai sebuah lengan kekar mencengkeram pergelangan tangannya.
"Mau kemana kau?" tanya pemuda yang masih mencengkeram erat tangannya. Obsidiannya memandang penuh selidik pada Sakura.
"Kau tidak marah lagi padaku Sasuke-kun?" seingat Sakura, pemuda itu masih mendiamkannya sampai beberapa dekit yang lalu.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Sakura." dengan nada marah Sasuke menimpali.
"Aa...Sasori mengajakku keluar, jadi—"
"Jadi kau akan berkencan dengannya?"
"Dia hanya mengajakku jalan-jalan. Kami tidak berkencan." bantah Sakura.
"Itu sama saja." sela Sasuke tak mau tahu. "Kau tidak boleh pergi." perintahnya. Membuat Sakura mengernyit bingung.
"Aku sudah janji padanya kalau aku akan datang."
"Pokoknya kau tidak boleh pergi." suara Sasuke meninggi.
"Kenapa tidak boleh?"
"Tidak ada alasan. Kau tidak boleh pergi."
"Kau tidak berhak melarangku pergi, Sasuke." hilang sudah mood baiknya tadi. Sasuke sudah berhasil menjungkir balikkan mood-nya dalam sekejap.
"Tentu saja aku berhak. Kau adalah pelayanku."
Deg
Sakura terdiam. Dadanya terasa sesak saat mendengar perkataan Sasuke tersebut.
"Apa di matamu aku ini hanya seorang pelayan, Sasuke-kun?" nada putus asa terdengar dari pertanyaan Sakura. Dia memandang Sasuke yang kini memalingkan wajah.
"Aku mengerti." utar gadis itu menahan air matanya. Dia tersenyum pahit.
"Kalau kau khawatir aku akan melalaikan tugasku, kau tenang saja. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan. Dan aku juga sudah menyiapkan makan malam untukmu. Salah satu maid akan menghangatkannya saat kau makan malam nanti."
"Aku—"
"Kau tenang saja. Aku tidak akan pulang lebih dari jam sepuluh malam." sekali lagi dia tersenyum untuk kemudian pergi meninggalkan Sasuke yang memandangnya penuh rasa bersalah.
"Aku tidak menganggapmu sebagai pelayan Sakura. Karena bagiku, kau adalah segalanya." gumam pemuda itu. Namun percuma saja karena Sakura tidak mendengarnya.
.
.
.
.
Sakura dan Sasori duduk di sebuah garden caffe. Setelah seharian mereka berkeliling kota Konoha, mereka memutuskan untuk beristirahat dan mengisi perut. Untuk sesaat Sakura dapat melupakan pertengkarannya dengan Sasuke beberapa waktu lalu. Meski begitu, Sakura tetap tak dapat menghilangkan bayangan pemuda itu dari pikirannya.
"Sakura." panggilan Sasori menyadarkan Sakura.
"Hah?"
"Apa yang kau lamunkan?" tanya pemuda itu karena mendapati Sakura yang sedari tadi diam saja.
"Tidak ada." bohong Sakura. "Ngomong-ngomong, apa kau selalu mendapat liburan seperti ini Sasori?" tanyanya berusaha mengalihkan permbicaraan.
"Kenapa?"
"Kalau kau selalu punya waktu liburan seperti ini, kenapa baru sekarang kau mengunjungiku?" gadis itu cemberut, membuat Sasori terkekeh.
"Sebenarnya aku punya alasan lain mengajakmu keluar." kata Sasori.
"Alasan lain?" Sasori mengangguk. "Apa itu?"
"Bagaimana kalau aku bilang alasanku adalah ingin menyatakan cinta padamu?"
Sakura terkesiap. Ia tatap manik hazel milik Sasori kemudian tersenyum.
"Aku akan dengan senang hati menerima pernyataan cintamu itu." katanya masih tersenyum.
Kali ini Sasori yang terkesiap. Tak menyangka dengan reaksi Sakura.
"Tapi..."
Sasori mengerutkan alis. Tapi?
"Tapi itu berlaku untuk dua tahun yang lalu." sambung Sakura, membuat Sasori semakin tak mengerti.
"Jika kau mengatakannya dua tahun yang lalu, maka dengan senang hati aku akan menjawab 'iya'." dia terdiam, namun tak lama kemudian Sakura terkekeh menatap Sasori.
"Berhentilah bercanda seperti itu Sasori." dia meninju lengan pemuda berwajah imut itu dan detik berikutnya pemuda itu pura-pura kesakitan dengan tinju yang dilancarkan oleh Sakura.
Untuk sesaat Sasori sempat menganggap serius jawaban Sakura. Dia tidak akan pernah siap seandainya gadis itu benar-benar menyatakan perasaannya. Pertahanan yang dia bangun selama ini akan hancur seketika.
"Hmm...anggap saja aku ini serius. Kau bilang jawabanmu itu hanya berlaku untuk dua tahun yang lalu. Berarti sekarang sudah ada orang lain?"
Kartu mati untuk Sakura. Dia sudah tidak bisa lagi mengelak ataupun berbohong. Sasori akan dengan mudah mengorek isi hatinya.
"Kurasa begitu." dengan wajah merona Sakura mengakui. Diam-diam Sasori tersenyum pahit mendengar jawaban Sakura, namun segera ia sembunyikan perasaannya tersebut.
"Meskipun sepertinya perasaanku ini hanyalah perasaan sepihak." perkataan Sakura berhasil meciptakan kerutan-kerutan di dahi Sasori.
"Apa maksudmu?"
"Dia hanya menganggapku sebagai pelayannya saja."
"Jadi kau menyukai si Uchiha itu?" Sakura hanya tersenyum menjawab pertanyaan Sasori. Persis seperti dugaan Sasori. Sakura memiliki perasaan khusus pada pemuda itu.
"Kenapa kau begitu yakin dia hanya menganggapmu sebagai pelayannya saja?" Sasori kembali memancing Sakura.
"Dia yang mengatakannya sendiri." Sakura teringat ucapan Sasuke sebelum dia pergi tadi.
Sasori menghembuskan napas, hampir seperti dengusan.
"Terkadang apa yang terucap oleh lisan tidak sama dengan isi hati Sakura."
Sakura tertegun. Benarkah itu? Apakah hal itu juga berlaku untuk Sasuke? Tentunya akan menjadi hal yang sangat membahagiakan jika yang dikatakan Sasori itu benar.
Tapi Sakura tidak mau mengulangi kelasahannya lagi. Dia tidak mau terlalu berharap pada hal yang belum pasti kebenarannya. Dia hanya tidak ingin salah paham dan kembali terluka. Karena demi Kami-sama, Sakura benar-benar mencintai pemuda itu.
Meski sangat menyebalkan dan juga egois karena selalu memaksakan kehendaknya, tapi tanpa dia sadari Sasuke telah mencuri hatinya dengan cara yang tidak dia mengerti. Sifat manjanya itu selalu membuatnya merindukan pemuda itu. Bahkan meski dia selalu mengomel dengan kemanjaan Sasuke itu, namun sebenarnya dia merasa senang mengetahui sisi Sasuke yang menurutnya sangat manis tersebut.
"Entahlah Sasori. Aku hanya belum siap kalau ternyata harapan dan kenyataan yang ada tidaklah sama." kini gadis itu tertunduk.
"Begitu." Sasori menghela napas, "Bagaimanapun kau berhak mempertahankan persepsimu itu. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Sakura." lanjutnya kemudian menggenggam tangan Sakura.
'Dan maaf karena membuatmu jadi seperti ini.' batinnya. Dia tersenyum sambil mengeratkan genggamannya. Sakura pun ikut tersenyum.
Mereka kemudian menyantap makanan yang telah mereka pesan sambil mengenang masa lalu. Mengenang saat mereka pertama kali bertemu, hingga pada Sasori yang pindah sekolah tanpa memberitahu Sakura. Jangan lewatkan pula Sakura yang mengomel tak terima karena hal itu.
.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Sakura berjalan memasuki mansion Uchiha. Ketika dia sedang menaiki tangga menuju lantai dua tertangkap oleh indra pendengarannya sebuah benda-benda yang sepertinya di lempar.
Bruaak
Praaang
Kali ini sepertinya sebuah benda pecah belah yang dilempar. Sakura mengernyit. Dia mempercepat langkahnya agar segera sampai pada sumber suara.
"Apa yang terjadi?" tanyanya pada salah satu maid yang berdiri di dekat pintu kamar Sasuke. Pasalnya suara gaduh tadi bersalal dari sana.
Maid tadi tidak menjawab dan malah saling lirik dengan rekannya yang berada di sampingnya. Pandangannya tampak takut saat menatap Sakura. Gadis itu makin bingung dengan yang terjadi.
"Sasuke-sama mengamuk." jawab sebuah suara dari arah belakang. Sakura berbalik.
"Juugo-san." serunya. "Apa yang terjadi?"
"Tidak tahu. Tiba-tiba saja Sasuke-sama mengamuk. Dia melempar semua barang dan mengurung diri di kamar." Juugo menjelaskan.
Sakura mengernyit menatap Juugo. Dia berbalik untuk kemudian berjalan mendekati pintu kamar Sasuke. Coba ia putar kenop pintu itu.
'Tidak dikunci.' batinnya.
Perlahan ia buka pintu itu dan berjalan masuk. Ruangan itu gelap. Sakura meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu. Setelah menemukannya dia segera menekannya dan kini teranglah ruangan itu.
Emerald-nya melebar karena mendapati kamar itu telah carut marut dengan isinya yang sudah tak lagi di tempatnya. Dia berjalan perlahan menuju sosok yang terduduk di atas ranjang sambil menundukkan kepala ravennya.
"Sasuke-kun." tak ada reaksi. Sakura berdiri di hadapan Sasuke.
Untuk kedua kalinya sang emerald melotot saat melihat darah mengucur dari buku-buku tangan pemuda itu. Dia segera meraih tangan yang kini telah penuh dengan darah tersebut.
"Kau berdarah Sasuke-kun." katanya khawatir. Namun Sasuke masih tak memberikan reaksi.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan obat." Sakura segera berlari ke luar kamar tanpa menunggu jawaban dari Sasuke.
Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa kotak P3K di tangannya. Dia menghampiri pemuda yang masih setia pada posisinya sebelum Sakura pergi tadi.
Sakura berlutut di hadapan pemuda itu dan segera membersihkan lukanya dengan revanol yang telah ia teteskan pada kapas. Setelah itu dia membalutkan perban pada luka tersebut setelah membubuhkan betadine.
"Apa yang kau lakukan Sasuke-kun? Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Sakura masih khawatir. Sakura benar-benar tak habis pikir dengan pemuda di hadapannya ini. Apa dia memukul benda keras dengan tangannya?
Sakura mendongak memandang Sasuke karena pemuda itu masih diam. Dia mengernyit saat menemukan sebuah luka lagi di pelipis pemuda itu. Setelah membebatkan perban di talapak tangan Sasuke, Sakura berdiri untuk mengobati luka di pelipisnya.
Sasuke sedikit berjengit saat Sakura meneteskan betadine pada luka tersebut.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau melempar barang-barang seperti ini?" Sakura menempelkan plester pada luka Sasuke.
Sasuke meraih tangan kiri Sakura saat gadis itu hendak menarik kembali tangannya.
"Sa-Sasuke-kun..." panggil Sakura ketika pemuda itu menciumi jari-jarinya.
"Aku cemburu." ucap pemuda itu disela kegiatannya menciumi jari-jari Sakura.
"Eh?"
Masih menggenggam tangan Sakura, Sasuke mendongak. Dia tatap emerald yang menatapnya bingung.
"Aku cemburu Sakura." ulangnya.
"Setiap kali kau bersama Juugo, Gaara, atau si Sasori itu. Aku marah setiap kali kau bersama dengan lelaki lain. Aku tidak suka." akunya. "Kau adalah milikku. Hanya aku yang berhak atas dirimu. Karena itu aku tidak suka setiap kali ada pemuda yang mendekatimu." sambungnya.
Sakura termangu mendengar pengakuan Sasuke. Hanya satu yang ada di pikirannya. Apa mungkin Sasuke...
"Sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku, Sasuke-kun?" tanya gadis itu. "Maksudku, kau bilang kau cemburu. Apa itu artinya—"
"Tanpa aku harus mengatakannya seharusnya kau tahu Sakura." potong Sasuke.
"Bagaimana aku tahu kalau kau tidak mengatakannya." sergah Sakura. Dia memandang sendu pada Sasuke.
"Bukankah sikapku selama ini sudah cukup menunjukkannya."
"Aku tidak akan menyadarinya jika kau hanya menunjukkan melalui sikapmu." bantah Sakura.
"Semua orang menyadarinya kecuali kau." utar Sasuke. Dia memandang miris pada Sakura. "Bagaimana bisa kau tidak menyadari perasaanku, Sakura? Kau pikir kenapa selama ini aku begitu peduli padamu dan sikapku begitu protektif? Itu semua karena aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Lensa viridian Sakura membulat. Namun kemudian kembali menatap sedih Sasuke.
"A-aku...aku takut Sasuke. Aku takut salah mengartikan sikapmu itu." liquid bening menggenang di mata hijaunya. "Aku...tidak ingin terluka lagi. Aku tidak mau kembali merasakan sakit jika ternyata aku salah dalam mengartikan sikapmu padaku." akhirnya cairan bening itu melesak juga dari manik hijaunya. Sasuke menghapus jejak air mata itu.
"Aku mencintaimu, Sakura. Akan kukatakan ribuan kali jika kau menginginkannya. Karena itu, jangan temui Sasori. Jangan menyukainya. Dan jangan pacaran dengannya." ucap Sasuke sarat dengan permohonan.
Sakura menangkup wajah Sasuke, kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir pemuda itu. Awalnya Sasuke terkejut, namun kemudian membalas ciuman Sasuke.
"Sasuke-kun no baka." ujar Sakura setelah dia melepas ciumannya.
"Aku memang menyukainya, tapi itu dulu. Aku memutuskan untuk melupakannya saat aku mengetahui bahwa dia hanya menganggapku sebagai adik." jelasnya.
"Dapat pemikiran darimana kau kalau aku pacaran dengannya?" tanya Sakura. Dia sudah berhenti menangis.
"Tapi...bukankah dia mengajakmu pergi untuk menyatakan perasaannya padamu?" tanya Sasuke tak mengerti.
"Dia hanya ingin menghabiskan waktu bersamaku sebelum liburannya habis." jelas Sakura.
Raut mendung di wajah Sasuke lenyap. "Itu artinya..."
Sakura menggeleng. "Orang yang aku cintai adalah kau Sasuke-kun, bukan Sasori." aku Sakura.
Senyum terkembang di wajah tampan Sasuke. serta merta dia berdiri dan memeluk Sakura. Sangat erat, seolah tak ingin melepaskan gadis itu. Sakura ikut tersenyum dan membalas pelukan Sasuke.
"Aku mencintaimu, Sakura. Cinta yang amat sangat."
Sakura mengangguk, "Aku juga." ucapnya. "Aku juga mencintaimu Sasuke." Sakura mengertakan pelukannya pada Sasuke.
Lama mereka dalam posisi itu, hingga akhirnya Sasuke melepaskan pelukannya dan memandang Sakura.
"Apa jika kali ini aku menyentuhmu kau akan memukulku Sakura?" tanya Sasuke ragu. Oke, kau berhasil membuat gadis di hadapanmu ini merona Uchiha.
Sakura menundukkan kepalanya sembari menggeleng, membuat Sasuke menyeringai melihatnya. Dia menangkup kedua sisi wajah gadis itu kemudian menyatukan bibir mereka.
Tanpa keraguan Sakura membalas kecupan demi kecupan yang diberikan Sasuke. Bahkan dia tak menyadari kalau kini dirinya telah terbaring di atas ranjang dengan Sasuke yang menindihnya tanpa melepaskan ciumannya.
Sasuke memperdalam ciumannya dengan melumat bibir mungil Sakura. Dia menjilat lembut bibir itu, membuat Sakura perlahan membuka mulutnya memberi izin Sasuke untuk menginvansi rongga mulutnya.
Sakura gelagapan karena mendapat ciuman yang bertubi-tubi. Bahkan Sasuke tak memberinya kesempatan untuk menghirup udara. Hingga terpaksa dia harus mendorong tubuh Sasuke agar dia bisa bernapas. Namun hal itupun tak berlangsung lama karena Sasuke kembali melumat bibir itu.
Sasuke merasakan tubuh Sakura menegang saat dia mulai menurunkan ciumannya ke area leher gadis itu dan saat tangannya perlahan-lahan mulai meraba yang meremas benda lunak milik Sakura. Sasuke menghentikan aksinya dan memandang wajah Sakura yang kini sudah sangat memerah.
"Apa kau takut Sakura?" tanya pemuda itu. Sakura menggeleng, berusaha menutupi kegugupan yang dia rasakan.
"Kau tahu kan kalau aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan Sakura. Dan ketika aku mendapat izin untuk itu, maka aku tidak akan mau melepaskannya. Tidak, meski kau memohon padaku." terang Sasuke penuh penekanan, membuat Sakura semakin merona.
"Aku tahu." kata Sakura. "Aku hanya gugup." akunya.
Sasuke meraih tangan kanan Sakura dan meletakkannya pada dada kirinya. Awalnya Sakura bingung dengan yang dilakukan Sasuke, namun kemudian dia mengerti bahwa Sasuke mencoba memberitahukan detak jantungnya pada gadis itu.
"Apa kau bisa merasakannya?" Sakura mengangguk menjawab pertanyaan Sasuke.
"Jatungku berdetak sangat cepat. Itu artinya aku merasakan hal yang sama dengan yang kau rasakan." jelas pemuda itu. Dan lagi-lagi hal itu membuat Sakura merona.
"Aku tahu ini adalah pertama kalinya bagimu." pemuda itu kembali berkata. "Ini juga pertama kalinya bagiku, jadi aku tidak tahu seperti apa rasa sakitnya nanti untukmu Sakura. Tapi aku akan berusaha agar aku tak menyakitimu." jeda sejenak. "Apa kau percaya padaku?"
Sakura menatap Sasuke yang juga tengah menatapnya. Hari ini Sakura merasa bahwa Sasuke begitu lembut. Ya, jika diingat-ingat sebenarnya Sasuke memang selalu bersikap lembut padanya terlepas dari sikap manjanya yang kadang menyebalkan itu.
Sakura mengangguk, "Aku percaya padamu Sasuke-kun." jawabnya dan dibalas senyuman oleh Sasuke. Bahkan sekarang tidak ada seringai mesum yang selalu tampak di wajah tampan pamuda itu.
Sasuke kembali melumat bibir Sakura dengan begitu lembut. Dan untuk selanjutnya tentu kalian tahu apa yang terjadi. Selanjutnya, bukan hanya bibir mereka yang menyatu tetapi tubuh dan juga jiwa mereka pun telah seutuhnya menyatu. Malam panjang ini mereka habiskan untuk mereguk cinta dari diri masing-masing. Memberikan kepuasan satu sama lain.
Kabuto dan Juugo yang berada di depan kamar Sasuke hanya saling lirik saat sesekali terdengar suara-suara erotis dari dalam. Hei, mereka bukannya mau menguping ataupun mengintip. Mereka hanya merasa khawatir kepada tuan mudanya yang sedari tadi uring-uringan itu.
"Kurasa sebaiknya kita pergi." usul Kabuto ketika menyadari kekhawatirannya tidak diperlukan. Juugo mengangguk setuju dan mereka pergi dari sana. Meninggalkan pasangan yang tengah menikmati aktivitas panas mereka.
.
.
.
.
"Bisakah lebih cepat lagi Juugo-san." panik gadis merah muda itu. Iris emerald-nya menatap nanar jalanan yang ada di sampingnya. Kenapa laju mobil ini terasa begitu lama?
"Tenanglah Sakura." pemuda yang duduk di sebelahnya mencoba menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang Sasuke-kun. Dia berniat meninggalkan negara ini. Tanpa mengatakan apapun." dumel Sakura. Sasuke hanya bisa menghela napas sembari merangkul pundak Sakura.
"Kuharap kita masih sempat bertemu dengannya sebelum pesawatnya berangkat." timpal pemuda yang duduk di sebelah Juugo.
"Jangan membuatku takut Gaara-kun. Juugo-san cepatlah." Sakura semakin panik. Dan Sasuke merutuki si panda merah itu karena membuat Sakura semakin panik.
Juugo mempercepat laju mobilnya atas desakan Sakura. Dia bahkan tak menghiraukan saat umpatan atau sumpah serapah terlontar dari bibir pengendara lain.
"JUUGO-SAN AWAAAS!
Ckiiiiiitt
Brraak
.
.
.
TBC
.
.
fiuuuhhh akhir ny chap 12 ini selesai dg selamat, meski mgkn readers kurang berkenan *bungkuk2
bagi kalian yg bosen baca ny karena chap ny yg panjang bgt maaf ya, ngeyel sh gk mw di skip aja muehehehe #ditendang readers
maaf juga gk bs bls reviews satu2, tp aku baca semua kok :D
super big thank's for :is
Mariyuki Syalfa, sahwachan, Aiko Asari, Mademoisellenna, Lhylia Kiryu, guest, ariiijje, Gilang363, imahkakoeni, Guest, haruchan, Eagle Onyx 'Ele, hanazono yuri, Subarashii Shinju, Kirei Apple, heni. lusiana. 39, uchiha ryu, mantika mochi, rainy de, Asiyah Firdausi, bluestar2604
terima kasih bagi readers dan silent readers yg udh mw menyempatkan waktu ny mmbaca fic ku ini, dan untuk yg mem fav dan mem follow aku sangat senang dan terharu #nangis bombay
akhir kata sampai jumpa chap depan :)
boleh minta tanggapan ny? :)
