Rina: Sekolah udah mulai…huft… menyebalkan…
Rin: Dasar anti sosial…
Len: Hikikomori…
Rina: Iya, iya… asal aku nyelesaikan yang namanya sekolah, aku males mikir untuk et cetera na… guruku ndak terlalu menyebalkan sih…
Rin: Ternyata kau ada masalah dengan skul juga ya…
Len: Padahal tampang na disini kayak begitu…
Rina: *tinggalin Rin ma Len sambil dengerin lagu mereka pake headset dengan volume penuh*
Rin: Ngambek tuh dia…
Len: Abis na kenyataan kalo dia anti sosial banget…
Mel: *muncul tiba2* Tapi, dia paling sebel kalo diingetin soal itu. Dia kan Baka…
Rin+Len: *kicep* (sejak kapan nie makhluk disini?) Kami baca disclaimer ja deh…
Disclaimer: Vocaloid tidak pernah menjadi milik Rina
Mel: Kalian kenapa? *heran*
Rin+Len: *ngacir dari Mel* Mohon review, kritik, dan juga saran serta… silahkan dibaca Chapter 12 ~Growing Suspicion, Dance in the Night~
Rin POV
Aku melihat buku pelajaran yang tersebar di meja besar yang kumiliki. Tak ada yang berbicara sama sekali, semenjak kita mendapatkan beberapa tamu yang kurang diundang. Yah, sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya dua orang saja…
Tapi, yang paling mengejutkanku adalah yang datang setelah Mikuo-san berkunjung sebagai tetangga baruku.
Aku melirik ke arah Miki yang melirik ke arahku seakan mengerti. Kami spontan melihat pada gadis yang memakan potongan apel yang berasal entah darimana. Dia melihat kami semua dengan tatapan penasaran. Matanya yang berwarna biru dan hijau terlihat berkilauan dengan rasa ingin tahu. Dia adalah Merlinne, salah satu mantan korban pencurian yang kulakukan. Aku baru tahu bahwa dia mengenal Len, Mikuo, dan Dell dengan cukup dekat.
Mikuo sendiri duduk di samping Miku yang terlihat membatu dan tidak bergerak seinchi pun. Wajahnya memerah sementara tangannya memegang pulpen dengan sangat erat. Miku bahkan tidak sadar bahwa dia sudah jadi bahan perhatian semua orang yang duduk di dekatnya.
"Nah, Miku-chan, jadi yang nomor ini dikerjakan dengan cara begini…" ujar Mikuo sambil menunjuki buku tulis Miku dan menuliskan sesuatu yang tidak bisa kulihat dari tempatku.
"I-iya… ja-jadi be-begini, Mi-Mikuo-kun?" ujar Miku dengan tergagap-gagap dan menekan pensil di tangannya dengan sangat kuat. Aku heran, kenapa pensil itu bisa bertahan untuk tidak patah…
Teto mencolekku untuk mendapatkan perhatianku. Aku memalingkan wajahku ke arahnya dengan separuh menunduk. Aku bertanya, "Ada apa Teto?" tanyaku dengan suara yang sangat pelan.
Teto kemudian menjawab, "Miku bersikap aneh di dekat Mikuo," jawab Teto yang menyatakan kecurigaannya.
Aku mengangguk, lalu berkata, "Apa mungkin…" ujarku sambil menahan bagian terakhir yang kupikirkan. Miku tidak pernah segugup itu, bahkan tidak pernah terlihat gugup seperti saat dia dekat dengan Len. Aku punya sedikit hipotesis, dan kuharap Teto juga paham.
Teto membuat payung dengan tanda cinta di atasnya, lalu menulis nama Mikuo dan Miku di bawahnya. Wajah Teto tersenyum dengan liciknya. Aku segera mengangguk mengiyakan. Ternyata Teto juga berpikiran sama.
Aku merasakan sesuatu memukul kepalaku dengan ringan. Aku mengaduh kesakitan, dan melihat ke arah tersangka pemukulku. Wajahku menjadi panas, saat aku melihat Len yang melihatku dengan mata yang tertutup sebelah dan pensil yang masih melayang dengan bebasnya di tangannya.
"Belajar atau bergosip?" tanya Len dengan nada yang terlihat cuek. Geh, sifatnya yang suka belajar sedang kumat.
Aku tertawa dengan tidak ikhlas, karena ketahuan berbisik-bisik dengan Teto. Rasa gugupku sekarang terbang entah kemana, dan aku merasa nyaman duduk di samping Len. Ternyata seperti ini saja sudah cukup menyenangkan…
"Hei, sebenarnya apa sih yang kalian pelajari?" tanya seseorang yang sedari tadi memperhatikan apa yang kami lakukan dengan seksama.
Spontan kami semua melihat ke arahnya. Len terlihat heran mendengar pernyataannya, tapi Mikuo dengan tanggap segera menjawab, "Mereka belajar untuk ujian, Nona Elfinia," ujar Mikuo dengan nada yang sopan santun.
"Ooh…" jawab Merlinne (Iya, dia) dengan acuh tak acuh. Memang dia itu sekolah apa? Sepertinya dia asing dengan kata-kata 'belajar untuk ujian'.
Ah, aku belum mengatakan bahwa Mikuo itu salah satu bawahan Merlinne, bukan? Kalau tak salah, itu adalah alasannya datang kemari. Karena dia ingin mengecek keadaan dari bodyguard-nya, atau apalah itu namanya. Len sepertinya tak tahu menahu tentang ini saat Merlinne mengatakannya.
Karena alasan sudah dijawab oleh Mikuo, kami kembali lagi pada pekerjaan kami. Tapi, belum sampai beberapa menit, Merlinne bertanya lagi, "Kenapa kalian melakukan belajar bersama begini?" tanyanya lagi dengan nada datar sedatar wajahnya.
Kami melihatnya dengan heran sekali lagi, tapi kali ini, Len yang menjawab dengan, "Kami berteman cukup baik. Selain itu, guru kami membagi pembagian grupnya seperti ini. Lalu, belajar bersama juga lebih menyenangkan dibandingkan sendirian," ujar Len dengan poker face.
Sekali lagi, hanya ada jawaban 'Ooh…' yang keluar dari mulut Merlinne. Tapi, selang beberapa detik, Merlinne bertanya lagi, "Lalu bagaimana sekolah kalian? Besok kalian kan harus masuk juga," ujarnya dengan nada yang sedikit naik turun, tapi dengan wajah yang masih datar.
Kini, giliran Dell yang menjawab, "Kami bisa memikirkannya besok. Yang jelas, kami masih masuk sekolah," jawab Dell sekenanya dan direspon dengan jawaban yang sama pula.
Tapi, Merlinne buka mulut lagi, "Kalian mempedulikan nilai sekolah kalian rupanya?" tanyanya dengan nada yang mirip seperti pertanyaan sebelumnya tapi tetap dengan wajah yang sama.
Teto dan Neru yang kini menjawab dengan serempak, "Memang kami ingin ditendang oleh sekolah dengan nilai jelek?" jawab mereka separuh bertanya separuh berteriak. Tapi… tetap saja respon dari Merlinne tetap sama seperti sebelum-sebelumnya.
"Mereka berdua kembar? Tapi, sepertinya kalian tidak berhubungan darah," tanya Merlinne sambil menunjukku dan Len, lalu menunjuk Mikuo dan Miku secara berurutan. Dia bertanya lagi tepat setelah Teto dan Neru tutup mulut.
Sekarang giliran aku, Len, Miku, dan Mikuo yang menjawab, "Kami tidak kembar!" jawab kami setengah berteriak, seakan ingin menggebrak meja dan mengirim Merlinne tatapan pisau yang mematikan. Tapi, Merlinne hanya menjawab dengan 'Ooh…' dan melanjutkan memakan potongan apelnya yang keluar entah dari mana satu persatu.
"Lalu…" belum sempat Merlinne bertanya lagi, kami kompak memotongnya.
"Jangan banyak tanya!" potong kami semua tanpa terkecuali.
Wajah Merlinne menjadi beberapa tingkat lebih suram. Dengan cemberut dia melanjutkan apa yang tadi kami potong, "Aku hanya ingin tanya. Apa ada seseorang yang menggunakan dapur? Aku mencium bau masakan dari sana," ujar Merlinne dengan cemberut, tapi tidak terlalu terlihat dari ekspresinya yang datar itu.
Aku dan Miki saling berpandangan karena ini apartemen kami. Kami saling pandang seakan-akan memikirkan sesuatu yang sama, yaitu, "Memang siapa yang memasak?" atau sesuatu di antara itu.
Merlinne kemudian berkata lagi, "Aku mencium bau Stew," tambah Merlinne dengan santainya.
Aku segera teringat sesuatu yang kulupakan. Dengan segera aku berdiri, "AHHH! Bahan Yaminabe sudah jadi rupanya! Bahaya, bahaya! Eh, Mikuo dan Merlinne-san, kalian bisa ikut makan malam disini juga kalau mau," tawarku dengan panik sambil berlari ke arah dapur.
Merlinne melihatku dengan tatapan heran, sementara Mikuo hanya mengiyakan tawaranku. Miki dengan senang melempar pensilnya ke udara dan merebahkan dirinya di lantai, sementara Teto mengeluarkan roti perancis yang sangat besar dari dalam tas miliknya. Piko melemparkan pandangan ke arah Miki setiap beberapa detik sekali. Neru segera memainkan ponselnya seperti dia tidak pernah menyentuh benda itu bertahun-tahun. Len sendiri… tetap sibuk dan dari sudut pandangku, aku hanya bisa melihat punggungnya yang entah sejak kapan jadi lebar seperti itu. Apa benar aku menyukai Len? Apa Len memiliki perasaan yang sama denganku? Aku tidak tahu.
Len POV
Setelah Rin meninggalkan ruangan untuk pergi ke dapur. Aku permisi juga untuk pergi ke kamar mandi. Aku hanya ingin mencerahkan sedikit otakku yang terlalu suram dengan segala macam persoalan yang menimpa. Belum lagi tentang trouble maker yang harus datang di tempat yang paling tidak ingin dia kutemui. Kalian pasti tahu siapa.
Aku memandangi Rin yang sedang sibuk di dapur saat aku melewati ruang tengah. Kenapa aku jadi membayangkan jika seandainya aku dan Rin berkeluarga ya? Pasti menyenangkan… aku tahu sekali bahwa aku memang menyukai Rin. Tapi, aku tak bisa menepis rasa khawatirku akan mimpi yang selalu menghampiri tidurku tiap malam.
Aku buru-buru melarikan diri menuju kamar mandi. Aku melihat cermin dan melihat wajahku yang terlihat sayu disana. Memang akhir-akhir ini aku sama sekali tidak bisa tidur. Membagi pikiranku antara membayangkan Rin, dan mencari kebenaran bahwa Rin dan Miki merupakan Ella dan juga Jasmine.
Tapi, jika Miki benar-benar Jasmine… kira-kira apa reaksi Piko, ya? Dia mungkin menyangkal hal ini mati-matian, tapi aku tahu bahwa dia benar-benar menyayangi Miki. Aku yakin dia juga mulai menyadari perasaannya sejak insiden yang disengajakan oleh Rin beberapa minggu yang lalu.
"Rin…" gumamku tanpa sadar dan entah darimana. Aku buru-buru mencuci mukaku bersih-bersih. Aku sudah kehilangan hitungan berapa kali aku menggumamkan nama Rin seharian ini.
Saat aku berusaha menghalau pikiranku untuk memikirkan Rin, aku baru menyadari sesuatu yang berkilau di lantai kamar mandi Rin. Karena penasaran, aku mengambil benda itu, serpihan batu berwarna pelangi.
"Ini…" aku mengingat-ingat tentang serpihan ini. Aku merasa bahwa salah satu permata yang dicuri juga memiliki warna seperti ini. Jadi, apa benar…
Aku memasukkan serpihan itu ke dalam sebuah kantung plastik yang kubawa kemana-mana. Meski Rin benar-benar Ella… apa Rin tidak menyukaiku seperti aku menyukainya? Semakin lama, ini menjadi makin sulit saja.
Saat aku kembali, aku berpapasan dengan Rin yang menyiapkan meja dengan sangat telaten. Dari mataku, Rin terlihat seperti ibu rumah tangga sungguhan. Sebegitu kuatnya keinginanku untuk mengatakannya, tiba-tiba aku nyerocos, "Rin, kau pasti akan jadi istriku yang baik," ujarku nyerocos saja.
Rin spontan melihat ke arahku dengan wajah yang terlihat sangat terkejut, dengan mata yang makin bulat itu, dia bertanya, "Istrimu? Len apa kau salah ngomong atau apa?" tanyanya dengan heran.
Aku langsung menutup mulutku dengan sebelah tangan dan melihat ke samping, memikirkan kebodohan yang baru saja kukatakan. Itu sama saja dengan aku menyatakan perasaanku pada Rin bukan? Akh, aku bodoh bodoh bodoh!
"Aku tidak mengatakan hal-hal seperti itu," elakku tapi tidak beranjak dari tempatku sama sekali. Aku berdiri beberapa langkah di belakang Rin yang sedang menyiapkan meja makan seperti seorang ibu rumah tangga.
"Aku yakin kau mengatakannya! Lihat, wajahmu saja sampai begini!" bantah Rin sambil meletakkan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan untuk memasak di pinggangnya. Apron kuning motif kotak-kotak yang dia pakai terlihat pantas untuknya…
Dengan segera, aku menghalau pikiranku untuk berpikir lebih jauh dan memilih untuk menyusun rencana untuk melarikan diri, tapi sepertinya Rin sudah tahu.
"Len, jangan-jangan kau masih mengingat permainan rumah-rumahan yang selalu kupaksakan padamu itu?" ujar Rin dengan mengomel.
Aku melihat ke arah Rin dengan heran dan tatapan, 'memang kita pernah bermain seperti itu dulu?' tapi, buru-buru aku mengganti wajahku dengan, "I-iya, hanya saja kukira kau terlihat lebih pantas saja, begitu!" sanggahku tanpa berani memandang Rin yang masih memelototiku.
"Jadi… menurutmu aku pantas menjadi calon istrimu… begitu?" tanya Rin dengan suara yang sudah merendah.
Wajahku spontan memerah dan aku melihat ke arah Rin yang wajahnya juga memerah. Setelah Rin berkata begitu, keheningan menyelimuti kami dengan aku berusaha untuk menghilangkan rasa maluku dengan menggaruk punggung leherku yang tidak gatal. Rin sendiri mengaitkan tangannya di belakang punggungnya sementara kakinya menggambar sesuatu di lantai.
Keheningan pecah, saat suara koor membuyarkan dunia kecil kami, "Drama suami istri kalian sudah selesai belum?" tanya semua pemilik suara bersamaan.
"E-eh? EH!" aku dan Rin sepertinya kompak kaget dan melihat ke arah pemilik suara setan yang menggangguku dan Rin. Disana duduk teman-teman kami dan beberapa orang yang seenaknya ikut, yang sedang memakan cemilan yang tertata rapi di hadapan mereka.
"Jika kalian kelamaan akan sia-sia makanannya jadi dingin," ujar Mikuo, Piko, dan Dell
"Meski kalian terlihat sangat mesra dan sangat sia-sia untuk diganggu," sanggah Neru dan Teto. Miku, Miki, dan Merlinne hanya mengangguk-angguk mengiyakan pernyataan Neru dan Teto.
Aku dan Rin berdiri speechless melihat mereka yang tiba-tiba datang. Tapi, meski kami memelototi mereka, mereka malah duduk mengitari makanan dan menunggu kami untuk ikut duduk pula, dan tentu saja kuiyakan.
Miki kemudian duduk di antara Piko dan Merlinne, dengan Piko duduk di samping Mikuo yang duduk di samping Dell yang duduk di samping Neru yang duduk di samping Teto yang duduk di samping Miku yang duduk di samping Rin dan Rin duduk disampingku lalu Miki lagi.
Selanjutnya, Miki berkata, "Karena aku yakin 100% bahwa bahan makanan kita akan membuat benda ini menjadi tidak bisa dimakan, ayo kita makan dulu semuanya hingga tinggal seperempatnya!" teriak Miki dengan bersemangat.
Setelah Miki mempersilahkan, kami semua mengambil masakan Rin yang sedikit kubantu dalam pembuatannya. Aku menyendok sedikit dari masakan Rin yang terlihat lezat itu, dan rasanya enak!
"Rin, kau menjadi pintar masak ya!" ujarku memuji dengan kejujuran tingkat tinggi. Dulu Rin selalu membuatku atau ayahku keracunan dengan menjadi kelinci percobaan masakannya yang tidak jelas itu.
Rin yang enak-enak memakan makanannya sendiri segera menjawab, "Jadi masakanku dulu tidak enak, huh? Ah, sekarang aku menemukan alasan kenapa kau tidak pernah mau mencoba makananku lebih dari 10 tahun yang lalu!" ujarnya dengan tatapan mengancam dan sangat dark.
"Bu-bukannya begitu!" ujarku berusaha membantah.
"Sepertinya pertengkaran suami istri itu menyenangkan ya~" goda Teto tiba-tiba dengan memandangiku dan Rin. Rin sendiri membawa alat pengambil nasi dan hendak memukulkannya padaku, sementara aku berlindung dari amarah Rin.
Rin dan aku langsung membeku, tapi Merlinne tiba-tiba menyusup, "Kasane-san, jangan lupakan bahwa ada 3 pasangan lain yang sedang enak-enaknya berpacaran disini," koreksi Merlinne yang menunjuk pasangan MikuMikuo, PikoMiki, dan… NeruDell?
"Kami tidak…" mereka berenam mengawalinya dengan awalan yang sama namun di akhir dengan akhiran yang berbeda, yaitu…
"… kembar!" teriak Miku dan Mikuo entah darimana.
"… pacaran!" teriak Piko dan Miki dengan benar, anehnya.
"… merencanakan hal yang buruk!" ujar Neru dan Dell yang pasti membuat orang curiga.
"Iya, iya. Kalian semua tidak ada yang jujur dengan diri kalian sendiri," ujar Merlinne sambil melanjutkan makanannya dengan diam. Teto hanya mengangguk mengiyakan, apaan mereka? Sahabat dalam tindak kriminal?
"Kami sudah sangat jujur!" teriakku yang diikuti dengan semua orang yang dihina Teto dan Mel.
Mereka berdua hanya mengangguk seakan mengiyakan, tapi aku yakin bahwa dalam hati mereka menyangkal semua perkataan kami tadi. Bukannya aku tidak suka disebut sebagai kekasih Rin… tapi…
Setelah pertengkaran gaje tadi, aku memperhatikan Rin. Semakin kuperhatikan ternyata semakin mirip… antara Ella dan juga Rin. Tapi, kenapa Rin melakukannya? Kenapa dia tidak memberitahuku?
Rin POV
Setelah kami memakan hampir ¾ dari masakanku, Miki langsung menahan tangan semuanya yang sepertinya akan mengambil tambah lagi, dengan berkata, "Oho, tidak bisa! Karena sekarang, kita akan memulai permainan yang kutunggu-tunggu! Rin, matikan lampunya!" ujar Miki dengan aneh tapi terlihat lumayan keren.
Aku menarik tali yang bertuliskan 'lampu' yang muncul entah darimana. Lampu tentu saja padam, dan aku segera mengeluarkan bumbu rahasiaku dan memasukkan bersama dengan makanan yang dibuang-buang lainnya di dalam panci besar berisi stew itu.
Setelah beberapa saat, aku menyalakan lampu lagi dengan menarik tali yang sama. Tapi, Miku segera angkat bicara, "Rin-chan, itu tali lampu dari mana?" tanya Miku dengan lola-nya.
Aku melihat ke atas, tapi sepertinya tali itu tidak berhubung kemanapun. Hmm, aneh, tapi segera kujawab, "Entahlah. Tapi yang jelas saat aku menariknya…" aku menarik tali itu dan semua jadi gelap lagi.
"Hei, siapa yang mematikan lampu!"
"Mau hemat listrik? Bukan begini caranya! Pakai Ax*s"
"Lampu untuk rakyat!"
"Apa susahnya nyala? Saklar udah ada, steker juga ada!" "Lampu gak punya token!"
"Bohlam~" "Iya~" "Ada yang baru nih!" "Apa?" "Pakai ini dulu, ya. Nanti dingin lho!" "Siap ya?" "Hmm" "Tadaa! Neon baru rasa Aki" "Eh, Aki?"
Setelah rentetan iklan-iklan aneh yang muncul entah darimana, aku menarik tali yang menyalakan lampu lagi dengan ajaibnya.
"… lalu jika kutarik, lampu udah nyala lagi," lanjutku menyelesaikan penjelasan setengah jadiku tadi yang terpotong demonstrasi dan juga iklan-iklan aneh yang muncul entah bagaimana.
"Oooh… wani piro?" ujar Teto nyeletuk saja, yang disambut dengan pukulan Hp dan Negi dari Neru dan Miku. Miki baru saja melempar bom cheri-nya, tapi tidak jadi karena lampu sudah nyala duluan.
Dell terlihat khawatir akan Neru, sementara Mikuo hanya bisa lirik kiri kanan ke arah aktivitas cewek-cewek aneh yang sedang terjadi. Aku tidak ikut karena malas.
Tapi, Piko sepertinya ingin ikut juga…
"Hei, kalian tahu apa yang terjadi pada benda ini tidak?" ujarku berusaha untuk mengalihkan perhatian mereka dari bertarung sehidup semati melawan Teto, pada cairan hijau yang berada di dalam panci untuk memasak.
Len segera melirik, tapi buru-buru melarikan diri ke kamar mandi, seperti orang hamil atau jangan-jangan Len beneran hamil? Wah, gawat banget tuh ntar. Sementara yang lain melirik ke arah cairan hijau dan terlihat beracun di dalam panci.
"Err… apa yang kalian masukkan?" tanya Piko dengan setengah jijik. Dia melempar pandangan ke semua orang tanpa terkecuali.
"Piko, aturannya adalah kita harus memakan benda ini sebelum bertanya!" potongku dengan mengambil benda tidak bisa dimakan dari dalam panci. Aku memberikan porsi yang sama untuk semuanya, seperempat mangkok kecil.
Semuanya menelan ludah saat menggerakkan sendok ke mulut mereka. Aku juga menelan ludah, namun segera menelannya bersamaan dengan semuanya, minus Len yang masih muntah-muntah di kamar mandi.
"Ja-jadi… apa yang… kalau aku roti…" belum selesai Teto berkata, sudah ada yang menjawab.
"Negi" ujar Miku dengan menutup mulutnya, seperti akan muntah.
"Satu plastik lada" jawab Mikuo dengan memegangi perutnya.
"Bubuk Kare" ujar Neru.
"Sambel Pecel" timpal Dell.
"Jeruk Nipis" ujarku dengan jujur.
"Cabai" tambah Miki.
"Daun Mint" ujar Piko dengan menahan rasa sakit di perutnya.
Itu semua menjelaskan rasa-rasa aneh yang kurasakan. Dan orang bodoh mana yang memasukkan mint di dalam stew! Meski aku bisa membayangkan Kaito-jiisan memasukkan es krim ke dalam benda ini. Membuatnya sama sekali tidak bisa dimakan.
Aku merasa perutku dikocok-kocok karena benda-benda aneh di dalam stew yang kumasak. Tapi, saat aku melirik ke samping, Merlinne tampak datar-datar saja setelah memakan stew beracun itu. Omong-omong, dia kan juga memasukkan sesuatu…
"Merlinne… kau memasukkan apa…?" tanyaku dengan terputus-putus.
Dia melihat ke arahku, dan hendak mengatakan sesuatu. Tapi, sebelum dia berbicara, teman-teman yang lain sudah pingsan di tempat dengan wajah yang merah. Aku sendiri merasakan perutku menjadi panas, seperti akan mabuk setelah meminum alkohol.
"Aku hanya memasukkan satu botol penuh sake yang sangat kuat," ujarnya dengan tersenyum dengan licik.
Geh, jadi itu penyebabnya! Ugh, tapi kepalaku sakit dan pandanganku buram… sial, sial, sial!
Normal POV
"Untung aku langsung lari setelah melihat benda itu…" ujar Len yang sudah selesai muntah-muntah dan memperbaiki riasan- maksudku- err, maksudnya, penampilannya.
Len membuka pintu kamar mandi yang dia tutup saat dia masuk. Dia melihat tumpukan mayat hidup di ruang makan, dan beberapa pemandangan yang tidak mengenakkan. Tapi, ada satu orang yang menghilang dari sana, Merlinne atau Mel.
'Kemana perginya anak itu? Mirip setan saja,' pikir Len sambil melihat-lihat tumpukan mayat- maksudnya teman-temannya yang tidur dengan sangat tenang. Tapi, dia merasa heran dengan penataan tidurnya.
Piko yang tidur, kini sedang berada pada pangkuan Miki yang duduk sambil tidur (tidur dengan posisi duduk). Neru dan Dell tidur dengan saling bersandar pada satu sama lain. Miku dan Mikuo malah sedang pelukan! Teto sih tidur dengan santai sambil memeluk guling dan menggigitinya seperti sedang makan sesuatu.
Rin… yang menjadi pusat perhatian Len, sepertinya sedang tidak ada. Len kemudian menengok ke dalam panci stew yang masih ada disana. Karena merasa bersalah, Len memakan sesendok dari stew berbahaya yang diisinya dengan mayo.
Len merasa perutnya mual, tapi dengan cepat dia juga menyadari rasa aneh yang tercampur dengan stew itu. Itu adalah minuman yang paling disukai mendiang ibunya, sake. Dan tidak mengatakan bahwa rasanya juga sangat kuat. Siapa yang memasukkan benda berbahaya ini? Mereka semua kan belum cukup umur!
Dalam waktu singkat, Len pingsan juga.
Tapi, tepat saat Len pingsan, waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam tepat. Rin yang awalnya pingsan di dapur, karena berusaha untuk tetap sadar, kini benar-benar terjaga dengan bangkitnya Ella.
"Sialan iblis itu," umpat Rin yang kini memiliki penampilan seperti Ella. Dia menyebutkan pada Mel yang merupakan pelaku pemasukan sake ke dalam makanan buatannya itu.
Rin segera menuju ke ruang makan. Dia merasa kaget bahwa Len sudah ada disana dengan wajah yang menunjukkan bahwa dia juga mabuk.
Rin duduk di hadapannya dan memperhatikan wajah Len. Yang terlintas di kepalanya adalah ingatan-ingatan mereka saat masih kecil. Hari dimana mereka tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Meiko dan Kaito, orang tua Len yang juga merupakan orang yang 'seperti' orang tua dari Rin, ada disana. Mereka berdua akan bertengkar akan masalah sepele, memperebutkan mainan, saling ejek mengejek, namun segera berbaikan seakan tidak ada yang terjadi.
"Daisuki dayo… Len…" bisik Rin. Dia masih mengingat kalau dia sering mengatakan itu pada Len saat mereka masih kecil. Rasa 'suka' sebagai teman yang sangat berharga baginya. Apa pernyataan itu kini memiliki arti berbeda baginya dan Len? Itu merupakan pertanyaan yang ingin dia ketahui jawabannya sekarang.
Saat itu juga, tanpa aba-aba Len memeluk Rin. Rin tentu saja kaget karena Len memeluknya dalam posisi yang kurang menyenangkan. Rin terduduk karena kaget dengan kaki kanan dan kiri tertekuk ke luar, dengan Len yang memeluk pinggangnya dalam posisi tidur, sehingga kepalanya berada tepat di depan perut Rin. Wajah Rin spontan menjadi panas tanpa terkendali.
Rin langsung membeku di tempatnya. Jika dia membangunkan Len, maka Len akan mengetahui bahwa dia merupakan Ella. Tapi, jika dia harus bertahan dengan Len di pangkuannya selama semalaman… jantungnya tidak akan kuat.
Saat Rin sedang berperang dengan pikirannya sendiri untuk menentukan pilihan, dia mendengar gumaman Len, "Rin-chan…" gumam Len.
Rin menjadi membeku dan tidak berani bergerak meski hanya bergeser. Rin masih mengingat panggilan itu, karena itu adalah cara Len memanggilnya saat mereka masih kecil, sebelum Rin pindah. Rin menyimpulkan bahwa Len memimpikan masa kecil mereka saat tidur.
"… daisuki…" lanjut Len dengan nada suara yang sangat rendah.
Rin langsung blushing sehingga menyamai merahnya lampu lalu lintas yang berwarna merah. Perasaan bingung membuatnya jadi salting karena Len terdengar seperti menyatakan cinta padanya.
"Jangan pergi ke Amerika…" gumam Len lagi. Rin tidak mengingat Len pernah mengatakan ini sebelumnya kepadanya. Jangan-jangan… pikiran Len sendiri?
"Jangan tinggalkan aku sendirian… Aku sayang sama Rin-chan…" gumam Len seakan melanjutkan gumamannya yang pertama.
'Len…' Rin melihat ke arah Len dengan tatapan sedih. Dia jadi teringat tentang hari itu. Saat dia mengatakan bahwa dia akan mengikuti orang tuanya yang akan tinggal di luar negeri. Saat itu, Rin tidak mampu meninggalkan Len, tapi dia menyayangi orang tuanya, dan dia tidak mau merepotkan keluarga Len lebih lama lagi dengan tinggal di rumah mereka. Itu juga Len lah yang mengusulkannya... untuk mencoba tinggal bersama dengan orang tuanya...
"Aku tidak akan pergi kemanapun…" gumam Rin sambil membelai rambut Len dengan lembut, seperti cara Len memperlakukannya saat dia menangis waktu kecil dulu. Sudah lama Rin ingin mengatakan itu, tapi itu tidak mungkin baginya sekarang meski dia ingin.
Rin menundukkan wajahnya dan memperhatikan ekspresi Len yang terlihat sedih. Dengan masih membelai rambut Len, Rin mengucapkan kata-kata untuk menenangkan Len. Kalau dilihat dari tatapan orang lain, Len terlihat seperti anak Rin.
"Jangan menghilang dari hadapanku… Ella…" gumam Len lagi dengan nada yang dalam. Len sudah kembali dari gumaman tentang masa lalu dari mereka berdua, dia dan Rin.
Rin langsung menghentikan belaiannya. Hatinya terasa sakit mendengar Len mengucapkan nama 'Ella'. Hatinya terasa teriris-iris menjadi berkeping-keping.
'Ahh, jadi ini rasanya cemburu… jadi aku memang… menyukai Len…' gumam Rin dengan menggigit bibirnya sendiri. Dia tidak suka Len menyebutkan nama itu dengan nada itu.
"… Rin… kenapa kau diam?" ujar Len lagi dengan mempererat dekapannya pada perut Rin.
Rin langsung diam seribu kata. Apa mungkin Len sudah terbangun? Atau dia hanya bergumam lagi seperti biasa?
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku…? Kalau kau… Ella…" Len bergumam lagi. Rin sudah sangat yakin bahwa Len hanyalah bergumam saja.
"… kalau kalian… adalah orang yang sama…?" ujar Len mengakhiri gumamannya.
Rin terkejut setengah mati, atau lebih tepatnya takut setengah mati. Sejak kapan Len… tidak, lebih tepatnya bagaimana Len bisa tahu tentang itu? Bukankah mereka tidak pernah berdua saja sejak kejadian itu?
Tapi, belum sempat Rin memikirkan alasannya, tiba-tiba Len mendorongnya hingga kini Len terbaring di atasnya, sementara Rin harus rela ditindih oleh tubuh Len. Rin baru menyadari bahwa Len sudah menjadi lebih berotot dibandingkan terakhir kalinya dia mengetahuinya.
"Rin… kumohon jangan menghilang! Jangan tinggalkan aku!" teriak Len tiba-tiba sambil memeluk Rin kuat-kuat.
"L-len…" Rin berusaha mendorong Len dari atas tubuhnya. Persetan dengan identitasnya yang harus dia sembunyikan dari orang yang paling tidak ingin dia tahu tentang rahasianya itu.
"Rin… Aishiteru…" gumam Len terakhir kalinya dengan nada yang sangat pelan, seperti bisikan.
Rin langsung terdiam dan tidak bergerak, menyadari bahwa Len sudah benar-benar tertidur karena mabuk. Pikirannya melayang kemana-mana, dan itu membuatnya lelah dan akhirnya tertidur sendiri dengan satu pertanyan besar di kepalanya.
'Apa Len benar-benar bermaksud tentang pernyataannya itu?' pikir Rin.
(Skip, Skip, Skip! Persetan dengan ujian!)
Rin secara sengaja atau tidak, menjadi menghindari Len setiap hari. Len terlihat sebal, dan bingung kenapa dia dihindari lagi. Teman-teman mereka hanya nonton sinetron (?).
Dalam sekejap mata, liburan musim dingin sudah dimulai, dengan Len dan Rin yang masih saling diam-diaman. Rin memang masih banyak pikiran, jadi dia tidak terlalu merasakan tentang kejauhan antara dirinya dan Len.
Miki akhirnya sadar bahwa dia menyukai Piko, sesaat setelah dia menyadari kalau pada hari Piko tidur di pangkuannya. Kata Miki, Piko itu meski menyebalkan, selalu mendengarkan semua celotehannya. Semuanya, minus Piko, memberi selamat kepada Miki yang akhirnya mau mengakui tentang itu. Tapi tetap saja… mereka bertengkar nyaris setiap hari.
"Rin!" Miki memanggil Rin saat Rin sedang memilih-milih hadiah untuk Natal. Memang, lusa merupakan malam Natal dan sekolah mereka akan mengadakan pesta malam Natal di sekolah. Dalam acara itu juga ada acara bertukar hadiah, sehingga Rin dan Miki sedang memilih hadiah untuk diberikan.
"Hmm?" tanya Rin yang setengah sadar dan tidak tanpa memalingkan wajahnya ke arah Miki. Pikirannya melayang-layang kemana-mana, tapi terutama tentang Len yang disukainya dan pernyataan yang tidak sengaja dia 'dengar' itu.
"Jangan 'Hmm?' aku tahu! Tapi, kira-kira Piko suka yang ini atau yang ini?" ujar Miki dengan sebal, namun tetap menunjukkan benda yang dimaksud olehnya.
Rin memalingkan wajahnya untuk melihat ke arah Miki, dan melihat benda yang ada di tangannya. Sebuah muffler berwarna hijau dan juga putih, dua warna kesukaan Piko, atau itulah yang dia dengar.
"Putih," jawab Rin sekenanya sambil menimang-nimang hadiahnya sendiri. Karena sekarang musim dingin, Rin hendak membelikan Len sepasang sarung tangan. Tapi, Rin belum menemukan yang sesuai dengan keinginannya.
"Rin~ akhir-akhir ini kau jadi dingin ya. Memang apa yang terjadi antara kau dan Len?" tanya Miki dengan langsung.
Pertanyaan itu spontan membuat apa yang Rin pegang terjatuh dan wajahnya jadi memerah. Tidak, tidak karena pertanyaannya tepat sasaran, melainkan karena Len disebutkan di dalam pertanyaannya itu.
"Ti-tidak ada…" jawab Rin yang langsung mengambil barang yang dia jatuhkan tadi. Dia baru menyadari bahwa benda itu merupakan benda yang sesuai untuk hadiahnya, sepasang sarung tangan wool berwarna kuning polos yang terasa hangat.
"Benarkah? Kalian tidak berbicara setelah acara menginap itu kan? Memang apa yang terjadi?" tanya Miki dengan menanyakan kebenaran dari pernyataan Rin. Meski dia cukup dekat dengan Rin, dia juga mendengarkan perkataan dari Len dan serentetan kebiasaan Rin saat ada masalah.
Menjatuhkan barang yang ada di tangannya merupakan salah satunya. Yang kemudian dilanjutkan dengan melarikan diri dari TKP.
Tapi, dari info yang Miki dapatkan, Rin tidak blushing seperti itu. Yang terpikirkan di kepalanya pertama kali adalah urusan cintanya dengan Len. Tapi, mungkin saja lebih buruk dari itu. Ah, tapi itu tidak mungkin… Len tidak mengambil langkah untuk membuktikannya.
'Lebih baik aku mengikuti Rin saja sekarang,' pikir Miki yang kemudian segera mengejar Rin ke kasir. Dalam perjalanan pulang, Miki tidak menanyakan tentang sikap aneh Rin ataupun tentang 'apa yang harus mereka lakukan'.
Tapi, saat diam itu dipatahkan oleh Rin sendiri.
"Mi-miki… a-ano ne… e-etto… malam ini itu… ano…" ujar Rin dengan sangat gagap dan terdengar gugup.
Miki memutar bola matanya ke atas, lalu meng-'ooh' kan perkataan Rin yang tidak jelas itu. Malam ini mereka akan melakukan pencurian permata milik Meirinne Elfinia Slynx, dengan kata lain, bibi dari Mel. Apa mungkin kebetulan, kah? Permata yang digunakan untuk mengubah Rin kembali ke wujud manusianya adalah milik Mel, dan kini sebagai pencurian permata mereka yang terakhir adalah milik bibi Mel.
Miki maklum tentang kekhawatiran Rin, karena mereka lebih memfokuskan diri untuk mencari petunjuk untuk mencegah Rin untuk menghilang. Waktu mereka tidak banyak… karena besok, tepat saat jam 12 siang pada tanggal 24 Desember, Rin akan menghilang. Kekuatan mereka sudah mampu menyokong mereka selama mereka tidak melakukan pencurian, dan sepertinya juga sia-sia kalau melakukannya jika tidak bisa membantu sama sekali.
"Ba-bagaimana kita akan masuk?" tanya Rin dengan mengait-ngaitkan jari jemarinya. Ketahuilah Rin, itu merupakan pertanyaan yang paling tidak masuk akal untuk ditanyakan, terutama oleh seorang pencuri.
"Apa aku harus mengulanginya dari dasar hingga membuat dasar itu terbakar di dalam kepalamu, Rin?" balas Miki dengan nada kesal tapi tanpa melihat ke arah Rin. Tanda bahwa dia benar-benar kesal.
Rin melirik ke arah Miki dan segera menjawab, "Ti-tidak! Aku hanya menanyakan hal yang konyol saja!" ujar Rin hampir berteriak. Sudah cukup dia mendengar ocehan Miki saat dia masih menjadi Milet.
Miki tertawa ringan saja, meski di dalam hati dia merasa sangat jengkel. Mereka pun pulang dari belanja dengan membawa hadiah mereka masing-masing. Karena masih ada yang harus mereka kerjakan sekarang…
Len POV
Aku dan Piko sekarang sedang berada di kios untuk hadiah Natal, dengan aku dan Piko yang mencari hadiah Natal. Tiba-tiba, seperti petir di siang bolong, Piko berkata dengan nada yang sangat datar untuk perkataannya yang sangat penting.
"Aku akan menyatakan cintaku pada Miki," ujar Piko dengan wajah datar.
Mendengar itu, tiba-tiba aku terpleset dan jatuh ke tanah dikarenakan benda yang tak terlihat dan tak kuketahui letaknya. Ouch, rasanya sakit!
"Beneran?" tanyaku dengan separuh tidak percaya dan masih berada di lantai.
Sekilas info, Piko mengakui perasaannya yang sudah jelas-jelas terlihat, beberapa hari setelah liburan musim dingin dimulai. Aku masih ingat caranya dia mengaku pada kami, dengan kami maksudku, aku, Mikuo, Ted, Liu, dan juga Dell. Yah, aku dan Mikuo menjadi cukup dekat sementara Dell kebetulan bertemu dengan kami saat itu.
"Suer. Kau bisa mengambil semua game yang kumiliki jika aku tidak melakukannya," jawab Piko dengan nada yang sedkit beremosi.
"Kapan?" tanyaku sambil melakukan usaha untuk berdiri lagi. Piko sangat menjaga game-game miliknya, jadi berarti dia serius. Kami-sama, terimakasih sudah menyembuhkan game addict dari Piko…
Piko melihat hadiah yang ada di tangannya, yang merupakan sarung tangan berwarna merah cherry, warna kesukaan Miki, kata Piko. Aku sendiri hendak membelikan syal untuk Rin dengan warna kuning lemon. Aku ingin membalas hadiahnya yang merupakan barang berhargaku sekarang, karena dia yang memberikan. Sebuah syal berwarna kuning pucat yang tidak bagus juga tidak jelek sebagai hadiah perpisahan kami saat kecil. Meski Rin membelinya, aku tetap menjaganya, sama seperti Rin yang menjaga pita pemberianku itu.
"Secepatnya… mungkin saat aku bertemu dengannya lagi," ujar Piko dengan menimang-nimang hadiahnya. Sepertinya dia juga sungguh-sungguh tentang pernyataannya itu.
Hmm… tapi, dalam waktu dekat yang paling dekat adalah…
"Malam Natal nanti?" tanyaku dengan heran. Piko yang begitu dingin bersikap romantis dengan menyatakan cinta pada malam Natal? Mimpi apa aku kemarin malam.
Mimpi ketemu Rin kali…
Berisik loe, author!
"Lalu kapan kau akan bilang pada Rin?" tanya Piko tiba-tiba.
Aku jadi membeku di tempatku… aku sudah menyimpan perasaan pada Rin cukup lama, bahkan mungkin lebih lama dari Piko. Tapi, Piko sudah berniat untuk menyatakan perasaannya lebih dulu. Lalu… bagaimana dengan aku? Kapan aku akan mengatakannya pada Rin? Apa aku akan terus berencana untuk tidak mengatakannya dan melihatnya diambil oleh orang lain? Aaaahhhh! Tidak mau!
Andai kau tahu~
Kubilang berisik loe, author!
Gomen... aku bakal diam sekarang
Baguslah kalau begitu
(Skippppppp!)
Gara-gara aku harus menemani Piko mencari hadiah untuk Miki-nya tercinta, aku jadi hampir lupa tentang kedatangan Ella setelah beberapa minggu dia tidak datang. Targetnya adalah Meirinne Elfinia Slynx, bibi dari Mel, ehh, kebetulan kah? Sehari sebelum Rin muncul di kelasku merupakan saat permata milik Mel dicuri, dan sekarang untuk kembalinya dia setelah tidak memunculkan diri selama beberapa minggu, permata milik Mei-san yang diincar. Memang apa yang menyebabkan dua orang dari satu keluarga ini mengalami kasus kecurian yang agak mirip?
Taaaapiii, yang membuatku lebih marah adalah karena aku harus ikut pesta dansa lagi. Aku heran, kenapa orang-orang kaya suka sekali melakukan hal-hal yang nggak penting kayak gini.
"Senang melihat anda disini…" ujar suara seseorang yang mampu membuat darahku mendidih hanya dengan mendengar suaranya.
Aku melihat ke arahnya dan orang itu tetap berdiri seakan tidak ada yang salah dengan apa yang dia lakukan itu. Dengan mendengus kesal aku segera menjawab, "Aku juga sangat senang melihatmu, Mel," ujarku dengan bersungut-sungut. Aku tidak terlalu bermaksud tentang perkataanku itu tentunya, jika menurut kalian aku beneran bermaksud, maka kalian harus ikut kelas remidi tentang sarkasme.
"Fufu… itu lebih baik. Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau sudah tahu kenyataannya bukan?" ujar Mel dengan menutup mulutnya dengan sebagian tangannya, tanda bahwa dia menahan tawanya.
"Itu sih…" aku memikirkan tentang perkataan Mel lagi. Aku tahu sekali, bahwa Ella tidak melakukan hal yang buruk. Semua orang yang permatanya dicuri, menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Miku juga… dia menjadi sehangat dulu.
"Sejujurnya… aku senang Cinderella akan datang kemari, karena itu aku mengadakan pesta seperti ini…" ujar Mel.
Aku segera menengok ke arahnya dan dia sudah pergi meninggalkanku sendiri. Aku memperhatikan punggungnya yang mengecil ditelan oleh orang-orang yang datang. Baru kali ini aku merasa… bahwa Mel benar-benar seumuran denganku.
"Dasar tsundere…" gumamku. Aku melihat ke luar jendela dan memperhatikan bulan yang sedang bersinar dengan indahnya. Aku sudah menentukan apa yang akan kulakukan sekarang. Aku ingin… berbicara dengan Ella sekali lagi…
Normal POV
"Hei, apa tidak apa-apa masuk lewat pintu depan begini?" ujar seorang wanita dengan rambut berwarna silver yang panjang. Dia terlihat gugup saat dia mengatakan hal itu.
"Tentu saja tidak apa-apa! Lagipula tak akan ada yang tahu kalau kita kesini dengan maksud tidak baik jika dengan penampilan artis begini. Ayolah, sekali-kali juga gak apa-apa kan?" ujar wanita dengan rambut berwarna merah yang dipotong pendek.
Pakaian mereka merupakan dress berwarna senada dengan rambut mereka dengan potongan dada rendah dan memiliki strap yang melilit bagian leher mereka dengan warna hitam. Mereka memakai korsase di kepala mereka dengan bentuk mawar yang memiliki warna yang sama dengan warna rambut mereka pula. Sekali lihat saja, mereka terlihat seperti selebritis.
Tiba-tiba, seseorang dengan pakaian butler mendatangi mereka. Rambutnya berwarna pink muda dan membuatnya terlihat seperti perempuan, dia lalu berkata, "Mari Nona," ujarnya dengan sopan.
Dari sampingnya, tiba-tiba muncul seorang pelayan wanita dengan pakaian goth loli berwarna hitam dan putih, yang kemudian berkata, "Kita akan menjadi escort kalian selama semalam ini atas perintah nona Aurora," ujarnya dengan nada yang lebih santai.
Wanita dengan rambut silver itu segera mendengus, "Musuh kemarin menjadi teman hari ini… yah…" gumamnya dengan sebal.
Rina: Ohoho, to the point ja, silahkan lihat chapter selanjutnya! 2 Chapter lagi hingga Cursed Cinderella berakhir!
