Di sebuah kastil tergelap yang pernah ada, hanya cahaya rembulan memperlihatkannya walau sebuah temaram saja. Diiringi awan hitam bergelantungan di atas kastil. Sebenarnya itu bukan sebuah kastil melainkan sebuah tempat di mana banyak anak-anak penjaga-penjaga menjagai setiap sudut pintu, dunia, hati dan waktu khususnya si penjaga kunci.

Di dalam kastil terdapat sebuah ruangan melingkar dengan pintu-pintu yang mengelilinginya. Pintu-pintu sesuai warna dan gambar yang tertempel di pintu-pintu tersebut.

Ada sebuah penjaga-penjaga sesuai gambar di depan pintu. Penjaga-penjaga itu adalah manusia. Ada yang berjalan mengelilingi, ada yang berbincang, ada yang duduk bersedekap, ada yang tertidur pulas, dan ada yang terdiam.

Mereka-merekalah yang mengatur semuanya. Mengatur arahan, tetapi tidak bisa mengatur urusan Kami-sama. Mereka hanya menjalankan. Mereka bukan anggota Dunia Langit dan Dunia Bawah. Mereka juga bukan dari Dunia Manusia, tetapi mereka adalah manusia. Manusia yang terpilih mengatur segalanya. Mereka adalah mereka yang tidak boleh dihancurkan kalau bukan kemauan mereka sendiri.

Mereka dinamakan sang penjaga. Sang penjaga-penjaga yang bisa mengubah sesuai kehendaknya manusia-manusia termasuk para malaikat dan iblis. Merekalah juga memiliki kekuatan yang seimbang dengan Naruto dan ketiga anak kembar Haruno.

Siapa mereka, tidak ada yang tahu. Tinggal di mana mereka, tidak ada yang tahu. Apa mereka lakukan, juga tidak yang tahu. Semuanya tidak ada yang tahu terkecuali sesama penjaga pintu.

Sungguh aneh, bukan? Jika iya, mereka bakal menampilkan dirinya sekarang juga, segera mungkin. Mereka juga bakal mencegah terjadinya penghancuran dunia.

..oOo..

LONG Distance

.

.

Disclaimer: Naruto belong to Kishimoto Masashi

Warning: : OOC, AU, AH, deskripsi seadanya, percakapan kalimat Bold dan Italic adalah kalimat para iblis, percakapan kalimat Italic adalah kalimat para malaikat, yang biasa adalah manusia, sisanya adalah isi hati menggunakan text Italic.

..oOo..

Chapter 11: Tengu King

.. Dunia Langit ..

Susunan-susunan dari beberapa tingkatan telah dicapai seorang anak manusia setengah malaikat setengah iblis untuk menuju ke tingkat tujuh. Di sana dia ingin mengetahui soal kepastian dari sang Petinggi Langit.

Sebenarnya anak muda ini tidak mau berhubungan dengan sang Petinggi Langit karena kejadian kemarin-kemarin dulu. Walaupun itu akan menimbulkan sesuatu yaitu hukuman dari para mantan Master Kage dan Petinggi Langit.

Tetapi itu dulu. Sekarang ada sang ibu bersamanya. Bocah kecil ini yakin, jika bersama sang ibu masalah terselesaikan. Ibunya ini adalah panutannya. Panutan hidup untuk mencapai hasil terpuaskan. Bocah kecil ini yakin seratus persen, para mantan master Kage bakal kaget sekagetnya mendengar sarannya untuk bekerja sama dengan iblis.

"Ibu akan meminta pada Kage untuk membantu kita. Ibu akan berusaha!" teriak Sakura penuh kebatinan. Anak laki-lakinya yang berambut merah muda yang bukan tubuh sebenarnya, menghela napas pada pergolakan batin sang Ibu.

"Apa lebih baik kita bicarakan dulu pada Petinggi Langit? Secara, dia 'kan pemilik Dunia ini," usul Menma sambil berlari. Biarpun kelelahan masih ada, tetapi Menma tetap berusaha walaupun ngos-ngosan berlebih.

"Ibu tidak punya waktu. Ibu melihat kalau Hiro melakukan sesuatu pada Petinggi Langit, hm?" lirik Sakura kepada anak tertua.

Glek!

Saliva tertelan di kerongkongan kering Menma. Dirinya tidak menyangka, sang Ibu bisa mengetahui semuanya. Di dalam mimpi, Sakura bukan hanya merenung ataupun yang lain, tetapi dapat melihat masa-masa suram yang melibatkan ketiga anak-anaknya.

"Ibu melihatnya? Peristiwa antara kami dan Petinggi Langit?"

"Iya, Ibu melihatnya dari Dunia Mimpi. Mito-san yang memberitahuku. Gara-gara kalian, Petinggi Langit harus operasi plastik ke Dunia Manusia. Sekarang kondisinya tidak baik-baik saja." Tatapan tajam nan lembut dilontarkan Sakura pada Menma, membuatnya menciut. "Makanya Ibu mau lihat keadaan Petinggi Langit. Apakah beliau baik-baik saja atau tidak?"

Mati aku. Menma menggigit kelima jari, bagaimana bisa Ibu melihat itu semua tanpa bilang-bilang. Namun, Sakura mengusap rambut merah muda Hiro, menenangkan Menma yang ada di dalam tubuh Hiro.

"Ibu tidak memarahimu. Hanya saja, Ibu salut padamu." Menma bingung. Sakura menoleh ke belakang dan berhenti berlari. "Terima kasih sudah membantu anak-anakku, Naruto, Hinata."

"Bukan apa-apa. Senang bisa menolong cicit-cicitku tercinta." Pria berambut kuning emas menepuk punggung mungil Hiro membuat Menma terdorong ke depan. Naruto mendahului Sakura dan Menma sambil menarik tangan Hinata. "Cepat! Ayo, kita ke tempat mereka!"

Keempat orang yang terpilih di masa depan, berangkat ke atas langit, tingkah tujuh belas. Benar-benar tinggi. Tidak ada satu pun lift dibuat di Dunia ini. Hanya tangga bertingkat, dan beberapa tali dan tebing buat memanjat ke atas. Tingkat tujuh belas jarang orang memasuki kecuali pasukan-pasukan setia Petinggi Langit dan Lima Master Kage. Jika ada orang masuk tanpa izin, akan diberikan sanksi hukuman yakni membersihkan WC rumah para malaikat-malaikat Langit. Hati-hati saja, ya.

Meskipun tidak diizinkan, Sakura berhak masuk karena ini menyangkut kedua anaknya yang hilang dan berada di dunia Iblis. Jika mereka tidak menolong, Sakura akan melakukan sesuatu hingga mereka tidak menolak lagi. Sesuatu itu apa, ya?

BRAAAK!

Pintu besar terbuka lebar karena terdorong oleh kekuatan luar biasa dari wanita berambut merah muda. Tendangan kencang dan kuat sekali mengagetkan para mantan Master Kage dan Petinggi Langit sedang nongkrong di sana. Mereka tercengang karena ada wanita tiga anak bisa mendobrak pintu besar sebesar baja besi.

"Haruno Sakura?"

"Maafkan kami karena tidak minta izin masuk ke sini." Hinata yang menggantikan tugas Sakura. Tidak enak, 'kan, menghancurkan pintu namun tidak minta maaf. Jadi Hinata yang minta maaf. Bukan Hinata saja, Naruto pun begitu.

"Sakura tidak sengaja melakukannya..." Naruto melirik sebentar pada Sakura. Aura ganas keluar dari tubuh Sakura, Naruto jadi bergidik.

"Ibu..." Menma mengerti Ibunya gelisah setengah mati memikirkan kondisi kedua anak-anaknya yang entah bagaimana keadaannya. Akhirnya Menma maju ke depan memberikan penjelasan sejelas-jelasnya, kenapa dia datang ke sini. "Kami datang untuk bertemu kalian semua. Ini tentang... adik-adikku dan Ayah kami di Dunia Iblis."

"..."

"Kami tahu kalian tidak mau menyetujui permohonan kami karena kejadian masa lalu, tapi... bisakah kalian sekali saja membantu kami menyelamatkan Dunia dari serangan Raja Iblis satu itu?"

"Permintaan ditolak, anakku," sahut mantan Master Mizukage pertama. "Kami tidak bisa membantu dan menolong kalian. Kami tidak bisa."

PRAAANG!

Bantingan meja ke depan mengejutkan orang-orang yang berada di dalam. Amarah keluar dari jiwa wanita tiga anak yang sedari tadi menahan amarahnya yang bergejolak. Ditatap tajam para mantan-mantan Master Kage, membuat mereka mundur menjauh. Takut pada tatapan mengerikan.

"Seenaknya kalian tidak mau membantu, he?" Sakura maju selangkah. "Seenaknya kalian menghancurkan hidup dan semangat orang lain gara-gara keegoisan kalian sendiri. Sampai kapan kalian mau begini terus? Mau sampai kiamat!"

Glek!

Ketakutan menghampiri beberapa orang di dalam ruangan termasuk Petinggi Langit. Mereka gemetaran. Wanita di depan mereka cocok jadi Petinggi Langit selanjutnya karena tegas dan beraninya dalam berbicara. Sungguh hebat, tidak ada yang menandinginya.

"Kami... belum mampu bertarung dengan Raja Iblis dan pengikutnya."

Itulah jawaban yang mencengangkan Sakura. Wanita berambut merah muda mendekati kursi batu dan duduk di sana sambil menyilangkah kedua kakinya. "Kalian takut? Tidak biasanya kalian takut pada sesuatu hal selain para manusia egois. Kalian, tuh, sama egoisnya dengan manusia yang ada di Bumi."

"Kami tidak punya kekuatan!" Petinggi Langit akhirnya angkat bicara dalam keadaan canggung dan menakutkan. "Jika kami punya kekuatan, kami bisa menghancurkan mereka dan menyegelnya."

Bocah berambut merah muda mau mengangkat tangan, mau berbicara sesuatu. Namun, Sakura tidak memperbolehkan Menma bicara. Jadi mengalah saja, deh.

"Tidak punya kekuatan? Orang sebanyak ini, kenapa bisa tidak punya kekuatan? Yang dibutuhkan adalah kerja sama. Kekuatan untuk bertarung adalah kepercayaan. Sampai kapan pun, tidak pernah berubah. Adakah kalian tidak berpikir begitu?" tatap tajam Sakura kepada para orang tua tidak bertanggung jawab. "Punya jabatan tertinggi, tapi tidak melakukan sebaik-baiknya. Itu namanya tidak puas."

"Anu..."

"Bukan begitu, Haruno Sakura. Kami punya kesimpulan lain melakukan ini!" sela mantan Kazekage pertama mengangkat tangan menyela Menma yang angkat bicara.

"Kesimpulan apa?" Sakura mendengus. "Kesimpulan untuk melarikan diri?"

Tidak ada yang berkata-kata maupun menjawab pertanyaan Sakura. Sakura tersenyum senang. Tinggal sedikit lagi menyadarkan orang-orang terutama Petinggi Langit. Naruto dan Hinata maju sambil berpegangan tangan, memberitahukan masalah mereka yang sebenarnya.

"Kami berdua mau mengatakan sesuatu. Hubungan kami sudah membaik dan kami harap Anda semua mau menyetujui pernikahan kami." Naruto dan Hinata membungkuk dalam-dalam. Semua orang mata memandang, tercengang kaget.

"Apa kamu bilang? Kamu ingin menikahi Hyuuga Hinata tanpa sepengetahuan kami?" tanya Petinggi Langit, Rikudo. "Kenapa kamu selalu saja melakukan masalah?"

"Ini bukan masalah atau pun kesalahan. Ini kenyataan dan takdir aku terima. Tidak boleh ada yang mengajukan penolakan. Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan menghancurkan tempat dalam sekali bilas," ancam Naruto. Para orang tua bergidik ngeri melihatnya.

Sakura bertepuk tangan melihat semangat perjuangan Naruto demi cintanya. "Bagus, Naruto."

"Tetap saja..." Rikudo tidak mau kalah. "... kami tidak mau mengizinkan hal ini terjadi. Kami tidak rela."

"Begini Rikudo-sama. Kami bisa melihat keteguhan hati cinta Naruto dan nona Hyuuga Hinata. Jadi, kami menyetujuinya," ucap mantan Master Hokage pertama. Ditatap Naruto mengucapkan selamat. "Semoga kalian bisa bersatu untuk selama-lamanya."

"Terima kasih banyak, para orang tua."

Demi Naruto, mereka rela disebut orang tua. Naruto adalah anak yang mereka sayangi sampai kapan pun. Apapun buat Naruto, mereka tetap melakukannya. Meskipun harus menolak pernyataan penolakan Rikudo, sang Petinggi Langit.

"Kalian..."

"Jadi... kalian setuju untuk bertarung bersama-sama, 'kan?" usul Naruto penuh ajakan permohonan. Mereka terdiam sejenak. Setengahnya setuju, sebagian ragu-ragu. Sakura jadi lemas melihat betapa ragu-ragunya pemikiran mereka.

Menma sedari tadi gelisah. Bukan karena suatu kegelisahan biasa, tetapi gelisah mengingat hal-hal yang aneh. Entah apa itu. Biarkan saja dulu, permintaan dan penolakan dilakukan mereka. Menma keluar sementara waktu. Soalnya dari tadi ingin berbicara, tidak diperbolehkan. Lebih baik menyingkir sementara dulu.

.

.

.

.

.. Dunia Bawah ..

Langkah hilir mudik seperti setrikaan terlihat pada seorang bocah berambut biru terkesan gelisah. Gelisah sana gelisah sini. Apa pun dilakukannya mengherankan orang lain termasuk pria berambut biru dan adiknya perempuan satu-satunya. Rambutnya sama dengan adiknya, namun sifatnya berbeda. Harap diingat itu!

Hana menghampiri kakak keduanya, menarik-narik baju bawahnya. "Ada apa dengan kakak? Ada sesuatu yang dirisaukan?"

Hiro menepuk puncak kepala Hana, tersenyum tenang. "Bukan apa-apa. Kakak hanya lelah saja."

"Apa ini ada hubungannya dengan kak Menma?"

Baru disebutkan nama, Hiro menjentikkan jari. Hiro berlari melewati Hana menuju ke tempat peristirahatan Uchiha Madara, Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Pintu terbuka karena Hiro membukanya tanpa mengetuk pintu terdahulu. Disusul Uchiha Sasuke dan Hana di belakang sambil menggendongnya.

"Saya meminta bantuan untuk bisa mempertemukan aku dengan Raja Tengu!" seru Hiro dengan lantang, tidak ada perasaan takut di benaknya selama ini. "Semoga kalian mau menerima permintaan saya."

"Tidak usah terlalu formal." Uchiha Mikoto, wanita lemah lembut tetapi sudah berubah jadi lebih baik, mendekati Hiro. "Anggap saja kami adalah keluarga kalian. Kami juga belum sempat bertemu dengan Ibu kandung kalian."

"Ah... itu..."

Sekilas Hiro menoleh ke belakang, di sana Sasuke menurunkan Hana ke atas lantai. Hana mendekati Hiro, bersembunyi di sampingnya. Uchiha Sasuke yang sekarang tidak lagi hilang ingatan. Berkat pertemuannya dengan Hiro memakai tubuh Menma, Sasuke sedikit demi sedikit bisa beradaptasi pada ingatannya sering kabur-kaburan.

"Apa dia orang aku kenal?" tanya Sasuke penasaran. Hiro menegak ludah, Hana bersembunyi. Tidak sanggup mengatakan apa-apa. "Apa dia baik-baik saja?"

"Ibu baik-baik saja." Hiro memalingkan muka, tidak mau melihat lebih jelas raut muka Sasuke yang mirip sekali dengan Menma. Mengetahui Sasuke adalah iblis, Hiro belum bisa mengatakan sebenarnya. Belum saatnya. "Anda tidak perlu khawatir."

"Jika dilihat dari wajah kalian, Nenek yakin kalian ada hubungan dengan Sasuke," ucap Mikoto menyadarkan Hiro tentang kenyataan. "Kalian tidak menyembunyikan sesuatu pada kami, 'kan?"

Hiro mengalihkan pandangan, memeluk Hana sebagai pelengkap terhindar dari masalah. Sejenak saja kikuk mengatakan hal itu, tiba-tiba tubuhnya mulai mengejang. Rasa sakit di dalam tubuh Menma menyebabkan roh Hiro tertarik keluar. Ini membuat Hana kaget melihat roh Hiro keluar dari tubuh Menma.

"Kak Hiro?"

"Ada apa dengan dia?"

Sasuke melindungi Uchiha Mikoto dan Hana. Saat Hana mengulurkan tangan untuk mendapatkan roh Hiro, Hiro pun berteriak sekencang-kencangnya hingga Hana membatalkan niatnya.

"Jangan, Hana! Ini hanya sementara. Aku harus kembali ke tubuhku yang semula, sedangkan pemilik asli sedang berkosentrasi keluar dari tubuhku. Aku harap kamu baik-baik saja bersama Menma sebelum kami semua datang!"

"Baik, kakak..."

Roh Hiro terlepas dari tubuh Menma, melayang ke atas langit-langit rumah Uchiha, lalu menghilang entah ke mana. Berselang beberapa menit kemudian, muncullah sebuah roh putih masuk ke dalam tubuh Menma. Hana berharap itu adalah kakaknya bukan orang lain. Dihampiri tubuh Menma yang sudah kembali bernyawa dan menyapanya.

"Kakak? Kak Menma?"

"Hn."

Wajah Hana tersenyum ceria. Diterjang tubuh Menma dengan sebuah pelukan, Menma tersentak ke belakang. Gara-gara pertukaran tubuh, tubuh Menma menjadi sakit. Mungkin dikarenakan perbuatan Hiro saat masuk ke dalam Dunia Bawah.

"Sakit banget, nih, tubuh. Apa yang dilakukan Hiro pada tubuhku, sih?" tanya Menma memijit kepalanya yang sakit. Karena tidak tahu di mana Menma berada, Sasuke mendekati dan berjongkok di depannya.

"Kamu, Menma?" tanya Sasuke membuat Menma menatap di depan matanya. Kedua bola mata hitam kebiruan melebar, tidak di sangka-sangka bisa melihat orang yang mirip dengannya. Wajahnya sama, rambutnya dan beberapa bentuk tubuh tentu saja dimiliki oleh Menma di masa depan.

"Kamu bukannya adalah..." tunjuk Menma mengarah ke Sasuke.

"Dia ini adalah ayah kita, kak Menma." Akhirnya Hana yang menjelaskan semua intinya. Baru kali ini, Menma tersentak kaget. Pertama kali melihat Ayah kandung yang dari dulu ingin ditemuinya.

"Mana bisa aku percaya begitu saja." Menma menggeleng. "Ah, sudahlah. Kita harus mencari tahu ini ada di mana."

"Ini rumahku, kediaman keluarga Uchiha," sahut Sasuke tajam dan dingin. Sasuke mengira Menma mau menerima dirinya, tetapi tetap saja belum bisa mengakuinya. Apalagi darah Sasuke adalah darah iblis.

"Dunia Bawah?"

"Benar. Tempat di mana Raja Iblis dan monsternya berada."

Jawaban dari kalimat Sasuke membuat Menma menduga sebentar lagi ada pertarungan dahsyat di tempat ini. Jika seandainya bisa, Menma ingin sekali mengajak para Akatsuki untuk ikut bergabung dengan mereka, para Malaikat Langit. Mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa menentang Raja Iblis yang begitu berkuasa.

"Kita keluar. Bisa jadi kita menemukan petunjuk."

Baru berbalik ke belakang, Menma bertemu sesosok makhluk besar menjulang tinggi dengan hidung mancung besar, mata lebar tajam dan dingin, memegang kipas di tangan kanannya dan beberapa senjata lainnya. Menma berhadapan dengan makhluk yang disebut Raja Tengu, tetapi Menma berpura-pura saja tidak mengetahuinya.

"Monster..."

"Apa kabar, bocah?" sapaan ringan namun terdengar sakit di telinga oleh suara kasar Raja Tengu. "Senang bisa melihatmu di sini, di tempat Uchiha."

Menma dan Hana terdiam. Hana bersembunyi belakang punggung Menma, Menma melindunginya. Kedua saudara ini tidak takut pada apa pun, tetapi melihat sesuatu di depan mata mereka sendiri, dirinya bergidik ngeri. Ini sama saja berada di pinggiran jurang gunung lahar api.

"Kamu siapa?"

"Oooh... berpura-pura tidak tahu aku, anak manusia?" Menma cepat-cepat melindungi Hana. "Aku adalah Raja Tengu. Raja Tengu yang berkuasa. Namaku Sojobo."

Menma pernah dengar nama legenda di buku pertarungan para Malaikat Langit dan Iblis Dunia Bawah. Pertarungan singkat dan mendebarkan. Yang lihat pasti ketagihan. Sekalian minum susu hangat. Oke, pertarungan tidak seseru yang ada di film Action.

"Dari mana kamu tahu kami ini anak manusia?" Syukurlah Sojoubo tidak mengetahui kalau kedua anak berusia tujuh tahun memiliki darah setengah Dunia Langit. "Padahal kami tidak pernah bertemu denganmu. Lantas, darimana kamu bisa mengetahuinya?"

"Dari penciumanku yang tajam, bocah." Sojoubo menyeringai. Ditatap Sasuke sekilas, menyuruhnya kedua anak ini ditempatkan ke kurungan tergelap yang pernah ada. "Bawa dua anak ini, Sasuke. Kurunglah mereka karena masuk tanpa permisi."

Saat Sasuke mau mendekati Menma dan Hana, Menma mengeluarkan tenaga dalam. Asap dan angin muncul di kaki kedua bocah kecil tersebut. Gara-gara kekuatan mengerikan dan misterius, Sojoubo dan anggota keluarga Uchiha mundur ke belakang untuk melindungi diri. Tubuh Menma dan Hana menghilang di tempat itu, alias melarikan diri. Penciuman tajam Sojoubo tidak bisa menemukan mereka.

"Sialan, bocah kecil itu! Mereka melarikan diri!" Sojoubo menatap tajam pada anggota Uchiha. "Jangan sampai kalian ikut membantu mereka melarikan diri. Aku bisa menghancurkan kalian di sini!"

Sojoubu berbalik keluar. Uchiha Mikoto dan Uchiha Fugaku hanya pasrah dan berdoa, cucu-cucu mereka baik-baik saja. Tidak mengalami masalah. Yang penting, keduanya selamat. Sedangkan Sasuke, hanya terdiam membisu. Menghela napas dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa bersalah tidak bisa melindungi anak-anaknya.

Lalu, ke mana mereka pergi?

.

.

.

.

.. Dunia Langit ..

Roh Hiro masuk ke tubuhnya sendiri. Saat membuka mata, suara keributan terdengar dari arah pintu besar itu. Sempat melirik ke dalam, Ibunya, Sakura, masih hidup dan berada di tengah-tengah percekcokan antara Ibunya dan para orang tua. Naruto dan Hinata ikut membantu Sakura.

"Ibu?!"

Wanita musim semi menoleh ke arah pintu. Di sana Hiro tertawa senang melihat keberadaan Sakura. Sakura berlari menjemputnya, kemudian memeluknya. Rasa kangen lagi-lagi terlintas di benak wanita tiga anak tersebut.

"Hiro? Benarkah ini kamu?" Didorong tubuh Hiro, menyelidiki kalau dia baik-baik saja. "Kamu bertukar tubuh dengan Menma. Apa badan kamu sakit?"

"Hanya sedikit, Bu." Hiro kembali memeluk Sakura. "Aku kangen Ibu."

"Ibu juga kangen padamu," sahut Sakura sembari mencium puncak kepala Hiro. Pemandangan ini membuat pertengkaran terhenti sesaat. Sakura melirik ke samping, menyatakan sebenarnya. "Jika kita bersatu, kita bisa melakukannya. Ini demi semua bangsa Bumi dan rakyat-rakyat kecil kita. Aku mohon dengan sangat."

Sakura membungkuk diikuti Hiro, Naruto dan Hinata. Rikudo tidak berkutik. Sejenak Rikudo berpikir ulang, berpikir tentang nasib yang akan mereka tentukan nantinya. Meskipun semua orang setuju, belum tentu Rikudo terhebat menyetujuinya. Walaupun harus meminta izin pada lima Master Kage yang sekarang ada di balik pintu, menyela mereka.

"Aku setuju untuk ikut bertarung melawan mereka." Wanita berambut pirang dengan dada besar, maju berseru menyatakan haknya. "Karena sudah saatnya menentukan nasib. Sia-sia saja harus menunggu di tempat ini, Rikudo-sama."

"Aku juga setuju dengan pendapat Tsunade." Pemuda berambut merah dengan mata hitam di sela bawah mata, maju bertindak. Dilirik ke samping di mana ketiga orang juga ikut mengangguk.

"Kami semua setuju!"

Rasa senang menghampiri Sakura, Hiro, Naruto maupun Hinata. Mereka bersyukur ada orang-orang mau mengerti kondisi sebenarnya. Tinggal sedikit lagi untuk mendengar pernyataan dari Rikudo. Wajah operasi plastik yang dikenakan Rikudo, tidak membuat Sakura dan lainnya tertawa. Operasi plastik dan kejadian kemarinlah jadi tanggungan hidup untuk Menma, Hiro, Naruto dan Hana di kemudian hari. Mereka pasti bertanggung jawab.

"Hm... baiklah." Sontak mereka bergembira. "Tapi... sebelum itu, kalian harus memperbaiki wajahku ini. Muka tampanku tidak cocok untuk pertarungan ini. Bisa-bisa operasi plastik lagi."

Semuanya menghela napas dan menjawab, "iya, iya, deh."

Akhirnya Malaikat Langit mau melakukan tugas berat ini, menghancurkan Iblis sebenarnya. Dalam waktu tiga hari ke depan, mereka akan bersiap-siap untuk berperang. Semoga saja berhasil. Sesuai ucapan Naruto, hancurkan saja dalam sekali bilas!

To be continued...

..oOo..

A/N: Sudah berapa lama saya tidak update ff ini? Apakah sebulan atau dua bulan? Duh, saya tidak ingat. Dimohon maaf atas ketelatan fanfic ini, karena begitu susahnya mencari ide untuk melanjutkan semua ini. Betapa susahnya diri saya. Saya sudah putuskan, fanfic ini akan di update sekali sebulan. Maklum susah dapat ide apalagi sudah masa peperangan.

Terima kasih buat kalian yang telah review. Ini sudah update. Terima kasih sekali lagi. Maafkan jika ada kesalahan penulisan dan alurnya. Saya suka lupa... #dor

Sign,

Zecka S. B. Fujioka

Makassar, 20 September 2013