Standard Disclaimer. Semoga chingu Aghasse dan Couple GOT7 shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Italic : Flashback.
.
.
Teddy bear, Jaebum sangat erat ketika malam hari. Ketika mereka tertidur dengan pelan Jaebum akan mendekat padanya dan memeluknya, setiap malam, sebelumnya Youngjae merasa kalau mungkin tubuh kecilnya layaknya guling yang selalu dipeluk ketika tidur, namun sejak insiden ciuman tanpa sengaja diruang tamu saat Jaebum sedang bekerja kemudian tertidur, Youngjae merasa aneh.
Dia merasa kalau jantungnya suka berdebar saat mereka berdekatan, ia sempat mengira kalau jantungnya bermasalah, tapi dia tidak sepolos itu untuk tahu jika perasaan sayangnya sebagai adik mulai berubah menjadi suka, suka dalam artian ingin memiliki hubungan lebih selain kakak dan adik. Terlebih, jantungnya menggila hanya jika didekat Jaebum saja, tidak mungkin kalau itu adalah sakit sesungguhnya, jadi sudah pasti itu adalah debaran asmara.
Maka setiap malam ketika Jaebum mulai mendekati dirinya kemudian memeluknya, Youngjae terbangun, jantungnya berdebar keras, ia berbalik sehingga mereka berhadapan, untuk waktu yang lama Youngjae mmeperhatikan lelaki tampan yang selama ini melindungi, menyayangi dan memanjakannya.
Ini salah, Youngjae tahu. Lelaki tidak boleh dengan laki-laki, menyalahi kodrat dan tidak akan berhasil. Dia sangat paham, Youngjae tidak berharap lebih atas perasaannya, lagipula Jaebum terlalu sempurna untuknya, dia lelaki muda yang tampan, cerdas dan mapan, suatu saat dia akan mewarisi perusahaan almarhum ayahnya , sedangkan Youngjae? Dia adalah saudara pungutan, kebersamaan Youngjae dengan kakek dan nenek Jaebum tidaklah melalui sesuatu yang resmi.
Mereka menemukan Youngjae dipinggir jalan, jika ia berharap untuk bersama dengan Jaebum, rasanya seperti pungguk merindukan bulan.
Wanita ada banyak, cantik, pintar dan selevel, tentu saja mereka akan lebih cocok dengan Jaebum ketimbang dirinya, ia sudah bersyukur dengan kebersamaan ini, setidaknya suatu saat ketika dia dan Jaebum menempuh hidup pada jalannya masing-masing, Youngjae punya kenangan, mereka pernah berbaring bersama dalam satu ranjang, Jaebum memeluknya erat dan Youngjae mengamati si tampan sepanjang malam, itu cukup.
"Youngjae"
Lalu malam itu datang seperti mimpi dengan mata terbuka, Jaebum memanggil namanya dalam tidur, mengigaukan namanya, perasaan senang membuncah tanpa bisa dicegah, cinta semakin bersemi, Youngjae mendeklarasikan dirinya mencintai Jaebum sejak dia mendengar namanya dipanggil dalam tidur Jaebum.
…
a Fanfiction
by
Moonbabee
…
[Aku ingin sore ini kau pulang kerumahku. Aku sudah menghubungi dokter untuk mengurusmu dirumah. Kalau aku sampai dirumah kemudian tidak menemukanmu dirumah, maka aku akan mendatangi rumah sakit dan menyeretmu langsung dari sana]
Seharusnya Youngjae tahu, bukan dirinya yang disebut Jaebum dalam tidurnya, Yoo Youngjae. Pemuda berwajah manis yang pernah menjadi teman satu universitasnya, pemuda yang terlihat begitu cerdas dalam segala hal, bukan Choi Youngjae, bukan dirinya. Alasan itulah mengapa Jaebum menyerahkan dirinya pada Jinyoung.
Ada dua Youngjae dalam hidup Jaebum dan karena Jinyoung akan membalaskan sebuah dendam maka dia menyerahkan Choi Youngjae, tidak mungkin yang tercinta akan dijadikan korban, terlebih untuk sesuatu yang membuatnya terlihat sangat rendahan dan menjijikan.
"Iya Jinyoung"
[Bagus. Aku juga sudah menghubungi Bambam, sampai bertemu nanti]
"Youngjae" sambungan terputus bersamaan dengan munculnya Jaebum bersama seorang pemuda lain, itu Yoo Youngjae. Yoo Youngjae datang bersama seorang wanita yang perutnya terlihat besar, itu pasti isterinya Yoo Youngjae. Jaebum membiarkan orang yang dia cintai memiliki kehidupan yang sempurna dan normal lalu membiarkannya hidup dan menjadi penghangat ranjang orang.
"Aku mendengarmu sakit Jae, maaf tidak bisa membawakan sesuatu" Yoo Youngjae berkata dan Choi Youngjae hanya menatapnya sekilas, pandangannya jatuh lagi pada Jaebum yang membawa sebuah amplop.
"Aku ingin pulang"
"Apa? Tidak, aku tidak mengizinkan"
Jinyoung pasti tahu kalau Jaebum tidak akan mengizinkannya pulang, dia sudah mengatakan pada Jinyoung kalau dokter menyarankannya paling tidak dia dirawat satu minggu, Youngjae juga sedang melakukan pemeriksaan terkait kakinya yang sempat tidak bisa dibawa melangkah.
"Aku mau pulang" Choi Youngjae mengulang.
"Dokter belum mengizinkanmu pulang Jae, tadi aku dan Jaebum-
"Aku ingin pulang, kau tidak dengar dan siapa kau ikut campur, ini bukan urusanmu." Suara Choi Youngjae meninggi, membentak Yoo Youngjae dengan mata melebar, tentu saja lelaki Yoo dan isterinya terkaget. "Arraseo, maafkan aku telah ikut campur" meski begitu Yoo Youngjae maklum, dia mengerti dan mencoba memahami.
"Kurasa Youngjae sedang sensitive"
"Aku tahu Jaebum, sepertinya aku dan Minjae harus pergi, kurasa dia dalam emosi yang tidak baik"
Youngjae tersenyum sinis, Jaebum pasti takut Yoojaynya jadi menjauhinya, lihatlah bagaimana perhatiannya lelaki Im itu mengatakan pada Yoojaynya. Mengatakan untuk memberi pengertian, pasti Jaebum mengatakan kalau ia sedang sensitive, supaya Yoojaynya tidak menjauhinya karena Jaebum memiliki adik yang termpramental.
"Ada apa Youngjae? Kenapa kau menjadi kasar"
"Aku ingin pulang"
"Kau tidak mau mendengarkan dokter, paling tidak harus satu minggu dan ini" Jaebum menunjukan amplop ditangannya. "Ini adalah hasil lab mengenai kakimu, kita-
Youngjae merebut amplop tersebut dan merobeknya setelah sudah menjadi potongan kertas tidak berarti dia melemparkan tepat diwajah Jaebum. "Siapa yang peduli, jika kau tidak ingin mengantar aku, aku bisa pulang sendiri."
"YOUNGJAE!"
Bentakan itu berhasil membuat semua perkataan Youngjae yang akan keluar tertelan kembali, ia langsung terdiam. "Kita tidak tahu bagaimana hasilnya, bagaimana jika hasilnya menunjukan sesuatu yang bahaya, lagipula kau butuh dirawat-
"Dan membiarkan Jinyoung datang kemari lalu menyeretku secara paksa, siapa yang tahu bagaimana caranya akan menyeretku, mungkin dengan kondisi aku telanjang seperti ketika tubuhku ditato, atau pertama kali dia memerkosaku? Dia suka pamer, mungkin sambil berjalan dirumah sakit ini dia ingin memamerkan aku, budaknya-
"Keumanhae"
"Budaknya yang tidak menurut"
"Youngjae"
"Lagipula siapa yang peduli dengan hasilnya, mau bahaya atau tidak semuanya sama saja. Justru jika bahaya akan lebih baik, aku akan mati dan tidak perlu hidup menjadi mainan sex semua orang"
Mainan sex semua orang? "Apa maksudmu Youngjae"
"Aku mau pulang Jaebum, sekarang. Jika kau tidak mau aku semakin sakit maka cepat bawa aku pulang, tapi jika semua hanya omongan saja, maka aku akan pulang sendiri. Lalu kau datang sore harinya, mungkin Jinyoung butuh seseorang untuk menguburkan mayat atau membuang mayat kejurang"
"JAWAB AKU DULU YOUNGJAE! APA MAKSUDMU DENGAN MENJADI MANINAN SEX SEMUA ORANG!"
Youngjae terdiam beberapa saat, memandangi Jaebum, apa maksud tatapan itu, mata Jaebum membola tajam, memerah dan berkaca "Jangan bodoh Jaebum, kau tahu maksudku. Dan kau yang paling tahu"
"Semua orang itu berarti lebih dari satu, apa ada orang lain selain-
Jaebum terdiam, tidak menyelesaikan kalimatnya dan menjadi salah tingkah menatap Youngjae, darah mendesir dari perut, ingatan malam itu muncul seperti potongan film trailer. Kau sendiri Jaebum, malam disaat Youngjae sedang tertidur, kau melakukannya dan kabur saat mendengar suara seseorang datang.
…
"Semuanya Bambam, urus keperluannya, ingat kulit Youngjae sangat halus, maka pastikan semuanya kualitas terbaik dan membuatnya nyaman, ganti seprei yang ada dikamarnya dengan seprei yang sama seperti milikku, itu dari sutra asli" Bambam menatakan dengan nada yang sama yang seperti dilakukan Jinyoung ketika ditelepon.
Pemuda berbibir penuh itu sedang membantu Youngjae mandi melakukan pijatan untuk merilekskan tubuh Youngjae, tidak madni seperti biasanya, mandi sesungguhnya nanti, setelah Bambam memijit tubuh Youngjae, Bambam menggunakan rempah alami untuk dicampurkan pada air mandi Youngjae, itu sudah disiapkan pelayan atas suruhan Jinyoung, dari segala perintah yang pernah ia dapat, belakangan Jinyoung terasa aneh bagi Bambam.
Jinyoung pernah secara khusus memilihkan sebuah kemeja edisi terbaru dan baru diluncurkan oleh salah satu brand, itu dibeli secara khusus untuk Youngjae ketika dia akan mengantar lelaki Choi itu ke universitas.
Jinyoung berdebat panjang dengannya mengenai segala hal, mulai dari bahan, ukuran, warna dan semacamnya, ukurannya katanya harus dua kali lipat dari ukuran baju Youngjae, supaya dia bergerak dengan leluasa, bahannya harus lembut dan halus supaya tidak membuat kulit Youngjae iritasi dan warnanya tidak terlalu mencolok. Jinyoung ingin Youngjae tampak seperti mahasiswa biasa sehingga tidak menjadi pusat perhatian.
Sayangnya yang dilakukan lelaki Park itu sia-sia, Youngjae malah menjadi bahan cuci mata, penampilannya selayaknya kelas atas karena semua pakaiannya bermerk dan menyilaukan mata, sebagian dari penghuni universitas bahkan terkaget ketika mendapati kemeja terbaru rancangan L. Kim dipakai sianak baru.
Kesimpulannya, Jinyoung menjadi posesif, tatapan mata Jinyoung kepada Youngjae juga mulai berubah, jika dulu dia menatap Youngjae selayaknya budak nafsu dan boneka sex maka sekarang tatapan itu melembut.
"Jinja"
"Eoh, aku sampai pusing mendengar kalimat panjangnya"
"Kurasa itu supaya aku sehat setelah dia pulang, kau tahu alasannya kan"
Bambam berhenti sebentar pada gerakannya melumurkan sampo dan memijat kepala Jinyoung, mungkin bagi Youngjae yang mengalami pengalaman tidak menyenangkan bersama Jinyoung dia tidak akan percaya, tapi bagi Bambam yang melihat, Jinyoung sepertinya memiliki perasaan yang mulai tumbuh. Mulai bertindak dengan hati.
"Apa kau tidak pernah berfikir jika, mungkin saja Jinyoung memiliki sebuah perasaan padamu, kau tahu, satu tahun bukan waktu yang sebentar."
…
Satu tahun bukan waktu yang sebentar, Youngjae memandang langit malam dari balkon, ini sudah tengah malam dan Youngjae malah terbangun, mungkin pengaruh obat tidurnya sudah habis dan bisikan perkataan Bambam mengiang ditelinganya, memang. Satu tahun bukan waktu yang sebentar, terlebih waktu yang dia lewati dengan Jinyoung bukanlah waktu yang normal, maksudnya dia dan Jinyoung berhubungan sangat dekat, intim hampir tanpa jarak.
Mereka selayaknya suami isteri, memiliki ikatan, namun sayangnya itu tidaklah benar. Ikatan apa? Tidak ada. Dia hanya alat balas dendam, tidak ada yang berubah dari Jinyoung, lagipula Jinyoung dan dirinya tidak akan berakhir bersama, suatu saat ketika dia sudah habis daya dan bosan hidup, atau paling tidak sudah tidak menggairahkan bagi Jinyoung maka lelaki itu akan membuangnya.
"Bagaimana jika aku mati?" Youngjae bertanya pada Jinyoung ditengah kegiatan panas dimalam setelah Jinyoung memberikan dua pilihan, antara pergi menyelamatkan diri sendiri atau bertahan untuk menyelamatkan Jaebum dan ibunya.
"Jika kau bunuh diri maka aku akan membunuh mereka, tapi jika kau mati dengan sendirinya maka aku akan membuangmu"
"Lalu sampai kapan kau akan menahanku disini Jinyoung? Adakah kemungkinan dendammu habis?"
Jinyoung mendesak sedalam yang dia bisa, bergerak dengan gairah yang sama menyebabkan tubuh Youngjae terhentak-hentak bersamaan dengan keringat membasahi seluruh tubuh, dia sudah seperti orang mandi. "Ketika aku memutuskan akan menikah, ketika aku benar-benar siap dengan rumah tangga"
"Apa kau akan menikah dengan wanita?"
"Aku akan menikah dengan seseorang yang aku cintai dan yang pasti itu bukan kau, mungkin ada kemungkinan aku melepasmu, saat kau sudah kehilangan dayamu atau jika kau sudah tidak menggairahkan, ketika semua sudah habis dan tidak akan ada yang melirikmu lagi, maka aku akan melepaskanmu."
Youngjae mengelap wajahnya, ketika dia sudah kehabisan daya, mungkin maksudnya ketika dia sudah akan menjadi mayat, ketika dia terserang penyakit akibat terlalu banyak melakukan sex, kehilangan gairah mungkin ketika seluruh tulangnya sudah remuk akibat terlalu sering digenjot, mungkin sebentar lagi.
Sekarang, tubuhnya tidak hanya untuk melayani Jinyoung tapi juga Yugyeom, mungkin sebentar lagi, Youngjae akan kehabisan daya dan tidak akan menggairahkan, saat itu Youngjae akan berakhir dipinggir jalan sebelum mati.
Yien, siapapun dia, dia mungkin hanyalah mimpi, atau dia adalah malaikat kehidupan yang memiliki nama, mungkin waktu itu memang belum kematiannya, mungkin meninggal dirumah sakit terlalu bagus bagi Youngjae yang penuh noda, sehingga malaikat kehidupan tidak rela membiarkannya pergi, pasti malaikat kehidupan akan lebih suka jika Youngjae mati dijalan setelah kehilangan segalanya.
Youngjae menelungkupkan wajahnya pada lengan menumpahkan semua kesah hati atas nasib yang digariskan untuknya, untuk buku kehidupan yang tertulis untuknya, sungguh bodoh, mungkin ketika para malaikat menanyakan tentang kesiapan manusa untuk dilahirkan Youngjae sangat ingin pergi kedunia sehingga dia tidak membaca terlebih dahulu bagaimana isi dari jalan hidup yang harus dilaluinya dari lahir.
"Udara dingin Jae, kembalilah tidur, kau baru mulai mendingan"
Jaebum datang, menyampirkan selimut dipundak Youngjae yang menelungkup, ia melihat, memang sedari tadi Jaebum berdiri disamping pintu dikamar Youngjae, ini yang dia lakukan malam itu, ketika berakhir Jaebum menyetubuhi Youngjae, brengsek, Jaebum tahu, dia brengsek sejak lama, sejak dia mengiyakan untuk menyerahkan Youngjae sejak saat itu brengsek menjadi nama tengahnya.
Bedanya, malam itu dia sungguh brengsek, dia tidak berfikir jika bisa saja Youngjae terserang penyakit akibat ulahnya, dia tidak berfikir jika Youngjae menolaknya, dia malah tetap melakukannya, memuaskan dirinya lalu pergi seperti penjahat yang takut ketahuan baru mencuri.
Sekarang dia melakukannya lagi, tapi lebih waras, dia hanya mengamati Youngjae yang tidur bangun, mengamati langit malam tanpa bulan dan bintang, terlihat kelam dan menyedihkan sampai puncaknya menangis dalam diam, menyakitkan, hidup Youngjae memang menyakitkan, hati, pikiran juga badan, sempurna.
"Bummie hyung"
Mata Jaebum akan keluar, tekinganya berdenging jantungnya jatuh keperut, untuk waktu yang lama dia tidak bisa merasakan kehidupan pada dirinya, apa tadi? Bummie hyung? Sudah berapa lama dia tidak mendengar panggilan itu? Sangat lama, sampai Jaebum berfikir Youngjae tidak akan lagi memanggilnya begitu, dengan manis dan lembut.
"Young-Jae?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu"
…
TBC
…
Hay, selamat malam.
