Suara sirine Ambulance yang mengiung kencang, merapat di Rumah Sakit Senju setelah leadaan pasien dinilai terlalu parah untuk ditangani di Rumah Sakit kota tetangga. Dengan cekatan, Tim Medis datang berlarian menuju pasien yang berlumuran darah.
"Korban mengalami luka parah akibat kecelakaan mobil. Mobil yang mereka tumpangi tertabrak. Pasien harus segera dioperasi!" Tutur salah seorang Medis yang membawa ketiga pasien tersebut. "Terutama korban anak belia ini. Dia terkena serpihan kaca di sekujur tubuhnya dan kehilangan banyak darah."
"Siapkan ruang operasi!"
"Baik, Dokter!" Salah seorang Suster sigap menjawab dan langsung pergi untuk melakukan yang diperintahkan oleh Dokter tersebut.
"Cepat hubungi keluarga pasien dan minta surat izin melakukan tindakan operasi secepat mungkin!"
Salah seorang Suster menjawab, "Baik, Dokter!"
Sementara sebagian besar Tim Medis terus membawa pasien untuk ditangani lebih lanjut, salah seorang Suster dan Dokter meminta keterangan tentang pasien dan mencoba untuk menghubungi keluarga pasien.
"Ma'af, di mana keluarga pasien? Kami harus segera melakukan operasi!"
Hinata terbangun dari tidur mimpi buruknya karena ketukan pintu yang sangat keras. Ia bangkit dalam seketika dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.
"Ada apa, Bi?"
Tanya Gadis bermata lavender itu dengan suaranya yang masih diselimuti rasa kantuk. Mata lavendernya sayu menatap pembantu rumahnya lelah. Keringat dingin masih membanjiri wajah pucatnya yang terlihat cantik walaupun lusuh.
"Di depan ada polisi mencari Nona dan Tuan Muda. Mereka mengatakan ini sangat penting." Tutur Is Bibi dengan muka cemas.
Sehabis mendengar kata polisi, wajah Hinata tiba-tiba kehilangan rasa kantuknya dan malah bertambah pucat.
"Nona? Nona kenapa? Anda terlihat kurang sehat."
Mendengar kekhawatiran Sang Bibi, Hinata pun memberikan wanita yang sudah berkepala lima itu sebuah senyuman. Melihat sosok wanita di hadapannya itu, sering mengingatkan Hinata pada mendiang Ibunya, karena wanita inilah yang dulu selalu mendampingi Ibunya.
"Tidak usah khawatir, Bi. Aku baik-baik saja." Gadis berambut indigo itu menyentuh bahu Sang Bibi dengan lembut. "Oya, Bi. Kak Neji sudah pulang belum?"
"Belum, Non. Tuan Muda belum pulang. Apa anda ingin saya hubungi Tuan Muda? Saya takut terjadi sesuatu. Ini pertama kalinya Keluarga ini kedatangan Polisi."
Hinata menggelengkan kepalanya. "Tidak usah. Mungkin Kakak sedang sibuk hingga mengharuskannya lembur. Bibi juga tidak usah khawatir. Sebentar lagi aku turun." Ucap Hinata berusaha menenangkan suasana.
Bibi itu menganggukan kepalanya dan lalu Hinata menutup pintu kamarnya setelah Bibi itu pergi. Hinata mengambil mantel tidurnya dan ia pergi ke luar kamar setelah ia mengenakan mantel itu.
Di ruang tamu, Hinata dapat melihat tiga orang pria berbadan tinggi tegap dengan seragam Polisi. Mereka bertiga beranjak dari duduknya ketika Hinata datang.
Hinata memberikan mereka sebuah senyuman kecil.
"Kami dari Kepolisian Suna."
Lelaki menyeramkan itu mengulurkan tangannya. Hinata menyambutnya dan merka pun berjabatan tangan.
"Saya Hinata Hyuuga, pemilik rumah."
Lalu mereka kembali duduk.
"Apa anda mengenal Tuan Hiashi Hyuuga?"
"Ya. Beliau Ayah saya, Pak. Memangnya, ada apa dengan beliau?"
"Dengan berat hati, kami harus menginformasikan bahwa saudara Hiashi Hyuuga mengalami kecelakaan dan dalam keadaan yang sangat kritis-"
Mendengar apa yang disampaikan oleh Polisi itu, Hinata merasa pandangannya mulai kabur dan begitu pula dengan pendengarannya.
"-ia bersama Nyonya Momoka Abe dan seorang anak mengalami kecelakaan. Mobil yang ia kemudikan tertabrak dan sekarang mereka dilarikan ke Rumah Sakit Senju."
Hinata mencoba mengedip-ngedipkan kedua bola matanya, namun pandangannya tak kunjung pulih. Ia mencoba untuk mendengarkan apa yang diucapkan selanjutnya oleh Polisi itu namun semua terdengar samar-samar.
Tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Sunyi dan ia tak ingat apa-apa lagi. Hinata langsung tak sadarkan diri.
Hinata di sadarkan oleh pembantunya sesaat setelah ia pingsan.
Saat tersadar, Hinata panik. "Rumah Sakit!" Teriaknya. "Ayah! Ayah kritis!"
"Tenang Nona. Tenanglah. Tenangkan diri anda." Ucap salah satu pembantunya.
"Mana kunci mobil?! Aku mau ke Rumah Sakit! Sekarang!" Pinta Hinata dengan nada tinggi.
"Baiklah. Nona tenangkan saja dulu diri Nona. Biar Pak Sopir yang-"
"Ada apa ribut-ribut? Hari sudah malam."
Suara khas Sang Hyuuga Muda memecah panasnya suasana yang kian menjadi kacau.
Ekspresi datar dan raut wajah dingin serta kelelahan yang dirasakan oleh lelaki berambut panjang itu luntur seketika saat ia melihat Adiknya tersayang yang sedang menangis berlari menuju ke pelukannya.
"Hinata..." Dengan seketika ia jatuhkan tas kerjanya dan balas memeluk Adiknya yang membenamkan diri dalam peluknya. "Ada apa? Kenapa kau menangis?" Tangannya dengan lembut membelai rambut Sang Adik.
"Ayah Kak...! Ayah!"
"Apa dia yang membuatmu menangis?" Lelaki itu melepaskan pelukan Adiknya dan kedua tangannya berada di masing-masing pundak Adiknya. "Katakan padaku. Apa yang dia lakukan kali ini?" Mata tajamnya menatap Adiknya dengan penuh amarah.
Hinata menggelengkan kepalanya dengan sangat cepat.
"Ayah kecelakaan! D-dia..."
Hinata dan Neji duduk di ruang tunggu, menunggu operasi Ayah mereka.
Hinata terus menangis dan bersandar pada dada Kakaknya yang bidang. Sudah hampir setengah jam mereka menunggu, namun operasi tak kunjung selesai.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, membuat Kakak beradik itu berdiri dan menoleh ke pintu Ruang Operasi, namun sayangnya pintu itu masih tertutup rapat.
"Dokter Hinata, Tuan Neji," sapa salah seorang Dokter yang mengenakan seragam lengkap operasi. "Operasi terhadap Nona Hanabi Hyuuga telah selesai. Kami sudah melakukan semampu kami. Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain. 01:24, adalah jam kematiannya. Kami sekali lagi meminta ma'af dan ikut berbela sungkawa."
"M-meninggal?" Tanya Hinata seolah tak percaya.
Dokter itu menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya dengan berat hati. "Kami telah melakukan semampu kami. Mengenai zenajahnya, kalian bisa melihatnya."
"Terima kasih, Dokter. Kami akan mengurus zenajahnya. Nanti, salah satu orang yang kami percaya akan datang untuk mengurusnya." Ucap Neji dengan tegas dan dingin. Tak sedikitpun terpengaruh atas berita kematian putri dari Ayahnya itu.
Tiba-tiba datang seorang Dokter yang lain. "Ma'af mengganggu." Ucapnya.
"Baiklah jika begitu, permisi." Lalu Dokter yang menangani Hanabi itu pergi.
"Dokter Hinata, Tuan Neji. Keadaan Nyonya Abe sudah mulai stabil, namun, luka akibat serpihan-serpihan kaca yang mengenai tubuhnya sangatlah parah. Sepertinya, itu akan meninggalkan bekas luka. Kami sudah melakukan yang terbaik. Dan untuk pemeriksaan lebih lanjut, Nyonya Abe akan menjadi tanggung jawab Anda, Dokter Hinata."
"Baiklah. Aku mengerti, Dokter Hana. Nanti, aku akan melihat keadaannya."
Dokter Hana mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. "Dokter Hinata, saya dan Dokter-dokter yang lain, turut prihatian atas musibah yang menimpa keluarga Anda. Saya harap, Anda bisa tabah."
"Terima kasih banyak, Dokter Hana." Ucap Hinata lemah.
Dokter itu hanya tersenyum. "Permisi." Lalu dia pergi.
Hinata dan Neji kembali duduk dan berharap-harap cemas. Lalu, setelah cukup lama menunggu, akhirnya salah satu Dokter pun keluar dari Ruang Operasi.
"Operasi berhasil. Namun, keadaan Tuan Hyuuga masih kritis. Jika Tuan Hyuuga bisa melewati malam ini, maka dia terbebas dari masa kritisnya. Ia akan segera kami pindahkan ke ICU. Semoga saja, kondisinya segera membaik. Kita berdo'a saja pada Tuhan." Jelas Dokter itu.
Kaki Hinata terasa lemas dan gadis cantik itu pun kehilangan keseimbangannya dan tubuhnya mulai tumbang. Namun, kedua tangan yang kuat menahannya.
"Hinata? Kau tak apa?" Tanya Neji khawatir.
Gadis itu hanya mengangguk pelan.
"Saya rasa, sebaiknya Anda membawa Dokter Hinata untuk beristirahat. Dia pasti sangat lelah. Anda bisa membawanya ke ruangannya atau ke tempat isirahat Dokter jaga. Cukup tanyakan saja pada Suster di mana tempatnya." Saran Dokter itu.
"Terima kasih, Dokter. Kalau begitu, saya akan membawa Hinata ke ruangannya saja."
Lalu, Neji perlahan menuntun Hinata menuju ruangan kerjanya.
Hinata terbangun dari tidurnya. Dua bola mata lavender terbuka perlahan.
"Apa tidurmu nyenyak?" Tanya suara yang sudah tak asing lagi di telinganya.
Gadis itu dalam sekejap bangkit dari tempatnya tidur dan duduk di sofa itu. Matanya kini bertatapan dengan kedua bola mata hitam pekat milik lelaki yang duduk di sampingnya.
"I-itachi?"
Lelaki itu tersenyum. "Neji memberitahuku pagi ini. Aku langsung datang. Sekarang, dia pulang ke rumah karena ada hal yang harus dia urus." Jelas lelaki tampan itu.
Samar-sama Itachi dapat melihat perubahan ekspresi di wajah kekasih sekaligus tunangannya itu; Hinata mengerutkan alisnya.
"Aku yang menemanimu, tidakkah kau senang?"
Hinata hanya tersenyum kecil, namun senyuman itu hilang sesaat setelah kedatangannya. Kini Hinata beranjak dari sofa tempatnya tidur. "Jam berapa ini? Ayah!" Gumamnya panik.
Ketika Hinata hendak berlari ke luar, jemari lembut yang hangat melingkari pergelangan tangannya lalu ia merasakan tubuhnya ditarik hingga akhirnya punggungnya beradu dengan sebuah dada yang bidang. Dua buah tangan yang kuat mendekapnya dengan kuat dari belakang. Suara maskulin Kekasihnya menggelitik telinga Hinata dengan lembut.
"Tenangkan dirimu. Paman Hiashi sudah melawati masa kritisnya. Namun, ia masih di ICU dan belum boleh di jenguk."
Gadis itu akhirnya mengeluarkan nafas yang tak sengaja telah ia tahan. Ia pun menyandarkan tubuhnya pada tubuh lelaki itu. Tangannya yang mungil kini bertumpu pada tangan kuat yang menjaganya.
"Itachi..." Bisiknya pelan dengan bibirnya yang mulai bergetar. "Aku takut. Aku tak mau kehilangan orang yang-yang kucintai untuk keduakalinya. A-aku tidak bisa... Aku tidak sanggup." Adunya. "Ap-apa yang harus aku lakukan? Aku takut."
Lelaki itu mendaratkan sebuah kecupan di pelipis gadis yang ia cintai. "Kau tak usah takut. Ada aku. Aku akan selalu berada di sampingmu. Hm?"
Setelah Hinata jauh lebih tenang. Hinata mulai membersihkan badannya dan kembali bekerja walaupun Itachi melarangnya. Itachi merasa Hinata butuh istirahat dan akan lebih baik jika dia mengambil cuti untuk sementara waktu, namun Gadis itu menolak dan bersikekeh untuk tetap bekerja. Hinata beralasan bahwa ia tidak bisa meninggalkan pasiennya hanya karena masalah pribadinya.
"Ini adalag tugasku sebagai seorang Dokter. Aku tidak bisa mengabaikan pasien-pasienku hanya karena masalah pribadiku. Itu melanggar sumpah Dokter-ku." Ucap Hinata sembari mengenakan mantel Dokter miliknya. "Tapi... Aku harap kamu bisa tetap di sini." Bisiknya sangat pelan.
"Sudah ku katakan. Aku akan selalu berada di sisimu."
Hinata memberikannya sebuah senyuman.
Beberapa hari telah berlalu tanpa ada perkembangan yang signifikan dari Hiashi yang masih terbaring koma di Ruang ICU RS Senju dengan berbagai macam alat medis menempeli tubuhnya.
Hinata dan Neji tetap bekerja seperti biasa. Namun, kini Hinata tidak pernah pulang ke rumah sehabis jam kerjanya selesai. Ia tetap tinggal di RS untuk memantau kedaan Ayahnya. Ia takut, sesuatu terjadi pada Ayahnya sementara dia tidak ada di dekatnya. Sayangnya, Hinata hanya bisa menjenguknya pada saat jam besuk di siang hari dan ia harus menghabiskan sisa harinya puas hanya dengan melihat Ayahnya dari luar Ruangan.
Keesokan harinya Hinata dibangunkan oleh salah satu Suster yang memberitahukannya bahwa salah satu pasiennya sudah siuman. Hinata pun segera berlari menuju Ruangan pasien.
saat Hinata tiba, ia melihat pasiennya sudah bisa duduk di tempat tidurnya. Hinata menghampiri pasiennya itu dengan pelan.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya pasiennya dengan suara yang masih serak akibat tidak digunakan selama beberapa hari.
"Anda mengalami kecelakaan dan Aku adalah Dokter yang ditugasnya menangani Anda." Jawab Hinata dengan nada profesionalnya. "Keadaan anda sudah jauh lebih baik. Jika anda merasakan pusing itu biasa, karena Anda sudah tak sadarkan diri selama beberapa hari."
"Kenapa wajahku dan sekujur tubuhnya dipenuhi perban? Apa kau ingin membunuhku?!" tuduhnya pada Hinata.
"Serpihan kaca mengenai sekujur tubuhmu, termasuk wajahmu. Dan sekarang perban Anda bisa langsung dibuka." Hinata mendekati pasiennya hendak membuka perban di wajah Si Pasien namun Pasien itu menolak dan meminta agar Suster saja yang melakukannya.
"Tim Dokter kami sudah melakukan yang terbaik, namun sepertinya semua akan menimbulkan bekas." Jelas Hinata dan mengisyaratkan kepada Suster untuk memberikan cermin pada Si Pasien. "Tolong tenangkan diri Anda terlebih dahulu."
"Apa maksudmu?!" ujar Si Pasien smebari menerima cermin dari Suster.
Wanita itu pun perlahan bercermin dan yang ada adalah teriakkan yang memekikkan telinga keluar dari bibirnya yang kini bahkan sudah tak berbentuk dan terlihat sangat aneh juga menjijikkan. Tangannya yang masih dipenuhi oleh balutan perban membanting cermin yang ia genggam ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Apa yang terjadi dengan wajah cantikku!" Pekiknya. "Tidak! Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Monster di cermin itu tidak mungkin aku!" Teriaknya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku cantik! Aku adalah model terkenal! Momoka Abe! Aku Momoka, seorang model! Bukan Monster menjijikkan!"
Hinata beserta Suster yang berada di sana mencoba menenangkan wanita yang kini histeris itu, namun gagal. Wanita itu semakin lama semakin menjadi, khususnya setelah dia menyentuh wajahnya dan merasakan permukaan yang kasar, dia mulai memecahkan setiap barang yang ada di sekitarnya.
Melihat tingkah wanita itu, Suster-suster yang ada di dalam ruangan itu pun mulai ketakutan dan mengusulkan untuk menyuntiknya dengan obat penenang saja kepada Dokter Hinata.
Hinata pun setuju dan hendak meminta salah satu dari mereka untuk menyiapkan suntikannya, namun belum sempat mereka keluar ruangan, pasien itu beranjak dari tempat tidurnya, mencopot paksa IV dan akhirnya berlari pergi ke luar ruangan sembari berteriak-teriak. Hinata berusaha menahannya, namun dia malah didorong sampai terjatuh ke lantai dan tangannya mengenai salah satu pecahan beling.
Pasien itu terus berlarian di sepanjang koridor RS dan teriakkannya mengganggu pasien-pasien yang lain, hingga pihak RS sepakat untuk mengikatnya dan membawanya dengan paksa ke dalam ruangannya setelah itu salah satu Suster menyuntikkan obat penenang hingga ia tertidur.
Namun, hal itu kembali terjadi saat pasien itu sadar. Ia terus berteriak tanpa henti. Setiap Suster dan Dokter berusaha menenangkannya dan berbicara baik-baik dengannya, namun tidak ada satupun dari mereka yang ia hiraukan. Wanita itu seperti berada di dunianya sendiri. Skhirnya setelah dilakukan beberapa tes, hasilnya, wanita itu dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan diakibatkan karena syok yang teramat dalam hingga mentalnya terganggu.
Pasien wanita itu pun dengan segera dipindahkan ke RS Jiwa sehabis disuntikkan obat penenang.
Hinata melihat sosok pasien wanitanya itu dengan tatapan iba. Wanita yang dulu cantik, wanita yang dulu berhasil merebut hati Ayahnya, wanita yang dulu membuat hidup Ibunya menderita, wanita yang membuat keluarganya hancur berantakan, wanita yang merenggut seluruh perhatian dan kasih sayang Ayahnya, kinia dia telah kehilangan kecantikannya dan juga kehilangan akal sehatnya.
Hinata bingung. Apa yang harusnya ia rasakan? Hatinya merasa iba, akan tetapi pikirannya berkata lain karena wanita itu telah merampas semua hal dan semua orang yang dia cintai, maka bukankah seharusnya ia senang ketika melihat wanita itu menderita? Namun, sekali lagi, nuraninya berkata lain.
Kini sudah lebih dari seminggu semenjak kejadian itu. Hiashi masih dalam keadaan koma dan masih dalam perawatan intensif. Setiap harinya, Hinata akan menghabiskan waktu berkunjung dengan membacakan buku pada Ayahnya dan Neji akan menyempatkan diri untuk berkunjung beberapa hari sekali. Hinata juga tak hentinya berdo'a, memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan Ayahnya.
Melihat Ayahnya yang kini terbaring lemah di Rumah Sakit, berjuang demi hidupnya, hati Hinata terenyuh, membuat emosinya bercampur aduk antara ketidakberdayaan dan kasihan juga kasih sayang. Dan semua luka, duka yang dulu pernah menyayat hati rapuhnya, hilang begitu saja, bagaikan butiran-butiran kecil debu yang hilang tertiup angin sejuk musim semi. Itulah yang Hinata rasakan.
Hari itu, Hinata, seperti biasa sedang membacakan sebuah buku untuk Ayahnya, namun tiba-tiba degup jantung Ayahnya menjadi lebih cepat dan perlahan, mata yang dulu terpejam itu kini terbuka; menampilkan bola mata putih seputih susu.
Menyaksikan hal itu, Hinata terkejut dan ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk beberapa saat. Ketika ia sadar dari syoknya, Hinata langsung memanggil Dokter.
"Ayah! Syukurlah. Akhirnya Ayah sadar. Aku sudah mulai khawatir karena Ayah sudah terlalu lama koma." Ucap Hinata sembari memeluk tubuh Ayahnya yang masih terbaring di tempat tidur. Air mata mengalir deras, membasahi pipi mungilnya. "Ayah, aku sangat merindukanmu."
Namun, Hinata sama sekali tidak mendapatkan respon apapun dari Sang Ayah, hingga membuatnya khawatir. Perlahan, Hinata melepaskan pelukannya dan mulai memeriksa keadaan Ayahnya semampunya. "Ayah? Kenapa Ayah diam saja?" tanyanya. "Ayah, apa kau bisa mendengarku?"
Hinata terus memperhatikan mata Ayahnya yang kini menatapnya dengan pekat. Bibir Ayahnya terbuka perlahan, namun tidak satu pun kata terucap. Lalu, mata itu kini mulai menitihkan air mata.
"A-ayah? Kenapa menangis?" Hinata menyusut airmata Hiashi dengan jemari tangannya yang lembut.
Bibir Ayahnya kemabli terbuka, seolah ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, sekali lagi, tak ada suara.
"Ayah, jangan membuatku takut. Katakanlah sesuatu." Pintanya. "A-atau... genggamlah tanganku."
Hiashi tetap diam.
Tiba-tiba pintu Ruangan terbuka menghadirkan beberapa orang Dokter dan beberapa Suster.
"Dokter, ada apa dengan Ayahku? Kenapa dia tidak bisa menjawab pertanyaanku atau menggerakkan tangannya?" tanya Hinata.
"Dokter Hinata, sebaiknya tunggu di Ruanganku saja. Tenanglah. Jangan khawatir dan tunggu aku di sana." Pinta Dokter itu pada adik kelasnya.
Hinata mengangguk pelan dan lalu pergi meninggalkan ruangan.
Setelah cukup lama menunggu, Dokter yang menangani Ayahnya pun datang. Ketika ia masuk ke Ruangannya, di sana menunggu Hinata dan Kakaknya.
"Kak Shizune, bagaimana keadaan Ayahku?" tanya Hinata cemas.
Dokter wanita itu menghela nafas panjang. Dia duduk di hadapan Hinata dan memegang tangan gadis cantik itu.
"Keadaannya stabil. Tapi... Tuan Hiashi mengalami kelumpuhan pada seluruh tubuhnya. Dikarenakan kecelakaan, membuat sebagian syarafnya rusak. Namun, walaupun tubuhnya tiak mengalami kelumpuhan, semua alat inderanya masih berfungsi dengan baik, kecuali untuk telinga bagian kanan, karena terkeca pecahan beling dan benturan yang cukup keras. Kami sudah berusaha semampu kami. Sebagai seorang Dokter, kau juga pasti mengerti, kan? Bagaimana keadaan Ayahmu."
Hinata menelan ludah dan mengangguk, lalu ia membenamkan wajahnya di dalam pelukan Kakaknya, lalu dia menangis.
Epilog
Seorang anak kecil laki-laki berusia 5 tahun memainkan lagu Selamat Ulang Tahun. Jemarinya yang mungil dengan lincah menari-nari di atas permukaan piano. Rambut indigonya tertata dengan rapih, mata hitam pekatnya yang besar menatap hanya pada piano di hadapannya. Wajahnya terlihat tampan dan menggemaskan, terutama dengan hidung mancungnya yang mungil. Tubuhnya yang relatif tinggi untuk anak sebayanya, dibalut oleh kimono berwarna coklat yang terihat kontras dengan kulit putihnya.
Setelah lagunya selesai dimainkan, semua orang yang menyaksikannya memberikan sebuah tepuk tangan.
Anak itu pun turun dari kursi tempatnya duduk dan memberikan hormat, sebuah senyuman manis di wajah tampannya, membuat semua orang yang melihatnya semakin gemas. Lalu dengan langkah kaki mungilnya, ia menghampiri seseorang. "Selamat ulang tahun, Kakek. Semoga Kakek lekas sembuh dan bisa bermain sepak bola bersamaku." Ucapnya dengan sempurna.
Semua orang tertawa mendengar perkataan anak berusia 5 tahun itu.
"Kenapa harus bermain sepak bola dengan Kakek Hiashi? Kakek Fugaku ini, jauh lebih hebat dari Kakek Hiashi dalam hal olah raga."
"Benarkah?"
"Tentu saja benar, Hikaru. Kakekmu ini, dulu adalah pemenang lomba sepak bola antar kelas di SMA." Jawab istri Fugaku.
"Ayo semuanya, kita ke halaman belakang. Makanan sudah menunggu." Ucap seorang wanita cantik berambut indigo panjang. Wajahnya dihiasi oleh senyuman. Tubuhnya yang dulu kurus, kini lebih berisi dan terlihat lebih matang setelah melahirkan seorang anak.
Hikaru kecil digendong oleh Kakeknya; Fugaku yang ditemani oleh istrinya; Mikoto. Mereka pergi ke halaman belakang.
Wanita berambut indigo itu hendak mendorong kursi roda Sang Ayah, namun dihentikan oleh Kakaknya. Wanita itu mengalah dan ia kembali ke sisi suaminya setelah menyerahkan tugas mendorong kursi roda Ayahnya pada Kakaknya.
Semua keluarga kini telah berkumpul di halaman belakang rumah.
"Kau semakin cantik. Kau tahu itu, Hinata?" goda suaminya.
Wanita itu tersenyum. "Dan kau semakin pintar menggombal. Kau tahu?" balasnya dengan canda.
Mereka pun tertawa dan tersenyum ketika melihat putra semata wayang mereka sedang bermain bersama Kakek dan Neneknya. Lalu, pandangan wanita itu pun datang ke arah Kakaknya yang sedang membawa Ayah mereka ke dekat danau buatan.
"Itachi?"
"Hm?"
"Menurutmu, apa itu kasih yang sejati?"
"Entahlah. Kurasa... mungkin kasih yang sejati adalah; kau. Istriku. Ibu dari anakku dan menantu keluarga ini juga Nyonya di rumahku dan rumah hatiku."
Sementara itu, Neji menghentikan kursi roda Ayahnya. Mereka kini berada di tepi danau dan menghadap ke arah di mana mereka dapat melihat semua orang.
"Apa sekarang kau bisa melihatnya, Ayah? Apa kasih yang sejati?" tanya Neji. "Pada akhirnya, bukankah kasih yang abadi itu adalah kasih sayang dan cinta yang kau dapatkan dari keluargamu. Keluarga. Hanya keluargalah yang bisa memberikan kasih yang abadi. Mungkin... cinta kasih sepasang sami istri, bisa saja pudar dan luntur karena terkikis oleh waktu. Namun, kasih seorang Ibu dan seorang anak, adalah abadi. Gadis itu adalah orang yang sangat menyayangimu. Walau sudah kau hancurkan hatinya berkali-kali pun, dia selalu menyayangimu. Mema'afkanmu. Itu semua karena dia adalah putrimu. Bukankah begitu... Ayah?"
Mata Ayahnya berkaca-kaca dan perlahan, butiran kristal-kristal kecil bercucuran di pipinya.
"Bukankah penyesalan itu selalu datang terlambat." Ucap Neji. "Hanya saja, aku berharap kau bisa lebih menyayanginya—Adikku yang malang—dulu; di saat kau bisa."
Neji tersenyum kecil. "Namun, aku sangat bersyukur, karena dia kini telah menemukan kebahagiaannya. Mungkin... kasih sayang yang dulu tak bisa didapatkannya darimu, akan ia dapatkan dari keluarga barunya."
-Air Mata Kasih, bercerita tentang kisah Kasih yang Abadi-
(The End)
Terima kasih banyak untuk semua Pembaca-pembaca setiaku yang selalu setia menunggu update dan membacanya juga terima kasih yang sangat-sangat pokoknya, untuk semua yang sudah memberikan review. Kalian gak tahu betapa berartinya hal itu buat Saya.
Saya harap kalian semua puas dengan 'Air Mata Kasih' dengan semua kekurangannya.
Sebetulnya, kisah ini terinspirasi dari kisah yang dialami oleh sahabat Saya, ketika dia mengadu tentang Ayahnya yang ternyata memiliki Affair. Namun, tetap di cerita ini bukan cerita milik teman Saya itu, cerita ini bukan menceritakan kembali pengalaman hidup/realita teman Saya, dan cerita ini adalah MURNI ide Saya prbadi.
I Love You All,
01 Desember 2013
_Nevin c'Edelweys_
