Disclaimer: Bleach © Tite Kubo-Sensei


Apa kabar semuanya?

Semoga sehat selalu.

Terima kasih untuk semua koreksi dan review yang diberikan, jangan pernah bosan untuk memberi kritik dan saran untukku ya ^_^

Btw author lagi-lagi sembah sujud minta maaf, terutama pada Ichigo. Kenapa? Silahkan Mina-san baca chap ini saja.

Selamat membaca… *author lagi nangis gaje, makanya ga' bisa banyak omong*


Title : To Make You Feel My Love

By : Nakki Desinta

Pairing : Byaruki

Chapter 11 : The One I Love


Rukia mendelik pada Ulquiorra, marah karena Ulquiorra sudah sembarangan mengenyahkan baju chappy kesayangannya, dan menggantinya dengan gaun konyol berwarna merah muda pastel, lengan pendek pula.

"Aku tidak mau pakai!"

"Aku sudah mengenakan jas, tidak sepantasnya kau mengenakan kaos buluk seperti itu. Sekarang ganti bajumu, Hisana dan Aizen sudah menunggumu."

"Siapa kau berani memerintahku?" tantang Rukia, dia sudah berkacak pinggang dan melotot pada Ulquiorra. Namun Ulquiorra tidak sedikitpun terusik dengan sikap Rukia yang bersungut-sungut seperti ini, wajahnya tetap datar dan dingin seperti biasa.

Satu detik… dua detik… tiga detik… sepuluh detik… Rukia akhirnya mengaku kalah, dia lebih dulu mengedipkan matanya yang terasa perih, ternyata Ulquiorra lebih jago dalam menggertak orang lewat mata, buktinya Ulquiorra mampu tidak berkedip selama lebih dari lima belas detik.

Rukia cemberut, memonyongkan bibirnya, merenggut gaun dari tempat tidur dan masuk lagi ke kamar mandi.

Ulquiorra baru teringat sambungan telepon yang belum ia akhiri, tapi saat ia mengangkat ponsel Rukia panggilan sudah berakhir. Ichigo sudah memutuskan sambungan telepon, dan Ulquiorra tidak merasa bersalah sedikitpun, memilih untuk meletakkan kembali ponsel Rukia ke tempatnya semula.

Aizen dan Hisana melihat Ulquiorra yang menuntun Rukia menuju meja makan, mereka berdua seperti sepasang pangeran dan putrid yang akan turun ke lantai dansa. Ulquiorra sangat sabar mengimbangi langkah Rukia, melambatkan kaki tiap kali genggaman tangan Rukia padanya mengeras, sebagai tanda Rukia sedang menahan sakit.

"Lebih dari setengah jam lho, Ulquiorra," kata Hisana sambil melirik jam tangannya, karena seingatnya Ulquiorra menjanjikan Rukia akan siap dalam lima menit.

"Harus ganti perban di kakinya."

Hisana mengangguk mengerti dengan jawaban Ulquiorra, namun satu hal yang membuatnya heran adalah sikap Ulquiorra yang dengan mudah menerima Rukia. Ulquiorra adalah pribadi yang cenderung menarik diri dari lingkungan, bahkan dari keluarganya sendiri, Ulquiorra akan menyimpan semua kata-katanya hanya untuk dirinya sendiri, tidak bersedia membantu orang lain jika tidak menguntungkan dirinya.

Aizen menganggkat alisnya saat mendapati lirikan mata Hisana, dia mengerti dengan baik apa yang sedang di pikirkan istrinya ini, dia sudah mendapatkan jawaban yang jelas atas keadaan ini.

"Rukia, kau sangat cantik. Persis sekali dengan ibumu," puji Aizen yang beranjak dari kursinya, menghormati Rukia hingga Rukia duduk di kursi yang ditarik oleh Ulquiorra, memperlakukan Rukia seperti wanita kehormatan pada umumnya.

Aizen tersenyum pada anaknya, ini pertama kalinya melihat Ulquiorra bersikap sopan pada seorang perempuan asing.

"Aku tidak akan berterima kasih atas pujian itu," balas Rukia dingin.

Ulquiorra tertawa dalam hati, mata hijaunya melirik Rukia sesaat. Dia tidak menyangka Rukia adalah seorang dengan sifat keras kepala melebihi Hisana, bahkan dia tidak segan-segan mengibarkan bendera perang di rumah yang jelas-jelas tidak ada sekutu disisinya.

"Rukia, aku dengar kau ikut kompetisi marathon tingkat nasional, bahkan mendapatkan hadiah liburan dengan Kurosaki Ichigo, anak berbakat dari Universitas Soul Society. Kau sangat berbakat seperti aku waktu masih muda," kata Hisan penuh kebanggaan.

Ulquiorra menghentikan tangannya yang hendak mengambil gelas jusnya, mendengar nama Ichigo telah mengingatkannya pada orang yang menelepon tadi. Pantas saja Ichigo menelepon Rukia, rupanya mereka akan liburan bersama. Ulquiorra tidak pernah berusaha mengenal dunia diluar lingkup kehidupannya.

"Iya, aku menang dan akan liburan dengan Ichigo. Pacarku," jawab Rukia datar.

Ulquiorra nyaris menabrakkan tangannya ke gelas jusnya, tapi dia berusaha keras mengendalikan diri. Bahkan seorang Rukia sudah berpacaran.

"Apa yang ia pikirkan setelah mengetahui aku ada bersama Rukia?" bisik Ulquiorra dalam hati.

Dia sudah membayangkan kesalahpahaman yang akan berkembang karena ulahnya yang sembarangan mengangkat telepon Rukia, tapi dia suka menciptakan konflik yang akan menjadi cikal bakal retaknya kebahagiaan seseorang.

"Wow, kau pacaran dengan Ichigo?" tanya Hisana dengan ekspresi wajah kaget.

"Tidak perlu pura-pura kaget, anda pasti sudah menyelidiki kehidupan saya," jawab Rukia yang sudah terlalu banyak baca manga tentang detektif, khususnya Detective Conan.

Ulquiorra makin kagum melihat sikap Rukia, dia makin mengangkat penilaiannya pada Rukia.

Makan malam berlangsung dengan sangat khidmat, tidak ada pembicaraan dan pembahasan panjang lebar, hanya ada pertanyaan singkat yang berpusat pada Rukia. Makanan yang mereka santap pun terbilang sajian dari hotel mewah, semua dihasilkan oleh koki nomor satu, karena rasa yang tidak biasa di lidah.

"Kau kuliah di Universitas Hueco Mundo, Ulquiorra?" tanya Rukia yang sudah bosan menjadi pusat dari seluruh obrolan.

Ulquiora mengangguk samar, tapi meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang, memusatkan perhatian pada Rukia.

"Apakah kau mengenal Gin?"

Ulquiorra mengerutkan alis awalnya, dia heran Rukia mengenal pria berwajah ular itu, namun ia mengangguk lagi.

"Apakah dia seorang ketua serikat mahasiswa?"

"Iya sampai minggu lalu," jawab Ulquiorra

"Lalu sekarang?"

"Aku ketua serikat mahasiswa," jawab Ulquiorra tanpa intonasi.

Rukia manggut-manggut, tidak ada orang sembarangan dalam rumah ini, dan Rukia memutuskan akan berlaku sebaik mungkin hingga waktu perjanjiannya dengan Hisana berakhir.

.

.

Byakuya terbaring di tempat tidurnya, matanya focus namun kosong pada langit-langit kamarnya. Rumah terasa sangat kosong tanpa kehadiran Rukia, di kampus pun Pelatih Zaraki terus-terusan menanyakan keadaan Rukia padanya, padahal baru tiga hari Rukia tidak masuk kuliah.

Jawaban yang Byakuya berikan selalu sama, karena dia tidak pernah menelepon Rukia sejak Rukia pergi untuk tinggal dengan Hisana, dia banyak merenung mengingat suara teriakan Rukia setiap pagi, bahkan Ayah dan Ibu merasakan hal yang sama, sungguh mengerikan rumah yang terasa kosong ini.

Rukia juga tidak pernah menelepon, Byakuya jadi mulai meragukan keyakinannya, mungkinkah Rukia tidak akan kembali ke rumah ini?

Ponselnya tiba-tiba berdering, telepon dari Grimmjow.

"Ada apa?" ucapnya saat sambungan telepon berlangsung.

"Kau harus lihat televisi sekarang, bukankah itu Rukia?" kata Grimmjow panic.

Byakuya seketika melompat dari tempat tidur, lari bergegas menuruni tangga menuju ruang tengah dan langsung menyalakan televisi. Lisa yang sedang menyiapkan makan malam ikut panic mendengar suara gaduh.

"Ada apa Byakuya? Kenapa lari seperti itu?" Lisa melongok dari balik dinding dapur.

Byakuya tidak menjawab dan matanya tertuju pada layar televisi, semua stasiun tengah menyiarkan berita yang sama. Konfrensi pers model terkenal, Hisana.

"Ayah pulang."

Ukitake masuk ke ruang tengah, tidak mendapati jawaban dari Byakuya yang masih menatap layar televisi.

"Ada apa, Byakuya?"

Lisa melepas celemeknya, menghampiri Ukitake dan meraih tas kerjanya. Mereka bertiga sama-sama melihat layar televisi.

Rukia duduk disamping Hisana, wajahnya tertunduk lemas, sementara seorang pria berambut cokelat duduk disebelah Hisana, dan seorang lagi berambut hitam legam dengan wajah kaku duduk disisi Rukia yang satu lagi.

"Benarkah dia anak anda?"

Hisana tersenyum dan merangkul bahu Rukia penuh kasih sayang.

"Iya, dia anak saya, lihat. Kami mirip kan?" jawab Hisana sambil mendongakkan wajah Rukia, membuat Rukia mendapat banyak kilatan cahaya kamera yang membutakan mata. Rukia memicingkan matanya untuk menghindari cahaya yang menyerang bertubi-tubi itu.

"Apakah dia anak anda yang di gosipkan hasil hubungan gelap anda dengan manager anda? Skandal 19 tahun lalu?"

Hisana tidak langsung menjawab pertanyaan ini, dia merapatkan bibir dan menahan kalimat serapah yang hendak ia lontarkan, dia tau pertanyaan ini akan muncul dan dia sudah siap untuk menjawabnya.

"Saya sengaja tidak mempublikasikan hal ini, selama ini Rukia di jaga oleh sahabat saya. Masa lalu saya sudah berlalu, jadi saya ingin menjalani masa depan dengan Rukia, putri yang saya cintai, bersama keluarga saya."

Lisa mendesis jijik mendengar ucapan Hisana, wanita itu memang sangat licik dan bermulut manis.

"Sahabat seperti apa yang ingin menjebloskan temannya ke penjara?" kata Lisa penuh kebencian.

Ukitake merangkul bahu Lisa penuh kasih, dia ingin menguatkan istrinya agar tidak mudah terpancing dengan pernyataan konyol itu.

Byakuya melihat sikap canggung Rukia, namun hatinya juga gelisah. Hanya selang tiga hari dan sekarang Rukia mengikuti permainan Hisana, mengumumkan pada dunia tentang status mereka. Apakah Rukia benar-benar telah menerima Hisana?

Pertanyaan itu terus berulang dalam benaknya.

"Rukia, nama anda Rukia kan? Apakah anda bahagia sudah bertemu dengan ibu kandung anda?"

Rukia tidak menjawab, kepalanya tidak bisa berpikir karena masih terlalu kaget, tadi dia hanya diajak pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa potong baju, tapi tiba-tiba Hisana membawanya ke kerumunan orang yang membawa kamera.

"Tentu saja ia bahagia," jawab Hisana cerah.

Ulquiorra melirik Rukia yang membatu, menyesal karena Rukia hanya bisa diam dalam kondisi seperti ini.

Kemana perginya semua keberanianmu, Rukia? Desisnya dalam hati

Byakuya merasa kemarahan menggumpal dalam setiap aliran darahnya. Rukia.. bisa-bisanya menerima permainan konyol ini, setelah meyakinkan semuanya untuk tenang dan bersabar menunggu hingga ia pulang, sekarang dia malah membuat semua orang menganggap dirinya adalah anak emas yang baru saja diangkat dari kubangan lumpur oleh seorang Hisana.

Seketika dia mematikan televisi, beranjak dari tempatnya dan saat berbalik dia baru sadar kehadiran kedua orang tuanya. Lisa memeluk Ukitake erat, menangis sejadi-jadinya. Ukitake hanya memberi satu anggukan penuh arti pada Byakuya.

Byakuya memutuskan untuk bertemu dengan Rukia, menyeretnya pulang kalau perlu, dia tidak bisa membiarkan Rukia terus seperti ini, seyakin apapun dirinya tetap merasa takut kalau-kalau Rukia akan goyah pada akhirnya.

Pintu dia banting dengan sekuat tenaga, kunci mobil milik ayahnya sudah berada di tangannya, namun baru dua langkah dia menuruni teras rumah dia mendapati Ichigo berdiri di depan pagar rumah, wajahnya tampak sangat merana.

"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Rukia?"

Byakuya menghela napas berat, ini bukan waktu yang tepat baginya untuk menjelaskan permasalahan yang rumit ini pada Ichigo.

"Aku akan menjelaskan padamu nanti, ada hal penting yang harus aku lakukan dulu," jawab Byakuya seraya melangkah menuju pagar dan membukanya lebar-lebar.

Ichigo menahan tangan Byakuya di besi pagar, matanya menyiratkan kemarahan yang telah terakumulasi sejak insiden ciuman itu.

"Ichigo, aku sudah bilang aku a…"

Sebuah tinju keras mendarat di pipi Byakuya, denyut sakit langsung saja menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan?" seru Byakuya marah.

"Jangan menutupi apapun tentang Rukia padaku. Aku pacarnya, dan aku berhak tau. Ada banyak hal yang harus kau jelaskan padaku, termasuk alasan kenapa kau mencium Rukia sebelum penutupan festival!" kata Ichigo dengan nada suara lebih tinggi.

Byakuya membelalak kaget, dia tidak menyangka Ichigo mengetahui hal itu. Dia merasa sangat bersalah pada Ichigo, dia memang salah karena sudah mencium Rukia, dan berhak mendapat pukulan dari Ichigo, tapi ini benar-benar waktu yang tepat.

"Kau bisa menghajarku habis-habisan nanti, tapi aku harus pergi sekarang, Ichigo. Jika tidak kau akan sama menyesalnya denganku."

Ichigo tidak mengerti dengan ucapan Byakuya, tapi melihat mata Byakuya yang serius mengucapkan kalimat itu ia pun mundur, memberi jalan untuk Byakuya, mungkin bukan sekarang karena masih banyak waktu dan dia bisa bersabar sedikit lebih lama demi mendapatkan penjelasan yang masuk akal atas apa yang baru saja ia lihat di berita.

Byakuya menginjak gas mobilnya hingga mentok, meninggalkan Ichigo yang berdiri lunglai dekat pagar rumah, Byakuya sedih karena Rukia sudah membuat semua orang mengkhawatirkannya, bahkan tidak sedikitpun memberi kabar.

Byakuya menempelkan headset di telinganya, dan menekan tombol call di ponselnya.

Tut… tut… tut…

Ada nada sambung, tapi Rukia tidak juga menjawab telepon darinya. Byakuya terus berusaha, tidak peduli berapa kali ia harus mencoba menghubungi Rukia. Byakuya memutuskan untuk pergi ke lokasi konfrensi pers, mungkin Rukia masih berada disana.

Dia memacu mobil diatas kecepatan 120km/jam dan menambahnya saat memasuki jalan bebas hambatan, mengejar kemanapun Rukia berada.

Rukia berdiri di samping Ulquiorra yang menjadi tamengnya selama melangkah keluar dari lokasi konfrensi pers, tubuh kecil Rukia mengkeret dibalik punggung Ulquiorra. Para wartawan tidak ada hentinya mengejarnya, menyerang dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.

"Rukia, tolong ceritakan kehidupan anda,"

"Rukia.."

"Rukia…"

Dan lebih banyak lagi panggilan lain, membuat telinganya sakit. Hisana malah menikmati jepretan kamera yang menghujaninya, bahkan terus tersenyum sementara Aizen terus setia disampingnya. Dia percaya Ulquiorra akan menjaga Rukia, karena itu ia sengaja menjaga jarak dengan mereka dan meminta untuk Ulquiorra pulang bersama Rukia dengan mobil yang sudah di siapkan di lobby.

"Berisik…" rengek Rukia yang merasa dadanya sesak karena mendengar desakan orang asing di sekitarnya.

Ulquiorra berhenti melangkah, membuat Rukia menubruk punggungnya keras.

"Bisakah anda semua bersikap sopan? Rukia tidak bisa menjawab pertanyaan anda saat ini."

Ulquiorra bicara dengan suara tegas, mata dinginnya memancarkan kemarahan yang amat sangat, menyapu seluruh orang yang berada disekitarnya dengan tatapan mematikan itu, seketika semua kilatan cahaya kamera berhenti.

"Ulquiorra…" bisik Rukia penuh terima kasih.

"Ayo, Rukia." Ulquiorra merangkul bahu Rukia, hingga wajah Rukia tersembunyi di dadanya, dan dia menggiring Rukia melangkah ke pintu keluar lobby, tidak ada lagi pertanyaan ataupun panggilan untuknya.

Ulquiorra membukakan pintu untuknya agar segera masuk.

"Rukia!"

Rukia menghentikan langkahnya saat mendengar suara orang yang sangat dikenalnya, dia menoleh dan mendapati Byakuya berdiri beberapa langkah darinya, napasnya terengah-engah.

"Byakuya…" bisik Rukia. Hatinya yang tadi sesak tiba-tiba terasa sangat lega, senyumnya seketika merekah, menggantikan wajah stress yang sedari tadi ia tunjukkan.

Byakuya baru saja hendak melangkah mendekat, puluhan orang berbondong-bondong memblokir jalannya, memberi jarak antara dirinya dengan Rukia, membuat mereka seperti berjarak puluhan kilometer.

Rukia menatap Byakuya sendu, menunjukkan wajah penuh lukanya.

Ulquiorra menarik tangan Rukia tiba-tiba, menghilangkan Rukia dari jarak pandang Byakuya.

Rukia duduk dalam mobil, matanya masih berpusat pada Byakuya yang berdiri di seberang mobil yang ia kendarai.

"Jalan," ucap Ulquiorra yang duduk di sebelahnya.

Mobil pun mulai bergerak pelan, Rukia dan Byakuya saling tatap, berusaha mengganti saat-saat yang terlewati, berusaha mengutarakan isi hati mereka lewat sorot mata satu sama lain, Rukia mempertahankan matanya tetap melihat Byakuya seiring mobil yang terus bergerak.

Ulquiorra memperhatikan kearah Rukia melihat, seorang pria dengan rambut panjang, mata abu-abunya sejuk menatap Rukia lurus. Mungkinkah itu Ichigo?

Sosok Byakuya hilang seketika dari pandangannya setelah sedikit demi sedikit mengecil karena jarak yang terbentang diantara mereka.

Byakuya masih berusaha mengatur napasnya, melihat kerumunan orang yang perlahan bubar, merasakan hatinya kosong seketika, Rukia seperti menjauh dari hidupnya. Dia meraih ponselnya, menekan nomor Rukia lagi.

Rukia meraih ponsel yang terdapat dalam dompetnya, senyumnya mengembang melihat nama penelepon.

"Byakuya, aku.." suara dari telepon tiba-tiba saja hilang.

"Hallo, Byakuya.. hallo...?" Rukia berkali-kali menekan tombol ponselnya, ternyata ponselnya mati. Kenapa disaat seperti ini harus habis baterai?

Byakuya menurunkan ponsel dari telinganya, kembali menekan nomor ponsel Rukia.

"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan," jawab operator telepon.

"ARGHH!" Byakuya menendang udara, melepaskan kemarahannya, baru mendengar satu kata dari Rukia langsung kehilangan kontak.

Rukia mletakkan ponselnya di pangkuan, dia ingin menangis karena situasi saat ini sangat rumit, tidak perlu tambah rumit dengan ponsel yang tidak bisa mendukung.

Ulquiorra melirik Rukia dengan ekor matanya, kembali merasa asing dengan nama yang baru saja Rukia sebut.

Byakuya…

Rukia terlihat jauh lebih cemas, saat bicara dengan Byakuya, jauh lebih cemas dari yang pernah Ulquiorra lihat.

Siapa Byakuya? Pasti orang yang tadi berdiri dekat pintu keluar lobby. Tapi siapa dia untuk Rukia? Pacarnya yang lain?

"Ulquiorra, boleh aku pinjam ponselmu? Ponselku habis baterai," kata Rukia memohon.

Ulquiorra menimbang-nimbang permohonan Rukia, dia sudah menyangka Rukia akan menelepon orang bernama Byakuya itu, seketika hatinya tidak rela jika Rukia menghubungi orang itu.

"Aku tidak membawanya," jawab Ulquiorra berbohong.

Rukia langsung tertunduk lesu, kesedihan menaunginya seolah tanpa akhir.

Kenapa aku berbohong padanya? Kenapa aku tidak rela dia bicara dengan laki-laki itu?

Ulquiorra mengasingkan hatinya dalam benaknya sendiri, mencoba menalarkan kegelisahan yang ia rasakan, mencerna ketidaksediaan dirinya untuk membantu Rukia bicara dengan laki-laki itu. Sedingin apapun hatinya, Ulquiorra bisa merasakan pancaran perasaan seseorang dari sorot matanya, dan dia melihat sorot cinta dari laki-laki tadi, sorot mata terluka karena Rukia yang pergi dari hadapannya.

Byakuya pulang dengan tangan hampa, tidak sedikitpun mendapatkan berita, bahkan satu kalimat penjelasanpun dari Rukia.

"Byakuya?"

Lisa melihat pipi Byakuya yang bengkak, mengira bahwa Byakuya baru saja terlibat perkelahian dengan salah satu orang suruhan Hisana.

"Rukia keburu dibawa, ponselnya tidak aktif." Byakuya bicara sambil melangkah menuju kulkas hendak membasahi tenggorokannya, tidak terusik sama sekali dengan tatapan Ayahnya yang berpusat pada pipi bengkaknya.

"Kau berkelahi?" tanya Ukitake.

"Tidak, tadi aku hanya mendapat ganjaran karena kesalahanku pada seseorang," jelasnya. Dia meneguk sebotol air mineral hingga habis, sedikit ketenangan mengalir dalam hatinya.

Rukia terlihat agak sedih tadi, Byakuya yakin Rukia tidak dengan suka hati mengikuti acara konyol seperti itu, pasti Hisana memaksanya, tapi Rukia bukan jenis orang yang akan diam saja tanpa perlawanan.

.

.

Mobil sedan silver itu parkir dengan mulus, Ulquiorra turun lebih dulu, melirik Rukia yang masih menekuri tangannya yang terlipat sepertinya tidak sadar jika mereka sudah tiba di rumah.

"Kau tidak turun?" tanya Ulquiorra yang mencondongkan tubuh pada Rukia.

Rukia tersentak dan mendongakkan wajah, melihat sekitar dengan raut bingung, namun detik kemudian dia beranjak dari mobil, merapikan gaun selembut sutranya yang sudah kusut.

"Aku bersumpah akan merobek gaun ini hingga tak bersisa," gumam Rukia penuh dendam.

Tatapan Ulquiorra tajam memperhatikan perubahan aura pada Rukia, kesan sedih dan sendu yang sedari tadi ia rasakan sekarang berubah menjadi kemarahan yang bergelora. Dia mengekor Rukia yang melangkah masuk dengan tegap, sedikit heran, karena tiga hari lalu ia masih melihat Rukia yang tidak mampu berdiri dengan tegak, entah datang dari mana tenaga itu hingga secepat kilat Rukia bisa berjalan dengan lancar.

"Rukia, kenapa baru sampai?"

Rukia yang baru masuk rumah besar itu disambut oleh Hisana, dia sudah mengganti bajunya dengan gaun lain yang terkesan jauh lebih glamour. Rukia menarik napas dalam-dalam, menyiapkan amarah yang sudah bergumul dalam otaknya.

"Kau cantik sekali dalam konfrensi pers tadi, kau tau a…"

"Hentikan omong kosong ini!" potong Rukia dengan suara mematikan.

Ulquiorra menonton dari tempatnya, berjarak hanya beberapa langkah dari tempat Rukia dan Hisana, memperhatikan hilangnya senyum Hisana, menunjukkan wajah tuanya ke permukaan.

"Anda pikir bisa semudah itu menjebloskan saya dalam permainan anda? Sesuka hati anda membawa saya dalam acara sampah seperti itu. Saya membatalkan kesepakatan, saya akan keluar dari rumah ini sekarang juga!"

Hisana seperti tersambar petir, melihat anaknya bicara sekasar itu padanya. Bahkan tidak ada sebutan ibu yang keluar dari mulutnya. Semua sangat menyakitkan, terlebih lagi melihat kebencian dari mata yang sangat mirip dengan matanya itu.

Ulquiorra mendengus senang, ini dia kemarahan yang sudah ia tunggu dari tadi.

Rukia melangkah menuju kamarnya, hendak membereskan barang-barangnya.

"Kau mau kemana, Rukia?" nada suara Hisana berubah sama sekali. Dingin dan kejam.

Rukia berbalik, melihat aura jahat keluar dari diri Hisana, tatapannya mengintimidasi, seolah tidak akan ragu-ragu untuk menyiksa orang lain untuk menuruti keinginannya.

Ini dia, bom waktu melawan dinamit, kata Ulquiorra dalam benaknya. Ia melipat tangannya di dada, menunggu perdebatan ini pecah menjadi adu mulut yang ramai.

"Kau pikir bisa semudah itu membatalkan kesepakatan yang telah kau ucapkan sendiri?" Hisana bicara lewat bibirnya yang tipis berbalur lipstick merah berkilauan, senyum licik terukir disana.

"Anda yang sudah memaksa saya, dan anda yang membuat saya membatalkan kesepakatan ini. Tidak perlu waktu lama untuk memutuskan saya akan tinggal bersama anda atau tidak. Anda wanita kejam yang tidak memiliki hati, anda akan mengorbankan siapapun untuk kepentingan anda sendiri!"

Napas Rukia memburu, dia tidak pernah berkata sekasar ini pada seseorang, apalagi dia adalah ibu kandungnya, tapi Rukia tidak sedikitpun merasa ada hubungan darah antara mereka berdua, sama sekali berbeda seperti bumi dan langit.

Hisana merasa hatinya sakit. Sudah puluhan bahkan ratusan orang yang mengucapkan kalimat serupa padanya, namun mendengarnya langsung dari mulut orang yang kau kasihi sungguh membuat hati seperti ditempa besi panas, perih hingga menyesakkan hati. Kebencian Rukia pada dirinya benar-benar merasuk hingga ke setiap pori-porinya, terasa sangat menyakitkan.

"Jaga ucapanmu, Anak Kecil."

Hisana marah, Ulquiorra sudah tau hasil akhir dari perdebatan ini, tapi dia tetap menonton dengan sabar.

"Kau kira hanya karena kau akan berumur 20 tahun akan menjadikan semuanya lebih baik?" Hisana melangkah maju pada Rukia, menyibakkan rambut Rukia perlahan, seolah sangat menyayangi padahal matanya menyiratkan ancaman.

"Dengar, Rukia. Aku bisa membuat ibumu masuk ke penjara, walaupun hanya beberapa hari, aku pastikan ibumu akan menderita disana, trauma berkepanjangan hingga harus masuk ke rumah sakit jiwa. Kau tau kan betapa kejamnya penjara, hmm?" Hisana mengelus rambut Rukia, matanya menatap tajam sekalipun bibirnya tersenyum manis.

Sekujur tubuh Rukia gemetar, membayangkan ibunya akan mengalami hal itu, dia tidak ingin hal itu terjadi, dia menatap Hisana. Betapa ia benci telah terlahir dari seorang wanita sekejam ini.

"Jadi bersikap manislah hingga waktumu habis, Rukia."

Hisana berjalan meninggalkan Rukia, menuju tangga yang akan mengantarnya ke kamarnya.

"Kenapa Anda memaksa saya tinggal? Seharusnya anda tau pada akhirnya saya tidak akan memilih tinggal bersama anda!"

Hisana menghentikan langkahnya, dadanya sesak , sangat sesak. Tangannya memegangi dada, paru-parunya seperti menyempit dengan cepat. Dia tau hal itu, dia sadar bahwa dirinya tidak termaafkan karena telah menelantarkan Rukia, namun ia ingin melewati waktu yang ada bersama Rukia, sekalipun pada akhirnya Rukia tidak akan memilih tinggal bersamanya, semua yang ia lakukan hanya untuk menebus kesalahan masa lalunya…

Ulquiorra memerhatikan punggung Hisana yang sedikit membungkuk setelah mendengar kalimat Rukia. Pertama kali dalam hidupnya melihat Hisana yang sombong seperti terkalahkan. Perhatiannya beralih pada Rukia yang tengah mengepal tangan kuat-kuat, menahan amarah yang tidak disambut oleh Hisana.

Rukia ingin berteriak sekuat tenaga, tapi ia akan terlihat seperti orang gila. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya seorang artis terkenal seperti Hisana mengangkat aib yang sudah ia sembunyikan selama 19 tahun ini, menguak pada dunia tentang dirinya, mengacaukan hidup Rukia hingga seperti ini.

"Ru…"

Ulquiorra berhenti mendekati Rukia, karena Rukia tiba-tiba mengangkat kaki dan melepas sepatu hak lima sentinya satu per satu.

"Bodoh!"

"Bodoh!"

Dia mengumpat sambil melempar sepatunya, dalam waktu singkat ia berlari keluar rumah, mau tidak mau Ulquiorra mengikutinya, takut Rukia kabur atau melakukan hal yang membahayakan nyawa.

Rukia berlari melintasi taman yang berbentuk lingkaran yang berpusat pada air pancur yang tinggi, dia berlari terus mengitari taman itu, melampiaskan kemarahannya, berusaha mengosongkan kepalanya. Semakin mempercepat laju kakinya, semakin semua hanya terlihat seperti sekelebat bayangan yang kabur, membuat ingatannya akan bersih dalam seketika.

Ulquiorra melongo melihat aksi Rukia, sungguh diluar dugaan Rukia malah lari seperti itu. Caranya melampiaskan kemarahan sunguh tidak biasa, Ulquiorra menontonnya dengan seksama. Melirik jamnya untuk memastikan waktu dimulainya Rukia berlari.

Rukia menahan sakit pada kaki kanannya, kakinya belum bisa dibawa lari seperti ini, namun ia juga tidak ingin membiarkan dirinya hancur perlahan karena kebencian yang menggrogoti dirinya dari dalam.

"Semua akan baik-baik saja," kata Rukia pada dirinya sendiri, memaksa dirinya untuk tidak membayangkan hal buruk yang mungkin akan menimpa ibunya.

Ulquiorra kembali melirik jamnya, sudah hampir setengah jam Rukia berlari seperti itu, dan tidak mengurangi sedikitpun kecepatannya, dia sudah mandi keringat, kelihatan sangat kepayahan, kakinya sudah kotor tak karuan. Ulquiorra sedang mempertimbangkan jika dia harus menghentikan Rukia, dari pada ia pingsan seketika.

"Dia cukup tangguh untuk melawan Hisana."

Aizen muncul dari belakang Ulquiorra, menepuk bahu Ulquiorra. Aizen memperhatikan Rukia, menarik sudut bibirnya, mengagumi ketangguhan Rukia yang tidak pernah ia temui pada perempuan lainnya. Hisana adalah wanita paling tangguh dan anti banting yang pernah ia kenal, bisa menutup telinga rapat-rapat terhadap apapun yang digunjingkan orang tentang dirinya. Ternyata buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya, Rukia mewarisi sifat itu.

"Sebaiknya kau hentikan dia sebelum dia benar-benar jatuh," kata Aizen yang kembali ke dalam rumah.

Ulquiorra mengangguk menjawab ayahnya.

Dia melangkah turun menuju taman, namun baru lima langkah yang ia tempuh, ia melihat Rukia jatuh tersungkur di taman, wajahnya hampir mencium rumput.

"Rukia," panggil Ulquiorra yang berlari mendekat.

"Kau tidak apa-apa?"

Ulquiorra membantu Rukia berdiri, Rukia sungguh berantakan, gaun indahnya kotor kena tanah, kakinya juga, rambutnya kusut masai, bahkan napasnya tersengal-sengal.

"Tidak usah pedulikanku." Rukia menghentakkan tangan Ulquiorra yang memegang bahunya.

"Asal kau tau saja, aku juga tidak suka dengan Hisana."

Rukia memandang Ulquiorra lekat, mempertanyakan maksudnya mengatakan hal itu.

"Bukankah musuhnya musuhmu adalah temanmu?" ucap Ulquiorra lagi.

Rukia tersenyum dan mengangguk, pertama kalinya mendengar perumpamaan seperti ini dari orang lain. Dia merasa telah mendapat dukungan lain untuk bersabar.

"Kenapa kau membenci Hisana?" tanya Rukia bingung.

"Dia tidak pernah jahat padaku, aku hanya tidak bisa menerima dia menjadi pengganti ibuku," jelas Ulquiorra ragu. Dia tidak pernah membuka rahasia hatinya pada siapapun, namun melihat Rukia yang tersenyum padanya membuatnya tidak bisa menghindari keinginan untuk berbagi dengan pemilik mata teduh itu.

"Terima kasih, aku hargai bantuanmu," ucap Rukia diantara usahanya mengatur napas.

"Sama-sama," balas Ulquiorra yang kembali mengulurkan tangan dan membantu Rukia melangkah masuk ke rumah.

Aizen melihat Ulquiorra yang memapah Rukia masuk menuju kamar, dia tersenyum senang melihat anak satu-satunya sudah tambah dewasa.

"Kau akan sadar bila kau sudah selangkah lebih dewasa, Ulqui. Tapi kau harus bersiap patah hati, perempuan itu bukan untukmu. Sekalipun sakit kau harus tetap menjalaninya, karena ini adalah salah satu batu loncatan agar kau mengenal dunia yang belum pernah kau pijak," bisik Aizen.

.

.

Rukia bak artis sungguhan saat sampai ke kampus, orang-orang langsung mengelilinginya, menanyakan ini itu, kebenaran statusnya, semua mempertanyakan hal yang sama sekalipun dengan kalimat yang berbeda.

Rangiku yang cekatan untung saja bisa dengan cepat menyelamatkan Rukia, menyeret Rukia menuju ruang kelas dan menguncinya rapat, ruang kelas aman karena Rangiku sudah meminta Hitsugaya mengancam seluruh penghuni kelas untuk menutup mulutnya, tidak menyakan hal yang tidak-tidak pada Rukia.

"Terimakasih, Rangiku," ucap Rukia dengan helaan napas lega, perlahan ia duduk di kursinya, meletakkan tasnya diatas meja yang agak berdebu karena tiga hari tidak ia gunakan.

"Apa kakimu baik-baik saja?" Hitsugaya melirik kaki Rukia yang masih berbalut perban.

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."

Rukia terdiam, sikap Rangiku yang biang gossip agak aneh, dia jadi pendiam, sangat malah. Biasanya dia akan menanyakan gossip apapun yang beredar di dunia ini. Hinamori juga.

"Kau tidak akan bertanya apapun?"

Rangiku menggeleng mendengar pertanyaan Rukia. Hinamori menggeleng bersama Hitsugaya saat Rukia mengalihkan pandangan pada mereka.

"Kalian baik, aku butuh tempat untuk cerita jika kalian mau," kata Rukia ragu.

"Kami tidak akan memaksamu cerita, Rukia. Kau tidak usah bilang jika memang tidak mau bilang." Hinamori angkat bicara.

"Aku hanya tidak menyangka, kau memang mirip dengan artis itu, tapi ku kira hanya sekedar mirip," celetuk Hitsugaya cuek. Pria berambut spike itu duduk di kursinya, melihat lurus ke whiteboard polos yang membosankan.

"Aku juga kaget awalnya."

Akhirnya Rukia menceritakan semuanya pada Rangiku, Hinamori dan Hitsugaya setelah mereka mencari tempat yang benar-benar aman bagi mereka berbagi cerita. Mereka memasang telinga mereka baik-baik, mendengarkan tiap detail cerita Rukia, menggeleng dengan mengenaskan mendengar cara Rukia menggambarkan kepribadian Hisana yang sesungguhnya.

"Apakah Ichigo tau hal ini?" celetuk Rangiku saat Rukia menyelesaikan cerita panjangnya.

Rukia menggeleng pasrah. "Aku belum sempat meneleponnya, dia juga tidak meneleponku sejak acara festival."

"Lalu bagaimana kalian akan menghabiskan waktu kalian? Hadiah kalian masih menunggu," kata Rangiku yang merasa iri karena tidak mendapatkan hadiah itu, satu voucherpun tidak ia dapatkan.

"Aku tidak tau," jawab Rukia pasrah.

"Sekarang kau telepon dia!"

Rukia menatap Rangiku, berharap Rangiku tidak serius dengan kata-katanya, karena Rukia sedang tidak ingin bicara dengan Ichigo dengan suasana hati seburuk ini, terlebih lagi saat terakhir bertemu Ichigo dia malah meninggalkan kesan buruk karena sudah lari dari acara dansa yang sudah Ichigo tunggu-tunggu.

Rangiku merebut ponsel Rukia dengan paksa, menelepon Ichigo sementara Rukia menyatukan tangannya memohon agar Rangiku menghentikan tindakannya.

"Ichigo, Rukia ingin bicara denganmu."

Rangiku mengoper ponsel yang ia pegang pada Rukia, dia mendelik memaksa Rukia untuk bicara.

"Ha.. hallo, Ichigo. Apa kabarmu?"

Ichigo mendengar suara Rukia yang gelisah, namun kerinduan dalam hatinya sedikit terobati setelah mendengar suara Rukia, melupakan gelisahnya karena apa yang telah ia dengar beberapa hari lalu saat menelepon Rukia, melupakan saat ia menghajar Byakuya.

"Baik. Bagaimana denganmu, kenapa kau bisa masuk infotainment? Kau artis sekarang, heh?" Ichigo mencoba bercanda, dan dia berhasil, Rukia tertawa singkat.

"Tidak, aku hanya jadi korban artis iseng. Seperti drama saja, kenyataan bahwa aku…"

Untuk kedua kalinya Rukia mengatakan kebenaran, sebelumnya kepada teman-temannya dan sekarang kepada Ichigo. Ichigo menjadi pendengar baik, tidak penah menyela, hanya menghibur saat Rukia terdengar terisak saat menceritakan ancaman Hisana pada ibunya.

Rukia tidak menangis saat cerita pada teman-temannya tadi, tapi kenapa saat cerita pada Ichigo dia malah menangis? Mungkinkah dia merasa begitu nyaman dengan Ichigo sehingga tidak ragu untuk meluapkan segala isi hatinya?

"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Ichigo saat tangis Rukia agak reda.

"Aku akan menjalani kesepakatan hingga waktunya, dan berusaha konsentrasi pada pertandingan tingkat nasional."

"Iya, kau andalan kota ini sekarang," sahut Ichigo bangga. Dia merasa jauh lebih lega mendengar penjelasan langsung dari mulut Rukia, terlebih lagi saat tau bahwa Ulquiorra bukanlah seperti yang ia bayangkan, dari nada bicara Rukia dia bisa menyimpulkan bahwa Ulquiorra bukan seorang yang khusus bagi Rukia.

"Ichigo…"

"Ehm?"

Rukia menatap Rangiku, Hinamori dan Hitsugaya bergantian, mereka masih memperhatikannya dengan seksama, padahal ia ingin bicara hanya berdua dengan Ichigo, dia ingin minta maaf. Semua akan terlihat memalukan jika ditonton mereka bertiga.

"Ada apa, Rukia?" kata Ichigo yang tidak mendapat lanjutan kalimat Rukia.

"A.. aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sopan meninggalkanmu di lantai dansa, maaf."

Ichigo tersenyum, matanya cerah secera matahari yang sedang bersinar terang di langit.

"Aku tau, kau sedang tidak enak badan. Aku malah menyesal karena tidak langsung mengejarmu saat itu, coba aku kejar, kau tidak akan terluka seperti itu. Iya kan?"

"Tidak, ini bukan salahmu, aku yang ceroboh…"

Rangiku senyum-senyum melihat wajah Rukia yang perlahan merona, bercak merah itu mulai memenuhi pipinya.

"Cie.. yang lagi mesra-mesranya," celetuk Rangiku.

Rukia memberi isyarat pada Rangiku untuk diam, dia jadi canggung bicara dengan Ichigo.

"Sudah, kau jangan pikirkan hal itu lagi. Bukankah kuliahmu sudah dimulai?" gumam Ichigo dengan nada hangat yang seperti biasa.

Rukia melirik jam tangannya. Gawat, kuliah sudah dimulai sejak lima menit lalu.

"Oh iya, aku lupa!"

"Rukia, nanti sore aku jemput ya." Ichigo berkata buru-buru sebelum Rukia menutup telepon.

"Tidak usah, aku akan pulang bersama Byakuya, aku ingin bertemu ayah dan ibu."

"Baiklah, sampai nanti." Ichigo agak lesu mendengar jawaban Rukia, tapi dia mengerti bahwa keluarga lebih penting dari apapun saat ini.

"Iya, bye." Sambungan telepon pun berakhir.

Rangiku, Hinamori dan Hitsugaya saling bertukar pandang, sama-sama heran. Pertama kalinya Rukia menyebut seseorang itu dengan sebutan ayah, Rukia paling menolak kehadiran orang itu sebelumnya, apakah ini artinya Rukia sudah menerima orang itu sepenuhnya?

"Kenapa?" tanya Rukia seraya beranjak dari tempatnya duduk.

"Ti.. tidak.." sahut Rangiku gelagapan.

"Kuliah sudah dimulai, ayo!" Rukia berlari memimpin menuju kelasnya.

Hitsugaya yang paling depresi, dia bahkan sebagai koordinator kelas malah lupa bahwa kuliah sudah mulai, jangankan mengingatkan malah ikut-ikutan terlambat.

.

.

Byakuya sudah mendengar dari Grimmjow dan Hisagi kalau Rukia sudah masuk kuliah, tapi dia tidak lantas berhamburan untuk menemui Rukia, dia sudah menerima pesan dari Rukia sebelum istirahat siang tadi, mereka akan pulang bersama, dan itu adalah saat yang tepat baginya untuk meminta Rukia menjelaskan semuanya sampai hal terkecil sekalipun.

Sekarang hanya tersisa kurang dari satu jam sampai waktu yang ia dan Rukia janjikan datang. Byakuya mencatat tugas yang diberikan oleh dosennya, dikumpulkan minggu depan.

"Cukup sekian kuliah hari ini, jangan lupa tugas kalian," kata Dosen Kyoraku sambil menutup bukunya dan undur diri dari kelas.

Byakuya merapikan bukunya dan keluar kelas lebih dulu dari siapapun. Grimmjow melihat Byakuya yang menghilang dari pintu kelas dengan cepat, bergegas ia memasukkan bukunya dengan asal, menyusul Byakuya.

"Kau mau bertemu dengan Rukia?" tanya Grimmjow yang berusaha menyamakan langkah.

"Iya, kenapa?"

"Aku juga ingin tau kebenaran kabar itu, boleh aku ikut kalian?"

"Tidak!" jawab Byakuya tegas.

Grimmjow tertunduk pasrah, Byakuya tidak bisa dibantah jika sudah mengeluarkan jawaban seperti ini. Tiba-tiba ia teringat kejadian yang sudah beberapa hari ini mengganggu pikirannya.

"Byakuya, aku bukannya mengintip, tapi tidak sengaja melihat…" Grimmjow takut-takut menyuarakan hatinya.

"Melihat apa?" tanya Byakuya yang berhenti melangkah.

"Kau mencium Rukia. Apakah kau serius mencintainya?" bisik Grimmjow hati-hati, bahkan sebelum mengucapkannya dia sudah tengok kanan kiri memastikan tidak ada satu orangpun yang mendengar mereka.

Byakuya kehilangan kemampuan bicaranya, seketika dia jadi bisu, hanya bisa memandang Grimmjow yang memasang tampang paling lugu yang tampak mengerikan baginya. Grimmjow melihat apa yang ia lakukan dan Grimmjow bisa menahan untuk bertanya setelah selang beberapa hari.

"Siapa lagi yang tau hal ini? Kau sudah bicara pada siapa saja?" tanya Byakuya memastikan hal ini belum tersebar luas.

"Tidak ada, aku melihatnya sendiri dan baru ini aku bertanya padamu."

Byakuya menghirup udara banyak-banyak, melegakan hatinya. Grimmjow sudah melihatnya, dan kepalang basah, mau apalagi setelah ini?

"Jangan biarkan orang lain tau, Grimmjow. Aku hargai sikapmu."

"Aku tau, aku tidak akan bermulut besar. Tapi jawab dulu pertanyaanku," bisiknya mendesak.

"Aku sudah mencintainya sejak sepuluh tahun lalu, tapi aku berusaha menutupinya karena status kami, dan saat festvial itu aku lepas kendali. Aku benar-benar sangat tertekan karena kalah dari Ichigo, membayangkan mereka akan pergi bersama, aku seperti orang gila memikirkannya."

Grimmjow manggut-manggut mengerti, ternyata apa yang pernah ia tebak. Jauh sebelum ia tau bahwa Byakuya dan Rukia adalah kakak adik, sejak saat itu ia sadar bahwa mata Byakuya selalu tertuju pada Rukia, pantas saja semua terasa berbeda, bukan tatapan kakak pada adik, tapi tatapan sang pecinta kepada kekasihnya.

"Tapi kan kalian bukan kakak adik lagi. Ya.. secara tertulis mungkin, tapi kan Rukia bukan anak kandung ibu tirimu, tidak ada pertalian yang menghalangi kalian bersama. Iya kan?"

"Kau gila!" serapah Byakuya yang melotot pada Grimmjow.

"Lho kenapa? Benar kan?"

"Tetap saja tidak bisa, aku harus membuang semuanya. Aku tidak bisa mengingat bagaimana wajah Rukia yang terluka karena tindakanku waktu itu, dan itu adalah jawabannya atas perasaanku. Itu sudah lebih dari cukup."

Byakuya berbelok melintasi koridor yang ramai oleh kelas lain yang baru bubar. Diantara mereka berbisik satu sama lain sambil menunjuk-nunjuk dirinya, makin lama gerah juga melihat sikap mereka.

Grimmjow seperti tidak mau melepas ikan yang berhasil ia tangkap, terus berusaha mengorek keterangan dari Byakuya.

"Memangnya apa yang ia katakan setelah itu?" Grimmjow mencondongkan tubuh pada Byakuya, agar bisa berbisik pada Byakuya.

"Dia meminta waktu, dan memintaku bersikap seperti biasa."

"Itu dia!" tembak Grimmjow kegirangan, lampu kuning sudah menyala. Jawaban dari Rukia menandakan bukan tidak ada perasaan sama sekali, jadi dia berpikir ini adalah kesempatan, dan harus dioptimalkan.

"Apa maksudmu?" Byakuya makin bingung dengan perubahan di wajah Grimmjow.

"Minta waktu, itu artinya ada benih cinta. Jika memang tidak ada maka dia bisa menolakmu saat itu juga, seharusnya kau sadar itu. Jangan malah berusaha kau buang perasaan itu," jelas Grimmjow yang mengagumi bakatnya untuk mengenali hati perempuan. Pantas saja ia bisa mendapatkan Nell, perempuan paling cantik di tingkat mereka, seksi pula.

Byakuya berpikir sejenak, benarkah teori yang dipaparkan Grimmjow? Rasanya agak aneh masuk ke logikanya.

Grimmjow merasa sudah mendapat sedikit kejelasan, dan memutuskan undur diri dari sebelah Byakuya, senang karena akhirnya orang yang ia anggap sebagai sahabat –ia tidak peduli jika Byakuya tidak menganggapnya sebagai sahabat juga- bisa menemukan seseorang yang menduduki hatinya sebagai seorang yang istimewa.

Rukia sudah menunggu Rukia yang berdiri di pintu kelas, seperti biasa dikawal Rangiku, Hinamori dan Hitsugaya. Dia langsung berlari berhamburan kearah Byakuya saat melihat Byakuya mendekat, dia sangat senang melihat Byakuya, ingin menebus pertemuan yang tertunda kemarin.

"Kakimu bagaimana?" ucap Byakuya datar.

"Sudah bisa diajak lari, besok aku mulai latihan dengan Pelatih Zaraki." Rukia tersenyum sangat lebar.

"Baguslah, kita pulang sekarang?"

"Byakuya, sikapmu terlalu dingin," komentar Rangiku, dia bicara membelakangi Byakuya, menyindir tapi tidak mau melihat wajah Byakuya langsung.

"Sudah berhari-hari tidak bertemu, tapi sikapmu bisa setenang ini," lanjut Rangiku yang semakin menjadi karena tidak mendapat respon dari Byakuya.

Byakuya menatap Rukia, sebenarnya ia ingin memeluk Rukia erat-erat, membasuh kerinduan yang sudah menggembung dalam hatinya, tapi ia juga tidak bisa mengekspresikannya pada Rukia, jadi hanya bisa menahan diri.

"Sudah jangan dengarkan Rangiku." Rukia menarik tangan Byakuya agar segera melangkah menjauh dari tiga sekawan itu.

" Kami pulang ya, sampai besok!" seru Rukia sambil melambai.

"Ya, hati-hati banyak wartawan!" jawab Hinamori.

Rukia teringat. Banyak wartawan yang mengincar berita darinya, dan tidak bisa berjalan-jalan di tempat umum sebebas ini setelah konfrensi pers itu berlangsung, dia harus menjaga jarak dari khalayak ramai. Tapi apa boleh buat, mereka sudang tidak membawa kostum apapun yang bisa digunakan untuk menyamar.

"Tunggu." Byakuya menahan tangannya saat mereka sampai di parkiran kampus.

"Kenapa?"

Byakuya malah melepaskan jacketnya, lalu memakaikannya pada Rukia. Rukia diam saja saat Byakuya memasang resleting dan merapatkannya hingga batas leher, lalu menarik tudung jacket hingga menutupi hampir seluruh wajahnya.

"Begini lebih baik," ucap Byakuya seperti tengah menjawab pernyataan Hinamori barusan, dengan begini orang-orang tidak akan dengan mudah mengetahui bahwa Rukia sedang berjalan bersamanya.

Rukia melirik Byakuya melalui celah tudung jacket, tersenyum karena ide Byakuya benar-benar hebat.

"Kita akan naik bis, jadi kita harus menyembunyikan wajahmu."

"Tadinya aku mau tinggalkan wajahnku di loker, tapi tidak bisa," sahut Rukia berusaha melucu.

Byakuya ikut tersenyum melihat betapa santainya sikap Rukia, mereka benar-benar sudah bersikap sangat natural seperti tidak pernah terjadi apapun. Byakuya bersyukur karena semua sebaik ini.

Rukia merasakan pipinya panas, karena wangi cologne Byakuya tercium jelas dari jacket yang ia gunakan, wangi mint segar dengan perpaduan wangi shampoo yang samar-samar, seperti dipeluk erat oleh pemilik jacket.

Untung saja tudung jacket menaungi wajahnya, jika tidak Byakuya akan melihat jelas wajahnya yang merona.

Mereka menaiki bis yang akan mengantar mereka ke pemberhentian bis dekat rumah mereka, Byakuya selalu menjaga jarak terlebih saat naik dan turun dari bis.

Rukia sampai di rumah, disambut oleh ibu yang sudah menunggu sejak siang tadi. Ibu telah meminta izin setengah hari tadi, khusus untuk menemui Rukia.

"Rukia…" Ibu memeluknya erat, rasanya sangat rindu, rasa takut kehilangan itupun menguap seketika. Rukia masih sangat menyayanginya, Rukia tidak akan meninggalkannya, Rukia akan menepati janjinya.

"Maafkan aku, Bu. Kemarin dia yang membawaku ke acara itu, aku tidak tau kalau ia akan membawaku kesana. Makanya aku tidak bicara sama sekali, padahal aku ingin membuka semua kenyataan disana, tapi aku juga takut ia akan melakukan hal jahat pada Ibu. Jadi aku akan bersabar sampai waktu dua minggu yang ku janjikan dengannya berakhir."

Lisa mempererat lengkungan tangannya, membuat Rukia bersandar di dadanya.

"Ibu mengerti, yang terpenting sekarang kamu sehat, Ibu sudah sangat bersyukur," bisik Lisa dengan tangis yang mulai pecah.

Byakuya menikmati saat kedekatan seperti ini, melihat Rukia yang memeluk ibu, yakin bahwa semua akan berjalan dengan baik.

Rukia melampiaskan kekesalannya pada Hisana, menceritakan semua kelakukan Hisana pada ibu. Menceritakan tentang Aizen yang menurutnya sama liciknya dengan Hisana, menceritakan tentang Ulquiorra yang sangat bertolak belakang dengan ayahnya, tentang kesediaan Ulquiorra membantunya untuk melawan Hisana.

Lisa menyediakan cemilan kesukaan Rukia, biscuit berbentuk chappy, dan segelas jus strowberry. Mereka terlihat seperti keluarga yang tidak bertemu selama bertahun-tahun, menceritakan semuanya bahkan sampai hal yang tidak penting sekalipun.

Byakuya menjadi pendengar yang baik, mengikuti alur cerita Rukia yang berantakan, sebentar maju, sebentar mundur lagi kembali ke cerita awal. Setiap ekspresi dalam wajah Rukia membuatnya terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya, jauh lebih hidup dari pada sosok Rukia dalam benaknya.

Ayah pulang kantor tepat waktu kali ini, tidak lembur hingga larut malam, dia sengaja karena mendapat kabar bahwa Rukia akan pulang hari ini. Dia ingin mendengar kebenaran tentang semuanya, langsung dari Rukia.

"Sepertinya ayah ketinggalan banyak cerita," ucapnya saat menghampiri Rukia dan Lisa yang sedang asyik menertawakan cara Rukia membuat Hisana kesal.

"Duduklah, aku bersedia menceritakan semuanya dari awal."

Rukia tersenyum pada Ukitake, menunjukkan keramahan hati yang telah lama tidak ia berikan pada pria paruha baya itu. Lisa bertanya-tanya dengan sikap Rukia yang sangat terbuka pada Ukitake, tapi juga tidak ingin mempermasalahkan, dia senang jika pada akhirnya Rukia bisa menerima Ukitake apa adanya.

"Aku akan membuat semuanya mengerti bahwa aku akan tetap tinggal di rumah ini, karena aku hanya memiliki satu rumah," kata Rukia yang mengakhiri sesi bicaranya, dia meneguk jusnya hingga habis tak tersisa, membasahi tenggorokan yang kering karena terlalu banyak bicara selama sehari ini.

Ukitake menatap Rukia penuh arti. Senang karena sepertinya tidak ada yang berubah sama sekali sejak Rukia melangkah keluar dari rumah ini, dia bisa sedikit lebih tenang sekarang. Senyum Rukia masih sama, sekalipun kekesalan masih membayangi wajahnya, dia masih mempertahankan dirinya yang biasa.

"Apakah kau akan malam disini?" tanya Lisa yang beranjak dari sofa, hendak melangkah menuju pantry.

"Umm.." Rukia ragu hendak menjawab, dia masih ingin menghabiskan waktu bersama keluaganya, namun Hisana sudah memberikan batasan waktu padanya, waktu hingga makan malam tiba, dia harus makan malam bersama Hisana.

"Aku…"

Rukia diselamatkan oleh suara ketukan pintu depan rumah. Lisa yang sudah dekat pantry, berbalik mendekati pintu, membukanya dengan perlahan tanpa perlu repot-repot mengkonfirmasi tamu yang sudah mengetuk pintu rumah.

Lisa memperhatikan seorang laki-laki tinggi kurus dengan rambut hitam lepek, dan mata hijau emerald itu. Ekspresinya datar, sedingin sorot mata yang ia berikan pada Lisa. Tidak memerlukan waktu lama bagi Lisa untuk mengenali sosok dihadapannya ini, seorang yang Rukia sebut sebagai sekutunya, Ulquiorra.

"Apakah Rukia ada?" ucapnya dengan mata lurus pada Lisa, tidak jelalatan mencari kehadiran Rukia dalam rumah, cukup sopan untuk seorang tamu.

"Dia ada di dalam, tapi kami akan makan malam bersama."

Ulquiorra mengerutkan dahinya sejenak, merasa aneh karena Rukia tidak menyampaikan pesan Hisana pada penghuni rumah.

"Rukia janji untuk makan malam dengan Hisana, aku kesini untuk menjemputnya."

Ulquiorra tidak merasa butuh sama sekali untuk bersikap baik dengan cara memperkenalkan diri, dia langsung pada inti maksud kedatangannya, mencari Rukia dan… titik.

Rukia mendengar suara sekeras batu milik Ulquiorra, dia menghela napas, Hisana tidak pernah mengizinkannya lolos walaupun barang semenit. Rukia beranjak dari sofa yang ia duduki, masih sempat-sempatnya menyambar dua potong biscuit sebelum mendekat pada Ulquiorra.

"Maaf, Bu. Tapi jika aku tidak cepat kembali, maka Wanita Penyihir itu akan memasungku," kata Rukia penuh sesal.

Lisa memberikan senyum terlembutnya pada Rukia, dan dia memeluk Rukia erat.

"Ibu mengerti. Pergilah sekarang. Kau masih bisa datang lagi besok, kita buat biscuit chappy besok," ucap Lisa yang membelai rambut Rukia, membuat anak kesayangannya menggeliat manja dibawah belaiannya.

Ulquiorra iri melihat kehangatan yang tidak pernah ia dapatkan dari sosok ibu manapun. Senyum manis, janji yang sama manisnya yang akan membuatmu tidak sabar menunggu hingga saat itu tiba. Kehidupannya yang selama ini berjalan hanya dipenuhi kesunyian, datar dan tanpa liku berarti, terlebih lagi kasih hangat, kehidupan seperti itulah yang selama ini ia jalani sebagai seorang Ulquiorra. Menjadikannya manusia seolah tanpa emosi, namun bukan sama sekali tanpa emosi, tapi dia tidak bisa menyampaikan, mengekspresikan emosi dalam dirinya.

Terbiasa dan diharuskan menahan setiap gejolak emosi, telah menjadikannya manusia kosong seperti ini.

Lisa bukanlah ibu kandung Rukia, namun ada satu sisi dalam diri Lisa yang memancarkan kasih ibu yang sesungguhnya, membuat anak dimanapun di dunia ini akan berlari padanya. Mengiba kasih, meninta belaian, dan perhatian.

"Ok, besok pulang kuliah aku akan kesini. Secepatnya!" jawab Rukia seraya mundur saat ibu menghentikan belaian tanganya.

Byakuya melihat sosok tinggi kurus itu, seperti selembar papan yang menyerupai manusia. Dia tengah menatap Rukia lekat. Sekalipun tidak ada ekspresi berlebih dalam wajahnya, namun carany melihat Rukia yang tidak biasa dalam mata hijau emerald itu sudah terlihat dengan jelas.

"Kau Ulquiorra?" ucap Byakuya memastikan dugaannya.

Ulquiorra mengangguk, merasa aneh dengan laki-laki sebayanya yang sepertinya agak tidak bersahabat dengannya ini. Dia melihat rambutnya yang panjang dan lembut saat terhempas angin sore. Mengenalinya sebagai orang yang sama dengan orang yang mereka lihat di lobby pusat perbelanjaan kemarin.

"Byakuya?" tanyanya balik.

Byakuya mengangguk, bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Rukia sudah menceritakan tentang dirinya pada orang ini?

"Kita harus segera pergi, Rukia." Ulquiorra kembali mengingatkan.

Byakuya kembali melihat sifat posesif dalam diri Ulquiorra, caranya mengajak Rukia memang terkesan biasa, namun sorot mata dan gerak tubuhnya berkata lain. Byakuya meraih tangan Rukia, lalu menarik resleting jacket yang masih dipakai Rukia, membukanya.

"Sorry, aku lupa." Rukia nyengir dan segera melepas jacket Byakuya yang masih dipakainya.

Ulquiorra merasa sedikit heran melihat kedekatan Byakuya dan Rukia, sekalipun dia tidak tau status apa yang terjalin antara Byakuya dan Rukia, dia bisa melihat perhatian penuh yang Byakuya berikan pada Rukia, seketika saja rasa tidak terimanya membumbung tinggi.

Kenapa aku merasa seperti ini? Tanya Ulquiorra pada dirinya sendiri.

Ukitake menonton pertunjukan perasaan dihadapannya, tersenyum tipis melihat kontra antara Byakuya dengan laki-laki berwajah dingin itu.

"Aku pulang dulu." Rukia melambaikan tangan dan undur diri.

Ulquiorra hanya menunduk sesaat sebelum mengikuti Rukia yang melangkah ke mobil.

Mobil mulai melaju pelan, Ulquiorra dan Rukia duduk bersebelahan di jok belakang, meninggalkan driver duduk sendirian di jok depan. Ulquiorra mendapat tugas khusus untuk menjemput Rukia dari Aizen, sebenarnya Rukia bisa dijemput hanya dengan driver, tapi Aizen berkeras untuk memintanya ikut memastikan bahwa Rukia pulang dalam keadaan utuh.

"Mereka semua keluargamu?" tanya Ulquiorra menyamarkan arah pertanyaannya, sebenarnya dia hanya ingin menanyakan status Byakuya, tapi terlalu mencolok.

"Iya, Ayah, Ibu dan Byakuya, kakakku," jawab Rukia yang melihat dua potong biscuit chappy ditangannya, merasa sayang untuk memakannya.

Ulquiorra mengangguk, hanya kakak, dan sudah sepantasnya bersikap protektif pada adik. Tidak ada yang aneh.

Perhatiannya kembali pada Rukia yang menatapi benda di tangannya, seperti melihat hadiah yang sangat hebat saja.

"Apa itu?" tanya Ulquiorra

"Biskuit chappy. Kau mau?" Rukia menyodorkan sepotong biskuitnya pada Ulquiorra.

Ulquiorra agu-ragu menerima biscuit itu, memperhatikan bentuk biscuit yang menyerupai bentuk kepala kelinci, kelincinya sedang tersenyum, dan warnanya cokelat menarik.

"Dimakan, jangan dilihat seperti itu. Enak kok!"

Rukia mendorong tangan Ulquiorra kearah mulut Ulquiorra, Ulquiorra membuka mulutnya sedikit, menimbang-nimbang, namun akhirnya membiarkan biscuit itu masuk ke rongga mulutnya.

Perlahan dia mengunyah, sensasi manis dan hangat memenuhi mulutnya. Rasa kue yang dibuat penuh kasih sayang rasanya sangat berbeda dengan kue took dan restoran.

"Enak kan?" tanya Rukia dengan wajah dekat, memperhatikan reaksi Ulquiorra saat mengunyah biscuit chappy.

Ulquiorra terus mengunyah, namun matanya tidak bisa lepas dari mata Rukia. Menyelami mata yang bulat dan dalam itu sambil merasakan biscuit yang melebur dalam mulutnya.

Manis, lembut dan hangat… Kau seperti biscuit yang aku makan, rasanya sama. Kenapa aku merasakan hal aneh seperti ini?

Rukia melihat mata sendu Ulquiorra seperti memiliki cahaya yang menari. Warna hijau itu bercahaya, warna yang semakin indah jika semakin diperhatikan.

"Warna matamu bagus," ucap Rukia tanpa berpikir.

Seketika Ulquiorra mengalihkan pandangannya, wajahnya tegak lurus pada jalan yang ada didepan.

"Kau malu ya?" ledek Rukia dengan senyum jahil, tapi Ulquiorra tetap pasang wajah dingin dan kaku andalannya. Rukia cemberut karena orang di sampingnya ini sama sekali tidak asik, tidak bisa diajak bercanda, hanya memiliki emosi datar dan tanpa ekspresi.

.

.

Langit berwarna biru cerah karena matahari bersinar terang, memberikan cahanya terbaiknya untuk bumi. Menguapkan embun segar yang masih membasahi dedauan, kabut pagi perlahan menghilang, berganti dengan kehangatan alam yang tak tertandingi.

Rukia terbangun dari tidur nyenyaknya, hari ini hari libur dan merupakan genap seminggu dia tinggal bersama Hisana. Kemarin dia baru saja menjalani latihan berat bersama Pelatih Zaraki, mumpung libur dan tidak ada agenda lain, Pelatih Zaraki langsung memberikan tiga paket latihan, tanpa ampun memaksa kaki Rukia menempuh lebih dari sepuluh kilometer.

Kakinya agak pegal-pegal saat mulai menahan beban tubuhnya. Dia keluar kamar, mengedarkan pandangan pada seisi rumah yang luar biasa kosong dan sunyi. Sepertinya para penghuni rumah belum bangun.

Pantry sepi, namun sarapan sudah tersaji di meja makan, untuk tiga orang. Tidak biasanya, sepertinya pagi ini aka nada orang yang absen dari meja makan.

"Dia harus banyak istirahat."

Rukia bergegas keluar dari pantry dan melihat seseorang yang berjas putih, baru menuruni tangga bersama Aizen.

"Ya, baik dokter. Hisana memang tidak pernah mau mengistirahatkan dirinya."

Aizen menoleh karena merasakan kehadiran orang lain dalam ruangan, mata cokelatnya menangkap sosok Rukia yang berdiri sambil menggenggam botol air mineral.

"Kau sudah bangun, Rukia?" Aizen melempar sorot mata penuh lelah pada Rukia, namun ia masih berusaha memberikan senyum lemahnya.

"Hisana sakit?" Rukia meneliti dokter yang berdiri di sebelah Aizen.

"Dia kelelahan," jawab Aizen.

Rukia mengingat bahwa semalam Hisana baru pulang dini hari, suara mobil yang parkir membangunkan Rukia semalam, makanya dia mengingat waktu Hisana pulang dengan tepat.

"Baiklah dokter Iba, jika ada perkembangan lagi saya akan menghubungi Dokter."

Dokter itu mengangguk sekali dan undur diri dari hadapan mereka.

Rukia melihat barisan anak tangga yang akan mengantar pada kamar Hisana, tangga itu seperti benda sacral yang tidak pernah ia sentuh dengan telapak kakinya, sudah seminggu ia berada di rumah ini namun tidak pernah sekalipun menghalalkan kakinya menjejak tangga itu.

Dia tidak pernah ingin tau mengenai kehidupan Hisana, ia hanya ingin secepatnya mengakhiri kesepakatan konyol ini, meninggalkan rumah yang terlalu besar ini.

"Kau mau menengok Hisana?"

"Hah?"

Rukia berbalik, agak kaget dengan kehadiran Aizen yang membuyarkan lamunannya.

"Hisana pasti senang jika kau mau menjenguknya," tambah Aizen.

"Aku tidak ingin membuatnya senang saat ini, permisi."

Rukia melangkah pergi dari hadapan Aizen.

"Apakah kau begitu membencinya?"

Langkah kakinya terhenti, matanya menekuri lantai sementara hatinya berusaha menjawab pertanyaan Aizen.

"Apakah kau membencinya karena ia telah menelantarkan mu?"

Rukia tidak pernah merasa terluka karena telah ditelantarkan.

"Ataukah kau memang tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang melahirkanmu?"

Rukia memutar tubuhnya lagi, menatap Aizen penuh tanya. Ada apa sebenarnya? Hingga pertanyaan ini sungguh penting untuknya menjawab. Adakah hubungannya dengan orang berambut cokelat ini, menjadi begitu pentingnya tau penyebab kebencian dalam dirinya?

"Harus anda ketahui, saya masih hidup normal jika saja Istri Anda tidak datang dan mengklaim saya sebagai anaknya. Saya kira Hisana hanya menuai hasil perbuatannya sendiri, bukan karena kebencian saya. Sama sekali bukan."

Aizen menghela napas berat, anak perempuan Hisana sungguh sangat keras kepala seperti Hisana. Sama persis, dan memiliki mulut yang sama tajam. Namun dirinya tidak akan pernah membenci Hisana, dia mencintai Hisana, mengetahui seluruh sifat Hisana jauh sebelum ia menikahinya, dan karena itu ia tidak pernah berpikir akan mampu membenci Hisana, selalu ada maaf untuk Hisana di hatinya.

Hisana pun tidak pernah seperti ini dalam memperjuangkan sesuatu yang ia inginkan. Rukia adalah satu-satunya hasrat Hisana yang ingin ia peroleh dengan cara bersih. Aizen mengerti bahwa Hisana sedang berusaha membuat Rukia menerimanya, tapi waktu yang tersisa hanya satu minggu, apakah itu waktu yang cukup?

"Anggap aku memohon kali ini, Rukia. Jenguklah Hisana."

Rukia mengerutkan dahinya, seorang Aizen memohon padanya. Memohon hanya untuk agar ia menjenguk Hisana. Rukia tidak merasa memiliki alasan kuat untuk menjenguk Hisana, namun melihat wajah Aizen yang sepertinya sudah sangat tidak mampu menahan beban berat, dia memutuskan untuk menuruti permintaannya.

"Baiklah, dimana kamar Hisana?"

Aizen memberi isyarat pada Rukia untuk mengikutinya, mereka meniti anak tangga menuju lantai atas. Mata Rukia membelalak besar melihat barisan furniture yang menghiasi koridor, minimalis namun mewah.

Kamar Hisana adalah kamar paling luas yang pernah ia lihat, kamar yang memiliki dua buah lemari khusus yang besar, sepertinya berisi semua baju mahal miliknya. Sebuah tempat tidur ukuran extra king, meja rias yang berisi bermacam kosmetik, lantai yang di lapisi karpet mahal, serta lampu kristal yang berkilauan.

"Kau benar-benar tidak waras, membuang uang hanya untuk dekorasi seperti ini," celetuk Rukia seraya melangkah mendekat pada Hisana yang terbaring di tempat tidur.

Ulquiorra berdiri di dekat meja sudut, memperhatikan perubahan raut wajah Hisana, tadinya wajah Hisana pucat pasi seperti mayat, namun perlahan wajahnya bersinar karena kehadiran Rukia. Begitu besarnya pengaruh Rukia dalam diri Hisana.

"Kau sangat membenci hal mewah, Rukia?" tanya Hisana yang perlahan duduk di atas tempat tidurnya. Dia sedikit terbatuk saat berusaha bangun, dan tubuhnya sudah terlalu lelah untuk menggerakkan tangan dan menekap mulut.

"Aku tidak suka hal berlebihan."

Sikap Rukia sangat acuh, dia tidak memperhatikan Hisana yang merupakan tujuan utamanya mengunjungi kamar Hisana.

Aizen mengambil tempat disisi tempat tidur Hisana, menyibakkan rambut Hisana yang menutupi wajah cantik Hisana. Mau tidak mau mereka menjadi tontonan Ulquiorra dan Rukia, menutup dunia luar mengganggu kedekatan mereka berdua.

"Istirahatlah, Hisana. Kami akan turun untuk sarapan."

Hisana menoleh pada Rukia yang menatapnya lurus, tidak sedikitpun mengubah sorot mata dinginnya. Hatinya sakit, namun dia juga tidak menyalahkan Rukia yang bersikap seperti itu padanya. Rukia hanya menunjukkan balasan yang setimpal atas apa yang telah ia lakukan di masa lalu. Rukia yang merupakan buah hati yang terlupa selama Sembilan belas tahun, penyesalannya tidak akan pernah berakhir.

"Iya, kau harus istirahat." Rukia langsung berbalik, tidak menunggu jawaban Hisana dan tetap melangkah pergi memunggungi Hisana.

"Rukia!" Ulqiorra memanggil Rukia dengan suara dinginnya.

"Kenapa?" Rukia menahan kakinya dan menoleh pada Ulquiorra.

"Kau bisa bersikap baik pada orang lain, tapi kenapa kau seperti tidak memiliki sedikitpun belas kasih untuk Hisana?" ucap Ulquiorra datar.

Apa yang diucapkannya mendapat tatapan penuh tanya dari Hisana dan Aizen, namun Rukia tidak merasa heran sama sekali, dia memang ingin bersikap seperti ini pada Hisana, tidak peduli betapa menyakitkannya itu untuk Hisana, ia tetap akan seperti ini.

"Apakah dia pantas mendapat belas kasih dariku?" tanya Rukia, mengembalikan pertanyaan Ulquiorra.

Seketika Hisana menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya dari pandangan semua orang. Dia terluka mendengar ucapan Rukia. Dia tidak akan pernah mendapatkan pelukan dengan tangan terbuka dari Rukia, dia sadar hal itu. Luka yang telah ia berikan pada Rukia sudah sangat menyakiti Rukia, dan dia tidak akan pernah bisa untuk menyembuhkan luka itu.

.

Ichigo menjemput Rukia, sengaja memberi kejutan pada Rukia. Dia mencari tau dimana rumah Hisana di internet, dan tidak pernah menyangka akan menemukan rumah sebesar itu berada di kota Karakura. Rumah milik seorang terkenal sungguh berbeda dengan rumah orang biasa.

Ichigo memarkir motornya setelah sedikit berdebat dengan penjaga gerbang masuk.

"Ichigo!"

Ichigo baru meletakkan helmnya saat mendengar suara riang Rukia, dia berbalik dan langsung berlari kearah Rukia.

"Kau baru sampai?" tanya Rukia yang melangkah mendekat.

Ichigo tidak menjawab, malah memeluk Rukia erat. "Aku kangen," bisiknya ditelinga Rukia. Tangannya memeluk Rukia tanpa merenggangkan satu sisi pun. Ichigo sudah satu minggu lebih tidak bertemu dengan Rukia, menderita karena begitu banyak kejadian yang membuatnya merasa semakin jauh dari Rukia. Dari insiden Byakuya yang mencium Rukia, Rukia yang pindah dan tinggal dengan Hisana, hingga orang yang bernama Ulquirra dan membuatnya sulit tidur selama beberapa malam. Mencintai Rukia sungguh membuat hidupnya jungkir balik.

Berada dalam pelukan Ichigo seperti ini, entah mengapa terasa agak aneh bagi Rukia. Dia merasakan seluruh sel dalam tubuhnya menolak, dan malah mengingat sikap memaksa Byakuya saat menciumnya. Rukia merasa bersalah pada Ichigo, merasa telah mengkhianati Ichigo, namun ia juga tidak bisa menolak karena ia sendiri belum mengerti hatinya.

"Bagaimana kabarmu?"

Ichigo melepas pelukannya, tersenyum melihat Rukia yang tampak sehat, hanya kakinya yang sebagian masih diperban.

"Sehat, aku akan latihan lagi besok." Rukia melihat lirikan mata Ichigo kearah kakinya, makanya ia merasa perlu menjelaskan keadaannya pada Ichigo.

"Sebentar," kata Ichigo seraya melepas pelukannya, dia melangkah kembali pada motornya, meraih kantong kertas dari stang motornya, memberikannya pada Rukia.

"Apa ini?"

"Gaun yang tidak kau pakai saat penutupan festival."

"Ichigo, maaf…"

Ichigo memberikan senyum manisnya, tidak menginginkan kesedihan membayangi Rukia.

"Tidak apa," jawab Ichigo. Dia terlihat baik-baik saja saat ini, namun sebenarnya dia tidak bisa menahan sakit yang terus menggeliat dalam hatinya.

Rukia menerima kantong kertas itu, rasanya berat, sudah berkali-kali gaun ini datang padanya, namun berkali-kali juga ia membiarkan gaun ini terlepas dari tangannya, seperti apa yang ia rasakan saat ini. Ichigo ada dihadapannya, berdiri dengan segala kehangatan yang Ichigo mampu berikan, namun ia tidak sedikitpun merasa akan bisa menerima semuanya, disamping rasa bersalah ia juga terus memikirkan Byakuya. Sekalipun saat itu Byakuya yang telah menciumnya tanpa izin, Rukia tetap merasa bersalah pada Ichigo. Hatinya sedang mencoba mengenal dan menerima Ichigo, namun hatinya juga yang berkhianat dan membiarkan Byakuya menyusup ditengah upayanya menerima Ichigo.

"Kau tidak ingin memeriksanya, siapa tau gaunnya kotor?"

Rukia menarik kedua sisi gantungan kantong kertas, matanya menangkap sebuah kotak berwarna silver diatas gaun yang warnanya sudah sangat ia kenal.

"Ichigo, ini?" Rukia mengeluarkan kotak mungil itu, Ichigo menjawabnya dengan isyarat agar ia membukanya. Rukia perlahan membuka kotak itu, jantungnya sudah berdegub tak karuan, mengira-ngira isi kotak itu, dan ternyata dugaannya benar.

Sebuah cincin berwarna emas putih, tanpa mata, hanya selingkaran cincin sederhana dengan warna berkilauan saat tertimpa cahaya matahari.

"Aku khusus datang untuk mengantar cincin itu. Rukia.." Ichigo meraih tangan Rukia yang tidak memegang cincin.

"Aku ingin kau terus berada disampingku."

Rukia membesarkan matanya, jantungnya seperti akan berhenti berdetak saat mendengar pernyataan Ichigo. Ia merasa telah menyakiti Ichigo, menyatakan akan berusaha menerima Ichigo, namun tidak pernah sedetikpun membuka hatinya untuk Ichigo, laki-laki secerah matahari yang akan memberikan kehangatan yang tidak terhingga padanya.

"Ichigo, aku tidak…"

Ichigo sudah menduga hal ini akan terjadi, namun ia telah membulatkan tekadnya, sepahit apapun jawaban Rukia ia akan tetap memberikannya pada Rukia.

Wajah Rukia memucat, melihat binar di mata Ichigo memudar seiring tangannya yang merapikan kotak cincin dan memasukkannya kembali ke kantong kertas, memasangkannya kembali dengan gaun.

"Maaf, Ichigo tapi aku tidak bisa menerimanya," ucap Rukia hati-hati, ia tidak ingin mengecewakan Ichigo. Namun ini terlalu cepat untuknya menerima Ichigo, dia membutuhkan waktu lebih lama lagi.

Air muka Ichigo melemah, senyumnya telah musnah dengan sempurna, dia sudah menyiapkan hatinya sejak lama, hanya keyakinannya bahwa Rukia akan menerimanyalah yang membuatnya bertahan hingga detik ini.

"Jawab aku, Rukia," ucapnya dengan mata memandang kebawah, sesaat kemudian dia baru mendongakkan wajah, menatap langsung mata Rukia.

"Kau tidak bisa menerimanya, atau tidak bisa menerimaku dalam hatimu?"

Ichigo melihat Rukia yang menarik napas kaget, sekalipun hanya sesaat dia bisa mengetahui jawabannya walau hanya lewat raut wajah Rukia.

"Sejak awal aku hanya cinta sendiri?" tanya Ichigo lagi, dan hanya mendapati mulut Rukia yang terkunci rapat.

"Sejak awal aku memang tidak memiliki kemungkinan untuk mendapatkan hatimu?"

Rukia tidak sanggup mendengar perkataan Ichigo lagi, hatinya sakit melihat Ichigo sedih seperti itu.

"Aku berpikir jika aku mampu bersabar, maka aku akan mendapatkan hatimu pada akhirnya. Tapi sepertinya Byakuya memiliki tempat yang jauh lebih khusus di hatimu."

Rukia menekap mulutnya, tidak pernah menyangka bahwa Ichigo mengetahui perasaan Byakuya padanya.

"Aku .. tidak, Ichigo…" Rukia mencoba menyangkal tapi dipotong oleh tangan Ichigo yang terangkat dan memintanya berhenti bicara.

"Kau terus menghindariku sejak festival olahraga, apakah ada rahasia yang tidak boleh aku ketahui?"

Ichigo kembali mengingatnya, hatinya sakit lagi.

"Tidak seperti itu, Ichigo."

Ichigo melangkah mendekat pada Rukia, meraih helaian rambut hitam legam Rukia dengan jarinya yang kurus.

"Apakah aku tidak pernah ada di hatimu, Rukia? Apakah aku harus terluka dan menerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mendapatkanmu karena hatimu telah dimiliki oleh Byakuya?"

Rukia menangis sejadi-jadinya, menggeleng kuat untuk menjawab Ichigo karena suaranya tidak bisa keluar, tertahan di tenggorokannya yang seperti terbakar. Dia harus menyangkal semua ucapan Ichigo, harus. Jika tidak maka ia akan membiarkan Ichigo terluka, membiarkan hati Ichigo tertoreh lagi, padahal Ichigo sudah cukup menderita karena kematian Ibunya.

"Kau mencintainya?"

Rukia menggeleng kuat, air matanya tidak mau berhenti, dan yang keluar dari mulutnya hanya suara rintihan tangisan.

"Jawab aku, Rukia. Kau mencintainya kan?"

Ichigo melihat kepala Rukia bergeleng, namun air mata Rukia adalah bukti, dan jawaban yang terlalu jelas untuknya. Ichigo menelan ludahnya sendiri, menelan luka dihatinya sekali lagi, menerima kejamnya kenyataan ini baginya.

"Ichigo, dengarkan aku, aku tidak mencintai Byakuya, aku…"

"Kenapa kau tidak berlari padaku saat mencapai garis finish di festival? Kau malah berlari pada Byakuya, dan memeluknya."

Rukia tidak mampu menjawab pertanyaan itu.

"Karena hanya Byakuya yang ada dalam pandanganmu, karena Byakuya ada dalam hatimu. Semua sudah sangat jelas Rukia, akupun tidak ingin memaksakan diriku untuk berada diantara kalian."

Rukia bertanya pada hatinya, benarkah seperti itu keadaannya? Dia memang bisa tiba-tiba saja memikirkan Byakuya, namun ia tidak pernah tau jika itu karena cinta, karena Byakuya memiliki tempat khusus dihatinya.

"Aku melihat Byakuya menciummu sebelum acara penutupan festival. Rahasia itu yang kau simpan rapat-rapat. Iya kan?"

Rukia makin tidak mampu menampung kejutan kenyataan lainnya. Ichigo melihatnya, betapa selama ini ia bertindak sangat munafik, berpura-pura tidak bersalah dihadapan Ichigo.

"Aku berusaha menahan diri karena aku yakin kau akan menerimaku, tapi kau malah menghindariku."

Ichigo menarik napas panjang untuk melapangkan dadanya.

"Aku sudah lama menyadari hal itu, Rukia. Jangan pernah memintaku menutup mata lagi, kau mencintainya dan itu adalah kenyataan yang harus aku terima. Artinya aku harus mundur dari pertarungan ini?"

Rukia membisu, dia tidak pernah memikirkan hal seperti ini. Ia ingin semua akan berlangsung baik, bukan seperti ini.

"Gaun dan cincin itu boleh kau simpan, tapi jika kau tidak menginginkannya kau bisa membuangnya."

Ichigo segera berbalik, kembali ke motornya, menyalakan motor dan memakai helm. Dia melihat Rukia yang masih menatap udara kosong dihadapannya, matanya tidak sedikitpun beralih, seperti masih belum terbangun dari mimpi panjang.

"Usai sudah, Rukia. Cintaku memang tidak pernah bisa menggapaimu," bisik Ichigo. Matanya panas mendapati hatinya sebegini sakit, dan ia pun menggas motornya kuat-kuat. Dia telah datang hanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Rukia, bukan menciptakan kenangan indah yang akan ia ingat seumur hidupnya karena telah mencintai seorang Rukia, karena telah mengenal Rukia.

Luka itu akan tertoreh diatas luka yang telah ada sebelumnya. Mencintai Rukia, mungkin tidak akan semudah itu menghapus perasaannya, atau mungkin selamanya tidak akan terhapus, namun ia akan mengingat karena telah merasakan kebahagiaan karena mencintai Rukia, perempuan pertama dalam hidupnya.

"Ibu, ku kira aku akan memilikinya, membawanya dihadapan pusaramu, memintanya menjadi pendampingku selamanya. Ternyata aku telah bermimpi terlalu tinggi, hingga saat terjatuh seperti ini aku merasa seperti akan hancur berkeping-keping."

Ichigo menerobos jalan, membiarkan rasa sakit dalam hatinya ikut dirasakan oleh angin, membiarkan dirinya menikmati luka yang akan membekas ini.

.

.


A/N :

Silahkan reviewnya… *author membungkuk ala pagar ayu di resepsi2*

Author juga sudah bersiap untuk kelanjutan chapnya, jangan bosan untuk mengikuti jalannya fict gaje ini ya.

Untuk Yanz-san, Chizuru-san, dan semuanya, aku sampaikan terima kasih fict ini telah dijadikan salah satu fict favorite. Aku senang sekali… ^_^

Keep The Spirit On