Disclaimer: Harry Potter and it's respective characters belong to JK Rowling. I only own storyline, Oliver Wayne and the crazy idea.
Warning: a bit LIME, SLASH, maybe OOC (sorry about that), OC, violence, etc.
Chapter 12
Harry tidak luput menyadari bagaimana kedua mata pria di hadapannya melebar ketika tangannya mengenai rahang pria itu. Ia juga sempat melihat raut terkejut di wajah Oliver Wayne sebelum ekspresi itu digantikan oleh ekspresi gusar. Pemilik iris biru pucat tersebut menggeram ke arahnya. Setitik darah segar keluar dari sudut bibir Oliver yang robek. Namun sayangnya Harry tidak peduli dengan hal itu. Ia juga tidak peduli ketika seluruh anggota tim Hollyhead Harpies yang sedang berada di ruang ganti pemain melihatnya dengan tatapan tidak percaya sekaligus terkejut. Well, melihat seorang Harry Potter di tempat seperti ini sambil melayangkan sebuah pukulan ke rahang salah satu pemain Quidditch bukanlah hal yang sering terjadi, bukan?
"Harry! Hentikan!"
Mantan Seeker Gryffindor itu mendengar teriakan histeris dari Ginny; membuat Harry menghentikan ayunan tangannya ke wajah Oliver tepat pada waktunya. Cengkeraman tangannya pada bagian depan seragam Quidditch Oliver tidak juga melonggar walau Harry merasakan seseorang tengah menahan bahunya. Kedua mata Harry berkilat marah ke arah Beater Hollyhead Harpies tersebut.
"Harry!" Ginny kembali berseru dan berusaha melepaskan cengkeraman tangannya pada tubuh Oliver. "Kau sudah berjanji kepadaku tidak akan memakai kekerasan apalagi dengan cara Muggle seperti ini! Kalau tahu akan seperti ini, aku tidak akan pernah memberitahumu di mana kau bisa menemui Oliver. Please, Harry. Masalah tidak akan selesai jika kau bersikap seperti ini."
Walau setengah hati, Harry menuruti perkataan Ginny. Dihentakkannya bagian depan seragam Quidditch Oliver dan membiarkan pria itu terhuyung ke belakang. Pemilik iris biru pucat tersebut segera mengalihkan pandangan ke arah lagi begitu Harry kembali menatap tajam Oliver. Ia sungguh tidak mengerti mengapa Oliver bisa melakukan hal seperti itu. Apa yang sebenarnya ada di pikiran Oliver?
"... Aku minta maaf, Harry." Harry mendengus pelan mendengar kalimat pertama yang diucapkan Oliver setelah pria itu mendapat pukulan darinya. Hanya ada Ginny, Oliver dan dirinya di ruang ganti tersebut karena Ginny menyuruh semua orang untuk keluar dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Setidaknya Harry berterimakasih kepada Ginny yang memutuskan untuk tetap tinggal bersamanya. Ia tidak akan tahu apa yang akan terjadi kepada Oliver jika hanya dirinya dan pria itu di sini.
"Aku sama sekali tidak menduga kalau hal seperti ini akan terjadi," kata Oliver lagi. Pria itu mendudukkan dirinya di atas lantai sementara Harry menyandarkan tubuhnya di salah satu rak. Ia menaikkan sebelah alisnya mendengar alasan yang dikemukakan Oliver. "Aku... aku tidak bermaksud menceritakan hal itu kepada orang lain. Terlebih ke Skeeter. Sungguh, Harry. Kau harus percaya kepadaku."
Harry menatap tidak mengerti kepada sosok Oliver. "Apa maksudmu?" tanyanya.
Oliver terdiam sejenak; bingung antara harus mengatakannya atau tidak. Namun setelah beberapa saat berlalu, pria itu mulai bercerita. Menceritakan ke mana ia pergi setelah melihat Malfoy dan dirinya berciuman kemudian berakhir dengan mabuk di Three Broomstick setelah menegak beberapa botol Wiski Api. Oliver tidak terlalu ingat apa yang terjadi. Pria itu hanya ingat kalau dirinya sempat berbicara dengan seseorang yang duduk di sampingnya; menceritakan apa yang sedang dirasakannya ketika melihat Harry bersama pria lain. Melihat Harry bersikap intim dengan orang lain bukanlah hal pertama yang ingin Oliver lihat ketika datang mengunjungi pria itu.
"Aku hanya ingin mengalihkan pikiranku dari apa yang kulihat," kata Oliver. "Aku sungguh tidak tahu kalau orang yang kuajak berbicara itu adalah Skeeter. Sungguh, Harry. Aku tidak bermaksud untuk menceritakan hal itu kepada orang lain. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika Skeeter datang padaku keesokan harinya dan menginginkan ingatan mengenai apa yang telah kulihat. Dia ingin memastikan jika apa yang kukatakan bukanlah sebuah kebohongan."
"Dan kau memberikannya begitu saja?" Harry berkata dengan nada datar. Ia memang mendengar dari Skeeter bahwa dari Oliverlah wanita itu tahu mengenai hubungannya dengan Malfoy namun Skeeter tidak mengatakan hal lainnya; membuat amarah dan kekesalan Harry langsung terarah kepada Oliver. Ia bahkan langsung meninggalkan Leaky Cauldron tanpa memedulikan apa yang akan dilakukan Skeeter selanjutnya. Apakah wanita itu akan kembali memberitakan berita tentangnya dan Malfoy? Harry tidak tahu. Ia juga belum mempunyai ide apa pun agar wanita itu menghentikan apa yang sudah dilakukannya.
"... Aku tidak punya pilihan, Harry." Kata-kata Oliver membuat Harry memfokuskan perhatian kepada sang Beater Hollyhead Harpies tersebut. "Wanita itu mengancam akan memberitakan hal yang akan menghancurkan karir Quidditch-ku. Entah apa lagi yang sudah kukatakan pada wanita itu. Kau juga pasti tahu sendiri bahwa Skeeter bukanlah orang yang akan peduli apakah berita yang dibuatnya adalah omong kosong atau kebenaran sekalipun."
Harry tahu apa yang dikatakan Oliver memang ada benarnya. Mantan murid Gryffindor itu menghempaskan tubuhnya pada salah satu bangku di ruangan itu. Pandangannya tertuju ke arah lantai sebelum memejamkan matanya; berusaha menghilangkan sedikit rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Sentuhan lembut pada bahunya otomatis membuat kedua matanya terbuka. Ia menatap Ginny; tersenyum tipis ke arah wanita itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ginny sembari mendudukkan diri di sampingnya. Ia tidak tahu apakah dirinya harus mengangguk ataukah menggeleng; membuat Harry pada akhirnya hanya memilih diam. "Wajahmu terlihat sedikit pucat dan penampilanmu sangat berantakan, Harry."
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan," desah Harry; mengabaikan kalimat terakhir yang dilontarkan Ginny. Sesekali mengerling ke arah Oliver. Dilihatnya pria itu sangat tidak nyaman berada di ruangan yang sama dengannya. Sebersit rasa bersalah dirasakan Harry setelah melihat Oliver. Mungkin tidak seharusnya ia memukul pria itu. Bukankah dalam hal ini dirinya juga mempunyai andil? Kalau saja ia dan Malfoy tidak berciuman di depan pintu dengan Oliver yang tiba-tiba datang, tentu hal seperti ini tidak akan terjadi, bukan? Jika seandainya Harry tidak menganggap kalau penampilan Oliver sangat mirip dengan Malfoy, tentu ia tidak akan mengiyakan dengan begitu mudah ajakan kencan pria itu.
Kalau—ah, terlalu banyak kalimat berawalan 'kalau' dan 'jika' yang mendadak muncul di benaknya. Apa yang sudah terjadi, semuanya tidak bisa diubah lagi, bukan? Betapa sekarang ini Harry ingin mempunyai sebuah Pembalik Waktu dan mengulang semuanya.
"... Jika boleh aku mengajukan pertanyaan, aku ingin tahu mengapa kau terlihat sangat tidak nyaman dengan pemberitaan Skeeter, Harry?" Pertanyaan Ginny berhasil menarik perhatian penerus keluarga Potter itu. "Bukankah biasanya kau akan lebih memilih untuk bersikap tidak peduli dan membiarkan wanita itu memberitakan omong kosong tentangmu? Tapi yang kulihat sekarang, kau justru ingin agar Skeeter berhenti. Apa yang salah denganmu? Kau seperti bukan dirimu saja, kau tahu? Mengapa kau tidak bersikap seperti biasa saja sampai akhirnya Skeeter berhenti berkoar dengan sendirinya?"
Harry sempat terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan gadis di sampingnya. "Mungkin ini karena Malfoy?" Harry seolah tidak yakin dengan jawabannya sendiri. "Aku memang tidak peduli mengenai apa yang dikatakan orang-orang terhadapku. Tapi bukan berarti aku bisa membiarkannya begitu saja, bukan? Kau tidak melihat bagaimana wajah Malfoy ketika aku menyodorkan harian Daily Prophet kepadanya. Dia terlihat... ketakutan dan bingung. Aku bisa melihat hal itu di matanya."
Ginny bertanya mengapa dirinya bisa menduga hal semacam itu. Apa yang ditakutkan Malfoy dari pemberitaan Skeeter?
"Aku tidak tahu," kata Harry. "Mungkin karena takut dengan reaksi orang-orang terhadap hubungan kami? Entahlah. Aku tidak sempat menanyakan hal itu kepadanya. Dia juga belum menghubungiku sejak terakhir kali kami bertemu. Damn! Bagaimana jika pemberitaan ini membuat Malfoy tidak mau bertemu denganku lagi?"
"Kau mencintainya. Ya 'kan, Harry? Itukah alasan sikap anehmu saat aku menciummu? Karena pikiranmu tertuju kepada orang lain?"
Pertanyaan itu bukan diajukan oleh Ginny kepadanya. Harry sedikit tersentak menyadari bahwa Oliverlah yang baru saja mengajukan rentetan pertanyaan itu. Dilihatnya sang Beater tersebut berdiri di tengah-tengah ruangan sembari menatapnya. Senyum sedikit dipaksakan tersungging di wajah Oliver. Harry kembali merasa bersalah melihat ekspresi wajah pria itu.
"Aku—"
Oliver menggelengkan kepala; menyuruhnya untuk diam. "Jangan mengatakan apa pun, okay? Aku tidak mau mendengar apa pun mengenai dirimu dan orang itu. Aku hanya... well, ingin meminta maaf atas kekacauan yang terjadi di hidupmu. Aku tidak pernah bermaksud untuk melakukan hal seperti itu. Bisakah... bisakah setidaknya setelah ini kita bisa berteman? Aku menyukai kebersamaan di antara kita walau hanya berlangsung sebentar. Aku hanya..."
Harry menatap tangan kanan Oliver yang terulur ke arahnya sebelum mendongakkan kepala dan menatap sepasang kilau biru pucat itu. Sempat terdiam sebentar sebelum Harry mengulurkan tangannya sendiri dan menjabat tangan pria itu sembari mengatakan permintaan maafnya. Oliver hanya mendengus, mengatakan kalau pukulannya di wajah pria itu lebih sakit dari yang ia duga.
"Sorry. Aku tidak berpikir panjang sebelum ini," gumam Harry yang sempat mengerling ke sudut bibir Oliver yang terluka. "Kau baik-baik saja, 'kan?"
"Nah, jangan terlalu kaupikirkan. Mungkin aku memang pantas mendapat sebuah pukulan dari kecerobohan yang telah kubuat," kata Oliver. Ekspresi wajahnya tiba-tiba terlihat serius; membuat Harry sempat menatap bingung pria di hadapannya. "Apa yang akan kaulakukan setelah ini? Kau tidak bermaksud hanya diam saja, bukan?"
"... Apa kau tidak akan menemui Harry lagi, Father?"
Pertanyaan dari Scorpius barusan berhasil membuat Draco mengalihkan perhatiannya dari halaman depan Malfoy Manor yang dilihatnya dari balik jendela di ruang baca. Sepasang iris kelabu itu menatap warna mata yang sama dengannya. Ia menyadari perubahan raut di wajah Scorpius setiap kali waktu berjalan. Draco terdiam dan tidak menjawab pertanyaan anak laki-lakinya.
"Father...?" panggil Scorpius lagi dan Draco lagi-lagi tidak mengacuhkan keberadaan anak laki-lakinya. Kedua matanya kembali tertuju ke arah halaman tempat tinggalnya yang tertutup salju. Helaan napas terdengar di ruangan itu sebelum Draco membalikkan badan dan berjalan ke arah perapian. Duduk di salah satu kursi yang sepertinya terasa nyaman. Pandangannya terpaku ke sisa-sisa kayu bakar yang belum terlalap oleh api.
Draco masih ingat kapan pada mulanya Scorpius mengajukan pertanyaan serupa. Sudah dua hari ini anak laki-lakinya selalu mengajukan pertanyaan mengenai apakah dirinya tidak akan bertemu dengan Potter lagi. Dan seperti sebelumnya pula, Draco memilih untuk bungkam. Ia tidak akan mengatakan apa pun dan hal itu tentu saja membuat Scorpius kesal. Anak laki-lakinya bahkan pernah mendiamkannya selama satu hari penuh sebelum Draco mengatakan tidak ada gunanya Scorpius bersikap seperti itu. Apa pun yang dikatakan Scorpius, tidak akan memengaruhinya.
"Mengapa kau keras kepala sekali, Father?" Draco mengernyit mendengar perkataan Scorpius. Sudut matanya mengerling ke arah anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu. "Apa karena kata-kata Gradma tempo hari? Kau menyukainya, bukan? Maksudku menyukai Harry. Jadi mengapa kau mendengarkan apa yang dikatakan Grandma Cissy?"
Draco mendecakkan lidah. Ia mengulurkan tangan pucatnya dan mengelus puncak kepala Scorpius. "Ini tidak semudah yang kaupikirkan, Son," desah Draco.
"Tapi kau menyukai Harry, bukan? Hanya itu yang terpenting jika menurutku. Apa yang dikatakan oleh orang lain tidak ada artinya sama sekali."
Sang kepala keluarga Malfoy itu kembali mengernyit atas pertanyaan Scorpius. Menyukai Potter? Well, ia tidak perlu menjawabnya di depan Scorpius, 'kan? Tidak. Scorpius tidak perlu tahu akan hal seperti itu.
"Kau tidak mengerti," ujar Draco yang sekarang menegakkan tubuh dan berjalan menuju meja kerjanya. Mengambil beberapa gulungan perkamen dan membaca isi di dalamnya. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari sosok pemilik iris hijau cemerlang itu dan selama dua hari terakhir, hal tersebut adalah pengalihan yang baik. Hanya saja, sosok Potter akan kembali terbayang di benaknya setiap kali Draco tidak melakukan apa pun.
Bukannya Draco ingin menghindari Potter. Tentu saja tidak. Saat ini ia masih perlu memikirkan beberapa hal sebelum memutuskan apa yang ingin dilakukannya. Ia tidak ingin mengambil keputusan yang gegabah jika kedepannya nanti keputusannya akan memengaruhi Scorpius.
Draco bisa mengerti bagaimana perasaan anak laki-lakinya yang ingin bertemu dengan Potter. Berkali-kali Scorpius mengatakan ingin bertemu dengan pria itu dan berkali-kali pula Draco melarangnya dengan memberikan beberapa ancaman kepada anak laki-lakinya. Draco tidak menyukai hal itu, tentu saja.
Dan ibunya pun sama sekali tidak membantu. Narcissa belum mengatakan satu patah kata pun kepadanya sejak perdebatan mereka. Setiap kali jam makan pun wanita itu lebih memilih peri rumah mengantarkan makanan ke kamar daripada duduk bersamanya di meja makan. Draco tidak bisa berbuat apa pun.
Sungguh, mengapa orang-orang di rumah ini membuat dirinya serba salah?
"... Aku membenci Grandma."
Draco sontak mendongakkan kepala dan menatap tajam Scorpius. "Jangan mengatakan hal seperti itu, Scorpius Hyperion Malfoy," ujarnya dengan nada dingin. Matanya menyiratkan kemarahan. "Dia adalah nenekmu, kau ingat? Apa kau juga lupa kalau dialah yang selama ini merawatmu saat ibumu tidak ada. Kau tidak sepantasnya—"
"—Tapi Grandma tidak membuatmu bahagia, Father!" teriak Scorpius. "Grandma selalu memaksamu untuk datang menemui wanita-wanita itu dan menyuruhmu untuk berkencan padahal Grandma tahu kalau kau sangat membencinya. Dia juga sangat tidak suka jika kau menyebut nama Harry. Memangnya salah jika kau menyukai... menyukai seorang pria? Setidaknya Harry bisa membuatmu tersenyum. Aku tidak peduli jika Harry adalah seorang laki-laki. Aku juga tidak peduli jika nantinya aku tidak bisa memanggilnya dengan sebutan 'Mother' atau 'Mum'."
"Bukan itu yang menjadi masalah, Son."
"Lalu apa?" Scorpius berkeras. Kali ini anak laki-lakinya bahkan mencengkeram erat jubah penyihir yang dipakainya dan tidak membiarkannya untuk pergi sebelum menjawab pertanyaan tersebut. "Apa karena kau sudah bosan bersama Harry? Sama halnya dengan Mother? Aku sungguh tidak pernah bisa mengerti mengapa semua orang dewasa tidak pernah mau berpikir ke arah yang mudah. Kau menyukai Harry dan begitu juga sebaliknya. Mengapa semuanya perlu dipersulit, huh?"
Draco tanpa sadar tertawa pelan. Tawa pertama setelah beberapa hari terakhir. Diangkatnya tubuh Scorpius dan mendudukkan tubuh mungil itu di pangkuannya. Ia berusaha tidak mengacuhkan gerutuan tidak suka dari Scorpius ketika Draco menumpukan kepalanya di puncak kepala anak laki-laki tersebut.
"Lebih baik kau tidak mengerti sama sekali, Son," ujarnya pelan. Ia baru saja berniat untuk sedikit bersantai sebelum mendengar ketukan pelan pada pintu ruang baca. Salah satu alisnya terangkat mendapati peri rumah memasuki ruangannya dengan sosok lain yang mengikuti di belakang peri rumah itu. Draco tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut saat menyadari siapa tamu yang dibawa peri rumah tersebut.
"Astoria...?" Draco berkata. Sepasang iris kelabunya terpaku ke arah sosok wanita bertubuh tinggi di ambang pintu. Sungguh, ia tidak pernah menyangka akan melihat wanita itu lagi di kediamannya.
Mendapati sosok Malfoy yang berdiri di depan pintu flatnya setelah tiga hari tidak mendengar kabar pria itu bukanlah hal yang pernah dibayangkannya. Ia juga tidak pernah membayangkan Malfoy yang langsung menarik tubuhnya dan mengunci bibirnya dalam ciuman panjang sebagai pengganti salam dari pria tersebut. Dan dibuat tidak berkutik ketika tubuhnya terperangkap di antara daun pintu dan tubuh mantan Pangeran Slytherin juga bukanlah sesuatu yang ia bayangkan sebelumnya.
Harry otomatis segera membuka mulutnya ketika lidah Malfoy menjilati bagian bawah bibirnya. Dan ketika kedua lidah mereka saling bertemu, Harry tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang dan mendesah. Ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas setiap kali lidah Malfoy menyapu langit-langit bibirnya; mengirimkan getar aneh yang membuat tubuhnya menggigil. Harry hanya bisa mencengkeram semakin erat bagian depan pakaian Muggle yang dipakai Malfoy untuk menahan tubuhnya agar tidak merosot ke atas lantai. Ia semakin meremas helaian rambut pirang Malfoy ketika pria itu menekankan tubuh ke arahnya. Ia terlihat tidak peduli jika sekarang Malfoy tengah membuka kancing kemejanya satu per satu; membuat lembaran pakaian itu tersampir begitu saja di bahunya.
"Aku merindukanmu," bisik Draco sebelum kembali meraup bibirnya; membuat Harry dengan cepat mengenyahkan pikiran yang sempat terlintas di kepalanya.
Logika Harry sudah tidak lagi berfungsi setiap kali Malfoy menyentuh setiap jengkal permukaan kulitnya dengan jemari tangan dingin pria itu dan meninggalkan panas yang membuat suhu tubuhnya meningkat. Ia tidak mampu lagi berpikir rasional hanya karena sentuhan kecil Malfoy pada tubuhnya.
Pasrah. Itulah hal yang bisa dilakukannya sekarang.
"Harry... Harry...," bisik Malfoy di telinganya; membuat Harry segera membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat. Malfoy memanggilnya dengan nama depan? Harry membatin. Ia menyadari kalau hal ini adalah pertama kalinya terjadi dan entah mengapa hal itu terasa aneh. Pria berambut hitam berantakan itu membuka mulut dan berniat menyuarakan pertanyaan di kepalanya. Namun bukan kalimat tanyalah yang keluar, melainkan hanya desah setelah Malfoy menggigit dan menghisap keras lehernya. Harry kembali melupakan logikanya ketika Malfoy menggesekkan organ di antara kedua kaki mereka yang masih berbalut lembaran pakaian. Kepala pria beriris emerald itu tersentak ke belakang; terlihat tidak peduli atas rasa sakit di bagian belakang kepalanya.
"Draco," Harry pertama kali mendesahkan nama pria di hadapannya setiap kali Malfoy melakukan hal yang sama pada bagian bawah tubuhnya. Kedua matanya terpejam erat karena friksi-friksi kenikmatan itu. Harry bahkan bisa merasakan napas dan detak jantungnya yang saling berlomba; mencoba untuk tetap bernapas di tengah kenikmatan itu.
"Don't stop," bisik Harry di tengah napasnya yang memburu. Ia mengerang pelan ketika merasakan bibir Malfoy yang kembali mulai menciumi lehernya. Setiap gesekan pada bagian bawah tubuhnya yang masih dipisahkan oleh pakaian membuat Harry semakin larut dalam ekstaksi. Dan setelah beberapa saat kemudian, ia menjerit dalam diam ketika merasakan ledakan pada tubuhnya. Pandangannya memutih dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Harry tidak pernah merasakan kenikmatan seperti ini. Ia bahkan tidak yakin apakah akan sanggup berdiri setelah Malfoy melepaskan pelukan pada tubuhnya dan mencuri sebuah ciuman singkat dari bibirnya.
Tidak ada satupun dari dirinya dan Malfoy yang mengucapkan sepatah kata. Keduanya terlihat sibuk mengatur napas mereka sendiri setelah apa yang terjadi. Perlahan, Harry membuka matanya saat merasakan kepala Malfoy bertumpu pada bahunya; membuatnya bisa merasakan hembusan napas pria itu. Ia sungguh tidak pernah menyangka kalau Malfoy berinisiatif untuk mengajaknya melakukan hal seperti itu di depan pintu flatnya.
Well, tentu saja Harry tidak keberatan sama sekali. Ia juga tidak mengatakan apa pun setelah Malfoy menggumamkan Mantra Pembersih untuk tubuh mereka dan mengajaknya menuju kamar tidurnya. Harry memilih untuk diam saat Draco mentransfigurasikan pakaian Muggle yang masih melekat di tubuhnya menjadi piyama tidur dan menyuruhnya untuk berbaring. Desah pelan meluncur dari bibir Harry tanpa bisa dicegahnya begitu merasakan sosok Malfoy melakukan hal yang sama sebelum melingkarkan lengan pada pinggangnya. Tergidik saat merasakan punggungnya bersentuhan langsung dengan dada telanjang Malfoy. Harry tersenyum tipis merasakan pelukan Malfoy pada tubuhnya semakin mengerat. Pria pirang itu bahkan membenamkan kepala pada perpotongan leher dan pundaknya.
"... Well, kau mau mengatakan apa yang terjadi?" tanya Harry setelah keheningan yang melanda mereka. Bohong jika dirinya tidak memikirkan sikap aneh Malfoy beberapa saat lalu. Harry menautkan kedua alisnya merasakan tubuh Malfoy yang sedikit menegang. "Kau terlihat seperti bukan dirimu, Malfoy. Dan di mana Scorpius? Kau tidak mengajaknya, huh?"
"Dia bersama Mother di rumah."
Hanya itu jawaban yang diberikan Malfoy kepadanya sebelum pria itu menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka. Harry bukannya keberatan dengan sikap Malfoy yang seperti sekarang. Hanya saja... ia merasa sedikit aneh. Ini bukan pertama kalinya mereka tidur dalam satu tempat yang sama namun tetap saja Harry merasakan ada sesuatu yang salah.
"Berhentilah berpikir yang hanya akan membuat kerutan pada dahimu bertambah, Potter," bisik Malfoy di telinganya. Harry hanya memutar kedua matanya namun tidak mengatakan apa pun ketika Malfoy menyuruhnya untuk tidur. "Tidurlah. Aku sudah cukup lelah hari ini."
Harry mengangguk dalam diam dan berusaha melupakan perasaan aneh yang terjadi kepadanya. Perlahan menyerahkan dirinya pada kantuk yang menyapa. Senyum tipis tersungging di bibir Harry begitu mendengar Malfoy menggumamkan namanya.
Namun sayang, tidak ada senyum yang muncul di wajah pria berambut hitam berantakan itu saat menyadari tidak menemukan sosok Malfoy di sampingnya keesokan harinya. Mantan Pangeran Slytherin itu juga tidak terlihat di ruangan lain di flatnya.
Malfoy pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun.
Dan setelah satu minggu kemudian, Harry menyadari kalau Malfoy berniat pergi dari kehidupannya.
To be continued
Maaf jika chapter ini terkesan lebih pendek dari yang biasanya. Terpaksa dibagi menjadi 2 chapter, orz. Okay, tinggal 1 chapter lagi ditambah dengan 1 epilog. Adakah yang bersedia memberikan review? Dan terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini. Terima kasih juga atas review yang sudah diberikan. See you soon~ #runs
