Jaemin memasukan baju-bajunya asal ke dalam tas besar yang akan di bawanya besok. Ayolah ia hanya ingin menikmati akhir pekannya yang sudah tenang beberapa minggu belakangan ini.

Pantai?

Jaemin pergi ke taman saja hanya untuk permen kapas atau crepes, mau pergi ke pantai pula. Dan sialnya lagi kenapa ia tidak bisa menolak permintaan Jeno.

Jaemin menjatuhkan tubuhnya, menatap langit kamarnya yang di penuhi bintang-bintang fosfor.

"Kenapa aku tidak bisa menolakmu?" Dan memejamkan matanya.

...

"YAK NA JAEMIN, PACARMU DATANG TUH." Teriakan Jaehyun Hyung dari lantai bawah mengusik tidurnya.

Dan apa itu, pacar? Sejak kapan ia punya pacar?

Jaemin melanjutkan tidurnya.

BRAKK!

Sepertinya engsel pintu kamar Jaemin harus di ganti lagi berkat hyungnya itu. Jaehyun menarik selimut hingga terjatuh di lantai menyisakan Jaemin yang meringkuk dengan celana pendek bergaris cerah juga baju abu abunya yang tersingkap sampai memperlihatkan perutnya.

"Hei, Jeno bilang kalian akan ke pantai. Cepat bangun dasar pemalas." Jaehyunn memukul bokong Jaemin gemas dengan adik bebalnya ini.

"Aku tidak jadi ikut." Suara erangan Jaemin menutup wajahnya dengan bantal.

"Jeno sudah di sini. Hei Jeno katakan Sesu– Kenapa Wajahmu merah begitu?" saat Jeno mengalihkan pandangannya Jaehyun mengerti melihat keadaan adiknya.

Akhirnya Jaehyun menarik kedua tangan adiknya hingga duduk.

"Aaaarrrgggh Hyuuuuuuuung." Jaemin merengek dan menendang-nendang entah apa.

"Kau harus bersiap aku turun dulu. Ku tinggal yah." Tunggu, itu bukan kata-kata untuknya. Jaemin mengerutkan keningnya dan membuka perlahan kedua mata berbelek itu.

Yang ia lihat bukanlah yang ia harapkan. Jaemin membulatkan matanya seketika di tambah Jeno sedang mengitari kamarnya seperti sedang berada di galeri lukisan atau semacamnnya.

Jaemin menggambar Jeno banyak sekali, ingat.

Dan objek yang di gambar sedang melihat hasil karyanya.

"KELUAR DARI KAMARKU!"

"Ternyata aku punya penggemar yang berbakat juga yah." Jeno mengetikkan telunjuknya di dagu sambil berkeliling kamar Jaemin.

"KELUAR!"

"Seharusnya kau bilang saja jika ingin melukis–" Sebuah bantal besar mendarat di kepala Jeno. "Oke oke aku keluar." Dengan senyum geli yang berubah jadi tawa di depan kamar Jaemin.

BRAKK!

Rip pintu.2

Setelah setengah jam, mungkin lebih Jaemin akhirnya turun dari kamarnya melihat Jeno dan Kakaknya tengah membicarakan sesuatu yang sepertinya lucu saking asyiknya sampai mengabaikan Jaemin yang sudah berdiri di samping Jeno.

"Ayo pergi, jadi tidak?"

"Ah kau sudah siap? Kalau begitu kami pergi dulu hyung."

"Yasudah, jangan menyusahkan Jeno di sana okay?" Jaehyun mengusap kepala adiknya yang malah cemberut.

"Hyung pikir aku anak kecil." Jaemin menepis tangan Jaehyun dari kepalanya lalu pergi mengitu Jeno keluar rumah. Mendapati Haechan melambaikan tangannya antusias. Jaemin megerutkan kening, bagaimana bisa sahabatnya ada di sana?

"Sedang apa kau di sini?"

"Aku mau jalan-jalan."

"Memangnya ada yang mengajakmu?" Haechan menggembungkan pipinya cemberut, sahabatnya ini akan jadi super judes jika paginya sudah badmood. Haechan hafal itu.

"Jeno yang mengajakku, katanya agar kau tidak kesepian di sana nanti." Jaemin mengerutkan dahinya tidak terima, segitu menyedihkannya kah ia sampai harus di temani Haechan segala. Tapi protesnya langsung tertelan saat melihat Mark senior mereka di kursi pengemudi yang membuat Jaemin langsung paham.

Haechan mana mau mengurusinya, melihatnya berkelahi dengan kucing liar saja bocah itu hanya menonton.

Setelah semua barang dan mereka berempat masuk Jaemin langsung menatap Jeno dengan banyak pertanyaan di benaknya.

"Kenapa ada Haechan dan Mark hyung juga di sini?" Jaemin berbisik sangat dekat dengan telinga Jeno hingga pria itu bergidik geli.

"Aku hanya mengundang beberapa anggota tim, hitung-hitung meramaikan suasana." Suara Jeno yang keluar dengan nada biasa membuat Jaemin mencubit pinggang pria itu.

"Awww, sakit."

"Jangan keras-keras nanti mereka dengar." Bibir Jaemin berjarak sangat dekat dari lehernya membuat Jeno mengangkat bola matanya dengan rahang menegang karena nafas hangat bocah itu menyapu lehernya, pria Lee itu berusaha keras untuk tidak menggeram.

Melihat itu, dari kursi depan Mark menyeringai melihat adik setimnya menahan hasrat yang tak sengaja itu, pria Kanada itu hampir tertawa melihat ekspresi Jeno. Berbeda dengan Haechan yang menjatuhkan keripik kentagnya saat hampir sampai ke mulut melihat kelakukan sahabatnya yang terlihat seperti akan menggerayangi leher Jeno dengan bibirnya.

"Yak, Yak, Yak. Tidak bisakah kalian menahannya. Masih ada dua makhluk hidup di sini yang masih harus fokus ke jalan raya." Haechan menoleh ke belakang membuat Jaemin melerai dirinya dari Jeno yang sejak tadi terhimpit tubuhnya.

"Memangnya aku sedang apa?"

"Kau yang melakukannya kenapa malah tanya."

"Otakmu saja yang sudah terlalu teracuni hal-hal aneh."

"Beraninya kau bilang otakku teracuni, jelas-jelas kelakuanmu itu yang beracun."

"Yak, beraniya kau." Jaemin hampir beranjak menjambak Haechan kalau saja Jeno tidak memeluk pinggangnya dan menahan tubuhnya agar tidak ke depan.

"Shhhhh diamlah kalian." Mark mengusap kepala Haechan dengan satu tangannya yang bebas agar bocah itu tenang.

"Tapi hyung."

"Kalian bisa bertengkar lagi saat sudah sampai, okay." Itu suara Jeno yang mendorong paksa kepala Jaemin agar bersandar pada bahunya.

Jaemin dan Haechan masih saling melempar tatapan membunuh dari kaca spion, sampai akhirnya Jaemin menguap dan memejamkan matanya lagi merasakan usapan lembut di kepalanya membuatnya kembali mengantuk. Jaemin memelukk pinggang Jeno dan masuk ke alam mimpi.

"Cih, sebenarnya kalian ini sudah pacaran atau belum?" Haechan bertanya setelah cukup lama dari waktu Jaemin terlelap di pangkuan Jeno.

Jeno menggeleng tapi bocah itu tersenyum penuh arti.

"Belum, tapi akan." Haechan memutar bola matanya melihat tingkat kepercayaan diri ketua kesiswaan di kursi belakang.

Selama dua jam perjalanan yang Jaemin habiskan dengan tidur di bahu Jeno sampai bocah itu kram akhirnya mereka sampai di resort milik keluarga Jeno. Saat mereka sampai sudah banyak teman-temanya berkumpul di sana. Para panitia inti festival juga anggota tim Basket yang sebagiannya Jaemin kenal, tapi entah kenapa jumlah mereka dua kali lipat lebih banyak dari yang ia bayangkan. Jaemin mengerutkan kening bingung melihat sebagian besar dari mereka merangkul, menggenggam, bahkan sesekali mengecup tangan pasangannya. Jaemin menarik lengan baju Jeno agar perhatianya teralihkan.

"Kau membuat pesta permintaan maaf atau Couple party?" Melihat Renjun berciuman terang-terangan dengan Lucas di sudut Loby dekat jendela besar yang mengarah ke laut lepas.

Jeno tersenyum manis sampai matanya menghilang ia gemas sendiri melihat ekspresi kebingungan di tambah panik Jaemin yang terlihat Jelas. "Mungkin keduanya." Lalu berlalu ke tengah-tengah kerumunan teman-temanya.

"Yak." Belum sempat Jaemin menyusul si ketua kesiswaan itu Jeno sudah lebih dulu berada di tengah anggota tim basket dan panitia inti sekita tiga puluh orang itu.

"Baiklah aku tidak akan bertele-tele kali ini karena aku tahu kalian semua juga pasti lelah, kalian bisa meminta kamar di manapun yang kalian mau nanti pada reseptionis aku hanya menjadwalkan barbeque nanti malam, tidak boleh ada yang telat okay. Yasudah kalian boleh pergi."

Jaemin terkekeh geli, sepertinya tidak di manapun aura kepemimpinan Jeno tidak pernah berkurang apalagi berubah sedikit pun. Semua orang yang berkumpul di Lobby berpencar entah kemana. Jaemin masih tertawa bahkan sampai Jeno sudah di depanya.

"Kenapa tertawa?" Jeno mengangkat alisnya bingung.

"Kau lucu, sepertinya bahkan sekawanan kucing pun akan menurut apapun yang kau katakan." Jeno ikut tersenyum melihat Jaemin yang semakin mempesona di hadapannya ini.

"Ayo, biar ku antar ke kamar kita."

"Kamar kita?"

"Yep, You said this trip is couple party right?"

"Ta-tapi." Jaemin menggerakkan matanya ke sekeliling mencari bantuan Haechan atau Renjun tapi keduanya tidak terlihat sama sekali, alhasil ia pasrah di tarik Jeno yang juga menarik koper kecilnya ke 'Kamar mereka'.

Saat sampai di kamar mereka Jaemin sepertinya melupakan segala protesnya yang ia layangkan pada Jeno selama mereka menuju ke sini.

"Woaaaah, indah sekali." Jaemin terbelalak dan berbinar menatap hamparan pantai hingga lautan luas yag terbentang sepanjang setengah sisi ruangan ini ada empat kaca besar berukuran tiga meter kurang lebih yang memamerkan semua ini di depan mata Jaemin.

"Kau suka?" Jaemin mengangguk cepat tanpa menoleh kebelakang pada Jeno yang bersandar di kusen pintu.

"Tempat ini sangat indah, apalagi jika bisa ku gambar."

"Ah, soal itu."

"Jangan membahasnya." Jaemin segera berbalik dan menatap Jeno mengacam.

"Tapi..."

"Ku bilang jangan."

"Aku malu." Jeno tersenyum melihat Jaemin yang tertunduk dengan telinga memerah, ia meraih dagu pria manisnya. Melihat Jaemin yang seperti ini membuatnya ingin melakukan sesuatu yang sudah sangat lama ia dambakan. Ia mendekatkan wajahnya membiarkan Jaemin terpaku merespon perlakuannya, Jeno yakin si manis yang sudah membuatnya gila juga tenang beberapa minggu belakangan ini menahan nafas apalagi saat Jeno menghembuskan nafasnya sengaja di wajah bersemu itu.

Jeno menempelkan bibirnya pada bibir selembut kelopak mawar Jaemin, ia memejamkan matanya meresapi saat bibirnya bergerak mengemut bibir dambaanya itu. Awalnya Jeno hanya ingin memangut lembut bibir Jaemin tapi saat ia mendengar lenguhan si manis juga jari-jari lentik itu seakan membelai bisepnya, Jeno hilang akal. Ia menangkup wajah Jaemin agar tidak menjauh dan merengkuh pinggang ramping itu hingga tubuh mereka menempel, Jeno memainkan Lidahnya di sela bibir Jaemin meminta masuk tapi Jaemin tidak melakukan apapun akhirnya Jeno mengigit pelan bibir bawahnya.

"Ahhh." Lidah Jeno berhasil masuk bergerak liar di dalam sana mencari pasangannya untuk di ajak bertemu. Awalnya Jaemin tidak banyak merespon tapi saat langit-langit mulutnya tergelitik lidah Jeno Ia membalas keinginan pria itu dengan lidahnya.

Lelehan saliva entah milik siapa mengalir seperti sungai di dagu Jaemin. Jeno sebenarnya belum puas, tapi dadanya di pukul beberapa kali akhirnya ia melepaskan Jaemin tapi tidak melonggarkan jarak mereka.

Nafas Jaemin memburu, pria manis itu meraup udara di sekitarnya dengan rakus akibat apa yang baru saja Jeno lakukan padanya. Jeno menghapus lelehan saliva di dagu Jaemin dengan ibu jarinya, Sepertinya ciuman saja tidak cukup untuk saat ini, Jeno menciup pipi Jaemin turun ke rahangnya mengecup lembut bagian-bagian itu sampai bibirnya berada tepat di denyut nadi Leher putih jenjang Jaemin.

"Ughhh." Jaemin juga sepertinya hampir hilang akal, Jeno menyentuh tempat-tempat sensitifnya dengan sangat lembut, membuatnya hampir tidak merasakan kakinya juga geli di saat yang bersamaan.

"Jenhhh, kita masih harus bertemu teman-teman." Jaemin ingin menolak tapi ia malah meremas rambut Jeno dan mendongak seakan mengizinkan pria itu melakukan sesukanya.

"Aku tidak akan meninggalkan apapun." Bisik Sang dominant yang padalah akalnya sudah seujung kuku, tapi ia masih menahannya karena ia tahu Jaemin bahkan belum menjadi miliknya sepenuhnya. Setelah memberikan beberapa kecupan terakhir di pangkal leher Jaemin Jeno menjauh. Tapi kembali merengkuh tubuh yang lebih kecil darinya itu karena kaki Jaemin kehilangan pijakannya. Jeno membawa mereka berdua duduk di tepi ranjang dan tersenyum.

"Aku pergi dulu, ada yang harus ku urus."Jaemin hanya mengangguk lemah menanggapi ucapan Jeno yang langsung berlalu. Ia merasa nyawanya baru saja lepas dari tubuhnya, Jaemin linglung. Ia lalu merebahkan tubuhnya setelah pintu tertutup.

Memandang langis-langit kamar besar ini, ia bahkan masih yakin dirinya dan Jeno hanya sekedar teman atau mungkin tidak lebih dari rekan setim festival. Jaemin membongkar isi kopernya mencari buku sketsanya mencoba mengusir perasaan bahagia namun menyesakkan di dadanya.

Saat pensilnya sudah tertoreh di kertas putih buku itu, Jaemin melupakan segalanya

...

Dua jam setelahnya Jeno kembali di ikuti pelayan yang membawa troli makanan ke kamar mereka, Jaemin masih duduk di sofa yang mengarah ke laut lepas, tangannya sibuk mencoret sana-sini pada gambarnya yang semakin jelas.

"Hei." Jeno mengusap kepala Jamein karena bocah itu mengabaikanna sejak tadi.

"Hmmm." Fokusnya sama sekali tidak teralih, matanya bolak-balik mendogak ke depan dan buku sketsanya.

"Kau tidak lapar?" Tanya Jeno masih setia mengusap kepala Jaemin.

"Tidak."

KRRRUUUUUK!

Jaemin mengulum dan mengigit bibirnya sendiri, kenapa suara memalukan itu keluar saat Jeno berjarak dekat sekali sih. Jeno terkekeh geli mendengarnya.

"Yasudah ku suapi saja, bagaimana?" Jaemin hanya mengangguk lemah, tangannya yang memegang pensil masih menggantung di udara.

Jeno menarik kursi kecil dan meraih nasi goreng kimchi dari troli makanan itu. Mengambil sesendok dan mengarahkanya ke mulu Jaemin.

"Aaaa." Jaemin membuka mulutnya, mengunyah nasi goreng itu perlahan.

"Hmmm, ini enak." Jeno tersenyum karena itu, ia melirik apa yang Jaemin kerjakan. Gambar Jaemin mungkin belum seluruhnya jadi tapi betapa indahnya gambar itu yang hampir sama seperti pemandangan aslinya.

"Kenapa tidak kau foto saja pemandangannya, bukankah itu lebih mudah?"

"Aku tidak suka yang instan, aku lebih suka menggambar sesuatu dan menikmati setiap detilnya di banding memfoto sesuatu dan langsung dapat hasilnya." Jaemin menjawab pertanyaan Jeno tanpa menoleh sedikitpun.

"Apa itu juga termasuk hal lain?" Jeno bertanya hati-hati karena jika jawabannya iya, kemungkinan langkah-langkahnya mendekati Jaemin tidaklah salah.

"Yaaa mungkin hampir semua." Pria yang duduk di samping Jaemin itu tersenyum sumringah merasa kalau ia tidak salah langkah.

Hulla Hulla

maafkan aku akan segala keterlambatan ini, karena otakku rancu plotnya muncul nyampur-nyampur gitu jadinya pusing sendiri.

Agak panjang sih menurutku chapter ini tapi gk tahu deh.

oh iya buat chap terakhir mau ku bikin nc gak?

Soalnya aku kepikiran ada hal-hal nakal setelah ngetik adegan ciumanya?

semoga sukak yah,

Lovr you all