FAKE LOVER
By Fujiwara Koharu
NARUTO belongs to MASASHI KISHIMOTO
NISEKOI belongs to NAOSHI KOMI
.
.
CHAPTER 12
.
.
.
NORMAL POV
Lelaki itu berjalan dengan tenang menyusuri lorong yang menghubungkan bangunan utama dengan sebuah dojo. Meski ia bukan pemilik dari tempat itu tapi toh lelaki ini memiliki akses khusus untuk menginjakkan kaki di mansion megah tersebut. Hakama merah dengan atasan hitam telah membungkus rapi tubuh berisi nya. Sorot matanya begitu tegas seolah siap menghadapi apapun yang akan terjadi kedepannya. Ya. Lelaki ini sudah memutuskan. Apapun yang terjadi ia akan melakukan yang terbaik untuk hari ini. Meski sebenarnya ia tahu itu akan sia-sia.
BUGH.
"Ah! Sumimasen desita Sabaku-sama."
Lelaki bersetelan jas rapi dengan lambang klan Haruno di dada kirinya tiu membungkuk hormat setelah tak sengaja menabrak salah satu orang penting di mansion tersebut.
"Kukira semua orang disini sudah terbiasa memanggil nama kecilku. Bukan marga."
Lelaki yang Gaara ketahui sebagai bawahan klan Haruno itu membenarkan letak kacamata bundar beningnya dan kembali menunduk.
"Ha'i. Gaara-sama."
Gaara menganggukan kepala dan kembali berjalan. Tangan kekarnya menggeser pintu sebuah ruangan yang digunakan untuk berlatih seni bela diri jepang. Meski klan Haruno terbiasa dengan kehidupan ala barat, tapi sang pemimpin masih berusaha untuk menghormati budaya tanah kelahirannya.
Ada dua katana yang terpajang diatas nakas panjang. Gaara meraih salah satu katana tersebut. Ia diijinkan oleh sang pemilik –Haruno Tobirama– untuk menggunakannya. Toh, ia adalah murid kesayangannya. Dengan gesit pemuda bertatto kanji 'Ai' itu melakukan pemanasan dengan berlatih beberapa gerakan. Gaara terus mengayunkan katananya dengan gerakan tegas sampai suara pintu yang di geser menyapa telinganya. Pemuda itu masih fokus pada latihannya.
"O-Ohayou Gaara-kun."
Gaara menegapkan badannya dan menghadap pada gadis dengan helai bak permen kapas. "Ohayou."
Haruno Sakura berjalan kaku menuju pemuda yang selama ini menemaninya. Ia tak pernah merasa secanggung ini setelah kejadian kemarin. Kedua tangannya saling meremas. Gaara masih memperhatikan setiap gerak-gerik gadis pemilik hatinya tersebut.
"A-ano..." Sakura menggigit bibir bawahnya, berusaha mengeyahkan rasa gelisahnya. Gadis ini masih tidak tahu harus berbuat apa. Apakah ia sanggup untuk menyakiti hati pemuda yang selalu berada di sisinya. Pemuda yang selalu memberikan bahunya untuk menjadi sandarannya. Pemuda yang selalu memberinya senyum hangat. Sanggupkah ia mengecewakannya? Meski begitu ia akan merasa lebih bersalah jika tak mengatakan yang sejujurnya. Ia akan mengutuk dirinya jika masih egois menahan pemuda tersebut berada disisinya sementara hatinya telah ditawan pria lain. Jika ini terus berlanjut maka Sakura akan semakin menyakitinya lebih jauh.
"Gomenasai!" Akhirnya dengan tekat penuh Sakura membungkukan badannya. Matanya terpejam. Tapi telinganya tak menangkap jawaban apapun. Apakah lelaki ini marah padanya? Kecewakah? Sakura menegapkan badannya dan mendapati lelaki itu masih dengan wajah datar menatapnya. Tak marah, namun juga tak senang. Sakura tak mampu membaca raut wajah pemuda malaikatnya ini.
"Aku tahu Gaara-kun adalah orang baik. Gaara-kun selalu ada disamping ku baik saat aku senang maupun sedih. Gaara-kun adalah satu-satunya orang yang membuatku lebih mengerti hidup. Kau mengajariku untuk terus menikmati hidup meski badai bertiup semakin kencang."
"Gaara-kun sangat hangat. Membuatku selalu merasa nyaman berada didekatmu. Gaara-kun terlalu baik." Sakura meremas blus biru muda selututnya.
"Jika bisa aku benar-benar ingin jatuh cinta padamu. Tapi tetap saja, aku...sejak dulu..." Sakura menundukan kepalanya dan menggeleng kecil beberapa kali. Gaara mendekati gadis musim semi yang telah menjerat hatinya.
"Aku tahu. Tidak perlu kau katakan, aku sudah paham." Sakura menatap Gaara.
"Daridulu aku sudah menduganya. Meski aku selalu di dekatmu tapi pikiran dan hati mu tertuju pada orang itu. Sekeras apapun aku mencoba, aku tetap tidak bisa menggeser Uchiha itu." Gaara membelai pipi kanan Sakura dengan tangan kirinya.
"Sakura. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya. Aku tak akan pergi sebelum kau sendiri yang memintaku pergi. Sebelum aku yakin kau sudah tak lagi membutuhkanku juga sebelum kau benar-benar menemukan kebahagiaanmu. Aku akan menepati semua janji itu Sakura."
Tanpa Sakura sadari emerald bening nya telah menitikkan air mata. Dan dengan lembut Gaara mengusapnya. Mengapa lelaki ini begitu baik padanya? Seharusnya Kami-sama juga adil. Seharusnya lelaki ini juga bahagia. Tapi ia justru menderita karena pengorbanan cintanya. Perlahan tapi pasti pemuda Sabaku itu mendekatkan wajahnya pada putri Haruno.
"Boleh aku..." Sakura terdiam. Apa Gaara akan menciumnya? Apa yang harus ia lakukan? Hatinya tak ingin mengkhianati Sasuke. Tapi lelaki ini telah melakukan banyak hal untuknya. Masih dalam kebimbangan Sakura merasakan tubuh Gaara mendekat. Manik hijau kembarnya secara spontan bersembunyi di balik kelopak mata. Ia bisa merasakan hembusan nafas Gaara perlahan menerpa wajahnya.
'Apa ini salah? Sasuke-kun...' Batinnya meyakinkan.
CUP.
Sakura merasakan benda lembut dan hangat menyentuh keningnya. Posisi itu bertahan beberapa detik lalu Gaara menjauhkan wajahnya.
"Hm~ apa yang kau pikirkan?" Gaara tertawa kecil melihat tingkah Sakura. Gadis itu berpikir terlalu jauh. Gaara lalu mengusap kepala merah muda Sakura.
.
"Sudah puas?"
Sakura berjengit ketika mendengar suara berat yang tak asing menginterupsi kegiatan mereka. Berbeda dengan pemuda di depannya yang memasang wajah tenang seolah sudah tahu siapa orang yang mengganggu interaksi mereka.
"S-Sasuke-kun!"
'Shimatta! Apa Sasuke-kun melihat semuanya? Sekarang kau benar-benar terlihat seperti gadis yang payah Sakura.'
"Kuharap kau sudah siap menerima kekalahanmu...Gaara."
"Hm. Berlaku juga untukmu!"
Kedua mata mereka kembali saling berkilat tajam. Sabaku Gaara hanya memasang senyum meremehkan. Sasuke berjalan memasuki ruangan dojo yang terbilang luas itu. Hakama abu-abu dengan atasan hitam membuat pemuda ini tampak semakin gagah. Dibelakang tampak teman-teman lain mengikuti masuk ke ruangan.
.
.
"Meski mereka berdua adalah sahabat ku, tapi kali ini aku harus mendukung Sasuke dattebayo! Na Hinata-chan."
"Ini akan menjadi pertandingan yang sangat seru. Pertandingan untuk memenangkan hati Sakura. Kyaa beruntung sekali!"
"Sudah kukatakan kau boleh bergabung dengan mereka Ino!"
"Te-hee...Sai-kun cemburu. Imutnya~."
"Cih, kenapa aku juga harus diseret kesini. Mendokusai. Masih banyak daftar software yang harus kukerjakan."
"Diam saja dan dukung adik ku Shika!" Sabaku Temari menyeret kekasihnya untuk memasuki ruangan.
"Yappari."
.
.
Sakura segera menyingkir dan bergabung disamping Hinata dan Ino. Dari bibir mungilnya terus saja melantunkan do'a agar keduanya tak benar-benar terluka. Sementara Sasuke dan Gaara telah mengambil posisi masing-masing. Ditangan keduanya menggenggam katana yang masih disarungkan.
"Hoam. Ha'i, peraturannya yang bertahan sampai akhir dia yang menang. Kedua lawan beri hormat lalu segeralah mulai!" Shikamaru yang diminta menjadi pemegang kendali pertarungan memberi perintah pada kedua lawan.
Gaara dan Sasuke saling membungkuk memberi hormat. Tak lama kedua katana tajam mereka telah keluar dari sarungnya dan diarahkan pada lawannya. Keduanya sempat berjalan memutar saling berhadapan. Mata demi mata saling mengunci.
Gaara menyerang pertama kali. Tangannya mengayunkan benda tajam itu dengan lincah. Pun dengan sang lawan, Sasuke. Serangan demi serangan masih mampu ia pertahankan. Sasuke menebaskan katananya ke depan agar memberi jarak dari Gaara, namun Gaara menggerakkan kepalanya hingga memutari katana Sasuke dan kembali menyerang. Sasuke beralih menyerang kaki Gaara dan berhasil, satu sayatan di paha kanan Gaara. Lelaki itu melompat kebelakang lalu mengetuk-ketukan ujung kakinya ke lantai guna menetralisir rasa perih di pahanya.
Keduanya mengambil posisi sejenak. Kali ini Sasuke yang menyerang lebih dulu. Katana Sasuke terus berayun untuk mencari titik lengah sang lawan. Ketika Gaara sudah terpojok karena hampir mendekati dinding dojo, Sasuke berlari sedikit memanjat dinding disamping kiri Gaara lalu menendang kepala Gaara hingga lelaki itu tersungkur mundur.
Pria Sabaku itu merasakan cairan asin di mulutnya. Gaara segera bangkit dan memasang kuda-kuda. Gaara mengayunkan katana nya dengan kecepatan yang melebihi sebelumnya. Ia teringat satu teknik yang ia pelajari dari shishou nya, Haruno Tobirama. Gaara berlari ke samping Sasuke sambil mengarahkan katana nya di perut Sasuke. Sesuai dugaan, Sasuke menangkisnya lalu memutar katana miliknya di katana Gaara untuk membalik keadaan menyerang.
Ketika katana Sasuke berayun ke bawah untuk mengincar kaki Gaara lagi, pria itu melompat ke atas. Saat turun posisi tubuh Gaara membungkuk condong ke depan. Pria itu terus menyerang ke depan dengan terus mendorong tubuhnya yang hampir merangkak. Sasuke masih menangkis dengan pertahanan bawah. Tanpa diduga Gaara menyentakkan tangannya hingga menegapkan badannya dan cepat bergerak di belakang tubuh Sasuke.
CRAASS.
"Sasuke-kun!" Sakura menutup mulutnya dengan tangan dan merintih kecil. Ia belum ingin menjerit saat melihat darah mengalir dari lengan kiri Sasuke. Takut mengacaukan konsentrasi kedua lawan.
"Itu teknik milik Tobirama o-chan. Sugoi!" Naruto berkomentar takjub.
.
"Tidak buruk." Aku Sasuke. Seringaian muncul di bibirnya. "Giliranku."
Sasuke dan Gaara saling berlari untuk menyerang. Gaara mengayunkan katana ke leher Sasuke namun dengan cepat Sasuke merendahkan badannya ke belakang dan melesat kebawah melewati tubuh Gaara. Dengan cepat berdiri lalu ketika Gaara berbalik Sasuke memukul dadanya dengan handle katana lalu disusul dengan hantaman telapak tangan. Keduanya mundur sejenak.
Gaara sedikit terbatuk akibat hantaman dari Sasuke. Sang lawan sendiri terlihat terengah-engah mengatur nafas. Sasuke menguatkan pegangannya pada katana. Entah mengapa tangannya terasa sedikit kaku dan mati rasa. Sasuke berusaha menarik nafas untuk menetralisir detal jantungnya yang memburu.
"Wow. Ini bagai menonton aksi pertarungan di video game."
"Kau benar Shikamaru. Mereka seperti satu paket dengan keahliannya."
.
Mata berbeda netra itu kembali saling memicing tajam. Keduanya bersiap memasang kuda-kuda lalu berlari kesamping dengan arah yang sama. Sasuke yang sampai lebih dulu kembali memanjat tembok lalu berguling diatas punggung Gaara yang membungkuk. Ia kembali menghunuskan katana ke arah leher Gaara. Lagi-lagi Gaara memutar kepalanya untuk menghindar lalu dengan gerakan cepat menendang perut Sasuke.
"Akh!"
Rasa ngilu segera menjalar di sekujur tubuh Sasuke. Seluruh badannya terasa panas. Entah hanya perasaannya atau nyeri di lengannya begitu terasa saat ia berusaha bangkit. Onyx kembar itu mengerjap berkali-kali untuk mengembalikan pandangannya yang mendadak berkunang. Sosok Gaara tergambar di netranya tengah memasang kuda-kuda.
"Sasuke-kun." Panggilan Sakura bahkan terdengar bagai ngiangan gamang di telinganya. Sasuke menggeram memegangi luka di lengan kirinya yang terasa semakin terbakar. Ia berusaha keras untuk tetap mempertahankan kesadarannya.
"Menyerahlah Uchiha! Heyaaa...!" Gaara berlari ke arah Sasuke berniat menyerang lelaki tersebut.
BRUKK.
"SASUKE-KUN!"
.
.
.
.
TAP.
TAP.
TAP.
"Dimana cucuku?"
Pemimpin klan bangsawan itu bertanya dengan mimik wajah yang keras. Dibelakangnya telah berdiri orang-orang yang sangat ia percayai. Ia tatap satu persatu makhluk bernyawa di depannya. Dengusan kasar keluar dari hidungnya ketika pandangannya mengankap dua sosok penerus klan rival nya.
SRETT.
Dua orang dokter keluar dari ruang bertuliskan ICU. Uchiha Itachi lah orang pertama yang menghampirinya.
"Sensei! Bagaimana keadaan Sasuke?"
"Hasil pemeriksaan darahnya sudah keluar. Dari semua gejala dan pemeriksaan darah, ini sejenis racun alkaloid pseudaconitine."
"Itu dari tumbuhan wolfsbane." Sakura bukannya menebak. Tapi ia memang sudah mempelajarinya dari sang ibu. Dirinya tahu persis bagaimana bahayanya racun tersebut. Salah-salah dalam penanganannya, nyawa Sasuke bisa saja melayang.
"Ha'i. Kami akan melakukan pembedahan untuk mengeluarkan racunnya. Selain itu kami juga akan memberikan penawar racunnya."
"Lakukan apapun untuk menyelamatkan cucuku."
Kedua dokter itu tersentak ketika menyadari sang kakek dari pasiennya—Uchiha Madara, tengah berdiri di hadapannya. Tatapannya mengintimidasi.
"H-Ha'i. Kami akan segera bersiap untuk pembedahan."
"Aku akan membantu dengan penawarnya." Sakura mencoba meyakinkan kakaknya jika dia benar-benar ingin membantu. Dan dengan satu anggukan Sakura pergi menyusul kedua dokter sebelumnya.
.
.
Suasana kembali menegang. Sasori dan Gaara masih berdiri tenang bersandar pada tembok. Itachi menyentuh daun pintu ruang ICU ketika mendengar teriakan adiknya yang menggeram kesakitan. Tangannya mengepal berusaha menahan agar tidak mendobrak masuk untuk melihat keadaan Sasuke. Sementara teman-teman lainnya bertahan pada posisi awal mereka tak berniat membuat perhatian.
"Saa. Siapa yang bernyali untuk menjelaskan keadaan ini bisa terjadi?"
Keramat. Kata 'bernyali' yang keluar dari mulut Uchiha Madara bagaikan sebuah peringatan. Jika tak memberikan informasi yang sesuai dengan yang diinginkan, maka bersiaplah menerima konsekuensinya.
"Err...Aku akan membeli minuman dulu dibawah. Ayo Temari!" Seakan mengerti situasi Shikamaru menggandeng Temari dan berniat pergi untuk memberi ruang dua keluarga bangsawan tersebut.
"Takku. Naruto! Sai! Bantu aku." Sadar teman-teman lainnya tak pandai membaca keadaan, Shikamaru segera menyeret mereka keluar.
"Ah. Aku ingin disini Shika—ittaai. Hinata-chan tasukettebayo!"
.
Madara masih menunggu jawaban yang ingin ia dengar. Sasori mengeluarkan kedua tangannya dari saku celana dan menyilangkan di depan dada.
"Sasuke dan Gaara beradu pedang. Sasuke terlalu lemah. Jadilah seperti ini."
Madara memicing tajam ke arah Sasori ketika mendengar jawaban itu. Itachi memijat pangkal hidung nya. Sudah ia duga ini akan menjadi masalah serius.
"Dan racun itu tak sengaja bersarang ditubuh cucuku?" Madara beralih memandang Gaara.
"Kemungkinan racun itu berasal dari katana yang melukai Sasuke." Obito mencoba berspekulasi. "Sabaku-san, apa katana itu milikmu?"
"Ie. Tobirama Shishou meminjamkannya padaku."
"Hn. Lebih masuk akal lagi. Tobirama sangat membenci Uchiha. Kalian bersekongkol untuk membunuh Sasuke. Apa aku salah?"
"Aku bersumpah tak tahu menahu tentang racun itu. Dan juga tak berniat menghilangkan nyawa cucu anda."
"Sumpah tak akan menyelamatkanmu dari keadilan, bocah Sabaku. Bisa saja Tobirama memanfaatkanmu agar racun itu melukai Sasuke. Atau kemungkinan kedua, kalian benar-benar merencanakannya." Madara mendudukan diri di kursi tunggu rumah sakit. Tangannya bersidekap didepan dada dan kakinya saling bertumpu.
"Katana itu selalu berada di mansion Haruno sejak lama. Apa kau akan mengatakan ada orang yang menyusup? Ceroboh sekali."
"Keamanan kami sangat ketat. Tidak mungkin ada penyusup."
"Dengan kata lain kau membenarkan percobaan pembunuhan terhadap cucuku."
"Cih! Tak kusangka kalian sekeji itu."
"Diam kau Hidan! Jangan bertingkah seolah kau orang yang paling suci. Pengkhianat." Sasori hendak menghampiri Hidan namun segera dihadang oleh Itachi.
"Apa katamu ? Cih!" "—Diam kalian semua!"
" Itachi!" Madara tetap memandang lurus tembok di depan nya. Wajahnya semakin mengeras.
"Putuskan semua kerjasama dengan pihak Haruno. Tak ada yang boleh berhubungan dengan Haruno, termasuk Sasuke."
"Tapi Oji-sama—." "—Siapapun yang berani mencelakai keluargaku, tak akan ku maafkan."
Sasori terlihat semakin geram dengan keputusan pemimpin rival keluarganya. Telapak tangannya saling mengepal. Itachi bahkan dapat mendengar gemelutuk gigi yang saling ditekan.
"Aa. Dengan begitu aku tak perlu repot-repot mengatakan hal yang sama. Gaara, bawa Sakura pulang. Pastikan dia tak mendekati apapun yang berhubungan dengan Uchiha."
Sabaku Gaara menganggukkan kepala lalu mengikuti langkah Sasori meninggalkan lorong panas tersebut.
.
.
.
.
Kedua manik jelaga itu perlahan mulai terbuka. Hirupan nafasnya terasa segar dan teratur. Ketika matanya sepenuhnya terbuka, hal yang ia lihat adalah sosok wanita paruh baya yang memandangnya dengan mimik khawatir.
"Kau sudah sadar Sasu-kun. Yokatta...yokatta."
Sang pasien mencoba untuk bangun namun rasa nyeri di kepalanya menjadi alasan untuk mengurungkan niatnya. Perlahan pikirannya mencoba menggali kembali apa yang telah terjadi sebelum ia mendapati dirinya sekarang berada di rumah sakit. Sebuah pertarung. Haruno Sakura. Rasa nyeri di sekujur tubuh.
'Sial! Pertarungannya!'
Dengan segera Sasuke mencoba kembali bangun. Ia bahkan menggigit bibirnya untuk menghalangi nyeri yang mulai menyebar.
"Sasuke!"
Suara berat itu menghentikan gerakan Sasuke. Ia menengok ke arah pintu dan mendapati sang ayah tengah berdiri di dekat pintu dengan wajah kaku dan tegas. Perasaannya mulai tak enak. Sasuke masih tak bergeming. Perlahan Sasuke mulai membalas tatapan tegas sang ayah.
"Mulai sekarang, Uchiha dan Haruno dilarang saling berhubungan dalam bentuk apapun."
Benar dugaannya. Pasti terjadi sesuatu selama ia tak sadarkan diri. Tatapan mata Sasuke masih saling beradu dengan mata ayahnya. Namun kedua tangannya mengepal erat.
"Kau tahu sendiri konsekuensinya jika melanggar." Sang tuan besar Uchiha membalikkan badan bersiap untuk pergi.
"Satu lagi! Kau akan dijodohkan dengan putri Shimura. Persiapkan dirimu!"
Kepalan tangan Sasuke semakin kuat. Perlahan sorot onyx yang selalu menjerat itu berubah dingin. Ia bahkan mulai melupakan nyeri di kepalanya. Takdir hidup sialan. Baru saja ia bersatu dengan Sakura. Dan kini batu besar telah siap melebarkan kembali jarak keduanya.
.
.
.
.
Sepasang mata emerald itu menatap lebar pemandangan yang ada didepannya. Untuk sejenak tubuhnya merasa tak dapat bergerak meski sekedar untuk mengeluarkan dehamannya. Merasa tak mendapat respon apapun dari sang pemilik emerald, pemuda itu pun mencoba mengembalikan kesadaran sang gadis.
"Sakura."
"S-Sasuke-kun, ini..."
"Gomen. Ini vila tradisional. Jadi hanya ada onsen."
Dalam hatinya Sasuke sungguh khawatir akan psikis gadis tersebut yang yatanya meiliki aquaphobia. Sasuke melirik gadis disampingnya yang masih belum mengalihkan pandangan dari hamparan air yang tertampun di sebuah onsen tersebut.
"Aku bisa menemanimu di luar pintu jika kau mau."
"Tidak." Sakura menutup matanya lalu menarik nafas panjang. "Aku baik-baik saja Sasuke-kun. Kau bisa menungguku di ruang tengah."
Memang salahnya membawa gadis tersebut ke sebuah bangunan tradisional dimana hanya ada onsen untuk mandi. Meski pada kenyataannya bangunan ini memiliki arsitektur yang sangat unik, serba tradisional namun megah. Sasuke tak tahu harus membawa kemana lagi Sakura selain tempat ini.
Villa lama milik keluarganya. Villa tradisional yang pernah Sasuke kunjungi ketika ia pertama kali bertemu Sakura dimasa kecil dulu. Beberapa tahun terakhir ini keluarganya sudah jarang berkunjung ke sini. Hanya ada pengurus kebersihan yang berjaga. Karena para pelayang lain tidak akan bertugas kecuali mendapat pemberitahuan dari Madara jika akan berkunjung.
Sasuke melangkahkan kakinya menuju teras di dekat taman bunga. Ia harus cepat berpikir. Perbuatannya membawa kabur Haruno Sakura setelah hampir tiga minggu tak dapat bertemu sudah pasti akan menimbulkan masalah. Ia tahu pasti bersembunyi di tempat ini bukan berarti mereka telah aman. Cepat atau lambat kedua keluarga yang tengah bersiteru itu pasti akan segera menemukan mereka.
Pernah terpikir di otak Sasuke jika mereka kabur ke sebuah negara terpencil, lalu mengganti identitas mereka dan memulai hidup baru tanpa ada kaitan dengan Uchiha maupun Haruno. Tapi segera ia tepis jauh pemikiran itu. Ia tak akan menjadi seorang pengecut dengan melarikan anak gadis orang dan terlihat seperti lelaki tak bertanggung jawab. Yang harus ia pikirkan saat ini adalah jalan keluar untuk menyelesaikan kesalah-pahaman keluarga mereka.
.
.
"Sasuke-kun, kenapa kau memilih tempat ini? Ini...tempat pertemuan pertama kita saat kecil, bukan?"
Sakura menyamankan kepalanya untuk bertumpu pada bahu bidang Sasuke. Saat ini mereka tengah berbaring di atas satu futon besar untuk saling berbagi kehangatan, saling menyalurkan rasa aman dan kepercayaan. Bukan hanya karena tinggal mereka berdua di villa tersebut, tapi juga rasa takut saling kehilangan jika mereka tak selalu bersama.
"Hn. Salah satu villa keluarga ku. Kami sudah lama tak berkunjung kesini."
"Apa kita akan terus tinggal disini?"
"Tidak. Aku yakin mereka akan segera menemukan kita."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Sakura memainkan jari tangan Sasuke yang ada di genggamannya. "Aku...tak mau kau menikah dengan Karin."
"Begitupun aku. Sedang kupikirkan rencana selanjutnya."
Sakura menarik selimut mereka hingga menyentuh dagunya. Pikirannya mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi pada hidup mereka selanjutnya. Sungguh sangat lucu jika dipikir-pikir. Mereka bertemu pertama kali di tempat ini, lalu karena sebuah insiden mereka terpisah. Setelah Sakura kembali, dengan mengatas-namakan perdamaian kedua keluarga tiba-tiba menyuruh mereka menjalin hubungan —meski hanya hubungan palsu. Dan sekarang setelah semua yang mereka lalu hingga menimbulkan ikatan perasaan keduanya, keluarga mereka kini justru menentang.
"Ne, kau tahu? Aku berpikir kisah kita ini seperti kisah romeo and juliet. Masing-masing keluarga saling berseteru dan tak merestui."
"Apa..." Sakura mencengkram hakama tidur Sasuke. "Apa kisah kita juga harus berakhir seperti mereka? Mati bersama untuk bisa bersatu."
Ini adalah tempat mereka bertemu pertama kali. Jika takdir mereka memang lah seperti dongen melegenda tersebut, maka Sakura tak akan keberatan jika pada akhirnya mereka juga harus berakhir di tempat ini.
"Bodoh." Sasuke mengetuk kening Sakura dengan jari manis dan tengah nya.
"A...ittai~" Gadis itu merengut lalu menggosok keningnya yang ia yakin pasti memerah.
"Tak akan kubiarkan kisah kita berakhir konyol seperti mereka hanya karerna perselisihan gila keluarga kita."
Keheningan kembali menguasai suasana kamar tersebut. Mata mereka masih tak mau terpejam. Sakura masih mencengkram hakama tidur Sasuke. Apa tak ada cara lain lagi untuk menghentikan semua perselisihan ini. Ia benar-benar mencintai lelaki ini hingga terasa gila. Tapi Sakura juga menyayangi keluarganya. Mustahil baginya untuk meninggalkan mereka selamanya. Ia bahkan merasa tak enak karena membuat Sasuke ikut berselisih dengan keluarganya.
"Ne, Sasuke-kun. Bagaimana jika...aku hamil." Sasuke melirik gadis dalam pelukannya melalui ekor matanya yang menajam.
"M-maksud ku mungkin mereka akan luluh jika memiliki ke-keturunan dari kita berdua." Sakura mencengkram erat hakama Sasuke dan bahkan menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Sasuke. Mungkin ini adalah hal memalukan yang pernah ia katakan, tapi mungkin juga akan menjadi hal yang bisa menyelamatkan mereka.
Dengan tiba-tiba Sasuke membalik posisi mereka. Dentuman jantung Sakura seolah bagaikan genderang yang saling berpacu untuk menunjukkan suaranya. Manik kelam Sasuke yang ada di atasnya menatap dengan intens. Ia bisa merasakan hembusan nafas pemuda tersebut. Perlahan jarak diantara mereka mulai terkikis. Bukan. Sakura hanya berusaha mengutarakan pendapatnya. Bukan berarti dia siap melakukannya sekarang. Seperti benar-benar sekarang.
Ketika hidung mereka saling bersentuhan secara spontan manik emerald itu bersembunyi di dalam kelopaknya. Mungkin ini memang saatnya. Ia harus siap. Bukankah ini juga untuk kedua keluarga mereka.
'Kau harus siap Sakura'
CUP.
"Eh?"
Sasuke hanya mengecup keningnya? Bahkan sorot matanya menunjukkan kelembutan dan ketenangan. Bukan tatapan yang dikuasai nafsu. Tangannya dengan lembut mengusap rambut Sakura.
"Kita akan melakukannya setelah menikah."
"Aku tak akan menjadi lelaki brengsek yang membuat noda pada masa depan keluargaku. Kau. Dan anak kita."
Kedua pipi Sakura merona. Jantungnya masih berdegup kencang. Betapa bodoh pemikirannya. Kekasihnya ini memperlakukannya dengan begitu bertanggung jawab dan terhormat. Ia justru berniat menyerahkan dirinya sebelum mereka menikah. Sungguh memalukan. Tanpa disadari setetes air mata telah mengalir dari sudut mata Sakura. Namun ia segera menghapusnya dengan cepat. bibirnya menarik senyum ketika melihat wajah menenangkan Sasuke.
"Um. Gomen ne. Pasti ada jalan lain untuk kita semua."
Pemuda Uchiha itu kembali mengecup kening Sakura lalu turun ke bibir gadisnya dan kembali berbaring ke posisi semula.
'Pasti ada jalan lain Sakura. Bahkan jika tak ada sekalipun, akan kubuat sendiri jalan untuk keluar dari masalah ini.'
.
.
.
.
Dentangan jam tengah malam menjadi satu-satunya sumber bunyi pengiring kediaman villa tradisional Uchiha. Sang pewaris bungsu kembali merasakan pergerakan di bahu kirinya. Kekasih merah jambunya ini telihat begitu nyaman tidur di bahu Sasuke. Meski ia sendiri tak keberatan menjadi bantal untuk sang gadis. Sepasang mata hitam jelaga itu masih terbuka lebar. Ia belum bisa bermimpi jika belum menemukan jalan keluar untuk masalah mereka. Mungkin kali ini ia harus meminta bantuan dari sahabat-sahabtnya. Meski terkadang ide mereka terbilang gila tapi dirasa patut untuk dicoba.
Segera ia raih ponsel canggih yang sempat ia matikan. Sasuke bahkan mencabut sim card nya untuk menghindari pencarian lokasi atau pun penyadapan. Mungkin setelah ini ia akan membakar ponsel tersebut untuk menghilangkan jejak. Ia harus melakukannya dengan cepat.
Dengan gerakan pelan dan hati-hati Sasuke memindahkan kepala Sakura ke bantal lalu merapikan selimutnya. Dengan langkah hati-hati pulan ia berjalan keluar kamar menuju taman villa agar tak mengganggu tidur sang gadis. Pemuda ini segera memasang sim card lalu menyalakan ponsel nya. Ia tak akan heran jika ada banyak pemberitahuan missed called atau pun pesan singkat. Yang paling banyak adalah dari sang kakak.
TING.
Satu lagi pesan masuk dari Itachi. Dan Sasuke tak sengaja membukanya.
Aku punya solusi untuk mu. Angkat telfon ku sekarang. Aku butuh bantuanmu.
Belum sampai satu menit panggilan masuk tengah bergema dari ponsel hitam metalik Sasuke. Apa ia harus mengangkatnya? Mungkin ini sebuah jebakan. Atau mungkin Itachi memang punya solusi yang sangat Sasuke butuhkan saat ini. Ia memutuskan untuk mengangkatnya. Jika ini memang jebakan dipastikan ponselnya akan menghantam tembok dan berakhir menjadi abu di tong sampah.
"Sasuke? Sasuke dengar jangan tutup telfon mu!"
Sang penerima telfon masih tak menjawab. Sempat terlintas dipikirannya untuk segera mengakhiri percakapan ini. Atau mungkin mendesak Itachi untuk segera memberitahukan idenya.
"Dengar!Kami tak akan mencarimu. Ini tentang Shimura. Lakukan apa yang kukatakan dan kupastikan kau dan Sakura tetap bisa bersatu. Bahkan keluarga kita."
Sasuke masih belum bersuara. Tapi telinganya terus mendengarkan dengan seksama apa yang sang kakak ucapkan. Baginya mungkin apa yang diucapkan sang kakak terdengar gila. Tapi juga yakin Itachi tak akan berbohong padanya dan membuatnya celaka.
"Hn. Aku mengerti. Akan kulakukan besok."
.
Gerakan jari Sasuke dengan lincah segera men-dial nomor yang seharusnya tak ingin ia simpan di ponselnya. Jika bukan untuk hal penting dan mendesak ia tak akan merasa bersyukur karena masih menyimpan nomor tersebut.
"Hn. Aku butuh bantuanmu."
.
.
END CHAPTER 12
.
.
A/N
Pertama-tama author ingin mengucapkan
"Honto ni gomenasai" *bow deeply*
Koharu benar-benar ingin minta maaf karena terlambat update yang saangaat lama. Bukan bermaksud untuk hiatus. tapi memang keadaan takdir 'real life' author yang akhir-akhir ini menyita banyak waktu hingga belum sempat melanjutkan fict ini.
Btw. Koharu juga mau berterimakasih untuk readers sekalian yang masih setia mengikuti fict ini. untuk yang fav, follow, untuk review maaf gak bisa balas satu-satu.. tapi tenang semua review kalian tetap Koharu baca kok. Untuk new readers fict ini juga selamat datang dan selamat menikmati. silent readers juga arigatou sudah sempat mampir di fict ini. kehadiran kalian juga berpengaruh pada mood author untuk kelanjutan fict ini.
Oh ya, ada yang tanya fict ini mirip anime nisekoi. Memang iya. Dari awal kan author udah bilang terinspirasi dari anime itu. tapi sekali lagi terinspirasi bukan berarti sama persis. Koharu juga sudah mencantukan copyright masing-masing cerita dan character. Jadi Koharu mohon, coretan apapun di fict ini selain isi fict mohon ikut di baca. (meskipun kadang isi nya gak terlalu penting :p) karena mungkin informasi yang kalian butuhkan ada di coretan tersebut. Arigatou~
Koharu sudah berjanji untuk menyelesaikan fict ini. Jadi mohon kesabaran dan pengertiannya jika memang jadwal update yang kemungkinan akan terpaut lama. tapi Haru usahakan untuk tetap menyelesaikan fict ini dengan segera.
Well, Koharu harap kalian tidak kecewa pada chapter ini. sengaja dibuat gantung di end chap karena Koharu pikir memang sudah kepanjangnan. || padahal curhatanmu juga udah panjang Haruu~ ||
Yap. di tunggu review nya.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya.
Mata kondo na! ~(^3^)~ peluk cium satu-satu. HAHA.
