Bagian 6, Kepada Satu Cinta, Semoga
DEMIMU, AKU MAU. DEMIMU, AKU MAMPU. SETERUSNYA, AKAN KUYAKINI KAU SEBAGAI RATU DI SETIAP JEJAKKU.
...
Jika ini cinta, mengapa ia masih membisu dalam kesenyapan masa? Terlelap dalam rahasianya tanpa kata-kata.
Red's POV
"Green?"
"Ya?"
"Aku merasa aneh dengan diriku sendiri,"
"Mengapa?"
"Kalau aku mendekati seorang perempuan, aku seperti berdebar-debar. Terutama perempuan yang berambut pirang yang ada di sana," kataku sambil menunjuk ke arah seorang perempuan yang duduk di kursi paling depan di kelasku, sementara aku dan Green ada di bagian paling belakang.
"Mengapa kau bisa seperti itu saat kau dekat padanya?" tanya Green.
"Ya, bukunya terjatuh di dekatku, dan aku menolongnya, lalu wajahnya seperti memerah saat aku mendekat padanya," kataku.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lumrah kalau perempuan seperti itu kalau ada di dekat laki-laki. Mereka itu pemalu kalau dekat laki-laki," kata Green.
"Mungkin juga. Green, kau sudah menyelesaikan tugasmu?" tanyaku. Green hanya mengangguk.
...
"Begitulah asalnya aku bisa memiliki perasaan itu padaku. Aku kira dulu kau tidak menyukaiku," kataku.
"Awal aku juga berpikir begitu, Red-san, saat kau hanya memikirkan Pokemon, aku kira kau tidak memiliki pemikiran apa-apa tentangku," kata Yellow.
"Tapi terbukti itu salah. Aku sekarang tidur di pangkuanmu," kataku sambil terkekeh.
"Ya, tapi agak geli. Aku harus terbiasa dengan ini," kata Yellow.
"Ayolah, kita sudah menikah, kau pasti terbiasa karena kita akan melakukan ini setiap hari kalau sempat," kataku.
"Benar juga," kata Yellow sambil terkekeh.
Ya, memang aneh cinta. 10 tahun yang lalu, aku dan Yellow hanyalah anak SMA biasa yang tidak terlalu peduli dengan cinta, dan selang waktu itulah kami berubah menjadi satu.
...
Akar dari masalah adalah ingatan. Andai saja tak ada masa lalu mestinya cinta bisa dengan mudah untuk dijangkau dalam dekapan.
Tapi, tanpa masa lalu, tiada masa depan. Tiada kau, tiada aku, tiada kita.
Red's POV
"Red-san?"
"Ya, Yellow?"
"Bagaimana pendapatmu tentang orang tua?"
Aku terdiam. Memang pertanyaan itu agak sulit kujawab karena aku tidak punya orang tua. Aku juga tahu kalau Yellow juga tidak memiliki orang tua. Namun dia lebih baik karena dia memiliki seorang paman sementara aku hanya sendirian.
"Ya, aku merasa kasihan pada diriku sendiri. Kita tahu beberapa teman kita masih bisa merasakan kebahagiaan karena bisa bertemu orang tua. Namun tidak dengan kita. Kita tidak tahu rasanya sejak lama," kataku. Yellow mengangguk.
"Juga, setidaknya kita juga tidak perlu terlalu mengingat rasa sakit karena orang tua kita yang menghilang. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah agar generasi masa depan tidak perlu merasakan rasa sakit karena hal ini," kataku. Yellow mengangguk lagi.
"Aku juga kasihan dengan anak-anak yang tidak memiliki orang tua. Mereka jadi kekurangan satu unsur penting dalam hidup mereka. Itu adalah rasa cinta pertama," kata Yellow.
"Yang akhirnya menyesatkan mereka ke jalur yang salah dengan penerapan cinta yang keliru. Untungnya kita selamat dari kesalahan memilih jalur itu," kataku. Yellow mengangguk lagi.
"Ada satu yang bisa kita lakukan," kata Yellow. Aku mengangguk.
"Kita harus tetap hidup bersama anak kita sampai dia siap. Jangan sampai dia salah jalan seperti yang lain," kataku sambil mengelus perutnya Yellow yang sedikit membesar.
...
Saat kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, kita hanya bisa berharap untuk tidak melupakan, dia ...
Red's POV
Aku tidak mungkin melupakan Yellow. Aku tahu, aku tidak akan melupakan Yellow. Walaupun semua temanmu memintaku untuk melupakannya, aku tetap tidak bisa melupakannya. Mengapa?
Dia adalah orang yang paling kucintai. Dia adalah orang yang paling mengerti perasaanku. Bahkan, karena dialah aku jadi paham tentang apa itu cinta. Tanpanya, mungkin aku tetap terjebak dalam tipuan Pokemon yang berupa latihan tanpa akhir itu.
Aku jelas berterima kasih pada Yellow untuk hal itu. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa atau bagaimana. Aku hanya bisa berharap dia bisa berbahagia terus, dengan atau tanpa aku.
Aku memang tidak bisa mendapatkanmu sepenuhnya, Yellow, paling tidak, untuk saat ini. Namun, aku tetap berdoa dan yakin bahwa Tuhan akan mempersatukan kita suatu hari nanti. Aku yakin itu. Karena itulah aku terus berdoa agar harapanku terwujud segera.
Mungkin mereka menganggap aku gila karena terus mencintai yang tidak akan dapat diraih lagi. Mungkin mereka menganggap aku sudah kehilangan kewarasan karena keputusanku ini. Mungkin mereka tidak akan berteman lagi denganku jika aku berpikir seperti ini. Namun, ini keputusanku dan aku tidak akan mengubahnya.
Aku akan tetap terus mencintaimu sampai kapanpun. Entah itu dimana, kapan, dan bagaimanapun itu keadaannya. Aku akan tetap mencintaimu seperti saat engkau masih ada di dekatku. Aku akan tetap ada di dekatmu, meskipun aku tahu kita sudah berjauhan.
Akhirnya, aku harus merelakanmu berjalan menuju perjalanan berikutnya.
Salam, Yellow. Aku akan menyusulmu.
Salamku untuk Yellow yang telah terbaring tenang di dalam Bumi.
...
Lebih karena kuasa hatiku tak lagi mampu berpaling dari jerat pesonamu, kurebahmanjakan segala damba hanya untukmu, saat ini.
Yellow's POV
"Ayolah, ungkapkan perasaanmu kepadanya. Nanti dia diambil orang kalau kau tidak bergerak cepat," kata Blue-san. Aku hanya bisa berdiri dengan perasaan gugup.
"Tapi, tapi, tapi Blue-san, bagaimana kalau nanti dia tidak menyukaiku atau bahkan membenciku?" tanyaku.
"Kalau kau tidak bertanya padanya, mana kau tahu dia menyukaimu atau tidak. Kau ungkapkan dulu perasaanmu padanya, soal suka atau tidak suka, itu bonus, kalau dia suka padamu," kata Blue-san sambil terkekeh.
"Blue-san! Jangan tertawa! Aku gugup kalau ingin bicara kepada Red-san!" kataku.
"Coba saja dulu," kata Blue-san sambil mendorongku.
...
"Oh, jadi begitu ceritanya?" tanya Red-san, berbaring di pangkuanku sambil melihatku dari bawah.
"Iya, Red-san. Aku sampai sekarang pun masih gugup kalau dekat denganmu, seperti saat aku mengungkapkan perasaanku dulu," kataku sambil mengelus rambutnya Red-san.
"Ya, wajar juga kalau seseorang mengungkapkan perasaannya. Sebenarnya aku juga gugup saat aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Namun aku mencoba untuk menyembunyikan perasaan gugupku dengan bersikap tenang dan kalem," kataku. Aku hanya bisa tersenyum. Itu membuat Red-san heran.
"Eh, mengapa kau tersenyum seperti itu, Yellow?" tanya Red-san.
"Ya, tak kusangka kau juga gugup. Aku gugup karena pesonamu sebagai pemimpin kelas," kataku sambil menahan semburat merah di pipiku.
"Ya, kalau aku, gugup karena pesonamu dalam menangani teman-teman yang pingsan. Kau yang terlihat kecil ternyata mampu melakukan hal itu dengan cekatan, bukan bermaksud menginggungmu," kata Red-san.
"Aku tahu, Red-san," kataku sambil tersenyum. Kemudian Red-san menutup matanya sambil menikmati angin yang bertiup lembut. Aku juga memilih untuk menikmati lembutnya angin ini.
...
Inikah saatnya, mengurung keakuanku untuk satu hatinya? Ataukah menundanya sejenak saja sampai dia rela membiarkanku rebah di pangkuannya?
Yellow's POV
INILAH TANTANGAN TERBESAR SEPANJANG HIDUPKU. MENGUNGKAPKAN PERASAANKU KEPADA ORANG YANG AKU CINTAI.
Di dalam tantangan itu, ada beberapa pertanyaan, namun salah satu pertanyaan yang paling berat, menurutku, adalah kapan aku akan mengungkapkan perasaanku padanya.
Aku mau melakukannya sekarang, tapi aku terlalu malu untuk mengungkapkannya, tapi kalau aku tidak melakukannya sekarang, orang yang akan kucintai itu akan direbut oleh orang lain yang jelas jauh lebih baik daripada aku dan pasti dia menerimanya.
Aku terjebak di dalam dilema yang kubuat sendiri. Aku ingin menghilangkan rasa gugupku, namun aku belum mampu untuk melepaskan bagian kegugupan yang tertempel pada diriku ini. Aku ingin mengungkapkan perasaanku sekarang, tapi aku seperti lemah kalau ada di dekatnya.
Ah, aku bingung. Bahkan setelah teman-temanku mendengarkan ceritaku, mereka juga menyuruhku untuk mengungkapkan perasaanku padanya seegera mungkin. Aku hanya bisa berharap dia yang sadar akan perasaanku dan datang kepadaku.
"Ya, kalau begitu, sama saja kau egois, Yellow. Kau yang harus berusaha untuk mendapatkannya karena setahuku, dia itu tipe orang yang tidak sadar akan perasaan orang lain," kata Crystal.
"Kau harus kuat, Yellow! Jangan lemah! Kau tidak mau kalah dengan keadaan ini kan?" tanya Sapphire. Aku hanya bisa mengangguk, tapi tetap saja aku tidak bisa menjadi seperti yang Sapphire inginkan.
Dari semua jawaban temanku, akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus menjadi orang yang maju di depan, menyatakan perasaanku kepada orang yang aku cintai.
Red-san, tunggu aku. Aku datang padamu.
...
Kebahagiaan yang bertubi-tubi itu pun datang. Menghampiri hatiku saat kudapati kepalanya rebah manja di dada dan jemarinya menelusupkan getar bahagia tak terperi.
Red's POV
"SELAMAT ULANG TAHUN, RED-SAN!" seru Yellow yang sudah ada di depan rumahku, dengan wajah manis penuh senyuman bahagia karena tahu bahwa hari ini aku berulang tahun.
"Wah, kau tidak perlu repot-repot membuatkanku hadiah, Yellow," kataku sambil melihat hadiah berukuran cukup besar yang dibawa Yellow.
"Tidak apa-apa, Red-san. Aku juga ikhlas membuatnya," kata Yellow.
"Namun,"
"Ada apa?"
"Bisa bawakan ini? Aku mulai terasa berat," kata Yellow. Aku langsung menerima hadiahnya dan menaruhnya di tempat yang luas, sehingga kami bisa membuka hadiahnya bersama.
"Tolong, menaruh hadiahnya pelan-pelan, Red-san," kata Yellow.
"Oke, Yellow, juga karena ini hadiah darimu untukku, tentunya aku berhati-hati," kataku sambil menaruh hadiahnya di lantai secara perlahan dan hati-hati. Setelah menaruh hadiahnya, aku dan Yellow membuka hadiahnya.
Aku terkesima melihat hadiahnya. Satu buah kue ulang tahun ukuran besar, buatan sendiri, dan dibawa sendiri oleh Yellow.
"Kau bersungguh-sungguh? Kau yang membuat ini?" tanyaku. Yellow mengangguk.
"Dengan segala kegagalan yang aku dapatkan selama satu minggu terakhir dan berhasil pada saat-saat terakhir, beberapa jam sebelum sekarang," kata Yellow. Aku melihatnya dan benar saja, dia terlihat belum tidur sama sekali.
"Yellow,"
"Ya, Red-san?"
"Ayo kita makan kuenya," kataku. Yellow mengangguk dan kami mulai memakan kue ulang tahunya.
...
Beberapa saat kemudian, terlihatlah Red dan Yellow yang tertidur pulas di atas sofa ruang tamu Red. Yellow nampak pulas tidur di atas dadanya Red, sementara Red meemluknya dengan pelukan yang lembut.
...
Seada-adanya, setiada-tiadanya. Keakuanku tidak sekedar berujung pada kangen semata, tapi lebih dari itu ... bermuara pada penyatuan cinta. Semoga ...
Neutral POV
Red dan Yellow sedang membaca sebuah buku yang berjudul 56.400.000 mm/hour, salah satu buku favorit mereka. Bukunya bercerita tentang perjuangan dua orang kekasih yang berada dalam hubungan jarak jauh dan mereka belum pernah bertemu sama sekali. Jarak yang begitu jauh membuat perjuangan mereka semakin menantang, namun disanalah cinta dibenihkan, melalu jarak yang jauh.
"Red-san, menurutmu, yang menarik di bagian ini, bagian mana?" tanya Yellow.
"Hmmm, kalau menurutku, di bagian ini," kata Red sambil menunjukkan sebuah bagian cerita yang menurutnya menarik. Bagiannya tertulis seperti ini.
Aku heran dengan manusia Esderian itu. Mereka sudah bisa merasakan kedekatan itu setiap hari. Sedangkan kami, Elderian, hanya bisa melihat mereka dengan perasaan ini dan , kangen, aku hangen dengannya. Aneh, kami berdua belum pernah bertemu, tapi kami sudah memiliki perasaan kangen seperti kami sudah pernah dekat sebelumnya.
Apa mungkin pada masa lalu kami, kami adalah pasangan yang dekat dan mati bersama lalu berinkarnasi menjadi dua orang yang justru terpisah jauh namun saling cinta? Apa mungkin ini efek dari pertautan kuantum yang sampai sekarang masih membuat manusia sekaliber Einstein bingung? Atau ini hanya efek kemudahan teknologi semu yang hanya bisa dibuat nyata dengan pertemuan nyata?
Pertanyaan ini belum bisa dijawab sekarang, tapi suatu hari nanti, saat kita berdua bisa mengalahkan pada Esderian ini, pertanyaan ini akan terjawab.
"Red-san, sejak kapan kau punya selera bagus terhadap percintaan?" tanya Yellow.
...
Mengais lagi serpihan kata rindu yang kau cecapkan di tepian pagi. Betapa kuingin mendengarnya beribu kali. Seperti inginku yang selalu dahaga ingin mendekap dan rebah di dadamu. Luruh dalam magismu dan bertekuk pasrah dalam hatimu, satu.
Yellow's POV
Aku merindukanmu, Yellow.
Suara itu terus muncul dari telepos genggamku. Rekaman terakhir dari telepon yang datang darimu. Ini adalah telepon terakhirnya sebelum dia mengalami proses krio yang membuatnya tidur dalam beku. Sudah satu minggu sejak tidur krionya, dan sekarang adalah giliranku.
Ya, mungkin ada yang bertanya mengapa aku dan Red-san harus ditidurkriokan. Sebenarnya ada alasan mengapa kami harus tidur dalam keadaan beku.
Dunia dalam keadaan bahaya. Kami, sebagai pemegang Pokedex, adalah manusia terpilih yang akan menjadi pemilik planet ini setelah dunia ini mati. Kami harus tetap hidup saat yang lain mati atau pergi dari planet ini. Karena itulah kami dibekukan agar kami bisa dihidupkan kembali di masa depan.
Kami akan ditaruh di tempat yang masih aman dan tersembunyi di planet ini. Atmosfer atas Bumi. Kami akan mengorbit dengan satelit rahasia yang bahkan roket dan satelitnya tidak terdaftar dalam katalog benda angkasa. Satelitnya bahkan dilapisi oleh vantablack sehingga satelit kami tidak akan terdeteksi.
Akan ada 7 kelompok dari setiap region, dan untuk daerahku, Kanto, aku adalah yang terakhir.
...
Pada akhirnya, Yellow dibekukan dan ditaruh di samping Red. Setelah semua kelompok dibekukan dan dikumpulkan menjadi satu, semuanya berangkat me ruang angkasa dengan satelit berbungkus vantablack itu. Hanya satu penanda dari satelit itu. Sebuah plakat kecil dengan tulisan.
Aku merindukanmu, Yellow.
Aku juga merindukanmu, Red.
...
Inginku hanya satu: menjalani apa yang kuyakini sebagai kata hati. Berjalan lurus ke rumah hatimu, dan setia menjaga satu rindu atas namamu, tak lebih.
Yellow's POV
"Ya, aku yakin akan hal itu," kataku kepada Crystal.
"Mengapa kau yakin akan hal itu?" tanya Crystal.
"Ya, memang benar dia sering sekali tidak peka padaku, namun dalam hatinya, aku sudah bisa merasakan kalau aku sudah menang. Aku hanya tinggal menunggu waktu untuk mengungkapkan perasaanku," kataku.
"Daripada menunggu waktu, mengapa kau tidak mengungkapkan isi hatimu sekarang saja?" tanya Crystal.
"Entahlah, Crystal. Aku seperti malu kalau ingin menyampaikan perasaanku kepada Red-san," kataku.
"Mengapa malu? Kau baik, cantik, cekatan, artistik, kuat, Red pasti mau. Lagipula, aku sudah pernah melihat kalian saat kalian membatu, dan menurutku, kalian berdua sangat cocok kalau bersama," kata Crystal.
"Tapi, aku tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Blue-san, dia cantik sekali, bahkan aku kalah jauh dengannya," kataku, murung.
"Lha? Ayolah, Red itu bukan sebangsa laki-laki yang menyukai perempuan karena fisiknya saja. Tidak seperti laki-laki yang satu itu," kata Crystal sambil melihat salah satu laki-laki itu yang sedang bertarung Pokemon dengan Red.
"Ada sesuatu dalam dirimu yang membuat Red nyaman. Itulah kelebihanmu yang tidak dimiliki perempuan lain, bakhan Blue dan aku," kata Crystal.
"Benarkah?" tanyaku. Crystal mengangguk.
"Setiap perempuan memiliki kelebihannya masing-masing, dan laki-laki akan melihat satu kelebihan itu sebagai alasan mengapa dia mencintai perempuan. Aku yakin Red akan punya alasan bagus dari dirimu mengapa dia mencintaimu," kata Crystal.
"Ummm ..." aku berpikir lagi.
"Sudah, ungkapkan sekarang. Aku mendukungmu dari sini," kata Crystal. Akhirnya aku berdiri dan melihat ke arah kedua laki-laki yang sedang bertarung Pokemon itu.
"Red-san! Aku ingin mengatakan sesuatu padamu!"
...
Berdua kita saling meluruhkan kata yan terucap dari palung hati terdalam. Menasbihkan rindu yang lama tersembunyi dalam diam. Tunduk teduh pada keakuan perasaan.
"Red-san!"
"Yellow!"
Red dan Yellow berlari, saling mendekat satu sama lain. Setelah perjalanan yang jauh ditambah dengan acara berlari ini, akhirnya Red dan Yellow dapat saling berpelukan. Mereka saling berpelukan, melepas rindu setelah 2 tahun tidak bertemu karena tugas Red di Kalos.
"Red-san, aku merindukanku!"
"Aku juga merindukanmu, Yellow. Kau sehat kan?"
"Sangat sehat, terutama setelah mengetahui kau akan kembali ke Kanto,"
"Syukurlah. Saat penelitianku selesai, akhirnya aku bisa membeli tiket pesawat untuk pulang ke Kanto dan bertemu denganmu lagi, Yellow,"
"Aku senang kita bias dipertemukan lagi,"
"Aku juga senang, Yellow,"
Mereka masih berpelukan sambil kadang berputar-putar di atas lantai bandara.
"Hei, Yellow,"
"Ya, Red-san?"
"Bagaimana kalau sekarang kita makan di suatu tempat. Kau yang memilih,"
"Hmmm, boleh juga. Aku sudah lapar juga saat menunggumu, Red-san,"
"Punya ide?"
"Bagaimana kalau di kafe dekat alun-alun? Disana sedang ada diskon ulang tahun kafenya,"
"Ide bagus,"
Mereka berdua keluar dari bandara dan berjalan ke kafe itu. Di perjalanan, Red dan Yellow bercerita tentang kehidupan mereka di tempat mereka masing-masing, dan di ujung percakapan mereka ...
"Yellow, mulai sekarang, aku akan tetap di sini. Sisa pekerjaanku akan kukerjakan di sini," kata Red.
"Benarkah?" tanya Yellow. Red mengangguk.
"Ya, berarti kita bisa bersama lebih lama," kata Red. Yellow yang terlihat sangat senang langsung memeluk Red.
"Red-san! Aku senang mendengarnya. Bisa kau katakan lagi?" tanya Yellow dengan wajah manisnya.
...
Tenggelam dalam kemesraan yang menguras setiap keindahan. Kudapati dia rebah manja di dadaku yang terus berdegup mengeja rindu. Luluhku dalam bahagia tak terperi.
Red's POV
"Red-san," panggil Yellow yang sekarang sedang merebahkan kepalanya di atas dadaku.
"Ya, Yellow?" tanyaku sambil mengelus rambutnya.
"Baumu khas,"
"Eh?"
"Ya, baru saja aku mempelajari ilmu baru tentang pembauan. Baunya Red-san entah mengapa beda," kata Yellow.
"Jangan tanya aku. Tapi aku baunya seperti apa, menurutmu?" tanyaku.
"Ya, bau yang membuatku tenang dan seperti tidak ingin lepas darimu, Red-san," kata Yellow. Aku hanya bisa merasakan detak jantungku semakin keras dan sepertinya Yellow menyadari itu.
"Red-san deg-degan ya?" tanyanya. Dan aku hanya bisa mengangguk.
'Aku bisa mendengarkannya, Red-san. Suaranya yang indah dari detak jantungmu," kata Yellow.
"Begitukah?" tanyaku.
"Ya. Suaranya menenangkan. Aku bisa saja tidur di atas dadamu dalam waktu dekat," kata Yellow. Aku hanya bisa menghela napas dan memeluk Yellow dengan lembut.
"Dan aku akan memelukmu sampai kau terbawa ke mimpi yang indah bersamaku," kataku sambil mengelus punggungnya.
"Red-san, aku jadi malu," kata Yellow sambil menyembunyikan wajahnya di dadaku. Sepertinya dia menikmati aroma tubuhku sampai dia tidak ingin lepas. Aku juga tidak ingin melepaskannya sama sekali. Setelah 2 tahun berpisah, rasanya aku tidak ingin terpisah lagi dengan Yellow, apapun yang terjadi.
Aku hanya ingin Yellow mendengarkan suara jantungku dan aku memeluknya. Itu saja.
...
Telah habis kata. Bersamamu teduh dalam keakuan perasaan dan mengerontangkan jambangan rindu menjadi keindahan yang memagut bahagia. Satu hati dalam cinta.
Yellow's POV
Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi.
Semua keindahan yang terjadi pada hari ini tidak akan pernah dapat diungkapkan dengan kata-kata bahkan walaupun kosakata yang berhubungan dengan cinta meningkat 100 kali lipat, tetap itu tidak akan pernah cukup.
Ini adalah peristiwa yang tidak akan pernah dilupakan, saat akhirnya aku dan dia akan dipersatukan dengan sebuah upacara suci dan megah, namun tetap sederhana. Sebuah penanda bahwa aku dan dia bersatu secara resmi, diakui oleh dunia, direstui oleh Tuhan.
Pada saat sang pemimpin upacara mempersiapkan segala sesuatunya, aku hanya bisa terdiam. Gugup, tapi juga bahagia, tapi sepertinya gugup mengalahkanku kali ini. Gugup karena sebentar lagi, aku akan menjadi seseorang yang spesial baginya, dan dia akan menjadi orang yang spesial bagiku.
Kemudian, peristiwa itu terjadi. Sang pemimpin upacara pengucapkan kata-kata suci yang akan menyatukan kami berdua. Sang pemimpin upacara itu adalah pamanku sendiri. Kata-kata suci itu adalah sebuah pernyataan. Sederhana, tapi bermakna dalam dan berlaku, aku harap, seumur hidupku, bahkan sampai kami berdua melangkahkan kaki kami ke surga.
Pernyataan itu akhirnya diucapkan. Setelah dia dan pamanku bersalaman, pamanku mengucapkan pernyataan suci itu.
"Saya nikahkan Red Rubeus dengan Yellow Flavus dengan mas kawin seperangkat alat rawat Pikachu dibayar tunai," kata pamanku.
"Saya terima nikahnya Yellow Flavus dengan mas kawin seperangkat alat rawat Pikachu dibayar tunai," kata Red-san.
"Bagaimana? Sah?"
Pendapat orang-orang yang ada di sana dapat dijelaskan dalam satu kata.
Mengharukan. Semuanya berkata sah pada waktu bersamaan dan langsung bergembira seperti suporter sepak bola yang baru saja berhasil menang adu pinalti yang membuat mereka memenangkan final Piala Dunia dan menjadikan mereka juara.
Benar-benar mengharukan.
Namun, hal yang lebih mengharukan lagi adalah, inilah saatku untuk menggenggam tangannya Red-san sebagai lambang menyatunya kita berdua. Awalnya kami berdua gugup, namun akhirnya kami berdua saling berpegangan tangan, dan keriuhan itu datang kembali. Semuanya bergembira mengetahui bahwa akhirnya kami resmi menjadi pasangan suami istri.
Ya, aku dan Red-san, pasangan suami istri yang baru saja bersatu.
...
Masih sama. Kupatri detik bersamamu dalam kemesraan yang tak lelah menciumi titik penghabisannya. Selalu ada getar baru yang mengendap dan mencetak bahagia dalam alurnya. Aku makin cinta!
Yellow's POV
"Selamat pagi, Red-san," kataku yang melihat Red-san akhirnya datang ke ruang makan. Terlihat dia masih memakai piyama Pikachunya. Aku tersenyum manis melihatnya.
"Apa sarapan hari ini?" tanya Red-san.
"Kangkung tumis dengan tempe, ada beberapa buah di meja, dan karena saran dokter untuk mengurangi kopi, aku membuat jahe," kataku sambil membawakan makanannya ke meja.
"Ya, aku juga tidak tahu, biasanya aku juga tidak minum kopi. Ini pasti karena kegiatan malamku yang makin padat," kata Red-san.
"Ya, aku juga tahu itu, karena itu, jahe juga bisa membangkitkan semangat," kataku.
"Benar juga," kata Red-san sambil menerima sepiring makanan yang telah kupersiapkan. Kemudian, aku mempersiapkan bagianku juga dan saat semuanya sudah siap, kami mulai makan.
"Selamat makan!" kata kami bersama, dan kami makan.
...
Mendekapmu tulus. Ditimang keakuan perasaan yang melukis pagi. Tak ada lagi yang tersembunyi. Senyata mentari, kuakui terpasungnya cinta pada satu hatimu. I love you.
Hari pertama, Red memeluk Yellow. Yellow tidak bisa lepas dari pelukan Red dan akhirnya mereka berdua melanjutkan tidur mereka.
Hari kedua, Yellow memeluk Red. Red tidak bisa lepas dari pelukan Yellow dan akhirnya mereka berdua melanjutkan tidur mereka.
Hari ketiga, Red dan Yellow saling berpelukan. Yellow tidak bisa lepas dari pelukan Red, demikian pula Red tidak bisa lepas dari pelukan Yellow, dan akhirnya mereka berdua melanjutkan tidur mereka.
Hari keempat, Red tidak ada di rumah karena pekerjaan dan Yellow memeluk gulingnya seperti dia memeluk Red. Yellow tidak bisa melepaskan pelukannya terhadap gulingnya itu dan akhirnya Yellow melanjutkan tidur mereka.
Hari kelima, Red memeluk Yellow. Yellow bisa lepas dari pelukan Red namun Red dengan sigap memeluknya kembali dan akhirnya mereka berdua melanjutkan tidur mereka.
Hari keenam Yellow memeluk Red. Red bisa lepas dari pelukan Yellow namun Red memilih untuk memeluk Yellow lagi karena Red masih belum sepenuhnya sadar dan akhirnya mereka berdua melanjutkan tidur mereka.
Hari ketujuh, Yellow memeluk Red dan Red memeluk Yellow. Red bisa lepas dari pelukan Yellow namun Red memilih untuk memeluk Yellow lagi karena Red masih belum sepenuhnya sadar dan akhirnya mereka berdua melanjutkan tidur mereka.
Satu minggu, dan setiap pagi, Red dan Yellow terus berpelukan sampai akhirnya mereka terlambat untuk bangun tidur. Mereka berdua saling menikmati pelukan masing-masing sampai lupa ruang-waktu.
Itulah aktivitas mereka setelah mereka berdua resmi menjadi suami istri.
...
Luruh sudah kata-kata itu. Setelah bermalam-malam kuhidangkan rindu dan hati untukmu, kudapati jua lugu keakuanmu tumpah tanpa sekat semu. Terima kasih untuk balas cintamu.
Dari sebuah percakapan sederhana, berbuah keindahan luar biasa.
Yellow's POV
"Lalu apa yang terjadi pada Black?" tanyaku lewat pesan telepon.
"Ya, dia terhisap oleh Reshiram dan menyatu dengannya, menjadi bola," kata Red-san.
"Dan White?" tanyaku.
"Ya, White berusaha untuk mengambil bola itu, namun bola itu justru terbang entah ke mana meninggalkan White sendiri," kata Red-san.
"Kasihan sekali White. Dia harus ditinggal oleh orang yang dia cintai," kataku.
"Untung saja aku dengar kalau Lack-Two bisa membantu White membebaskan Black dari bola itu," kata Red-san.
"Lack-Two? Pemegang Pokedex baru dari Unova itu juga, yang bekerja di kepolisian?" tanyaku.
"Ya, yang itu. Aku jadi memikirkan kalau aku ini White," kata Red-san.
"Mengapa, Red-san?" tanyaku.
"Ya, aku tida bisa membayangkan kalau temannya menghilang dengan cara seperti itu," kata Red-san.
"Aku juga, Red-san. Aku juga takut, terutama ..." kataku.
Apakah ini waktu yang tepat bagiku untuk mengungkapkan perasaanku padanya?
"Terutama apa, Yellow?" tanya Red-san.
"Ya, kalau aku kehilangan teman-teman terbaikku sebelum aku sempat mengatakan hal yag penting pada mereka, rasanya aku seperti membawa batu besar di hatiku yang tidak akan bisa dikeluarkan," kataku.
"Aku setuju denganmu, Yellow," kata Red-san.
"Jadi, entah mengapa Blue-san memutar lagu cinta terus di dekatku," kataku sambil melihat ke arah Blue yang sedang belajar.
"Ya ... bagaimana ya?" tanya Red-san.
"AKU MENCINTAIMU, RED-SAN! AKU MENCINTAIMU SAMPAI TETES TERAKHIR HIDUPMU!"
EH? MENGAPA BLUE-SAN MENGAMBIL TELEPON GENGGAMKU DAN MENULIS INI? AKU HARUS BERGERAK!
"Maaf, Red-san, telepon genggamnya dibajak Blue-san! Aku ti—"
"Aku juga mencintaimu, Yellow," kata Red-san dengan emotikon orang tersenyum manis.
Aku hanya bisa terpaku melihat pesan ini. Setelah beberapa menit memproses apa yang terjadi, aku tahu apa yang harus kulakukan.
PINGSAN
...
Maaf, jika aku tak bisa lagi menyembunyikan rindu yang telah menjelma cinta seutuhnya. Maaf juga jika aku tak bisa lagi lari dari dirimu, karena hatiku telah kaukuras habis hingga ke akar-akarnya.
Yellow's POV
Memang aku sudah tidak bisa lagi lepas darinya. Aku hanya bisa melakukan satu hal untuk menghadapi masalah ini.
"Nikmati hubunganmu dengan Red, Yellow," kata Blue-san.
"Terima kasih, Blue-san," kataku.
"Jangan lupa bahagia bersamanya," kata Blue-san.
"Ya, Blue-san," kataku.
Ya, sekarang adalah acara resepsi pernikahanku dan Red-san. Banyak orang menyalami kami dan memberikan kami selamat. Akhirnya ini giliran Green dan Blue, dua kawan karib kami sejak lama. Mereka sudah menikah lebih dahulu, jadi tidak heran mereka datang bersama.
"Red, kuingatkan padamu, kalau sampai Yellow datang ke rumahku dalam keadaan sedih dan sumber kesedihannya adalah dirimu, Charmanderku siap melawanmu saat itu tiba," kata Green dengan nada sedikit mengancam.
"Ayolah, Green, aku tidak akan berani melakukan itu. Sekarang Yellow adalah istriku, tanggung jawabku padanya jelas lebih besar," kata Red-san, sambil menggandeng tanganku.
"Aku harap begitu," kata Green.
"Ayolah, Greeny, tidak perlu jadi terlalu serius seperti ini. Ya, memang kau harus menjaga Yellow kecil ini dengan baik, tapi aku yakin kau pasti bisa," kata Blue-san.
"Terima kasih, Blue-san, Green-san," kataku, sedikit malu karena baru saja diberi motivasi oleh Green dan Blue.
...
Sepotong kebersamaan telah mencetak jejak hati yang begitu berarti. Menggurat cerita rindu pada dinding jiwa yang terpatri. Tak ada kata basi. Begitu jarak menyekat tatap, inginku segera kembali. Bersandar manja pada bahumu dan tidur terlena dalam genggaman jemarimu.
Red's POV
"Iya, Red-san, tapi seharusnya aku yang bersandar di bahumu, bukan kau yang bersandar di bahuku," kata Yellow di pesan singkatnya.
"Benar juga," kataku sambil terkekeh.
"Tapi ada benarnya juga untuk menggenggam tangan, tanganku dingin di sini, Red-san. Jika saja dirimu ada di sini dan bisa menghangatkan tanganku, aku pasti akan sangat senang," kata Yellow. Aku hanya tersenyum.
"Aku juga, Yellow. Tanganku juga perlu kehangatan darimu. Tenang saja, aku sedang dalam perjalanan pulang dari Sinnoh," kataku.
Sebenarnya, aku sudah ada di depan rumahnya Yellow. Ya, aku berkata padanya kalau aku baru pulang dari Sinnoh pagi nanti, namun ternyata aku sudah menyelesaikan pekerjaanku di sana lebih cepat, jadi aku bisa kembali ke Kanto lebih cepat juga.
Tidak ada tujuan yang lebih baik selain ke rumahnya Yellow. Dia perlu kehangatan.
"Kau sedang ada di mana sekarang?" tanya Yellow.
"Dalam perjalanan menuju hatimu," kataku, sedikit menggoda.
"Ah, Red-san! Jangan membuatku malu!" kata Yellow. Pasti pipinya sedang memerah seperti biasa. Aku suka kalau pipinya Yellow memerah. Aku harus sedikit bersabar untuk memberikan kejutan ini kepada Yellow, bila sebenarnya aku sudah ada di depan rumahnya.
"Bagaimana denganmu, Yellow?" tanyaku.
"Ya, menunggumu datang ke hatiku," kata Yellow.
"Ya, coba Yellow pergi ke pintu depan sekarang?" tanyaku, sekarang aku ada di sana.
"Mengapa?"
"Lakukan saja," lalu aku mendengar suara langkah kaki dari dalam rumahnya Yellow, dan saat Yellow melihatku ...
...
Rindu yang memikat, cinta yang menjerat. Dua-duanya melabuh syahdu di batas penantian yang kuiba dan kudamba. Mungkin tak sempurna, tapi setidaknya yakinku ini nyata.
Yellow's POV
Ya, yakinku nyata, senyata apa yang terjadi kali ini. Saat aku sedang berbahagia sambil merebahkan kepalaku di pundaknya Red-san dan menonton acara televisi kesukaan kami.
"Bagaimana Red-san bisa datang sekarang?" tanyaku.
"Ya, pekerjaanku selesai lebih cepat, lalu aku membeli tiket yang berangkat hari ini juga, dan akhirnya bisa sampai ke rumahmu," kata Red-san.
"Red-san tak perlu repot-repot, aku tak apa-apa di sini, memang agak kedinginan, tapi aku tidak apa-apa," kataku.
"Aku tahu juga, tapi pasti kau merindukanku, kan?' tanya Red-san. Aku hanya bisa menutup wajahku karena ketahuan kalau aku memang merindukan Red-san.
"Nah, Yellow, aku ingin tahu ceritamu saat aku pergi," kata Red-san. Itu mengingatkanku. Aku akan menceritakan banyak hal selama Red-san pergi.
"Ya, saat Red-san pergi, Hutan Viridian hujan deras,"
"Benarkah? Lalu kau bagaimana?"
"Awalnya aku takut karena aku sendirian. Lalu aku teringat kau yang berani dalam menghadapi apapun, itu yang membuatku berani dan mampu mengurusi rumah saat hujan deras itu," kataku.
"Luar biasa. Saat itu, tempatku justru cerah berbintang," kata Red-san.
"Cerah? Wah, Red-san enak, bisa melihat bintang kemarin. Aku harus kedinginan dari kemarin," kataku.
"Ya, paling tidak sekarang sudah dapat penghangat, kan?" tanya Red-san. Aku hanya mengangguk sambil tersipu malu.
"Ya, begitulah hariku dengan Red-san setelah dia kembali. Terlihat bahagia padahal aku benar-benar bahagia. Terima kasih, Red-as, sudah hadir dalam hidupku.
...
Mengendapkan rindu sampai menciumi titik ujungnya. Biar tak bersisa ... hanya menyisakan cinta yang menghidangkan menu bahagia.
Sapphire's POV
"Eh? Tak apa-apa?" tanya Sapphire.
"Tak apa-apa, Sapphire. Red-san pernah pergi dari rumah selama 2 bulan, tapi kemudian dia kembali padaku," kataku.
"Tapi ini beda, Yellow! Dia pergi selama 2 tahun. 12 kali lipatnya. Bagaimana kau bisa menahan rindu yang akan terus meningkat selama waktu itu?" tanya Sapphire.
"Aku sudah terbiasa. Aku butuh dua tahun juga untuk bertemu Red-san setelah pertama kali bertemu," kataku.
"Tapi ini beda, Yellow! Kau akan berpisah dengannya setelah bertahun-tahun hidup bersama," kata Sapphire.
"Aku tidak apa-apa. Anggap saja aku adalah bendungan yang menampung air yang banyak, seperti aku menahan rinduku yang banyak untuk bertemu dengannya," kataku.
"Tapi ini beda, Yellow! Bagaimana kalau dia nanti menemukan yang lebih baik daripada kau di luar sana?" tanya Sapphire.
"Tidak akan, Sapphire. Red-san sudah menikahiku, janji setia sudah tercipta, dan Red-san tidak pernah melanggar janjinya, bahkan sebelum kami menikah. Aku yakin Red-san tidak akan melanggar janji yang ini juga," kataku.
"Ah, sepertinya aku yang harus belajar denganmu," kata Sapphire.
"Apa maksudmu, Sapphire?" tanyaku.
"Aku selalu khawatir dengan suamiku kalau dia pergi. Aku takut kalau dia akan pergi dariku untuk selamanya dan justru memilih yang lain," kata Sapphire dengan wajah sedih. Aku langsung memeluknya dan berbisik padanya.
"Sudahlah, percayalah dengan suamimu. Dia sedang bekerja dan tidak akan mengecewakanmu. Itu juga yang sedang dilakukan Red-san. Sudah, lebih baik kita mendoakan suami kita agar bekerja dengan giat dan bisa pulang dengan membawa kabar gembira," kataku pada Sapphire.
Sapphire memandangku dengan wajah tersenyum kali ini.
"Terima kasih, Yellow,"
...
Kuyup cintaku menembus batas damba yang tak berkesudahan. Terpendar dalam lautan bening matamu yang mengurai keindahan. Kapan lagi bisa kuberenang, menenggelamkan rinduku yang selalu mencatut namamu berulang-ulang?
Yellow's POV
Hujan. Sore ini hujan turun dengan deras. Aku hanya berdiri di depan halte bis, menunggu bis datang. Badanku sedikit basah karena hujan dan angin yang kadang mengenai badanku. Aku juga hanya ada di sini sendirian.
Semakin lama, semakin sore. Udaranya juga menjadi semakin dingin. Aku tidak menyangka bahwa cuacanya akan sedingin ini dan aku lupa membawa jaket atau sesuatu yang tebal yang bisa membuat tubuhku hangat.
Ya, mungkin aku harus menunggu di sini sampai hujannya reda. Tapi sampai kapan? Aku masih punya pekerjaan rumah untuk dikerjakan dan kalau aku sakit, aku tidak bisa mengerjakannya dan nilaiku kurang. Karena itulah aku masih berdiri di sini.
Mungkin ada yang bertanya mengapa aku tidak duduk. Ya, kursi haltenya sudah basah dan aku tidak ingin rokku kebasahan. Akhirnya aku harus berdiri di sini.
"Yellow? Apa yang sedang kaulakukan?" tanya seseorang di sampingku yang tiba-tiba datang padaku. Tak kusangka ternyata itu Red-san.
"Red-san? A ... aku hanya menunggu hujan reda," kataku.
"Kau lupa membawa payung ya?" tanya Red-san yang terlihat membawa payung. Aku hanya mengangguk.
"Ya sudah, bagaimana kalau kuantar sampai rumah?" tanya Red-san.
"Tidak usah repot-repot, Red-san," kataku menolak dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Yellow, tidak usah malu-malu, daripada kau berdiri di sini terus sampai malam, lebih baik kuantar sampai ke rumah," kata Red-san. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain.
"Baiklah, Red-san. Mohon bantuannya," kataku, lalu kami berdua berjalan, dengan payung Red-san yang melindungi kami dari hujan, menuju rumahku.
...
Aku selalu ingin pulang ke rumah hatimu, kapanpun itu. Berharap rindu mengetuk cinta dan bahu-membahu menjamu bahagia tanpa jemu.
Hari pertama.
"Aku pulang!"
"Selamat datang, Red-san! Bagaimana pekerjaanmu?"
"Melelahkan. Kau sudah membuatkan makanan belum?"
"Belum, Red-san, aku masih memasak sekarang,"
"Oh, ya sudah, tidak apa-apa, lebih baik selesaikan masakannya dulu. Aku ingin mandi,"
"Baiklah, Red-san,"
...
Hari kedua.
"Aku pulang!"
"Selamat datang, Red-san. Mau pijatan? Aku sudah mempersiapkan segala perlengkapan,"
"Benarkah? Wah, kebetulan sekali badanku sedikit lelah setelah latihan itu. Tolong ya, Yellow,"
"Siap, Red-san. Mau dipijat di bagian mana?"
"Bagian bahu dan punggung. Di sana pegal sekali,"
"Siap, Red-san!"
...
Hari ketiga.
"Aku pulang!"
"Selamat datang, Red-san. Makanan sudah siap di meja,"
"Benarkah? Apa yang kaumasak hari ini?"
"Sayur pare, kangkung, STMJ, dan nasi,"
"Wah, kenyang aku nanti,"
"Mungkin Red-san mandi dulu selagi melepas penat sementara aku menyiapkan makanannya?"
"Boleh juga idemu, Yellow,"
...
Hari keempat.
"Aku tidak bisa pulang malam ini, Yellow. Pekerjaannya membuatku harus tetap bertahan di gym sampai pukul 10 malam. Mungkin kau sudah tertidur saat itu. Selamat malam, Yellow," tulis SMS yang ada di telepon genggamnya Yellow. Yellow hanya bisa tersenyum dan bersiap untuk memberikannya kejutan.
Malamnya, saat Red pulang ke rumah dan melihat Yellow sudah tertidur pulas di kamarnya, menurut pandangannya Red, Red memberikannya ciuman lembut di dahinya, dan Yellow langsung terbangun dan memberikannya ciuman balasan di bibirnya.
Benar-benar mengejutkan bagi Red, namun menyenangkan bagi keduanya.
...
Tak jera mendakwamu jadi satu-satunya yang memasung rinduku. Membawa serta cintaku pada arakan damba yang tak lelah menanti bahagia mengemuka, nyata. Membingkai setiap detik yang berlalu dengan keindahan suka cita.
Ini adalah kisah seorang anak yang bermain di sebuah ayunan yang digantungkan pada sebuah pohon. Dia terlihat sangat gembira bermain di sana bersama kedua orang tuanya. Kemudian, ayahnya bercerita tentang asal muasal pohon ini.
"Nah, nak, kau tahu pohon ini muncul dari mana?" tanya sang ayah.
"Tidak tahu, yah," kata si anak.
"Jujur saja, aku juga belum tahu tentang itu," kata sang ibu.
"Baiklah, mungkin ini akan sedikit memusingkan. Jadi, tolong perhatikan baik-baik," kata sang ayah. Sang ibu dan sang anak mengangguk, dan sang ayah memulai ceritanya.
"Dulu, saat ayah masih kecil, aku juga bermain di ayunan itu, dan ayahku, yang berarti kakekmu nenekmu, juga itu bermain denganku. Lalu, kakek menceritakan cerita tentang asal muasal pohon ini. Saat itu aku tidak tahu tentang pohon ini, lalu kakekmu bercerita tentang asal muasal pohon ini, seperti aku menceritakannya padamu," kata sang ayah.
"Aku bingung," kata sang anak.
"Oke, jadi, intinya, dulu, kakekmu juga bermain seperti ayah dan kau. Kemudian, kakek buyutmu, yang itu berarti kakekku dan ayah dari ayahku, menceritakan bagaimana pohon itu tumbuh," kata sang ayah.
"Dan?" tanya sang anak.
"Kakek buyut dan nenek buyutmu berkata bahwa pohon itu mereka temukan pada saat mereka menikah. Mereka membuat pohon ini sebagai pohon cinta mereka.
"Namanya siapa, yah?" tanya sang anak.
...
Di luar cerita ...
"Red-san?"
"Ya, Yellow?"
"Menurutmu, apa yang akan anak-anak kita katakan tentang kisah kita?"
"Ya, mungkin mereka akan menjulurkan lidahnya karena jijik," kata Red sambil terkekeh.
"Benar juga," kata Yellow, juga terkekeh.
...
Tak usai memama kangen yang hanya kualamatkan untukmu, satu. Hari ini, masih saja kalam batinku mencatat setiap jejak indah yang tercipta bersamamu. Esok dan nanti, kuyakin akan sama. Kamu lagi, kamu lagi ...
Red's POV
Aku dan Yellow sedang melakukan perjalanan keliling dunia, mencari, mendata, dan bertarung dengan banyak Pokemon di seluruh dunia. Kali ini, kami ada di daerah yang tidak dikenal, dimana banyak sekali Pokemon berbadan besar, rerumputan, dan udaranya relatif dingin.
Pagi itu, aku bangun terlebih dahulu. Kemudian, aku mencoba untuk membangunkan Yellow.
"Yellow, bangun, sudah pagi," kataku. Kemudian, Yellow bergerak perlahan sambil mengantuk. Perlahan, dia membuka matanya dan menunjukkannya padaku.
"Selamat pagi, Yellow," kataku dengan wajah tersenyum.
"Selamat pagi, Red-san," kata Yellow dengan keadaan yang masih lemas karena baru saja bangun tidur.
Setelah kami berdua sudah sadar secara penuh, kami keluar untuk mempersiapkan air panas untuk makan dan minum kami nanti.
"Red-san, sekarang sudah hari ke berapa?" tanya Yellow. Aku melihat ke catatan harian yang selalu aku bawa.
"Hmmm, 233 hari," kataku.
"Lama juga perjalanan kita, Red-san," kata Yellow.
"Ya, dan selama itu juga kita mengelilingi dunia, namun jelas belum semua," kataku. Yellow mengangguk.
"Masih ada lagi tempat yang belum didatangi," kata Yellow.
"Dan itu tujuan kita berikutnya," kataku. Lalu kami mempersiapkan makanan dan minuman dari air panas itu.
...
Tak sabar ingin kubersandar dan rebah di dadamu. Menumpahkan dan meluluhkan kangen yang bersemanyam tak mau padam. Menangis dan tertawa dalam bahagia di atas namamu, seorang.
Yellow's POV
"RED-SAAAAAAAAANNNNN!"
"YELLOOOOOWWWWW!"
Kami berdua berlari di tengah-tengah kerumunan relawan yang sedang mencari korban bencana. Aku bukan salah satu relawannya, tapi aku sedang mencari Red-san karena dia ada di tempat dimana bencana terjadi. Untunglah Red-san selamat tanpa luka sedikit pun.
Setelah berlari beberapa saat, akhirnya aku dan Red-san bertemu dan kami saling berpelukan. Kami tidak ingin saling melepaskan setelah apa yang telah terjadi, setelah aku takut akan imajinasi bahwa aku akan kehilangan Red-san untuk selamanya. Imajinasi itu langsung musnah setelah aku melihat Red-san dan akhirnya bisa memeluknya.
"Red-san baik-baik saja, kan?" tanyaku.
"Aku baik-baik saja, Yellow. Bagaimana kau bisa ke sini?" tanya Red-san.
"Aku cepat-cepat datang kemari setelah tahu tempat ini dilanda bencana," kataku.
"Sigap sekali, Yellow,"
"Aku juga takut kalau aku kehilanganmu, Red-san," kataku sambil mulai memendamkan kepalaku di dadanya Red-san sambil menangis. Aku bisa merasakan Red-san mengelus rambutku sambil menenangkanku.
"Sudah, sudah, Yellow. Aku sudah ada di sini, memelukmu, di dekatmu, aku tidak akan melepaskanmu, Yellow," kata Red-san.
"Aku juga tidak ingin lepas darimu, Red-san, bahkan, kalau bencana susulan datang dan mengancam nyawa kita, lebih baik kita mati bersama," kataku.
"Sudahlah, Yellow, tidak perlu memikirkan hal itu. Ayo kita cari tempat yang aman untuk kita," kata Red-san, lalu kami berdua berjalan ke posko pengungsian terdekat untuk mendapatkan perlindungan dari bencana.
...
Bisa mendekapmu dalam luapan rindu yang tak bersyarat, telah cukup bagiku. Seada-adanya, kurelakan hati ini bertekuk lutut pada cintamu. Semata-mata tulusvyang menengahinya, titik. Semoga ...
Yellow's POV
"Putri, dikau harus segera menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidupmu," kata ayahku, yang seorang raja sebuah kerajaan besar, memberikan nasihat padaku setahun yang lalu.
Sampai sekarang, aku masih belum menemukan orang yang sempurna untukku. Aku bingung. Ayahku bingung. Semuanya bingung. Aku harus membuat keputusan segera atau kerajaan dalam keadaan bahaya.
Dalam masa berpikirku, aku sempat berjalan ke pasar untuk melihat-lihat keadaan pasar. Saat itu, aku berjalan sendiri dan entah mengapa, karena ada lubang di jalan, aku tersandung dan hampir terjatuh. Aku bisa saja merasakan rasa sakit karena jatuh itu.
Namun aku tidak merasakan apapaun. Sakit pun tidak. Aku merasa seperti melayang, tapi yang penting, aku merasa seperti dijaga oleh seseorang agar tidak terjatuh. Aku sempat melihat ke arah wajahnya, namun karena siang itu terik, aku hanya bisa melihat siluetnya.
"Engkau tidak apa-apa, nona?" tanya seorang pemuda itu. Bisa terlihat dari rambutnya yang agak berantakan itu. Dia terlihat ramah dengan wajah gagah dan santai, namun tajam. Tatapannya seperti dia mencoba untuk mengatakan sesuatu kepadaku, seperti ...
"Aku akan melindungimu, nona. Jangan khawatir,"
Aku seperti meleleh saat aku melihat matanya yang menenangkan itu. Bahkan, walaupun sudah 4 jam berlalu dari kejadian itu dan aku sudah ada di kamarku di istana, aku masih bisa membayangkan wajah ksatria yang gagah berani itu, berusaha untuk melindungiku.
Plus, dia memanggilku nona. Biasanya, orang lain akan memanggilku putri, namun dia berbeda dari yang lain.
Apakah dia jawaban dari pertanyaan yang terus menjebakku selama setahun terakhir ini?
Semoga ...
...
Hingga kata-kata tak lagi mampu bicara. Geliat desah manja menguap dengan sengaja. Di jemari pagi, kutilas lagi bahagianya hati memapah cintamu dalam barisan hari tanpa henti.
Red's POV
Aku terbangun lebih dahulu pada pagi hari yang cerah. Wajahku langsung memasang raut senangnya. Mengapa aku memasang wajah seperti ini?
Sebagai informasi saja, aku sudah menikah dan perempuan yang kunikahi adalah teman terbaikku sendiri, Yellow.
Sisanya, mungkin bisa diterka nanti. Aku ingin ke dapur, membuat teh untuk aku dan Yellow. Aku sebenarnya sedikit kasihan padany karena aku memberikan energi yang terlalu besar padanya. Namun, paling tidak, misiku sukses dan bisa dipastikan bahwa misiku sukses lewat tes yang akan dilakukan beberapa saat ini.
"Red-saaaaaaannnnn ..." sepertinya istriku tersayang memanggilku. Aku mendatangi tempat tidur dan duduk di sampingnya sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Yellow," kataku dengan tersenyum.
"Pagi, Red-saaaannn, tapi aku terlalu lemas untuk banguuuuunnnnn ..." kata Yellow lemas.
"Ya, begitulah," kataku sambil terkekeh.
"Aku tidak menduga kalau Red-san bisa sampai sekuat itu. Aku tidak berdaya saat itu, bahkan sampai sekarang, pingganggku sakit tidak karuan," kata Yellow sambil memegang pinggangnya.
"Ya, ya, aku minta maaf. Tiba-tiba aku tidak bisa menahannya," kataku sambil terkekeh.
"Lain kali katakan itu padaku lebih awal agar aku bisa bersiap-siap. Ini benar-benar sakit sampai aku tidak bisa berdiri," kata Yellow.
"Oke, seharian ini, kau akan aku bopong kemanapun Yellow mau," kataku.
"Terserah Red-san sajalah," kata Yellow, lalu tertidur lagi.
Kesimpulan yang bisa kuambil dari kejadian ini adalah, Yellow sangat senang denganku tadi malam.
Yellow's POV
Jangan percaya Red-san. Aku capek harus meladeninya. Aku seharusnya bersiap kalau dia mulai kumat lagi besok.
...
Terengahku memasung rindu. Dibelit sepi karena satu kecupmu menyisakan memori tak terperi. Keindahan melengkung di pelupuk mataku, menunggu saat kau hadir dan aku bisa rebah manja di dadamu. Menangis dan tertawa di sudut bibirmu. Meluluhkanku dalam bahagia surgawi yang mengusung wangi ikal mayang rambutmu.
Yellow's POV
"Yah, kalah lagi," kataku sambil menaruh badanku pada kasur.
"Hehehe, ya, sepertinya kau kalah lagi, tapi kau terlihat memiliki kemajuan pesat," kata Red-san.
"Benarkah, Red-san? Menurutku masih sama saja seperti dua bulan yang lalu," kataku.
"Tidak, kau sudah berkembang pesat, Yellow," kata Red-san.
"Benarkah?" tanyaku, lagi.
"Ya, aku masih ingat saat kau bermain permainan itu beberapa kali dan gagal di tahapan awal sampai tengah. Sekarang kau sudah sampai tahap akhir dan hampir menang. Kau sudah berkembali pesat, Yellow," kata Red-san sambil mengelus rambutku.
"Ah, Red-san, jangan membuatku malu sekarang," kataku dengan pipi memerah.
"Sudahlah, bagaimana sekarang giliranku untuk bermain? Kau juga perlu istirahat," kata Red-san.
"Boleh, Red-san, aku ingin tidur sebentar," kataku, dan aku terlanjur masuk ke alam mimpi.
...
Saat aku terbangun, yang aku lihat pertama kali di sampingku adalah Red-san yang sedang tertidur pulas, sambil menggenggam tanganku dan tersenyum dengan manis. Tiba-tiba, Red-san mengigau beberapa kata, salah satunya ...
"Aku menang, Yellow," aku hanya bisa tersenyum mendengar igauan Red-san. Lalu setelah aku mencium dahinya, aku berbisik padanya.
"Aku menyusulmu, Red-san," bisikku.
...
Menelaah setiap jejak yang tercipta, berbalut rindu yang tertunda. Semoga perjumpaan menyambut nyata karena kuasamu atas hatiku terus saja membakukan bahagia, seada-adanya ...
Yellow's POV
Sol 322, catatan video sesi malam.
"Hai, ini Yellow. Aku tidak menyangka malam ini akan sangat menggembirakan bagiku dan bagi semua orang yang ada di pangkalan Airy-0. Mengapa kami sangat bahagia? Itu karena Red-san dan kawan-kawan berhasil melaksanakan misi mereka, mencari satu artefak Bumi yang sudah ada di Mars selama lebih dari 100 tahun. Ya, mereka menemukan Opportunity," kataku, lalu aku menunjukkan gambar Opportunity hasil gambaranku sendiri.
"Ya, setelah perjalanan bersol-sol dengan keadaan tanah yang berbatu, akhirnya Red-san berhasil menemukan Opportunity dan mengekstraksi data di dalamnya, dan dikirimkan ke pangkalan. Ini jelas akan menjadi bahan ilmu yang luar biasa," kataku. Lalu aku meregangkan tanganku karena kelelahan.
"Kemudian, tadi Red-san berbicara langsung denganku, dan berkata bahwa ada satu bagian menarik dari Opportunity yang ingin dia berikan padaku. Aku langsung mengatakan bahwa Red-san tidak perlu melakukan itu karena pasti semua bagian Opportunity akan diteliti oleh ilmuwan yang ada di pangkalan. Ya, dari 10000 orang di sini, pasti ada ilmuwannya juga," kataku sambil terkekeh.
"Aku juga berkata padanya bahwa aku sangat merindukannya. Ya, perjalanan beratus-ratus kilometer itu memang membutuhkan kesabaran untuk bagian menunggu, bahkan walaupun kendaraan Mars sekarang sudah lebih canggih daripada yang dulu, tetap saja butuh 2 sol untuk sampai ke titik perkiraan itu. Makanya Red-san memintaku untuk bersabar menunggunya kembali," kataku sambil memandang kamera yang merekan video ini lama-lama.
"Aku merindukanmu, Red-san. Yellow, keluar," kataku, lalu videonya berhenti.
...
Tumpah sudah rindu yang sempat tertunda. Bersamamu kutelan bahagia yang menasbihkan setiap luka. Serta merta mengunyah sedih berganti tawa. Tak peduli apa yang akan terjadi nanti, aku selalu percaya: akan tiba saatnya jalan membentang untuk setiap hati yang rela dan tunduk pada ketulusan cinta, semata.
Red's POV
Di luar cerita ...
"Red-san,"
"Ya, Yellow,"
"Kita sudah berapa tahun hidup bersama sebagai suami istri?"
"Hmmm, mungkin 60 atau 61 tahun, aku juga agak lupa,"
"Bagaimana kalau aku lihat di buku nikahnya," kata Yellow.
"Silakan," kataku. Lalu aku kembali melihat birunya langit dengan mata tuaku yang walaupun tidab bisa melihat dengan jelas, namun masih bisa melihat warna biru dari langit. Ya, paling tidak itu yang bisa kulihat kali ini. Entah apa besok.
"Red-san, ternyata kita menikah pada ahun 2020," kata Yellow.
"Terus sekarang tahun berapa?" tanyaku.
"Aku juga lupa. Aku akan melihat kalender—"
"Tidak perlu repot-repot, Yellow. Kau sudah berjalan untuk melihat buku nikah itu. Sekarang giliranku untuk melihat kalendernya," kataku.
"Baiklah, Red-san, aku juga ingin istirahat dulu," kata Yellow. Lalu kami berganti posisi, sekarang Yellow yang duduk di kursi dan aku berjalan ke dalam rumah dan melihat kalender.
Saat aku sudah ada di dalam rumah dan menemukan kaliender itu, aku akhirnya tahu ini tahun berapa.
"Ahh, 2080, tidak kusangka kita sudah bersama selama ini, Yellow," lalu aku kembali ke luar untuk bertemu Yellow.
"Bagaimana, Red-san?" tanya Yellow.
"Sekarang tahun 2080, kita sudah menikah selama 60 tahun," kataku.
"Lama sekali kita bersama, dan sepertinya akan lebih lama lagi," kata Yellow.
"Aku setuju denganmu, Yellow. Ayo tidur, pasti kau lelah," kataku.
"Kau juga terlihat lelah, Red-san," kata Yellow, lalu kami berdua masuk kembali ke rumah, dan beristirahat di kamar.
...
Tak ingin lagi berdebat dengan situasi yang membelenggu hati dan menonjolkan logika dalam ketidakpastian. Inginku kini hanya mengabdi pada cintamu, satu. Itu saja.
"Bagaimana pendapatmu dengan demonstrasi yang terjadi belakangan ini?"
"Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai apa yang terjadi di sini. Demonstrasi ini sebenarnya tidak perlu jika yang bersangkutan dapat mengendalikan diri,"
Itulah yang Red dan Yellow dengarkan di televisi mereka. Berita mengenai demonstrasi yang tiba-tiba muncul di daerah Hoenn.
"Bagaimana pendapat Red-san mengenai demonstrasi itu?" tanya Yellow.
"Seharusnya mereka tahu kalau Pulau Mirage hanya muncul sekali setahun, dan itu saat ulang tahunmu," kata Red.
"Benar juga," kata Yellow.
"Juga, mereka seharusnya mencari tempat lain untuk mendapatkan kekuatan lebih atau bersabar menunggu waktunya tiba," kata Red.
"Aku setuju denganmu, Red-san," kata Yellow.
"Ya, bagaimana kalau kita menonton yang lain saja?" tanya Red.
"Aku ikut kau, Red-san," kata Yellow, lalu Red mengganti program televisinya dengan yang lain, dan setelah beberapa kali memilih, akhirnya, Red memilih tayangan Pokemon liar.
"Red-san," panggil Yellow.
"Ya, Yellow?" tanya Red.
"Bagaimana Red-san tahu acara favoritku?" tanya Yellow.
"Eh, kau suka ini juga? Berarti kita sama, Yellow. Aku suka menonton acara ini. Acara ini menambah wawasan mengenai Pokemon di seluruh dunia," kata Red.
"Benar, dan sebagian dari mereka manis," kata Yellow. Red hanya tersenyum mendengarkan kata Yellow.
"Bagaimana kalau kita menonton ini saja?" tanya Red. Yellow mengangguk dan akhirnya mereka menonton acara Pokemon liar itu bersama.
...
Segalanya telah menembus batas yang tak terjamah oleh logika. Tak jera kumeminang cintamu yang menjerat keakuanku terus mendamba dan memuja bahagia. Semata untukmu dan untuk kita. Semoga nyata, bukan sia-sia.
Red's POV
Aku berubah.
Dulu, aku tidak begitu paham dan peduli dengan hal yang berbau percintaan, entah itu yang romantis maupun yang biasa-biasa saja. Aku tidak memikirkan hal itu karena aku lebih suka berpikir untuk membuat Pokemonku lebih kuat setiap hari dengan berlatih keras dan teratur.
Namun, ketika dia datang ke hidupku, rasanya seperti ada bagian baru dalam diriku yang sebenarnya ada tapi aku tidak pernah melihatnya. Satu bagian yang ternyata adalah hal yang sangat penting bagiku.
Bagaimana untuk melindungi orang lain, bagaimana untuk membahagiakan orang lain, bagaimana untuk membuat orang lain senang tanpa harus menyusahkan diri sendiri, bagaimana untuk melakukan ini dan itu, semua kupelajari setelah aku bertemu dengannya.
Itu menyelamatkanku dari fokusku yang berlebihan terhadap Pokemon. Jikalau dia tidak datang ke hidupku, aku sudah terlanjur hidup dengan Pokemon dan memilih menyendiri di Gunung Silver sampai entah kapan.
Dia juga berkata, dia beruntung bisa bertemu denganku. Jikalau aku tidak datang ke hidupnya, mungkin dia sudah menggunakan kekuatannya untuk melindungi Pokemon dalam arti melukan atau bahkan membunuh orang lain. Aku tidak bisa membayangkan wanita cantik dan baik hati sepertinya membunuh orang.
Kesimpulannya, kami berdua beruntung dapat dipertemukan dan bahkan, jika ditelusuri lebih jauh lagi, dipersatukan.
Ya, kami sudah dipersatukan oleh cinta yang tulus dan murni.
Cinta yang mengalahkan logika, ruang, dan waktu.
...
Ketakutanku akan kehilanganmu berbanding seimbang dengan ketakutanku untuk setia berteduh dalam payung cintamu.
Blue's POV
"HAH!?" aku hanya bisa melongo lebar-lebar.
"Aneh sekali, kau tidak ingin berpisah dengannya, tapi kau malah malu untuk dekat kepadanya. Ini kasus yang membingungkan," kata Crystal yang ada di samping Blue-san.
"Tunggu, Crys, sebenarnya kasus Yellow ini kasus yang sering muncul pada orang yang sedang jatuh cinta. Ini sering terdeteksi pada orang-orang yang hidup di pedesaan atau yang masih memakai jalur tradisional," kataku.
"Benar juga. Yellow hidup di pinggiran, jadi kalau dia seperti itu, sebenarnya itu karena memang itu sifat alaminya," kata Crystal.
"Lalu, bagaimana untuk mengurangi bagian itu? Kita jelas tidak bisa menghilangkan bagian itu karena itu jelas bagian dari Yellow itu sendiri," kataku.
"Kalau pendapatku, lebih baik kita biarkan saja Yellow melakukannya sendiri. Jelas itu akan membuatnya mengungkapkan perasaannya dengan cara alami," kata Crystal.
"Tapi Crys, dia sudah kuminta untuk melakukan itu, tapi dia tetap saja malu-malu kucing," kataku.
"Ya, itulah Yellow. Mau tidak mau dia harus melakukannya sendiri. Jangan sampai karena rasa malu berlebihannya itu membuatnya justru kehilangan kesempatan untuk dekat dengan Red," kata Crystal.
"Benar juga. Kita punya dilema di sini. Pertama, Red itu tidak peka dengan Yellow. Kedua, Yellow menyukai Red, tapi dia terlalu malu bahkan untuk melihatnya dari jarak 10 meter," kataku.
"Sepertinya ini harus kita pikirkan matang-matang," kata Crystal. Aku mengangguk karena setuju dengan perkataan Crystal.
Ya, pada akhirnya perbincangan ini tidak menghasilkan apa-apa selain waktu untuk memikirkan cara yang tepat agar Yellow bisa mendapatkan Red, lagi.
...
Kuendapkan janji yang tertanam di palung hati. Merelakan diri menjadi tiang dan jembatan tanpa syarat. Seada-adanya, setiada-tiadanya.
Red's POV
"Yellow, ayo menyeberang!" seruku kepada Yellow yang ada di sampingku, terlihat takut.
"Aku takut, Red-san, bagaimana kalau jembatannya rubuh?" tanya Yellow, khawatir.
"Kalau jembatannya rubuh, paling tidak kita mati bersama, tapi itu bukan hari ini," kataku, meyakinkan Yellow.
"Aku takut," kata Yellow sambil memeluk lengan kananku erat-erat.
"Baiklah, bagaimana kalau kita berjalan bersama meniti jembatan ini?" tanyaku.
"Mmmm ... boleh, tapi pelan-pelan saja, aku takut masalahnya," kata Yellow.
"Tenang saja, Yellow," kataku. Lalu aku dan Yellow mulai berjalan di atas jembatan itu, di bawahnya ada sungai dengan arus yang deras, namun aku dan Yellow berusaha untuk tidak melihat ke bawah agar rasa takut yang kami rasakan tidak terlalu besar.
Bayangkan ini seperti perjalanan hidup kami. Kami berjalan di sebuah jembatan bernama kehidupan, dimana jembatan itu tidak stabil dan bisa menjatuhkan kami kapan saja. Di bawah sana, ada kesengsaraan dan kesedihan. Di ujung jembatan sana, ada kebahagiaan dan kegembiraan. Kami berusaha untuk tidak jatuh ke bawah sana dan berjalan terus menuju kebahagiaan dan kegembiraan.
Kami melakukannya bersama karena kami tidak mampu kalau melakukannya sendirian. Aku sebenarnya bisa melakukannya sendirian, namun dengan meninggalkan orang yang kucintai, yang mana dia ketakutan untuk menjalani hidup ini tanpa aku? Tidak, aku tidak akan meninggalkan Yellow seperti itu.
Itu karena aku ingin membuat Yellow bahagia, tepatnya, hidup bahagia dan gembira bersamaku. Itulah mengapa aku ingin menyeberang jembatan hidup ini bersama Yellow.
Hanya Yellow yang bisa membuatku bahagia.
...
Tak bisa kutepikan rinduku dari adamu. Hatiku telah kaurenggut habis ke akar-akarnya. Mendakwamu setia berteduh dalam payung cintamu, satu-satunya.
Red's POV
Sial, aku ada di pengadilan sekarang. Anehnya, aku tidak melakukan apa-apa yang jahat pada siapapun, menurutku. Jadi, mengapa aku ada di sini?
Yang membuatku lebih terkejut, mengapa ada Yellow di sana, di kursi yang biasanya dipakai korban kejahatan, dan aku justru duduk di kursi dimana biasanya tersangka duduk.
Aduh, aku bisa jadi tersangka ini. Bagaimana ini?
"Saksi, tolong bacakan pernyataan Anda," kata hakim kepada saksi.
"Terima kasih, Yang Mulia. Menurut pengamatan kami terhadap kasus ini, terduga melakukan kesalahan dengan melukai sang pelapor dengan sadis dan mengerikan," kata sang saksi.
"Bisa Anda jelaskan maksudnya?" tanya sang hakim.
"Ya, terduga telah melukai hati sang pelapor dengan mengabaikan perasaan sang pelapor," kata sang saksi.
Aduh, aku mengabaikan perasaannya Yellow? Perasaan apa? Aku tidak mengerti, sama sekali.
"Begitu ya? Lalu, jaksa penuntut umum, apa hukuman yang cocok untuk terduga?" tanya sang hakim.
"Begini, Yang Mulia, menurut pasal 321 nomor 3 Undang-Undang tentang Percintaan nomor 33 tahun 2016, kami bisa merujuk ke pasal 22 dari KUHP nomor 44 tahun 2013, dengan pidana maksimal terduga harus mengakui perasaan sang pelapor di hadapan pengadilan secara langsung tanpa perantara, dan ditayangkan di seluruh stasiun televisi, radio, dipasang tayangan video langsung di situs video, dan disebarluaskan ke seluruh alam semesta memakai teleskop radio Arecibo," kata sang jaksa penuntut umum.
'Waduh, hukumanku beratnya minta ampun, tobat aku,' pikirku setelah mendengar hukuman aneh seperti ini.
...
Cinta itu cukup rasakan saja, tak lebih! Ketika ada syahdu merunut hari, ketika ada nyaman menyelinap di balik sepi, yakinkan saja itu cinta. Dan, cinta seperti itu yang semestinya kita makan mentah-mentah tanpa sisa.
Red's POV
"Jadi, ketika Pikachu siap menyerang, bagian organ elektrogenerator akan mulai bereaksi, menghasilkan reaksi berantai yang meningkatkan tegangan listrik yang awalnya hanya 2 volt dalam tubuhnya, kemudian akan dilepaskan menjadi 100.000 volt,"
Sial, seharusnya aku memperhatikan dosen saat beliau sedang mengajar, tapi aku justru malah memikirkan hal lain. Ayo fokus, Red!
"Kemudian, saat kesempatan menembak datang, organ itu akan mengurangi hambatannya sendiri terhadap udara luar, melepaskannya sebagai kilatan listrik bertegangan tinggi ..."
Yang kulihat sekarang justru fotonya Yellow sedang tersenyum. Cantiknya dia saat dia tersenyum. Aku ingin memandangnya terus.
Sial, fokus, Red!
Sementara itu ...
Yellow's POV
'Red-san pasti sedang memikirkanku. Aku bisa merasakannya. Pasti dia sedang memikirkanku. Dia rela tidak fokus dengan pelajarannya karena sibuk memikirkanku. Sambil melihat fotoku saat acara kelulusan tahun lalu. Aku sangat malu kalau dia melihat foto itu. Pernah sekali dia melihat foto itu dan dia langsung berkata kalau aku sangat manis dengan pakaian itu, tapi kemudian dia berkata kalau aku yang biasa-biasa ini juga manis,' pikirku. Bertambah sekarang pikiranku.
'Oh, ya, dia juga memfotoku setelah itu. Pasti dia juga melihatnya. Aku malu sekali!' sekarang aku hanya bisa menutup wajahku karena harus menahan malu.
...
Blue's POV
'Wah, kesempatan ini. Yellow pasti memikirkan Red dan jelas Red sedang memikirkan Yellow. Nanti pas istirahat, goda mereka ahhh ...' pikirku sambil tersenyum usil.
...
Aku tak pernah bisa marah. Karena bagiku kau adalah anugerah terindah yang mendekap barisan hariku penuh bahagia tumpah ruah. Sepotong senyum yang kautitipkan pada arakan senja, menghapus kesalku jadi tawa merekah.
Red's POV
"Red-san,"
"Ya, Yellow,"
"Kau sudah membaca buku itu sampai bagian mana?"
"Aku sudah membacanya sampai bagian dimana sang laki-laki tertidur tanpa berkata pada kekasihnya, kemudian pada pagi harinya, sang perempuan marah karena dia mengira si laki-laki ini sudah membuatnya baper dan memukulnya secara virtual beberapa kali," kataku.
"Ya, begitulah kalau perempuan marah. Mereka bisa lebih berbahaya daripada perang dunia. Itu juga yang aku rasakan saat aku melawan Guile Hideout," kata Yellow.
"Ya, berbahaya juga kalau kau marah, tapi aku tidak pernah merasakan kemarahan darimu," kataku.
"Red-san, kau adalah orang yang membuatku bahagia setiap hari dan aku tidak mungkin marah kepada orang yang membuatku bahagia setiap hari, apapun kesalahan yang kaubuat, tentunya selama kau tetap bersamaku," kata Yellow.
"Kalau sebaliknya?" tanyaku.
"Ya, katakan saja kau sudah menguap," kata Yellow dengan wajah manis tapi sedikit menakutkan dari nada bicaranya.
"Oh, oke," kataku sambil menelan ludah karena sedikit takut.
"Tenang saja, Red-san, maaf telah membuatmu sedikit takut," kata Yellow.
"Tidak apa-apa, tapi memang tidak akan ada orang yang bisa menandingi kemarahan seorang wanita," kataku, Yellow mengangguk.
"Bagaimana kalau kau membaca bagian berikutnya, tapi aku ikut denganmu?" tanya Yellow.
"Tentu saja," kataku, lalu kami berdua membaca buku itu bersama.
...
"Red-san,"
"Ya?"
"Mengapa si perempuan memberikan hukuman yang seperti ini?" tanya Yellow.
"Sepertinya lain kali kita perlu mengunjungi pembuat buku ini. Untung saja ini kisah nyata," kataku. Inilah reaksi kami saat kami membaca bagian hukuman yang harus diterima si laki-laki; foto panas.
...
Coba memahami lagi arti hadirmu yang telah menancapkan getar-getar indah di setiap kedip mata. Membawa serta segenap rasaku dalam perjalanan yang menasbihkan jejak cinta di setiap alurnya.
Yellow's POV
Sol 1
Aku tidak peduli aku datang ke Mars dengan siapa. Aku hanya tahu kalau misiku adalah untuk memahami apa yang terjadi pada Pikachu jika mereka dibawa ke Mars. Aku hanya tahu nama orang yang datang ke Mars bersamaku.
Red.
...
Sol 10
Sudah 10 Sol, dan terlihat bahwa Pikachu yang aku bawa, Chuchu, terlihat senang, namun kadang murung karena dia sendirian. Dia butuh teman.
Aku terkejut karena ternyata Red memiliki Pikachu juga, yang mana dia juga terlihat sedih. Saat kami bertemu dan akhir mempertemukan kedua Pikachu itu, kedua Pikachu itu nampak sangat senang sampai melompat tinggi sampai atap. Maklum, gravitasi Mars lebih lemah daripada Bumi.
"Namanya Pika,"
...
Sol 50
Aku dan Red mulai membicarakan Pikachu kami yang nampak gembira. Namun di tengah kegembiraan itu, Pika tiba-tiba terlihat seperti menunjukkan tingkah laku yang tidak biasa. Lalu ...
Sol 60
Aku melihat benda aneh di dekat Pika dan Chuchu yang sedang tidur bersama. Setelah aku melihatnya dekat-dekat, ternyata itu adalah telur. Pika dan Chuchu menghasilkan telur! Ini pertama kali terjadi di Mars dimana spesies Bumi melakukan reproduksi yang sukses di Mars!
Ini memberikan catatan baik bagiku sebagai peneliti mereka, namun juga memberikanku firasat aneh karena ini berkaitan dengan apa yang dikatakan guruku waktu aku masih ada di Bumi.
"Jika kedua Pokemon satu spesies saling mencintai, namun berbeda pemilik, pemilik itu akan mengalami nasib baik yang sama dengan Pokemon mereka,"
Dan benar saja, aku sebenarnya menyukai Red. Namun aku masih terlalu malu untuk mengungkapkannya. Ditambah lagi dengan belum adanya kisah cinta yang kompleks terjadi di Mars untuk manusia.
Sepertinya perjalananku dan Red sebagai pasangan romantis dari Mars akan segera dimulai.
...
Menjelajah setiap inci wajahnya yang berbinar indah dan menampilkan dua bola mata beningnya. Membuatku selalu ingin berenang di dalamnya. Di sudut warung itu, keakuanku mencapai puncaknya. Aku makin cinta, ternyata!
Red's POV
Aku memandang wajah Yellow yang manis. Pipinya lembut kalau dibelai dan kadang berubah jadi merah, yang mana itu menambah kemanisannya. Rambutnya juga lembut, bahkan ditambah wangi. Mata kuning kecoklatannya memperlihatkan wajah polos yang penuh kegembiraan, yang mana itu bisa menular padaku kapan saja.
Saat aku memandangnya, Yellow seperti malaikat kecil yang turun dari surga tertinggi dan surga kenikmatan bergabung menjadi satu. Berkumpul menjadi seorang Yellow yang sedang kupandang itu. Rasanya aku tidak ingin melepaskan pandanganku darinya, bahkan walaupun itu hanya 1 pikosekon sekalipun. Aku tidak ingin berkedip dan membuatku kehilangan sebuah pemandangan yang lebih indah daripada seluruh keindahan alam semesta digabung menjadi satu.
Yellow bahkan sekarang memandangku. Aku terasa seperti seorang pangeran yang dipandang oleh seorang putri cantik jelita. Terhormat dan disegani. Kami berdua terlihat senang dapat saling memandang selama ini.
"Red, ini jahenya," kata seseorang yang ada di dekat kami. Sang pelayan. Dan aku baru sadar kalau aku dan Yellow sedang ada di warung makan.
Ya, rasa malu ada, rasa senang ada, rasa canggung ada. Gado-gado intinya.
...
Lebur luluh dalam janji hati. Hanya ada dia, satu-satunya ... tak ada kedua. Mengurung namanya dalam magis cinta yang melumat logika tak bersisa.
"Red dan Yellow memang dua orang yang luar biasa ketika kita bicara tentang cinta. Aku benar-benar berharap bisa belajar dari mereka berdua," kata Ruby.
"Aku senang kali kalian akhirnya sampai ke ujung jalan perjuangan pertama. Terus semangat, Red, Yellow! Masih ada jalan panjang membentang yang akan kalian lalui bersama!" seru Sapphire.
"Kalian berdua seperti perpaduan antara jahe dan susu. Red adalah jahe yang menghangatkan sedang Yellow adalah susu yang murni, putih hatinya seperti susu. Ketika keduanya dicampur, hasilnya akan sangat luar biasa lezat. Itulah kalian," kata Diamond.
"Rolling, camera, action! Kalian sudah melakukan adegan cinta yang alami. Tidak ada paksaan ataupun tekanan. Jika saja kisah kalian dijadikan film, pasti BW Agency akan untung besar!" seru White.
"Semua perhitungan ini tidak ada gunanya. Cinta kalian diluar ekspektasi. Selamat untuk kalian. Aku tunggu kejutan lainnya dari kalian," kata Crystal.
"Ingatlah, generasi mendatang butuh pendukung. Dukunglah generasi penerus itu, Red. Buat dia memiliki nasib yang lebih baik daripada kita yang hanya berjalan sendiri ini," kata Silver.
"Terima kasih, kawan-kawan. Yellow?" tanya Red. Yellow masih terlihat terharu setelah akad nikah mereka berdua tadi. Dia masih menangis di dalam kebahagiaannya.
"Sudah, Yellow, aku tahu kau sedang berbahagia karena kita sudah resmi sekarang," kata Red sambil menenangkan Yellow.
"Teman-teman, sepertinya kita perlu mempersiapkan dekorasi resepsinya," kata Emerald.
"Aku setuju. Ayo!" seru Black, lalu teman-teman Red dan Yellow bergegas mempersiapkan dekorasi, meninggalkan Red dan Yellow yang masih saling berpelukan.
"Red-san,"
"Yellow,"
...
Terima kasih ...
...
Pagi yang begitu sempurna. Bersamanya kureguk bahagia yang menelantarkan setiap gundah. Semburat matahari, dan sapa manjanya, melenakanku dalam syahdu yang tak usai-usai.
"Selamat pagi, Red-san,"
"Selamat pagi juga, Yellow. Bagaimana tidurmu?"
"Memuaskan sekali. Setelah kerja keras seharian, tidur seharian seperti hadiah yang pantas didapatkan,"
"Aku setuju, apalagi kalau tidur bersama orang yang kau cintai. Tidurnya akan sangat pulas,"
"Apalagi ada teman tidur yang bisa dipeluk setiap hari,"
"Lalu saat pagi harinya, bisa melihat indahnya alam semesta digabung menjadi satu tepat di depanku,"
"Awww, Red-san!"
"Tapi jangan terlalu keras memeluknya, nanti aku sesak napas,"
"Tenang saja, Red-san, aku lebih suka memelukmu dengan lembut karena kau juga sering memberikanku pelukan lembut,"
"Intinya, kita suka saling memeluk,"
"Bagaimana kalau kita saling berpelukan lagi?"
"Nanti kita terlanjur tidur lagi,"
"Ini hari Minggu, Red-san. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menikmati hari dengan orang yang dicintai, dan untuk kasus kita berdua, lebih enak tidur lagi,"
"Baiklah, kalau itu maumu,"
"Aku peluk ya,"
"Silakan, aku juga ingin memelukmu,"
Dan akhirnya mereka berdua berpelukan lagi, lalu tidur lagi. 3 jam setelah mereka mulai tidur lagi, akhirnya mereka bangun lagi.
"Yellow,"
"Ya, Red-san?"
"Aku lapar,"
"Mau makan?"
"Ya, tapi sama Yellow,"
"Ah, dasar Red-san, katakan saja ingin disuapi,"
"Hehehe,"
Sekian. Ini pasangan macam apa ini? Tentunya pasangan romantis yang lebih suka hidup sederhana tapi penuh cinta.
...
Meluluhkanmu dalam adaku. Menasbihkan satu cinta yang terjalin. Hari ini, esok, nanti, dan seterusnya ...
Red's POV
"Yellow maniiiissssss!" seruku saat melihat pakaian yang dipakai oleh Yellow pada acara ulang tahunnya Green.
"Nah, Yellow, benar kan apa kataku? Dia pasti menyukainya," kata Blue di belakang Yellow.
Yellow memakai gaun lengan panjang berwarna kuning polos dengan rambut yang tidak biasanya tidak diikat. Lalu ada penjepit rambut di bagian samping rambutnya, menata sedikit rambutnya. Terlihat bahwa Yellow jadi lebih cantik dan anggun dengan pakaian itu.
"Ini idenya siapa, Yellow?" tanyaku.
"Emmm, ini sebenarnya idenya Blue-san, terus dibantu Ruby dalam pembuatannya," kata Yellow.
"Ya, apapun itu, kau cantik dengan pakaian itu, maksudku, kalau kau memakai pakaian apapun, kau cantik, ah, bagaimana mengatakannya ya?" tanyaku agak gugup.
"Red salah tingkah ya?" tanya Blue yang berbisik usil di sampingku. Aku hanya bisa memerahkan pipiku karena apa yang dikatakan Blue benar. Aku sedang bingung ingin mengatakan apa lagi kepada Yellow.
"Kalau kau bingung ingin mengatakan apa, mengapa kau tidak menikahi Yellow saja?" tanya Blue.
Sialan kau, Blue, sialan.
"Eh, kalian sudah datang. Selamat datang di pestaku. Maaf kalau hanya sederhana," kata Green yang baru saja datang.
"Greeny! Lihat, Red dan Yellow sama-sama malu-malu kucing," kata Blue sambil menunjuk kami berdua yang sekarang saling berdampingan.
"Wah, wah, wah, sepertinya akan ada yang akan bersatu menjadi kekasih dalam waktu dekat ini. Selamat untuk kalian berdua, Red, Yellow," kata Green.
Yellow hanya bisa terdiam di sampingku sambil menutup wajahnya. Sementara aku ...
Sialan kalian berdua.
...
Keakuanku telah menembus batas puncak nalar. Hanya bisa terjamah oleh kalam perasaan. Tak peduli sekat menyekat di setiap jejak, aku selalu percaya: apapun akhir yang menyudahinya, tak pernah ada kata salah meluluhkan cinta hanya untuk satu nama.
Red dan Yellow memang tidak pernah menyangka bahwa mereka harus berada pada posisi yang sangat jauh satu sama lain. Namun mereka juga tidak pernah menyangka bahwa dari jarak yang jauh itu, mereka dapat saling mencintai dengan lebih mesra dan dekat, bahkan jauh lebih dekat daripada saat mereka masih berada pada satu posisi yang sama.
Hari ini, Red dan Yellow akan melakukan panggilan video pertama mereka. Red dan Yellow duduk di depa komputer mereka masing-masing dan aplikasi panggilan video sudah menyala. Tinggal menghubungi target saja.
Masalahnya satu. Keduanya masih sangat canggung dalam masalah yang satu ini. Hanya untul mengeklik tombol "panggil" saja, mereka bersusah payah menghilangkan kecanggungan mereka.
Masalahnya ada lagi. Kalau saja mereka berhasil, apa yang akan mereka bicarakan? Mereka sama-sama bingung mencari topik pembicaraan.
Kecanggungan adalah sekat mereka kali ini. Mereka harus menyingkirkan sekai ini sesegera ini akat mereka akan kehabisan waktu karena kegiatan mereka yang sangat banyak di tempat mereka masing-masing.
Satu tarikan napas, dan mereka berdua sama-sama mengeklik tombol "panggil".
"Halo, Red-san,"
"Halo, Yellow,"
Mereka saling menyapa dalam waktu bersamaan. Canggung lagi.
Setelah beberapa saat keheningan menjebak mereka berdua, akhirnya Red memutuskan untuk memulai percakapannya.
"Hai, Yellow, bagaimana kabarmu?"
"Ba ... baik, Red-san,"
"Aku juga baik-baik saja, terutama setelah aku bertemu denganmu sekarang,"
Dan berhenti lagi, dan canggung lagi. Lagi.
...
Mencetak jejak rindu di Pulau Bali, bersamanya. Terik mentari, hamparan sawah. Debur ombak, dan dekapan manja—menyatu dalam satu kidung syahdu yang memagut.
Yellow's POV
"Wah, indah sekali pantainya!" seruku di samping Red-san.
"Ya, pantainya ramai. Pasti tempat ini terkenal," kata Red-san.
Aku dan Red-san sedang berlibur ke Pulau Bali sebagai acara bulan madu kami. Kami punya beberapa tempat tujuan wisata dan kali ini, kami ada di Pantai Sanur.
"Sayang kita datang di waktu yang kurang tepat. Seharusnya kita datang ke sini sebelum matahari terbit, jadi kita bisa melihat pemandangan matahari terbit dari sini," kataku.
"Nah, bagaimana kalau kita pergi ke tempat oleh-oleh terkenal di Bali?" kata Red-san.
"Boleh!" Kataku, lalu kami berdua bergerak dari Sanur ke tempat berikutnya.
Di perjalanan, kami melihat sawah yang luas terbentang. Kami berdua melihatnya dari dalam bis yang membawa kami.
"Red-san,"
"Ya, Yellow?"
"Sawahnya luas sekali," kataku.
"Aku juga heran, sawahnya juga tersusun rapi dan indah. Seperti lukisan saja," kata Red-san.
"Bedanya, ini nyata," kataku.
"Tunggu sebentar, Yellow, aku ambil tisu dulu," kata Red-san sambil mengambil tisu dari tas kecil yang dia bawa.
"Mengapa, Red-san?" tanyaku. Lalu Red-san menemukan tisunya, mengambil selembar, dan mengelap dahiku.
"Kau berkeringat banyak. Aku ingin membersihkan wajahmu," kata Red-san. Aku langsung tersipu setelah melihat tindakan suamiku ini.
"Red-san, kau tak perlu melakuaknnya," kataku.
"Tidak apa-apa, umpamakan saja ini pelayanan sederhana dari suamimu ini," kata Red-san.
"Ah, Red-san! Jangan membuatku malu sekarang!" serunya sambil menutup pipinya. Aku sudah terbiasa dengan ini, jadi aku hanya tersenyum saat melihatnya tersipu.
...
Menikmati setiap inci pipinya yang memerah oleh terik mentari di sepanjang jalan Kuta.
Red's POV
Masih di perjalanan menuju tempat oleh-oleh itu, aku teringat sesuatu.
"Kau tahu? Pipimu yang merah itu mirip dengan pipi merahmu saat kita ada di perjalanan ke Pantai Kuta kemarin," kataku.
"Benarkah?" tanya Yellow.
"Benar, Yellow," kataku.
Kemarin, aku dan Yellow sempat berjalan ke Pantai Kuta. Sebuah sore yang indah ketika aku dan Yellow ada di sana. Aku dan Yellow melihat banyak orang berlalu lalang di jalanan di dekat Pantai Kuta.
Pada suatu waktu, kami berada di dekat salah satu daerah yang terkenal. Monumen Ground Zero.
"Red-san, mengapa kita ada di Monumen Ground Zero?" tanya Yellow.
"Ya, ada sesuat yang membuatku ingin datang kemari," kataku.
"Mengapa?" tanya Yellow.
"Banyak orang yang sedih karena kehilangan orang yang mereka cintai karena tindakan yang seharusnya tidak perlu, dan itu terjadi di sini," kataku.
"Apa maksud Red-san?" tanya Yellow.
"Bom. Tempat ini pernah dibom. Mereka mengebom orang yang tidak bersalah dan membuat orang lain menderita baik fisik maupun mental," kataku.
"Jahatnya," kata Yellow sambil memeluk tanganku.
"Sudah, mereka memang jahat, dan itu memang tugas kita untuk mengalahkan mereka. Mereka itu seperti Team Rocket. Kita akan mengalahkan mereka," kataku sambil memandang Yellow dengan yakin.
"Aku harap mereka semua beristirahat dengan tenang," kata Yellow sambil memandang bagian monumen dimana nama korbannya tertuliskan.
"Sudah, biar tidak sedih, ayo kita ke pantai," kataku, lalu kami berlari ke arah pantai.
"Lalu saat kau ada di pantai, pipimu memerah karena kelelahan," kataku sebelum melihat Yellow tertidur di sampingku.
"Eh? Yellow? Yellow?" tanyaku, melihat Yellow tidur.
...
Melupakan keindahan Pantai Kudeta, melukis senja ditempias lembap udara di sepanjang Jalan Legian-Kuta. Bersama senyumnya yang merona rindu dan lembut sapa yang mengurai bahagia.
Red's POV
Ah, selagi menunggu Yellow bangun atau bisnya sampai ke tujuan, lebih baik aku membayangkan lagi apa yang terjadi kemarin.
Aku dan Yellow berlari dari Ground Zero ke Pantai Kuta dengan gembira. Saat kami sudah ada di jalan yang berseberangan dengan Pantai Kuta, kami berhenti sejenak.
"Hah, hah, hah, aku lelah, aku lelah, Red-san," kata Yellow.
"Maaf, Yellow, sepertinya aku terlalu bersemangat," kataku.
"Lain kali, tahan semangatnya, Red-san. Lagipula acara puncak kita itu pada malam nanti. Nanti kalau kau sudah terlalu lelah karena semangatnya sudah dilepaskan sekarang, bagaimana?" tanya Yellow. Itu mengingatkanku.
"Oh, ya, benar juga. Baiklah, aku akan sedikit santai kali ini," kataku.
"Nah, harusnya kan begitu," kata Yellow. Lalu aku dan Yellow mampir ke salah satu kafe di pinggir jalan dekat pantai. Aku dan Yellow duduk di salah satu kursi di kafenya.
"Kau tahu? Kau terlihat cantik dengan sinar senja menyidari wajahmu," kataku, mulai menggoda.
"Ayolah, Red-san, kita semua tahu kalau kau bukan Blue-san," kata Yellow. Aku terkekeh karenanya.
"Tapi aku serius tentang kecantikanmu. Aku akui, kalau kau tidak perlu kosmetik untuk menjadi cantik," kataku.
"Red-san, jangan membuatku malu di sini," kata Yellow. Kemudian, seseorang menghampiri kami.
"Permisi, ini daftar menunya," kata seorang pelayan yang ada di kafe itu.
"Bagaimana, Red-san?" tanya Yellow.
Waktunya memikirkan apa makanan yang akan dipesan.
...
Kecupan yang mendarat telak di pipinya yang memerah, menuntaskan bahagiaku hingga ke akar. Malam ini, tak ada lagi selain dia dan cinta yang makin menggurat keakuannya di sekitar Pantai Kuta.
Red's POV
"Red-san,"
"Ya, Yellow?"
"Matahari terbenamnya indah sekali. Benar kan, Red-san?" tanya Yellow.
"Aku setuju, Yellow," kataku.
"Lalu, kita akan melakukan apa sore ini, di balkon hotel dimana kita berada ini?" tanya Yellow.
"Aku juga tidak tahu. Aku bingung," kataku.
"Bagaimana kalau acara saling memandang?" tanya Yellow.
"Boleh," kataku. Lalu kami berdua saling berusaha untuk memandang lebih lama. Aku memandang Yellow, dan Yellow memandangku. Kami berusaha untuk tidak berkedip. Walaupun kami harus merasakan perih di mata karena kontak dengan dunia luar yang lebih lama.
Namun akhirnya, aku mengedipkan mataku karena aku tidak kuat.
"Hore, aku menang!" seru Yellow.
"Baiklah, aku menyerah, aku mengaku kalah kali ini," kataku kepada Yellow yang bertingkah senang.
"Lihatlah, aku menang kalu ini, Red-san. Bagaimana kalau kita lakukan lagi?" tanya Yellow.
"Oke, siap!" seruku. Lalu kami berdua melakukan lomba saling menatap lagi. Setelah 28 kali, aku hanya menang 2 kali.
"Nah, akhirnya, bagian hukumannya. Cium pipiku, Red-san," kata Yellow.
"Serius? Kau ingin aku mencium pipimu?" tanyaku. Yellow mengangguk.
Dan pada saat itulah aku mencium pipinya Yellow dalam kehidupan biasa untuk pertama kalinya. Memang sedikit canggung pada awalnya, namun ciuman itu membuat kami terasa semakin dekat. Aku menyukainya. Aku yakin Yellow juga menyukainya.
"Terima kasih, Red-san," kata Yellow dengan pipinya yang memerah.
"Sama-sama, Yellow sayang," kataku.
"Red-san! Jangan panggil aku 'sayang'! Aku jadi malu!" seru Yellow.
Aku suka bermain-main dengan istriku tercinta.
...
Di lentik jemari telapak kakimu, kau tebar keteduhan yang meninabobokkan pasir di Pantai Kuta dan aku. Lelap dalam segenap rindu dan cintamu, satu seutuhnya.
Red's POV
Ini sudah malam, dan seharusnya kami berdua sudah ada di hotel untuk beristirahat. Namun, justru Yellow mengajakku untuk keluar dan berjalan-jalan ke pantai.
"Yellow, ini sudah malam, seharusnya kita beristirahat," kataku.
"Aku tidak bisa tidur karena tadi aku sudah tidur," kata Yellow.
"Benar juga. Bagaimana aku bisa lupa ya? Oh, ya. Saat kau tidur, aku mengingat kembali apa yang terjadi kemarin," kataku.
"Benarkah?" tanya Yellow.
"Ya, dari bagian saat kita di Ground Zero, lalu saat kita berlari ke kafe, kemudian, saat kita melihat matahari terbenam di pantai ini, lalu bermain lomba menatap, lalu kemudian, ya, itu," kataku.
"Ya, banyak juga yang kita kenang di sini. Aneh juga, aku tidak merasa lemas paginya dan langsung bergerak enak," kata Yellow.
"Ya, dan itu berefek pada pola tidurmu, Yellow," kataku.
"Ya, itu benar juga sih," kata Yellow, mengingat apa yang terjadi padanya seharian ini.
"Juga, lebih enak berjalan di pantai kalau kau melepas sandalmu. Lihat aku," kataku sambil menunjukkan kakiku padanya yang tidak memakai sandal.
"Benar juga," lalu Yellow melepaskan sandalnya. Yellow menutup matanya sambil merasakan sensasi berbeda di kakinya karena pasir itu.
Aku memeluk Yellow dari belakang dan berbisik di telinganya.
"Aku mencintaimu, Yellow," kataku. Kemudian, Yellow mencium pipiku dan membalas.
"Aku juga mencintaimu, Red-san," kata Yellow. Kemudian, kami menonton langit malam yang penuh bintang, memberikan keindahan tersendiri untuk kami lihat setiap malam.
...
Warna-warni adamu, tak menyurutkan langkahku untuk terus berada dalam payung bening dua mata indahmu. Di batas lelah yang menghampiri ragaku, kutelan segalamu. Tawa, sedih, bahagia, dan luka jadi bunga wangi dengan rekah bahagia, bersamamu.
Semua hal yang terjadi pada Red dan Yellow pada saat itu tidak akan dapat dilupakan. Ketika sebuah generasi baru terlahir dan semua emosi masuk ke dalamnya.
Ini dimulai dari suatu malam yang tenang. Mungkin, tidak sepenuhnya tenang, bagi Red.
"Dokter sudah berkata bahwa kau akan segera melahirkan dalam waktu beberapa hari. Aku harus bersiap-siap," kata Red.
"Aneh, padahal aku yang melahirkan, tapi kau yang khawatir," kata Yellow.
"Aku ingin meyakinkan kalian berdua aman," kata Red.
Kemudian, hantaman itu. Hantaman yang membuat kekhawatiran memuncak. Ketika akhirnya Yellow bersiap untuk melahirkan. Akhirnya, dengan susah payah, Red mengantar Yellow ke rumah sakit terdekat.
Ketika sudah berada di rumah sakit terdekat itu, Yellow tidak ingin melepaskan tangannya dari Red, dan akhirnya Red berada di samping Yellow di sepanjang masa persalinan.
"Red-san,"
"Ya, Yellow,"
"Kumohon, jangan pergi dariku, tetaplah di sampingku, aku tak ingin sendirian," kata Yellow.
"Tenang saja, Yellow. Aku akan selalu mendampingumu selama masa persalinan ini. Ya, tentunya dengan beberapa menit izin ke toilet tentunya," kata Red.
"Aku tahu, Red. Kita berjuang bersama. Oke?" tanya Yellow. Red mengangguk dan mencium keningnya Yellow.
Pada akhirnya, proses menyakitkan harus dijalani Yellow, dan Red ada di sana untuk memberikannya ketenangan dan semangat. Dan pada puncak acaranya ...
...
"Kita namakan siapa, Red-san?"
"Bagaimana kalau nanti saja? Kita perlu istirahat dulu,"
"Baiklah, Red-san. Mimpi indah, Red-san,"
"Mimpi indah, Yellow,"
...
Tenang menjelang, senjaku merayap khusyuk dalam timang kesyahduan. Terima kasih ... kau izinkan aku berenang di lautan mata beningmu hingga gerahku hilang.
Di suatu sore yang tenang di pinggiran Hutan Viridian, ada sebuah rumah kecil yang indah, dimana ada dua orang tua yang tinggal di sana. Satu dari mereka adalah seorang perempuan tua yang sedang duduk di kursinya sambil menggambar sesuatu di bukunya. Walaupun tua, kualitas gambarnya masih mumpuni.
Sementara itu, ada juga seorang laki-laki tua yang sedang menyirami beberapa pot bunga di halaman rumah mereka. Setelah selesai menyirami tanamannya, laki-laki ini berjalan menuju perempuan tua itu dan melihat apa yang dia gambar.
"Apa yang sedang kau gambar, istriku?" tanya sang laki-laki.
"Masa lalu kita, suamiku," kata sang perempuan.
"Masa lalu yang bagian mana, tepatnya?" tanya si laki-laki.
"Ya, ketika kita berdua berdiri bersama di bawah pohon itu," kata sang perempuan sambil menunjuk pohon besar di depan rumah mereka.
"Ah, hari pertama kita ya?"
"Ya,"
64 tahun yang lalu, Red dan Yellow menikah, dan hal yang mereka lakukan sebelum memasuki rumah mereka adalah berdiri di bawah pohon besar.
"Red-san,"
"Ya, Yellow,"
"Akhirnya kita bisa menikah juga," kata Yellow.
"Setelah perjuangan berat selama bertahun-tahun, akhirnya bisa jadi kenyataan," kata , Red mengambil batu dan mulai mengukir sesuatu pada batang pohon itu.
"Apa yang kaulakukan, Red-san?"
"Mengukir nama kita, semoga cinta kita bisa abadi, selama adanya ukiran ini," kata Red.
Ukiran itu bertuliskan "RedxYellow".
"Itu yang kubuat, Red-san," kata Yellow.
"Aku yakin pasti bisa bertahan. Tadi aku ke pohon itu dan ukirannya masih ada," kata Red.
"Aku juga yakin, Red-san," kata Yellow.
Ada rahasia kecil dari itu. Tiap malam, Red mengukir kembali tulisan itu agar tidak hilang. Ini diibaratkan seperti usaha Red untuk mempertahankan hubungannya dengan Yellow agar tidak surut dimakan waktu.
...
Keakuan perasaan yang mengerontangkan isi hati tanpa syarat. Setia memuja rindu dan cintamu, satu—dalam genggaman janji yang disucikan. Semuanya luruh sudah di sudut rasaku, malam ini.
Di luar cerita ...
"Bagaimana kalau kita membicarakan masa depan, Red-san?"
"Boleh. Apa yang kau pikirkan?"
"Masa depan kita, saat kita menikah,"
"Maksudnya?"
"Ya, seperti kapan, bagaimana, dimana, seperti itu,"
"Ya, kalau tentang kapan, asalkan kita berdua sudah siap, aku siap kapan saja,"
"Benarkah?"
"Ya, tidak juga, namun seandainya aku sudah siap sekarang, aku siap,"
"Benar juga,"
"Lalu, aku lebih suka yang sederhana, sepertimu. Acara pernikahan yang sederhana, tapi bermakna bagi kita berdua,"
"Benar juga. Pernikahan tidak perlu mahal-mahal,"
"Lalu, tentang dimana, di rumah pun tidak masalah,"
"Rumahnya siapa?"
"Ya terserah maumu. Mau di rumahku, aku siap, mau di rumahmu, aku juga siap,"
"Asalkan sudah siap, semuanya beres,"
"Aku setuju denganmu,"
"Jadi sekarang, apa yang akan kita lakukan?" tanya Yellow.
"Menjaga hubungan cinta kita tetap kuat dan kokoh bagaikan bangunan tua yang masih bisa dipakai," kata Red.
"Hubungan yang seperti itu pastinya butuh perjuangan keras," kata Yellow.
"Tapi lebih ringan karena kita melakukannya bersama," kata Red.
"Kau benar, Red-san," kata Yellow, setuju dengan apa yang Red katakan.
...
Dalam cintamu, kumamah tawa dan sedih. Pada segalamu tak kutakar lagi.
"Mengapa pertanyaan ini dikembangkan lagi?" tanya seseorang kepada satu orang lainnya.
"Karena pada saat kita bertanya padanya, tetap saja jawabannya sama, makanya sekarang pertanyaannya kuganti," kata satu orang lainnya itu.
"Sepertinya kita bisa memulai pertanyaannya. Korban sudah siap," kata seseorang itu.
"Baiklah," dan proses yang sama dimulai lagi. Yellow yang terikat pada kursi sepertinya juga sudah memliki jawaban yang tepat untuk setiap pertanyaan mereka.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Green?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Gold?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Silver?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Ruby?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Emerald?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Diamond?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Pearl?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Black?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Lack-Two?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya X?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Lance?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Bill?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya Steven?" Yellow menggeleng.
"Apakah kau ingin tertawa dan menangis dalam cintanya N?" Yellow menggeleng.
"Hei, aku sudah bosan dengan pertanyaan kalian. Sudah, bebaskan aku saja," kata Yellow dengan santai.
"Ya sudahlah, kita juga kapok menculikmu terus, pasti jawabannya sama saja," kata seseorang itu.
Ya, hanya Red yang Yellow mau.
...
Semesta pesonamu makin membukit di atas rindu yang setia kujaga ... dalam barisan hari yang tak lelah mengecup damba bahagia, satu-satunya.
Hari pertama, kecantikanmu seperti rembulan yang sedang purnama. Cerahnya hatimu menerangi malam gelap dan membuat malam menjadi saat indah untuk menyatukan cinta kita.
Hari kedua, engkau adalah matahari, pemberi semangat pagi bagi banyak orang, namun memberikan semangat cinta hanya kepadaku.
Hari ketiga, engkau adalah bumi, tempat dimana aku akan kembali dari setiap perjalanan hidupku. Tempat aku bersandar saat aku lelah dan beristirahat.
Hari keempat, engkau adalah nebula, keindahan yang berwarna-warni dengan aneka ragam bentuk dan ukuran, seperti engkau yang terus ceria dan memberi warna indah pada hidupku.
Hari kelima, engkau adalah bintang. Pemberi keindahan malam dengan berlian yang bertebaran pada beludru hitam yang luas bernama langit malam. Matamu adalah salah saatu berlian yang jatuh ke bumi dan menjelma menjadi bidadari yang turun dari surga tertinggi.
Hari keenam, engkau adalah galaksi. Besar dan kecil, semuanya adalah hasil bersatunya bintang-bintang. Saat kita menyatukan kedua kekuatan cinta kita, kita menciptakan galaksi kita sendiri. Galaksi cinta yang luas tak terhingga.
Hari ketujuh, engkau adalah alam semesta. Engkaulah segalanya dalam hidupku. Tidak ada engkau, berarti alam semestaku tidak ada juga. Di sanalah aku lahir, disana aku hidup, dan disanalah aku mati. Aku terlahir kembali setelah aku mencintaimu. Aku ingin hidup di dalam cintamu. Aku ingin mati di dalam dekapan cintamu.
... karena engkau adalah semestaku ...
Yellow
...
Kali ini, aku dan Yellow berada sangat jauh. Yellow ada di Bumi sementara aku ada di planet Mars. Aku ingin mengirimkan sesuatu padanya. Sesuatu yang membertahukan dunia bahwa aku hanya mencintai Yellow, sejauh apapun itu. Setelah bingung dengan apa yang akan kulakukan, aku menemukan ide yang terdengar aneh tapi bagus.
Idenya adalah membuat tulisan besar dengan susunan batu. Pemotret Mars yang sedang mengorbit pasti akan melihat tulisan itu dan manusia Bumi, termasuk Yellow, pasti akan tahu.
Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang akan kutuliskan?
Ya, aku mengalami dilema untuk bagian yang satu ini. Ya, dilema, karena aku tidak punya ide untuk menuliskan apa. Aku hanya berputar-putar di pangkalanku sambil memikirkan apa yang akan kutulis.
Kemudian, aku teringat bahwa Yellow membawakanku satu buku. Buku itu berisi tentang tulisan-tulisan cinta yang menghangatkan hati. Aku mencari buku itu, dan setelah aku menemukannya, aku membacanya. Saat aku membaca bagian demi bagian, aku juga mencoba untuk mencari kalimat yang cocok untuk pesanku. Dan saat aku berhenti pada suatu kalimat, aku berpikir bahwa inilah yang akan kupilih.
Sebuah kalimat di bagian terakhir suatu bab. Tulisannya adalah seperti ini.
"Pada segalamu, aku ingin rindu ini menjamu nyata dan bermakna ..."
Aku menuliskannya dan menyelipkannya pada pakaian ruang angkasaku, dan keluar dari pangkalan, mulai menyusun batu-batu Mars menjadi kalimat yang aku inginkan. Memang aku butuh batu yang banyak untuk membuatnya terlihat dari pengorbit. Karena itulah aku punya waktu sampa 7 sol untuk menyelesaikannya.
Setelah menunggu lama, tentunya karena aku harus menunggu kabar dari Bumi, akhirnya aku menemukan sebuah pesan baru, dan saat aku membukanya, isinya adalah berita mengenai tindakanku.
"Seorang astronot yang berada di Mars menyusun batuan dengan kata-kata romantis kepada istrinya,"
"Astronot Mars menulis kata romantis, sang istri terharu,"
Bahkan, ada foto yang menunjukkan tulisan itu. Untung saja ternyata tulisannya cukup besar untuk dibaca. Tulisannya adalah tulisan yang kutemukan saat itu, dan ditambah beberapa kata yang lain.
"Pada segalamu, aku ingin rindu ini menjamu nyata dan bermakna ..."
"Bersabarlah, istriku, aku akan segera pulang,"
Ya, aku akan segera pulang ke Bumi. Peluncuran yang akan kulakukan akan dilaksanakan minggu depan. Tinggal tunggu saja waktunya tiba, dan aku akan kembali ke Bumi, ememluk istriku seperti aku belum pernah memeluknya sama sekali. Memeluknya dengan lembut dan hangat, menyambut kedatanganku ke Bumi.
Aku tidak sabar menunggu hari itu datang.
Di luar cerita ...
"Red-san?"
"Ya, Yellow?"
"Mengapa kau membayangkan Mars?"
"Maklum, belakangan ini, manusia sedang erbusaha untuk mendaratkan manusia di Mars,"
"Oh, pasti diberi tahu dari Crystal ya?"
"Ya, begitulah. Luar biasa juga kalau sampai bisa terjadi," kata Red.
"Aku jadi ingat kalau manusia baru saja berhasil sampai ke Bulan," kata Yellow.
"Nah, manusia ingin menambah prestasinya lagi dengan pergi ke Mars," kata Red.
"Semoga saja tujuan manusia ke Mars bisa terwujud,"
"Amin,"
"Red-san,"
"Ya?"
"Kalau sekiranya, kita ada di Mars, apa kita bisa saling mencintai seperti kalau kita ada di Bumi?" tanya Yellow.
"Tentu bisa. Cinta itu tidak terbatas di Bumi saja. Cinta itu ada di mana-mana, tidak tergantung oleh ruang dan waktu. Jika kita bisa saling mencintai walaupun terbatas ruang dan waktu, itu berarti cinta kita mengalahkan ruang-waktu," kata Red.
"Kau benar, Red-san. Kita berdua harus kuat, baik saat kita bersama maupun saat kita terpisah jauh," kata Yellow.
"Hubungan kita, jika bisa mengalahkan ruang dan waktu, tidak akan pernah putus," kata Red.
"Jalinan benang merah takdir yang membelit jari kita sudah mengencang dan tidak akan pernah putus, walaupun kita terpisah," kata Yellow.
"Getaran hati ini menyebar ke seluru alam semesta, bila perlu, jika itu untuk mencarimu," kata Red.
"Kita sudah saling bertautan, bahkan sampai tingkat terkecil," kata Yellow.
"Nah, jadi, ayo kita bersemangat untuk besok yang lebih baik!" seru Red.
"Ya!" seru Yellow dengan bersemangat.
Selesai.
Sol adalah hari Mars btw.
Akhirnya, bagian 12 selesai. Sekian untuk bagian ini. Kripik jaran sangat disarankan karena kau masih lapar XDD
RWD, keluar.
