"Sudah, pindahnya minggu depan saja. Kau tidak akan ku pungut biaya karena tinggal di flat ku" Jimin berjalan menuju dapur untuk meletakkan gelas miliknya.

"Apa tidak apa? Aku sudah merepotkanmu lebih dari seminggu ini" ucap Taehyung tak enak hati. "Coba saja pemilik apartemen itu tidak membocorkan soal aku yang akan pindah ke sana pada wartawan, pasti aku sudah pindah sekarang dan tidak perlu merepotkanmu"

"Aku senang ada teman disini" Jimin berucap dari dapur.

"Ngomong-ngomong, kemarin kau pergi kemana? Aku dan Minhyun mencarimu dan kenapa kau bisa ada di halte bus yang cukup jauh dari lokasi acara?" Taehyung berdiri dan berjalan menuju dapur, menatap Jimin yang sedang berdiri kaku di depan kulkas kecil miliknya.

"Hehehe, tidak ada. Aku hanya kebosanan dan berjalan sampai disana" elak Jimin.

"Gila, kau pikir aku akan percaya? Bahkan dengan mobil saja kami hampir setengah jam kesana, padahal kami ditoilet tidak sampai 15 menit" Taehyung bersandar didekat rak cuci piring, menatap curiga pada Jimin yang menolak menatap matanya.

"Terjadi sesuatu kan?" Selidik Taehyung.

Saat melihat Jimin yang menunduk dan mulai berkaca-kaca, Taehyung berhenti mengintrogasi jimin dan memilih memeluk Jimin yang bergetar karena menangis.

"Tidak apa kalau kau belum siap bercerita sekarang, tenangkan dirimu lebih dulu, oke?" Taehyung mengusap pelan punggung Jimin. Meskipun terlihat keras dan galak, sebenarnya Taehyung itu perasa. Dia ikut sedih melihat Jimin yang seperti ini meskipun tidak tau apa yang terjadi.

.

.

.

DEVIL IN a BLACK COAT

.

.

.

"Jadi, kita akan bekerjasama dengan stasiun Tv itu, untuk percobaan pertama, mereka minta kita untuk meliput tempat wisata di Busan" ucap Seokjin sambil memandang Taehyung, Jimin, Hyungwon dan Minhyun yang sedang duduk didepannya.

"Kami berempat yang akan pergi?" Tanya Taehyung memastikan.

"Kau yang akan memimpin tim mu selama di Busan, Tae. Dan ya, kalian akan pergi berempat. Tugas kalian sama, membandingkan harga 'princess holiday' dan 'backpacker'" lanjut Seokjin.

"Princess holiday?" Taehyung mengernyit bingung.

"Iya, atau lebih gampangnya perbandingan harga liburan dengan fasilitas mewah dan ala backpacker. Menarik kan? Bonusnya adalah, kalian akan menikmati liburan sekalian bekerja, gratis. Stasiun TV yang akan membayar seluruhnya, termasuk uang saku." Seokjin tersenyum puas melihat wajah-wajah bawahannya yang terlihat berbinar.

"Kapan kami akan berangkat, sajangnim?" Hyungwon terlihat paling semangat.

"Lusa. Mulai hari ini tugas kalian adalah membuat daftar lokasi wisata dan hotel sebanyak mungkin yang bisa kalian cari di internet. Besoknya, tugas kalian membuat daftar lokasi tempat tinggal yang biasa di pakai para backpacker di Busan. Aku ingin laporannya besok siang harus sudah ada di mejaku. Ada pertanyaan?" Seokjin menatap keempatnya dengan senyum mengembang.

"Berapa lama kami akan tugas di luar, Sajangnim?" Jimin menatap antusias pada Seokjin.

"Totalnya 6 hari dan setiap hari aku harus menerima laporan dari kalian. Dihari ke enam kalian bisa pakai untuk acara bebas, terserah mau kemana." Seokjin meletakkan pulpen dimejanya sambil menatap Jimin. "Kau bisa sekalian bertemu Ibu-mu kan?" Seokjin tersenyum menggoda.

"Hehehe, Ne sajangnim. Aku sudah lama tidak pulang" Jimin terkekeh.

"Alasanku memasukkanmu ke tim ini juga karena kau berasal dari Busan, jadi tidak perlu repot-repot menyewa supir, kau bisa diandalkan dalam urusan menunjuk jalan, kan?" Seokjin terseyum/

"Tentu." Jimin tersenyum lebar.

"Disana akan di sediakan mobil. Kalian, ganti-gantian menyetir, oke?"

"Ne, sajangnim" jawab keempatnya kompak.

.

.

.

Yoongi masuk ke dalam club malam miliknya yang sudah seminggu lebih tidak dia datangi karena ada urusan bisnis di luar kota. Yoongi mendudukan diri dilantai dua dimana ada meja bulat dengan sofa mewah yang juga berbentuk lingkaran, tempat para VIP. Music menghentak, asap rokok bergelung di udara, lampu sorot yang berkedip, orang-orang yang menari di lantai dansa, sama sekali tidak menarik perhatian Yoongi.

Yoongi terdiam di sofa dengan sebotol minuman keras dan gelas di atas mejanya. Kepalanya tidak bisa berhenti memaki dirinya sendiri. Yoongi merasa sangat bersalah pada Jimin sejak malam itu. Setiap dia sadar dari mabuknya, hal pertama yang diingatnya hanyalah tangisan putus asa Jimin dan itu benar-benar membuatnya tak nyaman.

"Sendirian?" Seorang wanita cantik muncul dan duduk merapat di dekat Yoongi.

"Seperti yang kau lihat" jawab Yoongi santai.

"Sepertinya kau butuh teman" gadis itu bersandar di bahu Yoongi.

Yoongi mendiamkannya. Tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya. Dia butuh sesuatu yang membuatnya lupa pada rasa bersalahnya dan sepertinya gadis ini bersedia membantunya sukarela.

Yoongi menarik gadis itu keruangannya. Menutup pintu dengan keras dan mendorong gadis itu ke sofa. Dia hanya ingin lari.

"Tidak sabaran sekali…" gadis itu tersenyum miring dan menarik jas Yoongi hingga Yoongi menunduk.

Mereka berciuman. Yoongi menciumnya kasar dan saat matanya tertutup wajah Jimin terlintas. Yoongi mendorong keras gadis itu, menatap gadis itu tajam.

"Pergi…" usir Yoongi.

"Huh?"

"Aku tidak tertarik"

Gadis itu membolakan matanya, berdiri dengan geram dan mengacungkan jari tengahnya pada Yoongi sebelum berlalu.

Yoongi tertawa sinis. Dia pasti sudah gila sekarang. Bagaimana bisa dia mencium seorang gadis, tapi bibir Jiminlah yang dia rasakan. Dia yakin sedang tidak mabuk sekarang.

"Oke, jalang mana lagi itu?" Hoseok membuka pintu ruangannya dan memutar bola matanya malas.

"Ada apa kemari?" Yoongi mendudukan diri di sofa. Punggungnya bersandar malas disandaran sofa.

"Soal Taehyung. Aku menemukannya" Hoseok mendudukan diri bersebrangan dengan Yoongi.

"Dimana?" Yoongi menegakkan tubuhnya. Dia penasaran.

"Disalah satu flat kecil. Aku tidak yakin, tapi dia sepertinya tidak tinggal sendiri, ada seseorang yang tinggal bersamanya. Kalau tidak salah ingat namanya… Park Jimin?"

Yoongi menegakkan tubuhnya dan mencondong kepada Hoseok yang terlihat sedang berpikir. "Park Jimin?" ulang Yoongi.

"Iya. Mereka tinggal berdua sekarang" Hoseok mengangguk-anggukan kepala, tidak menyadari perubahan raut wajah Yoongi yang sudah mengeram marah.

"Brengsek!" maki Yoongi dan berjalan terburu keluar ruangan.

Hoseok buru-buru masuk ke kursi penumpang setelah berhasil menyusul langkah Yoongi yang setengah berlari. Entah ada apa, tapi Hoseok yakin Yoongi sedang marah besar.

Yoongi menyetir sembarangan di jalanan yang mulai lengang karena sudah memasuki tengah malam dan berhenti tepat di sebuah flat yang Hoseok yakin adalah flat yang ditinggali oleh Taehyung sekarang.

Yoongi berlari menyusuri tangga dengan Hoseok yang terlihat bingung tapi tetap mengikuti langkah Yoongi. Yoongi mengeluarkan kunci dan memaksa memasukkan kunci kedalam sebuah pintu dan kunci itu tidak bisa di gunakan.

Yoongi mengeram marah dan memukul dengan keras pintu flat milik Jimin.

"Buka, Park Jimin!" geram Yoongi.

"Hyung! Kau sudah gila?" Hoseok menarik mundur tubuh Yoongi menjauh dari pintu.

"Lepas, brengsek!" Yoongi menghempaskan tangan Hoseok dengan kasar.

"Kau ini kenapa?" Hosoek menarik lagi tangan Yoongi agar mundur.

Keributan yang dibuat oleh Yoongi akhirnya mendapat reaksi dari tetangga Jimin. Salah satu anak kuliah yang bertetangga dengan Jimin membuka pintu flatnya dan menatap bingung pada Yoongi dan Hoseok. Orang kaya mana yang menyasar sampai ke flat kecil seperti ini?

"Maaf mengganggu istirahtamu" Hoseok berucap take nah hati.

"Woah… Jung Hoseok pemilik JHent…" anak laki-laki bernama Baejin itu menatap dengan mata berbinar pada Hoseok.

"Kau kenal aku?" Hoseok tersenyum ramah.

"Tentu saja. Semua anak di kampusku ingin menjadi trainee di agensi anda" ucap Baejin kagum

"Oh, terimakasih" ucap Hoseok. "Oh, ya, kau tau kemana perginya orang yang ada di flat ini?" Tanya Hoseok, sementara Yoongi sedang berdiri diam dengan kesal.

"Jimin hyung? Dia pergi ke Busan sore tadi" ucap Baejin.

"Ke Busan? Bersama siapa?" Yoongi akhirnya tertarik masuk kedalam percakapan saat nama Jimin dibawa-bawa.

"Bersama Taehyung hyung, katanya mereka ingin liburan" ucap Baejin jujur.

Tadi sore Jimin dan Taehyung memang izin pada Baejin untuk pergi keluar kota dan menitipkan kunci flat milik Jimin pada Baejin.

Yoongi merasa emosinya sudah sampai di ubun-ubun. Liburan berdua? Yang benar saja.

Yoongi berjalan cepat menuruni tangga dan membuat Hoseok terkejut dan berlari mengikuti Yoongi. Begitu sampai di mobil, Hoseok menarik tangan Yoongi keras dan membuat Yoongi terpaksa berbalik kearah Hoseok.

"Kau sudah gila?" Hoseok memaki. "Apa yang membuat mu seperti ini?"

"Dengar brengsek!" Yoongi menarik kerah kemeja Hoseok geram. "Jimin milikku! Tidak ada seorangpun yang bisa memiliknya kecuali aku!" Yoongi terlihat kalap.

"Apa yang kau bicarakan, hyung? Siapa Jimin?" Hoseok melepas paksa tangan Yoongi dari kerahnya.

"Bukan urusanmu" Yoongi mendorong Hoseok dan masuk kedalam mobil. Hoseok dengan cepat masuk kedalam kursi penumpang dan duduk manis selama perjalanan. Dia sadar, Yoongi sedang marah besar sekarang.

.

.

.

Lima hari dan Yoongi sudah habis akal mencari Jimin. Karena pekerjaan, dia tidak bisa pergi begitu saja ke Busan dan menarik Jimin pulang. Yoongi agaknya menyesal karena tidak memiliki nomor ponsel Jimin sekarang.

Sementara Yoongi sedang uring-uringan, Jimin sedang berada di rumah orangtuanya bersama Taehyung, Hyungwon dan Minhyun. Keempatnya memutuskan untuk menginap di rumah Jimin satu malam sebelum pulang ke Seoul. Beruntung sekali karena Ibu Jimin sangat baik dalam mengurus mereka.

"Jjangmyeon lagi?" Hyungwon menatap Jimin yang sedang menatap penuh cinta mie dalam mangkuk miliknya.

"Jim, selama di Busan kau hanya makan itu. Kau tidak bosan? Aku saja yang melihatnya sudah muak" Minhyun menelan ludahnya susah payah.

"Kalian tidak suka Jjangmyeon?" ibu Jimin muncul dari dapur dengan ayam goreng yang sudah di susun rapi diatas piring.

"Bukannya tidak suka, Eommonim. Tapi Jimin sudah memakan itu selama di Busan. Nyaris seminggu dia hanya makan itu saja setiap makan pagi, siang dan malam" Hyungwon mendudukan diri di kursi makan disamping Jimin.

"Huh? Sejak kapan kau jadi sesuka itu pada Jjangmyeon, Jim?" Ibu Jimin tersenyum takjub. Setaunya, Jimin-nya tidak pernah terlalu berlebihan dalam menyukai makanan.

"Aku hanya selera makan ini, Eomma" Jimin terkekeh saat tangan hangat ibunya menggusak rambutnya.

"Jjangmyeon lagi?" Taehyung yang baru muncul di ruang makan menatap takjub pada Jimin dan mie-nya di dalam mangkuk.

"Jangan cerewet. Kalian makan saja ayam goreng milik kalian. Eomma ku sudah capek masak" omel Jimin.

Taehyung mengangkat bahu dan berjalan menuju dapur kotor untuk membantu Ibu Jimin menghidangkan makanan. Meskipun sudah dilarang, Taehyung tetap ngotot untuk membantu Ibu Jimin.

Selesai menghidangkan makanan, Taehyung duduk di samping Ibu Jimin dan berhadapan dengan Hyungwon dan Jimin, sementara Minhyun duduk di ujung meja. Mata Taehyung melirik tajam kearah Jimin saat mereka mulai makan. Dia merasa ada yang aneh dengan Jimin belakangan ini. Dia jadi cepat lelah, gampang tertidur, Taehyung juga sering menangkap Jimin yang menagis sebelum tidur padahal sebelum masuk kamar, tawa Jimin benar-benar lepas saat mereka berempat sedang bercanda di hotel dan terakhir Jimin jadi sangat pemilih dalam urusan makanan. Sangat bukan Jimin sekali.

"Besok kalian akan kemana?" Ibu Jimin memulai pembicaraan.

"Aku akan ke makan Appa, Eomma" jawab Jimin sambil memasukan mie kedalam mulutnya.

"Kalau Hyungwon?" Ibu Jimin tersenyum ramah pada Hyungwon.

"Aku ingin membeli oleh-oleh untuk eommaku, Eommoni." Hyungwon tersenyum.

"Minhyun?" Ibu Jimin melirik Minhyun yang sedang berusaha menelan makanannya.

"Aku akan bertemu teman sekolahku besok, Eommonim" jawab Minhyun.

"Kalau Taehyung?" Ibu Jimin melirik kesampingnya.

"Aku akan menemani Jimin besok"

"Aku tidak perlu kau temani" Jimin mengernyit.

"Aku tidak ada acara khusus, mungkin setelah menemanimu ke makam, kau bisa menemaniku membeli oleh-oleh untuk Taeyong" Taehyung berucap tak peduli.

"Aku tidak mau" tolak Jimin.

"Aku memaksa!" Taehyung berkeras. Dia butuh bicara berdua saja dengan Jimin.

"Tidak apa, kalau Jimin tidak mau, Eommonim bisa menemanimu, Tae" Ibu Jimin menawarkan diri.

"Benarkah?" Taehyung merasa tersanjung. "Ya sudah, kau pergi saja ke makam, Jim"

"Eomma! Besok eomma ikut denganku!" protes Jimin.

"Eomma baru saja berkunjung semalam. Kau bisa pergi sendiri sementara Eomma akan menemani Taehyung belanja" putus ibu Jimin.

"Ya sudah, pulang dari makam, aku akan menyusul"

.

.

.

Jimin tidak jadi menyusul Ibu-nya dan Taehyung yang pergi berbelanja berdua, dia lelah setelah menangis di makan ayahnya. Dia hanya butuh tempat tidurnya sebelum besok harus kembali ke Seoul dan menjalani rutinitasnya.

Jimin tidur miring menghadap tembok kamarnya. Kembali menangis dalam diam. Jimin sudah sering memarahi dirinya sendiri karena terlalu mendramatisir keadaan, tapi tetap saja air matanya mengalir lagi.

Entah apa yang terjadi, tapi Jimin merasa di khianati oleh Yoongi. Konyol memang, mengingat mereka tidak memiliki hubungan apapun yang menjelaskan status keduanya. Jimin menghela napas dan menghapus air matanya. Rambutnya masih basah saat Jimin memilih langsung mandi dan tiduran setelah pulang dari makam.

Jimin mengambil ponselnya yang bergetar didekat kepalanya, ada nama Baejin muncul di layar ponselnya.

"Baejin?" Jimin mendudukan dirinya diatas tempat tidur.

"Hyung, ada seseorang yang ingin bicara" ucap Baejin.

Belum sempat Jimin bertanya, siapa yang ingin bicara dengannya, suara Baejin sudah berganti dengan suara berat seorang namja yang Jimin sangat kenali suaranya. Min Yoongi.

"Kapan kau kembali?" suara berat diujung telepon terdengar seolah memohon pada Jimin.

"Siapa ini?" Jimin berpura-pura tidak mengenali.

"Yoongi. Min Yoongi"

"Oh. Ada apa?"

"Aku ingin kita bicara berdua" suara Yoongi terdengar seperti memohon dengan sangat di telinga Jimin. "Cepat kembali, Park Jimin. Aku menunggumu"

Jimin merasa dadanya berdebar halus. Terakhir kali dia bertemu Yoongi, mereka bertengkar hebat dan Jimin yang lari dari apartemen Yoongi. Dan sekarang, Yoongi seolah sedang memohon padanya? Apa Yoongi sedang mabuk?.

"Bicara saja disini" tolak Jimin.

"Tidak, kita perlu bertemu"

"Aku tidak mau. Kalau kau mau bicara, lewat telepon saja. Aku tidak ingin bertemu denganmu" Jimin merasa emosi-nya sudah menguasai. Rasa di khianati itu muncul lagi di permukaan.

Yoongi menghela nafas. Dia menyerah untuk memaksa Jimin. "Aku minta maaf"

"Sudah ku maafkan." Ketus Jimin.

"Jim, ku rasa kita memang perlu bertemu. Aku akan menunggumu kembali, secepatnya."

"Sudah tidak perlu. Kau sudah minta maaf dan aku sudah memaafkan. Urusan kita selesai"

"Belum. Aku butuh penjelasan" guman Yoongi.

"Satu-satunya orang yang butuh penjelasan itu, aku, Min Yoongi" geram Jimin.

"Itu makanya kita perlu bertemu."

Jimin terdiam dan memilih memutuskan sambungan teleponnya dengan Yoongi. Tidak ingin di ganggu lagi, Jimin mematikan ponselnya dan memilih tidur. Jimin merasa beban di kepalanya sedikit berkurang setelah mendengar suara Yoongi. Mungkin dia bisa tidur nyenyak malam ini.

Jimin benar-benar tertidur pulas dan tidurnya terganggu saat Ibu-nya masuk kedalam kamar, menyelakan lampu dan menatap sendu pada Jimin.

"Eomma?" Jimin memicing untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya.

"Bangun, kau harus makan malam" Ibunya duduk ditepi kasur dan menggusak rambut Jimin.

"Jam berapa sekarang?" Jimin mendudukan diri di tempat tidur.

"Jam tujuh malam. Eomma sudah memasak makanan kesukaanmu"

"Jjangmyeon?"

"Bukan, Jim. Teman-temanmu sudah protes melihat mu hanya makan mie itu terus menerus" Ibu Jimin tertawa kecil.

"Memangnya kenapa kalau aku hanya makan Jjangmyeon?" Jimin mencebikkan bibirnya.

Ibu-nya tertawa kecil. "Jim?"

"Ne, Eomma?"

"Apa kau sedang dekat dengan seseorang belakangan ini?"

Jimin tersentak. Rasa kantuknya yang tersisa sudah lenyap tak berbekas. Jimin tersenyum canggung dan salah tingkah di depan ibu-nya.

"Kenapa Eomma bertanya begitu? Aku tidak sedang dekat dengan siapa-siapa" Jimin terkekeh.

"Oh ya? jadi, siapa Min Yoongi?"

Jimin benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya kali ini. Dari mana ibu-nya tau soal Min Yoongi?

"Eomma… apa yang Eomma bicarakan…" Jimin menjadi sangat gugup.

"Cuci muka dan rapikan bajumu. Min Yoongi ada dibawah, menunggumu" Ibu Jimin berdiri dan terkekeh melihat wajah anaknya yang terlihat syok.

Jimin membuka mulutnya tanpa sadar, gerakan reflex karena terlalu terkejut. Min Yoongi di rumahnya? Bukannya tadi masih di Seoul?.

TBC

.

.

.

Nih, buat kakak yorobun yang nanya kapan ni FF update.

Kelamaan ngerjain soal UN, otak uda mandep, ide uda tumpeh, jadi di ketik aja mumpung lagi rajin.

*Lari ditengah hujan*