Hallo, readers-deul~
Long time no see, ya XD Saya minta maaf dulu soalnya udah nggak update habis saya ekstra sibuk siih-,- Tapi ini kan lagi libur panjang nih ya, saya usahain untuk nyelesain secepatnya, in like 2 weeks? Well, maybe. Tinggal dua chapter lagi kan? So stay tune right here okay, and enjoy this chapter!


THIS STORY BELONGS TO SLEEPLESSBEAUTY9

DO NOT RE-UPLOAD THE TRANSLATION

The EXOtic Dancer

Chapter 11: The Owners

Warning: Contain typos everywhere

Suara gelas yang pecah, tercecer di lantai membuat Chanyeol mengalihkan perhatiannya dari computer diatas mejanya.

"Hey, freeloader –orang yang numpang tanpa membayar, lihat apa yang sudah kau lakukan."

"Pergi saja, dasar angry bird. Itu hanya kecelakaan."

"Kau sebut aku apa barusan, dasar bajingan kurang ajar?"

Sudah beberapa hari sejak Baekhyun pindah ke apartemen Kris dan Chanyeol. Tapi, mengatur kehidupan mereka tak berjalan semulus seperti harapan Chanyeol. Baekhyun dan Kris sangat tidak cocok. Baekhyun bisa jadi cerewet dan Kris bisa jadi arogan; bersama-sama mereka sangat bertentangan dan pertengkaran yang terjadi terus menerus membuat Chanyeol cukup stres.

"Mulai lagi…" Chanyeol menggumam. Ia berdiri dari kursinya sambil menghela nafas berat, ia lalu keluar dari tempat tidurnya dan berjalan menuju dapur samapai ia menemukan Baekhyun memunguti pecahan gelas kaca dari lantai dan Kris hanya berdiri disebelahnya dengan kedua tangan terlipat di dada. "Hey guys…"

"Chanyeol, peliharaanmu menghancurkan perabotan kita." Kris menatapnya tajam. "Jaga dia jangan sampai melewati batas."

Baekhyun berhati-hati memunguti pecahan gelas kaca sambil memutar matanya, ia lalu menyindir, "Kau benar-benar jago berkata manis. Bagaimana bisa orang-orang menolak kharismamu?"

"Aku tidak harus melepas pakaianku untuk mendapatkan perhatian mereka."

"Oh, bagus sekali," Baekhyun mencela dan menatapnya dari pantulan di lantai. "Apakah kau mengatakan semua itu atas preferensimu sendiri? Aku tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya." Ia tersentak ketika sebuah potongan gelas mengiris telapak tangannya.

"Kerja bagus, bodoh." He scoffed.

"Baek, kau baik-baik saja? Kemarilah." Chanyeol memanggilnya.

Menatap Kris dengan lirikan tajam, baekhyun lalu berjalan pelan menghindari Chanyeol dan menuju ke kamar mereka.

"Berapa lama kau akan menjaganya?" Kris bertanya ketika Baekhyun sudah masuk ke dalam kamar. Kris membungkuk untuk membereskan sisa pecahan gelas kaca yang di ditinggalkan oleh Baekhyun saat ia melukai telapak tangannya sendiri.

"Selama aku bisa." Chanyeol menjawab simpel. "Ia penting bagiku. Jadi, berusahalah untuk mencocokkan diri dengannya, oke?"

"Aku tidak berjanji." Ia membuang pecahan gelas itu ke tong sampah dibawah wastafel. "Kau seharusnya pergi dan mengobati lukanya sebelum ia melukai dirinya lebih parah." Ucapnya sambil berjalan mengitari sofa dan menyalakan TV.

Chanyeol menghela nafas pasrah. Ia tahu bahwa Kris sedang dalam 'mood'-nya dimana apapun yang dia katakana akan bertentangan dengan pendapat Kris jadi tidak ada untungnya untuk mendebat dengan lelaki yang lebih tua darinya itu. Ia meregangkan otot-otot dibelakang kepalanya dan berjalan ke kamarnya. Ia menemukan Baekhyun duduk di pinggir ranjangnya, kotak pertolongan pertama ada dipangkuannya, berusaha untuk membungkus tangannya sendiri dengan perban. Usahanya yang terlihat kekanakan melelehkan hati Chanyeol dan ia tidak bisa melakukan apapun selain merasa senyuman terpampang di bibirnya "Kemari, biar kubantu."

"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Baekhyun menjawab cepat. "Lagipula, kau tidak bisa menjagaku selamanya."

Chanyeol berlutut didepan sang penari, menarik tangannya yang terluka dan mulai membungungkusnya dengan perban. "Jangan pedulikan dia. Sudah kubilang padamu aku akan menjagamu. Kau adalah tanggung jawabku. Kau adalah milikku, ingat?"

Baekhyun membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun ia memutuskan bahwa hal terbaik adalah untuk tetap bungkam. Ia menatap Chanyeol yang sedang memperban lukanya. Bagaimana tangan besarnya memegang miliknya yang kecil, dan rampind dengan penuh kelembutan dan kehangatan, dan tidak melupakan tanda-tanda posesif dalam setiap perkataannya, membuat pipinya sedikit memerah. Itu adalah perasaan yang masih belum dapat ia biasakan; dipedulikan oleh orang lain setelah ia mempedulikan dirinya sendiri dalam waktu yang sangat lama merupakan hal yang perlu ia biasakan.

"Nah, sudah selesai." Chanyeol tersenyum saat ia berdiri, mengelus rambut lelaki yang lebih pendek darinya. "Lukanya tidak terlalu dalam, jadi itu akan sembuh dalam beberapa hari."

Ketika Chanyeol berbalik, Baekhyun melepaskan nafas yang ia tahan bahkan tanpa ia sadari. Ia menatap pada talapak tangannya yang terperban dengan rapi. "Terima kasih." Ia menggumam pada dirinya sendiri, merasakan pipinya memerah lagi saat ia mengingat senyuman Chanyeol dan tangannya yang mengelus rambutnya penuh sayang. Ia berharap lelaki tinggi itu tidak mendengarkan ucapak terima kasihnya.

Chanyeol, ternyata, mendengar yang ia ucapkan. "Terima kasih kembali." Ia kembali duduk di tempatnya semula, memfokuskan perhatiannya kembali pada apa yang tadi dikerjakannya.

Matanya menjelajahi pria yang lebih tinggi darinya ketika kesunyian memenuhi ruangan bersamaan saat ia mulai berpikir. Baekhyun belum sekalipun kembali ke klub sejak insiden malam itu ketika Chanyeol kembali untuk dirinya, tapi ia tahu ia harus kembali kesana. Ia harus mengakhiri segalanya di klub dengan baik jika ia ingin memiliki awal yang baru dan memulai hidup barunya bersama Chanyeol.

Memulai hidup baru bersama Chanyeol…Kata-katanya sendiri terngiang-ngiang di pikirannya seperti kata-kata itu sangat asing baginya. Chanyeol menjadi lebih perhatian padanya, dan itu memperjelas segalanya bahwa ia lebih dari sekedar peduli untuk Baekhyun, tapi mereka bahkan belum pernah mengucakpak tiga kata kecil itu antara satu dan yang lain. Ia bisa mengetahui bahwa Chanyeol ingin mengatakan sesuatu beberapa kali, tapi ia tak pernah melakukannya, dan Baekhyun terlalu takut untuk mengatakannya dahulu jika pada kenyatannya Chanyeol tidak memiliki rasa yang sama untuknya.

Ia mungkin saja jatuh cinta dengan pria dengan telinga besar, seksi, perhatian tetapi posesif, dan berkharisma lebih cepat dari yang dia pikirkan tapi apakah itu merupakan sesuatu yang buruk? Seseorang yang menunjukkan padanya cinta, rasa hormat, dan kasih sayang sungguh sangat berharga dibandingkan dengan segala keteguhan yang telah dialaminya. Satu-satunya hal yang ia sesali adalah ia merasa sangat bersalah karena menarik si raksasa baik ke dalam dunianya yang gelap.

"Baek?"

Baekhyun tersentak dari pemikirannya ketika ia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang dengan suara yang dalam. Ia pasti sudah melamun terlalu jauh karena sekarang Chanyeol sedang berdiri dihadapannya, menatap Baekhyun penuh tanya.

"Apa yang mebuatmu berpikir begitu dalam?" ia bertanya. "Aku memanggil namamu dua kali tapi kau tidak menjawabnya."

"Kau melakukannya?"

"Yeah, aku melakukannya." Chanyeol duduk di sebelah Baekhyun diatas ranjang, membuat ranjangnya meredah menahan beban tubuhnya."Apakah semuanya baik-baik saja?"

Baekhyun mengangguk, tidak ingin untuk membicarakan apa yang barusan ia pikirkan. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah lengan melingkari bahunya dan kepalanya ditekan ke celah leher Chanyeol. Rona merah sedikit muncul di pipinya. Apakah dia selalu beraroma semanis ini?

"Jangan khawatir soal itu." Ucapnya dengan penuh kesungguhan dalam suaranya. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu gundah saat ini, tapi segala sesuatunya akan baik-baik saja. Jangan lakukan hal-hal yang membuatku khawatir padamu."

Mengangguk lagi adalah satu-satunya hal yang bisa Baekhyun lakukan ketika jantungnya berdentum begitu kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri. Ia menatap Chanyeol yang tersenyum kepadanya, mencium bibirnya, yang Baekhyun inginkan untuk tidak melepasnya ketika tautannya berpisah, dan mendorongnya untuk rebah diatas ranjang.

"Sepertinya kau lelah. Mungkin kau harus beristirahat sebentar." Ucap Chanyeol sambil melarikan jemarinya ke setiap helai rambut Baekhyun. Ia lalu melingkarkan lengannya disekitar tubuh berisinya, menjaganya agar tetap di tempat dan mengistirahatkan kepalanya diatas bantal.

Butuh beberapa menit baginya untuk menenangkan jantungnya dari dentuman yang sangat kencang, tapi setelah Baekhyun nyaman dalam pelukan Chanyeol, ia tidak bisa melakukan apapun selain tersenyum. "Terima kasih, Chanyeol."

"Any time!" Ia tersenyum ceria.

Beberapa menit terasa seperti selamanya bagi Baekhyun, namun ia bisa merasakan nafas Chanyeol yang teratur. Ia menatap dari celah leher Chanyeol jika pria tinggi itu sudah tertidur. Ia yakin bahwa Chanyeol adalah tipe yang cepat tertidur. Ia pikir. Bagus sekali. Ia menatap pada telapak tangannya yang diperban, mengingat-ingat kata-kata yang diucapkan Chanyeol padanya…

"Kau adalah tanggung jawabku. Jangan lakukan sesuatu yang membuatku khawatir padamu. Aku disini untukmu."

Ia menatap pada jam diatas meja Chanyeol. Klub akan dibuka sebentar lagi…

-The EXOtic Dancer-

"Yo, Kris, kau lihat Baekhyun?" tanya Chanyeol, mengusap-usap wajah kasurnya sambil mengetuk pintu kamar Kris. Ia lalu sadar bahwa teman-temannya dan para penari dari klub sudah berkumpul di ruang tamu. Ia pasti sudah tidur lebih lama dari biasanya jika orang-orang ini datang tanpa sepengetahuannya dan kenyataan bahwa Baekhyun telah menghilang membuatnya bingung.

Luhan berdiri dan menjawab pertanyaannya. "Maksudmu dia tidak bersamamu?"

"Jika ia bersamanya, ia tidak akan bertanya, bodoh." Kris menyindir, lalu ia menerima pukulan di lengannya dari Sehun dan Tao.

Tidak mengindahkan komentar Kris, Luhan lalu berbicara, "Kita seharusnya berkumpul disini dan bersama-sama menuju klub untuk berbicara pada pemilik klub. Jongin, Tao, Baekhyun, dan Aku setuju bahwa kami akan pergi bersama-sama ke klub dan akan keluar dari sana jadi pemilik klub tidak akan menyiksa kita lagi. Tapi jika sekarang Baekhyun tidak disini, lalu ia…"

Tiba-tiba sadar, Chanyeol menjadi khawatir. "Dammit, Baekhyun," ia berbicara pada dirinya sendiri. Ia bergerak dengan tiba-tiba dan dengan cepat menuju ke pintu keluar, mengambil kunci mobil Kris dari meja dapur dan segera berlari keluar. Ia bisa mendengar suara Kris memakinya tapi ia tidak mengindahkannya dan masuk ke dalam mobil Mercedez Benz hitam.

Apa yang sedang kau pikirkan?

-The EXOtic Dancer-

Sarf-saraf Baekhyun bereaksi berlebihan saat ia berdiri didepan pintu besi. Ia ingin sekali muntah, itulah yang dirsakannya saat gugup berlebihan. Semua yang bisa ia lakukan hanyalah menatap pada plakat emas bertuliskan 'Ruangan Tn. Kim' tergantung didepan pintu. Ia sudah mendengar segala rumor yang beredar tentang orang-orang yang meninggalkan EXOtic; para penari menjadi terluka, dipaksa mengumpulkan uang, atau dibohongi agar tetap tinggal, atau bahkan lebih parah. Ia sudah bersiap-siap atas apapun yang akan terjadi padanya, namun ia masih saja ketakutan.

Bagaimanapun, ia berusaha untuk menemukan keberanian di dirinya, lalu ia mengetuk pintu itu perlahan.

"Masuk." Sebuah suara merdu datang dari balik pintu.

Ia menghela nafas penuh kegelisahan. Dengan tangan yang gemetar, Baekhyun memutar gagang pintu berwarna silver dan membuka pintunya. "P-permisi, tuan?" Ia mengucapkannya penuh kehati-hatian sambil menampakkan wajahnya disela-sela pintu. Sedikit keberanian yang ia temukan tadi ketika membuka pintu ternyata menguap begitu saja saat matanya menatap sang pemilik klub.

Jongdae, atau Tn. Kim, sedang duduk di kursinya; sepupunya dan notabene bertindak sebagai wakilnya sebagai pemilik klub, Minseok, duduk dipangkuannya dengan lengan melingkar disekeliling leher Jongdae. Tatapannya menegrikan namun senyuman yang terlihat seperti malaikat menghiasi bibirnya ketika lelaki itu memasuki ruangannya. "Ah, Baekhyun, seseorang yang sangat ingin kutemui."

Baekhyun menutup pintu dibelakangnya tanpa suara, tidak bergerak selangkahpun menjauhi pintu itu. Suasana di dalam ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Ia merasa seperti akan tercekik.

"Sudah beberapa hari sejak aku melihatmu, sayangku." Jongdae mengisyaratkan sepupunya untuk bangkit dari pangkuannya. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju sang penari. "Setelah insiden kecil yang kau lakukan beberapa malam yang lalu, kupikir aku akan memanggil polisi hanya untuk menemukanmu." Ia tertawa. "Tapi aku sudah tahu kau akan kembali kepadaku."

"S-Soal itu…" ia menunduk dan menolak untuk menatap apapun selain karpet merah marun dibawah kakinya. Ketika Jongdae meletakkan tangannya di bahu Baekhyun dengan kuat, hal itu membuatnya gemetaran. "A…Aku ingin keluar." ucapnya lemah.

"Oh ya?" Jongdae terlihat terluka. "Tapi, Baekhyun, kau adalah salah satu dari penari terbaikku. Aku membawamu kemari saat kau tidak punya tempat untuk dituju. Aku secara tidak langsung membuatmu menjadi siapa dirimu yang sekarang, dan ini adalah ucapan terima kasih yang kudapat?"

Baekhyun hampir merasa bersalah, tapi ia menjaga pendiriannya. "Kau memang membantuku ketika aku tidak punya tempat tujuan Tuan Kim, namun sekarang aku sudah punya tempat lain yang ingin kutuju. Aku tidak bisa ditempat itu selagi aku masih bekerja disini."

"Karena lelaki itu bukan? Lelaki yang kemari waktu malam itu kan?"

Baekhyun bisa merasakan suasana yang semakin mencekam. "Iya."

"Kau tidak akan meninggalkanku." Ucapnya dengan nada yang ingin membunuh lawan bicaranya. "Kau berhutang uang padaku, Baekhyun, dan Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau membayar semuanya kepadaku."

Ia mengangkat kepalanya untuk menatap tepat dimata Jongdae. "Apa?"

"Kau sudah mencurinya dariku."

"Apa? Tidak, Aku tidak mencurinya." Ia terkejut pada tuduhan Jongdae yang tiba-tiba.

"Kau yakin?" Jongdae memberinya tatapan menyelidik. "Aku menerima sebuah informasi bahwa seseorang dari tim kita menggunakan uang dari akunku. Kau bisa menjelaskan padaku mengapa bisa begitu?" Cengkeramannya dipundak Baekhyun menjadi semakin erat, membuat Baekhyun meringis kesakitan. "Bukankah itu lucu bagaimana uangku menghilang sejak kau pergi."

Mata Baekhyun menatap Minseok dengan cepat, dengan harapan bahwa salah satu yang berbaik hati menjadi pembelanya atau memberinya sedikit penjelasan. Ketika Minseok terlihat sama seriusnya dengan Jongdae, ia tahu bahwa ada sesuatu yang salah. "Tuan Kim, Aku bersumpah Aku tidak melakukan-" ucapannya terpotong tiba-tiba ketika tangan Jongdae menamparnya tepat di pipinya dengan keras; suaranya menggema diseluruh ruangan. Pipinya he was stopped abruptly when Jongdae's hand slapped him across his cheek roughly; the sound engulfing the room. Pipinya terasa sangat sakit.

"Kau berkelakuan tidak baik."

Tangannya yang diperban naik keatas untuk memegang pipinya yang membengkak. Baekhyun menatap Jongdae ketakutan. "Tu-Tuan Kim…Aku tidak akan mencurinya darimu."

"Jika ada dua hal yang aku benci di dunia ini lebih dari apapun, itu adalah pembohong dan penghianat." Ia menggebrak pintu besi dibelakangnya dengan telapak tangannya, memenjara sang penari diantaranya. "Aku tidak akan berbaik hati untuk keduanya. Dan jika seseorang berniat melakukan keduanya pada waktu bersamaan, well, let's just say tidak seorangpun yang bisa melawanku dua kali."

-To Be Continued-


The last two chapter will be udated soon. Promise! [It is in progress actually]. Saya usahakan double update yah :)

Thank you guys~

Read the original story:

story/view/601910/1/the-exotic-dancer-romance-smut-exo-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo

Once again, thanks to sleeplessbeauty9 who gave me a permission to translate this awesome fiction.

See ya in the next chapter and don't forget to be a good reader, guys. A good reader, always leave their sign!

Byee~~