Disclaimer : Bleach is Mister Kubo Tite's

Warning : OOC. Rush.

This story is mine.


LOVE FORCE

Ulquiorra Schiffer – Orihime Inoue

Chapter Twelve – Shopping

'Bagaimana bisa . . sebuah pasar dan dua butir sayuran membuat gadis itu terlihat sangat bahagia?' batin Ulquiorra. "Gadis yang aneh." Gumamnya sangat pelan.


Sebutir batu kerikil bergelutuk menggelinding menyusuri jalanan sepi Kota Karakura saat tertendang tak sengaja oleh sepasang kaki jenjang milik Ulquiorra Schiffer. Pemuda berkulit pucat itu mendengar suara gemelutuk pelan tersebut, tetapi ia tidak mengizinkan emeraldnya untuk tertunduk ke bawah. Alih-alih, ujung permata hijaunya lebih diminatkan pada figur seorang gadis berambut ginger yang sedang berjalan di sampingnya.

Waktu masih menunjukkan pukul tujuh kurang sedikit. Orihime Inoue kini sudah menyeret pemuda itu untuk pergi bersamanya ke sebuah pasar minggu.

Ulquiorra merengut. Bisa-bisanya si gadis terlihat riang seperti biasa, tidak peka terhadap bidikan tatapan tajam dari ujung iris pemuda yang sedang berjalan mendampinginya itu.

Orihime tetap mengoceh panjang lebar untuk menjelaskan keberadaan berbagai tempat, bangunan dan jalanan di sekitar sana, seolah tak menyadari bahwa Ulquiorra mengabaikan penjelasannya tanpa ada minat sedikit pun.

Sekitar 17 menit berjalan, keduanya tiba di perempatan jalan yang segera menampilkan pemandangan sebuah mulut pasar. Ulquiorra menghentikan langkahnya. Maniknya menyapu keramaian yang segera tertangkap lensa hijaunya. Pemuda itu merengut lebih dalam.

Orihime yang menyadari pergerakan si pemuda terhenti, segera berbalik dan menoleh ke arah pemuda berambut raven itu. Mata abunya melemparkan tatapan penuh tanya.

Tetapi Ulquiorra mengabaikan tatapan tersebut, masih memfokuskan netranya ke arah kerumunan orang yang sudah saling berkumpul berdesakkan di sekitar pintu masuk pasar. Sepertinya tempat yang dipadati oleh banyak orang itu bukan lah sebuah tempat yang menyenangkan.

"Aku menolak untuk pergi ke dalam sana." Ucap si pemuda tanpa perlu menoleh, menjawab pertanyaan si gadis yang memang tidak disuarakan.

Sedetik kemudian Ulquiorra sudah memutar tubuhnya ke arah jalan pulang.

Hazel Orihime segera melebar, mulutnya perlahan menganga. "Apa yang kau katakan? Kita kan sudah sampai disin-"

"Aku pulang." Potong si pemuda, sembari mulai melangkah pergi.

Mengapa pula ia harus rela berbaur dalam keramaian yang tidak jelas keamanannya hanya demi gadis ini?

Orihime lantas mengejar pemuda itu, mencoba menahannya.

"Tapi kita per- Oh!" Orihime menepuk keningnya, "Jangan bilang, kau takut pada keramaian, Ulquiorra?" ungkap si gadis, polos.

Kali Ini Ulquiorra dibuat berhenti, dan perlahan menoleh ke arah gadis itu yang kini sudah kembali berdiri disampingnya.

Menatap permata abu milik si gadis tajam, Ulquiorra berucap dingin, "Jangan mengolokku, Onna."

Orihime mengernyit. Lalu kenapa Ulquiorra tiba-tiba bersikap seolah marah begitu?

Gadis berambut merah jingga itu menggigit bibirnya, dan berjengit saat Ulquiorra mulai mengambil langkah lagi. Tanpa sadar Orihime segera meraih satu lengan si pemuda, "Tunggu!"

Ulquiorra kembali menahan langkahnya, dan menoleh lagi, kali ini tidak untuk memandang si gadis melainkan untuk menatap lengannya yang sedang ditarik. Orihime menyadari delikan tidak suka itu lalu dengan canggung segera melepaskan lengan si pemuda.

Sepertinya mood Ulquiorra benar-benar sedang buruk.

"K-kau tidak bisa pergi meninggalkanku begitu saja," ucap si gadis memberanikan diri.

"Jelaskan mengapa begitu." Timpal si pemuda.

"Kau sudah berjanji untuk menemaniku, Ulquiorra, dan aku tidak pernah berpikir bahwa kau adalah tipe orang yang akan mencabut kata-katamu." sahut Orihime.

Ulquiorra menatap datar wajah gadis itu yang sedang terlihat agak tegang. 'Gadis ini . . .' pikirnya.

Si pemuda tidak berkata lagi. Lalu ia kembali membalikkan badannya. "Cepat cari yang kau butuhkan." Ujarnya, sebelum mulai berjalan ke arah gerbang dan berusaha mengabaikan sekumpulan orang yang sedang berdiri berdesakkan mengitari sebuah toko di sebrang sana.

Dibelakangnya, Orihime tersenyum riang dan berkata, "Hai!"

Terkadang, Ulquiorra pun dibuat penasaran, mengapa sikap dinginnya selalu tidak mempan pada gadis itu.

. . .

Ulquiorra selalu memasang raut menakutkan.

Meski tampan, namun tampangnya selalu terlihat menyeramkan.

Mulut yang tak banyak bicara. Bibir yang selalu menekuk ke bawah membentuk rengutan. Sikapnya yang dingin. Sorot matanya yang tajam. Mimiknya yang selalu datar, hampir tak beremosi. Wajahnya hampir tak berekspresi.

Tetapi yang mengherankan, Orihime malah merasa nyaman berada dekat dengannya.

Gadis berambut merah-jingga itu bersenandung riang tanpa beban sembari menjejakkan kaki ke dalam keramaian pasar, ditemani suaminya itu, Ulquiorra.

Kedua permata hijau terang milik si pemuda diedarkan mengamati setiap kios yang berada di kedua sisi jalanan yang sedang dipenuhi pengunjung.

Berbagai jenis barang dijajakkan disana. Perabotan rumah tangga, perkakas, pernak-pernik, kudapan, makanan setengah jadi sampai bahan mentah. Berbagai macam pengunjung yang terdiri dari pria-wanita, tua-muda bergumul memenuhi hampir seluruh ruang jalan tersebut. Beberapa melirik pasutri tersebut sambil bisik-bisik, tapi si pemuda tak peduli dengan keberadaan mereka.

Cukup jauh pasangan itu berjalan menerobos kerumunan dan Orihime sudah berkali-kali mampir di beberapa kios, tetapi tidak untuk membeli alih-alih hanya untuk melihat-lihat barang dagangan yang disuguhkan. Toko penganan, barang pajangan, aksesoris, barang antik dan sebagainya.

Ini membuat rengutan di wajah Ulquiorra semakin dalam.

"Onna."

"Hm?" Orihime menengok cepat ke arah Ulquiorra.

"Kau terlihat menikmati apa yang sedang kau kerjakan." Ujar si pemuda dengan maksud menyindir, saat si gadis sedang membolak-balik sebuah boneka bulat berwarna merah putih.

Orihime menggangguk senang sembari tersenyum manis, "Tentu saja!" lalu ia mengangkat benda itu setinggi wajahnya, yang ternyata adalah sebuah boneka berbentuk poke-ball. "Benda ini sedang buming sekali loh." Ucapnya heboh, "Pokemon ball!" seru Orihime sambil melempar pokebolnya ke arah Ulquiorra sambil berpose.

Tapi si pemuda hanya menatap datar gadis itu sambil menangkap benda tersebut dengan satu tangan.

"Eerr . ." Orihime tertawa canggung saat melihat ekspresi Ulquiorra yang datar-datar saja. Merasa sedikit malu karena sama sekali tidak diladeni, gadis itu segera mengambil kembali boneka pokeball tersebut dari tangan si pemuda.

Sepertinya, Ulquoorra bukanlah penggemar dari game yang sedang populer dimainkan itu. Ah, tentu saja bukan.

"Sepertinya kau lupa dengan tujuan utamamu membawaku ke sini. Bukankah kau berencana untuk berbelanja?"

Tawa Orihime perlahan berganti kikuk saat mendengar penekanan di kalimat yang Ulquiorra utarakan barusan "Uumm," Seakan diingatkan, si gadis segera menyimpan kembali boneka pokeball ke raknya, lalu memutar acak pandangannya dan segera menunjuk ke sebuah kios.

"Mana mungkin aku lupa," gadis itu tertawa dibuat-buat, "Kita akan belanja di toko itu."

Ulquiorra melirik tempat yang ditunjuk si gadis, lalu segera melihat Orihime sudah berjalan mendahuluinya menuju toko yang dimaksud.

Toko daging.

Setiba disana, Ulquiorra memperhatikan Orihime yang sedang memilah beberapa potong daging sapi. Gadis itu terlihat cekatan memilih antara daging tenderloin atau sirloin, menimbang-nimbang mana yang harus ia beli.

Orihime sempat merenungkan, ia masih belum mengetahui apa makanan kesukaan Ulquiorra dan apa yang tidak disukainya, tetapi dalam beberapa hari ini pemuda itu tidak menunjukan penentangan terhadap masakannnya. Barangkali, Ulquiorra bukanlah seorang pemilih dalam hal makanan, makanya si gadis merasa lega.

Karena itu, Orihime memutuskan sendiri bahan apa yang harus ia beli. Lagian Ulquiorra tidak meminta untuk dibuatkan menu tertentu, jadi suka-suka Orihime mau masak apa nanti.

Setelah transaksi pembayaran selesai dilakukan, Ulquiorra mengulurkan satu tangannya untuk meraih kantong belanjaan yang sedang dijinjing Orihime. Gadis itu memandangnya. "Eh?"

Sementara jinjingan belanjaan tersebut kini telah beralih tangan.

"K-kau tidak perlu membawa apa pun," ujar Orihime dengan cepat. Ia merasa tidak enak jika membiarkan seorang tuan muda seperti Ulquiorra menenteng plastik belanjaan pasar. "Aku sudah memaksamu kesini jadi kau tak perlu repot! Biar ak-"

Ulquiorra memotong ucapan si gadis dengan delikan. "Ini tugasku." tegasnya, memandang singkat wajah si gadis yang sempat panik.

Jawaban Ulquiorra langsung membuat Orihime terdiam, dan aksi pemuda itu berhasil mengundang senyuman manis yang lagi-lagi diukir si gadis.

"Terima kasih."

Ulquiorra tidak menanggapi. Ia berbalik, menginisiasi untuk meninggalkan toko.

Di belakangnya, Orihime berusaha mengejarnya sambil masih mengulum senyum.

Orihime sempat mengira bahwa Ulquiorra tidak akan peduli padanya karena sedari awal si pemuda sudah terlihat tidak senang dengan kegiatan belanja ini. Namun Orihime bersyukur, ternyata Ulquiorra adalah seorang gentleman.

Kalau begini, gadis itu bisa menyerahkan belanjaannya dengan senang hati.

Kini keduanya beralih mengunjungi toko lain yang sedang ramai dipadati orang.

Kios sayur.

Saat hendak memasuki tempat itu, si gadis tiba-tiba menarik lengan atas Ulquiorra. Si pemuda menoleh.

"Ulquiorra!" jerit si gadis.

Pelipis pemuda itu naik, saat melihat gadis itu tiba-tiba berubah histeris.

"Ini akan menjadi sebuah peperangan!" lanjut Orihime.

Ulquiorra mengernyitkan dahi. Ia tidak sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk mempertanyakan arti dari ucapan Orihime karena gadis itu terlanjur menariknya untuk ikut berlari ke dalam.

Ternyata, Orihime tiba-tiba bersemangat seperti itu sesaat setelah melihat tulisan 'sale' yang tertera di label beberapa jenis sayuran.

Sepasang manik hijau terang milik Ulquiorra kini sedang memperhatikan 'perkelahian' yang terjadi di pusat ruangan kios sayur tersebut.

Sekelompok manusia yang didominasi oleh kalangan ibu-ibu sedang saling bersenggolan untuk berebut beberapa butir kol yang tersisa di keranjang sayuran. Para wanita paruh baya itu mengeluarkan jeritan yang sunguh memekakan telinga. Tak jarang pula ada yang saling dorong bahkan saling jambak.

"Ah! Aku menjatuhkannya!" / "Itu punyaku!" / "Aku menemukannya duluan!" / "Dapat!" / Yang ini jelek!" / "Kembalikan!" pekik mereka bersamaan.

". . ."

Ulquiorra hanya menatap adegan di depannya dengan wajah datar. Kini ia paham apa yang dimaksud gadis itu dengan 'peperangan'.

Si pemuda melirik ke arah Orihime yang dengan semangatnya sedang berusaha menyelinap diam-diam di antara jejeran ibu-ibu. Gadis itu terlihat mengendap-endap sambil hazelnya dengan gesit berputar ke berbagai arah untuk mendeteksi keberadaan sayuran nganggur yang diinginkannya.

"Yay!" sorak Orihime ketika akhirnya ia mendapatkan satu butir kol.

Sementara, Ulquiorra masih memandangnya dalam diam.

"Yay! Yay~" kali ini si gadis mendapatkan butir kol kedua. Membuat gadis itu nampak lebih gembira.

Ulquiorra menilik ekspresi Orihime sekarang. Gadis itu terlihat sangat puas . . dan sangat senang.

Orihime sedang tersenyum lebar.

'Senyuman apa itu . .' pikir si pemuda.

Kali ini si gadis memeluk dua buah sayuran yang berhasil didapatkannya di dada sambil masih tersenyum gembira.

'Bagaimana bisa . . sebuah pasar dan dua butir sayuran membuat gadis itu terlihat sangat bahagia?' batin Ulquiorra. "Gadis yang aneh." Gumamnya sangat pelan.

Jika ia patut menyombong, si pemuda bisa saja membelikan Orihime seluruh sayuran yang dijual di toko itu. Bahkan, ia pun bisa meminta pelayanpelannya mengirim langsung sayuran segar yang baru dipetik dari perkebunan, sehingga gadis itu tak perlu repot berebut sayuran sambil berdesakan karena mengincar diskonan.

Tapi, meski si pemuda berpikir demikian, ia merasa betah memandangi ekspresi yang dipasang Orihime saat ini. Terlihat sangat puas . . dan polos sekali.

Mungkin belanja langsung ke pasar tidak buruk juga.

Beberapa saat kemudian, Orihime datang menghampiri Ulquiorra sambil membawa beberapa tenteng kantong belanjaan. Ulquiorra kembali meraih semua tentengan itu, cukup hanya dengan satu tangan.

Keduanya lanjut berjalan.

Meski Ulquiorra masih mengikuti Orihime berjalan menyusuri jalanan pasar dengan tetap memasang rengutan, namun perlahan-lahan Ulquiorra sudah tampak terbiasa dengan suasana tempat tersebut.

Buktinya, si pemuda bisa dengan sabar mengikuti kemana pun si gadis pergi, tanpa protes lagi.

Sementara Orihime yang memang sedang merasa senang karena akhirnya ia bisa berbelanja dengan ditemani seseorang, merasa perlu memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Gadis itu tidak tahu, apakah ia dan Ulquiorra bisa melakukan hal seperti ini lagi di masa mendatang?

Kini mereka memasuki kerumunan yang lebih padat di sudut pasar yang lebih dalam.

Ulquiorra tidak perlu menoleh ke arah Orihime untuk mengetahui bahwa saat ini gadis itu sedang berada dalam mood yang sangat baik. Daritadi si gadis terus saja memamerkan seringaian. Meskipun gadis itu memang selalu tampak ceria, sih.

Ulquiorra tidak tahu sampai kapan kegiatan belanja ini akan berakhir, ia sudah tidak berminat untuk mencari tahu. Orihime masih kelihatan bersemangat untuk menjelajahi seluruh toko di tempat tersebut.

Ulquiorra tidak pernah menduga bahwa suatu hari hal seperti ini akan terjadi padanya. Berjalan-jalan di sebuah pasar tradisional . . ditemani seorang gadis.

Pemuda itu tidak pernah berada dalam sebuah keramaian rakyat jelata semacam ini.

Tentu saja, pemuda elit seperti dirinya tidak akan pergi ke mana pun dalam keadaan lengah atau tanpa penjagaan. Melihat tempat berkumpulnya rakyat jelata yang minim keamanan itu sepertinya telah membuat kewaspadaannya meningkat.

Namun anehnya, Ulquiorra tidak merasa terganggu akan semua ini. Terutama sikap easy-going gadis yang sedang berjalan di sampingnya.

Sudah cukup lama ia berjalan, Ulquiorra merasa ada sesuatu yang janggal. Cukup aneh saat perjalanan mereka terasa sesepi ini. Tidak biasanya si gadis tidak berisik, padahal sedari tadi gadis itu selalu menyuarakan apapun yang ia lihat.

Ulquiorra merasa perlu mengecek apa yang sedang terjadi. Ia menoleh ke samping, namun segera merasa sedikit kaget saat dirinya tidak mendapati keberadaan Orihime di sampingnya. Si pemuda mengerutkan dahi dan langsung menghantikan langkah.

Kemana gadis itu?

Ulquiorra menengok ke samping kanan dan kiri tempat ia berdiri, tidak ada. Lalu si pemuda membalik bandannya dan menengok ke belakang, barangkali gadis itu sedang mangkir di sebuah toko makanan seperti sebelumnya.

Namun sosok gadis itu masih belum terlihat. Kapan Ulquiorra kehilangan Orihime?

Jalanan semakin ramai, saat si gadis tidak berada disampingnya membuat pemuda itu kembali merasa terganggu dengan jumlah orang yang berlalu lalang. Si pemuda memutuskan untuk balik arah, kembali menyusuri jalanan yang barusan dilewati dirinya dan Orihime. Mungkin saja benar dugaannya, bahwa si gadis sedang tertahan di sebuah toko di sana.

Ulquiorra memperhatikan seluruh toko ataupun kios dengan seksama. Banyaknya orang di tempat itu membuat si pemuda cukup kesulitan berjalan.

Tetapi tetap tidak ada.

Apa mungkin Orihime sedang tersesat dalam kerumunan ini?

Setelah memastikan bahwa si gadis tidak sedang berada dimana pun di area tersebut, ulquiorra kembali memutar arahnya berjalan. Apa mungkin Orihime tadi sudah berjalan mendahuluinya saat pemuda itu tidak sadar?

Bisa jadi.

Ulquiorra kembali menyusuri jalanan di arah yang sama seperti sebelumnya, sedikit memperlambat tempo langkahnya untuk mencari keberadaan gadis itu. Namun setelah lama ia mencari, Ulquiorra belum juga menemukan sosok yang dicari. Bahkan jalanan yang kini sedang dilaluinya sudah jauh melebihi jarak awal saat pemuda itu kehilangan si hadis.

Langkah membawa Ulquiorra sampai pada perempatan jalan. Masih terdapat banyak orang disana, namun si pemuda yakin bahwa tempatnya berpijak tersebut adalah penghujung pasar.

Kemana gadis itu?

Ulquiorra yang biasanya bersikap tenang kini mulai merasa sedikit panik.

Pemuda itu tidak mengetahui pasti tempat yang sedang ia diami saat ini, namun itu tidak menjadi masalah. Ia sudah terbiasa berada di tempat asing. Sejauh apapun itu, dirinya akan selalu bisa menemukan arah jalan pulang dengan mudah. Jadi, ini bukanlah tentang dirinya, tapi tentang Orihime. Bagaimana cara ia menemukan gadis itu dalam keramaian ini?

Ulquiorra merutuki kenyataan dirinya tidak mempunyai nomor ponsel Orihime. Informasi semacam itu akan berguna di saat-saat seperti ini. Tapi, tidak. Pemuda itu bahkan tidak tahu apa si gadis memegang ponsel atau tidak.

Ulquiorra berhenti melangkah. Ck.

Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan? Ia hanya berputar-putar saja disana. Ulquiorra mulai merasa jengkel.

Duk. Tiba-tiba seseorang menyenggolnya.

Dan orang itu malah mencak-mencak, "Oi, lihat-lihat dong ka-"

Ulquiorra menoleh dan melempar tatapan sengit super dingin ke arah orang yang tadi menabraknya, yang ternyata adalah seorang lelaki muda.

Orang itu langsung terdiam.

Catatan, jangan pernah mengganggu Ulquiorra yang sedang kesal.

"Maaf!" seru lelaki itu sambil membungkuk cepat dan segera meninggalkan Ulquiorra sendiri.

Pemuda berambut raven itu mendesah pelan.

Sudah cukup dengan tempat ini. Ia benci berdesak-desakkan. Akhirnya Ulquiorra memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dengan mengambil jalan belokan di persimpangan depan. Barangkali Orihime sedang berada disana untuk menghindari keramaian yang memuakkan ini.

Ulquiorra kembali menerobos jalanan yang dipenuhi orang-orang, dan tepat sebelum ia berbelok . .

Tap.

Ulquiorra merasakan tangannya ditarik dari belakang. "Ulquoirra?!"

Si pemuda segera membalikkan badan. Ia termangu sejenak, dilihatnya gadis yang sedari tadi ia cari kini sedang merentangkan lengan untuk meraih tangannya, dengan susah payah menerobos jalanan yang sedang dipenuhi orang untuk menghampirinya.

"Ketemu!" jerit Orihime yang masih berusaha mendekat.

Permata hijau si pemuda melebar . . ia terkejut saat mendapati raut muka Orihime, gadis itu terlihat kacau.

Emeraldnya menatap Orihime, ditariknya tangan si gadis sehingga tubuh gadis itu mendekat.

Napas Orihime terengah. "Sy-syukurlah . ." lirihnya, satu tangan masih menggenggam jemari si pemuda. Hazelnya berair, membuat Ulquiorra terperangah.

Apakah gadis itu sedang merasa ketakutan? Ulquiorra mengeratkan genggaman jemari mereka.

"Kau tidak tersesat terlalu jauh, Ulquiorra. Aku sangat khawatir."

" . . . "

Hening.

"Kau yang sedang tersesat, Onna." Ralat si pemuda.

"Eh?" Orihime bengong. "Tapi, kau yang meninggalkanku tadi saat aku sedang memilih barang," sangkal si gadis, "Aku mencoba memanggilmu tapi kau terus berjalan,"

Ulquiorra menatap Orihime tanpa ekspresi.

"Lagipula, pelokan disana adalah jalan buntu." Tutur si gadis, menunjuk ke arah belokan jalan yang hampir diambil Ulquiorra.

" . . . "

Hening lagi.

"Tidak masalah." Sahut Orihime tetiba riang. "Yang penting aku sudah menemukanmu." Gadis itu tersenyum tanpa dosa.

Dan Ulquiorra, sudah tidak mampu menyangkal lagi.

. . .

"Kau sudah bisa menarik tanganmu, Onna."

Orihime menggeleng. "Jika kulepaskan, kau akan tersesat lagi, Ulquiorra."

Keduanya masih bergandengan tangan.

Si pemuda berhenti melangkah, melirik tajam gadis itu. "Kubilang, jangan mengolokku."

Si gadis menoleh kepadanya, dan malah tertawa dengan polosnya. Entah mengapa Orihime bukannya merasa takut, tidak enak, canggung atau apa lah, tapi malah merasa senang saat menggodai Ulquiorra seperti itu.

Orihime kembali menarik Ulquiorra untuk ikut melangkah.

Si pemuda mengedarkan pandangannya ke sekitar, berusaha untuk mengabaikan rasa sentuhan lembut dari genggaman tersebut. Namun pemuda itu malah menemukan ada beberapa pasangan lain yang sedang berjalan sambil bergenggaman tangan juga.

Ulquiorra kembali merengut. Ia yakin, gandengan tangan yang dilakukan para pasangan itu dengan yang sedang ia dan Orihime lakukan jelas berbeda maksud. Ulquiorra mengizinkan si gadis menyentuhnya semata-mata hanya karena Orihime bersi-keras berkata bahwa mereka bisa terpisah lagi jika tidak saling merapatkan diri. Membuat Ulquiorra malas untuk berdebat.

Kemudian, Orihime mengajak si pemuda untuk kembali memasuki sebuah kios. Ternyata kegiatan belanja mereka masih berlanjut.

Diam-diam Ulquiorra melirik tangannya yang sedang digenggam oleh tangan si gadis. Baru kali ini ada seseorang yang berani memegang tangannya, apalagi dengan cara memaksa. Pemuda itu memang sempat protes, tapi ia tetap membiarkan Orihime menggandeng tangannya seperti itu. Lama-lama jemari gadis itu terasa hangat dan lembut. Rasanya, boleh juga.

Tanpa sadar, ibu jari si pemuda membelai punggung tangan Orihime, membuat gadis yang sedang membeli beberapa jenis buah itu menoleh, lalu menelengkan kepala.

Ulquiorra terlihat kaget, tidak sadar dengan aksinya. "Kau sudah selesai?" Tanya si pemuda dengan segera, menyamarkan perilakunya.

Orihime mengangguk sambil tersenyum lembut, "Sebentar lagi."

Entah mengapa kehangatan dari jemari mereka yang sedang bersatu itu, kini terasa menjalar sampai kemana-mana.

. . .

Hari sudah mulai siang, mentari semakin memperkuat teriknya. Jalanan pasar mulai sepi karena sudah ditinggalkan orang-orang. Menyisakan jalanan yang mulai lengang.

Karenanya, saat ini Ulquiorra dan Orihime sedang berjalan berdampingan untuk melewati sudut pasar yang sudah kosong. Meski jalanan sudah sepi, namun keduanya masih menggenggam tangan satu sama lain. Berjalan lambat-lambat sambil merapat, sampai bahu mereka berdempetan. Baik Ulquiorra dan Orihime tak ada yang berinisiasi untuk melerai tangan mereka yang sedang bertautan.

Entah mengapa, rasanya sudah terlanjur nyaman.

Sementara, tangan si pemuda yang lain sedang penuh menenteng kantong belanjaan sedangkan tangan Orihime sedang menggenggam sebuah gelas minuman.

"Kau yakin tidak ingin mencobanya?" Tawar Orihime sambil menyodorkan minuman berwarna campuran hijau, putih dan coklat tersebut ke arah Ulquiorra.

Untuk kedua kalinya si pemuda menolak. "Yakin."

Si gadis agak mengerucutkan bibirnya. "Ah, padahal ini enak sekali." Untuk kedua kalinya pula si gadis mendesah kecewa.

Orihime kembali menyeruput minuman yang sedang dipegangnya itu.

Tentu saja si gadis sudah menduga bahwa Ulquiora tidak akan pernah mau sembarangan mencicipi jajanan pasar. Orihime tahu makanan macam apa yang selalu dikonsumsi pemuda itu. Mewah, steril, higienis, dijamin halal, dan tentu saja harus berkelas.

Namun Orihime tetap ingin memaksa Ulquiorra agar mau minum. Setidaknya untuk melepas dahaga, karena gadis itu saja sedang merasa kepanasan sekarang dan ia yakin pemuda itu pun sedang merasakan hal yang sama.

"Ayolah, Ulquiorra. Seteguk saja. Kau terlihat sangat kelelahan." Orihime kembali memandang pemuda itu dengan penuh niat.

"Tidak." Sangkal si pemuda.

Orihime kembali merengut, membuat Ulquiorra mengeluarkan desahan pelan. Diliriknya minuman yang Orihime sebut sebagai es cendol itu. Beberapa bulir air mengalir jatuh di dinding gelas plastik yang sedang digenggam gadis itu, menandakan begitu dingin dan segarnya minuman yang sedang berada di dalam gelas. Diam-diam, Ulquiorra mendesah lagi.

"Kemarikan." Ucapnya pada akhirnya.

Seketika dilihatnya mimik Orihime sudah berubah menjadi tersenyum cerah. Mood gadis itu sungguh berubah cepat.

Tanpa perlu lama lagi, si gadis segera mengangkat kembali gelas minuman itu, mendekatkan sedotannya ke mulut si pemuda yang kini telah merendahkan kepalanya ke arah gelas. Namun, saat Ulquiorra sudah membuka mulut dan hendak meraih sedotan tersebut ke dalam mulutnya, Orihime malah kembali menarik sedotan itu dan menatap mulut si pemuda lekat-lekat.

Ulquiorra mendongak, memperhatikan Orihime yang mendadak tampak sedang membatu. Ia menaikan satu alis. "Apa kau berubah pikiran?"

"Huh?" si gadis mengerjap. Manik abu Orihime kembali memandang emerald Ulquiorra yang sedang menatapnya penasaran. Ia baru sadar bahwa dirinya tiba-tiba berhenti bergerak. "Umm, ti-tidak, hanya saja . . "

Si pemuda tambah penasaran.

"Tidak apa-apa!" ucap Orihime cepat, ia kembali menyodorkan minuman tersebut dan mendorong sedotannya masuk ke dalam mulut si pemuda.

Cairan berwarna coklat mengalir naik lewat sedotan saat Ulquiorra menyesap minuman itu.

Entah mengapa, Orihime jadi merona sendiri. Bukankah itu . . adalah ciuman tidak langsung?

Saat Ulquiorra terlihat meneguk cairan itu, si gadis malah memalingkan muka.

'Lalu kenapa kalau itu ciuman tidak langsung? toh dirinya dan Ulquiorra sudah pernah berciuman langsung.' Batin si gadis, berusaha mengenyahkan ronanya.

Ulquiorra kembali melirik Orihime, hanya tambah dibuat bingung dengan gelagat gadis itu.

"Ada masalah?" tanya si pemuda, selesai mengosongkan mulutnya dari cairan berasa manis itu.

Orihime kembali membawa wajahnya menghadap si pemuda. Ia menggeleng, lalu tersenyum canggung. "Bagaimana rasanya, kau suka?"

"Lumayan," jawab Ulquiorra sambil menjilat bibirnya, membuat Orihime hampir merona lagi.

"Syu-syukurlah. Hahaha." Entah mengapa si gadis menjadi salah tingkah.

Pasangan itu terlalu fokus kepada satu sama lain, sampai-sampai mereka tidak memperhatikan jalanan di depan.

DUK.

Tiba-tiba seseorang menabrak mereka dari arah depan.

"Ah!" Pekik Orihime, gelas minuman terlepas dari genggamannya . . dan tumpah mengenai baju orang yang menabrak gadis itu.

"Maaf," ujar si gadis cepat, "Aku ti-" Ucapannya terpotong saat melihat sekelompok orang yang tampak seperti preman jalanan sedang berdiri di depannya.

Orihime mengernyit, ia refleks bergerak mundur.

"Hati-hati kalau sedang berjalan, Nee-chan." Salah seorang dari mereka menyeringai sambil menatap Orihime dengan penuh minat.

.

.

.

Bersambung . . .


Salah satu adegan disini diambil dari sebuah komik.

Akhirnya bisa update! Huwaa maafkan aku karena lama sekali! *gomenasaiminna* *bungkukinbadan* *jangancekikauthor* Setelah ini aku akan berusaha buat rajin update kok, hehe.

Seri kehidupan harian Ulquiorra-Orihime dimulai dari sini~

Terimakasih sudah baca, ditunggu sekali review dari kalian, dan selamat menikmati :) :)